Anda di halaman 1dari 23

1

MAKALAH
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

“ASUHAN KEPERAWATAN UROLITHIASIS”

Di susun oleh :

KELOMPOK 3

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
2

NAMA KELOMPOK :
1. Dwi Hadisantoso ( 1614201110072)
2. Desy Iriyanti ( 1614201110070)
3. Emy Pratama ( 1614201110074)
4. Eva herlina ( 1614201110075)
5. Farihah Febia ( 1614201110076)
6. Muhammad Fikri Khairani ( 1614201110093)
7. Muhammad Norhidayat ( 1614201110094)
8. Nor Aimah ( 1614201110100)
9. Nurul Islamy ( 1614201110104)
10. Nurul Jannah ( 1614201110105)
11. Siti munawarah ( 1614201110115)
12. Sofyan Amin Syamsurya ( 1614201110116)
13. Sri Wahyuna ( 1614201110117)
14. Widya Febriana ( 1614201110119)
3

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT , karena atas berkat
rahmat dan kasihnya ,Sehinggga penyusun akhirnya dapat menyelesaikan makalah tentang
“Asuhan Keperawatan Urolithiasis”.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Keperawatan Medikal Bedah
II. Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dan hal-hal yang perlu ditambahkan pada
tugas makalah ini , Kesempurnaan hanya milik Allah SWT, oleh karena itu kritik dan saran
sangat penulis harapkan dari para pembaca.

Akhirnya penyusun mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang
telah membantu penyusunan makalah ini dan besar harapan penyusun, semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan tentang masalah kesehatan dan
semoga makalah ini sedikitnya dapat memberikan sumbangan ilmu yang dapat bermanfaat
khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi para pembaca. Semoga makalah yang di
sajikan ini dapat sesuai dengan indikator yang di harapkan..

Semoga Ridha Allah senantiasa bersama kita. Amin Ya Rabbil Alamin.

Banjarmasin, 17 Maret 2018

Penyususn
4

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 5

1.1 Latar Belakang .............................................................................................................................. 5

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 6

1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 6

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 7

A. Konsep Teoritis Urolithiasis .......................................................................................................... 7

1. Definisi.................................................................................................................................... 7

2. Etiologi.................................................................................................................................... 7

3. Gejala Klinis ......................................................................................................................... 10

4. Komplikasi ............................................................................................................................ 11

5. Diagnosis............................................................................................................................... 11

6. Penatalaksanaan .................................................................................................................... 11

7. Prognosis ............................................................................................................................... 12

BAB III TINJAUAN KASUS............................................................................................................... 13

ASUHAN KEPERAWATAN........................................................................................................... 13

A. Pengkajian ............................................................................................................................... 13

B. Diagnosa keperawatan............................................................................................................. 19

C. Intervensi ................................................................................................................................. 19

BAB III PENUTUP .............................................................................................................................. 22

3.1 Kesimpulan ................................................................................................................................ 22

3.2 Saran .......................................................................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 23


5

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Batu saluran kemih adalah batu yang terdiri dari batu ginjal, batu ureter, batu uretra, dan
batu kandung kemih. Komposisi dari batu saluran kemih ini bisa terdiri dari batu kalsium,
batu struvit, batu asam urat dan batu jenis lainnya yang didalamnya terkandung batu sistin,
batu Xanthin, dan batu silikat. Penyebab tersering terjadinya batu saluran kemih ini adalah
adalah sumbatan pada saluran kemih baik itu terjadi secara herediter maupun karena factor
dari luar. (Purnomo, 2011 ed.3)
Penyakit batu saluran kemih ini sudah dikenal sejak zaman babilonia dan zaman mesir
kuno. Sebagai salah satu buktinya adalah diketemukannnya batu pada kandung kemih
seorang mumi. Penyakit ini dapat menyerang penduduk diseluruh dunia tidak terkecuali
penduduk di Indonesia. Angka kejadian penyakit ini tidak diberbagai belahan dunia.
Dinegara-negara berkembang banyak dijumpai pasien dengan batu kandung kemih
sedangkan dinegara majulebih banyak dijumpai penyakit batu saluran kemih bagian atas, hal
ini dapat disebabkan oleh pengaruh status gizi da aktivitas pasien sehari-hari. (Purnomo, 2011
ed.3)
Di Amerika Serikat, 5-10% penduduknya menderita penyakit ini, sedangkan diseluruh
dunia rata-rata terdapat 1-12% penduduk yang menderita batu saluran kemih. Selain infeksi
saluran kemih dan Pembesaran prostat benigna, penyakit batu saluran kemih juga merupakan
tiga penyakit terbanyak pada system urologi sehingga perlu untuk dipahami terkait
penjelaskan maupun factor resiko terjadinya batu saluran kemih agar penyakit ini dapat
dicegah sedini mungkin. (Purnomo, 2011 ed.3)
6

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara membuat dan melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan
Urolithiasis ?
2. Pengkajian pada pasien dengan Urolithiasis ?
3. Diagnosa yang muncul pada pasien dengan Urolithiasis ?
4. Intervensi pada pasien dengan Urolithiasis ?

1.3 Tujuan

1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti diskusi ini, mahasiswa mampu memahami dan mengerti asuhan
keperawatan pada pasien yang menderita Urolithiasis
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti diskusi ini, ditujukan agar mahasiswa mampu :
Membuat dan melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan Urolithiasis
(Pengkajian, diagnosa dan intervensi)
7

BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Teoritis Urolithiasis

1. Definisi
Urolitiasis adalah terbentuknya batu (kalkulus) dimana saja pada sistem penyalur urine,
tetapi batu umumnya terbentuk diginjal. Batu mungkin terbentuk diginjal. Batu mungkin
terbentuk tanpa menimbulkan gejala atau kerusakan ginjal yang bermakna,hal ini terutama
terjadi pada batu besar tersangkut di pelvis ginjal. Makna klinis batu terletak pada
kapasitasnya menghambat aliran urine atau obstruksi aliran urine atau menimbulkan trauma
yang menyebabkan ulserasi dan perdarahan,pada kedua kasus ini terjadi peningkatan
presdiposisi infeksi bakteri (Robbins, 2007).
Urolittiasis adalah suatu kelainan yang ditandai dengan adanya batu disatu atau beberapa
tempat di sepanjang collecting system (Munver & Preminger, 2001)
Batu saluran kemih adalah adanya batu di traktus urinaris.(ginjal,ureter atau kandung
kemih, uretra) yang membentuk kristal,kalsium, oksalat,kalium urat,asam urat dan
magnesium. (Brunner&Suddath, 2002)
Urolithiasis adalah suatu keadaan terbentuknya batu ( calculus) pada ginjal dan saluran
kemih. ( Toto Suharyanto, 2009 )

2. Etiologi
Pada kebanyakan penderita batu saluran kemih tidak ditemukan penyebab yang jelas
(idiopatik), akan tetapi ada beberapa faktor-faktor yang berperan pada pembentukan batu
saluran kemih, dapat dibagi atas 2 golongan ,yaitu :
 Batu saluran kemih, dapat dibagi atas 2 golongan, yaitu :
 Factor endogen : seperti factor genitik –familial pada hipersistuniria , hiperkalsiuaria
priimer dan hiperokasaluaria primer.
 Factor eksogen : seperti factor lingkungan , pekerjaan , makanan , infeksi dan
kejenuhan , mineral dalmair minum.
 Patogenisis dan patofisiologi
 Sebagian besar batu saluran kencing adalah idopatik dan dapat bersifat simtomatik
ataupun asimtomatik, ada beberapa teori terbentuknya batu yaitu :
 Teori inti matriks
Terbentuknya batu saluran kencing memerlukan susbtansi organik sebagai inti.
8

 Teori supersaturasi
Terjadinya kejenuhan sustansi pembentuk batu dalam urin seperti : sistin, santin ,
asam urat , kalsium, oksalat akan mempermudah terbentunya batu.
 Teori presipitasi – kristalisasi
Perubahan PH akan mempengaruhi solubilitas subtansi dalam urin .
 Teori berkurangnya factor penghambat
Berkurangnya factor penghambat seperti : peptid fosfat , piroposfat , pilofosfat , sitrat,
magnesium , asam mukopolisakarid akan mempermudah terbentuknya batu saluran
kencing .
 Faktor lain terutama factor eksogen dan lingkungan yang diduga ikut mempengaruhi
kalkuligenisis antara lain :
 Infeksi
 Obstuksi dan stasis urin
 Jenis kelamin
 Ras
 Keturunan
 Air minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum akan mengurangi kemungkinan
terbentuknya batu, sedangkan bila kurang minum menyebabkan kadar semua
substansi dalam urine akan meningkat dan mempermudah pembentukan batu.
Kejenuhan air yang diminum sesuai dengan kadar mineralnya terutama kalsium
diperkirakan mempengaruhi terbentuknya batu saluran kemih.
 Pekerjaan
Pekerja-pekerja keras yang banyak bergerak, seperti buruh dan petani akan
mengurangi kemungkinan-kemungkinan batu saluran kemih bila dibandingkan
dengan pekerja yang lebih banyak duduk.
 Makanan
Pada golongan masyarakat yang lebih banyak makan protein hewani angka morbiditas
batu saluran kemih berkurang, sedangkan pada golongan masyarakat dengan kondisi
sosial ekonominya rendah lebih sering terjadi.
 Suhu
Tempat yang bersuhu panas, seperti daerah tropis, dikamar mesin menyebabkan
banyak mengeluarkan keringat, akan mengurangi produksi urine dan mempermudah
pembentukkan batu saluran kemih.
9

Selain oleh kelainan bawaan atau cidera, keadaan patologi dapat disebabkan oleh infeksi,
pembentukkan batu disaluran kemih, dan tumor. Keadaan tersebut sering menyebabkan
bendungan karena hambatan pengeluaran kemih. Infeksi, trauma, dan tumor dapat
menyebabkan penyempitan atau striktur uretra sehingga terjadi bendungan dan stasis yang
memudahkan infeksi. Lingkungan stasis dan infeksi memungkinkan terbentuknya batu yang
juga menyebabkan bendungan dan memudahkan infeksi karena bersifat sebagai benda asing.
Infeksi biasanya meluas, misalnya sistitis menyebabkan penyulit berupa vesikulitis,
epididimitis, bahkan sampai orkitis.
Stasis urine, urolitiasis dan infeksi saluran kemih merupakan peristiwa yang saling
mempengaruhi. Secara berantai saling memicu, saling memberatkan dan saling mempersulit
penyembuhan.

Patofisiologi Obstruksi perkemihan yang tidak bisa dikoreksi (Barbara C Long, hal 319,
1996)

OBTRUKSI PERKEMIHAN

Dilatasi sekitar obstruksi

Pengaliran urine kembali ke ginjal

Dilatasi pelvis ginjal

Tekanan Struktur Ginjal Stasis urin

Dilatasi tubulus ginjal Tekanan arterial Infeksi calculi

Iskemia

Kerusakan Tubular
10

3. Gejala Klinis
Tanda dan gejala penyakit urolitiasis sanga di tentukan oleh letaknya, besarnya, dan
morfologinya. Walaupun demikian penyakit ini mempunyai tanda dan gejala umum yaitu :
hematuria, dan bila disertai infeksi saluran kemih dapat juga ditemukan kelainan endapan
urin bahkan munking demam atau tanda sitemik lainnya.
a. Batu pelvis ginjal
Batu pada pelvis ginjal dapat bermanifestasi tanpa sengaja sampai gejala berat, umumnya
gejala bau saluran kemih merupakan akibatobsruksialiran kemih dan infeksi. Tanda dan
gejala yang di emui antara lain :
1. Nyeri di daerah pinggang ( sisi atau sudut kostevertebral ) ; dapat dalam bentukpegal
hingga kolik atau nyeri yang terus menerus dan hebat karena adanya pionefrosis
2. Pada pemeriksaan fisik mungkin kelainan sama sekali tidak ada, sampai mungkin
terabanya ginjal yang membesar akiba adanya hidronefrosis
3. Nyeri dapat berupa nyeri tekan atau ketok pada daerah arkus kosta pada sisi ginjal yang
terkena.
4. Batu nampak pada pemeriksaan pencitraan
5. Gangguan fungsi ginjal
6. Pernah mengeluarkan bau kecil ketika kencing
b. Batu ureter
1. Kolik, yaitu nyeri yang hilang timbul di sertai perasaan mual dengan atau tanpa muntah
2. Nyeri alih yang khas ke regio inguinal
3. perut kembung ( ileus paralitik )
4. hematuria
5. pernah menggeluarkan batu kecil ketika kencing
6. batu nampak pada pemeriksaan pencitraan
c. Batu kandung kemih
1. karena batu menghalangi aliran air kemih akibat penutupan leher kandung kemih maka
aliran yang mula mula lancer secara tiba tiba akan terhenti dan menetes disertai dengan
ras nyeri.
2. pada anak, menyebabkan anak yang bersangkutan menarik penisnya waktu BAK
sehingga tidak jarang dilihat penis yang agak panjang.
3. bila terjadi infeksi sekunder, maka selain nyeri sewatu miksi juga akan terdapat nyeri
yang menetap suprapubik
4. hematuria
5. pernah mengeluarkan batu kecil ketika kencing
11

6. batu tampak pada pemeriksaan pencintraan


d. Batu prostat
Pada umumny batu prostat juga berasal dari air kemih yang secara retrogrand terdorong
kedalam saluran prostat dan mengendap yang akhirnya berupa batu yang kecil.
e. Batu uretra
Batu uretra umumnya merupakan batu yang berasal dari ureter atau kandung kemih yang
oleh aliran kemih sewakt miksi terbawa ke uretra, tetapi menyangkut ditempat yang salah

4. Komplikasi
a. obstruksi : menyebabkan hidroneprosis
b. infeksi
c. gangguan fungsi ginjal

5. Diagnosis
Diagnosis batu saluran kemih dapat di tegakkan dengan beberapa cara, antara lain :
 Gambaran klinis
 Laboratorium : pada pemeriksaan urin didapatkan hematuria, dan bila terjadi
obstruksi yang lama akan menyebabkan penurunan fungsi ginjal
 Pielografi intravena : dapat melihat besarnya batu, letaknya dan adanya tanda tanda
obstruksi, terutama untuk batu yang tidak tembus sinar.
 Sistokopi : dapat membantu pada keadaan keadaan yang meragkan didalam buli buli

6. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan batu saluran kemih adalah: menghilangkan obstruksi mengobati
infeksi, menghilangkan rasa nyeri, serta mencegah terjadinya gagal ginjal dan mengurangi
kemungkinan terjadinya rekurensi.
Untuk mecapai tujuan tersebut dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Diagnosis yang tepat mengenai adanya batu, lokasinya, dan besarnya batu.
b. Menentukan adanya akibat-akibat batu saluran kemih, seperti: rasa nyeri, obstruksi
disertai perubahan-perubahan pada ginjal, infeksi dan adanya gangguan fungsi ginjal.
c. Menghilangkan obstruksi, infeksi, dan rasa nyeri.
d. Analisis batu
e. Mencari latar belakang terjadinya batu
f. Mengusahakan pencegahan terjadinya rekurensi
Penatalaksanaan secara umum pada obstruksi saluran kemih bagian bawah:
a. Cystomy : salah satu usaha untuk drainase dengan menggunakan pipa sistomy yang
ditempatkan langsung didalam kandung kemih melalui insisi supra pubis.
12

b. Uretrolitotomy: tindakan pembedahan untuk mengangkat batu yang berada di uretra


c. Urethrotomy visual/ urethroplasti

7. Prognosis
Prognosis batu saluran kemih tergantung dari faktor-faktor antara lain: besar batu, letak
batu, adanya infeksi dan adanya obstruksi.
Makin besar batu makin jelek prognosisnya. Letak batu yang dapat menyebabkan
obstruksi dapat mempermudah terjadinya infeksi. Makin besar kerusakan jaringan dan
adanya infeksi karena faktor obstruksi akan menyebabkan penurunan fungsi ginjal, sehingga
prognosis menjadi jelek.
13

BAB III
TINJAUAN KASUS
Dalam tinjauan kasus ini akan di uraikan tentang Asuhan Keperawatan yang dilakukan
terhadap klien Urolitiasis melalui proses keperawatan.

Seorang pasien laki-laki bernama Tn.M berumur 72 tahun datang ke RS dengan keluhan
nyeri di bagian belakang pinggang, nyeri timbul kadang-kadang klien juga mengatakan
nyerinya menyebar ke paha, dan klien mengatakan sering merasa ingin BAK dan ketika BAK
klien merasa nyeri, klien sudah mengalami penyakit seperti ini sekitar 6 bulan yang lalu,
namun klien tidak memeriksakan dirinya ke rumah sakit karena hanya menganggap nyeri
biasa yang timbul sesekali. Seminggu yang lalu nyeri klien lebih sering timbul lalu kemudian
klien datang untuk berobat jalan ke RSUD Ulin Banjarmasin dan klien dianjurkan untuk
dirawat. Setelah dilakukan pengkajian : BB klien 54 kg, TB 163cm, TD 130/90 mmHg, N 80
x/menit, RR 24 kali/menit, T 37oC. out put 800cc/24jam, BAK warna kuning kemerahan dan
keruh, retensi urine dan cateter (+) ukuran 20. Setelah dilakukan pemerikaan diasgnostik
Analisa darah : HB : 11,6. LED : 24, Eritrosit : 4,9, lekosit : 10,1, hematrokit : 37,1, MCV :
76, MCH : 23,9, MCHC : 31,3, RDW : 15,4, trombosit : 194, glukosa : 94, gol darah :
B.Analisa urine : berat jenis 1,020, PH, protein 25 mg (+), blod dan HB 25/ml (+), leukosit
25 (+), eritrosit 10-25, leukosit 5-10, epitel 10-15.

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama : Tn. M
Umur : 72 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku/bangsa : Banjar
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Petani
Alamat : Alalak Selatan
Tanggal pengkajian : 17 Maret 2018
Diagnosa medis : Urolitiasis.
14

2. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri di bagian belakang pinggang
2) Riwayat kesehatan sekarang
Klien masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri bagian belakang pinggang, nyeri yang
dirasakan klien berupa nyeri akut yaitu kadang hilang kadang juga timbul, klien juga
mengatakan nyerinya menyebar ke paha, klien juga mengatakan sering merasa ingin
BAK dan ketika BAK klien merasa nyeri, klien sudah mengalami penyakit seperti ini
sekitar 6 bulan yang lalu, namun klien tidak memeriksakan dirinya ke rumah sakit
karena hanya menganggap nyeri biasa yang timbul sesekali. Seminggu yang lalu nyeri
klien lebih sering timbul lalu kemudian klien datang untuk berobat jalan ke RSUD
Ulin Banjarmasin dan klien dianjurkan untuk dirawat
3) Riwayat kesehatan dahulu
Klien mengatakan belum pernah mengalami keluhan atau penyakit yang sama
sebelumnya
Klien mengatakan belum pernah di rawat di rumah sakit, hanya saja berobat jalan di
peskesmas tempat tingal klien
Klien mengataka tidak ada riwayat alergi pada obat, makanan, binatang dll.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan tidak pernah ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti
klien.
3. Kebutuhan fisik, Psikologi, Sosial dan Spiritual
1. Aktivitas dan istirahat ( dirumah/sebelum sakit dan di rumah sakit/saat sakit )
Sebelum sakit bekerja dari jam 08 pagi sampai dengan 13 siang, tidak berolah raga,
tidak ada keluhan ketika bekerja. Sebelum sakit klien tidur siang pada jam 14-15 wita,
dan tidur malam pada jam 23.00 – 05.00 wita.

Setelah sakit klien tidak dapat bekerja seperti biasanya. Setelah sakit klien lebih
banyak beristirahat tidur malam jam 21.00 – 05.00 wita
2. Personal hygine
Sebelum masuk rumah sakit klien mandi dengan frekuensi 2 kali/hari, pagi dan sore
hari, Oral hygiene sebelum sakit 2 kali sehari setiap setelah mandi pada pagi dan sore.
Cuci rambut sebelum sakit selalu mencuci rambut ketika mandi pada pagi dan sore
hari.
15

Dirumah sakit klien hanya di seka oleh keluarga 2 kali sehari pada pagi dan sore hari.
Oral hygiene setelah sakit 2 kali sehari setiap setelah diseka pada pagi dan sore.
Setelah sakit tidak pernah mencuci rambut setelah klien masuk rumah sakit.

3. Nutrisi
Pola nutrisi sebelum sakit klien makan dengan frekuensi 2-3 kali/hari dengan nafsu
makan baik, tidak ada makanan yang tidak disukai, tidak ada makanan yang
menyebabkan klien alergi, makanan yang dapat menigkatkan nyeri pada klien jika
makan makanan seperti daging berlemak dan susu, penggunaan obat obatan sebelum
makan tidak ada, penggunaan alat bantu makan tidak ada.

Pola nutrisi klien dirumah sakit, frekuensi 3 kali/hari, nafsu makan baik, porsi makan
yang dihabiskan 1 porsi, waktunya teratur karena dirumah sakit klien juga
mendapatkan pelayanan dari ahli gizi, tidak ada makanan yang menyebabkan klien
alergi, makan dengan dibantu oleh keluarga.
4. Eliminasi
Sebelum sakit BAK Klien dengan frekuensi 6-8 kali/24jam, dengan warna kuning
keruh. Dan BAB sebelum masuk rumah sakit baik dengan frekuensi 1-2 kali/hari,
tidak ada konstipasi.

Dirumah sakit BAK klien selama dirumah sakit 800cc/24 jam dengan warna kuning
kemerahan dan keruh, nyeri ketika BAK, retensi urine dan cateter (+) ukuran 20.
Klien mengatakan sering merasa ingin BAK dan ketika BAK klien merasa nyeri.
Setelah sakit Pola BAB dengan frekuensi 1 kali/sehari, waktunya tidak tentu, warna
kecoklatan, terjadi tidak disertai dengan distensi abdomen.
5. Psikososial
Orang terdekat dengan klien adalah istri klien dan anak anaknya. klien juga mengikuti
seluruh kegiatan kemasyarakatan seperti gotong royong dan keikutsertaan klien dalam
pembangunan kampung. Klien juga berharap agar penyakitnya cepat sembuh dan
dapat pulang kerumah dan melanjutkan aktivitas seperti biasanya
6. Spritual
Klien beragama islam dan selalu melaksanakan sholat dan berdoa agar mendapatkan
ridha dari allah atas masalah kesehatan yang menimpanya.
16

4. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
 Keadaan umum sedang,
 Berat badan 54 kg, tinggi badan 163cm.
 TD 130/90 mmHg, nadi 80 x/menit, RR 24 kali/menit, suhu tubuh 37oC,
2. Kulit
Turgor kulit baik, temperature kulit hangat, warna kulit normal, keadaan kulit baik,
tidak ada kelainan kulit, kondisi kulit daerah pemasangan infus lembab, keadaan
rambut baik, kebersihan rambut bersih
3. Kepala dan leher
Wajah simetris, rambut tipis dan beruban, tidak ada nyeri tekan pada kepala, tidak ada
pelebaran vena jugularis, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid serta tidak ada
pembesaran limfe, dan keterbatasan gerak.
4. Penglihatan dan mata
Simetris mata kika, Klien menggunakan kacamata untuk membaca
5. Penciuman dan hidung
Simetris kika, tidak ada nyeri tekan, Tidak ada kelainan pada hidung, fungsi
penciuman baik
6. Pendengaran dan telinga
Telinga simetris, tidak ada kelainan pada telinga, dank lien tidak menggunakan alat
bantu pendengaran.
7. Mulut da gigi
Tidak ada kelainan pada mulut dan gigi, tidak ada stomatitis, jumlah gigi kurang
kerena sudah ada yang lepas, klien tidak menggunakan gigi palsu.
8. Dada, penafasan dan sirkulasi
Inspeksi : dada simetris, tidak terdapat otot bantu nafas
Palpasi : tidak ada edema dan nyeri tekan
Perkusi : resonan
Auskultasi : vesikuler
9. Abdomen
Inspeksi : simetris kika, tidak ikterik,warna sama dengan kulit lain
Auskultasi : suara peristaltic usus 12 x/menit
Palpasi : terdapat nyeri tekan pada daerah sekitar ginjal
Perkusi : timpani
17

10. Genetelia dan reproduksi


Integritas kulit baik, tidak ada edema, tidak ada nyeri tekantidak ada pengeluaran pus
atau darah
11. Ekstrimitas atas dan bawah
Simetris, integritas kulit baik, tidak ada gangguan pergerakan, nadi teraba jelas
(radialis).
5. Data Fokus
Data subjektif : klien mengeluh nyeri di bagian belakang pinggang, klien juga
mengatakan nyerinya menyebar ke paha. Klien mengatakan sering merasa ingin BAK dan
ketika BAK klien merasa nyeri. klien mengatakan masih kurang mengerti terhadap
penyakit yang dialaminya dan proesedur pengobatannya.

Data objektif :
P : Nyeri
Q: seperti ditusuk tusuk
R : lokasi nyeri pada bagian belakang pinggang dan menjalar kebagian paha
S : skala nyeri 6 (nyeri sedang)
T : kadang kadang.
Out put 800cc/24jam, BAK warna kuning kemerahan dan keruh, retensi urine dan cateter
(+) ukuran 20.
Klien tampak cemas saat menyatakan perasaannya, klien berharap perawat dan doker
yang merawat klien dapat memberitahukan penjelasan tentang penyakit klien dan
prosedur pengobatan yang diberikan kepadanya.

6. Pemeriksaan laboratorium
Analisa darah : HB : 11,6. LED : 24, Eritrosit : 4,9, lekosit : 10,1, hematrokit : 37,1, MCV
: 76, MCH : 23,9, MCHC : 31,3, RDW : 15,4, trombosit : 194, glukosa : 94, gol darah : B
Analisa urine : berat jenis 1,020, PH, protein 25 mg (+), blod dan HB 25/ml (+), leukosit
25 (+), eritrosit 10-25, leukosit 5-10, epitel 10-15.
18

7. Analisa data
No Data Fokus Problem Etiologi
1 DS : klien mengeluh nyeri di Nyeri Agen cedera biologis
bagian belakang pinggang, (urolithiasis : obstruksi
klien juga mengatakan aliran urin)
nyerinya menyebar ke paha
DO :
P : Nyeri
Q: seperti ditusuk tusuk
R : lokasi nyeri pada bagian
belakang pinggang dan
menjalar kebagian paha
S : skala nyeri 6 (nyeri
sedang)
T : kadang kadang.

2 DS ; Klien mengatakan sering Gangguan eliminasi Obstruksi anatomik


merasa ingin BAK dan ketika urin akibat adanya batu pada
BAK klien merasa nyeri jalan aliran urin
DO : out put 800cc / 24 jam
, BAK warna kuning
kemerahan dan keruh , retensi
urine dan cateter (+) ukuran
20. Analisa urine : berat jenis
1,020, PH , protein 25 mg (+),
blod dan HB 25/ml (+),
leukosit 25(+).
3 DS : klien mengatakan masih Defisiensi Kurangnya informasi
kurang mengerti terhadap Pengetahuan
penyakit yang dialaminya dan
proesedur pengobatannya
DO : klien tampak cemas saat
menyatakan perasaannya
mengenai penyakit yang
19

dideritanya kepada perawat,


klien menyatakan bahwa
harapan klien terhadap
perawat dan dokter yang
merawatnya dapat
memberitahukan penjelasan
tentang penyakit klien dan
prosedur pengobatan yang
diberikan kepadanya

B. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan Agen cedera biologis (urolithiasis : obstruksi aliran urin)
2. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan Obstruksi anatomik akibat adanya batu
pada jalan aliran urin
3. Defesiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

C. Intervensi
No Diagnosa Tujuan dan KH Intervensi Rasional
1 Nyeri berhubungan Tujuan : Setelah 1. Kaji intensitas, lokasi, 1. Peningkatan nyeri
dengan Agen cedera dilakukan frekuensi dan adalah indikasi dari

biologis (urolithiasis tindakan penyebaran nyeri obstruksi, bila nyeri


keperawatan 2. Kaji tanda keringat hilang
: obstruksi aliran
3x24 jam nyeri dingin, tidak dapat kemungkinan batu
urin, peningkatan
dapat teratasi beristirahat, dan sedang bergerak
frekuensi / dorongan
Kriteria Hasil: ekspresi wajah 2. Mengobservasi
kontraksi uretera)
Nyeri berkurang, 3. Tingkatkan tanda-tanda shock
Skala nyeri pemasukan sampai 3. Menurunkan iritasi
menurun, klien 2500 ml/hari sesuai dengan
dapat beristirahat toleransi mempertahankan
dan tampak rileks 4. Berikan tindakan aliran cairan
kenyamanan ( konstan ke mukosa
sentuhan terapeutik, kandung kemih.
pengubahan posisi, 4. Menurunkan
pijatan punggung ) tegangan otot,
dan aktivitas memfokuskan
terapeutik. Dorong kembali perhatian,
20

penggunaan teknik dan dapat


relaksasi, termasuk meningkatkan
latihan napas dalam, kemampuan koping
visualisasi, pedoman 5. Analgetik memblok
imajinasi. lintasan nyeri
5. Kolaborasi pemberian sehingga
analgetik sesuai mengurangi nyeri
indikas

2 Gangguan eliminasi Tujuan : Setelah 1. Awasi pemasukan 1. Hasil pengawasan


urin berhubungan dilakukan dan pengeluaran memberikan

dengan stimulasi tindakan cairan dan informasi tentang


keperawatan karakteristik urine fungsi ginjal dan
kandung kemih oleh
3x24 jam 2. Tingkatkan adanya komplikasi
batu, Obstruksi
gangguan pemasukan sampai 2. Hidrasi yang cukup
anatomik akibat
eliminasi urine 2500 ml/hari sesuai meningkatkan
adanya batu pada
teratasi toleransi pengenceran kemih
jalan aliran urin Kriteria Hasil: 3. Observasi perubahan dan membantu
Nyeri saat status mental mendorong
berkemih 4. Periksa urine lewatnya batu.
berkurang, 5. Awasi pemeriksaan 3. Akumulasi uremik
berkemih tidak laboratorium untuk dan
menetes, pola elektrolit, BUN, dan ketidakseimbangan
berkemih kreatinin elektrolit dapat
kembali normal 6. Kolaborasi pemberian mempengaruhi
acstazolamid/alupurin sistem saraf pusat
ol, dan antibiotik 4. Membantu
mengidentifikasi
tipe batu dan
pilihan terapi
5. Indikasi disfungsi
ginjal/komplikasi
6. Alupurinol untuk
meningkatkan pH
urine, antibiotik
untuk mengatasi
infeksi.
21

3 Defesiensi Tujuan: Setelah 1. Kaji tingkat 1. Tingkat


pengetahuan dilakukan pengetahuan klien pengetahuan klien

berhubungan dengan tindakan mengenai kondisinya menentukan sejauh


keperawatan 2. Menjelaskan jenis mana informasi
kurang informasi
2x24 jam tindakan yang akan yang perlu
pengetahuan dihadapi klien diberikan.
klien meningkat 3. Memotivasi untuk 2. Informasi yang
Kriteria Hasil: minum air putih 2,5 L tepat memberikan
Memahami perhari untuk pengetahuan bagi
penjelasan pencegahan klien
perawat, mampu 4. Memotivasi untuk 3. Hidrasi yang cukup
menjawab melakukan diit meningkatkan
pertanyaan rendah kalsium dan pengenceran kemih
validasi, protein hewani untuk dan membantu
berdiskusi aktif pencegahan mendorong
lewatnya batu,
mencegah
kekambuhan
berulang
4. Perubahan pola diit
menurunkan oksalat
dan protein
sehingga aka
menurunkan resiko
pembentukan batu
saluran kemih
22

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Batu saluran kemih merupakan keadaan patologis karena adanya masa keras seperti
batu yang terbentuk disepanjang saluran kencing dan dapat menyebabkan nyeri, perdarahan,
atau infeksi pada saluran kencing. Masalah keperawatan yang sering dialami pada batu
saluran kemih ialah nyeri akut, gangguan pola eliminasi urin, resiko tinggi kekurangan
volume cairan dan defisiensi pengetahuan.

3.2 Saran
Sebagai perawat harus selalu sigap dalam penanganan penyakit batu saluran kemih.
Selain itu perawat juga memberi health education kepada klien dan keluarga agar mereka
faham dengan batu saluran kemih dan bagaimana pengobatannya.
23

DAFTAR PUSTAKA
Kusuma, Hardi dan Amin Huda Nurarif,2015. NANDA NIC-NOC Jilid I, Jogjakarta :
MediAction Publishing.
Susan C. Smelther. 2016. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 12. Jakarta
: EGC
Wijaya, andra Saferi dan Yessie Mariza Putri. 2013. KMB 2 Keperawatan Medikal Bedah
(Keperawatan Dewasa). Yogyakarta : Nuha Medika.