Anda di halaman 1dari 11

PT. DOMAS AGROINTI PRIMA (PT.

DAP)
A BAKRIE OLEOCHEMICALS DIVISION

A. Umum

PT. DAP berlokasi di Acces road Inalum KM.15. Desa Medang Deras Kabupaten Batubara Provinsi
Sumatera Utara 98o 52’BT; 3o 37’LU tepatnya berada di area Industri Kuala Tanjung.

PT. DAP ini berada di kawasan industri yang dikelola oleh PT. Sarana Industama Perkasa (PT.SIP), bersama
sama dengan PT. Domas Agro Inti Prima (PT.DAIP) yang mengolah 1500 MTD CPO menjadi minyak
goreng, juga ada PT Domas Sarana Inti Perkasa (PT.DSIP) yang mengolah 500 MTD kernel (inti sawit)
menjadi CPKO.

PT.DAP mempunyai kapasitas 300 MTD pengolahan CPKO menjadi varian fatty acid (97%) dengan hasil
samping gliserin (12%). Dan 100 MTD dari fatty acid ini yaitu dari rantai C 12-14 diolah lanjut dengan
menghidrogenasikannya menjadi Fatty alcohol, sedangkan sisa dijual sebagai varian fatty acid.

Untuk proses hidrogenasi fatty acid ini menjadi fatty alcohol digunakan hidrogen yang diperoleh dari
pemecahan/cracking methanol.

Untuk proses pembuatan fatty acid sampai dengan pembuatan fatty alcohol ini dipakai teknologi Lurgi
Generasi #3 (Wax-ester road, Generasi #1 = Fatty acid road, Generasi #2 = methyl-ester road), sedangkan
untuk proses pembuatan hydrogen dipakai teknologi Mahler. Kedua teknologi ini berasal dari Jerman,

B. Produk Pabrik Oleokimia

Oleokimia (oleochemicals, oleum = minyak). Secara umum yang dimaksud dengan produk oleokimia yang
dihasilkan di PT.DAP ini adalah sebagai berikut:

B.1. Glycerine

Gliserin pertama sekali diidentifikasi oleh Scheele pada tahun 1770 yang diperoleh dengan
memanaskan minyak zaitun (olive oil). Pada tahun 1784, Scheel melakukan penelitian yang sama
terhadap beberapa sumber minyak nabati lainnya dan lemak hewan seperti lard. Scheel menamakan
hasil temuannya ini dengan sebutan ‘the sweet principle of fats”.

Nama gliserin baru dikenal setelah pada tahun 1811. Nama ini diberikan oleh Chevreul (orang yang
melanjutkan penelitian Scheele ) yang diambil dari bahasa Yunani (Greek) yaitu dari kata glyceros
yang berarti manis.

Pada tahun 1836, Pelouze menemukan formula dari gliserol dan pada tahun 1883
Berthlot dan Luce mempublikasikan formula struktur gliserol.
Tahun 1847, Sobrero menemukan nitoglycerine, suatu senyawa yang tidak stabil yang
mempunyai potensi besar untuk berbagai aplikasi komersial. Tahun 1836, Alfred Nobel
mendemostrasikan kemampuan daya ledak nitroglycerine. Pada tahun 1875, Alfred Nobel
menemukan suatu peledak yang disebut gelatin yaitu campuran dari nitroglycerine dan nitrocellulose.
Penemuan bahan peledak ini membuat permintaan akan gliserin sangameningkat
terutama pada saat revolusi industri. Pada tahun 1883, Runcon mematenkan recovery gliserin dari
sabun alkali hasil distilasi. Gliserol merupakan tryhydric alcohol C2H5(OH)3 atau 1,2,3-propanetriol.
Pemakaian kata gliserol dan gliserin sering membuat orang bingung. Gliserol dan gliserin adalah
sama, tetapi pemakaian kata gliserol biasa dipakai jika kemurnian rendah (masih terkandung dalam
air manis) sedangkan pemakaian kata gliserin dipakai untuk kemurnian yang tinggi.
Tetapi secara umum, gliserin merupakan nama dagang dari gliserol.

Glycerine merupakan senyawa kimia karbon dengan rumus molekul C3H8O3. Dari Golongan Hydroxyl
dan mempunyai beberapa nama dagang ataupun sinonimny adalah: (1,2,3,4,5,6) Glycerin; Glycerol;
Glycerine; Glycerine anhydrous; Glyceritol; Glycyl alkohol; 1,2,3-Propanetriol; Propanetriol; 1,2,3-
Trihydroxypropane; Bulbold; Citifluor AF 2; Emergy 916:Glyrol; Glysanin; Trihydroxypropane; Glycerol
opthalgan;Osmoglyn; STC Tensioning Fluid; Pricerine 091; Wasserfrei; Grocolene; Moon Star; Glycerin
mist; Clyzerin; Glyceritol; Glycerol USP.

Struktur kimia gliserine adalah sebagai berikut:

CH2 –OH

CH—OH

CH2 –OH

Glycerine secara umum digunakan untuk bidang farmasi, Gliserin adalah bahan kimia, dengan fungsi
sebagai bahan ramuan dan bahan bantuan proses di dalam kosmetik, 'toiletries', obat-obatan dan
produk makanan. Mempunyai sifat jernih, tidak berbau, dengan air menjadi suatu larutan yang
mempunyai rasa manis. Gliserin akan melarut di dalam air dengan segala perbandingan, dan juga
larut dalam alkohol tetapi tidak di dalam minyak. Dapat juga dihasilkan dengan secara sintetik dari
petrokimia.

Gliserin digunakan juga sebagai emollient (agen pelembab) dalam krim pelembab dan pelembut kulit.
Produk yang menggunakan gliserin sebagai bahan ramuannya adalah seperti obat gigi, krim muka,
krim pencukur, produk untuk kecantikan rambut dan juga sabun. Gliserin yang digunakan untuk obat-
obatan dan kosmetik ini umumnya menggunakan gliserin yang diperoleh dari bahan nabati, seperti
kelapa sawit, dan lainnya .

B.2. Fatty Acid


Fatty acid merupakan senyawa kimia karbon dengan rumus molekul R-COOH, dimana R adalah
radikal alkil (CnH2n+1)

Untuk bahan baku yang berasal dari tumbuhan/nabati jumlah atom C-nya adalah bilangan genap,
sedangkan yang berasal dari lemak hewan berjumlah ganjil, contoh yang berasal dari CPKO yang
jumlah atom C-nya berada di antara 6 ke 22:

C6H14O2 : Caproic acid


C8H18O2 : Caprylic acid
C10H22O2 : Capryc acid
C12H26O2 : Lauric acid
C14H30O2 : Myristic acid
C16H34O2 : Palmitic acid
C18H38O2 : Stearic acid
C20 H42O2 : Arachic acid
C22 H46O2 : Behenic acid

B.3. Fatty Alcohol

Faaty alcohol merupakan senyawa kimia karbon dengan rumus molekul R-OH, dimana R adalah
radikal alkil (CnH2n+1).

Penamaan akan alcohol ini sama dengan penamaan fatty acid hanya saja akhiran -at diganti
dengan –ol, seperti:

C6H13OH : Caprol
C8H17OH : Caprylol
C10H21OH : Caprycol
C12H25OH : Laurol
C14H29OH : Myristol.
C16H33OH : Palmitol.
C18H37OH : Stearol.
C20 H41OH : Arachol.
C22 H45OH : Behenol.

C. Pembuatan Oleokimia

C.1. Bahan baku

Bahan baku untuk pembuatan Oleokimia pada PT.DAP ini adalah CPKO (Crude Palm Kernel Oil)
C.2. Bahan Penolong

Bahan penolong yang digunakan :

1. HCl, Kapur, Filter aid, NaOH dan Carbon active

2. Katalis : Cu-Cr/CuO, NiO.

3. Methanol

4.

CH2- RCOOH CH2-OH

CH-- RCOOH + HOH  3 RCOOH + CH--OH

CH2- RCOOH CH2-OH

C.3. Reaksi kimia.

CPKO (Crude Palm Kernel Oil/ Minyak inti sawit) di hidrolisa di Splitter 101D1 dengan air pada
temperatur sekitar 255oC dan tekanan 55 bar dengan pemanas steam, yang menghasilkan Crude
Faaty acid dan Crude Gliserin.

Crude Fatty acid ini kemudian dimurnikan di Section 105, yang sekalian dipisahkan atas fraksi
fraksinya.

Crude gliserin dimurnikan akan mong dan sisa gliserida yang terikut, baik mono atau di ataupun
tri gliserida tersisa di Section 102 dengan pengasaman oleh HCl dan dinetralisasi dengan Kapur, an
seterusnya ditambahkab filter aid mdan dilakukan penyaringan/filtrasi. Kemudian Crude yang
sudah murni ini dipekatkan dengan cara penguapan kandungan air dengan evaporator di Section
103. Setelah itu pemisahan sisa kandungan airnya di pisah dengan cara mendistilasinya dan
melewatkannya dari carbon active bed di section 104 sebagai bleacher sebelum di disimpan di
tangki timbun.

CH2 –RCOOH CH2-OH

CH—RCOOH + HOH  3 RCOOH + CH -OH

CH2 –RCOOH CH2-OH


Minyak/Lemak Air Fatty acid Glycerine

Fatty acid fraksi C12-14 keluaran dari Section 105, kemudian direaksikan dengan fatty alcohol dan
membentuk wax ester di Section 110. Di section ini air sebagai hasil samping juga dipisahkan
dalam separator.

RCOOH + R’CH2OH  RCOO-R’ + H2O

Fatty acid Fatty alcohol Wax-ester Air

Wax ester yang bebas air ini dari Section 110 kemudian direaksikan dengan gas Hydrogen yang
dihasilkan dari Mahler H2 Generation Section 114.

CH3OH + H2O  3H2 + CO2

Methanol Air Hydrogen Karbondioksida

Di dalam reactor 111D1 di Section 111 yang berisi Cu-Cr katalis bed terjadi reaksi hydrogenasi dari
wax ester membentuk fatty alcohol. Reaksi yang terjadi adalah reaksi endothermic, panas yang
dibutuhkan diperoleh dari pemanasan dengan Oil Thermal Oil (OTH). Reaksi ini berlangsung pada
temperatur 250 oC dengan tekanan 270 bar.

RCOO-R’ + H2  RCH2OH + R’CH2OH

Wax-ester Hidrogen Fatty alcohol

Fatty alcohol ini dimurnikan dari hidrokarbon hasil cracking dari alcohol akibat temperature tinggi
direaktor di Section 112, Dan dari kandungan karbonil yang akan membuat warna dan bau yang
tidak disukai, di Section 113.

C.4. Blok Diagram.

CPKO Sectrion 102 Sectrion 103 Sectrion 104


Section 101
Pretreatment Pemekatan Pemurnian Crude Glycerin
Demin Hidrolisa
sweet water Sweet water Glycerine e
water CPKO

H
Steam
Sectrion 105
Fraksinasi dan Distilasi
Fatty Acid
Fatty Acid

Sectrion 114 Sectrion 107


H2 Plant Hidrogenasi

Sectrion 111 Sectrion 110


H2 Wax Ester
Hidrogenasi

Sectrion 112 Sectrion 113


Konversi Karbonil Fatty Alcohol
Distilasi

C.5. Spesifikasi Produk

Produk yang dihasilkan oleh PT. DAP mempunyai nama market dan spesifikasi secara umum
sebagai berikut:

Gliserin

Fatty Acid

Mois Acid Heat Color Composition


ture Value Stability

C6 C8 C10 C12 C14 C16 C18 C20

C6-8
C80

C1214

C1216

C12-18

C12

C14

C1618

Fatty alcohol

AV SV Moisture HC %
Alcohol

C1214 0.05 1 0.1 0.5 98.5

D. Kegunaan Oleokimia

D.1. Surfactant.

Pada umumnya produk oleokimia ini masih digunakan sebagai bahan surfactant, baik untuk
sabun, shampoo dan lainnya.
D.2. Kosmetik

Selain untuk penggunaan sebagai bahan surfactant, produk oleokimia ini juga sangat banyak
dipakai untuk bahan kosmetik, seiring dengan kegiatan manusia semakin hari semakin banyak
menggunakan kosmetik dan ada pula yang menjadikannya sebagai kebutuhan kedua, setelah
pangan, sehingga kebutuhan akan oleokimia ini semakin hari semakin meningkat.

D.3. Biodiesel (Methyl-ester)

Yang merupakan hasil intermediate, saat proses pembuatan fatty acohol yang memakai methyl–
ester road. Dimana ketika fatty acid direaksikan dengan methanol akan membentuk methyl-ester
atau yang sering disebut dengan biodiesel, tetapi tidak diproduksi di PT.DAP, karena PT.DAP
memakai wax ester road.

Sekarang ini dengan semakin sulitnya dijumpai sumur minyak bumi, maka telah dibuat konvensi
international untuk menambahkan bahan bakar nabati yang disebut dengan bio diesel yaitu metal
ester dari minyak nabati sekitar 10% ke bahan bakar dari minyak bumi/solar/diesel.

Bahan bakar nabati bioetanol dan biodiesel merupakan dua kandidat kuat pengganti bensin dan solar
yang selama ini digunakan sebagai bahan bakar mesin Otto dan Diesel. Pemerintah Indonesia telah
mencanangkan pengembangan dan implementasi dua macam bahan bakar tersebut, bukan hanya untuk
menanggulangi krisis energi yang mendera bangsa namun juga sebagai salah satu solusi kebangkitan
ekonomi masyarakat.
Biodiesel pertama kali dikenalkan di Afrika selatan sebelum perang dunia II sebagai bahan bakar
kenderaan berat. Biodiesel didefinisikan sebagai metil/etil ester yang diproduksi dari minyak tumbuhan
atau hewan dan memenuhi kualitas untuk digunakan sebagai bahan bakar di dalam mesin diesel.
Sedangkan minyak yang didapatkan langsung dari pemerahan atau pengempaan biji
sumber minyak (oilseed), yang kemudian disaring dan dikeringkan (untuk mengurangi kadar air), disebut
sebagai minyak lemak mentah. Minyak lemak mentah yang diproses lanjut guna menghilangkan kadar
fosfor (degumming) dan asam-asam lemak bebas (dengan netralisasi dan steam refining) disebut dengan
refined fatty oil atau straight vegetable oil (SVO).
SVO didominasi oleh trigliserida sehingga memiliki viskositas dinamik yang sangat tinggi dibandingkan
dengan solar (bias mencapai 100 kali lipat, misalkan pada Castor Oil. Oleh karena itu, penggunaan SVO
secara langsung di dalam mesin diesel umumnya memerlukan modifikasi/tambahan peralatan khusus
pada mesin, misalnya penambahan pemanas bahan bakar sebelum sistem pompa dan injektor bahan
bakar untuk menurunkan harga viskositas. Viskositas (atau kekentalan) bahan bakar yang sangat tinggi
akan menyulitkan pompa bahan bakar dalam mengalirkan bahan bakar ke ruang bakar. Aliran bahan bakar
yang rendah akan menyulitkan terjadinya atomisasi bahan bakar yang baik. Buruknya atomisasi
berkorelasi langsung dengan kualitas pembakaran, daya mesin, dan emisi gas buang.
Pemanasan bahan bakar sebelum memasuki sistem pompa dan injeksi bahan bakar merupakan satu
solusi yang paling dominan untuk mengatasi permasalahan yang mungkin timbul pada penggunaan SVO
secara langsung pada mesin diesel. Pada umumnya, orang lebih memilih untuk melakukan proses kimiawi
pada minyak mentah atau refined fatty oil/SVO untuk menghasilkan metil
ester asam lemak (fatty acid methyl ester - FAME) yang memiliki berat molekul lebih kecil dan viskositas
setara dengan solar
sehingga bisa langsung digunakan dalam mesin diesel konvensional. Biodiesel umumnya diproduksi dari
refined vegetable oil menggunakan proses transesterifikasi. Proses ini pada dasarnya bertujuan
mengubah [tri, di, mono] gliserida berberat molekul dan berviskositas tinggi yang mendominasi komposisi
refined fatty oil menjadi asam lemak methil ester (FAME).
Biodiesel tergolong bahan bakar yang dapat diperbaharui karena diproduksi dari hasil pertanian, antara
lain : jarak pagar, kelapa, sawit, kedele, jagung, rape seed, kapas, kacang tanah. Selain itu biodiesel juga
bisa dihasilkan dari lemak hewan dan minyak ikan.
Penggunaan biodiesel cukup sederhana, dapat terurai (biodegradable), tidak beracun dan pada dasarnya
bebas kandungan belerang (sulfur). Keuntungan lain dari biodiesel antara lain :
1. Termasuk bahan bakar yang dapat diperbaharui.
2. Tidak memerlukan modifikasi mesin diesel yang telah ada.
3. Tidak memperparah efek rumah kaca karena siklus karbon yang terlibat pendek.
4. Kandungan energi yang hampir sama dengan kandungan energi petroleum diesel.
5. Penggunaan biodiesel dapat memperpanjang usia mesin diesel karena memberikan lubrikasi lebih
daripada bahan bakar petroleum.
6. Memiliki flash point yang tinggi, yaitu sekitar 200 oC, sedangkan bahan bakar petroleum diesel flash
pointnya hanya 70 oC.
7. Bilangan setana (cetane number) yang lebih tinggi daripada petroleum diesel

Konsep penggunaan minyak tumbuh-tumbuhan sebagai bahan pembuatan bahan bakar sudah dimulai
pada tahun 1895 saat Dr.Rudolf Christian Karl Diesel (Jerman, 1858-1913) mengembangkan mesin
kompresi pertama yang secara khusus dijalankan dengan minyak tumbuh-tumbuhan. Mesin diesel atau
biasa juga disebut Compression Ignition Engine yang ditemukannya itu merupakan suatu mesin motor
penyalaan yang mempunyai konsep penyalaan di akibatkan oleh kompressi atau penekanan
campuran antara bahan bakar dan oxygen didalam suatu mesin motor, pada suatu kondisi tertentu.
Konsepnya adalah bila suatu bahan bakar dicampur dengan oxygen (dari udara) maka pada suhu dan
tekanan tertentu bahan bakar tersebut akan menyala dan menimbulkan tenaga atau panas. Pada saat itu,
minyak untuk mesin diesel yang dibuat oleh Dr. Rudolf Christian Karl Diesel tersebut berasal dari minyak
sayuran. Tetapi karena pada saat itu produksi minyak bumi (petroleum) sangat melimpah dan murah,
maka minyak untuk mesin diesel tersebut digunakan minyak solar dari minyak bumi. Hal ini menjadi
inpirasi terhadap penerus Karl Diesel yang mendesain motor diesel dengan spesifikasi minyak diesel.

E. Limbah

E.1. Limbah Padat dan Penangannya

Limbah padat berupa solid, sebagai hasil penggaraman gliserin ditampung dan di paking dengan
baik sebelum dikirim ke penampungannya pada PT. Jampalan.

Selain dari pada hasil penggantian katalis di reactor 111D1, katalis bekas ini dijual ke

E.2. Limbah Cair dan Penangannya.

Limbah cair hasil dari fat trap Fatty acid dan hasil reaksi di Section 110 dialirkan ke pengolahan
limbah cair di WWTP, sebelum dikembalikan ke kolam penampungan atau dibuang ke laut.
F. Market.

F.1. Produksi Dunia.

Sampai dengan sekarang ini jumlah produksi dari pada oleokimia didunia ini diperkirakan sebesar
MT berasal dari Eropah % dari Asia Tenggara % Dari Amerika Latin % dari Cina dan Jepang %.

Oleokimia yang % dari Asia Tenggara tersebut berasal % dari Indonesia, % dari Malaysia,% dari
Philippina.

Beberapa pabrik penghasil oleokimia di Indonesia (2014) :

No Nama Perusahaan Jumlah Produksi, MTD Prosentase

Fatty Acid Fatty Alcohol Biodiesel

1 Ecogreen Oleochemicals -

2 Sinarmas Oleochemicals -

3 Cisadane

4 Musim Mas 440

5. Bakrie Oleochemicals

6 Wilmar

7. Surya Dumai

Total

Dan diperkirakan di tahun 2016 akan diproduksi MT

F.2. Kebutuhan.

Kebutuhan akan oleokimia saat ini diperkirakan MT


Product Name
No Substance Name Generic Name BSP Product Code P & G
Fatty Acid
1 Fatty Acid C6 - 12 Caproic - Lauric Acid BSP VAC-0810 V-810
2 Fatty Acid C6 - 12 Caproic - Lauric Acid BSP VAC-0810L V-810L
3 Fatty Acid C10 - 16 Capric - Palmitic Acid BSP VAC-1214i ( instead of BSP VAC-1216i ) V-1214i
4 Fatty Acid C12-18,C18:1,C18:2 Palm Kernel Fatty Acid BSP VAC-1218 PK-1218
5 Fatty Acid C10 - 16 Capric - Palmitic Acid BSP VAC-1270i (instead of BSP VAC-1214i ) V-1270i
6 Fatty Acid C16 - 18 Palmitic - Stearic Acid BSP VAC-1618i V-1618i
7 Hexadecanoic Acid Palmitic Acid BSP VAC-1698 V-1698
8 Fatty Acid C16-18 Palmitic - Stearic Acid BSP VAC-1655 V-1655
9 Octadecanoic Acid Stearic Acid BSP VAC-1892 V-1892
Glycerin
1 Glycerol
Blend of any combination of ester,
hydrolyzer, soap and salt crude
glycerin
BSP VGL-880 Crude Glycerin
2 Glycerol Glycerine BSP VGL-997 Refined Glycerin
Fatty alcohol
1 Fatty Alcohol C10-16 Lauryl Palmityl Alcohol BSP VAL-1214 ( instead of BSP VAL-1216 ) CO-1214
2 Fatty Alcohol C10-16 Lauryl Myristyl Alcohol BSP VAL-1270 (instead of BSP VAL-1214 ) CO-1270