Anda di halaman 1dari 6

Unsur kimia kobalt juga merupakan suatu unsur dengan sifat rapuh sedikit keras dan

mengandung metal serta kaya sifat magnetis yang serupa setrika. Unsur kimia kobalt adalah
batu bintang. Kobalt adalah suatu isotop yang diproduksi menggunakan suatu sumber sinar
(radiasi energi tinggi).
Kobalt merupakan salah satu logam unsur transisi dengan konfigurasi elektron 3d7
yang dapat membentuk kompleks. Kobalt yang relatif stabil berada sebagai Co(II) ataupun
Co(III). Namun dalam senyawa sederhana Co, Co(II) lebih stabil dari Co(III). Ion – ion Co2+
dan ion terhidrasi [Co(H2O)6]2+ stabil di air. Kompleks kobalt dimungkinkan dapat terbentuk
dengan berbagai macam ligan, diantaranya sulfadiazin dan sulfamerazin. Sulfadiazin dan
sulfamerazin merupakan ligan yang sering digunakan untuk obat antibakteri. Keduanya
merupakan turunan dari sulfonamid yang penggunaannya secara luas untuk pengobatan
infeksi yang disebabkan oleh bakteri Gram-positif dan Gram-negatif tertentu, beberapa
jamur, dan protozoa (Siswandono dan Soekardjo : 1995 ).
Ion pusat dalam kompleks kobalt(II) adalah Co2+. Kobalt adalah logam transisi
golongan VIII B dan terletak pada periode ke empat dalam sistem periodik unsur. Kobalt
memiliki bilangan oksidasi tertinggi IV, sedangkan kobalt(II) paling stabil di antara bilangan
oksidasi lainnya (Cotton and Wilkinson : 1988).
Kobalt dikenal sebagai perangsang pembentukan sel darah merah yang baik. Ion
kobalt +2 dalam kobalt klorida diketahui dapat meningkatkan produksi sel darah merah.
Kobalt dalam bentuk Vitamin B12 juga mendukung proses metabolisme dan pembentukan sel
darah merah. Tetapi apabila kandungan kobalt yang diserap dalam tubuh berlebih maka akan
menyebabkan serangan jantung, asma, gangguan pernafasan dan kanker paru-paru (Perez-
Espinosa,2004).
Mengkombinasikan suatu kompleks kobalt dengan aspirin secara signifikan merubah
sifat-sifat anti-kanker molekul tersebut, sebagaimana yang telah ditemukan oleh peneliti-
peneliti di Eropa. Penelitian mereka menjadi dasar untuk penemuan terapi-terapi anti-tumor
baru dengan menambahkan fragmen-fragmen organologam ke dalam obat tertentu.
Tim Ott telah meneliti spesies heksa karbonil dikobalt [Co2(CO)6] yang terikat ke
berbagai ligan alkil, dan menemukan bahwa aktivitas anti-kanker dari kompleks kobalt ini
lebih potensial ketika dikombinasikan dengan aspirin dibanding senyawa lain.
Unsur kobalt di alam selalu didapatkan bergabung dengan nikel dan biasanya juga
dengan arsenik. Mineral kobalt terpenting antara lain Smaltite (CoAs2), Cobalttite (CoAsS)
dan Lemacite (Co3S4). Sumber utama kobalt disebut “Speisses” yang merupakan sisa dalam
peleburan bijih arsen dari Ni, Cu, dan Pb.
Dimana kobalt ditemukan di Bumi?
Kobalt tidak ditemukan sebagai elemen bebas, tetapi ditemukan dalam mineral dalam kerak
bumi. Bijih Kobalt termasuk erythrite, cobaltite, skutterudite, dan glaucodot. Mayoritas
kobalt ditambang di Afrika dan merupakan produk sampingan dari pertambangan logam
lainnya termasuk nikel, tembaga, perak, timah, dan besi.

Bagaimana kobalt digunakan?


Sebagian besar kobalt yang ditambang digunakan dalam super alloy yang sangat tahan
terhadap korosi dan stabil pada suhu tinggi.

Kobalt juga digunakan sebagai zat pewarna biru dalam cat, tinta, kaca, keramik, dan bahkan
kosmetik.

Aplikasi lain untuk kobalt termasuk baterai, katalis industri, listrik, dan magnet yang kuat.

Bagaimana Kobalt ditemukan?


Kobalt ditemukan oleh kimiawan Swedia George Brandt di 1735. Dia mengisolasi elemen
dan membuktikan bahwa itu adalah sumber warna di kaca biru yang sebelumnya dianggap
dari bismut.

Senyawa Kobalt digunakan sepanjang sejarah kuno oleh peradaban seperti Cina Kuno dan
Roma untuk membuat kaca biru dan keramik.

Kobalt juga penting bagi kehidupan binatang. Tubuh menggunakannya Kobalt untuk
membuat enzim tertentu. Ini juga merupakan komponen dari vitamin B12.

Dari mana asal nama kobalt?


Kobalt mendapatkan namanya dari kata Jerman, yaitu “Kobalt” yang berarti “goblin (jin)”
Penambang bijih kobalt memberikan nama ini karena mereka takhayul tentang pertambangan
bijih.

I.

Ekstraksi Kobalt
Unsur cobalt di alam selalu didapatkan bergabung dengan nikel dan biasanya juga dengan
arsenik. Mineral cobalt terpenting antara lain Smaltite (CoAs2), cobalttite (CoAsS) dan
Lemacite ( Co3S4 ).
Sumber utama cobalt disebut “Speisses” yang merupakan sisa dalam peleburan bijih arsen
dari Ni,
Cu, dan Pb. Unsur cobalt diproduksi ketika hidroksida hujan, akan timbul hipoklorit sodium (
NaOCl) . Berikut reaksinya : 2Co2+(aq) + NaOCl(aq) + 4OH-
(aq) + H2O → 2Co(OH)3(s) + NaCl(aq)
Trihydroxide Co(OH)3 yang dihasilkan kemudian dipanaskan untuk membentuk oksida dan
kemudian ditambah dengan karbon sehingga terbentuklah unsur kobalt metal. Berikut
reaksinya :
2Co(OH)3 (heat) Co2O3 + 3H2O → 2Co2O3 + 3C 4Co(s) + 3CO2(g)

J.

Logam Paduan Kobalt


1.

Nikel dan Paduan Kobalt


-

Merupakan rangkaian buat bahan pesawat


-

Tidak mudah korosif


-

Kobal selalu terdapat bergabung dengan Nikel dan biasa juga dengan arsen.
Sumber utama kobal adalah „ speisses “, yang merupakan sisa dalam
peleburan bijih arsen dari Ni, Cu, Pb. 2. Alloy Alloy adalah paduan kobal-based dengan
kekuatan yang sangat baik suhu tinggi dan ketahanan oksidasi yang baik untuk 2000 ° F
(1093 ° C). Tingkat krom

4
PLATINA DAN COBALT
tinggi ditambah dengan penambahan kecil lantanum menghasilkan skala yang sangat ulet dan
protektif. paduan ini juga memiliki ketahanan sulfidasi baik dan stabilitas metalurgi yang
sangat baik ditampilkan oleh keuletan baik setelah terlalu lama terkena suhu yang tinggi.
K.

Memperoleh Kobalt Murni dari Mineralnya


Secara umum untuk mendapatkan kobalt murni dilakukan reduksi termal terhadap Co
3
O
4
dengan menggunakan logam Aluminium. Namun untuk mendapatkan kobalt oksida itu
sendiri sebelumnya dilakukan beberapa tahapan proses, baik untuk memisahkan pengotor

pengotornya maupun logam lain yang biasanya terdapat dengan persenyawaan kobalt di
alam.
L.

Kompleks Cobalt
Co
3+

Semua senyawa kompleks kobalt (III) mengadopsi geometri oktahedron. Sebagai contoh
yaitu ion heksaaminkobaltat(III) [Co(NH3)6]3+ dan ion heksasianokobaltat(III)
[Co(CN)6]3+ . ion heksanitrokobaltat(III) [Co(NO2)6]3+, yang berwarna kuning dan
biasaanya disintesis sebagai garam natriumnya, menunjukkan sifat tak lazim. Seperti
lazimnya garam-garam alkali, Na3[Co(NH3)6] larut dalam air, tetapi garam kaliumnya
saangat sukar larut dalam air, begitu juga garam-garam rubidium maupun sesiumnya. Hal ini
dikaitkan dengan ukuran ion relatifnya. Ion kalium mempunyai ukuran relatif jauh lebih
dekat dengan ukuran anion kompleksnya sehingga kristalnya memiliki energi kisi yang lebih
tinggi dan kelarutan lebih rendah. Sifat ini merupakan salah satu reaksi petunjuk kualitatif
adanya ion kalium :

4
PLATINA DAN COBALT
tinggi ditambah dengan penambahan kecil lantanum menghasilkan skala yang sangat ulet dan
protektif. paduan ini juga memiliki ketahanan sulfidasi baik dan stabilitas metalurgi yang
sangat baik ditampilkan oleh keuletan baik setelah terlalu lama terkena suhu yang tinggi.
K.

Memperoleh Kobalt Murni dari Mineralnya


Secara umum untuk mendapatkan kobalt murni dilakukan reduksi termal terhadap Co
3
O
4
dengan menggunakan logam Aluminium. Namun untuk mendapatkan kobalt oksida itu
sendiri sebelumnya dilakukan beberapa tahapan proses, baik untuk memisahkan pengotor

pengotornya maupun logam lain yang biasanya terdapat dengan persenyawaan kobalt di
alam.
L.

Kompleks Cobalt

Co
3+

Semua senyawa kompleks kobalt (III) mengadopsi geometri oktahedron. Sebagai contoh
yaitu ion heksaaminkobaltat(III) [Co(NH3)6]3+ dan ion heksasianokobaltat(III)
[Co(CN)6]3+ . ion heksanitrokobaltat(III) [Co(NO2)6]3+, yang berwarna kuning dan
biasaanya disintesis sebagai garam natriumnya, menunjukkan sifat tak lazim. Seperti
lazimnya garam-garam alkali, Na3[Co(NH3)6] larut dalam air, tetapi garam kaliumnya
saangat sukar larut dalam air, begitu juga garam-garam rubidium maupun sesiumnya. Hal ini
dikaitkan dengan ukuran ion relatifnya. Ion kalium mempunyai ukuran relatif jauh lebih
dekat dengan ukuran anion kompleksnya sehingga kristalnya memiliki energi kisi yang lebih
tinggi dan kelarutan lebih rendah. Sifat ini merupakan salah satu reaksi petunjuk kualitatif
adanya ion kalium :

2. Menghambat demineralisasi

 Mineral di dalam gigi (email, sementum, dentin) dan tulang adalah karbonat
hidroksiapatit, dengan formula Ca10-x(Na)x(PO4)6-y(CO3)z(OH)2-u(F)u.
 Pada saat perkembangan gigi, mineral pertama yang hilang adalah karbonat (CO3)
yang menyebabkan terbentuknya ruangan di dalam kristal.
 Saat demineralisasi, mineral yang hilang adalah karbonat, tetapi selama remineralisasi
karbonat tidak akan terbentuk kembali melainkan digantikan oleh mineral yang baru.
 Pada kristal yang mengalami defisiensi kalsium tetapi kaya karbonat, akan lebih
rentan terhadap asam selama demineralisasi.
 Karbonat hidroksiapatit (CAP) lebih larut dalam asam daripada hidroksiapatit (HAP=
Ca10(PO4)6(OH)2) dan fluorapatit (FAP= Ca10(PO4)6F2) dimana ion OH- pada
hidroksiapatit digantikan oleh F- menghasilkan FAP yang sangat resisten terhadap
disolusi asam.
 Fluor menghambat demineralisasi.
 Fluor yang menyelubungi kristal CAP lebih efektif menghambat demineralisasi
daripada fluor yang tergabung di dalam kristal pada email.
 Fluor yang tergabung dalam kristal pada dosis 20-100 ppm, tidak memberikan
pengaruh pada solubilitas terhadap asam.
 Namun, Fluor yang terkonsentrasi pada permukaan kristal yang baru selama
remineralisasi dapat mengubah solubilitas terhadap asam.
 Pada saat bakteri menghasilkan asam, fluor dalam cairan plak akan masuk bersama
asam ke bawah permukaan gigi yang kemudian diadsorpsi lebih kuat ke permukaan
Kristal CAP (mineral email) dan menyebabkan mekanisme proteksi yang poten
melawan disolusi asam pada permukaan kristal pada gigi.
 Fluor yang menyelubungi kristal berasal dari cairan plak melalui aplikasi topikal,
seperti air minum atau produk fluor.
 Fluor yang tergabung dalam kristal tidak berperan signifikan dalam proteksi terhadap
karies sehingga perlu diberikan fluor terus-menerus sepanjang hidup.

3. Meningkatkan remineralisasi

 Ketika saliva mengenai plak dan komponen-komponennya, saliva dapat menetralisasi


asam sehingga menaikkan pH yang akan menghentikan demineralisasi.
 Saliva bersama kalsium dan fosfat akan menarik komponen yang hilang ketika
demineralisasi kembali menyusun gigi. Permukaan kristal yang terdemineralisasi
yang terletak antara lesi akan bertindak sebagai ‘nukleator’dan permukaan baru akan
terbentuk.
 Proses tersebut disebut remineralisasi, yaitu penggantian mineral pada daerah-daerah
yang terdemineralisasi sebagian akibat lesi karies pada email atau dentin (termasuk
bagian akar).
 Fluor akan meningkatkan remineralisasi dengan mengadsorpsi pada permukaan kristal
menarik ion kalsium diikuti dengan ion fosfat untuk pembentukan mineral baru.
 Mineral yang baru terbentuk disebut veneer yang tidak mengandung karbonat dan
komposisinya memiliki kemiripan antara HAP dan FAP. FAP mengandung sekitar
30.000 ppm fluor dan memiliki kelarutan terhadap asam yang rendah.
 Mineral yang baru terbentuk memiliki sifat seperti FAP yang kelarutan dalam asam
lebih rendah daripada CAP.
 Kegunaan Molibdenum (Mo) dalam tubuh manusia
 Pada manusia, molibdenum dikenal berfungsi sebagai kofaktor untuk tiga enzim
(Suparman, 1984):
  Sulfit oksidase mengkatalisis transformasi sulfit ke sulfat, reaksi yang diperlukan
untuk metabolisme kandungan asam amino (metionin dan sistein).
  Xanthine oksidase mengkatalisis pemecahan nukleotida (prekursor untuk DNA
dan RNA) untuk membentuk asam urat, yang berkontribusi terhadap kapasitas
antioksidan plasma darah.
  Oksidase Aldehyde dan xanthine oksidase mengkatalisis reaksi hidroksilasi yang
melibatkan beberapa molekul yang berbeda dengan struktur kimia yang sama.
oksidase Xanthine dan oksidase aldehida juga berperan dalam metabolisme obat dan
racun.