Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-
Nyalah makalah ini dapat kami selesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Dalam
makalah ini, kami membahas mengenai “Masalah Teori Etika dan Hubungannya Dengan
Pengambilan Keputusan”.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman mengenai masalah teori
etika dan hubungannya dengan pengambilan keputusan. Makalah ini juga dibuat untuk
memenuhi tugas penulis dalam bidang studi Etika Profesi Akuntan.
Kami menyadari bahwa sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan kekurangan
sehingga hanya yang demikian sajalah yang dapat kami berikan. Kami juga sangat
mengharapkan kritikan dan saran dari teman-teman sehingga kami dapat memperbaiki
kesalahan-kesalahan dalam penyusunan makalah selanjutnya. Demikian makalah ini, semoga
bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, Maret 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………….......1
DAFTAR ISI…………………..………………………………………………............2
I.PENDAHULUAN.......................................................................................................3
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………....3
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………..................3
1.3 Tujuan…………………………………………………………………………3
II.PEMBAHASAN…………………………………………………...……………….5
III. PENUTUP……………………………………………………………………….23
Kesimpulan……………………………………………..………………………....23
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………..24

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teori Etika menyediakan kerangka yang dapat digunakan untuk memastikan benar
tidaknya suatu keputusan moral. Keputusan moral yang diambil bisa menjadi beralasan
(memiliki moral reasoning ) berdasarkan suatu Teori Etika . Namun sering terjadi benturan –
benturan yang diakibatkan karena pada kenyataanya banyak terdapat teori etika yang
mengakibatkan penilaian berbeda–beda sebagai akibat dari tidak adanya kesepakatan oleh semua
orang.

Dalam kehidupan ini manusia dihadapkan pada banyak pilihan, dimana setiap pilihan
tersebut mengandung arti yang berbeda-beda, tujuan yang berbeda-beda, dan tentunya hasil yang
berbeda-beda pula. Pengharapan manusia selalu bisa berada pada tingkat perubahan yaitu
kemajuan. Namun untuk mendapatkan kemajuan itu tentunya bukanlah suatu cara yang mudah
dan sederhana, semua itu harus dilalui dengan segala proses dan tahap demi tahap. Disinilah kita
akan melihat bagaimana proses tersebut berlangsung, apakah ia berjalan berdasarkan aturan atau
menyalahi aturan yang berlaku, misalnya dengan timbulnya suatu Fraud (kecurangan yang
disengaja).

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang ada berdasarkan latar belakang di atas adalah sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan Teori Etika?


2. Apa saja masalah dalam etika?
3. Apa solusinya untuk mengatasi masalah tersebut dan bagaimana cara pengambilan
keputusannya?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk dapat mengetahui gambaran tetang teori etika.

3
2. Untuk mengetahui masalah-masalah didalam etika.
3. Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah jika terjadi pelanggaran etika dan
bagaimana cara pengambilan keputusannya.

4
BAB II

PEMBAHASAN

Masalah Teori Etika dan Hubungannya Dengan Pengambilan Keputusan

Sebelum membahas berbagai teori etika yang ada, terlebih dahulu perlu dipahami apa
yang dimaksud dengan teori dan apa hubungannya teori dengan ilmu. Suatu pengetahuan tentang
suatu objek baru bisa dianggap sebagai suatu disiplin ilmu bila pengetahuan tersebut telah
dilengkapi dengan seperangkat teori tentang objek yang dikaji. Jadi, teori merupakan tulang
punggung suatu ilmu.

Ilmu pada dasarnya adalah kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai
gejala alam (dan social) yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk
menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada, sedangkan teori adalah pengetahuan
ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor tertentu dari sebuah disisplin keilmuan
(Suriasumantri, 2000). Fungsi teori dan ilmu pengetahuan adalah untuk menjelaskan,
meramalkan dan mengontrol. Sedangkan etika sebagai disiplin ilmu berhubungan dengan kajian
secara kritis tentang adat kebiasaan, nilai-nilai dan norma-norma perilaku manusia yang
dianggap baik atau tidak baik. Dalam etika masih banyak dijumpai banyak teori yang mencoba
untuk menjelaskan suatu tindakan, sifat atau objek perilaku yang sama dari sudut pandang atau
perspektif yang berlainan. Banyaknya teori etika yang berkembang tanpa cukup
membingungkan. Padahal sifat teori yang makin sederhana dan makin mengerucut suatu teori
tunggal yang mampu menjelaskan suatu gejela secara komprehensif. Untuk memperoleh
pemahaman tentang teori yang berkembang, berikut ini diuraikan secara garis besar beberapa
teori yang berpengaruh :

1. Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungn dengan
egoisme,yaitu :
a) Egoisme psikologis adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua
tindakanmanusia dimotivasi oleh kepentingan berkuwat diri (selfish). Menurut
teori ini, orang bolehsaja yakin bahwa ada tindakan mereka yang bersifat luhur

5
dan suka berkorban, namun semua tindakan yang terkesan luhur dan tindakan
yang suka berkorban tersebut hanyalah ilusi.
b) Egoisme etis adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri (self-
interest). Munculnya paham egoisme etis memberikan landasan yang sangat kuat
bagi munculnya paham ekonomi kapitalis dalam ilmu ekonomi.
2. Utilitarianisme
Utilitarisme berasal dari kata latin utilis, kemudian menjadi kata Inggris “Utility”
yang berarti bermanfaat (Bertens, 2000). Menurut teori ini, suatu tindakan dapat
dikatakan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat, atau
dengan istilah yang sangat terkenal: “the greatest happiness of the greatest numbers”.
Jadi, ukuran baik tidaknya suatu tindakan dilihat dari akibat, konsekuensi, atau tujuan
dari tindakan itu apakah memberi manfaat atau tidak. Itulah sebabnya, paham ini disebut
juga paham teleologis. Teleologis berasal dari kata Yunani “Telos” yang berarti tujuan.
Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis adalah melihat dari sudut
pandang kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut
kepentingan orang banyak (kepentingan bersama, kepentingan masyarakat).
3. Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban
(Beterns,2000). Paham ini dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804) dan kembali
mendapat dukungan dari filsuf abad ke-20, Anscombe dan suaminya. Peter Geach
(Rachels, 2004). Paham deontologi mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak
ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi, atau dari akibat dari tindakan
tersebut. Untuk memahami lebih lanjut tentang paham deontologi ini, sebaiknya
dipahami terlebih dahulu dua konsep penting yang dikemukakan oleh Kant, yaitu konsep
imperative hypothesis dan impertive categories.
a) Imperative hypothesis adalah perintah-perintah (ought) yang bersifat khusus yang
harus diikuti jika seseorang mempunyai keinginan yang relevan.
b) Imperative categories adalah kewajiban moral yang mewajibkan kita begitu saja
tanpa syarat apa pun. Dalam hal ini, kewajiban moral bersifat mutlak tanpa ada
pengecualian apa pun dan tanpa dikaitkan dengan keiginan atau tujuan apa pun.

6
4. Teori hak
Menurut teori hak, suatu tindakan atau perbuatan dianggap baik bila perbuatan
atau tindakan tersebut sesuai dengan hak asasi manusia (HAM). Namun sebagaimana
dikatakan oleh Bertens (2000), teori hak merupakan suatu aspek dari teori deontology
(kewajiban) karena hak tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban bagaikan satu keeping
mata uang logam yang sama dengan dua sisi. Teori hak sebenarnya di dasarkan atas
asumsi bahwa manusia mempunyai martabat dan semua manusia mempunyai martabat
yang sama. Hak asasi manusia didasarkan atas beberapa sumber otoritas (Weiss, 2006),
yaitu:
a) Hak hukum (legal right) adalah hak yang didasarkan atas sistem/yurisdiksi hukum
suatu negara, dimana sumber hukum tertinggi suatu negara adalah Undang-
Undang Dasar negara yang bersangkutan.
b) Hak moral atau kemanusiaan (moral, human right) dihubungkan dengan pribadi
manusia secara individu, atau dalam beberapa kasus dihubungkan dengan
kelompok bukan dengan masyarakat dalam arti luas. Hak moral berkaitan dengan
kepentingan individu sepanjang kepentingan individu itu tidak melanggar hak-hak
orang lain.
c) Hak kontraktual (contractual right) mengikat individu-individu yang membuat
kesepakatan atau kontrak bersama dalam wujud hak dan kewajiban masing-
masing pihak.
5. Teori Keutamaan (Virtue Theory)
Teori keutamaan sebenarnya telah lahir sejak jaman dahulu yang didasarkan atas
pemikiran Aristoteles (384-322 SM) yang sempat tenggelam. Teori keutamaan berangkat
dari manusianya ( Bertens, 2000). Teori keutamaan tidak menanyakan tindakan mana
yang etis dan tindakan mana yang tidk etis. Tidak seperti kedua teori yang pernah
dijelaskan sebelumnya, dasar teori keutamaan sangat berbeda. Teori ini tidak lagi
mempertanyakan suatu tindakan, tetapi berangkat dari pernyataan mengenai sifat-sifat
atau karakter yang harus dimiliki seseorang agar bisa disebut sebagai manusia utama, dan
sifat-sifat atau karakter yang mencerminkan manusia hina. Dengan demikian,
karakteristik/sifat utama dapat didefinisikan sebagai disposisi sifat/watak yang telah

7
melekat dan dimiliki oleh seseorang dan memungkinkan dia untuk selalu bertingkah laku
yang secara moral bernilai baik.
6. Teori Etika Teonom
Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat Kristen. Teori ini mengatakan bahwa
karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh kesesuaian hubungannya dengan
kehendak Allah. Perilaku manusia secara moral dianggap baik jika sepadan dengan
kehendak Allah, dan perilaku manusia dianggap tidak baik bila tidak mengikuti aturan-
aturan perintah Allah sebagaimana telah di ungkapkan dalam kitab suci.

Masalah Teori Etika


Masalah (bahasa Inggris: problem) didefinisikan sebagai suatu pernyataan tentang
keadaan yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Bisa jadi kata yang digunakan untuk
menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang
menghasilkan situasi yang membingungkan.
1. Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan.
2. Umumnya masalah disadari "ada" saat seorang individu menyadari keadaan yang ia
hadapi tidak sesuai dengan keadaan yang diinginkan.
Dalam beberapa literatur riset, masalah seringkali didefinisikan sebagai sesuatu yang
membutuhkan alternatif jawaban, artinya jawaban masalah atau pemecahan masalah bisa lebih
dari satu. Selanjutnya dengan kriteria tertentu akan dipilih salah satu jawaban yang paling kecil
risikonya. Biasanya, alternatif jawaban tersebut bisa diidentifikasi jika seseorang telah memiliki
sejumlah data dan informasi yang berkaitan dengan masalah bersangkutan. Terdapat tiga jenis
masalah yang dihadapi dalam Etika, yaitu :
1. Sistematik
Masalah-masalah sistematik dalam etika bisnis pertanyaan-pertanyaan etis yang
muncul mengenai sistem ekonomi, politik, hukum dan sistem sosial lainnya dimana
bisnis beroperasi.
2. Korporasi
Permasalahan korporasi dalam perusahaan bisnis adalah pertanyaan-pertanyaan
yang dalam perusahaan-perusahaan tertentu. Permasalahan ini mencakup pertanyaan

8
tentang moralitas aktivitas, kebijakan, praktik dan struktur organisasional perusahaan
individual sebagai keseluruhan.
3. Individu
Permasalahan individual dalam etika bisnis adalah pertanyaan yang muncul
seputar individu tertentu dalam perusahaan. Masalah ini termasuk pertanyaan tentang
moralitas keputusan, tindakan dan karakter individual.

Dalam kehidupan ini manusia dihadapkan pada banyak pilihan, dimana setiap pilihan
tersebut mengandung arti yang berbeda-beda, tujuan yang berbeda-beda dan tentunya hasil yang
berbeda-beda pula. Pengharapan manusia selalu bisa berada pada tingkat perubahan yaitu
kemajuan. Namun untuk mendapatkan kemajuan itu tentunya bukanlah suatu cara yang mudah
dan sederhana, semua itu harus dilalui dengan segala proses dan tahap demi tahap. Disinilah kita
akan melihat bagaimana proses tersebut berlangsung, apakah ia berjalan berdasarkan aturan atau
menyalahi aturan yang berlaku misalnya dengan timbulnya suatu Fraud (kecurangan yang
disengaja).
Fraud (kecurangan) merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara disengaja dan
dilakukan untuk tujuan pribadi atau tujuan kelompok, dimana tindakan yang disengaja tersebut
telah menyebabkan kerugian bagi pihak tertentu atau institusi tertentu. Dalam kata Fraud itu
sendiri dapat diartikan dengan berbagai makna yang terkandung didalamnya seperti:
 Kecurangan
 Kebohongan
 Penipuan
 Kejahatan
 Penggelapan barang-barang
 Manipulasi data-data
 Rekayasa informasi
 Mengubah opini publik dengan memutarbalikan fakta yang ada
 Menghilangkan barang bukti secara sengaja

9
Untuk mengetahui lebih dalam tentang Fraud ada beberapa pendapat para ahli yang telah
mendefinisikan tentang Fraud ini, menurut Joel G. Siegel dan Jae K. Shim bahwa:
“Fraud (kecurangan) merupakan tindakan yang disengaja oleh perorangan atau kesatuan untuk
menipu orang lain yang menyebabkan kerugian. Khususnya terjadi misrepresentation (penyajian
yang keliru) untuk merusak atau dengan maksud menahan data bahan yang diperlukan untuk
pelaksanaan keputusan yang terdahulu”. Dan lebih jauh Joel G. Siegel dan Jae K. Shim
mencontohkan tentang pemegang buku yang memalsukan catatan agar dapat mencuri uang.

Dalam Black’s Law Dictionary dijelaskan bahwa: (Kecurangan adalah istilah umum,
mencakup berbagai ragam alat seseorang, individual, untuk memperoleh manfaat terhadap
pihak lain dengan penyajian yang palsu. Tidak ada aturan yang tetap dan tampak kecuali dapat
ditetapkan sebagai dalil umum dalam mendefinisikan kecurangan karena kecurangan mencakup
kekagetan, akal (muslihat), kelicikan dan cara-cara yang tidak layak/wajar untuk menipu orang
lain. Batasan satu-satunya mendefinisikan kecurangan adalah apa yang membatasi kebangsatan
manusia).

Sehingga dapat ditarik berbagai kesimpulan dari pendapat di atas bahwa tindakan
Fraud (kecurangan) tersebut merupakan sesuatu yang disebabkan oleh keinginan seseorang yang
teraplikasi dalam bentuk perilakunya untuk melakukan suatu tindakan yang menyalahi aturan.

Hubungan Etika Bisnis dan Fraud


Ada hubungan yang erat antara etika bisnis dan Fraud. Bahwa segala sesuatu tindakan
yang bersifat Fraud bisa dikategorikan sebagai pelanggaran etika. Dari definisi di atas dapat kita
pahami bahwa Fraud merupakan bentuk tindakan kejahatan yang bersifat disengaja, baik
dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.

Bentuk-bentuk Fraud
Kecurangan pada prinsipnya mempunyai banyak sekali bentuknya. Perkembangan Fraud
adalah sejalan dengan semakin banyaknya aktivitas kehidupan. Bahwa tindakan Fraud telah
merasuki pada berbagai sektor baik private sector maupun dalam ruang lingkup aktivitas
pemerintahan. Untuk mencegah timbulnya kecurangan maka jalan yang terbaik adalah dengan

10
memahami apa dan bagaimana saja bentuk-bentuk kecurangan itu. Sukrisno Agoes mengatakan
bahwa kekeliruan dan kecurangan bisa terjadi dalam berbagai bentuk, yaitu:
1. Intentional error
Kekeliruan bisa disengaja dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri dalam
bentuk window dressing (merekayasa laporan keuangan supaya terlihat lebih baik agar
lebih mudah mendapat kredit dari bank) dan check kiting (saldo rekening bank
ditampilkan lebih besar sehingga rasio lancar terlihat lebih baik).
2. Unintentional error
Kecurangan yang terjadi secara tidak disengaja (kesalahan manusiawi), misalnya
salah menjumlah atau penerapan standar akuntansi yang salah karena ketaktahuan.
3. Collusion
Kecurangan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang dengan cara bekerjasama
dengan tujuan untuk menguntungkan orang-orang tersebut, biasanya merugikan
perusahaan atau pihak ketiga. Misalnya, di suatu perusahaan terjadi kolusi antara bagian
pembelian, bagian gudang, bagian keuangan, dan pemasok dalam pembelian bahan atau
barang. Kolusi merupakan bentuk kecurangan yang sulit dideteksi, walaupun
pengendalian intern perusahaan cukup baik. Salah satu cara pencegahan yang banyak
digunakan dilarangnya pegawai yang mempunyai hubungan keluarga (suami-istri, adik-
kakak) untuk bekerja di perusahaan yang sama.
4. Intentional misrepresentation
Memberi saran bahwa sesuatu itu benar, padahal itu salah, oleh seseorang yang
mengetahui bahwa itu salah.
5. Negligent misrepresentation
Pernyataan bahwa sesuatu itu salah oleh seseorang yang tidak mempunyai dasar
yang kuat untuk menyatakan bahwa hal itu benar.
6. False promises
Sesuatu janji yang diberikan tanpa keinginan untuk memenuhi janji tersebut.
7. Employe Fraud
Kecurangan yang dilakukan pegawai untuk menguntungkan dirinya sendiri. Hal
ini banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari office boy yang

11
memainkan bon pembelian makanan sampai pegawai yang memasukkan pengeluaran
pribadi untuk keluarganya sebagai biaya perusahaan.
8. Management Fraud
Kecurangan yang dilakukan oleh manajemen sehingga merugikan pihak lain,
termasuk pemerintah. Misalnya manipulasi pajak, manipulasi kredit bank, kontraktor
yang menggunakan cost plus fee.
9. Organized crime
Kejahatan yang terorganisasi, misalnya pemalsuan kartu kredit, pengiriman
barang melebihi atau kurang dari yang seharusnya di mana si pelaksana akan mendapat
bagian 10%.
10. Computer crime
Kejahatan dengan memanfaatkan teknologi komputer, sehingga si pelaku bisa
mentransfer dana dari rekening orang lain ke rekeningnya sendiri.
11. White collar crime
Kejahatan yang dilakukan orang-orang berdasi (kalangan atas), misalnya mafia
tanah, paksaan secara halus untuk merger, dan lain-lain.

Bagi seorang auditor dalam melaksanaakan tugas yang dibebankan kepadanya maka
tentunya ia akan mengikuti beberapa prosedur dan langkah-langkah yang dapat membuat
kerjanya itu berlangsung secara sistematis. Lebih jauh Arens & Loebbecke menambahkan bahwa
auditing seharusnya dilakukan oleh seorang yang independen dan kompeten. Suatu kriteria atau
standar yang dipakai sebagai dasar untuk menilai pernyataan dari hasil suatu proses akuntansi
yaitu dilihat dari:
 Pertama : peraturan yang ditetapkan oleh suatu badan legislatif;
 Kedua : anggaran atau ukuran prestasi lain yang ditetapkan oleh manajemen; dan
 Ketiga : prinsip akuntansi yang diterima umum di Indonesia.
Secara umum dapat kita pahami bahwa suatu perusahaan mempunyai ciri berbeda dalam
menerapkan setiap konsep manajemen yang ia miliki. Hal ini bisa terjadi karena faktor dimana
setiap perusahaan memperkerjakan individu yang berlainan latar belakangnya, mulai dari latar
belakang pendidikan (education), budaya (culture), agama (religion), sosial (social), paham
politik (ism of politic) dan lain sebagainya.

12
Sebab-sebab Terjadinya Fraud
Pada umumnya Fraud terjadi karena tiga hal yang mendasarinya terjadi secara bersama,
yaitu:
1. Insentif atau tekanan untuk melakukan Fraud
2. Peluang untuk melakukan Fraud
3. Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan Fraud.
Ketiga faktor tersebut digambarkan dalam segitiga Fraud:
1. Opportunity
Opportunity biasanya muncul sebagai akibat lemahnya pengendalian internal di
organisasi tersebut. Terbukanya kesempatan ini juga dapat menggoda individu atau
kelompok yang sebelumnya tidak memiliki motif untuk melakukan Fraud.
2. Pressure
Pressure atau motivasi pada seseorang atau individu akan membuat mereka
mencari kesempatan untuk melakukan Fraud, beberapa contoh pressure dapat timbul
karena masalah keuangan pribadi, sifat-sifat buruk seperti munculnya sikap suka berfoya-
foya dengan sering berbelanja barang-barang mewah, sering ke diskotik, berjudi, terlibat
narkoba, dan faktor tidak nyaman dalam keluarga seperti merasa selalu ditekan.
3. Rationalization
Rationalization terjadi karena seseorang mencari pembenaran atas aktivitasnya
yang mengandung Fraud meyakini atau merasa bahwa tindakannya bukan merupakan
suatu kecurangan tetapi adalah suatu yang memang merupakan hak nya, bahkan kadang
pelaku merasa telah berjasa karena telah berbuat banyak untuk organisasi. Dalam
beberapa kasus lainnya terdapat pula kondisi dimana pelaku tergoda untuk melakukan
Fraud karena merasa rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama dan tidak menerima
sanksi atas tindakan Fraud tersebut.

Pengambilan keputusan
Para individu dalam organisasi membuat keputusan (decision), artinya mereka membuat
pilihan-pilihan dari dua alternatif atau lebih. Pengambilan keputusan mengandung arti pemilihan
altematif terbaik dari sejumlah alternatif yang tersedia. Teori-teori pengambilan keputusan

13
bersangkut paut dengan masalah bagaimana pilihan-pilihan semacam itu dibuat. Beberapa
pegertian tentang keputusan menurut beberapa tokoh (Dhino Ambargo: 2) adalah sebagai
berikut :
1. Siagian (1996) menyatakan, pada hakikatnya pengambilan keputusan adalah suatu
pendekatan sistematis terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data.
Penentuan yang matang dari altenatif yang dihadapi dan pengambilan tindakan yang
menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
2. Claude S. George, Jr (2005) menyatakan, proses pengambilan keputusan itu dikerjakan
oleh kebanyakan manajer berupa suatu kesadaran, kegiatan pemikiran yang termasuk
pertimbangan, penilaian dan pemilihan di antara sejumlah alternatif.
3. Ralp C. Davis dalam Imam Murtono (2009) menyatakan keputusan dapat dijelaskan
sebagai hasil pemecahan masalah, selain itu juga harus didasari atas logika dan
pertimbangan, penetapan alternatif terbaik, serta harus mendekati tujuan yang telah
ditetapkan. Seorang pengambil keputusan haruslah memperhatikan hal-hal seperti;
logika, realita, rasional, dan pragmatis.

Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengembilan keputusan adalah :

1. Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu
diperhitungkan dalam pengambilan keputusan;
2. Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi;
3. Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan
kepentingan orang lain;
4. Jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan;
5. Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian
harus diubah menjadi tindakan fisik;
6. Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang cukup lama;
7. Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik;
8. Setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang
diambil itu betul; dan
9. Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan
berikutnya.

14
Pada dasarnya pengambilan keputusan adalah suatu akibat adanya reaksi atas sebuah
masalah (problem), yang artinya ada ketidaksesuian antara perkara saat ini dan keadaan yang
diinginkan, yang membutuhkan pertimbangan untuk membuat beberapa tindakan alternatif.
Namun, berpaling dari hal ini keputusan yang dibuat haruslah keputusan yang baik, rasional, dan
mengandung nilai-nilai etis dalam batasan-batasan tertentu. Oleh karena itu haruslah ada
kerangka kerja pengambilan keputusan yang etis atau ethical decision making (EDM).

Contoh Kasus :
Kasus 1
Manajemen PT. Mulia Berikat yang bergerak di bidang perkebunan memenangkan tender
penanaman 4.000 pohon penghijuauan mencapai Rp 2,4 miliar. Namun karena keterbetasan
waktu dan tenaga yang ada maka pihak perusahaan PT. Mulia Berikat memberikan tender itu
secara bawah tangan kepada perusahaan PT. Makmur Gading dengan nilai proyek yang lebih
rendah yaitu Rp 1,9 miliar.
Atas dasar itu maka PT. Makmur Gading dengan nilai nominal proyek yang disepakati
adalah senilai Rp 1,9 miliar melaksanakan pekerjaan, yang selanjutnya menugaskan kepada
karwayannya. Adapun tugas kepada karyawan adalah sebagai dengan job description masing-
masing, seperti mencari bibit pohon, pupuk pohon, air penyiraman tanaman, peralatan
penanaman, pemetaan, dan lain sebagainya. Bagi para karyawan diharuskan untuk merincikan
setiap pelaporan dan selanjutnya melaporkan kepada pimpinan PT.Makmur Gading.
Bagi pimpinan perusahaan PT.Makmur Gading akan berusaha merealisasikan semua
pekerjaan tersebut secara lebih baik dan cepat walaupun ia mengetahui anggaran dananya adalah
kecil. Namun bagi pihak perusahaan berkeyakinan bahwa dengan melaksanakan pekerjaan
sebaik mungkin maka memungkinkan akan mendapatkan proyek-proyek lain yang lebih banyak
lagi terutama dari PT.Mulia Berikat. Dan pelan-pelan mereka berkeyakinan bisa menyimpan
keuntungan tersebut untuk mengembangkan perusahaannya menjadi lebih besar.
Namun disini memang terlihat bahwa asumsi yang dipergunakan oleh PT. Makmur
Gading adalah bersifat cateris paribus, yaitu jika hal-hal lain dianggap semuanya berjalan secara
normal. Termasuk kondisi mikro dan makro ekonomi yang cenderung stabil dan pihak pengawas
atau auditor yang melakukan pekerjaannya tidak menemukan keganjalan, dan lain sebagainya.

15
Akan tetapi semua itu bisa berubah pada saat itu berbalik dan manajemen perusahaan
PT.Makmur Gading akan mengalami risiko besar yang harus ditanggung.
Oleh karena itu, salah satu strategi yang akan diterapkan oleh pihak PT.Makmur Gading
untuk mengubah beberapa pekerjaan agar terlaksana namun itu tidak terlihat, seperti penanaman
4.000 pohon menjadi hanya 3.900 pohon. Dan ukuran besar pohon dalam kesepakatan tingginya
40 cm dan 50% lagi berukuran tinggi 30 cm, bahkan jika perlu menanam pohon dengan
mencampur yang tingginya hanya 25 cm saja. Dan juga berbagai strategi lainnya.
Atas dasar kasus di atas anda diminta untuk menganalisis beberapa kondisi yang mungkin
terjadi, dan bagaimana mengatasi masalah tersebut jika terjadi. Serta apakah keputusan yang
dilakukan oleh PT.Makmur Gading dengan menerima order proyek dari PT.Mulia Berikat adalah
dapat dibenarkan, terutama dalam iklim bisnis dewasa ini, karena jika kita melihat asal mula
pendaftar dan pemenang tender tersebut, dimana bentuk tindakan Fraud yang melanggar etika
bisnis tersebut dan apa solusi yang harus dilakukan untuk kasus ini.

Analisis
Etika profesi merupakan hal yang sangat penting bagi semua profesi karena etika tersebut
berhubungan secara langsung terhadap timbulnya dampak negatif maupun positif terhadap
kesejahteraan banyak orang. Khususnya dalam dunia bisnis, seseorang yang berkecimpung
dalam dunia bisnis dituntut mempunyai etika dalam profesinya agar dapat bertanggung jawab
dengan apa yang dilakukannya sehingga dapat memberikan dampak yang positif bagi dirinya
sendiri maupun orang lain. Namun apabila etika tersebut tidak dimiliki oleh pekerja tersebut
maka akan menghasilkan dampak yang negative berupa kehilangan kepercayaan dari orang lain
terhadap pekerja tersebut, seperti yang terjadi pada kasus PT. Makmur Gading dimana terjadi
permasalahan mengenai tindakan Fraud yang dilakukan.Yang dimana kedua perusahaan tersebut
melakukan tindakan Fraud yang besifat pelanggaran terhadap nilai – nilai etika bisnis.

Solusi
Berdasarkan kasus di atas maka kita dapat memberikan beberapa solusi dan analisa dari
segi Fraud dan etika bisnis. Pertama, tindakan yang dilakukan oleh PT.Mulia Berkat adalah
sesuatu yang salah, karena ia telah tertulis sebagai pihak yang memenangkan tender namun
kemudian menyerahkan kepada PT.Makmur Gading sebagai pelaksana proyek. Nilai proyek Rp

16
2,4 miliar yang tertulis dalam kontrak namun diberikan kesepakatan di bawah tangan kepada
PT.Makmur Gading sebesar Rp 1,9 miliar. Artinya PT.Mulia Berikat memperoleh keuntungan
sebesar Rp.500.000.000,- tanpa mengerjakan apapun. Ini adalah suatu pelanggaran etika bisnis
yang memiliki muatan Fraud.
Kedua, PT.Makmur Gading dalam pengerjaan proyek tersebut berkeinginan untuk
melakukan tindakan yang bersifat manipulasi, seperti penanaman 4.000 pohon menjadi hanya
3.900 pohon. Dan ukuran besar pohon dalam kesepakatan tingginya 40 cm menjadi bervariasi
yaitu 50% berukuran tinggi 40 cm dan 50% lagi berukuran tinggi 30 cm, bahkan juka perlu
menanam pohon dengan mencampur yang tingginya hanya 25 cm saja. Dan juga berbagai
strategi lainnya. Tindakan ini jelas bersifat Fraud dan melanggar nilai-nilai etika bisnis.
Dengan begitu kita bisa menyimpulkan jika kedua jenis perusahaan tersebut telah
melakukan tindakan Fraud dan bersifat pelanggaran nilai-nilai etika bisnis. Lebih jauh mereka
berdua harus mendapat teguran dari pihak terkait atau perbuatan yang dilakukan tersebut.
Adapun solusi yang dapat kita berikan untuk kasus ini sebaiknya PT Makmur Gading
tidak menerima tawaran yang diajukan oleh PT.Mulia Berkat, karena itu melanggar aturan etika
bisnis yang berlaku.

Kasus 2 :
Pada bulan Mei tahun 1968, Ford Motor Company, berdasarkan rekomendasi saat itu
wakil presiden Lee Iacocca, memutuskan untuk memperkenalkan mobil subkompak untuk
menghadapi persingan kuat dari Volkswagen. Demi mendapatkan pangsa pasar yang besar,
mobil tersebut dirancang dan dikembangkan secara cepat di dalam negeri. Yang di maksud
secara cepat di sini adalah bahwa desain dan pengujian pra produksi biasanya membutuhkan
waktu sekitar tiga setengah tahun dan pengaturan produksi yang sebenarnya agak lebih lama,
namun pada kenyataanya desain Ford Pinto dimulai pada tahun 1968 dan produksi dimulai tahun
1970. Tujuan lain Ford Pinto adalah memproduksi mobil dengan berat sebesar 2.000 pound,
dengan label harga sebesar $2.000 atau kurang. Dan ternyata selama beberapa tahun penjualan
pertama Pinto bisa dikatakan sangat bagus, karena total penjualan mencapai 3.200.000 unit dari
berbagai varian.
Banyak laporan yang dilewatkan dalam rantai komando selama desain dan proses
persetujuan, termasuk beberapa diantaranya yang menguraikan hasil tes tumbukan, dan usulan

17
untuk memperbaiki kecenderungan mobil meledak ke dalam kobaran api ketika bagian belakang
dipacu pada kecepatan 21 mil per jam.
Kecenderungan tersebut disebabkan karena Ford Pinto mengadopsi penempatan tangki
bahan bakar di bagian belakang. Pinto adalah sebuah proyek terburu-buru, dimulai pada tahun
1968 dan mengambil lebih dari dua tahun untuk mencapai ruang pamer. Akibatnya, keputusan
desain rekayasa datang setelah keputusan gaya ke tingkat yang lebih besar dari biasanya. Desain
ini sangat berbahaya, karena jika terjadi tabrakan pada bagian belakang Ford Pinto maka bisa
menyebabkan ledakan, kemudian disusul efek domino pintu mobil yang menjadi sulit dibuka
sehingga penumpang akan terperangkap di dalamnya. Selama desain dan produksi,
bagaimanapun, tes tabrakan mengungkapkan cacat serius dalam tangki bensin. Dalam tabrakan
lebih dari 25 mil per jam, tangki bensin selalu pecah. Untuk memperbaikinya diperlukan
perubahan dan memperkuat desain.
Perbaikan yang tersedia untuk Ford termasuk memposisikan tangki gas di atas roda
belakang, yang akan mengurangi ruang bagasi. Penempatan tangki bahan bakar terletak di
belakang poros belakang, bukan di atasnya. Hal ini dilakukan untuk menciptakan ruang bagasi
yang lebih besar. Masalah dengan desain, yang kemudian menjadi jelas, adalah bahwa itu
membuat Pinto lebih rentan terhadap tabrakan belakang. Kerentanan ini ditingkatkan dengan
fitur lain dari mobil.
Banyak studi laporan dan dokumen yang dihasilkan oleh Mother Jones mengenai
tabrakan belakang Pintos menunjukkan bahwa jika terjadi tabrakan Pinto dari belakang dengan
kecepatan lebih dari 30 mph, bagian belakang mobil akan melengkung seperti akordion tepat ke
kursi belakang. Gaya Pinto diperlukan bahwa tangki bahan bakar berada di belakang poros
belakang, sehingga hanya 9 atau 10 inci ruang menghancurkan antara bumper belakang dan
poros belakang. Selain itu, kepala baut terpapar yang mampu menusuk tangki bahan bakar pada
dampak belakang. Tabung yang mengarah ke tutup tangki gas akan merenggut tangki itu sendiri
dan gas segera akan tumpah ke jalan di sekitar mobil. Tangki bensin yang tertekuk akan macet
melawan rumah diferensial (tonjolan besar di tengah-tengah poros belakang mobil), yang berisi
empat benda tajam dan baut menonjol, dan kemungkinan menyebabkan lubang di tangki dan
menumpahkan lebih banyak gas. Sekarang yang dibutuhkan adalah percikan dari tempat
pembakaran rokok atau serpihan logam, dan kedua mobil habis dilalap api. Jika diberikan
kesempatan untuk mengatakan bahwa Pinto adalah sungguh sebuah deraan yang bagus, katakan

18
pada 40 mph, kesempatan yang sangat baik bahwa pintu akan macet dan Anda harus bersiap-
siap menonton penumpang terjebak di dalam terbakar sampai mati. Kasus Ford pinto bermula
dari kesengajaan perusahaan mendesain mobil seperti itu dengan maksud mendapat keuntungan
yang besar. Dari kelalaian perusahaan, banyak terjadi kecelakaan yang menyebabkan beberapa
orang meninggal.
Beberapa orang merasa isu yang diangkat dalam kasus-kasus Ford Pinto adalah contoh
dari dalam saku perusahaan yang mengabaikan keselamatan konsumen dan lebih memilih
mengejar keuntungan. Beberapa pihak lain merasa mereka adalah contoh kasus yang
terhindarkan dari liputan media. Terlepas dari semua pendapat itu, kasus Ford Pinto adalah salah
satu dari banyak masalah hukum dan etika yang kompleks.
Kritikan dan hujatan pun berdatangan, namun ternyata pihak Ford memilih untuk tidak
mengganti desain dari mobilnya dan lebih memilih menghadapi tuntutan di pengadilan.

Analisis
Etika profesi merupakan hal yang sangat penting bagi semua profesi karena etika tersebut
berhubungan secara langsung terhadap timbulnya dampak negatif maupun positif terhadap
kesejahteraan banyak orang. Khususnya dalam dunia keteknikan, seseorang yang berkecimpung
dalam dunia teknik dituntut mempunyai etika dalam profesinya agar dapat bertanggung jawab
dengan apa yang dihasilkan sehingga dapat memberikan dampak yang positif bagi dirinya
sendiri maupun orang lain. Namun apabila etika tersebut tidak dimiliki oleh pekerja tersebut
maka akan menghasilkan dampak yang negatif berupa kehilangan kepercayaan dari orang lain
terhadap pekerja tersebut, seperti yang terjadi pada kasus perusahaan ford dimana terjadi
permasalahan mengenai etika profesi dalam membuat suatu produk yaitu mobil ford pinto.
Permasalahan yang terjadi pada mobil ford pinto bermula dari kecelakaan yang menewaskan 3
orang dan 4 orang luka-luka yang disebabkan oleh meledaknya tanki bahan bakar mobil ford
pinto akibat adanya benturan pada saat kecelakaan. Hal ini berkaitan dengan disain tali pengikat
pada tanki gas yang menjadikannya peka terhadap kebocoran dan api rendah untuk mengurangi
kecepatan benturan, namun hal tersebut justru menjadi potensi bahaya untuk penggunanya
karena apabila terjadi kecelakaan maka tanki bahan bakar akan mudah terbakar dan meledak
sehingga dapat dikatakan produk yang dihasilkan memiliki kecacatan.

19
Awal kecacatan tersebut sebenarnya telah diketahui oleh perusahaan ford, sebelum mobil
ford pinto tersebut dipasarkan, namun perusahaan tersebut lebih memilih untuk membayar biaya
ganti rugi kematian dari pada mendesain ulang tanki bahan bakar, karena dirasa akan
membutuhkan biaya yang lebih besar untuk mendisain ulang tangki bahan bakar dibandingkan
dengan membayar ganti rugi kematian. Selain itu ford memiliki suatu hak paten atas suatu tanki
gas yang dirancang lebih baik pada waktu itu, tetapi pertimbangan gaya dan biaya itu
mengesampingkan perubahan apapun didalam mendisain tanki bensin pinto.
Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan ford telah melakukan pelanggaran etika profesi, dimana
perusahaan tidak bertanggung jawab atas kesalahan teknis yang dihasilkan dan kemudian
mendatangkan kerugian terhadap konsumenya sehingga menimbulkan korban, bahkan sampai
menyebabkan kematian karena pelanggaran dari etika profesi yang dilakukan.
Hal ini tidak boleh terjadi dalam dunia perindustrian karena berdampak negatif bagi
perusahaan itu sendiri, dimana perusahaan akan kehilangan kepercayaan dari konsumen sehingga
konsumen tidak lagi berminat terhadap produk-produk lain yang dihasilkan oleh perusahaan
yang berdampak pada menurunnya profit atau keuntungan dari perusahaan tersebut.
Hal ini memberi pelajaran bagi pengusaha-pengusaha yang memproduksi mobil lainnya.
Misalnya saja, seperti Toyota yang segera menarik salah satu produksi mobilnya karena masalah
sistem rem yang ada pada mobil tersebut. Toyota beranggapan bahwa kepercayaan konsumen
kepada mereka sangatlah penting karena akan mempengaruhi kestabilan produksi perusahaan.
Kepercayaan konsumen terhadap produk yang mereka produksi sangatlah penting, karena
menjadi point dasar dalam penentuan pemasaran produk mereka. Atas dasar kepercayaan inilah
kejayaan dan kemajuan perusahaan dapat berjalan dengan semakin pesat. Kepercayaan adalah
aset dasar bagi sebuah perusahaan untuk berkembang. Dengan tercapainya kepercayaan yang
baik oleh konsumen setia dari produk yang dibuat oleh perusahaan mereka tentunya akan
menjadikan nama baik perusahaan yang semakin terangkat di mata konsumen.
Kejayaan sebuah perusahaan besar dituntut dari hal-hal yang saling berkaitan seperti
kepercayaan, nama baik perusahaan, produk yang berkualitas dan tentunya pertahanan
perusahaan dalam bersaing dengan kompetitor lain yang memproduksi produk yang sejenis.
Kembali ke awal persoalan yaitu permasalahan etika profesi yang terjadi pada perusahaan mobil
ford yang dikenal dengan permaslahan ford finto. Jika etika profesi dapat diterapkan dengan baik
tentu permasalahan ini mungkin tidak akan terjadi.

20
Etika juga sangat penting bagi kehidupan sehari-hari, seseorang dengan etika yang baik
pasti memiliki kualitas kehidupan yang baik. Etika adalah dasar terpenting bagi prilaku setiap
manusia. Jika dalam diri manusia sudah tertanam etika yang baik hal itu tentulah akan
mempengaruhi kehidupan manusia itu di mana pun dia berada sampai ia bekerja dalam
pekerjaanya.

Pesan Moral
1. Jika ingin tetap bertahan, perusahaan dalam membuat produk harus memperhatikan hal-hal
yang dapat merugikan bagi banyak pengguna termasuk memperhatikan etika dalam
pembuatan produk, yaitu dengan mengetahui hal yang dapat membahayakan jika produk
digunakan. Dari adanya pertimbangan tersebut maka dapat mengurangi timbulnya
kecelakaan yang dapat menimbulkan korban yang banyak.
2. “Trust is the best soul of business” Jangan sampai merusak kepercayaan pelanggan. Jika
terjadi suatu kecelakaan yang di sebabkan oleh kesalahan yang disengaja oleh perusahaan itu
sendiri, maka persepsi negative masyarakat akan produk tersebut akan muncul dan hal
tersebut tentu saja bisa merusak reputasi perusahaan. Kepercayaan konsumen berkurang dan
menjadi lebih berhati-hati dalam memilih produk.
3. Efisiensi bukanlah segala-galanya dalam bisnis. Dalam pembuatan sebuah produk, pasti ingin
memperoleh keuntungan dan juga produknya disukai banyak konsumen. Keuntungan
merupakan tujuan utama dari sebuah perusahaan, maka diperlukan kenyamanan dalam
pemakaiannya. Keuntungan yang diperoleh berdasarkan produk yang di desain dengan
ketentuan kenyamanan, bentuknya menarik, dan sebagainya. Jadi, perusahaan haruslah
memperhatikan kenyamanan konsumen.

Solusi

1. Solusi Mengenai Disain

Disain pada mobil ford pinto masih memiliki kelemahan terutama dibagian body bagian
belakang, dimana pada body bagian belakang terdapat tangki bahan bakar. Seharusnya pihak
yang terkait dalam produksi ford pinto telah menyadarinya apabila terjadi tumbukan pada bagian
belakang maka akan mengalami goncangan pada tangki bahan bakar yang akan membahayakan

21
sekitar mobil atau akan menyebabkan ledakan karena gesekan yang terjadi pada tangki bahan
bakar. Seharusnya pihak ford membuat bodykit yang terbuat dari besi atau alumunium yang
disimpan pada bagian belakang body mobil. Tidak hanya itu seharusnya pada selang transmisi
gas ke mesin menggunakan bahan yang lentur dan juga kuat, untuk menghindari kebocoran dan
patah pada bagian selng transmisi apabila terjadi tumbukan. Selain itu pada bagian belakang
seharusnya di berikan lahan khusus penyimpanan tangki bahan bakar, guna menghindari tangki
terlepas apabila terjadi tumbukan yang sangat keras dan bagian terluar tangki bahan bakar
seharusnya diberi bahan yang lentur seperti penggunaan karet yang melapisi seluruh bagian
tangki bahan bakar. Seharusnya disain dibuat oleh seorang yang ahli dibidangnya yang tidak
hanya mementingkan unsur keindaan saja melainkan unsur keselamatan bagi penggunanya.
Mesin yang terdapat pada kap mesin seharusnya dilengkap dengan besi pelindung agar dapat
melindungi setiap bagian mesin apabila terjadi tumbukan pada bagian depan.

Komponen yang digunakan untuk mmbuat mobil ford pinto sharusnya menggunakan
bahan yang berkualitas dan yang telah memiliki standar yang telah ditetapkan oleh lembaga-
lembaga yang terkait dalam proses pembuatan mobil, sehingga mobil dapat bertahan lama dalam
artian tidak gampang rusak.

2. Solusi Sistem Elektrikal


Seharusnya mobil ford pinto tidak seluruh bagian mobilnya terhubung secara otomatis,
seperti pada bagian pintu mobil yang tidak terkunci secera otomatis apabila listrik pada mobil
mati. Selain itu terdapat suatu signal pemberitahuan apabila terjadi masalah pada bagian fatal
yang terdapat pada mobil, seperti pada bagian tangki bahan bakar, sensor jarak apabila akan
terjadi tumbukan.

3. Solusi Asuransi

Seharusnya pihak ford memberikan asuransi keselamatan jiwa bagi konsumen yang
membeli mobil ford pinto, sehingga para konsumen dapat merasa nyaman apabila terjadi
kecelakan yang disebabkan oleh system yang terdapat dalam mobil ford pinto. Selain itu juga
pihak ford harus siap menarik seluruh mobilnya apabila terjadi kerusakan yang menyebabkan
kecelakan atau keselamatan jiwa pengemudinya.

22
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari peristwa perusahaan PT. Makmur Gading dan Ford pinto yang kita pelajari
dapat kita ambil sebuah kesimpulan, bahwa setiap kegiatan produksi haruslah mengikuti
etika profesi, karena apabila kegitan etika profesi tidak dilakukan dengan baik maka akan
menimbulkan keraguan yang sifatnya membahayakan bagi pengguna Ford Pinto dan pada
PT Makmur Gading akan mengurangi rasa kepercayaan dari pemberi proyek. Peristiwa
gagal produk Ford pinto dan tindakan Fraud PT. Makmur Gading tidak sebenarnya
disebabkan oleh beberapa faktor, selain dari faktor adanya tindakan yang tidak sesuai
dengan etika profesi.
“Trust is the best soul of business” Jangan sampai merusak kepercayaan
pelanggan Karena kepercayaan pelanggan adalah nomor satu dalam kegiatan berbisnis.
Conthnya saja jika terjadi suatu kecelakaan yang di sebabkan oleh kesalahan yang
disengaja oleh perusahaan itu sendiri, maka persepsi negative masyarakat akan produk
tersebut akan muncul dan hal tersebut tentu saja bisa merusak reputasi perusahaan.
Kepercayaan konsumen berkurang dan menjadi lebih berhati-hati dalam memilih produk.

23
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Sukrisno. 2014 . Etika Bisnis dan Profesi. Salemba Empat : Jakarta
Fahmi, Rahim. 2014. Etika Bisnis. Albeta : Bandung
Baba, Ali. 2013. Etika Bisnis dan Profesi. IPB : Bogor
https://www.scribd.com/document/334838078/Teori-Etika-Dan-Pengambilan-Keputusan-
Beretika ,17 Maret 2018.

24

Anda mungkin juga menyukai