Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

  • A. Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui protista adalah organisme yang berasal dari suatu kingdom yang mana pada kingdom tersebut terdapat kelas yang mirip dengan hewan, tumbuhan dan fungi. Protista adalah makhluk hidup yang merupakan suatu organisme uniseluler dan ada juga yang multiseluler serta memiliki membrane inti. Untuk protista yang mirip hewan dikenal dengan protozoa, sedangkan untuk protista yang mirip tumbuhan disebut dengan alga. Untuk protozoa mereka dikenali memiliki alat gerak sehingga kelas ini dapat dibedakan dengan kelas yang lainnya. Sedangkan protista mirip tumbuhan memiliki klorofil a dan b, serta beberapa jenis pigmen seperti karotin dan xantofil. Seperti yang telah disebutkan diatas selain protozoa dan alga juga terdapat protista mirip jamur yang nantinya akan dibahas pada makalah ini. Protista mirip jamur ini tidak dapat dikelompokkan ke jamur meskipun sama-sama menghasilkan spora. Pada makalah ini nantinya akan terlihat mengapa protista mirip jamur ini tidak dapat dikelompokkan ke jamur. Selain itu protista mirip jamur ini juga dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya dengan menggunakan pseudopodia seperti layaknya amoeba.

  • B. Rumusan Masalah

    • 1. Bagaimana organ reproduksi pada protista mirip jamur?

    • 2. Bagaimana sistem pencernaan pada protista mirip jamur?

    • 3. Bagaimana sistem respirasi pada protista mirip jamur?

C.

Tujuan

  • 1. Untuk mengetahui organ respirasi pada protista mirip jamur.

  • 2. Untuk mengetahui sistem pencernaan pada protista mirip jamur.

  • 3. Untuk mengetahui sistem respirasi pada protista mirip jamur.

BAB II PEMBAHASAN

  • A. Protista Mirip Jamur Jamur protista atau protista mirip jamur dipindahkan dari kingdom Fungi

karena cara reproduksi dan siklus hidupnya sesungguhnya berbeda dengan kingdom Fungi. Sehingga jamur protista ini tidak dapat dikelompokkan ke kingdom fungi. Hal ini dibuktikan oleh Bauldauf dan Doolittle (1997) melakukan analisis filogenetik, pada tahap elongasi faktor 1-alpha urutan gennya berbeda sehingga tidak dapat digolongkan ke kingdom fungi. Meskipun begitu terdapat kesamaan antara keduanya yaitu sama-sama memiliki struktur menghasilkan spora, bersifat heterotrof dan umumnya adalah parasit.

Selain itu, protista mirip jamur ini juga memiliki karakteristik yang lainnya yaitu memiliki sel flagel pada waktu dalam siklus hidupnya dan pada dinding selnya ada yang mengandung selulosa dan zat kitin serta ada juga yang bergerak menggunakan pseudopodia. Protista menyerupai jamur dibagi menjadi 2 yaitu Jamur air (Oomycota) dan Jamur lendir (Myxomycota). Namun pada makalah ini, kami tidak akan membahas mengenai jamur air, kami akan lebih membahas mengenai dengan jamur lendir.

  • B. Jamur Lendir (Myxomycota)

Myxomycota meliputi organisme yang tidak mengandung klorofil, yang filogenetik tergolong ke dalam organisme yang sangat sederhana. Dalam keadaan vegetatif tubuhnya berupa massa protoplasma telanjang yang bergerak sebagai amoeba yang disebut Plasmodium dengan cara-cara hidup sebagai saprofit atau seperti hewan. Plasmodium terjadi karena satu perkawinan (peristiwa seksual), dan kemudian akan membentuk suatu

sporangium yang berdinding. Sporangium menghasilkan spora yang tidak memperlihatkan perbedaan jenis kelaminnya. Jamur lendir (Myxomycota) memiliki beberapa karakteristik yaitu sebagai berikut:

  • 1. Bersifat heterotrof dan tidak memiliki klorofil.

  • 2. Memiliki berbagai jenis warna yang terdapat pigmen seperti warna kuning atau orange, biru dan violet.

  • 3. Habitat dari jamur ini biasanya di daerah yang dingin, lembab, daerah yang teduh dan biasanya di pohon yang sudah mati.

  • 4. Kebanyakkan parasit.

  • 5. Multinukleat

  • 6. Bergerak dengan menggunakan pseudopodia

  • 7. Bentuk tubuh seperti lendir.

Jamur air ini telah berdivergensi menjadi dua cabang utama yaitu jamur lendir plasmodial dan jamur lendir selular (Acrasiomycota).

  • 1. Jamur lendir plasmodial

Jamur lendir ini memiliki spesies yang cukup banyak, yaitu sekitar 500 spesies. Dikatakan sebagai jamur lendir plasmodial karena faktanya pada siklus hidupnya berasal dari plasmodium yang mana sitoplasmanya mengandung banyak nukleus diploid tetapi tidak terdapat dinding sel dan membrans. Plasmodium ini berbeda dengan protozoa yang sama-sama terdapat plasmodium. Plasmodium pada jamur lendir ini adalah kumpulan dari massa sel amoeboid. Pada protista mirip jamur ini, berdasarkan perbedaan morfologi plasmodiumnya dapat di bagi menjadi:

a. Phaneroplasmodium Jamur lendir ini tidak dapat dilihat dengan menggunakan mata telanjang, akan tetapi dapat dilihat dengan jelas dengan menggunakan mikroskop. Biasanya memiliki plasmodium seperti kipas yang menunjukkan polaritas dan protoplasmiknya reversible, serta dapat membentuk ratusan tubuh buah. Memiliki bentuk yang bercabang

dengan protoplasma yang lebih kental dan granular, contohnya pada Physarum.

  • b. Aphanoplasmodium

Sama seperti Phaneroplasmodium, tidak dapat dilihat dengan menggunakan mata telanjang. Yang mana membutuhkan air untuk bertahan hidup. Karakteristik dari jamur ini adalah berbentuk tipis dan tumbuh memanjang serta bercabang membentuk jaring-jaring seperti

benang transparan. Aphanoplasmodium dapat beradaptasi untuk tumbuh di celah kayu serta di dalam pembuluh angkut yaitu floem dan xylem. Contohnya adalah Stemonitis

  • c. Protoplasmodium

Jamur ini adalah jamur yang mikroskopik yang berbentuk bulat atau tidak beraturan, tidak memiliki amplop jaringan vena seperti jamur tipe plasmodium lainnya dan dapat berubah menjadi satu sporangium. Contohnya Echinostelium.

Pada kondisi yang kurang menguntungkan, plasmodium akan berpindah di tempat yang baru atau mengering dan mengeras (tidak aktif) untuk beristirahat dalam waktu yang lama sampai keadaan sudah menguntungkan. Pada saat dalam keadaan tidak aktif disebut dengan sclerotium dan mengandung spherules yang berdekatan. Jamur lendir plasmodial ini adalah sejenis protista mirip jamur yang tidak bersekat. Jamur ini juga, memiliki inti banyak (multinukleat), setiap intinya tidak dipisahkan oleh adanya sekat, bersifat uniseluler ataupun multiseluler dan dapat bergerak bebas. Jamur lendir hidup di batang kayu yang membusuk, tanah lembap, sampah basah, kayu lapuk, dan di hutan basah. Jamur lendir plasmodial ini memiliki warna yang cerah, biasanya berwarna kuning atau jingga. Di dalam plasmodium, sitoplasma mengalir ke satu arah, kemudian ke arah lainnya dalam aliran berdenyut (vakuola kontraktil). Fungsi dari

plasmodium ini adalah untuk mengedarkan nutrisi dan oksigen. Sama seperti amoeba, plasmodium juga menjulurkan pseudopodia untuk menangkap makanannya, lalu ditelan secara fagositosis. Dapat pula organisme ini mengeluarkan enzim yang melarutkan substratnya dan mengambil makannya dalam bentuk larutan. Jika pada keadaan yang tidak menguntungkan seperti mengering atau tidak ada makanan tersisa, plasmodium akan berhenti tumbuh dan berdiferensiasi menjadi tubuh buah yang berfungsi dalam reproduksi seksual. Di dalam tubuh buah ini terdapat spora, yang mana dapat dilihat pada gambar 2.1.

plasmodium ini adalah untuk mengedarkan nutrisi dan oksigen. Sama seperti amoeba, plasmodium juga menjulurkan pseudopodia untukprotoplasma berkumpul di beberapa urat utama plasmodium dan berkembang menjadi sporofor . Sprorofor ini tetap mempertahankan bentuk plasmodium pada waktu pembentukkan sporofor. Contohnya pada Hemitrichia. c. Aethalium 6 " id="pdf-obj-5-4" src="pdf-obj-5-4.jpg">

Gambar 2.1. Tubuh buah (Stephenson, Steven L. Excavata: Acrasiomycota, Amoebozoa, Dictyosteliomycota, Myxomycota)

Badan buah ini umumnya memiliki beberapa tipe yaitu antara lain sporangium, plasmodiocarp, pseudoaethalium dan aethalium.

  • a. Sporangium Umumnya memiliki bentuk bulat, berdiameter kurang lebih 1 mm. spora di tutupi oleh suatu lapisan acellular yang disebut peridium. Sebagian spesies, peridiumnya sebagian didukung oleh jaringan kapital

yang strukturnya seperti benang yang steril. Sporangium ini ada yang bertangkai dan ada yang tidak bertangkai. Contoh dari jamur lendir ini adalah Stemonitis dan Physarum.

  • b. Plasmodiocarp

Morfologinya mirip plasmodium, protoplasma berkumpul di beberapa urat utama plasmodium dan berkembang menjadi sporofor. Sprorofor ini tetap mempertahankan bentuk plasmodium pada waktu pembentukkan sporofor. Contohnya pada Hemitrichia.

  • c. Aethalium

Sporanya agak besar, berbentuk bantalan atau gundukan dan sporanya berasal dari seluruh plasmodium yang tidak berdiferensiasi sempurna. Spora ditutupi oleh korteks, peridiumnya tebal. Contohnya pada fuligo.

Sporanya agak besar, berbentuk bantalan atau gundukan dan sporanya berasal dari seluruh plasmodium yang tidak berdiferensiasibiology.blogspot.co.id/2012/10/protista.html) 7 " id="pdf-obj-6-4" src="pdf-obj-6-4.jpg">

Gambar 2.2. Fuligo (Raven. Protista)

d. Pseudoaethalium

Sporangia

pada

permukaannya

terlihat

sama

aethalium.

Pseudoaethalium merupakan gabungan dari beberapa spora.

Gambar

2.3.

Siklus reproduksi jamur lendir plasmodium (http://always-
Siklus
reproduksi
jamur
lendir
plasmodium
(http://always-

Myxomycetes memproduksi spora di dalam badan buah, yang mana akan menghasilkan segerombolan satu hingga empat haploid uniselullar myxamoebae atau sel swarm yang bersama disebut dengan amoeboflagellata, yang tidak memiliki dinding sel dan hanya dikelilingi oleh membrane plasma. Myxamoebae muncul dari spora melalui pori. Untuk keperluan ini plasmodium lalu mempunyai sifat yang berlawanan dengan biasanya. Mereka lalu meninggalkan tempat yang basah merayap menuju cahaya, dan dengan menurunkan kadar airnya kemudian berubah menjadi beberapa tubuh buah, yang masing-masing diselubungi oleh selaput kaku karena mengandung kapur, dan dinamakan peridium. Didalamnya terdapat banyak spora kecil yang mempunyai membrane. Membran (dinding) spora itu, tidak seperti jamur umumnya, terdiri atas kitin, tetapi tediri atas substansi menyerupai putih telur yang dinamakan keratin, dan disamping itu juga terdapat selulosa. Spora terjadi karena pembelahan reduksi, dan oleh karena itu bersifat haploid. Pada beberapa marga didalam badan buahnya dibentuk kapilitium yang terdiri dari bulu- bulu kecil yang bebas atau tersusun seperti jala atau terdiri atas serabut- serabut yang muncul dari plasma yang terdapat diantara spora. Jika sporangium telah masak, teridium lalu pecah dan spora akan terhembus keluar dari dalam jala kapilitium tadi. Pada beberapa jenis myxomicotina kapilitium memperlihatkan gerakan-gerakan hidroskopik. Spora ini, berkecambah dalam air atau diatas suatu substrat basah menjadi satu atau beberapa sel kembar yang di namakan gametflagelata. gametflagelata ini pada bagian muka mempunyai satu inti atau satu atau dua bulu cambuk dan heterokon. Pada bagian belakang terdapat vakuola berdenyut, tetapi kromatofora tidak ada. Hidupnya sebagai saprofit, dapat mengambil zat makanan yang bersifat cair maupun padat. Setelah beberapa waktu, bulu cambuknya lenyap dan gametflagelata ini berubah menjadi gametamoeboid. Gametflagellata dan gametamoeboid dapat membiak vegetative dengan pembelahan. Pembiakan generative pun terjadi. Dua gametamoeboid atau dua gametflagellata dapat mengadakan

perkawinan menjadi amebozigot, dan dalam amebozigot ini kedua intinya akhirnya pun akan bersatu. Badan yang diploid ini tidak lalu membentuk dinding, melainkan tetap telanjang dan bersifat ameboid, dan dengan sesamanya dapat bersatu menjadi plasmodium yang besar dan mempunyai banyak inti. Inti dapat bertambah banyak karena adanya mitosis yang berulang-ulang. Plasmodium ini tidak pernah membentuk sekat-sekat, jadi hanya merupakan kumpulan protoplas yang menjadi satu. Bentuk dan susunan, sifat, dan warna sporangium merupakan dasar untuk membedakan myxomicotina dalam takson lebih kecil. pada fuligo varians beberpa sporangium merupakan satu badan buah yang berwarna pirang dan dapat mempunyai diameter sampai beberapa sentimeter. Myxomycotyna, yang secara filogenetik amat rendah tingkatnya itu, jika di tinjau dari sudut sel kembar dan miksoameba menunjukkan hubungan kekerabatan dengan Flagellatae yang tidak berwarna, atau sangat boleh jadi lebih dekat dengan Rhizopoda dari dunia hewan.

2. Acrasiomycota Acrasiomycota disebut dengan jamur lendir seluler. Jamur ini terdapat kurang lebih 70 jenis spesies. Jamur ini biasanya hidup di air tawar, tanah basah dan pada organisme yang membusuk. Jamur lendir ini, memiliki kedekatan dengan amoeba, tetapi mereka memiliki banyak fitur yang menyebabkan mereka ada yang berbeda. Sama seperti jamur lendir plasmodium, jamur ini juga menangkap makanan dengan menggunakan pseudopodia. Namun pada siklus hidupnya ada yang tidak memiliki tahap flagel dan juga merupakan suatu organisme yang memiliki sekat. Contoh spesiesnya adalah Dictyostelium.

perkawinan menjadi amebozigot, dan dalam amebozigot ini kedua intinya akhirnya pun akan bersatu. Badan yang diploidDictyostelium. 9 " id="pdf-obj-8-7" src="pdf-obj-8-7.jpg">

Jamur lendir seluler ini siklus hidupnya menggunakan sel amoeboid untuk makan, bertumbuh dan membagi dengan menggunakan pembelahan sel. Tahap mencari makan organisme ini terdiri dari sel-sel soliter yang berfungsi secara individual, namun ketika makanan habis sel-sel ini membentuk agregat yang berfungsi satu unit dengan cara fagositosis. Ketika sel amoeboid ini makan ia membagi dirinya berkali-kali. Walaupun massa sel-sel ini sepintas mirip jamur lendir plasmodium, akan tetapi sel- selnya terpisah oleh membrane plasma individualnya.

Jamur lendir seluler ini siklus hidupnya menggunakan sel amoeboid untuk makan, bertumbuh dan membagi dengan menggunakan

Seperti yang telah dibahas diatas pada siklus hidupnya ini tidak terdapat gametflagellata atau tahap flagellate yang mana hanya terdapat sel amoeboid yang berfungsi dalam pertumbuhannya. Sel amoeboid ini berasal dari spora yang terdapat di dalam badan buah. Ketika sel amoeboid ini makan ia membagi dirinya berulang kali, dan ketika suplai makanannya berkurang sel amoeboidnya akan berubah menjadi dua siklus yaitu siklus aseksual dan seksual. Pada siklus aseksual, mereka berhenti makan dan membentuk agregat yang mana cara makanannya adalah secara

fagositosis. Individual sel haploidnya akan terpisah. Lalu mereka akan bergerak menjauh menjadi suatu badan buah yang mana nantinya akan menghasilkan spora untuk terus melanjutkan siklus tersebut.

Manakala pada siklus seksualnya, semua selnya adalah haploid. Ketika tanah dalam kondisi basah, badan buah ini akan melepaskan sporannya yang mana akan membentuk sel amoeboid. Pada saat memasuki tahap meiosis sel amoeboid tadi, akan berubah menjadi agregat yang akan makan secara fagositosis. Kemudian ia akan terus tumbuh dan tumbuh. Proses pembentukkan badan buahnya sama pada siklus aseksualnya.

A. Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

Protista mirip jamur ini sangat berbeda dengan jamur biasa karena bila dilihat dari siklus hidupnya sangat berbeda. Selain itu pada protista mirip jamur ini mempunyai alat gerak yang berfungsi untuk mencari tempat yang baik untuk tumbuh dan berkembang biak. Pada jamur lendir ini dibagi menjadi dua golongan yaitu jamur lendir plasmodium dan jamur lendir seluler. Nah berdasarkan bentuk plasmodiumnya dibedakan menjadi tiga yaitu Phaneroplasmodium contohnya physarum, Aphanoplasmodium contohnya Stemonitis dan Protoplasmodium contohnya Ecinostelium.

Selain berdasarkan bentuk plasmodimnya, jamur ini dibedakan juga berdasarkan bentuk badan buahnya atau bentuk penghasil sporanya yaitu sporangium, plasmodiocarp, aethalium dan Pseudoaethalium. Cara makan dari jamur ini ada yang menggunakan plasmodium dan agregat.

DAFTAR PUSTAKA

/docs/chap19.pdf.

Everhart dan Keller. 2008. Life history strategies of corticolous myxomycetes:

the life cycle, plasmodial types, fruiting bodies, and taxonomic orders. Department of Biology, University of Central Missouri, Warrensburg, USA

file:///D:/Protista%20mirip%20jamur/materi%20yang%20digunakan/Jamur%

20lendir%20-

%20Wikipedia%20bahasa%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas.htm

)