Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN KASUS

BRONKOPNEUMONIA

Disusun Oleh:
Trifonia Astri Fergaus Benitaryani, S.Ked.
1261050245

Pembimbing :
dr. Rita Juniriana, Sp.A.

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


PERIODE 26 FEBRUARI 2018 – 5 MEI 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2018
BAB I
STATUS PASIEN
1.1 IDENTITAS PASIEN
Nama Lengkap : An. I.N.H Pendidikan :-
Tanggal Lahir : 27 November 2017 Alamat : Gunung Putri
Umur : 3 bulan RT 003/ RW 012
Jenis kelamin : Laki-laki Tanggal masuk : 7 Maret 2018
Agama : Islam

1.2 IDENTITAS ORANG TUA


Data Orang Tua Ayah Ibu
Nama Tn. N Ny. I
Tanggal lahir 15 November 1993 2 Februari 1996
Suku Bangsa Sunda Sunda
Alamat Gunung Putri Gunung Putri
Agama Islam Islam
Umur 19 tahun 33 tahun
Perkawinan ke - 1 1
Pendidikan SMK SMP
Pekerjaan Buruh Ibu Rumah Tangga
Penghasilan Rp3.500.000 -
Hubungan pasien dengan orang tua adalah anak kandung.

1.3 ANAMNESA
Alloanamnesa dengan ibu pasien pada tanggal 9 Maret 2018
Keluhan utama : Sesak napas
Keluhan tambahan : Batuk, demam, nafsu makan menurun
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien seorang anak laki-laki berusia 3 bulan dengan berat badan 7,45 kg, diantar ayah dan
ibunya ke IGD RSUD Cibinong dengan keluhan sesak sejak 2 minggu SMRS terus menerus
disertai batuk berdahak. Dahak berwarna putih tidak bercampur darah. Batuk dirasakan
hilang timbul. 3 hari SMRS keluhan pasien memberat, sesak terlihat terus menerus, tidak
disertai suara mengi atau mengorok dan juga disertai demam tinggi. Pasien kemudian berobat
ke bidan, diberikan obat penurun demam, keluhan demam membaik, namun sesak dan batuk
bertambah parah sehingga ibu pasien kemudian membawa pasien ke RS. Ibu pasien selain itu
mengeluhkan nafsu makan (menyusu) anaknya menurun. Riwayat muntah dan penurunan
kesadaran selama demam disangkal.

1
Riwayat BAK - BAB normal. Riwayat tersedak benda asing disangkal. Riwayat kontak
dengan pasien TB disangkal. Riwayat kejang sebelumnya disangkal. Riwayat berpergian ke
luar kota disangkal. Riwayat demam hingga menggigil disangkal. Riwayat gusi berdarah dan
mimisan disangkal.
Riwayat Kebiasaan Pribadi :
Pasien masih mendapatkan ASI eksklusif dari ibunya. Sebelum menyusui, ibu mencuci
tangan dengan sabun cuci tangan. Cara ibu menyusui dengan menempatkan kepala dan badan
menghadap payudara, ibu mendekatkan bayi ke tubuhnya. Bibir bawah bayi melengkung ke
luar, sebagian besar areola berada dalam mulut bayi. Bayi mengisap dalam dan pelan kadang
disertai berhenti sesaat. Ibu pasien rajin memotong kuku pasien dan ibu.

Riwayat Penyakit Sebelumnya


Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga (pada anggota keluarga lain / orang lain serumah)
Tidak ada yang mengalami keluhan seperti pasien di keluarga pasien.
Riwayat batuk lama di keluarga disangkal
Riwayat asma di keluarga disangkal
Riwayat BAB cair di keluarga disangkal
Riwayat kejang dalam keluarga disangkal

Riwayat Kehamilan Ibu


- Pasien merupakan anak pertama dari ibu P1A0 dengan usia kehamilan 40 minggu.
- Ibu pasien mengatakan telah melakukan pemeriksaan kehamilan rutin ke bidan
dengan jumlah 1 kali saat trimester pertama, 3 kali saat trimester kedua dan 3 kali saat
trimester ketiga.
- Selama kehamilan ibu mengaku dalam kondisi sehat, tidak mengonsumsi obat-obatan,
tidak pernah minum minuman beralkohol, dan tidak merokok.
- Riwayat abortus dan lahir mati tidak ada.
Riwayat Kelahiran
Tempat lahir : Rumah
Penolong : Dukun terlatih
Cara persalinan : Spontan
Berat lahir : 2.700 gram
Panjang lahir : 49 cm
Masa gestasi : Cukup bulan
Keadaan bayi : Langsung menangis, bergerak aktif, warna kulit tubuh kemerahan
Nilai APGAR : Tidak dinilai karena lahir di rumah
Kelainan bawaan : Tidak ada
Kesan : Riwayat kelahiran baik

2
Riwayat Imunisasi
Jenis Imunisasi Lahir I II III IV V VI

Hepatitis B Lahir
(HB)0
Polio 1 2 bulan
bulan
BCG 1 bulan

DTP -HB-Hib 2 bulan

MR

Kesan: Riwayat imunisasi sesuai usia menurut IDAI.

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak


Pertumbuhan gigi pertama : - bulan
Perkembangan Psikomotor :
Tengkurap : - bulan
Duduk : - bulan
Berdiri : - bulan
Berjalan : - bulan
Bicara : - bulan
Membaca dan menulis : - bulan
Gangguan perkembangan mental/emosi : Tidak ada gangguan.
Kesimpulan : Perkembangan dan pertumbuhan anak sesuai usia.

Riwayat Makanan
Usia (bulan) ASI / PASI Buah / Biskuit Bubur Susu Nasi Tim
0-3 ASI tiap menangis -/- - -
dengan durasi 15
menit, isapan kuat
dan dalam.
Kesan: Kualitas dan kuantitas asupan makanan pasien cukup, tahapan makanan sesuai usia.

Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita


Penyakit Usia Penyakit Usia
Diare - Morbili -
Otitis - Parotitis -
Radang paru - Demam berdarah -
Tuberkulosis - Demam tifoid -

3
Kejang - Cacingan -
Ginjal - Alergi -
Jantung - Pertusis -
Darah - Varicella -
Difteri - Biduran -
Asma - Kecelakaan -
Penyakit kuning - Operasi -
Batuk berulang - Lain-lain -

Riwayat Keluarga
No Tang Jenis Hidup L Abortus M Keterangan
Kelamin
gal a a
Lah h t
ir i i
r
(
M s
a e
t b
i a
b
)
1 27-11-2017 Laki-laki Ya - - - Sakit (Pasien)
Corak reproduksi: P1A0.

Anggota keluarga lain yang serumah : Orang tua dan kakek nenek pasien.
Status rumah tinggal : Rumah milik kakek nenek pasien.
Keadaan rumah : Ukuran 120m2 , dinding terbuat dari batu-bata
berlapis semen dan cat. Atap terbuat dari genting. Ventilasi kurang baik (terdapat 2-3 jendela
di ruang tamu, 0 jendela pada kamar tidur pasien), pencahayaan baik, rumah dibersihkan 1
kali sehari, menggunakan air tanah untuk keperluan sehari-hari (mandi dan mencuci) dan air
kemasan isi ulang (minum).
Keadaan lingkungan : Perumahan warga padat, tidak banjir, sanitasi
baik, terdapat tempat pembuangan sampah, jarak sumber air bersih ke septik tank >10 m.

1.4 PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan Umum

4
Dilakukan pada tanggal 9 Maret 2018, pukul 11 .00 WIB
Keadaan umum: Tampak sakit sedang (sesak +/+, retraksi sela iga +/+, sianosis -)
Kesadaran: Komposmentis

Tanda-Tanda Vital:
Frekuensi nadi : 145x/menit, reguler, kuat angkat, isi cukup.
Frekuensi nafas : 52x/menit, reguler, cepat.
Suhu tubuh : 37,6 °C

Data Antropometri:
Berat badan : 7,45 kg
Tinggi / Panjang badan : 60 cm
Lingkar Lengan Atas : 13 cm
BB/U : - 2 SD < x < 2 SD (Kesan : Berat Badan Normal)
TB/U : - 2 SD < x < 2 SD (Kesan : Tinggi Badan Normal)
BB/TB : - 2 SD < x < 2 SD (Kesan : Gizi Baik)
BMI : BB/(TB)2 = 7,45kg/(0.60 m)2 = 20,7 kg/m2
BMI/U : 2 SD < x < 3 SD ( Kesan : Overweight)

Status Generalis
Kepala :
Bentuk kepala normocephali. Lingkar kepala 40 cm. Rambut hitam, terdistribusi merata,
tidak mudah dicabut.
Wajah :
Raut muka pasien baik dan tidak terdapat kelainan fasies. Kulit wajah pasien normal.
Mata :
Palpebra tidak edema, konjungtiva tidak hiperemis, sklera tidak merah, pupil bulat isokor 3
mm/ 3 mm, refleks cahaya langsung dan tidak langsung positif pada kedua pupil, lensa jernih,
tidak ada kelainan pada bola mata pasien.
Telinga :
Bentuk daun telinga normotia, tidak menggantung, posisi tidak rendah. Liang telinga didapati
lapang, tidak nampak adanya sekret maupun serumen. Gendang telinga tidak dilakukan
pemeriksaan.
Hidung :
Bentuk hidung normal, konka hiperemis, septum nasi di tengah, selaput lendir tidak
hiperemis. Tampak pernafasan cuping hidung. Sekret (-/-).
Mulut :
Bibir lembab, tidak sianosis. Lidah tidak tremor, gusi tenang. Faring hiperemis, tonsil tidak
tampak hiperemis dan membesar.
Leher :
Pada leher tidak terdapat kelainan bentuk, kelenjar tiroid tidak teraba, tekanan vena jugularis
tidak meninggi. Trakea terdapat di tengah. Pergerakan leher bebas.
Thoraks :
Bentuk dada normal anteroposterior < laterolateral. Tidak ditemukan adanya krepitasi
maupun benjolan. Tulang-tulang iga intak dan sela iga dalam batas normal.
5
Paru :
Inspeksi : tampak retraksi sela iga +/+ sub costal.
Palpasi : didapatkan vokal fremitus melemah +/+
Perkusi : sulit dinilai.
Auskultasi : suara nafas bronkovesikuler pada kedua lapang paru kiri sama dengan kanan,
ditemukan ronkhi pada lapan paru kanan dan kiri, tidak ditemukan wheezing.
Jantung :
Inspeksi : Iktus kordis tidak nampak
Palpasi : Iktus kordis teraba di intercostal IV linea mid clavicula sinistra
Perkusi : Sulit dinilai
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II normal, tidak ada murmur, tidak ada gallop.
Abdomen :
Inspeksi : Tampak datar, tidak tampak kuning, tidak ada distensi abdomen, tidak ada
pelebaran pembuluh darah, tidak tampak gambaran usus, pergerakan usus maupun benjolan.
Auskultasi : Bising usus positif normal, 4x/menit.
Perkusi : Sulit dinilai
Palpasi : Supel, turgor kulit baik, tidak terlihat ada nyeri tekan, hepar tidak teraba, lien
tidak teraba, ginjal tidak teraba.
Tulang Belakang :
Tidak tampak skoliosis, kifosis, dan lordosis.
Genitalia Eksterna :
Tidak ada kelainan bentuk.
Perkembangan pubertas : rambut pubis belum tumbuh dan perubahan suara belum ada.
Ekstremitas :
Akral hangat, tidak ada edema, tidak ada sianosis, tonus otot baik, telapak tangan kanan dan
kiri tidak pucat, telapak kaki kanan dan kiri tidak pucat, panjang simetris, clubbing finger
tidak ada.
Kulit :
Turgor baik di keempat ekstremitas, ikterik tidak tampak, sianosis tidak ada, eritema palmaris
tidak ada, perfusi kurang dari 3 detik.
Kelenjar Getah Bening :
Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening pada leher, kelenjar oksipital, submandibula,
supraklavikula, ketiak, lipat paha, maupun kelenjar getah bening di daerah lain.
Pemeriksaan Neurologis
Refleks Fisiologis : Normotonus/ Normotonus
Refleks Biseps :++/++
Refleks Triseps :++/++
Refleks Patella :++/++
Refleks Achilles :++/++
Refleks Patologis :
Refleks Babinski : +/+
1.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
HEMATOLOGI
6
Hb 10,0 g/dl 13 - 18 gr/dl
Ht 29% 40 - 52%
Leukosit 18.000 4.800 –10.800/µL
Trombosit 418.000 150.000 - 400.000/µL

1.6 RESUME
Anak laki-laki berusia 3 bulan dengan berat badan 7,45 kg, sesak sejak 2 minggu SMRS terus
menerus disertai batuk berdahak. Dahak berwarna putih tidak bercampur darah. Batuk
dirasakan hilang timbul. 3 hari SMRS keluhan pasien memberat, sesak terlihat terus menerus,
tidak disertai suara mengi atau mengorok dan juga disertai demam tinggi. Pasien kemudian
berobat ke bidan, diberikan obat penurun demam, keluhan demam membaik, namun sesak
dan batuk bertambah parah sehingga ibu pasien kemudian membawa pasien ke RS. Ibu
pasien selain itu mengeluhkan nafsu makan (menyusu) anaknya menurun. Riwayat muntah
dan penurunan kesadaran selama demam disangkal.
Riwayat BAK - BAB normal. Riwayat tersedak benda asing disangkal. Riwayat kontak
dengan pasien TB disangkal. Riwayat kejang sebelumnya disangkal. Riwayat berpergian ke
luar kota disangkal. Riwayat demam hingga menggigil disangkal. Riwayat gusi berdarah dan
mimisan disangkal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran komposmentis, FN: 145x/menit, RR:
52x/menit, Suhu : 37,3ºC, bibir kering, nafas cuping hidung (+), retraksi sela iga, dan ronkhi
+/+.
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan penurunan hemoglobin, penurunan hematokrit,
leukositosis dan trombositosis.

1.7 DIAGNOSA KERJA


1. Bronkopneumonia

1.8 DIAGNOSA BANDING


2. Bronkiolitis
3. Aspirasi benda asing
4. Tuberkulosis
1.9 PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Radiologis : Foto rontgen toraks proyeksi posterior anterior (PA)
Hasil Foto dan Ekspertise Rontgen Toraks AP ( 8 Maret 2018)

7
Cor membesar (CTR = 53%)
Sinuses dan diafragma normal
Pulmo :
- Hilus kanan melebar, hilus kiri
normal.
- Corakan bronkovaskuler
bertambah.
- Tampak infiltrat di perihiller dan
paracardial kanan
- Tampak bayangan opak lobulated
di perihiller kanan
- Kranialisasi (-)
- Soft tissue dan skeletal dalam batas
normal
Kesan :
- Sugestif TB paru aktif (bagaimana
klinis dan lab?)
- Bayangan opak lobulated di
perihiller kanan e.c. suspek
pembesaran KGB
- Tidak tampak kardiomegali
2. Laboratorium : Sel Darah Tepi
3. Pulse Oxymetri

1.10 PENATALAKSANAAN
Nonfarmakologi :
Diet ASI eksklusif
Farmakologi :
Pro Rawat Inap
Pemberian O2 1-2 lpm (nasal kanul) bila saturasi O2 < 90% pada udara kamar, pertahankan
saturasi O2 ≥ 90%
IVFD : KAEN 1B 700cc/24 jam 30 tetes/menit (mikro)
Obat-obatan :

8
Injeksi Cefotaxime 2 x 400 mg (IV)
Injeksi Amikacin 2 x 40 mg (IV)
Paracetamol 120mg syrup 3 x ½ Cth (bila panas)
Pulmicort nebulizer ½ respule + Combivent nebulizer ½ respule + NaCl 0.9% 1cc

1.11 PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationum : dubia ad malam

1.12 FOLLOW UP HARIAN

Hari/Tanggal Keluhan Status Penatalaksanaan


Kamis, 8 Maret Demam (+) KU : TSS - Diet : ASI eksklusif
2018 Sesak (+) Kes : CM - IVFD : KAEN 1B 30
Batuk (+) tetes mikro/menit
PH: 1 Nafsu makan Vital sign - O2 1-2 lt/menit
PP: 15 menurun Frek. Nadi : 128x/menit sampai sesak
Resp. Rate : 58x/menit berkurang
T : 37,8ºC - Injeksi Cefotaxime 2 x
400 mg (IV)
Pem.Fisik - Injeksi Amikacin 2 x
Retraksi +/+ 40 mg (IV)
Ronkhi basah halus - Paracetamol 120mg
nyaring+/+ syrup 3 x ½ Cth (bila
Wheezing -/- panas)
- Pulmicort nebulizer ½
respule + Combivent
nebulizer ½ respule +
NaCl 0.9% 1cc

9
Jumat, 9 Maret Demam (-) KU : TSS - Diet : ASI eksklusif
2018 Sesak (+) Kes : CM - IVFD : KAEN 1B 30
berkurang tetes mikro/menit
PH: 2 Batuk (+) Vital sign - O2 1-2 lt/menit sampai
PP: 16 Nafsu makan Nadi : 140x sesak berkurang
menurun RR : 50x - Injeksi Cefotaxime 2 x
T : 37,5º 400 mg (IV)
- Injeksi Amikacin 2 x
Pem.Fisik 40 mg (IV)
Retraksi +/+ - Paracetamol 120mg
Ronkhi +/+ Wheezing -/- syrup 3 x ½ Cth (bila
panas)
- Pulmicort nebulizer ½
respule + Combivent
nebulizer ½ respule +
NaCl 0.9% 1cc

Sabtu, 10 Maret Demam (-) KU : TSS - Diet : ASI eksklusif


2018 Sesak (+) Kes : CM - IVFD : KAEN 1B 30
berkurang tetes mikro/menit
PH : 3 Batuk (+) Vital sign - O2 1-2 lpm (NK) (bila
PP : 17 Nafsu makan Nadi : 130x sesak)
membaik RR : 52x - Injeksi Cefotaxime 2 x
T : 36,5º 400 mg (IV)
- Injeksi Amikacin 2 x
Pem.Fisik 40 mg (IV)
Retraksi +/+ - Paracetamol 120mg
Ronkhi -/- Wheezing -/- syrup 3 x ½ Cth (bila
panas)
- Pulmicort nebulizer ½
respule + Combivent
nebulizer ½ respule +
NaCl 0.9% 1cc
Minggu, Demam (-) KU : TSS - Diet : ASI eksklusif

10
11 Maret 2018 Sesak (+) Kes : CM - IVFD : AFF infus
berkurang - O2 1-2 lpm (NK) (bila
PH: 4 Batuk (+) Vital sign sesak)
PP: 18 Nafsu makan Nadi : 120x - Injeksi Cefotaxime 2 x
membaik RR : 45x 400 mg (IV)
T : 36,8º - Injeksi Amikacin 2 x
40 mg (IV)
Pem.Fisik - Paracetamol 120mg
Retraksi +/+ Ronkhi basah syrup 3 x ½ Cth (bila
halus nyaring+/+ panas)
Wheezing -/- - Pulmicort nebulizer ½
respule + Combivent
nebulizer ½ respule +
NaCl 0.9% 1cc
Senin, 12 Maret Demam (-) KU : Baik - Diet : ASI eksklusif
2018 Sesak (-) Kes : CM - IVFD : AFF infus
Batuk (+) - O2 1-2 lpm (NK) (bila
PH: 5 Nafsu makan Vital sign sesak)
PP: 19 membaik Nadi : 110x - Injeksi Cefotaxime 2 x
RR : 34x 400 mg (IV)
T : 36,6º - Injeksi Amikacin 2 x
40 mg (IV)
Pem.Fisik - Paracetamol 120mg
Retraksi -/- syrup 3 x ½ Cth (bila
Ronkhi basah halus panas)
nyaring +/+ Wheezing -/- - Pulmicort nebulizer ½
respule + Combivent
nebulizer ½ respule +
NaCl 0.9% 1cc

11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Pneumonia adalah peradangan parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan
interstisial.1 Pneumonia biasanya disebabkan oleh mikroorganisme, namun pneumonia yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis tidak termasuk. Bila parenkim paru terkena
infeksi dan mengalami inflamasi hingga meliputi seluruh alveolus suatu lobus paru maka
disebut pneumonia lobaris atau pneumonia klasik. Bila proses tersebut tidak mencakup satu
lobus dan hanya di bronkiolus dengan pola bercak – bercak yang tersebar bersebelahan maka
disebut bronkopneumonia. Bronkopneumonia merupakan jenis pneumonia yang sering
dijumpai pada anak – anak.2

2.2 EPIDEMIOLOGI
Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia di bawah 5
tahun di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Diperkirakan hampir seperlima
kematian anak di seluruh dunia, kurang lebih 2 juta anak balita meninggal setiap tahun akibat
pneumonia, sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Pneumonia lebih sering
dijumpai di negara berkembang dibandingkan negara maju. Menurut survei kesehatan anak
nasional (SKN) 2001, 27,6% kematian bayi dan 22,8% kematian balita di Indonesia
disebabkan oleh penyakit sistem respiratori, terutama pneumonia.3,4

2.3 ETIOLOGI
Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh infeksi mikroorganisme (virus, bakteri, jamur,
parasit ) dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain, seperti aspirasi makanan dan asam
lambung, benda asing, senyawa hidrokarbon, reaksi hipersensitivitas, dan drug – or radiation
induced pneumonitis.2,4 Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting pada
perbedaan dan kekhasan pneumonia anak terutama dalam spektrum etiologi, gambaran klinis,
dan strategi pengobatan.3

Pada neonatus sering terjadi pneumonia akibat transmisi vertikal ibu – anak yang
berhubungan dengan proses persalinan. Infeksi terjadi akibat kontaminasi dengan sumber
infeksi dari ibu, misalnya melalui aspirasi mekoneum, cairan amnion, atau dari serviks ibu.
Spektrum mikroorganisme penyebab pada neonatus dan bayi kecil meliputi Streptococcus

12
group B, Chlamydia trachomatis, dan bakteri Gram negatif seperti E. coli, Pseudomonas sp,
atau Klebsiella sp. disamping bakteri utama penyebab pneumonia yaitu Streptococcus
pneumoniae. Infeksi oleh Chlamydia trachomatis akibat transmisi dari ibu selama proses
persalinan sering terjadi pada bayi di bawah 2 bulan. Penularan transplasenta juga dapat
terjadi dengan mikroorganisme Toksoplasma, Rubela, virus Sitomegalo, dan virus Herpes
simpleks (TORCH), Varisela – Zoster, dan Listeria monocytogenes.3,4

Virus menjadi penyebab utama pneumonia pada anak usia lebih muda (<2th).2 Bakteri
menjadi penyebab sebagian besar pneumonia pada anak besar. Pada bayi yang lebih besar dan
anak balita, pneumonia lebih sering disebabkan oleh infeksi Streptococcus pneumoniae,
Haemophillus influenzae tipe B, dan Staphylococcus aureus, sedangkan pada anak yang lebih
besar dan remaja, selain bakteri tersebut, sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma
pneumoniae.3,4

Di negara maju, pneumonia pada anak terutama disebabkan oleh virus, di samping bakteri,
atau campuran bakteri dan virus. Virkki dkk. melakukan penelitian pada pneumonia anak dan
menemukan etiologi virus saja sebanyak 32%, campuran bakteri dan virus 30%, dan bakteri
saja 22%. Virus yang terbanyak menyebabkan pneumonia antara lain adalah Respiratory
Synctial Virus ( RSV ), Rhinovirus, dan virus Parainfluenzae. Bakteri yang terbanyak adalah
Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenzae tipe B, dan Mycoplasma pneumoniae.
Kelompok anak berusia 2 tahun ke atas mempunyai etiologi infeksi bakteri yang lebih banyak
dibandingkan dengan anak berusia di bawah 2 tahun. Namun, secara klinis umumnya
pneumonia bakteri sulit dibedakan dengan pneumonia virus.3

Di negara industri, epidemi RSV dan atau influenza koinsidensi dengan epidemi S.
pneumoniae. Di negara berkembang infeksi virus sering disertai infeksi sekunder. Tabel 2.1.
menunjukkan bakteri dan virus yang umum menyebabkan pneumonia pada anak berdasarkan
usia.2

13
Tabel 2.1. Etiologi Pneumonia Pada Anak Sesuai Dengan Kelompok Usia Di Negara Maju 2,3
USIA PENYEBAB TERSERING PENYEBAB JARANG
BAKTERI BAKTERI
0 – 20 hari
Eschericia coli Bakteri anaerob
Streptococcus group B Streptococcus group B
Listeria monocytogenes Haemophilus influenzae
Streptococcus pneumoniae
Ureaplasma urealyticum

VIRUS
Cytomegalovirus
Herpes Simpleks Virus
3 minggu – 3 bulan BAKTERI BAKTERI
Chlamydia trachomatis Bordetella pertussis
Streptococcus pneumoniae Haemophillus influenzae tipe B
dan non-typeable
VIRUS Moraxella catarrhalis
Virus Adeno Staphylococcus aureus
Virus Influenza Ureaplasma urealyticum
Virus Parainfluenza 1, 2, 3 VIRUS
Respitatory Syncytial Virus Cytomegalovirus
4 bulan – 5 tahun BAKTERI BAKTERI
Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenzae tipe B
Mycoplasma pneumoniae Moraxella catarrhalis
Streptococcus pneumoniae Neisseria meningitis
VIRUS Staphylococcus aureus
Virus Adeno VIRUS
Virus Influenza Virus Varisela-Zoster
Virus Parainfluenza
Virus Rino
Respiratory Synncytial virus
5 tahun – remaja BAKTERI BAKTERI

14
Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenzae
Mycoplasma pneumoniae Legionella sp
Streptococcus pneumoniae Staphylococcus aureus
VIRUS
Virus Adeno
Virus Epstein-Barr
Virus Influenza
Virus Parainfluenza
Virus Rino
Respiratory Syncytial Virus
Virus Varicella-Zoster

2.4 FAKTOR RISIKO


Faktor risiko yang menyebabkan tingginya angka mortalitas pneumonia pada anak balita di
negara berkembang, antara lain:
- pneumonia yang terjadi pada masa bayi
- berat badan lahir rendah ( BBLR )
- tidak mendapat imunisasi
- tidak mendapat ASI yang adekuat
- malnutrisi
- defisiensi vitamin A
- tingginya prevalens kolonisasi bakteri patogen di nasofaring
- tingginya pajanan terhadap polusi udara (polusi industri atau asap rokok)
- imunodefisiensi dan imunosupresi (HIV, penggunaan obat imunisupresif)
- adanya penyakit lain yang mendahului, seperti campak
- intubasi, trakeostomi
- abnormalitas anatomi2,3

2.5 PATOLOGI DAN PATOGENESIS


Gambaran patologi tergantung dalam batas tertentu tergantung pada agen etiologinya.
Pneumonia yang disebabkan oleh bakteri ditandai dengan eksudat intraalveolar supuratif
disertai konsolidasi. Awalnya, mikroorganisme yang masuk bersama sekret bronkus ke dalam
alveoli menyebabkan reaksi radang berupa edema seluruh alveoli yang mempermudah

15
proliferasi dan penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya. Kemudian, disusul dengan
konsolidasi, yaitu terjadi sebukan sel – sel PMN dan diapedesis eritrosit sehingga terjadi
permulaan fagositosis sebelum terbentuk antibodi. Sel – sel PMN mendesak bakteri ke
permukaan alveoli dan dengan bantuan leukosit yang lain melalui pseudopodosis sitoplasmik
mengelilingi bakteri tersebut kemudian dimakan.2,3

Secara garis besar terdapat 3 stadium, yaitu stadium prodromal, stadium hepatisasi, dan
stadium resolusi. Pada stadium prodromal, yaitu 4 – 12 jam pertama, alveolus – alveolus
mulai terisi sekret dari pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor yang ditimbulkan infeksi
dengan kuman patogen yang berhasil masuk. Pada 48 jam berikutnya, paru tampak merah
dan bergranulasi, seperti hati, dimana alveoli terisi dengan sebukan sel – sel leukosit terutama
sel PMN, fibrin, eritrosit, cairan edema, dan kuman, yang disebut dengan stadium hepatisasi
merah. Selanjutnya, selama 3 – 8 hari, terjadi konsolidasi di dalam alveoli akibat deposit
fibrin dan leukosit yang semakin bertambah, yang disebut dengan hepatisasi kelabu.2,3

Sebagai akibat dari proses ini, secara akut salah satu lobus tidak lagi dapat menjalankan
fungsi pernapasan ( jadi merupakan gangguan restriksi ). Di samping itu, pada saat yang
bersamaan juga ada peningkatan kebutuhan oksigen sehubung dengan panas yang tinggi.
Proses radang juga akan mengenai pleura viseralis yang membungkus lobus tersebut. Dengan
demikian akan timbul pula rasa nyeri setempat. Nyeri dada ini juga akan menyebabkan
ekspansi paru terhambat. Ketiga faktor ini akan menyebabkan penderita mengalami sesak
napas, tetapi karena tak ada obstruksi bronkus, maka tidak akan terdengar wheezing.2,3

Bila penderita dapat mengatasi infeksi akut ini, maka pada hari ke – 7 sampai 11 terjadi
stadium resolusi dimana jumlah makrofag meningkat di alveoli, sel akan mengalami
degenerasi, fibrin menipis, kuman dan debris menghilang, dan isi alveolus akan melunak
untuk berubah menjadi dahak dan yang akan dikeluarkan lewat batuk, dan jaringan paru
kembali kembali pada struktur semulanya.2,3
Proses infeksi tersebut juga dapat diklasifikasikan berdasarkan anatomi, dimanan pada
pneumonia lobaris konsolidasi ditemuka pada seluruh lobus dan pada bronkopneumonia
terjadi penyebaran daerah infeksi yang berbercak dengan diameter 3 – 4 cm yang
mengelilingi bronki. Pada pneumonia akibat virus atau Mycoplasma pneumoniae, gambaran
patologi ditandai dengan peradangan interstisial yang disertai penimbunan infiltrat dalam

16
dinding alveolus, meskipun rongga alveolar sendiri bebas dari eksudat dan tidak ada
konsolidasi.2,3

Dalam keadaan sehat tidak terjadi pertumbuhan mikroorganisme di paru. Keadaan ini
disebabkan oleh mekanisme pertahanan paru antara lain, mekanisme pertahanan awal yang
berupa filtrasi bulu hidung, refleks batuk dan mukosilier aparatus dan mekanisme pertahanan
lanjut berupa sekresi Ig A lokal dan respon inflamasi yang diperantarai leukosit, komplemen,
sitokin, imunoglobulin, makrofag alveolar, dan imunitas yang diperantarai sel. Apabila terjadi
ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, mikroorganisme dan lingkungan, maka
mikroorganisme dapat berkembang biak dan menimbulkan penyakit.2

Risiko infeksi di paru sangat tergantung pada kemampuan mikroorganisme untuk sampai dan
merusak permukaan epitel saluran napas. Ada beberapa cara mikroorganisme mencapai
permukaan saluran napas: aspirasi sekret yang berisi mikroorganisme patogen yang telah
berkolonisasi pada orofaring, inhalasi aerosol yang infeksius, dan penyebaran hematogen dari
bagian ekstrapulomonal. Dari ketiga cara tersebut, aspirasi dan inhalasi agen – agen infeksius
adalah dua cara tersering yang menyebabkan pneumonia, sementara penyebaran secara
hematogen lebih jarang terjadi. Secara inhalasi terjadi pada infeksi virus, mikroorganisme
atipikal, mikrobakteria, atau jamur. Kebanyakan bakteri dengan ukuran 0,5 – 2,0 mm melalui
udara dapat mencapai bronkus terminal atau alveol dan selanjutnya terjadi proses infeksi.
Bila terjadi kolonisasi pada saluran napas atas (hidung, orofaring) kemudian terjadi aspirasi
ke saluran napas bawah dan terjadi inokulasi mikroorganisme, hal ini merupakan permulaan
infeksi dari sebagian besar infeksi paru. Aspirasi dan sebagian sekret orofaring terjadi pada
orang normal waktu tidur (50%) juga pada keadaan penurunan kesadaran. Sekret dari faring
tersebut mengandung konsentrasi bakteri yang tinggi 108–10 /mL, sehingga aspirasi dari
sebagian kecil sekret (0,001 – 1,1 mL) dapat memberikan titer inokulum bakteri yang tinggi
dan terjadi pneumonia. Pada pneumonia mikroorganisme biasanya masuk secara inhalasi atau
aspirasi. Umumnya mikroorganisme yang terdapat di saluran napas bagian atas sama dengan
saluran napas bagian bawah, tetapi pada beberapa penelitian tidak ditemukan jenis
mikroorganisme yang sama.2,3
2.6 MANIFESTASI KLINIS
Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar dari ringan hingga sedang.
Hanya sebagian kecil yang berat, mengancam kehidupan, dan mungkin terjadi komplikasi
sehingga perlu dirawat. Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pada anak
17
adalah imaturitas anatomik dan imunologik, mikroorganisme penyebab yang luas, gejala
klinis yang tidak khas terutama pada bayi, terbatasnya penggunaan prosedur diagnostik
invasif, etiologi noninfeksi yang relatif lebih sering, dan faktor patogenesis.3

Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung berat ringannya infeksi, tetapi
secara umum adalah sebagai berikut:
Gambaran infeksi umum :
- demam: suhu bisa mencapai 39 – 40 oC - keluhan gastrointestinal, seperti mual,
- sakit kepala muntah, atau diare
- gelisah - kadang – kadang ditemukan gejala
- malaise
infeksi ekstrapulmoner
- penurunan nafsu makan
Gambaran gangguan respiratori:
- batuk yang awalnya kering kemudian - napas cuping hidung
- penggunaan otot pernafasan tambahan
menjadi produktif
- air hunger
- sesak nafas - merintih
- retraksi dada - sianosis
- takipnea

18
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda klinis seperti pekak perkusi atau perkusi yang
redup pada daerah yang terkena, suara napas melemah, suara napas bronkial, dan ronki. Akan
tetapi pada neonatus dan bayi kecil, gejala dan tanda pnuemonia lebih beragam dan tidak
selalu terlihat jelas. Pada perkusi dan auskultasi paru umumnya tidak ditemukan kelainan.3

1. Pneumonia pada Neonatus dan Bayi Kecil


Gambaran klinis pada neonatus dan bayi kecil tidak khas, mencakup serangan apnea,
sianosis, grunting, napas cuping hidung, takipnea, letargi, muntah, tidak mau minum,
takikardi atau bradikardi, retraksi subkosta, dan demam. Pada bayi BBLR sering terjadi
hipotermi. Pada bayi yang lebih tua jarang ditemukan grunting.3,5
Infeksi oleh Chlamydia trachomatis sering terjadi pada bayi berusia di bawah 2 bulan,
dimana gejala baru timbul pada usia 4 – 12 minggu dan pada beberapa kasus pada usia 2
minggu, tetapi jarang setelah usia 4 bulan. Gejala timbul perlahan – lahan, dan dapat
berlangsung hingga berminggu – minggu. Gejala umum berupa gejala infeksi respiratori
ringan – sedang, ditandai dengan batuk staccato ( inspirasi diantara setiap satu kali batuk ),
kadang – kadang disertai muntah, umumnya pasien tidak demam. Bila berkembang menjadi
pneumonia berat yang juga dikenal sebagai sindroma pneumonitis, terdapat gejala klinis
ronki atau mengi, takipnea, dan sianosis.3

2. Pneumonia pada Balita dan Anak


Pada anak – anak prasekolah, keluhan meliputi demam, menggigil, batuk
(nonproduktif/produktif), takipneu, dan dispneu yang ditandai oleh retraksi dinding dada.
Pada kelompok anak sekolah dan remaja dapat dijumpai demam, batuk
(nonproduktif/produktif), nyeri dada, sakit kepala, anoreksia, dan kadang – kadang keluhan
gastrointestinal seperti mual atau diare, dan juga dehidrasi. Secara klinis ditemukan gejala
respiratori seperti takipnea, retraksi subkosta (chest indrawing), sianosis, dan napas cuping
hidung. Ronki basah halus (fine crackles) khas pada anak besar dapat tidak dijumpai pada
bayi.3

Penyakit ini sering ditemukan bersamaan dengan konjungtivitis, otitis media, faringitis, dan
laringitis. Iritasi pleura dapat mengakibatkan nyeri dada dan bila berat gerakan dada akan
menurun waktu inspirasi. Anak besar dengan pneumonia lebih suka berbaring pada sisi yang
sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada. Rasa nyeri dapat menjalar ke leher, bahu, dan
perut. Ronki hanya ditemukan bila ada infiltrat alveolar. Retraksi dan takipnea merupakan
tanda klinis pneumonia yang bermakna. Bila terjadi efusi pleura atau empiema, gerakan
ekskursi dada tertinggal di daerah efusi. Bula efusi pleura bertambah, sesak napas akan
semakin bertambah, tetapi nyeri pleura semakin berkurang dan berubah menjadi nyeri
tumpul.3

Kadang – kadang timbul nyeri abdomen bila terdapat pneumonia lobus kanan bawah yang
menimbulkan iritasi diafragma. Nyeri abdomen dapat menyebar ke kuadran kanan bawah dan
menyerupai apendisitis. Abdomenn mengalami distensi akibat dilatasi lambung yang
disebabkan oleh aerofagi atau ileus paralitik. Hati mungkin teraba karena tertekan oleh
diafragma, atau memang membesar karena terjadi gagal jantung kongestif sebagai komplikasi
pneumonia.3
3. Pneumona Akibat Infeksi Mycoplasma pneumoniae
Infeksi diperoleh melalui droplet dari kontak dekat. Masa inkubasi kurang lebih 3 minggu.
Gambaran klinis pneumonia atipik didahului dengan gejala menyerupai influenza (influenza
like syndrome) seperti demam, malaise, sakit kepala, mialgia, tenggorokan gatal, dan batuk.
Suhu tubuh jarang mencapai 38,5 °C. Batuk terjadi setelah awitan penyakit, awalnya tidak
produktif tetapi kemudian menjadi produktif. Sputum mungkin berbercak darah dan batuk
dapat menetap hingga berminggu – minggu.3

4. Pneumonia Akibat Infeksi Clamidia pneumoniae


Clamidia pneumoniae merupakan penyebab tersering infeksi saluran napas atas, seperti
faringitis, rinosinusitis, dan otitis, tetapi dapat menyebakan pnumonia juga. Gejala klinis
awalnya berupa gejala seperti flu, yaitu batuk kering, mialgia, sakit kepala, malaise, pilek,
dan demam tidak tinggi. Pada pemeriksaan auskultasi dada tidak ditemukan kelainan. Gejala
respiratori umumnya tidak mencolok. Leukosit darah tepi biasanya normal. Gambaran foto
toraks menunjukan infiltrat difus atau gambaran peribronkial nonfokal yang jauh lebih berat
dibandingkan gejala klinis.3

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Darah Perifer Lengkap
Pada pneumonia virus dan mikoplasma, umumnya ditemukan leukosit dalam batas normal
atau sedikit meningkat. Akan tetapi pada pneumonia bakteri didapatkan leukositosis yang
berkisar antara 15.000 – 40.000 / mm3 dengan predominan PMN. Leukopenia ( < 5.000 / mm 3
) menunjukkan prognosis yang buruk. Leukositosis hebat hampir selalu menunjukkan adanya
infeksi bakteri sering ditemukan pada keadaan bakteremi, dan risiko terjadinya komplikasi
lebih tinggi. Pada infeksi Clamydia pneumoniae kadang – kadang ditemukan eosinofilia.
Efusi pleura merupakan cairan eksudat dengan sel PMN berkisar antara 300 – 100.000 /
mm3, protein > 2,5 g/dL, dan glukosa relatif lebih rendah dibandingkan glukosa darah.
Kadang – kadang terdapat anemia ringan dan laju endap darah ( LED ) yang meningkat.
Trombositopeni dapat ditemukan pada 90% penderita pneumonia dengan empiema. Secara
umum hasil pemeriksaan darah perifer tidak dapat membedakan antara infeksi virus dan
infeksi bakteri secara pasti.3

2. C – Reactive Protein ( CRP ) dan LED


CRP adalah suatu protein fase akut yang disintesis oleh hepatosit. Sebagai respon infeksi atau
inflamasi jaringan, produksi CRP secara cepat distimulasi oleh sitokin, terutama IL – 6, IL –
1, dan TNF. Meskipun fungsinya belum diketahui, CRP sangat mungkin berperan dalam
opsonisasi mikroorganisme atau sel yang rusak. Secara klinis CRP digunakan sebagai alat
diagnostik untuk membedakan antara faktor infeksi dan non infeksi, infeksi virus dan bakteri,
atau infeksi bakteri superfisialis dan profunda, dimana kadar CRP biasanya lebih rendah pada
infeksi virus dan infeksi bakteri superfisialis dibandingkan infeksi bakteri profunda.3

3. Uji Serologis
Uji serologis untukj mendeteksi antigen dan antibodi pada infeksi bakteri tipik mempunyai
sensitivitas yang rendah dan secara umum tidak terlalu bermanfaat dalam mendiagnosis
infeksi bakteri atipik.3

4. Pemeriksaan Mikrobiologis
Pemeriksaan mikrobiologis untuk diagnosis pneumonia anak tidak rutin dilakukan kecuali
pada pneumonia berat yang dirawat di RS. Untuk pemeriksaan mikrobiologik, spesimen
dapat berasal dari usap tenggorok, sekret nasofaring, bilasan bronkus, darah, pungsi pleura,
atau aspirasi paru. Pemeriksaan sputum kurang berguna. Diagnosis dikatakan definitif apabila
kuman ditemukan dalam darah, cairan pleura, atau aspirasi paru, kecuali pada masa neonatus,
dimana kejadian bakteremia sangat rendah sehingga kultur darah jarang positif.3
5. Pemeriksaan Rontgen Thoraks
Foto thoraks dengan proyeksi antero – posterior merupakan dasar diagnosis untuk
pneumonia. Foto lateral dilakukan bila diperlukan informasi tambahan, misalnya efusi pleura.
Kelainan foto toraks pada pneumonia tidak selalu berhubungan dengan gambaran klinis.
Kadang – kadang bercak – bercak sudah ditemukan pada gambaran radiologis sebelum
timbul gejala klinis. Akan tetapi, resolusi infiltrat sering memerlukan waktu yang lebih lama
setelah gejala klinis menghilang. Pada pasien dengan pneumonia tanpa komplikasi, ulangan
foto rontgen tidak diperlukan. Ulangan foto rontgen toraks diperlukan bila gejala klinis
menetap, penyakit memburuk, atau untuk tidak lanjut. Secara umum gambaran foto toraks
terdiri dari:
- Pneumonia / infiltrat interstisial: ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular,
peribronchial cuffing, dan hiperaerasi. Biasanya disebabkan oleh virus atau Mycoplasma.
Bila berat dapat terjadi patchy consolidation karena atelektasis
- Infiltrat alveolus : merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram. Konsolidasi
dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris, atau terlihat sebagai lesi
tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk sferis, berbatas yang tidak terlalu tegas,
dan menyerupai lesi tumor paru, dikenal sebagai round pneumonia. Biasanya disebabkan
oleh bakteri pneumokokus atau bakteri lain.
- Bronkopneumonia : ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru, berupa
bercak – bercak infiltrat halus yang dapat meluas hingga daerah perifer paru, disertai
dengan peningkatan corakan peribronkial3

Gambaran foto rontgen toraks pada anak meliputi infiltrat ringan pada satu paru hingga
konsolidasi luas pada kedua paru. Pada suatu penelitian ditemukan pneumonia pada anak
terbanyak di paru kanan, terutama lobus atas. Bila ditemukan di lobus kiri, dan terbanyak di
lobus bawah, maka hal tersebut merupakan prediktor perjalanan penyakit yang lebih berat
dengan risiko terjadinya pleuritis lebih meningkat.3

Gambaran foto toraks pada pneumonia dapat membantu mengarahkan kecenderungan


etiologi pneumonia. Penebalan peribronkial, infiltrat interstisial merata, dan hiperinflasi
cenderung terlihat pada pneumonia virus. Infiltrat alveolar berupa konsolidasi segmen atau
lobar, bronkopneumonia, dan air bronchogram sangat mungkin disebabkan oleh bakteri. Pada
pneumonia stafilokokus sering ditemukan abses – abses kecil dan pneumoatokel dengan
berbagai ukuran.3

Gambaran foto toraks pada pneumonia Mikoplasma sangat bervariasi. Pada beberapa kasus
terlihat sangat mirip dengan gambaran foto rontgen toraks pneumonia virus. Selain itu, dapat
juga ditemukan gambaran bronkopneumonia terutama di lobus bawah, inflitrat interstisial
retikulonodular bilateral, dan yang jarang adalah konsolidasi segmen atau subsegmen.
Biasanya gambaran foto toraks yang jauh lebih berat dibandingkan gejala klinis. Meskipun
tidak terdapat gambaran foto toraks yang khas, tetapi bila ditemukan gambaran
retikulonodular fokal pada satu lobus, hal ini cenderung disebabkan oleh infeksi Mikoplasma.
Demikian pula bila ditemukan gambaran perkabutan atau ground – glass consolidation, serta
transient pseudoconsolidation.3

2.8 DIAGNOSIS
Diagnosis etiologik berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis dan / atau serologis merupakan
dasar yang optimal. Akan tetapi, penemunan bakteri penyebab tidak selalu mudah karena
memerlukan laboratorium menunjang yang memadai. Oleh karena itu pneumonia pada anak
didiagnosis berdasarkan gambaran klinis yang menunjukkan keterlibatan sistem respiratori,
serta gambaran radiologis. Prediktor paling kuat adanya pneumonia adalah demam, sianosis,
dan lebih dari satu gejala respiratori sebagai berikut: takipnea, batuk, napas cuping hidung,
retraksi, ronki, dan suara napas melemah.3

WHO mengembangkan pedoman diagnosis sederhana yang ditujukan untuk Pelayanan


Kesehatan Primer dan sebagai pendidikan kesehatan untuk masyarakat di negara
berkembang. Gejala klinis sederhana tersebut meliputi: napas cepat, sesak napas, dan
berbagai tanda bahaya agar anak segera dirujuk ke rumah sakit. Napas cepat dinilai dengan
menghitung napas anak dalam 1 menit penuh dalam keadaan tenang. Sesak napas dinilai
dengan melihat adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam ketika menarik napas
(retraksi epigastrium). Tanda bahaya pada anak berusia 2 bulan – 5 tahun adalah tidak dapat
minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, dan gizi buruk, sedangkan tanda bahaya pada
anak berusia dibawah 2 bulan adalah malas minum, kejang, kesadaran menurun, stridor,
mengi, dan demam/badan terasa dingin. Berikut adalah klasifikasi pneumonia berdasarkan
pedoman tersebut:
Tabel 2. Diagnosis Pneumonia Untuk Bayi dan Anak Usia 2 Bulan – 5 Tahun.3
Bayi dan anak berusia 2 bulan – 5 tahun
Pneumonia berat
 bila ada sesak napas
 harus dirawat dan diberikan antibiotik
Pneumonia
 bila tidak ada sesak napas
 ada napas cepat dengan laju napas
 - > 50 x/menit untuk anak usia 2 bulan – 1 tahun
 - > 40 x/menit untuk anak > 1 – 5 tahun
 tidak perlu dirawat, diberikan antibiotik oral
Bukan pneumonia
 bila tidak ada napas cepat dan sesak napas tidak perlu dirawat dan
tidak perlu antibiotik, hanya diberikan pengobatan simptomatis
seperti penurun panas

Pada bayi berusia di bawah 2 bulan, perjalanan penyakitnya lebih bervariasi, mudah terjadi
komplikasi, dan sering menyebabkan kematian. Klasifikasi pneumonia pada kelompok usia
ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Diagnosis Pneumonia Untuk Bayi Di Bawah 2 Bulan.3


Bayi di bawah 2 bulan
Pneumonia
 bila ada napas cepat ( > 60 x/menit ) atau sesak napas harus
dirawat dan diberikan antibiotik
Bukan pneumonia
 bila tidak ada napas cepat dan sesak napas tidak perlu dirawat dan
tidak perlu antibiotik, hanya diberikan pengobatan simptomatis
seperti penurun panas

Namun, menurut Pelayanan Kesehatan Medik Rumah Sakit ( WHO ), pneumonia dapat
dibagi menjadi pneumonia ringan dan berat:
1. Pneumonia ringan: Disamping batuk atau kesulitan napas, hanya terdapat napas cepat saja,
dimana napas cepat adalah:
- pada usia 2 bulan – 11 bulan : ≥ 50 kali / menit
- pada usia 1 tahun – 5 tahun : ≥ 40 kali / menit
2. Pneumonia berat: Batuk dan atau kesulitan bernapas ditambah minimal salah satu hal berikut
ini:
- kepala terangguk – angguk
- pernapasan cuping hidung
- tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
- foto dada menunjukkan gambaran pneumonia (infiltrat luas, konsolidasi, dll.) Selain itu
bisa didapatkan pula tanda berikut ini:
Napas cepat : anak umur < 2 bulan : ≥ 60 kali / menit
anak umur 2 – 11 bulan : ≥ 50 kali / menit
anak umur 1 – 5 tahun : ≥ 40 kali / menit
anak umur ≥ 5 tahun : ≥ 30 kali / menit
Suara merintih ( grunting ) pada bayi muda
Pada auskultasi terdengar :
- crackles ( ronki )
- suara pernapasan menurun
- suara pernapasan bronkial
Dalam keadaan yang sangat berat dapat dijumpai :
- tidak dapat menyusu atau minum/makan, atau memuntahkan semuanya
- kejang, letargi, atau tidak sadar
- sianosis
- distress pernapasan berat5

2.9 DIAGNOSIS BANDING


1. Bronkiolitis
Diawali infeksi saluran nafas bagian atas, subfebris, sesak nafas, nafas cuping hidung,
retraksi intercostal dan suprasternal, terdengar wheezing, ronki nyaring halus pada auskultasi.
Gambaran laboratorium dalam batas normal, kimia darah menggambarkan asidosis
respiratotik ataupun metabolik.5
2. Aspirasi benda asing
Ada riwayat tersedak, stridor atau distress pernapasan tiba – tiba, wheezing atau suara
pernapasan yang menurun yang bersifat fokal.5

3. Tuberkulosis
Pada TB, terdapat kontak dengan pasien TB dewasa, uji tuberkulin positif ( > 10 mm atau
pada keadaan imunosupresi > 5 mm ), demam 2 minggu atau lebih, batuk 3 minggu atau
lebih, pertumbuhan buruk/kurus atau berat badan menurun, pembengkakan kelenjar limfe
leher, aksila, inguinal yang spesifik, pembengkakan tulang/sendi punggung, panggulm lutut,
dan falang, dan dapat disertai nafsu makan menurun dan malaise yang dapat ditegakkan
melalui skor TB.5

4. Atelektasis
Adalah pengembangan tidak sempurna atau kempisnya bagian paru yang seharusnya
mengandung udara. Dispnoe dengan pola pernafasan cepat dan dangkal, takikardia, sianosis.
Perkusi mungkin batas jantung dan mediastinum akan bergeser dan letak diafragma mungkin
meninggi.5

2.10 TATALAKSANA
Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap. Indikasi perawatan terutama
berdasarkan berat – ringannya penyakit, misalnya toksis, distres pernapasan, tidak mau
makan/minum, atau bila ada penyakit dasar yang lain, komplikasi, dan terutama
mempertimbangkan usia pasien. Neonatus dan bayi kecil dengan kemungkinan klinis
pneumonia harus dirawat inap. Dasar tatalaksana pada pneumonia rawat inap adalah
pengobatan kasual dengan antibiotik yang sesuai, serta tindakan suportif. Pengobatan suportif
meliputi pemberian cairan intravena, terapi oksigen, koreksi terhadap gangguan
keseimbangan asm – basa dan elektrolit, dan gula darah. Untuk nyeri dan demam dapat
diberikan analgetik/antipiretik. Penggunaan antibiotik yang tepat merupakan kunci utama
keberhasilan pengobatan. Terapi antibiotik harus segera diberikan pada anak dengan
pneumonia yang diduga disebabkan oleh bakteri. Karena identifikasi dini mikroorganisme
tidak umum dilakukan, maka pemilihan antibiotik dipilih berdasarkan pengalaman empiris
yang didasarkan pada kemungkinan etiologi penyebab dengan mempertimbangkan usia dan
keadaan klinis pasien serta faktor epidemiologis. 1,3,5
1. Pneumonia Rawat Jalan
Pada pneumonia ringan rawat jalan dapat diberikan antibiotik lini pertama secara oral,
misalnya amoksisilin 25 mg/kgBB atau kotrimoksazol 4 mg/kgBB TMP dan 20 mg/kgBB
sulfametoksazol dua kali sehari selama 3 hari. Makrolid, baik eritromisin maupun makrolid
baru, dapat digunakan sebagai terapi alternatif beta–laktam untuk pengobatan inisial
pneumonia, dengan pertimbangan adanya aktivitas ganda terhadap S. pneumoniae dan bakteri
atipik.

Setelah itu, anjurkan ibu untuk memberi makan anak. Nasihati ibu untuk membawa kembali
anaknya setelah 2 hari atau lebih kalau keadaan anak memburuk atau tidak dapat minum atau
menyusui. Bila pernapasannya membaik (melambat), demam berkurang, nafsu makan
membaik, lanjutkan pengobatan sampai selesai 3 hari. Jika frekuensi pernapasan, demam, dan
nafsu makan tidak ada perubahan, ganti ke antibiotik lini kedua dan nasihati ibu untuk
kembali 2 hari lagi. Jika ada tanda pneumonia berat, rawat anak di rumah sakit dan tangani
sesuai pedoman pneumonia berat.

2. Pneumonia Rawat Inap Terapi Antibiotik


Pemilihan antibiotik lini pertama dapat menggunakan golongan beta–laktam atau
kloramfenikol. Pada pneumonia yang tidak responsif terhadap beta–laktam dan
kloramfenikol, dapat diberikan antibiotik seperti gentamisin, amikasin, atau sefalosporin,
sesuai dengan petunjuk etiologi yang ditemukan. Antibiotik diteruskan selama 7 – 10 hari
pada pasien dengan pneumonia tanpa komplikasi. Pada neonatus dan bayi kecil, terapi awal
antibiotik intravena harus dimulai sesegera mungkin. Oleh karena pada neonatus dan bayi
kecil sering terjadi sepsis dan meningitis, antibiotik yang direkomendasikan adalah antibiotik
spektrum luas seperti kombinasi betalaktam / klavulanat dengan aminoglikosid, atau
sefalosporin generasi ketiga.

WHO menganjurkan pemberian ampisilin/amoksisilin 25 – 50 mg/kgBB/kali IV atau IM


setiap 6 jam yang dipantau dalam 24 jam selama 72 jam pertama. Bila anak memberi respons
yang baik maka diberikan selama 5 hari. Selanjutnya terapi dilanjutkan di rumah atau di
rumah sakit dengan amoksisilin oral 15 mg/kgBB/kali tiga kali sehari untuk 5 hari
berikutnya.
Pada balita dan anak yang lebih besar, antibiotik yang direkomendasikan adalah antibiotik
beta–laktam dengan/tanpa klavulanat; pada kasus yang lebih berat diberikan beta–
laktam/klavulanat dikombinasikan dengan makrolid baru intravena, atau sefalosporin
generasi ketiga. Bila pasien sudah tidak demam atau keadaan sudah stabil, antibiotik diganti
dengan antibiotik oral dan berobat jalan selama 10 hari.

Bila keadaan klinis memburuk sebelum 48 jam atau terdapat keadaan yang berat maka
ditambahkan Kloramfenikol 25 mg/kgBB/kali IV atau IM setiap 8 jam. Bila pasien datang
dengan keadaan klinis yang berat segera berikan oksigen dan pengobatan kombinasi
Ampisilin–Kloramfenikol atau Ampisilin–Gentamisin. Sebagai alternatif, beri Seftriakson
80–100 mg/kgBB IV atau IM sekali sehari. Bila tidak membaik dalan 48 jam, maka bila
mungkin foto toraks.

Apabila diduga pneumonia stafilokokal, ganti antibiotik dengan Gentamisin 7,5 mg/kgBB IM
sekali sehari dan Kloksasilin 50 mg/kgBB IM atau IV setiap 6 jam atau Klindamisin 15
mg/kgBB/hari hingga 3 kali pemberian. Bila keadaan anak membaik, lanjutkan Kloksasilin
atau Diklokasilin secara oral 4 kali sehari sampai secara keseluruhan mencapai 3 minggu atau
Klindamisin oral selama 2 minggu.
Terapi Oksigen
Beri oksigen pada semua anak dengan pneumonia berat. Bila tersedia pulse oxymeter,
gunakan sebagai panduan untuk terapi oksigen (berikan pada anak dengan saturasi < 90%,
anak yang tidak stabil. Hentikan pemberian oksigen bila saturasi tetap stabil > 90%.
Pemberian oksigen setelah saat ini tidak berguna.

Terapi Penunjang
Bila anak disetai demam yang tampaknya menyebabkan distres, beri antipiretik seperti
parasetamol. Bila ditemukaan adanya wheezing, beri bronkodilator kerja cepat. Bila terdapat
sekret kental di tenggorokan yang tidak dapat dikeluarkan oleh anak, hilangkan dengan alat
penghisap secara perlahan. Pastikan anak mendapatkan kebutuhan cairan runatan yang sesuai,
tetapi hati – hati terhadap kelebihan cairan/overhidrasi. Anjurkan pemberian ASI dan cairan
oral. Jika anak tidak dapat minum, pasang pipa nasogastrik dan berikan cairan rumatan dalam
jumlah sedikit tapi sering. Jika asupan cairan oral mencukupi, jangan menggunakan pipa
nasogastrik untuk meningkatkan asupan, karena akan meningkatkan risiko pneumonia
aspirasi. Jika oksigen diberikan bersamaan dengan cairan nasogastrik, pasang keduanya pada
lubang hidung yang sama.

Nutrisi
Pada anak dengan distres pernapasan berat, pemberian makanan per oral harus dihindari.
Makanan dapat diberikan lewat nasogastric tube (NGT) atau intravena. Tetapi harus diingat
bahwa pemasangan NGT dapat menekan pernapasan, khususnya pada bayi/anak dengan
ukuran lubang hidung kecil. Jika memang dibutuhkan, sebaiknya menggunakan ukuran yang
terkecil. Perlu dilakukan pemantauan balans cairan ketat agar anak tidak mengalami
overhidrasi karena pada pneumonia berat terjadi peningkatan sekresi hormon antidiuretik.6

Kriteria Pulang
• Gejala dan tanda pneumonia menghilang
• Asupan per oral adekuat
• Pemberian antibiotik dapat diteruskan di rumah (per oral)
• Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan rencana control
• Kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan di rumah.6

2.11 KOMPLIKASI
Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis, perikarditis purulenta,
pnemothoraks, atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis purulenta. Empiema torasis
merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia bakteri. Kecurigaan ke arah
empiema apabila terdapat demam persisten, ditemukan tanda klinis dan gambaran foto dada
yang mendukung (bila masif terdapat tanda pendorongan organ intratorakal, pekak pada
perkusi, gambaran foto dada menunjukkan adanya cairan pada satu atau kedua sisi dada).
Efusi pleura, abses paru dapat juga terjadi.3

Ilten F dkk. melaporkan mengenai komplikasi miokarditis (tekanan sistolik ventrikel kanan
meningkat, kreatinin kinase meningkat, dan gagal jantung) yang cukup tinggi pada seri
pneumonia anak berusia 2-24 bulan. Oleh karena miokarditis merupakan keadaan yang fatal,
maka dianjurkan untuk melakukan deteksi dengan teknik noninvasif seperti EKG,
ekokardiografi, dan pemeriksaan enzim.3
2.12 PENCEGAHAN
Penyakit bronkopneumonia dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan penderita atau
mengobati secara dini penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya
bronkopneumonia ini. Selain itu hal-hal yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan
daya tahan tubuh kita terhadap berbagai penyakit saluran nafas seperti : cara hidup sehat,
makan makanan bergizi dan teratur, menjaga kebersihan, beristirahat yang cukup, rajin
berolahraga, dll. Melakukan vaksinasi juga diharapkan dapat mengurangi kemungkinan
terinfeksi antara lain: vaksinasi Pneumokokus, vaksinasi H. influenza, vaksinasi Varisela yang
dianjurkan pada anak dengan daya tahan tubuh rendah, dimana vaksin influenza yang
diberikan pada anak sebelum anak sakit. Efektivitas vaksin pneumokok adalah sebesar 70%
dan untuk H. influenzae sebesar 95%. Infeksi H. influenzae dapat dicegah dengan rifampicin
bagi kontak di rumah tangga atau tempat penitipan anak.5

2.13 PROGNOSIS
Pneumonia biasanya sembuh total dengan mortalitas kurang dari 1 %. Mortalitas dapat lebih
tinggi didapatkan pada anak-anak dengan keadaan malnutrisi energi–protein dan datang
terlambat untuk pengobatan. Interaksi sinergis antara malnutrisi dan infeksi sudah lama
diketahui. Infeksi berat dapat memperjelek keadaan melalui asupan makanan dan
peningkatan hilangnya zat-zat gizi esensial tubuh. Sebaliknya malnutrisi ringan memberikan
pengaruh negatif pada daya tahan tubuh terhadap infeksi. Kedua–duanya bekerja sinergis,
maka malnutrisi bersama–sama dengan infeksi memberi dampak negatif yang lebih besar
dibandingkan dengan dampak oleh faktor infeksi dan malnutrisi apabila berdiri sendiri.
Pneumonia biasanya tidak mempengaruhi tumbuh kembang anak.5
BAB III

ANALISA KASUS

Diagnosa kerja pada pasien ini adalah Bronkopneumonia. Hal ini ditegakkan berdasarkan
gejala klinik :
- Adanya retraksi sela iga
- Adanya pernapasan cuping hidung
- Adanya pernapasan yang cepat
- Biasanya didahului infeksi traktus respiratorius bagian atas selama beberapa hari
- Demam
- Anak dispneu
- Pada auskultasi ditemukan ronkhi basah halus nyaring
- Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan adanya leukositosis

Anak laki-laki berusia 3 bulan dengan berat badan 7,45 kg, sesak sejak 2 minggu SMRS terus
menerus disertai batuk berdahak. Dahak berwarna putih tidak bercampur darah. Batuk
dirasakan hilang timbul. 3 hari SMRS keluhan pasien memberat, sesak terlihat terus menerus,
tidak disertai suara mengi atau mengorok dan juga disertai demam tinggi. Pasien kemudian
berobat ke bidan, diberikan obat penurun demam, keluhan demam membaik, namun sesak
dan batuk bertambah parah sehingga ibu pasien kemudian membawa pasien ke RS. Ibu
pasien selain itu mengeluhkan nafsu makan (menyusu) anaknya menurun. Riwayat muntah
dan penurunan kesadaran selama demam disangkal. Riwayat BAK - BAB normal. Riwayat
tersedak benda asing disangkal. Riwayat kontak dengan pasien TB disangkal. Riwayat kejang
sebelumnya disangkal. Riwayat berpergian ke luar kota disangkal. Riwayat demam hingga
menggigil disangkal. Riwayat gusi berdarah dan mimisan disangkal. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan kesadaran komposmentis, FN: 145x/menit, RR: 52x/menit, Suhu : 37,3ºC, bibir
kering, nafas cuping hidung (+), retraksi sela iga, dan ronkhi +/+. Pada pemeriksaan
laboratorium didapatkan penurunan hemoglobin, penurunan hematocrit, leukositosis dan
trombositosis.

- Penderita datang dengan keluhan utama sesak nafas. Dari keluhan ini dapat dipikirkan
adanya kelainan pada paru-paru, jantung. Dari alloanamnesis tidak didapatkan keluhan
BAK sehingga kemungkinan kelainan metabolik dapat disingkirkan. Dari pemeriksaan
fisik tidak didapatkan penurunan kesadaran sehingga kelainan di sentral dapat
disingkirkan, selain itu dari hasil pemeriksaan pada jantung didapatkan dalam batas
normal sehingga kelainan pada jantung dapat disingkirkan. Oleh karena itu dapat
dipastikan merupakan kelainan pada paru-paru.

- Dari alloanamnesis didapatkan pasien mengalami batuk serta demam, sehingga dapat
dipikirkan adanya suatu penyakit infeksi. Selain itu, di dapatkan ronki basah halus
nyaring yang khas untuk gejala bronkopneumonia. Leukositosis terjadi kemungkinan
karena infeksi bakteri.

- Pemberian O2 1-2 L/menit, O2 diberikan untuk mengatasi hipoksemia, menurunkan usaha


untuk bernapas, dan mengurangi kerja miokardium. Oksigen diberikan pada anak yang
menunjukkan gejala adanya tarikan dinding dada (retraksi) bagian bawah yang dalam,
SpO2 < 90%, frekuensi nafas 60x/menit atau lebih. Pemberian O 2 melalui nasal kanul
yaitu 1-2 L/menit atau 0,5 L /menit untuk bayi muda. Pemberian O 2 melalui kanul nasal
yaitu 16 L/menit untuk memberikan konsentrasi O2 24-44%. Pemberian O2 melalui
sungkup biasa yaitu 5-8 L/menit untuk memberikan konsentrasi oksigen 40-60%. Serta
pemberian O2 melalui sungkup reservoir yaitu 6-10 L/menit untk memberikan konsentrasi
oksigen 60-99%.

- Pemberian IVFD KAEN 1B 30 tetes permenit, KAEN 1B terdiri dari kandungan


dekstrosa 37,5 g/dL, Na 38,5 mEq/L, Cl 88,5 mEq/L, Ca 0mEq/L, K 0mEq/L, asetat
0mEq/L, dan total Osm 285 mOsm/L.
BB=7,45 kg
Kebutuhan cairan : 100 ml/kg BB x 7,45 kg = 745ml/hari
Mikrodrip 1ml=60 tetes
745ml/hari
745ml x 60 tetes = 31 tetes/menit
24jam x 60 menit
Untuk memelihara keseimbangan cairan tubuh dan nutrisi, diberikan jika konsentrasi
Kalium tubuh belum diketahui.
- Cefotaxime adalah antibiotik untuk bakteri gram positif dan negatif yang resisten
terhadap antibiotik golongan lain. Diberikan minimal 5 hari, dosisnya untuk bayi 1 bulan
- 1 tahun dengan berat badan kurang dari 50 kg 50-180mg/kgBB/hari secara intravena.
Dosis Terapi : 7,45kg x (50-180mg) = 372,5-1.341 mg/hari
Pemberian terapi : 2 x 400mg sehari (memenuhi dosis terapi)

- Amikacin adalah antibiotik gram negatif golongan Aminoglikosida dengan dosis inisial
untuk usia 4 minggu - 12 tahun adalah 15-20 mg/kgBB terbagi 2 dosis perhari.
Dosis Terapi : 7,45kg x (15 – 20 mg) = 111,75 - 149 mg/hari
Pemberian terapi : 2 x 40mg sehari (tidak memenuhi dosis terapi minimal)

- Pemberian Paracetamol diberikan selama pasien mengalami demam, dengan dosis 10-
15mg/kgBB/kali dapat diulang 4-6 jam.
Dosis Terapi : 7,45kg x (10-15mg) = 74,5 – 111,75 mg / kali pemberian
Pemberian terapi : Paracetamol syr (120mg,5mL) 3 x ½ Cth

Prognosis pada kasus ini baik, umumnya penderita bahkan dapat sembuh spontan dalam 2-3
minggu. Apalagi jika dilihat berdasarkan gambaran klinis selama perawatan pasien sudah
sangat membaik. Keluhan juga telah berkurang secara berangsur-angsur. Hal ini ditandai
dengan batuk yang sudah mulai menghilang, demikian pula dengan retraksi serta pernapasan
cuping hidung sudah menghilang. Prognosis penderita ini adalah dubia ad bonam untuk quo
ad vitam dan functionam dan dubia ad malam untuk quo ad sanationam karena pada pasien
ini telah dilakukan pengobatan yang adekuat serta belum ada tanda-tanda yang mengarah
pada komplikasi, namun berisiko terkena kembali karena faktor eksternal lingkungan yang
kurang mendukung.
DAFTAR PUSTAKA

1. Pusponegoro HD, Hadinegoro SRS, Firmanda D, Tridjaja B, Pudjadi AH, Kosim MS, et. al.
Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. 1st ed. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2004. Hal.
351-4.
2. Garna H, Nataprawira HM. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Edisi ke-5.
Bandung: Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Padjajaran RSUP Dr. Hasan Sadikin. 2014. Hal. 928-46.
3. Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB. Buku Ajar Respirologi Anak. Ed. 1. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI. 2010. Hal. 350-65.
4. Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Marcdante KJ. Nelson Ilmu Kesehatan Anak
Esensial. Ed. 6. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2014. Hal. 527-34.
5. Tim Adaptasi Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit: Pedoman
Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama Di Kabupaten/Kota. Jakarta: World Health
Organization. 2009. Hal. 83 – 113
6. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED. 2010.
Pneumonia dalam Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: IDAI.
Hal. 250-55.