Anda di halaman 1dari 68

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bijih bauksit merupakan bahan galian tambang yang mempunyai nilai
ekonomis yang tinggi, sehingga banyak perusahaan yang berlomba mencari
daerah yang prospek akan mineral ini. Dengan nilai ekonomis yang tinggi ini
memungkinkan untuk peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di
daerah sekitar operasi penambangannya serta dapat memberi peningkatan
pendapatan daerah yang dimasuki oleh perusahaan.
Dalam kaitannya dengan kondisi di atas, maka perlu dilakukan
penyelidikan geologi di daerah-daerah yang mempunyai potensi bijih bauksit.
Dari hasil peyelidikan tersebut maka kita dapat mengetahui lokasi
keterdapatan, jenis batuan pembawa, dimensi serta distribusi lateritisasi
bauksit, kualitas hingga sumberdayanya. Selain itu dengan mengetahui
kandungan utama ataupun unsur-unsur dari mineral, maka akan dapat
diputuskan kegunaan dari masing-masing mineral tersebut menurut kualitas
yang terkandung di dalamnya. Aktivitas eksplorasi bahan galian terutama
bauksit dilakukan untuk meningkatkan klasifikasi cadangan beberapa daerah
di Indonesia. Dimana daerah potensi bauksit terbesar saat ini berada di
Kabupaten Kalimantan Barat.
Untuk mengetahui besaran potensi endapan bijih bauksit yang cukup
besar di Indonesia perlu dilakukan eksplorasi. Eksplorasi disamping bertujuan
untuk menentukan jumlah sumberdaya dan cadangan, juga diperlukan untuk
menginterpretasi bentuk endapan luas penyebaran dan struktur geologi.
Dengan kurangnya data permukaan di lokasi pekerjaan maka pengukuran data
kedalaman endapan tidak dapat dilakukan sehingga bentuk endapan tidak
diketahui dengan tepat. Untuk itu perlu dilakukan pemboran maupun
pembuatan sumur-sumur uji. Interpretasi bentuk dan perhitungan sumberdaya

1
dan cadangan dilakukan berdasarkan korelasi data pemboran/sumur uji
dengan data geologi permukaan yang ada.
Oleh karena itu kegiatan ini merupakan suatu kajian untuk menentukan
lokasi potensi bahan galian khususnya dalam pembahasannya endapan laterit
bauksit.

1.2. Perumusan Masalah


Dalam kajian ekplorasi endapan bauksit laterit dengan metode test
pitting, adapun permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana tahapan kegiatan eksplorasi endapan bauksit laterit.
2. Bagaimana teknis penggunaan metode test pitting dalam eksplorasi
endapan bauksit laterit.
3. Bagaimana cara penentuan jumlah cadangan hasil ekplorasi endapan
bauksit laterit.
4. Serta mengapa pemilihan metode test pitting yang tepat digunakan dalam
kegiatan ekplorasi endapan bauksit laterit.

1.3. Batasan Masalah


Adapun batasan masalah dalam penulisan ini adalah dibatasi pada
lingkup teknis kegiatan eksplorasi endapan laterit bauksit dengan metode test
pitting sampai perhitungan cadangan endapan bauksit laterit tanpa
memperhitungkan keekonomisannya.

1.4. Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui teknis
tahapan eksplorasi endapan laterit bauksit dengan metode test pitting
sehingga dapat dihitung besaran cadangan dari endapan laterit bauksit.

2
1.5. Manfaat Penulisan
Manfaat dalam penulisan seminar tambang ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui tahapan kegiatan eksplorasi endapan bauksit laterit.
2. Mengetahui teknis penggunaan metode test pitting dalam eksplorasi
endapan bauksit laterit.
3. Mengetahui cara perhitungan besaran cadangan dari endapan laterit
bauksit.

1.6. Metode Penulisan


Metode penulisan yang digunakan pada penulisan makalah seminar
eksplorasi endapan bauksit laterit dengan metode test pitting adalah studi
literatur dengan menggabungkan semua data yang diperoleh dari literatur –
literatur seperti buku, data perusahaan, laporan – laporan ataupun dari
internet sehingga dapat dibuat kesimpulan secara keseluruhan.
Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pekerjaan penulisan ini
adalah sebagai berikut:
1. Studi literatur
Studi literatur adalah pengumpulan bahan data dengan dari pustaka
yang menunjang terhadap materi-materi yang diangkat, yang dapat
diperoleh dari yaitu:
a. Jurnal dan prosiding
b. Buku perpustakaan
c. Instansi data perusahaan
d. Internet
2. Kompilasi bahan pustaka
Kompilasi bahan pustaka bertujuan untuk :
a. Mengumpulkan bahan pustaka dan mengelompokkannya untuk
memudahkan dalam penyusunan draft nantinya.
b. Memilah nilai karakteristik bahan pustaka yang mewakili obyek
pembahasan.

3
c. Mengetahui keakuratan bahan pustaka, sehingga kerja menjadi lebih
efisien.
3. Tahap pengolahan bahan pustaka
Pengolahan data dilakukan dengan penulisan draft secara deskriptif dan
menggunakan perhitungan-perhitungan serta penggambaran,
selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel-tabel, grafik atau rangkaian
perhitungan dalam menyelesaikan suatu proses tertentu. Analisis hasil
pengolahan data dilakukan dengan tujuan memperoleh kesimpulan
sementara. Selanjutnya kesimpulan sementara tersebut akan diolah
lebih lanjut dalam bagian pembahasan.
4. Kesimpulan
Kesimpulan diperoleh setelah dilakukan korelasi antara hasil
pengolahan data yang telah dilakukan dengan permasalahan yang teliti.
Kesimpulan ini merupakan suatu hasil akhir dari semua aspek yang
telah dibahas.

4
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Genesa Endapan Bauksit Laterit


Pembentukan suatu endapan secara alami dikontrol oleh
proses-proses geologi, dan hubungan antara proses geologi dengan
tipe endapan yang terbentuk dapat dijelaskan melalui genesa bahan
galian (genesa mineral). Adapun hal-hal mendasar yang perlu diketahui
adalah :
a. Konsep metallogenic province dan metallogenic epoch,
b. Endapan-endapan mineral yang berhubungan dengan konsep
tektonik lempeng,
c. Bentuk dan morfologi badan bijih,
d. Proses-proses pembentukan endapan.
Bauksit adalah hasil proses pelapukan yang kaya akan alumina
(Al2O3) yang berasal dari ikatan trihydrate alumina maupun monohydrate
alumina. Bauksit merupakan kelompok mineral Aluminium Hidroksida
yang beranggotakan gibsit, boehmit, dan diaspor. Bauksit mempunyai
warna putih atau kekuningan dalam keadaan murni, merah atau coklat
apabila terkontaminasi oleh besi oksida. Bauksit memiliki kekerasan 1-3,
relatif ringan dengan berat jenis 2,3 - 2,7, mudah patah, tidak larut dalam
air dan tidak terbakar. Bahan galian ini terjadi dari proses pelapukan
(lateritisasi) batuan sisa induk. Oleh sebab itu dalam pemahaman genesa
sangat erat kaitannya dengan batuan asal, proses pembentukan maupun
lingkungan geologi pembentuknya. Dalam perkembangan selanjutnya,
istilah bauksit digunakan untuk batuan yang mempunyai kadar Al tinggi,
Fe rendah dan sedikit kuarsa bebas (SiO2).
Laterit merupakan bahan yang berupa endapan residual hasil
pelapukan yang berwarna kemerahan, bersifat porous, menutupi hampir
sebagian besar darah tropis dan sub tropis. Sedangkan proses laterisasi
5
adalah proses pencucian pada mineral yang mudah larut pada lingkungan
batuan asal batuan beku asam dan lingkungan lembab serta membentuk
konsentrasi endapan hasil pengkayaan proses laterisasi pada unsur Al, Fe.
(Rose et al., 1979 dalam Nushantara 2002) . Proses pelapukan dan
pencucian yang terjadi akan menyebabkan unsur Al, Fe terkayakan di
zona limonit dan terikat sebagai mineral–mineral oksida / hidroksida,
seperti limonit, ataupun gibsit (Hasanudin, 1992).
Bauksit laterit terbentuk dibawah kondisi pelapukan, yaitu dengan
melalui proses dekomposisi dan pelarutan unsur-unsur yang terkandung
dalam batuan. oksigen berfungsi untuk mengoksidasi pada proses
pelapukan, dan CO2 yang terlarut dalam air dan asam yang merupakan
pelarut yang kuat, sehingga unsur-unsur yang lebih mudah bergerak
seperti silika akan terlarutkan dan terbawa ke bawah, dan unsur-unsur
yang tidak mudah bergerak seperti Al dan Fe akan tinggal, sehingga
komponen silika dengan kadar tinggi akan terdapat di lembah, komponen
besi pada lereng bukit yang tinggi, komponen titan pada lereng yang jauh
dari muka air rawa, sedangkan komponen alumina pada lereng dan puncak
bukit.

2.1.1. Proses Pembentukan Bauksit Laterit


Endapan Bauksit terbentuk dari proses laterisasi yaitu proses yang
terjadi karena pertukaran suhu secara terus menerus sehingga batuan asal
mengalami pelapukan (weathering) dan terpecah – pecah. Pada musim
hujan, air memasuki rekahan – rekahan dan menghanyutkan unsur – unsur
yang mudah larut, sementara unsur – unsur yang sukar / tidak larut
tertinggal dalam batuan induk. Setelah unsur–unsur yang mudah larut dari
batuan induk seperti Na, K , dan Ca dihanyutkan oleh air, residu yang
ditinggalkan (disebut laterit) menjadi kaya dengan hidrooksida alumunium
(Al(OH)3) yang kemudian oleh proses dehidrasi akan mengeras menjadi
bauksit.

6
Proses pembentukan laterit bauksit memerlukan beberapa syarat
antara lain :
1. Harus beriklim tropis atau subtropis. Musim hujan sebagai masa
pembentukan Al2O3 dan Fe2O3. Pada waktu hujan yang banyak
berpengaruh adalah asam humus, CO2 dan pH asam yang dapat
merusak batuan. Pada musim kemarau yaitu masa penghancuran
silikat-silikat dan umumnya terangkut dalam bentuk gel. Air dengan
pH asam akan membawa silika dan oksida besi dalam bentuk larutan,
disamping itu silika umumnya mudah larut dalam air hujan.
2. Batuan asal harus kaya alumina dengan perbandingan tertentu terhadap
Fe oksida (Al2O3 : Fe2O3 = 3 : 1) dan silika bila dalam jumlah besar
harus dalam ukuran sub mikroskopis dan tersebar. Batuan tersebut
berada diatas muka air tanah.
3. Daerah tersebut harus stabil dan landai, sehingga proses pengikisan
sudah tidak berjalan secara aktif. Keadaan demikian merupakan suatu
peneplain dengan bukit-bukit yang perbedaannya tidak mencolok serta
mempunyai pola aliran dendritik dalam stadium tua. Karena apabila
terdapat lerenga-lereng yang terjal, yang terjadi adalah proses
pengikisan karena air akan bergerak secara cepat.
4. Pergerakan air tanah secara horisontal yang lambat dan dalam waktu
yang lama, sehingga bahan-bahan hasil pelindian akan terangkut tanpa
terjadi pengikisan.

7
Lapisan penutup atau gossan
Unsur sukar larut
(cap of iron oxides)
Lapisan berisi nodul-nodul
unsur immobile (nodul-nodul
oksida besi)
Zona akumulasi unsur-unsur
immobile membentuk
endapan residual Lapisan porous lateritik
(zona ambang)

Lapisan dimana unsur-unsur


mobile terkonsentrasi setelah
mengalami pelindian (leaching)
Zona akumulasi alterasi
batuan dasar dan unsur-unsur Unsur dapat larut
hasil pelindian

Water table
Lapukan batuan
dasar

Zona batuan dasar


(segar)

Gambar 2.1. Sketsa Pembentukan Endapan Sekunder Hasil Rombakan Kimiawi, Contoh
Endapan Lateritik

8
Batuan yang mengandung feldspar
(batuan beku asam-intermediet)

Proses pelapukan dan pelarutan batuan


asal oleh air asam

- Pelarutan dan transportasi unsur-unsur


larut seperti (Ca, Na, K)
- Pembentukan residu Al2O3, SiO2 H2O
(Hydrous Alumunium Silicate) dan Fe

Pengendapan residu hydrat aluminium


silicates dan Fe

Pembentukan endapan bauksit lateritik

Gambar 2.2. Bagan Alir Proses Pembentukan Bauksit

9
1. Faktor yang mempengaruhi proses pembentukan
Dalam pembentukan bauksit, ada faktor-faktor yang menyebabkan
terubahnya batuan menjadi bauxite ore, antara lain :
a. Batuan asal (source rock)
Batuan asal merupakan hal terpenting dalam terbentuknya bauksit,
karena kandungan mineral yang dibawa oleh batuan asal akan
berpengaruh pada kandungan alumina yang terbentuk pada endapan
bauksit. Bauksit di sini merupakan hasil ubahan dari batuan yang kaya
akan felsic dan potash feldspar yang lapuk dan larut unsur-unsurnya (Ca,
Na, K) akibat dari transportasi air yang mengandung ion H+ yang
banyak, dan dalam hal ini batuan asal yang berupa batuan beku yang
memiliki peran penting sebagai batuan asal yang akan membentuk
endapan bauksit, karena pada umunya batuan beku memiliki kandungan
felsic dan potash feldspar yang cukup tinggi (>40%).
Contoh :

Ortochlase (potash feldspar) air asam Residu alumina


Potassium Alumunium Silicates (KAlSiO3O8) melarutkan unsur K (Al2O3.3H2O)

Albite (sodium feldspar) air asam Residu alumina


Sodium Alumunium Silicates (NaAlSiO3O8) melarutkan unsur Na (Al2O3.3H2O)

Labradorite (calcium feldspar) air asam Residu alumina


Calcium Alumunium Silicates (CaAlSiO3O8) melarutkan unsur Ca (Al2O3.3H2O)

10
b. Air yang memiliki kandungan pH rendah atau ion H+ tinggi
Air di sini adalah air yang memiliki ion H+ yang tinggi, karena
semakin tinggi derajat keasaman yang dimiliki akan semakin
mempercepat proses pelapukan batuan asal. Selain melapukan batuan
asal, air dengan ion H+ yang tinggi ini melakukan dekomposisi ulang
dengan cara melarutkan unsur terlarut dan membawa unsur Fe ke dalam
batuan sehingga memberi kesan warna kemerahan dalam tanah, seperti
warna korosi pada besi.

c. Lingkungan pengendapan yang stabil


Lingkungan pengendapan yang sering mengalami gejala-gejala
geologi akan lebih sulit membentuk endapan bauksit, karena proses
pelapukan yang bisa berjalan dengan lancar, akan terganggu akibat
pergeseran dan penurunan tanah yang membuat proses laterisasi
terhambat akibat batuan asal yang dilapukannya mengalami perubahan
sebelum terendapkan dan terbentuk senyawa alumina.

d. Curah hujan yang tinggi


Meskipun air dengan kandungan pH rendah yang banyak dapat
untuk meninggikan kadar Fe dalam tanah dan mampu untuk melapukkan
batuan, diperlukan juga kuantitas air yang cukup besar untuk membentuk
tanah laterit. Karena air dengan jumlah yang sedikit, kurang baik untuk
melapukan seluruh bagian batuan. Hal ini mengakibatkan batuan asal
belum lapuk seluruhnya, dan jika ore bauksit itu dipecah akan tampak
fragmen batuan asal yang mineralnya belum terlapukan sama sekali.
Indonesia memiliki karakteristik yang tropis dan bercurah hujan tinggi
sepanjang tahunnya sehingga mendukung terbentuknya endapan bauksit
laterit.

11
Sumber : PT Aneka Tambang Tbk. Unit Geomin, 2010
Gambar.2.3. Batuan yang mengalami pelapukan tingkat tinggi

e. Berada di daerah stadium tua


Proses pembentukan bauksit memerlukan daerah yang stabil, dimana
proses erosi vertikal sudah tidak aktif lagi. Kondisi yang demikian hanya
terdapat di daerah stadium tua. Namun diperlukan sirkulasi air tanah
dalam rangka transportasi unsur-unsur yang tidak larut.

2.2. Kondisi Regional Daerah Yang Berpotensi Terbentuknya Bauksit


2.2.1. Dari Segi Litologi
Bauksit terbentuk dari hasil pelapukan intensif dari batuan asal
dengan kadar Al tinggi, kadar Fe rendah dan kadar SiO2 rendah atau
tidak ada sama sekali. Secara geologi endapan bauksit terjadi karena
proses pelapukan (residual concentration) dari batuan yang kaya akan
mineral felsic feldspar atau mineral alumina silikat lainnya. Adapun
batuan asal dapat membentuk endapan bauksit berupa antara lain :
Granit, Granodiorit, Syenit, Dasit, Trakhit, Monzonit, Riolit dan “Tuff”
Riodasit, serta beberapa di temukan berasal dari batuan piroklastik yang
mengalami proses laterisasi.

12
2.2.2. Dari Segi Morfologi
Pada pembentukan bijih bauksit berproses pada permukaan
perbukitan yang landai (undulating) sehingga akan mempunyai
kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-
rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi endapan umumnya terdapat
pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini
menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi..
Dengan kata lain bila di pandang dari segi morfologi, wilayah yang dapat
terbentuk endapan bauksit diperkirakan pada ketinggian perbukitan landai.
dan tidak curam.

2.3. Potensi Daerah Penyebaran Bauksit Di Indonesia


Berdasarkan kondisi metallogenic province di Indonesia dimana
daerah yang memiliki kondisi litologi batuan beku asam dan morfologi
perbukitan landai adalah terdapat di Pulau Bintan dan sekitarnya,
Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. Jenis mineralnya adalah gibbsit
(Al2 O3 . 3H2 O ), dengan kadar utama alumina, kuarsa, silika aktif, TiO2
dan Fe2 O3 . Di Kalimantan Barat cebakan basuksit terdapat pada jalur
penyebaran busur laterit (laterite belt) yang membujur dengan arah
barat laut– tenggara dari Kota Kabupaten Ketapang, Sanggau, Landak,
Kubu Raya, Pontianak, Bengkayang sampai Kota Singkawang dimana
secara geologi daerah tersebut tersusun dari batuan yang kaya akan
mineral potash feldspar atau mineral alumina silikat lainnya.
Ada perbedaan antara bauksit di Pulau Bintan dengan bauksit yang
ada di Kalimantan Barat, yaitu pertama, kandungan Al2O3 (alumina) Bintan
lebih tinggi. Kedua , lapisan tanah penutup di Bintan lebih tipis. Ketiga,
endapan bauksit di Kalimantan Barat dikitari rawa.

13
2.4. Hubungan Kondisi Geologi Dan Genesa Endapan Dengan Teknik
Eksplorasi
Kegiatan eksplorasi dilaksanakan berdasarkan data awal berupa
indikasi/gejala/petunjuk geologi dan proses pembentukan endapan
bahan galian, sehingga diperoleh karakteristik tertentu untuk daerah
target tersebut. Indikasi (gejala) geologi yang diamati merupakan hasil
(produk) dari proses geologi (asosiasi batuan, tektonik, dan siklus
geologi) yang mengontrol pembentukan endapan, yang kemudian dikaji
dalam konteks genesa endapan berupa komposisi mineral, asosiasi
mineral, unsur-unsur petunjuk, pola tekstur mineral, ubahan (alterasi),
bentuk badan bijih (tipe endapan), dan lain-lain, menghasilkan
elemen- elemen yang harus ditemukan dan dibuktikan melalui
penerapan metode (teknologi) eksplorasi yang sesuai, sehingga dapat
menjadi petunjuk untuk mendapatkan endapan bijih yang ditargetkan
(guide to ore). Secara skematis hubungan tersebut dapat dilihat pada
diagram berikut.

PROSES GEOLOGI
Magmatik
Tektonik
(Struktur geologi)
Pelapukan
Erosi & Sedimentasi

GEJALA GEOLOGI GENESA ENDAPAN


Tatanan tektonik regional/lokal Metallogenic province
Struktur geologi Kontrol pembentukan bijih
Susunan stratigrafi Komposisi mineral/alterasi
Geomorfologi-fisiografi Unsur asosiasi/petunjuk
Jenis batuan Struktur/tekstur mineral

TIPE KARAKTERISTIK ENDAPAN


Bentuk, ukuran, dan pola sebaran bijih
Proses dan zona pengkayaan
Sifat fisik dan kimia endapan
Karakteristik mineralogi
Karakteristik batuan induk/samping

PEMILIHAN DAN PENERAPAN


TEKNOLOGI (METODA) EKSPLORASI

Gambar 2.4. Diagram Umum Hubungan Antara Genesa Endapan Dengan Pemilihan
Metode Eksplorasi
14
2.5. Konsep Eksplorasi
Eksplorasi merupakan pekerjaan-pekerjaan penyelidikan
selanjutnya setelah ditemukannya endapan mineral berharga, yang
meliputi pekerjaan-pekerjaan untuk mengetahui dan mendapatkan ukuran,
bentuk, letak (posisi), kadar rata-rata dan jumlah cadangan dari endapan
tersebut. Seluruh kegiatan eksplorasi pada dasarnya bertujuan untuk
meningkatkan potensi sumberdaya mineral (resources) yang terdapat di
bumi menjadi cadangan terukur yang siap untuk ditambang (mineable
reserve).
Tahapan eksplorasi ini mencakup kegiatan untuk mencari dimana
keterdapatan suatu endapan mineral, menghitung berapa banyak dan
bagaimana kondisinya, serta ikut memikirkan bagaimana sistem
pendayagunaanya.
Beberapa ilmu penunjang yang mendukung kegiatan eksplorasi ini
antara lain :
 Geologi, mineralogi, genesa bahan galian
 Teknik eksplorasi
 Analisis cadangan, geostatistik
 Ekonomi endapan mineral.
Secara umum aliran kegiatan pencarian/eksplorasi endapan bahan
galian dimulai dengan kegiatan prospeksi atau eksplorasi pendahuluan
yang meliputi kegiatan persiapan di kantor (kompilasi foto udara, citra
landsat, SLAR, peta-peta yang sudah ada, atau laporan yang tersedia)
sampai kepada survei geologi awal yang terdiri dari peninjauan lapangan,
pemetaan geologi regional, pengambilan conto (scout sampling) serta
memetakan mineralisasi endapan untuk mengetahui apakah kegiatan
eksplorasi bias dilanjutkan atau tidak.
Kegiatan selanjutnya adalah melakukan eksplorasi detail (rinci)
yang meliputi pemetaan geologi rinci serta pengambilan conto dengan
jarak yang relatif rapat sesuai dengan sifat endapan bahan galian
termaksud. Conto-conto yang diperoleh kemudian dianalisis di
15
laboratorium untuk ditentukan kadar, sifat fisik lain yang menunjang
kegiatan penambangan.
Perhitungan cadangan dilakukan dengan berbagai metode
perhitungan yang sesuai untuk jenis endapan tertentu, antara lain dengan
cara area of influence.
Berdasarkan pada sifat-sifat endapan, metoda penyelidikan dan
pendekatan- pendekatan teknologi yang digunakan, metoda eksplorasi
secara umum dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu :
1. Eksplorasi tidak langsung dan,
2. Eksplorasi langsung.

2.5.1. Alat dan Bahan Eksplorasi


a. Bahan yang digunakan untuk menunjang eksplorasi :
- Peta topografi daerah eksplorasi.
- Literatur-literatur yang berhubungan dengan eksplorasi bahan
galian.
- Informasi geologi daerah eksplorasi.
- Data penyelidikan terdahulu daerah eksplorasi.
b. Alat yang digunakan untuk menunjang eksplorasi :
- Alat untuk mengambil data lapangan yaitu palu, kompas geologi
dan lup.
- Alat untuk merekam data lapangan yaitu GPS, kamera, buku dan
alat tulis.
- Alat untuk pengambilan conto lapangan yaitu plastik sampel, pita
dan spidol permanen.
- Peralatan keamanan lapangan, berupa sepatu boot, sarung tangan
dan jas hujan.
- Peralatan untuk mengambil conto sumur uji, yaitu tali tambang dan
ember.
- Peralatan penunjang analisa dan pembuatan laporan, berupa
komputer, printer dan kertas.
16
2.5.2. Eksplorasi Tidak Langsung
Ada dua cara eksplorasi tidak langsung yaitu :
1. Cara geofisika yang dapat dilakukan dengan menggunakan pesawat
terbang (aero borne), mobil (car borne), ataupun dengan jalan kaki.
2. Cara geokimia.

2.5.3. Eksplorasi Cara Langsung


Cara-cara eksplorasi yang dipakai di permukaan (langsung) adalah :
1. Penyelidikan Singkapan (outcrop)
2. Tracing Float
3. Tracing dengan Panning
4. Trenching (Pembuatan Parit Uji)
5. Test Pitting (Pembuatan Sumur Uji)
6. Pemboran

2.6. Metode Eksplorasi Bauksit Laterit


Pemilihan metode didasarkan atas bentuk, ukuran, dan posisi
endapan sangat terkait dengan genesanya. Endapan bauksit yang
ditemukan di Indonesia adalah berupa laterit yang dicirikan oleh zona
pelapukan bauksit yang berwarna kemerahan dan relatif lunak. Ketebalan
lapisan bauksit rata – rata terletak dekat permukaan dan tidak lebih dari 20
meter. Berdasarkan pada hal – hal tersebut, metode yang paling cocok
adalah test pitting (sumur uji).
Test pit merupakan suatu metode untuk mengambil conto bijih
bauksit yang berada di bawah permukaan. Adapun ukuran sumur uji ini
adalah 0.8 x 1.2 m. Untuk menentukan titik sumur uji ini berdasar dari
hasil analisa laboratorium dari sampel indikasi bauksit dipermukaan. Pola
dan spasi sumur uji tergantung dari tahapan eksplorasi. Rangkaian teknis
kegiatan di lapangan tersebut meliputi tahapan pendahuluan, pengumpulan
data, eksplorasi lapangan, analisa data yang kemudian tahapan kesimpulan
dari hasil tahapan-tahapan sebelumnya yang diwujudkan dalam susunan
17
laporan dan berbagai peta. Kegiatan olah data menghasilkan pembuatan
peta lokasi pengamatan, peta geomorfologi, dan peta geologi, dan
penampang sumur uji, peta penyebaran potensi bauksit dan perhitungan
cadangan.

PENDAHULUAN - Studi Literatur


- Observasi lapangan

- Peta topografi
- Peta geologi regional
PENGUMPULAN
DATA
- Pengamatan lapangan / Data lokasi
pengamatan
- Pengamatan morfologi
EKSPLORASI - Conto batuan dan bauksit permukaan
LAPANGAN - Profil sumur uji

- Analisis Geomorfologi
ANALISIS DATA - Analisis geometri dan penyebaran
endapan bauksit
- Analisis distribusi kadar Al2O3, SiO2,
dan Fe2O3
- Analisis jenis dan kualitas bauksit
- Analisis sumberdaya cadangan bauksit

- Peta Lokasi Pengamatan, Peta Geologi,


PEMBAHASAN
Peta Geomorfologi
- Peta distribusi kadar Al2O3, SiO2, dan
Fe2O3
- Penampang sumur uji

LAPORAN
EKSPLORASI

Gambar 2.5. Bagan Alir Eksplorasi Bauksit

18
2.7. Tahapan Eksplorasi Bauksit
2.7.1. Pemetaan Geologi Permukaan
Pemetaan geologi permukaan dilakukan untuk mendapatkan data lapangan
yang meliputi data-data geologi dan sebaran bijih bauksit di permukaan.
Pengambilan data litologi di lapangan dengan cara membuat lokasi pengamatan
pada singkapan-singkapan batuan yang ada, baik yang berupa fresh rock maupun
yang telah terlapukkan. Setelah itu dilakukan deskripsi litologi secara megaskopis
sehingga didapatkan informasi-informasi yang diperlukan.
Pada pengamatan data morfologi meliputi kemiringan lereng bukit yang
landai, mengingat keterdapatan bauksit berada pada perbukitan rendah biasanya
pada zona yang mengalami proses pendataran akibat erosi dan denudasi. Batas
rawa dengan dataran, umumnya menjadi batas bauksit dilapangan. Bauksit
cenderung mengikuti relief bukit yang dikitari oleh rawa atau biasa disebut natai
atau mungguk.
Kemudian dilakukan pula sampling bauksit dari outcrop di permukaan
yang selanjutnya dilakukan analisa laboratorium tentang kadar komponen bauksit
dari data hasil conto permukaaan. Setelah dilakukan lokalisir daerah tersebut
barulah dapat diketahui daerah mana saja yang terindikasi adanya endapan bauksit
yang kemudian dapat dilanjutkan dengan penggalian test pit.

2.7.2. Penentuan dan Pembuatan Test Pit


Metode pembuatan dan penentuan sumur uji yaitu :
1. Setting point atau pengeplotan titik test pit
 Penentuan letak sumur uji, yaitu dengan mengacu pada wilayah
yang telah dieksplorasi dan ditemukan indikasi bauksit.
 Jarak sumur uji, dilakukan jarak random terlebih dahulu baru
kemudian apabila daerah tersebut terindikasi prospek maka
dilakukan pembuatan sumur uji dengan sistem grid, tetapi apabila
hasil yang didapat tidak cukup bagus maka tidak perlu dilanjutkan
lagi. Titik pertama yang dilakukan adalah secara acak, selanjutnya
dipasang dengan jarak 400 m pada titik yang mempunyai kadar
19
cukup bagus. Kemudian grid dipersempit lagi pada jarak 200 m
pada area yang mempunyai kadar yang bagus, kemudian bila hasil
masih bagus grid dapat dipersempit lagi menjadi 100 m. Untuk
hasil yang lebih detail, grid dapat dipersempit menjadi 50 m. Grid
100 m x m 100 m dimaksudkan untuk mengetahui pola penyebaran
bauksit dengan cakupan daerah yang luas dan representatif secara
tepat. Sedangkan grid 50 m x 50 m dimaksudkan untuk mengetahui
pola penyebaran bauksit secara semi detail baik dari segi kualitas
maupun ketebalannya serta memberikan gambaran batas bentang
alam (punggungan maupun lembah/rawa) dan tata guna lahan pada
daerah tersebut sehingga pada akhirnya akan memberikan informasi
besarnya cadangan yang lebih akurat. Dan paling akhir diteruskan
ke jarak 25 m. Dari grid 25 m didapat perhitungan cadangan yang
terukur dan dapat dilakukan pemodelan yang detil.

2. Penggalian test pit


 Kemudian dilakukan penggalian test pit berbentuk empat
persegi panjang dengan ukuran 1,2 m x 0,8 m, penggalian test
pit menggunakan cangkul, dodos/linggis, tali, ember dan pita
ukur.
 Penggalian test pit dihentikan apabila telah mencapai batuan dasar
yaitu material lempung atau kong dan boulder batu. Bila
penggalian telah mencapai kedalaman 5 meter tetapi belum juga
ditemukan indikasi akan adanya bauksit maka penggalian juga
dihentikan.

20
Sumber : PT Aneka Tambang Tbk. Unit Geomin, 2010
Gambar 2.6. Pembuatan sumur uji (test pit)

2.7.3. Metode Sampling atau Pengambilan Conto


Setelah itu pada sumur uji yang ada dilakukan pengambilan conto
(sampling) dan pembuatan profil, adapun metode yang dilakukan dalam
sampling sebagai berikut:
 Mengukur kedalaman sumur uji.
 Menentukan batas antara zona-zona pada bauksit, yaitu OB (over
burden), ore bauksit dan zona lapuk lanjut (kong).
 Mengukur kedalaman OB, ketebalan ore, dan batas antara ore dan
kong.
 Melakukan pemerian bijih bauksit dilapangan (bauxite discription).
 Cara pengambilan conto pada dinding sumur uji adalah, setelah
mengukur tebal ore bauksit, maka ore tersebut dibagi pada setiap
ketebalan 2 meter dari batas atas ore. Tiap-tiap ketebalan 2 meter
dilakukan pengambilan conto sebanyak 4 buah ember pada satu sisi
dinding sumur uji. Pengambilan conto pada dinding sumur uji
memanjang dari atas ke bawah jadi tiap ember diisi sampel tiap 50 cm
dengan berat sampel per ember  5 kg. Kemudian apabila tebal ore 3
m maka 2 m bagian atas diberi notasi A dan 1 meter ke bawah diberi

21
notasi B. Pada notasi A dilakukan pengambilan sampel sebanyak 4
ember kemudian diletakkan dalam satu karung, dan notasi B dilakukan
pengambilan conto sebanyak 2 ember dan diletakkan pada satu karung
yang lain.
 Pada masing-masing karung conto diberi pita yang telah dicantumkan
kode sumur uji, koordinat sumur uji, notasi dan kedalaman notasi,
serta tanggal pengambilan conto. Tujuan penyertaan pita tersebut agar
conto dapat dikenali dalam melakukan pencucian dan analisa
laboratorium.

Lebar bukaan test pit

Tanah penutup

Lapisan Bauksit

Kong (penggalian dihentikan)

Gambar 2.7. Sketsa Cara Pengambilan Conto Bauksit Dengan Sumur Uji

2.7.4. Metode Preparasi Conto


Kegiatan preparasi meliputi kegiatan pencucian, penirisan dan
penimbangan. Pencucian dilakukan dengan metode penyemprotan air dan
dibantu pembersihan dengan sikat kawat hingga kandungan clay yang ada
dapat dipisahkan. Penirisan dilakukan dengan bantuan sinar matahari hingga
kondisi bauksit kering. Penimbangan dilakukan 2 kali yaitu pada saat
pengambilan conto dari lubang test pit (sebelum dicuci) dan setelah pencucian,
hingga diperoleh harga concretion factor. Concretion factor adalah persen

22
berat bauksit bersih tanpa pengotor atau perbandingan berat bauksit setelah
dicuci dan sebelum dicuci.
Tahapan preparasi conto yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Conto dari lokasi ditimbang untuk mengetahui berat kotor.
2. Conto kotor dicuci dengan ayakan berukuran pada ayakan dengan bukaan
1 cm dan 5 mm secara manual hingga bersih, agar butiran yang lolos
(matriks ) dan bahan pengotornya hilang.
3. Dilakukan pengeringan dengan diangin-anginkan atau dengan
menggunakan oven sampai 24 jam.
4. Conto kering yang bersih ditimbang, untuk mengetahui berat bersih.
5. Menghitung faktor konkresi (CF = berat bersih/berat kotor x 100 ).
6. Conto yang telah dikeringkan kemudian dihaluskan hingga ukuran < 0,5
cm.
7. Conto di mixing dan quartering (pencampuran 4 bagian). Setelah itu
diambil 3 - 3,5 kg dari conto yang tersisa.
8. Dari 3 - 3,5 kg tersebut kemudian dilakukan quartering lagi agar menjadi
lebih homogen.
9. Dilakukan penghalusan, kemudian conto tersebut diayak dengan ukuran
mess 200.
10. Sampel yang lolos kemudian diambil 1 kg, yang 0,5 kg dianalisis di
laboratorium dan sisanya menjadi duplikat.

Conto yang sudah dipreparasi tersebut, selanjutnya dikirim ke


laboratorium untuk dilakukan analisis unsur-unsur Al2O3, Fe2O3, SiO2, TiO2, dan
LOI. Untuk sampel permukaan (out crop) mendapat perlakuan yang sama pada
saat preparasi, tetapi tanpa melalui proses quartering. Berikut merupakan bagan
alir tahapan preparasi conto.

23
CONTO

DISUSUN DAN DITIMBANG

PENCUCIAN
(tehadap pengotor berupa matriks
seperti clay yang berukuran < 2mm)

DRYING

DITIMBANG
(Untuk mendapatkan % CF)

CRUSHING AND SIZING


(size < 5 mm)

QUARTERING
(Untuk mendapatkan 3 – 3,5 kg)

CRUSHING
(size mesh 200)

PENGAYAKAN (SIEVE SHAKER)

LOLOS 200 MESH


Arsip Conto (Duplikat) = 0,5 kg
ANALISIS
(SiO2, Fe2O3, TiO2, Al2O3,
Moisture Content (MC)

Gambar 2.8. Diagram Alir Preparasi Conto Bauksit

24
2.8. Metode Perhitungan Cadangan Bauksit
Perhitungan cadangan pada daerah eksplorasi menggunakan metode
geometrik dengan menggunakan metode extended area dengan jarak antar sumur
uji sebagai batas acuan untuk daerah pengaruh, karena jarak antar sumur uji pada
daerah eksplorasi teratur sehingga mempermudah dalam penghitungan.
Parameter lain yang digunaan untuk perhitungan cadangan adalah dengan
menggunakan data penyebaran bauksit, ketebalan dan jarak antar test pit,
kemudian dihitung dengan menggunakan rumus :

Volume = luas area x tebal lapisan bauksit ......................................................... (1)


Raw ore = Volume x Specific gravity (SG)......................................................... (2)
Concretion Factor (CF) = Berat sampel seteleh dicuci x 100% Berat ............... (3)
sampel sebelum dicuci
Whased ore = (raw ore x CF) ........................................................................... (4)
100
Keterangan :
- Grid = jarak antar test pit
- Luas area = luas jarak antar grid
- Tebal = tebal lapisan ore bauksit diukur pada test pit
- SG = berat jenis bauksit (1,6)
- Raw ore = berat sampel per luasan daerah sumur uji sebelum
dicuci
- Concretion factor(CF) = persen berat bauksit bersih tanpa pengotor.
- Whased ore = berat sampel per luasan daerah sumur uji setelah
dicuci
- Tebal lapisan bauksit diukur pada masing-masing test pit.
Kemudian dari hasil analisa laboratorium kadar masing-masing unsur dikalikan
dengan whased ore, maka akan didapatkan volume masing-masing unsur. Untuk
total cadangan adalah :
Total = Σ Whased ore .......................................................................................... (5)

25
2.8.1. Metode Extended Area
Metode ini digunakan untuk lubang test pit yang dibuat dengan
pola grid, seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Pada gambar tersebut
25 lubang test pit telah dibuat dengan jarak sesuai dengan pola grid
(misalnya 25 meter).
Pada metode extended area, semua blok mempunyai daerah
pengaruh yang sama. Pada gambar di bawah ini (jarak grid 25 m) total
areanya adalah 25 x 252 = 15.625 m2.

Gambar 2.9. Sketsa metode extended area

Tebal rata-rata didapat dengan menjumlah (total) seluruh tebal sumur uji
dan dibagi dengan 25. Sedangkan total volume didapat kan dengan mengalikan
15.625 m2 x tebal rata-rata.

26
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Geologi Regional Daerah Pembentuk Bauksit


Gambaran geologi daerah pembentuk bauksit diambil contoh dari suatu
lokasi yang terletak di Kecamatan Mempawah Hulu dan sekitarnya,
Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Secara regional dapat dilihat
dalam lembar peta geologi daerah Singkawang, skala 1 : 250.000 terbitan
Bakosurtanal tahun 1981.
Sebaran litologi wilayah studi tersusun oleh satuan Batuan Gunungapi
Raya, Granodiorit Mensibau, disusul Formasi Hamisan, Batuan Intrusi
Sintang, Endapan Aluvial Tertoreh dan yang termuda Endapan Aluvial.
Berikut urutan satuan batuan dari tua ke muda :
1. Batuan Gunungapi Raya (Klr)
Terdiri dari batuan andesit, dasit dan basalt, berstruktur aliran dan
piroklastik dengan sedikit batupasir, batulanau dan batulumpur.
Mineralisasi sulfida ditemukan pada satuan batuan ini berasosiasi dengan
batuan terobosan tersier. Batuan setempat termalihkan oleh intrusi –
intrusi yang berumur Kapur dan Tersier dan termineralisasi (pirit,
kalkopirit, molibdenit, arsenopirit dan spalerit)
2. Granodiorit Mensibau (Klm)
Tersusun oleh batuan granodiorit hornblende - biotit, granodiorit
biotit – hornblende, diorit kuarsa, granit, monzonit, batuan umumnya
berwarna terang, biasanya mengalami ubahan dan terdeformasi. Satuan
batuan ini merupakan bagian dari Batholit Singkawang. Secara tidak
selaras ditutupi oleh Volkanik Niut, Batupasir Kayan, Batupasir Landak
dan Formasi Kayak.
3. Formasi Hamisan (Toh)
Tersusun oleh batupasir kuarsa, batupasir litik, batupasir kerikilan
dan batupasir konglomeratan, umumnya terpilah buruk, dan ukuran

27
butirnya sedang hingga kasar, berwarna merah kecoklatan, setempat
karbonan dan struktur lapisan bersusun. Satuan Batuan ini di endapkan
secara tidak selaras diatas satuan batuan Granodiorit Mensibau dan Satuan
Batuan Gunungapi Raya.
4. Batuan Intrusi Sintang (Toms)
Didominasi oleh granodiorit, diorit kuarsa, andesit piroksen, dasit,
tekstur porfiritik, berbutir halus hingga menengah; melanokratik hingga
leukokratik, umumnya intrusi mikrodiorit porfir, andesit piroksen atau
granodiorit dengan fenokris hornblenda, piroksen, felspar dan kuarsa;
mempunyai kisaran umur Miosen Awal - Tengah.
5. Endapan Aluvial Tertoreh (Qat)
Sebarannya berupa endapan kerikil padat, lanau, pasir dan lumpur.
6. Endapan Alluvial (Qa)
Sebarannya di kiri dan kanan Sungai Mempawah berupa endapan lumpur,
lanau, pasir dan kerikil.

Berikut merupakan contoh daerah yang memiliki potensi terbentuknya


bauksit di daerah Mempawah Hulu dan sekitarnya yang disajikan dalam bentuk
lembar peta geologi regional.

28
Lokasi Potensi
Terbentuknya Bauksit

Sumber : Peta Geologi Regional Lembar Singkawang, Pusat Penelitian Dan Pengembangan Geologi, 1993

Gambar 3.1. Peta Geologi Regional Daerah Mempawah Hulu dan Sekitarnya

30
Sebaran litologi area tersebut didominasi oleh kelompok batuan intrusi
Granodiorit Mensibau dan tersusun oleh Batuan Gunungapi Raya. Keduanya
berumur Kapur Awal dan keduanya kaya akan unsur mineral potash dan felsic
feldspar yang dapat membentuk alumina.
Selain itu kondisi batuan di daerah tersebut stabil dan pembentukannya
dalam waktu yang cukup lama dengan morfologi undulating, kemudian
termasuk wilayah tropis dengan curah hujan tinggi. Parameter – parameter
tersebut mendukung terjadinya lateritisasi bauksit. Dengan demikian cukup
beralasan bahwa wilayah ini berpotensi terbentuknya endapan bauksit laterit.

3.2. Morfologi Regional Daerah Pembentuk Bauksit


Gambaran morfologi daerah pembentuk bauksit diambil contoh dari
suatu lokasi yang terletak di Kecamatan Mempawah Hulu dan sekitarnya,
Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan kenampakan
morfologi melalui citra SRTM di wilayah tersebut dibedakan menjadi 3
(tiga) satuan morfologi yaitu :
1. Satuan morfologi perbukitan bergelombang lemah dan satuan
morfologi dataran rendah.
Satuan ini merupakan dataran cukup luas, mempunyai ketinggian
antara 5–25 meter dari permukaan laut, litologinya ditempati oleh
endapan alluvial yang terdiri dari pasir kerikilan padat, lempung dan
humus serta endapan rawa - rawa dan sebagian kecil wilayahnya
ditempati oleh batuan hasil lateritisasi dengan endapan bauksit.
2. Satuan morfologi pebukitan bergelombang sedang
Sebarannya mendominasi di sekitar area studi berada pada
ketinggian antara 25-150 meter diatas permukaan air laut. Pada satuan
ini umumnya ditempati oleh perbukitan yang landai (undulating)
dengan kemiringan sedang, bila di pandang dari segi morfologi,
wilayah yang dapat terbentuk endapan bauksit diperkirakan pada

31
ketinggian perbukitan landai. dan tidak curam. Endapan laterit bauksit
utamanya terbentuk berada pada satuan morfologi perbukitan ini.

3. Satuan morfologi perbukitan bergelombang kuat dan berlereng


menengah-curam
Wilayah ini masih didominasi oleh perbukitan dengan kemiringan
yang curam yang diakibatkan dari proses intrusi batuan beku. Sebaran
laterit bauksit umumnya tipis, dibeberapa lokasi masih teramati fresh
rock sebagai batuan dasar terbentuknya endapan bauksit di wilayah ini.

Berikut merupakan contoh daerah yang memiliki potensi


terbentuknya bauksit di daerah Mempawah Hulu dan sekitarnya yang
disajikan dalam bentuk lembar peta topografi regional.

32
Lokasi Potensi
Terbentuknya Bauksit

Sumber : Peta Dasar Citra SRTM

Gambar 3.2. Peta Kenampakan Morfologi Regional Daerah Mempawah Hulu


dan Sekitarnya
34
Dapat dilihat bahwa daerah Mempawah Hulu dan sekitarnya
sebagian besar morfologinya berupa perbukitan bergelombang
rendah-sedang, dicirikan bukit-bukit terisolir dibatasi oleh rawa -
rawa, lembah antar bukit cukup lebar dengan sungai-sungai berpola
meandering sebagai penciri telah memasuki stadia erosi tingkat
dewasa–tua, suatu daerah yang ideal tempat terbentuknya endapan
bauksit.
Pada pembentukan bijih bauksit berproses pada permukaan
perbukitan yang landai (undulating) sehingga akan mempunyai
kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-
rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi endapan umumnya terdapat
pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang. Dengan
kata lain bila di pandang dari segi morfologi, daerah Mempawah Hulu
dan sekitarnya berpotensi terbentuknya endapan laterit bauksit.

3.3. Tahapan Eksplorasi Bauksit


Berdasarkan atas kontinuitas lateral endapan bauksit yang saat ini di
ketahui, maka untuk tahapan ekplorasi bauksit dibedakan 3 ( tiga ) tahap.
Masing – masing tahap memiliki tujuan dan target yang berbeda, sehingga
jenis kegiatannya juga berbeda. Tahap I ini disebut dengan eksplorasi
pendahuluan, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk membuktikan ada
tidaknya endapan bauksit di dalam daerah eksplorasi berdasarkan dari
sumber peta geologi, kegiatan ini meliputi pemetaan geologi regional skala
1 : 25.000. Dari hasil pemetaan geologi tersebut didapatkan data indikasi
ada tidaknya endapan bauksit dari outcrop di permukaan. Jika hasil outcrop
terindikasi adanya bauksit dengan kualitas bagus, maka dilakukan sampling
dari test pit dengan jarak sumur uji random terlebih dahulu baru kemudian
apabila daerah tersebut terindikasi prospek maka dilakukan pembuatan
sumur uji dengan sistem grid, tetapi apabila hasil yang didapat tidak cukup
bagus maka tidak perlu dilanjutkan lagi.

35
Tahap II disebut juga penyelidikan semi detail eksplorasi lanjut.
Sumur – sumur uji di tempatkan pada daerah prospek hasil tahap I dengan
pola grid spasi 400 meter x 400 meter pada titik yang mempunyai kadar
cukup bagus. Kemudian grid dipersempit lagi pada jarak 200 m pada area
yang mempunyai kadar yang bagus, kemudian bila hasil masih bagus grid
dapat dipersempit lagi menjadi 100 m. Grid 100 x m 100 m dimaksudkan
untuk mengetahui pola penyebaran bauksit dengan cakupan daerah yang
luas dan representatif secara tepat. Untuk hasil yang lebih detail, grid dapat
dipersempit menjadi 50 meter.
Dalam hal ini akan dibahas mengenai eksplorasi detail yang
termasuk dalam tahap III atau disebut dengan kegiatan penyelidikan detail.
Pemilihan lokasi didasarkan atas hasil evaluasi tahap II.
Pada eksplorasi detail ini untuk grid testpit dapat dipersempit
menjadi 50 m x 50 m. Pola grid 50 m x 50 m dimaksudkan untuk
mengetahui pola penyebaran bauksit secara semi detail baik dari segi
kualitas maupun ketebalannya serta memberikan gambaran batas bentang
alam (punggungan maupun lembah atau rawa) dan tata guna lahan pada
daerah tersebut sehingga pada akhirnya akan memberikan informasi
besarnya cadangan yang lebih akurat. Dan paling akhir diteruskan ke jarak
25 m. Dari grid 25 m didapat perhitungan cadangan yang terukur dan dapat
dilakukan pemodelan yang detil. Prosedur pelaksanaan kegiatan eksplorasi
detail bauksit meliputi :
a) Pemilihan / penentuan daerah eksplorasi
b) Pemetaan bauksit skala 1 : 2500
c) Pengukuran grid spasi 50 m x 50 m atau 25 m x 25 m
d) Pengukuran batas endapan bauksit
e) Penggalian sumur uji spasi 50 m x 50 m atau 25 m x 25 m
f) Kegiatan penyamplingan secara representatif
g) Preparasi conto
h) Analisa kimia cross check dengan laboratorium
i) Kompilasi database
36
j) Evaluasi data dan perhitungan cadangan.

Pada tahapan ini, kegiatan eksplorasi semi detail sudah dilaksanakan dan
sudah dilakukan evaluasi/pengkajian ulang, dan suatu daerah tersebut
dinyatakan layak untuk menuju ke detail (grid 25 meter).

3.3.1. Pengukuran Grid


Lokasi penggalian sumur uji ditentukan dengan melakukan
pengukuran menggunakan alat GPS (Global Positioning System).
Pemasangan patok pembantu dilakukan setiap 25 meter jarak datar, dimana
patok kelipatan 25 m adalah merupakan titik sumur uji yang akan digali. Di
lapangan titik ini diberi tanda altag (alumunium tag) dan diberi koordinat test
pit serta diberi pita merah dengan maksud untuk memudahkan menunjukan
lokasi penggalian dan memudahkan pendataan kembali apabila diperlukan.
Pencatatan data koordinatnya (koordinat UTM grid ) diarsipkan dalam buku
khusus yang mencatat koordinat–koordinat patok ukur daerah penelitian.

3.3.2. Kegiatan Penggalian Testpit


Sumur uji digali atau dibuat pada titik yang telah ditentukan dari hasil
pengukuran grid, sebagaimana telah direncanakan. Urut – urutan pengerjaan
sumur uji adalah sebagai berikut :
1. Persiapan
Persiapan ini di lakukan di basecamp meliputi persiapan peta –
peta dan perlengakapan / peralatan yang di perlukan di dalam pengerjaan
sumur uji yang meliputi :
- Tas / ransel tempat alat – alat
- Lembar format deskripsi profil test pit
- Spidol
- Ballpoint / pena
- Roll meter
- Palu geologi

37
- Label contoh
- Cangkul
- Sekop
- Linggis
- Golok
- Karung plastik dan kantong conto
- Kaki tiga dari batang kayu yang diikat erat untuk menggantungkan
katrol.
- Tali manila / plastik yang cukup kuat untuk mengikat dan menaikkan
keranjang melalui katrol
- Keranjang untuk tempat hasil galian

2. Pelaksanaan penggalian
Penggalian sumur uji di laksanakan mengikuti pola grid dari
hasil pengukuran yaitu pada kelipatan 25 m x 25 m. Penggalian ini
berakhir sebelum batas rawa dengan bukit artinya apabila titik kelipatan
25 m tersebut tepat jatuh pada batas rawa maka pada titik tersebut tidak
dilakukan penggalian.
Penggalian sumur uji dilaksanakan oleh 2 orang dengan ukuran
standar test pit 100 cm x 80 cm. Pada lapisan pembentuk bauksit
terdapat lapisan penutup (overburden), lapisan bauksit (ore), kong.
Batas kedalaman penggalian sampai menembus batas bijih (ore) dengan
catatan kondisi lubang galian masih aman. Pengamanan lubang di
lakukan dengan menggunakan kayu/pagar yang di ambil di lokasi /
dekat lokasi penggalian. Ukuran kayu dengan diameter ± 5 cm dijepit
dengan kayu berdiameter ± 10 cm dan interval 1 m vertikal.
Pemasangan pagar ini dilakukan setelah kedalaman penggalian pertama
mencapai 3 m. Dengan penjepit interval 1 m vertikal. Pemasangan
selanjutnya dilakukan setiap kemajuan penggalian mencapai 1 m agar
tanah hasil galian tidak masuk kembali ke lubang galian. Kemajuan
penggalian dilaporkan dan dicatat setiap hari oleh pengawas

38
penggalian. Penggalian di hentikan apabila sudah mencapai :
1. Batuan segar ( fresh rock )
2. Lempung / kong
3. Boulder batu
4. Mata air

Sumber : PT Aneka Tambang Tbk Unit Geomin, 2010


Gambar 3.3. Kegiatan Penggalian Test Pit

3. Kegiatan Sampling dan Pendataan


Conto yang representatif adalah conto yang mewakili seluruh fraksi
bijih yang ada di daerah tersebut dan mewakili luasan daerah tertentu. Dasar
pertimbangan pemilihan metode pengambilan conto adalah homogenitas
dari suatu bijih yang di cirikan oleh sifat fisik dan kimia dari bijih tersebut.
Kegiatan yang dilakukan dalam pendataan dan sampling adalah sebagai
berikut :
 Mengukur kedalaman sumur uji.
 Menentukan batas antara zona-zona pada bauksit, yaitu OB (over
burden), ore bauksit dan zona lapuk lanjut (kong).
 Mengukur kedalaman OB, ketebalan ore, dan batas antara ore dan
kong.
 Melakukan pemerian bijih bauksit dilapangan (bauxite discription).

39
 Cara pengambilan conto pada dinding sumur uji adalah, setelah
mengukur tebal ore bauksit, maka ore tersebut dibagi pada setiap
ketebalan 2 meter dari batas atas ore. Tiap-tiap ketebalan 2 meter
dilakukan pengambilan conto sebanyak 4 buah ember pada satu sisi
dinding sumur uji. Pengambilan conto pada dinding sumur uji
memanjang dari atas ke bawah jadi tiap ember diisi sampel tiap 50 cm
dengan berat sampel per ember  5 kg. Kemudian apabila tebal ore 3
m maka 2 m bagian atas diberi notasi A dan 1 meter ke bawah diberi
notasi B. Pada notasi A dilakukan pengambilan sampel sebanyak 4
ember kemudian diletakkan dalam satu karung, dan notasi B dilakukan
pengambilan conto sebanyak 2 ember dan diletakkan pada satu karung
yang lain.
Pada masing-masing karung conto diberi pita yang telah
dicantumkan kode sumur uji, koordinat sumur uji, notasi dan
kedalaman notasi, serta tanggal pengambilan conto. Tujuan penyertaan
pita tersebut agar conto dapat dikenali dalam melakukan pencucian
dan analisa laboratorium. Conto – conto tersebut di masukkan ke
dalam karung conto untuk selanjutnya di angkut ke tempat preparasi
contoh, setelah di beri kode conto yang sesuai dengan nomor dari data
test pit tersebut.

Sumber : PT Aneka Tambang Tbk Unit Geomin, 2010


Gambar 3.4. Kegiatan Pengambilan Sampel Bauksit

40
3.3.3. Pemerian Bijih Bauksit Di Lapangan (Bauxite Description)
Kegiatan pemerian bauksit dilakukan setelah lubang test pit selesai
dibuat. Pemerian dilakukan pada setiap batas antara zona-zona pada
bauksit yaitu tanah penutup (over burden), ore bauksit dan zona lapuk
lanjut (kong). Kemudian ore bauksit dideskripsi pada setiap pengambilan
conto pada dinding sumur uji. Dan ditulis serta digambarkan pada lembar
test pi log. Berikut merupakan contoh penggambaran deskripsi test pit log.

Mempawah Hulu
72 mdpl

Sumber : Jurnal Eksplorasi Umum Bauksit Di Kabupaten Sintang , 2011


Gambar 3.5. Contoh Pengisian Test Pit Log
41
Sumber : PT Aneka Tambang Tbk Unit Geomin, 2010
Gambar 3.6. Profil tegak laterit bauksit

Setelah dilakukan pendeskripsian profil sumur uji maka dapat


dilakukan deskripsi ore untuk mengenali kualitas bijih bauksit sehingga dapat
dibedakan bijih bauksit dengan kualitas baik dan tidak.

Sumber : PT Aneka Tambang Tbk Unit Geomin, 2010


Gambar 3.7. Bauksit dengan Fe melimpah dan quartz yang melimpah

42
3.4. Preparasi Conto
Preparasi conto dilakukan di lapangan dengan ayakan bukaan 1 cm
dan 5 mm secara manual hingga bersih, agar matrik atau butiran
yang lolos dan pengotornya hilang. Preparasi lapangan menghasilkan
conto homogen dengan ukuran fraksi kasar sebanyak rata – rata 3 - 3,5 kg,
sedangkan preparasi untuk persiapan analisa kimia menghasilkan conto
seberat rata–rata 0,5 kg dengan ukuran fraksi 200 #.
Tahapan pekerjaan preparasi lapangan meliputi pencucian,
pengeringan, penyeragaman ukuran butir, mixing dan quartering,
sehingga diperoleh conto homogen sebesar 3-3,5 kg. Setelah diperoleh
conto homomgen sebanyak 3-3,5 kg dilakukan pendataan sampel yang
sudah tercuci, sebagai dasar untuk penghitungan CF (Concretion Factor)
yang nantinya akan dimasukkan ke dalam database untuk menghitung
cadangan bauksit tercuci.
Tujuan dari pencucian tersebut adalah :
 Menghilangkan kotoran berupa clay mineral.
 Mendapatkan faktor konkresi (CF) bauksit untuk perhitungan
cadangan washed ore.
 Mendapatkan conto homogen yang mewakili luas daerah tertentu
sesuai data jarak sumur uji.
Alat – alat yang dipakai dalam preparasi lapangan antara lain
saringan ayakan dengan bukaan 1 cm dan 5 mm, plastik sampel, palu,
skop, dan pompa air.

43
CONTO

DISUSUN DAN DITIMBANG

PENCUCIAN
(tehadap pengotor berupa matriks
seperti clay yang berukuran < 2mm)

DRYING

DITIMBANG
(Untuk mendapatkan % CF)

CRUSHING AND SIZING


(size < 5 mm)

QUARTERING
(Untuk mendapatkan 3 – 3,5 kg)

CRUSHING
(size mesh 200)

PENGAYAKAN (SIEVE SHAKER)

LOLOS 200 MESH


Arsip Conto (Duplikat) = 0,5 kg
ANALISIS
(SiO2, Fe2O3, TiO2, Al2O3,
Moisture Content (MC)

Gambar 3.8. Diagram Alir Preparasi Conto Bauksit

44
Berikut merupakan tahapan preparasi conto yang dilakukan :
1. Pendataan ulang sampel yang masuk
Sampel yang ada selanjutnya dilakukan pendataan ulang apakah sampel yang
dikirim sudah sesuai dengan data yang dikirimkan, mengenai kode conto dan
kedalaman dari lapangan.
2. Conto dari lokasi ditimbang untuk mengetahui berat kotor.
3. Conto kotor dicuci pada ayakan dengan bukaan 1 cm dan 5 mm secara
manual hingga bersih, agar butiran yang lolos (matriks ) dan bahan
pengotornya hilang.
4. Pengeringan sampel dengan dengan diangin-anginkan atau dengan
menggunakan oven. Setelah didata, sampel - sampel tadi dioven selama
kurang lebih 24 jam, dengan tujuan untuk menghilangkan air yang masih ada
dalam sampel dan mendapatkan berat kering dari sampel tercuci.
5. Conto kering yang bersih ditimbang, untuk mengetahui berat bersih.
6. Menghitung faktor konkresi (CF = berat bersih/berat kotor x 100 ).
7. Penggerusan sampel dan pengahancuran sampel hingga ukuran < 0,5 cm.
8. Mixing dan quartering
Tujuan dari proses ini adalah mendapatkan sampel yang homogen dan
mendapatkan sample yang mewakili dari satu lubang test pit. Proses kerjanya
adalah sampel dicampur (mixing) dan dijadikan satu membentuk semacam
kerucut, setelah itu dibagi 4 sisi, dan kedua sisi yang saling berhadapan
dibuang. Hal ini dilakukan sebanyak 2 kali untuk mendapatkan berat yang
sesuai. Setelah itu diambil 3 - 3,5 kg dari conto yang tersisa.
Dilakukan penghalusan, kemudian conto tersebut diayak dengan ukuran mess
200.
9. Penimbangan dan packing
Setelah selesai dilakukan crushing, sampel tersebut diambil dan ditimbang
menjadi 1000 gr, dengan ketentuan 500 gr dikirimkan ke laboratorium analisa
untuk dilakukan analisa kadar Al2O3, Fe2O3, dan SiO2 dan sisanya untuk
disimpan sebagai duplikat conto.

45
Sumber : PT Aneka Tambang Tbk Unit Geomin, 2010
Gambar 3.9. Kegiatan Preparasi Conto

Setelah sampel terkumpul dan telah didata di lapangan oleh


pengawas, data tertulis tadi dimasukan ke dalam database untuk
pendataan secara computerized.

3.5. Input Data Secara Computerized dan Perhitungan Cadangan


Setelah dilakukan pengukuran grid, penggalian , sampling, dan
preparasi maka dilakukan input data. Input data yang dilakukan di sini
adalah input data secara manual (untuk laporan harian) dan secara
computerized (untuk data base). Data-data yang dimasukkan antara lain:
1. Data koordinat grid pengukuran
Data koordinat ini nantinya digunakan sebagai acuan untuk
menentukan luas pengaruh/ luas penyebaran bauksit pada suatu titik
testpit.
2. Data hasil sampling dan penggalian test pit.
Data yang di masukan disini termasuk tebal OB (over bourden),
tebal ore, tebal batas ore (bisa berwujud clay, fresh rock atau mata air),
data ini nantinya digunakan sebagai acuan untuk menentukan rata-rata
tebal ore pada suatu lokasi yang nantinya digunakan sebagai
penghitungan cadangan ore dan tebalnya over burden.

46
3. Data hasil preparasi
Data hasil preparasi ini berupa concresi factor (CF) yang
merupakan perbandingan ore tercuci dengan mineral pengotor berupa
clay yang melekat pada ore tersebut. Rumus penghitungan CF ini
adalah :

 Berat terc uci(berat kasar  berat halus) 


CF     100%
 berat asal 

4. Penghitungan cadangan
Setelah dilakukan input data, baik secara manual maupun
computerized, hasil data maka akan dilakukan penghitungan cadangan
untuk menghitung jumlah total ore tercuci (weight metric ton) yang
ada pada suatu lokasi eksplorasi. Rumus perhitungan ini adalah:

Cadangan  luas pengaruh  CF  tebal ore  berat jenis

Pada daerah yang dieksplorasi kali ini berat jenis bauksit yang
dipakai adalah 1,6 dan pada masing – masing lokasi eksplorasi
memiliki nilai berat jenis yang berbeda, sesuai dengan keputusan tim
yang dipakai. Berikut merupakan contoh perhitungan cadangan
bauksit pada suatu daerah.

47
Tabel 3.1
Contoh Perhitungan Cadangan Bauksit Blok A Bukit Rauk Di Daerah Mempawah Hulu

THICKNESS (m) BERAT SAMPLE / CONTO (Kg) UNWASH WASHED


TEST KOORDINAT GRID AREA VOL
TOTAL DEPTH WASHED ORE CF ORE ORE
NO PIT SG
OB ORE UNWASH 10 5 (%)
ID X Y DEPTH FROM TO TOTAL ( m) (m²) (m³) (TON) (TON)
mm mm

1 2.60 2.40 20.00 9.91 6.89 16.80 84.00 25 1,250 1.6 2,000
Rk11 421550 9748225 0.40 0.40 2.00 625 1,680
2 3.10 2.90 20.71 11.63 5.88 17.51 84.55 25 1,313 1.6 2,100
Rk21 421550 9747975 0.80 0.80 2.10 625 1,776
3 2.20 2.00 15.50 9.20 3.10 12.30 79.35 25 938 1.6 1,500
Rk26 421526 9747975 0.50 0.50 1.50 625 1,190
4 3.20 3.00 22.30 11.31 7.79 19.10 85.65 25 1,688 1.6 2,700
Rk34 421525 9748175 0.30 0.30 2.70 625 2,313
5 3.00 2.80 22.30 11.63 7.47 19.10 85.65 25 1,563 1.6 2,500
Rk36 421525 9748225 0.30 0.30 2.50 625 2,141
6 3.70 3.50 22.30 11.13 7.97 19.10 85.65 25 1,563 1.6 2,500
Rk37 421525 9748250 1.00 1.00 2.50 625 2,141
7 1.80 1.60 15.50 8.20 4.10 12.30 79.35 25 875 1.6 1,400
Rk38 421500 9748250 0.20 0.20 1.40 625 1,111
8 1.90 1.70 15.50 8.10 4.20 12.30 79.35 25 875 1.6 1,400
Rk39 421500 9748225 0.30 0.30 1.40 625 1,111
9 2.90 2.70 23.00 12.32 7.48 19.80 86.09 25 1,563 1.6 2,500
Rk40 421500 9748200 0.20 0.20 2.50 625 2,152
10 3.20 3.00 25.00 12.14 9.66 21.80 87.20 25 1,688 1.6 2,700
Rk41 421500 9748175 0.30 0.30 2.70 625 2,354
11 3.20 3.00 24.30 13.55 7.55 21.10 86.83 25 1,625 1.6 2,600
Rk43 421500 9748125 0.40 0.40 2.60 625 2,258
12 Rk44 421500 9748100 2.70 0.40 0.40 2.50 2.10 20.0 8.62 8.18 16.80 84.00 25 625 1,313 1.6 2,100 1,764
49
13 Rk45 421500 9748075 3.20 0.20 0.20 3.00 2.80 26.30 14.11 8.99 23.10 87.83 25 625 1,750 1.6 2,800 2,459
14 3.70 3.50 30.20 18.47 8.53 27.00 89.40 25 2,063 1.6 3,300
Rk46 421500 9748050 0.20 0.20 3.30 625 2,950
15 3.70 3.50 30.20 19.45 7.55 27.00 89.40 25 2,063 1.6 3,300
Rk47 421500 9748025 0.20 0.20 3.30 625 2,950
16 2.40 2.20 20.70 9.65 7.85 17.50 84.54 25 1,313 1.6 2,100
Rk48 421500 9748000 0.10 0.10 2.10 625 1,775
17 2.40 2.20 19.34 9.54 6.60 16.14 83.45 25 1,063 1.6 1,700
Rk49 421500 9747975 0.50 0.50 1.70 625 1,419
18 2.30 2.10 19.34 10.89 5.25 16.14 83.45 25 1,063 1.6 1,700
Rk53 421475 9747975 0.40 0.40 1.70 625 1,419
19 2.70 2.50 23.80 10.48 10.12 20.60 86.55 25 1,500 1.6 2,400
Rk54 421475 9748000 0.10 0.10 2.40 625 2,077
20 2.00 1.80 18.20 11.83 3.17 15.00 82.42 25 1,063 1.6 1,700
Rk55 421475 9748025 0.10 0.10 1.70 625 1,401
21 3.30 3.10 30.00 15.93 10.87 26.80 89.33 25 1,875 1.6 3,000
Rk56 421475 9748050 0.10 0.10 3.00 625 2,680
22 3.20 3.00 26.70 11.72 11.78 23.50 88.01 25 1,688 1.6 2,700
Rk57 421475 9748075 0.30 0.30 2.70 625 2,376
23 3.50 3.30 30.00 15.55 11.25 26.80 89.33 25 1,938 1.6 3,100
Rk58 421475 9748100 0.20 0.20 3.10 625 2,769
24 3.10 2.90 27.80 14.71 9.89 24.60 88.49 25 1,750 1.6 2,800
Rk59 421475 9748125 0.10 0.10 2.80 625 2,478
25 3.00 2.80 25.00 11.28 10.52 21.80 87.20 25 1,563 1.6 2,500
Rk60 421475 9748150 0.30 0.30 2.50 625 2,180
26 2.40 2.20 20.00 9.48 7.32 16.80 84.00 25 1,313 1.6 2,100
Rk61 421475 9748175 0.10 0.10 2.10 625 1,764
27 2.50 2.30 22.10 10.13 8.77 18.90 85.52 25 1,375 1.6 2,200
Rk62 421475 9748200 0.10 0.10 2.20 625 1,881
28 2.00 1.80 17.20 8.53 5.47 14.00 81.40 25 1,063 1.6 1,700
Rk66 421450 9748175 0.10 0.10 1.70 625 1,384
29 2.00 1.80 17.50 7.55 6.75 14.30 81.71 25 1,063 1.6 1,700
Rk67 421450 9748150 0.10 0.10 1.70 625 1,389
30 Rk68 421450 9748125 2.00 0.20 0.20 1.80 1.60 15.90 7.85 4.85 12.70 79.87 25 625 1,000 1.6 1,600 1,278
31 Rk69 421450 9748100 1.90 0.30 0.30 1.70 1.40 13.90 7.93 2.77 10.70 76.98 25 625 875 1.6 1,400 1,078
50
32 2.20 2.00 14.80 7.05 4.55 11.60 78.38 25 938 1.6 1,500
Rk70 421450 9748075 0.50 0.50 1.50 625 1,176
33 1.70 1.50 12.20 5.10 3.90 9.00 73.77 25 750 1.6 1,200
Rk71 421450 9748050 0.30 0.30 1.20 625 885
TOTAL 9.60 72.50 72,500 61,761
20,625 45,313

51
Tabel 3.2
Contoh Hasil Grade Analisis Ore Bauksit Blok A Bukit Rauk Di Daerah Mempawah Hulu

GRADE ANALYSIS WASHED ORE x GRADE ANALYSIS


TEST PIT KOORDINAT
NO (PROSENTASE KADAR)
ID Si02 Fe2O3 TiO2 LOI Al2O3
X Y SiO2(%) Fe2O3(%) TiO2(%) LOI(%) Al2O3(%)

1 22.00 0.49 23.65


Rk11 421550 9748225 13.66 40.20 229 370 8 397 675
2 22.00 0.49 23.53
Rk21 421550 9747975 14.38 39.60 255 391 9 418 703
3 22.50 0.50 21.68
Rk26 421526 9747975 17.52 37.80 209 268 6 258 450
4 21.20 0.41 26.24
Rk34 421525 9748175 12.95 39.20 299 490 9 607 907
5 22.10 0.41 23.99
Rk36 421525 9748225 12.10 41.40 259 473 9 514 886
6 22.42 0.50 21.25
Rk37 421525 9748250 12.43 43.40 266 480 11 455 929
7 20.21 0.50 23.11
Rk38 421500 9748250 17.38 38.80 193 225 6 257 431
8 19.16 0.49 24.54
Rk39 421500 9748225 12.21 43.60 136 213 5 273 484
9 22.13 0.49 20.87
Rk40 421500 9748200 12.31 44.20 265 476 11 449 951
10 21.98 0.45 21.27
Rk41 421500 9748175 11.90 44.40 280 517 11 501 1,045
11 22.10 0.50 28.19
Rk43 421500 9748125 12.21 37.00 276 499 11 636 835
12 22.38 0.49 26.04
Rk44 421500 9748100 12.09 39.00 213 395 9 459 688
52
13 21.30 0.45 24.15
Rk45 421500 9748075 11.80 42.30 290 524 11 594 1,040
14 22.00 0.49 23.82
Rk46 421500 9748050 14.09 39.60 416 649 14 703 1,168
15 22.13 0.49 20.83
Rk47 421500 9748025 12.95 43.60 382 653 14 615 1,286
16 21.98 0.45 24.88
Rk48 421500 9748000 12.09 40.60 215 390 8 442 721
17 22.13 0.65 27.24
Rk49 421500 9747975 13.38 36.60 190 314 9 386 519
18 21.23 0.60 29.17
Rk53 421475 9747975 11.80 37.20 167 301 9 414 528
19 22.34 0.65 24.49
Rk54 421475 9748000 12.12 40.40 252 464 14 509 839
20 20.10 0.50 25.69
Rk55 421475 9748025 11.31 42.40 158 282 7 360 594
21 19.32 0.45 26.93
Rk56 421475 9748050 10.10 43.20 271 518 12 722 1,158
22 20.31 0.50 23.58
Rk57 421475 9748075 11.21 44.40 266 483 12 560 1,055
23 20.21 0.50 23.08
Rk58 421475 9748100 11.21 45.00 310 560 14 639 1,246
24 22.21 0.41 29.36
Rk59 421475 9748125 12.42 35.60 308 550 10 727 882
25 19.31 0.50 22.90
Rk60 421475 9748150 9.89 47.40 216 421 11 499 1,033
26 19.97 0.45 27.08
Rk61 421475 9748175 10.10 42.40 178 352 8 478 748
27 19.31 0.50 28.46
Rk62 421475 9748200 9.13 42.60 172 363 9 535 801
28 19.16 0.49 28.55
Rk66 421450 9748175 12.00 39.80 166 265 7 395 551
29 20.98 0.49 25.64
Rk67 421450 9748150 11.09 41.80 154 291 7 356 581
30 21.10 0.45 28.16
Rk68 421450 9748125 14.09 36.20 180 270 6 360 463
53
31 19.84 0.50 25.08
Rk69 421450 9748100 15.38 39.20 166 214 5 270 422
32 19.16 0.49 23.11
Rk70 421450 9748075 16.24 41.00 191 225 6 272 482
33 19.31 0.49 29.39
Rk71 421450 9748050 13.81 37.00 122 171 4 260 328
TOTAL 417 694 16 826 1,347 7,651 13,057 301 15,320 25,432

54
Tabel 3.3
Contoh Perhitungan Cadangan Bauksit Blok B Bukit Rauk Di Daerah Mempawah Hulu

THICKNESS (m) BERAT SAMPLE / CONTO (Kg) UNWASH WASHED


TEST KOORDINAT GRID AREA VOL
TOTAL DEPTH WASHED ORE CF ORE ORE
NO PIT SG
OB ORE UNWASH 10 5 (%)
ID X Y DEPTH FROM TO TOTAL ( m) (m²) (m³) (TON) (TON)
mm mm

1 3.00 2.80 16.20 9.91 3.19 13.10 80.86 25 1,000 1.6 1,600
Rk3 421575 9748100 1.20 1.20 1.60 625 1,294
2 2.80 2.60 14.50 8.20 3.20 11.40 78.62 25 875 1.6 1,400
Rk4 421575 9748125 1.20 1.20 1.40 625 1,101
3 1.70 1.50 12.00 6.40 2.50 8.90 74.17 25 688 1.6 1,100
Rk77 421601 9748100 0.40 0.40 1.10 625 816
4 2.10 1.90 15.90 9.90 2.90 12.80 80.50 25 1,000 1.6 1,600
Rk78 421601 9748125 0.30 0.30 1.60 625 1,288
5 1.90 1.70 12.00 5.20 3.70 8.90 74.17 25 750 1.6 1,200
Rk79 421600 9748150 0.50 0.50 1.20 625 890
6 2.50 2.30 16.90 11.13 2.67 13.80 81.66 25 1,063 1.6 1,700
Rk85 421625 9748175 0.60 0.60 1.70 625 1,388
7 3.10 2.90 20.00 8.20 8.70 16.90 84.50 25 1,313 1.6 2,100
Rk86 421625 9748150 0.80 0.80 2.10 625 1,775
8 1.80 1.60 10.90 4.50 3.30 7.80 71.56 25 688 1.6 1,100
Rk87 421625 9748125 0.50 0.50 1.10 625 787
9 1.80 1.60 10.90 3.80 4.00 7.80 71.56 25 688 1.6 1,100
Rk88 421625 9748100 0.50 0.50 1.10 625 787
10 1.70 1.50 10.00 3.80 3.10 6.90 69.00 25 625 1.6 1,000
Rk89 421625 9748075 0.50 0.50 1.00 625 690
11 1.90 1.70 10.60 3.75 3.75 7.50 70.75 25 688 1.6 1,100
Rk96 421651 9748075 0.60 0.60 1.10 625 778
12 Rk97 421651 9748100 1.90 0.60 0.60 1.70 1.10 10.80 4.21 3.49 7.70 71.30 25 625 688 1.6 1,100 784

55
13 2.80 2.60 16.90 8.43 5.37 13.80 81.66 25 1,063 1.6 1,700
Rk98 421651 9748125 0.90 0.90 1.70 625 1,388
14 2.80 2.60 15.00 7.32 4.58 11.90 79.33 25 938 1.6 1,500
Rk99 421650 9748150 1.10 1.10 1.50 625 1,190
15 2.40 2.20 15.90 8.98 3.82 12.80 80.50 25 1,000 1.6 1,600
Rk100 421650 9748175 0.60 0.60 1.60 625 1,288
TOTAL 10.30 20.90 20,900 16,244
9,375 13,063

56
Tabel 3.4
Contoh Hasil Grade Analisis Ore Bauksit Blok B Bukit Rauk Di Daerah Mempawah Hulu

GRADE ANALYSIS WASHED ORE x GRADE ANALYSIS


TEST PIT KOORDINAT
NO (PROSENTASE KADAR)
ID Si02 Fe2O3 TiO2 LOI Al2O3
X Y SiO2(%) Fe2O3(%) TiO2(%) LOI(%) Al2O3(%)

1 0.49 27.79
Rk3 421575 9748100 15.81 18.21 37.70 205 236 6 360 488
2 0.49 21.39
Rk4 421575 9748125 16.38 19.34 42.40 180 213 5 235 467
3 0.50 27.19
Rk77 421601 9748100 18.80 20.31 33.20 153 166 4 222 271
4 0.41 22.80
Rk78 421601 9748125 17.38 21.41 38.00 224 276 5 294 489
5 0.41 23.01
Rk79 421600 9748150 16.38 22.00 38.20 146 196 4 205 340
6 0.50 27.66
Rk85 421625 9748175 15.81 19.83 36.20 219 275 7 384 503
7 0.50 22.18
Rk86 421625 9748150 14.81 20.11 42.40 263 357 9 394 752
8 0.49 20.87
Rk87 421625 9748125 12.23 21.41 45.00 96 169 4 164 354
9 0.49 23.12
Rk88 421625 9748100 16.81 19.98 39.60 132 157 4 182 312
10 0.45 20.83
Rk89 421625 9748075 17.81 20.11 40.80 123 139 3 144 282
11 0.50 23.87
Rk96 421651 9748075 15.66 19.97 40.00 122 155 4 186 311

57
12 0.49 25.19
Rk97 421651 9748100 14.81 20.31 39.20 116 159 4 198 307
13 0.45 20.61
Rk98 421651 9748125 16.52 21.42 41.00 229 297 6 286 569
14 0.49 18.75
Rk99 421650 9748150 17.66 22.10 41.00 210 263 6 223 488
15 0.49 16.89
Rk100 421650 9748175 19.80 22.42 40.40 255 289 6 218 520
TOTAL 247 309 7 342 595 2,674 3,346 77 3,693 6,453

58
Dari perhitungan cadangan tersebut sehingga akan didapatkan kesimpulan
sebagai berikut :
1. Blok A Bukit Rauk
Tabel 3.5
Hasil Akhir Perhitungan Cadangan Blok A

Nilai komposit CF 85,19 %


SiO2 12,39 %
Fe2O3 21,14 %
TiO2 0,49 %
LOI 24,81 %
Al2O3 41,18 %
Tebal ore bauksit rata-rata 2,20 meter
Tebal overburden rata-rata 0,29 meter
Total cadangan tercuci 61.761 ton
Total overburden 7.200 bcm
Luas daerah prospek 2,06 ha

2. Blok B Bukit Rauk


Tabel 3.6
Hasil Akhir Perhitungan Cadangan Blok B

Nilai komposit CF 77,72 %


SiO2 16,46 %
Fe2O3 20,60 %
TiO2 0,48 %
LOI 22,73 %
Al2O3 39,73 %
Tebal ore bauksit rata-rata 1,39 meter
Tebal overburden rata-rata 0,69 meter
Total cadangan tercuci 16.244 ton
Total overburden 7.225 bcm
Luas daerah prospek 0,94 ha

60
3.6. Perhitungan Cut Of Grade (COG) mineral yang memiliki kadar, kadar
rata rata dari suatu mineral yang masih menguntungkan
Dengan batas average COG ditentukan pada kadar Al2O3 41 %, maka
dapat dihitung absolute COG dapat dihitung dengan metode trial and eror dengan
rumus COG sebagai berikut :

Average COG =(𝒈𝟏 𝒙 𝑽𝟏) + (𝒈𝟐 𝒙 𝑽𝟐) + ⋯ … . +(𝒈𝒏 𝒙 𝑽𝒏)


𝑽𝟏 + 𝑽𝟐 + ⋯ . . +𝑽𝒏

Sehingga dari rumus tersebut dapat dihitung contoh data sebagai berikut :
Tabel 3.7
Contoh Perhitungan Cut Of Grade Al2O3

Daerah Kadar Al2O3 (%) Volume Daerah Vxg


Rk3 37.70 1000 37700
Rk4 42.40 875 37100
Rk77 33.20 687.5 22825
Rk78 38.00 1000 38000
Rk79 38.20 750 28650
Rk85 36.20 1062.5 38462.5
Rk86 42.40 1312.5 55650
Rk87 45.00 687.5 30937.5
Rk88 39.60 687.5 27225
Rk89 40.80 625 25500
Rk96 40.00 687.5 27500
Rk97 39.20 687.5 26950
Rk98 41.00 1062.5 43562.5
Rk99 41.00 937.5 38437.5
Rk100 40.40 1000 40400
Rk11 40.20 1250 50250
Rk21 39.60 1312.5 51975
Rk26 37.80 937.5 35437.5
Rk34 39.20 1687.5 66150
Rk36 41.40 1562.5 64687.5
Rk37 43.40 1562.5 67812.5
Rk38 38.80 875 33950
Rk39 43.60 875 38150
Rk40 44.20 1562.5 69062.5

61
Rk41 44.40 1687.5 74925
Rk43 37.00 1625 60125
Rk44 39.00 1312.5 51187.5
Rk45 42.30 1750 74025
Rk46 39.60 2062.5 81675
Rk47 43.60 2062.5 89925
Rk48 40.60 1312.5 53287.5
Rk49 36.60 1062.5 38887.5
Rk53 37.20 1062.5 39525
Rk54 40.40 1500 60600
Rk55 42.40 1062.5 45050
Rk56 43.20 1875 81000
Rk57 44.40 1687.5 74925
Rk58 45.00 1937.5 87187.5
Rk59 35.60 1750 62300
Rk60 47.40 1562.5 74062.5
Rk61 42.40 1312.5 55650
Rk62 42.60 1375 58575
Rk66 39.80 1062.5 42287.5
Rk67 41.80 1062.5 44412.5
Rk68 36.20 1000 36200
Rk69 39.20 875 34300
Rk70 41.00 937.5 38437.5
Rk71 37.00 750 27750
TOTAL 58375 2382675

Average COG Absolut COG


(∑ V x g ) / ( ∑ V ) 41 g 33.20

Dengan demikian absolute COG atau kadar Al2O3 terendah yang masih
menguntungkan apabila ditambang adalah pada grade 33,20 %. Sehingga daerah
lokasi prospek tambang dapat dibatasi, dimana disajikan dalam penggambaran
peta block system berdasarkan grade Al2O3 dari Blok A dan B Bukit Rauk di
daerah Mempawah Hulu.

62
Gambar 3.10. Peta Blok Sistem Berdasar Grade Al2O3 Bukit Rauk
64
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
1. Berdasarkan genetiknya endapan laterit bauksit terbentuk dari hasil
pelapukan intensif dari batuan asal batuan beku asam yang kaya akan
mineral felsic dan potash feldspar atau mineral silikat lainnya yang
mengalami proses laterisasi. Selain itu dari segi morfologi terbentuk
pada perbukitan yang landai sampai kemiringan sedang, hal ini
menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi.
2. Metode yang paling cocok digunakan dalam eksplorasi bauksit adalah
metode test pitting (sumur uji) karena ketebalan lapisan bauksit rata –
rata terletak dekat permukaan dan tidak lebih dari 20 meter, over
burden tipis, penyebarannya lateral, relatif menyeluruh dalam satu
bukit yang dikitari rawa.
3. Tahapan eksplorasi detail bauksit meliputi pemetaan geologi
permukaan, pengukuran grid, pengeplotan titik sumur uji, penggalian
sumur uji, sampling bauksit, deskripsi test pit log, preparasi conto, dan
pengolahan data hasil eksplorasi.
4. Eksplorasi detail bauksit dilakukan pada grid test pit 25 meter x 25
meter dengan dimensi lubang test pit 100 cm x 80 cm. Dimana
kenampakan penampang tegak sumur uji terdiri dari over burden, ore
bauksit dan zona lapuk lanjut (kong).
5. Dalam kegiatan sampling conto dilakukan pengukuran kedalaman
sumur uji, penentuan batas antara zona-zona pada bauksit, dan
melakukan pemerian bijih bauksit dilapangan (bauxite description).
6. Preparasi conto dilakukan untuk mendapatkan faktor konkresi (CF)
bauksit untuk perhitungan cadangan washed ore dan mendapatkan
conto homogen yang mewakili luas daerah tertentu sesuai data jarak
sumur uji.

66
7. Pada proses input data lapangan dilakukan perhitungan cadangan
untuk menghitung jumlah total ore tercuci (metric ton). Rumus
perhitungan ini adalah cadangan = luas pengaruh x CF x tebal ore x
berat jenis bauksit.

4.2. Saran
Perlu keakuratan dalam teknik penyamplingan bauksit dimana harus
dilakukan secara benar agar menghasilkan data kadar yang valid dan
representatif dari sebuah lokasi eksplorasi. Sehingga tidak terjadi kesalahan
data grade yang akan mempengaruhi rencana penambangan.

67
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (2010), Kegiatan Eksplorasi Bauksit Tahun 2010 Izin Usaha


Pertambangan PT Aneka Tambang Tbk Unit Geomin Job Site
Mempawah.

David Victor Mamengko, (2013), Potensi Bauksit Di Kabupaten Lingga


Provinsi Kepualauan Riau. Manokwari: Teknik Geologi Jurusan Teknik
FMIPA Unipa.

Eko Yoan Toreno dan Moetamar, (2011), Eksplorasi Bauksit Di Kabupaten


Sintang Provinsi Kalimantan Barat. Bandung: Pusat Sumber Daya
Geologi.

Eko Yoan Toreno dan Moetamar, (2012), Karakteristik Cebakan Laterit Bauksit
Di Daerah Sepiluk-Senaning Kabupaten Sintang Kalimantan Barat.
Bandung: Pusat Sumber Daya Geologi.

http://www.google.co.id/bauksit

http://www.wikipedia.org/bauksit

68