Anda di halaman 1dari 14

CHAPTER 8

THE EFFICIENT CONTRACTING APPROACH TO


DECISION USEFULNESS

Organisasi Chapter 8

8.1 OVERVIEW
Teori kontrak efisien mengambil sudut pandang yang mana perusahaan mengatur
dirinya dengan cara yang paling efisien, begitu pula untuk memaksimalkan kemungkinan
bertahan hidup. Beberapa perusahaan lebih terdesentralisasi dari pada perusahaan lainnya,
beberapa perusahaan mengadakan kegiatan didalam sedangkan perusahaan lainnya
mengontrakkan beberapa kegiatanya, beberapa perusahaan membiayai dengan hutang lebih
dari yang lain, dan sebagainya. Bentuk paling efisien atas tata kelola perusahaan untuk
perusahaan tertentu tergantung faktor-faktor seperti lingkungan hukum dan institusional,
teknologinya, dan tingkat kompetisi dalam industri.
Kontrak efisien adalah sebuah komponen yang signifikan dari tata kelola perusahaan.
Untuk menguatkan tata kelola perusahaan, kontrak-kontrak ini harus efisien. Mereka harus
secara optimal seimbang antara biaya dan manfaat. Akhirnya, tujuan dari teori ini adalah untuk
memahami dan memprediksi pilihan kebijakan akuntansi manajerial pada situasi yang berbeda
dan di perusahaan yang berbeda, dan bagaimana akuntansi keuangan dapat berkontribusi
terhadap kontrak efisien.
Teori tersebut mengasumsikan bahwa manajer, seperti investor, rasional.
Teori efisiensi kontrak membantu akuntan mengetahui mengapa melaporkan ke
pengurus adalah penting, dan untuk mengapresiasi batasan perhatian legitimasi manajemen
tentang pemilihan kebijakan akuntansi.

8.2 APAKAH YANG DIMAKSUD TEORI KONTRAK EFISIEN


Teori kontrak efisien mempelajari peran informasi akuntansi keuangan dalam
memoderasi asimetri informasi antara pihak-pihak yang mengadakan perjanjian, dengan
demikian berkontribusi terhadap kontrak efisien dan penatalayanan dan keefisienan tata kelola
perusahaan.
Asimetri informasi muncul dalam kontrak karena manajemen memiliki informasi
dalam tentang keadaan perusahaan, dan mungkin tidak perlu membagi informasi ini dengan
pihak-pihak yang melakukan kontrak atau, jika mereka membaginya, mungkin mengubah atau
melebih-lebihkan informasi. Juga, usaha manajemen dalam mengoperasikan perusahaan tidak
dapat dilihat langsung oleh orang luar. Pada dua kasus tersebut, pihak luar yang melakukan
kontrak mencari informasi akuntansi untuk membantu melindungi diri dari ekploitasi.
Kita mendefinisikan tata kelola sebagai kebijakan yang meluruskan aktivitas
perusahaan dengan kepentingan investor dan sosial. Perusahaan memasuki banyak kontrak,
seperti pelanggan, pemasok, managemen, pegawai lainnya, dan pemberi pinjaman. Untuk tata
kelola yang baik, kontrak-kontrak ini harus efisien. Mereka harus mencapai optimal trade off
antara benefit dan cost dari kontrak. Contohnya perusahaan mungkin diuntungkan dari
menurunkan biaya pinjaman jika biaya ditanggung untuk meyakinkan pemberi pinjaman,
seperti menjaminkan aset sebagai keamanan, atau menerima perjanjian untuk membatasi
pinjaman selanjutnya yang melemahkan keamanan pemberi pinjaman yang ada.
Mengkontrak adalah relevan pada akuntansi keuangan sejak kontrak penting tergantung
pada variabel akuntansi. Jadi kontrak hutang mungkin memuat perjanjian, seperti menjaga
tingkat working capital, tidak melebihi ratio debt equity, dan lainnya. Juga biasanya bonus yang
dibayar lewat kompensasi manajemen biasanya tergantun pada laba bersih, baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Teori kontrak efisien berasumsi bahwa manajer, seperti investor, adalah rasional.
Sebagai hasilnya, manajer tidak dapat diasumsikan tentunya memaksimalkan keuntungan
perusahaan, secara umum, melakukan sesuai kepentingan investor. Melainkan, merekan akan
melakukannya demi kepentingan dirinya sendiri. Konsekuensinya, kepentingan manajer,
pemberi pinajaman, dan pemegang saham terjadi konflik. Teori kontrak efisien mempelajari
bagaimana konflik ini diselesaikan. Melalui ini memungkinkan kita untuk menilai seberapa
efisien desain kontrak dapat membantu menselarakan kepentingan manajer dengan para
pemberi pinjaman dan pemegang saham.
Teori ini juga membahas kontrak implisit, yang mana muncul dari menjaga hubungan
bisnis.
Akhirnya, teori kontrak efisien percaya pada pasar. Menegaskan bahwa idealnya
permintaan informasi akuntansi keuangan harus memenuhi tekanan pasar, dengan peran dari
pengaturan standar yang disediakan prinsip umum yang ada yang mana praktik akuntansi dapat
mengembangkan berdasarkan hukum permintaan dan penawaran.

8.3 SUMBER PERMINTAAN KONTRAK EFISIEN ATAS INFORMASI


AKUNTANSI KEUANGAN
8.3.1 Pemberi Pinjaman
Kontrak hutang adalah sumber keuangan yang penting bagi kebanyakan perusahaan.
Ketika keamanan paling penting bagi pemberi pinjaman, seperti pemegang saham, adalah
kinerja perusahaan di masa akan datang, dua aspek kontrak hutang harus diperhatikan.
Yang pertama, adalah manajemen yang memiliki informasi terbaik tentang kondisi
perusahaan. Pemberi pinjaman peduli tentang asimetri informasi ini karena manajemen
mungkin tidak membagi informasi tersebut dengan mereka dan, mungkin memilih kebijakan
akuntansi yang menyembunyikan kinerja yang mengancam kepentingan pemberi pinjaman.
Pemeberi pinjaman jadi memeinta perlindungan atas kemungkinan ini.
Yang kedua, pemberi pinjaman mehadapi asimetri hasil. Seperti investor ekuitas,
mereka akan kehilangan jika perusahaan bekinerja buruk. Namun, tidak seperti investor,
keuntungan mereka terbatas jika perusahaan berkinerja baik. Pemberi pinjaman meminta
kebijakan akuntansi keuangan yang membantu mencegah kesulitan keuangan dan
menyediakan early waring system jika kesulitan mengancam.

8.3.2 Pemegang Saham


Eksploitasi dikendalikan dengan mendasarkan kompensasi manajer pada beberapa
ukuran performa manajer, seperti net income. Juga penegasan peran statement keuangan
membantuk mencegah manager dari overstating informasi dalamnya selama tahun berjalan,
yang dapat mengakibatkan harga saham overvaluation oleh pasar. Namun, karena manajer
diasumsikan berlaku sesuai dengan kepentingannya sendiri, dan asimetri informasi mencegah
pemegang saham mengawasi langsung usaha manajer dalam menjalankan perusahaan (moral
hazard), manajer mungkin melalaikan usaha dan menutupi overstatement dan keuntungan kecil
seperti overvaluation aset dan memanage pendapatan kedepannya. Hal ini menimbulkan
permintaan untuk kebijakan akuntansi keuangan yang memaksa tanggung jawab usaha manajer
dan membatasi aksi oppotunistic manajer.

8.4 KEBIJAKAN AKUNTANSI UNTUK KONTRAK EFISIEN


8.4.1 Reliabilitas
Asimetri hasil mengalihkan pemberi pinjaman trade off relevansi-reliability terhadap
perhatian lebih pada relatif reliability pada investor ekuitas. Karena pemberi pinjaman tidak
secara langsung mendapat hasil dari meningkatnya performa perusahaan, mereka tidak terlalu
tertarik dengan berita baik yang berorientasi masa depan. Namun, mereka sangat tertarik
dengan berita buruk yang berorientasi dimasa datang karena ini mungkin mengindikasikan
kesulitan keuangan perusahaan. Jadi, mereka meminta financial statement yang reliabel yang
melindungi dari kebijakan manajer yang oportunistik yang menyembunyikan penurunan nilai
dan overstate performa perusahaan.
Agar reliabel, informasi akuntansi untuk kontrak efisien yang berdasar pada transaksi
pasar yang terealisasi, dan dapat diverifikasi oleh pihak ketiga.
Catat bahwa peningkatan perhatian pada reliabilitas berarti bahwa financial statement
terbaik untuk menginformasikan pemberi pinjaman dan melindungi manajer oportunis adalah
tidak sama dengan yang terbaik untuk menginformasikan investor ekuitas.

8.4.2 Konservatisme
Asimetri hasil juga membuat sebuah permintaan untuk konservatism bersyarat, yaitu
impairment test. Perimintaan Pemberi pinjaman informasi tentang unrealized loss adalah lebih
baik daripada permintaan merekan terkait dengan unrealized gain, mengingat unrealized gain
dipercaya tidak lebih bermanfaat daripada unrealized losses dalam rangka memprediksi
kesulitan keuangan.
Namun, pemikiran kontrak efisien untuk kondisi konservatism bersyarat melebihi
diluar kewajiban hukum. Dia menyediakan early warning system atas kesulitan keuangan
mendatang. Juga, konservatism bersyarat, dengan membuat sebuah sistematik understatement
atas nilai bersih aset, menyediakan pemberi pinjaman dengan batas bawah aset bersih untuk
membantu mereka mengevaluasi keamanan pinjaman.
8.5 KETEGASAN KONTRAK
Kontrak, sifatnya sulit untuk dapat diubah. Dengan kata lain, kontrak itu tegas. Juga,
banyak kontrak, seperti kontrak hutang adalah jangka panjang. Jika kontrak jangka panjang
bergantung pada variabel akuntansi, sepertinya standar akuntansi akan berubah selama umur
hidup kontrak. Perubahan tersebut dapat secara negatif mempengaruhi perjanjian,
meningkatkan kemungkinan pelanggaran. Memang mungkin sebuah kontrak dapat dinegoisasi
mengikuti perubahan standar akuntansi, proses tersebut dapat akan panjang dan mahal.
Kemungkinan lain adalah ketentuan tambahan pada kontrak itu sendiri untuk
menghadapi event yang tidak terduga. Namun, prakteknya sulit secara efektif mengantisipasi
semua kejadian dimasa depan yang dapat mempengaruhi nilai perjanjuan, khususnya standar
akuntansi keuangan.
Kemungkinan lain adalah untuk membekukan kebijakan akuntansi yang digunakan
untuk menghitung nilai perjanjian . Namun hal ini akan menimbulkan biaya dan kesusahan
menajga track atas efek pada statement keuangan dari asemua standar yang berubah selama
hidup kontrak.
Cara yang lebih efisien untuk menghadapi perubahan standar akuntansi adalah
mengijinkan manajer beberapa fleksibilitas dalam pemilihan kebijakan akuntansi, sehinggadia
dapat beradaptasi dengan kondisi yang tak terduga.
Namun, memberi manajemen kebijaksanaan untuk memilih dari seperangkat kebijakan
akuntansi membuka peluang perilaku opportunistic.
Diberikan kontrak yang tegas, perusahaan menghadapi trade off tata kelola. Kebijakan
akuntansi yang optimal untuk perusahaan mewakili kompromi. Menentukan kebijakan
akuntansi secara ketat sebelumnya akan meminimalkan opportunistic kebijakan akuntansi yang
dipilih manajer. Disisi lain, membiarkan manajer memilih kebijakan akuntansi akan
mengurangi biaya ketegasan kontrak tapi membuka perusahaan biaya perilaku manajer
opportunistic.

8.6 EMPLOYEE STOCK OPTIONS


Dalam bagian ini, kita memeriksa area dimana manajemen keprihatinan tentang
kebijakan akuntansi tampak jelas. Yaitu akuntansi untuk opsi saham yang dikeluarkan bagi
manajemen dan, dalam beberapa kasus, bagi karyawan-karyawan lainnya, yang memberi
mereka hak untuk membeli saham perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Kita menyebut
opsi-opsi tersebut sebagai employee stock opsions (ESOs).
Sampai sekitar tahun 2005, akuntansi untuk ESOs di Amerika Serikat dan tempat lain
didasarkan pada opinion 25 Accounting Principles Board tahun 1972 (APB 25). Standar
tersebut mewajibkan perusahaan mengeluarkan ESO dengan nilai tetap untuk mencatat biaya
yang sama dengan selisih antara nilai pasar saham pada tanggal pemberian opsi tersebut pada
karyawan (grant date) dan harga pelaksanaan opsi tersebut. Selisihnya disebut nilai intrinsik.
Kebanyakan perusahaan yang menetapkan harga pelaksanaanya sama dengan nilai pasar pada
tanggal pemberiannnya,sehingga nilai intrinsiknya nol. Akibatnya, tidak ada expense untuk
kompensasi ESO tercatat.
Alasan tidak diwajibkannya pencatatan nilai wajar untuk ESO adalah sulit menetapkan
nilainya. Sehingga muncul rumus Black/Sholes yang berasumsi bahwa opsi dapat
diperdagangkan dengan bebas Hal ini tidak dimungkinkan karena ESO tidak dapat
dilaksanakan sampai tanggal penyerahan (vesting date). Juga, jika karyawan mengundurkan
diri dari perusahaan sebelum dilakukannya penyerahan, maka opsi tersebut dinyatakan hangus,
atau kalaupun belum dilaksanakan, mungkin ada pembatasan-pembatasan terhadap
kemampuan karyawan untuk menjual saham yang diperolehnya.
Bulan juni 1993, FASB mengeluarkan exposure draft standar baru yang diusulkan.
Exposure draft tersebut mengusulkan agar perusahaan mencatat biaya kompensasi berdasarkan
nilai wajarnya pada tanggal pemberian ESO yang dikeluarkan pada periode tersebut. Exposure
tersebut ditentang oleh kalangan bisnis dan meluas ke kongres. Muncul kekhawatiran akan
konsekuensi ekonomi dari laporan laba yang lebih rendah yang akan dihasilkan. Konsekuensi
tersebut mencakup harga saham yang rendah, biaya modal yang tinggi, kurangnya bakatr
manajerial,serta rendahnya motivasi manajer dan karyawan.
Meskipun demikian, biaya ESO tersebut sangat sulit diukur secara reliabel. Hal ini
karena karyawan mungkin melaksanakan opsi tersebut setelah tanggal penyerahan sampai
tanggal kadaluwarsa. Biaya ex post bagi perusahaan pun akan tergantung pada selisih nilai
pasar saham dan harga pelaksanaan pada saat itu. Untuk mengetahui nilai wajar ESO, perlu
diketahui strategi pelaksanaan optimal karyawan.
Untuk mengatasi masalah ini, muncul model strategi yang disusun oleh Huddart (1994).
Dengan membuat beberapa asumsi, Huddart menunjukkan bahwa rumus Black/Sholes dengan
ESO yang ditahan sampai tanggal kadaluwarsa dapat menaikkan pencatatan nilai wajar ESO
pada saat tanggal pemberian.
Terdapat tiga karakteristik Opsi:
1. Pengembalian yang diharapkan dari menahan suatu opsi melebihu return saham yang
diharapkan.
2. Potensi kenaikan (upside potencial) opsi America (tendensi kenaikan terhadap nilainnya)
meningkat seiring dengan waktu jatuh tempo.
3. Jika opsi “deep-in-the-money” artinya jika nilai saham dasar jatuh lebih tinggi daripada
harga exercise price ,maka hasil dari menahan opsi tersebut dan probabilitasnya sangat
mendekati hasil dan probabilitasnya dari menahan saham dasarnya.
Dua keadaan dimana karyawan melaksanakan opsinya. Pertama jika ESO mencakup
nilai uang sedikit (resiko substansial terjadinya hasil nol), waktu sampai jatuh temponya
singkat (sedangkan pengorbanan untuk potensi kenaikan) dan karyawan tersebut diharuskan
menahan saham yang diperolehnya,maka penghindaran resiko dapat memicu pelaksanaan lebih
awal. Kedua jika ketika ESO menyangkut banyak uang,waktu sampai jatuh temponya
singkat,dan karyawan dapat menahan maupun menjual saham yang diperolehnya dan
menginvestasikan hasilnya pada aktiva yang tidak beresiko.
Pada tahun 1994, FASB mengumumkan pembatalan exposure draft,dengan alasan tidak
memperoleh dukungan yang cukup. FASB beralih ke pengungkapan tambahan. Dalam SFAS
123, yang keluar tahun 1995, FASB mendesak perusahaan untuk menggunkan pendekatn nilai
wajar yang disarankan dalam exposure draft,namun memungkinkan digunakannya penetapan
nilai intrinsic APB 25 selam perusahaan member pengungkapan tambahan dari biaya WSO
yang ditentukan dengan menyusutkan nilai wajar dari ESO yang diberikan selama periode
penyerahannnya menurut waktu pelaksanaan yang diharapkan. Sejak tahun 1993,exposure
draft telah diabaikan. Baru-baru ini skandal penyusunan laporan keuangan seperti enron dan
worldcom telah menimbulkan tekanan baru untuk mengeluarkan ESO. Eksekutif senior
menggunakan taktik untuk meningkatkan nilai-nilai ESOs mereka. Beberapa taktik yang
digunakan yaitu:
 pompa and dump, dimana manajer akan mengambil tindakan untuk meningkatkan share
value tak lama sebelum meng-exercise options, kemudian menjual saham sebelum harga
saham jatuh kembali dan, mungkin, berinvestasi hasil pada securities yang kurang berisiko.
 CEO perusahaan dengan menjadwalkan grant dates (sehingga CEO tahu kapan ESO
datang) menggunakan taktik (misalnya, pengumuman lebih awal bad news tetapi tidak
untuk good news) untuk menurunkan harga saham, dan kemudian ESO meng-exercise
harga.
 spring loading, manajer menekan compensation committees untuk memberikan
unscheduled ESOs sesaat sebelum good earnings news.
 late timing, pengunduran ESO awards untuk tanggal ketika harga saham adalah lebih
rendah daripada di grant date ESO sebenarnya.

8.7 DISCUSSION AND SUMMARY OF ESO EXPENSING


Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Mengapa pihak manajemen menentang
pembebanan ESO? Satu kemungkinan yang bisa menjelaskan sikap manajemen tersebut adalah
bahwa manajemen tidak menerima adanya efisiensi pasar sekuritas. Manajemen percaya bahwa
para investor akan bereaksi negatif terhadap laba yang dilaporkan menurun, apa pun alasannya.
Kemungkinan yang lain adalah bahwa laba yang dilaporkan menurun akan
meningkatkan kemungkinan terjadinya debt covenant violation. Selain itu, kompensasi
manajemen bisa menurun sampai titik di mana kompensasi ditentukan berdasarkan laba yang
dilaporkan.

8.8 DISTINGUISHING EFFICIENCY AND OPPORTUNIS


Dalam bagian ini, kita mempertimbangkan beberapa studi empiris yang baik
mendukung dan mepertanyakan efficient contracting.
Mian dan Smith (1990) melakukan penelitian tentang efficient contracting. Mian dan
Smith mengamati pilihan kebijakan akuntansi untuk mengkonsolidasi perusahaan subsidiary.
Mereka berpendapat bahwa semakin besar interdependensi antara perusahaan induk dengan
perusahaan anak maka akan semakin efisien untuk menyiapkan laporan keuangan konsolidasi.
Mereka memperkirakan bahwa semakin besar integrasi antara perusahaan induk dan
perusahaan anak, maka semakin besar kemungkinan/kecenderungan perusahaan induk untuk
menyiapkan laporan konsolidasian.
Bharath, Sunder, dan Sunder (2008) menginvestigasi efek dari kualitas akuntansi
terhadap suku bunga yang dibebankan dalam pasar pinjaman (lending markets) publik maupun
swasta (misalnya bank). Mereka menemukan bahwa suku bunga secara signifikan lebih rendah
dalam pasar hutang publik dan swasta untuk perusahaan-perusahaan dengan akrual yang
rendah (akuntansi berkualitas tinggi). BSS juga menemukan bahwa perusahaan dengan kualitas
pelaporan yang rendah cenderung untuk meminjam dari bank (swasta), sedangkan perusahaan
dengan kualitas pelaporan yang tinggi cenderung untuk meminjam dari pasar publik.
Wittenberg-Moerman (2008) mengukur asimetri informasi dalam bid-ask spread pada
pasar hutang. WM menemukan bahwa, seperti yang telah diduga, konservatisme kondisional
berasosiasi negative dengan bid-ask spread. WM tidak menemukan adanya keterkaitan ketika
perusahaan mengakui unrealized gain.
Gigler, Kanodia, Sapra, dan Venugopalan (2009) menunjukkan bahwa meskipun
akuntansi konservatif mungkin saja menurunkan suku bunga pinjaman, hal ini juga membawa
cost karena secara alamaiah, konservatisme meningkatkan kemungkinan covenant violation
ketika tidak dijamin oleh economic state perusahaan.
Armstrong, Jagolinzer, dan Larcker (AJL; 2010) mempelajari mengenai banyaknya
perusahaan yang mengalami restatement laporan keuangan, class-action lawsuit, dan
investigasi SEC yangmungkin mengindikasikan perilaku oportunistik manajer. Pertanyaannya
adalaha: Apakah perusahaan dengan CEO yang mempunyai delta portofolio tinggi
menunjukkan perilaku oportunistik CEO yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan
perusahaan serupa dengan CEO yang memiliki delta portofolio lebih rendah? Dalam
penelittiannya, AJL tidak menemukan bukti akan hal tersebut. Oleh karena itu, kepemilikan
saham perusahaan oleh manager sepertinya tidak menyebabkan perilaku oportunistik.
Meskipun penelitian AJL menyatakan demikian, adanya restatement, lawsuit, dan
investigasi SEC menunjukkan bahwa perilaku seperti itu memang ada. Dengan demikian, hal
tersebut mungkin saja terjadi dengan didorong oleh motivasi yang lain.
Bukti lebih jauh mengenai perilaku oportunistik diungkapkan oleh Hope dan Thomas
(2008). Mereka meneliti sampel perusahaan-perusahaan multinasional di bawah SFAS.
Berlakunya SFAS 31 menghapuskan kewajiban untuk melaporkan laba berdasarkan wilayah
geografis, sehingga pengungkapan tersebut bersifat sukarela saja setelah adanya SFAS 131.
Hope dan Thomas melaporkan bahwa di antara perusahaan-perusahaan sampel tersebut yang
tidak mengungkapkan laba berdasarkan wilayah geografis setelah berlakunya SFAS 131, total
penjualan asingnya meningkat tetapi total laba asingnya secara rata-rata menurun jika
dibandingkan dengan periode sebelum berlakunya SFAS 131 atau jika dibandingkan dengan
laba domestic perusahaan yang sama setelah SFAS 131. Hal tersebut menunjukkan bahwa
sepertinya manajer telah mengeksploitasi kemampuan investor yang menurun untuk
mengawasi kinerja mereka dengan cara meningkatkan penjualan asing dengan mengorbankan
keuntungan. Hal tersebut oleh penlis disebut sebagai “empire bulding”, yaitu suatu bentuk
moral hazard yang mana manajer secara oportunistis menaikkan ukuran perusahaan (dengan
menaikkan penjualan asing).
Kesimpulannya, baik efficient contracting maupun sikap oportunisme dua-duanya
ada/terjadi di dalam dunia akuntansi pada kenyataanya.
8.9 SUMMARY OF EFFICIENT CONTRACTING FOR DEBT AND
STEWARDSHIP
Teori efficient contracting mempelajari tentang peran informasi akuntansi keuangan
dalam menjembatani asimetri informasi antara pihak-pihak dalam kontrak. Untuk mencapai
kontrak yang efisien (efficient contracting), informasi keuangan harus reliable dan konservatif
(secara kondisional). Suatu implikasi signifikan atas teori efficient contracting adalah bahwa
kebijakan akuntansi mempunyai konsekuensi-konsekuensi ekonomi. Oleh karena itu, hal
tersebut menjadi penting bagi para manajer. Selama manager memiliki fleksibilitas untuk
memilih kebijakan akuntansi, mereka dapat mengubah kebijakan ini untuk mengimbangi
dampak dari standar akuntansi baru pada kontrak utang dan kompensasi.
Perusahaan menghadapi tradeoff dalam fleksibilitas kebijakan akuntansi yang
diberikan kepada manajer. Terlalu sedikit fleksibilitas akan mengarah kepada inefisiensi
kontrak ketika standar akuntansi berubah. Terlalu banyak fleksibilitas membuka kemungkinan
oportunisme manajer. Kompromi yang masuk akal untuk menjembatani keduanya adalah
dengan mengizinkan manajer untuk memilih kebijakan akuntansi dalam tataran GAAP.

8.10 IMPLICIT CONTRACTS


8.10.1 Definition and Empirical Evidence
Dalam banyak situasi, perusahaan dapat mendapatkan keuntungan dari effiecient
contracting tanpa harus benar-benar masuk ke dalam sebuah kontrak formal. Sebagai contoh
yaitu kepercayaan yang diperoleh perusahaan atas konsistensinya melaporkan laba yang terus
berkembang secara transparan. Hubungan yang berdasarkan kepercayaan semacam itu disebut
sebagai kontrak implisit (implicit contracts).
Investigasi mengenai kontrak implisit awal mulanya dilakukan oleh Bowen,
DuCharme, dan Shores (BDS; 1995). Mereka berpendapat bahwa reputasi perusahaan dapat
didukung oleh keuntungan yang dilaporkan tinggi, yang meningkatkan kepercayaan
stakeholder bahwa manajer akan terus memenuhi kewajiban kontrak. BDS menemukan bahwa
perusahaan dengan tingkat keterlibatan berkelanjutan yang tinggi dengan para pemangku
kepentingan lebih cenderung untuk memilih kebijakan FIFO dan amortisasi garis lurus dari
perusahaan dengan tingkat yang lebih rendah dari keterlibatan berkelanjutan, konsisten dengan
prediksi mereka. Graham, Harvey, dan Rajgopal (2005) mendukung temuan BDS tersebut.
Mereka melaporkan bahwa manajer menempatkan hubungan dengan pemangku kepentingan
lainnya sebagai alasan penting untuk memenuhi target laba.
8.10.2 Single Period Non-Cooperative Game
Ketika membuat keputusan, investor sadar bahwa manajer tidak selalu mengungkapkan
semua informasi yang dimilikinya. Hal ini terlalu sulit dan mahal untuk menyediakan bagi
setiap investor dengan informasi yang diinginkan tentang perusahaan. Teori Permainan
mengasumsikan setiap pemain memilih strategi tanpa mengetahui pilihan strategi yang lain.
Strategy Pair (strategi berpasangan) adalah pilihan dari strategi yang diambil oleh masing-
masing pihak. Nash Equilibrium adalah salah satu strategi berpasangan, setiap pemain memilih
strategi mereka dan tidak akan meninggalkan pilihan mereka. Nash Equilibrium adalah hasil
dari prediksi permainan Non-Cooperative.
Dalam teori Single-Person Decision Theory, alami (nature) adalah kekuatan yang tidak
memihak dan strategi yang dipilih oleh investor tidak dipengaruhi dari nature ini. Teori ini
diturunkan ketika hasil yang diperoleh oleh lawan (manajer) dan bukan oleh nature, yang
membawa kita ke teori permainan.
Sejak kebutuhan akan keputusan dari pihak yang berbeda mungkin tidak selalu sama,
konflik antar pihak dapat dimodelkan sebagai sebuah permainan. Salah satu contoh konflik ini
mungkin terjadi di antara investor dan manajer. Investor menginginkan informasi keuangan
yang relevan dan dapat diandalkan untuk membantu mereka dalam menilai risiko dan imbalan
yang diharapkan dari investasi. Namun, manajer mungkin tidak ingin mengungkapkan semua
informasi yang dimilikinya.
Contoh 9.1: Hubungan antara Manager-Investor pada Teori Permainan
Manajer harus memilih antara satu dari dua strategi. Dia bisa memilih “mendistorsi”
(D) dengan investasi di bawah sistem pengendalian internal atau melaporkan laba bersih yang
tidak sebenarnya. Pilihan kedua adalah memilih “jujur” (H). Investor juga memiliki dua
strategi. Dia bisa membeli saham (B) dalam perusahaan atau menolak untuk membeli saham.
Table 9.1 Utility Payoffs in a Non-Cooperative Game
Manager
HONEST (H) DISTORT (D)
BUY (B) 60, 40 20, 80
Investor
REFUSE TO BUY ® 35, 20 35, 30

Setiap pihak memiliki informasi yang lengkap tentang pihak yang lain. Jadi, investor
tahu strategi dan hasil yang tersedia bagi manajer dan sebaliknya. Namun, mereka harus
memilih strategi mereka tanpa mengetahui strategi pihak lain yang dipilih. Oleh karena itu, RD
akan menjadi strategi yang dipilih. Ini adalah pasangan dimana tiap pemain terdiri dari strategi
mereka, meskipun kedua belah pihak akan lebih baik jika pasangan BH yang akan dipilih.
Titik mendasar adalah bahwa model ini memungkinkan individu untuk lebih
memahami proses pilihan kebijakan akuntansi. Setiap pihak memiliki kepentingan mereka
sendiri untuk dipertaruhkan, yang mungkin bertentangan. Pemahaman yang lebih baik dalam
situasi konflik ini oleh pembuat standar akuntansi akan menghasilkan pilihan kebijakan
akuntansi yang lebih realistis.
Dalam buku ini digunakan contoh investor dan manajer yang menunjukkan teori
permainan non-kooperatif dalam situasi konflik. Contoh serupa dari model ini misalnya pada
industri mobil bekas. Pembeli menginginkan semua informasi yang relevan dan dapat
diandalkan tentang mobil untuk membantu dia dalam menilai nilai mobil yang diharapkan dan
risiko pembelian mobil tersebut. Penjual mungkin tidak ingin mengungkapkan semua
informasi negatif tentang mobilnya. Mobil itu dapat menjadi sulit untuk terjual, penjual
mungkin harus menghabiskan dananya untuk memperbaiki mobil, atau pembeli dapat membeli
di tempat lain. Kedua belah pihak menyadari strategi pihak yang lain dan reaksi yang mungkin
terjadi. Ini adalah permainan non-kooperatif karena tidak ada kesepakatan yang mengikat
antara penjual dan pembeli.
Penjual memiliki dua strategi. Dia bisa berbohong tentang kualitas mobilnya
digunakan, sehingga terdengar lebih baik daripada yang sebenarnya. Atau, ia bisa jujur tentang
kualitas kendaraan dan risiko kehilangan penjualan. Pembeli dapat memilih untuk membeli
atau menolak untuk membeli mobil.
HONEST LIE

BUY 70,40 30,70

REFUSE 35,10 35,30

Pasangan strategi yang dipilih tidak akan Menolak (refuse) / Jujur (honestly) atau Beli
(buy) / Berbohong (Lie). Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa masing-masing pihak memiliki
informasi yang lengkap tentang yang lain dan tahu strategi dan hasilnya. Sebagai contoh, jika
penjual memilih untuk Berbohong, pembeli tidak akan memilih untuk Membeli karena dia akan
menerima sebuah utilitas yang lebih tinggi dengan Menolak. Berbohong / Menolak adalah
pasangan strategi yang dipilih karena pengaruh strategi pemain lain, setiap pemain adalah
pemeran dengan nya atau keputusannya meskipun membeli / Jujur akan memberikan setiap
pemain utilitas yang lebih tinggi. Hal ini disebut sebagai Nash Equilibrium.
Teori Permainan membantu kita untuk memahami proses memilih kebijakan akuntansi.
Hal ini membantu kita untuk memahami mengapa dalam situasi tertentu perusahaan akan
memilih untuk mendistorsi laporan keuangan jika hal ini membantu mereka untuk
melakukannya. Teori ini juga membantu dalam menunjukkan bagaimana sulitnya untuk
mencoba dan menerapkan kebijakan dan prosedur baru yang menghasilkan keuntungan yang
rendah kepada manajemen. Teori permainan juga dapat digunakan untuk menunjukkan dewan
standar akuntansi tentang bahaya jika tidak mempertimbangkan kepentingan semua pihak yang
dipengaruhi oleh pilihan-pilihan kebijakan yang ditemukan menjadi sulit untuk diterapkan.

8.10.4 SUMMARY OF IMPLICIT CONTRACTING


Teori permainan non-kooperatif menjelaskan model situasi tentang adanya konflik
yang biasa terjadi antar pengguna laporan keuangan. Bahkan model teori permainan sederhana
menujukkan bahwa badan penyusun standar akuntansi yang gagal untuk mempertimbangkan
kepentingan semua konstituen yang dipengaruhi oleh pilihan kebijakan akuntansi sedang
dalam bahaya membuat rekomendasi kebijakan yang sulit untuk diterapkan.

8.11 SUMMARY OF EFFICIENT CONTRACTING


Efficient contracting menimbulkan dua pertanyaan penting untuk Conceptual
Framework. Pertama, haruskah kerangka memberikan pengakuan yang lebih besar untuk
verifiability, seperti bergerak ke karakteristik meningkatkan laporan keuangan untuk
komponen representasional faithfulness? Seperti pendapat O'Brien, hal ini akan memperkuat
peran kehandalan dalam kerangka, sehingga mengurangi keprihatinan investor bahwa manajer
secara opportunistik dapat mengelola penghasilan untuk menghindari pelanggaran perjanjian
hutang dan untuk meningkatkan reputasi dan kompensasi.
Kedua, sejauh mana seharusnya financial statements memberikan sistem peringatan
awal untuk memperingatkan debtholders untuk kemungkinan financial distress perusahaan?
Conditional conservatism menyediakan seperti sistem peringatan dini dengan mengakui
kerugian yang belum direalisasi.
Penelitian empiris telah melaporkan bukti kontrak efisien dan perilaku oportunistik
manajer. Sementara itu penting bagi akuntan untuk menyadari kemungkinan oportunisme
manajer, bukti efisien menunjukkan bahwa mungkin untuk menyelaraskan manajer
kepentingan dengan orang-orang investor.