Anda di halaman 1dari 23

Pentingnya Good Corporate Governance (GCG) di BUMN

Penerapan praktek-praktek GCG merupakan salah satu langkah penting bagi Badan
Usaha Milik Negara (BUMN) untuk meningkatkan dan memaksimalkan nilai
perusahaan (corporate value), mendorong pengelolaan perusahaan yang profesional,
transparan dan efisien dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan,
akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggungjawab dan adil sehingga dapat
memenuhi kewajiban secara baik kepada pemegang saham, dewan komisaris, mitra
bisnis, serta stakeholders lainnya.

Lebih lanjut, pihak direksi, dewan komisaris, manajemen dan staf berkomitmen untuk
menerapkan praktek-praktek GCG dalam pengelolaan kegiatan usaha BUMN.
Kesadaran akan pentingnya GCG bagi BUMN adalah karena keinginan untuk
menegakkan integritas dalam menjalankan bisnis yang sehat.

Program Pengembangan dan Penerapan Praktek GCG


Beberapa hal yang perlu dilakukan BUMN dalam rangka program pengembangan
dan penerapan praktekpraktek GCG:

1. Mengembangkan kebijakan dan peraturan yang dapat menciptakan


lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan praktek-praktek GCG;
2. Mengembangkan model pengelolaan perusahaan yang mampu mendukung
tumbuhnya profesionalitas, transparansi, akuntabilitas, kesetaraan dan
tanggungjawab
3. Mengembangkan sikap dalam melihat implementasi GCG sebagai kebutuhan
dan tuntutan etik, bukan semata sebagai kepatuhan terhadap regulasi

Metodologi dan Pendekatan


Penerapan praktek-praktek GCG bersama dengan perangkat manajemen lainnya dapat
meningkatkan kinerja perusahaan dan memaksimalkan nilai perusahaan (corporate
value).

Praktik manajemen (management practices) mencakup perencanaan, pengarahan,


pelaksanaan dan pengendalian kegiatan-kegiatan operasional bisnis perusahaan.

Di sisi lain, praktik GCG antara lain meliputi:


Ø Seleksi dan penunjukan Dewan Komisaris dan Direksi
Ø Penilaian kinerja Direksi dan Dewan Komisaris
Ø Tugas dan tanggungjawab Dewan Komisaris dan Direksi
Ø Tatanan hubungan Dewan Komisaris dengan manajemen dan pemegang saham
Ø Komite audit
Ø Pengelolaan resiko

Faktor -faktor yang mempengaruhi Imnplementasi GCG

Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang tidak dapat dikontrol oleh manajemen dan
mempengaruhi penerapan praktik manajemen dan GCG di BUMN, antara lain adalah:

Ø Kemajuan teknologi yang pesat


Ø Keadaan ekonomi dan politik yang mempengaruhi daya beli masyarakat
Ø Kerjasama pihak perbankan dan lembaga keuangan yang digunakan BUMN untuk
menjalankan bisnis
Ø Peraturan dan hukum yang berlaku terkait dengan perbankan dan lembaga keuangan.

Faktor Internal
Sedangkan fakktor internal yaitu faktor yang dapat dikontrol oleh manajemen dan
mempengaruhi penerapan praktik manajemen dan GCG antara lain yaitu:

Ø Visi, misi dan strategi perusahaan


Ø Budaya perusahaan
Ø Peraturan perusahaan
Ø Manajeman berbasis resiko
Ø Audit yang efektif (internal dan eksternal audit)
Ø Akuntansi dan disclosure (pengungkapan) yang akurat dan transparan

Prinsip Good Corporate Governance

Fairness (adil)
Prinsip fairness berkaitan dengan perlakuan yang sama terhadap stakeholders.
Penerapan prinsip ini dapat dilakukan antara lain dengan cara:

 Menerbitkan corporate rules untuk melindungi pemegang saham minoritas.


 Menerbitkan corporate conduct dan compliance policies untuk mencegah
terjadinya kecurangan, berbuat untuk kepentingan pribadi dan conflict of interest.
 Menyusun tugas dan kewajiban direksi, dewan komisaris, manajemen dan komite-
komite termasuk di dalamnya sistem audit.
 Melakukan pengungkapan atas semua informasi material atau
pengungkapan penuh (full disclosure) atas seluruh informasi yang
mempengaruhi keberlanjutan perusahaan, misalnya hal-hal yang berkenaan
dengan kinerja operasional, keuangan dan risiko usaha perusahaan.
 Memperkenalkan kesempatan kerja yang sama pada semua calon pegawai
maupun pegawai tetap yang telah bekerja untuk perusahaan.
Transparency (Transparansi)
Prinsip transparency dapat dicapai dengan meningkatkan kualitas pengungkapan atas
informasi kinerja perusahaan yang akurat dan tepat waktu. Transparansi
menunjukkan kemampuan dari para stakeholder terkait untuk melihat dan
memahami proses dan landasan yang digunakan dalam pengambilan keputusan atau
dalam pengelolaan perusahaan.

Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menerapkan prinsip tersebut antara lain
sebagai berikut:

 Mengembangkan sistem akuntansi berdasarkan pada Accounting Standard


(standar akuntansi) dan Best Practices untuk memastikan kualitas laporan
keuangan dan pengungkapannya.
 Mengembangkan IT dan MIS untuk memastikan pengukur kinerja yang
sesuai dan proses pengambilan keputusan yang efektif oleh direksi dan
manajemen.
 Mengembangkan Enterprise Wide Risk Management untuk memastikan bahwa
seluruh resiko yang signifikan telah diidentifikasi, terukur, dan dapat dikelola
pada tingkat yang telah ditentukan.
 Mengumumkan kepada publik untuk lowongan pekerjaan.

Accountability (Akuntabilitas)
Prinsip akuntabilitas berkaitan dengan pertanggungjawaban Dewan Komisaris atau
Direksi atas keputusan dan hasil yang dicapai sesuai dengan wewenang yang
dilimpahkan dalam pelaksanaan tanggungjawab mengelola perusahaan.

 Penerapan prinsip akuntabilitas dapat direalisasikan antara lain melalui cara-cara


berikut: Penyiapan laporan keuangan dilakukan secara tepat waktu dan benar.
 Menyusun Komite Audit dan Komite Risiko untuk meningkatkan fungsi
pengawasan oleh Dewan Direksi.
 Menyusun dan meredifinisi tugas dan fungsi internal audit sebagai rekan
bisnis strategis mendasarkan pada best practices sehingga internal audit tidak
hanya melakukan compliance audit namun juga menggunakan pendekatan risk
based audit.
 Memelihara pengelolaan kontrak-kontrak secara bertanggungjawab dan
menyelesaikan permasalahan yang timbul.
 Menegakkan hukum dengan cara menyusun sistem penghargaan dan
penghukuman (reward and punishment system).
 Menggunakan Auditor Eksternal yang berkualitas dan profesional.

Responsibility (Tanggung Jawab)


Prinsip responsibility merupakan konsekuensi dari wewenang yang dimiliki oleh
seseorang. Penerapan prinsip akuntabilitas dapat direalisasikan antara lain melalui hal
berikut:
 Penyadaran atas adanya responsibility kepada masyarakat atau pihak yang
terkait dengan perusahaan, baik secara langsung maupun tidak.
 Menghindari pemanfaatan/penyalahgunaan kekuasaan.
 Bersikap profesional dan memiliki etika.

Independence (Kemandirian)
Kemandirian/independensi memiliki arti bahwa dalam menjalankan tugas dan
kewenangannya mengelola perusahaan, para pemegang saham, Dewan Komisaris, dan
Direksi sepenuhnya terlepas dari berbagai pengaruh/tekanan pihak lain yang dapat
merugikan, menggangggu dan mengurangi obyektivitas pengambilan keputusan atau
menurunkan efektivitas pengelolaan kinerja perusahaan.

Praktik Good Corporate Governance


Praktik dasar GCG terkait dengan prinsip akuntabilitas antara lain meliputi
delegasi wewenang, pertanggungjawaban dan mekanisme pelaporan (dokumen
perencanaan dan dokumen pelaporan).

Sedangkan terkait prinsip transparansi meliputi antara lain penunjukan Dewan


Komisaris, Direksi, remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi, kinerja Dewan Komisaris
dan Direksi, transaksi dengan pihak ketiga, hubungan dengan pemerintah dan
penunjukan auditor.
Selanjutnya, prinsip transparansi antara lain mencakup pengungkapan kinerja
keuangan, kinerja non keuangan, kepatuhan, laporan corporate governance, penunjukan
auditor, dan pengungkapan terhadap pemegang saham.

Praktek-praktek yang terkait dengan prinsip kemandirian antara lain yaitu akses
terhadap masukan, independen, conflict of interest, transaksi dengan pihak ketiga dan
hubungan dengan pemerintah.
BUMN Wajib Terapkan Good Corporate Governance

Upaya memperbaiki kinerja Badan Usaha Milik Negara masih terus bergulir seiring dengan bergulirnya
wacana penerapan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG) pada BUMN. Kini, GCG tidak lagi
menjadi wacana bagi BUMN, melainkan telah menjadi sebuah kewajiban bagi BUMN-BUMN.
Melalui Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (Meneg BUMN) No. Kep-117/M-
MBU/2002 tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada BUMN, BUMN pun wajib
menerapkan prinsip GCG. Keputusan yang ditandatangani oleh Meneg BUMN Laksamana Sukardi itu
telah ada sejak 1 Agustus 2002, tetapi belum banyak diketahui masyarakat.
Kewajiban tersebut meliputi kewajiban bagi BUMN untuk menerapkan secara konsisten dan atau
menjadikan GCG sebagai landasan operasional BUMN yang bersangkutan. Prinsip-prinsip GCG yang
diwajibkan melalui keputusan tersebut antara lain adalah prinsip transparansi, kemandirian,
akuntabilitas, pertanggungjawaban, dan prinsip kewajaran (fairness).
Salah satu tujuan dari pewajiban prinsip GCG tidak terlepas dari program privatisasi yang sedang
dijalankan oleh pemerintah. Dengan penerpan GCG, diharapkan nilai BUMN akan menjadi lebih
maksimal dan dapat meningkatkan kontribusinya bagi perekonomian nasional. Bahkan lebih jauh,
penerapan GCG dapat meningkatkan iklim investasi nasional yang sedang dalam keadaan mati segan
hidup tak mau ini.
Dalam Keputusan Meneg BUMN tersebut, selain mengatur tentang penerapan prinsip-prinsip GCG,
diatur pula ketentuan mengenai pemegang saham. Dikatakan bahwa pemegang saham atau pemilik
modal BUMN yang notabene adalah pemerintah, tidak diperkenankan mencampuri kegiatan
operasional perusahaan yang menjadi tanggung jawab direksi sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar
perusahaan dan peraturan perundang-undnagan yang berlaku.

Komisaris independen
Salah satu isu penting yang mengemuka dalam wacana good corporate governance adalahh
pembentukan Komisaris Independen dan Komite Audit. Dalam Keputusan Meneg BUMN tersebut, tidak
disebutkan secara langsung bahwa BUMN harus memiliki Komisaris Independen.
Namun disebutkan bahwa paling sedikit 20 persen dari Komisaris atau Dewan Pengawas perusahaan,
harus berasal dari kalangan di luar BUMN yang bersangkutan dengan beberapa persyaratan. Hal
tersebut dapat dibaca bahwa dari jajaran Dewan Komisaris yang dibentuk oleh BUMN yang
bersangkutan, 20 persennya adalah Komisaris Independen.
Persyaratan menjadi Komisaris Independen adalah, tidak menjabat sebagai Direksi di perusahaan
terafiliasi, tidak bekerja pada pemerintah--termasuk di departemen, lembaga, dan kemiliteran dalam
kurun waktu tiga tahun terakhir. Yang bersangkutan juga tidak bekerja di BUMN bersangkutan atau
afiliasinya dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.
Persyaratan lainnya adalah tidak mempunyai keterkaitan finansial, baik langsung maupun tidak langsung
dengan BUMN tersebut atau perusahaan yang menyediakan jasa dan produk kepada BUMN yang
bersangkutan dan afiliasinya. Selain itu, bebas dari kepentingan dan aktivitas bisnis atau hubungan lain
yang dapat menghalangi atau mengganggu kemampuan Komisaris Independen.
Komite Audit
Perihal Komite Audit, tidak seluruh BUMN diwajibkan memiliki kelengkapan Komite Audit. Hanya
BUMN-BUMN dengan kriteria tertentu saja yang wajib memiliki Komite Audit yang dibentuk oleh Dewan
Komisaris.
BUMN yang wajib memiliki Komite Audit adalah BUMN yang mempunyai kegiatan usaha di bidang
asuransi dan jasa keuangan lainnya. Serta BUMN yang mempunyai aset dengan nilai minilan Rp1 triliun.
Demikian juga halnya dengan BUMN yang menjadi PT Terbuka dan yang berada dalam persiapan
privatisasi, wajib memiliki Komite Audit.
Sedangkan BUMN lainnya tidak diwajibkan memiliki Komite Audit, tetapi Dewan Komisaris nya dapat
membentuk Komite Audit yang bekerja secara kolektif dan berfungsi membantu Dewan Komisaris dalam
melaksanakan tugasnya.
Sama halnya dengan Komisaris Independen, ketentuan tersebut juga mengatur mengenai susunan
Dewan Direksi. Dalam ketentuan tersebut diatur bahwa paling sedikit 20 persen dari jumlah anggota
Direksi harus berasal dari kalangan di luar BUMN yang bersangkutan yang bebas dari pengaruh anggota
Dewan Komisaris dan anggota direksi lainnya serta pemegang saham pengendali atau pemilik modal.
Jika dilihat dari berbagai ketentuan yang diatur dalam ketentuan tersebut, tampaknya ketentuan itu
mengacu pada code for good corporate governance yang disusun oleh Komite Nasional (Komnas)
Kebijakan GCG. Hal tersebut dibenarkan oleh mantan Dirut BEJ yang menjadi salah satu anggota Komnas
GCG, Mas Ahmad Daniri dalam sebuah diskusi bertajuk Reformasi BUMN di Jakarta.
Menurut Daniri, Komnas GCG memang banyak memberikan masukan dalam mempersiapkan Keputusan
Meneg BUMN tersebut. Komnas GCG kini juga tengah menyiapkan usulan penyemb=purnaan UU
Perseroan terbatas, UU Pasar Modal, UU Kepailitan, dan UU Registrasi Perbankan dalam kaitannya
dengan upaya penyempurnaan peraturan perundangan untuk mendukung penerapan prinsip-prinsip
GCG.
CGC POS INDONESIA
A. PENDAHULUAN
Salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja suatu perusahaan/organisasi adalah dengan cara
menerapkan Good Corporate Governance (GCG). Penerapan Good Corporate Governance
(GCG) merupakan pedoman bagi Dewan Komisaris dan Direksi dalam membuat keputusan dan
menjalankan tindakan dengan dilandasi moral yang tinggi, kepatuhan kepada peraturan
perundang-undangan yang berlaku serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial perseroan
terhadap pihak yang berkepentingan (stakeholders) secara konsisten.
Maksud dan tujuan penerapan Good Corporate Governance di Perusahaan adalah sebagai
berikut:
1. Memaksimalkan nilai Perusahaan agar memiliki daya saing yang kuat, baik secara
nasional maupun internasional, sehingga mampu mempertahankan keberadaannya dan
hidup berkelanjutan untuk mencapai maksud dan tujuan Perusahaan;
2. Mendorong pengelolaan Perusahaan secara profesional, efisien dan efektif, serta
memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian Organ Perusahaan;
3. Mendorong agar manajemen Perusahaan dalam membuat keputusan dan menjalankan
tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-
udangan, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial Perusahaan terhadap
stakeholders maupun kelestarian lingkungan di sekitar Perusahaan;
4. Meningkatkan kontribusi Perusahaan terhadap perekonomian nasional;
5. Meningkatkan iklim yang kondusif bagi perkembangan nilai investasi Perusahaan.
Implementasi Good Corporate Governance Perusahaan telah menghasilkan hal-hal
penting sebagai berikut :
1. Keputusan Direksi PT Pos Indonesia (Persero) Nomor : KD. 52/DIRUT/0909 Tanggal 9
September 2009 tentang Tata Cara Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara
(LHKPN) di Lingkungan PT Pos Indonesia (Persero).
2. Keputusan Bersama Dewan Komisaris dan Direksi PT Pos Indonesia (Persero) Nomor:
288/Dekom/0714 dan Nomor: KD. 44 /DIRUT/0714 tanggal 01 Juli 2014 tentang
Panduan Penerapan Good Corporate Governance di PT Pos Indonesia (Persero).
3. Keputusan Bersama Dewan Komisaris dan Direksi PT Pos Indonesia (Persero) Nomor:
357/Dekom/0914 dan Nomor: KD. 63 /DIRUT/0914 tanggal 02 September 2014 tentang
Board Manual PT Pos Indonesia (Persero).
4. Keputusan Bersama Dewan Komisaris dan Direksi PT Pos Indonesia (Persero) Nomor:
439/Dekom/1014 dan Nomor: KD. 85 /DIRUT/1014 tanggal 29 Oktober 2014 tentang
Pedoman Etika Bisnis dan Tata Perilaku (code of conduct) Insan Pos Indonesia.
5. Keputusan Bersama Dewan Komisaris dan Direksi PT Pos Indonesia (Persero) Nomor:
451/Dekom/1114 dan Nomor: KD. 87 /DIRUT/1114 tanggal 06 November 2014 tentang
Pedoman Pengendalian Gratifikasi di PT Pos Indonesia (Persero).
6. Keputusan Bersama Dewan Komisaris dan Direksi PT Pos Indonesia (Persero) Nomor:
125/Dekom/0415 dan Nomor: KD. 35 /DIRUT/0415 tanggal 24 April 2015 tentang
Whistle Blowing System di PT Pos Indonesia (Persero).
7. Keputusan Bersama Dewan Komisaris dan Direksi PT Pos Indonesia (Persero) Nomor:
326/Dekom/1015 dan Nomor: KD. 86 /DIRUT/1015 tanggal 30 Oktober 2015 tentang
Pedoman Penanganan Benturan Kepentingan di PT Pos Indonesia (Persero).
Best Practices Implementasi Good Corporate Governance (GCG)
Beberapa best practises dalam penerapan GCG, yakni :

ü Self assesment terhadap Penerapan GCG di perusahaan.

Self assesment dilakukan untuk mengetahui kondisi dan tingkat penerapan dari prinsip-prinsip
GCG. Umumnya perusahaan melakukan ketika akan menerapkan GCG. Kemudian perusahaan
menyusun pedoman dan mengambil berbagai kebijakan untuk menerapkan GCG.

Perusahaan dapat melakukan self assesment secara periodik. Tujuannya adalah untuk
mengetahui apakah proses penerapan GCG ini sudah sejalan atau belum. Selain itu, untuk
mendeteksi secara dini potensi resiko yang melekat dalam operasional perusahaan. Dengan
demikian perusahaan dapat mengambil langkah-langkah antisipastif untuk meminimalkan
terjadinya resiko tersebut.

ü Internalisasi nilai-nilai dan etika perusahaan.

Untuk menjamin agar nilai-nilai dan etika perusahaan menjelma menjadi budaya kerja
perusahaan. Sebagian perusahaan melakukan proses internalisasi nilai dan etika ini sejak
karyawan diterima kerja di perusahaan. Bentuk kegiatannya adalah dengan memasukkan materi-
materi ini dalam program orientasi karyawan baru. Karyawan baru diminta menandatangani
kepatuhan terhadap etika dan peraturan yang berlaku.

ü Penerapan e-auction dalam proses pengadaan.

Salah satu bagian yang paling rawan terhadap penyimpangan prinsip-prinsip GCG adalah bagian
atau proses pengadaan barang dan jasa. Perusahaan dapat memperkecil peluang terjadinya
penyimpangan tersebut melalui penerapan e-auction (e procurement dan e-tender). Tujuan dari
penerapan sistem ini adalah untuk meminimalkan terjadinya kontak fisik antara pemasok/mitra
usaha dengan panitia pengadaan. Semua kegiatan tender mulai dari penawaran harga hingga
penentuan pemenang dilakukan dengan sistem komputer untuk menunjang transparansi,
sehingga seluruh pemasok memperoleh informasi yang sama.

ü Penerapan e-learning dan knowledge management.

Penerapan aspek transparansi dapat melalui pengembangan infrastruktur informasi berupa


intranet, knowledge manegement, yang merupakan sarana karyawan dalam menyampaikan
berbagai tulisan, ide-ide atau gagasan. Setiap karyawan dapat mengakses informasi tesebut. Ide
atau inovasi yang bagus dan dapat direalisasikan, akan memperoleh penghagaan dari
manajemen. Selain itu, melalui e-learning, karyawan dapat mengakses dan mendownload
beragam informasi dan pengetahuan untuk dapat meningkatkan kompetensi mereka.

ü Penerapan sistem komunikasi internal.


Prinsip transparansi dapat diterapkan juga melalui pengembangan sistem komunikasi internal
antara manajemen dengan karyawan. Selain dengan menggunakan media intranet, media
internal magazine atau bulletin dan temu karyawan dengan manajemen, ada juga yang
mengembangkan sistem komunikasi melalui SMS.

ü Penerapan sistem komunikasi eksternal.

Banyak perusahaan mengembangkan program komunikasi dengan pihak eksternal. Kegiatan


yang masuk kategori ini adalah penyelenggaraan konferensi pers dan mempublikasikan Laporan
Keuangan perusahaan melalui media massa dan website perusahaan. Bagi perusahaan yang
sudah go public, aktivitas lain yang banyak dilakukan adalah pemaparan perkembangan dan
kinerja perusahaan, termasuk dalam RUPS Tahunan, RUPS Luar Biasa, tindakan korporasi, serta
pertemuan dengan para analis, fund manager dan investor institusi.

ü Penerapan sistem komunikasi dengan pelanggan.

Penerapan GCG harus menjamin kepentingan stakeholder termasuk pelanggan. Untuk


kepentingan komunikasi dengan pelanggan, praktek yang banyak dilakukan adalah dengan
membangun berbagai sarana yang memudahkan pelanggan untuk berkomunikasi langsung
dengan perusahaan termasuk dalam mengajukan komplain. Misalnya, melalui hotline, email, sms
atau melalui pos dan kotak saran. Beberapa perusahaan juga mengagendakan program customer
gathering. Tentu perusahaan tidak hanya berkewajiban menerima pengaduan dari pelanggan,
tetapi yang lebih penting adalah menjamin bahwa setiap pengaduan dapat direspon dengan cepat
dan dapat diselesaikan. Selain berkomunikasi dengan pelanggan, beberapa perusahaan juga
secara rutin mengukur kepuasan pelanggan dan menilai kinerja pelayanannya terhadap
pelanggan melalui kegiatan Survey Kepuasan Pelanggan. Tujuan utamanya adalah memastikan
bahwa pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan selaras
dengan kebutuhan pelanggan.

ü Peraturan dan kode etik

Untuk mencegah terjadinya benturan kepentingan, best practices yang banyak dikembangkan
oleh perusahaan yang sudah menerapkan GCG adalah pembuatan aturan dan kode etik yang
mencegah terjadinya benturan kepentingan, misalnya :

o Larangan kepada karyawan untuk melakukan penyuapan atau memberikan sesuatu yang kepada
pihak lain yang dapat menimbulkan prasangka negatif dan mencemarkan nama baik perusahaan.
o Larangan kepada karyawan untuk melakukan tindakan yang dapat dipersepsikan pihak lain
sebagai tindakan meminta, mengusulkan atau memaksa pihak lain memberikan bingkisan atau
balas jasa atas kerjasama yang telah dilakukan.
o Larangan rangkap jabatan pada perusahaan yang sejenis
o Larangan untuk menerima karyawan yang ada hubungan keluarga langsung dengan karyawan
o Larangan terjadinya pernikahan antar karyawan dan bila hal itu terjadi, maka salah satunya harus
mengundurkan diri.

ü Penerapan Program Whistle Blower.


Tahun 2006, PT. Telkom, telah menerapkan program Whistle Blower. Program ini
dikomunikasikan kepada seluruh karyawan melalui jaringan portal Telkom. Dengan
diberlakukannya program ini, seluruh karyawan PT Telkom, dan anak perusahaan mempunyai
saluran formal untuk menyampaikan pengaduan mengenai dugaan/indikasi terjadinya
kecurangan (fraud), pelanggaran peraturan pasar modal, dan peraturan yang berkaitan dengan
operasi perusahaan, termasuk masalah akuntansi, pengendalian internal dan auditing langsung
kepada Komite Audit.

ü Penerapan Job Tender.

Program ini dilaksanakan untuk memberi kesempatan pertama kepada karyawan untuk mengisi
posisi-pisisi yang kosong di perusahaan. Dengan penerapan program ini, perusahaan akan
mendapat karyawan terbaik yang sesuai dengan kompetensinya serta terhindar dari kesan like
and dislike dan nepotisme.

ü Penerapan program Corporate Social Responsibility (CSR).

Sebagai bentuk tanggungjawab terhadap lingkungan dan masyarakat sebagai bagian dari
stakeholder, banyak perusahaan telah mengembangkan program-program CSR. Program-
program ini umumnya berkaitan dengan bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi
masyarakat, dan kelestarian lingkungan hidup.

ü Pembentukan Komite GCG.

Sebagai wujud komitmen perusahaan dalam menerapkan GCG, perusahaan membentuk Komite
GCG yang merupakan salah satu Komite yang dibentuk oleh Komisaris. Secara garis besar tugas
dari Komite ini adalah memberikan rekomendasi kepada Komisaris mengenai arah kebijakan dan
program-program percepatan penerapan GCG serta mengawasi efektivitas penerapan GCG oleh
Direksi dan jajarannya sehingga kepentingan stakeholder dapat terlindungi dan terciptanya
mekanisme check and balance pada semua aktivitas.
Optimalisasi GCG BUMN Indonesia
Untuk mengoptimalkan keberadaan BUMN, kebijakan pengembangan dan pembinaan BUMN
secara umum adalah melanjutkan secara bertahap sinergi kebijakan industrial dan pasar tempat
BUMN tersebut beroperasi dengan kebijakan restrukturisasi dan internal perusahaan sesuai
dengan potensi daya saing perusahaan. Kebijakan ini antara lain ditempuh melalui upaya-upaya
penciptaan sinergi, transformasi bisnis dan regrouping agar lebih efisien dan berdaya saing,
pemisahan fungsi komersial dan pelayanan masyarakat, serta pengoptimalan pelaksanaan
prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG).
Salah satu usaha untuk meengefektifkan tata kelola BUMN adalah dengan privatisasi , Program
Privatisasi BUMN merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Program Restrukturisasi
BUMN. Hal ini mengingat bahwa dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi, privatisasi menjadi
salah satu instrumen yang penting untuk mendorong proses restrukturisasi. Privatisasi selain
sebagai salah satu sumber penerimaan APBN juga dalam rangka memperluas kepemilikan saham
BUMN oleh masyarakat umum melalui pasar modal dan mendorong penerapan GCG dan capital
market protocol guna menumbuhkan budaya korporasi dan profesionalisme di BUMN.
Privatisasi sebagai salah satu bentuk restrukturisasi, dilakukan bukan hanya dalam rangka
memperoleh dana segar, melainkan untuk menumbuhkan budaya korporasi dan profesionalisme
antara lain melalui pembenahan pengurusan dan pengawasan berdasarkan prinsip-prinsip tata
kelola perusahaan yang baik. Privatisasi tidak lagi diartikan secara sempit sebagai penjualan
saham pemerintah ke pihak nonpemerintah, tetapi dilakukan sebagai upaya untuk mencapai
beberapa sasaran sekaligus, termasuk di dalamnya adalah peningkatan kinerja dan nilai tambah
perusahaan, perbaikan struktur keuangan dan manajemen, penciptaan struktur industri yang sehat
dan kompetitif, pemberdayaan BUMN yang mampu bersaing dan berorientasi global,
penyebaran kepemilikan oleh publik serta pengembangan pasar modal domestik (privatisasi
diupayakan dilakukan melalui Initial Public Offering/IPO).
Tanggung jawab BUMN dan usaha pengelolaan manajemen yang biak di mulai dengan
menciptakan pola hubungan yang harmonis dan saling menguntungkan antara BUMN dengan
Pemerintah Daerah melalui kerja sama terutama di bidang ekonomi dalam rangka pembangunan
daerah; dan meningkatkan kemampuan SDM Kementerian Negara BUMN sehingga mampu
melaksanakan program restrukturisasi dan revitalisasi BUMN dalam rangka meningkatkan
efisiensi dan daya saing BUMN.
Selain itu, untuk memantapkan pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate
Governance/GCG) selama tahun 2006 telah dilaksanakan penanda-tanganan Statement of
Corporate Intent (SCI) oleh 16 perusahaan yang merupakan wujud dari transparansi pengelolaan
usaha oleh BUMN. Sebagai tindak lanjutnya Kementerian BUMN terus memonitor dan menilai,
antara lain melalui assesment terhadap 28 BUMN dan review terhadap pelaksanaan GCG yang
dilakukan terhadap 16 BUMN.
Dalam rangka meningkatkan efektivitas penilaian terhadap praktik-praktik GCG BUMN
dilakukan penyempurnaan indikator dan parameter dalam rangka assessment dan review GCG
yang dilaksanakan bersama BPKP yaitu: indikator semula 86 item menjadi 50 item; dan
parameter semula 253 item menjadi 160 item.
Hal lain yang terkait dalam pemantapan pelaksanaan GCG adalah penyempurnaan Keputusan
Menteri BUMN Nomor KEP-117/M-MBU/2002 dengan melibatkan unit internal terkait dan
bekerjasama dengan BPKP, KNKG serta pejabat BUMN dan kegiatan workshop yang diadakan
untuk mengumpulkan masukan-masukan yang diperlukan. Proses tersebut menghasilkan
penyempurnaan peraturan berupa Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor: PER-06/MBU/2007
tanggal 31 Juli 2007 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate
Governance) Pada Badan Usaha Milik Negara.

Penguatan Good Corporate Governance Pada BUMN BUMN (2)

PERAN KEPELOPORAN BUMN


Di Merauke, Papua ada BUMN yang sudah melakukan penanaman 1 (satu ) juta hektar,
padahal sudah bertahun tahun belum ada perusahaan swasta yang berani untuk
menjalankannya atau masuk ke agro bisnis disana. Antar BUMN bisa saling bersinergi
dengan sesama BUMN atau pihak lain untuk memanfaatkkan lahan agar dapat
memproduksi bahan pangan, hal ini sangat berguna bagi pemerataan pembangunan dan
pelaksanaannya bisa dilakukan dengan pola kemitraan .
Di dalam UU tentang BUMN, telah diatur peran BUMN sebagai pelopor, bagi BUMN yang
sudah melakukan bisnis yang umum tidak perlu didorong, tapi bagi BUMN yang belum
menjadi pelopor akan didorong, misalnya Perum Pegadaian bukan hanya berperan dalam
bidang komersial saja tetapi juga sudah berfungsi menjadi PSO yang mempunyai fungsi
sosial .
Dalam rangka perbaikan budaya kerja berbagai upaya sudah dilakukan misalnya untuk
Dewan pengawas sudah akan diberikan peran yang lebih besar.
Sudah ditentukan peraturan baru untuk mengatur tentang peran komisaris BUMN ,
misalnya tidak boleh ada pejabat Kementerian Bumn ( tingkat Deputi / ass Deputi ) yang
menjadi komisaris BUMN disektor yang dibinanya, upaya ini bertujuan menghindari
conflict of interest , sehingg dibuat kebijakan cross sectoral dalam pembinaaannya.
PEMEGANG SAHAM MINORITAS
Kementerian BUMN sedang melakukan upaya baru mengkonsolidasikan pemegang saham
minoritas milik negara dibeberapa perusahaan dimana terdapat saham negara yang
prosentasenya minoritas PT. Danareksa akan mengelola saham minoritas tersebut diatas.
PENERAPAN GOOD GOVERNANCE DI BUMN
Salah satu upaya Kementerian BUMN untuk mencegah kebocoran di BUMN dan menjadi
lebih Good Governance adalah mendorong BUMN tersebut menjadi perusahaan go publik
yang akhirnya menjadi perusahaan yang sehat dan lebih transparan.
Kementerian BUMN juga membuat upaya anti suap dalam rangka GCG, dalam intra BUMN
pernah dilakukan diskusi dengan pihak KPK dan BPK untuk mengurangi praktek yang
tidak sehat .
Tentang praktek transparansi, contohnya yang sudah diterapkan oleh PT. PLN sebagai pilot
project yaitu membuat online sistem ke BPK dalam hal audit laporan keuangan dan lainnya
serta melakukan pengawasan sehingga BPK terus dapat memantau melalui online sistem .
Transparansi sudah dijalankan secara bertahap tentu ada batasan sesuai dengan peraturan
dan urgensinya misalnya program penerapan filosofi budaya kerjadi BUMN yang kami
istilahkan dengan ARIF kependekan dari Accountibility, Responsibility Independen,
fairness , slogan ini sudah menjadi pedoman filosofi budaya kerja dalam memperbaiki
kinerja dilingkungan Kementerian BUMN yang sudah melakukan berbagai upaya untuk
memperkuat good governance di setiap BUMN nya dalam rangka mengimbangi
perkembangan jaman misalnya industri strategis dan pertahanan yang harus diimbangi
dengan kekuatan governance sehingga dapat berjalan sesuai dengan multi years project .

LATAR BELAKANG GCG


Latar belakang kebutuhan atas good corporate governance (GCG) dapat dilihat dari latar
belakang praktis dan latar belakang akademis.
 Dari latar belakang praktis, dapat dilihat dari pengalaman Amerika Serikat yang harus
melakukan restrukturisasi corporate governance sebagai akibat market crash pada tahun
1929. Corporate governance yang buruk disinyalir sebagai salah satu sebab terjadinya
krisis ekonomi politik Indonesia yang dimulai tahun 1997 yang efeknya masih terasa
hingga saat ini.
Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat pada saat ini juga ditengarai karena tidak
diterapkannya prinsip-prinsip GCG, beberapa kasus skandal keuangan seperti Enron
Corp., Worldcom, Xerox dan lainnya melibatkan top eksekutif perusahaan tersebut
menggambarkan tidak diterapkannya pronsip-prinsip GCG.
 Dari latar belakang akademis, kebutuhan good corporate governance timbul berkaitan
dengan principal-agency theory, yaitu untuk menghindari konflik antara principal dan
agentnya. Konflik muncul karena perbedaan kepentingan tersebut haruslah dikelola
sehingga tidak menimbulkan kerugian pada para pihak.
Korporasi yang dibentuk dan merupakan suatu Entitas tersendiri yang terpisah
merupakan Subyek Hukum, sehingga keberadaan korporasi dan para pihak yang
berkepentingan (stakeholders) tersebut haruslah dilindungi melalui penerapan GCG.
Selain pendekatan model Agency Theory dan Stakeholders Theory tersebut di atas, kajian
permasalahan GCG oleh para akdemisi dan praktisi juga berdasarkan Stewardship
Theory, Management Theory dan lainnya.

Surat Keputusan Menteri BUMN No. Kep-117/M-MBU/2002 tanggal 1 Agustus 2002 tentang
Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik Negara, dan telah
disempurnakan dengan Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor: PER — 01 /MBU/2011
tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) Pada
Badan Usaha Milik Negara menekankan kewajiban bagi BUMN untuk menerapkan GCG secara
konsisten dan atau menjadikan prinsip-prinsip GCG sebagai landasan operasionalnya, yang pada
dasarnya bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna
mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan
kepentingan stakeholders lainnya, dan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-
nilai etika.

PENGERTIAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Secara umum istilah good corporate governance merupakan sistem pengendalian dan pengaturan
perusahaan yang dapat dilihat dari mekanisme hubungan antara berbagai pihak yang mengurus
perusahaan (hard definition), maupun ditinjau dari "nilai-nilai" yang terkandung dari mekanisme
pengelolaan itu sendiri (soft definition). Tim GCG BPKP mendefinisikan GCG dari segi soft
definition yang mudah dicerna, sekalipun orang awam, yaitu:
"KOMITMEN, ATURAN MAIN, SERTA PRAKTIK PENYELENGGARAAN BISNIS
SECARA SEHAT DAN BERETIKA"

PERAN BPKP DALAM PENGEMBANGAN GCG

Sesuai surat Nomor: S-359/MK.05/2001 tanggal 21 Juni 2001 tentang Pengkajian Sistem
Manajemen BUMN dengan prinsip-prinsip good corporate governance, Menteri Keuangan
meminta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk melakukan kajian dan
pengembangan sistem manajemen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengacu pada
prinsip Good Corporate Governance (GCG). Selanjutnya, BPKP telah membentuk Tim Good
Corporate Governance dengan Surat Keputusan Kepala BPKP Nomor KEP-06.02.00-
316/K/2000 yang diperbaharui dengan KEP-06.02.00-268/K/2001.
Tim GCG tersebut mempunyai tugas:
"MERUMUSKAN PRINSIP-PRINSIP PEDOMAN EVALUASI, IMPLEMENTASI DAN
SOSIALISASI PENERAPAN GCG, SERTA MEMBERIKAN MASUKAN KEPADA
PEMERINTAH DALAM MENGEMBANGKAN SISTEM PELAPORAN KINERJA
DALAM RANGKA PENERAPAN GCG PADA BUMN/BUMD DAN BADAN USAHA
LAINNYA (BUL)"

Sebagai bagian dari peningkatan governance di lingkungan Pemerintah Indonesia serta dorongan
dari beberapa lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia,
Asian Development Bank (ADB), dan Overseas Economic Coordination Fund (OECF), BPKP
ikut mengerahkan sumber dayanya untuk mendorong penerapan good corporate governance di
lingkungan BUMN/D. Dilingkungan BUMN, upaya ini juga dilakukan dalam rangka merespon
surat Menteri Keuangan No. 359/MK.05/2001 tanggal 21 Juni 2001 seperti disebutkan di atas.
Selanjutnya, dengan dialihkannya Kedudukan, Tugas dan Kewenangan Menteri Keuangan
kepada Menteri BUMN tersebut, saat ini sedang dilakukan tindak lanjut kerjasama dengan
Kantor Kementrian BUMN.

Demikian pula halnya dengan good corporate governance di bidang Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD), BPKP telah melakukan interaksi dengan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah
(Otda) cq. Dirjen Otda. Upaya yang dilakukan oleh Tim GCG BPKP berupa menyusun kajian
dan bahan untuk sosialisasi GCG di BUMN/D. Strategi yang dilakukan adalah melakukan
kerjasama dengan Kantor Kementrian BUMN untuk melakukan Sosialisasi, Lokakarya dan
Asistensi Implementasi GCG

Dalam rangka mengukur tingkat penerapan GCG pada BUMN pertama kalinya, Menteri BUMN
meminta bantuan BPKP untuk melakukan pengukuran dan pengujian penerapan GCG
(Assessment) pada 16 BUMN, pengujian dan pengukuran GCG di 16 BUMN yang telah
dilakukan oleh BPKP merupakan momentum yang sangat strategis bagi dalam mengukur dan
menguji penerapan GCG pada BUMN dan mendorong penerapannya. Setelah pengujian 16
BUMN tersebut pengukuran dan pengujian penerapan GCG berlanjut pada BUMN-BUMN
lainnya, seperti BUMN sektor jasa keuangan, jasa konstruksi, perdagangan, sektor perkebuanan,
perhubungan dan lain-lain.
Good Corporate Governance (GCG)

Good Corporate Governance merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk tumbuh dan
menguntungkan dalam jangka panjang sekaligus memenangkan persaingan Global. Good
Corporate Governance merupakan suatu proses dan struktur yang digunakan oleh Organ Persero
untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan, guna mewujudkan nilai
pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders
lainnya, berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika.
PT TASPEN (PERSERO) sebagai salah satu perusahaan yang bernaung di bawah Kementerian
Negara BUMN telah berkomitmen untuk menerapkan prinsip-prinsip GCG secara konsisten
dengan mengacu pada Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-01/MBU/2011 tanggal 1 Agustus
2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance)
pada Badan Usaha Milik Negara.
Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
1. 1. Transparency (Transparansi) yaitu keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan
dan penyampaian informasi yang material dan relevan mengenai perusahaan.
2. 2. Accountability (Akuntabiltas) yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan
pertanggungjawaban Organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana dengan
efektif.
3. 3. Responsibility (Pertanggungjawaban) yaitu kesesuaian didalam pengelolaan
perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi
yang sehat.
4. 4. Independency (Kemandirian) yaitu keadaan dimana perusahaan dikelola secara
profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun
yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi
yang sehat.
5. 5. Fairness (Kewajaran) yaitu keadilan dan kesetaraan didalam memenuhi hak-hak
Stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan.

Penerapan Good Corporate Governance (GCG) setiap tahun dilakukan assessment dan evaluasi,
baik oleh Assessor Independen maupun Assessor Internal. Penerapan GCG untuk tahun buku
2016 dilakukan Assessment oleh KIM Consult sebagai Assessor Independen dengan perolehan
skor sebesar 96,29 kategori “Sangat Baik”. Terjadi peningkatan skor sebesar 0,24% dari tahun
2015 dengan skor 96,05.
Assessment dilakukan dengan mengacu pada Surat Keputusan Sekretaris Kementerian BUMN
Nomor: SK-16/S.MBU/2012 tanggal 6 Juni 2012 tentang Indikator/Parameter Penilaian dan
Evaluasi atas Penerapan Tata KelolaPerusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) yang
terdiri dari 6 Aspek Penerapan GCG, 43 Indikator, dan 153 Parameter, serta Faktor-faktor
yang diuji Kesesuaian Penerapannya sebanyak 568 Faktor Uji Kesesuaian (FUK).
Keenam Aspek tersebut terdiri dari:
1. Komitmen terhadap Penerapan Tata kelola Perusahaan yang baik secara berkelanjutan;
2. Pemegang Saham dan RUPS;
3. Dewan Komisaris;
4. Direksi;
5. Pengungkapan Informasi & Transparansi; dan
6. Lainnya.

Good Corporate Governance dalam Perusahaan


Di era persaingan global ini, dimana batas-batas negara tidak lagi menjadi penghalang untuk
berkompetisi, hanya perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance (GCG) yang
mampu memenangkan persaingan. GCG merupakan suatu keharusan dalam rangka membangun
kondisi perusahaan yang tangguh dan sustainable. Ia diperlukan untuk menciptakan sistem dan
struktur perusahaan yang kuat sehingga mampu menjadi perusahaan kelas dunia.

Good Corporate Governance pada dasarnya merupakan suatu sistem (input, Proses, output) dan
seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang kepentingan
(stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris,
dan dewan direksi demi tercapainya tujuan perusahaan. Good Corporate Gorvernance
dimasukkan untuk mengatur hubungan-hubungan ini dan mencegah terjadinya kesalaha-
kesalahan signifikan dalam strategi perusahaan dan untuk memastikan bahwa kesalahan-
kesalahan yang terjadi dapat di perebaiki dengan segera. Penertian ini dikutip dari buku Good
Corporate Governance pada badan usaha manufaktur, perbankan dan jasa keuangan lainnya
(2008:36).

CONTOH: PT ANTAM (Persero) Tbk


Semenjak menjadi perusahaan publik di Indonesia pada tahun 1997 dan mencatatkan saham di
Australia pada tahun 1999, tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance, GCG) telah
menjadi salah satu elemen penting bagi Antam di dalam mempertahankan keberlanjutan
pertumbuhan dan juga menjadi perusahaan pertambangan internasional. Lebih jauh, sebagai
salah satu BUMN terbesar dan berpengaruh, Antam memiliki komitmen untuk terlibat dalam
pertumbuhan Indonesia dengan berkontribusi secara signifikan terhadap perekonomian Indonesia
dan menjadi contoh bagi perusahaan lain, terutama BUMN lain, dalam hal implementasi GCG.
Dewan Komisaris, Komite-komite di tingkat Dewan Komisaris, Direksi, dan manajemen senior
terus meningkatkan kapabilitas di dalam proses pengawasan dan pengelolaan perusahaan, sesuai
dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Semua pihak juga berupaya untuk
memperkuat hubungan kerja satu sama lain. Singkatnya, Antam menyadari pentingnya hubungan
kerja yang harmonis serta kerjasama diantara organ-organ tata kelola, manajemen dan staf untuk
mempertahankan dan meningkatkan praktik GCG di Antam secara berkelanjutan. Untuk
mendukung fungsi pengawasan, Dewan Komisaris telah membentuk lima Komite di tingkat
Dewan Komisaris yakni Komite Audit, Komite Nominasi, Remunerasi dan Pengembangan SDM
(NRPSDM), Komite Manajemen Risiko, Komite GCG dan Komite CSR dan Pasca Tambang.

TUJUAN PENERAPAN GCG


Penerapan prinsip-prinsip GCG akan meningkatkan citra dan kinerja Perusahaan serta
meningkatkan nilai Perusahaan bagi Pemegang Saham.Tujuan penerapan GCG adalah:
1 . Memaksimalkan nilai perusahaan dengan cara meningkatkan penerapan prinsip-prinsip
transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban, dan kewajaran dalam pelaksanaan
kegiatan perusahaan
2. Terlaksananya pengelolaan Perusahaan secara profesional dan mandiri
3. Terciptanya pengambilan keputusan oleh seluruh Organ Perusahaan yang didasarkan pada
nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku
4. Terlaksananya tanggung jawab sosial Perusahaan terhadap stakeholders
5. Meningkatkan iklim investasi nasional yang kondusif, khususnya di bidang energi dan
Petrokimia

PRINSIP-PRINSIP GCG
Secara umum terdapat lima prinsip dasar dari good corporate governance yaitu:
1. Transparency (keterbukaan informasi), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses
pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan
mengenai perusahaan.
2. Accountability (akuntabilitas), yaitu kejelasan fungsi, struktur, sistem, dan
pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara
efektif.
3. Responsibility (pertanggungjawaban), yaitu kesesuaian (kepatuhan) di dalam pengelolaan
perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku.
4. Independency (kemandirian), yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara
professional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manajemen yang tidak
sesuai dengan peraturan dan perundangan-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi
yang sehat.
5. Fairness (kesetaraan da kewajaran), yaitu perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi
hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang
berlaku. Esensi dari corporate governance adalah peningkatan kinerja perusahaan melalui
supervisi atau pemantauan kinerja manajemen dan adanya akuntabilitas manajemen terhadap
pemangku kepentingan lainnya, berdasarkan kerangka aturan dan peraturan yang berlaku.

Analisis
Perlu adanya prinsip-prinsip Good Corporate Governance ( GCG ) di dalam Perusahaan yang
dikelola, agar dapat menghasilkan kinerja yang baik antara pemegang saham, dewan komisaris,
dan dewan direksi dalam membuat keputusan dan menjalankannya sesuai dengan nilai moral
yang telah ditetapkan demi tercapainya tujuan dari perusahaan tersebut. Seperti contoh
Perusahaan diatas: “Semua pihak juga berupaya untuk memperkuat hubungan kerja satu sama
lain. Singkatnya, Antam menyadari pentingnya hubungan kerja yang harmonis serta kerjasama
diantara organ-organ tata kelola, manajemen dan staf untuk mempertahankan dan meningkatkan
praktik GCG di Antam secara berkelanjutan”. Maka dari itu Antam adalah salah satu contoh
perusahaan yang patut ditiru oleh perusahaan-perusahaan yang lainnya.

PENERAPAN GCG (PT NINDYA KARYA PERSERO general contractor-


epc-investment)
Dalam rangka mewujudkan tata kelola perusahaan yang profesional, prudent, reliable serta
berkelanjutan, pemenuhan atas prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) senantiasa
harus terus dilakukan dan ditingkatkan oleh Perusahaan.
PT Nindya Karya (Persero) sebagai salah satu perusahaan BUMN konstruksi telah berkomitmen
untuk menerapkan prinsip-prinsip GCG secara konsisten dengan mengacu pada Peraturan
Menteri BUMN Nomor: PER-01/MBU/2011 tanggal 1 Agustus 2011 tentang Penerapan Tata
Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara.

PRINSIP-PRINSIP GCG
Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
1. TRANPARAN
Menciptakan kepercayaan timbal-balik antara Perusahaan dan para pemangku
kepentingan termasuk masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin
kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai.
2. AKUNTABILITAS
Kewajiban memberikan pertanggungjawaban kinerja kepada pihak yang memiliki hak
atau kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban atau keterangan.
3. RESPONSIBILITY
Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung
jawab terhadap masyarakat dan lingkungan.
4. INDEPENDENSI
Suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan
kepentingan dan pengaruh/ tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
5. FAIRNESS
Perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul
berdasarkan perjanjian serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

TUJUAN PENERAPAN GCG


Tujuan Penerapan GCG diantaranya
1. Mendorong pengelolaan Perusahaan secara profesional, transparan, dan efesien, serta
memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian organ.
2. Mengatur pola hubungan yang berkelanjutan antar organ utama Perusahaan serta
Pemangku Kepentingan lainnya, seperti mitra kerja, masyarakat dan lingkungan.
3. Mendukung pengembangan Perusahaan, meningkatkan daya saing dan citra yang kuat
dimata investor serta pemangku kepentingan lainnya, baik secara nasional maupun
internasional.
4. Mendorong Perusahaan dapat memitigasi terjadinya penyimpangan dan mengelola
sumber daya dan resiko secara lebih efektif dan efisien.
5. Memperkuat budaya kerja Perusahaan dengan bergerak berdasarkan nilai moral yang
tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta
kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial Perusahaan terhadap para pemangku
kepentingan maupun kelestarian lingkungan.

GCG dalam BUMN

Pada awalnya tujuan dibentuknya BUMN adalah merupakan penjabaran dan


implementasi pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi “Bumi dan air kekayaan alam yang
terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat.” Berdasarkan peraturan yang ada, dapat dibedakan tiga jenis bentuk hukum BUMN yaitu
Persero, Perusahaan Umum (Perum), dan perusahaan jawatan (Perjan). Tjager dkk (2003)
selanjutnya mengungkapkan bahwa rendahnya kinerja BUMN ini ada kaitannya dengan belum
efektifnya penerapan tata kelola perusahaan yang baik di BUMN tersebut. Contohnya pemberian
remunerasi yang berlebihan kepada direksi.
Tujuan GCG diatur dalam pasal 4 adalah :
 Memaksimalkan nilai BUMN dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas,
dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan adil agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat,
baik secara nasional maupun internasional.
 Mendorong pengelolaan BUMN secara professional, transparan, dan efesien, serta
memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemendirian organ.
 Mendorong agar organ dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai
moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta
kesadaran akan adanya tanggung jawab social BUMN terhadap para pemangku kepentingan
maupun kelestarian lingkungan di sekitar BUMN.
 Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional.
 Menyukseskan program privatisasi.

PENERAPAN GCG DI BUMN DAN PENGAWASAN PASAR MODAL


Terdapat tiga arah agenda penerapan GCG di Indonesia (BP BUMN, 1999) yakni,
menetapkan kebijakan nasional, menyempurnaan kerangka nasional dan membangun inisiatif
sektor swasta. Terkait dengan kerangka regulasi, Bapepam bersama dengan self-regulated
organization (SRO) yang didukung oleh Bank Dunia dan ADB telah menghasilkan beberap
proyek GCG seperti JSX Pilot project, ACORN, ASEM, dan ROSC. Seiring dengan proyek-
proyek ini, kementerian BUMN juga telah mengembangkan kerangka untuk implementasi GCG.
Dalam kaitan dengan peran dan fungsi tersebut, BAPEPAM dapat memastikan bahwa berbagai
peraturan dan ketentuan yang ada, terus menerus disempurnakan, serta berbagai pelanggaran
yang terjadi akan mendapatkan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam hal regulatory framework, untuk mengkaji peraturan perundang-undangan yang
terkait dengan korporasi dan program reformasi hukum, pada umumnya terdapat beberapa
capaian yang terkait dengan implementasi GCG seperti diberlakukannya undang-undang tentang
Bank Indonesia di tahun 1998, undang-undang anti korupsi tahun 1999, dan undang-undang
BUMN, serta privatisasi BUMN tahun 2003. Demikian pula dengan proses amandemen undang-
undang perseroan terbatas, undang-undang pendaftaran perusahaan, serta undang-undang
kepailitan yang saat ini masih sedang dalam proses penyelesaian. Dalam pelaksanaan program
reformasi hukum, terdapat beberapa hal penting yang telah diterapkan, misalnya pembentukan
pengadilan niaga yang dimulai tahun 1997 dan pembentukan badan rbitrasi pasar modal tahun
2001.
Bergulirnya reformasi corporate governance masih menyisakan hal-hal strategis yang harus
dikaji, seperti kesesuaian dan sinkronisasi berbagai peraturanperundangan yang terkait.
Demikian pula yang terkait dengan otonomi daerah, permasalahan yang timbul dalam kerangka
regulasi adalah pemberlakuan undang-undang otonomi daerah yang cenderung kebablasan tanpa
diikuti dengan kesadaran dan pemahaman good governance itu sendiri. Inisiatif di sektor swasta
terlihat pda aktivitas organisasi-organisasi corporate governance dalam bentuk upaya-upaya
sosialisasi, pendidikan, pelatihan, pembuatan rating, penelitian, dan advokasi. Pendatang baru di
antara organisasi-organisasi ini adalah IKAI dan LAPPI. IKAI adalah asosiasi untuk para
anggota komite audit, sedangkan LAPPI (lembaga advokasi, proxi, dan perlindungan investor)
pada dasarnya berbagi pengalaman dalam shareholders activism, dengan misi utama melindungi
kepentingan para pemegang saham minoritas.
Dalam penerapan GCG di Indonesia, seluruh pemangku kepentingan turut berpartisipasi.
Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance yang diawal tahun 2005 di ubah menjadi
Komite Nasional Kebijkan Governance telah menerbitkan pedomanGCG pada bulan Maret
2001. Pedoman tersebut kemudian disusul dengan penerbitan Pedoman GCG Perbankan
Indonesia, Pedoman untuk komite audit, dan pedoman untuk komisaris independen di tahun
2004. Semua publikasi ini dipandang perlu untuk memberikan acuan dalam
mengimplementasikan GCG. Pemerintah pun melakukan upaya-upaya khusus bergandengan
tangan dengan komunitas bisnis dalam mensosialisasikan dan mengimplementasikan GCG. Dua
sektor penting yakni BUMN dan Pasar Modal telah menjadi perhatian pemerintah. Aspek baru
dalam implentasi GCG di lingkungan BUMN adalah kewajban untuk memiliki statement of
corporate intent (SCI). SCI pada dasarnya adalah komitmen perusahaan terhadap pemegang
saham dalam bentuk suatu kontrak yang menekankan pada strategi dan upaya manajemen dan
didukung dengan dewan komisaris dalam mengelola perusahaan.
Terkait dengan SCI, direksi diwajibkan untuk menanda tangani appointment agreements
(AA) yang merupakan komitmen direksi untuk memenuhi fungsi-fungsi dan kewajiban yang
diembannya. Indikator kinerja direksi terlihat dalam bentuk reward and punishment system
dengan meratifikasi undangundang BUMN. Pasar modal juga perlu menerapkan prinsip prinsip
GCG untuk perusahaan publik. Ini ditunjukkan melalui berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh
Bursa Efek Jakarta (BEJ), yang menyatakan bahwa seluruh perusahaan tercatat wajib
melaksanakan GCG. Implementasi GCG dimaksudkan untuk meningkatkan perlindungan
kepentingan investor, terutam para pemegang saham di perusahaan-perusahaan
terbuka. Di samping itu, implementasi GCG akan mendorong tumbuhnya mekanisme check and
balance di lingkungan manajemen khususnya dalam memberi perhatian kepada kepentingan
pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Hal ini terkait dengan peran pemegang
saham pengendali yang berwenang mengangkat komisaris dan direksi, dan dapat mempengaruhi
kebijakan perusahaan. Di samping pelindungan investor, regulasi mewajibkan sistem yang
menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam transaksi bisnis antar perusahaan dalam satu grup
yang berpotensi menimbulkan benturan kepentingan.
Semangat untuk memperoleh persetujuan publik dalam transaksi, merupakan bentuk
penerapan prinsip akuntabilitas. Diperkenalkannya komisaris independen, komite audit, dan
sekretaris perusahaan juga menjadi fokus regulasi BEJ. Independensi komisaris dimaksudkan
untuk memastikan bahwa komisaris independen tidak memiliki afiliasi dengan pemegang saham,
dengan direksi dan dengan komisaris; tidak menjabat direksi di perusahaan lain yang terafiliasi;
dan memahami berbagai regulasi pasar modal. Sedangkan terkait dengan kewajiban untuk
memiliki direktur independen, dalam sistem two tier yang kita anut, justru akan lebih efektif
bilamana bursa mewajibkan perusahaan untuk memiliki komite nominasi dan remunerasi.
Tujuan pedoman tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas disclosure perusahaan-
perusahaan publik. Pedoman ini merupakan hasil kolaborasi antara BEJ, IAI, AEI, dan Bapepam.
Perkembangan terbaru di Pasar modal adalah batas waktu penyerahan laporan tahunan yakni 90
hari sejak tutup buku, lebih pendek dari regulasi sebelumnya yakni 120 hari. Regulasi ini
merupkan indikasi kekonsistenan penegakan GCG oleh Bapepam
Sebelum penerapan prinsip-prinsip GCG:
 Penunjukan anggota komisaris & anggota direksi BUMN lebih mempertimbangkan aspek
politis ( KKN, like & dislike) daripada aspek kompetisi dan profesionalitas.
 Kurang berfungsinya organ Satuan Pengawas Intern (SPI)
 Tidak adanya Komite Audit
 Kurang memperhatikan penerapan prinsip akuntabilitas, terutama kurangnya perhatian
direksi dalam penyusunan laporan keuangan yang berkualitas
Setelah penerapan prinsip-prinsip GCG :
 Penunjukan anggota komisaris & direksi mulai memperhatikan aspek kompetensi dan
profesionalisme, dan betul-betul memperhatikan aspek independensi dan profesionalitas.
 Diberdayakan organ SPI, khususnya yang menyangkut kualitas pejabat yang menduduki
organ SPI ( Satuan Pengawas Intern) tersebut
 Dibentuknya Komite Audit
 Penegasan pentingnya penyusunan laporan keuangan yang berkualitas dan bahwa hal itu
merupakan salah satu wujud tanggung jawab direksi.