Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 5 MODUL 3 "PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN GIGI"

Insisivus 1

Tutor: drg. Aria Fransiska, MDSc

Ketua : Zhafira Fidinina

Sekretaris Meja: Indah Amelia

Sekretaris Papan: Mega Apriliani

Aaron Michelle Duvali

Balinda millenia

Khazana Rahmatika

Putri Permata Sari

Shavira faran

Dini Anita Marlin

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

2018
Kata Pengantar

Assalamualaikum wr.wb

Alhamdulillahirabbilalamin, sungguh banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita,


tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji bagi Allah atas segala berkat, rahmat, taufik,
serta Hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas hasil
laporan Tutorial Skenario modul 3 ini.

Dalam penyusunannya kami mengucapkan terimakasih kepada dokter tutor kita drg. Aria
Fransiska, MDSc yang telah memberikan dukungan, kasih dan kepercayaan yang begitu besar.
Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga laporan ini bisa bermanfaat dan menuntun
pada langkah yang lebih baik lagi bagi kami.

Meskipun kami berharap isi dari laporan tutor kami ini bebas dari kekurangan dan
kesalahan, namun pasti selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan
saran yang membangun agar laporan tutorial ini dapat lebih baik lagi.

Akhir kata kami mengucapkan terimakasih, semoga hasil laporan tutorial kami ini dapat
bermanfaat.

Wassalam

Padang, 25 Maret 2018

Penyusun
Modul 3

Skenario 4

Skenario 3 "Bentuk Gigi Saprol”

Ny X (28 th) membawa Saprol (7 th) ke drg karena gigi atas depan saprol yang baru
tumbuh bentuknya tidak seperti gigi depan tapi bentuknya runcing sehingga Ny X merasa cemas.

Setelah melakukan peemeriksaan drg menjelaskan bahwa terdapat anomali pertumbuhan


dan perkembangan gigi berupa mesiodens. Dari hasil pemeriksaan diketahui juga gigi molar
Saprol banyak yang karies sehingga dokter menyarankan dilakukan perawatan untuk mencegah
terjadinya ganguan erupsi gigi permanen. Karena gangguan erupsi akan menyebabkan gangguan
pertumbuhan dan perkembangan oklusi rahang. Dokter gigi menyarankan agar Saprol lebih
banyak mengosumsi makanan yang baik untuk kesehatan giginya. Mendengar penjelasan drg,
Ny X merasa tenang

Bagaimana saudara bisa membantu menjelaskanyang dialami Saprol?

Langkah Seven Jumps :

A. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal yang dapat
menimbulkan kesalahan interpretasi

B. Menentukan masalah

C. Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior knowledge

D. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan mencari


korelasi dan interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat solusi secara
terintegrasi

E. Memformulasikan tujuan pembelajaran/ learning objectives

F. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain

G. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh


A. TERMINOLOGI

1. Anomali adalah bentuk gigi yang menyimpang dari bentuk aslinya

2. Mesiodens adalah suatu kelainan bentuk dan jumlah gigi. Biasanya terjadi pada gigi
anterior dan terletak pada garis tengah maksila

3. Erupsi adalah proses pertumbuhan gigi yang dimulai dari tempat pembentukan gigi
didalam tulang sampai dataran oklusal

4. Oklusi adalah adalah hubungan statis antara gigi atas dan gigi bawah selama interkuspasi
dimana pertemuan tonjol gigi atas dan bawah terjadi secara maksimal

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan gigi?


2. Apa sajakah faktor terjadinya mesiodens ?
3. Bagaimanakah proses perkembangan oklusi pada gigi?
4. Apa sajakah faktor yang menyebabkan terjadinya karies?
5. Bagaimanakah pertumbuhan dan perkembangan anomali gigi?
6. apa sajakah faktor terjadinya anomali pada gigi?
7. Bagaimana cara mencegah anomali gigi?
8. Apa sajakah gangguan yang terjadi pada oklusi gigi?

C. ANALISA MASALAH
• 1. A. Faktor sistemik

– Hyperthyroidism

– Hyperpituitarism

– Turner’s syndrome
• b. Faktor lokal

– Posisi gigi yang salah/menyimpang

– Tidak adanya space pada lengkungan

– Sangat awal kehilangan predecessor

– Tidak erupsi pada lengkungnya

– Tidak adanya kogenital gigi

– Ankylosis predecessor (sementum menempel dengan tulang tulang alveolar)

– Penahan gigi atau sisa akar deciduous

– Arrested tooth formation (trauma)

– Gigi berlebih

– Tumor

– Cyst

– Kebiasaan abnormal menekan muscular

2. Berbagai macam komplikasi mungkin bisa terjadi sebagai akibat dari adanya mesiodens,
seperti penundaan pertumbuhan gigi, crowding (gigi berjejal), spacing (gigi bersela) dan tidak
tumbuhnya gigi seri permanen, pembentukan akar yang tidak normal, perubahan arah
pertumbuhan gigi seri permanen, median diastema (sela antara 2 gigi depan), kista, infeksi intra
oral, rotasi, resorpsi akar dari gigi yang berdekatan atau bahkan pertumbuhan gigi seri ke rongga
hidung.

1. Kegagalan pertumbuhan.

adanya gigi supernumerary merupakan penyebab paling sering dari kegagalan pertumbuhan gigi
seri rahang atas.
2. Kesalahan penempatan atau rotasi

Pada beberapa kasus, kesalahan penempatan dari gigi seri adalah sesuatu yang umum ditemukan
yang mungkin dapat menunda pertumbuhan. Pada review scheiner dan Sampson telah
disinggung bahwa lbih memungkinkan tipe turbuculate dari mesiodens menyebabkan
keterlambatan pertumbuhan dan tipe conical menyebabkan kesalahan penempatan dari gigi yang
berdekatan. Ini sangat penting untuk mengecek kehadiran gigi supernumerary jenis apapun
sebelum melakukan perawatan rotasi gigi dan diastema.

3. crowding atau diastema abnormal

pertumbuhan dari gigi supernumerary sering menyebabkan crowding (gigi berjejal).


Supernumerary di sisi samping gigi seri meningkatkan kemungkinan crowding dan mungkin
menyebabkan masalah kecantikan pada rahang atas bagian depan

4. Abnormalitas akar

Resorpsi akar dari gigi yang berdekatan karena kehadiran gigi supernumerary mungkin terjadi
sangat jarang. Dilacerations adalah perkembangan anomaly dari bentuk gigi dan strukturnya,
yang mungkin menjadikan mahkota gigi dan akar menjadi runcing.

5. Pembentukan kista

Asaumi et al pada 1 tahun penelitian retrospective melaporkan bahwa pembentukan kista gigi
karena gigi supernumerary telah diobservasi pada 11% kasus.

6. pertumbuhan ke rongga hidung

Komplikasi lainnya yang berhubungan dengan mesiodens adalah pertumbuhan ektopik (diluar
rahang) bahkan hingga ke rongga hidung. Radiografi sebagai tambahan pemeriksaan klinis
membantu dokter gigi dalam pendiagnosaan.

3. Ada dua tahap oklusi pada manusia :

1. Perkembangan gigi geligi susu


2. Perkembangan gigi geligi permanen.

Perkembangan gigi –geligi susu

Seluruh gigi geligi susu akan lengkap erupsi pada anak berumur lebih kurang 2,5 tahun. Pada
periode ini lengkung gigi pada umumnya berbentuk oval dengan gigitan dalam ( Deep bite ) pada
overbite dan overjet dan dijumpai adanya “ generalized interdental spacing ( celah –celah
diantara gigi- geligi ). Hal ini terjadi karena adanya pertumbuhan tulang rahang kearah
transversal untuk mempersiapkan tempat gigi –gigi permanen yang kan tumbuh celah yang
terdapat dimenssial cainus atas dan disebelah distal caninus bawah disebut “primate space “ .
Primate space ini diperlukan pada “ early mesial shift “.
Adanya celah –celah ini memberi kemungkinan gigi-gigi permanen yang akan erupsi
mempunyai cukup tempat, sebaiknya bila tidak ada memberi indikasi kemungkinan terjadi gigi
berjejal ( crowding ).

Hubungan molar kedua dalam arah sagital dapat :

1. Berakhir pada satu garis terminal ( flush terminal plane ), yang merupakan garis
vertikal disebelah distal molar kedua.
2. Molar kedua mandibula letaknya lebih kedistal dari molar kedua maksila (distal
step ) .
3. Molar kedua mandibula lebih kearah mesial molar kedua maksila ( mesial step ) .
4. Faktor penyebab terjadinya karies

1. Bentuk gigi.
2. Faktor jumlah saliva
3. Faktor waktu
4. Faktor mikroorganisme
5. Faktor makanan
6. Faktor perilaku membersihkan gigi

5. a. Berdasarkan Bentuk Gigi · Germinasi: kelainan gigi yang terjadi karena satu benih
gigi terbagi dua pada proses invaginasi, sehingga terbentuk dua gigi yang tidak
sempurna. · Fusi: penyatuan sebagian atau seluruh dua benih gigi selama pertumbuhan.
b. Berdasarkan Variasi dan ukuran Gigi · Mikrodontia · Macrodontia
c. Berdasarkan Jumlah Gigi · Supernumerary teeth: brntuk gigi tambahan antara dua gigi
dengan bentuk dan ukuran tidak normal. · Anodontia: tidak berkembangnya
sebagian/seluruh gigi. · Preciduous dentition: lahir dengan struktur mirip gigi erupsi
waktu lahir karena penandukan epitel di atas gingival.
6. Faktor penyebab anomali gigi yaitu:
1. Faktor Hereditas
2. Gangguan waktu pertumbuhan, perkembangan gigi
3. Gangguan Metabolisme
Anomali Gigi umumnya biasa terjadi
1. gigi permanan > gigi susu
2. Rahang atas > Rahang Bawah
7.cara mencegah anomali gigi
a. Nutrisi
seorang ibu hamil harus menjaga nutri pada masa kehamilannya seperti mengosumsi vit
A,D ,E dan K
b. Kebiasaan
seorang ibu hamil harus dihindari dari kegiatan yang berlebihan yang dapat menimbulkan
risiko kepada bayinya.
8. Gangguan Oklusi pada gigi
1. ABNORMALITAS JUMLAH GIGI
1. Anodonsia
a.True Anadonsia
Suatu istilah yang di gunakan untuk menunjukkan ada tidaknya seluruh gigi permanen
atau gigi susu disebabkan :
-Gagalnya benih gigi untuk berinisiasi
-Inisiasi berlangsung pada benih mengalami kehancuran
b. False Anadonsia
Suatu istilah yang digunakan untuk gigi secara klinik tidak tampak. Keadaan ini di
sebabkab adanya gigi impaksi atau ankilosis yang gagal untuk erupsi sehingga tampak
adanya ruang kosong pada lengkung gigi-gigi terdapat pada rahang tapi tidak erupsi,
misalnya impaksi.
Urutan gigi geligi yang mengalami anodonsia
1. M3 (M3 RA> M3 RB)
2. I2 RA
3. P2 RB
4. I1 RA

2.ACCESSORY TEETH DAN SUPENUMERARY TEETH


Gigi mempunyai kecenderungan untuk membuat duplikatnya sendiri dan keadaan ini
bersifat herediter.
a.Mesiodens
gigi yang terletak diantara gigi I1 RA

b. Paramolar
Gigi yang erletak di antara gigi M dan P

c.Distomolar
Terletak di sebelah distal M3 RA

3. ABNORMALITAS UKURAN GIGI


1.Makrodonsia
a.Generalized Macrodonsia
Menunjukkan adanya gigi yang lebih besar dari normal pada seluruh gigi.
b.Makrodonsia Lokal
Menunjukkan adanya satu atau sekelompok gigi yang berukuran lebih besar dari normal dan
sering terjadi pada M3 RB.
2.Mikrodonsia
a.Generalized Microdontia
Mikrodonsia yang menyeluruh suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya
seluruh gigi yang tampak lebih kecil dan normal.
D.SKEMA

Ny X (27 th) membawa Saprol (7 th) ke drg

Terdapat anomali pertumbuhan dan


Pemeriksaan
perkem bangan gigi berupa mesiodens
drg

Faktor penyebab Terdapat banyak Hasil pemeriksaan drg


terjadinya karies karies

-melalukan perawatan
Saran drg
- mengosumsi makan yang baik
dan sehat

Faktor yang Proses Anomali tumbuh


Cara mencegah
mempengaruhi perkembangan kembang gigi
anomali
pertumbuhan dan oklusi gigi dan
perkembangan gigi gangguannya -bentuk
- Nutrisi
-sistemik -ukuran - Kebiasaan

-lokal -jumlah
E. TUJUAN PEMBELAJARAN / LEARNING OBJECTIVE

1. Menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan gigi!

2. Menjelaskan proses perkembangan oklusi gigi dan gangguannya!

3. Menjelaskan anomali tumbuh kembang gigi!

4. Menjelaskan cara mencegah anomali gigi!

F. KUMPULAN INFORMASI

1. pertumbuhan dan perkembangan gigi


• A. Faktor sistemik

– Hyperthyroidism

– Hyperpituitarism

– Turner’s syndrome

B.faktor lokal
– Posisi gigi yang salah/menyimpang

– Tidak adanya space pada lengkungan

– Sangat awal kehilangan predecessor

– Ectopic erupsi

– Tidak adanya kogenital gigi

– Ankylosis predecessor
– Penahan gigi atau sisa akar deciduous

– Arrested tooth formation (trauma)

– Gigi cadangan

– Tumor

– Cyst

– Kebiasaan abnormal menekan muscular

Selain itu juga ada

A. Faktor Keturunan (Genetik)

Faktor genetik mempunyai pengaruh terbesar dalam menentukan waktu dan

urutan erupsi gigi, termasuk proses kalsifikasi. Pengaruh faktor genetic terhadap erupsi

gigi adalah sekitar 78%.

B. Jenis Kelamin

Waktu erupsi gigi permanen rahang atas dan bawah terjadi bervariasi pada setiap

individu.Pada umumnya waktu erupsi gigi anak perempuan lebih cepat dibandingkan

laki-laki.Perbedaan ini berkisar antara 1 hingga 6 bulan.

C. Faktor Lingkungan

Pertumbuhan dan perkembangan gigi dipengaruhi oleh faktor lingkungan tetapi

tidak banyak mengubah sesuatu yang telah ditentukan oleh faktor keturunan.Pengaruh
faktor lingkungan terhadap waktu erupsi gigi adalah sekitar 20%. Faktor-faktor yang

termasuk ke dalam faktor lingkungan antara lain:

D. Sosial Ekonomi

Tingkat sosial ekonomi dapat mempengaruhi keadaan nutrisi, kesehatan seseorang

dan faktor lainnya yang berhubungan.Anak dengan tingkat ekonomi rendah

cenderung menunjukkan waktu erupsi gigi yang lebih lambat dibandingkan anak

dengan tingkat ekonomi menengah.

E. Nutrisi

Faktor pemenuhan gizi dapat mempengaruhi waktu erupsi gigi dan perkembangan

rahang. Nutrisi sebagai faktor pertumbuhan dapat mempengaruhi erupsi dan proses

kalsifikasi. Keterlambatan waktu erupsi gigi dapat dipengaruhi oleh faktor

kekurangan nutrisi, seperti vitamin D dan gangguan kelenjar endokrin.Pengaruh

faktor nutrisi terhadap perkembangan gigi adalah sekitar 1%.

F. Faktor Penyakit

Gangguan pada erupsi gigi permanen dapat disebabkan oleh penyakit sistemik

dan beberapa sindroma, seperti Down syndrome, Cleidocranial dysostosis,

Hypothyroidism, Hypopituitarism, beberapa tipe dari Craniofacial synostosis dan

Hemifacial atrophy.

G. Faktor Lokal

Faktor-faktor lokal yang dapat mempengaruhi erupsi gigi adalah :

- Kehilangan ruangan akibat tanggal dini gigi susu

- Posisi abnormal
- Gigi berjejal, ruang tidak cukup membuat erupsi menjadi lebih lambat

- Kista dentigerus yang menghalangi gigi untuk erupsi

- Retensi gigi susu, kadang-kadang gigi susu mengalami ankilosis

- Resorpsi akar gigi susu yang lambat akibat infeksi periapikal menyebabkan gigi

permanen terlambat erupsi.

- Jarak gigi ke tempat erupsi

- Trauma dari benih gigi

- Mukosa gusi yang menebal

2. Ada dua tahap oklusi pada manusia :

1. Perkembangan gigi geligi susu


2. Perkembangan gigi geligi permanen.

Perkembangan gigi –geligi susu

Seluruh gigi geligi susu akan lengkap erupsi pada anak berumur lebih kurang 2,5 tahun. Pada
periode ini lengkung gigi pada umumnya berbentuk oval dengan gigitan dalam ( Deep bite ) pada
overbite dan overjet dan dijumpai adanya “ generalized interdental spacing ( celah –celah
diantara gigi- geligi ). Hal ini terjadi karena adanya pertumbuhan tulang rahang kearah
transversal untuk mempersiapkan tempat gigi –gigi permanen yang kan tumbuh celah yang
terdapat dimenssial cainus atas dan disebelah distal caninus bawah disebut “primate space “ .
Primate space ini diperlukan pada “ early mesial shift “.

Adanya celah –celah ini memberi kemungkinan gigi-gigi permanen yang akan erupsi
mempunyai cukup tempat, sebaiknya bila tidak ada memberi indikasi kemungkinan terjadi gigi
berjejal ( crowding ).

Hubungan molar kedua dalam arah sagital dapat :

1. Berakhir pada satu garis terminal ( flush terminal plane ), yang merupakan garis
vertikal disebelah distal molar kedua.
2. Molar kedua mandibula letaknya lebih kedistal dari molar kedua maksila (distal
step ) .
3. Molar kedua mandibula lebih kearah mesial molar kedua maksila ( mesial step ) .

Perkembangan Oklusi gigi- geligi permanen. Foster ( 1982 ) membagi dalam tiga tahap
perkembangan :
1. Tahap erupsi molar pertama dan incisivi permanen.

TAHAP 1 ( TERJADI PADA UMUR ANTARA 6 – 8 TAHUN )

Terjadi penggantian gigi inncisivi dan penambahan molar pertama permanen . Pada umur 6,5
tahun ketika incisivus sentral atas erupsi akan terlihat space pada garis median prosesus
alveolaris sehingga dapat menyebabkan kesalahan diagnosis sebagai suatu keadaan frenulum
yang abnormal, keadaan ini disebut dengan istilah “ Ugly duckling stage “.

Kadang –kadang incisivi permanen terlihat croding pada saat erupsi dan incisivi

Lateral berhimpitan ( overlap ) dengan gigi caninus susu. Keadaan ini bisa diatasi bila terdapat
leeway space. Leeway space adalah perbedaan ruangan antara lebar mesiodistal gigi caninus,
molar pertama dan kedua susu dengan caninus premolar pertama dan kedua permanen.

Hubungan distal molar kedua susu atas dan bawah mempengaruhi hubungan molar pertama
permanen, molar pertama permanen penting peranannya pada tinggi vertikal rahang selama
periode penggantian gigi susu menjadi gigi permanen . Pada umur 8 tahun incisivi dan molar
pertama permanen telah erupsi. Apabila incivisi atas lebih dulu erupsi dari yang bawah, dapat
menyebabkan terjadinya gigitan dalam ( deep overbite ). Dengan adanya pertumbuhan gigitan
dalam yang terjadi dapat terkoreksi dengan occlusal adjustment yang terjadi kemudian.

2. Tahap erupsi caninus, premolar dan molar kedua.

TAHAP 2 ( TERJADI PADA UMUR ANTARA 10 – 13 TAHUN )

Pada tahap ini bila molar susu bawah sudah diganti oleh premolar permanen, sedangkan molar
susu atas belum, maka akan terdapat penambahan besar overbite dan bila sebaiknya maka kontak
gigi terlihat edge.

3. Tahap erupsi molar ketiga.

TAHAP 3 ( TAHAP ERUPSINYA MOLAR KETIGA )

Penyesuaian oklusi ( occusal adjustment )

Menurut Salzmann ( 1966 ) terdapat 3 mekanisme yang berbeda pada penyesuaian oklusi normal
gigi susu keperiode gigi bercampur sampai tercapai stabilisasi pada periode gigi permanen :

 Jika bidang vertikal dari permukaan distal molar kedua susu atas terletak distal
molar kedua susu bawah maka molar prtama permanen akan menempati sesuai dengan
oklusi pada gigi susu.
 Jika terdapat primate space dan bidang vertikal molar kedua susu segaris, maka
terjadi oklusi normal pada molar pertama permanen, karena adanya pergeseran molar
susu kemesial sehingga ruangan tersebut tertutup.
 Jika bidang vertikal sama dan molar pertama permanen hubungannya cusp, maka
oklusi normal terjadi karena adanya pergeseran kemesial yang terjadi kemudian setelah
molar kedua susu tanggal.

Periode diantara periode gigi susu dan gigi –gigi permanen disebut periode gigi –gigi bercampur.
Menurut Moyers ( 1974 ) adalah merupakan periode dimana gigi susu dan permanen berada
bersama-sama didalam mulut .

Gigi- geligi tetap yang adan dibagi atas dua kelompok :

 Successional Teeth, gigi permanen yang menggantikan gigi susu.


 Accesssional Teeth, gigi tetap yang erupsi diposterior dari gigi susu.

Dua aspek penting pada periode gigi – geligi bercampur adalah :

 Penggunaan dental arch perimeter.


 Penyesuaian perubahan oklusi yang terjadi selama pergantian gigi.

Gangguan oklusi

ABNORMALITAS JUMLAH GIGI

1. Anodonsia

a.True Anadonsia

Suatu istilah yang di gunakan untuk menunjukkan ada tidaknya seluruh gigi permanen atau

gigi susu disebabkan :

-Gagalnya benih gigi untuk berinisiasi

-Inisiasi berlangsung pada benih mengalami kehancuran

b.false anadonsia

Suatu istilah yang digunakan untuk gigi secara klinik tidak tampak. Keadaan ini di
sebabkab adanya gigi impaksi atau ankilosis yang gagal untuk erupsi sehingga tampak

adanya ruang kosong pada lengkung gigi-gigi terdapat pada rahang tapi tidak erupsi,

misalnya impaksi.

Urutan gigi geligi yang mengalami anodonsia

1. M3 (M3 RA> M3 RB)

2. I2 RA

3. P2 RB

4. I1 RA

ACCESSORY TEETH DAN SUPENUMERARY TEETH


Gigi mempunyai kecenderungan untuk membuat duplikatnya sendiri dan keadaan ini bersifat
herediter.
a.Mesiodens
gig yang terletak diantara gigi I1 RA
ABNORMALITAS UKURAN GIGI
1.Makrodonsia
a.Generalized Macrodonsia
Menunjukkan adanya gigi yang lebih besar dari normal pada seluruh gigi.
b.Makrodonsia Lokal
Menunjukkan adanya satu atau sekelompok gigi yang berukuran lebih besar dari normal dan
sering terjadi pada M3 RB.

2.Mikrodonsia
a.Generalized Microdontia
Mikrodonsia yang menyeluruh suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya seluruh
gigi yang tampak lebih kecil dan normal.
3. Anomali Tumbuh Kembang pada Gigi anomali tumbuh kembang gigi

a. Berdasarkan Bentuk Gigi · Germinasi: kelainan gigi yang terjadi karena satu benih gigi terbagi
dua pada proses invaginasi, sehingga terbentuk dua gigi yang tidak sempurna. · Fusi: penyatuan
sebagian atau seluruh dua benih gigi selama pertumbuhan. · Hutchinson teeth: bentuk gigi
abnormal pada sifilis congenital, yaitu bentuk seperti obeng pada insisivus,peg shape pada
kaninus, dan mulberry pada molar satu. · Odontoma: pembentukan abnormal jaringan gigi
karena gangguan pada lamina dental atau folikel akibat trauma atau infeksi. · Enameloma: suatu
endapan email kecil di sekitar apical dentin akibat pertautan sementum dan email seperti mutiara.
· Hipersementosis: sementum yang berlebihan di sekitar akar gigi karena kelainan local atau
sistemik. · Dilaserasi: penyimpangan pertumbuhan gigi sehingga hubungan aksial antara
mahkota dan akar berubah. · Konkresens: salah satu bentuk fusi yang terjadi setelah akar
terbentuk sempurna, sehingga penyatuan hanya terjadi pada sementum akar gigi. · Dens in dente:
gigi yang terbentuk dalam gigi, biasanya mengenai gigi insisisvus lateral dan sentral. ·
Taurodontia: pelebaran ruang pulpa dengan karakteristik seperti tanduk sapi. · Diskrorasi:
ekstrinsik (stain), intrinsic (karena tempat tinggal penyakit yang diderita), kuning dan coklat
(tetracycline, lahir premature, amelogenesis imperfecta, dentinogenesis imperfecta), biru
(erytroblastosis foetalis). b. Berdasarkan Variasi dan ukuran Gigi · Mikrodontia · Macrodontia:
true macrodontia (pada penderita gigantisme)dan false macrodontia (pada gigi I dan C). c.
Berdasarkan Erupsi gigi · Premature ( terlalu cepat/terlambat) · Ektopik ( di luar posisi normal ) ·
Impaksi ( terjepit ). · Neonatal teeth: tumbuhnya gigi susu pada saat bayi baru lahir. d.
Berdasarkan Jumlah Gigi · Supernumerary teeth: brntuk gigi tambahan antara dua gigi dengan
bentuk dan ukuran tidak normal. · Anodontia: tidak berkembangnya sebagian/seluruh gigi. ·
Preciduous dentition: lahir dengan struktur mirip gigi erupsi waktu lahir karena penandukan
epitel di atas gingival.

4.Cara mencegah anomali

1. Nutrisi
Seorang ibu yang sedang hamil harus mencukupi kebutuhan gizinya berupa
- Zat gizi mayor
 Karbohidrat
 Protein
 Lemak
- Zat gizi minor
 Vitamin larut air : Vit B dan vit C
 Vitamin larut lemak : Vit A,D,E, dan K
2. Kebiasaan
Bagi ibu yang sedang hamil dilarang melakukan kegiatan secara berlebihan
karena dapat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan bayinya. Selain
itu, ibu yang sedang hamil harus tetap menjaga kesehatan tubuhnya dengan
melakukan olah raga ibu hamil secara teratur.

DAFTAR PUSTAKA

 https://id.scribd.com/document/266308447/Faktor-Yang-Mempengaruhi-Pertumbuhan-
Dan-Perkembangan-Gigi
 http://www.shinysmiledentalclinic.com/mesiodens/
 https://lawalangy.wordpress.com/2007/04/20/perkembangan-oklusi/
 http://dentias.blogspot.co.id/2011/04/anomali-gigi.html#

Anda mungkin juga menyukai