Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah HIV/ AIDS adalah maslah besar yang mengancam Indonesia
dan banyak Negara di seluruh dunia. UNAIDS, badan WHO yang
mengurusi masalah AIDS, memperkirakan jumlah odha di seluruh dunia
pada Desember 2004 adalah 35,9 – 44,3 juta orang. Saat ini tidak ada
Negara yang terbebas dari HIV/ AIDS. HIV/ AIDS menyebabkan berbagai
krisis secara bersamaan, menyebabkan krisis kesehatan, krisis
pembangunan Negara, krisis ekonomi, pendidikan dan juga krisis
kemanusiaan. Dengan kata lain HIV/ AIDS menyebabkan krisis
multidimensi. Sebagai krisis kesehatan, AIDS memerlukan respon dari
masyarakat dan memerlukan layanan pengobatan dan perawatan untuk
individu yang terinfeksi HIV. Individu yang terjangkit HIV ini biasanya
adalah individu yang mendapat darah atau produk darah yang
terkontaminasi dengan HIV dan anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang
menderita infeksi HIV.
Dengan demikian , pada makalah ini akan dibahas mengenai infeksi
HIV yang terjadi pada anak-anak. Hal ini perlu dibahas agar dapat
melakukan tindakan yang tepat pada anak-anak yang terkena HIV,
khususnya bagi pemberi perawatan agar laju pertumbuhan anak yang
terkena HIV/AIDS dapat dikurangi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari HIV/AIDS?
2. Apa penyebab dari timbulnya penyakit HIV/AIDS?
3. Bagaimana patofisiologi HIV/AIDS?
4. Pohon masalah / pathway HIV/AIDS?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari HIV/AIDS?
6. Apa komplikasi yang akan terjadi pada HIV/AIDS?
7. Bagaimana penatalaksanaan medis pada HIV/AIDS?
8. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada penderita HIV/AIDS
khususnya pada anak?
1.3 Tujuan

1
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari pembuatan
makalah ini adalah sebagai penambah pengetahuan tentang HIV/AIDS.
Selain itu juga tujuan khusus dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian dari HIV/AIDS.
2. Mengetahui penyebab dari timbulnya penyakit HIV/AIDS.
3. Mengetahui patofisiologi HIV/AIDS.
9. Mengetahui Pohon masalah / pathway HIV/AIDS
4. Mengetahui manifestasi klinis dari HIV/AIDS.
5. Mengetahui komplikasi yang akan terjadi pada HIV/AIDS.
6. Mengetahui penatalaksanaan medis pada HIV/AIDS.
7. Mengetahui asuhan keperawatan pada penderita HIV/AIDS
khususnya pada anak.
1.4 Manfaat
Dalam penulisan makalah ini di harapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Mahasiswa
Dapat di jadikan salah satu refrensi untuk belajar,selain itu
makalah ini dapat di jadikan sebagai salah satu refrensi dalam
Smelakukan asuhan keperawatan dalam ruang lingkup pada klien
dengan penyakit miastenia gravis.
2. Dosen
Dapat di jadikan salah satu sarana untuk mengukur
kemampuan mahasiswa dalam membuat sebuah makalah tentang
asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit miastenia gravis.
3. Institusi
Dapat di jadikan salah satu karya tulis ilmiah dan dapat
dijadikan referensi dalam acuan belajar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yakni
virus yang menyerang sistem imun sehingga kekebalan menjadi lemah
bahkan sampai hilang. Sedangkan AIDS adalah singkatan dari Acquired
Immunodeficiency Disease Syndrome yakni suatu penyakit yang
disebabkan oleh virus yaitu virus HIV (Sujana, 2007).
HIV secara umum adalah virus yang hanya dapat menginfeksi
manusia, memperbanyak diri didalam sel manusia, sehingga menurunkan

2
kekebalan manusia terhadap penyakit infeksi. AIDS adalah sekumpulan
tanda dan gejala penyakit akibat hilangnya atau menurunnya sistem
kekebalan tubuh seseorang yang didapat karena terinfeksi HIV.
AIDS adalah salah satu penyakit retrovirus epidemic menular yang
disebabkan oleh infeksi HIV yang pada kasus berat bermanifestasi sebagai
depresi berat imunitas seluler dan mengenai kelompok resiko tertentu
termasuk pria homoseksual atau biseksual penyalahgunaan obat intra vena
penderita hemofilia dan penerima transfusi darah lainnya hubungan
seksual dan individu yang terinfeksi virus tersebut (DORLAN, 2002).
AIDS merupakan bentuk paling hebat dari infeksi HIV mulai dan
kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata
hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang
dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang
terjadi. (Centre for Disease Control and Prevention)
2.2 Etiologi
Etiologi atau penyebab dari HIV/AIDS karena terganggunya system
imun dalam tubuh ODHA. Partikel virus bergabung dengan sel DNA
pasien sehingga orang yang terinfeksi HIV akan seumur hidup tetap
terinfeksi. Sebagian pasien memperlihatkan gejala tidak khas seperti
demam, nyeri menelan, pembengkakan kelenjar getah bening ruam dan
lain sebagainya pada 3-6 minggu setelah infeksi (Sudoyo, 2006).
Selain karena terganggunya system imun, HIV juga disebabkan oleh
penyebarluasan melalui berbagai jalur penularan diantaranya:
a. Ibu pada bayinya
Penularan HIV dari ibu bisa terjadi pada saat kehamilan (in
utero). Berdasarkan laporan CDC Amerika, prevalensi penularan
HIV dari ibu ke bayi adalah 0’01% sampai 0,07%. Bila ibu baru
terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS, kemungkinan bayi
terinfeksi 20% sampai 30%, sedangkan jika gejala AIDS sudah
jelas maka kemungkinannya mencapai 50% (PELKESI, 1995).
Penularan juga terjadi selama proses persalinan melalui
kontak antara membrane mukosa bayi dengan darah atau sekresi
maternal saat melahirkan (Lily V, 2004).

3
Penularan dari ibu ke anak yang biasa terjadi adalah
sebagai berikut:
1. Selama dalam kandungannya (antepartum)
2. Selama persalinan (intrapartum)
3. Bayi baru lahir terpajan oleh cairan tubuh ibu yang
terinfeksi (post partum)
4. Bayi tertular melalui pemberian ASI
b. Darah dan produk darah yang tercemar HIV/ AIDS
Sangat cepat menularkan HIV karena virus langsung masuk
ke pembuluh darah dan menyebar luas.
c. Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril
Alat pemeriksaan kandungan seperti spekulum, tenakulum
dan alat-alat lain yang menyentuh darah, cairan vagina atau air
mani yang terinfeksi HIV, dan langsung digunakan untuk orang
lain yang tidak terinfeksi bisa menularkan HIV (PELKESI, 1995).
d. Penularan melalui hubungan seks
1. Pelecehan seksual pada anak.
2. Pelacuran anak
Sedangkan menurut Hudak dan Gallo (1996), penyebab
dari AIDS adalah suatu agen viral (HIV) dari kelompok virus yang
dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah melalui
hubungan seksual dan mempunyai aktivitas yang kuat terhadap
limfosit T yang berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh
manusia. HIV merupakan Retrovirus yang menggunakan RNA
sebagai genom. HIV mempunyai kemampuan mengcopy cetakan
materi genetic dirinya ke dalam materi genetic sel-sel yang
ditumpanginya. Sedangkan menurut Long (1996), penyebab AIDS
adalah Retrovirus yang telah terisolasi cairan tubuh orang yang
sudah terinfeksi yaitu darah, semen, sekresi vagina, ludah, air mata,
air susu ibu (ASI), cairan otak (cerebrospinal fluid), cairan amnion,
dan urin. Darah, semen, sekresi vagina dan ASI merupakan sarana
transmisi HIV yang menimbulkan AIDS. Cairan transmisi HIV
yaitu melalui hubungan darah (transfusi darah/komponen darah,
jarum suntik yang dipakai bersama-sama), seksual (homo
bisek/heteroseksual), perinatal (intra plasenta dan dari ASI).

4
Empat populasi utama pada kelompok usia pediatrik yang
terkena HIV yaitu :
1. Bayi yang terinfeksi melalui penularan perinatal dari ibu yang
terinfeksi (disebut juga transmisi vertikal); hal ini menimbulkan
lebih dari 85% kasus AIDS pada anak-anak yang berusia
kurang dari 13 tahun.
2. Anak-anak yang telah menerima produk darah (terutama anak
dengan hemofilia).
3. Remaja yang terinfeksi setelah terlibat dalam perilaku risiko
tinggi.
4. Bayi yang mendapat ASI (terutama di negara-negara
berkembang).
2.3 Patofisiologi
Penyebab acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah
human immunodeficiencyvirus (HIV) yang melekat dan memasuki limfosit
T helper CD4+. Virus tersebut menginfeksi limfosit CD4 + dan sel-sel
imunologis lainnya, dan orang itu mengalami destruksi sel CD4 + secara
bertahap. Sel-sel yang memperkuat dan mengulang respons imunologis
diperlukan untuk mempertahankan kesehatan yang baik dan bila sel-sel
tersebut berkurang dan rusak maka fungsi imun lain akan terganggu.
HIV dapat pula menginfeksi makrofag, sel-sel yang dipakai virus
untuk melewati sawar darah otak masuk ke dalam otak. Fungsi limfosit B
juga terpengaruh dengan peningkatan produksi immunoglobulin total yang
berhubungan dengan penurunan produksi antibody spesifik. Dengan
memburuknya sistem imun secara progresif tubuh menjadi semakin rentan
terhadap infeksi oportunistik dan juga berkurang kemampuannya dalam
memperlambat replikasi HIV. Infeksi HIV dimanifestasikan sebagai
penyakit multisystem yang dapat bersifat dolman bertahun-tahun karena
menyebabkan imunodefisiensi secara bertahap. Kecepatan perkembangan
dan manifestasi klinis penyakit ini bervariasi orang ke orang (Bezt, Cecily
Lynn. 2009).

5
2.4 Pathway
HIV RETROVIRUS

Manifestasi Klinis
(STADIUM HIV (1-3 atau 6 bulan)
MENYERANG LIMFOSIT T CD4+
Ditularkan melalui darah, semen,
sekresi vagina, ASI

(STADIUM ASIMPTOMATIK (5-10


tahun) Sindrom mononukleosida, yaitu
Masuk ke dalam organ tubuh tapi tidak demam 38-40o c, pembesaran
mengalami gejala kelenjar getah bening dan di ketiak,
disertai timbulnya bercak
Pembesaran kelenjar getahpada
kemerahan bening di
kulit.
(STADIUM PEMBESARAN
(STADIUM AIDS) leher, ketiak, paha. Keluar keringat
KELENJAR LIMFE 1 bulan set. Std,
Tahap akhir infeksi, menyerang malam hari. Lemas, BB turun
Asimptomatik)
limfosit B akan antibody 5kg/bulan batuk kering, diare, bercak
Tidak ada gejala Manifestasi Klinis
spesifik dan system saraf pusat, di kulit,ulserasi, perdarahan, sesak
6
meliputi selaputnya yang nafas, kelumpuhan, gangguan
sifatnya toksik terhadap sel penglihatan, kejiwaan terganggu.
2.5 Manifestasi Klinis
Masa antara terinfeksi HIV dan timbul gejala-gejala penyakit adalah 6
bulan-10 tahun. Rata-rata masa inkubasi 21 bulan pada anak-anak dan 60
bulan/5tahun pada orang dewasa. Tanda-tanda yang ditemui pada penderita
AIDS antara lain :
1. Gejala yang muncul setelah 2 sampai 6 minggu sesudah virus masuk ke
dalam tubuh: sindrom mononukleosida yaitu demam dengan suhu badan
380 C sampai 400 C dengan pembesaran kelenjar getah benih di leher dan di
ketiak, disertai dengan timbulnya bercak kemerahan pada kulit.
2. Gejala dan tanda yang muncul setelah 6 bulan sampai 5 tahun setelah
infeksi, dapat muncul gejala-gejala kronis : sindrom limfodenopati kronis
yaitu pembesaran getah bening yang terus membesar lebih luas misalnya
di leher, ketiak dan lipat paha. Kemudian sering keluar keringat malam
tanpa penyebab yang jelas. Selanjutnya timbul rasa lemas penurunan berat
badan sampai kurang 5 kg setiap bulan, batuk kering, diare, bercak-bercak
di kulit, timbul tukak (ulceration), perdarahan, sesak nafas, kelumpuhan,
gangguan penglihatan, kejiwaan terganggu. Gejala ini diindikasikan
dengan adanya kerusakan sistem kekebalan tubuh.

7
3. Pada tahap akhir, orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya rusak akan
menderita AIDS. Pada tahap ini penderita sering diserang penyakit
berbahaya seperti kelainan otak, meningitis, kanker kulit, luka bertukak,
infeksi yang menyebar, tuberkulosis paru (TBC), diare kronik, candidiasis
mulut dan pneumonia.
Selain itu ada tanda-tanda gejala mayor dan minor untuk mendiagnosis
HIV menurut klasifikasi WHO, antara lain:
a. Gejala mayor:
1. Gagal tumbuh atau penurunan berat badan
2. Diare kronis
3. Demam memanjang tanpa sebab
4. Tuberkolosis
b. Gejala minor
1. Limfadenopati generalisa
2. Kandidiasis oral
3. Batuk menetap
4. Distress pernapasan / pneumonia
5. Infeksi berulang
6. Infeksi kulit generalisata
2.6 Komplikasi
1. Pneumonia Pneumocystis carinii (PPC).
2. Pneumonia interstitial limfoid.

3. Tuberkulosis (TB).

4. Virus sinsitial pernapasan.

5. Candidiasis esophagus.

6. Limfadenopati

7. Diare kronik

2.7 Penatalaksanaan Medis

8
Belum ada penyembuhan untuk AIDS jadi yang dilakukan adalah
pencegahan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Tapi apabila
terinfeksi HIV maka terapinya yaitu :
a. Pengendalian infeksi oportunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan
infeksi oportuniti, nosokomial, atau sepsis, tindakan ini harus
dipertahankan bagi pasien di lingkungan perawatan yang kritis.
b. Terapi AZT (Azitomidin)
Obat ini menghambat replikasi antiviral HIV dengan
menghambat enzim pembalik transcriptase.
c. Terapi antiviral baru
Untuk meningkatkan aktivitas sistem immun dengan
menghambat replikasi virus atau memutuskan rantai reproduksi virus
pada prosesnya. Obat-obatan ini adalah: didanosina, ribavirin,
diedoxycytidine, recombinant CD4+ dapat larut.
d. Vaksin dan rekonstruksi virus, vaksin yang digunakan adalah interveron
e. Menghindari infeksi lain, karena infeksi dapat mengaktifkan sel T dan
mempercepat replikasi HIV.
f. Rehabilitasi bertujuan untuk memberi dukungan mental-psikologis,
membantu megubah perilaku resiko tinggi menjadi perilaku kurang
berisiko atau tidak berisiko, mengingatkan cara hidup sehat dan
mempertahankan kondisi hidup sehat.
g. Pendidikan untuk menghindari alkohol dan obat terlarang, makan
makanan yang sehat, hindari sters, gizi yang kurang, obat-obatan yang
mengganggu fungsi imun. Edukasi ini juga bertujuan untuk mendidik
keluarga pasien bagaimana menghadapi kenyataan ketika anak mengidap
AIDS dan kemungkinan isolasi dari masyarakat.
2.8 Asuhan Keperawatan Teori

2.8.1 Pengkajian

Pada pengkajian anak HIV positif atau AIDS pada anak rata-rata
dimasa perinatal sekitar usia 9 –17 tahun:
Keluhan utama dapat berupa :

9
a. Demam dan diare yang berkepanjangan
b. Tachipnae
c. Batuk
d. Sesak nafas
e. Hipoksia
Kemudian diikuti dengan adanya perubahan :
a. Berat badan dan tinggi badan yang tidak naik
b. Diare lebih dan satu bulan
c. Demam lebih dan satu bulan
d. Mulut dan faring dijumpai bercak putih
e. Limfadenopati yang menyeluruh
f. Infeksi yang berulang (otitis media, faringitis )
g. Batuk yang menetap ( > 1 bulan )
h. Dermatitis yang mnyeluruh

2.8.2 Riwayat Penyakit Dahulu


Pada riwayat penyakit dahulu adanya riwayat transfusi darah ( dari
orang yang terinfeksi HIV / AIDS ). Pada ibu atau hubungan seksual.
Kemudian pada riwayat penyakit keluarga dapat dimungkinkan :
a. Adanya orang tua yang terinfeksi HIV / AIDS atau penyalahgunaan
obat
b. Adanya riwayat ibu selama hamil terinfeksi HIV ( 50 %
TERTULAR )
c. Adanya penularan terjadi pada minggu ke 9 hingga minggu ke 20
dari kehamilan
d. Adanya penularan pada proses melahirkan
e. Terjadinya kontak darah dan bayi.
f. Adanya penularan setelah lahir dapat terjadi melalui ASI
g. Adanya kejanggalan pertumbuhan (failure to thrife )

10
Pada pengkajian faktor resiko anak dan bayi tertular HIV
diantaranya :
a. Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual
b. Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan yang berganti-ganti
c. Bayi yang lahir dan ibu dengan penyalahgunaan obat melalui vena
d. Bayi atau anak yang mendapat tranfusi darah atau produk darah
yang berulang
e. Bayi atau anak yang terpapar dengan alat suntik atau tusuk bekas
yang tidak steril
f. Anak remaja yang berhubungan seksual yang berganti-ganti
pasangan
Gambaran klinis pada anak nonspesifik seperti :
a. Gagal tumbuh
b. Berat badan menurun
c. Anemia
d. Panas berulang
e. Limpadenopati
f. Hepatosplenomegali
2.8.3 Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Mata
1. Adanya cotton wool spot ( bercak katun wol ) pada retina
2. Retinitis sitomegalovirus
3. Khoroiditis toksoplasma
4. Perivaskulitis pada retina
5. Infeksi pada tepi kelopak mata.
6. Mata merah, perih, gatal, berair, banyak sekret, serta
berkerak
7. Lesi pada retina dengan gambaran bercak / eksudat
kekuningan, tunggal / multiple
b. Pemeriksaan Mulut
1. Adanya stomatitis gangrenosa
2. Peridontitis
3. Sarkoma kaposi pada mulut dimulai sebagai bercak merah
datar kemudian menjadi biru dan sering pada platum
(Bates Barbara 1998 )
c. Pemeriksaan Telinga

11
1. Adanya otitis media
2. Adanya nyeri
3. Kehilangan pendengaran
d. Sistem pernafasan
1. Adanya batuk yang lama dengan atau tanpa sputum
2. Sesak nafas
3. Tachipnea
4. Hipoksia
5. Nyeri dada
6. Nafas pendek waktu istirahat
7. Gagal nafas
e. Pemeriksaan Sistem Pencernaan
1. Berat badan menurun
2. Anoreksia
3. Nyeri pada saat menelan
4. Kesulitan menelan
5. Bercak putih kekuningan pada mukosa mulut
6. Faringitis
7. Kandidiasis esofagus
8. Kandidiasis mulut
9. Selaput lendir kering
10. Hepatomegali
11. Mual dan muntah
12. Kolitis akibat dan diare kronis
13. Pembesaran limfa
f. Pemeriksaan Sistem Kardiovaskular
1. Suhu tubuh meningkat
2. Nadi cepat, tekanan darah meningkat
3. Gejala gagal jantung kongestiv sekuder akibat
kardiomiopatikarena HIV
g. Pemeriksaan Sistem Integumen
1. Adanya varicela ( lesi yang sangat luas vesikel yang
besar)
2. Haemorargie
3. Herpes zoster
4. Nyeri panas serta malaise
5. Aczematoid gingrenosum
6. Skabies
h. Pemeriksaan sistem perkemihan
1. Didapatkan air seni yang berkurang
2. Annuria
3. Proteinuria
4. Adanya pembesaran kelenjar parotis
5. Limfadenopati
i. Pemeriksaan Sistem Neurologi
1. Adanya sakit kepala
2. Somnolen

12
3. Sukar berkonsentrasi
4. Perubahan perilaku
5. Nyeri otot
6. Kejang-kejang
7. Encelopati
8. Gangguan psikomotor
9. Penururnan kesadaran
10. Delirium
11. Meningitis
12. Keterlambatan perkembangan
j. Pemeriksaan Sistem Muskuluskeletal
1. Nyeri persendian
2. Letih, gangguan gerak
3. Nyeri otot ( Bates Barbara 1998 )
2.3.4 Diagnosa Keperawatan
Diagnosis atau masalah keperawatan yang terjadi pada anak
dengan HIV / AIDS antara lain :
1. Resiko infeksi
2. Kurang nutrisi
3. Kurangnya volume cairan
4. Gangguan intregitas kulit
5. Perubahan atau gangguan membran mukosa
6. Ketidakefektifan koping keluarga
7. Kurangnya pengetahuan keluarga
2.3.5 Rencana Tindakan Keperawatan
1. Resiko infeksi
Resiko terjadinya infeksi pada anak dengan HIV /AIDS
berhubungan dengan adanya penurunan daya tahan tubuh
sekunder AIDS.
a. Tujuan : Meminimalkan resiko terhadap infeksi pada
anak
b. Rencana tindakan keperawatan
1) Kaji perubahan tanda-tanda infeksi ( demam,
peningkatan nadi, peningkatan kecepatan nafas,
kelemahan tubuh atau letargi )
2) Kaji faktor yang memperburuk terjadinya infeksi
seperti usia, status nutrisi, penyakit kronis lain

13
3) Monitor tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali, tanda
vital merupakan indikator terjadinya infeksi
4) Monitor sel darah putih dan hitung jenis setiap hari
untuk monitor terjadinya neutropenia
5) Ajarkan dan jelaskan pada keluarga dan pengunjung
tentang pencegahan secara umum ( universal ), untuk
menyiapkan keluarga dan pengunjung memutus
rantai penularan
6) Instruksikan ke semua pengunjung dan keluarga
untuk cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
memasuki ruangan pasien
7) Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian
antibiotik, anyiviral, antijamur,
8) Lindungi individu dan resiko infeksi dengan
universal precaution
2. Kurang Nutrisi ( kurang dari kebutuhan )
Nutrisi kurang dan kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia, diare, nyeri
a. Tujuan : Kebutuhan nutrisi dan pasien terpenuhi
b. Rencana tindakan keperawatan :
1) Kaji status perubahan nutrisi dengan menimbang berat
badan setiap hari
2) Monitor asupan dan keluaran setiap 8 jam sekali dan
turgor kulit
3) Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
4) Rencanakan makanan enternal dan parenteral
3. Kurangnya Volume Cairan
Kurangnya volume cairan tubuh pada anak
berhubungan dengan adanya infeksi oportunitis saluran
pencernaan ( diare )
a. Tujuan : Volume cairan tubuh dapat terpenuhi
b. Rencana tindakan keperawatan
1) Berikan cairan sesuai indikasi dan toleransi
2) Ukur masukan dan keluaran termasuk urin dan tinja
3) Monitor kadar elektrolit dalam tubuh
4) Kaji tanda vital turgor kulit, mukosa membran dan
ubun-ubun tiap 4 jam
5) Monitor urin tiap 6-8 jam sesuai dengan kebutuhan

14
6) Kolaborasi pemberian cairan intravena sesuai
kebutuhan
4. Gangguan intregitas kulit
Gangguan intregitas kulit berhubungan dengan diare
yang berkelanjutan ( kontak yang berulang dengan feces
yang bersifat asam )
a. Tujuan : Tidak terjadi gangguan intregitas kulit
b. Rencana tindakan keperawatan :
1) Ganti popok dan celana anak apabila basah
2) Bersihkan pantat dan keringkan setiap kali buang air
besar
3) Gunakan salep atau lotion
5. Perubahan atau Gangguan Mukosa Membran Mulut
Gangguan mukosa membran mulut berhubungan
dengan lesi mukosa membran dampak dari jamur dan infeksi
herpes
a. Tujuan : Tidak terjadi gangguan mukosa mulut
b. Rencana Tindakan Keperawatan
1) Kaji membran mukosa
2) Berikan pengobatan sesuai dengan saran dan dokter
3) Lakukan perawatan mulut tiap 2 jam
4) Gunakan sikat gigi yang lembut
5) Oleskan garam fisiologis tiap 4 jam dan sesudah
membersihkan mulut
6) Kolaborasi pemberian obat profilaksis ( ketokonazol,
flukonazol ) selama pengobatan
7) Gunakan antiseptik oral
8) Check up gigi secara teratur
6. Ketidakefektifan Koping Keluarga
Ketidakefektifan koping keluarga berhubungan
dengan penyakit menahun dan progresif
a. Tujuan : Koping keluarga efektif
b. Rencana tindakan keperawatan
1) Konseling keluarga
2) Observasi ekspresi orang tua tentang rasa takut,
bersalah, dan kehilangan

15
3) Diskusikan dengan orang tua tentang kekuatan diri
dan mekanisme koping dengan mengidentifikasi
dukungan sosial
4) Libatkan orang tua dalam perawatan anak
5) Monitor interaksi orang tua dan anak
6) Monitor tingkah laku orang
7. Kurang pengetahuan
Kurangnya pengetahuan pada keluarga
berhubungan dengan perawatan anak yang kompleks
dirumah
a. Tujuan : Keluarga dapat mengungkapkan atau
menjelaskan proses penyakit, penularan, pencegahan
dan perawatan
b. Rencana Tindakan keperawatan
1) Kaji pemahaman tentang diagnosis, proses
penyakit dan kebutuhan home care
2) Jelaskan daftar pengobatan, efek samping obat
dan dosis
3) Jelaskan dan demonstrasikan cara perawatan
khusus
4) Jelaskan cara penularan HIV dan bagaimana cara
pencegahannya
5) Anjurkan cara hidup normal pada anak

16
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
HIV secara umum adalah virus yang hanya dapat menginfeksi manusia,
memperbanyak diri didalam sel manusia, sehingga menurunkan kekebalan
manusia terhadap penyakit infeksi. AIDS adalah sekumpulan tanda dan
gejala penyakit akibat hilangnya atau menurunnya sistem kekebalan tubuh
seseorang yang didapat karena terinfeksi HIV. Penularan HIV dari ibu ke
anak yang biasa terjadi selama dalam kandungannya (antepartum),selama
persalinan (intrapartum),pada bayi baru lahir terpajan oleh cairan tubuh
ibu yang terinfeksi (post partum) dan pada bayi tertular melalui pemberian
ASI. Menurut Cecily L Betz, anak-anak dengan infeksi HIV yang didapat
pada masa perinatal tampak normal pada saat lahir dan mulai timbul gejala
pada 2 tahun pertama kehidupan.
3.2 Saran

Karena sampai saat ini belum diketahui vaksin atau obat yang efektif
untuk pencegahan atau penyembuhan AIDS, maka untuk menghindari
infeksi HIV dan menekan penyebarannya, cara yang utama adalah
melakukan tindakan pencegahan melalui perubahan perilaku.

Kepada para pembaca khususnya perawat, diharapkan dengan adanya


makalah ini dapat melaksanakan tindakan yang tepat dan benar dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada penderita HIV/ AIDS

17
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC


DR. Nursalam, M.Nurs dan Ninuk Dian Kurniawati, S.Kep. Ns. 2007. Asuhan
Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS Edisi Pertama. Salemba Medika:
Jakarta.
Lily, V.L. 2004. Transmisi HIV dari Ibu ke Anak. Majalah Kedokteran Indonesia.
54.

18