Anda di halaman 1dari 58

FORMULASI SEDIAAN GEL HAND SANITIZER AIR PERASAN

JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia S.) KONSENTRASI 25% DAN


30% BERBASIS KARBOPOL 940

Oleh:
PUJI NURFITRIYANI
NIM 1015108

PROGRAM STUDI DIPLOMA III FARMASI


SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH
CIREBON
2018
FORMULASI SEDIAAN GEL HAND SANITIZER AIR PERASAN
JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia S.) KONSENTRASI 25% DAN
30% BERBASIS KARBOPOL 940

Proposal Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh ijazah Diploma III Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah
Cirebon

Oleh:
PUJI NURFITRIYANI
NIM 1015108

PROGRAM STUDI DIPLOMA III FARMASI


SEKOLAH TINGGI FARMASI MUHAMMADIYAH
CIREBON
2018
HALAMAN PERSETUJUAN

Proposal Karya Tulis Ilmiah ini telah diperiksa dan disetujui oleh Dosen
Pembimbing Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Cirebon, Februari 2018

Pembimbing I

Lela Sulastri, S.Si., M.Farm., Apt.


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Puji Nurfitriyani

Tempat, Tanggal Lahir : Cirebon, 7 November 1996

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jalan Fatahillah II. Blok Atas Angin RT/RW 09/03.

Perbutulan-Sumber Kab. Cirebon.

Pendidikan :

1 TK Alwasliyah : Tahun 2001– 2003

2 SD Negeri 1 Sumber : Tahun 2003 – 2009

3 SMP Negeri 1 Sumber : Tahun 2009 – 2012

4 SMK Farmasi Muhammadiyah 1 Cirebon : Tahun 2012 – 2015

5 Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon : Tahun 2015 – 2018


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, tiada kata yang patut terucap selain

puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan

hidayah-Nya, disertai dengan usaha, doa, dan kesungguhan hati sehingga penulis

dapat menyelesaikan penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul

“FORMULASI SEDIAAN GEL HAND SANITIZER AIR PERASAN JERUK

NIPIS (Citrus aurantifolia S.) KONSENTRASI 25% DAN 30% BERBASIS

KARBOPOL 940” dengan baik.

Penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai syarat

menyelesaikan pendidikan Diploma III Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah

Cirebon. Dalam penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak

mendapat bimbingan dan petunjuk dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis

mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Drs. H. Arsyad Bachtiar, M.Si., selaku Ketua Sekolah Tinggi Farmasi

Muhammadiyah Cirebon.

2. Bapak Didi Rohadi, S.Si., M.Sc., Apt., selaku Ka Prodi D III Farmasi

Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon.

3. Ibu Lela Sulastri, S.Si., M.Farm., Apt., selaku Pembimbing I dalam

penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah.

4. Ibu Aida Maftuhah M.Farm., Apt., selaku Dosen wali.

5. Bapak dan Ibu Dosen Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon.

6. Seluruh staf TU Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

i
ii

7. Bapak dan Ibu tercinta yang selalu memberikan doa dan dukungan baik moral

maupun materiil.

8. Rekan-rekan angkatan 2015 atas doa dan dukunganya.

9. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Proposal Karya Tulis

Ilmiah ini.

Dalam penulisan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini, penulis menyadari

sepenuhnya bahwa tulisan ini tidak luput dari kekurangan dan kelemahan, oleh

karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari

semua pihak yang membaca Proposal Karya Tulis Ilmiah ini demi kesempurnaannya.

Akhir kata penulis berharap Proposal Karya Tulis Ilmiah ini dapat memberikan

manfaat bagi pembaca dan penulis.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Cirebon, Februari 2018

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

KATA PENGANTAR ................................................................................................. i

DAFTAR ISI .............................................................................................................. iii

DAFTAR TABEL ...................................................................................................... v

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. vi

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ vii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1

A. Latar Belakang .................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ............................................................................................... 3

C. Tujuan Penelitian ................................................................................................. 4

D. Manfaat Penelitian............................................................................................... 4

E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 7

A. Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia S.) .................................................................... 7

B. Gel ....................................................................................................................... 9

iii
iv

C. Uji Stabilitas ...................................................................................................... 21

D. Karbopol 940 ..................................................................................................... 23

E. Pre Formulasi ..................................................................................................... 24

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .............................................................. 30

A. Jenis Penelitian .................................................................................................. 30

B. Tempat dan Waktu Penelitan............................................................................. 30

C. Populasi dan Sampel ......................................................................................... 30

D. Teknik Pengumpulan Data ................................................................................ 31

E. Alat dan Bahan Penelitian ................................................................................. 31

F. Prosedur Penelitian ............................................................................................ 32

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Formula Sediaan Gel .................................................................................. 32

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Buah Jeruk Nipis ...................................................................................... 7

Gambar 2.2 Struktur Carbopol 940 ............................................................................ 24

Gambar 2.3 Struktur Gliserin ..................................................................................... 25

Gambar 2.4 Struktur Triethanolamine ....................................................................... 26

Gambar 2.5 Struktur Metil Paraben ........................................................................... 27

Gambar 2.6 Struktur Natrium Metabisulfit ................................................................ 28

vi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alur Penelitian

Lampiran 2 Formula Acuan

Lampiran 3 Perhitungan Penimbangan

Lampiran 4 Pengujian

vii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan menjadi aspek sangat penting bagi manusia karena jika

manusia terserang penyakit maka akan mengganggu aktivitasnya sehari-hari.

Salah satu contoh penyebab terjangkitnya penyakit adalah kurangnya

kebiasaan mencuci tangan (Permatasari, 2014:1). Tangan adalah anggota

tubuh yang sangat penting dalam beraktivitas, banyak masyarakat yang tidak

sadar bahwa tangan merupakan media yang paling mudah terkontaminasi

dengan mikroorganisme sehingga mempermudah terjadinya penyakit.

Menurut Permatasari (2014:1), kebersihan tangan menjadi salah satu

aspek yang penting agar terhindar dari berbagai macam penyakit infeksi

akibat dari akumulasi mikroba yang ada di tangan. Terkadang sulitnya

keberadaan air dan sabun tidak sesuai dengan yang diinginkan. Salah satu

solusi sebagai pencegahan yaitu dengan menggunakan gel antiseptik tangan

(hand sanitizer) pada saat sebelum makan dan minum sebagai alternatif

karena penggunaannya yang praktis dan mudah dibawa kemana-mana untuk

menggantikan air dan sabun untuk mencuci tangan.

Dalam era perkembangan modern, kini masyarakat lebih menyukai

penggunaan hand sanitizer karena lebih praktis, sederhana, dan mudah

digunakan untuk tetap menjaga tangan agar selalu terlindungi dari

mikroorganisme penyebab penyakit dan infeksi dibandingkan dengan

mencuci tangan menggunakan air. Oleh karena itu sangat direkomendasikan

1
2

sekali untuk masyarakat dan tenaga kesehatan dalam menjaga kebersihan

tangannya.

Hand sanitizer merupakan cairan pembersih tangan berbahan dasar

alkohol yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme dengan cara

pemakaian tanpa dibilas dengan air. Hand sanitizer sering digunakan ketika

dalam keadaan darurat dimana kita tidak bisa menemukan air (Permatasari,

2014:2). Hand sanitizer umumnya diformulasikan dalam bentuk sediaan gel.

Menurut Ansel (1989:390), gel didefinisikan sebagai suatu sistem setengah

padat yang terdiri dari suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel

anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar dan saling diresapi

cairan.

Antiseptik merupakan bahan kimia untuk mencegah multiplikasi

mikroorganisme pada permukaan tubuh dengan cara membunuh

mikroorganisme tersebut atau menghambat pertumbuhan dan aktivitas

metaboliknya. Hand sanitizer antiseptik yang sering digunakan adalah

alkohol. Alkohol telah digunakan secara luas sebagai obat antiseptik kulit

karena mempunyai efek menghambat pertumbuhan bakteri (Desiyanto dan

Djannah, 2013:79). Akan tetapi, alkohol dapat melarutkan lapisan lemak dan

sebum pada kulit serta mengakibatkan kekeringan dan iritasi pada pemakaian

berulang terhadap kulit. Selain itu alkohol juga memiliki sifat mudah terbakar

(Sari dan Isadiartuti dalam Wijoyo, 2016:2).

Dalam jurnal Razak, dkk (2013:5) menyatakan bahwa jeruk nipis

(Citrus aurantifolia S.) adalah salah satu tanaman yang bermanfaat sebagai

penambah nafsu makan, diare, antipireutik antiinflamasi, diet, dan antibakteri.

Keasaman pada buah jeruk nipis disebabkan oleh kandungan asam organik
3

berupa asam sitrat dengan konsentrasi yang tinggi juga dapat menjadi salah

satu faktor yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Efek air perasan

buah jeruk nipis sebagai antibakteri dapat menghambat pertumbuhan bakteri

Eschericia colli, Streptococcus haemolyticus, dan Streptococcus aureus. Air

perasan jeruk nipis memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri

Staphylococcus aureus dengan berbagai konsentrasi yaitu 25%, 50%, 75%

dan 100% dimana semakin tinggi konsentrasi air perasan buah jeruk nipis

maka daya hambat air perasan buah jeruk nipis terhadap pertumbuhan kuman

Staphylococcus semakin baik.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis akan melakukan

penelitian yang berjudul “FORMULASI SEDIAAN GEL HAND

SANITIZER AIR PERASAN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia S.)

KONSENTRASI 25% DAN 30% BERBASIS KARBOPOL 940”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merumuskan permasalahan

penelitian yaitu :

1. Bagaimana stabilitas sediaan gel hand sanitizer air perasan jeruk nipis

(Citrus aurantifolia S.) konsentrasi 25% dan 30% berbasis karbopol 940?

2. Apakah perbedaan konsentrasi bahan aktif air perasan jeruk nipis (Citrus

aurantifolia S.) dengan basis karbopol 940 akan mempengaruhi stabilitas

gel?
4

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas, tujuan penelitian terdiri atas tujuan

umum dan tujuan khusus, yaitu sebagai berikut:

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui apakah air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.)

konsentrasi 25% dan 30% dapat diformulasikan dalam sediaan gel hand

sanitizer dengan basis karbopol 940.

2. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui bagaimanakah stabilitas gel hand sanitizer air perasan

jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) konsentrasi 25% dan 30% berbasis

karbopol 940.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas, manfaat penelitian terdiri atas

manfaat untuk penulis, untuk institusi pendidikan, dan untuk masyarakat,

yaitu sebagai berikut:

1. Untuk Penulis

Diharapkan dengan dilaksanakannya penelitian ini dapat

menambah pengetahuan tentang bahan aktif dan formula sediaan gel,

dapat membuat sediaan gel, serta dapat membuktikan bahwa kandungan

dalam air perasan jeruk nipis dapat digunakan sebagai antiseptik.


5

2. Untuk Institusi Pendidikan

Dengan dilakukannya penelitian ini, diharapkan dapat berguna

sebagai perbandingan atau referensi, untuk pengembangan ilmu

kefarmasian khususnya dalam penelitian tentang sediaan gel hand

sanitizer air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.), serta dapat

melihat sejauh mana penulis menerapkan praktik yang sudah di dapat

selama proses pembelajaran.

3. Untuk Masyarakat

Dengan dilakukannya penelitian ini, diharapkan sediaan gel

hand sanitizer air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) dapat

dimanfaatkan sebagai pembersih tangan yang lebih aman.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini yaitu membuat sediaan gel hand

sanitizer air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) dengan konsentrasi

25% dan 30% berbasis karbopol 940 konsentrasi 1% serta menguji stabilitas

dari gel tersebut. Buah jeruk nipis yang digunakan yaitu buah yang berbentuk

bulat sampai bulat telur, berwarna hijau dan rasanya asam. Pembuatan

sediaan gel dengan variasi konsentrasi bahan aktif menggunakan basis

karbopol 940 dengan konsentrasi 1%. Sediaan tersebut diuji stabilitasnya

menggunakan metode cycling test yaitu sediaan gel hand santizer air perasan

jeruk nipis disimpan pada suhu 4⁰C selama 24 jam, kemudian dipindahkan

pada suhu 40⁰C selama 24 jam, perlakuan ini disebut satu siklus, pada

penelitian ini dilakukan selama 6 siklus (12 hari). Pengamatan dilakukan pada

hari ke 0, 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 (setiap satu siklus), dengan parameter


6

pengujian organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, viskositas, sifat alir,

dan dilakukan pengujian syneresis gel. Pada penelitian ini tidak dilakukan uji

daya hambat gel hand sanitizer air perasan jeruk nipis terhadap pertumbuhan

bakteri. Penilitian ini dilakukan di Laboratorium Farmasetika Sekolah Tinggi

Farmasi Muhammadiyah Cirebon pada bulan Desember 2017 sampai bulan

Mei 2018.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia S.)

1. Klasifikasi tanaman

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Bangsa : Citrus

Famili : Rutaceae

Jenis : Citrus aurantiifolia Swingle

Nama lokal : Limau Tipis (Melayu); Jeruk Nipis (Jawa Tengah)

(Herbie, 2015:359)

Gambar 2.1 Buah Jeruk Nipis (Enda, 2012:11)

7
8

2. Morfologi (Herbie, 2015:359)

Perdu dengan tinggi 3,5 m. Batang berkayu, berbentuk bundar,

berduri, dan berwarna putih kehijauan. Daun majemuk, berbentuk

membundar telur atau melonjong membundar telur, pangkal membundar

atau menumpul dengan ujung tumpul dan tepi beringgit. Panjang daun

2,5-9 cm, lebar 1,5-5,5 cm. Pertulangan daun menyirip, dengan panjang

tangkai 5-25 mm, bersayap, dan berwarna hijau.

Bunga majemuk atau tunggal, terletak di ketiak daun atau di ujung

batang. Diameter bunga 1,5-2,5 cm. Kelopak bunga berbentuk mangkok,

berbagi empat sampai lima dengan diameter 0,4-0,7 cm dan berwarna

putih kekuningan. Benang sari 0,5-0,9 cm, tangkai sari 0,35-0,40 cm,

berwarna kuning. Bakal buah berbentuk bulat dan berwarna hijau

kekuningan. Tangkai putik berbentuk silindris, putih kekuningan. Kepala

putik berbentuk bulat, tebal dan berwarna kuning. Daun mahkota

berjumlah empat sampai lima, berbentuk membundar telur atau

melonjong, panjang 0,7-1,25 cm, lebar 0,25-0,5 cm, dan berwarna putih.

Buah buni, berdiamter 3,5-5 cm, saat masih muda berwarna hijau

dan setelah tua berwarna kuning. Biji berbentuk bulat telur, pipih, putih

kehijauan. Akar tunggang, berbentuk bulat dan berwarna putih

kekuningan.

3. Kandungan Jeruk Nipis

Jeruk nipis mengadung unsur-unsur senyawa kimia yang

bermanfaat, yaitu limonen, linalin asetat, geranil asetat, fellandren, dan

sitral. Disamping itu jeruk nipis mengandung asam sitrat. Pada 100 g
9

buah jeruk nipis terkandung vitamin C 27 mg, kalsium 40 mg, fosfor 22

mg, hidrat arang 12,4 g, vitamin B1 0,04 mg, zat besi 0,6 mg, lemak 0,1

g, kalori 37 g, protein 0,8 g, dan air 86 g (Herbie, 2015:360). Sari buah

jeruk nipis mengandung minyak atsiri limonene dan asam sitrat 7%. Buah

jeruk mengandung zat bioflavonoid, pectin, enzim, protein, lemak dan

pigmen (karoten dan klorofil) (Sethpakdee dalam Prastiwi dan

Ferdiansyah, 2017:2).

4. Manfaat Jeruk Nipis

Jeruk nipis (Citrus aurantifolia.) adalah salah satu tanaman toga

yang banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bumbu masakan dan

obat-obatan (Razak dkk, 2013:5). Dalam bidang medis, jeruk nipis

bermanfaat sebagai penambah nafsu makan diare, antipireutik

antiinflamasi, diet dan antibakteri (Mursito dalam Prastiwi dan

Ferdiansyah, 2017:2).

B. Gel

1. Definisi

Menurut Farmakope Indonesia edisi IV (1995:7), gel kadang-

kadang disebut jeli. Merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi

yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang

besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.

Menurut Formularium Nasional (1978:315), gel adalah sediaan

bermassa lembek, berupa suspensi yang dibuat dari zarah kecil senyawa
10

anorganik atau makromolekul senyawa organik, masing-masing

terbungkus dan saling terserap oleh cairan.

Menurut Ansel (1989:390), gel didefinisikan sebagai suatu sistem

setengah padat yang terdiri dari suatu dispersi yang tersusun baik dari

partikel anorganik yang terkecil atau molekul organik yang besar dan

saling diresapi cairan.

2. Penggolongan (Anonim, 2006:365)

a. Berdasarkan sifat fasa koloid

1) Gel anorganik, contoh: bentonit magma

2) Gel organik, gel pembentuk gel berupa polimer

b. Berdasarkan sifat pelarut

1) Hidrogel (pelarut air)

Hidrogel pada umumnya terbentuk oleh molekul polimer

hidrofilik yang saling sambung silang melalui ikatan kimia atau

gaya kohesi seperti interaksi ionik, ikatan hidrogen atau interaksi

hidrofobik. Hidrogel bersifat lembut/lunak, elastis sehingga

meminimalkan iritasi karena friksi atau mekanik pada jaringan

sekitarnya. Kekurangan hidrogel yaitu memiliki kekuatan mekanik

dan kekerasan yang rendah setelah mengembang. Contoh :

bentonit magma, gelatin.

2) Organogel

Pelarut bukan air/pelarut organik. Contoh: plastibase (suatu

polietilen dengan BM rendah yang terlarut dalam minyak mineral


11

dan didinginkan secara shock cooled), dan dispersi logam stearat

dalam minyak.

3) Xerogel

Gel yang telah padat dengan konsentrasi pelarut yang

rendah diketahui sebagai xerogel. Xerogel sering dihasilkan oleh

evaporasi pelarut, sehingga sisa – sisa kerangka gel yang

tertinggal. Kondisi ini dapat dikembalikan pada keadaan semula

dengan penambahan agen yang mengimbibisi, dan

mengembangkan matriks gel. Contoh : gelatin kering, tragakan

ribbons dan acacia tears, dan sellulosa kering dan polystyrene.

3. Keuntungan dan kekurangan (Anonim, 2006:366)

a. Keuntungan sediaan gel

Untuk hidrogel : efek pendinginan pada kulit saat digunakan,

penampilan sediaan yang jernih dan elegan, pada pemakaian di kulit

setelah kering meninggalkan film tembus pandang, elastis, daya lekat

tinggi yang tidak menyumbat pori sehingga pernapasan pori tidak

terganggu, mudah dicuci dengan air; pelepasan obatnya baik,

kemampuan penyebarannya pada kulit baik.

b. Kekurangan sediaan gel:

1) Untuk hidrogel : harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam

air sehingga diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti

surfaktan agar gel tetap jernih pada berbagai perubahan

temperatur, tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau hilang


12

ketika berkeringat, kandungan surfaktan yang tinggi dapat

menyebabkan iritasi dan harga lebih mahal.

2) Untuk hidroalkoholik : gel dengan kandungan alkohol yang tinggi

dapat menyebabkan pedih pada wajah dan mata, penampilan yang

buruk pada kulit bila terkena pemaparan cahaya matahari, alkohol

akan menguap dengan cepat dan meninggalkan film yang berpori

atau pecah-pecah sehingga tidak semua area tertutupi atau kontak

dengan zat aktif.

4. Kegunaan (Anonim, 2006:366)

a. Gel merupakan suatu sistem yang dapat diterima untuk pemberian

oral, dalam bentuk sediaan yang tepat, atau sebagai kulit kapsul yang

dibuat dari gelatin dan untuk bentuk sediaan obat long-acting yang

diinjeksikan secara intramuskular.

b. Gelling agent biasa digunakan sebagai bahan pengikat pada granulasi

tablet, bahan pelindung koloid pada suspense, bahan pengental pada

sediaan cairan oral, dan basis suppositoria.

c. Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam berbagai produk

kosmetik, termasuk pada shampo, parfum, pasta gigi, kulit, dan

sediaan perawatan rambut.

d. Gel dapat digunakan untuk obat yang dberikan secara topikal (non

steril) atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh atau mata (gel steril).
13

5. Komponen (Anonim, 2006:368)

a. Gelling Agents

Termasuk dalam kelompok ini adalah gum alam, turunan

selulosa, dan karbopol. Kebanyakan dari sistem tersebut berfungsi

dalam media air, selain itu ada yang membentuk gel dalam cairan

nonpolar. Beberapa partikel padat koloidal dapat berperilaku sebagai

pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel. Berikut ini adalah

beberapa contoh gelling agents :

1) Polimer (gel organik)

a) Gum alam (natural gums)

Umumnya bersifat anionik (bermuatan negatif dalam

larutan atau dispersi dalam air), meskipun dalam jumlah kecil

ada yang bermuatan netral, seperti guar gum. Karena

komponen yang membangun struktur kimianya, maka natural

gum mudah terurai secara mikrobiologi dan menunjang

pertumbuhan mikroba. Oleh karena itu, sistem cair yang

mengandung gum harus mengandung pengawet dengan

konsentrasi yang cukup. Pengawet yang bersifat kationik

inkompatibel dengan gum yang bersifat anionik sehingga

penggunaannya harus dihindari. Contoh gum alam adalah

Natrium alginat, Karagenan, Tragakan, Pektin.

b) Derivat Selulosa

(1) Sifat fisik dari selulosa ditentukan oleh jenis dan gugus

substitusi. HPMC merupakan derivat selulosa yang sering

digunakan.
14

(2) Sering digunakan karena menghasilkan gel yang bersifat

netral, viskositas stabil, resisten terhadap pertumbuhan

mikroba, gel yang jernih, dan menghasilkan film yang kuat

pada kulit ketika kering. Misalnya MC, HPMC.

c) Polimer sintesis (Karbomer = Karbopol)

(1) Karbopol merupakan gelling agent yang kuat, membentuk

gel pada konsentrasi sekitar 0,5%. Dalam media air, yang

diperdagangkan dalam bentuk asam bebasnya, pertama-

tama dibersihkan dulu, setelah udara yang terperangkap

keluar semua, gel akan terbentuk dengan cara netralisasi

dengan basa yang sesuai.

(2) Merupakan gelling agent yang kuat, maka hanya

diperlukan dalam konsentrasi kecil, biasanya 0,5-2%.

(3) Viskositas dispers karbopol dapat menurun dengan adanya

ion-ion.

2) Polietilen (gelling oil)

Digunakan dalam gel hidrofobik liquid, akan dihasilkan

gel yang lembut, mudah tersebar, dan membentuk lapisan/film

yang tahan air pada permukaan kulit. Untuk membentuk gel,

polimer harus didispersikan dalam minyak pada suhu tinggi (di

atas 800C) kemudian langsung didinginkan dengan cepat untuk

mengendapkan kristal yang merupakan pembentukan matriks.

3) Surfaktan

Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh kombinasi antara

minyak mineral, air, dan konsentrasi yang tinggi (20-40%) dari


15

surfaktan anionik. Kombinasi tersebut membentuk mikroemulsi.

Karakteristik gel yang terbentuk dapat bervariasi dengan cara

meng-adjust proporsi dan konsentrasi dari komposisinya. Bentuk

komersial yang paling banyak untuk jenis gel ini adalah produk

pembersih rambut.

4) Clays (gel anorganik)

Digunakan sebanyak 7-20% sebagai basis. Mempunyai pH

9 sehingga tidak cocok digunakan pada kulit. Viskositas dapat

menurun dengan adanya basa. Magnesium oksida sering

ditambahkan untuk meningkatkan viskositas. Bentonit harus

disterilkan terlebih dahulu untuk penggunaan pada luka terbuka.

Bentonit dapat digunakan pada konsentrasi 5-20%. Contohnya :

Bentonit, veegum, laponit.

5) Gellants lain

Banyak wax yang digunakan sebagai gellants untuk media

nonpolar seperti beeswax, carnauba wax, setil ester wax.

b. Bahan tambahan

1) Pengawet

Meskipun beberapa basis gel resisten terhadap serangan

mikroba, tetapi semua gel mengandung banyak air sehingga

membutuhkan pengawet sebagai antimikroba. Dalam pemilihan

pengawet harus memperhatikan inkompatibilitasnya dengan

gelling agent. Beberapa contoh pengawet yang biasa digunakan

dengan gelling agent :


16

a) Tragakan : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dengan propil

hidroksi benzoat 0,05 % w/v.

b) Na alginat : metil hidroksi benzoat 0,1- 0,2 % w/v, atau

klorokresol 0,1 % w/v atau asam benzoat 0,2 % w/v.

c) Pektin : asam benzoat 0,2 % w/v atau metil hidroksi

benzoat 0,12 % w/v atau klorokresol 0,1-0,2 % w/v.

d) Starch gliserin : metil hidroksi benzoat 0,1-0,2 % w/v atau

asam benzoat 0,2 % w/v.

e) Natrium Carboxymethyl cellulose : metil hidroksi benzoat

0,2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0,02 % w/v.

2) Penambahan Bahan Higroskopis

Bertujuan untuk mencegah kehilangan air. Contohnya

gliserol, propilenglikol dan sorbitol dengan konsentrasi 10-20 %.

6. Ketidakstabilan Gel

Formulasi gel yang tidak stabil di bawah keadaan normal

menunjukkan perubahan irreversible pada sifat rheologinya. Contoh gel

yang tidak stabil adalah gel yang mengalami pemisahan terhadap fase cair

(syneresis) dan terhadap fase padatnya (sedimentasi), gel yang kehilangan

viskositas atau konsistensinya (terjadi perubahan dari semisolid ke

liquid).

Mekanisme ketidakstabilan dalam gel dibagi menjadi 2, yaitu

syneresis dan swelling.


17

a. Syneresis

Merupakan peristiwa menciutnya suatu gel dan sebagian

cairannya tertekan keluar jika dibiarkan selama beberapa lama.

Syneresis terlihat pada jeli makanan dan pencuci mulut gelatin. Cairan

yang keluar biasanya diakibatkan oleh struktur gel yang tidak

sempurna dan bukan karena kontraksi yang terjadi pada syneresis

(Sinko, 2006:655).

b. Swelling

Merupakan peristiwa kebalikan dari syneresis dimana terjadi

penyerapan cairan oleh suatu gel dengan diikuti oleh peningkatan

volume. Gel juga dapat menyerap sejumlah cairan tanpa peningkatan

volume yang dapat diukur, ini disebut imbibisi. Cairan-cairan yang

dapat mengakibatkan penggembungan adalah cairan-cairan yang

dapat mensolvasi suatu gel (Sinko, 2006:655).

7. Sifat alir ((Martin et al, 1993:1078)

Rhelogi digunakan untuk menggambarkan aliran cairan dan

deformasi dari padatan. Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari

suatu cairan untuk mengalir, makin tinggi viskositas, akan semakin besar

tahanannya. Viskositas bervariasi pada setiap kecepatan geser, sehingga

untuk melihat sifat alirnya dilakukan pengukuran pada beberapa

kecepatan geser menggunakan viskometer. Umumnya sediaan semisolid

memiliki sifat alir sistem non-Newton, yaitu aliran yang tidak mengikuti

persamaan aliran Newton. Cairan non-Newton yang tidak dipengaruhi

waktu dibagi menjadi tiga yaitu:


18

a. Plastis

Cairan ini tidak akan mengalir sebelum ada gaya tertentu yang

dilampauinya, disebut yield value. Yield value disebabkan oleh kontak

antar partikel-partikel berdekatan yang harus dipecah untuk

menghasilkan aliran. Kurvanya tidak melalui titik (0,0) tetapi

memotong shearing stress pada yield value.

b. Pseudoplastis

Sediaan farmasi seperti polimer menunjukkan aliran

pseudoplastis. Aliran ini tidak mempunyai yield value. Viskositas

akan berkurang dengan meningkatnya rate of share. Kurva aliran ini

melalui titik (0,0).

c. Dilatan

Viskositas cairan ini akan meningkat seiiring dengan

peningkatan rate of share karena volume dari sediaan akan naik jika

rate of share ditingkatkan.

Tapi pada sistem non-Newton, kurva yang turun kembali dapat

menyimpang dari kurva naiknya. Pada sistem yang menipiskan geseran

(plastis dan pseudoplastis), kurva turunnya menyimpang menunjukkan

bahwa zat telah mempunyai konsistensi lebih rendah pada setiap

kecepatan geser pada kurva turun dibanding dengan keadaan pada kurva

naik. Hal ini merupakan indika si pecahnya struktur yang tidak segera

kembali seperti semula bilamana tekanan dihilangkan atau dikurangi.

Fenomena ini dinamakan tiksotropi, yang dapat didefinisikan sebagai

suatu pemulihan keadaan yang berlangsung dari suatu zat yang


19

kehilangan konsistensi karena geseran yang terjadi pada waktu

didiamkan.

8. Evaluasi Sediaan

a. Uji Organoleptis

Pengamatan dilakukan secara langsung berkaitan dengan

bentuk, warna, dan bau dari sediaan gel yang telah dibuat pada siklus

ke-0 sampai ke-6. Tujuan dilakukannya uji organoleptis pada sediaan

gel adalah ntuk mengetahui kualitas sediaan secara visual.

b. Uji Homogenitas

Pengujian ini dilakukan dengan cara sampel 0,1 gram

(Tunjungsari, 2012) dioleskan pada kaca preparat, sediaan harus

menunjukkan susunan partikel yang homogen dan tidak terlihat

adanya butiran kasar. Pengamatan dilakukan pada siklus ke-0 sampai

ke-6. Tujuannya adalah untuk mengetahui keseragaman partikel dari

sediaan gel tersebut. Penyebaran yang merata membuktikan bahwa zat

aktif terdispersi secara merata sehingga diperoleh hasil yang

maksimal.

c. Uji pH

Pengujian dilakukan untuk melihat tingkat keasaman sediaan

gel untuk menjamin sediaan gel tidak menyebabkan iritasi pada kulit.

Sampel ditimbang sebanyak 1 gram, kemudian dilarutkan dengan

aquadestillata sebanyak 10 ml. Masukkan pH meter yang telah

dikalibrasi, diamkan beberapa saat sehingga dapat pH yang tetap

(Lateh, 2015:6). Nilai pH yang baik yaitu 4-8 (Supomo, 2015:34).


20

d. Uji Daya Sebar

Uji daya sebar dilakukan untuk menjamin pemerataan gel saat

diaplikasikan pada kulit yang dilakukan segera setelah gel dibuat. Gel

ditimbang sebanyak 1 gram kemudian diletakkan ditengah kaca

berskala. Diatas gel diletakkan kaca lain atau bahan transparan lain

dan pemberat sehingga berat kaca dan pemberat ≤ 125 g, didiamkan 1

menit, kemudian dicatat diameter penyebarannya. Daya sebar gel

yang baik yaitu ≤ 5 cm (Garg et al, 2002:90).

e. Uji Syneresis

Uji Syneresis dilakukan dengan mengamati apakah terbentuk

lapisan cairan di permukaan gel setelah penyimpanan dipercepat. Gel

yang stabil tidak boleh menunjukkan syneresis (Ida dan Fauziah,

2012:80).

f. Uji Viskositas dan sifat alir

Penentuan viskositas bertujuan untuk mengetahui adanya

perubahan kekentalan pada tiap formula gel. Penentuan viskositas

dilakukan dengan menggunakan viskositas Brookfield LV dengan

mengamati angka pada skala viskometer dengan kecepatan tertentu.

Sejumlah gel diletakan dalam wadah berupa tabung silinder kaca dan

spindel yang sesuai dimasukkan sampai garis batas lalu putar dengan

kecepatan tertentu sampai jarum viskometer menunjukkan pada satu

skala yang konstan. Faktor perkalian dapat dilihat pada tabel yang

sesuai dengan kecepatan dan spindel yang digunakan.

Viskositas gel dihitung dengan menggunakan rumus:

Viskositas (η) = (skala x faktor perkalian) Cps


21

Gaya (F) = (skala x Kv) dyne/cm2

Diketahui Kv = 7187,000 dyne/cm2

Penentuan sifat alir dilakukan dengan mengubah-ubah rpm

sehingga didapat nilai viskositas pada berbagai rpm. Sifat alir dapat

diketahui dengan cara membuat kurva antara kecepatan geser (rpm)

dengan gaya (dyne/cm2). Data yang diperoleh kemudian diplotkan

pada kertas grafik antara gaya (x) dan kecepatan geser (y) kemudian

ditentukan sifat alirnya (Sulastri, 2014:49).

C. Uji Stabilitas

Pemeriksaan stabilitas dilakukan untuk menjamin kualitas produk

obat sampai expire date (ED), untuk mengetahui waktu kedaluarsa obat, serta

untuk menentukan shelf life produk periode waktu penyimpanan pada kondisi

yang spesifik sampai produk masih memenuhi spesifikasi. Uji stabilitas

produk dilakukan pada kondisi penyimpanan sebenarnya (real time) maupun

dalam kondisi suhu yang ditingkatkan (accelerated test). Adapun macam-

macam metode pengujian stabilitas obat, yaitu :

1. Uji stabilitas jangka panjang (real time study)

Uji ini dilakukan sampai waktu kedaluarsa sediaan. Dilakukan pada

suhu 25 ± 2⁰C untuk sediaan dengan penyimpanan di suhu sejuk, dan

pada suhu 30 ± 2⁰C untuk sediaan dengan penyimpanan suhu kamar.

Kelembaban diatur pada 75 ± 5%. Uji kestabilan jangka panjang dan

jangka pendek dilakukan untuk menentukan tanggal kedaluarsa sediaan

gel (Djajadisastra dalam Hendriana, 2016: 20)


22

2. Uji stabilitas jangka pendek/dipercepat (accelerated study) (Djajadisastra

dalam Priskila, 2012:20)

Uji ini dilakukan untuk mendapatkan informasi yang diinginkan

dengan cara menyimpan sampel pada kondisi yang dirancang untuk

mempercepat terjadinya perubahan yang biasanya terjadi pada kondisi

normal. Uji biasanya dilakukan slama enam atau tiga bulan dengan suhu

dan kelembapan ekstrim.

a. Elevated temperature

Setiap kenaikan suhu 10⁰C akan mempercepat reaksi dua

sampai tiga kalinya, namun cara ini terbatas karena suhu yang jauh

diatas noral akan menyebabkan perubahan yang tidak pernah terjadi

pada suhu normal. Biasanya dilakukan pada suhu 40 ± 2⁰C

Kelembaban 75 ± 5%. Jika diperoleh hasil yang baik, maka sediaan

tersebut akan stabil pada penyimpanan suhu kamar selama setahun.

b. Elevated humidities

Umumnya ini dilakukan untuk menguji kemasan produk. Jika

terjadi perubahan pada produk dalam kemasan karena pengaruh

kelembapan, hal ini menandakan bahwa kemasannya tidak

memberikan perlindungan yang cukup terhadap udara.

c. Cycling test

Tujuan dari uji ini adalah sebagai simulasi adanya perubahan

suhu setiap tahunnya bahkan setiap harinya. Pengujian dilakukan pada

suhu rendah 4 ± 2⁰C dan suhu tinggi 40 ± 2⁰C. Satu siklus berarti gel

disimpan pada suhu rendah selama 24 jam, kemudian dipindahkan ke

dalam oven selama 24 jam.


23

d. Centrifugal test

Tujuan dilakukan centrifugal test adalah untuk mengetahui

terjadinya pemisahan fase emulsi. Sampel disentrifugasi pada

kecepatan 3750 rpm selama 5 jam atau 5000-10000 rpm selama 30

menit. Hal ini dilakukan karena perlakuan tersebut sama dengan besar

pengaruh gaya gravitasi terhadap penyimpanan krim selama satu

tahun. Sebenarnya sentrifugasi pada kecepatan tinggi cenderung dapat

mengubah bentuk global fase internal yang terdispersi dan memicu

terjadinya koalesens.

D. Karbopol 940

Pada penelitian kali ini gelling agent yang digunakan adalah karbopol

940. Range konsentrasi karbopol 940 sebagai gelling agent yaitu 0,5%-2%.

Secara kimia, karbopol 940 ini merupakan polimer sintetik dari asam akrilat

dengan bobot molekul tinggi (Rowe et al., 2009:110). Karbopol 940 tidak

toksis dan tidak mempengaruhi aktivitas biologi obat tertentu (Barry dalam

Prastianto, 2016:14).

Karbopol 940 bersifat stabil, higroskopik, penambaan temperatur

berlebih dapat mengakibatkan kekentalan menurun sehingga mengurangi

stabilitas. Karbopol 940 mempunyai viskositas antara 40.000-60.000 (cP)

digunakan sebagai bahan pengental yang baik, viskositasnya tinggi,

menghasilkan gel yang bening (Rowe, et al., dalam Prastianto, 2016:14).


24

E. Pre Formulasi

1. Karbopol 940

Gambar 2.2 Struktur Carbopol 940 (Rowe et al, 2009:110)

a. Sinonim : Acrypol; Acritamer; acrylic acid polymer;

carbomera; Carbopol; carboxy

polymethylene; polyacrylic acid;

carboxyvinyl polymer; Pemulen; Tego

Carbomer

b. Pemerian : Serbuk halus, berwarna putih, higroskopik

dengan karakteristik sedikit bau

c. Kelarutan : Larut dalam air

d. Titik Lebur : 260⁰C

e. Konsentrasi : 0,5% - 2%

f. Stabilitas : Bahan yang stabil dan higroskopis, dapat

dipanaskan pada suhu 104⁰C selama 2 jam

g. Inkompatibilitas : Dengan fenol, polimer kationik, asam

kuat, dan elektrolit

h. Fungsi : Emulsifying agent, suspending agent

gelling agent, pengikat tablet

(Rowe et al, 2009:110)


25

2. Gliserin

Gambar 2.3 Struktur Gliserin (Rowe et al, 2009:283)

a. Sinonim : Croderol; gliserol; glycerine; glycerolum;

Kemstrene; Optim; Pricerine; 1,2,3-

propanetriol; trihydroxypropane glycerol

b. Pemerian : Cairan seperti sirop, jernih, tidak

berwarna, tidak berbau manis di ikuti rasa

hangat

c. Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dan dengan

etanol 95% P, praktis tidak larut dalam

kloroform P dalam eter P, dan dalam

minyak lemak

d. Titik Lebur : 17,8⁰C

e. Titik Didih : 290⁰C

f. Konsentrasi : <30%

g. Stabilitas : Bersifat higroskopis, dapat terurai dengan

pemanasan yang bisa menghasilkan

akrolein beracun, campuran dengan air,

ethanol, propilenglikol stabil. Dapat

mengkristal pada suhu rendah


26

h. Inkompatibilitas : Dapat meledak jika dicapur dengan agen

oksidator kuat. Perubahan warna hitam

terjadi jika terkena cahaya atau kontak

dengan seng

i. Fungsi : Humektan, pelarut, emollinent

(Rowe et al, 2009:283 dan Ditjen POM Depkes RI, 1979:271)

3. Triethanolamin

Gambar 2.4 Struktur Triethanolamine (Rowe et al, 2009:754)

a. Sinonim : TEA; Tealan; triethylolamine;

trihydroxytriethylamine; tris

(hydroxyethyl)amine; trolaminum

b. Pemerian : Cairan tidak berwarna, berbau kuat;

amoniak

c. Kelarutan : Sukar larut dalam air, dapat bercampur

dengan etanol, dengan eter dan dengan air

dingin

d. Titik Lebur : 20⁰C -21⁰C

e. Konsentrasi : 2% - 4%

f. Stabilitas : Peruabahan warna karena cahaya dan

kontak dengan logam dan ion logam


27

g. Inkompatibilitas : Bereaksi dengan asam mineral membentuk

garam krital dan ester

h. Fungsi : Alkalizing agent, emulsifying agent

(Rowe et al, 2009:754)

4. Metil Paraben

Gambar 2.5 Struktur Metil Paraben (Rowe et al, 2009:441)

a. Sinonim : Methylis parahydroxybenzoas; Methyl

Parasept; Nipagin M; Solbrol M

b. Pemerian : Serbuk putih; hampir tidak berbau; tidak

berasa, kemudian agak membakar diikuti

rasa tebal

c. Kelarutan : Larut 500 bagian air, dalam 20 bagian air

mendidih; larut 60 bagian gliserin P panas

d. Titik Lebur : 125⁰C -128⁰C

e. Konsentrasi : 0,02%-0,3%

f. Stabilitas : Mudah terurai oleh cahaya

g. Inkompatibilitas : Dengan senyawa bentonit, magnesium

trisiklat, talk, tragakan, sorbitol, atropin


28

h. Fungsi : Pengawet

(Rowe et al, 2009:441)

5. Natrium Metabisulfit

Gambar 2.6 Struktur Natrium Metabisulfit (Praja, 2015:115)

a. Sinonim : Disodium disulfate; Disodium pyrosulfite;

Natrii disulfit; Natrii metabisulfis; Sodium

acid sulfite

b. Pemerian : Hablur putih atau serbuk putih kekuningan,

berbau belerang dioksida

c. Kelarutan : Mudah larut dalam air dan gliserin

d. Titik Lebur : 150⁰C

e. Konsentrasi : 0,01%-1%

f. Stabilitas : Teroksidasi secara perlahan dalam udara

panas dan lembab

h. Fungsi : Antioksidan

(Rowe et al, 2009:654)


29

6. Aqua Destillata
a. Sinonim : Air Suling

b. Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak

berbau, tidak mempunyai rasa

d. Titik Didih : 100⁰C

e. Konsentrasi : 0,01%-1%

f. Stabilitas : Stabil dalam bentuk fisik

h. Fungsi : Pelarut

(Ditjen POM Depkes RI, 1979:96)


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang

dilakukan dengan tujuan memberikan gambaran tentang stabilitas sediaan gel

hand sanitizer air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) dengan

konsentrasi 25% dan 30% berbasis karbopol 940, serta melakukan pengujian

stabilitas dengan metode cycling test dengan parameter organoleptis,

homogenitas, pH, daya sebar, viskositas, sifat alir, dan melakukan pengujian

syneresis.

B. Tempat dan Waktu Penelitan

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmasetika Sekolah Tinggi

Farmasi Muhammadiyah Cirebon yang dilakukan pada bulan Desember 2017

sampai Mei 2018.

C. Populasi dan Sampel

Populasi dan sampel yang digunakan adalah sediaan gel hand

sanitizer air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) pada konsentrasi 25%

dan 30% berbasis karbopol 940 yang dilakukan di Laboratorium Farmasetika

Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon.

30
31

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang diperoleh sebagai berikut:

1. Data Primer

Data primer berupa hasil pengamatan dari sediaan gel hand

sanitizer air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) pada konsentrasi

25% dan 30% berbasis karbopol 940. Dengan pengujian stabilitas

menggunakan metode cycling test dengan parameter pengujian

organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, viskositas, sifat alir, dan

dilakukan pengujian syneresis gel, yang dilakukan secara langsung.

2. Data Sekunder

Data sekunder berupa data-data keterangan yang diperoleh dari

berbagai sumber yang mampu menunjang dalam penelitian ini.

E. Alat dan Bahan Penelitian

1. Alat

Timbangan analitik (Anhaus); Cawan porselen; Waterbath;

Beaker Glass (Pyrex); Gelas ukur (Pyrex); Homogenizer (IKA RW 20

DZM n); Pipet tetes; Batang pengaduk; Sudip; pH meter (Mettler

Toledo); Jangka sorong; Kaca preparat; Saringan; Brookfield LV; Lemari

pendingin (Sharp); Oven (Tipe FCD-2000).


32

2. Bahan

Jeruk nipis; Carbopol 940 (PT. Global); Triethanolaminum (PT.

Global); Glycerolum (CV. Mustika Lab); Methylis Parabenum (CV.

Mustika Lab); Natrii Metabisulfis (CV. Mustika Lab); Aqua destillata

(CV. Brataco); Pewangi (Oleum Citri).

F. Prosedur Penelitian

1. Pembuatan Sampel

Buah jeruk nipis yang digunakan yaitu buah yang berbentuk bulat

sampai bulat telur, berwarna hijau dan rasanya asam. Setelah diperoleh

dicuci bersih lalu dipotong menjadi dua bagian kemudian diperas dengan

menggunakan alat perasan jeruk. Setelah itu saring menggunakan kertas

saring, selanjutnya dijadikan sampel uji.

2. Pembuatan gel hand sanitizer air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia

S.)

a. Formula Sediaan Gel

Tabel 3.1 Formula Sediaan Gel Hand Sanitizer Air Perasan Jeruk
Nipis (Citrus aurantifolia S.)
No Nama Bahan Jumlah (%)
F1 F2 Basis
1 Air perasan jeruk nipis 25 30 -
2 Karbopol 940 1 1 1
3 Triethanolaminum 3 3 3
4 Methylis Parabenum 0,02 0,02 0,02
5 Glycerolum 15 15 15
6 Natrii Metabisulfis 0,1 0,1 0,1
7 Pewangi (Oleum Citri) Qs Qs Qs
8 Aqua Destillata hingga 100 100 100
33

b. Pembuatan basis gel

1) Dispersikan kabopol 940 pada 100 ml aquadest panas, biarkan

selama 30 menit. Setelah itu homogenkan dengan homogenizer

kecepatan 50 rpm.

2) Triethanolamin ditambahkan kedalam wadah yang telah berisi

karbopol 940 yang sudah dikembangkan, homogenkan dengan

homogenizer kecepatan 100 rpm.

3) Gliserin tambahkan sedikit demi sedikit, homogenkan dengan

homogenizer kecepatan 100 rpm.

4) Metil paraben yang sudah dilarutkan dengan air panas

ditambahkan kedalam campuran sedikit demi sedikit.

5) Natrium Metabisulfit yang sudah dilarutkan dengan gliserin

ditambahkan kedalam campuran sedikit demi sedikit.

6) Sisa aquadestillata ditambahkan kedalam semua campuran sediaan

gel sampai volume dikehendaki.

7) Homogenkan dengan menggunakan homgenizer kecepatan 100

rpm.

c. Pembuatan gel hand sanitizer air perasan jeruk nipis (Citrus

aurantifolis S.)

1) Dispersikan kabopol 940 pada 100 ml aquadest panas, biarkan

selama 30 menit. Setelah itu homogenkan dengan homogenizer

kecepatan 50 rpm.

2) Triethanolamin ditambahkan kedalam wadah yang telah berisi

karbopol 940 yang sudah dikembangkan, homogenkan dengan

homogenizer kecepatan 100 rpm.


34

3) Gliserin tambahkan sedikit demi sedikit, homogenkan dengan

homogenizer kecepatan 100 rpm.

4) Metil paraben yang sudah dilarutkan dengan air panas

ditambahkan kedalam campuran sedikit demi sedikit.

5) Natrium Metabisulfit yang sudah dilarutkan dengan gliserin

ditambahkan kedalam campuran sedikit demi sedikit.

6) Air perasan jeruk nipis (sampel) ditambahkan sedikit demi sedikit,

homogenkan dengan homogenizer kecepatan 100 rpm.

7) Sisa aquadestillata ditambahkan kedalam semua campuran sediaan

gel sampai volume dikehendaki.

8) Homogenkan dengan menggunakan homgenizer kecepatan 100

rpm.

d. Pengujian

1) Pengujian stabilitas metode cycling test

Uji ini dilakukan pada sediaan dengan suhu penyimpanan

yang berbeda dalam interval waktu tertentu dengan tujuan untuk

mempercepat terjadinya perubahan yang biasanya terjadi pada

kondisi normal sehingga sediaan akan mengalai stres yang

bervariasi dari stres statis. Uji ini dilakukan dengan cara

menyimpan gel hand sanitizer air perasan jeruk nipis pada suhu

40⁰C selama 24 jam kemudian dipindahkan pada suhu 4⁰C selama

24 jam. Perlakuan ini disebut satu siklus. Untuk memperjelas

perubahan yang terjadi dilakukan sebanyak 6 siklus atau selama

12 hari dengan parameter pengujian organoleptis, homogenitas,

pH, daya sebar, viskositas, dan sifat alir.


35

a. Organoleptis

Pengamatan dilakukan secara langsung berkaitan

dengan bentuk, warna, dan bau dari sediaan gel yang telah

dibuat pada siklus ke-0 sampai ke-6. Tujuan dilakukannya uji

organoleptis pada sediaan gel adalah ntuk mengetahui kualitas

sediaan secara visual.

b. Homogenitas

Sediaan gel air perasan jeruk nipis sebanyak 0,1 gram

dioleskan pada kaca transparan. Sediaan gel kemudian digosok

dan diraba untuk mengetahui homogenitas (Tunjungsari,

2012:5).

c. pH

Sampel ditimbang sebanyak 1 gram, kemudian

dilarutkan dengan aquadestillata sebanyak 10 ml. Masukkan

pH meter yang telah dikalibrasi, diamkan beberapa saat

sehingga dapat pH yang tetap (Lateh, 2015:6).

d. Daya sebar

Sampel ditimbang sebanyak 1 gram kemudian

diletakkan ditengah kaca berskala. Diatas gel diletakkan kaca

lain atau bahan transparan lain dan pemberat sehingga berat

kaca dan pemberat ≤ 125 g, didiamkan 1 menit, kemudian

dicatat diameter penyebarannya (Garg et al, 2002:90).


36

e. Viskositas dan sifat alir

Penentuan viskositas bertujuan untuk mengetahui

adanya perubahan kekentalan pada tiap formula gel.

Penentuan viskositas dilakukan dengan menggunakan

viskositas Brookfield LV dengan mengamati angka pada skala

viskometer dengan kecepatan tertentu. Sejumlah gel diletakan

dalam wadah berupa tabung silinder kaca dan spindel yang

sesuai dimasukkan sampai garis batas lalu putar dengan

kecepatan tertentu sampai jarum viskometer menunjukkan

pada satu skala yang konstan. Faktor perkalian dapat dilihat

pada tabel yang sesuai dengan kecepatan dan spindel yang

digunakan.

Viskositas gel dihitung dengan menggunakan rumus:

Viskositas (η) = (skala x faktor perkalian) Cps

Gaya (F) = (skala x Kv) dyne/cm2

Diketahui Kv = 7187,000 dyne/cm2

Penentuan sifat alir dilakukan dengan mengubah-ubah

rpm sehingga didapat nilai viskositas pada berbagai rpm. Sifat

alir dapat diketahui dengan cara membuat kurva antara

kecepatan geser (rpm) dengan gaya (dyne/cm2). Data yang

diperoleh kemudian diplotkan pada kertas grafik antara gaya

(x) dan kecepatan geser (y) kemudian ditentukan sifat alirnya

(Sulastri, 2014:49).
37

f. Pengujian syneresis

Syneresis yang terjadi selama penyimpanan diamati

dengan menyimpan sampel sebanyak 5 gram pada suhu ±

10⁰C selama 24, 48, 72 jam. Masing-masing gel ditempatkan

pada cawan untuk menampung air yang dibebaskan dari dalam

gel selama penyimpanan. Syneresis dihitung dengan mengukur

kehilangan berat selama penyimpanan lalu dibandingkan

dengan berat awal gel (Kuncari dkk., 2014:216).


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Sediaan Farmasi Solida dan Semi Solida. Jakarta: Apoteker. 365-
370.

Ansel, H.C. 1989. Pengantar Sediaan Farmasi. Jakarta: UI Press. 390.

Desiyanto, F.A. dan Djannah, S.N. 2013. Efektivitas Mencuci Tangan Menggunakan
Cairan Pembersih Tangan Antiseptik (Hand Sanitizer) Terhadap Jumlah
Angka Kuman. Jurnal KESMAS. 7(02): 75-81.

Ditjen POM Depkes RI. 1978. Formularium Nasional, Edisi Kedua. Jakarta: Depkes
RI. 315.

Ditjen POM Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia, edisi III. Jakarta: Depkes RI.
96, 271.

Ditjen POM Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV. Jakarta: Depkes RI. 7.

Enda, Fitarosana. 2012. Pengaruh Pemberian Larutan Ekstrak Jeruk Nipis (Citrus
aurantifolia) Terhadap Pembentukan Plak Gigi. Karya Tulis Ilmiah. Fakultas
Kedokteran. 11.

Garg, A., et al. 2002. Spreading of Semisolid Formulation. An Update


Pharmaceutical Technology. ISSN 0147-8087. 26(9): 84-105.

Hendriana, P.V. 2016. Pengaruh Konsentrasi CMC-Na Sebagai Gelling Agent Dan
Propilenglikol Sebagai Humektan Terhadap Sifat Fisik Dan Stabilitas Fisik
Gel Ekstrak Pegagan (Centella asiatica L.). Skripsi. Universitas Sanata
Dharma. 12-20.

Herbie, Tandi. 2015. Kitab Tanaman Berkhasiat Obat 226 Tumbuhan Obat Untuk
Penyembuhan Penyakit Dan Kebugaran Tubuh. Jakarta: Octopus Publishing.
359-361.

Hurria. 2014. Formulasi, Uji Stabilitas Fisik, dan Uji Aktivitas Sediaan Gel Hand
Sanitizer Dari Air Perasan Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia SWINGLE)
Berbasis Karbomer. Jurnal Farmasi FIK UINAM. 2(1): 28-34.

Ida, N., dan Fauziah, N.S. 2012. Uji Stabilitas Fisik Gel Ekstrak Lidah Buaya (Aloe
vera L.). Jurnal Majalah Farmasi dan Farmakologi. 16(2): 79-84.

Kuncari, E.S., dkk. 2014. Evaluasi Uji Stabilitas Fisik Dan Sineresis Sediaan Gel
Yang Mengandung Minoksidil, Apigenin Dan Perasan Herba Seledri (Apium
graveolens L.). Bulletin Penelitian Kesehatan. 42(4): 213-222.

Lateh, M.S. 2015. Formulasi Sediaan Gel Tangan Sanitizer Ekstrak Etanol Buah
Asam Gelugur (Garcinia atroviridis Griff. et Anders) Sebagai Antibakteri
Terhadap Staphylococcus aureus. Skripsi. Universitas Muhammadiyah
Surakarta. 2-11.

Martin, A., Swarbrick, J., dan Commarata, A. 1993. Farmasi Fisik Dasar-Dasar
Kimia Fisik dalam Ilmu Farmasetik. Edisi Ketiga. Jakarta: Universitas
Indonesia Press. 1078-1088.

Permatasari, V.S., 2014. Pengaruh Konsentrasi Karbopol 940 Sebagai Gelling Agent
Terhadap Sifat Fisis Dan Stabilitas Gel Hand Sanitizer Minyak Daun Mint
(Oleum mentha piperita). Skripsi. Universitas Sanata Dharma. 1-3.

Praja, D.I. 2015. Zat Aditif Makanan. Manfaat dan Bahayanya .Yogyakarta: Penerbit
Garudhawaca. 115.

Prastianto, B.A. 2016. Optimasi gelling agent cabopol 940 dan humektan sorbitol
dalam formulasi sediaan gel ekstrak etanol daun binahong (Arendera
cordifolia(Ten.) Steenis). Skripsi. Universitas Sanata Dharma. 14.

Prastiwi, S.S. dan Ferdiansyah, F. 2017. Kandungan Aktivitas Farmakologi Jeruk


Nipis (Citrus aurantifolia S.). Jurnal Farmaka. 15(2): 1-8.

Priskila, Vany. 2012. Uji Stabilitas fisik dan Uji Aktivitas Pertumbuhan Rambut
Tikus Putih Jantan dari Sediaan Hair Tonic yang mengandung Ekstrak Air
Bonggol Pisang Kepok (Musa balbisiana). Skripsi. Universitas Indonesia. 20-
22.

Razak, A., Djamal, A., Revilla G. 2013. Uji Daya Hambat Air Perasan Buah Jeruk
Nipis (Citrus aurantifolia s.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus
Aureus Secara In Vitro. Jurnal Kesehatan Andalas. 2(1): 5-7.

Rowe, R., Sheskey, P., Quin, Mariam. 2009. Handbook of Pharmaceutical


Excipients. London: The Pharmaceutical Press.110-113, 283-285, 441-443,
654, 754.

Sinko, P.J. 2006. Martin’s Physical Pharmacy And Pharmaceutical


Sciences.Lippincott: William Wilkins. 655-657.

Sulastri, Lela. 2014. Uji Aktivitas Penyubur Rambut Kombinasi Ekstrak Air Daun
Teh Hijau (Camellia sinensis (L) OK) dan Ekstrak Air Herba Pegagan
(Centella asiatica (L) Urban) Serta Pengembangan Sediaan Gel. Tesis.
Universitas Pancasila. 49.

Supomo, Y.S. dan Fedri, B. 2015. Formulasi Gel Hand Sanitizer Dari Kitosan
Dengan Basis Natrium Karboksimetilselulosa. Jurnal Ilmiah Manuntung.
1(1): 31-37.

Tunjungsari, D. 2012. Formulasi Sediaan Gel Ekstrak Etanolik Buah Mahkota Dewa
(Phaleria macrocarpa (Scheff) Boehff) Dengan Basis Carbomer. Skripsi.
Universitas Muhammadiyah Surakarta. 5-6.
Wijoyo, Vicky. 2016. Optimasi Formula Sediaan Gel Hand Sanitizer Minyak Atsiri
Jeruk Bergamot Dengan Gelling Agent Carbopol Dan Humektan
Propilenglikol. Skripsi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2.
Lampiran 1 Alur Penelitian

Buah Jeruk Nipis

Pembuatan Air Perasan Jeruk Nipis

Pembuatan sediaan gel handsanitizer Air Perasan Jeruk Nipis

Uji Stabilitas Gel


Dengan Cycling Test

Organoleptis Homogenitas pH Daya Sebar Viskositas Sifat Alir Syneresis


Lampiran 2 Formula Acuan (Hurria, 2014:29)

No Nama Bahan Jumlah (%)


F1 F2 F3
1 Air perasan jeruk nipis 16 16 16
2 Karbopol 0,5 1 1,5
3 TEA 3 3 3
4 Gliserin 15 15 15
5 Aqua Destillata hingga 100 100 100
Lampiran 3 Perhitungan Penimbangan

1. Formula 1
25
Air perasan jeruk nipis = 100 x 700 gram = 175 gram

1
Karbopol 940 = 100 x 700 gram = 7 gram

3
Triethanolamin = 100 x 700 gram = 21 gram

0,02
Metil Paraben = x 700 gram = 0,14 gram
100

15
Gliserin = 100 x 700 gram = 105 gram

0,1
Natrium Metabisulfit = 100 x 700 gram = 0,7 gram

Aqua Destillata = 700 gram – (175 gram + 7 gram + 21 gram +

0,14 gram + 105 gram + 0,7 gram)

= 700 gram – 308,84 gram = 391, 16 gram


2. Formula 2
30
Air perasan jeruk nipis = 100 x 700 gram = 210 gram

1
Karbopol 940 = 100 x 700 gram = 7 gram

3
Triethanolamin = 100 x 700 gram = 21 gram

0,02
Metil Paraben = x 700 gram = 0,14 gram
100

15
Gliserin = 100 x 700 gram = 105 gram

0,1
Natrium Metabisulfit = 100 x 700 gram = 0,7 gram

Aqua Destillata = 700 gram – (210 gram + 7 gram + 21 gram +

0,14 gram + 105 gram + 0,7 gram)

= 700 gram – 343,84 gram = 356, 16 gram

3. Basis
1
Karbopol 940 = 100 x 700 gram = 7 gram

3
Triethanolamin = 100 x 700 gram = 21 gram

0,02
Metil Paraben = x 700 gram = 0,14 gram
100

15
Gliserin = 100 x 700 gram = 105 gram

0,1
Natrium Metabisulfit = 100 x 700 gram = 0,7 gram

Aqua Destillata = 700 gram – (7 gram + 21 gram + 0,14 gram

+ 105 gram + 0,7 gram)

= 700 gram – 133,84 gram = 566,16 gram


Lampiran 4 Pengujian

1. Organoleptis

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Organoleptis


Siklus Bau Warna Konsistensi
Ke- Basis F1 F2 Basis F1 F2 Basis F1 F2
0
1
2
3
4
5
6
Keterangan: F1 = Formula 1 F2 = Formula 2

2. Homogenitas

Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Homogenitas


Siklus Ke-
Sediaan
0 1 2 3 4 5 6
Basis
Formula 1
Formula 2

3. pH

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan pH


Siklus Ke-
Formula
0 1 2 3 4 5 6
Basis
Formula 1
Formula 2
4. Daya Sebar

Tabel 4.4 Hasil Pengamatan Daya Sebar


Siklus Ke-
Sediaan
0 1 2 3 4 5 6
Basis
Formula 1
Formula 2

5. Viskositas

Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Viskositas

Siklus Viskositas Rata-rata


Sediaan Spindel Replikasi Skala Fk
Ke- (centipoise) viskositas

1
Basis 2
3
1
0 F1 2
3
1
F2 2
3
1
Basis 2
3
1
6 F1 2
3
1
F2 2
3
6. Sifat Alir

Siklus ke-0

Tabel 4.6 Hasil Pengamatan Sifat Alir


Viskositas (cps) Gaya (dyne/cm2)
Sediaan Rpm Skala Fk
(Skala x Fk) (Skala x 7187)
Basis
Formula 1
Formula 2

Siklus ke-6

Tabel 4.7 Hasil Pengamatan Sifat Alir


Viskositas (cps) Gaya (dyne/cm2)
Sediaan Rpm Skala Fk
(Skala x Fk) (Skala x 7187)
Basis
Formula 1
Formula 2

7. Syneresis

Tabel 4.8 Hasil Pengamatan Syneresis


Bobot yang hilang (%)
Waktu
Formula 1 Formula 2 Basis
Setelah 6
minggu