Anda di halaman 1dari 25

RENO SULBAKTI [1704201010072]

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu wilayah yang sering dilanda gempa bumi, tercatat bayak
gempa yang dashyat pernah terjadi. Adapauna dampak ditimbulkan dari gempa perlu
diselidiki. Salah satu dampak yang timbulkan gempa yakni fenomena likuifaksi, Fenomena
likuifaksi terjadi yang disebabkan oleh beban siklik pada waktu terjadi gempa sehingga
tekanan air pori meningkat mendekati atau melampaui tegangan vertikal. Likuifaksi terjadi
ketika tanah non-kohesif (lanau sampai pasir) jenuh air yang kehilangan kuat gesernya pada
saat mengalami guncangan terutama disebabkan oleh gempa. Selama diguncang gempa tanah
lebih berlaku sebagai cairan daripada sebagai padatan, sehingga terjadilah likuifaksi yang
membahayakan bagunan di atasnya.

Pada tahun 1964 gempa bumi di Nigata gempa bumi mgenakibatkan terjadinya fenomena
liquifaksi sehingga sejumlah bangunan terguling dan miring. Fenomena kasus Niigata telah
menarik banyak perhatian dari insinyur dan ahli gempa di dunia. Peristiwa likuifaksi yang
pada areal yang luar biasa luasnya mengakibatkan sejumlah bangunan apartemen dekat tepian
sungai mengalami kegagalan daya dukung dan miring sebegitu parahnya seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 1.1 (Wikipedia, 2009). Meskipun bangunan itu mengalami
kemiringan yang sangat ekstrim, bangunanitu sendiri tidak menderita kerusakan berarti secara
struktural. Sejumlah studi untuk mengevaluasi potensi likuifaksi dalam deposit tanah telah
dilakukan di masa lalu.

Dalam menentukan suatu daerah memiliki potensi likuifaksi atau tidakbisa dengan dua
cara yaitu tes uji laboratorium dan tes uji lapangan yang nantinya akan dihitung faktor
keamanannya. Pada tes uji lapangan, tes yang sering dilakukan ialah tes CPT, SPT, BPT, dan
Vs. Mengacu pada fenomena likuifaksi, maka penting bagi kita untuk menganalisa potensi
likuifaksi ketika kita akan mendirikan suatu bangunan di atas tanah yang sekiranya memiliki
potensi likuifaksi. Hal ini yang juga melatar belakangi penulis untuk menganalisis potensi
likuifaksi pada daerah pantai yang rencananya sedang dibangun konstruksi di atasnya.
Mencermati hal tersebut maka penulis akan menyajikan data serta analisis dari interpretasi
data CPT pada lokasi tersebut untuk mengetahui potensi likuifaksi jika terjadi gempa.

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 1


RENO SULBAKTI [1704201010072]

1.2 Tujuan Penelitian

Tugas ini bertujuan untuk dapat memberi pendalaman pemahaman, baik untuk penulis sendiri
maupun mahasiswa yang lain dalam bidang geoteknik khususnya untuk masalah analisis
potensi likuifaksi pada suatu daerah dengan data CPT dan SPT. Hal-hal yang akan diangkat
yaitu mengenai :
a. Bagaiman peristiwa liquifaksi yang diakibatkan gempa ?
b. Menganalisis perhitungan CRR dengan menggunakan data CPT ?
c. Menentukan faktor keamanan pada tanah berpasir akibat peristiwa likuifaksi dari
interpretasi data CPT ?
d. Membandingkan hasil analisis data yang diperoleh dari pengolahan data CPT
terhadap potensi likuifaksi ?

1.3 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :


a. Mengetahui proses likuifaksi saat terjadi gempa.
b. Mengidentifikasi potensi likuifaksi dan bahaya yang dapat terjadi pada area yang
ditinjau.
c. Mengetahui analisis likuifaksi dari data CPT sehingga diperoleh safety factor.

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 2


RENO SULBAKTI [1704201010072]

BAB 2 DASAR TEORI

2.1 Likuifaksi
Dalam peristiwa gempa bumi, umumnya diikuti oleh serangkaian guncangan dan
penyesaran tanah akibat dari gelombang gempa yang sampai pada permukaan dan terkadang
menimbulkan tsunami. Guncangan tanah dan penyesaran tanah pada lingkungan geologi
tertentu salah satunya akan menyebabkan likuifaksi. Proses ini dapat menyebabkan bangunan
rusak, retak maupun runtuh, kerusakan bangunan akibat likuifaksi ini dikatakan sebagai
kegagalan tanah (Kertapati, 1998). Youd (1980) dan Kertapati (1998) meninjau dari beberapa
kerusakan berat atau kerusakan total pada bangunan karena peretakan tanah akibat proses
likuifaksi bahwa kerusakan ringan terjadi pada pergeseran tanah sejauh 50-100 mm,
kerusakan yang memerlukan perbaikan ringan atau kerusakan sedang terjadi akibat
pergeseran tanah sejauh 120-600 mm, dan kerusakan berat dengan pergeseran tanah sejauh
lebih dari 760 mm. Perubahan sifat tanah dari sifat solid menjadi sifat seperti likuid yang
terjadi pada tanah jenuh air diakibatkan oleh peningkatan tekanan air pori dan pengurangan
tegangan efektif tanah dan sekaligus juga mengurangi kekuatan geser tanah yang
bersangkutan. Apabila hal tersebut terjadi dan tanah kehilangan kekuatan gesernya maka akan
terjadi likuifaksi.

a. Definisi Likuifaksi
Likuifaksi merupakan kondisi dimana tanah mendapat beban siklik, misalnya beban yang
diakibatkan oleh gempa, sehingga mengakibatkan tanah tersebut berdeformasi dari solid
menjadi cair (liquefied) atau yang sering dikatakan menjadi seperti bubur. Dalam hal ini,
tanah yang mengalami likuifaksi adalah tanah berjenis pasir atau mengandung banyak pasir
yang berarti tanah tersebut tidak kohesif, dan juga tersaturasi. Pada tanah non-kohesif yang
tersaturasi (celah – celah antar partikelnya terisi dengan air). Kandungan air tersebut akan
memberikan tekanan pada partikel tanah sehingga menyebabkan adanya ikatan pada partikel
– partikel tanah tersebut. Sebelum terjadinya gempa, tekanan air pori relatif rendah, namun
guncangan dari gempa dapat memicu kenaikan tekanan air dalam tanah sampai pada titik
dimana partikel – partikel tanah dapat saling bergerak atau kehilangan ikatannya.
Beban yang bekerja merupakan beban siklik (dinamik) yang umumnya diakibatkan oleh
gempa. Pada saat beban gempa bekerja dalam kondisi undrained sedangkan tanah berjenis
pasir berada pada kondisi tersaturasi, maka tegangan air pori akan naik sehingga tanah
tersebut akan kehilangan kekuatannya atau kuat gesernya menjadi nol.
Fenomena yang terkait dengan likuifaksi adalah flow liquefaction dan cyclic mobility.
Keduanya sangat penting untuk diperhatikan dalam mengevaluasi bahaya likuifaksi. Flow

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 3


RENO SULBAKTI [1704201010072]

liquefaction adalah peristiwa dimana terjadi aliran – aliran anah. Hal ini terjadi apabila
tekanan geser statis yang diperlukan untuk mencapai kesetimbangan pada suatu massa tanah
jauh lebih besar daripada tegangan geser tanah dalam kondisi cair (liquefied). Dengan kata
lain, deformasi yang terjadi merupakan akibat dari tekanan geser statik (static shear stress).
Pada peristiwa flow liquefaction ini, terdapat dua karakteristik yang dapat dilihat yaitu
kecepatan aliran dan perpindahan material tanah yang sangat besar. Cyclic mobility
merupakan fenomena lainnya yang juga dapat menyebabkan deformasi permanen yang sangat
besar akibat adanya guncangan gempa. Berbeda dengan flow liquefaction, dalam static
mobility kondisinya adalah tekanan geser statis lebih kecil dibandingkan dengan tegangan
geser tanah cair (liquefied). Pada fenomena ini, deformasi yang terjadi diakibatkan oleh
pembebanan siklik (cyclic loading) dan tekanan geser statis (static shear stress).
Dalam hal ini, deformasi yang terjadi adalah deformasi lateral (lateral spreading).
Tercatat bahwa likuifaksi sebagai akibat dari gempa telah banyak terjadi di seluruh dunia
selama ratusan tahun, beberapa diantaranya adalah gempa di Alaska, AS (1964), Niigata,
Jepang (1964), Loma Prieta, AS (1989), dan Kobe, Jepang (1995).

b. Bahaya yang Disebabkan oleh Peristiwa Likuifaksi


Likuifaksi hanya terjadi pada tanah yang tersaturasi, maka efeknya seringkali hanya
diamati pada area yang dekat dengan badan air seperti sungai, danau, dan laut. Efek yang
disebabkan oleh likuifaksi dapat berupa longsor besar ataupun terjadinya retakan – retakan
pada tanah yang paralel dengan badan air, seperti kasus yang terjadi pada Montagua River,
Guatemala (1976). Saat terjadinya likuifaksi, kekuatan tanah menjadi berkurang dan
kemampuan tanah untuk mendukung pondasi dari bangunan diatasnya akan berkurang pula.
Likuifaksi juga dapat memberikan tekanan yang besar pada dinding – dinding penahan tanah
yang dapat menyebabkan dinding penahan tanah menjadi miring ataupun bergeser. Naiknya
tekanan air pori juga dapat memicu terjadinya longsor (land slides) serta rusaknya
bendungan.Pelabuhan dan dermaga umumnya berada pada area dekat badan air yang
berpotensi terjadi likuifaksi. Pada umumnya, dermaga dan pelabuhan memiliki struktur
penahan yang sangat besar. Jika tanah dibelakang dinding penahan tersebut mengalami
likuifaksi, maka dapat terjadi kegagalan pada dinding penahan tanah tersebut sehingga
dinding itu dapat bergeser, miring, ataupun rubuh.
Selain pada dinding penahan tanah, likuifaksi juga seringkali merusak jembatan yang
melewati badan air. Pergerakan tanah pada peristiwa likuifaksi dapat mendorong pondasi
jembatan keluar sehingga jembatan kehilangan supportnya, atau menyebabkan terjadinya

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 4


RENO SULBAKTI [1704201010072]

buckling pada pondasi jembatan. Kerusakan – kerusakan semacam ini membawa konsekuensi
yang besar dalam mendesain bangunan – bangunan pada tanah pasir yang berada dekat badan
air. Sebagai akibat jangka panjangnya, tentunya akan terdapat kerugian materi yang
sangat besar apabila terjadi kegagalan pada struktur dibawah tanah akibat likuifaksi.
Namun pada penelitian ini penulis lebih menekankan pada bangunan PLTU Ende yang
posisinya berada pada tanah kepasiran yang cukup memiliki potensi likuifaksi. Berikut adalah
gambar yang mengilustrasikan efek darilikuifaksi.

2.2 Teori Dasar Gempa Bumi


a. Teori Lempeng Tektonik
Teori lempeng tektonik yang dikembangkan sejak tahun 1960-an merupakan teori yang
menggambarkan bagaimana gempa bumi terjadi. Menurut teori lempeng tektonik, permukaan
bumi terdiri dari lempeng-lempeng tektonik yang berbeda-beda, bisa disebut juga sebagai
lempeng litosphere, dengan masingmasing pelat memiliki kerak atau lapisan dan bagian yang
lebih kaku pada mantel terluar. Lempeng-lempeng tektonik ini aktif bergerak dan
menimbulkan pelepasan energi akibat tekanan yang dihasilkan oleh pergerakan lempeng-
lempeng. Tekanan tersebut kian membesar dan mencapai keadaan dimana tekanan tersebut
tidak dapat ditahan oleh pinggiran lempeng, pada saat itulah gempa bumi terjadi. Gempa
bumi biasanya terjadi di perbatasan-perbatasan lempeng tersebut.
Batas lempeng (plate boundaries) dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan cara
lempengan tersebut bergerak relatif satu sama lain. Tiga jenis batas lempeng tersebut adalah
 Batas Divergen (Divergent Boundaries)
Batas Divergen terjadi ketika dua lempeng bergerak saling menjauhi satu sama lain.
Magma panas yang keluar ke permukaan akibat pergerakan dua lempeng ini
mengalami proses pendinginan dan membentuk punggungpunggung bukit. Gempa
bumi yang terjadi akibat pembentukan punggung bukit ini hanya terjadi di sekitar
puncak bukit, pada saat kerak baru terbentuk. Gempa ini relatif kecil dan terjadi pada
kedalaman yang dangkal.
 Batas Konvergen (Convergent Boundaries)
Berbeda dengan Batas Divergen, Batas Konvergen ini terjadi ketika dua lempeng
bergerak bergesekan saling mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona
subduksi (subduction zone) ketika salah satu lempeng bergerak di bawah lempeng
lainnya.

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 5


RENO SULBAKTI [1704201010072]

 Batas Transform (Transform Boundaries)


Batas Transform atau biasa disebut Patahan (Fault) terjadi pada saat lempeng
bergerak dan mengalami gesekan satu sama lain tanpa menimbulkan efek konstruktif
ataupun destruktif pada lapisan bumi seperti yang terjadi pada Batas Divergen dan
Batas Konvergen. Pada saat pergerakan relatif kedua lempeng sejajar satu sama lain,
zona patahan strike-slip (strike-slip fault zone) terbentuk pada Batas Transform.

Gambar 2.2. Tiga Jenis Batas Lempeng (Plate Boundary)


Kebanyakan gempa bumi terjadi akibat pelepasan energi yang terjadi akibat
perpindahan tiba-tiba dari patahan. Walaupun demikian tidak berarti bahwa
pergerakan tanah yang terjadi akibat patahan selalu menimbulkan gempa bumi.

b. Besaran Kekuatan Gempa


Terdapat dua cara dasar dalam mengukur kekuatan gempa, yaitu berdasarkan magnitudo
gempa (earthquake magnitude) dan berdasarkan intensitas kerusakan yang
diakibatkannya (earthquake intensity). Magnitudo gempa tidak bergantung pada
kepadatan populasi suatu wilayah maupun jenis konstruksi bangunan yang ada di
wilayah tersebut, sedangkan intensitas mengukur bahaya kerusakan yang diakibatkan
oleh gempa pada bangunan dan reaksi orang-orang di suatu wilayah.
 Earthquake Magnitude
Jika besar gempa di bumi ini ingin dibandingkan, dibutuhkan suatu metode
perhitungan yang tidak bergantung pada intensitas gempa, kepadatan penduduk, dan
jenis bangunannya, tetapi langsung kepada skala kuantitatif gempa yang dapat
diterapkan pada daerah dengan penduduk maupun tanpa penduduk. Hal ini dapat

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 6


RENO SULBAKTI [1704201010072]

dilakukan dengan mengkuantifikasi gempa sebagai magnitudo gempa yang pertama


kali diperkenalkan oleh Wadati di Jepang pada tahun 1931.
 Earthquake Intensity
Skala intensitas gempa pertama kali disusun oleh de Rossi dari Italia dan Forel dari
Swiss pada tahun 1880 kemudian dikembangkan dan diperbaiki oleh Mercalli pada
tahun 1931. Versi lainnya disusun oleh H.O. Wood dan Frank Neumann. Jepang juga
mengeluarkan skala intensitas gempanya.

2.3 Karakteristik Dasar Tanah


Ukuran partikel tanah sangat beragam, yaitu antara lebih besar dari 100 mm sampai
kurang dari 0.001 mm. Dari ukuran yang sangat beragam tersebut, maka setiap jenis tanah
memiliki sebutan yang berbeda, dimulai dari yang paling halus partikelnya yaitu lempung,
lanau, pasir, kerikil, cobbles, dan boulders untuk bebatuan yang paling keras dan partikelnya
paling besar. Pada umumnya, jenis tanah terdiri dari campuran berbagai rentang ukuran dan
biasanya lebih dari dua rentang ukuran. Namun partikel yang berukuran lempung tidak selalu
merupakan mineral lempung, bubuk batu yang paling halus mungkin berukuran partikel
lempung. Jika mineral lempung terdapat pada suatu tanah, biasanya akan dapat
mempengaruhi sifat tanah tersebut, meskipun persentasenya tidak terlalu besar. Secara umum,
tanah disebut kohesif bila partikel – partikelnya yang saling melekat setelah dibasahi,
kemudian dikeringkan maka diperlukan gaya yang cukup besar untuk meremas tanah
tersebut, ini tidak termasuk tanah yang partikel – partikelnya saling melekat ketika dibasahi
akibat tegangan permukaan.

Sumber: R.F.Craig, 1991

Gambar 2.3. Rentang Ukuran Partikel


Tanah yang partikelnya terdiri dari rentang ukuran kerikil dan pasir disebut tanah berbutir
kasar (coarse grained). Sebaliknya, bila partikelnya kebanyakan berukuran partikel lempung
dan lanau, disebut tanah berbutir halus(fine grained).

c. Sifat – sifat fraksi tanah berbutir kasar


Ukuran butiran tanah tergantung pada diameter partikel tanah yang membentuk masa tanah
itu. Secara visual, fraksi tanah berbutir kasar dapat dikenali secara langsung mengingat

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 7


RENO SULBAKTI [1704201010072]

ukurannya yang besar. Material tanah berbutir kasar paling banyak digunakan dalam
konstruksi karena sifat – sifatnya yang menguntungkan. Berikut ini adalah beberapa sifat –
Sifat fraksi tanah berbutir kasar, yaitu :
 Tidak mempunyai sifat kohesi
 Tingkat kompressibilitas yang tinggi dan nilai elastisitas yang besar,
 sehingga baik untuk material urugan. Material ini banyak dipakai untuk
 mengganti lapisan tanah yang buruk pada konstruksi jalan raya.
 Porositas tinggi karena banyak mempunyai celah atau void dalam susunan
strukturnya
 Mempunyai kuat geser yang besar
 Dapat terkonsolidasi dalam waktu yang relative cepat
 Partikel berukuran > 0.075 mm.

2.4 Tegangan Dalam Tanah


Besarnya pengaruh gaya – gaya yang menjalar dari partikel ke partikel lainnya dalam
kerangka tanah telah diketahui sejak tahun 1923, ketika Terzaghi mengemukakan prinsip
tegangan efektif yang didasarkan pada data hasil percobaan. Untuk rentang tegangan yang
biasa dijumpai dalam praktek, masing – masing partikel padat dan air dapat dianggap tidak
kompresibel; di lain pihak, udara bersifat sangat kompresibel. Tanah dapat ivisualisasikan
sebagai suatu kerangka partikel padat tanah (solid skeleton) yang membatasi pori – pori yang
mana pori – pori tersebut mengandung air dan/atau udara. Volume kerangka tanah secara
keseluruhan dapat berubah akibat penyusunan kembali partikel – partikel padat pada
posisinya yang baru, terutama dengan cara menggelincir yang menyebabkan terjadinya
perubahan gaya – gaya yang bekerja diantara partikel – partikel tanah. Kompresibilitas
kerangka tanah yang sesungguhnya tergantung pada susunan struktural partikel tanah
tersebut. Prinsip tersebut dapat diwakili oleh model fisis sebagai berikut. Tinjaulah sebuah
‘bidang’ x-x pada suatu tanah jenuh sempurna yang melewati titik – titik singgung antar
partikel, seperti terlihat pada gambar berikut. Bidang x-x yang bergelombang tersebut, dalam
skala besar, sama dengan bentuk bidang yang sebenarnya karena ukuran partikel tanah relatif
kecil. Sebuah gaya normal P yang bekerja pada bidang A sebagian ditahan oleh gaya – gaya
antar partikel dan sebagian oleh tekanan pada air pori. Gaya – gaya antar partikel pada
seluruh tanah, baik besar maupun arahnya, sangat tidak beraturan (acak), tetapi pada tiaptitik
singgung dengan bidang yang bergelombang dapat diuraikan menjadi komponen – komponen

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 8


RENO SULBAKTI [1704201010072]

gaya yang arahnya normal dan tangensial terhadap bidang x-x yang sebenarnya. Komponen
normal dinamakan dengan N’ dan komponen tangensial dengan T.

Sumber: R.F.Craig, 1991

Gambar 2.4. Interpretasi Tegangan Efektif


Tegangan geser dapat ditahan oleh kerangka partikel padat tanah dengan memanfaatkan gaya
– gaya yang timbul karena persinggungan antar partikel. Tegangan normal ditahan oleh gaya
– gaya antar partikel pada kerangka tanah. Jika tanah berada dalam kondisi jenuh sempurna,
air pori akan mengalami tekanan karena ikut menahan tegangan normal.
a. Tegangan Efektif
Tegangan efektif adalah gaya per satuan luas yang dipikul oleh butir – butir tanah. Perubahan
volume dan kekuatan tanah tergantung pada tegangan efektif di dalam massa tanah. Makin
tinggi tegangan efektif suatu tanah, makin padat tanah tersebut.
Prinsip tersebut hanya berlaku untuk tanah jenuh sempurna. Tegangan – tegangan yang
berhubungan dengan prinsip tersebut adalah :
 Tegangan normal total (σ); pada bidang di dalam tanah, yaitu gaya per satuan luas
yang ditransmisikan pada arah normal bidang dengan menganggap bahwa tanah
adalah material padat saja
 Tekanan air pori (u); merupakan tekanan air pengisi pori – pori di antara partikel –
partikel padat.
 Tegangan normal efektif (σ’) pada bidang, yang mewakili tegangan yang
dijalarkan hanya melalui kerangka tanah saja. Hubungan ketiga tegangan diatas
adalah : σ = σ’ + u (2.2.3)
b. Tegangan Horizontal (Tegangan Lateral)
Dalam bidang hidrolika, kita mengetahui bahwa tekanan pada benda cair akan memiliki

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 9


RENO SULBAKTI [1704201010072]

nilai yang sama dalam berbagai arah. Namun, sangat berbeda dengan tanah, sangat jarang
terjadi pada lapisan tanah alam yang bagian dasarnya memiliki tegangan horizontal yang
sama nilainya dengan tegangan vertikalnya. Adapun persamaan dari perbandingan
tegangan horizontal dan vertical adalah :
σh = K . σv (2.2.4)
Dimana K merupakan koefisien tekanan tanah. Karena permukaan air tanah dapat
berfluktuasi sehingga dapat merubah nilai tegangan total, maka koefisien K tidak konstan
nilainya pada lapisan tanah. Untuk menghindari masalah muka air tanah yang fluktuatif,
perbandingan tengangan tersebut harus dalam keadaan kondisi efektif.
σ’ h = K0 . σ’ v (2.2.5)
K0 adalah koefisien penting dalam bidang geoteknik. Biasa dinamakan “koefisien
tekanan tanah dalam keadaan diam” (coefficient of earth pressure atrest). Hal tersebut
menyatakan kondisi tegangan dalam tanah berada dalam keadaan efektif dan tidak
tergantung dari level muka air tanah. Bahkan jika kedalaman berubah, K0 tetap konstan,
selama dalam lapisan tanah dan kepadatan yang sama.

2.5 Kekuatan Geser Tanah


Salah satu properties tanah yang terpenting adalah kekuatan geser atau kemampuan tanah
untuk menahan gesekan sepanjang bidang geser dengan massanya. Kekuatan geser
merupakan karakteristik tanah yang dapat menjaga keseimbangan pada permukaan lereng.
Keruntuhan geser tanah terjadi bukan disebabkan karena hancurnya butir-butir tanah tetapi
karena adanya gerak relative antara butir-butir tanah tersebut. Kekuatan geser yang dimilki
oleh suatu tanah disebabkan oleh:
 Pada tanah berbutir halus (kohesif) misalnya lempung kekuatan geser yang dimiliki
tanah disebabkan karena adanya kohesi atau lekatan antara butir-butir tanah (c soil).
 Pada tanah berbutir kasar (non kohesif), kekuatan geser disebabkan karena adanya
gesekan antara butir-butir tanah sehingga sering disebut sudut geser dalam (φ soil).
 Pada tanah yang merupakan campuran campuran antara tanah halus dan tanah kasar
(c dan φ soil), kekuatan geser disebabkan karena adanya lekatan (karena kohesi) dan
gesekan antara butir-butir tanah (karena φ).
Jika pada suatu titik tertentu pada massa tanah, tegangan geser bernilai sama dengan
kuat gesernya, maka saat itulah akan terjadi keruntuhan. Menurut Coulomb, kuat geser
tanah pada suatu titik pada bidang tertentu, dapat diekspresikan sebagai suatu fungsi
linear dari tegangan normal pada saat keruntuhan pada titik yang sama pada bidang
tersebut.

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 10


RENO SULBAKTI [1704201010072]

vτf = c + σf tan φ (2.2.6)


Dimana c (kohesi) dan φ (sudut geser) merupakan parameter kuat geser. Berdasarkan
prinsip bahwa tegangan geser pada tanah hanya dapat ditahan oleh partikel padatnya,
maka kuat geser harus diekspresikan sebagai suatu fungsi dalam kondisi efektifnya, yaitu
sebagai berikut :
τf = c’ + σ’ f tan φ’ (2.2.7)
Hubungan parameter kuat geser dengan prinsip tegangan efektif pada saat keruntuhan
dapat dilihat pada gambar berikut ini, dimana lingkaran Mohr menunjukkan kasus dengan
c’ > 0.

Sumber: R.F. Craig, 2004

Gambar 2.5. Kriteria keruntuhan Mohr – Coulomb

a. Kekuatan Geser Tanah Non-Kohesif


Kekuatan geser pada tanah granuler seperti pada pasir hampir mendekati analogi pada
tahanan gesek benda padat pada bidang kontak. Hubungan antara tegangan normal pada
bidang tanah dan kekuatan gesernya dapat ditulis dengan persamaan berikut :
τf = σ tan φ (2.2.8)
Dimana
τf = tegangan geser keruntuhan, atau kekuatan geser.
σ = tegangan normal padabidang geser.
φ = sudut geser.

Sudut geser untuk pasir jenuh sedikit lebih kecil dibandingkan dengan pasir yang kering
untuk kepadatan yang relatif sama. Jika pasir berada dibawah muka air, maka efek dari
tegangan normal air pada bidang geser harus dihitung. Tegangan normalnya harus dalam
keadaan efektif. Tegangannya sama dengan tegangan total pada sebuah titik dikurangi

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 11


RENO SULBAKTI [1704201010072]

tegangan air pori. Kekuatan geser material akan bertambah sejalan dengan besarnya nilai
sudut geser. Oleh karena itu :
τf = (σ – u) tan φ’ (2.2.9)
dimana :
τf = tegangan geser keruntuhan, atau kekuatan geser.
σ = tegangan normal padabidang geser.
u = tekanan air pori.
φ = sudut geser.

2.6 Metode untuk mengevaluasi potensi Likuifaksi


Potensi likuifaksi pada suatu deposit tanah akan ditentukan oleh kombinasi beberapa
komponen, antara lain :
 Indeks properties tanah, seperti modulus dinamis, karakteristik kelembaban, berat
volume,gradasi butiran, kepadatan relatif dan struktur tanah itu sendiri.
 Faktor lingkungan, seperti jenis formasi tanah, sejarah seismik dan geologi, level
muka air tanah dan tegangan efektif tanah.
 Karakteristik gempa, seperti intensitas guncangan pada tanah dan lama guncangan
yang terjadi.
Dari beberapa faktor yang telah disebutkan di atas, tidak semua dari faktor tersebut dapat
ditentukan besarannya secara langsung, akan tetapi dampak yang muncul dari ketiga faktor
tersebut dapat digunakan atau dimasukkan kedalam prosedur evaluasi potensial likuifaksi,
yaitu dengan melakukan uji beban siklik pada sampel tanah tak terganggu atau bisa juga
dengan cara pengukuran karakteristik likuifaksi pada tanah menggunakan beberapa prosedur
pengujian di lapangan. Padadasarnya, prosedur standar evaluasi likuifaksi, antara lain:
 Menentukan besaran tegangan siklik yang muncul akibat pergerakan tanah pada saat
gempa bumi, pada setiap kedalaman deposit tanah dan mengkonversi bentuk
tegangan yang tidak beraturan tersebut hingga memiliki besaran yang sama dalam
bentuk tegangan siklik. Dengan kata lain, intensitas guncangan, lama guncangan dan
variasi guncangan yang terjadi akibat tegangan pada setiap kedalaman diubah
menjadi suatu besaran yang dapat dihitung. Penentuan besaran tegangan siklik yang
terjadi dapat dilakukan dengan cara menganalisa respon tanah terhadap tegangan
yang terjadi dengan melibatkan berat sendiri tanah, modulus dinamik dan
karakteristik kelembaban.
 Menentukan besaran tegangan siklik dengan cara uji pembebanan di laboratorium
yang diwakili oleh sampel tak terganggu yang dilakukan dengan variasi tekanan

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 12


RENO SULBAKTI [1704201010072]

bebas yang telah ditentukan atau dengan cara mengkorelasikan properties tanah
dengan karakteristik tanah dilapangan.
 Membandingkan antara tegangan geser yang terjadi akibat gempa bumi dengan hal-
hal yang dapat menyebabkan terjadinya likuifaksi untuk menentukan apakah deposit
tanah berada dalam zona likuifaksi atau tidak, seperti yang ditunjukkan oleh Gambar
2.6

Gambar 2.6. Metode Evaluasi Potensi Likuifaksi.

2.7 Parameter Likuifaksi


Parameter likuifaksi merupakan parameter yang digunakan sebagai dasar dalam
menentukan kriteria likuifaksi yang terjadi pada deposit tanah. Dimana dalam hal ini, perilaku
likuifaksi pada tanah dipengaruhi oleh dua parameter utama, yaitu perlawanan terkoreksi (qc1)
dan rasio tegangan siklik (CSR). Perhitungan nilai perlawanan terkoreksi qc1, dirumuskan
oleh Seed dan Idriss (1971) sebagai berikut :
qc1 = C1 × qc = CN qc (kg/cm2) (2.2.10)
dimana :
qc1 = perlawanan konus tekoreksi.
qc = perlawanan konus.
CN = faktor koreksi.
Untuk faktor koreksi ditentukan hubungan antara tengangan efektif tanah dan CN pada
gambar. Seed dan Idriss (1971) merumuskan persamaan perhitungan nilai CSR tanah, yaitu :

(2.2.11)

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 13


RENO SULBAKTI [1704201010072]

Gambar 2.7 Grafik Hubungan CN dan Tegangan Efeketif Tanah


(Ground Motion and Soil Liquifaction during Earthquakes, Seed & Idriss, 1982)
Dimana rd merupakan koefisien reduksi tegangan pada suatu kedalaman yang dirumuskan
untuk mengestimasi besarnya koefisien reduksi besaran CSR. Formulasi untuk mengestimasi
koefisien reduksi tegangan (Blake, 1996) yaitu :

(2.2.12)

Seed dan Idriss (1971), menentukan potensi likuifaksi berdasarkan grafik pada Gambar 2.8
dan Gambar 2.9. Grafik tersebut merupakan hubungan antara CSR dan perlawanan konus
terkoreksi.

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 14


RENO SULBAKTI [1704201010072]

Gambar 2.8 Grafik CSR – Perlawanan Konus Terkoreksi Uji Sondir untuk Tanah Pasir
Berlempung (Ground Motion and Soil Liquifaction during Earthquakes, Seed & Idriss,
1982).

Gambar 2.9 Grafik CSR –.Perlawanan Konus Terkoreksi Uji Sondir untuk Tanah Pasir
Berlempung (Ground Motion andSoil Liquifaction duringEarthquakes, Seed & Idriss, 1982)

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 15


RENO SULBAKTI [1704201010072]

Selain parameter yang telah disebutkan, dalam melakukan analisa potensi likuifaksi
dibutuhkan suatu variabel yang diintrepetasikan dalam sebuah persamaan yang dapat
mendefinisikan kapasitas tanah sebagai tahanan likuifaksi. Para ahli menginisiasikan tahanan
tanah terhadap likuifaksi dengan simbol CRR (Cyclic Resistance Ratio). Robertson dan Wride
(1998) membuat sebuah rujukan dalam bentuk grafik hubungan CRR dengan Nilai qc1
terkoreksi pada pasir halus dengan FC (Fine Contents) ≤ 5 % dan grafik ini hanya berlaku
untuk magnitude gempa yang terjadi sebesar 7,5 SR. Grafik hubungan antara CRR dan qc1
terkoreksi ditunjukkan oleh Gambar 2.9

Gambar 2.9 Hubungan qc1 dan CSR atau CRR terhadap Potensi Likuifaksi (Robertson
and Wride, 1998)

(2.2.13)
Nilai CRR tanah ini digunakan untuk menentukan faktor keamanan dari perilaku likuifaksi
pada tanah, yaitu dengan cara membandingkan antara CSR dengan CRR :
(2.2.13)
dimana nilai dari magnitude scalling factor (MSF), menggunakan persamaan :
(2.2.14)

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 16


RENO SULBAKTI [1704201010072]

BAB 3 METODOLOGI ANALISA

3.1 Tinjauan Umum


Dalam menganalisis potensi likuifaksi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu tes uji
laboratorium dan pendekatan perhitungan dari data tes lapangan. Masing-masing cara juga
memiliki metoda yang berbeda-beda dan selalu berkembang. Dalam kasus analisis potensi
likuifaksi kali ini penulis menggunakan pendekatan perhitungan data tes lapangan yaitu CPT .
Analisis menggunakan data CPT dilakukan untuk mengetahui potensi likuifaksi dari masing-
masing kedua data tersebut. Tujannya agar kita dapat mengetahui apakah hasil analisis yang
didapatkan dari masing-masing metode dan data memiliki perbedaan yang signifikan atau
tidak serta mendapatkan nilai tahanan likuifaksi yang lebih kritis untuk mendeteksi potensi
likuifaksi.

3.2 Data Teknis


Penelitian ini akan mengabil studi kasus pada bangunan yang dibangun diatas tanah
berpasir dan dicurigai memiliki potensi likuifaksi. Penelitian ini secara umum menganalisa
faktor keamanan likuifaksi yang didapat dari data yaitu data CPT.Adapun data teknis yang
ada yaitu terbatas pada uji lapangan yang dilakukan yaitu CPT.

Sumber : Google
Gambar 3.1 Pekerjaan DCP atau Sondir

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 17


RENO SULBAKTI [1704201010072]

a. Data CPT
Berikut adalah salah contoh data CPT dari hasil uji lapangan

b. Analisis Ukuran Butiran


Analisis ukuran butiran terdiri dari dua pengujian yaitu analisis saringan (sieve
analysis) dan uji hydrometer. Tujuannya adalah untuk melihat komposisi butiran pada
material tanah. Dengan melihat komposisi ukuran butiran yang menyusun tanah tersebut,
maka dapat diperkirakan jenis tanahnya dan dapat diperkirakan juga bagaimana susunan
partikelnya.Berdasarkan pengolahan data dari analisis ukuran butiran, maka didapat grafik
sebaran butiran untuk masing – masing sampel.
c. Mengestimasi Berat Volume Tanah
Estimasi berat volume tanah dilakukan dengan menggunakan grafik perilaku tanah
berdasarkan data sondir seperti yang ditunjukkan Gambar 6, kemudian hasil dari grafik
tersebut dikorelasikan ke Tabel 1 untuk mendapatkan berat volume tanah estimasi
berdasarkan zona yang diperoleh.

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 18


RENO SULBAKTI [1704201010072]

Gambar 3.2 Grafik Perilaku Tanah Berdasarkan Data (Robertson et al., 1986)

Tabel 3.1. Berat Volume Estimasi (Robertson et al., 1986)

3.4 Menentukan Tegangan Over Burden Tanah


Tegangan vertikal pada tanah dihitung dengan rumus:
σo = h × γ
dimana:
σo = tegangan vertikal tanah(kg/m2)
h = kedalaman (m)
γ = berat volume tanah (kg/m3)

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 19


RENO SULBAKTI [1704201010072]

3.5 Menentukan tegangan efektif tanah


Tegangan efektif vertikal pada tanah dihitung dengan rumus:
σo′ = σo – u = (h × γ) – (hw × γw)
dimana:
σo′ = tekanan efektif tanah(kg/m2)
σo = tekanan total pada tanah (kg/m2)
u = tekanan air pori (kg/m2)
h = kedalaman (m)
γ = berat volume tanah (kg/m3)
hw = kedalaman muka air tanah (m)
γw = berat volume air (kg/m3)

3.5 Menentukan perlawanan konus terkoreksi (qc1)


Perlawanan konus terkoreksi dihitung berdasarkan persamaan 2.2.10

3.6 Menentukan Magnitude dan percepatan tanah maksimum (amax)


Magnitude gempa dan percepatan tanah maksimum digunakan dalam perhitungan cyclic
stress ratio. Parameter ini diperoleh dari data gempa Padang Pariaman tanggal 30 September
2009, yaitu magnitude 7,6 SR dengan amax sebesar 0,28 g.

3.7 Menentukan faktor reduksi tegangan (rd)


Faktor reduksi tegangan dihitung berdasarkan persamaan 2.2.12

3.8 Menghitung nilai Cyclic Stress Ratio (CSR)


Besarnya nilai cyclic stress ratio

3.9 Menentukan kondisi Likuifaksi


Dalam suatu analisis potensi likuifaksi dibutuhkan suatu nilai pegangan untuk megetahui
apakah likuifaksi terjadi atau tidak. Nilai pegangan ini biasa kita sebut dengan faktor
keamanan. Faktor keamanan yang < 1 menyatakan bahwa tanah tersebut mengalami
likuifaksi, sedangkan faktor kemanan = 1 adalah kondisi kritis tanah menuju likuifaksi, dan
faktor kemanan > 1 menyatakan bahwa potensi likuifaksi tidak terjadi.

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 20


RENO SULBAKTI [1704201010072]

 Contoh Analisis Perhitungan

 Menentukan Potensi Likuifaksi berdasarkan Hubungan CSR – Perlawanan


Konus Terkoreksi
Dari hasil perhitungan yang diperoleh, dilanjutkan dengan memplot data hasil
perhitungan antara nilai CSR dan nilai perlawanan konus terkoreksi.

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 21


RENO SULBAKTI [1704201010072]

Gambar 3. 3 Grafik Hubungan antara CSR dan qc1

Dari gambar 3.3, terlihat bahwa cyclic stress ratio dan perlawanan konus
terkoreksi dati tiap kedalaman tinjaun menunjukan tanah berpotensi terhadap
likuifaksi. Hal ini ditunjukan dengan sebaran titik pada grafik di daerah
likuifaksi. Sehingga dapat diambil kesimpulan dari hasil perhitungan potensi
likuifaksi dengan tinjaun 2 daerah tersebut dapat dinyatakan terjadi Likuifaksi.
 Menghitung Nilai Magnitude Scalling Factor (MSF)
Besarnya nilai magnitude scalling factor ditentukan berdasarkan persamaan
(2.2.14) tergantung dari nilai perlawanan terkoreksinya.
.

 Menghitung Nilai FSL(Safety Factor)


Besarnya nilai FSL ditentukan berdasarkan persamaan (2.2.13) . Nilai FSL yang

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 22


RENO SULBAKTI [1704201010072]

digunakan untukmenyatakan suatu deposit tanah aman terhadap likuifaksi adalah


> 1,50. Hasil perhitungan nilai FSL

Gambar 3.4. Angka Keamanan vs Lapisan

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 23


RENO SULBAKTI [1704201010072]

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan dan Saran
Gempa bumi salah satu dampaknya akan menyebabkan likuifaksi. Proses ini dapat
menyebabkan bangunan rusak, retak maupun runtuh, kerusakan bangunan akibat likuifaksi
sehingga dari tugas ini ialah melihat sebuah kondisi dari potensi likuifaksi yang terjadi pada
suatu wilayah yang dianggap rentan terhadap potensi liquifaksi.
pada tugas ini diberikan cara analisis evaluasi liquifaksi berdasarkan data dengan uji
lapangan yang dilakukan sondir (CPT), maka sebaik dicoba dengan perhitungan
menggunakan data dari bor dalam (SPT) sebagai pebandingan agar memperoleh hasil yang
baik.

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 24


RENO SULBAKTI [1704201010072]

DAFTAR PUSTAKA

Harnaldo, (2008), Analisa Prilaku Likuifaksi pada Sedimen Tanah Padang Industrial Park
(PIP)Berdasarkan Pengujian Sondir. (Skripsi Sarjana yang tidak dipublikasikan, Jurusan
TeknikSipil, Fakultas Teknik, Universitas Andalas, 2008).
Kramer S. L. (1996). Geotechnical earthquake engineering, Prentice-Hall, Englewood Cliffs,
N.J., 653.Kumar, Kamalesh. 2008. Basic Geotechnical Earthquake Engineering. New Delhi :
New Age International (P) Ltd., Publishers
Lune, T., Robertson, P.K., and Jhon J.M. Powel, (1997), Cone Penetration Testing in
Geotechnical Practice, T.J. International, UK. Kramer, Steven.L., Geotechnical and
Earthquake Engineering, Prentice Hall, New Jersey, USA.
R.F.Craig dan Budi Susilo, Mekanika Tanah ,1991
Seed, H. Bolton, (1982), Ground Motions and Soil Liquefaction During Earthquakes,
Earthquake Engineering Research Institute.
Shibata, Toru and Wanchai Teparaksa, (1988). Evaluation of Liquefaction Potensials of Soils
using Cone Penetration Tests, Journal of Japanese Society of Soil Mechanics and Foundation
Engineering, June, 1988, Vol. 28, pp. 49 – 60.
Youd, T.L. and I.M. Idriss, (2001), Liquefaction Resistance of Soils: Summary Report from
The1996 NCEER and 1998 NCEER/NSF Workshop on Evaluation of Liquefaction Resistance
ofSoils: Journal of Geotechnical and Geoenviromental Engineering, ASCE, April, 2001, Vol.
127, No. 4, pp. 297 – 313.

GEOTEKNIK LINGKUNGAN Page 25