Anda di halaman 1dari 88

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah


SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya
penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna
memenuhi tugas Mata Kuliah Kesehatan Keselamatan Kerja
(K3), dengan judul “Keselamatan dan Kesehatan
Penggunaan Gerinda ”
Penggunaan Gerinda dalam keseharian merupakan
contoh dari penerapan konsep Kesehatan Keselamatan Kerja
(K3). Oleh sebab itu, Kepedulian tentang aturan-aturan K3
seharusnya diperhatikan guna mencegah Kecelakaan kerja yang
kemungkinan terjadi dalam penggunaan Gerinda.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit
hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa
kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan, dan bimbingan Orang tua, Dosen
pembimbing, dan Rekan – rekan sekalian sehingga kendala -
kendala yang kami hadapi dapat teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas
Ilmu tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja dalam
penggunaan Gerinda , yang kami sajikan berdasarkan
pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan
berita. Makalah ini disusun oleh kami dengan berbagai
rintangan. Baik itu yang datang dari diri kami sendiri maupun
yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan
terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang


ii
lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca
khususnya para mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta.
Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan
jauh dari sempurna.Untuk itu kepada dosen pembimbing kami
mohon masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami
di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran
dari para pembaca.

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................... i


KATA PENGANTAR ........................................................................ii
DAFTAR ISI ..................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR......................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................. ix
PENDAHULUAN .............................................................................. 1
LATAR BELAKANG .................................................................... 1
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA .......................... 3
A. Keselamatan Kerja.............................................................. 3
B. Kesehatan Kerja.................................................................. 3
C. Keselamatan dan Kesehatan Kerja ..................................... 4
D. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ......................... 5
ALAT KERJA ................................................................................ 6
A. Mesin Gerinda .................................................................... 6
B. Mata Gerinda .................................................................... 18
ANALISIS – ANALISIS TENTANG KESEHATAN DAN
KESELAMATAN KERJA DALAM PENGGUNAAN MESIN
GERINDA .................................................................................... 35
A. Penerapan 5R pada penggunaan Mesin Gerinda di
Laboratorium dan Bengkel ....................................................... 35
B. Analisis Ergonomi ............................................................ 42
C. Analisis Sumber Bahaya dan Penanggulangannya ........... 46
TEORI TENTANG K3................................................................. 51
A. Teori Domino ................................................................... 51

iv
K3 DI TEMPAT KERJA.............................................................. 54
A. Faktor Manusia ................................................................. 54
B. Faktor Lingkungan Kerja.................................................. 58
C. Faktor Mesin ..................................................................... 68
KAK DAN PAK DALAM PENGGUNAAN GERINDA............ 69
A. Kecelakaan Akibat Kerja dalam Penggunaan Gerinda ..... 69
B. Penyakit Akibat Kerja dalam Penggunaan Gerinda ......... 72
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 78

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Logo Keselamatan dan Kesehatan Kerja ................ 4


Gambar 2. Mesin Gerinda permukaan datar (Spindle) ............. 7
Gambar 3 Mesin Gerinda Silindris ........................................... 8
Gambar 4 Mesin Gerinda Alat Potong .................................... 10
Gambar 5. Gerinda Tangan ..................................................... 12
Gambar 6. Penggunaan Gerinda Tangan ................................ 13
Gambar 7. Gerinda Duduk ...................................................... 14
Gambar 8. Penggunaan Gerinda Duduk ................................. 15
Gambar 9. Gerinda Potong...................................................... 16
Gambar 10. Penggunaan Gerinda Potong ............................... 16
Gambar 11. Gerinda Botol ...................................................... 17
Gambar 12. Penggunaan Gerinda Botol ................................. 17
Gambar 13. Jenis – Jenis Mata Gerinda .................................. 18
Gambar 14. Spesifikasi pada Mata Gerinda............................ 19
Gambar 15. Penggunaan Grinding Disc ................................. 19
Gambar 16. Mata Gerinda Fleksibel ....................................... 20
Gambar 17. Penggunaan Flexible Disc ................................... 21
Gambar 18. Mata Gerinda Potong .......................................... 21
Gambar 19. Penggunaan Cutting Disc .................................... 22
Gambar 20. Steel Wire Brush ................................................. 22
Gambar 21. Penggunaan Mata Gerinda Sikat ......................... 23
Gambar 22. Flap Disc ............................................................. 24
vi
Gambar 24. Fibre Disc ............................................................ 25
Gambar 25. Penggunaan Fibre Disc ....................................... 26
Gambar 26. Diamond Wheel .................................................. 26
Gambar 27. Penggunaan Diamond Wheel .............................. 27
Gambar 28. Diamond Turbo Wheel ........................................ 27
Gambar 29. Penggunaan Diamond Turbo Wheel ................... 28
Gambar 30. Circular Saw ........................................................ 29
Gambar 31. Penggunaan Circular Saw ................................... 30
Gambar 32. Wheel Sponge ..................................................... 30
Gambar 33. Penggunaan Wheel Sponge ................................. 31
Gambar 34. Woven Nylon Wheel ........................................... 32
Gambar 35. Penggunaan Woven Nylon Wheel ...................... 32
Gambar 36. Polishing Pad & Kain Poles ................................ 33
Gambar 37. Penggunaan Polishhing Tools ............................. 34
Gambar 38. Konsep Basic 5R/5S ............................................ 35
Gambar 39. Timeline Domino Theory .................................... 53
Gambar 40. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) ............. 55
Gambar 41. Tanda Peringatan ................................................. 66
Gambar 42. Tanda Perintah .................................................... 66
Gambar 43. Tanda Prasyarat ................................................... 67
Gambar 44. Rambu Pertolongan ............................................. 67
Gambar 45. Pengaman pada Gerinda ...................................... 69
Gambar 46. Salah satu kecelakaan akibat penggunaan mesin
Gerinda .................................................................................... 70
vii
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Alat Pelindung Diri ................................................... 55
Tabel 2. Tingkat pencahayaan lingkungan kerja .................... 59
Tabel 3. Suhu dan kecepatan angin ......................................... 61
Tabel 4. Warna kombinasi ...................................................... 64
Tabel 5. Bentuk dasar rambu – rambu standar........................ 65

ix
1

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu pemikiran
dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik
jasmani maupun rohani. Dengan keselamatan dan kesehatan
kerja maka para pihak diharapkan dapat melakukan pekerjaan
dengan aman dan nyaman. Pekerjaan dikatakan aman jika
apapun yang dilakukan oleh pekerja tersebut, resiko yang
mungkin muncul dapat dihindari. Pekerjaan dikatakan nyaman
jika para pekerja yang bersangkutan dapat melakukan pekerjaan
dengan merasa nyaman (comfort), sehingga tidak mudah
merasakan bosan.

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu aspek


perlindungan tenaga kerja yang diatur dalam Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003. Dengan menerapkan teknologi
pengendalian keselamatan dan kesehatan kerja, diharapkan
tenaga kerja akan mencapai ketahanan fisik, daya kerja, dan
tingkat kesehatan yang tinggi. Disamping itu keselamatan dan
kesehatan kerja dapat diharapkan untuk menciptakan
kenyamanan kerja dan keselamatan kerja yang tinggi. Jadi,
unsur yang ada dalam kesehatan dan keselamatan kerja tidak
terpaku pada faktor fisik, tetapi juga mental, emosional dan
psikologi serta lingkungan sekitarnya.

Meskipun ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja


telah diatur sedemikian rupa, tetapi dalam praktiknya masih
banyak orang yang kurang sadar pada pentingnya Kesehatan dan
Keselamatan Kerja. Begitu banyak berita kecelakaan kerja yang
2

dapat kita saksikan. Masih banyak perusahaan yang tidak


memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja.

Demikian pula dengan penggunaan Gerinda sebagai alat kerja


yang tak luput dari pentingnya Kesehatan dan Keselamatan
kerja. Terlebih Gerinda terbuat dari benda yang tajam dan
berputar sangat cepat sehingga membutuhkan ketelitian dan
kehati-hatian yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, Dalam makalah
ini kami akan membahas mengenai penggunaan Gerinda dengan
memperhatikan Aspek dan prinsip Kesehatan dan Keselamatan
Kerja yang sesuai dan benar.
3

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


A. Keselamatan Kerja
Keselamatan berasal dari bahasa inggris yaitu kata “Safety”
dan biasanya selalu dikaitkan dengan keadaan terbebasnya
seseorang dari peristiwa celaka (accident) atau nyaris celaka
(near-miss). Jadi pada dasarnya keselamatan sebagai suatu
pendekatan keilmuan mauppun sebagai suatu pendekatan praktis
mempelajari faktor –faktor yang dapat menyebabkan terjadinya
kecelakaan dan berupaya untuk mengembangkan berbagai cara
guna memperkecil resiko terjadinya kecelakaan.
Definisi diatas dapat disimpulkan bahwa keselamatan
adalah suatu usaha untuk mencegah terjadinya kecelakaan
sehingga manusia dapat merasakan kondisi yang aman atau
selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian terutama
untuk para pekerja konstruksi. Agar kondisi ini tercapai di
tempat kerja maka diperlukan adanya keselamatan kerja

B. Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja berasal dari bahasa Inggris “Health”, yang
tidak hanya mengartikan tentang terbebasnya seseorang dari
penyakit, tetapi pengertian sehat juga mempunyai makna sehat
secara fisik, mental dan juga sehat secara sosial.
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 1948
menyebutkan bahwa pengertian kesehatan adalah sebagai suatu
keadaan fisik, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya
ketiadaan penyakit atau kelemahan
Menurut UU Pokok Kesehatan RI No.9 Tahun 1960, BAB
I pasal 2, Kesehatan kerja adalah suatu kondisi kesehatan yang
4

bertujuan agar masyarakat pekerja memperoleh derajat


kesehatan setinggi-tingginya, baik jasmani, rohani, maupun
sosial, dengan usaha pencegahan dan pengobatan terhadap
penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh
pekerjaan dan lingkungan kerja maupun penyakit umum.

C. Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Gambar 1. Logo Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Menurut Simanjuntak (1994), keselamatan kerja adalah


kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan
kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi
bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi
pekerja.
Menurut Mathis dan Jackson (2002), menyatakan bahwa
Keselamatan kerja adalah merujuk pada perlindungan terhadap
kesejahteraan fisik seseorang terhadap cidera yang terkait
dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi
umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.
Ditinjau dari sudut keilmuan, kesehatan dan keselamatan
kerja adalah ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha
5

mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit


akibat kerja di tempat kerja. (Lalu Husni, 2003: 138).
Pada intinya dapat diketahui bahwa Kesehatan dan
Keselamatan Kerja adalah suatu usaha dan upaya untuk
menciptakan perindungan dan keamanan diri dari resiko
kecelakaan dan bahaya baik fisik, mental maupun emosional
terhadap pekerja, perusahaan, masyarakat dan lingkungan

D. Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Secara umum, kecelakaan selalu diartikan sebagai kejadian
yang tidak dapat diduga. Kecelakaan kerja dapat terjadi karena
kondisi yang tidak membawa keselamatan kerja, atau perbuatan
yang tidak selamat. Kecelakaan kerja dapat didefinisikan
sebagai setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat
mengakibatkan kecelakaan. Berdasarkan definisi kecelakaan
kerja maka lahirlah keselamatan dan kesehatan kerja yang
mengatakan bahwa cara menanggulangi kecelakaan kerja
adalah dengan meniadakan unsur penyebab kecelakaan dan atau
mengadakan pengawasan yang ketat. (Silalahi, 1995)
Keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya mencari
dan mengungkapkan kelemahan yang memungkinkan
terjadinya kecelakaan. Fungsi ini dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu mengungkapkan sebab-akibat suatu kecelakaan dan
meneliti apakah pengendalian secara cermat dilakukan atau
tidak.
Menurut Mangkunegara (2002) bahwa tujuan dari
keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:
a. Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan
kesehatan kerja baik secara fisik, sosial, dan psikologis.
6

b. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan


sebaik-baiknya selektif mungkin.
c. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
d. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan gizi pegawai.
e. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan
partisipasi kerja.
f. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan
oleh lingkungan atau kondisi
g. Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam
bekerja

ALAT KERJA
A. Mesin Gerinda
Mesin Gerinda adalah suatu alat ekonomis yang berfungsi
untuk melakukan pengikisan, penajaman, pengasahan, atau
pemotongan pada sebuah bahan dasar benda atau objek kerja
yang memiliki permukaan kasar maupun permukaan yang halus
sehingga menghasilkan benda kerja berpermukaan halus dengan
ketelitian yang tinggi. Mesin gerinda dioperasikan
menggunakan mata gerinda, jadi mesin gerinda merupakan
salah satu jenis mesin perkakas dengan mata potong jamak,
dimana mata potongnya berjumlah sangat banyak yang
digunakan untuk mengasah/memotong benda kerja dengan
tujuan tertentu.
Sebuah fitur yang membedakan mesin gerinda ini dari
mesin pengasah lainnya yaitu mesin ini menggunakan roda
abrasif yang berputar untuk memotong. Setiap butir abrasif pada
7

permukaan roda memotong bagian kecil dari benda kerja


melalui mesin penggiling digunakan untuk memperoleh akurasi
yang tinggi bersamaan dengan permukaan akhir dari pada benda
kerja yang berkualitas tinggi.
Mesin Gerinda mempunyai banyak jenis dan berbagai
fungsi diantaranya sebagai berikut berdasarkan Hasil
Pengoperasiannya mesin gerinda dikelompokkan menjadi :
1. Surface Grinding Machine / Mesin Gerinda
Permukaan Datar

Gambar 2. Mesin Gerinda permukaan datar (Spindle)


Mesin gerinda jenis ini berfungsi untuk pembuatan
bentuk yang datar dan permukaan yang tidak rata pada
material logam (benda kerja) yang berada di bawah batu
gerinda yang berputar seperti yang terlihat pada gambar di
sebelah kiri. Hasil dari penggunaan mesin ini adalah bentuk
dan permukaan yang rata pada benda kerja.
Surface grinding machine bisa kita jumpai di ATMI pada
mesin Brand dan Magerle. Biasanya mesin gerinda jenis ini
digunakan untuk menggerinda permukaan dengan gerakan
8

horizontal secara bolak-balik. Benda kerja yang akan


digerinda, dicekam pada kotak meja magnetik, dan proses
penggerindaan dilakukan dengan gerakan maju mundur
secara horizontal secara otomatis maupun manual. Hasil
pengerjaan mesin gerinda permukaan antara lain : Parallel
block, Jangka Sorong, Bed Machine, dan lain-lain.

2. Cylindrical Grinding Machine / Mesin Gerinda


Silindris

Gambar 3 Mesin Gerinda Silindris


Hal yang membedakan mesin gerinda ini ialah benda kerja
yang dihasilkan berbentuk silinder. Hasil benda yang dapat
dikerjakan dari mesin ini antara lain : Shaft, Poros / As,
Spindle Mesin, Test Bar, Bearing, Collet, Sleeve, dan lain-
lain. Prinsip kerja mesin gerinda silindris adalah benda kerja
9

dicekam pada alat pencekam dapat


berupa Chuck, Collet, Face plat, atau lathe dog. Benda kerja
berputar berlawanan arah dengan putaran merinda. Pada
gambar di sebelah kiri ini menunjukkan bagian-bagian dari
mesin gerinda silindris.

Jenis mesin gerinda silindris dibagi menjadi 4 macam, yaitu:


 Mesin gerinda silindris luar
Mesin Gerinda silindris luar berfungsi untuk
menggerinda diameter luar benda kerja yang berbentuk
silindris dan tirus.
 Mesin gerinda silindris dalam
Sedangkan mesin gerinda silindris jenis ini berfungsi
untuk menggerinda bagian diameter dalam suatu benda
kerja yang berbentuk silindris dan tirus.
 Mesin gerinda silindris universal
Sesuai namanya, mesin ini mampu untuk menggerinda
bagian dalam maupun luar benda kerja dengan diameter
berbentuk silindris.

 Mesin gerinda silindris luar tanpa senter


Mesin Gerinda silindris jenis ini digunakan untuk
menggerinda diameter luar dalam jumlah yang
banyak/massal baik panjang maupun pendek.
10

3. Tool and Cutter Grinding Machine/ Mesin Gerinda


Alat Potong

Gambar 4 Mesin Gerinda Alat Potong


Mesin ini merupakan mesin gerinda yang digunakan
untuk pekerjaan presisi, yaitu menajamkan (mengasah)
berbagai jenis cutting tool seperti mata pahat bubut,
mata bor, dan lain-lain. Mesin ini juga digunakan
memperhalus (finishing) bentuk silinder, taper, internal,
dan surface dari benda kerja yang mengharuskan
ketelitian. Berdasarkan dua fungsi tadi mesin gerinda ini
terbagi menjadi dua
 Mesin gerinda untuk pengasahan perkakas potong
seperti pisau frais, reamer, dan sejenisnya.
Perlengkapan mesinnya untuk pengasahan dapat
diputar atau digeser sesuai dengan bentuk benda
kerja yang akan diasah. Saat diasah batu gerinda
11

digerakkan dengan tangan melalui handelnya secara


bolak-balik dan benda kerja diputar dengan tangan
melalui perlengkapan penjepitnya.
 Mesin gerinda untuk pengasahan perkakas potong
seperti pahat potong mesin bubut dan pengasahan
mata bor. Benda kerjanya didorong ke arah batu
gerinda yang berputar. Mesinnya tidak menggunakan
meja, yang diganti dengan perlengkapan lain yang
dapat digeser derajatnya sesuai dengan sudut-sudut
pada benda kerja yang akan diasah.
Sedangkan berdasarkan konstruksinya mesin gerinda dibagi
menjadi :
1. Gerinda Tangan
Mesin gerinda tangan merupakan mesin yang berfungsi
untuk menggerinda benda kerja.Awalnya mesin gerinda
hanya ditujukan untuk benda kerja berupa logam yang
keras seperti besi dan stainless steel.Menggerinda dapat
bertujuan untuk mengasah benda kerja seperti pisau dan
pahat, atau dapat juga bertujuan untuk membentuk benda
kerjaseperti merapikan hasil pemotongan, merapikan hasil
las, membentuk lengkungan pada benda kerja yang
bersudut, menyiapkan permukaan benda kerja untuk dilas,
dan lain-lain.
12

Gambar 5. Gerinda Tangan


Mesin Gerinda didesain untuk dapat
menghasilkan kecepatan sekitar 11.000 – 15.000 rpm.
Dengan kecepatan tersebut batu gerinda yang merupakan
komposisi aluminium oksida dengan kekasaran serta
kekerasan yang sesuai, dapat menggerus permukaan
logam sehingga menghasilkan bentuk yang diinginkan.
Dengan kecepatan tersebut juga, mesin gerinda juga
dapat digunakan untuk memotong benda logam dengan
menggunakan batu gerinda yang dikhususkan untuk
memotong.
Pada umumnya mesin gerinda tangan digunakan
untuk menggerinda atau memotong logam, tetapi dengan
menggunakan batu atau mata yang sesuai kita juga dapat
menggunakan mesin gerinda pada benda kerja lain
seperti kayu, beton, keramik, genteng, bata, batu alam,
kaca, dan lain-lain. Tetapi sebelum menggunakan mesin
gerinda tangan untuk benda kerja yang bukan logam,
perlu juga dipastikan agar kita menggunakannya secara
benar karena penggunaan mesin gerinda tangan untuk
13

benda kerja bukan logam umumnya memiliki resiko


yang lebih besar. Tetapi sebelum menggunakan mesin
gerinda tangan untuk benda kerja yangbukan logam,
perlu juga dipastikan agar kitamenggunakannya secara
benar, karenapenggunaan mesin gerinda tangan untuk
bendakerja bukan logam umumnya memiliki resiko yang
lebih besar.

Gambar 6. Penggunaan Gerinda Tangan


14

2. Gerinda Duduk

Gambar 7. Gerinda Duduk


Serupa dengan mesin gerinda tangan, hanya saja posisi
mesin gerinda dipasangkan pada dudukan.Untuk
melakukan penggerindaan, benda kerjadidekatkan dan
ditempelkan ke roda gerinda yang berputar hingga
permukaan benda kerja terkikis oleh roda gerinda.Roda
gerinda yang digunakan pada mesin gerinda duduk
berukuran lebih tebal dibandingkan roda gerinda pada
mesin gerinda tangan.Mesin gerinda duduk banyak
digunakan untuk mengasah pahat, mengikis benda kerja
maupun menghaluskan permukaan benda kerja setelah
proses pengelasan.

Fungsi utama gerinda duduk adalah untukmengasah


mata bor, tetapi dapat jugadigunakan untuk mengasah
pisau lainnya,seperti mengasah pisau dapur, golok,
15

kampak,arit, mata bajak, dan perkakas pisau


lainnya.Selain untuk mengasah, gerinda duduk dapatjuga
untuk membentuk atau membuat perkakas baru, seperti
membuat pisau khusus untukmeraut bambu, membuat
sukucadang mesin jahit, membuat obeng, atau alat bantu
lainnya untuk reparasi turbin dan mesin lainnya.

Gambar 8. Penggunaan Gerinda Duduk

3. Gerinda Potong
16

Gambar 9. Gerinda Potong


Mesin gerinda potong (drop saw) merupakan mesin
gerinda yang digunakan untuk memotong benda kerja dari
bahan pelat ataupun pipa. Roda gerinda yang digunakan
adalah piringan gerinda tipis yang diputarkan dengan
kecepatan tinggi.Mesin gerinda potong dapat memotong
benda kerja pelat ataupun pipa dari bahan baja dengan
cepat.

Gambar 10. Penggunaan Gerinda Potong

4. Gerinda Botol
17

Gambar 11. Gerinda Botol


Pada fungsinya, mesin gerinda botol sebenarnya hampir
sama dengan mesin gerinda tangan, yaitu untuk mengikis
permukaan logam. Namun sesuai dengan namanya,
bentuk yang dimiliki pada mesin gerinda ini adalah seperti
bentuk botol, dimana batu gerinda dipasangkan pada
ujung dari mesin gerinda tersebut.
Dari bentuk tersebut, menghasilkan fungsi baru, yaitu
dapat digunakan untuk menggerinda pada permukaan/area
yang berada di dalam lubang, dengan fungsi untuk
menghaluskan permukaan logam (lubang bagian dalam)
tersebut, hingga untuk memperbesar dari ukuran lubang
yang diproses (digerinda).

Gambar 12. Penggunaan Gerinda Botol


18

B. Mata Gerinda

Gambar 13. Jenis – Jenis Mata Gerinda


Mesin Gerinda adalah suatu alat ekonomis untuk
menghasilkan bahan dasar benda kerja dengan permukaan
kasar maupun permukaan halus untuk mendapatkan hasil
dengan ketelitian tinggi. Mesin Gerinda dalam
pengoperasiannya menggunakan Mata Gerinda atau Batu
Gerinda, dimana mata potongnya berjumlah banyak dan
digunakan untuk kemampuan dalam penggunaan untuk
mengasah maupun sebagai alat potong benda kerja.
Dari berbagai macam bentuk Mata Gerinda, berikut
merupakan jenis – jenis dari Mata Gerinda serta fungsi dari
mata gurinda tersebut :

a) Pada Pengerjaan Logam

1. Mata Gerinda Asah (Grinding Wheel )

Dari sekian banyak jenis kelengkapan untuk mesin


gerinda, produk ini (batu gerinda) merupakan produk
yang paling banyak dibutuhkan dan digunakan pada
proses pengerjaan logam. Batu gerinda atau biasa
disebut dengan “Grinding wheel” berfungsi untuk
mengikis permukaan logam, baik pada besi, baja,
19

maupun stainless steel. Spesifikasi jenis batu gerinda


biasanya tertera pada label di bagian atas produk.

Gambar 14. Spesifikasi pada Mata Gerinda

Gambar 15. Penggunaan Grinding Disc


20

2. Mata Gerinda Fleksibel (Flexible Disc)

Gambar 16. Mata Gerinda Fleksibel


Batu gerinda fleksibel, atau biasa disebut
dengan “Flexible disc” secara fisik memiliki bentuk
seperti batu gerinda asah, namun lebih tipis dengan
bagian permukaan memiliki pola/pattern. Batu gerinda
jenis ini biasanya digunakan untuk mengikis
permukaan logam khusus pada area-area yang
terbatas/sempit.
Fungsi lain dari batu gerinda fleksibel adalah
dapat digunakan untuk memotong logam, namun
kelemahan yang dihasikan dari fungsi ini, adalah area
yang terpotong akan lebih banyak/lebar daripada
dengan menggunakan batu gerinda potong.
21

Gambar 17. Penggunaan Flexible Disc

3. Mata Gerinda Potong (Cutting Disc)

Gambar 18. Mata Gerinda Potong


Batu gerinda potong atau disebut
dengan “Cutting wheel” memiliki bentuk paling
berbeda dibandingkan dengan batu gerinda lainnya.
Batu gerinda ini memiliki bentuk yang datar, dengan
ketebalan yang dimiliki pada varian produknya mulai
dari 3 mm hingga 8 mm. Sesuai dengan fungsinya, batu
gerinda potong hanya berfungsi untuk melakukan
22

pemotongan pada media logam, baik untuk besi


mildsteel, baja, hingga stainless steel, dengan tentunya
menyesuaikan spesifikasi pada produk tersebut.

Gambar 19. Penggunaan Cutting Disc

4. Mata Gerinda Sikat ( Steel Wire Brush )

Gambar 20. Steel Wire Brush


Berdasarkan jenisnya produk sikat gerinda (Steel
Wheel Brush) diciptakan berbeda menjadi 2
bentuk, yaitu rata (Wheel Wire Brush), dan berbentuk
mangkuk (Cup Wire Brush). Fungsi dari sikat gerinda
23

adalah untuk membersihkan bagian-bagian permukaan


logam dari adanya kotoran, seperti karat, kerak, serta
akibat proses oksidasi pada permukaan logam. Fungsi
lain yang dapat dihasilkan dari sikat gerinda adalah
untuk mengelupas lapisan permukaan kulit luar kayu,
dengan tujuan untuk menghilangkan lapisan tersebut,
untuk selanjutnya dilakukan pemrosesan lebih lanjut
pada kayu yang telah dihilangkan kulitnya tersebut.

Gambar 21. Penggunaan Mata Gerinda Sikat

5. Mata Gerinda Ampelas Susun ( Flap Disc )


24

Gambar 22. Flap Disc


“Flap disc”, atau biasa disebut dengan ampelas
gerinda susun, merupakan alat yang berfungsi untuk
mengikis permukaan, baik pada permukaan logam
maupun pada permukaan kayu. Proses pengikisan
permukaan dengan menggunakan ampelas gerinda
susun bertujuan untuk
menghasilkan finishing permukaan yang rata dan
halus/mengkilap. Selain itu penggunaan ampelas
gerinda susun juga dapat menghilangkan bintik-bintik
logam yang menempel keras pada permukaan, tanpa
membuat hasil pengikisan yang banyak pada
permukaan logam tersebut.
Sedangkan untuk permukaan kayu, ampelas
gerinda susun digunakan untuk menghilangkan lapisan
luar kayu. Seperti untuk menghilangkan cat pada
permukaan kayu, mengikis kayu, menghaluskan
lapisan luar dari kayu, dsb.

Gambar 23. Flap Disc


25

6. Mata Gerinda Ampelas Datar (Fibre Disc)

Gambar 24. Fibre Disc


Seperti halnya ampelas gerinda susun/flap disc,
ampelas gerinda datar atau biasa disebut dengan fibre
disc juga digunakan untuk proses finishing pada
permukaan kayu dan logam. Pada aplikasinya,
penggunaan fibre disc harus dipasangkan bersamaan
denganrubber pad agar memiliki daya tekan.
Perbedaan antara penggunaan Ampelas gerinda
datar (fibre disc) dengan ampelas gerinda susun (flap
disc) adalah pada hasil pengampelasannya, dimana flap
disc dapat memberikan hasil pengampelasan yang lebih
dalam, daripada hasil pengampelassan pada fibre disc,
karena dari itu penggunaan flap disc lebih banyak
digunakan pada pekerjaan logam yang bersifat restorasi
(perbaikan), daripada fibre disc yang kebanyakan
digunakan untuk proses finishing
26

Gambar 25. Penggunaan Fibre Disc

b) Pada Pengerjaan Bangunan

1. Mata Gerinda Potong Keramik ( Diamond Wheel )

Gambar 26. Diamond Wheel


Sesuai dengan namanya, pisau potong
keramik/diamond wheel memiliki fungsi yaitu untuk
memotong keramik. Berdasarkan jenisnya, pisau
potong keramik memiliki 2 jenis, yaitu jenis basah,
27

dan jenis kering. Pada pisau keramik dengan jenis


basah, proses pemotongan harus menggunakan air
sebagai media pendinginan dari mata pisau tersebut,
sedangkan pada jenis kering, tidak memerlukan air.

Gambar 27. Penggunaan Diamond Wheel

2. Mata Gerinda Tembok ( Diamond Turbo Wheel )

Gambar 28. Diamond Turbo Wheel


Berbeda dengan pisau potong keramik, Diamond
turbo wheel atau pisau gerinda tembok tidak
berfungsi sebagai pemotong, melainkan sebagai
28

pengikis pada bidang permukaan semen


(cor/concrete) , tembok, dan marble/granit.
Penggunaan gerinda tembok bertujuan untuk
menghasilkan permukaan yang rata (pada media
tembok/cor), dan untuk meratakan serta mengikis sisi
dari granit untuk menciptakan lekukan sesuai pola
yang diinginkan.

Gambar 29. Penggunaan Diamond Turbo Wheel

c) Pada Pengerjaan Kayu ( Wood Working )

1. Pisau Potong Kayu ( Circular Saw )


29

Gambar 30. Circular Saw


Sesuai dengan namanya, pisau potong kayu atau
biasa dikenal dengan nama circular saw memiliki
fungsi untuk memotong kayu. Pada varian
produknya, circular saw diciptakan dengan berbagai
jumlah mata gerigi, atau yang disebut teeth. Perbedaan
pada pembuatan tipe circular saw tersebut bertujuan
untuk menghasilkan kecepatan dan finishing hasil
pemotongan yang berbeda, sebagai contoh; jika Anda
menggunakakan circular saw dengan jumlah mata
gerigi banyak, maka waktu pemotongan akan lama,
namun hasil potongan akan labih rapi. Hal ini
berlawanan sebaliknya dengan circular saw yang
diciptakan dengan mata gerigi yang lebih sedikit.
30

Gambar 31. Penggunaan Circular Saw


Selain itu bahan/material terbaik yang biasa
digunakan pada produk circular saw adalah dari
TCT (Tungsten Carbide Tipped), dimana keunggulan
dari material ini adalah berkurangnya kerusakan/aus
apabila mata gerinda ini sewaktu memotong kayu
terkena atau berbenturan dengan logam.

d) Pada Finishing dan Polishing

1. Gerinda Asah Spons ( Grinding Wheel Sponge )

Gambar 32. Wheel Sponge


Penggunaan gerinda asah spons (Grinding wheel
Sponge), berfungsi untuk menghaluskan dan
mengkilapkan permukaan pada batu marmer/granit.
31

Proses pengerjaan pada instalasi marmer/granit, selalu


diiringi dengan proses pemotongan dan pengikisan,
sehingga hasil dari proses tersebut mengakibatkan
adanya permukaan yang tidak kembali mengkilap pada
marmer/granit.

Gambar 33. Penggunaan Wheel Sponge


Dengan menggunakan gerinda asah spons
(Grinding wheel Sponge), dapat membuat permukaan
marmer/granit menjadi mengkilap, sehingga dapat
menghilangkan efek samping dari proses pengerjaan
yang telah dilakukan tadi. Cara penggunaan gerinda
asah spons (Grinding wheel Sponge) adalah dengan
melakukan pemolesan secara langsung kepada
media/permukaan dari marmer/granit yang mengalami
buram pada permukaannya.

2. Gerinda Asah Woven ( Grinding Woven Nylon )


32

Gambar 34. Woven Nylon Wheel


Seperti halnya dengan gerinda asah spons,
gerinda asah woven (Non woven nylon wheel) juga
berfungsi untuk menghaluskan dan mengkilapkan,
namun perbedaan terbesarnya disini adalah pada
medianya. Jika gerinda asah spons untuk material
bebatuan, gerinda asah woven berfungsi untuk
mengikis serta mengkilapkan pada permukaan logam,
khususnya pada Stainless steel dan Alumunium.

Gambar 35. Penggunaan Woven Nylon Wheel


Penggunan Gerinda asah woven pada pengerjaan
logam berfungsi sebagai proses finishing, bukan
sebagai polishing/pengkilap karena pada proses
33

pengerjaannya sedikit mengikis dari permukaan logam


tersebut, walaupun sangat tipis.

3. Polishing Padn & Kain Poles (Wool Polishing Bonnet)

Gambar 36. Polishing Pad & Kain Poles

Salah satu produk yang sangat dibutuhkan untuk


proses finishing adalah kain poles, atau biasa disebut
dengan “Polishing wool”. Produk ini, berfungsi
sebagai pengkilap dari tampilan produk yang
menggunakan cat clear coat. “Polishing wool” bekerja
dengan cara mengoleskan cairan poles/wax datau
cairan penghilang goresan pada cat mobil dengan
selanjutnya menggerakkan secara lembut produk
pengkilap dan perawatan mobil tersebut.

Penggunaan “Polishing wool” berpasangan


dengan Polishing pad, agar menghasilkan daya tekan
pemolesan yang baik, lembut agar hasil yang diberikan
maksimal. Cara penggunaan polishing pad, adalah
dengan memasukkan kain polishing ke dalam rubber
pad, dan selanjutnya mesin bor dapat disetting
34

kecepatannya agar menghasilkan permukaan yang rata.


Selain itu, penggunaan produk cairan kimia adiktif
untuk kendaraan juga wajib dilakukan agar
menghasilkan kilau mobil maksimal

Gambar 37. Penggunaan Polishhing Tools


35

ANALISIS – ANALISIS TENTANG KESEHATAN DAN


KESELAMATAN KERJA DALAM PENGGUNAAN
MESIN GERINDA
A. Penerapan 5R pada penggunaan Mesin Gerinda di
Laboratorium dan Bengkel

Gambar 38. Konsep Basic 5R/5S


Setiap perusahaan pasti mengharapkan suatu lingkungan
kerja yang selalu bersih, rapi, dan masing – masing orang
mempunyai konsistensi dan disiplin diri, sehingga mampu
mendukung terciptanya tingkat efisiensi dan produktifitas yang
tinggi di perusahaan. Namun pada kenyataannya kondisi ini sulit
terjadi di setiap perusahaan. Banyak perusahaan yang seringkali
mengeluh begitu sulitnya dan banyak membuang waktu hanya
untuk mencari data dan atau sarana yang lupa penempatannya.
Tidak hanya itu, seringkali kita kurang nyaman dengan kondisi
berkas kerja yang berantakan dan tidak jarang memicu kondisi
emosional kita.
36

Beberapa permasalahan tersebut diatas dapat kita atasi


dengan melakukan penerapan program 5R (Ringkas, Rapi,
Resik, Rawat dan Rajin), yang merupakan adaptasi program 5S
(Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) yang dikembangkan
di Jepang dan sudah digunakan oleh banyak negara di seluruh
penjuru dunia. Ini merupakan suatu metode sederhana untuk
melakukan penataan dan pembersihan tempat kerja yang
dikembangkan dan diterapkan di Jepang.

a) Resik (Seiso)
Prinsip RESIK adalah membersihkan tempat/ lingkungan
kerja, mesin/ peralatan dan barang-barang agar tidak terdapat
debu dan kotoran. Yang perlu diperhatikan dalam
pelaksanaan Resik yaitu
1) Tersedianya alat pembersih secara memadai sesuai
dengan obyeknya.
2) Standard ”bersih” yang harus dipahami secara seragam
oleh semua pekerja.
3) Pemberian sangsi yang tegas bagi yang tidak
melaksanakannya.

Langkah untuk melakukan pelaksanaan Resik yaitu sebagai


berikut:

1) Mensosialisasikan budaya bersih berkilau dan tanggung


jawab masing-masing.
2) Setiap orang bertangung jawab menjaga dan melaksanakan
kebersihan.
3) Membersihkan semua sudut ruangan, bahkan yang tidak
diperhatikan orang sekalipun.
37

4) Membersihkan Mesin Gerinda dan alat lain yang ada


dibengkel, jangan sampai ada debu dan kotoran seperti
serbuk besi yang tertinggal di Gerinda
5) Melakukan pemeriksaan dan mengoreksi kebersihan.
6) Membuat pembersihan dan pemeriksaan lebih mudah

b) Rapi (Seiton)
Prinsip RAPI adalah menyimpan barang sesuai dengan
tempatnya. Kerapian adalah hal mengenai sebagaimana cepat
kita meletakkan barang dan mendapatkannya kembali pada
saat diperlukan dengan mudah.
Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan Kerapian yaitu :
1) Mengelompokan Mesin Gerinda sesuai dengan jenisnya,
begitupun Alat dan bahan penunjang lain yang ada di
bengkel atau Laboratorium, kemudian meyimpan dalam
tempat khusus atau rak.
2) Meletakkan barang jangan terlalu jauh. Utamakan skala
prioritas dan fungsional.
3) Diarsipkan dalam suatu Inventaris bengkel maupun
Laboratorium, dan disertakan tanda penempatan atau
keterangan penempatan untuk mempermudah pencarian
4) Membuat papan pengumuman diletakan yang rapi dan
strategis

Dalam pelaksanaanya kerapian dapat diperoleh dengan berbagai


macam cara antara lain adalah sebagai berikut:

1) Menentukan dulu tempat menyimpan barang,


Setelah memilah barang yang dibutuhkan dan yang tidak
dibutuhkan dibengkel, dapat dilakukukan penindakan untuk
38

menyingkirkan barang yang sudah tidak dibutuhkan dan


menata ulang barang yang masih dibutuhkan dalam
berbagai kelompok sesuai dengan jenis dan fungsi alat
tersebut dengan menyesuaikan kondisi luas bengkel atau
Laboratorium. Dalam hal ini, Gerinda tangan
dikelompokkan dengan mesin-mesin kecil dan penggunaan
menggunakan tangan seperti bor tangan, dan lain
sebagainya. Kemudian untuk jenis Gerinda Duduk dan jenis
Gerinda yang dalam ukuran besar lain dapat dikelompokkan
dengan jenis mesin-mesin besar seperti Mesin Frais, Mesin
bubut, dan sebagainya.
2) Menentukan bagaimana cara menyimpan barang
Cara menyimpan barang dibengkel maupun laboratorium
harus disertai dengan pemberian identitas/spesifikasi
barang.Penulisan Identitas harus jelas, sehingga dari jarak 1
meter sudah dapat terbaca guna meminimalisir dalam waktu
pencarian barang. Dalam hal ini, mesin Gerinda setelah
dikelompokkan sesuai dengan ukuran dan jenisnya,
kemudian diberikan Identitas seperti nama jenis Gerinda
ditempat pengelompokkan.
3) Menaati aturan penyimpanan
Untuk menjaga kerapian barang dan bengkel maupun
laboratorium, perlu diperhatikan ketika setelah selesai
penggunaan barang misalnya Gerinda harus diletakkan
ditempat yang sesuai. Hal ini perlu kesadaran pada diri
semua pengguna bengkel atau laboratrium.

c) Ringkas (Seiri)
Prinsip RINGKAS adalah memisahkan segala sesuatu yang
diperlukan dan menyingkirkan yang tidak diperlukan dari
39

tempat kerja dalam hal ini yaitu bengkel atau laboratorium.


Dengan begitu dapat diketahui barang mana yang tidak
digunakan kemudian disingkirkan dan mana yang akan
disimpan. Serta bagaimana cara menyimpan yang baik
sehingga mudah diakses oleh pengguna.
Langkah yang dapat dilakukan untuk proses meringkas mesin
Gerinda yaitu:
1) Memeriksa keadaan fisik (bagian luar) dari mesin
gerinda
2) Memeriksa kondisi mesin (bagian dalam) dari mesin
gerinda yang ada dibengkel atau laboratorium
3) Menetapkan kategori gerinda yang akan tetap
digunakan, dan yang akan disingkirkan dari bengkel atau
laboratorium
4) Memberi label atau ciri identitas untuk gerinda yang
akan tetap digunakan dan yang sudah tidak digunakan
5) Menyiapkan tempat untuk menyimpan/ membuang
gerinda sesuai dengan keadaan dan label yang telah
diberikan
6) Memindahkan gerinda yang masih dalam keadaan baik
dan masih dapat digunakan kedalam tempat yang telah
disediakan. Serta menempatkan gerinda yang sudah
tidak akan digunkan kedalam tempat yang telah
ditentukan.

d) Rawat (Seiketsu)
Prinsip RAWATt adalah mempertahankan hasil yang telash
dicapai pada 3R sebelumnya dengan membakukannya
(standardisasi). Penerapan prinsip Rawat sangat diharuskan
40

guna menjaga keadaan bengkel atau laboratorium yang


teratur, rapi, dan bersih.
Langkah dalam melakukan penerapan perawatan mesin
gerinda yaitu :
1) Pemberian label identitas yang sesuai dengan jenis
gerinda dan alat lain yang ada dibengkel atau
laboratorium. Penulisan label identitas harus jelas
2) Penempatan dan penataan harus jelas dan sesuai agar
mudah ditemukan
3) Membiasakan mengembalikan alat ketempat semula
atau sesuai dengan tempat yang telah disediakan setelah
selesai penggunaan. Ketika mengembalikan alat (dalam
hal ini mesin gerinda) harus dalam keadaan yang bersih,
tanpa ada bekas kotoran maupun serbuk besi yang
tersisa.
4) Membuat jadwal petugas pelaksana 5R atau minimal
membuat jadwal piket kebersihan bengkel atau
laboratorium.
5) Menetapkan standar kebersihan, penataan, dan
penempatan mesin gerinda dan alat bengkel atau
laboratorium lainnya.

e) Rajin (Shitsuke)
Prinsip RAJIN adalah terciptanya kebiasaan pribadi
Mahasiswa untuk menjaga dan meningkatkan apa yang sudah
dicapai. Rajin di tempat kerja berarti pengembangan
kebiasaan positif di tempat kerja. Apa yang sudah baik harus
selalu dalam keadaan prima setiap saat. Prinsip Rajin di
tempat kerja adalah “LAKUKAN APA YANG HARUS
41

DILAKUKAN DAN JANGAN MELAKUKAN APA


YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN”
Untuk membiasakan Rajin terkhusus dalam hal kerja praktek
di bengkel atau laboratorium, yang dapat dilakukan yaitu :
1) Membiasakan membersihkan bersama
Dalam kebersamaan dapat membuat kerja lebih cepat
dan teratur, misalnya ada yang bertugas merapikan alat
(dalam hal ini gerinda) ketempat yang sudah disediakan,
ada yang bertugas membersihkan bekas serbuk-serbuk
besi dari hasil penggerindaan, mengumpulkan hasil dari
penggunaan gerinda, mengumpulkan kembali bahan sisa
praktek (Plat, besi, dan sebagainya) untuk dipakai dalam
praktek selanjutnya, dan tugas lainnya yang bertujuan
untuk membersihkan dan merapikan bengkel atau
laboratorium.
2) Menanamkan Tanggung jawab individu
Selain bekerja sama, tanggung jawab individu juga tidak
boleh dilupakan, yaitu tanggung jawab untuk menjaga
alat dengan pemakaian yang sesuai dan menjaga
lingkungan sekitar yaitu bengkel atau laboratorium agar
tetap terjaga bersih dan kerapiannya.
3) Melatih cepat tanggap darurat
Respon cepat tanggap sangatlah diperlukan dalam hal
kerja praktek dibengkel atau dilaboratorium, yang
bertujuan untuk melatih jika kedepan akan berhadapan
langsung dengan dunia kerja. Cepat tanggap darurat
tidak hanya tentang dalam urusan mengerjakan sesuatu
proyek, juga tentang cepat dalam menangani jika terjadi
kecelakaan kerja, maka harus cepat dalam memberikan
penanganan pertolongan pertama. Contohnya jika terjadi
42

kecelakaan kerja yaitu tangan terkena mesin Gerinda


yang berputar dan mengakibatkan luka sobek, maka
yang dilakukan bukanlah panik, namun harus tetap
tenang dan memberikan pertolongan pertama.
4) Menerapkan manajemen ruangan umum
5) Mematuhi segala peraturan bengkel atau laboratorium
6) Menerapkan K3 (Keselamatan Kesehatan Kerja) pada
saat praktek
7) Mengintensifkan komunikasi

B. Analisis Ergonomi
Soedirman dan Suma’mur (2014: 141) menjelaskan
bahwa Ergonomi berasal dari kata-kata dalam bahasa
yunani yaitu Ergos yang berarti kerja dan Nomos yang
berarti aturan atau hukum alam. Sehingga, ergonomi berarti
aturan kerja atau hokum kerja alami, yaitu aturan dalam
bekerja agar mengeluarkan tenaga sekecil-kecilnya untuk
mendapatkan hasil sebesar-besarnya. Menurut Suma’mur,
ergonomi adalah penerapan ilmu-ilmu biologis bersama-
sama ilmu teknik dan teknologi untuk mencapai
penyesuaian satu sama lain secara optimal dari manusia
terhadap pekerjaannya, yang manfaatnya diukur dengan
efisiensi, produktivitas dan kesejahteraan tenaga kerja.
Definisi teknis ergonomi sebagai faktor-faktor manusia
menurut International Ergonomics Association adalah
disiplin ilmu mengenai pengertian dan interaksi antara
manusia dan elemen-elemen dalam suatu sistem, dan
profesi yang menerapkan teori, prinsip, data, dan metode
untuk mendesain dalam rangka mengoptimalisasi manusia
43

dan hasil kerja seluruh sistem. Ergonomi adalah ilmu untuk


membuat sesuatu efisien, sehingga ergonomi menjadikan
sesuatu lebih nyaman dan efisien.
Ergonomi pada hakikatknya berarti ilmu tentang kerja,
yaitu bagaimana pekerjaan dilakukan dan bagaimana
bekerja lebih baik, sehingga ergonomi sangat berguna
dalam desain pelayanan atau proses. Dengan demikian,
ergonomi membantu menentukan bagaimana digunakan,
bagaimana memenuhi kebutuhan, dan membuat nyaman
serta efisien. Ergonomi berbicara mengenai desain system
terutama sistem kerja agar sesuai dengan atribut atau
karakteristik manusia (to fit the job to the man). Nyaman
adalah salah satu dari aspek-aspek keefektifan desain paling
besar. Nyaman dalam human-machine interface dan aspek-
aspek mental dari produk atau pelayanan adalah mengenai
desain ergonomis utama yang muncul pertama. Lebih
ergonomis berarti kualitas lebih baik yang berarti juga lebih
nyaman melakukan pekerjaan atau lebih nyaman denagn
nilai dari sesuatu. Efisien adalah membuat sesuatu mudah
dikerjakan/ dilakukan atau mengurangi upaya untuk
melaksanakan sesuatu. Namun, ada beberapa bentuk
efisiensi yaitu:
a) Mengurangi kekuatan yang diperlukan, sehingga
sesuatu kegiatan atau proses pelaksanaan
menggunakan tenaga yang lebih sedikit secara fisik
b) Mengurangi jumlah langkah/ tahapan dalam suatu
usaha agar lebih cepat untuk menyelesaikannya
c) Mengurangi jumlah suku cadang dalam perbaikan
sesuatu mesin/ alat.
44

d) Mengurangi jumlah latihan yang diperlukan,


misalnya menjadikan tenaga kerja lebih intuitif dan
menjadikan lebih banyak orang yang berkualitas
melaksanakan tugas tanpa latihan.
Efisiensi dapat ditemui hampir disetiap tempat. Apabila
sesuatu lebih mudah dikerjakan, maka seseorang akan
menyukainya. Apabila seseorang melakukan lagi berarti
lebih berguna. Dengan demikian, penyediaan suatu sarana
ergonomis adalah ukuran sebenarnya dari kualitas
perancangan. Ergonomi adalah perencanaan kerja yang
tepat mengenai manusia, cara, dan alat kerja. Jadi, ergonomi
pada hakikatnya “how to fit the job to the man” dan “how
to fit the man to the job”. Penerapan ergonomi dalam kerja
dapat mengurangi beban kerja. Beban kerja dapat diukur
dengan evaluasi sisiologi, evaluasi psikologi, atau cara-cara
tidak langsung. Selanjutnya, dianjurkan untuk
memodifikasi beban kerja dan beban kerja tambahan yang
sesuai dengan kapasitas/ kemampuan kerja, dengan tujuan
untuk menjamin kesehatan tenaga kerja dan peningkatan
produktivitas.
Menurut Tarwaka, dkk (2004: 7) Secara umum tujuan
dari penerapan ergonomi adalah:
1) Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental
melalui upaya pencegahan cedera dan penyakit
akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan
mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
2) Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui
peningkatan kualitas kontak sosial,mengelola dan
mengkoordinir kerja secara tepat guna dan
45

meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun


waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.
3) Menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai
aspek yaitu aspek teknism ekonomis, antropologis,
dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan
sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup
yang tinggi.

Adapun manfaat penerapan ergonomik adalah mencegah


cidera, meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan kualitas
kerja, serta mengurangi kelelahan dan ketidaknyamanan
dalam bekerja. Upaya penerapanya dapat melalui
penyesuaian ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh
agar tidak melelahkan dan pengaturan suhu, cahaya,
kelembaban, agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia.
Dalam buku buatan International Labour Office (ILO)
(2010) disana terdapat penjelaskan
bahwa terdapat 46 checkpoint/checklist yang dikelompokan
menjadi 8 sub bagian. Delapan sub bagian itu meliputi:
1. Penyimpanan dan Penanganan Bahan
2. Desain Tempat Kerja
3. Keamanan Mesin
4. Pengendalian Bahan Berbahaya
5. Penerangan
6. Fasilitas dan Pelayanan Kesejahteraan
7. Ruangan Tempat Kerja
8. Tata Kerja dan Organisasi
Adapun tujuan dalam penerapan ergonomi ini adalah :
46

1. Angka cedera dan kesakitan dalam melakukan


pekerjaan tidak ada/ terkurangi
2. Biaya terhadap penanganan kecelakaan atau kesakitan
menjadi berkurang
3. Kunjungan untuk berobat bisa berkurang
4. Tingkat absentisme/ketidak hadiran bisa berkurang
5. Produktivitas/Kualitas dan keselamatan kerja
meningkat
6. Pekerja merasa nyaman dalam bekerja
7. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental.
8. Meningkatkan kesejahteraan sosial.
9. Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek
teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap
sistem kerja.

C. Analisis Sumber Bahaya dan Penanggulangannya


1) Hazard
Merupakan suatu kondisi/ potensi yang dapat
mengakibatkan kerugian baik terhadap manusia, alat kerja,
maupun lingkungan. Hazard (bahaya) dapat didefinisikan
sebagai potensi yang dapat menyebabkan kerusakan,
meliputi: material, kegiatan dan proses yang terjadi saat
melakukan kerja (Hughes and Faret, 2007: 3 dalam HSP-
Team 2011).

Berdasarkan sumber bahaya, Hazard dibagi menjadi dua,


yaitu : Occupational Health Hazard (OHH) dan
Occupational Safety Hazard (OSH).
a. Occupational Health Hazard (OHH)
47

Merupakan potensi bahaya yang terjadi dilingkungan


kerja dan mengakibatkan terjadinya ganggunan
kesehatan/ Penyakit Akibat Kerja (PAK). Kelompok
OHH terdiri dari :
 Physical Hazard, merupakan sumber bahaya yang
berbentuk fisik dan dapat terlihat oleh mata manusia.
Contoh dalam penggunaan mesin Gerinda yaitu :
- Bahaya Jatuh dan tertimpa mesin gerinda
- Bahaya Cahaya dari penggerindaan
- Terkena Arus Listrik yang berbahaya
- Dan lain sebagainya
 Chemical Hazard, merupakan sumber bahaya yang
berasal dari bahan kimia. Contoh Hazard ini dalam
penggunaan mesin gerinda yaitu Serbuk besi hasil
dari penggerindaan yang bisa menjadi debu diudara
(airbon dust) yang merupakan suspensi partikel
benda padat diudara, yang dapat mengakibatkan
masuk menembus paru-paru dalam jangka waktu
tertentu.
 Biological Hazard, merupakan sumber bahaya yang
berasar dari makhluk hidup (mikroorganisme) di
lingkungan kerja yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan. Contoh Hazard ini dalam
penggunaan mesin gerinda yaitu ketika tertusuk
bagian mata gerinda atau bagian lain yang berkarat
beresiko terkena tetanus yang disebabkan oleh
bakteri Clostridium tetani
 Ergonomic (Aspek Ergonomi), merupakan potensi
bahaya yang diakibatkan dari ketidaksuaian desain
48

lingkungan kerja dengan pekerja. Contoh dalam


penggunaan mesin gerinda yaitu :
- Sikap kerja (Posisi duduk/ posisi kerja) yang
salah
- Ukuran alat yang tidak sesuai dengan mesin
gerinda yang digunakan
- Desain tempat seperti posisi peletakan dan
desain ruang
- Sistem kerja yang salah
- Dan lain sebagainya

b. Occupational Safety Hazard (OSH)


Merupakan Potensi bahaya yang terdapat di lingkungan
kerja yang mengakibatkan terjadinya incident, injury,
cacat, gangguan proses, kerusakan alat bagi pekerja
maupun proses kerja. Kelompok OSH terdiri dari :
 Mechanical Hazard, merupakan suatu ancaman
yang berupa gerakan dari suatu benda yang dapat
mengakibatkan kerugian pada manusia. Contoh
Hazard ini dalam penggunaan mesin gerinda yaitu
ketika peletakan mesin gerinda tidak benar dan tidak
sesuai, maka mesin gerinda akan jatuh dan mengenai
bagian kaki ataupun bagian tubuh kita yang lain.
 Psychological Hazard, dapat terjadi ketika pekerja
mengalami masalah psikologi yang dibawa pada
saat bekerja dan hal itu dapat berakibat pada
gangguan mental dan fisik pekerja. Misalnya pola
kerja yang tidak teratur, beban kerja yang melebihi
batas, waktu kerja diluar SOP yang sesuai, dll. Jika
dibiarkan Hazard ini dapat menimbulkan
49

kecerobohan dan bahkan dapat mencelakai diri


sendiri serta oranglain.
 Environtment (Lingkungan), sangat penting ketika
bekerja. Karena kondisi lingkungan yang akan
menjadi tempat tinggal alat, mulai dari apa saja yang
dapat mengganggu atau mencelakakan alat dan
pekerja. Sehingga dapat dilakukan pencegahan
secara menyeluruh. Faktor lingkungan ini sangat
berkaitan dengan Analisis 5R/5S guna menciptakan
suasana pekerjaan yang nyaman dan berpacuan
dengan kesehatan dan keselamatan kerja.
 Observation (Pengamatan), pengamatan terhadap
tingkat resiko dan bahaya yang berdampak pada
lingkungan kerja, peralatan, pemesinan, maupun
pekerja itu sendiri menggunakan analaisis SWOT
5W + 1H (What, Where, When, Who, Why, How)
Analisis dengan menggunakan 5W + 1H :
- What : Apa yang harus dipersiapkan sebelum
penggerindaan dimulai ?
- Where : Dimana seharusnya proses
Penggerindaan dilaksanakan ?
- When : Kapan waktu yang baik untuk
Proses Penggerindaan ?
- Who : Siapa yang seharusnya melakukan
Proses penggerindaan ?
- Why : Mengapa harus melengkapi diri dengan
APD (Alat Pelindung Diri) pada saat
proses penggerindaan ?
- How : Bagaimana langkah – langkah yang baik
dan benar dalam proses penggerindaan ?
50

 Opportunity (Kesempatan), merupakan Analisis


yang dilakukan untuk mengetahui kemungkinan –
kemungkinan apa saja yang akan terjadi dengan
pekerja dalam hal ini yaitu yang berkaitan dengan
pengoperasian alat yang digunakan. Baik yang
berhubungan dengan PAK (Penyakit Akibat Kerja)
yang akan terjadi maupun KAK (Kecelakaan Akibat
Kerja). Hal itu semua guna membuat langkah –
langkah preventif untuk menanggulanginya.
 Occupational, merupakan faktor yang meliputi
kondisi fisik dan psikis pekerja, beban kerja yang
diberikan sudah sesuaikah dengan SOP (Standart
Operasional Pekerja) dan hubungan sosial antar
pekerja.
 Solusi, merupakan bagaimana cara untuk
menanggulangi dan mengatasi berbagai bahaya
yang kemungkinan terjadi ditempat kerja. Solusi yan
baik harus berpedoman pada SMART yang
merupakan dari Spesific (Masalahya apa dan
penyelesaiannya apa), Measurable (solusi yang
diberikan selayaknya dapat dinilai), Action (dalam
hal pelaksanaan benar-benar menyelesaikan
masalah bukan menimbulkan masalah baru),
Realistik (masalah dilapangan diselesaikan
dilapangan juga), Time (Proses pemberian solusi
dilakukan dengan sesingkat mungkin).
51

TEORI TENTANG K3
A. Teori Domino
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Heinrich, 98
persen kecelakaan disebabkan oleh tindakan tidak aman.
Maka dari itu, Heinrich menyatakan, kunci untuk mencegah
kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak
aman sebagai penyebab kecelakaan.
Teori Domino Heinrich oleh H.W. Heinrich, salah satu
teori ternama yang menjelaskan terjadinya kecelakaan
kerja. Dalam Teori Domino Heinrich terdapat lima
penyebab kecelakaan, di antaranya:
1. Ancestry and Social Environment
Ancestry (Keturunan) dan Social Evironment
(Lingkungan Sosial) mencakup latar belakang
seseorang baik itu berupa sifat maupun sikap, dalam
bekerja hal ini sangat berpengaruh terlebih ketika
menggunakan mesin gerinda dibutuhkan ketenangan,
kesabaran serta ketelatenan, agar tidak menimbulkan
kecelakaan yang dapat merugikan pekerja maupun
orang lain disekitar lingkungan tersebut. Hereditas
disini dimaksukan seperti pengetahuan yang kurang
atau mencakup sifat seseorang, seperti keras kepala,
kurang sabar dll.
2. Fault of The Person
Fault of The Person ( Kesalahan manusia ) Kesalahan
manusia, dalam dunia kerja sering terjadi kesalahan
kerja biasanya bila itu datang dari seseorang berupa
Carelessness ( Kecerobohan ). Kecerobohan ini dapat
berupa kelalaian ataupun ketidaksesuaian pekerjaan
dengan prosedur yang ada. Serta kecerobohan pekerja
52

yang kurang memperhatikan keamanan dan


keselamatan selama bekerja
3. Unsafe Act or Condition
Unsafe Act or Condition (Sikap dan kondisi tidak
aman), seperti kecerobohan, tidak mematuhi prosedur
kerja, tidak menggunakan alat pelindung diri (APD),
tidak mematuhi rambu-rambu di tempat kerja, tidak
mengurus izin kerja berbahaya sebelum memulai
pekerjaan dengan risiko tinggi, dan sebagainya.
Sedangkan, kondisi tidak aman, meliputi pencahayaan
yang kurang, alat kerja kurang layak pakai, tidak ada
rambu-rambu keselamatan kerja, atau tidak tersedianya
APD yang lengkap.
4. Accident
Accident (Kecelakaan kerja), hal ini terjadi karena
pekerja kurang tertib/ tidak mengindahkan beberapa
faktor/ poin yang ada di kondisi tidak aman hingga dapat
menyebabkan kecelakaan. Dalam penggunaan gerinda
kecelakaan yang mungkin terjadi mulai dari terkena
percikan benda kerja bahkan saampai anggota tubuh
yang terkena kontak langsung dengan alat kerja.
Sewajarnya kecelakaan dapat diminimalisir bila
memenuhi persyaratan K3 untuk menggerinda
5. Injury
Injury (Cedera), Pengertian cidera berdasarkan Heinrich
et al. (1980) adalah patah, retak, cabikan, dan
sebagainya yang diakibatkan oleh kecelakaan. Bureau
of Labor Statistics. Cedera adalah dampak kerugian
yang diakibatkan dari kecelakaan, dalam penggunaan
gerinda cedera tersebut mulai dari cedera ringan seperti
53

tangan yang tergores, mata yang kemasukan material


kerja sampai dengan kematian.

Kelima faktor penyebab kecelakaan ini tersusun layaknya


kartu domino yang di berdirikan. Hal ini berarti jika satu
kartu jatuh, maka akan menimpa kartu lainnya.

Gambar 39. Timeline Domino Theory

Menurut Heinrich, kunci untuk mencegah kecelakaan kerja


adalah menghilangkan sikap dan kondisi tidak aman (kartu
ketiga). Sesuai dengan analogi efek domino, jika kartu
ketiga tidak ada lagi, seandainya kartu kesatu dan kedua
jatuh, ini tidak akan menyebabkan jatuhnya semua kartu.
Adanya Gap atau jarak dari kartu kedua dengan kartu
keempat, jika kartu kedua jatuh, ini tidak akan sampai
meruntuhkan kartu keempat. Pada akhirnya, kecelakaan
54

(kartu keempat) dan dampak kerugian (kartu kelima) dapat


dicegah.

K3 DI TEMPAT KERJA
Keselamatan di tempat kerja khususnya dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang saling berhubungan, diantaranya yaitu:
faktor manusia, faktor lingkungan kerja, dan faktor mesin
A. Faktor Manusia
Faktor manusia disini meliputi, antara lain kemampuan
fisik, mental dan psikologi, pengetahuan, keterampilan, dan
kelalaian. Pekerja yang sedang mengalami gangguan pada
fisik, mental, dan psikologinya tidak dibenarkan melakukan
pekerjaan apalagi yang berhubungan dengan mesin karena
pekerjaan di bidang mesin memerlukan konsentrasi dan
kewaspadaan yang tinggi sehingga dapat melakukan
prosedur kerja yang sesuai dengan ketentuan agar tidak
terjadi kecelakaan yang mungkin dapat menyebabkan
kecacatan pada tenaga kerja. Selain itu, faktor pengetahuan
dan keterampilan yang cukup juga diperlukan pekerja
sebelum melakukan pekerjaannya khususnya di bidang
mesin sehingga pekerja mampu mengoperasikan mesin
dengan baik tanpa menyebabkan bahaya pada dirinya
sendiri.
55

Gambar 40. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

Alat Pelindung Diri (APD). Alat pelindung diri yang


diperlukan dalam menjalankan pekerjaan di bagian mesin
gerinda antara lain:
Tabel 1. Alat Pelindung Diri
Alat Pelindung Diri Fungsi
Sebagai pelindung kepala
dari benda yang bias
mengenai kepala secara
langsung.

Helm Pelindung (Safety


Helmet)
Sebagai pelindung mata
ketika bekerja

Kacamata Pelindung
(Safety Glasses)
56

Sebagai penyaring udara,


sama seperti Respirator

Masker
Sebagai penyaring udara
yang dihirup saat bekerja di
tempat dengan kualitas udara
yang buruk (misal berdebu,
beracun, berasap, dll)
Respirator
Sebagai pelindung telinga
pada saat bekerja di tempat
yang bising

Penutup/penyumbat
Telinga (Ear Plug/Ear
Muff)
sebagai pelindung wajah dari
percikan benda asing saat
bekerja

Pelindung Wajah (Face


Shield)
57

untuk melindungi tubuh


bagian depan yaitu dari leher
sampai kaki dari berbagai
kemungkinan luka, seperti
terkena radiasi panas,
Safety Vest
percikan bunga api dan
percikan beram dan lainnya
dapat melindungi pekerja dari
luka akibat beram, serpihan
benda kerja, goresangoresan
dan panas. Pakaian harus
benar-benar ter-ikat atau pas
Wearpack/Baju Kerja
dengan pemakainya. Dalam
bekerja, baju terkancing
secara sempurna, sehingga
tidak ada bagian- bagian
anggota badan yang terbuka
atau tidak terlindungi
Sebagai alat pelindung tangan
pada saat bekerja di tempat
atau situasi yang dapat
mengakibatkan cedera tangan

Sarung Tangan
untuk mencegah kecelakaan
fatal yang menimpa kaki
karena tertimpa benda tajam
atau berat, benda panas,
cairan kimia, dan sebagainya
58

Sepatu Pelindung (Safety


Shoes)

B. Faktor Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja merupakan tempat dimana
seseorang atau karyawan dalam beraktifitas bekerja.
Lingkungan kerja yang mendukung keselamatan dalam
aktivitas bekerja di bidang mesin antara lain: pencahayaan,
Suhu, kebersihan tempat kerja, dan pemasangan tanda- tanda
peringatan seperti poster
a. Pencahayaan
Pencahayaan didefinisikan sebagai jumlah cahaya
yang jatuh pada permukaan. Satuannya adalah lux (1
lm/m2), dimana lm adalah lumens atau lux cahaya. Salah
satu faktor penting dari lingkkungan kerja yang dapat
memberikan kepuasan dan produktivitas adalah adanya
penerangan yang baik. Penerangan yang baik adalah
penerangan yang memungkinkan pekerja dapat melihat
obyek-obyek yang dikerjakan secara jelas dan cepat.
Tenaga kerja disamping harus dengan jelas dapat
melihat obyek-obyek yang sedang dikerjakan juga harus
dapat melihat dengan jelas pula benda atau alat dan
tempat disekitarnya yang mungkin mengakibatkan
kecelakaan. Maka penerangan umum harus memadai.
Dalam suatu pabrik dimana terdapat banyak mesin
dan proses pekerjaan yang berbahaya maka penerangan
harus didesain sedemikian rupa sehingga dapat
mengurangi kecelakaan kerja. Terlebih untuk
penggunaan gerinda membutuhkan ketelitian dan
59

konsentrasi serta penerangan yang cukup agar proses


Grinding berjalan dengan aman dan lancar.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran
dan Industri menyaratkan bahwa standar pencahayaan di
tempat kerja khususnya di bidang mesin adalah minimal
200 lux
Tabel 2. Tingkat Pencahayaan Lingkungan Kerja
TINGKAT
JENIS
PENCAHAYAAN KETERANGAN
KEGIATAN
MINIMAL (LUX)
Pekerjaan 100 Ruang penyimpanan
kasar dan & ruang
tidak terus – peralatan/instalasi
menerus yang memerlukan
pekerjaan yang
kontinyu
Pekerjaan 200 Pekerjaan dengan
kasar dan mesin dan perakitan
terus – kasar
menerus
Pekerjaan 300 Ruang administrasi,
rutin ruang kontrol,
pekerjaan mesin &
perakitan/penyusun
Pekerjaan 500 Pembuatan gambar
agak halus atau bekerja dengan
mesin kantor,
60

TINGKAT
JENIS
PENCAHAYAAN KETERANGAN
KEGIATAN
MINIMAL (LUX)
pekerjaan
pemeriksaan atau
pekerjaan dengan
mesin
Pekerjaan 1000 Pemilihan warna,
halus pemrosesan teksti,
pekerjaan mesin halus
& perakitan halus
Pekerjaan 1500 Mengukir dengan
amat halus Tidak tangan, pemeriksaan
menimbulkan pekerjaan mesin dan
bayangan perakitan yang sangat
halus
Pekerjaan 3000 Pemeriksaan
terinci Tidak pekerjaan, perakitan
menimbulkan sangat halus
bayangan
Sumber: KEPMENKES RI. No. 1405/MENKES/SK/XI/02

b. Suhu/ Temperatur
Tubuh manusia menyesuaikan diri karena
kemampuannya untuk melakukan proses konveksi,
radiasi, dan penguapan juka terjadi kekurangan atau
kelebihan yang membebaninya.
Tetapi, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan
temperatur luar jika perubahannya tidak melebihi 20%
61

untuk kondisi panas dan 35% untuk kondisi dingin


terhadap temperatur normal ± 24 °C.
Temperatur udara lebih rendah dari 37 C berati
temparatur udara ini dibawah kemampuan tubuh unutk
menyesuaikasn didi (35% dibawah normal), maka tubuh
manuasia akan mengalami kedinginan, karena hilangnya
panas tubuh yang sebagian besar diakibatkan oleh
konveksi dan radiasi, juga sebagian kecil akibat
penguapan. Sebaliknya jika temperatur udara terlalu
panas dibanding temperatur tubuh, maka tubuh akan
menerima panas akibat konveksi dan radiasi yang jauh
lebih besar dari kemampuan tubuh untuk mendinginkan
tubuhnya malalui sistem penguapan.. Temparatur yang
terlalu dingin akan mengakibatkan gairah kerja
menurun. Sedangkan temperatur udara yang terlampau
panas, akan mengakibatkan cepat timbulnya kelelahan
tubuh dan cenderung melakukan kesalahan dalam
bekerja.
Untuk tenaga kerja yang terpapar lingkungan yang
panas dan lembab maka kecepatan angin harus
diperhatikan agar evaporasi dapat berlangsung dengan
baik. Kecepatan angin yang dianjurkan tenaga kerja yang
terpapar panas pada berbagai suhu adalah sebagai
berikut:

Tabel 3. Suhu dan Kecepatan Angin


Suhu (˚C) Kecepatan Angin
(m/detik)
16 – 20 0,25
62

21 – 22 0,25 – 0,30
24 – 25 0,40 – 0,60

26 – 27 0,70 - 1,00

Pada Pekerja yang biasanya menggunakan gerinda


akan sangat berbahaya bila dalm suatu keadaan
kecepatan angin lumayan kencang dan suhu yang tinggi
karena pada saat melakukan grinding serbuk besi yang
berterbangan otomatis akan terhirup oleh hidung (bila
tak memakai masker) dan variabel suhu akan
berpengaruh pada tingkat kenyamanan pekerja pada saat
bekerja

c. Kebersihan Tempat Kerja


Kebersihan tempat kerja merupakan aspek yang
penting dikarenakan disitulah para pekerja melakukan
pekerjannya bila keadaan tempat kerja berdebu, lantai
licin, becek, meja kerja berminyak, dan sekitar tempat
kerja berbau menyengat dapat mempengaruhi
konsentrasi pekerja yang akan berhubungan dengan hasil
pekerjaan tersebut. Ketidaknyamanan akan hal ini tidak
hanya mengganggu aktivitas pekerja namun juga dapat
memicu terjadinya kecelakaan kerja. Oleh karena itu,
sudah sepatutnya tempat kerja perlu dibersihkan dahulu
sebelum melakukan pekerjaan
d. Rambu- Rambu di Tempat Kerja
63

Rambu – rambu dalam K3 pada umumnya terdiri


dari beberapa simbol atau kode yang menyatakan
kondisi yang perlu mendapat atensi bagi siapa saja yang
ada dilokasi tersebut. Guna mempertegas suatu tanda
atau rambu, dalam pelaksanaanya dibedakan dalam
bentuk warna – warna dasar yang sangat menyolok dan
mudah dikenali. Tanda Warna yang dipasang pada setiap
rambu warna :
1. Warna Merah : Tanda Larangan
2. Warna Kuning : Tanda Peringatan, waspada, atau
resiko bahaya
3. Warna Hijau : Tanda Zona Aman/pertolongan
4. Warna Biru : Tanda wajib ditaati atau prasyarat
5. Warna Putih : Tanda Informasi umum
6. Warna Oranye : Tanda beracun

Warna – warna diatas merupakan warna dasar


sebagai latar belakang (background), sedangkan gambar
atau logo simbol diatas warna dasar tersebut merupakan
warna kontras. Menurut standar yang berlaku secara
internasional berupa warna putih atau hitam.
Adapun bentuk – bentuk kombinasi warna dasar dan
tulisan dasar rambu K3 yang perlu dipahami adalah
seperti dalam tabel sebagai berikut :
64

Tabel 4. Warna Kombinasi

Penggunaan bentuk rambu yang memuat tanda –


tanda atau simbol ada 3 (tiga) bentuk dasar, yaitu :
1. Bulat : Wajib atau bentuk larangan
2. Segitiga : Tanda peringatan
3. Segi Empat : Darurat, informasi dan tanda tambahan
65

Tabel 5. Tabel. Bentuk dasar rambu – rambu standar

Berikut merupakan beberapa penggunaan rambu – rambu


pada bengkel dalam penggunaan mesin Gerinda :
 Rambu Peringatan
Rambu peringatan adalah sebuah tanda yang biasa
digunakan sebagai peringatan untuk melakukan
sesuatu dengan hati – hati pada tempat tertentu
seperti :
66

Gambar 41. Tanda Peringatan

 Rambu Perintah
Rambu perintah adalah tanda yang digunakan untuk
menyuruh seseorang menggunakan/melakukan
sesuatu hal seperti :

Gambar 42. Tanda Perintah

 Rambu Prasyarat / Wajib dilaksanakan


Rambu Prasyarat merupakan tanda yang
memberikan persyaratan dilaksanakan kepada siapa
saja yang ada dilingkungan itu karena prasyarat
tersebut merupakan kewajiban yang harus
dilaksanakan. Contohnya seperti :
67

Gambar 43. Tanda Prasyarat

 Rambu Pertolongan
Rambu pertolongan merupakan tanda yang
memberikan bantuan/pertolongan serta arah yang
ada dilingkungan itu karena arah/pertolongan
tersebut merupakan petunjuk yang haruss diikuti
siapa saja terutama bila terjadi kondisi darurat.
Contoh penerapan rambu ini adalah :

Gambar 44. Rambu Pertolongan


68

C. Faktor Mesin
Faktor yang disebabkan oleh mesin yang dapat
menyebabkan kecelakaan pada pekerja adalah keadaan
mesin yang tidak baik (ada bagian yang rusak), mesin tanpa
alat pengaman, dan kebisingan yang disebabkan oleh mesin.
Untuk mencegah kecelakaan kerja yang disebabkan oleh
mesin dapat dilakukan dengan:
a. Perawatan Mesin
Perawatan mesin adalah suatu kombinasi dari berbagai
tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu barang,
memperbaikinya sampai pada suatu kondisi yang dapat
diterima. Perawatan pada umumnya dilakukan dengan
dua cara:
 Perawatan setelah terjadi kerusakan (Breakdown
maintenance)
Perbaikan dilakukan pada mesin ketika mesinnya
telah mengalami kerusakan. Kerusakan pada mesin
disebabkan antara lain karena :
a) Proses kerusakan komponen yang tidak dapat
diperkirakan dan tidak dpat dicegah.
b) Kerusakan yang terjadi berangsur-angsur dan
berkurangnya kekuatan komponen karena
pemakaian/keausan. Kejadian ini dapat diatasi
dengan adanya inspeksi yang teratur dan
mengetahui cara pencegahannya.
 Perawatan preventif (preventive maintenance).
Pekerjaan perawatan preventif ini dilakukan
dengan mengadakan inspeksi dan pelumasan.
Frekuensi inspeksi ditetapkan menurut tingkat
kepentingan mesin, tingkat kerusakan dan
69

kelemahan mesin. Program perawatan harus dibuat


secara lengkap dan teperinci menurut spesifikasi
yang diperlukan, seperti adanya jadwal harian,
mingguan, bulanan, tiap tiga bulan, tiap setengah
tahun, setiap tahun dan sebagainya.
b. Pemberian Pengaman Pada Alat Kerja
Alat pengaman (Safety device) dipasang pada fasilitas
kerja, atau mesin yang berbahaya untuk mencegah
terjadinya kecelakaan dan untuk menjamin keselamatan
para pekerja. Alat pengaman, seperti alat penutup
pengaman gir atau gerinda, dipasang secara tetap di satu
tempat.

Gambar 45. Pengaman pada Gerinda

KAK DAN PAK DALAM PENGGUNAAN GERINDA


A. Kecelakaan Akibat Kerja dalam Penggunaan Gerinda
a) Pengertian Kecelakaan Akibat Kerja
 Menurut AS/NZS 4801: 2001, kecelakaan adalah
semua kejadian yang tidak direncanakan yang
menyebabkan atau berpotensial menyebabkan
cidera, kesakitan, kerusakan atau kerugian lainnya
70

 Kecelakaan yang terjadi ditempat kerja atau dikenal


dengan kecelakaan industri kerja. Kecelakaan
industri ini dapat diartikan suatu kejadian yang tidak
diduga semula dan tidak dikehendaki yang
mengacaukan proses yang diatur dari suatu aktifitas
(Husni, 2003).

b) Kecelakaan Akiba Kerja dalam Penggunaan Gerinda

Melihat dari segi pengertian dari Kecelakaan Akibat


Kerja yang sudah dibahas diatas, dalam pengguanaan
Gerinda juga tak lepas dari kecelakaan jika digunakan
tidak dengan hati-hati dan tidak menggunakan Peralatan
yang Safety atau dalam kata lain menyepelekan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Gambar 46. Salah satu kecelakaan akibat penggunaan


mesin Gerinda
Kecelakaan Akibat Kerja yang ditimbulkan oleh
penggunaan Gerinda adalah sebagai berikut :

 Terkena Arus Listrik


71

Kecelakaan kerja karena terkena arus listrik ini


disebabkan oleh pemasangan instalasi kelistrikan
pada mesin tidak baik, sehingga arus dapat mengalir
melalui badan mesin gerinda.
 Terkena Pecahan Batu Gerinda
Kecelakaan ini disebabkan pada mesin tidak
dipasang penutup batu gerinda, sehingga pada saat
batu gerinda pecah akan terlempar. Karena batu
gerinda tanpa pelindung, maka kemungkinan
pecahan batu gerinda tersebut dapat mengenai
pekerja.
 Jari Tangan Teropotong oleh Batu Gerinda
Kecelakaan ini disebabkan oleh tidak benarnya
pemasangan penyanggah benda kerja (jarak antara
batu gerinda dan penyangga benda kerja terlalu
lebar). Jarak penyangga dan batu gerinda yang benar
adalah sebesar 2 sampai 3 milimeter.
 Terkena Percikan Api Gerinda
Hal ini sering disepelekan karna sering terlihat
pengguna yang menggunakan Gerinda tanpa
memakai Penutup muka dan Pakaian yang Safety
 Tersangkutnya Bagian Tubuh pada Bagian
Mesin Gerinda yang Bergerak
Cukup banyak kasus di dunia kerja tentang
tersangkutnya bagian tubuh ke mesin yang bergerak,
Seperti halnya pada mesin gerinda dan umumnya hal
ini terjadi di karenakan keteledoran pekerja dan
kurangnya kehati-hatiian dalam menggunakan
mesin gerinda tersebut.
72

 Tertimpa Mesin Gerinda


Meskipun hal ini intensitanya lebih jarang terjadi
namun cukup berbahaya terlebih jika gerinda yang
digunakan ialah gerinda yang memiliki ukuran yang
besar serta memliki beban yang berat, akan sangat
fatal cidera yang mungkin terjadi bila alat gerinda
tersebut menimpa pekerja dalam keadaan hidup/
sedang beroperasi bahkan bisa menimbulkan resiko
kematian.

B. Penyakit Akibat Kerja dalam Penggunaan Gerinda


a) Pengertian Penyakit Akibat Kerja
Penyakit Akibat Kerja (PAK) di kalangan petugas
kesehatan dan non kesehatan di Indonesia belum
terekam dengan baik. Sebagai faktor penyebab, sering
terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas
serta keterampilan pekerja yang kurang memadai.
Banyak pekerja yang meremehkan resiko kerja, sehingga
tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah
tersedia.
Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk
memenuhi kebutuan hidupnya. Dalam bekerja,
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan
faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena
seseorang yang mengalami sakit dalam bekerja akan
berdampak pada diri, keluarga, dan lingkungannya.
Salah satu komponen yang dapat meminimalisir
penyakit akibat kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga
kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani
73

korban yang terpapar penyakit akibat kerja dan dapat


memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk
menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.
Tujuan memahami penyakit akibat kerja ini adalah untuk
memperoleh informasi dan pengetahuan agar lebih
mengerti tentang penyakit akibat kerja dan dapat
mengurangi korban yang terpapar penyakit akibat kerja
guna meningkatkan derajat kesehatan dan produktif
kerja.
Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang
disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses
maupun lingkungan kerja. Dengan demikian, penyakit
akibat kerja merupakan penyakit yang artifisual atau
man made disease. Sejalan dengan hal tersebut terdapat
pendapat lain yang menyatakan bahwa Penyakit Akibat
Kerja (PAK) ialah gangguan kesehatan baik jasmani
maupun rohani yang ditimbulkan ataupun diperparah
karena aktivitas kerja atau kondisi yang berhubungan
dengan pekerjaan.( Hebbie Ilma Adzim, 2013 dalam
materi ajar k3 ft uny.pdf)

b) Penyakit Akibat Kerja dalam Penggunaan Gerinda


Penyakit Akibat Kerja (PAK) yang ditimbulkan
dalam penggunaan Mesin Gerinda yang mencakup
dalam Penggunaan berbagai Macam jenis Mesin Gerinda
disebabkan oleh penyebab Faktor-faktor sebagai berikut:
1) Faktor Fisik
 Suara tinggi atau bising pada mesin gerinda dapat
mengakibatkan ketulian
74

 Percikan api yang mengenai mata dapat


mengakibatkan kebutaan
 Percikan api yang mengenai kulit dapat
mengakibatkan luka bakar
 Posisi penggunaan Gerinda yang salah seperti
terlalu menunduk ataupun terlalu membungkuk
membuat sakit kepala dan nyeri pada pinggang
dan punggung.
 Getaran pada Mesin Gerinda
 Tertimpa Mesin Gerinda

2) Faktor Kimia
 Serbuk besi hasil dari penggerindaan yang bisa
menjadi debu diudara (airbon dust) yang
merupakan suspensi partikel benda padat
diudara, yang dapat mengakibatkan masuk
menembus paru-paru dalam jangka waktu
tertentu.

3) Faktor Biologi
 Ketika tertusuk bagian mata gerinda atau bagian
lain yang berkarat beresiko terkena tetanus yang
disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani
Melihat dari beberapa Faktor penyebab adanya
Penyakit Akibat Kecelakaan (PAK) yang telah
dijabarkan diatas, berikut ini merupakan Kemungkinan
Penyakit Akibat Kecelakaan yang ditimbulkan oleh
penggunaan Mesin Gerinda yaitu :
75

a. Penyakit Silikosis

Penyakit silikosis disebabkan oleh pencemaran debu


silika bebas, berupa SiO2, yang terhisap masuk ke
dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Debu
silika bebas ini banyak terdapat di pabrik besi dan baja,
keramik, pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan
besi (mengikir, menggerinda) dll. Selain dari itu, debu
silika juga banyak terdapat di tempat penampang besi,
timah putih dan tambang batu bara. Pemakaian batu
bara sebagai bahan bakar juga banyak menghasilkam
debu silika bebas SiO2. Pada saat dibakar, debu silika
akan keluar dan terdispersi ke udara bersama-sama
dengan partikel yang lainya, seperti debu alumunia,
oksida besi dan karbon dalam bentuk debu. Tempat
kerja yang potensial untuk tercemari oleh debu silika
perlu mendapatkan pengawasan keselamatan dan
kesehatan kerja dan lingkungan yamg ketat sebab
penyakit silikosis belum ada obatnya yang tepat.

b. Penyakit Beriliosis
Udara yang tercemar oleh debu logam berilium, baik
yang berupa logam murni, oksida, sulfat, maupun
dalam bentuk halogenida, dapat menyebabkan penyakit
saliran pernafasan yang disebut beriliosis. Debu logam
tersebut dapat menyebabkan nasoparingtis, bronchitis,
dan pneumonitis yang ditandai dengan gejala sedikit
demam, batuk kering, dan sesak nafas. Penyakit
beriliosis dapat timbul pada pekerja-pekerja industri
76

yang menggunakan logam campuran berilium,


tembaga, pekerja pada pabrik fluoresen, pabrik
pembuatan tabung radio, dan juga pada pekerja
pengolahan bahan penunjang industri nuklir

c. Penyakit Saluran Pernafasan


Penyakit Akibat Kecelakaan dalam penggunaan
Mesin Gerinda pada saluran pernafasan dapat bersifat
akut maupun kronis. Akut misalnya asma akibat kerja.
Sering didiagnosis sebagai tracheobronchitis akut atau
karena virus kronis, misal: asbestosis. Seperti gejala
Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) atau
edema paru akut. Penyakit ini disebabkan oleh bahan
kimia seperti nitrogen oksida.

d. Penyakit Kulit
Pada umumnya tidak spesifik, menyusahkan, tidak
mengancam kehidupan, dan kadang sembuh sendiri.
Dermatitis kontak yang dilaporkan, 90% merupakan
Pada umumnya tidak spesifik, menyusahkan, tidak
mengancam kehidupan, dan kadang sembuh sendiri.
Dermatitis kontak yang dilaporkan, 90% merupakan

e. Kerusakan Pendengaran
Banyak kasus gangguan pendengaran menunjukan
akibat pajanan kebisingan yang lama, ada beberapa
kasus bukan karena pekerjaan. Riwayat pekerjaan
secara detail sebaiknya didapatkan dari setiap orang
dengan gangguan pendengaran. Dibuat rekomendasi
tentang pencegahan terjadinya hilang pendengaran.
77

f. Gejala pada Punggung dan Sendi


Tidak ada tes atau prosedur yang dapat membedakan
penyakit pada punggung yang berhubungan dengan
pekerjaan daripada yang tidak berhubungan dengan
pekerjaan. Penentuan kemungkinan bergantung pada
riwayat pekerjaan. Artritis dan tenosynovitis
disebabkan oleh gerakan berulang yang tidak wajar.
78

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Perawatan Dan Pemeliharaan Mesin Industri.
Yogyakarta: Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.
Anonim. (2016). Jenis – jenis Mesin Gerinda
http://tipsajbs.blogspot.co.id/2016/03/jenis-jenis-mesin-
gerinda.html
Anonymous. 2007. Controlling OHS hazards and risk. Worksafe
Victoria: Victoria
AS/NZS 4801. (2001). Occupational Health And Safety
Management Systems
HSP-Team. (2011). Pemahaman Tentang Bahaya (Hazard).
Diakses dari
http://healthsafetyprotection.com/pemahaman-tentang-
bahaya-hazard/, diakses tanggal 6 Mei 2017
Husni, Lalu. (2003). Pengantar Hukum Ketenagakerjaan
Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa
International Labour Organization ( ILO ). 2013. Kesehatan dan
Keselamatan Kerja di Tempat Kerja Sarana Untuk
Produktivitas. Jakarta: ILO
Jurnal Teknik Pomits. Vol 1:1-6
http://pmdlk.blogspot.com/2013/03/kerugian-akibat-
kecelakaan-kerja.html Jakarta: Penerbit Erlangga diakses
tanggal 20 Mei 2017
Sanda, Hadi. 2011. Pengaruh Kebisingan, Temperatur, Dan
Pencahayaan Terhadap Performa Kerja. Tersedia di:
http://kompasiana.com. Diakses tanggal 20 Mei 2017
Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Kesehatan dan
Keselamatan Kerja.
79