Anda di halaman 1dari 9

EKOSISTEM HUTAN RAWA GAMBUT

1.1 Pengertian

1.1.1 Pengertian Ekosistem

Ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur
lingkungan hidup yang berpengaruh. Ekosistem merupakan hubungan timbal balik yang
kompleks antara organisme dan lingkungannya baik yang hidup maupun tak hidup yang
secara bersama-sama membentuk suatu sistem ekologi. Ekosistem juga merupakan suatu
sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk
hidup dengan lingkungannya. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem
yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran
energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara
organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang. Unit ekologis
adalah ekosistem, yang merupakan sebuah kelompok yang terdiri atas beragan populasi yang
berinteraksi dalam suatu daerah tertentu. Daerah tersebut ( habitat), bisa jadi hanya sekecil
kolam local ataupun seluas gurun sahara, Berbagai populasi yang berinteraksi. Setiap
ekosistem dalam suatu wilayah selalu mengalami perkembangan menuju ke arah
keseimbangan. Ekosistem, yaitu tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap
unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi (UU Lingkungan Hidup Tahun 1997).
Unsur-unsur lingkungan hidup baik unsur biotik maupun abiotik, baik makhluk hidup
maupun benda mati, semuanya tersusun sebagai satu kesatuan dalam ekosistem yang masing-
masing tidak bisa berdiri sendiri, tidak bisa hidup sendiri, melainkan saling berhubungan,
saling mempengaruhi, saling berinteraksi, sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan.

1.1.2 Pengertian hutan

Hutan dipandang sebagai suatu ekosistem adalah sangat tepat, mengingat hutan itu
dibentuk atau disusun oleh banyak komponen yang masing-masing komponen tidak bisa
berdiri sendiri, tidak bisa dipisah-pisahkan, bahkan saling memengaruhi dan saling
bergantung.
1. Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati
yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan
lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41 Tahun 1999).
2. Hutan adalah lapangan yang ditumbuhi pepohonan yang secara keseluruhan merupakan
persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya atau ekosistem.

1.1.3 Pengertian rawa gambut

Hutan rawa gambut merupakan hutan dengan lahan basah yang tergenang yang
biasanya terletak di belakang tanggul sungai (backswanp). Hutan ini didominasi oleh tanah-
tanah yang berkembang dari tumpukan bahan organik, yang lebih dikenal sebagai tanah
gambut atau tanah organic (Histosols). Dalam skala besar, hutan ini membentuk kubah
(dome) dan terletak diantara dua sungai besar. Hutan rawa gambut merupakan kombinasi tipe
hutan formasi klimatis (climaticformation) dengan tipe hutan formasi edaphis (edaphic
formation). Faktor iklim yang mempengaruhi pembentukan vegetasi adalah temperatur,
kelembaban, intensitas cahaya dan angin. Hutan rawa gambut terdapat pada daerah-daerah
tipe iklim A dan B dan tanah organosol dengan lapisan gambut setebal 50 cm atau lebih.

1.2 Proses Terjadinya Hutan Rawa Gambut

Hutan rawa gambut terbentuk dalam 10.000 – 40.000 tahun. Awalnya berupa
cekungan yang menahan air tidak bisa keluar. Setelah 5.000 tahun, maka permukaan akan
naik. Lama-kelamaan hutan rawa gambut secara bertahap akan tumbuh. Karena air tidak
keluar dan terjadi pembusukan kayu, maka terjadi penumpukan nutrient. Kalau kawasan rawa
gambut dibuka, maka air dan nutriennya akan keluar, dan yang akan terjadi adalah kawasan
rawa gambut akan dangkal dan unsur hara sangat sedikit. Berdasarkan kandungan bahan
organik, dikenal dua golongan tanah yaitu tanah mineral yang mengandung bahan organik
berkisar antara 15 % sampai dengan 20 % dan tanah organik yang mengandung bahan
organik berkisar antara 20 % sampai dengan 25 % bahkan kadang-kadang sampai 90 %
mengandung bahan organik. Asian Wetland Beraue dan Ditjen PHPA (1993) dalam
Koesmawadi (1996) mengemukakan bahwa hutan rawa gambut merupakan statu ekosistem
yang unik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (a) selalu tergenang air, (b) komposisi jenis
pon beraneka ragam, mulai dari tegakan sejenis seperti jenis Calophyllum inophyllum Mix.
Sampai tegakan campuran, (c) terdapat lapisan gambut pada lantai hutan, (d) mempunyai
perakaran yang khas, dan (e) dapat tumbuh pada tanah yang bersifat masam.

1.3 Komposisi Gambut

Gambut adalah sisa timbunan tumbuhan yang telah mati dan kemudian diuraikan oleh
bakteri anaerobik dan aerobik menjadi komponen ang lebih stabil. Selain zat organik yang
gambut terdapat juga zat anorganik dalam jumlah yang kecil. Di lingkungan pengendapannya
gambut ini selalu dalam keadaan jenuh air (lebih dari 90%). Zat organik pembentuk sama
dengan tumbuhan dalam perbandingan yang berlainan sesuai dengan tingkat pembusukannya.
Zat organik tersebut terdiri dari cellulosa, lignin, bitumin (wak dan resin), humus dan lain-
lain. Komposisi zat organik ini tidak stabil tergantung pada proses pembusukan, misalnya
cellulosa pada tingkat pembusukan dini (H1-H2) sebanyak 15-20 % tetapi pada tingkat
pembusukan lanjut (H9-H10) hampir tidak ditemukan. Sebaliknya humus pada cellulosa pada
tingkat pembusukan dani terdapat 0-15 %, sedangkan pada gambut yang telah mengalami
pelapukan yang lebih tinggi (H9-H10) mencapai 50-60 %. Unsur –unsur pembentukan
gambut sebagai besar terdiri dari karbon (C),hidrogen (H),nitrogen (N) dan oksigen (O).
selain unsur utama terdapat juga unsur lain Al,Si,S,P,Ca. dan lain-lain dalam bentuk terikat.
Tingkat pembusukan pada gambut akan menaikkan kadar karbon (C) dan menurunkan
oksigen (O).
1.4 Klimatologis ekosistem hutan rawa gambut Cuaca dan iklim memiliki peranan yang
penting dalam kehidupan manusia.

Cuaca dan iklim merupakan salah satu komponen ekosistem alam. Kehidupan
manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca dan iklim, mulai dari jenis pakaian,
makanan, bentuk rumah, pekerjaan sampai rekresi tidak terlepas dari pengaruh atmosfer
beserta proses - prosesnya. Cuaca dan iklim selalu menyertai dan mempengaruhi kehidupan
manusia di bumi. Ilmu yang mempelajari tentang cuaca dan iklim adalah meteorologi dan
klimatologi. Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari atau menyelidiki tentang iklim. Yang
dimaksud dengan iklim adalah keadaan cuaca pada suatu daerah tertentu pada jangka waktu
yang panjang. Sedangkan cuaca adalah keadaan atmosfer pada suatu waktu. Klimatologi
ialah ilmu yang menelaah tentang karakteristik iklim antar wilayah. Klimatologi ini lebih
ditekankan pada atas rata-rata dari unsur-unsur iklim yang menjadi cirri dari suatu wilayah.
Informasi klimatologi dapat digunakan sebagai penduga keadaan suhu, kelembaban udara,
intensitas cahaya, curah hujan, dan angin pada suatu wilayah pada waktu tertentu. Unsur-
unsur klimatologis terdiri dari : o Tanah o Curah Hujan o Angin o Cahaya matahari o
Temperatur o Lengas udara

Selanjutnya iklim merupakan salah satu faktor (selain tanah) yang akan
mempengaruhi distribusi tumbuhan. Wilayah dengan kondisi iklim tertentu akan didominasi
oleh spesies-spesies tumbuhan tertentu, yakni speseis tumbuhan yang dapat beradaptasi
dengan baik pada kondisi iklim tersebut. Berdasarkan keterkaitan yang erat antara kondisi
iklim dengan spesies tumbuhan yang dominan pada suatu wilayah, beberapa ahli membuat
klasifikasi iklim berdasarkan jenis tumbuhan yang dominan (beradaptasi baik) pada wilayah
tersebut.

1.5 Ciri –Ciri Ekosistem Rawa Gambut

yang menjadi ciri khas rawa gambut :

1) Warna air hitam, hal itu terkait dengan tingginya kandungan bahan organik

2) Tanaman rawa gambut tumbuh di atas humus

3) Tinggi tanaman rata-rata sama.

4) Diameter batang tanaman besar

5) Tanamannya lambat besar dibandingkan tanaman darat.

1.6 Klasifikasi Ekosistem Rawa Gambut

Menurut sistem kalsifikasi taksonomi tanah (USDA, 1975) tanah gambut termasuk
kedalam ordo histosol, yaitu tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20 % tekstur
pasir atau lebih dari 30 % tekstur liat. Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi
tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Menurut sistem klasifikasi tersebut, ordo histosol
berdasarkan bahan asal dan tingkat perombakannya dibedakan menjadi empat sub-ordo, yaitu
folist, fibrist, hemist dan saprist. Sub-ordo tersebut berdasarkan kandungan atau ketebalan
bahan penciri dan temperaturnya dibedakan menjadi beberapa kelompok besar. Untuk daerah
tropika nama-nama kelompok besar antara lain: tropofolist, tropofibrist, tropohemist dan
troposaprist. Kelompok besar ini secara umum mempunyai perbedaan temperatur rata-rata
musim panas dan dingin kurang dari 50 C.

1.7 Pemanfaatan Gambut

1.7.1 Hutan Tanaman Industri Perhatikan pakar hutan terhadap sumberdaya gambut terus
bertambah, setelah kemampuannya untuk mendukung kegiatan di berbagai gatra kehutanan
semakin nyata. Pembangunan hutan tanaman industri (HTI) yang mulai di galakkan pada
awal tahun 1980-an, merupakan pemicu penting bagi pengkajian dan pemanfaatan bahan
gambut. Bahan gambut banyak di manfaatkan sebagai media semai tanaman hutan untuk
menunjang pembangunan HTI.

1.7.2 Fungsi dan Manfaat Ekosistem Gambut Fungsi dan manfaat ekosistem gambut
mengacu pada kegunaan, baik langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat.

KOMPONEN-KOMPONEN EKOSISTEM HUTAN RAWA GAMBUT

2.1 Komponen Abiotik Ekosistem Hutan Rawa Gambut

Abiotik adalah bukan makhluk hidup atau komponen tak hidup. Kompnen abiotik
merupakan komponen fisik dan kimia yang membentuk lingkungan abiotik . lingkungan
abiotik membentuk ciri fisik dan kimia temepat hidup makhluk hidup contoh kompnen
abiotik antara lain suhu, cahaya, air, kelembapan, udara, garam-garam mineral dan tanah.
Komponen ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling berinteraksi sehingga mempengaruhi sifat
yang satu dengan sifat yang lain. Untuk komponen abiotik terdiri atas:

1) Lapisan Humus, adalah lapiasan teratas dari tanah. Merupakan lapisan tanah yang
memiliki tingkat kesuburan yang tinggi.

2) Serasah adalah tumpukan dedaunan kering, rerantingan, dan berbagai sisa vegetasi lainnya
di atas lantai hutan atau kebun. Serasah yang telah membusuk (mengalami dekomposisi)
berubah menjadi humus (bunga tanah), dan akhirnya menjadi tanah. Lapisan serasah juga
merupakan dunia kecil di atas tanah, yang menyediakan tempat hidup bagi berbagai makhluk
terutama para dekomposer. Berbagai jenis kumbang tanah, lipan, kaki seribu, cacing tanah,
kapang dan jamur serta bakteri bekerja keras menguraikan bahan-bahan organik yang
menumpuk, sehingga menjadi unsur-unsur yang dapat dimanfaatkan kembali oleh makhluk
hidup lainnya.
3) Suhu dikatakan sebagai derajat panas atau dingin yang dapat diukur berdasarkan skala
tertentu dengan manggunakan berbagai thermometer. Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu
dimuka bumi dapat dikemukakan sebagai berikut:
a) Jumlah radiasi yang diterima pertahun-perhari-permusim.
b) Pengaruh daratan atau lautan
c) Pengaruh ketinggian tempat
d) Pengaruh angin secara tak langsung, misalnya angin yang membawa panas dari sumbernya
secara horizontal
e) Pengaruh panas laten, panas yang disimpan dalam atmosfer
f) Penutup tanah, tanah yang ditutup vegetasi mempunyai temperatur < dari pada tanah tanpa
vegetasi
g) Pengaruh sudut dating sinar matahari, sinar yang vertikal akan membuat suhu > dari pada
yang datangnya miring,
h) Tipe tanah, tanah-tanah indeks suhunya lebih tinggi.

4) Kelembapan adalah banyaknya kadar uap air yang ada di udara, dalam hal ini kita
mengenal beberapa istilah, anatara lain:
a) Kelembapan mutlak adalah massa uap air yang berada dalam satusatuan udara yang
dinyatakan dalam gr/ m3
b) Kelembapan spesifik, merupakan perbandingan uap air di udara dengan satuan massa
udara yang dinyatakan dalam gr/ kg
c) Kelambapan relative, merupakan perbandingan jumlah uap air diudara dengan jumlah
maksimum uap air yang dikandung secara tertentu yang dinyatakan dalam persen (%). Angka
kelembapan relatif: 0 – 100%, 0% berarti udara kering, 100% artinya udara jenuh dengan uap
air yang artinya akan terjadi titik air hujan.

5) Air merupakan bahan yang sangat vital bagi kehidupan tanaman. Kekurangan air
mengakibatkan terganggunya perkembangan morfologi dan proses fisiologis tanaman.
Masalah kekurangan air timbul akibatnya siklus hidrologi di alam tidak merata. Sebagai
tindak lanjutnya lahir pemikiran untuk memenuhi kekurangan air yang sering terjadi. Salah –
satu ilmu yang mengkaji dan membahas tentang maslah air bagi pertanian adalah ilmu irigasi.

6) Cahaya itu terdiri atas partikel-partikel kecil yang disebut foton dan foton ini mempunyai
sifat-sifat materi dan gelombang. Foton juga memiliki energi yang dinyatakan dengan
kuantum. Berapa banyak energi yang dimiliki oleh cahaya itu tergantung kepada panjang-
pendeknya gelombang. Sinar ungu yang lebih pendek gelombangnya dari pada sinar merah,
mempunyai kuantum lebih banyak daripada sinar merah.

7) Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim makro
meliputi iklim global, regional, dan local. Sedangkan iklm mikro meliputi iklim dalam suatu
daerah yang dihuni komunitas tertentu

A. Komponen autotrof Terdiri dari organisme yang dapat membuat makanannya sendiri dari
bahan anorganik dengan bantuan energi seperti sinar matahari (fotoautotrof) dan bahan kimia
(khemo-autotrof). Komponen autotrof berperan sebagai produsen. Organisme autotrof adalah
tumbuhan berklorofil, seperti tanaman yang tumbuh pada lahan gambut.

B. Komponen heterotrof Terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik


yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya. Komponen heterotrof disebut juga
konsumen makro (fagotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Yang
tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba. Berikut beberapa
karakteristik lingkungan abiotik Kawasan hutan Rawa gambut:

Kapasitas Menahan Air

Gambut mampu menyerap air hingga 850% dari berat keringnya. Oleh se bab itu,
gambut memiliki kemampuan sebagai penghambat air saat musim hujan dan melepaskan air
saat musim kemarau. Besarnya kapasitas penahan air lahan gambut menyebabkan
penggundulan hutan gambut membuat lingkungan sekitar rawan banjir dan rembesan air laut
kedalam tanah.

Kering Tak Balik (Hydrophobia Irreversible)

Sifat lahan gambut yang kering tak balik maksudnya ketika terjadi alih fungsi lahan
gambut dan diganti dengan sistem irigasi dan drainase berupa parit menyebabkan lahan
gambut kering dan sulit memunculkan fungsinya kembali sekalipun lahan ini dijadikan hutan
lagi. Hal ini disebabkan proses terbentuknya lahan gambut yang rumit dan dalam jangka
waktu yang panjang.

Daya hantar Hidrolik

Gambut memiliki daya hantara hidrolik (atau daya penyaluran air) secara horizontal
cepat. Dalam artian gambut dapat menghantar unsur hara dengan mudah secara horizontal
sedangkan daya penyaluran air vertical yang lambat berarti gambut lapisan luar (atas)
cenderung kering meskipun bagian bawah hutan rawa gambut sangat basah Daya tumpu
Pori tanah yang besar dan kerapatan rendah menyebabkan Tanah Gambut memiliki daya
tumpu yang lemah. Dengan kata lain tanaman yang tumbuh di hutan ini cenderung murah
roboh. Apalagi hutan ini disominasi tumbuhan yang berakar serabut guna mengatur kadar air
yang masuk didaerah basah seperti ini.

Mudah Terbakar

Sifat lahan gambut yang kaya nutrient dan relative kering dipermukaan menyebabkan
lahan gambut mudah terbakar. Biasanya kebakaran gambut ini sulit dipadamkan karena cepat
menjalar ke lapisan dalam gambut.

Kesuburan Gambut

Kesuburan gambut dibagi menjadi tiga tingkatan : Eutropik (subur), Mesotropik


(sedang) dan Oligotopik (tidak subur). Biasanya lahan yang hanya mengandalkan air hujan
sebagai sumber air cenderung lebih tidak subur. Sedangkan lahan yang ikut mengandalkan
sumber air sungai relative lebih subur dari yang lainnya.
Pengikat karbon yang baik

Fungsi sebagai pengikat karbon hutan rawa gambut sangat membantu keseimbangan
iklim global mengingat emisi karbon diudara dituduh sebagai penyebab utama pemanasan
global yang terjadi belakangan.

2.2 Komponen Biotik Ekosistem Hutan Rawa Gambut

Sebagian besar anggota famili tumbuhan yang terdapat di hutan hujan dataran rendah
juga terdapat di hutan rawa gambut, kecuali Combretacea Lythraceae, Protaceae dan
Styracaceae. Beberapa jenis yang mencirikan hutan rawa gambut antara lain (Howe et al.,
1991; Soerianegara dan indrawan, 1984) : Ramin (Gonystilus bancanus Kurzt. Miq.) Suntai
(Palaqium burkii H.J.L), Meranti rawa (Shorea parvifolia Dyer.) dan Punak (Tetrameristra
glabra Miq.). Dibandingkan dengan tipe hutan lainnya, hutan rawa gambut termasuk miskin
akan jenis, meskipun relatif miskin akan jenis, tetapi hutan rawa gambut memiliki kerapatan
pohon yang tinggi (Anderson, 1976; 1983). Penelitian Laumonier et al., (1984; 1991) dan
haryanto (1989;1993) di Pulau Padang Riau menunjukkan bahwa famili yang umum
ditemukan pada hutan rawa gambut adalah Guttiferae/Clusiaceae (2 genus, 6 jenis),
sedangkan penelitian Laumonier et al., (1984; 1991) di Suaka Margasatwa Danau Besar dan
Danau Bawah Riau menunjukkan bahwa famili yang paling umum ditemukan adalah :
myrtaceae (2 genus, 6 jenis). Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa anggota famili Guttiferae
dan Myrtaceae memiliki kemampuan adaptasi terhadap kondisi hutan rawa gambut yang
miskin hara, sering tergenang air yang bersifat sangat masam dan memiliki senyawa fenol
tinggi. Salah satu bentuk adaptasi tumbuhan yang mudah dilihat di hutan rawa gambut adalah
terdapatnyaakar nafas (pneumatophore) pada berbagai jenis tumbuhan. Akar nafas
merupakan bentuk adaptasi tumbuhan yang umum dijumpai di habitat yang sering digenangi
air, misalnya hutan mangrove, hutan rawa dan hutan rawa gambut (Whitmore 1990).
Beberapa jenis tanaman khas rawa gambut adalah:

1) Tumih (Combretocarpus ratundus)


2) Mahang (Macaranga spp.)
3) Pulai (Alstonia pneumatophora)
4) Milas (Parastemon urophyllum)
5) Balam-suntai (Palaquium spp.)
6) Terentang (Camnosperma coreaceum)
7) Geronggang (Cratoxylon arborencens)
8) Simpur (Dillenia excelsa)
9) Jelutung (Dyera lowii)
10) Gelam (Melaleuca cajuputi)
11) Ramin (Gonystylus bancanus)
12) Meranti batu (Shorea uliginosa)
Di Indonesia tipe hutan rawa gambut ini terdapat di dekat pantai timur Pulau
Sumatera dan merupakan jalur panjang dari Utara ke Selatan sejajar dengan pantai timur, di
Kalimantan mulai dari bagian utara Kalimantan Barat sejajar pantai memanjang ke Selatan
dan ke Timur sepanjang pantai selatan sampai ke bagian hilir Sungai Barito. Di samping itu
terdapat pula hutan rawa gambut yang luas di bagian selatan Papua. Jenis-jenis pohon yang
banyak terdapat pada tipe hutan ini diantaranya adalah Alstonia spp, Tristania spp, Eugena
spp, Cratoxylon arborescens, Tetramerista glabra, Dactylocladus stenostacys, Diospyros spp
dan Myristica spp. Jenis-jenis pohon terpenting yang terdapat pada formasi hutan rawa
gambut adalah : Campnosperma sp., Alstonia sp., Cratoxylon arborescens, Jackia ornata dan
Ploiarium alternifolium). Pada hutan rawa gambut umumnya ada tiga lapisan tajuk, yaitu
lapisan tajuk teratas yang dibentuk oleh jenis-jenis ramin (Gonystylus bancanus), mentibu
(Dactylocladus stenostachys), jelutung (Dyera lowii), pisang-pisang (Mezzetia parviflora),
nyatoh (Palaqium spp), durian hutan (Durio sp), kempas (Koompassia malaccensis) dan
jenis-jenis yang umumnya kurang dikenal. Lapisan tajuk tengah yang pada umunya dibentuk
oleh jenis jambu-jambuan (Eugenia sp), pelawan (Tristania sp), medang (Litsea spp),
kemuning (Xantophyllum spp), mendarahan (Myristica spp) dan kayu malam (Diospyroy
spp). Sedangkan lapisan tajuk terbawah terdiri dari jenis suku Annonaceae, anak-anakan
pohon dan semak dari jenis Crunis spp, Pandanus spp, Zalaca spp dan tumbuhan bawah
lainnya. Tumbuhan merambat diantaranya Uncaria spp. Sedangkan hewan yang terdapat pada
ekosistem hutan rawa gambut antara lain:
1. Burung Gereja
2. Ikan Gabus
3. Ikan puyu
4. Capung
5. Kupu – kupu
6. Zooplankton
7. Fitoplankton
8. Jangkrik
9. Ikan toman
10. Semut
11. Harimau
12. Gajah
13. Laba – laba

PERUBAHAN EKOSISTEM RAWA GAMBUT JIKA TERJADI GANGGUAN

1. Ekosistem Rawa Gambut


Ekosistem dan lingkungan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Dalam
pembahasan mengenai ekosistem, lingkungan juga akan menjadi objek pembahasan. Secara
fisik, lingkungan berarti wadah atau tempat berlangsungnya suatu sistem kehidupan
organisme atau suatu komunitas. Kondisi lingkungan akan berubah jika terjadi perubahan di
dalam ekosistem atau sebaliknya; masing masing saling mempengaruhi dalam suatu
keseimbangan yang dinamis dan merupakan satu kesatuan fungsional. Dengan demikian,
ekosistem meliputi seluruh mahluk hidup dan lingkungan fisik yang mengelilinginya, dan
merupakan suatu unit yang mencakup semua mahluk hidup dalam suatu area yang
memungkinkan terjadinya interaksi dengan lingkungannya, baik yang bersifat abiotik
maupun biotik.

2 Kerusakan Hutan Rawa Gambut


Selama lebih dari 30 (tiga puluh) tahun terakhir ini, hutan rawa gambut telah
mengalami pembalakan, pengeringan, dan perusakan dahsyat akibat adanya berbagai
kegiatan yang terkait dengan kehutanan, pertanian, dan perkebunan. Kegiatan pembalakan
baik resmi maupun tidak resmi seringkali melibatkan pengeringan gambut selama proses
ekstraksinya. Pada kondisi alaminya yang basah, lahan gambut sebenarnya tidak mungkin
untuk mengalami kebakaran besar. Pada kenyataannya, karena telah banyak mengalami
kekeringan akibat drainase diantaranya untuk perkebunan maupun pengeluaran kayu,
kebakaran kemudian menjadi fenomena umum di lahan gambut. Berbagai kegiatan seperti
pembukaan dan persiapan lahan pertanian, perkebunan, pemukiman, penebangan yang tidak
terkendali, pembangunan saluran irigasi/parit/kanal untuk perkebunan dan pengeluaran kayu
tebangan serta transportasi menyebabkan kerusakan lahan gambut. Kerusakan yang terjadi
tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik (subsiden terbakar dan berkurangnya luasan
gambut), tetapi juga menyebabkan hilangnya fungsi ekosistem dan ekologis gambut.
Kerusakan Hutan Rawa Gambut saat ini disebabkan oleh:
Tidak memperhatikan karakteristik Ekosistem
Over Eksploitasi
Pembakaran
Konversi