Anda di halaman 1dari 38

10 Macam penyakit mata

A. Konjungtivitis

1. Definisi
Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan
dan eksudat. Pada konjungtivis mata nampak merah, sehingga sering disebut mata merah.

Konjungtivitis, atau inflamasi konjungtiva, disebabkan oleh infeksi bakteri atau


virus, alergi, atau reaksi zat kimiawi. Konjungtivitis bacterial atau viral sangat menular tetapi
menjadi self-limiting (bisa sembuh tanpa banyak intervensi) setelah 2 minggu.
Konjungtivitis kronis bias mengakibatkan perubahan degeneratif pada kelopak mata. Di
belahan bumi barat, konjungtivitis mungkin merupakan ganguan mata yang paling umum.

2. Etiologi
a) Konjungtivitis Bakterial
Terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis. Konjungtivitis
bakteri sangat menular, menyebar melalui kontak langsung dengan pasien dan
sekresinya atau dengan objek yang terkontaminasi.
b) Kongjungtivitis Virus
Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus ( yang
paling sering adalah keratokonjungtivitis epidermika ) atau dari penyakit virus
sistemik seperti mumps dan mononukleosis. Biasanya disertai dengan
pembentukan folikel sehingga disebut juga konjungtivitis folikularis. Mata yang
lain biasanya tertular dalam 24-48 jam.
c) Konjungtivitis alergi
Konjungtivitis alergi biasanya timbul pada musim semi dan panas, dan
disebabkan oleh pajanan dengan alergen misalnya polen (serbuk sari). Pasien
akan mengeluh rasa tidak enak dan iritasi yang berlebihan. Terbentuk papilla
yang dapat dikonjungtiva, dan kornea bias terlibat. Konjungtivitis alergi dapat
terjadi bersama dengan reaksi alergi yang lain. Misalnya astma dan “hay fever”.
d) Konjungtivitis Gonore
Konjungtivitis hiper akut dengan sekret purulen yang disebabkan oleh
Neisseria gonorrhea. Sedangkan infeksi gonokokus pada mata pada neonatus
(bayi baru lahir) disebabkan oleh infeksi tidak langsung selama keluar melewati
jalan lahir pada ibu yang menderita gonore, konjungtivitis yang berat disebut
oftalmia neonatorum.
e) Konjungtivitis Chlamydia
Trachoma merupakan konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan
Chlamydia trachomatis. Masa inkubasi dari trachoma adalah 7 hari ( 5 – 14 hari
). Trachoma dapat mengenai segala umur terutama dewasa muda dan anak-anak,
yang akut atau sub akut. Cara penularannya melalui kontak langsung dengan
sekret atau alat-alat pribadi.

3. Patogenesis
Mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), bahan alergen, iritasi menyebabkan
kelopak mata terinfeksi sehingga kelopak mata tidak dapat menutup dan membuka
sempurna, karena mata menjadi kering sehingga terjadi iritasi menyebabkan
konjungtivitis.Pelebaran pembuluh darah disebabkan karena adanya peradangan
ditandai dengan konjungtiva dan sclera yang merah, edema, rasa nyeri, dan adanya
secret mukopurulent. Akibat jangka panjang dari konjungtivitis yang dapat bersifat
kronis yaitu mikroorganisme, bahan allergen, dan iritatif menginfeksi kelenjar air mata
sehingga fungsi sekresi juga terganggu menyebabkan hipersekresi. Pada konjungtivitis
ditemukan lakrimasi, apabila pengeluaran cairan berlebihan akan meningkatkan tekanan
intra okuler yang lama kelamaan menyebabkan saluran air mata atau kanal schlemm
tersumbat. Aliran air mata yang terganggu akan menyebabkan iskemia syaraf optik dan
terjadi ulkus kornea yang dapat menyebabkan kebutaan. Kelainan lapang pandang yang
disebabkan kurangnya aliran air mata sehingga pandangan menjadi kabur dan rasa
pusing
Mikroorganisme(bakteri,
virus,jamur)

Masuk kedalam mata

Kelopak mata terinfeksi

Tdk bisa menutup dan


membuka dgn smprna

Mata kering (iritasi)

Konjungtivitis Mikroorganisme,
allergen, iritatif
peradangan
lakrimas
i Keljr air mata terinfeksi
Dilatasi pembuluh
darah Pengeluaran
cairan meningkat
Fungsi sekresi terganggu
nyeri Sclera merah edem
a hipersekresi
Granulasi disertai TIO meningkat
sensai benda asing
Kanal schlemm trsmbt Resiko infeksi
Gangguan rasa
nyaman
Iskemia syaraf optik

Ulkus kornea Gangguan persepsi


sensori

4. Manifestasi Klinik
Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan
kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna
putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih.
Kelopak mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis karena
alergi. Gejala lainnya adalah:

1) mata berair
2) mata terasa nyeri
3) mata terasa gatal
4) pandangan kabur
5) peka terhadap cahaya
6) terbentuk keropeng pada kelopak mata ketika bangun pada pagi hari.

5. Tatalaksana
Semua penanganan didasarkan pada identifikasi dari antingen spesifik dan
eliminasi pathogen spesifik. Penanganan suportif termasuk lubrikan tanpa pengawet,
kompres dingin. Terapi medikamentosa yang dapat berguna antara lain:
 Streoid topical : menghambat proses inflamasi. Loteprednol etabonate
efektif ( konsentrasi 0,2%) dan profilaksis (0,5%)
 Vasokontrikstor topical / antihistamin : berperan dalam menurunkan
permeabilitas membrane, dan mengurangi gatal dengan memblok reseptor
histamin H-1
 Antihistamin topical : Levocabastin hycloride 0,05% dan Emedastin
difumarate 0,05%
 Stabilizer sel mast : mencegah degranulasi sel mast, contoh : Nedocromil
2%, Cromolyn sodium 4.0%, Flurometholone 0,1%

6. Komplikasi
Stafilokok dapat menyebabkan blefarokonjungtivitis, genokok menyebabkan
perforasi kornea dan endoftalmitis, dan meningokok dapat menyebabkan septikemia
atau meningitis

7. Prognosis
Baik, bila etiologi diketahui secara tepat
B. Kelainan Refraksi
1. Definisi
Kelainan yang terjadi apabila berkas cahaya yang masuk ke mata tidak jatuh tepat
di retina ( keadaan mata tanpa akomodasi). Mata normal tanpa kelainan refraksi di
sebut emetropia. Keberadaan kelainan refraksi pada mata seseorang disebut dengan
ametropia. Ametropia meliputi myopia, hipermetropia, astigmatisma, ametropia.
2. Klasifikasi Kelainan Refraksi
a) Miopia (Rabun Jauh) :
1) Definisi :
Suatu kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak
terhingga, oleh mata dalam keadaan istirahat atau tanpa akomodasi,
difokuskan didepan retina, sehingga didapatkan bayangan kabur

2) Epidemiologi
Penelitian sebelumnya:
 Australia 1 dari 10 usia 4-12 tahun menderita miopia
 Amerika 1 dari 10 usia 5-17 tahun menderita miopia
 Brazil 1 dari 8 pelajar menderita miopia
Faktor genetik lebih berpengaruh dibandingkan dengan faktor kebiasaan.
Jenis Kelamin Wanita >>> Pria

3) Etiologi
 Miopia Aksial
Disebabkan jarak sumbu bola mata yang terlalu panjang sehingga
mengakibatkan jarak lensa ke retina terlalu pendek
 Miopia Refarktif
Disebabkan targanggunya daya bias, dikarenakan Kornea terlalu
cembung, Lensa yang terlalu cembung, Indeks bias cairan meninggi
4) Patogenesis

 Faktor Genetik
Suatu defek pada gen PAX6 diduga bertanggung jawab terhadap
terjadinya miopi, yang akan menyebabkan perubahan ukuran antero-
posterior bola mata selama fase perkembangan yang menyebabkan
bayangan jatuh di depan retina\
 Faktor Lingkungan
Miopi disebabkan oleh kelemahan pada otot-otot silier bola mata yang
mengontrol bentuk lensa mata. Kelemahan otot silier bola mata
mengakibatkan lensa tidak mampu memfokuskan objek yang jauh,
sehingga objek terlihat kabur. Terjadinya kelemahan otot ini, akibat dari
banyaknya kerja mata pada jarak dekat, misalnya membaca buku atau
computer
5) Klasifikasi Miopi

 Miopi ringan = Sampai 3.00 D


 Miopi Sedang = 3.00 D - 6.00 D
 Miopi Berat = 6.00 D – 9.00 D
 Miopi Sangat Berat = > 10.00 D

6) Manifestasi Klinik
Subjektif :
 Penglihatan jauh kabur, lebih jelas dan nyaman apabila melihat
dekat
 Kadang seakan melihat titik – titik seperti lalat terbang
 Mata lekas lelah, berair, pusing, cepat mengantuk
 Memicingkan mata agar melihat lebih jelas agar mendapatkan pin-
hole
Objektif :

 Bilik mata depan dalam karena otot akomodasi tidak dipakai


 Pupil lebar (Midriasis) karena kurang berakomodasi.
 Mata agak menonjol pada miopi tinggi
 Pada pemeriksaan oftalmoskopi, retina dan koroid tipis disebut
fundus tigroid.
7) Tatalaksana

 Koreksi non bedah : Kaca mata dan Lensa Kontak


 Koreksi Bedah : Keratotomi Radial, Keratotomi
Fotorefraktif, dan Laser Assisted In Situ Intermellar
Keratomilieusis (LASIK)
8) Komplikasi

 Ablasio retina
 Strabismus
 Perubahan pigmentasi dan perdarahan pada macula
 Corpus vitreus menjadi lebih cair

b) Hipermetropia (Rabun dekat) :


1) Definisi :
suatu kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak
terhingga oleh mata dalam keadaan istirahat atau tanpa akomodasi difokuskan
dibelakang retina.

2) Etiologi :
Hipermetropia Aksial

Disebabkan sumbu mata yang terlalu pendek sehingga mengakibatkan jarak


lensa ke retina terlalu pendek.
Hipermetropia Refraktif
Disebabkan daya bias yang kurang. Penyebabnya antara lain :

 Kornea : Lengkung kornea kurang dari normal


 Lensa : Sklerosis, sehingga tidak secembung semula
 Cairan mata : Daya bias berkurang

3) Klasifikasi hipermetropia berdasarkan klinis :


 Hipermetropi Manifes
Ditentukan dengan lensa sferis positif terbesar yang
menghasilkan visus sebail-baiknya. Dibedakan menjadi
hipermetropi manifest absolut dan fakultatif, dimana
hipermetropi manifest absolut merupakan hipertropi yang tak
dapat diatasi dengan akomodasi, sedangkan hipermetropi
manifest fakultatif masih dapat diatasi dengan akomodasi
 Hipermetropi Total
Merupakan seluruh derajat hipermetopi yang didapatkan setelah
akomodasi dilenyapkan misalnya setelah pemberian siklopegi
 Hipermetropi Laten
 Merupakan selisih antara hipertopi total dan manifest,
menunjukan kekuatan tonus dari mm.siliaris
4) Manifestasi Klinis
Gejala subjektif :
 Penglihatan dekat kabur
 Sakit sekitar mata, sakit kepala, konjungtiva merah, lakrimasi,
fotofobi ringan, mata terasa panas dan berat, mengantuk.
Gejala Objektif :

 Bilik mata depan dangkal karena akomodasi terus menerus


sehingga menimbulkan hipertofi otot siliaris yang disertai
terdorongnya iris ke depan
 Pupil miosis karena berakomodasi
 Pseudopapilitis karena hiperemis papil N.II akibat akomodasi
terus menerus sehingga seolah-olah meradang

5) Tatalaksana
 Memerlukan lensa cekung atau konveks untuk membiaskan
sinar lebih kuat kedalam mata. Pengobatan hipermiopia adalah
dengan diberikan koreksi hipermiopia manifest dimana ukuran
lensa positif maksimal yang memberikan visus normal dan
diperoleh tanpa pemberian siklopegik

6) Komplikasi
 Glaukoma sudut tertutup karena sudut bilik mata depan dangkal
 Strabismus konvergen akibat akomodasi terus menerus

c) Astigmatisma
1. Definisi :
Astigmatisma merupakan suatu kelainan refraksi dimana didapatkan
bermacam-macam derajat refraksi pada bermacam-macam meridian
sehingga sinar sejajar yang datang difokuskan pada macam-macam fokus
pula.
2. Etiologi
Kelainan kornea
 Perubahan lengkung kornea dengan atau tanpa pemendekan atau
pemanjangan diameter anteroposterior bola mata. Bisa kongenital
atau akuisita.

Kelainan lensa
 Pembiasan sinar pada mata tidak sama pada semua bidang atau
meridian
 Astigmatisma disebabkan karena pembiasan mata yang tidak sama
pada berbagai sumbu penglihatan mata
 Keadaan dimana mata lebih rabun jauh pada salah satu sumbu (misal
90 derajat) dibanding sumbu lainnya (180 derajat)

3. Klasifikasi
Berdasarkan keraturan meridiannya, astigmatisma terbagi atas
 Astigmatisma Regular
Suatu astigmatisme yang memperlihatkan kekuatan pembiasan
bertambah atau berkurang perlahan-lahan secara teratur dari satu
meridian ke meridian berikutnya. Bayangan yang terjadi pada
astigmatisme reguler dengan bentuk yang teratur, dapat berbentuk
garis, lonjong atau lingkaran.
 Astigmatisma Irreguler
Suatu astigmatisma yang tidak memiliki 2 meridian yang saling tegak
lurus. Pada astigmatisma ireguler, kekuatan pembiasan meridian-
meridian utamanya selalu berubah sepanjang bukaan pupil.
Astigmatisma ini dapat terjadi akibat kelengkungan kornea pada
meridian yang sama berbeda sehingga bayangan menjadi lebih
irreguler. Astigmatisma irreguler terjadi akibat infeksi kornea,
trauma, distrofi atau akibat kelainan pembiasan pada meridian lensa
yang berbeda.
Berdasarkan letak meridian utamanya, astigmatisma regular dibagi atas :

 Astigmatism with the rule


Pada Astigmatism with the rule, daya bias terbesar terletak dalam
rentang 20 derajat meridian vertikal. Keadaan ini lazim didapatkan
pada anak atau orang muda dan bayi baru lahir akibat dari
perkembangan normal serabut-serabut kornea.
 Astigmatism against the rule
Pada Astigmatism against the rule, daya bias terbesar terletak dalam
rentang 20 derajat meridian horizontal. Keadaan ini terjadi akibat
kelengkungan kornea pada bagian meridian horizontal lebih kuat
dibandingkan kelengkungan kornea vertikal. Keadaaan ini sering
ditemukan pada usia lanjut karena kornea menjadi lebih sferis
kembali.
 Astigmatism oblik
Merupakan astigmatisma regular dengan meridian-meridian
utamanya tidak terletak dalam 20 derajat horizontal atau vertikal.

4. Patogenesis
Pada mata normal permukaan kornea yang melengkung teratur akan
memfokuskan sinar pada satu titik. Pada astigmatisme pembiasan sinar tidak
difokuskan pada satu titik. Sinar pada astigmatisme dibiaskan tidak sama
pada semua arah sehingga pada retina tidak didapatkan satu titik fokus
pembiasan. Sebagian sinar dapat terfokus pada bagian depan retina
sedangkan sebagian sinar difokuskan dibelakang retina, akibatnya
penglihatan akan terganggu. Mata dengan astigmatisme dapat dibandingkan
dengan melihat melalui gelas dengan air yang bening, bayangan yang terlihat
dapat menjadi terlalu besar, kurus atau terlalu lebar dan kabur.

5. Manifestasi klinik
 Melihat ganda dengan satu atau dua mata
 Melihat benda bulat menjadi lonjong
 Bentuk benda dapat terlihat seolah berubah
 Nyeri kepala, sering menyipitkan mata
 Pada astigmatisma tinggi (4-8 D) yang selalu melihat kabur sering
mengakibatkan amblyopia

6. Tatalaksana
Penatalaksanaan pada penderita astigmatisma adalah dengan menggunakan
kacamata silindris yang sering dikombinasikan dengan lensa spheris. Karena
otak mampu beradaptasi terhadap distorsi penglihatan yang disebabkan oleh
kesalahan astigmatisma yang tidak dikoreksi, maka kacamata baru yang
memperbaiki kesalahan dapat menyebabkan disorientasi temporer terutama
adanya bayangan yang tampak miring.

d) Presbiopia
1. Definisi :
Presbiopia merupakan kelainan refraksi pada mata yang menyebabkan
punctum proksimum mata menjadi jauh. Hal ini disebabkan karena telah
terjadi gangguan akomodasi yang terjadi pada usia lanjut. Presbiopia
merupakan suatu keadaan yang fisiologis, bukan suatu penyakit dan terjadi
pada setiap mata.

2. Etiologi :
Gangguan daya akomodasi akibat kelelahan otot akomodasi yaitu
menurunnya daya kontraksi dari otot siliaris sehingga zonulla zinii tidak
dapat mengendur secara sempurna. Gangguan akomodasi juga terjadi
karena lensa mata elastisitasnya berkurang pada usia lanjut akibat proses
sklerosis yang terjadi pada lensa mata.

3. Manifestasi Klinik
Gejala yang timbul akibat gangguan akomodasi pada pasien berusia
di atas 40 tahun ini adalah keluhan saat membaca atau melihat dekat
menjadi kabur dan membaca harus dibantu dengan penerangan yang lebih
kuat serta mata menjadi cepat lelah.
Keadaan ini bila tidak dikoreksi akan menimbulkan gejala astenopia
yaitu mata lekas lelah, berair, pusing, cepat mengantuk

4. Tatalaksana :
 Lensa sferis plus dapat digunakan dalam beberapa cara :
- Kacamata baca
Kacamata ini mempunyai memiliki koreksi dekat di seluruh
bukaan kacamata, sehingga baik untuk membaca namun
membuat benda - benda jauh kabur.
- Kacamata bifocal
Kacamata ini memiliki 2 lensa di mana bagian atasnya tidak
dikoreksi untuk penglihatan jauh dan dibiarkan terbuka.
- Kacamaka trifocal
Kacamata ini memperbaiki penglihatan jauh di segmen atas,
penglihatan sedang di segmen tengah, dan penglihatan dekat di
segmen bawah.
- Lensa Progresif
- Lensa progresif juga mengkoreksi penglihatan dekat, sedang,
dan jauh tetapi dengan perubahan daya lensa yang progresif
bukan bertingkat.

 Penatalaksanaan pada penderita presbiopia adalah dengan


menggunakan kacamata sferis positif (S+), yang kekuatannya sesuai
dengan umur pasien. Pada kacamata baca diperlukan koreksi atau
penambahan sesuai dengan bertambahnya usia pasien biasanya
adalah :
- +1.0 D untuk usia 40 tahun
- +1.5 D untuk usia 45 tahun
- +2.0 D untuk usia 50 tahun
- +2.5 D untuk usia 55 tahun
- +3.0 D untuk usia 60 tahun

Penambahan kekuatan lensa untuk membaca juga disesuaikan


dengan kebutuhan jarak kerja pasien pada waktu membaca sehingga
angka – angka di atas tidak merupakan angka yang tetap

C. Blefaristis
1. Definisi
Peradangan pada palpebral ataupun margo palpebral, dapat disertai terbentuknya ulkus
pada margo palpebral, serta dapat melibatkan kelenjar dan folikel rambut.

2. Etiologi
Terdapat 2 jenis blefaritis, yaitu :
a) Blefaritis anterior : mengenai kelopak mata bagian luar depan (tempat
melekatnya bulu mata). Penyebabnya adalah bakteri stafilokokus dan
seborrheik. Blefaritis stafilokok dapat disebabkan infeksi dengan
Staphylococcus aureus, yang sering ulseratif, atau Staphylococcus epidermidis
atau stafilokok koagulase-negatif. Blefaritis seboroik(non-ulseratif) umumnya
bersamaan dengan adanya Pityrosporum ovale.
b) Blefaritis posterior : mengenai kelopak mata bagian dalam (bagian kelopak mata
yang lembab, yang bersentuhan dengan mata). Penyebabnya adalah kelainan
pada kelenjar minyak. Dua penyakit kulit yang bisa menyebabkan blefaritis
posterior adalah rosasea dan ketombe pada kulit kepala (dermatitis seboreik).
3. Patogenesis :
Patogenesis blefaritis biasanya terjadi kolonisasi bakteri pada mata. Hal ini
mengakibatkan invasi mikrobakteri secara langsung pada jaringan ,kerusakan sistem
imun atau kerusakan yang disebabkan oleh produksi toksin bakteri , sisa buangan dan
enzim. Kolonisasi dari tepi kelopak mata dapat ditingkatkan dengan adanya dermatitis
seboroik dan kelainan fungsi kelenjar meibom.
4. Manifestasi Klinik
a) Blefaritis menyebabkan kemerahan dan penebalan, bisa juga terbentuk sisik dan
keropeng atau luka terbuka yang dangkal pada kelopak mata.
b) Blefaritis bisa menyebabkan penderita merasa ada sesuatu di matanya.
c) Mata menjadi merah, berair dan peka terhadap cahaya terang.\

5. Tatalaksana
a) Krusta dapat dibersihkan dengan cotton bud steril
b) Dioleskan salep antibiotic (Bacitracin / poplymyxin B atau gentamycin 0,3 %
4x sehari selama 7-10 hari)
c) Hindari pemberian salep kortikosteroid

6. Prognosis
Baik tetapi dapat timbul berulang dan menjadi kronis

D. Hordeolum
1. Definisi :
Hordeolum merupakan infeksi kelenjar sebaseosa yang terlokalisir, purulen
dan meradang (Meibomian atau Zeisian) pada kelopak mata

2. Epidemiologi
Data epidemiologi internasional menyebutkan bahwa hordeolum
merupakan jenis penyakit infeksi kelopak mata yang paling sering ditemukan pada
praktek kedokteran
Insidensi tidak bergantung pada ras dan jenis kelamin. Hordeolum dapat
mengenai semua usia, tapi lebih sering pada orang dewasa, kemungkinan karena
kombinasi dari beberapa faktor seperti tingginya level androgen dan peningkatan
insidensi meibomitis dan rosacea pada dewasa

3. Etiologi
Kebanyakan hordeolum disebabkan infeksi stafilokok, biasanya
Staphylococcus aureus
Dapat dicetuskan oleh :
 Stress
 Nutrisi yang jelek
 Penggunaan pisau cukur yang sama untuk mencukur rambut disekitar
mata dan kumis atau tempat lain

Infeksi ini mudah menyebar, sehingga diperlukan pencegahan terutama


mengenai kebersihan individual. Yaitu dengan tidak menyentuh mata
yang terinfeksi, pemakaian kosmetik bersama-sama, pemakaian handuk
dan washcloth bersama-sama

4. Patogenesis
Terjadi pembentukan nanah dalam lumen kelenjar oleh infeksi
Staphylococcus aureus. Biasa mengenai kelenjar Meibom, Zeis dan Moll. Diawali
dengan pengecilan lumen dan statis hasil sekresi kelenjar. Statis ini akan
mencetuskan infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus. Terjadi pembentukan
nanah dalam lumen kelenjar. Secara histologis akan tampak gambaran abses,
dengan ditemukannya PMN dan debris nekrosis

5. Manifestasi klinik
Sakit, merah, dan bengkak adalah gejala utamanya. Intensitas sakit
mencerminkan hebatnya pembengkakan palpebra.(2) Kalau menunduk, rasa sakit
bertambah. Pada pemeriksaan terlihat suatu benjolan setempat, warna kemerahan,
mengkilat dan nyeri tekan

6. Tatalaksana
Pengobatannya adalah kompres panas, 3-4 kali sehari selama 10-15 menit.
Apabila diperlukan dapat diberikan antibiotik lokal atau salep antibiotik pada sakus
konjungtiva setiap 3 jam ada manfaatnya. Antibiotika sistemik diindikasikan jika
terjadi selulitis. Pada hordeolum eksternum, pasien sering tidak menghiraukannya
karena hordeolum dapat pecah sendiri, sehingga tidak memerlukan tindakan insisi.
Apabila terdapat nanah yang berhubungan dengan akar bulu mata, dapat
dikeluarkan dengan mencabut bulu mata. Jika keadaan tidak membaik dalam 48
jam, dilakukan insisi dan drainase bahan purulen. Hendaknya dilakukan insisi
vertikal pada permukaan konjungtiva untuk menghindari terpotongnya kelenjar
meibom. Sayatan ini dipencet untuk mengeluarkan sisa nanah. Jika hordeolum
mengarah ke luar, dibuat sayatan horizontal pada kulit untuk mengurangi luka
parut.
Resolusi spontan sering terjadi. Pada kasus yang jarang, hordeolum dapat
berkembang menjadi selulitis superficial, bahkan abses pada kelopak mata

7. Prognosis
Baik dan dapat timbul berulang

E. Katarak
1. Definisi
Katarak merupakan abnormalitas pada lensa mata berupa kekeruhan lensa yang
menyebabkan tajam penglihatan penderita berkurang. Katarak lebih sering dijumpai
pada orang tua, dan merupakan penyebab kebutaan nomor 1 di seluruh dunia. Penuaan
merupakan penyebab katarak yang terbanyak, tetapi banyak juga factor lain yang
mungkin terlibat, antara lain : trauma, toksin, penyakit sistemik (mis; diabetes),
merokok, dan herediter.

2. Epidemiologi
Lebih dari 90% kejadian katarak merupakan katarak senilis. 20-40% orang usia 60
tahun ke atas mengalami penurunan ketajaman penglihatan akibat kekeruhan lensa.
Sedangkan pada usia 80 tahun ketas insidensinya mencapai 60-80%. Prevalensi katarak
kongenital pada negara maju berkisar 2-4 setiap 10000 kelahiran. Frekuensi katarak
laki-laki dan perempuan sama besar. Di seluruh dunia, 20 juta orang mengalami
kebutaan akibat katarak.

3. Etiologi
Penyebab tersering dari katarak adalah proses degenerasi, yang menyebabkan lensa
mata menjadi keras dan keruh. Pengeruhan lensa dapat dipercepat oleh faktor risiko
seperti merokok, paparan sinar UV yang tinggi, alkohol, defisiensi vit E, radang
menahun dalam bola mata, dan polusi asap motor/pabrik yang mengandung timbal.
Cedera pada mata seperti pukulan keras, tusukan benda, panas yang tinggi, dan
trauma kimia dapat merusak lensa sehingga menimbulkan gejala seperti katarak.
Katarak juga dapat terjadi pada bayi dan anak-anak, disebut sebagai katarak
kongenital. Katarak kongenital terjadi akibat adanya peradangan/infeksi ketika hamil,
atau penyebab lainnya. Katarak juga dapat terjadi sebagai komplikasi penyakit infeksi
dan metabolik lainnya seperti diabetes mellitus.

4. Patogenesis

Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya


transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang memanjang dari
badan siliar ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat
menyebabkan koagulasi, sehingga mengakibatkan pandangan dengan menghambat
jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal
disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan
mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran
dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan
bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.

Terdapat 2 teori yang menyebabkan terjadinya katarak yaitu teori hidrasi dan
sklerosis:

 Teori hidrasi terjadi kegagalan mekanisme pompa aktif pada epitellensa


yang berada di subkapsular anterior, sehingga air tidak dapatdikeluarkan
dari lensa. Air yang banyak ini akan menimbulkan bertambahnya tekanan
osmotik yangmenyebabkan kekeruhan lensa.
 Teori sklerosis lebih banyak terjadi pada lensa manula dimana
serabutkolagen terus bertambah sehingga terjadi pemadatan
serabut kolagendi tengah. Makin lama serabut tersebut semakin bertambah
banyak sehingga terjadilah sklerosis nukleus lensa

Perubahan yang terjadi pada lensa usia lanjut:8


1) Kapsula
a. Menebal dan kurang elastic (1/4 dibanding anak)
b. Mulai presbiopiac
c. Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur
d. Terlihat bahan granular

2) Epitel-makin tipis
a. Sel epitel (germinatif pada ekuator bertambah besar dan berat)
b. Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata
3) Serat lensa
a. Serat irregular
b. Pada korteks jelas kerusakan serat sel
c. Brown sclerotic nucleus, sinar UV lama kelamaan merubah
proteinnukelus lensa, sedang warna coklat protein lensa
nucleusmengandung histidin dan triptofan disbanding normal
d. Korteks tidak berwarna karenai kadar asam askorbat tinggi dan
menghalangi foto oksidasi.
Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda. Perubahan fisik dan
kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparasi, akibat perubahan pada
serabut halus multipel yang memanjang dari badan siliar ke sekitar daerah di luar
lensa, misalnya menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Pada protein lensa
menyebabkan koagulasi, sehingga mengakibatkan pandangan dengan
penghambatan jalannya cahaya ke retina.

5. Manifestasi Klinik

Manifestasi dari gejala yang dirasakan oleh pasien penderita katarak terjadi secara
progresif dan merupakan proses yang kronis. Gangguan penglihatan bervariasi, tergantung
pada jenis dari katarak yang diderita pasien.
Gejala pada penderita katarak adalah sebagai berikut:
1. Penurunan visus
2. Silau
3. Perubahan miopik
4. Diplopia monocular
5. Halo bewarna
6. Bintik hitam di depan mata

Tanda pada penderita katarak adalah sebagai berikut:

1) Pemeriksaan visus berkisar antara 6/9 sampai hanya persepsi cahaya


2) Pemeriksaan iluminasi oblik
3) Shadow test
4) Oftalmoskopi direk
5) Pemeriksaan sit lamp

Derajat kekerasan nukleus dapat dilihat pada slit lamp sebagai berikut.

6. Tatalaksana
Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Bergantung
pada integritas kapsul lensa posterior, ada 2 tipe bedah lensa yaitu intra capsuler
cataract ekstraksi (ICCE) dan ekstra capsuler cataract ekstraksi (ECCE).

Indikasi
Indikasi penatalaksanaan bedah pada kasus katarak mencakup indikasi visus,medis,
dan kosmetik.
1) Indikasi visus; merupakan indikasi paling sering. Indikasi ini berbeda pada
tiap individu, tergantung dari gangguan yang ditimbulkan oleh katarak
terhadap aktivitas sehari-harinya.
2) Indikasi medis; pasien bisa saja merasa tidak terganggu dengan kekeruhan
pada lensa matanya, namun beberapa indikasi medis dilakukan operasi
katarak seperti glaukoma imbas lensa (lens-induced glaucoma),
endoftalmitis fakoanafilaktik, dan kelainan pada retina misalnya retiopati
diabetik atau ablasio retina
3) Indikasi kosmetik; kadang-kadang pasien dengan katarak matur meminta
ekstraksi katarak (meskipun kecil harapan untuk mengembalikan visus)
untuk memperoleh pupil yang hitam

Anestesi
1) Anestesi Umum

Digunakan pada orang dengan kecemasan yang tinggi, tuna rungu,


atau retardasi mental, juga diindikasikan pada pasien dengan penyakit
Parkinson, dan reumatik yang tidak mampu berbaring tanpa rasa nyeri

2) Anestesi Lokal
 Peribulbar block
Paling sering digunakan. Diberikan melalui kulit atau konjungtiva
dengan jarum 25 mm. Efek : analgesia, akinesia, midriasis,
peningkatan TIO, hilangnya refleks Oculo-cardiac (stimulasi pada
n.vagus yang diakibatkan stimulus rasa sakit pada bola mata, yang
mengakibatkan bradikardia dan bisa menyebabkan cardiac arrest)
 Subtenon Block
Memasukkan kanula tumpul melalui insisi pada konjungtiva dan
kapsul tenon 5 mm dari limbus dan sepanjang area subtenon.
Anestesi diinjeksikan diantar ekuator bola mata
 Topical – intracameral anesthesia
Anestesi permukaan dengan obat tetes atau gel (proxymetacaine
0.5%, lidocaine 2%) yang dapat ditambah dengan injeksi
intrakamera atau infusa larutan lidokain 1%, biasanya selama
hidrodiseksi.

7. Komplikasi
Komplikasi operasi dapat berupa komplikasi preoperatif, intraoperatif, postoperatif
awal, postoperatif lanjut, dan komplikasi yang berkaitan dengan lensa intra okular
(intra ocular lens, IOL)

1) Komplikasi preoperatif
a) Ansietas; beberapa pasien dapat mengalami kecemasan (ansietas) akibat
ketakutan akan operasi. Agen anxiolytic seperti diazepam 2-5 mg dapat
memperbaiki keadaan.
b) Nausea dan gastritis; akibat efek obat preoperasi seperti asetazolamid
dan/atau gliserol. Kasus ini dapat ditangani dengan pemberian antasida oral
untuk mengurangi gejala.
c) Konjungtivitis iritatif atau alergi; disebabkan oleh tetes antibiotik topical
preoperatif, ditangani dengan penundaan operasi selama 2 hari.
d) Abrasi kornea; akibat cedera saat pemeriksaan tekanan bola mata dengan
menggunakan tonometer Schiotz. Penanganannya berupa pemberian salep
antibiotik selama satu hari dan diperlukan penundaan operasi selama 2 hari.
2) Komplikasi intraoperatif
a) Laserasi m. rectus superior; dapat terjadi selama proses penjahitan.
b) Perdarahan hebat; dapat terjadi selama persiapan conjunctival flap atau
selama insisi ke bilik mata depan.
c) Cedera pada kornea (robekan membrane Descemet), iris, dan lensa; dapat
terjadi akibat instrumen operasi yang tajam seperti keratom.
d) Cedera iris dan iridodialisis (terlepasnya iris dari akarnya)
e) Lepas/ hilangnya vitreous; merupakan komplikasi serius yang dapat terjadi
akibat ruptur kapsul posterior (accidental rupture) selama teknik ECCE.
3) Komplikasi postoperatif awal
Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah operasi termasuk hifema,
prolaps iris, keratopati striata, uveitis anterior postoperatif, dan endoftalmitis
bakterial.

4) Komplikasi postoperatif lanjut


Cystoid Macular Edema (CME), delayed chronic postoperative
endophtalmitis, Pseudophakic Bullous Keratopathy (PBK), ablasio retina, dan
katarak sekunder merupakan komplikasi yang dapat terjadi setelah beberapa waktu
post operasi.

5) Komplikasi yang berkaitan dengan IOL


Implantasi IOL dapat menyebabkan komplikasi seperti uveitis-glaucoma-
hyphema syndrome (UGH syndrome), malposisi IOL, dan sindrom lensa toksik
(toxic lens syndrome).

8. Prognosis
Tindakan pembedahan secara defenitif pada katarak senilis dapat memperbaiki
ketajaman penglihatan pada lebih dari 90% kasus. Sedangkan prognosis penglihatan
untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan tidak sebaik prognosis untuk
pasien katarak senilis. Adanya ambliopia dan kadang-kadang anomali saraf optikus
atau retina membatasi tingkat pencapaian pengelihatan pada kelompok pasien ini.
Prognosis untuk perbaikan ketajaman pengelihatan setelah operasi paling buruk pada
katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak kongenital bilateral
inkomplit yang proresif lambat

F. Benda Asing di Konjungtiva


1. Definisi :
Suatu kondisi dimana ditemukan benda yangdalam keadaan normal tidak dijumpai
di konjungtiva
2. Etiologi :
Penyebab tersering dikarenakan trauma mata. Jarang menyebabkan kebutaan untuk
benda asing yang ada di permukaan bola mata.

3. Manifestasi Klinik
Adanya sensasi benda asing. Kemerahan pada sekitar bola mata dan penglihatan kabur

4. Diagnosa
a) Anamnesa

Pasien datang dengan keluhan adanya benda yang masuk ke dalam


konjungtivaatau matanya-Gejala yang ditimbulkan berupa nyeri, mata merah
dan berair, sensasi bendaasing, dan fotofobia

b) Pemeriksaan Fisik
 Dalam pemeriksaan oftamologi
 Biasanya virus normal
 Ditemukan injeksi konjungtiva tarsal dan atau bulbi
 Pada konjungtiva tarsal superior atau inferior di temukan benda
asing
5. Tatalaksana

Penatalaksanaannya adalah dengan mengeluarkan benda asing tersebut dari


konjungtiva dengan cara :

 Berikan tetes mata pantokain sebanyak 2% tetes pada mata yang


terkena benda asing
 Gunakan kaca pembesar (lup) dalam pengangkatan benda asing
 Angkat benda asing dengan menggunakan lidi kapas atau jarum suntik ukuran
"(G
 Arah pengambilan benda asing dilakukan dari tengah ke tepi
 Oleskan lidi kapas yang dibubuhkan betadin pada tempat bekas benda asing
 Kemudian, berikan antibiotik topikal (salep atau tetes mata) seperti
kloramfenikol tetes mata, 1 gtt setiap 2 jam selama 2 hari. Bila benda asing
berada di visual axis/sulit diambil rujuk ke fasilitaskesehatan tingkat 2

G. Strabismus (Mata Juling)


1. Definisi
Strabismus (Mata juling) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penyimpangan
abnormal dari letak satu mata terhadap mata yang lainnya, sehingga garis penglihatan
tidak paralel dan pada waktu yang sama, kedua mata tidak tertuju pada benda yang
sama.
2. Etiologi
Strabismus disebabkan oleh kurangnya koordinasi antara otot-otot mata. Hal ini dapat
terjadi berkaitan dengan :
 Masalah, ketidakseimbangan, atau trauma pada otot-otot penggerak mata
 Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi
 Kelainan saraf

3. Klasifikasi deviasi mata


a) Menurut manifestasi
Berdasarkan manifestasinya, deviasi mata terbagi menjadi deviasi mata
bermanifestasi (heterotropia) dan laten (heteroforia). Heterotropia adalah
suatu keadaan penyimpangan sumbu bola mata yang nyata di mana kedua
penglihatan tidak berpotong pada titik fiksasi. Sedangkan heteroforia adalah
penyimpangan sumbu penglihatan yang tersembunyi yang masih dapat diatasi
dengan reflek fusi.2,3 Berikut ini akan dibahas satu persatu.

1) Heterotropia
a. Esotropia
Esotropia adalah keadaan dimana satu mata berfiksasi pada objek
yang menjadi pusat perhatian sedangkan mata yang lain menuju
arah yang lain, yaitu hidung.4 Strabismus jenis ini dibagi menjadi
dua bagian, yaitu paretik (akibat paresis satu atau lebih otot
ekstraokular) dan non paretik.

Gejala dan tanda esotropia


 Juling kedalam
 Kelainan refraksi biasanya sphere positif, namun dapat
sphere negatif bahkan emetropia
b. Eksotropia
Eksotropia adalah keadaan dimana satu mata berfiksasi pada objek
yang menjadi pusat perhatian sedangkan mata yang lain menuju
ke arah lain yaitu ke arah luar (eksodeviasi). Anak-anak tertentu
mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk terjadinya eksotropia.
Adapun yang mempunyai resiko tersebut diantaranya anak yang
mengalami gangguan perkembangan saraf, prematur atau berat
lahir rendah dan anak dengan riwayat keluarga juling serta adanya
anomaly ocular atau sistemik.

Gejala dan tanda


 Pada kebanyakan kasus awalnya bersifat intermiten
dengan onset umumnya pada usia di bawah 3 tahun
 Deviasi menjadi manifest, terutama saat lelah, melamun,
atau sakit
 Pasien dapat menutup satu mata bila terpapar cahaya
terang sekali
 Bila bersifat intermiten jarang ditemukan ambliopia
 Kelainan refraksi biasanya sphere negatif
 Penglihatan ganda kadang-kadang dikeluhkan penderita
yang juling intermiten.
c. Hipertropia
Deviasi vertikal lazimnya diberi nama sesuai mata yang tinggi,
tanpa memandang mata mana yang memiliki penglihatan lebih
baik dan yang diugunakan untuk fiksasi. Hipertropia lebih jarang
dijumpai daripada deviasi horizontal dan biasanya didapat setelah
lewat masa anak-anak.

2) Heteroforia
Heteroforia merupakan kelainan deviasi yang laten, mata mempunyai
kecenderungan untuk berdeviasi ke salah satu arah, yang dapat diatasi
oleh usaha otot untuk mempertahankan penglihatan binokular. Contoh:
eksoforia dan esoforia.
4. Diagnosis
a) Anamnesa
Dalam mendiagnosis strabismus diperlukan anamnesis yang cermat, perlu
ditanyakan usia pasien saat ini dan usia pada saat onset strabismus, jenis
onsetnya, jenis deviasi, fiksasi dan yang tidak kalah penting yakni adanya
riwayat strabismus dalam keluarga.
b) Ketajaman penglihatan
Pemeriksaan tajam penglihatan dengan menggunakan kartu Snellen
c) Penentuan kelainan refraksi
Perlu dilakukan penentuan kesalahan refraksi sikloplegik dengan retinoslopi.
Obat standar untuk menghasilkan sikloplegia total pada anak berusia kurang
dari dua tahun adalah atropin yang dapat diberikan sebagai tetes atau salep
mata 0,5% atau 1% dua kali sehari selama 3 hari
d) Inspeksi
Dapat memperlihatkan apakah strabismus yang terjadi konstan atau
intermitan, bervariasi atau konstan. Adanya ptosis dan posisi kepala yang
abnormal juga dapat diketahui
e) Uji Strabismus
i. Uji Hirschberg
Pasien melakukan fiksasi terhadap suatu cahaya dengan jarak sekitar
33 cm, maka akan terlihat refleks sinar pada permukaan kornea. Pada
mata yang normal, refleks sinar terletak pada kedua mata sama-sama
di tengah pupil. Bila refleks cahaya terletak di pinggir pupil, maka
deviasinya 15°. Bila di antara pinggir pupil dan limbus, deviasinya
30°. Bila letaknya di limbus, deviasinya 45°.
ii. Uji Krimsky
Pasien melakukan fiksasi terhadap suatu cahaya. Sebuah prisma yang
ditempatkan didepan mata yang berdeviasi dan kekuatan prisma yang
diperlukan untuk membuat refleks cahaya terletak di tengah
merupakan ukuran sudut deviasi
iii. Uji tutup mata
Uji ini dilakukan untuk pemeriksaan jauh dan dekat, dan dilakukan
dengan menyuruh mata berfiksasi pada satu objek. Bila telah terjadi
fiksasi, mata kiri ditutup dengan lempeng penutup. Dalam keadaan ini
mungkin terjadi ;
 Mata kanan bergerak berarti mata tersebut mempunyai juling
yang manifest. Bila mata kanan bergulir ke nasal berarti terjadi
eksotropia. Dan sebaliknya, bila bergulir ke temporal berarti
terjadi esotropia
 Mata kanan bergoyang, mungkin terjadi ambliopia
 Mata kanan tidak bergerak, mata dalam kondisi terfiksasi
iv. Uji tutup mata berganti
Bila satu mata ditutup dan kemudian mata yang lain maka bila kedua
mata berfiksai normal maka matayang dibuka tidak bergerak. Bila
terjadi pergerakan pada mata yang baru dibuka berarti terdapat foria
atau tropia
v. Uji tutup buka mata
Uji ini sama dengan uji tutup mata, dimana yang dilihat adalah mata
yang ditutup. Mata yang ditutup dan diganggu fusinya sehingga mata
yang berbakat juling akan menggulir.

5. Tatalaksana
Tujuan penatalaksanaan terapi adalah pemulihan efek sensori yang merugikan (misal:
ambliopia), memperbaiki kedudukan bola mata, dan mendapatkan penglihatan
binokuler yang dapat dicapai dengan terapi medis atau bedah
1) Terapi medis
 Terapi Oklusi
Merupakan terapi ambliopia yang utama. Mata yang baik ditutup untuk
merangsang mata yang mengalami ambliopia
 Alat Optik
Kacamata yang diresepkan secara akurat merupakan alat optil
terpenting dalam pengobatan strabismus. Klarifikasi citra retina yang
dihasilkan oleh kacamata memungkinkan mata menggunakan fusi
alamiah sebesar-besarnya
 Ortoptik
2) Terapi bedah
Prinsip operasi adalah melakukan reseksi pada otot yang terlalu lemah atau
melakukan resesi otot yang terlalu kuat

H. Glaukoma
1. Definisi :
Glaukoma merupakan kelompok penyakit yang biasanya memiliki satu gambaran
berupa kerusakan nervus optikus yang bersifat progresif yang disebabkan karena
peningkatan tekanan intraokular. Sebagai akibatnya akan terjadi gangguan lapang
pandang dan kebutaan. Glaukoma biasanya menimbulkan gangguan pada lapang
pandang perifer pada tahap awal dan kemudian akan mengganggu penglihatan sentral.
Glaukoma ini dapat tidak bergejala karena kerusakan terjadi lambat dan tersamar.
Glaukoma dapat diobati jika dapat terdeteksi secara dini

2. Epidemiologi
Di seluruh dunia, glaukoma dianggap sebagai penyebab kebutaan yang tinggi. Sekitar
2 % dari penduduk berusia lebih dari 40 tahun menderita glaukoma. Glaukoma juga
didapatkan pada usia 20 tahun, meskipun jarang. Pria lebih banyak diserang daripada
wanita

3. Etiologi
Glaukoma terjadi apabila terdapat ketidakseimbangan antara pembentukan dan
pengaliran humor akueus. Pada sebagian besar kasus, tidak terdapat penyakit mata lain
(glaukoma primer). Sedangkan pada kasus lainnya, peningkatan tekanan intraokular,
terjadi sebagai manifestasi penyakit mata lain (glaukoma sekunder)

4. Patogenesis
Secara umum tekanan intraocular (TIO) normal berkisar antara 10-21 mmHg. TIO
dapat meningkat akibat gangguan system drainase (glaucoma sudut terbuka) atau
gangguan akses system drainase ( glaucoma sudut tertutup). Terapi glaucoma bertujuan
untuk menurunkan TIO, dan mengatasi dasar penyebab peningkatan TIO.
Pada glaucoma akut, peningkatan TIO mendadak hingga 60-80mmHg mengakibatkan
kerusakan iskemia akut dari nervus optikus. Pada glaucoma sudut terbuka primer,
kerusakan sel ganglion retina muncul akibat jejas kronis menahun. Pada glaucoma
dengan TIO normal, papil nervus optikus mungkin rentan terhadap TIO yang normal

5. Klasifikasi berdasarkan gangguan saluran aqueous humor, dapat dibedakan menjadi :


a) Glaukoma sudut terbuka : Glaukoma kronis primer dengan sudut pada kamera
okuli anterior yang terbuka, disertai peningkatan TIO
b) Glaukoma sudut tertutup : kelompok penyakit glaucoma yang dicirikan
dengan obstruksi mekanik dari trabecular meshwork, dengan sudut pada
kamera okuli anterior yang tertutup dan tekanan TIO meningkat
6. Manifestasi Klinik
a) Anamnesis
1) Pada glaucoma kronis gejala gangguan penglihatan sering kali tidak ada
2) Riwayat penyakit mata sebelumnya, termasuk status refraksi (myopia,
hipermetropia), trauma, serta peradangan mata sebagai kausa glaucoma
sekunder
3) Riwayat keluarga untuk glaucoma dan hipertensi intraocular
4) Riwayat penyakit sebelumna
5) Riwayat penggunaan obat-obatan saat ini : penggunaan steroid, penggunaan
beta bloker oral yang dapat menurunkan TIO
b) Pemeriksaan Fisis
1) Tajam penglihatan biasanya normal kecuali pada glaucoma lanjut
2) Pemeriksaan pupil
3) Pemeriksaan buta warna
4) Pemeriksaan slit lamp untuk mengekslusikan glaucoma sekunder
5) Tonometry untuk mengukur TIO
6) Gonioskopi untuk membedakan apakah glaucoma diakibatkan oleh
penutupan sudut atau tidak
7) Funduskopi
8) Perimetri / pemeriksaan lapang pandang
7. Tatalaksana
a) Pengobatan Medikamentosa
Supresi pembentukan humor akueus
Penghambat adrenergik beta adalah obat yang sekarang paling luas
digunakan untuk terapi glaukoma. Obat-obat ini dapat digunakan tersendiri atau
dikombinasi dengan obat lain. Timolol maleat 0,25% dan 0,5%, betaksolol 0,25%
dan 0,5%, levobunolol 0,25% dan 0,5% dan metipranolol 0,3% merupakan
preparat-preparat yang sekarang tersedia. Kontraindikasi utama pemakaian obt-
obat ini adalah penyakit obstruksi jalan napas menahun-terutama asma-dan defek
hantaran jantung. Untuk betaksolol, selektivitas relatif reseptor β1-dan afinitas
keseluruhan terhadap semua reseptor β yang rendah-menurunkan walaupun tidak
menghilangkan risiko efek samping sistemik ini. Depresi, kacau pikir dan rasa lelah
dapat timbul pada pemakaian obat penghambat beta topikal.

Apraklonidin adalah suatu agonis adrenergik α2 baru yang menurunkan


pembentukan humor akueus tanpa efek pada aliran keluar. Epinefrin dan dipivefrin
memiliki efek pada pembentukan humor akueus.

Inhibitor karbonat anhidrase sistemik-asetazolamid adalah yang paling


banyak digunakan, tetapi terdapat alternatif yaitu diklorfenamid dan metazolamid-
digunakan untuk glaukoma kronik apabila terapi topikal tidak memberi hasil
memuaskan dan pada glaukoma akut dimana tekanan intraokular yang sangat tinggi
perlu segera dikontrol. Obat-obat ini mampu menekan pembentukan humor akueus
sebesar 40-60%. Asetazolamid dapat diberikan per oral dalam dosis 125-250 mg
sampai tiga kali sehari atau sebagai Diamox Sequels 500 mg sekali atau dua kali,
atau dapat diberikan secara intravena (500 mg). Inhibitor karbonat anhidrase
menimbulkan efek samping sistemik yang membatasi penggunaan obat-obat ini
untuk terapi jangka panjang.

Obat-obat hiperosmotik mempengaruhi pembentukan humor akueus serta


menyebabkan dehidrasi korpus vitreum.

Fasilitasi aliran keluar humor akueus


Obat parasimpatomimetik meningkatkan aliran keluar humor akueus
dengan bekerja pada jalinan trabekular melalui kontraksi otot siliaris. Obat pilihan
adalah pilokarpin, larutan 0,5-6% yang diteteskan beberapa kali sehari atau gel 4%
yang diteteskan sebelum tidur. Karbakol 0,75-3% adalah obat kolinergik alternatif.
Obat-obat antikolinesterase ireversibel merupakan obat parasimpatomimetik yang
bekerja paling lama. Obat-obat ini adalah demekarium bromide 0,125 dan 0,25%
dan ekotiopat iodide 0,03-0,25% yang umumnya dibatasi untuk pasien afakik atau
pseudofakik karena mempunyai potensi kataraktogenik. Perhatian: obat-obat
antikolinesterase ireversibel akan memperkuat efek suksinilkolin yang diberikan
selama anastesia dan ahli anestesi harus diberitahu sebelum tindakan bedah. Obat-
obat ini juga menimbulkan miosis kuat yang dapat menyebabkan penutupan sudut
pada pasien dengan sudut sempit. Pasien juga harus diberitahu kemungkinan
ablasio retina.

Semua obat parasimpatomimetik menimbulkan miosis disertai meredupnya


penglihatan terutama pada pasien katarak dan spasme akomodatif yang mungkin
mengganggu pada pasien muda.
Epinefrin 0,25-2% diteteskan sekali atau dua kali sehari, meningkatkan
aliran keluar humor akueus dan disertai sedikit penurunan pembentukan humor
akueus. Terdapat sejumlah efek samping okular eksternal, termasuk vasodilatasi
konjungtiva reflek, endapan adrenokrom, konjungtivitis folikularis dan reaksi
alergi.efek samping intraokular yang dapat tejadi adalah edema makula sistoid pada
afakik dan vasokonstriksi ujung saraf optikus. Dipivefrin adalah suatu prodrug
epinefrin yang dimetabolisasi secara intraokular menjadi bentuk aktifnya. Epinefrin
dan dipivefrin jangan digunakan untuk mata dengan sudut kamera anterior sempit

Penurunan volume korpus vitreum


Obat-obat hiperosmotik menyebabkan darah menjadi hipertonik sehingga
air tertarik keluar dari korpus vitreum dan terjadi penciutan korpus vitreum. Selain
itu, terjadi penurunan produksi humor akueus. Penurunan volume korpus vitreum
bermanfaat dalam pengobatan glaukoma sudut tetutup akut dan glaukoma maligna
yang menyebabkan pergeseran lensa kristalina ke depan (disebabkan oleh
perubahan volume korpus vitreum atau koroid) dan menyebabkan penutupan sudut
(glaukoma sudut tertutup sekunder).

Gliserin (gliserol) oral, 1 mL/kg berat dalam larutan 50% dingin dicampur
sari lemon adalah obat yang paling sering digunakan, tetapi pemakaian pada
penderita diabetes harus berhati-hati. Pilihan lain adalah isosorbin oral dan urea
atau manitol intravena

Miotik, midriatik dan siklopegik


Kontriksi pupil sangat penting dalam penatalaksanaan glaukoma sudut
tertutup akut primer dan pendesakan sudut pada iris plateau. Dilatasi pupil penting
dalam pengobatan penutupan sudut akibat iris bombe karena sinekia posterior.
Apabila penutupan sudut disebabkan oleh pergeseran lensa ke anterior,
siklopegik (siklopentolat dan atropine) dapat digunakan untuk melemaskan otot
siliaris sehingga mengencangkan apparatus zonularis dalam usaha untuk menarik
lensa ke belakang

b) Terapi bedah dan laser


Iridektomi dan iridotomi perifer
Sumbatan pupil paling baik diatasi dengan membentuk komunikasi
langsung antara kamera anterior dan posterior sehingga beda tekanan di antara
keduanya menghilang. Hal ini dapat dicapai dengan laser neodinium:YAG atau
argon (iridotomi perifer) atau dengan tindakan iridektomi perifer. Walaupun
lebih mudah, terapi laser memerlukan kornea yang relatif jernih dan dapat
menyebabkan peningkatan tekanan intraokular yang cukup besar, terutama
apabila terdapat penutupan sudut akibat sinekia luas. Iridotomi perifer secara
bedah mungkin menghasilkan keberhasilan jangka panjang yang lebih baik,
tetapi juga berpotensi menimbulkan kesulitan intraoperasi dan pascaoperasi.
Iridotomi laser YAG adalah terapi pencegahan yang digunakan pada sudut
sempit sebelum terjadi serangan penutupan sudut.

Trabekuloplasti laser
Penggunaan laser (biasanya argon) untuk menimbulkan luka bakar
melalui suatu goniolensa ke jaringan trabekular dapat mempermudah aliran ke
luar humor akueus karena efek luka bakar tersebut pada jaringan trabekular dan
kanalis Schlemm serta terjadinya proses-proses selular yang meningkatkan
fungsi jaringan trabekular. Teknik ini dapat diterapkan untuk berbagai macam
bentuk glaukoma sudut terbuka dan hasilnya bervariasi tergantung pada
penyebab yang mendasari. Penurunan tekanan biasanya memungkinkan
pengurangan terapi medis dan penundaan tindakan bedah glaukoma.
Pengobatan dapat diulang. Penelitian-penelitian terakhir memperlihatkan peran
trabekuloplasti laser untuk terapi awal glaukoma sudut terbuka primer

Bedah drainase glaucoma


Tindakan bedah untuk membuat jalan pintas dari mekanisme drainase
normal, sehingga terbentuk akses langsung humor akueus dari kamera anterior
ke jaringan subkonjungtiva atau orbita dapat dibuat dengan trabekulotomi atau
insersi selang drainase. Trabekulotomi telah menggantikan tindakan-tindakan
drainase full-thickness (misalnya sklerotomi bibir posterior, sklerostomi termal,
trefin). Penyulit utama trabekulotomi adalah kegagalan bleb akibat fibrosis
jaringan epikslera. Hal ini lebih mudah terjadi pada pasien berusia muda,
berkulit hitam dan pasien yang pernah menjalani bedah drainase glaukoma atau
tindakan bedah lain yang melibatkan jaringan episklera. Terapi ajuvan dengan
antimetabolit misalnya fluorourasil dan mitomisin berguna untuk memperkecil
risiko kegagaln bleb.

Penanaman suatu selang silikon untuk membentuk saluran keluar


permanen bagi humor akueus adalah tindakan alternatif untuk mata yahg tidak
membaik dengan trabekulektomi atau kecil kemungkinannya berespon
terhadap trabekulektomi. Pasien dari kelompok terakhir adalah mereka yang
mengidap glaukoma sekunder, terutama glaukoma neovaskular, glaukoma yang
berkaitan dengan uveitis dan glaukoma setelah tindakan tandur kornea.

Sklerostomi laser holmium adalah tindakan baru yang menjanjikan


sebagai alternatif bagi trabekulektomi.

Goniotomi adalah suatu teknik yang bermanfaat mengobati


glaukoma kongenital primer yang tampaknya terjadi sumbatan drainase
humor akueus di bagian dalam jalinan trabekular.

Tindakan Siklo destruktif


Kegagalan terapi medis dan bedah dapat menjadi alasan
mempertimbangkan tindakan destruksi korpous siliaris dengan laser atau bedah
untuk mengontrol tekanan intraokular. Krioterapi, diatermik, ultrasonografi
frekuensi tinggi dan yang paling mutakhir terapi laser neodinium:YAG
termalmode, dapat diaplikasikan ke permukaan mata tepat di sebelah posterior
limbus untuk menimbulkan kerusakan korpus siliaris di bawahnya. Juga sedang
diciptakan energi laser argon yang diberikan secara trasnpupilar dan transvitreal
langsung ke prosesus siliaris. Semua teknik siklodestruktif tersebut dapat
menyebabkan ftisis dan harus dicadangkan sebagai terapi untuk glaukoma yang
sulit diatasi

I. Keratitis
1. Definisi
Peradangan pada kornea yang ditandai dengan adanya infiltrasi sel radang dan edema
kornea pada lapisan kornea manapun yang dapat bersifat akut atau kronis yang
disebabkan oleh berbagai faktor antara lain bakteri, jamur, virus atau karena alergi..
Radang pada kornea diklasifikasi dalam lapis kornea yang terkena yaitu :
 Keratitis superfisial = pada lapisan epitel atau bowman
 Keratitis intersisial = jika sudah mengenai lapisan stroma

2. Etiologi : Bakteri, jamur virus


Faktor resiko :
 Perawatan lensa kontak yang buruk; penggunaan lensa kontak yang berlebihan
 Herpes genital atau infeksi virus lain
 imunodefisiensi
 Higienis buruk
 Nutrisi kurang baik (kekurangan vitamin A)
 Defisiensi air mata

3. Epidemiologi

Menurut Murillo Lopez (2006), Sekitar 25.000 orang Amerika terkena keratitis
bakteri per tahun

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, infeksi kornea masih menempati


urutan tertinggi dari infeksi mata pada umumnya, dan bahkan masih merupakan salah
satu penyebab kebutaan

4. Patogenesis
Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme kedalam
kornea. Namun sekali kornea mengalami cedera, stroma yang avaskuler dan membrane
Bowman mudah terinfeksi oleh berbagai macam mikroorganisme seperti amoeba,
bakteri dan jamur. Streptococcus pneumonia (pneumokokus) adalah bakteri pathogen
kornea sejati; pathogen lain memerlukan inokulum yang berat atau hospes yang lemah
(misalnya pada pasien yang mengalami defisiensi imun) agar dapat menimbulkan
infeksi.
Moraxella liquefaciens, yang terutama terdapat pada peminum alkohol (sebagai
akibat kehabisan piridoksin), adalah contoh bakteri oportunistik dan dalam beberapa
tahun belakangan ini sejumlah bakteri oportunis kornea baru ditemukan. Diantaranya
adalah Serratia marcescens, kompleks Mycobacterium fortuitum-chelonei,
Streptococcus viridians, Staphylococcus epedermidis, dan berbagai organisme
coliform dan Proteus, selain virus dan jamur.
Kornea adalah struktur yang avaskuler oleh sebab itu pertahanan pada waktu
peradangan, tidak dapat segera ditangani seperti pada jaringan lainnya yang banyak
mengandung vaskularisasi. Sel-sel di stroma kornea pertama-tama akan bekerja
sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang ada di
limbus dan tampak sebagai injeksi pada kornea. Sesudah itu terjadilah infiltrasi dari
sel-sel lekosit, sel-sel polimorfonuklear, sel plasma yang mengakibatkan timbulnya
infiltrat, yang tampak sebagai bercak kelabu, keruh dan permukaan kornea menjadi
tidak licin.
Epitel kornea dapat rusak sampai timbul ulkus. Adanya ulkus ini dapat dibuktikan
dengan pemeriksaan fluoresin sebagai daerah yang berwarna kehijauan pada kornea.
Bila tukak pada kornea tidak dalam dengan pengobatan yang baik dapat sembuh tanpa
meninggakan jaringan parut, namun apabila tukak dalam apalagi sampai terjadi
perforasi penyembuhan akan disertai dengan terbentuknya jaringan parut. Mediator
inflamasi yang dilepaskan pada peradangan kornea juga dapat sampai ke iris dan badan
siliar menimbulkan peradangan pada iris. Peradangan pada iris dapat dilihat berupa
kekeruhan di bilik mata depan. Kadang-kadang dapat terbentuk hipopion

5. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis, gejala klinik dan hasil
pemeriksaan mata. Dari hasil anamnesis sering diungkapkan riwayat trauma, adnya
riwayat penyakit kornea, misalnya pada keratitis herpetic akibat infeksi herpes
simpleks sering kambuh, namun erosi yang kambuh sangat sakit dan keratitis herpetic
tidak, penyakit-penyakit ini dapat dibedakan dari gejalanya. Anamnesis mengenai
pemakaian obat lokal oleh pasien, karena mungkin telah memakai kortikosteroid, yang
dapat merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, atau virus terutama keratitis
herpes simpleks. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit-penyakit sistemik,
seperti diabetes, AIDS, dan penyakit ganas, selain oleh terapi imunosupresi khusus.
Pasien dengan keratitis biasanya datang dengan keluhan iritasi ringan, adanya
sensasi benda asing, mata merah, mata berair, penglihatan yang sedikit kabur, dan silau
(fotofobia) serta sulit membuka mata (blepharospasme).
Penderita akan mengeluh sakit pada mata karena kornea memiliki banyak serabut
nyeri, sehingga amat sensitif. Kebanyakan lesi kornea superfisialis maupun yang sudah
dalam menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit diperberat oleh kuman kornea
bergesekan dengan palpebra. Karena kornea berfungsi sebagai media untuk refraksi
sinar dan merupakan media pembiasan terhadap sinar yang masuk ke mata maka lesi
pada kornea umumnya akan mengaburkan penglihatan terutama apabila lesi terletak
sentral pada kornea.

Fotofobia yang terjadi biasanya terutama disebabkan oleh kontraksi iris yang
meradang. Dilatasi pembuluh darah iris adalah fenomena refleks yang disebabkan
iritasi pada ujung serabut saraf pada kornea. Pasien biasanya juga berair mata namun
tidak disertai dengan pembentukan kotoran mata yang banyak kecuali pada ulkus
kornea yang purulen.
Dalam mengevaluasi peradangan kornea penting untuk membedakan apakah tanda
yang kita temukan merupakan proses yang masih aktif atau merupakan kerusakan dari
struktur kornea hasil dari proses di waktu yang lampau. Sejumlah tanda dan
pemeriksaan sangat membantu dalam mendiagnosis dan menentukan penyebab dari
suatu peradangan kornea seperti: pemeriksaan sensasi kornea, lokasi dan morfologi
kelainan, pewarnaan dengan fluoresin, neovaskularisasi, derajat defek pada epithel,
lokasi dari infiltrat pada kornea, edema kornea, keratik presipitat, dan keadaan di bilik
mata depan. Tanda-tanda yang ditemukan ini juga berguna dalam mengawasi
perkembangan penyakit dan respon terhadap pengobatan.

Pemeriksaan diagnosis yang biasa dilakukan adalah :


a. Ketajaman penglihatan
b. Tes refraksi
c. Pemeriksaan slit-lamp (biomikroskop), penting untuk pemeriksaan kornea dengan
benar; jika tidak tersedia, dapat dipakai kaca pembesar dan pencahayaan yang terang.
d. Respons reflex kornea
e. Goresan ulkus untuk analisis dan kultur
f. Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi, dapat memperjelas lesi epitel superficial
yang tidak mungkin terlihat bila tidak dipulas
Karena kornea memiliki banyak serabut nyeri, kebanyakan lesi pada kornea baik
yang bersifat dangkal atau superficial maupun dalam menimbulkan rasa sakit dan
fotofobia. Lesi pada kornea juga mempunyai makna diagnostik yang penting (Tabel.1).
Lesi pungtata pada kornea dapat dimana saja tapi biasanya pada daerah sentral. Daerah
lesi biasanya meninggi dan berisi titik-titik abu-abu yang kecil. Keratitis epitelial
sekunder terhadap blefarokonjungtivitis stafilokokus dapat dibedakan dari keratitis
pungtata superfisial karena mengenai sepertiga kornea bagian bawah. Keratitis epitelial
pada trakoma dapat disingkirkan karena lokasinya dibagian sepertiga kornea bagian
atas dan ada pannus. Banyak diantara keratitis yang mengenai kornea bagian superfisial
bersifat unilateral atau dapat disingkirkan berdasarkan riwayatnya.
Berikut ini adalah jenis keratitis dan bentuknya:
6. Manifestasi Klinik
Trias Keratitis
 fotofobia
 epifora
 blefarospasme
 Penurunan visus
 Mata merah
 Hypopion

7. Tatalaksana
a) Keratitis Bakteri
 Antbiotik

 Sikloplegik
b) Keratitis Jamur ( mycotic keratitis)
Topikal :
 Broad spectrum: econazole 1%
 Untuk jamur berfilamen dan keratitis kandida: natamycin dan imidazole
Oral :

 Itrakonazol atau ketokonazol


c) Keratitis viral
Topikal :
 Idoxuridine
 Trifluorotimetidin
 Asiklovir
Debridemant

d) Keratitis achantamoeba
Topikal :
 Isetionat propamidin 1%
 Neomisin
 Bikuanid poliheksametilen 0,01-0,02%
Pembedahan

 Keratoplasty

8. Komplikasi
a) Gangguan refraksi
b) Jaringan parut permanent
c) Ulkus kornea
d) Perforasi kornea

9. Prognosis
Prognosis quo ad vitam pada pasien keratitis adalah bonam. Sedangkan prognosis
fungsionam pada keratitis sangat tergantung pada jenis keratitis itu sendiri. Jika lesi
pada keratitis superficial berlanjut hingga menjadi ulkus kornea dan jika lesi pada
keratitis tersebut telah melebihi dari epitel dan membran bowman maka prognosis
fungsionam akan semakin buruk. Hal ini biasanya terjadi jika pengobatan yang
diberikan sebelumnya kurang adekwat, kurangnya kepatuhan pasien dalam
menjalankan terapi yang sudah dianjurkan, terdapat penyakit sistemik lain yang dapat
menghambat proses penyembuhan seperti pada pasien diabetes mellitus, ataupun dapat
juga karena mata pasien tersebut masih terpapar secara berlebihan oleh lingkungan
luar, misalnya karena sinar matahari ataupun debu.

Pemberian kortikosteroid topikal untuk waktu lama dapat memperpanjang


perjalanan penyakit hingga bertahun-tahun serta dapat pula mengakibatkan timbulnya
katarak dan glaukoma yang diinduksi oleh steroid.