Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt. Karena atas rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas ini.

Karya tulis ini kami buat untuk memenuhi tugas dari Ibu Silfia Romance, S. Pd.
Yang insya-Allah bisa bermanfaat.

Karya tulis ini berisikan tentang ‘’ SEJARAH EJAAN BAHASA INDONESIA ‘’


yang membantu kalian untuk memahami pengertian dan pengetahuan ‘’ SEJARAH
EJAAN BAHASA INDONESIA ‘’. Mulai dari Ejaan Van Ophuysen, Ejaan Melayu
Indonesia (MELINDO), Ejaan Yang Disempurnakan (EYO), Dan Ejaan Bahasa
Indonesia (EBI).

Dalam menyusun karya tulis ini, kami dibantu oleh beberapa pihak sekolah
terutama kelas 9A yang memberikan motivasi bagi karya tulis ini. Oleh karena itu,
kami ucapkan terima kasih.

Tak ada gading yang tak retak, begitu pula tak ada tulisan yang sempurna, dan kami
mohon maaf apabila penulisan kurang tepat.

Demikian pengantar yangn kami sampaikan. Somoga bermanfaat bagi para


pembaca.

Cicurug, 26 Maret 2018

Kata Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………..ii

BAB 1 PENDAHULUAN………………………...………………………………..1

1.1 Latar Belakang Masalah………………………………………………………....1

1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………..…1

1.3 Tujuan Penulisan…………………………………………………………………1

1.4 Manfaat Penulisan………………………………………………………………...2

BAB 2 SEJARAH EJAAN BAHASA INDONESIA…………………………………3

2.1 Ejaan Van Ophuysen……………………………………………………………...3

2.2 Ejaan Soewandi…………………………………………………………………...3

2.3 Ejaan Melayu Indonesia…………………………………………………………..4

2.4 Ejaan Yang Disempurnakan………………………………………………………4

2.5 Ejaan Bahasa Indonesia…………………………………………………………...5

BAB 3 PENUTUP…………………………………………………………………….6

3.1 Simpulan…………………………………………………………………………..6

3.2 Saran………………………………………………………………………………6

DAFTAR PUSAKA…………………………………………………………………..7

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang digunakan sehari-hari. Selain sebagai bahasa
Kesatuan Replublik Indonesia, bahasa ini juga disebut bahasa Ibu.

Namun, sekarang banyak bahasa-bahasa Indonesia yang tidak dihargai dan


dilupakan karena sulit dipahami.

Oleh karena itu, salah satu cara untuk memperolehnya lagi kami mengemukakan
kembali Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia dengan cara membuat karya tulis ini
menjadi lebih menarik.

Oleh karena itulah kami memilih judul ini sebagai karya tulis kami. Kami harap
Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia ini bisa dipelajari dan terus dipahami.

2.1 Rumusan Masalah

Rumusan masalah karya tulis ini adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk menjelaskan mengenai Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia.

1
1.4 Manfaat penulisan

Manfaat penulisan karya tulis ini sebagai berikut.

1. Untuk siswa: sebagai tambahan wawasan.

2. Untuk guru: sebagai tambahan wawasan dan bahan untuk disampaikan kepada
siswa.

3. Untuk perpustakaan: sebagai tambahan refrensi untuk dibaca.

2
BAB 2

SEJARAH EJAAN BAHASA INDONESIA

2.1 Ejaan Van Ophuysen

Ejaan Van Ophuysen merupakan ejaan pertama yang dimiliki oleh bahasa
Indonesia. Ejaan ini ditetapkan tahun 1901. Perancang Ejaan Van Ophuysen adalah
orang Belanda yakni Charles Van Ophusyen dengan dibantu Tengku Nawawi yang
bergelar Soetan Ma’moer dan M. Taib Soetan Ibrahim. Ejaan ini menggunakan huruf
latin dan bunyinya hampir sama dengan tuturan Belanda.

Ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu menurut model yang
dimengerti oleh orang Belanda, yaitu menggunakan huruf latin dan bunyi yang mirip
dengan tuturan Belanda, antara lain:

 huruf ‘j’ untuk menuliskan bunyi ‘y’, seperti pada kata jang, pajah, sajang.
 huruf ‘oe’ untuk menuliskan bunyi ‘u’, seperti pada kata-kata goeroe, itoe,
oemoer (kecuali diftong ‘au’ tetap ditulis ‘au’).
 tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan bunyi
hamzah, seperti pada kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, pa’, dinamaï.

Huruf hidup yang diberi titik dua diatasnya seperti ä, ë, ï dan ö, menandai bahwa
huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata, bukan diftong, sama seperti ejaan
Bahasa Belanda sampai saat ini.

2.2 Ejaan Soewandi

Ejaan Soewandi berlaku sejak 17 Maret 1947 menggantikan ejaan pertama yang
dimiliki bahasa Indonesia saat itu. Ejaan ini merupakan upaya pemerintah untuk
mengganti Ejaan Van Ophuysen yang disusun oleh orang Belanda dan merupakan
ejaan resmi pertama yang disusun oleh orang Indonesia.

3
2.3 Ejaan Melayu Indonesia (MELINDO)

Ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Sidang perutusan Indonesia dan Melayu
(Slamet Mulyana-Syeh Nasir bin Ismail) menghasilkan konsep ejaan bersama yang
kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). karena
perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya maka diurungkan peresmian
ejaan tersebut.

2.4 Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan ini berlaku sejak 23 Mei 1972 hingga 2015, atas kerja sama dua negara yakni
Malaysia dan Indonesia yang masing-masing diwakili oleh para menteri pendidikan
kedua negara tersebut. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku
yang berjudul Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang
tercatat pada tanggal 12 Oktober 1972.

Beberapa kebijakan baru yang ditetapkan di dalam EYD, antara lain:

 Huruf f, v, dan z yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing diresmikan
pemakaiannya.
 Huruf q dan x yang lazim digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan tetap
digunakan, misalnya pada kata furqan, dan xenon.
 Awalan “di-” dan kata depan “di” dibedakan penulisannya. Kata depan “di”
pada contoh di rumah, di sawah, penulisannya dipisahkan dengan spasi,
sementara “di-” pada dibeli atau dimakan ditulis serangkai dengan kata yang
mengikutinya.
 Kata ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur-unsurnya. Angka dua tidak
digunakan sebagai penanda perulangan

Secara umum, hal-hal yang diatur dalam EYD adalah:

1. Penulisan huruf, termasuk huruf kapital dan huruf miring.


2. Penulisan kata.
3. Penulisan tanda baca.
4. Penulisan singkatan dan akronim.
5. Penulisan angka dan lambang bilangan.
6. Penulisan unsur serapan.

4
2.5 Ejaan Bahasa Indonesia

Perbedaan Ejaan Bahasa Indonesia dengan EYD adalah:

1. Penambahan huruf vokal diftong. Pada EYD, huruf diftong hanya tiga yaitu
ai, au, oi, sedangkan pada EBI, huruf diftong ditambah satu yaitu ei (misalnya
pada kata geiser dan survei).
2. Penggunaan huruf tebal. Dalam EYD, fungsi huruf tebal ada tiga, yaitu
menuliskan judul buku, bab, dan semacamnya, mengkhususkan huruf, serta
menulis lema atau sublema dalam kamus. Dalam EBI, fungsi ketiga dihapus.

5
BAB 3

PENUTUP

3.1 Simpulan

Pengertian ejaan adalah aturan tulis. Secara lengkap dapat dikatakan bahwa ejaan
adalah keseluruhan peraturan tentang bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran
dan bagaimana hubungan antarlambang tersebut.

Ejaan Van Ophuysen, ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu
menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda, yaitu menggunakan huruf latin
dan bunyi yang mirip dengan tuturan Belanda.

Ejaan Soewandi, ejaan ini merupakan upaya pemerintah untuk mengganti Ejaan
Van Ophuysen yang disusun oleh orang Belanda dan merupakan ejaan resmi pertama
yang disusun oleh orang Indonesia.

Ejaan Melayu Indonesia (MELINDO), karena perkembangan politik selama


tahum-tahun berikutnya maka diurungkan peresmian ejaan tersebut.

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), atas kerja sana dua Negara yakni Malaysia dan
Indonesia yang masing-masing diwakili oleh para menteri pendidikan kedua Negara
tersebut. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan nuku yang berjudul
Ejaan Yang Disempurnakan.

Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

3.2 Saran

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai pelajar untuk selalu mengingatkan kepada
masyarakat agar dapat menggunakan Ejaaan Bahasa Indonesia dengan baik dan
benar. Dan kedepannya kami mengharap semoga ada karya tulis yang lebih baik dari
karya tulis kami.

6
DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 2008. Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia. Diambil pada tanggal 26 Februari
2018. Dari https://www.google.com/search?q=Hi-Fest+Publishing.
https//www.profilusaha.com/penerbit-buku-hi-fest-publising.