Anda di halaman 1dari 11

Jumat, 28 Desember 2012

DINAMIKA POPULASI

1. Pengertian Populasi

Populasi adalah kumpulan individu dari suatu jenis organisme. Pengertian ini
dikemukakan untuk menjelaskan bahwa individu- individu suatu jenis organisme dapat tersebar
luas di muka bumi, namun tidak semuanya dapat saling berhubungan untuk mengadakan
perkawinan atau pertukaran informasi genetik, karena tempatnya terpisah. Individu- individu
yang hidup disuatu tempat tertentu dan antara sesamanya dapat melakukan perkawinan sehingga
dapat mengadakan pertukaran informasi genetik dinyatakan sebagai satu kelompok yang disebut
populasi

Dalam penyebarannya individu-individu itu dapat berada dalam kelompok-kelompok, dan


kelompok-kelompok itu terpisah antara satu dengan yang lain. Pemisahan kelompok-kelompok
itu dapat dibatasi oleh kondisi geografis atau kondisi cuaca yang menyebabkan individu antar
kelompok tidak dapat saling berhubungan untuk melakukan tukar menukar informasi genetik.

Populasi-populasi yang hidup secara terpisah ini di sebut deme. Sebagai contoh, populasi
banteng di Pulau Jawa terpisah menjadi dua subpopulasi, yang satu terdapat di kawasan Taman
Nasional Baluran yang terletak di ujung timur, yang lain terdapat di kawasan Taman Nasional
Ujung Kulon yang berada di ujung barat Pulau Jawa. Jika isolasi geografis atau cuaca itu
menyebabkan hewan sama sekali tidak dapat melakukan pertukaran informasi genetik, maka
antara kelompok yang satu dengan yang lain bisa terdapat variasi-variasi genetik sebagai akibat
seleksi alam yang terjadi di tempat masing-masing. Namun, jika ada kejadian yang memungkinkan
dua populasi yang terpisah dapat bersatu, pertukaran informasi genetik dapat berlangsung.

2. Ciri-Ciri Dasar Populasi


Ada dua ciri dasar populasi, yaitu :ciri biologis, yang merupakan ciri-ciri yang dipunyai oleh
individu-individu pembangun populasi itu, serta ciri-ciri statistik, yang merupakan ciri uniknya
sebagai himpunan atau kelompok individu-individu yang berinteraksi satu dengan lainnya

a. Ciri- ciri biologi

Seperti halnya suatu individu, suatu populasi pun mempunyai ciri- ciri biologi, antara lain :

1. Mempunyai struktur dan organisasi tertentu, yang si fatnya ada yang konstan dan ada
pula yang berfluktuasi dengan berjalannya waktu (umur)

2. Ontogenetik, mempunyai sejarah kehidupan (lahir, tumbuh, berdiferensiasi, menjadi


tua = senessens, dan mati)

3. Dapat dikenai dampak lingkungan dan memberikan respons terhadap


perubahan lingkungan

4. Mempunyai hereditas

5. Terintegrasi oleh faktor- faktor hereditaa oleh faktor- fektor herediter (genetik) dan
ekologi (termasuk dalam hal ini adalah kemampuan beradaptasi, ketegaran reproduktif
dan persistensi. Persistensi dalam hal ini adalah adanya kemungkinan untuk meninggalkan
keturunanuntuk waktu yang lama.

b. ciri- ciri statistic

Ciri- ciri statistik merupakan ciri- ciri kelompok yang tidak dapat di terapkan pada individu,
melainkan merupakan hasil perjumpaan dari ciri- ciri individu itu sendiri, antara lain:

1. Kerapatan (kepadatan) atau ukuran besar populasi berikut parameter- parameter utama
yang mempengaruhi seperti natalitas, mortalitas, migrasi, imigrasi, emigrasi.

2. Sebaran (agihan, struktur) umur

3. Komposisi genetik (“gene pool” = ganangan gen)

4. Dispersi(sebaran individu intra populasi

3. Kerapatan Populasi dan Cara Pengukurannya

Kerapatan populasi adalah ukuran besar populasi yang berhubungan dengan satuan ruang
(area), yang umumnya diteliti dan dinyatakan sebagai jumlah (cacah) individu dan biomasa
persatuan luas, persatuan isi( volume) atau persatuan berat medium lingkungan yang ditempati.
Misalnya, 50 individu tikus sawah per hektar, 300 individu keratela sp (zooplankton) per meter
kubik air, 3 ton udang per hektar luas permukaan tambak, atau 50 individu afik( kutu daun) per
daun.

Pengaruh populasi terhadap komunitas dan ekosistem tidak hanya tergantung kepada
jenis apa dari organisme yang terlibat tetapi tergantung kepada jumlahnya atau kerapatan
populasinya kadang kala penting untuk membedakn kerapatan kasar dari kerapatan ekologi(
kerapatanspesifik.

Kerapatan kasar adalah kerapatan yang didasarkan atas kesatuan ruang total, sedangkan
kerapatan ekologi adalah kerapatan yang didasarkan atas ruang yang benar- benar
(sesungguhnya) ditempati (mikrohabitat). Contoh : kerapatan afik (kutu daun) per pohon
dibandingkan dengan kerapatan afik per daun,

Lebih lanjut, kerapatan populasi suatu hewan dapat dinyatakan dalam bentuk kerapatan
mutlak(absolut) dan kerapatan nisbi( relatif). Pada penafsiran kerapatan mutlak diperoleh jumlah
hewan per satuan area, sedangkan pada penafsiran kerapatan nisbi nisbi hal itu tidak diperoleh,
melainkan hanya akan menghasilkan suatu indeks kelimpahan (lebih banyak atau sedikit, lebih
berlimpah atau kurang berlimpah).

Pengukuran kerapatan populasi kebanyakan dilakukan dengan sensus atau metode


menggunakan sample (sampling).

A. Kerapatan mutlak

Pengukuran kerapatan mutlak dapat dilakukan dengan cara:

1. Pencacahan Total (perhitungan menyeluruh)

Metode ini disebut juga sensus yang digunakan untuk mengetahui jumlah nyata dari
individu yang hidup dari suatu populasi. Metode ini biasanya diterapkan kepada daerah
yang sempit pada hewan yang hidupnya menetap,misalnya porifera dan binatang karang.
Metode ini juga dapat digunakan untuk menentukan populasi hewan yang berjalan
lambat, misalnya jenis hewan dari coelenterata, siput air dan lain- lain

2. Metode Sampling (cuplikan)

Pada metode ini, pencacahan dilakukan pada suatu cuplikan (sample), yaitu suatu
proporsi kecil dari populasi dan menggunakan hasil cuplikan tersebut untuk membuat
taksiran kerapatan (kelimpahan) populasi.

Pemakaian metode ini bersangkut paut dengan masalah penentuan ukurann dan jumlah
cuplikan, oleh karena itu bersangkut paut pula dengan metode- metode
statistik.beberapa metode pencuplikan yang digunakan antara lain:

2.1.Metode kuadrat
Pencuplikan dilakukan pada suatu luasan yang dapat berbentuk bujur sangkar,
persegi enam, lingkaran dan sebagainya. Prosedur yang umum dipakai disini adalah
menghitung semua individu dari beberapa kuadrat yang diketahui ukurannya dan
mengekstrapolasikan harga rata- ratanya untuk seluruh area yang diselidiki.

2.2.Metoda menangkap- menandai- menangkap ulang

Metode ini dinamakan juga dengan “mark-recapture”, metode ini mengambil tiga
asumsi pokok, yaitu: 1. individu- individu yang tidak bertanda maupun yang bertanda
ditangkap secara acak.2. individu- individu yang diberi tanda mengalami laju
mortalitas yang sama seperti yang tidak bertanda.3. tanda- tanda yang dikenakan
pada individu tidak hilang ataupun tidak tampak.

2.3.Metode removal (pengambilan)

Metode ini umum digunakan untuk menaksir besar populasi mamalia kecil. Asumsi-
asumsi dasar yang digunakan dalm metode pengambilan adalah sebagai berikut: 1.
populasi tetap stasioner selama periode penangkapan.2. peluang setiap individu
populasi untuk tertangkap pada setiap perioda panangkapan adalah sama.3.
probabilitas penangkapan individu dari waktu selama perioda penangkapan adalah
sama.

B. Pengukuran kerapatan nisbi (relatif)

Beberapa diantara pengukuran kelimpahan relatif adalah sebagai berikut :

1. Menggunakan perangkap

2. Menggunakan jala

3. Menghitung jumlah felet faeses

4. Frekuensi vokalisasi, indeks kelimpahan populasi dinyatakan sebagai frekuensi bunyi


persatuan waktu

5. Tangkaan persatuan usaha

6. Jumlah artifakta

7. Daya makan

8. Kuesioner

9. Sensus tepi jalan

10. Umpan manusia


4. Parameter Utama Populasi

a. Natalitas

Merupakan kemampuan populasi untuk bertambah atau ntukmeningkatkan


jumlahnya, melalui produsi individu baru yang dilahirkan atau ditetaskan dari teliu melalui
aktifitas perkembangan.

Laju natalitas: jumlah individu baru per individu atau per betina per satuan waktu.

Ada dua aspek yang berkaitan dengan natalitas ini antara lain :

1. fertilitas

tingkat kinerja perkembangbiakan yang direalisasikan dalm populasi, dan tinggi


rendahnya aspek ini diukur dari jumlah telur yang di ovovivarkan atau jumlah anak yang
dilahirkan.

2. fekunditas

tingkat kinerja potensial populasi itu untuk menghasilkan individu baru.

Dalam ekologi dikenal dua macam natalitas yaitu: 1.natalitas maksimum= n. mutlak
(absolut)=n. 2. natalitas ekologi= pertambahan populasi dibawah kondisi lingkungan yang
spesifik atau sesungguhnya.

b. Mortalitas

Menunjukkan kematian individu dalam populasi.

Juga dapat dibedakan dalam dua jenis yakni:

1. Mortalitas ekologik = mortalitas yang direalisasikan yakni,matinya individu dibawah


kondisi lingkungan tertentu.

2. Mortalitas minimum(teoritis), yakni matinya individu dalam kondisi lingkungan yang


ideal, optimum dan mati semata- mata karena usia tua.

c. Emigrasi, imigrasi dan migrasi.

Ketiga istilah diatas bersangkut paut dengan perpindahan.

1. Emigrasi : perpindahan keluar dari area suatu populasi.


2. Imigrasi : perpindahan masuk ke dalam suatu area populasi dan mengakibatkan
meningkatkan kerapatan

3. Migrasi : menyangkut perpindahan (gerakan) periodik berangkat dan kembali dari


populasi.

5. Distribusi Individu dalam Populasi

Distribusi individu dalam populasi, sering kali disebut sebagai dispersi atau pola penjarakan
(pola penyebaran) secara umum dapat di bedakan atas 3 pola utama yaitu:

a. Acak (Random)

Pada pola sebaran ini peluang suatu individu untuk menempati sesuatu situs dalam area yang di
tempati adalah sama, yang memberikan indikasi bahwa kondisi lingkungan bersifat seragam.
Keacakan berarti pula bahwa kehadiran individu lainnya. Dalam sebaran statistik, sebaran acak ini
ditunjukkan oleh varians (s2) yang sama dengan rata-rata (x).

b. Teratur (Seragam, unity):

Pola sebaran ini terjadi apabila diantara individu-individu dalam populasi terjadi persaingan yang keras
atau ada antagonisme positif oleh adanya teritori-teritori terjadi penjarakan yang kurang lebih merata.
Pola sebaran teratur ini relatif jarang terdapat di alam. Lewat pendekatan statistik, pola sebaran
teratur ini di tunjukkan oleh varians (s2) yang lebih kecil dari rata-rata (x)

c. Mengelompok (Teragregasi, Clumped)

Merupakan pola sebaran yang relatif paling umum terdapat di alam pengelompokan itu sendiri dapat
terjadi oleh karena perkembangbiakan, adanya atraksi sosial dan lain-lain. Lewat pendekatan statistik,
pola sebaran menelompok ini varians (s2) yang lebih besar dari rata-rata (x)

6. Struktur Umur Populasi

Untuk menggambarkan sebaran umur dalam populasi, dapat di lakukan dengan mengatur
data kelompok usia dalam bentuk suatu poligon atau piramida umur. Dalam hal ini jumlah individu
atau persentase jumlah individu dari tiap kelas usia di gambarkan sebagai balok-balok horizontal
dengan panjang relatif tertentu. Secara hipotesis, ada tiga bentuk piramida umur populasi, yakni :

1. populasi yang sedang berkembang

2. populasi yang stabil

3. populasi yang senesens (tua)


7. Piramida Ekologi

Struktur trofik pada ekosistem dapat disajikan dalam bentuk piramida ekologi. Ada 3
jenis piramida ekologi, yaitu piramida jumlah, piramida biomassa, dan piramida energi.

a. Piramida jumlah

Organisme dengan tingkat trofik masing - masing dapat disajikan dalam piramida jumlah,
seperti kita Organisme di tingkat trofik pertama biasanya paling melimpah, sedangkan
organisme di tingkat trofik kedua, ketiga, dan selanjutnya makin berkurang. Dapat dikatakan
bahwa pada kebanyakan komunitas normal, jumlah tumbuhan selalu lebih banyak daripada
organisme herbivora. Demikian pula jumlah herbivora selalu lebih banyak daripada jumlah
karnivora tingkat 1. Kamivora tingkat 1 juga selalu lebih banyak daripada karnivora tingkat 2.
Piramida jumlah ini di dasarkan atas jumlah organisme di tiap tingkat trofik.

b. Piramida biomassa

Seringkali piramida jumlah yang sederhana kurang membantu dalam memperagakan aliran
energi dalam ekosistem. Penggambaran yang lebih realistik dapat disajikan dengan piramida
biomassa. Biomassa adalah ukuran berat materi hidup di waktu tertentu. Untuk mengukur
biomassa di tiap tingkat trofik maka rata-rata berat organisme di tiap tingkat harus diukur
kemudian barulah jumlah organisme di tiap tingkat diperkirakan.

Piramida biomassa berfungsi menggambarkan perpaduan massa seluruh organisme di habitat


tertentu, dan diukur dalam gram. Untuk menghindari kerusakan habitat maka biasanya hanya
diambil sedikit sampel dan diukur, kemudian total seluruh biomassa dihitung. Dengan
pengukuran seperti ini akan didapat informasi yang lebih akurat tentang apa yang terjadi pada
ekosistem.

c. Piramida energi

Seringkali piramida biomassa tidak selalu memberi informasi yang kita butuhkan tentang
ekosistem tertentu. Lain dengan Piramida energi yang dibuat berdasarkan observasi yang
dilakukan dalam waktu yang lama. Piramida energi mampu memberikan gambaran paling
akurat tentang aliran energi dalam ekosistem.

Pada piramida energi terjadi penurunan sejumlah energi berturut-turut yang tersedia di tiap
tingkat trofik. Berkurang-nya energi yang terjadi di setiap trofik terjadi karena hal-hal berikut.

a. Hanya sejumlah makanan tertentu yang ditangkap dan dimakan oleh tingkat trofik
selanjutnya.

b. Beberapa makanan yang dimakan tidak bisa dicemakan dan dikeluarkan sebagai sampah.

c. Hanya sebagian makanan yang dicerna menjadi bagian dari tubuh organisme.
8. Faktor-faktoryang mempengaruhi penyebaran populasi:

a. Distribusi sumberdaya

b. Perilaku sosial (pada hewan)

c. Faktorlain (interaksiorganisme, tempatberlindung,oksigen terlarut, dll)

Kepadatan dan pola penyebaran populasi merupakan faktor penting untuk analisis dinamika populasi

9. Pertumbuhan Populasi

Suatu populasi akan mengalami pertumbuhan, apabila laju kelahiran di dalam populasi itu
lebih besar dar laju kematian, dengan mengasumsikan bahwa laju emigrasi.

Dikenal dua macam bentuk pertumbuhan populasi, yakni bentuk pertumbuhan


eksponensial ( dengan bentuk kurva J) dan bentuk pertumbuhan sigmoid (dengan bentuk kurva S)

1. Pertumbuhan Eksponensial

Pertumbuhan populasi bentuk eksponensial ini terjadi bilamana populasi ada dalam sesuatu
lingkungan ideal baik, yaitu ketersediaan makanan, ruang dan kondisi lingkungan lainnya tidak
beroperasi membatasi, tanpa da persaingan dan lain sebagainya. Pada pertumbuhan populasi yang
demikian kerapatan bertambah dengan cepat secara eksponensial dan kemudian berhenti
mendadak saat berbagai faktor pembatas mulai berlaku mendadak.

2. Pertumbuhan Sigmoid

Pada pertumbuhan populasi yang berbentuk sigmoid ini, populasi mula-mula meningkat sangat
lambat (fase akselerasi positif). Kemudian makin capet sehingga mencapai laju peningkatan secara
logaritmik (fase logaritmik), namun segera menurun lagi secara perlahan dengan makin
meningkatnya pertahanan lingkungan, misalnya yang berupa persaingan intra spesies (fase
akselerasi negatif) sehingga akhirnya mencapai suatu tingkat yang kurang lebih seimbang (fase
keseimbangan). Tingkat populasi yang merupakan asimptot atas dari kurva sigmod, yang
menandakan bahwa populasi tidak dapat meningkat lagi di sebut daya dukung (K= suatu
konstanta). Jadi daya dukung suatu habitat adalah tingkat kelimpahan populasi maksimal
(kerapatan jumlah atau biomasa) yang kelulus hidupannya dapat di dukung oleh habitat tersebut.

Faktor pembatas pertumbuhan populasi :


• Tergantung kepadatan : makanan dan ruangan

• Tidak tergantung kepadatan :iklim dan bencana alam

Faktor pembatasmenyebabkan spesies menerapkan strategi untuk bertahan hidup.

10. Kelangkaan Hewan

Kelangkaan suatu hewan dapat ditinjau dari aspek kelimpahan, tepatnya intensitas
(kerapatan) dan prevalensi menunjukkan jumlah atau ukuran area-area yang di tempati spesies
itu atau cacah dan besarnya daerah yang dialami oleh makhluk di dalam kawasan secara
keseluruhan.

Suatu spesies hewan yang prevalensinya tinggi (= prevalen) dapat lebih sering dijumpai,
sebab daerah penyebarannya luas, maka lebih sering dijumpai, sebab daerah penyebarannya
luas, maka lebih mudah di jumpai dimana-mana. Berbada halnya dengan suatu spesies yang
prevalensinya rendah, karena daerah penyebarannya sempit hanya dapat di jumpai pada tempat-
tempat tertentu saja (= terlokalisasi).

Adapun faktor-faktor penyebab punahnya hewan yang berkaitan dengan tindakan


manusia itu antara lain sebagai berikut:

a. Habitat hilang atau mengalami degradasi

Manusia banyak mengganggu habitat dalam melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhan
hidup. Gangguan habitat itu ada yang sampai menyebabkan habitat hilang, ada yang
mengalami degradasi dan paling tidak ada habitat yang terganggu. Beberapa contoh habitat
yang hilang, rusak atau terganggu karena terganggu oleh perbuatan manusia adalah sebagai
berikut.

1. Hutan di tebang untuk di jadikan daerah pemukiman. Ini merupakan contoh hilangnya
habitat. Perubahan hutan menjadi daerah perumahan, terutama perumahan di daerah
perkotaan menyebabkan pohon-pohonan dan tumbuhan lain di tebang habis.

2. Kerusakan terumbu karang karena ledakan dinamit yang di gunakan orang untuk
menangkap ikan. Penangkapan ikan dengan menggunakan dinamit pada umumnya di lakukan
di daerah yang dangkal yang banyak di huni oleh hewan-hewan karang. Ledakan dinamit di
tempat tersebut dapat merusak terumbu karang
b. Fragmentasi habitat

Pembuatan jalan, pengembangan daerah pertanian dan pembuatan daerah


pemukiman di lingkungan habitat yang luas tidak menghilangkan habitat secara keseluruhan.
Jalan, perkebunan, dan kota yang di bangun orang menyebabkan habitat terpisah-terpisah.
Pemisahan itu menyebabkan habitat terpecah menjadi kecil-kecil, sehingga menyebabkan
hewan terkungkung pada lingkungan sempit yang tidak memungkinkan hewan tumbuh dan
berkembangbiak secara optimal.

c.Pemburuan komersial.

Pemburuan komersial adalah pemburuan binatang sebagai upaya untuk memperoleh


penghasilan bukan untuk rekreasi.

d. Faktor lain

Di negara-negara yang wilayahnya luas, misalnya Amerika Serikat, jalan raya yang
menghubungkan kota dengan kota lain amat panjang. Jalan itu melintasi tempat-tempat yang
masih di huni oleh hewan liar, masalnya hutan dan padang rumput. Jalan itu memisahkan
kawasan tersebut menjadi dua bagian, yaitu di kiri dan di kanan jalan. Hewan-hewan liar yang
hidup di kawasan itu sering kali menyeberang jalan pada malam hari. Di antara hewan-hewan
itu banyak yang terlindas kendaraan yang melintas di jalan tersebut.

11. Dinamika Populasi

Merupakan ilmu yang mempelajari pertumbuhan serta pengaturan populasi. Hal ini tentu
berkaitan dengan parameter populasi. Khusus di dalam pengaturan kerapatan populasi dikenal
adanya mekanisme “density dependent” (mekanisme yang bergantung kepada kerapatan) dan
mekanisme “density independent” (mekanisme yang tak bergantung pada kerapatan).

Secara umum, aspek-aspek yang dipelajari dalam dinamika populasi adalah:

a. Populasi sebagai komponen dari sistem lingkungan.

b. Perubahan jumlah individu dalam populasi.

c. Tingkat penurunan, peningkatan, penggantian individu dan proses yang menjaga


kestabilan jumlah individu dalam populasi.

d. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan jumlah individu dalam populasi.


PENUTUP

Dinamika populasi adalah pengetahuan yang mempelajari pertumbuhan populasi organisme.


Populasi adalah individu-individu yang hidup disuatu tempat tertentu dan antara sesamanya dapat
melakukan perkawinan sehingga dapat mengadakan pertukaran informasi genetik dinyatakan sebagai
satu kelompok.

Ada dua ciri dasar populasi, yaitu :ciri biologis, yang merupakan ciri-ciri yang dipunyai oleh individu-
individu pembangun populasi itu, serta ciri-ciri statistik, yang merupakan ciri uniknya sebagai
himpunan atau kelompok individu-individu yang berinteraksi satu dengan lainnya

Ukuran populasi menyatakan banyaknya individu anggota populasi di suatu daerah tertentu. Jika
daerah penyebaran populasi luas sehingga pengukuran populasi secara menyeluruh sulit di lakukan,
besarnya ukuran populasi yang di gunakan adalah kepadatan populasi, yang menyatakan individu
persatuan luas tertentu. Ukuran dan kepadatan populasi dapat di ukur dengan metode sensus,
sampling atau pengukuran nisbi.

Populasi dapat tumbuh cepat atau lambat. Kecepatan pertumbuhan populasi di tentukan dengan
perbedaan angka kelahiran dan angka kematian. Kecepatan pertumbuhan populasi itu di pengaruhi
oleh jumlah kematian sebelum mencapai umur reproduktif, dan ketahanan hidup pada umur tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Susanto, Pudyo. 2000. Ekologi Hewan. Jakarta :Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi.

Tim Dosen. 2008. Dasar-Dasar Ekologi Hewan. Medan : FMIPA UNIMED

Zulkifli, hilda. 1996. Biologi Lingkungan. Jakarta : Departemen Pendidikan DanKebudayaan Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi.

www.google.co.id//ekologi hewan//populasi hewan/d/?//