Anda di halaman 1dari 3

Analisis Puisi

“Dari Kesiman Ke Tukad Badung”


Oleh: Ketut Yuliarsa
Suweca bersama pagi berjalan
Dari kesiman ke Tukad Badung
Setiap hari.

Bukan karena rujukan hati


Tapi dengan secarik kertas
Bertuliskan pasien schizophrenia
Rumah sakit umum Wangaya Kaja.

Suweca berbenah diri


Menyapa kota tertawa
Dan warga membalasnya
Dengan senyum setengah gila.

Apa yang kau tangkap


Di sepanjang jalan itu, bli?
Sawah yang berubah jadi rumah kah?
Pertokoan yang berjejer semarak
Warna pasar, gemuruh hidup
Gencar berpacu meninggalkan
Masa lalu mu.

Tapi masih ada katak berlompatan


Di bawah trotoar yang berlubang
Waktu kau tiarap, tertangkap
Suaranya, bruumm bruumm tokek
Meniru derum motor dan klakson mobil
Tak putus putusnya bagai aliran darah
Hidup masa kini.
Dari Kesiman ke Tukad Badung
Suweca berhenti di ujung timur jempatan
Dia sapa saudaranya yang bermukim
Di pura desa Melanting, seberang jalan
Berbincang dengan arwah
Yang masih gentanyangan
Dari masa Puputan Badung,
Pembunuhan orang Cina,
Kebakaran pasar dan korban
Kecelakaan lalu lintas biasa.

Aku tak mau menyeberang ke barat sungai


Karena ribuan arwah itu akan ikut membebani
Jembatan pasti ambruk, kata Suweca
Sambil makan suguhan warga pasar
Yang bersyukur atas jasanya
Meronda kota.

Besok lagi bersama pagi


Setiap hari, berjalan dari Kesiman
Dan berhenti di ujung jembatan
Yang hanya mampu menampung
Ribuan motor dan mobil menderu-deru
Sepanjang waktu.

Tapi tak mampu menampung


Beban hidup bli Suweca
Yang begitu ringan
“nerawang sawang”
Analisis