Anda di halaman 1dari 6

Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013

KARAKTERISTIK FISIK PELLET DAN SPONGE IRON


PADA BAHANBAKU LIMBAH KARAT DENGAN PASIR
BESI SEBAGAI PEMBANDING

Muhammad Amin*, Suharto*, Reni**, Dini**


*UPT.Balai Pengolahan Mineral Lampung,** FMIPA Universitas Lampung
e-mail: muha047@lipi.go.id.

Abstrak. Indonesia kaya akan bahan baku tambang, salah satunya adalah pasir besi dan bijih
besi yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan besi dan baja. Dalam proses pembuatan
besi dan baja banyak cara dan proses yang dilakukan yaitu dengan dilebur langsung pada
tanur tiup (blast furnace) dalam bentuk ore dengan hasil pig iron atau diolah terlebih dahulu
menjadi sponge iron selanjutnya dilebur ditungku kupola atau tungku induksi (induction
furnace). Pada proses pembuatan besi baja dengan jalur proses sponge iron terlebih dahulu
bahan baku dibuat dalam bentuk pellet dengan diameter 80 mm – 120 mm. Dalam penelitian
ini dilakukan pembuatan sponge iron dengan menggunakan bahan baku pasir besi dan
limbah karat besi sebagai pembanding. Dalam pembuatan pellet dengan alat pelletizing
bahan baku utama pasir besi dan karat besi 77 % di tambahkan bentonit sebanyak 3 % yang
berfungsi sebagai perekat dan batubara 20 % yang berfungsi sebagai reduktor. Setelah pellet
terbentuk maka pellet dikeringkan dalam oven suhu 110oC dan diuji masa jenisnya,
selanjutnya pellet direduksi atau dibakar pada suhu 1200oC selama 2 jam setelah dibakar
dilakukan proses pendinginan dan akan didapat produk sponge iron dari bahan baku pasir
besi dan limbah karat besi. Selanjutnya produk sponge iron dilakukan karakteristik fisik
berupa masa jenis, porositas dan absorbsi. Dari hasil pengujian karakter maka didapatkan
hasil masa jenis sponge dari pasir besi lebih baik sebesar 5,42 gr/ml lebih baik dibandingkan
dengan bahan baku karat sebesar 4,00 gr/ml sedangkan karakter daya serap atau absorbsi
pada bahan baku pasir besi lebih besar yaitu 23 % sedangkan pada karat besi sebesar 7,16 %
hal ini dikarenakan porositas dari bahan baku pasir besi sudah tinggi sebesar 658,67
sehingga semakin bertambahnya porositas maka akan semakin luas permukaan dan tingkat
absorbsinya pun semakin besar. Bahan baku pasir besi lebih baik dibandingkan besi karat
dikarenakan pasir besi merupakan senyawa oksida besi (Fe2O3) sehingga pada proses reduksi
maka berjalan lebih sempurna dalam melepaskan oksigen bila dibandingkan karat besi yang
berbentuk senyawa logam besi (FeO).

Kata kunci: Pellet, Sponge iron, Pasir besi, Karat Besi, besi baja

PENDAHULUAN Secara umum pasir besi terdiri dari


mineral optic yang bercampur dengan
butiran-butiran dari mineral non logam
seperti kuarsa, ampibol, piroksen, kalsit,
feldspart dll, mineral tersebut terdiri dari
magnetic, ilmenit, limonit dan hematite.
MineraL bijih besi terutama berasal dari
batuan basaltic dan andesit vulkanik.[1]
Bijih besi dalam bentuk lump ore di
pellet dengan komposisi tertentu lalu di
reduksi, saat proses pellet bijih besi
ukurannnya diperkecil, sedangkan suhu
Gambar 1. Potensi Cadangan Pasir Besi reduksi adalah berkisar antara 800 – 1050oC

Semirata 2013 FMIPA Unila |179


Muhammad Amin, dkk: KARAKTERISTIK FISIK PELLET DAN SPONGE IRON PADA
BAHANBAKU LIMBAH KARAT DENGAN PASIR BESI SEBAGAI PEMBANDING

Produk dari pada sponge iron ini adalah


sebagai bahan baku untuk pembuatan baja
dengan jenis produk type of iron-bassed
atau ferro alloys.[2]
Komposisi pellet dengan reduktor
sebanyak 17 %, bijih besi 80 % dan
bentonit 3 % sudah cukup baik karena pada
saat selesai pelletisasi dan di keringkan
pellet cukup keras sehingga sewaktu di
masukkan ke dalam rotary kiln tidak hancur
sehingga kalau pada saat proses reduksi
dan rotary kiln di putar maka pellet tidak
hancur maka perekat bentonit 3% cukup Gambar 3. Sponge Hasil Reduksi
baik. Pada saat proses reduksi pellet bijih
besi di dalam rotary kiln sebaiknya Pellet bijih besi di buat melelui proses
denmgan waktu tinggak selama 2 jam maka peletizing, dengan prinsip utama pembuatan
rotary harus di putar dengan 1 kali putaran pellet bijih besi meliputi tiga tahapan yaitu:
setiap 15 menit sekali ini dimaksudkan agar 1. Preparasi bahan baku, meliputi proses
sponge iron yang di hasilkan matang pengayakan dan grinding
dengan rata,untuk mencegak agar tidak 2. Pembentukan bola pellet (balling),
terjadi melting pada satu permukaan saja meliputi proses pencampuran,
dan kalau ini terjadi maka sponge iron yang pengadukan dan pembentukan bahan
di hasilkan akan menggumpal satu dengan baku menjadi bentuk bola silinder
yang lainnya tidak memisah.[3] 3. Indurasi, yaitu proses peningkatan
Proses reduksi langsung didefinisikan kekuatan pellet
sebagai suatu proses menghasilkan besi-
metal dengan mereduksi bijih besi ataupun Sedangkan pellet biji besi adalah
bentuk senyawa oksida lainnya dibawah gumpalan berbentuk bola yang di buat dari
temperatur lebur setiap material yang partikel halus dengan bahan konsentrat bijih
terlibat di dalamnya [Feinman., 1999]. besi.[5]
Hasil proses reduksi langsung disebut Upaya pemanfatan pasir besi lokal
dengan DRI (Direct Reduction Iron), sebagai bahan baku besi baja, pasir besi
karena hasilnya masih dalam bentuk yang digunakan sebagai bahan baku di
padatan dan secara fisik pada campur dengan batubara sebagai bahan
permukaannya terlihat rongga-rongga atau reduktor dan bentonit sebagai perekat lalu
porositas maka disebut juga dengan besi dibuat pellet. Semua bahan digiling dengan
spons.[4] kehalusan mesh 100 dan di reduksi di
furnace dan di lebur pada suhu 1500 oC
selama beberapa jam.[6]
Bijih besi dalam bentuk lump ore di
pellet dengan komposisi tertentu lalu di
reduksi, saat proses pellet bijih besi
ukurannnya diperkecil, sedangkan suhu
reduksi adalah berkisar antara 800 – 1050oC
Produk dari pada sponge iron ini adalah
sebagai bahan baku untuk pembuatan baja
dengan jenis produk type of iron-bassed
atauferro alloys.[7]
Gambar 2. Pellet Pasir Besi/ Karat Besi

180| Semirata 2013 FMIPA Unila


Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013

Korosi adalah reaksi antara suatu logam


dengan berbagai zat dilingkungan yang
korosif sehingga menghasilkan senyawa-
senyawa yang tidak dikehendaki, contoh
korosi yang paling lazim adalah perkaratan
besi. Pada persitiwa korosi logam
mengalami oksidasi, karat logam umumnya
berupa oksida yang menghasilkan rumus
Fe2O3.xH2O suatu zat padat yang berwarna
coklat merah.[8]
Secara umum jenis ion yang
mempengaruhi laju korosi anatara lain
Oksigen: Gambar 5. Proses Reduksi Pellet pasir
Besi/Karat Menjadi Sponge Iron
4Fe + 6 H2O + 3O2 4Fe(OH)3 (1) Ditungku Rotary Kiln Suhu
2Fe + O2 + 2H2O 2Fe(OH)2 (2) 1200oC
4Fe(OH)2 + O2 4H2O + 2Fe2O3 (3)
Untuk mengetahui karakteristik masing-
Keberadaan pasir besi yang terdistribusi masing dari pada sponge hasil reduksi yang
secara luas serta jumlahnya melimpah di berbahan pasir besi dan karat besi maka
Indonesia menjadi daya tarik secara perlu dilakukan uji fisik yaitu:
ekonomi. Besi yang diperoleh dari bijih 1. Uji Massa Jenis yaitu pengukuran massa
besi tidak dalam bentuk unsur murni Fe setiap satuan volume dari pada benda.
tetapi dalam bentuk besi oksida. Dalam Massa Jenis rata-rata setiap benda
pasir besi, oksida logam ini dijumpai dalam merupakan total massa dibagi dengan
dua fase, Fe2O3 dan Fe3O4. Keduanya total volumenya.
merupakan bahan magnetik yang ρ= m m = massa sample kering
menunjukkan sifat kemagnetan ketika v v = volume
berada dalam medan magnet. Fe2O3
memiliki interaksi yang lebih lemah di 2. Uji Porositas dan Absorbsi yaitu
dalam medan magnet dari pada Fe3O4 yang pengujian yang didfasarkan oleh
memiliki inetraksi lebih kuat di dalam penyerapan air oleh benda yang diuji
medan magnet.Pasir besi ini dapat lebih dengan cara direndam dengan waktu
dimanfaatkan dalam bidang material tertentu.
science dengan nilai ekonomi yang lebih (W3 – W1)
tinggi dan ramah lingkungan[9] Angka Porositas = x 100 %
(W2 – W3)

W1 = Berat Awal Kering


W2 = Berat Setelah Direndam
W3= Berat Setelah Dilap Kering

3. Uji Absorbsi:
(W3 – W1)
Angka Porositas = x 100 %
(W1)
W1 = Berat Awal Kering
W3 = Berat Setelah Dilap Kering.

Semirata 2013 FMIPA Unila |181


Muhammad Amin, dkk: KARAKTERISTIK FISIK PELLET DAN SPONGE IRON PADA
BAHANBAKU LIMBAH KARAT DENGAN PASIR BESI SEBAGAI PEMBANDING

METODE PENELITIAN HASIL DAN PEMBAHASAN

Metodologi yang digunakan dalam Berdasarkan tabel 1 diatas dapat dilihat


penelitian ini adalah metode percobaan bahwa massa jenis untuk pellet yang
langsung yaitu pemanasan langsung pada berbahan baku dari karat besi lebih besar
batuan perlit di laboratorium UPT-BPML- yaitu 3,69 gr/ml hal ini dikarenakan pada
LIPI yang di dahului dengan studi literature karat besi kandungan unsur Fe.Metal telah
mengenai teori yang mendukung tentang tinggi namun besi mengalami korosi yang
pembuatan sponge iron dari bahan baku mengakibatkan besi berubah menjadi besi
pasir besi dan karat besi, yang dilanjutkan oksida (Fe2O3.xH2O), bila dibandingkan
dengan metode percobaan langsung dengan dengan massa jenis pellet berbahan pasir
cara melakukan pembuatan langsung besi sebesar 1,53 gr/ml hal ini disebabkan
sponge iron dari bahan baku pasir besi dan bahan baku pasir besi masih banyak oksida
karat besi. Mula-mula bahan baku pasir besi pengotornya antara lain,SiO2, CaO, TiO2,
dan karat besi dihaluskan dan diayak MgO dll yang semuanya mempengaruhi
dengan kehalusan mesh lolos 100 sebanyak daripada massa jenis secara keseluruhan di
80 %, lalu di tambahkan batubara 17 % dan pasir besi.
bentonit sebagai perekat 3 % ketiga bahan
tersebut diaduk rata sambil ditambahkan air Akan tetapi dari hasil pengujian massa
secukupnya hingga menjadi seperti adonan jenis untuk sponge iron atau pellet yang
agar bisa dibentuk menjadi pellet pada telah mengalami pemanasan (reduksi) pada
mesin peletizing. Setelah menjadi pellet suhu 1200oC, sponge iron berbahan baku
dikeringkan suhu lembab dan dimasukan pasir besi lebih tinggi yaitu sebesar 5,42
dioven suhu 110oC. Pellet kering siap gr/ml hal ini disebabkan unsur oksida yang
direduksi pada mesin rotary kiln dengan ada didalam pasir besi sebagian telah hilang
suhu mencapai 1200oC, lalu didinginkan pada saat pemanasan yang akhirnya
dan siap dikarakteristik fisik. kandungan besi pun akan meningkat, ini
bila dibandingkan sponge iron pada bahan
Berikut adalah diagram alir pembuatan baku karat besi yang kandungan besi oksida
sponge iron : yang terdapat pada karat mengalami
penurunan karena pemanasan yang cukup
tinggi sehingga massa jenis lebih rendah
yaitu sebesar 4,00 gr/ml.

Porositas yang ada pada sponge iron


berbahan baku pasir besi lebih tinggi
658,67 % bila dibandingkan dengan
porositas sponge iron berbahan baku karat
besi sebesar 468,09 % ini dikarenakan
oksida yang ada pada pasir besi mengalami
penguapan pada saat pemanasan suhu tinggi
juga lebih reaktif sehingga oksida-oksida
tadi akan meninggalkan pori-pori yang
Gambar 6. Flow Chart Pembuatan Sponge berakibat sponge iron menjadi poros.

182| Semirata 2013 FMIPA Unila


Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013

Hasil Pengujian:

Tabel 1. Hasil Pengujian Pellet, Sponge Pasir Besi dan Karat Besi
No. JENIS PASIR BESI RATA- KARAT BESI RATA-
PENGUJIAN RATA RATA
1. Massa Jenis Pellet 1,01/1,75/1,82 1,53 3,84/3,70/3,53 3,69
(gr/ml)
2. Massa Jenis Sponge 5,85/5,23/5,20 5,42 3,93/4,04/4,04 4,00
(gr/ml)
3. Porositas (%) 243/833/900 658,67 170/614,28/620 468,09

4. Absorbsi (%) 9/10/50 23 2,83/10,23/8,44 7,16

Berdasarkan uji daya absorbs pada 5. Suhu pemanasan atau reduksi


sponge iron maka dapat dilihat hal yang mempengaruhi pada sponge iron yang
cukup berbeda sekali pada sponge iron dihasilkan.
pasir besi daya absorb lebih banyak yaitu
23 % bila dibandingkan dengan sponge iron Saran
karat besi sebesar 7,16 % ini semua
dipengaruhi oleh porositas dari kedua Diharapkan aka ada penelitian lebih
sponge iron tersebut pada sponge pasir besi lanjut mengenai sponge iron ini dengan
porositas lebih tinggi dibandingkan dengan bermain pada suhu yang divariasikan
porositas pada sponge iron karat besi, sehingga akan didapat suhu pemanasan atau
seperti diketahui bahwa semakin tinggi reduksi yang optimal.
porositas maka daya serap atau absorb nya
pun akan semakin banyak karena pori-pori DAFTAR PUSTAKA
yang kosong akan menyerap air.
1. http://Teknik Pengecoran Logam.com,
SIMPULAN DAN SARAN Eksplorasi Bijih Besi, diakses tgl 12
Juni 2011.
1. Berdasarkan data hasil pengujian dan 2. Tupash Ranjan.M, Modeling Of Rotary
pembahasan dalam penelitian ini maka
Kiln For Sponge Iron Processing Using
dapat diambil simpulansebagai berikut: (FI) Fackage, Departemen of Chemical
2. Massa Jenis pada sponge iron akan naik Enginering National Institute Of
karena telah mengalami reduksi bila Technology, Rourkella 769008, 2012,
dibandingkan dengan massa jenis pada India.
pellet yang tidak mengalami reduksi.
3. Massa jenis sponge iron berbahan baku 3. Muhammad amin, Performa Rotary
pasir besi lebih tinggi dibandingkan Kiln Dalam Proses Pembuatan Sponge
massa jenis sponge iron berbahan baku Iron Dengan Menggunakan Bahan
karat besi Bakar Batubara, Proseding Seminar
4. Semakin tinggi porositas semakin tinggi IPT, 2012, Bandung
pula daya serap atau absorb daripada 4. http://basar
sponge iron ini yang terjadi pada sponge manalo.blogspot.com,07,2012, Reduksi
pasir besi lebih tinggi dibandingkan Bijih Besi, di akses tgl 31 Oktober
sponge iron karat besi. 2012

Semirata 2013 FMIPA Unila |183


Muhammad Amin, dkk: KARAKTERISTIK FISIK PELLET DAN SPONGE IRON PADA
BAHANBAKU LIMBAH KARAT DENGAN PASIR BESI SEBAGAI PEMBANDING

5. Iskandar Muda, Trial Produksi (FI) Fackage, Departemen of Chemical


Pembuatan Besi Spons Dari Fines Enginering National Institute Of
Pellet Ukuran 3-5 mm Dengan Technology, Rourkella 769008, 2012,
Menggunakan Rotary Kiln, Proseding India.
Seminar Nasional Besi dan Baja II, 8. Michael, Kimia 3, Erlangga, Jakarta,
ITB, 2011, Bandung 2006
6. Dedy Supiandy, Komposit Pasir Besi 9. Lee, D.G., Ponvel, K.M., Hwang, S.,
Sebagai Umpan Bahan Baku Ahn, I.S., Lee, C.H., ―Immobilization
Pembuatan Besi Baja, Proseding of
Seminar Material Metalurgi, Puslit
Metalurgi -LIPI, 2009, Serpong 10. Lipase on Hydrophobic Nano-Sized
Magnetite Particles”, Journal of
7. Tupash Ranjan.M, Modeling Of Rotary Molecular Catalysis
Kiln For Sponge Iron Processing Using B:Enzymatic, 57, 62-66, 2009

184| Semirata 2013 FMIPA Unila