Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG TANGGUNG JAWAB RUMAH


SAKIT SEBAGAI PELAKU USAHA

A. Pengertian Tanggung Jawab Hukum

1. Pengertian tanggung jawab hukum menurut para ahli

Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah,

keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Berkewajiban menanggung,

memikul tanggung jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan

5
jawab dan menanggung akibatnya. Tanggung jawab Hukum adalahX

kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun

yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai

perwujudan kesadaran akan kewajibannya.

Ridwan Halim mendefinisikan tanggung jawab hukum sebagai sesuatu akibat


lebih lanjut dari pelaksaan peranan, baik peranan itu merupakan hak dan
kewajiban ataupun kekuasaan. Secara umum tanggung jawab hukum diartikan
sebagai kewajiban untuk melakukan sesuatu atau berprilaku menurut cara tertentu
6
tidak menyimpang dari pertaturan yang telah ada. X

Purbacaraka berpendapat bahwa tanggung jawab hukum bersumber atau lahir atas
penggunaan fasilitas dalam penerapan kemampuan tiap orang untuk menggunakan
hak atau/dan melaksanakan kewajibannya. Lebih lanjut ditegaskan, setiap
pelaksanaan kewajiban dan setiap penggunaan hak baik yangn dilakukan secara
tidak memadai maupun yang dilakukan secara memadai pada dasarnya tetap harus
disertai dengan pertanggung jawaban, demikian pula dengan pelaksanaan
7
kekuasaan. X

www.wikipidie.com diakses pada tanggal 7 februari 2013 X


Khairunnisa, Kedudukan, Peran dan Tanggung Jawab Hukum Direksi, (Medan: Pasca
Sarjana, 2008), hlm. 4
7
Purbacaraka, Perihal Kaedah Hukum, (Bandung: Citra Aditya, 2010), hlm. 37

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2. Pengertian tanggung jawab hukum menurut hukum perdata

Tanggung jawab hukum dalam hukum perdata berupa tanggung jawab seseorang
terhadap perbuatan yang melawan hukum. Perbuatan melawan hukum memiliki
ruang lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan perbuatan pidana. Perbuatan
melawan hukum tidak hanya mencakup perbuatan yang bertentangan dengan
undang-undang pidana saja, akan tetapi jika perbuatan tersebut bertentangan
dengan undang-undang lainnya dan bahkan dengan ketentuan-ketentuan hukum
yang tidak tertulis. Ketentuan perundang-undangan dari perbuatan melawan
hukum bertujuan untuk melindungi dan memberikan ganti rugi kepada pihak yang
8
dirugikan. X

Menurut pasal 1365 KUHPerdata, maka yang dimaksud dengan perbuatan


melanggar hukum adalah perbuatan yang melawan hukum yang dilakukan oleh
seseorang yang karena salahnya telah menimbulkan kerugian bagi orang lain.
Dalam ilmu hukum dikenal 3 katagori dari perbuatan melawan hukum, yaitu
9
sebagai berikut: X

Perbuatan melawan hukum karena kesengajaan

Perbuatan melawan hukum tanpa kesalahan (tanpa unsur kesengajaan maupun


kelalaian)
Perbuatan melawan hukum karena kelalaian

Komariah, SH, Msi, Edisi Revisi Hukum Perdata, (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang,
2001), hlm 12

Djojodirdjo, M.A. Moegni, Perbuatan melawan hukum : tanggung gugat (aansprakelijkheid)


untuk kerugian, yang disebabkan karena perbuatan melawan hukum, (Jakarta:

Pradnya Paramita, 1979), hlm. 53

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
10
Maka model tanggung jawab hukum adalah sebagai berikut: X

Tanggung jawab dengan unsur kesalahan (kesengajaan dan kelalaian)


sebagaimanapun terdapat dalam pasal 1365 KUHPerdata, yaitu: “tiap-tiap
perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain,
mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti
kerugian tersebut”.
Tanggung jawab dengan unsur kesalahan khususnya kelalaian sebagaimana
terdapat dalam pasal 1366 KUHPerdata yaitu: “setiap orang
bertanggungjawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya,
tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya.
Tanggung jawab mutlak (tanpa kesalahan) sebagaimana terdapat dala pasal
1367 KUHPerdata yaitu:
seseorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan
karena perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugain yang disebabkan
karena perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan
oleh barang-barang yang berada dibawah pengawasannya;
orang tua dan wali bertanggung jawab tentang kerugian, yang disebabkan oleh
anak-anak belum dewasa, yang tinggal pada mereka dan terhadap siapa
mereka melakukan kekuasaan orang tua dan wali;
majikan-majikan dan mereka yang mengangkat orang-orang lain untuk
mewakili urusan-urusan mereka, adalah bertanggung jawab tentang kerugian
yang diterbitkan oleh pelayan-pelayan atau bawahan-bawahan mereka di
dalam melakukan pekerjaan untuk mana orang-orang ini dipakainya;

guru-guru sekolah dan kepala-kepala tukang bertanggung jawab tentang


kerugian yang diterbitkan oleh murid-murid dan tukang-tukang mereka selama
waktu orang-orang ini berada dibawah pengawasan mereka;
10
www.oocities.org/ilmuhukum/babii.doc, diakses pada tanggal 7 februari 2013X

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
(5) tanggung jawab yang disebutkan diatas berkahir, jika orangtua, wali, guru
sekolah dan kepala-kepala tukang itu membuktikan bahwa mereka tidak dapat
mencegah perbuatan untuk mana mereka seharusnya bertanggung jawab.

Selain dari tanggung jawab perbuatan melawan hukum, KUHPerdata

melahirkan tanggung jawab hukum perdata berdasarkan wanprestasti. Diawali

dengan adanya perjanjian yang melahirkan hak dan kewajiban. Apabila dalam

hubungan hukum berdasarkan perjanjian tersebut, pihak yang melanggar


kewajiban (debitur) tidak melaksanakan atau melanggar kewajiban yang
dibebankan kepadanya maka ia dapat dinyatakan lalai (wanprestasi) dan atas dasar
itu ia dapat dimintakan pertanggungjawaban hukum berdasarkan
wanprestasi. Sementara tanggungjawab hukum perdata berdasarkan perbuatan

melawan hukum didasarkan adanya hubugan hukum, hak dan kewajiban yang

11
bersumber pada hukum. X

Macam-Macam Tanggung Jawab

12
Macam-macam tanggung jawab adalah sebagai berikut: X

a) Tanggung jawab dan Individu

Pada hakikatnya hanya masing-masing individu yang dapat bertanggungjawab.


Hanya mereka yang memikul akibat dari perbuatan mereka. Oleh karenanya,
istilah tanggungjawab pribadi atau tanggungjawab sendiri sebenarnya “mubajir”.
Suatu masyarakat yang tidak mengakui bahwa setiap individu mempunyai
nilainya sendiri yang berhak diikutinya tidak mampu menghargai martabat
individu tersebut dan tidak mampu mengenali hakikat kebebasan.

Friedrich August von Hayek mengatakan, Semua bentuk dari apa yang disebut
dengan tanggungjawab kolektif mengacu pada tanggungjawab individu. Istilah
tanggungjawab bersama umumnya hanyalah digunakan untuk

Djojodirdjo, M.A. Moegni, op.cit, hlm. 55


Widiyono, Wewenang Dan Tanggung Jawab, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004), hlm.
27

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
menutup-nutupi tanggungjawab itu sendiri. Dalam tanggungjawab politis
sebuah masalah jelas bagi setiap pendelegasian kewenangan (tanggungjawab).
Pihak yang disebut penanggungjawab tidak menanggung secara penuh akibat
dari keputusan mereka. Risiko mereka yang paling besar adalah dibatalkan
pemilihannya atau pensiun dini. Sementara sisanya harus ditanggung si
pembayar pajak. Karena itulah para penganut liberal menekankan pada
subsidiaritas, pada keputusan-keputusan yang sedapat mungkin ditentukan di
kalangan rakyat yang notabene harus menanggung akibat dari keputusan
tersebut.

b) Tanggung jawab dan kebebasan

Kebebasan dan tanggungjawab tidak dapat dipisahkan. Orang yang dapat


bertanggung jawab terhadap tindakannya dan mempertanggungjawabkan
perbuatannya hanyalah orang yang mengambil keputusan dan bertindak tanpa
tekanan dari pihak manapun atau secara bebas. Liberalisme menghendaki satu
bentuk kehidupan bersama yang memungkinkan manusianya untuk membuat
keputusan sendiri tentang hidup mereka. Karena itu bagi suatu masyarakat
liberal hal yang mendasar adalah bahwa setiap individu harus mengambilalih
tanggungjawab. Ini merupakan kebalikan dari konsep sosialis yang
mendelegasikan tanggungjawab dalam ukuran seperlunya kepada masyarakat
atau negara. Kebebasan berarti tanggungjawab; Itulah sebabnya mengapa
kebanyakan manusia takut terhadapnya.
George Bernard Shaw mengatakan, Persaingan yang merupakan unsur
pembentuk setiap masyarakat bebas baru mungkin terjadi jika ada
tanggungjawab individu. Seorang manusia baru akan dapat menerapkan
seluruh pengetahuan dan energinya dalam bentuk tindakan yang efektif dan
berguna jika ia sendiri harus menanggung akibat dari perbuatannya, baik itu
berupa keuntungan maupun kerugian. Justru di sinilah gagalnya ekonomi
terpimpin dan masyarakat sosialis: secara resmi memang semua
bertanggungjawab untuk segala sesuatunya, tapi faktanya tak seorangpun
bertanggungjawab. Akibatnya masih kita alami sampai sekarang.

c) Tanggungjawab sosial

Dalam diskusi politik sering disebut-sebut istilah tanggungjawab sosial. Istilah


ini dianggap sebagai bentuk khusus, lebih tinggi dari tanggungjawab secara
umum. Namun berbeda dari penggunaan bahasa yang ada, tanggungjawab
sosial dan solidaritas muncul dari tanggungjawab pribadi dan sekaligus
menuntut kebebasan dan persaingan dalam ukuran yang tinggi.

Untuk mengimbangi “tanggungjawab sosial” tersebut pemerintah membuat


sejumlah sistem, mulai dari Lembaga Federal untuk Pekerjaan sampai asuransi
dana pensiun yang dibiayai dengan uang pajak atau

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
sumbangan-sumbangan paksaan. Institusi yang terkait ditentukan dengan
keanggotaan paksaan. Karena itu institusi-institusi tersebut tidak mempunyai
kualitas moral organisasi yang bersifat sukarela. Orang yang terlibat dalam
organisasi-organisasi seperti ini adalah mereka yang melaksanakan
tanggungjawab pribadi untuk diri sendiri dan orang lain.Semboyan umum semua
birokrat adalah perlindungan sebagai ganti tanggungjawab.
Carl Horber mengatkan, Pada akhirnya tidak ada yang bertanggungjawab atas
dampak-dampak dari penagaruh politik terhadap keamanan sosial. Akibatnya
ditanggung oleh pembayar pajak dan penerima jasa.
d) Tanggung jawab terhadap orang lain

Setiap manusia mempunyai kemungkinan dan di banyak situasi juga kewajiban


moral atau hukum untuk bertanggungjawab terhadap orang lain. Secara tradisional
keluarga adalah tempat dimana manusia saling memberikan tanggung jawabnya.
Si orang tua bertanggungjawab kepada anaknya, anggota keluarga saling
tanggungjawab. Anggota keluarga saling membantu dalam keadaan susah, saling
mengurus di usia tua dan dalam keadaan sakit. Ini khususnya menyangkut
manusia yang karena berbagai alasan tidak mampu atau tidak mampu lagi
bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri secara penuh. Ini terlepas dari apakah
kehidupan itu berbentuk perkawinan atau tidak. Tanggungjawab terhadap orang
lain seperti ini tentu saja dapat diterapkan di luar lingkungan keluarga. Bentuknya
bisa beranekaragam. Yang penting adalah prinsip sukarela – pada kedua belah
pihak. Pertanggungjawaban manusia terhadap dirinya sendiri tidak boleh
digantikan dengan perwalian.
e) Tanggungjawab dan risiko

Dalam masyarakat modern orang berhadapan dengan berbagai risiko. Risiko itu
bisa membuat orang sakit dan membutuhkan penanganan medis yang sangat
mahal. Atau membuat orang kehilangan pekerjaan dan bahkan harta bendanya.
Ada berbagai cara untuk mengamankan dari risiko tersebut, misalnya dengan
asuransi. Untuk itu tidak diperlukan organisasi pemerintah, melainkan hanya
13
tindakan setiap individu yang penuh tanggungjawab dan bijaksana. X

B. Pengertian Rumah Sakit

1. Pengertian Rumah Sakit

13
Yoga Triwasono, Artikel Tanggung Jawab, diakses 20 Februari 2013

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
Industri jasa (service industry) saat ini berkembang dengan sangat

cepat. Persaingan yang terjadi saat ini sangat kompetitif dalam bidang industry

ini. Pelayanan yang diberikan antara satu penyedia jasa (service provider)

dengan pemberi jasa lainnya sangat bervariatif yang sesuai dengan kebutuhan

dan keinginan konsumennya. Salah satu industri jasa yang berkembang

dengan sangat cepat di Indonesia adalah industri jasa rumah sakit, baik rumah

14
sakit milik pemerintah maupun milik swasta bahkan milik asing. X

Muninjaya mengatakan bahwa, rumah sakit merupakan bagian dari

sistem pelayanan publik kesehatan yang harus memenuhi kriteria availability,

appropriateness, continuity sustainability, acceptability, affordable, dan

15
quality. X

Menurut Siregar menyatakan bahwa, rumah sakit adalah suatu organisasi yang
kompleks, menggunakan gabungan ilmiah khusus dan rumit, dan difungsikan oleh
berbagai kesatuan personil terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani
masalah medik modern,yang semuanya terkait bersama-sama dalam maksud yang
16
sama,untuk pemulihan dan pemliharaan kesehatan yang baik. X

Menurut Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah sakit.

Rumah sakit adalah instutusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan

pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan

17
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Pelayanan rawat inap,X

rawat jalan dan gawat darurat yang dimaksud adalah, sebagai berikut:

Soedarmono Soejitno, Ali Alkatiri, Emil Ibrahim, Reformasi Perumahansakitan Indonesia, (Jakarta: PT.
Gramedia Widiasarana Indonesia, 2002), hlm. 34
A.A Gde Muninjaya, Manajemen Kesehatan, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran,
2004), hlm. 14
Ikhsan, Arfan, Manajemen Rumah Sakit, (Bandung: Graha Ilmu, 2010), hlm. 7
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah sakit

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
Rawat inap adalah pelayanan kesehatan perorangan yang meliputi pelayanan
kesehatan perorangan yang meliputi observasi, diagnosa, pengobatan,
keperawatan, rehabilitasi medik dengan menginap di ruang rawat inap pada
sarana kesehatan rumah sakit pemerintah dan swasta, serta puskesmas
perawatan dan rumah bersalin, yang oleh karena penyakitnya penderita harus
18
menginap. X

Pelayanan rawat jalan adalah satu bentuk dari pelayanan kedokteran. Secara
sederhana yang dimaksud dengan pelayanan rawat jalan adalah pelayanan
kedokteran yang disediakan untuk pasien tidak dalam bentuk

19
rawat inap. Pelayanan rawat jalan ini termasuk tidak hanya yang
diselenggarakan oleh sarana pelayanan kesehatan yang telah lazim dikenal X
rumah sakit atau klinik, tetapi juga yang diselenggarakan di rumah pasien
serta di rumah perawatan.

Pelayanan gawat darurat adalah bagian dari pelayanan kedokteran yang


dibutuhkan oleh penderita dalam waktu segera untuk menyelamatkan
kehidupannya. Unit kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan gawat
darurat disebut dengan nama Unit Gawat Darurat. Tergantung dari
kemampuan yang dimiliki, keberadaan unit gawat darurat (UGD) tersebut
dapat beraneka macam, namun yang lazim ditemukan adalah yang tergabung
20
dalam rumah sakit. X

Jauhari, Analisis kebutuhan tenaga perawat berdasarkan beban kerja di instalasi rawat inap
rumah sakit umum, (Medan: PPS - USU Administrasi dan kebijakan kesehatan, 2005), hlm. 32

Asmuni, Suarni, waktu tunggu pasien pada pelayanan rekam medis rawat jalan di rumah sakit,
(Bandung: Bina Cipta, 2008), hlm. 26
Ibid., hlm. 20

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2. Hak Rumah Sakit

Hak rumah sakit adalah kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki rumah sakit
untuk mendapatkan atau memutuskan untuk membuat sesuatu. Dalam Undang-
Undang No. 44 tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, hak rumah sakit diatur dalam
Pasal 30 yaitu: Setiap Rumah Sakit mempunyai hak:

Menentukan jumlah, jenis, dan kualifikasi sumber daya manusia sesuai dengan
klasifikasi Rumah Sakit;
Menerima imbalan jasa pelayanan serta menentukan remunerasi, insentif, dan
penghargaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
Melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka mengembangkan
pelayanan;

Menerima bantuan dari pihak lain sesuai dengan ketentuan peraturan


perundangundangan;
Menggugat pihak yang mengakibatkan kerugian;

Mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan pelayanan kesehatan;


Mempromosikan layanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
Mendapatkan insentif pajak bagi Rumah Sakit publik dan Rumah Sakit yang
ditetapkan sebagai Rumah Sakit pendidikan.

Rumah sakit berhak atas segala sesuatu yang berhak didapatkan dan diperolehnya.
Imbalan jasa merupakan balasan jasa yang diberikan pihak pasien sebagai
konsumen yang merupakan kewajiban pasien. Imbalan jasa yang diberikan dapat
menjadi sebagai pendorong semangat untuk bekerja bagi para tenaga medis dan
meningkatkan kinerja perawat. Hal tersebut dapat mempengaruhi dalam faktor
individu yang terdiri dari kemampuan dan keterampilan, faktor psikologi terdiri
dari persepsi, sikap, kepribadian dan motovasi, sedangkan faktor organis berefek
tidak langsung terhadap perlaku

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
dan kinerja individu yang terdiri dari sumber daya, kepemimpinan dan
21
struktur. Apabila Pasien yang tidak membayar imbalan jasa yang sesuai
dengan pemakaian, maka pihak rumah sakit berhak menggugat pihak yang
mengakibatkan kerugian. Hal tersebut merupakan perbuatan melawan hukum
yang merugikan pihak lain atau disebut wanprestasi. Dalam Pasal 1365
KUHPerdata menyatakan: “Setiap perbuatan melawan hukum yang oleh
karena itu menimbulkan kerugian pada orang lain, mewajibkan orang yang
karena kesalahannya menyebabkan kerugian tersebut mengganti kerugian”.
Oleh karena itu, pihak rumah sakit berhak melakukan gugatan kepada pasien
yang melakukan wanprestasi.X

Rumah Sakit dapat menolak mengungkapkan segala informasi kepada publik


yang berkaitan dengan rahasia kedokteran. Pasien dan/atau keluarga yang
menuntut Rumah Sakit dan menginformasikannya melalui media massa,
dianggap telah melepaskan hak rahasia kedokterannya kepada umum.
Penginformasian kepada media massa memberikan kewenangan kepada
Rumah Sakit untuk mengungkapkan rahasia kedokteran pasien sebagai hak
22
jawab Rumah Sakit. Rumah Sakit tidak bertanggung jawab secara hukum
apabila pasien dan/atau keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan
yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang
komprehensif. Rumah Sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas
dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia. Rumah Sakit bertanggungX

Ikhsan, Arfan, Ida Bagus Agung Dharmanegara, Akuntansi dan manajemen keuangan rumah sakit,
(Medan: Graha Ilmu, 2010), hlm. 16

Ibid., hlm. 19

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian
23
yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit. X

3. Tujuan dan Fungsi Rumah Sakit

Rumah sakit diselenggarakan berdasarkan pancasila dan didasarkan kepada nilai


kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan
antidiskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta
24
mempunyai fungsi sosial. Tujuan pengaturan penyelenggaraan rumah sakit
adalah sebagai berikut:X

Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan;


Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan
rumah sakit, dan sumber daya manusia dirumah sakit;
Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit;

Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia


rumah sakit dan rumah sakit.
Menurut Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, rumah sakit
mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna.
Pelayanan kesehatan paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi
promotif, preventif, kuratif, fan rehabilatif. Untuk menjalankan tugas sebagaimana
25
yang dimaksud, rumah sakit mempunyai fungsi: X

Penjelasan Pasal 30 Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit


Ikhsan, Arfan, Ida Bagus Agung Dharmanegara, Op.cit., hlm 2
Ibid.,

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan
standar pelayanan rumah sakit.
Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan
yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka
peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan, dan
Penyelenggaraan peneletian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang
kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan
etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

C. Pengertian Pelaku Usaha

Dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan


Konsumen disebutkan pelaku usaha adalah setiap badan hukum yang didirikan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Republik
Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian
penyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.

Dalam penjelasan undang-undang yang termasuk dalam pelaku usaha adalah


perusahaan, korporasi, BUMN, Rumah Sakit, koperasi, importer, pedagang,
26
distributor, dan lain-lain. Dalam hal ini tampak bahwa pelaku usaha yang
dimaksudkan dalam undang-undang perlindungan konsumen samaX
26
Celina Tri Siwi Kritiyanti, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta:Sinar Grafika, 2008), hlm.
41

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
dengan cakupan produsen yang dikenal di Belanda, karena produsen dapat
berupa perorangan atau badan hukum.
Pelaku usaha meliputi berbagai bentuk atau jenis usaha sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen, sebaiknya
ditentukan urutan-urutan yang seharusnya digugat oleh konsumen manakala
dirugikan oleh pelaku usaha. Urutan-urutan tersebut sebaiknya disusun
27
sebagai berikut; X

yang pertama digugat adalah pelaku usaha yang membuat produk tersebut jika
berdomisili di dalam negri dan domisilinya diketahui oleh konsumen yang
dirugikan,
apabila produk yang merugikan konsumen tersebut diproduksi di luar negri,
maka yang digugat adalah importirnya, karena undang-undang perlindungan
konsumen tidak mencakup pelaku usaha di luar negri,

apabila produsen maupun importer dari suatu produk tidak diketahui, maka
yang digugat adalag dari siapa konsumen membeli barang tersebut.
Urutan-urutan di atas tentu saja hanya diberlakukan jika suatu produk

mengalami cacat pada saat produksi, karena kemungkinan barang mengalami


kecacatan pada saat sudah berada di luar kontrol atau di luar kesalahan pelaku
28
usaha yang memproduksi produk tersebut. X

Penjelasan di atas, pelaku usaha terfokuskan kepada suatu yang menghasilkan


suatu produksi yaitu produk barang yang dipergunakan oleh masyarakat.
Pelaku usaha juga bisa menghasilkan dalam bentuk jasa. Jasa

Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Op.Cit., hlm. 10


Ibid., hal 11

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
seseorang yang memiliki keahlian dapat dihasilkan dengan menghasilkan
keuntungan yang baik. Jasa seseorang yang digunakan adalah sesuai dengan
bidang keahliannya, profesinya, dan dilihat dari kemampuan, kemahiran dan
kepintarannya. Jasa yang dapat digunakan dalam menghasilkan suatu keuntungan
yaitu: jasa pembantu rumah tangga, jasa supir, dan jasa dalam pelayanan
pelayanan kesehatan yaitu rumah sakit.
Rumah sakit sebagai pelaku usaha dalam menghasilkan keuntungan tidak dalam
menghasilkan atau mengeluarkan suatu produk, tapi memberikan jasa pelayanan
yang professional, dan ahli dalam bidang masing-masing. Bentuk yang diberikan
oleh rumah sakit berupa pelayanan kesehatan kepada pasien yang pelaku sebagai
konsumen. Dalam hal ini rumah sakit dalam bidang jasa memberikan pelayanan
kesehatan yang baik, benar dan akurat yang bertujuan, pasien mengunjungi rumah
sakit dapat pulih atau sehat kembali dan merasa puas dengan kinerja pelayanan
29
kesehatan di dalam rumah sakit. X

Dalam hal ini, pelaku usaha merupakan suatu badan hukum yang berdiri sendiri
maupun bersama-sama yang menyelenggarakan suatu usaha baik usaha dalam
menghasilkan suatu produk/barang, dan usaha yang bergerak dalam bidang jasa.
Pelaku usaha didirikan bertujuan untuk menambah lapangan kerja, pendapatan
Negara dan mendapatkan profit atau keuntungan dari suatu hasil produksi barang
maupun jasa.

29
M.Sofyan Lubis dan M.Harry, Konsumen dan Pasien, (Yogyakarta, liberty, 2008), hlm.
21.

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
Tanggung Jawab Rumah Sakit Berdasarkan UU NO 44 Tahun 2009 Tentang
Rumah Sakit

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia atas tingkah laku atau perbuatannya
yang disengaja maupun tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat
sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Adapun kewajiban rumah sakit dalam Pasal 29 Undang-Undang No. 44 Tahun
2009 tentang Rumah Sakit yaitu:

Memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada


masyarakat;

Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif


dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan
Rumah Sakit;

Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan


pelayanannya;

Berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana, sesuai


dengan kemampuan pelayanannya;
Menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin;

Melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan


pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulan
gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi
misi kemanusiaan;
Membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di
Rumah Sakit sebagai acuan dalam melayani pasien;

Menyelenggarakan rekam medis;

Menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah,
parkir, ruang tunggu, sarana untuk orang cacat, wanita menyusui, anak-anak,
lanjut usia;

Melaksanakan sistem rujukan;

Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika
serta peraturan perundang-undangan;

Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban
pasien;

Menghormati dan melindungi hak-hak pasien;

Melaksanakan etika Rumah Sakit;

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
Memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana;

Melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional


maupun nasional;

Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau


kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya;
Menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit (hospital by
laws);
Melindungi dan memberikan bantuan hokum bagi semua petugas Rumah Sakit
dalam melaksanakan tugas; dan

Memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan tanpa


rokok.

Berdasarkan keterangan di atas, rumah sakit harus bertanggung jawab dalam


melaksanakan kewajibannya yang bertujuan untuk memberi kesehatan yang
baik dan perlindungan pelayanan yang baik kepada pasien. Dalam pelayanan,
rumah sakit harus memiliki standar pelayanan rumah sakit yaitu semua standar
pelayanan yang berlaku di rumah sakit antara lain standar operasional
30
prosedur, standar pelayanan medis dan standar asuhan keperawatan. X

Rumah sakit dibangun serta dilengkapi dengan sarana, prasarana dan peralatan
yang dapat difungsikan serta dipeliharan sedemikian rupa untuk mendapat
keamanan, mencegah kebakaran/bencana dengan terjaminnya keamanan,
kesehatan dan keselamatan pasien, petugas, penunjang, dan lingkungan rumah
sakit. Apabila rumah sakit melakukan pelanggaran atas kewajibannya maka
31
rumah sakit bertanggung jawab secara hukum. Hal ini diatur dalam pasal 46
yang menyatakan: “Rumah sakit bertanggung jawabX

Ns. Ta’adi, S.Kep, Hukum Kesehatan Pengantar Menuju Perawat Profesional, (Jakarta: Buku
Kedokteran EGC,2009), hlm. 11

Penjelasan Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang
32
dilakukan oleh tenaga kesehatan dirumah sakit”. X

Rumah sakit adalah subyek hukum. Berarti, rumah sakit dapat melakukan
hubungan hukum dengan subyek hukum lainnya dalam melaksanakan
pelayanan kesehatan, karena itu rumah sakit wajib menanggung segala
konsekuensi hukum yang timbul sebagai akibat dari perbuatannya atau
perbuatan orang lain yang berada dalam tanggung jawabnya. Tanggung jawab
hukum tersebut meliputi tiga aspek yaitu hukum perdata, hukum administrasi
dan hukum pidana. Dari sisi hukum perdata, pertanggungjawaban rumah sakit
terkait dengan hubungan hukum yang timbul antara pasien dengan rumah sakit
dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit.
a) Perdata

Merujuk pendapat Triana Ohoiwutun, hubungan hukum ini menyangkut dua


macam perjanjian yaitu perjanjian perawatan dan perjanjian pelayanan medis.
Perjanjian perawatan adalah perjanjian antara rumah sakit untuk menyediakan
perawatan dengan segala fasilitasnya kepada pasien. Sedangkan perjanjian
pelayanan medis adalah perjanjian antara rumah sakit dan pasien untuk
33
memberikan tindakan medis sesuai kebutuhan pasien. Jika terjadi kesalahan
dalam pelayanan kesehatan, maka menurut mekanisme hukum perdata pihak
pasien dapat menggugat dokter berdasarkan perbuatan melawan hukum.
Sedangkan gugatan terhadap rumah sakit dapat dilakukanX

Dilihat dalam Pasal 46 Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Triana Ohoiwutun, Profesi Dokter, (Malang: Dioma, 2003), hlm. 67

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
berdasarkan wan prestasi (ingkar janji), di samping perbuatan melawan hukum.
Dalam hukum perdata dibedakan antara kerugian yang dapat dituntut berdasarkan
wanprestasi dengan yang berdasarkan perbuatan melawan hukum. Kerugian yang
dapat dituntut atas dasar wanprestasi yaitu”hanyalahkerugian materiil atau
kerugian kekayaan/kebendaan (vermogenschade) atau kerugian yang dapat dinilai
dengan uang. Sementara itu kerugian yang dapat dituntut dengan alasan perbuatan
melawan hukum selain kerugian kebendaan juga kerugian idiil (immaterial) yang
tidak bersifat kebendaan, namun dapat diperkirakan nilai kebendaannya
34
berdasarkan kelayakan. X

b) Administratif

Pertanggungjawaban rumah sakit dari aspek hukum administratif berkaitan


dengan kewajiban atau persyaratan administratif yang harus dipenuhi oleh rumah
sakit khususnya untuk mempekerjakan tenaga kesehatan di rumah sakit. Undang-
Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menentukan antara lain
kewajiban untuk memiliki kualifikasi minimum dan memiliki izin dari pemerintah
untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Selain itu Undang-Undang
Kesehatan menentukan bahwa tenaga kesehatan harus memenuhi kode etik,
standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan dan standar
prosedur operasional. Jika rumah sakit tidak memenuhi kewajiban atau
persyaratan administratif tersebut, maka

29 Prodjodikoro, Wirjono, Azas-azas hukum perjanjian., (Bandung: Mandar Maju, 2000),

hlm 38

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
berdasarkan Pasal 46 Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah
Sakit, rumah sakit dapat dijatuhi sanksi administratif berupa teguran, teguran
tertulis, tidak diperpanjang izin operasional, dan/atau denda dan pencabutan
35
izin. X

c) Pidana

Pertanggungjawaban dari aspek hukum pidana terjadi jika kerugian yang


ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan oleh tenaga medis di rumah sakit
memenuhi tiga unsur. Ketiga unsur tersebut adalah adanya kesalahan dan
perbuatan melawan hukum serta unsur lainya yang tercantum dalam ketentuan
pidana yang bersangkutan. Perlu dikemukakan bahwa dalam sistem hukum
pidana, dalam hal tindak pidana dilakukan oleh korporasi, maka pengurusnya
dapat dikenakan pidana penjara dan denda. Sedangkan untuk korporasi, dapat
36
dijatuhi pidana denda dengan pemberatan. X
Dalam hal ini, rumah sakit harus dapat memberikan tanggung jawab kepada
pasien dalam pelayanan dan perlindungan pasien. Rumah sakit tidak boleh
melepaskan tanggung jawab terhadap sesuatu yang dilanggarnya dan
mengakibatkan kerugian pasien. Rumah sakit selain bertanggung jawab dalam
perlindungan pasien, rumah sakit juga bertanggung jawab menjaga kerhasiaan
riwayat pasien dan rumah sakit juga berhak mendapat perlindungan apabila
pasien melakukan perbuatan melawan hukum.

xa.yimg.com/kq/groups, dikases pada tanggal 7 Maret 2013


Fuady, Munir, Perbuatan melawan hukum : pendekatan kontemporer, (Bandung: Citra Aditya
Bakti, 2005),hlm 56

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
Hal ini perlu mendapat perhatian bersama oleh seluruh pihak di rumah sakit
adalah menyangkut pelaksanaan etika profesi dan etika rumah sakit sehingga
penyelenggaraan Pelayanan secara beretika akan sangat mempermudah
seluruh pihak dalam menegakkan aturan-aturan hukum.

UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA