Anda di halaman 1dari 29

BAB I

UJI BIO-ASSAY

A. Dasar Teori
Pengendalian nyamuk vektor telah banyak dilakukan dengan berbagai cara
antara lain dengan pengendalian menggunakan bahan-bahan kimia yaitu
menggunakan insektisida kimia yang sesuai baik untuk larva maupun nyamuk
dewasa. Pengendalian kimia dengan menggunakan insektisida banyak dipakai
oleh masyarakat karena dapat menurunkan populasi nyamuk dengan cepat dan
penggunaannya yang praktis, tetapi penggunaan insektisida terbukti banyak
menimbulkan dampak negatif, antara lain matinya organisme bukan sasaran,
adanya residu sehingga terjadi pencemaran lingkungan serta munculnya
nyamuk yang resisten (Tarumingkeng, 1992).
Kemampuan insektisida membunuh serangga bergantung pada bentuk,
cara masuk kedalam tubuh serangga, macam bahan kimia, konsentrasi dan
jumlah (dosis) insektisida. Selain itu juga harus memperhatikan faktor-faktor
yaitu spesies serangga yang akan diberantas, ukuran, stadium, sistem
pernapasan dan bentuk mulut, penting juga mengetahui habitat dan perilaku
serangga dewasa termasuk kebiasaan makannya. Untuk mengetahui efektif
atau tidaknya insektisida yang digunakan dalam program pengendalian vektor
perlu di lakukan bioassay.
Uji Bioassay adalah suatu cara untuk mengukur efektivitas suatu
insektisida terhadap vektor penyakit. Ada 3 jenis Uji Bioassay yaitu:
1. Uji bioassay kontak langsung (residu)
2. Uji bioassay kontak tidak langsung (air bioassay) (residu)
3. Uji bioassay untuk pengasapan (fogging/ULV)

Kegiatan bioassay dilakukan agar mengetahui efektivitas dari insektisida


yang digunakan. Uji bioassay adalah suatu uji untuk mengetahui kekuatan atau
daya bunuh insektisida baik terhadap nyamuk dewasa maupun jentik(Sugeng
Abdullah, 2003).

B. Tujuan

Laporan Pest Control 1


Uji Bioassay digunakan untuk mengukur efektivitas suatu insektisida terhadap
vektor penyakit.

C. Alat dan Bahan


Bahan dan alat yang digunakan untuk bio-assay adalah:
1. Nyamuk-nyamuk dari spesies tertentu yang akan dicoba
2. Beberapa jenis permukaan dinding yang sdah disemprot dengan racun
serangga yang bersifat residual misalnya tembok, papan kayu, bamboo, dan
laina-lain.
3. Aspirator bengkok (sucking tube)
4. Kerucut bio-assay (bio-assay cone)
5. Dellopane, untuk melekatkan bio-assay cone pada permukaan dinding
6. Gelas kertas (paper cup)
7. Kotak nyamuk untuk nyamuk hidup
8. Pengukur waktu (timer)
9. Larutan air gula dan kapas

D. Cara Kerja
1. Indoor Residual Spraying (IRS)
IRS digunakan untuk menguji apakah teknik penyemprotan yang dilakukan
sudah merata pada seluruh permukaan dengan benar. Pengujian ini
dilakukan dengan prinsip menempelkan residual insektisida pada
permukaan dinding, pintu atau almari. Permukaan dinding biasanya dipilih
dari tiga jenis permukaan yang berbeda yaitu tembok, kayu dan bambu.
Pemilihan metode IRS mempertimbangkan hasil survei entomologi yang
telah dilakukan sebelumnya dengan kriteria sebagai berikut,
a. Termasuk daerah endemis dengan kecenderungan peningkatan kasus
b. Vektor mempunyai kebiasaan mengigit didalam rumah
c. Kepadatan nyamuk didalam rumah cukup tinggi
Cara Kerja :
1) Siapkan alat dan bahan.
2) Buat cone dengan menggunakan gelas plastik yang dilubangi bagian
bawahnya. Pada sisi lingkaran atas cone diberi double tip.
3) Siapkan cone 4 buah dan beri label (3 cone untuk diuji, 1 cone untuk
kontrol).
4) Ambil nyamuk dewasa yang ada di dalam kurungan menggunakan
aspirator.
5) Masukkan nyamuk sebanyak 10 – 15 ekor kemasing -masing cone
yang telah ditempel pada dinding. Sebelum cone ditempel, dinding

Laporan Pest Control 2


sudah disemprot dengan insektisida dengan jarak penyemprotan 30
cm dan jarak antar cone 50 cm.
6) Setelah penyemprotan dengan insektisida, tunggu selama 30 menit.
7) Setelah 30 menit, amati masing – masing cone dan hitung persentase
kematian nyamuk, jika besar kematian pada kontrol lebih dari 20%
maka pengujian kita gagal. Hal ini mungkin saja karena kondisi
nyamuk yang lemah.
8) Namun jika kematian kurang dari 20%, pengujian dapat dilanjutkan
ke tahap selanjutnya dengan menghitung berapa ekor nyamuk yang
hidup pada kurungan nyamuk yang telah disemprot insektisida.
9) Nyamuk yang hidup dipindahkan kedalam kurungan nyamuk dan
diberi makan larutan air gula (menggunakan media kapas yang sudah
dibasahi larutan gula) serta dilihat 1x24 jam.
10) Menghitung kematian nyamuk
Kematian > 70 % berarti insektisida masih efektif
2. Uji Bioassay Fogging
Pengujian ini dilakukan untuk mengukur efektivitas pengasapan atau
penyemprotan yang dilakukan. Kerucut plastik (cone) diletakkan didalam
dan diluar rumah (2 didalam, 1 diluar). Holding selama 24 jam dan fogging
efektif jika kematian >70 %.
3. Uji Bioassay Kelambu
Kerucut plastic (cone) ditempelkan pada kelambu yang akan diuji.
Pemasangan cone berpasangan dengan posisi kelambu berada ditengah.
Memasukkan nyamuk pada masing-masing cone. Kemudian mengamati
kematian nyamuk selama 3o menit lalu pindahkan nyamuk kedalam gelas
plastic dan holding selama 24 jam. Setelah 24 jam mencatat kematian
nyamuk, jika kematian > 80 % berarti insektisida pada kelambu bersifat
efektif.

E. Hasil dan Pembahasan


Hasil pratikum Uji Bio-Assay yang dilakukan di Laboratorium Poltekkes
Kemenkes Surabaya Prodi D3 Kesehatan Lingkungan Kampus Magetan
sebagai berikut :

NO Pengujian Waktu

Laporan Pest Control 3


Jumlah
Jumlah nyamuk %
nyamuk
yang mati Kematian
yang hidup
1 Cone 1 30 menit 0 ekor 10 ekor 100%
2 Cone 2 30 menit 0 ekor 10 ekor 100%
3 Cone 3 30 menit 0 ekor 10 ekor 100%
4 Cone kontrol 30 menit 8 ekor 2 ekor 20%
Total 8 ekor 32 ekor

Pembahasan
Berdasarkan uji Bio-Assay yang telah dilakukan kami menggunakan
insektisida Baygon yang mengandung bahan aktif Proposur 1,18% dan D
aletrin 0,22%. Nyamuk yang diuji mengalami kematian 100%, dan pada
kontrol mengalami kematian 20 %. Kematian tersebut didorong oleh beberapa
faktor, antara lain:
- Jarak antar cone yang terlalu dekat.
- Nyamuk yang digunakan sebagai uji kemungkinan adalah nyamuk jantan.
- Nyamuk yang diuji belum kenyang darah.

BAB II
UJI SUSCEPTIBILITY TEST

A. Dasar Teori
Uceptibility test atau uji kerentanan adalah suatu test untuk mengetahui tingkat
kerentanan atau kekebalan serangga, terhadap suatu racun/insektisida.
Kekebalan seranggan terhadap insektisida adalah kemampuan populasi
serangga untuk bertahan terhadap pengaruh insektisida yang biasanya
mematikan. Proses seleksi peningkatan kekebalan terhadap insektisida tidak
terjadi dalam waktu singkat, tetapi berlangsung lama dalam singkat ada banyak
generasi yang diakibatkan oleh perlakuan inssektisida secara terus menerus.
Uji ini bertujuan untuk menyelidiki apakah ada kekebalan atau tidak, dan kalau

Laporan Pest Control 4


ada,kapan timbulnya. Oleh karena itu uji ini tidak cukup hanya dilakukan
sekali saja,melainkan berulang-ulang sejak sebelum ada penyemprotan sampai
sesudahnya. Uji ini untuk menyelidiki kekebalan fisiologis, bukan untuk
mengetahui kekuatan racun/insektisida. Hal demikian terjadi karena adanya
index absorbsi yang berlainan, ada tidaknya jaringan tubuh yang
dapatmenyimpan racun (misal: lemak), organ ekskresi yang berlainan,
kemampuan regenerasi dan detoksikasi yang dimiliki, dan karena perilaku
yang berubah/berbeda (misal: mampu menghindari racun)

B. Tujuan
Untuk mengetahui status kerentanan vektor terhadap insektisida yang akan
telah digunakan.

C. Alat dan Bahan


1. 2 tabung uji dan 1 tabung kontrol
2. Aspirator
3. Kapas
4. Air gula
5. Spesies nyamuk yang akan di uji
6. Insecticide impragnated paper
D. Prosedur Kerja
1. Alat yang digunakan WHO susceptibility test kit, dilengkapi impregnated
paper dengan konsentrasi tertentu dan kontrol.
2. Serangga uji adalah nyamuk vektor, diperoleh dengan penangkapan nyamuk
di alam/ hasil koloni.
3. Untuk nyamuk lapangan masukan ke dalam tabung yang dilapisi kertas
HVS, 25 ekor/ tabung adaptasikan.
4. Nyamuk hasil penangkapan di lapangan/ koloni dimasukan kedalam tabung
uji (4 tabung) dan pembanding (1 tabung). Tiap tabung diisi nyamuk 20-25
ekor. Dikontakan selama 1 jam tabung uji (4 tabung) dan pembanding. Tiap
tabung diisi nyamuk 20-25 ekor. Dikontakan selama 1 jam.
5. Nyamuk hasil uji dipelihara 24 jam. Hitung kematiannya.
6. Kriteria: kematian <80% kebal, kematian 80-98 tolerans dan 99-100 masih
peka.

E. Hasil dan pembahasan


Pada Susceptibility test ini dilakukan 2 replikasi atau percobaan dengan 1
pembanding atau kontrol dengan hasil sebagai berikut : Percobaan I , dari 20
ekor nyamuk uji yang dikontakkan dengan insektisida selama 1 jam dan

Laporan Pest Control 5


dipelihara selama 24 jam terdapat 18 nyamuk mati dan 2 nyamuk hidup.
Prosentase kematian nyamuk yaitu 90% ,dengan perhitungan sebagai berikut :

% Kematian Nyamuk

Percobaan II , dari 20 ekor nyamuk uji yang dikontakkan dengan insektisida


selama 1 jam dan dipelihara selama 24 jam terdapat 17 nyamuk mati dan 3
nyamuk hidup. Prosentase kematian nyamuk yaitu 85% ,dengan perhitungan
sebagai berikut :

% Kematian Nyamuk

Dari percobaan I dan II diketahui rata-rata prosentase kematian nyamuk 87,5


%.

Percobaan III (pembanding atau kontrol), dari 20 ekor nyamuk kontrol yang
dipelihara selama 24 jam terdapat 2 nyamuk mati dan 18 nyamuk hidup.
Prosentase kematian nyamuk yaitu 10% ,dengan perhitungan sebagai berikut :

% Kematian Nyamuk

Laporan Pest Control 6


Hasil perhitungan kepekaan nyamuk vektor terhadap insektisida sebagai
berikut :

Abbot’s

Kepekaan nyamuk vektor terhadap insektisida dibagi atas 3 kriteria, yaitu


sebagai berikut :

1. Kematian < 80% : Kebal


2. Kematian 80 – 98% : Toleran
3. Kematian 99 – 100% : Masih peka

Hasil yang didapat dari perhitungan kepekaan nyamuk vektor terhadap


insektisida yaitu 86,11% sehingga masuk dalam kriteria toleran.

BAB III
UJI HAYATI

A. Dasar Teori
Uji hayati merupakan uji yang paling baik untuk menetapkan potensi suatu
obat, karena obat itu langsung di ukur aktivitas biologinya. Uji hayati
meliputi penggunaan suatu jumlah tertentu dari obat yang diuji dalam sistem
biologi yang menghasilkan respon. Respon ini di ukur secara kuantitatif
sehingga harga aktivitas dapat di ketahui. Metode glass chamber untuk
mengetahui obat nyamuk bakar yang paling efektif membunuh nyamuk .

B. Tujuan
Untuk mengetahui obat nyamuk bakar yang paling efektif membunuh nyamuk

Laporan Pest Control 7


C. Alat dan Bahan
1. “Glass Chamber” (70x70x70cm)
2. Obat nyamuk bakar (Mosquito Coils)
3. Nyamuk betina kenyang larutan gula 10% (umur 2-5 hari sebanyak 20 ekor)
4. Cawan Petridis dan penjepit kawat
5. Kipas angina baterai mini
6. Stop watch

D. Prosedur Kerja
1. Sebelum pengujian harus dipastikan Glass Chamber tidak terkontaminasi,
caranya: Kedalam Glass Chamber di lepaskan 20 ekor nyamuk uji, di
tunggu selama 20 menit. Apabila tidak ada nyamuk pingsan (nyamuk uji
diambil), sehingga Glass Chamber dalam keadaan kosong dan pengujian
dapat di lanjutkan. Akan tetapi apabila ada nyamuk pingsan, Glass Chamber
harus di cuci ulang dengan sabun atau deterjen.
2. Timbang obat nyamuk bakar 0,5 gram, pasang pada penjepit kawat dan
letakkan atas cawan Petridis.
3. Bakar kedua ujung obat nyamuk secara bersamaan di dalam Glass
Chamber.
4. Hidupkan kipas angina mini di dalam Glass Chamber (hindarkan hembusan
angin langsung kearah obat nyamuk yang di bakar).
5. Catat waktu yang di perlukan untuk membakar habis obat nyamuk.
6. Keluarkan cawan petridis dan kipas angina, kemudian lepaskan 20 ekor
nyamuk ke dalam Glass Chamber.
7. Amati selama 20 menit, catat jumlah nyamuk pingsan atau mati, pada setiap
periode waktu pengamatan seperti disajikan pada formulir 1.
8. Pindahkan semua nyamuk ke dalam gelas plastik (dilengkapi dengan kapas
di basahi larutan gula 10% dan disimpan (holding) selama 24 jam.
9. Hitung/catat nyamuk berdasrkan rumus “Presentasi Kematian”
x 100%

Keterangan:
 A = Jumlah nyamuk/serangga digunakan
 D = Dead (jumlah nyamuk/serangga mati)
 M = Moribund (jumlah nyamuk/serangga pingsan
10. Pengujian ulangan sebanyak 4 kali.
11. Perhitungan KT50 dan KT90, serta LT50 dan LT90 menggunakan analisis
probit dengan program komputer.
E. Hasil dan Pembahasan

Laporan Pest Control 8


Mosquito Coil Test Using Glass Chamber Method
Knockdown Total
Time
1 2
0’30’’ 0 - 0
1’00’’ 0 - 0
2’00’’ 0 - 0
4’00’’ 1 - 1
5’00’’ 1 - 1
6’00’’ 1 - 1
7’00’’ 1 - 1
8’00’’ 1 - 1
10’00’’ 1 - 1
15’00’’ 2 - 2
20’00’’ 2 - 2
Uji Pertama / Replikasi
Baygon = 0,5 gram
Setelah 24 jam nyamuk yang mati sebanyak 14 ekor dan yang pingsan 0 ekor
dengan jumlah nyamuk keseluruhan 20 ekor
Presentasi Kematian :
= D + M x 100%
A
= 14 + 0 x 100 %
20
= 14
20
= 70 %
Jadi replikasi 1 di dapatkan hasil Presentasi Kematian Nyamuk Sebesar
70%

BAB IV
KAJIAN DI PT CANDI LOKA

A. Sejarah PT Candi Loka

Laporan Pest Control 9


Perkebunan teh ini merupakan peninggalan Kolonial Belanda tahun 1886,
pertama kali dikembangkan oleh pengusaha negeri Kincir Angin, Van der Rap.
Kemudian mengalami pergantian pengelola beberapa kali, sampai akhirnya
mulai tahun 1973 hingga kini dikelola oleh swasta, PT Candi Loka.
Manajeman Candi Loka merupakan pengelola ke-13. Kebun Teh Jamus
dikelola berdasarkan SK Hak Guna Usaha (HGU) terbaru No.
12/HGU/BPN/2001 dengan luas areal 478,2 hektare Lahan perkebunan yang
berada di ketinggian 800 hingga 1.200 mdpl (meter di atas permukaan laut) ini,
tergolong jenis andosol dan regosol. Curah hujan rata-rata di Jamus 2.500
mm/tahun dengan suhu berkisar 18-20 derajat celcius serta kelembaban 80-90
persen. Kondisi seperti ini menjadikan kawasan Jamus menjadi obyek
agrowisata yang menawan dan nyaman serta sayang untuk dilewatkan.
Menurut pimpinan Perkebunan Teh Jamus, Purwanto W.P. dari lahan seluas
478,2 ha yang ditanami teh 418 ha, dimana 60,2 ha lainnya ditanami
beragam pohon penghijauan (kayu-kayuan). Sehingga lokasi yang dijadikan
areal wisata di kawasan Jamus menjadi teduh, akibat rindangnya aneka pohon
kayu-kayuan yang ditanam pengelola maupun yang tumbuh alami berusia
seratus tahun lebih. Salah satunya yang cukup menarik, pohon Kantil raksasa
berusia 100 tahun lebih yang berada di dekat gerbang tempat rekreasi Jamus.
Monumen alam ini tetap dilindungi, sehingga tidak heran bila Perkebunan Teh
Jamus mendapat penghargaan Kalpataru pada tahun 2004, atas kepeduliannya
menjaga lingkungan hidup. Agrowisata kebun Teh Jamus, selain menawarkan
pemandangan menawan, juga memberikan nilai edukatif dengan menyaksikan
langsung proses aktivitas perkebunan, mulai tanam, petik hingga proses
pengolahan teh sampai pengemasannya untuk siap jual. Pihak pengelola, juga
menyediakan pemandu yang memberikan penjelasan secara seluruhan proses
teh di perkebunan yang setiap bulan menproduksi 40 sampai 50 ton bahan baku
teh hijau dan hitam untuk pabrik teh kemasan tidak hanya dalam negeri, tapi
juga mancanegara seperti Inggris dan Belanda. Perkebunan Teh Jamus
menyajikan segala yang ada secara alami dan “kuno”, dimana tidak akan
dibangun resort atau hotel di kawasan ini. Tapi, Pemkab dan pengelola
berupaya memberdayakan masyarakat sekitar, dengan menyiapkan “home

Laporan Pest Control 10


stay”. Wisatawan cukup menginap di rumah-rumah penduduk yang sudah di
tata pengelolaan Pemkab Ngawi. Dari Kota Ngawi menuju Perkebunan Teh
Jamus sejauh 45 km, kini mudah dan nyaman untuk ditempuh, karena jalan
beraspal mulus (hotmix) sudah dibangun oleh Pemkab Ngawi, dua bulan lalu.
Bukit Borobudur Salah satu bukit yang tertutup pohon teh di kawasan
Perkebunan Teh Jamus menjadi obyek wisata menarik, karena bentuknya yang
menyerupai candi Borobudur, sehingga dikenal sebagai “Borobudur Hill” atau
Bukit Borobudur. Bukit setinggi 35,4 meter tersebut dengan luas areal 3,54 ha,
ditumbuhi 35.400-an pohon teh, dilihat dari kejauhan rimbunan pohon teh
berundak tersebut, memang mirip dengan Candi Borobudur. Di puncak Bukit
Borobudur tersisa beberapa pohon teh tua yang sengaja tidak dipangkas, yang
tingginya rata-rata dua meter. Inilah pohon teh yang berusia lebih dari 100
tahun, merupakan pohon teh generasi pertama yang ditanam Van de Rap.
Pemandangan hamparan kebun teh dan para buruh wanita paruh baya
penduduk Desa Girikerto memetik teh pagi hingga siang hari, matahari terbit
maupun tenggelam, tampak menawan dilihat dari puncak Bukit Borobudur.
Untuk mencapai Bukit Borobudur, pengunjung harus berlelah ria menapaki 117
anak tangga terbuat dari tumpukan batu kali, yang tersusun cukup rapi. Di
kawasan rekreasi berhawa sejuk yang mengenakan karcis masuk hanya Rp
6.000,00 per orang, terdapat fasilitas kolam renang yang diperuntukan bagi
anak-anak, dimana airnya berasal dari sumber mata air alami Sumber Lanang
(pria). Airnya cukup dingin dengan suhu berkisar 15-22 derajat celcius. Konon,
banyak warga setempat percaya bahwa air Sumber Lanang yang bisa langsung
diminum tanpa dimasak dulu mampu membuat awet muda. Air dari Sumber
Lanang pernah diteliti di laboratorium, hasilnya air mengandung mineral tinggi
sehingga bisa menyehatkan tubuh. Debit air Sumber Lanang 90 liter per detik.
Berdasarkan potensi itulah, pihak perkebunan selain mengelola kebuh teh juga
memanfaatkan sumber daya air untuk pembangkit listrik, mikrohidro yang
menghasilkan listrik 90 ribu watt. Selain itu, sumber air ini manfaatnya
dirasakan oleh warga yang membutuhkan air bersih, dimana air diatur
pengalirannya melalui pipa menunju Stasiun Pengisian. Setiap hari 150 tangki,

Laporan Pest Control 11


setiap tangki 8.000 liter, mampu didistribusikan dengan harga jual setiap tangki
Rp25.000,00.(yc/antara)

B. Hasil dan Pembahasan


1. Pengukuran Pencahayaan
a. Alat dan Bahan
1) Lux meter
2) Alat tulis
b. Prosedur Kerja :
1) Menyiapkan alat dan bahan
2) Menentukan lokasi yang akan diukur tingkat pencahayaannya
3) Menggambarkan denah yang akan diukur pencahayaannya
4) Menentukan titik-titik mana yang akan kita ukur pencahayaannya
5) Melakukan pengukuran sesuai titik yang ditentukan.
c. Pengoperasian Alat :
1) Secara General
a) Tekan tombol power lux meter sampai menunjukkan angka nol jika
angka belum menunjukkan angka nol maka tekan zero.
b) Buka fotosel kemudian tekan record (tanda mulai)
c) Lakukan fotosel sejajar dengan mata sampai muncul tulisan “Rec”
d) Kita hitung 10 detik pada setiap titik kemudian pindah ke titik
berikutnya sampai titik terakhir,
e) Tekan recall secara otomatis akan menunjukkan angka max, min dan
average tingkat pencahayaan ruangan tersebut dan catat hasilnya.
f) Setelah selesai melakukan pengukuran, matikan lux meter dengan
menekan power.
2) Lokal
a) Tekan power lux meter sampai menunjukkan angka nol jika belum
nol tekan zero.
b) Hadapkan alat pada titik yang dituju.
c) Buka foto sel dan hitung 10 detik serta tekan “hold”
d) Tulis hasil pengukuran
e) Matikan alat dengan menekan power.

d. Keterangan Tombol
- Light surce : untuk mengubah bentuk tingkat
cahayanya.
- L (tungsen / dalight) : jika sumber cahaya alami (cahaya
matahari)
- S (Sodium) : untuk sumber
cahaya buatan, contohnya dop, neon.

Laporan Pest Control 12


- C (merkuri) : untuk sumber cahaya buatan.
- Range jenis cahaya, dimana range harus ditentukan sebelum
pengukuran.
1) 200 lux : cahaya dalam ruangan / matahari tidak
langsung masuk kedalam ruangan.
2) 20.000 lux : diluar ruangan, tetapi tidak menerima
sinar matahari langsung
3) 50.000 lux : terang langsung dari matahari /
merkuri.

e. Hasil
Lokasi Pengukuran : Gudang Penyimpanan bahan/teh jadi
Pabrik The PT. Perkebunan Candi Loka Jamus, Ngawi
Jam : 10.00 WIB
Hasil pengukuran
KET
No Titik (Lux)
Ruang
. Pengukuran Max min Avera Menurut Kepmenkes
ge RI No.
1. Gudang Titik 1 133 123 131
1405/MENKES/SK/XI/
Titik 2 132 120 125
Penyimpanan
Titik 3 141 121 132 2002
bahan Titik 4 172 145 160 Tingkat intensitas
pencahayaan adalah
minimal 100 lux, pada
gudang penyimpanan
bahan memenuhi Nilai
Ambang Batas (NAB)
yang telah ditentukan.
Rata-rata 144,5 127,25 137

2. Kebisingan
a. Alat :Sound Level Meter
b. Prosedur kerja :
1) Siapkan alat dan bahan
2) Tentukan sumber kebisingan
3) Tentukan batas wilayah kerja

Laporan Pest Control 13


4) Gambar denah tempat yang akan di ukur
5) Tentukan titik dimana kita akan mengukur kebisingan
6) Pasang alat penangkap di sound level meter
7) Kita menuju ke titik
c. Pengoprasian alat :
1) Untuk daerah pemukiman Weighing A
2) Untuk daerah industri digunakan Weighing B
3) Geser tombol slow pada respon bila ingin mengukur metode 100 kali
(continue)
4) Geser Fast untuk sumber suara stabil dan Max Hold untuk sumber
suara terputus-putus
5) Pasang busa penyaring
6) Pada tombol desible di geser yang sesuai kondisi suara 30-80 rendah,
50-100 sedang/stabil, dan 80-130 tinggi
7) Geser power DC jika menggunakan baterai, AC jika menggunakan
listrik
d. Hasil
Lokasi Pengukuran : Gudang Penyimpanan bahan/teh jadi Pabrik PT.
Perkebunan Candi Loka Jamus, Ngawi
Jam : 10.00 WIB
Hasil Rata- NAB
Lokasi Titik Pengukuran rata (Kepmenkes RI no. Keterangan
(dB) (dB) 1405/SK/XI/2002)
I 81,87
Gudang II 89,15 85 dB
Memenuhi
penyimpa III 82,98 84,38 (dalam waktu
syarat
nan IV 83,54 pemaparan 8 jam)
makanan
Menurut Kepmenkes RI No. 1405/MENKES/SK/XI/2002 pada gudang
penyimpanan bahan memenuhi Nilai Ambang Batas (NAB) yang telah ditentukan

3. Suhu dan kelembaban


a. Alat : Termohygrometer
b. Pengoperasian alat :
1) Diletakan termohygrometer diatas tanah
2) Ditunggu beberapa menit
3) Jarum akan menunjukan besarnya angka kelembaban dan suhu

Laporan Pest Control 14


4) Dibaca jarum petunjuk,jarum panjang menunjukan kelembaban dan
jarum pendek menunjukan suhu udara.
c. Hasil
Lokasi Pengukuran : Gudang Penyimpanan bahan/teh jadi
Pabrik PT. Perkebunan Candi Loka Jamus, Ngawi
Jam : 10.00 WIB
NAB
Kepmenk
Hasil
es RI no. Ket
Pengukuran
Ti 1405/SK/
No Lokasi
tik XI/2002
Suh Kelemb
0 0
u aban C % C %
( 0C) (%)
1 Gudang I 21 77
Penyimpa II 26 81 18– 65– Memenuhi Memenuhi
nan bahan III 21 77 30 95 syarat syarat
IV 26 81
Rata-rata 23,5 79 Menurut Kepmenkes RI
No.1405/MENKES/SK/
XI/2002 pada gudang
penyimpanan bahan
memenuhi Nilai Ambang
Batas (NAB) yang telah
ditentukan
4. Kecepatan angin
a. Alat :Anemometer
b. Pengoperasian alat :
1) Nyalakan anemometer
dengan cara menekan tombol power
2) Menghadapkan layar
tampilan menghadap keaarah pemegang anemometer dan angin akan
datang dari arah belakang layar tampilan.
3) Perhatikan angka yang
menunjukan kecepatan angin pada layar tampil
4) Apabila angka-angka
kecepatan angin telah konstan, tekan tombol hold
c. Hasil
Lokasi Pengukuran : Gudang Penyimpanan bahan/teh jadi
Pabrik PT. Perkebunan Candi Loka Jamus, Ngawi
Jam : 10.00 WIB

Laporan Pest Control 15


Hasil Pengukuran NAB
(Kepmen
Rata – Ket
N kes RI
Lokasi Titik Max Min Mean rata
o no.
(m/s) (m/s) (m/s) Mean
1405/SK/
(m/s)
XI/2002)
I 0,04 0,32 0,17
Gudang
II 0,03 0,30 0,16 0,15 m/s Memenuh
1 penyimpanan 0,17
III 0,04 0,33 0,15 – 0,25 m i syarat
makanan
IV 0,03 0,33 0,19 s/
Menurut Kepmenkes RI No. 1405/MENKES/SK/XI/2002 pada gudang
penyimpanan bahan memenuhi Nilai Ambang Batas (NAB) yang telah
ditentukan.

5. Angka Kepadatan Lalat


Di dalam gudang penyimpanan di PT Candi Loka Ngawi
”Fly grille” dapat dipakai untuk mengukur fly density. Untuk mengukur
fly-dencity fly grill diletakkan diatas umpan, misalnya sampah atau
kotoran hewan, lalu dihitung jumlah lalat yang hinggap diatas scudder griil
itu. Disamping menghitung jumlah dapat juga diperiksa jenis lalat.
Kadang-kadang juga dipakai alat penangkap lalat. Ada banyak model
penangkap lalat. Prinsipnya ialah lalat diumpan supaya masuk kedalam
alat penangkap dan tidak bisa keluar lagi. Juga dengan cara ini bisa diukur
kepadatan lalat (fly density) dan jenis-jenis lalat di satu daerah.
Fly Grill adalah alat yang digunakan untuk mengukur kepadatan lalat,
membutuhkan waktu permenit atau perdetik. Buat warna putih
pembuangan sampah atau pembuangan air 3-5 pengamanan
pengembangan( < 50 Padat) (>20 sangat Padat.) pengendalian = (Lem,
Lilin,kipas Air). Pengendalian alat kimia : brinting atau penyemprotan.
Lalat menyukai tempat - tempat yang berbau menyengat dan tempat yang
cukup lembab. Sedangkanm warnayang disukai lalat adalah warna natural
seperti warna coklat pada batang kayu dan warna hijau pada buah atau
sayur segar.Upaya untuk menurunkan populasi lalat adalah sangat penting,
mengingat dampak yang ditimbulkan. Untuk itu sebagai salah satu cara
penilaian baik buruknya suatu lokasi adalah dilihat dari angka kepadatan
lalatnya. Dalam menetukan kepadatan lalat, pengukuran terhadap populasi

Laporan Pest Control 16


lalat dewasa tepat dan biasa diandalkan daripada pengukuran populasi
larva lalat.
Untuk mengetahui angka kepadatan lalat disuatu wilayah dilakukan
dengan cara mengukur angka kepadatan lalat. Pengukuran populasi lalat
hendaknya dapat dilakukan pada :
 Setiap kali dilakukan pengendalian lalat (sebelum dan sesudah)
 Memonitoring secara berkala, yang dilakukan setidaknya 3 bulan
sekali.
Angka rata-rata penghitungan lalat merupakan petunjuk (indeks) populasi
pada suatu lokasi tertentu. Sedangkan sebagai interprestasi hasil
pengukuran indeks populasi lalat pada setiap lokasi atau fly grill adalah
sebagai berikut :
1 – 2 : Rendah atau tidak menjadi masalah
3 – 5 : Sedang dan perlu dilakukan pengawasan terhadap tempat
tempat berkembang biakan lalat (tumpukan sampah, kotoran
hewan, dan lain-lain)
3 > 6 : Tinggi/padat dan perlu pengamanan terhadap tempat- tempa
berkembang biakan lalat dan direncanakan upaya
pengendaliannya.
a. Alat
1) Fly Grill
2) Hand Counter
3) Stopwatch
4) Kamera
5) ATK
b. Prosedur kerja
1) Siapkan alat yang akan digunakan
2) Letakkan Fly Grill secara mendatar pada
tempat yang sudah ditentukan
3) Pasang hygrothermometer dekat dengan
Fly Grill
4) Kemudian hitung berapa jumlah lalat
yang hinggap pada fly grill tersebut
5) Hitung selama 10 detik dengan
menggunakan hand counter
6) Setelah selesai pindah ke tempat yang
lain dengan jarak ± 10 meter dan lakukan selama 10 kali
pengukuran

Laporan Pest Control 17


7) Setelah 10 detik pertama, catat hasil dan
jumlah lalat yang hinggap pada fly grill tersebut pada kertas
blanko yang telah disediakan, dan lakukan hal tersebut
sebanyak 10 kali perhitungan
8) Kemudian ambil sebanyak 5 hasl
perhitungan kepadatan lalat tertinggi, kemudian dirata-
ratakan
9) Hasil rata-rata adalah angka kepadatan
lalat dengan satuan ekor per block Grill
10) Untuk kelengkapan informasi, perlu juga
diadakan pengukuran suhu dan kelemababan untuk
menghasilkan pengukuran yang optimal.
Hasil pengamatan

No Lokasi/Titik HITUNGAN 10 DETIK KE RATA-RATA


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Sample
1. Tempat 2 1 2 3 2 1 3 1 1 2 2,4
pengumpulan
teh
2. Gudang 1 2 0 2 0 0 0 1 0 1 1,4
Penyimpanan
Teh
3. TPS di Pabrik 0 1 1 2 0 1 1 0 1 2 1,6

= 1,8

c. Pembahasan
Berdasarkan Pengukuran Kepadatan Lalat yang kami lakukan dapat
dianlisa rata –rata 1,8 ekor / block grill jadi lalat tersebut masuk
dalam tingkat rendah. Jadi tidak ada ada masalah mengenai lalat

Laporan Pest Control 18


6. Hasil Pemantauan Hygiene Sanitasi
Variabel Syarat (Permenkes No.
No Hasil Pemantauan
Penilaian 261/MenKes/SK/1998)
1 2 3 4
1 Ruang karyawan
a. Lantai, - Lantai terbuat dari bahan yang
dinding, kuat, kedap air, permukaan rata - Lantai Bersih
langit-langit dan tidak licin
- Dinding harus rata, bersih dan
berwarna terang, permukaan - Dinding dan langit-
dinding yang selalu terkena langit sudah cukup
percikan air terbuat dari bahan bersih
yang kedap air
- Langit-langit harus kuat, bersih,
berwarna, ketinggian minimal 3
meter dari lantai

b. Penerangan - Syarat menurut permentenaga - Cukup, tidak


kerja dan transmigrasi menyilaukan
- Intensitas, kesilauan, menetap
tidaknya

2 Saluran limbah - Saluran tertutup - Saluran tertutup


- Tidak menjadi tempat sarang
vector
- Tidak terdapat genangan air
- Kuat
- Cukup untuk menampung
sampah yang ditimbulkan
4 Tempat sampah - Kedap air, kuat, tertutup, bebas - Kedap air, kuat,
dari serangga dan binatang terbuka, terdapat
pengganggu binatang vector (lalat
- Mencukupi untuk menampung dan nyamuk)
sampah yang dihasilkan - Volume cukup untuk
menampung sampah
yang ada
- Jumlah cukup
5 Hygiene - Menggunakan pakaian kerja - Sebagian besar
perorangan dengan rapi sesuai dengan pekerja hanya
ketentuan. menggunakan pakaian

Laporan Pest Control 19


Variabel Syarat (Permenkes No.
No Hasil Pemantauan
Penilaian 261/MenKes/SK/1998)
1 2 3 4
ala kadarnya
6 APD - Safety helmet - APD yang tersedia
- Pakaian pelindung atau apron berupa masker, ,
- Masker sarung tangan, safety
- Sarung tangan shoes
- Pelindung telinga
- Safety shoes
7 Keadaan - Terdapat taman dan tanaman - Rapi, Sejuk
lingkungan yang tertata rapi
sekitar tempat - Nyaman dan sejuk
kerja - Tidak terjadi integritas antar
workshop maupun dengan
sumber dampak

7. Insecnet
Insectnet merupakan salah satu alat perlengkapan dari sebuah bidang
Pertanian atau Tanaman yang memiliki fungsi sangat penting dalam
sebuah bidang tersebut. Insect Net (insect screen) atau sering juga
disebut kasa atau kelambu tanaman tersebut juga merupakan salah
satu alat yang banyak di gunakan untuk sebuah Greenhouse. Biasanya

Laporan Pest Control 20


insect net ini digunakan pada dinding greenhouse, sementara atap
greenhouse menggunakan plastik UV (Ultra Violet).Insect net / screen
net pada dasarnya terbuat dari kain jaring yang lembut, agar lebih
mudah dipakai dan tidak menyakiti atau merusak sayap serangga yang
tertangkap.
a. Alat dan Bahan
1) Insecnet
2) Plastik
3) ATK
b. Prosedur kerja
1) Persiapkan alat kerja
2) Tentukan titik lokasi pengamatan serangga
3) Bila ada serangga pada lokasi yang sudah di tentukan
tangkap serangga dengan menggunkan insectnet.
4) Amati serangga yang ada pada insect net dan catat jenis
atau nama serangga tersebut.
5) Bila ingin diindentifikasi lebih lanjut masukan serngga
tersebut ke dalam plastik kemudian di bawa ke laboratium.
c. Hasil dan Pembahasan
Dari hasil pengamatan dengan menggunkan insect net hanya di
temukan tikus saja, tetapi tikus tersebut tidak memakan daun teh
maupun olahan teh yang sudah jadi.

KESIMPULAN DARI HASIL PENGAMATAN


No Pengamatan Keterangan
1 Pencahayaan 137 LUX
2 Kebisingan 84,38 db
3 Suhu dan 23,50C dan 79%
Kelembaban
4 Kecepatan Angin 0,17
5 Kepadatan lalat 1,8
6 Insecnet Tikus,lalat

Dari 6 aspek pengukuran tersebut bahwa di pabrik PT Candi Loka


Ngawi tidak ada vektor yang mengganggu di perusahaan, dikarenakan
dari segi bangunan maupun hygiene sanitasi perusahaan masih
memenuhi syarat.

Laporan Pest Control 21


BAB V
PESTISIDA

A. Pengertian
Pengertian Pestisida menurut PP No.7 tahun 1973: semua zat kimia dan bahan
lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk:
1. Memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman,
bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian.
2. Memberantas rerumputan.
3. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.
4. Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian
tanaman (tidak termasuk pupuk)
5. Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan peliharaan dan
ternak.
6. Memberantas atau mencegah hama-hama air.
7. Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad renik dalam
rumah tangga bangunan dan alat-alat angkutan, alat-alat pertanian.
8. Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan
penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan
penggunaan pada tanaman, tanah dan air.

Definisi Pestisida menurut : The United States Federal Environmental


Pesticide Act (Green 1979)
1. Semua zat atau campuran yang khusus untuk memberantas mencegah atau
menangkis gangguan dari pada serangga, binatang pengerat, nematoda,
cendawan, gulma, virus, bakteri, jasad renik, yang dianggap hama kecuali

Laporan Pest Control 22


virus, bakteri atau jasad renik yang terdapat pada manusia dan binatang
lainnya.
2. Semua zat atau campuran zat yang dimaksud untuk digunakan sebagai
pengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman.

Peranan Pestisida
1. Meningkatkan produksi pertanian.
2. Membantu dalam meningkatkan produksi bahan pangan.
3. Ruang lingkup pestisida di bidang selain pertanian : perhutanan,
peternakan, perikanan, perkebunan, rumah tangga, kesehatan, angkutan,
industri dan bangunan.
Untuk mencapai hasil maksimal, beberapa hal yang harus benar-benar
dipahami :
1. Harus benar-benar mengenal hama sasaran, khususnya : biologi, ekologi
dan perilakunya
2. Strategi pengendalian yang ditempuh harus memperhatikan siapa
sasarannya, bagaimana melaksanakannya, dimana dan kapan waktu yang
paling tepat
3. Penggunaan materi untuk pengendalian harus tepat, apakah pestisida
(toksikologi dan persistensinya), organisme musuh alami (biologi, ekologi
dan perilakunya) ataupun cara-cara non pestisida lainnya.
Macam-macam Pestisida
1. Insektisida : pestisida yang digunakan untuk membasmi serangga
2. Rodentisida : pestisida yang digunakan untuk membasmi tikus
3. Akarisida : pestisida yang digunakan untuk membasmi keong
4. Virusida : pestisida yang digunakan untuk membasmi virus
5. Nematisida : pestisida yang digunakan untuk membasmi cacing
6. Avisida : pestisida yang digunakan untuk membasmi burung
7. Molluscisida : pestisida yang digunakan untuk membasmi bekicot
8. Larvasida : pestisida yang digunakan untuk membasmi larva
9. Herbisida : pestisida yang digunakan untuk membasmi rumput
10. Piscisida : pestisida yang digunakan untuk membasmi ikan
11. Fungisida : pestisida yang digunakan untuk membasmi jamur
12. Bakterisida : pestisida yang digunakan untuk membasmi bakteri

Laporan Pest Control 23


B. Insektisida
1. Pengertian
Insektisida adalah racun untuk membasmi serangga
2. Formulasi insektisida
Insektisida biasanya diproduksi sebagai bahan yang relatif murni
disebut bahan teknis (technical material). Bahan teknis dapat berupa
bubuk kristal, cairan berminyak (oily), cairan kental (viscous) maupun
padatan. Bahan ini jarang langsung digunakan, maka formulator harus
melakukan suatu proses agar bahan teknis dapat diaplikasikan oleh
operator. Produk akhir dari formulasi dapat berbentuk formulasi siap
pakai (ready to use) atau konsentrat yg memerlukan pengenceran.
a. Komponen formulasi
Komponen formulasi terdiri dari bahan aktif (bahan teknis), pelarut
(solvent), pengencer (diluent) dan surfaktan (surface-active agent)
dan sinergis.
b. Jenis-jenis formulasi insektisida
 Oil miscible Liquid (OL)
 Emulsifiable Concentrate (EC)
 Microemulsifiable Concentrate (MEC)
 Emulsion, Oil in Water (EW)
 Wettable Powder (WP)
 Water dispersible granule (WG)
 Water Soluble Powder (SP)
 Suspension Concentrate (SC)
 Suspo-emulsion (SE)
 Capsule Suspension (CS)
 Solution /Soluble Liquid (SL)
 Dust (D)
 Granul (GR)
 Bait (B)
 Ultra Low Volume (UL)
 Mosquito Coil (MC)
 Aerosol (AE)
 Vaporizer
 Formulasi siap pakai lainnya.

Laporan Pest Control 24


C. Hasil dan Pembahasan pestisida
1. Kadar bahan aktif
Kadar bahan aktif adalah jumlah racun yang terkandung di dalam formulasi
insektisida, kadar bahan aktif yang ditetapkan oleh pabrikan.
2. Konsentrasi Bahan Aktif
Konsentrasi bahan aktif adalah tingkat kepekatan bahan aktif di dalam
adukan jadi.
Contoh :
Bahan aktif yang terkandung di dalam baygon adalah sebesar 8 %, maka

proporzure adalah sebanyak x 1000 = 80 cc dalam 1 liter.


3. Konsentrasi Formulasi
Konsentrasi formulasi adalah tingkat kepekatan formulasi di dalam adukan
jadi. Konsentrasi formulasi dapat diperoleh berdasarkan konsentrasi bahan
aktif.

4. Adukan JadiKonsentrasi formula (l) =


Adukan jadi adalah pengenceran cairan pekat formulasi yang siap
disemprotkan. Ini bisa dikatakan volume semprot dosis bahan aktif,
ukuran/takaran racun yang diaplikasikan pada suatu sasaran. Sasaran yang
dimaksud adalah serangga/hama yang disemprot (sekelompok serangga
yang sedang terbang/hinggap).

5. Prinsip Aplikasi
Prinsip aplikasi adalah pemberian sejumlah bahan aktif untuk sasaran.

6. PerhitunganDosis aplikasi =
dan Kalibrasi
Perencanaan sebelum melaksanakan kegiatan yang harus diketahui adalah
bahan yang digunakan dan semprotan yang dikeluarkan tiap detik/menit.
Kalibrasi dilaksanakan pada saat aplikasi insektisida agar sejalan dengan
perhitungan yang telah dilakukan. Perhitungan pengenceran untuk

Laporan Pest Control 25


menetapkan formulasi yang menghasilkan konsentrasi formulasi dalam tiap
liter adukan jadi.
Dengan Rumus

Jumlah formulasi =
Jumlah formulasi = Angka perbandingan x adukan jadi

Dosis formulasi per area =

Dosis adukan = x Dosis formulasi


Contoh soal :
a. Dalam suatu pes cotrol digunakan Baygon 20 EC dengan
rekomendasi konsentrasi bahan aktif 0,8%. Berapa konsentrasi
formulasinya ?
Jawab :
Untuk insektisida tersebut mengandung ± 20 % BA
Dalam tiap liter formulasi terdapat BA sebesar x 1000 = 200

gram atau setara dengan 200 cc.


Konsentrasi BA dalam tiap liter adalah x 1000 = 8 cc/l

Konsentrasi formulasi =

= 40 cc/l
Perbandiangan antara formulasi dengan adukan jadi
Adukan jadi : Formulasi
1000 : 40
25 : 1
Jadi konsentrasi formulasi baygon adalah sebesar 40 cc/l.

b. Diketahui konsentrasi formulasi suatu insektisida adalah 60 cc/l.


Seandainya adukan yang dipersiapkan adalah 1 tangki hand spray
itu berisi 10 liter. Berapa liter formulasi yang digunakan dan serta
volume air pengencer ?

Laporan Pest Control 26


Jawab :
Konsentrasi formulasi 60 cc/l setara dengan data perbandingan
pengenceran adalah :
konsentrasi formulasi : pengencer
60 : 1000
1 : 16,7

Jumlah formulasi = x 10 l

= 0,6 l
Volume air pengencer = 10 l – 0,6 l
= 9,4 l
Jadi formulasi insektisida yang dibutuhkan adalah sebesar 0,6 liter
dan volume air pengencernya sebesar 9,4 liter.

c. Baygon 20 EC direkomendasikan untuk nyamuk dan lalat dengan


dosis 0,25 gram BA/m2. Seandainya sasaran yang akan
disemprotkan seluas 1000 m2. Berapa liter adukan jadi yang harus
disiapkan ? (Bila konsentrasi formulasi 40 cc/l)
Jawab :

Dosis formulasi =

= 1,25 cc/m2
Data perbandingan = konsentrasi formulasi : pengencer
40 : 1000
1 : 25

Dosis adukan = x 1, 25

= 31,25 cc/m2
Jumlah adukan = 1000 m2 x 31,25 cc/m2
= 31.250 cc
= 31,25 l
Jadi adukan jadi baygon yang harus disiapkan adalah sebesar
31,25 l.

d. Sasaran seluas 3000 m2 akan disemprot dengan silicon 25 EC


dengan dosis adukan jadi 30 cc/m2. Bila konsentrasi bahan aktif
1,5%, berapa liter insektisida yang dibutuhkan ?
Jawab :
Konsentrasi bahan aktif = x 1000
= 15 cc/ l

Laporan Pest Control 27


Konsentrasi formulasi =

=
= 60 cc/ l
Data perbandingan = konsentrasi formulasi : pengencer
60 : 1000
1 : 16,7
Jumlah adukan = 3000 m2 x 30 cc/ l
= 90.000 cc
= 90 liter
Jumlah formulasi = x 90
= 5,4 l
Jadi insektisida yang dibutuhkan adalah sebesar 90 liter dengan
jumlah formulasi sebesar 5,4 l.

Laporan Pest Control 28


BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
2. Uji Bio-Assay yang telah dilakukan kami
menggunakan insektisida Baygon yang mengandung bahan aktif Proposur
1,18% dan D aletrin 0,22%. Nyamuk yang diuji mengalami kematian 100%,
dan pada kontrol mengalami kematian 20 %. Kematian tersebut didorong
oleh beberapa faktor, antara lain:
- Jarak antar cone yang terlalu dekat.
- Nyamuk yang digunakan sebagai uji kemungkinan adalah nyamuk
jantan.
- Nyamuk yang diuji belum kenyang darah.
2. Uji Susceptibility Kepekaan nyamuk vektor terhadap insektisida dibagi
atas 3 kriteria, yaitu sebagai berikut :
o Kematian < 80% : Kebal
o Kematian 80 – 98% : Toleran
o Kematian 99 – 100% : Masih peka

Hasil yang didapat dari perhitungan kepekaan nyamuk vektor terhadap


insektisida yaitu 86,11% sehingga masuk dalam kriteria toleran.

3. Dari uji hayati dengan metode glass Chamber replikasi 1 di dapatkan hasil
Presentasi Kematian Nyamuk Sebesar 70%
4. Saat kunjungan di PT Candi Loka Perusahaan memenuhi syarat Hygiene
Sanitasi, karena di gudang penyimpanan tidak ditemukan vektor
pengganggu, hanya di temukan tikus namun tidak mengganggu.

B. Saran

Selalu di jaga kebersihan agar selalu terhindar dari vektor pengganggu

Laporan Pest Control 29