Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Moluskum kontagiosum adalah infeksi virus DNA genus Molluscipox. Pada individu
sehat dapat sembuh spontan atau swasirna setelah beberapa bulan atau menetap sampai 2
bulan atau lebih.1
Penyakit ini terutama menyerang anak, terkadang orang dewasa dan pasien dengan
imunokompremais. Penyakit ini digolongkan dalam penyakit infeksi menular seksual (IMS)
jika mengenai orang dewasa. Secara klinis perlu dibedakan dengan herpes simpleks fase
awal. Transmisinya dapat melalui kontak kulit langsung, autoinokulasi atau melalui benda
yang terkontaminasi, misalnya handuk, baju, kolam renang dan mainan.1
Penyakit ini tidak memerlukan terapi namun dapat diberikan intervensi untuk mengurangi
autoinokulasi dan memutus rantai penularan. Berbagai jenis terapi topikal telah digunakan
termasuk radiasi dan tindakan bedah kulit. Sebagian terapi meninggalkan bekas
hiperpigmentasi pasca inflamasi.1 Penyakit ini termasuk dalam 10 besar kelompok penyakit
kulit. Laporan kasus ini akan menganalisis serta menjelaskan mengenai moluskum
kontagiosum.2

1
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : An. S
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 1 tahun 1 bulan
Berat badan saat ini : 11,1 kg
Alamat : Pondok Mejo RT 13 Kec. Mestong
Suku bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Kunjungan ke poli : Tgl. 17 Oktober 2016
Tanggal pengambilan CRS : 17 Oktober 2016

2.2 Anamnesis (Tanggal 17 Oktober 2016)


Keluhan Utama
Adanya bintil-bintil di wajah sejak 5 bulan sebelum datang ke rumah sakit.
Riwayat Penyakit Sekarang
Ibu pasien mengeluh timbul bintil-bintil di wajah sejak 5 bulan sebelum datang ke
rumah sakit. Bintil-bintil tidak disertai dengan gatal dan nyeri.
Bintil-bintil tersebut awalnya didahului dengan kemerahan di wajah dan badan
sekitar 6 bulan sebelum dibawa ke rumah sakit. Saat itu pasien tidak dibawa ke pusat
kesehatan. Sekitar 1 bulan kemudian, kemerahan tampak menimbul dan pecah namun
bintil-bintil di wajah tidak ikut pecah. Pasien terkadang menggaruk bintil-bintil
tersebut dan keluar massa yang berwarna putih seperti butiran nasi. Bintil yang baru
dirasakan timbul lagi. Bintil dirasakan tidak dipengaruhi oleh makanan, obat atau
pakaian. Keluhan juga tidak diawali dengan demam.
Riwayat Penyakit Dahulu
Campak, DBD, Malaria (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluarga yang menderita keluhan yang sama disangkal.
Riwayat alergi tidak ada
Riwayat Pengobatan
Tidak ada

2
2.3 Pemeriksaan Fisik
Tanda Vital
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : Tidak diperiksa
Nadi : Tidak diperiksa
Pernafasan : tidak diperiksa
Suhu : Afebris

Kepala
 Bentuk : Normochepal
 Ekspresi : Tampak sakit ringan
 Simetris : Simetris
 Deformitas : Tidak ada
Mata
 Exophtalmus/enophtalmus : Tidak ada
 Konjungtiva : Anemis (-)
 Sklera : Ikterik (-)
Hidung
 Bentuk : Normal
 Nafas cuping hidung : Tidak ada
 Sekret : Tidak ada
Telinga
 Bentuk : Normal
 Sekret : Tidak ada
Mulut
 Bentuk : Normal
 Bibir : Tidak ada kelainan
Leher
Tidak ada kelainan
Jantung : Tidak diperiksa
Paru : Tidak diperiksa
Abdomen : Tidak diperiksa

3
Ekstremitas Atas
Akral hangat, CRT<2 detik
Ekstremitas Bawah
Akral hangat, CRT<2 detik

2.4 Status Dermatologis

Regio: Nasal Regio: - Palpebra superior sinistra


Efloresensi:Tampak - Buccal sinistra
papul, bentuk bulat, Efloresensi: Tampak papul, bentuk
ukuran miliar, jumlah bulat, ukuran miliar, jumlah
soliter, batas tegas, warna multiple, batas tegas, warna
kecoklatan mengkilat, tepi kecoklatan mengkilat, tepi tegas,
tegas, distribusi regional, distribusi regional, permukaan
permukaan licin dan bulat licin dan bulat seperti kubah,
seperti kubah, konsistensi konsistensi kenyal, sekitar lesi
kenyal, sekitar lesi tidak tidak ada kelainan, nyeri (-).
ada kelainan, nyeri (-) Konfigurasi diskret

2.5 Pemeriksaan Penunjang


Pada kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.
2.6 Diagnosis Kerja
Moluskum Kontagiosum
2.7 Diagnosis Banding
 Veruka planus
 Granuloma piogenik
2.8 Pemeriksaan Anjuran
Tidak dilakukan
2.9 Penatalaksanan
 Umum
- Menjelaskan penyakit yang diderita pasien kepada keluarga pasien
Penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh salah satu virus dan dapat
swasirna setelah beberapa bulan. Namun, keluhan yang dialami dapat menyebar ke

4
bagian kulit yang lain serta menular sehingga pasien perlu untuk diberikan
pengobatan.
- Menjelaskan tatalaksana penyakit kepada keluarga pasien
Prinsip tatalaksana penyakit ini adalah mengeluarkan isi dari benjolan tersebut
dengan menggunakan alat seperti jarum suntik atau bedah beku. Hal ini tidak dapat
dilakukan pada pasien ini dikarenakan ketidakmampuan pasien untuk menerima
intervensi. Sehingga, pilihan pengobatan pada pasien ini adalah obat topikal.
- Menjelaskan cara penggunaan obat topikal dan efek obat yang akan terjadi
Obat topikal dioleskan dengan hati-hati di lesi agar tidak mengenai kulit yang
sehat. Obat topikal diaplikasikan ke lesi sekali sehari dengan menggunakan kapas
lidi secukupnya. Pengobatan dilakukan selama 1 bulan dan kontrol ulang setiap 7
hari. Efek yang timbul adalah pengelupasan kulit, bengkak dan rasa terbakar atau
gatal setelah aplikasi. Lesi akan tampak inflamasi (memerah, panas dan nyeri)
dalam 1-5 minggu setelah aplikasi namun efek tersebut biasanya ringan dan awal
terjadinya proses penyembuhan.
-
Menjelaskan kontrol ulang yang harus dipatuhi oleh keluarga pasien
Setelah 1 minggu pengobatan, keluarga pasien harus membawa pasien untuk
kontrol ulang. Kontrol ulang bertujuan untuk melihat perkembangan pengobatan
berupa respon kulit terhadap aplikasi obat topikal, lesi, efek samping yang muncul
dari pengobatan dan adakah relaps atau tidak.
 Khusus
Obat topikal berupa KOH 10% selama 1 bulan dan kontrol ulang setiap 7 hari.
2.10 Prognosis :
- Quo ad vitam : Bonam
- Quo ad functionam : Bonam
- Quo ad sanationam : Bonam

5
BAB III
ANALISIS KASUS
Kasus Teori
An. S, laki-laki, berumur 1 tahun 1 Keluhan bintil-bintil yang muncul di wajah dan
bulan (berat badan 11,1 kg) datang tidak disertai gatal dan nyeri pada anak berumur 1
bersama ibu dengan keluhan muncul tahun ini telah berlangsung secara kronis yaitu 5
bintil-bintil di wajah sejak 5 bulan bulan.
sebelum datang ke rumah sakit. Banyak kemungkinan penyebab dari keluhan ini
Bintil-bintil tidak disertai dengan gatal seperti virus ataupun bakteri. Keluhan yang tidak
dan nyeri. disertai dengan gatal dan nyeri selama 5 bulan
cenderung disebabkan oleh virus. Kelainan kulit
berupa bintil-bintil yang disebabkan oleh virus dan
cenderung dapat mengenai anak-anak adalah
moluskum kontagiosum, fase awal dari herpes
zooster, veruka vulgaris, veruka plana dan
granuloma pyogeni.1,2,3,4
Bintil-bintil didahului dengan Adanya riwayat keluar massa seperti butiran nasi
kemerahan sekitar 6 bulan di wajah jika digaruk memberikan gambaran khas dari
dan badan, kemudian tampak penyakit yang disebabkan virus yaitu moluskum
menimbul dan pecah namun bintil- kontagiosum. Moluskum kontagiosum terdiri atas
bintil di wajah tidak ikut pecah. Jika papul berbentuk bulat seperti kubah dan berisi massa
bintil digaruk maka akan keluar massa yang mengandung badan moluskum
yang berwarna putih seperti butiran (intracytoplasmic inclusion body). Badan moluskum
nasi. Keluhan juga tidak diawali tersebut mengandung partikel virus. Badan
dengan demam. moluskum tersebut dinamakan Henderson-Paterson
bodies.1 Sehingga penyebarannya dapat terjadi seara
autoinokulasi.1,2,4
Adanya massa berupa butiran nasi ini juga
menyingkirkan beberapa diagnosis seperti
granuloma pyogeni yang akan mudah berdarah dan
veruka vulgaris yang memiliki bentuk benjolan
padat dan tidak berisi.1

6
Riwayat keluarga dan orang sekitar Moluskum kontagiosum merupakan penyakit
yang menderita keluhan yang sama yang disebabkan virus DNA dengan genus
disangkal. Molluscipox dengan masa inkubasi 2 minggu hingga
Riwayat alergi tidak ada. 6 bulan dengan rata-rata 2- 8 minggu. Virus
moluskum memiliki 4 tipe tetapi secara klinis
identik. Virus moluskum genotipe 1 dapat
menyerang individu yang imunokompeten.1,2,5
Virus moluskum kontagiosum merupakan
patogen pada manusia yang menyebabkan lesi kulit
berproliferasi secara khusus.5
Virus ini ditularkan pada orang-orang yang tidak
punya imunitas terhadap virus spesifik.6 Transmisi
dari penyakit ini dapat melalui kontak kulit
langsung, autoinokulasi misalnya handuk, baju,
kolam renang dan mainan.1,2,4 Kolam renang
merupakan vektor transmisi yang umum terjadinya
penularan virus tersebut. Atopi dan integritas kulit
yang kurang baik meningkatkan resiko terinfeksi.5
Autoinokulasi nyata terlihat pada mollusca yang
berkumpul di satu tempat.7
Pemeriksaan fisik menunjukkan Diagnosis dermatologi biasanya didasarkan pada
dalam batas normal. Pemeriksaan jenis lesi, konfigurasi dan distribusi lesi.4
dermatologi di regio palpebra superior Efloresensi pada kelainan kulit pasien ini
sinistra, buccal sinistra dan nasal menunjukkan kelainan khas yang ditunjukkan oleh
menunjukkan adanya papul, bentuk moluskum kontagiosum. Lokasi penyakit ini adalah
bulat, ukuran miliar, jumlah multiple, didaerah wajah, leher, ketiak, badan dan ekstremitas
batas tegas, warna kecoklatan (jarang di telapak tangan dan kaki). Sedangkan pada
mengkilat, tepi tegas, distribusi orang dewasa di daerah pubis dan genitalia
regional, permukaan licin dan bulat eksterna.1
seperti kubah, konsistensi kenyal, Moluskum kontagiosum memiliki klinis berupa
sekitar lesi tidak ada kelainan dan papul berbentuk kubah dengan ukuran 2-5 mm,
tidak nyeri. berkilat mirip lilin dan pada permukaan terdapat
Jenis konfigurasi lesi adalah diskret. lekukan atau delle/umbilikasi yang membedakannya

7
dengan lesi pada veruka yang memiliki lesi papul
pada verukosa dan keratotik, veruka plana dengan
lesi papul datar kecil dan dapat bersatu tersusun
linier pada bekas garukan, granuloma piogenik
dengan lesi papul eritematosa, bertangkai, biasanya
soliter dan mudah berdarah.1,4,6
Papul yang mengeluarkan massa berwarna putih
seperti butiran nasi ketika dipijat merupakan khas
dari moluskum kontagiosum. Kadang-kadang dapat
timbul infeksi sekunder sehingga timbul supurasi.1
Lesi moluskum kontagiosum juga relatif tidak
mengalami inflamasi dan nekrosis. Hal ini yang
membedakan infeksi ini dengan lesi virus poks
lainnya.5
Pada pasien ini perlu diperhatikan bahwa
terdapat papul di palpebra superior dan mendekati
konjungtiva sehingga perlu diwaspadai adanya
infeksi sekunder seperti konjungtivitis.2
Infeksi virus pox lainnya menyebabkan lesi
“pox” yang nekrotik. Adanya ruptur dan diskret dari
sel yang terinfeksi virus moluskum kontagiosum
terjadi didalam umbilikasi lesi.7
Pada kasus ini tidak dilakukan Diagnosis moluskum kontagiosum pada
pemeriksaan penunjang. Dari sebagian besar kasus dapat ditegakkan melalui
anamnesis dan pemeriksaa fisik anamnesis dan pemeriksaan gejala klinis yang
(generalisata dan lokalisata) tampak.5,7 Pemeriksaan histopatologi melalui biopsi
didapatkan suatu diagnosis kerja yaitu dapat membantu pada beberapa kasus dengan gejala
Moluskum Kontagiosum. yang tidak khas. Pada pasien ini sudah terdapat
tanda-tanda yang khas sehingga tidak perlu
dilakukan pemeriksaan histopatologi. Pemeriksaan
penunjang seperti histopatologi hanya digunakan
bila diragukan penyebabnya dan bukan merupakan
pemeriksaan rutin, pemeriksaan dilakukan dengan

8
membuat preparat dari lesi yang diambil secara
biopsi kemudian dilakukan pewarnaan gram dan
diteliti dibawah mikroskop. Hal ini dilakukan untuk
mengkonfirmasi penyebab diagnosis penyakit ini.8
Pemeriksaan histopatologi merupakan
pemeriksaan daerah epidermis lesi dan akan
didapatkan suatu badan moluskum (intracytoplasmic
inclusion body) yang mengandung partikel virus.
Badan inklusi yang dinamakan Henderson-Paterson
bodies merupakan karakteristik dari replikasi virus
poks tersebut.1,5 Badan inklusi tersebut dapat dilihat
juga dengan pulasan Gram, Wright atau Giemsa.1
Virus moluskum kontagiosum tidak dapat
diperbanyak secara in vitro, tetapi mikroskop
elektron dan studi molekuler dapat digunakan
sebagai identifikasi.5
Diagnosis banding pada kasus ini Moluskum kontagiosum memiliki morfologi
yaitu: khas berupa papul bulat seperti kubah, mengkilat
 Veruka planus seperti lilin, keras, terdapat umbilikasi/delle pada
 Granuloma piogenik puncaknya dan biasanya tanpa iflamasi.1
Veruka planus memiliki morfolofi berupa papul
datar kecil yang agak mendimbul dengan permukaan
licin, bentuk bulat atau poligonal dengan ukuran 1-5
mm dan warna seperti kulit atau abu-abu atau
kehitaman. Lokasi tersering dari veruka planus
adalah wajah, punggung tangan dan tungkai bawah
dengan jumlah beberapa sampai ratusan. Lesi dapat
tersusun linier pada bekas garukan. Perbedaannya
dengan moluskum kontagiosum adalah warnya lebih
gelap dan apabila dipijat tidak ada massa berwarna
putih.1,8
Granuloma piogenik biasanya terjadi dibagian
tubuh distal yang rentan terkena trauma. Lesinya

9
berupa papul eritematosa, berkembang cepat hingga
mencapai ukuran 1 cm, bertangkai dan mudah
berdarah serta lesi biasanya bersifat soliter.4
Penatalaksanan pada kasus ini Moluskum kontagiosum merupakan penyakit
berupa umum dan khusus. yang jinak dan dapat sembuh sendiri. Adanya tujuan
Penatalaksanaan umum berupa mencegah penyebaran, komplikasi seperti inflamasi,
penjelasan kepada keluarga pasien pruritus, dermatitis, infeksi bakteri dan jaringan
mengenai penyakit, tatalaksana, cara parut permanen, dampak kosmetik9 dan
penggunaan obat dan efek obat yang konjungtivitis kronis dan pucntuate keratitis pada
akan terjadi. papul moluskum kontagiosum yang berkembang di
Penatalaksanaan khusus yaitu obat kelopak mata10 memberikan alasan pengobatan pada
topikal KOH 10% sekali sehari pasien ini.
selama 1 bulan dan kontrol ulang Pengobatan yang dipilih pada pasien ini adalah
setiap 7 hari. aplikasi KOH 10% sekali sehari selama 1 bulan dan
kontrol ulang setiap 7 hari. Hal ini dikarenakan
KOH merupakan obat topikal yang relatif dapat
ditoleransi oleh anak-anak, mudah didapat dan
harganya murah. KOH juga memiliki kemampuan
membersihkan lesi yang efektif. Konsentrasi yang
digunakan adalah KOH 10% karena memiliki efek
yang optimum dalam mengobati dengan efek
samping yang lebih sedikit.11
Prinsip pengobatan moluskum kontagiosum
adalah mengeluarkan masa yang mengandung badan
moluskum. Untuk mengeluarkan masa tersebut,
terdapat beberapa cara, sehingga penatalaksanaan
moluskum kontagiosum terdiri atas terapi destruktif
(curretage, ekstraktor komedo, jarum suntik,
elektrokauterisasi atau bedah beku dengan CO2 dan
N2 dengan anastesi lokal seperti krim
lidokain/prilokain, kantaridin, fenol, tretinoin,
bichloroceticacid atau trichloroacetic acid, dan
asam salisilat), immunomodulators (imiquimod,

10
cimetidine dan Candida antigen) dan antiviral
(cidofovir).1,7,9,12 Pilihan terapi ini akan didasarkan
pada status imun tubuh, umur pasien, jumlah dan
lokasi lesi. Pasien dengan immunokompeten dapat
diberikan terapi intervensi.11
Terapi pada moluskum kontagiosum adalah:
o Terapi destruktif terdiri atas terapi intervensi
(surgical), keratolitik dan vesicant.
a. Terapi intervensi berupa curretage, ekstraktor
komedo, jarum suntik, elektrokauterisasi atau
bedah beku dengan CO2 dan N2 dengan anastesi
lokal seperti krim lidokain/prilokain. Terapi
intervensi ini tersebut kurang dapat diterima
karena tidak nyaman dan dapat menimbulkan
trauma pada anak.1
o Curretage. Terapi efisien dan memiliki efek
samping yang lebih sedikit dibandingkan
terapi lain.13 Curretage dipertimbangkan
sebagai gold standard dalam pengobatan
moluskum kontagiosum oleh beberapa
9
studi. Terapi ini dapat menimbulkan
jaringan parut dan tidak dapat ditoreansi oleh
anak-anak jika dilakukan berulang. Prosedur
dilakukan dengan menggunakan anestesi
lokal (EMLA cream).13
o Evisceration. Metode yang mudah dengan
eviserasi pusat dengan scalpel, tepi objek
gelas, atau instrumen lain yang dapat
mengeluarkan pusat umbilikasi. Metoden
dapat tidak ditoleransi pada anak-anak.13
o Cryosurgery. Metode yang paling umum,
cepat dan efisien. Penggunaan nitrogen cair
atau bedah beku diaplikasikan pada lesi

11
selama beberapa detik, pengobatan perlu
diulangi dalam interval 2-3 minggu.
Pengobatan dapat menyebabkan
hiperpigmentasi, hipopigmentasi dan
jaringan parut.13
b. Terapi keratolitik berupa KOH, fenol,
tretinoin, bichloroceticacid atau trichloroacetic
acid, dan asam salisilat.1,7
o KOH merupakan basa kuat dan alkali dalam
larutan. KOH bersifat korosif dan memiliki
kemampuan penetrasi dalam dan merusak
kulit karena dapat melarutkan keratin. KOH
juga dapat menyebabkan luka pada jaringan
melalui nekrosis liquefaction. Rusaknya sel-
sel kulit akan menstimulus sistem imun
untuk meresponnya. Lesi akan tampak
inflamasi dalam waktu 1-5 minggu setelah
aplikasi. Efek yang ditimbulkan biasanua
ringan dan merupakan awal dari
14
pengobatan.
KOH dengan konsentrasi 5% (veruka
vulgaris), 10% dan 20% dapat digunakan
untuk pengobatan moluskum kontagiosum.
KOH diaplikasikan setiap malam dengan
menggunakan stick seperti kapas telinga
selama 1 bulan. Pasien harus difollow up
setiap minggu selama pengobatan. Resolusi
lesi setiap orang berbeda. Efek samping
yang dapat timbul adalah iritasi kulit berupa
kemerahan, rasa terbakar, jaringan parut dan
infeksi sekunder. Setelah pengobatan pasien
tetap di- follow up hingga 2 bulan setelah
pengobatan untuk melihat relaps.10,14

12
Penelitian randomized comparative yang
dilakukan oleh Goyal V, dkk Department of
Dermatology, Adesh Institute of Medical
Sciences and Research, Bathinda pada
pasien umur 3-20 tahun dengan molluskum
kontagiosum menunjukkan hasil bahwa
terapi KOH memiliki keuntungan yaitu
pemakaiannya yang mudah untuk anak-anak,
efektif, tidak menimbulkan jaringan parut
dan pigmentasi setelah aplikasi KOH 10%.14
o Pengolesan dengan fenol jenuh dan dicuci
setelah 4 jam juga efektif. Rasa nyeri/pedih
atau panas dapat muncul beberapa menit
setelah dioles fenol. Penyembuhan dapat
disertai hipopigmentasi atau hiperpigmentasi
pasca inflamasi.1
o Tretinoin. Aplikasi tretinoin 0,1% 2 kali
dalam sehari dapat menimbulkan resolusi
lesi setelah 11 hari terapi. Tretinoin 0,05%
cream digunakan memberikan hasil yang
serupa. Mekanisme aksi tretinoin adalah
kamampuannya dalam memproduksi reaksi
inflamasi di kulit yang kemungkinan
merupakan dinding pertahanan lokal virus.
Hasil yang baik dengan konsentrasi tinggi
yang dapat ditoleransi diaplikasikan setiap
malam dapat mengurangi ukuran dan
frekuensi lesi baru. Efek sampingnya adalah
iritasi kulit seperti eritema, peeling, kering
dan pruritus.10
Tretinoin membuat kulit lebih sensitif
terhadap sinar matahari dan UV. Obat ini
tidak cocok diberikan apda pasien hamil

13
karena dapat menyebabkan kecacatan lahir.14
o Asam salisilat dan yodium. Yodium 10%
diaplikasikan di papul moluskum dan jika
telah kering, diaplikasikan salisilat 50%.
Prosedur ini dilakukansetiap hari setelah
mandi. Lesi akan menjadi merah setelah
pengobatan 3-7 hari sehingga penggunaan
yodium saja yang dilakukan. Efek
10
sampingnya adalah maserasi dan erosi.
o Asam laktat berkerja sebagai zat eksfoliatif,
mengurangi ketebalan stratum korneum
dengan mengurangi kohesi antara korneosit.
Hal tersebut menyebabkan sel epidermis
menjadi tidak melekat dan timbullnya sel
kulit mati. Asam laktat juga menstimulus
peningkatan pembentukan kolagen dan
elastin oleh fibroblas dan berperan sebagai
humektan.10
c. Terapi vesicant yaitu kantaridin. Cantharidin
adalah ekstrak racun lebah jenis Cantharis
vesicatoria yang mampu menimbulkan
gelembung di kulit.1 Hal ini diakibatkan karena
kantaridin merupakan penghambat
phospodiesterase. Kantaridin telah tersedia
dalam bentuk sintetisnya. Aplikasi kantaridin
pada moluskum akan menyebabkan
pengeluaran moluskum kontagiosum sebagai
awal resolusi lesi. Penggunaan kantaridin tidak
sulit, tidak terlalu sakit dibandingkan terapi
intervensi dan resikonya kecil. Efek kantaridin
ialah timbulnya jaringan parut (scar).
Kantaridin dapat diberikan pada pasien
pediatrik. Kantaridin tersedia dalam konsentrasi

14
0,7%. Komplikasi yang timbul adalah bulla
yang berlebihan, nyeri, pruritus dan rasa
terbakar pada 6-46% pasien. Kemungkinan
dapat terjadi perubahan pigmen. Pengobatan
dapat dilanjutkan pada lesi lain jika pasien tidak
memiliki efek samping lain. Kantaridin
sebaiknya digunakan pertama kali untuk
mengobati 3-4 lesi sehingga dapat menilai
respon pasien.9 Jika pasien dapat mentoleransi
pengobatan maka aplikasi diulangi setiap
minggu hingga lesinya hilang.10 Pengobatan
awal dengan kantaridin sebaiknya jangan
digunakan ke wajah. Gunakan di tempat lain
untuk mengetahui respon pasien kemudian
dipertimbangkan kembali penggunaanya di
wajah.12
Cara penggunaan kantaridin yaitu
mengoleskan kantaridin 0,7% pada lesi dan
hati-hati tidak mengenai kulit yang sehat
kemudian dibiarkan selam 4 jam lalu dicuci.
Jika kulit yang sehat terkena maka basuh wajah.
Efek yang akan timbul ialah rasa nyeri saat
timbul gelembung (vesikel) 1-3 hari setelah
aplikasi. Rasa nyeri yang timbul dapat diatasi
dengan asetaminofen dan bila gelembung
pecah, dikompres dengan larutan infus NaCl
dan kasa steril kemudian dapat diolesi natrium
fusidat atau mupirosin. Hasilnya efektif dan
efek samping berupa hiperpigmentasi pasca
inflamasi yang kemudian dapat menghilang.1
Pengobatan dilakukan follow up setiap 2-4
minggu.12
Beberapa peneliti mencoba obat topikal

15
kantaridin 0,7-0,9%, obat kombinasi kantaridin-
salisilat, krim imiquimod 1-5% dan ketiga obat
tersebut cukup efektif.1
o Antiviral seperti cidofovir.1,7
Antiviral memiliki efisiensi dalam pengobatan
pada moluskum kontagiosum yang susah untuk
diobati, lesi luas dan banyak misalnya pada pasien
HIV/AIDS. Antivirus oral dianjurkan misalnya
cidofovir dilaporkan berhasil karena dapat
menghambat aktivitas virus DNA polymerase.1,5
Cidofovir merupakan analog deoxycytidin
monophosphate yang memiliki aktivitas antiviral
melawan virus DNA. Topikal cidofovir 1% dan
3% cream atau soliusio dapat mengobati
moluskum kontagiosum pada pasien AIDS.
Pengobatan diberikan 5 kali/minggu dalam waktu
8 minggu.10
Pengobatan lainnya adalah cimetidine.
Cimetidine merupakan antagonis reseptor
Histamin 2 yang diberikan untuk menekan sekresi
asam lambung dan mengobati ulkus peptikum.
Cimetidin memiliki efek imunomodulator dengan
menstimulus reaksi hipersensitivitas tipe IV.
Limfosit supressor T dikenal memiliki reseptor
histamin. Cimetidine 40 mg/kg/hari dibagi dalam
2-3 dosis dalam bentuk tablet atau suspensi cair.
Periode pengobatan selama 2 bulan. Efek samping
jarang terjadi meliputi nausea, diare, ruam kulit
dan pusing. Interaksi obat dapat terjadi dengan
fenitoin, warfarin, propanolol, teofolin dan lain-
lain.10
o Immunomodulators berupa imiquimod,
cimetidine dan Candida antigen.7

16
a. Imiquimod merupakan salah satu sediaan dari
immune response modifier. Imiquimod akan
memproduksi respon imun di lokasi aplikasi
dan menstimulus makrofag/monosit dan sel
dendritik untuk menghasilkan interferon alfa,
interleukin dan TNF yang mengarah ke aktifitas
sel T sitotoksik. Imiquimod juga menstimulus
migrasi sel Langerhans ke nodus limfatikus
sehingga meningkatkan produksi sel T
slesifik.10
Penelitian yang dilakukan oleh Ozer Arican
pada tahun 2006 pada anak berumur 3-13 tahun
dengan moluskum kontagiosum di Turki
memberikan hasil bahwa imiquimod cream 5%
dapat dipilih sebagai pengobatan molluskum
kontagiosum pada anak-anak dikarenakan
penggunaannya yang mudah diterapkan di
rumah dan tolerabilitas yang baik.13
Imiquimod 5% cream diaplikasikan setiap
hari selama 8-12 minggu. Agen
imunomodulator ini dapat ditoleransi dengan
baik walaupun memberikan efek iritasi. Efek
sistemik atau toksik pada anak-anak belum
diketahui.10 Penggunaan imiquimod cream 5%
sebagai terapi perlu dipertimbangkan dalam hal
ekonomi karena obat ini termasuk mahal.15
b. Candida antigen. Injeksi intralesi dengan skin
test antigen Candida Albicans untuk
hipersensitivitas seluler. 0,3 ml antigen
diinjeksikan kedalam 1 lesi atau terbagi antara
2 lesi setiap bulan. Hal tersebut akan
menimbulkan respon imun lokal terhadap
protein jamur dan juga virus Molluscum

17
sehingga dapat menghancurkan semua lesi di
tubuh selain pada lesi yang diobati. 65%
mengalami resolusi lengkap, 28% mengalami
resolusi sebagian, dan 16% tidak mengalami
perkembangan. Tidak ada efek samping yang
serius. Efek samping berupa rasa tidak
nyaman, eritem, hiperpigmentasi
postinflamasi, bulla dan krusta.10
Prognosis pada kasus ini adalah: Prognosis pada moluskum kontagiosum adalah
- Quo ad vitam : Bonam baik, dikarenakan dengan menghilangkan semua lesi
- Quo ad functionam : Bonam yang ada, maka jarang atau tidak akan residif.
- Quo ad sanationam : Bonam Secara klinis, kondisi pasien tidak terdapat resiko
yang dapat mengancam jiwa sehingga prognosis quo
ad vitam adalah bonam. Secara keadaan fisik pasien
tidak ada yang menyebabkan kecacatan sehingga
prognosis quo ad functionam adalah bonam.
Penyakit ini adalah penyakit infeksi menular, pasien
dapat menularkannya dengan orang sekitarnya
melalui kontak langsung, namun apabila sudah
dihilangkan seluruh lesi yang ada maka penyakit ini
tidak akan berulang. Sehingga prognosis quo ad
sanationam adalah dubia ad bonam.8

18
BAB IV
KESIMPULAN

Moluskum kontagiosum adalah infeksi virus DNA genus Molluscipox. Kasus ini
menampilkan An. S berumur 1 tahun 1 bulan dengan diagnosis moluskum kontagiosum.
Pasien datang bersama ibunya dengan keluhan muncul bintil-bintil di wajah sejak 5 bulan
sebelum datang ke rumah sakit. Bintil-bintil tidak disertai dengan gatal dan nyeri. Ibu pasien
mengaku bintil-bintil tersebut akan mengeluarkan isi seperti butiran nasi jika ditekan.
Riwayat keluarga dan orang sekitar yang menderita keluhan yang sama disangkal.
Pemeriksaan fisik umum dalam batas normal. Pemeriksaan dermatologi menunjukkan
terdapat papul, bentuk bulat, ukuran miliar, jumlah multiple, batas tegas, warna kecoklatan
mengkilat, tepi tegas, distribusi regional, permukaan licin dan bulat seperti kubah, konsistensi
kenyal, sekitar lesi tidak ada kelainan dan tidak nyeri di regio palpebra superior sinistra,
buccal sinistra dan nasal. Moluskum kontagiosum memiliki klinis berupa papul berbentuk
kubah dengan ukuran 2-5 mm, berkilat mirip lilin dan pada permukaan terdapat lekukan atau
delle/umbilikasi dan berisi badan inklusi yang mengandung partikel virus.1,4,6

Prinsip pengobatan moluskum kontagiosum adalah mengeluarkan masa yang


mengandung badan moluskum. Untuk mengeluarkan masa tersebut, terdapat beberapa cara,
sehingga penatalaksanaan moluskum kontagiosum terdiri atas terapi destruktif,
immunomodulators dan antiviral1,7,9,12 Pilihan terapi ini akan didasarkan pada status imun
tubuh, umur pasien, jumlah dan lokasi lesi11 sehingga hal ini perlu dijelaskan kepada pasien
dan keluarganya. Penatalaksanaan pada kasus ini yaitu terapi destruktif dengan metode
keratolitik menggunakan KOH 10% yang diaplikasikan sekali sehari selama 1 bulan dan
kontrol ulang setiap 7 hari untuk melihat perkembangan pengobatan berupa respon kulit
terhadap aplikasi obat topikal, lesi, efek samping yang muncul dari pengobatan dan adakah
relaps atau tidak. Penjelasan mengenai terapi pada keluarga juga sangat penting yaitu edukasi
terhadap keluarga pasien mengenai penyakit, tatalaksana, cara penggunaan obat dan efek obat
yang akan terjadi.14

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Boediardja SA & Handoko RP. Moluskum kontagiosum didalam Ilmu penyakit kulit

dan kelamin Edisi ketujuh Cetakan kedua. Jakarta: FKUI. 2016. hal 124-125.

2. Kartowigno S. 10 besar kelompok penyakit kulit Edisi pertama. Palembang:

FKUNSRI. 2011. hal. 105-107

3. Seller HR. Masalah kulit didalam Diagnosis banding yang lazim. Jakarta: EGC. 1986.

hal. 351-378

4. Haeriyoko WA. Diagnosis dan tatalaksana moluskum kontagiosum. Denpasar:

FKUNUD. hal 1-12

5. Wang F. Molluscum contagiosum, monkeypox, and other poxvirus infections in

Harrison’s principles of medicine 19th Edition. USA: McGraw-Hill Ed.2015. page

220-e.

6. Stawiski MA & Price SA. Infeksi kulit didalam Patofisiologi: Konsep klinis proses-

proses penyakit. Jakarta: EGC. 2015. hal. 1444

7. Molluscum contagiosum in Fitzpatrick dermatology in gerneral medicine 7th Edition.

New York: McGraw-Hill. 2003. page. 629-633

8. Yana E. Seorang anak 10 tahun dengan moluskum kontagiosum. J Medula

Unila(internet). 2016 Jan;4(3):53-57

9. Marchado RB, et al. Molluscum contagiosum in children: comparative treatments.

Surg Cosmet Dermatol(internet). 2010 Nov;2(4): 272-275

10. Maluki AH & Kadhum QJ. Treatment of molluscum contagiosum by Potassium

Hydroxide solution 20% with and without pricking and by pricking alone: A

comparativr study with review of literature. Int J Dermatol Clin(Internet). 2015

Dec;1(2):031-041

20
11. Muzaffar F & Faiz F. Comparison of 5% potassium hydroxide with 10% potassium

hydroxide solution in treatment of molluscum contagiosum: A comparative study.

JPAD(internet). 2014;24(4):337-341

12. Mathes EFD & Frieden IJ. Treatment of molluscum contagiosum with Cantharidin: A

practical approach. PA (internet). 2010 Mar;39(3):124-130

13. Arican O. Topical treatment of molluscum contagiosum with imiquimod 5% cream in

Turkish children. PD (internet). 2006 Aug;48(4):403-405

14. Goyal V, et al. Comparative study of efficacy of 10% KOH, tricholoracetic acid

(TCA) and 0.05% tretinoin for the treatment of molluscum contagiosum. Sch. J. App.

Med. Sci (internet). 2014; 2(4A):1196-1198

15. Karabulut GO, et al. Treatment of extensive eyelid molluscum contagiosum with

physical expression alone in immunocompetent children. TJO(Internet). 2014;44(2):

158-160

21