Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN MEANS-ENDS ANALYSIS

(MEA) DENGAN SETTING BELAJAR KELOMPOK TERHADAP


HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS IV SD
Ni Pt. Ari Kusumayanti1, Nym. Dantes2, I Nym. Arcana3
1,3
Jurusan PGSD, 2Jurusan BK, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

E-mail: arix_moute91@yahoo.com1, nyoman.dantes@pasca.undiksha.ac.id2,


Nyomanarcana856@yahoo.co.id3

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan kualitas hasil belajar matematika siswa
yang mengikuti pembelajaran dengan model MEA dengan setting belajar kelompok. (2)
mendeskripsikan kualitas hasil belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran
dengan model konvensional. (3) mengetahui perbedaan hasil belajar matematika antara
siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model MEA dengan setting belajar kelompok
dan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional. Jenis penelitian ini
adalah kuasi eksperimen. Populasi penelitian berjumlah 145 orang. Sampel penelitian ini
yaitu siswa kelas IV SD No. 1 Nagasepaha yang berjumlah 35 orang dan siswa kelas IV SD
No. 2 Sari Mekar yang berjumlah 27 orang. Data hasil belajar matematika siswa dikumpulkan
dengan instrumen tes berbentuk pilihan ganda. Data yang dikumpulkan dianalisis
menggunakan analisis statistik deskriptif dan uji-t. Hasil penelitian ini menemukan bahwa: (1)
kualitas hasil belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model MEA
dengan setting belajar kelompok tergolong sangat tinggi dengan rata-rata (M) 23,66. (2)
kualitas hasil belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model
konvensional tergolong tinggi dengan rata-rata (M) 20,56. (3) terdapat perbedaan yang
signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model MEA dengan setting
belajar kelompok dan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional (thitung
> ttabel, thitung = 23,85 dan ttabel = 2,000).

Kata kunci: Model Pembelajaran MEA, setting belajar kelompok, hasil belajar matematika

Abstract
This study aims to: (1) to describe the quality of mathematics learning outcomes of students
to followed the model of learning with MEA with group learning setting. (2) to describe the
quality results of students of mathemathics learning who follow the conventional learning
models. (3) to know differences in mathematics achievement between students who take
lessons with the MEA model of group learning setting and students who take lessons with
conventional models. This research is a quasi experimental study. The study population
numbered 145 people. The study sample is fourth grade student of primary school number 1
in Nagasepaha which amounts to 35 people and a fourth grade student of primary school
number 2 in Sari Mekar, amounting to 27 people. Students mathematics learning outcomes
data collected by instruments in the form of multiple choice tests. The data collected are
analyzed using descriptive statistics and t-test. Results of this study found that: (1) the results
of the students to followed the model of learning with MEA with group learning setting
mathematics learning as very high with an average (M) 23.66. (2) the results of students
mathematics learning who follow the conventional learning models is high with the average
(M) 20.56. (3) there are significant differences between students who take lessons with the
MEA model of group learning setting and students who take lessons with the conventional
model (thitung > ttabel, thitung = 23,85 dan ttabel = 2,000).

Key words: MEA Learning Model, group learning settings, mathematics learning outcomes
PENDAHULUAN yang bercirikan: (1) siswa aktif guru aktif,
Perkembangan globalisasi saat ini (2) siswa mengkontruksi sendiri
sangat memberikan pengaruh yang besar pengetahuannya, (3) siswa menemukan,
bagi perkembangan suatu negara. Agar (4) siswa menyelesaikan masalah dalam
mampu bersaing di era globalisasi ini, maka kelompok, (5) siswa bebas memilih model
sangat diperlukan sumber daya manusia representasi sesuai dengan struktur
yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu, kognitifnya. Dengan demikian, diharapkan
saat ini lembaga pendidikan dituntut untuk pemahaman konsep, penalaran dan
meningkatkan kualitas pendidikannya, komunikasi serta kemampuan pemecahan
sehingga dapat menciptakan sumber daya masalah siswa dapat ditingkatkan, yang
manusia yang lebih berkualitas. Sadar akan nantinya berimbas juga pada peningkatan
hal ini, pemerintah telah dan sedang hasil belajar siswa.
melakukan berbagai upaya untuk Dalam upaya pemerintah
meningkatkan kualitas pendidikan di meningkatkan mutu pendidikan nasional,
Indonesia. Salah satunya adalah dengan tidak terlepas dari peran guru sebagai
menyempurnakan kurikulum 1994 menjadi pelaksana pendidikan dalam menerapkan
kurikulum 2004 (KBK) dan dilakukan model pembelajaran yang sesuai dengan
penyempuranan lagi yaitu menjadi kurikulum dan sesuai dengan kondisi siswa
kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di lapangan. Pemilihan model pembelajaran
tahun 2006. KTSP ini hingga sekarang yang tepat akan membantu terciptanya
masih digunakan di Indonesia. suasana belajar yang aktif, kreatif, dan
Menurut peraturan pemerintah inovatif seperti yang dituntut dalam KTSP,
nomor 19 tahun 2005 tentang standar sehingga dapat memenuhi tujuan
nasional pendidikan, KTSP merupakan diselenggarakannya pembelajaran tersebut,
kurikulum operasional yang disusun dan yang akhirnya akan bermuara pada
dilaksanakan oleh masing-masing satuan peningkatan mutu pendidikan nasional.
pendidikan sesuai dengan karakteristik, Menurut Solihatin dan Raharjo (2007)
kondisi, dan potensi daerah, sekolah dan kualitas dan keberhasilan pembelajaran
peserta didik masing-masing satuan sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan
pendidikan dengan mengacu pada standar ketepatan guru dalam memilih metode
isi, standar kompetensi lulusan, dan pembelajaran. Hal ini berarti untuk
panduan penyusunan KTSP yang disusun mencapai kualitas pembelajaran yang
oleh badan standar nasional pendidikan tinggi, setiap mata pelajaran khususnya
(BSNP, 2006). KTSP dijadikan pedoman matematika harus diorganisasikan dengan
dalam proses pembelajaran bagi tenaga metode atau model pembelajaran yang
kependidikan dan peserta didik untuk tepat. Untuk itu guru harus lebih bijaksana
mencapai tujuan pendidikan. Dengan dalam menerapkan suatu model dan
diberlakukannya KTSP maka dalam proses metode dalam pembelajaran sehingga
pembelajaran siswa dituntut untuk bersikap dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas
aktif, kreatif, dan inovatif dalam yang kondusif agar proses belajar mengajar
menanggapi setiap pelajaran yang dapat berlangsung sesuai yang diharapkan.
diajarkan. Selain itu, dengan Akan tetapi, pada kenyataannya
diberlakukannya KTSP ini diharapkan pembelajaran matematika di sekolah dasar
proses pembelajaran yang mulanya saat ini belum sesuai dengan harapan.
berpusat pada guru (teacher centered) Seperti yang terjadi di sekolah-sekolah
akan berubah menjadi pembelajaran yang dasar gugus V Kecamatan Buleleng. Guru
berpusat pada siswa (student centered) masih mengalami kesulitan dalam
menyelenggarakan pembelajaran yang permasalahan untuk dipecahkan terutama
efektif, khususnya mata pelajaran pada aspek membuat rencana dan mencari
matematika. Pembelajaran yang tidak solusi. Jadi permasalahan dapat
efektif akan berdampak pada perolehan dipecahkan secara terarah. Sedangkan
nilai hasil belajar siswa. Hal ini tercermin pembelajaran menggunakan setting belajar
dari hasil belajar matematika siswa kelas IV kelompok, dapat membuat siswa bekerja
SD Gugus V Kecamatan Buleleng setelah secara bersama-sama di dalam kelompok
dilakukan observasi masih tergolong untuk memperoleh hasil diskusi yang
rendah. Dari wawancara yang dilakukan diinginkan.
dengan beberapa guru matematika dan Sintaks dari model pembelajaran
beberapa orang siswa, serta observasi MEA adalah: 1) menyajikan materi dengan
langsung pada proses pembelajaran di pendekatann pemecahan masalah berbasis
kelas, ada beberapa permasalahan yang heuristik, yaitu memecahkan masalah ke
diidentifikasi sebagai penyebab rendahnya dalam dua atau lebih sub tujuan. Heuristik,
hasil belajar matematika siswa, yaitu (1) disini dimaksudkan adalah tidak mengikuti
siswa masih beranggapan bahwa pelajaran prosedur langkah demi langkah secara
matematika adalah pelajaran yang sangat uniform atau regular. 2) mengelaborasi,
sulit. Hal ini menyebabkan siswa menjadi sub-sub masalah yang lebih
mengalami tekanan psikologis saat sederhana, disini siswa dituntut untuk
pembelajaran berlangsung sehingga siswa memotong-motong masalah menjadi
sulit memahami konsep matematika yang beberapa bagian, dimana masing-masing
disampaikan, (2) pembelajaran masih bagian bertujuan untuk mempermudah
menggunakan model konvensional yang siswa memecahkan masalah, 3)
cenderung terkesan hanya mentransfer mengidentifikasi masalah yang sudah
pengetahuan dari guru kepada siswa, (3) terpotong menjadi beberapa bagian, 4)
guru belum mampu menerapkan suatu menyusun sub-sub masalah sehingga
model pembelajaran yang dapat terjadi koneksivitas dan bertujuan untuk
meningkatkan hasil belajar siswa. mengembangkan kemampuan pemecahan
Sebagai upaya untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran matematika,
permasalahan yang ditemukan dan untuk 5) memilih solusi yang tepat untuk
meningkatkan hasil belajar siswa, maka di memecahkan masalah (Suyatno, 2009).
terapkan model pembelajaran MEA (Means Berdasarkan uraian yang telah
Ends Analysis) dengan setting belajar dijabarkan maka dilakukan penelitian yang
kelompok. Model pembelajaran MEA bertujuan: 1) untuk mengetahui deskripsi
memberikan kesempatan kepada siswa hasil belajar matematika siswa kelompok
belajar matematika dengan aktif eksperimen yang mengikuti pembelajaran
mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, dengan model MEA dengan setting belajar
dan dapat membantu siswa untuk kelompok. (2) untuk mengetahui deskripsi
menyelesaikan masalah matematis. Model hasil belajar matematika siswa kelompok
pembelajaran MEA adalah suatu model kontrol yang mengikuti pembelajaran
pembelajaran yang merupakan variasi dengan model konvensional. (3) Untuk
antara metode pemecahan masalah yang mengetahui perbedaan hasil belajar
menganalisa suatu masalah dengan matematika antara siswa yang mengikuti
bermacam cara sehingga mendapatkan pembelajaran dengan model MEA dengan
hasil atau tujuan akhir. Dalam MEA, guru setting belajar kelompok dan siswa yang
mengajak siswa untuk mengelaborasi, mengikuti pembelajaran dengan model
mengidentifikasi dan memahami suatu konvensional pada siswa kelas IV SD
Gugus V Kecamatan Buleleng Kabupaten dan variabel terikat. Variabel bebas adalah
Buleleng tahun pelajaran 2012/2013. merupakan variabel yang mempengaruhi
atau yang menjadi sebab perubahannya
METODE atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono,
Penelitian ini merupakan penelitian 2008). Variabel bebas dalam penelitian ini
eksperimen yang meneliti hubungan sebab adalah model pembelajaran. Model
akibat dengan memanipulasi satu atau lebih pembelajaran yang diterapkan yaitu model
variabel pada satu atau lebih kelompok pembelajaran MEA dengan setting belajar
eksperimental. Hasil yang diperoleh kelompok yang dikenakan pada kelompok
kemudian dibandingkan dengan kelompok eksperimen dan model pembelajaran
kontrol (yang tidak dimanipulasi). Penelitian konvensional yang dikenakan pada
ini merupakan jenis penelitian eksperimen kelompok kontrol. Variabel terikat adalah
semu (quasi experiment) karena tidak variabel yang dipengaruhi atau yang
semua variabel yang muncul dalam kondisi menjadi akibat, karena adanya variabel
eksperimen dapat diatur dan dikontrol bebas (Sugiyono, 2008). Variabel terikat
secara ketat. Desain penelitian yang dalam penelitian ini adalah hasil belajar
digunakan adalah post-test only control matematika yang terbatas pada aspek
group design. Dalam desain ini terdapat kognitif dan berada pada jenjang pada
dua kelompok yang masing-masing dipilih jenjang ingatan (C1), pemahaman (C2),
secara random untuk menentukan kelas dan aplikasi (C3) menurut taksonomi Bloom
eksperimen dan kelas kontrol. Populasi (Dimyati dan Mudjiono, 2003).
penelitian ini adalah siswa kelas IV SD di Metode pengumpulan data yang
Gugus V kecamatan buleleng sebanyak digunakan pada penelitian ini adalah
145 orang. Sampel ditentukan dengan metode tes. Metode tes digunakan untuk
menggunakan random sampling. Sebelum mengetahui hasil belajar matematika siswa
menetapkan sampel penelitian, dilakukan yang dilakukan pada akhir materi yang
uji kesetaraan pada masing-masing telah diajarkan. Dalam penelitian ini, data
kelompok terlebih dahulu. Uji kesetaraan yang diperlukan yaitu data hasil belajar
dengan uji-t dengan taraf signifikansi 5%. matematika siswa pada ranah kognitif yang
dimiliki oleh siswa sebagai akibat setelah
Jika ≥ maka kelompok tidak
menerima pengalaman belajar matematika
setara, sedangkan jika ≤ maka berdasarkan tujuan pembelajaran yang
kelompok dinyatakan setara. Berdasarkan telah ditentukan.
uji kesetaraan diperoleh data pada tabel 01 Hasil belajar Matematika diukur
sebagai berikut. dengan menggunakan instrument tes hasil
Berdasarkan uji kesetaraan yang belajar matematika. Tes ini berupa pilihan
telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa ganda dengan 4 alternatif jawaban yaitu
seluruh kelas IV di SD Gugus V memiliki a,b,c,d yang diberikan setelah diberikan
kemampuan yang setara. Kelompok perlakuan pembelajaran (post-test). Sifat
eksperimen dan kelompok kontrol, dipilih data bersifat interval (skor).
dengan sistem undian. Berdasarkan undian Dalam penyusunan instrumen
yang telah dilakukan, maka terpilih SD No.1 terlebih dahulu dibuat kisi-kisi soal yang
nagasepaha sebagai kelompok eksperimen sesuai dengan standar kompetensi dan
dan SD No.2 Sari Mekar sebagai kelompok kompetensi dasar yang digunakan. Suatu
kontrol. Jumlah sampel sebanyak 62 orang. instrumen penelitian akan dikatakan baik
Ada dua jenis variabel yang terlibat jika sudah memenuhi dua persyaratan
dalam penelitian ini, yaitu variabel bebas penting yaitu valid dan reliabel (Arikunto,
2002). Uji coba instrumen penelitian pembelajaran dengan model konvensional
dilakukan untuk mendapat gambaran pada siswa kelas IV SD Gugus V
secara empirik apakah instrumen hasil Kecamatan Buleleng. H1 : terdapat
belajar layak digunakan sebagai instrumen perbedaan yang signifikan hasil belajar
penelitian. Instrumen penelitian tersebut matematika antara siswa yang mengikuti
terlebih dahulu diuji coba dilapangan, pembelajaran dengan Model Pembelajaran
kemudian dianalisis dengan menggunakan MEA dengan setting belajar kelompok dan
uji: validitas tes, reliabilitas
abilitas tes,
tes taraf siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
kesukaran tes, dan daya beda tes, model konvensional pada siswa kelas IV
sebelumnya telah dilakukan uji ahli (uji SD Gugus V Kecamatan Buleleng.
judges). Pengujian hipotesis tersebut menggunakan
Hasil penelitian dalam penelitian ini uji-t sampel independent (tidak berkorelasi)
dianalisis
lisis secara bertahap, yaitu: analisis dengan rumus polled varians. varians Dengan
deskriptif, uji prasyarat analisis data, dan uji kriteria
riteria jika t hitung lebih besar dari t tabel
hipotesis. Uji prasyarat analisis data terdiri maka H0 ditolak dan H1 diterima sedangkan
dari uji normalitas sebaran data, uji jika t hitung lebih kecil dari t tabel maka H0
homogenitas varians. Uji normalitas diterima dan H1 ditolak. Dengan taraf
sebaran data dilakukan untuk mengetahui signifikansi 5%.
bahwa sampel benar-benar benar berasal dari
populasi yang berdistribusi normal. Uji HASIL DAN PEMBAHASAN
normalitas sebaran data setiap kelompok Hasil
menggunakan uji Chi Square (2). Jika Data dalam penelitian ini adalah
 2 hit   2 , dengan taraf signifikasi 5% skor hasil belajar matematika siswa sebagai
akibat dari penerapan model pembelajaran
dan dk = (jumlah kelas – 3 ), maka H0
MEA (Means-Ends Analysis) dengan
Ends Analysis
diterima yang berarti data berdistribusii
setting belajar kelompok pada kelompok
normal. Sedangkan untuk ujiji homogenitas
eksperimen dan model pembelajaran
dilakukan untuk mencari tingkat
konvensional pada kelompok kontrol.
kehomogenan secara dua pihak yang
Berdasarkan analisis deskrip
deskriptif data,
diambil dari kelompok-kelompok
kelompok terpisah
diketahui bahwa kelompok eksperimen
dari satu populasi yaitu kelompok kontrol
memiliki rata-rata
rata sebesar 23,66, jika
dan kelompok eksperimen. Untuk ntuk menguji
dikonversikan ke dalam PAP skala lima nilai
homogenitas varians untuk kedua kelompok
tersebut tergolong kriteria sangat tinggi.
digunakan uji F. Dengan kriteria pengujian
Data hasil post-test matematika kelompok
adalah kedua sampel memiliki varians yang
eksperimen, dapat disajikan ke dalam
berbeda (tidak homogen) jika Fhitung ≥ Ftabel ,
bentuk grafik histogram seperti pada
jika Fhitung < Ftabel maka varians sampell
sampe
Gambar 1 berikut ini.
dalam kelompok adalah homogen.
15
Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi
signifik
5% dengan dk pembilang n1-1, 1, dk penyebut
10
Frekuensi

n2 -1.
Hipotesis pada penelitian ini adalah
5
Ho : tidak terdapat perbedaan yang
signifikan hasil belajar matematika antara
0
siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
15 18 21 24 27 30
Model Pembelajaran MEA dengan setting Nilai Tengah
belajar kelompok dan siswa yang mengikuti Gambar 1 Grafik Histogram Data Hasil
Post-test Kelompok Eksperimen
Sedangkan untuk kelompok kontrol menunjukkan bahwa semua sebaran data
memiliki rata-rata 20,56,, jika dikonversikan berdistribusi normal. Setelah diketahui
ke dalam PAP skala lima nilai tersebut bahwa seluruh data berdistribusi normal
tergolong kriteria tinggi. Data hasil post- maka dilanjutkan dengan uji homogenitas
test kelompok kontrol, dapat disajikan ke varians antara dua kelompok skor yaitu
dalam grafik histogram seperti pada kelompok eksperimen dan kelompok
gambar 2 berikut ini. kontrol. Diketahui Fhit hasil post-test
kelompok eksperimen dan kontrol adalah
10 1,03. Sedangkan Ftab dengan dbpembilang =
8 34, dbpenyebut = 26, dan taraf signifikansi 5%
Frekuensi

6 adalah 1,90. Hal ini berarti, varians data


4 hasil post-test kelompok eksperimen dan
2 kontrol adalah homogen.
0
Pembahasan
14 17 20 23 26 29
Berdasarkan uji prasyarat analisis
Nilai Tengah data, diperoleh bahwa data hasil post-test
kelompok eksperimen dan kontrol adalah
normal dan homogen. Setelah diperoleh
Gambar 2. Grafik Histogram Data Hasil hasil dari uji prasyarat analisis data,
Post-test Kelompok Kontrol
dilanjutkan dengan pengujian hipotesis
penelitian (H1) dan hipotesispotesis nol (H0).
Setelah memperoleh hasil analisis Pengujian hipotesis tersebut dilakukan
deskriptif data maka dilanjutkan dengan uji dengan menggunakan uji-t sampel
prasyarat analisis data. Uji prasyarat independent (tidak berkorelasi) dengan
analisis data yang dilakukan adalah uji rumus polled varians dengan kriteria tolak
normalitas, uji homogenitas dan uji H0 jika thit > ttab dan terima H0 jika thit < ttab.
hipotesis. Untuk menguji normalitas Rangkuman hasil perhitungan uji uji-t antar
sebaran data menggunakan Chi Square kelompok eksperimen men dan kontrol disajikan
(2) pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan pada Tabel 1 di bawah ini.
hasil uji prasyarat analisis data maka
diperoleh 1,03<1,90 (hit2<tab2). Hal itu

Tabel 1 Rangkuman Hasil Perhitungan Uji-t

Kelompok N X thit ttab (t.s. 5%) Kesimpulan


Eksperimen 35 23,66
23,85 2,000 H0 ditolak
Kontrol 27 20,56

Berdasarkan tabel hasil perhitungan terdapat perbedaan yang signifikan hasil


uji-t di atas, diperoleh thit sebesar 23,85 belajar matematika antara siswa yang
Sedangkan, ttab dengan db=60 =60 dan taraf mengikuti pembelajaran dengan model
signifikansi 5% adalah 2,000. Hal ini berarti, pembelajaran MEA dengan setting belajar
thit lebih besar dari ttab (thit > ttab), sehingga kelompok dan siswa yang mengikuti
H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan pembelajaran dengan model konvensional
demikian, dapat diinterpretasikan bahwa
pada siswa kelas IV SD Gugus V menghadirkan masalah-masalah yang
Kecamatan Buleleng. sering dihadapi siswa dalam kehidupan
Perbedaan yang signifikan antara sehari-hari. Kemudian siswa bersama
siswa yang mengikuti pembelajaran dengan kelompok bertugas mengelaborasi menjadi
model pembelajaran MEA dengan setting sub-sub masalah yang lebih sederhana. Di
belajar kelompok dan siswa yang mengikuti sini siswa dituntut untuk memotong-motong
pembelajaran dengan model konvensional masalah menjadi beberapa bagian, di mana
disebabkan karena perbedaan perlakuan masing-masing bagian tersebut bertujuan
pada langkah-langkah pembelajaran dan untuk mempermudah pemecahan suatu
proses penyampaian materi. Pembelajaran permasalahan. Setelah tahap tersebut
dengan menggunakan model pembelajaran maka dilanjutkan pada tahap
MEA dengan setting belajar kelompok mengidentifikasi. Pada tahap ini siswa
menekankan adanya aktivitas antara guru mengidentifikasi masalah yang sudah
dan siswa melalui langkah-langkah terpotong menjadi beberapa bagian
mengorganisasikan siswa menjadi tersebut. Menyusun bab-bab masalah
beberapa kelompok, menyajikan materi menjadi koneksivitas atau saling
dengan pendekatan berbasis heuristik, berhubungan, kemudian memilih strategi
mengelaborasi menjadi sub-sub masalah dan solusi yang tepat. Pada tahap akhir ini
yang lebih sederhana, mengidentifikasi siswa berpikir untuk memilih strategi mana
masalah, menyusun sub-sub masalah, yang harus digunakan dalam pemecahan
memilih strategi dan solusi yang tepat dan masalah tersebut. Kemudian diakhir
memberikan kuis kepada siswa. pembelajaran siswa diberikan kuis untuk
Setting belajar kelompok atau mengetahui pemahaman siswa terhadap
pengorganisasian kelompok, yang materi yang telah dipelajari.
dimaksud disini adalah cara pengelolaan Berbeda halnya dalam
kelas dimana siswa dibentuk menjadi pembelajaran dengan model konvensional
beberapa kelompok yang masing-masing yang membuat siswa lebih banyak belajar
kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa. matematika secara prosedural. Dalam
Tujuan dibentuknya kelompok ini adalah penelitian ini, guru lebih banyak
untuk memberikan kesempatan kepada mendominasi kegiatan pembelajaran.
semua siswa untuk dapat terlibat secara Kegiatan mengajar dalam pembelajaran
aktif dalam proses berpikir dan kegiatan konvensional cenderung diarahkan pada
pembelajaran. Para siswa harus memiliki aliran informasi dari guru ke siswa, serta
tanggung jawab dalam kelompoknya dalam penggunaan metode ceramah terlihat
mempelajari materi yang dihadapi. sangat dominan. Pola mengajar kelihatan
Kemudian pada tahap menyajikan materi baku, yakni menjelaskan sambil menulis di
dengan pendekatan pemecahan masalah papan tulis serta diselingi tanya jawab,
berbasis heuristik, yaitu memecahkan suatu sementara itu peserta didik memperhatikan
masalah ke dalam dua atau lebih penjelasan guru sambil mencatat di buku
subtujuan. Heuristik disini maksudnya tulis. Seperti yang disampaikan Rasana
adalah tidak mengikuti prosedur langkah (2009) bahwa “penyampaian materi dalam
demi langkah secara uniform atau regular. pembelajaran konvensional tersebut lebih
Ketidakseragaman langkah-langkah banyak dilakukan melalui ceramah, tanya
pembelajaran cenderung akan memberi jawab, dan penugasan yang berlangsung
kebebasan kepada siswa untuk berkreasi secara terus menerus”. Siswa dipandang
dan menggunakan caranya sendiri untuk sebagai individu pasif yang tugasnya hanya
mencapai tujuan. Pada tahap ini, guru mendengarkan, mencatat, dan menghafal.
Pembelajaran yang terjadi pada model Analysis lebih tinggi daripada yang
konvensional berpusat pada guru, dan tidak mendapatkan pembelajaran dengan model
terjadi interaksi yang baik antara siswa pembelajaran ekspositori serta terdapat
dengan siswa. Dalam pembelajaran ini, perbedaan peningkatan kemampuan antara
guru berperan menjadi pusat informasi siswa kelompok tinggi, sedang dan rendah
(teacher centered). dalam komunikasi matematis yang
Perbedaan cara pembelajaran mendapatkan pembelajaran dengan
antara pembelajaran dengan model MEA menggunakan model pembelajaran Mean-
dengan setting belajar kelompok dan Ends Analysis. Riskanti Evasari (2007),
pembelajaran dengan model konvensional dengan judul “Pembelajaran Matematika
tentunya memberikan dampak yang dengan Menggunakan Metode Means-Ends
berbeda pula terhadap hasil belajar siswa. Analysis dalam Upaya Peningkatan
Penerapan model pembelajaran MEA Kemampuan Berpikir Logis Siswa SMP
dengan setting belajar kelompok (Penelitian tindakan kelas terhadap siswa
memungkinkan siswa untuk bekerja secara kelas VIII-1 SMP Negeri 1 Sindangkerta)”.
berkelompok di dalam mengerjakan LKS Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dan bertanggung jawab terhadap kelompok kemampuan berpikir logis siswa mengalami
masing-masing. Hal tersebut dapat peningkatan setelah dilakukan tindakan
membuat siswa aktif di dalam pembelajaran dengan menggunakan
pembelajaran, menemukan sendiri konsep- metode Means-End Analysis. Sedangkan
konsep yang dipelajari tanpa harus selalu berdasarkan analisis data instrument non
tergantung pada guru, mampu tes menunjukkan bahwa tanggapan siswa
memecahkan masalah-masalah yang terhadap metode pembelajaran Means-End
berkaitan dengan konsep yang dipelajari, Analysis pada umumnya baik. Kadek Rasmi
bekerja sama dengan siswa lain dan berani Wardani (2009), dengan judul
untuk mengemukakan pendapat. Siswa “Implementasi Model pembelajaran Means-
menjadi lebih tertantang untuk belajar dan Ends Analysis (MEA) Sebagai Upaya
berusaha menyelesaikan semua Meningkatkan Keterampilan Pemecahan
permasalahan matematika yang ditemui, Masalah dan Hasil Belajar Fisika Siswa
sehingga pengetahuan yang diperoleh akan SMA Negeri 1 Sawan Kelas X3”. Hasil
lebih diingat oleh siswa. Dengan demikian, penelitian menunjukkan bahwa kemampuan
hasil belajar matematika siswa yang pemecahan masalah siswa mengalami
mengikuti pembelajaran dengan model peningkatan setelah diterapkan
pembelajaran MEA dengan setting belajar pembelajaran dengan menggunakan model
kelompok akan lebih baik dibandingkan Means-End Analysis, yang diikuti pula
dengan siswa yang diajarkan dengan model peningkatan hasil belajar fisika siswa. Oleh
konvensional. karena itu, hasil penelitian ini berhasil
Hasil penelitian ini sejalan dengan memperkuat penelitian-penelitian tentang
penelitian yang dilakukan oleh Noor Sari penerapan model pembelajaran MEA
Agisti (2009), yang berjudul “Implementasi sebelumnya.
Model pembelajaran Means-Ends Analysis
untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa PENUTUP
SMP dalam Komunikasi Matematis”. Hasil Berdasarkan hasil penelitian dan
penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pembahasan di atas, dapat disimpulkan
kemampuan siswa dalam komunikasi bahwa: 1) Kualitas hasil belajar matematika
matematis yang mendapat pembelajaran siswa kelompok eksperimen yang mengikuti
dengan model pembelajaran Means-Ends model pembelajaran Means-Ends Analysis
(MEA) dengan setting belajar kelompok memperhatikan kendala-kendala yang
memiliki rata-rata sebesar 23,66, jika dialami dalam penelitian ini sebagai bahan
dikonversikan ke dalam PAP skala lima nilai pertimbangan untuk perbaikan dan
tersebut tergolong kriteria sangat tinggi. 2) penyempurnaan penelitian yang akan
Kualitas hasil belajar matematika siswa dilaksanakan.
kelompok kontrol yang mengikuti
pembelajaran model konvensional memiliki DAFTAR RUJUKAN
rata-rata 20,56, jika dikonversikan ke dalam Agisti, N. S. 2009. Implementasi Strategi
PAP skala lima nilai tersebut tergolong Means-Ends Analysis untuk
kriteria tinggi. 3) Terdapat perbedaan yang Meningkatkan Kemampuan Siswa
signifikan hasil belajar matematika antara SMP dalam Komunikasi Matematis.
siswa yang mengikuti model pembelajaran Skripsi. Tersedia pada
Means-Ends Analysis (MEA) dengan http://digilib.upi.edu/pasca/available/
setting belajar kelompok dengan siswa etd-0603110-151622/ (diakses
yang mengikuti pembelajaran model tanggal 15 Januari 2013).
konvensional. Adanya perbedaan yang
signifikan menunjukkan bahwa penerapan Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-dasar
model pembelajaran Means-Ends Analysis Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
(MEA) dengan setting belajar kelompok Aksara.
berpengaruh positif terhadap hasil belajar
matematika siswa dibandingkan dengan BNSP. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan
model konvensional. Nasional Republik Indonesia Nomor
Beberapa saran yang dapat 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi
disampaikan berdasarkan penelitian yang Untuk Satuan Pendidikan Dasar
telah dilakukan adalah 1) Bagi siswa-siswa Dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.
di sekolah dasar agar lebih aktif dalam
mengikuti pembelajaran dan terus Dimyati dan Mudjiono. 2003. Belajar dan
mengembangkan pemahamannya dengan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka
membangun sendiri pengetahuan tersebut Cipta.
melalui pengalaman. 2) Bagi sekolah yang
mengalami permasalahan rendahnya hasil Evasari, R. 2007. Pembelajaran
belajar matematika, dapat menggunakan Matematika dengan Menggunakan
model pembelajaran MEA dengan setting Metode Means-Ends Analysis dalam
belajar kelompok untuk mengatasi Upaya Peningkatan Kemampuan
permasalahan tersebut. 3) Bagi guru-guru Berfikir Logis Siswa SMP (Penelitian
di sekolah dasar agar lebih berinovasi Tindakan Kelas terhadap Siswa
dalam mengelola pembelajaran melalui Kelas VIII-1 SMP Negeri 1
penerapan suatu model pembelajaran yang Sindangkerta). Skripsi. Jurusan
inovatif dan didukung media pembelajaran Pendidikan Matematika, Universitas
yang relevan untuk dapat meningkatkan Pendidikan Indonesia. Tersedia
hasil belajar siswa. 4) Bagi calon peneliti pada
(di kalangan mahasiswa maupun dosen) http://digilib.upi.edu/pasca/available/
yang berminat untuk melakukan penelitian etd-0429108-14284 (diakses
lebih lanjut tentang Model Pembelajaran tanggal 15 Januari 2013).
MEA dengan setting belajar kelompok
dalam bidang ilmu matematika maupun
bidang ilmu lainnya yang sesuai, agar
Rasana, I Dewa Putu Raka. 2009. Model-
model Pembelajaran. Singaraja:
Universitas Pendidikan Ganesha.

Solihatin, Etin dan Raharjo. 2007.


Cooperatif Learning. Jakarta: PT
Bumi Aksara.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian


Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D). Bandung:
Alfabeta.

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran


Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana
Pustaka.

Wardani, Kadek Rasmi. 2009. Implementasi


Model pembelajaran Means-Ends
Analysis (MEA) Sebagai Upaya
Meningkatkan Keterampilan
Pemecahan Masalah dan Hasil
Belajar Fisika Siswa SMA Negeri 1
Sawan Kelas X3. Skripsi (tidak
diterbitkan). Jurusan Pendidikan
Fisika. Singaraja: Undiksha.