Anda di halaman 1dari 9

SISTEM SARAF PUSAT SEBAGAI PENGENDALI

GERAK REFLEKS
Laporan praktikum ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Fisiologi Hewan dan Manusia

Dosen pembimbing : Dr. Sri Rahayu Lestari M.Si

Oleh kelompok 5:

Affan Wudy A (160342606222)

Alifa Aulia A (160342606292)

Ely Kristiani (160342601708)

Ika Yana Novi S (160342606210)

Imroatun Nafi’ah (160342606231)

Muly Pramesti (160342606245)

Riris Novia A (160342606286)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
SEPTEMBER 2017
TOPIK

Judul : Sistem Saraf Pusat sebagai Pengendali Gerak Refleks

Waktu, Tempat : Senin, 4 September 2017, di Laboratorium Fisologi Hewan dan Manusia,
Biology, FMIPA, Univesitas Negri Malang

DASAR TEORI

Sistem saraf merupakan sistem koordinasi yang berfungsi sebagai penerima dan
penghantar rangsangan ke semua bagian tubuh dan selanjutnya memberikan tanggapan terhadap
rangsangan tersebut. Jadi, jaringan saraf merupakan jaringan komunikasi dalam tubuh. Sistem
saraf merupakan jaringan khusus yang berhubungan dengan seluruh bagian tubuh. (Campbell,
2004)

Sistem saraf pada Vertebrata terdiri dari dua bagian utama: (1) Sistem saraf pusat, yang
terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang (korda spinalis) dan (2) Sistem saraf tepi, yang
terdiri atas sistem saraf aferen dan sistem saraf eferen. Sistem saraf eferen dibagi menjadi sistem
saraf somatik dan sistem saraf otonom, sedangkan sistem saraf otonom terdiri atas sistem saraf
simpatetik dan sistem saraf parasimpatetik. (Soewolo, 2005)

Gerak refleks merupakan respon yang cepat dan tidak disadari terhadap perubahan
lingkungan interna maupun eksterna. Refleks dikendalikan oleh sistem saraf yaitu otak (disebut
refleks kranial) atau medula spinalis (disebut refleks spinal) lewat saraf motorik kranial dan
spinal. Saraf kranial dan saraf spinal dapat berupa saraf somatik yang mengendalikan refleks otot
kerangka atau saraf otonom yang mengendalikan refleks otot polos, jantung, dan kelenjar.
Meskipun refleks spinal dapat terjadi tanpa keterlibatan otak, tetapi otak seringkali ikut
memberikan pertimbangan dalam refleks spinal. Reseptor merespon stimulus yang merupakan
perubahan fisik atau kimia di lingkungan reseptor. Dalam merespon stimulus, reseptor
menghasilkan potensial aksi yang akan diteruskanoleh saraf aferen ke pusat pengintegrasi refleks
dasar, sedangkan otak yang lebih tinggi memproses refleks yang dipelajari. Pusat pengintegrasi
memproses semua informasi dan meneruskannya melalui saraf eferen ke efektor (otak atau
kelenjar) yang melaksanakan respon yang diinginkan. (Soewolo, 2005)

Refleks terjadi lewat suatu lintasan tertentu, disebut lengkung refleks, dengan komponen:
reseptor, neuron sensorik, neuron penghubung (di dalam otak dan medula spinalis), neuron
motorik, dan efektor. Sebagian besar refleks merupakan refleks yang rumit, melibatkan lebih dari
satu neuron penghubung. Pada umumnya kerusakan pada sistem saraf pusat menyebabkan
kelumpuhan sementara semua refleks yang dikendalikan oleh otak dan medula spinalis. Kondisi
akibat kerusakan otak disebut neural shock, sedangkan kondisi kerusakan medula spinalis ini
disebut spinal shock yang lamanya tergantung pada kerumitan sistem saraf suatu organisme.
Kerusakan salah satu komponen lengkung refleks dapat menyebabkan hilangnya refleks tertentu.
Tujuan

1. Untuk mengetahui macam macam gerak riflek yang di kendalikan oleh otak

2. Untuk mengetahui macam macam gerak riflek yang di kendalikan oleh medula spinalis

Alat dan Bahan

Papan seksi, seperangkat alat bedah, aquarium, lampu spiritus, thermometer, gelas piala 600 cc,
alat penghitung, kapas, air hangat, dan katak.

Prosedur Kerja

Katak normal, katak spinal, katak yang sudah mengalami perusakan


medula spinalis dan otak

Meletak kan katak dengan posisi terlentang di papan, dan di amati


aktifitas pergerakanya

Menghitung frekuensi pernafasan permenit, dengan


mengamatigerakan kulit rahang

Mengamati keseimbangan dengan :

1. meletakkan katak dalam posisi terlentang dan di putar secara


horizontal, diamati aktifitas nya

2. memiringkan papan secara perlahan hingga kepala katak sedikit


terangkat, dan di amati

Masukkan katak ke dalam aquarium berisi air, amati cara berenanng


nya

Keluarkan katak dari aquarium, istirahatkan sejenak lalu Cubit jari


kaki dengan pinset, lalu amati

Masukkan salah satu kaki katak ke dalam gelas piala berisi air suhu
ruangan lalu panaskan air tersebut, pada suhu keberapakah katak
bereaksi, amati reaksi tersebut

Masukan salah satu jari kaki yang lain ke dalam gelas piala dengan
suhu +- 80˚ C , amati reaksi yang terjadi
Hasil Pengamatan

KATAK SINGLE KATAK DOUBLE


PERLAKUAN KATAK KATAK NORMAL
NO PITH PITH

Posisi mata, kepala, dan Kepala : tegak Kepala: menempel Kepala : menempel
anggota gerak Mata: terbuka pada papan pada papan
1 Anggota gerak: Mata : terbuka Mata : terbuka
menelungkup ke bawah Anggota gerak : diam Anggota gerak:
diam
Respon kornea mata saat Mata langsung berkedip, Mata berkedip Tidak berkedip sama
disentuh dengan kapas jika kedua mata ditutup sekali
dengan kapas, kaki
2
bagian depan
membersihkan kedua
matanya dari kapas
Frekuensi pernapasan per 1 Menit= 71 kali 1 Menit= 40 kali 1 Menit= 9 kali
3
menit
Keseimbangan:
a. Posisi kepala, mata, Kepala : memiringkan Kepala: masih Kepala: diam
dan anggota gerak kepala untuk dapat berusaha untuk Mata : tetap terbuka
saat papan diputar tengkurap tengkurap Alat gerak : diam
horizontal Mata : tetap terbuka Mata: tetap terbuka
4 Alat gerak: kembali Alat gerak : masih
tengkurap berusaha kembali
tengkurap (namun,
respon lambat)
b. Respon katak ketika Tidak ada respon aktif Tidak ada respon Tidak ada respon
papan dimiringkan aktif sama sekali
Cara berenang katak Kepala katak berada di Mendorong tubuh Mendorong tubuh
atas permukaan air, kaki dengan kaki bagian dengan kaki bagian
bagian depan membuka belakang lurus. belakang, ketika
dan lurus ke belakang, Keseimbangan masih diam di air kepala
kaki bagian belakang sedikit terjaga, berada di atas
mendorong ke belakang namun ketika diam di permukaan air.
dan lurus ke belakang. air, katak terlentang Tidak ada
5
Ketika diam di air keseimbangan
kepala katak berada di
atas permukaan air, kaki
bagian depan ke atas
dan bagian belakang
berada di permukaan
bawah
Respon kaki ketika dicubit Kaki langsung Kaki menekuk Respon lemah
6
dengan pinset menendang
Suhu respon katak Pada suhu 44◦ C katak Pada suhu 43◦ C Pada suhu 50◦ C
terhadap air panas mengangkat kakinya katak mengangkat kaki dapat merespon
7 (bagian kaki kiri) kakinya dengan menekuk
bagian jari-jari
kakinya
Respon katak ketika jari Kaki katak merespon Masih dapat Masih ada respon,
kaki dimasukkan ke dalam dengan cepat dengan merespon dengan tetapi respon lebih
8 air 80◦ C langsung mengangkat cepat, namun tidak lemah dari katak
kakinya (bagian kaki secepat pada katak single pith
kanan) normal
Analisis Data

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui gerak refleks yang terjadi pada katak normal,
katak yang mengalami pengrusakan otak, maupun katak yang sudah mengalami pengrusakan
otak dan medulla spinalis.

a. Katak normal

Posisi kepala tegak, mata terbuka dan anggota geraknya menelangkup kebawah. Saat
kornea matanya disentuh dengan kapas mata berkedip dan kaki depan katak berusaha untuk
menyingkarkan kapas tersebut. Frekuensi pernafasan katak adalah 71 kali per menit. Pada saat
katak diletakkan pada papan dan diputar secara horizontal, katak mencoba untuk memiringkan
kepala untuk dapat tengkurap, mata terbuka dan anggota geraknya kembali tengkurap. Setelah itu
papan dimiringkan secara perlahan hingga kepala katak sedikit terangkat, namun katak tidak
memberikan respon aktif. Katak dimasukkan kedalam aquarium berisi air, cara berenang katak
tersebut adalah kaki bagian depan membuka dan lurus kebelakang,kaki belakang bergerak lurus
dan mendorong kebelakang untuk memajukan badannya. Ketika berada didalam air, kepala katak
berada diatas permukaan air. Kaki bagian depan keatas permukaan dan kaki belakang berada
dibagian dalam air. Saat kakinya dicubit, responnya adalah katak menendangkan kakinya. Jari
kaki sebelah kiri dimasukkan dalam gelas piala yang mulai dipanaskan, dan pada suhu 44°C
katak mengankat kakinya. Bagian jari kaki sebelah kanan dimasukkan kedalam air bersuhu 80°C
dan katak merespon dengan cepat untuk segera menarik kakinya dari air bersuhu 80°C tersebut.

b. Katak spinal

Posisi kepala menempel pada papan, mata terbuka dan anggota geraknya diam (pasif).
Saat kornea mata disentuh dengan kapas mata berkedip tetapi tidak diikuti gerakan kaki untuk
menyingkirkan kapas. Frekuensi pernafasan sebanyak 40 kali permenit. Katak diletakkan pada
papan dan diputar horizontal, posisi kepala masih memiringkan kepala untuk berusaha
tengkurap, mata tetap terbuka dan anggota geraknya masih berusaha kembali tengkurap
meskipun gerakan yang dilkukan cukup lambat. Saat papan dimiringkan secara perlahan, tidak
terdapat respon aktif dari katak tersebut. ketika dimasukkan kedalam aquarium berisi air, cara
berenang katak tersebut adalah mendorong tubuhnya untuk maju, kaki bagian belakang lurus,
keseimbangan masih terjaga, saat tidak melakukan pergerakan didalam air kaki katak tersebut
telentang. Kaki katak dicubit dengan pinset, katak merespon dengan menekuk kakinya. Jari kaki
sebelah kiri dimasukkan dalam gelas piala yang mulai dipanaskan, dan pada suhu 43°C katak
mengangkat kakinya. Bagian jari kaki sebelah kanan dimasukkan kedalam air bersuhu 80°C,
katak masih dapat merespon dengan cepat namun tidak secepat respon katak normal.

c. Katak yang sudah mengalami pengrusakan otak dan ,medulla spinalis

Posisi kepala menempel pada papan, mata terbuka dan anggota geraknya diam. Saat
kornea mata disentuh dengan kapas mata tidak berkedip sama sekali. Frekuensi pernafasan
sebanyak 9 kali permenit. Katak diletakkan pada papan dan diputar horizontal, kepala tidak
bergerak (diam) tidak seperti pada katak normal yng berusaha memiringkan kepalanya agar bisa
tengkurap, mata tetap terbuka dan anggota geraknya diam. Saat papan dimiringkan secara
perlahan, tidak terdapat respon aktif dari katak tersebut. ketika dimasukkan kedalam aquarium
berisi air, cara katak berenang adalah mendorong tubuh untuk maju kedepan menggunakan kaki
bagian belakang, ketika diam didalam air kepala berada dipermukaan air dan tubuh tidak
memiliki keseimbangan. Kaki katak dicubit dengan pinset, katak masih merespon meskipun
respon yang diberikan sangat lemah. Jari kaki sebelah kiri dimasukkan dalam gelas piala yang
mulai dipanaskan, dan pada suhu 50°C kaki katak merespon dengan menekukkan jari-jarinya.
Bagian jari kaki sebelah kanan dimasukkan kedalam air bersuhu 80°C, katak masih merespon,
tetapi respon yang diberikan sangat lambat berbeda dengan respon katak normal dan katak
spinal.

Pembahasan

Pada pengamatan pertama, beberapa rangsangan yang diberikan pada katak normal
menghasilkan gerak refleks yang dikendalikan oleh otak dan sum-sum tulang belakang. Pada
posisi normal katak mata terbuka melotot, kepala tegak, alat gerak melipat dan menelungkup.
Saat mata disentuh dengan kapas, mata terpejam dan kaki bagian depan menyingkirkan kapas
dari matanya. Frekeunsi pernapasan 71/menit. Keseimbangan katak setelah diputar, posisi mata
masih terbuka dan melotot, kepala tegak, alat gerak berupa tungkai depan dan belakang masih
melipat dan menelungkup. Setelah papan dimiringkan tidak ada respon aktif. Cara berenang
katak, bagian mata dan hidung berada di permukaan air, kaki bagian depan membuka dan lurus
ke belakang, kaki bagian belakang menendang air. Bereaksi ketika dicubit dengan menendang-
nendang. Setelah memanaskan air katak menggerakkan keluar kakinya (kaki kiri) dengan cepat
dari air pada suhu 44 oC. Pada saat kaki(kaki kanan) katak dicelupkan pada air dengan suhu 80
o
C, deng cepat kaki katak melipat kakinya. Hal ini menunjukkan bahwa katak normal memiliki
sistem saraf (otak dan sum-sum tulang belakang) yang baik dimana saraf-saraf tersebut dapat
menghantarkan stimulus ke otak dan sum-sum tulang belakang dari resptor ke efektor secara
cepat.
Pada pengamatan kedua, beberapa rangsangan yang diberikan pada katak coba (Single
Pithing) menghasilkan gerak refleks dengan tanggapan yang lebih lambat oleh efektornya. Pada
posisi normal katak kepala yang miring dan menempel pada papan, mata terbuka, dan alat gerak
diam. Saat mata disentuh dengan kapas, mata berkedip. Frekuensi pernapasan 40/menit.
Keseimbangan katak setelah diputar, kepala berusaha tengkurap, posisi mata terbuka, alat gerak
berupa tungkai depan dan belakang menyamping berusaha kembali tengkurap namun respon
lambat. Setelah dimiringkan tidak ada respon aktif. Cara berenang kaki belakang lurus,
keseimbangan sedikit terjaga, ketika diam diair katak terlentang. Bereaksi kurang baik ketika
dicubit (lambat). Kaki katak mengangkat keluar dari air ketika suhu 430 C. Dari beberapa
perlakuan dtersebut katak menanggapi beberapa gerak refleks yang diberikan dengan lambat
Kurangnya aksi refleks ini dikarenakan sistem saraf pusat yakni otak telah mengalami kerusakan
pada saat melakukan single pithing. Kerusakan sistem saraf pusat menyebabkan reaksi efektor
terhadap beberapa impuls rangsangan berjalan lambat.
Pada pengamatan ketiga, beberapa rangsangan yang diberikan pada katak coba (Double
Pithing) menghasilkan gerak refleks dengan tanggapan yang sangat lambat oleh efektornya dan
beberapa respon yang diberikan tidak ditanggapi. Pada posisi normal katak kepala menunduk
menempel pada papan, mata terbuka, dan alat gerak diam. Saat mata disentuh dengan kapas,
mata tidak berkedip. Frekuensi pernapasan 9/menit. Keseimbangan katak setelah diputar, Kepala
diam, mata terbuka, alat gerak berupa tungkai depan dan belakang diam. Setelah dimiringkan
tidak ada respon sama sekali. Cara berenang tidak beraturan. Bereaksi lemah ketika dicubit. Kaki
katak mulai bereaksi dengan lambat dari dalam air pada suhu 500 C dan ketika kaki dimasukkan
pada air bersuhu 800 C kakinya lambat merespon. Lemahnya respon refeks ini dikarenakan
sistem saraf pada otak dan sum-sum tulang belakangnya (medulla spinalis) tidak mampu
merespon dan memberi menghantarkan perintah terhadap impuls saraf ke efektor.
Dari ketiga perlakuan berbeda tersebut dapat dipahami bahwa otak dan sum-sum tulang
belakang memiliki fungsi yang sangat penting dalam proses terjadinya gerak refleks sebagai
respon terhadap suatu rangsangan. Refleks yang dikontrol oleh saraf spinal pada katak antara
lain; reaksi ketika dicubit, perubahan mata, reaksi ketika kaki dipanaskan, sedangkan refleks
yang dikendalikan oleh saraf kranial katak antara lain; frekuensi pernapasan, gerakan kepala,
cara berenang, dan gerak tungkai depan dan belakang.
Kesimpulan
Adapun kesimpulan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Releks yang dikendalikan otak adalah reflex cerebellar (melibatkan otak kecil) yang
mana otak kecil ini berperan sebagai pusat keseimbangan, koordinasi kegiatan otak, koordinasi
kerja otot dan rangka. Sebagai contoh, reflex yang dikontrol oleh otak atau saraf kranial katak
meliputi frekuensi pernafasan, gerakan kepala, kekenyalan otot, cara berenang, dan gerak
tungkai depan dan belakang.

2. Reflex yang dikendalikan oleh sumsum tulang belakang atau saraf spinal pada katak
adalah reflex spinal (pada sumsum tulang belakang) yang mampu memediasi sejumlah reflex,
somatic dan autonomic, dan meliputi reaksi ketika dicubit, perubahan mata, dan reaksi ketika
ketika kaki dipanaskan.

3. Terjadi pengurangan frekuensi respon pada katak yang telah didekapitasi. Akan tetapi,
katak yang didekapitasi masih dapat memberikan respon. Hal ini disebabkan karena jantung
katak bersifat neurogenic sehingga katak masih mampu memberikan respon.

4. Apabila katak diberikan rangsang berupa cubitan, maka katak akan melakukan gerak
reflek yang berlawanan dengan arah rangsangan (Heterolateral).

5. Pada katak single pit masih dapat merespon rangsangan mekanis, tungkai belakang masih
terlipat ketika diletakkan di papan seksi, mata masih merespon kapas yang di tempelkan (namun
lebih lambat, itu pun hanya mata sebelah kanan yang menutup sedangkan mata sebelah kirinya
sudah tidak merespon lagi), dan masih dapat berenang (itu pun mengambang di permukaan
dengan tungkai yang tidak aktif, hanya tungkai kiri yang menendang sesekali ), serta respon pada
suhu panas yang lebih lambat dibanding katak normal dan frekuensi pernafasan yang tak secepat
katak normal.
6. Pada katak Double pit mata katak menjadi sayu (tidak merespon lagi ketika ditempel
kapas), kedua tungkai belakang lurus (katak terlihat sangat pasrah), sudah tidak dapat berenang
lagi (tenggelam, namun tungkai belakang masih dapat menendang sekali), ketika diberi rangsang
mekanis tidak merespon, dan respon terhadap panas yang lambat (lebih lambat dibanding katak
single pit) serta frekuensi pernafasan yang sudah sangat lambat.

Lampiran

Cara Berenang Katak Posisi Kaki katak ketika berenang

Posisi katak terlentang Respon katak ketika terlentang


Daftar Rujukan

Campbell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid III. Jakarta: Erlangga.

Soewolo. 2005. Fisiologi Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang.

Campbell, Neil A. Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell, Biologi Edisi ke 5 Jilid 3. Jakarta:
Erlangga, 2004.