Anda di halaman 1dari 11

Kayu Agung, Ogan Komering Ilir

Kayuagung adalah sebuah kecamatan dan merupakan ibukota dari Kabupaten Ogan Komering
Ilir, Sumatera Selatan, Indonesia. Kota ini terletak pada jalur strategis, karena Kayuagung merupakan
salah satu kota transit yang terletak di Jalan Lintas Timur Sumatera, menghubungkan Bandar Lam-
pung ke Palembang hingga Medan. Kota ini memiliki luas 144,53 km² dan berpenduduk 64.584 ribu
jiwa (2011). Dengan Kepadatan penduduk 446 jiwa/km². Kayuagung berjarak 65 KM dari ibukota
Provinsi Sumatera Selatan, Palembang.

Kota Kayu Agung adalah sebuah kecamatan dan merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ilir,
Sumatera Selatan, Indonesia. Kayuagung sebuah kota yang terletak di lintas timur sumatera, Salah
satu dari Kabupaten dari Provinsi Sumatera Selatan (Palembang), Kayuagung yang berjarak 65 KM
dari pusat kota Palembang, Kayuagung merupakan Daerah Tingkat II di provinsi sumatera selatan.
Kayuagung merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Kayuagung Terdiri dari 10 kelurahan (Morge Siwe): Jua-jua, Sidakersa, Cintaraja Mangunjaya, Paku,
Sukadana, Kedaton, Kotaraya, Perigi. Kayuagung Asli.

ASAL USUL NAMA

Nama Kayuagung secara umum berasal dari sebuah sejarah, dimana pada zaman dahulunya,
daerah kota kayuagung terdapat pohon-pohon yang berukuran besar, bahkan ada yang sampai ber-
diameter 4 meter , kemudian disimpulkanlah oleh para petua Pohon itu berarti Kayu sedangkan Besar
Itu Agung. mungkin andapun secara tidak sengaja pernah melihat pohon berukuran besar di kota
anda, kemungkinannya itu merupakan pohon kayuagung, tetapi bukan berarti setiap pohon yang besar
itu merupakan pohon kayuagung, ciri khas pohon Kayuagung itu berukuran besar memiliki urat
pohon yang timbul dan memiliki akar yang besar dan menjular, selain itu juga terdapat akar yang
menjular dari atas kebawah, jadi dari sebuah pohonlah nama dari kota kayuagung itu.

BAHASA

Di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terdapat beberapa daerah, di antaranya ada-
lah bahasa Kayuagung, Komering, Pedamaran, Melayu Palembang, Jawa, dan beberapa bahasa atau
dialek lainya. Bahasa Indonesia juga dipergunakan secara luas, selain bahasa seperti bahasa Inggris
dan Arab Yang penggunananya sangat terbatas. Kabupaten Ogan Komering Ilir ( OKI) beribukota di
Kayuagung. Berdasarkan sejarahnya, wilayah ini didukung oleh apa yang oleh masyarakat setempat
disebut dengan morge siwe ( atau Sembilan Marga). Marga di seantero Sumatera Selatan dikenal
dengan suatu kawasan yang dahulunya setara di atas desa/ kelurahan. Saat ini wilayah morge siwe
berada di bawah pemerintah administrasi Kecamatan Kota Kayu Agung. Sembilan marga tersebut
adalah Kelurahan Kayuagung (asli), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Paku, Mangun jaya, Sid-
akersa, dan jua-jua.

Kayuagung ibukota dari Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan Pemerintah Daerah Tingkat II di
Sumatera Selatan yang luasnya sekitar 19.023,47 kilometer persegi yang secara geografis terletak
antara 104 2'-106 o' derajat Bujur Timur dan 4o 30'-4o 15 derajat Lintang Selatan. jumlah penduduk
dalam sensus 2010 mencapai kurang-lebih 62.000 ribu jiwa lebih, mayoritas penduduknya beragama
Islam.

MAKANAN KHAS KAYUAGUNG

Di daerah pinggiran sungai juga banyak ibu ibu yang berprofesi sebagai pembuat kemplang,
kerupuk, empek empek asli buatan kayuagung yang rasanya paling khas dan hanya ada di kota
Kayuagung.

AGAMA

keagamaan suku ogan kumering

Suku Ogan, mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, sedangkan sebagian kecil dari
mereka memeluk agama Kristen Katolik. Masyarakat suku Ogan yang muslim adalah pemeluk Islam
yang taat. Sehingga hampir seluruh budaya dan adat-istiadat mereka dipengaruhi oleh budaya Islam
dan Melayu. Salah satunya seperti alat musik yang ada di sana. tetapi mereka juga mempertahankan
kepercayaan lama, yaitu kepercayaan mengenai dunia roh. Suku Kayu Agung percaya bahwa roh-
roh nenek moyang dapat mengganggu manusia. Oleh karena itu, sebelum mayat dikubur harus
dimandikan dengan bunga-bunga supaya arwah roh yang mati lupa jalan ke rumahnya. Mereka juga
percaya akan dukun yang membantu dalam upacara pertanian, baik saat menanam maupun saat
panen. Selain itu ada tempat-tempat keramat yang mereka anggap sebagai tempat bersemayamnya
para arwah.

SISTEM KEKERABATAN

Garis keturunan suku ini ditarik secara bilateral (dari ayah atau ibu). Susunan kemasyarakatan
sangat dipengaruhi adat Simbur Cahaya, yaitu sistem kemasyarakatan berdasarkan undang-undang
Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang. Dalam adat Simbur Cahaya ini, masyarakat dibagi
atas tiga golongan bangsawan, rakyat biasa, dan rakyat jelat. Tiap warga masyarakat wajib bekerja
bakti (gate atau mata gawe) untuk kepentingan dusun, marga, dan istana. Setiap penduduk yang
dapat bekerja, sudah kawin, dan memiliki rumah sendiri harus memenuhi kewajiban-kewajibannya
terhadap raja, yang berupa wahib pajak dan wajib dinas.

Keputusan-keputusan terhadap perkara-perkara adat diambil dengan mengadakan rapat adat


menurut tingkatannya, yaitu rapat dusun, rapat kampung, rapat marga, rapat kecil, dan rapat besar.
Rapat dusun dan rapat kampung dipimpin oleh pasirah atau depati. Rapat kecil diadakan oleh
beberapa marga yang terlibat dalam satu masalah. Rapat besar ditangani oleh tumenggung atau
rangga. Adat istiadat suku ini meliputi banyak upacara tradisional, mulai dari adat kelahiran,
meminang, perkawinan, khitanan, sampai dengan adat kematian. Bentuk kesenian khas daerah
terdiri dari: tarian adat, permainan gurdah, rebana, kasidah, dll.

MATA PENCAHARAIAN

Mata pencaharian suku ini bertani, berdagang, dan membuat gerabah dari tanah liat. Bentuk
pertanian kebanyakan bersawah tahunan karena daerahnya terdiri dari rawa-rawa. Jadi sawah
hanya dikerjakan saat musim hujan. Tehnik pengolahan tanah adalah sebagai berikut : pertama-
tama rumput dibersihkan/dibabat dan setelah air sawah tinggal sedikit baru padi ditanam.
Pekerjaan membersihkan rumput umumnya dilakukan laki-laki, namun saat panen dikerjakan
secara gotong royong.

Mata pencaharian suku ini bertani, berdagang, dan membuat gerabah dari tanah liat. Bentuk
pertanian kebanyakan bersawah tahunan karena daerahnya terdiri dari rawa-rawa. Jadi sawah
hanya dikerjakan saat musim hujan.
BUDAYA

Midang

(Warisan Budaya Tak Ternilai) Kayuagung memiliki khasanah budaya yang kuat dan kental.
Suku Kayuagung yang mendiami wilayah Kota Kayuagung dan sekitarnya selalu menjunjung tinggi
adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari berbagai segi kehidupan seperti kelahiran bayi, pernikahan,
sampai kematian diatur dan dituntun oleh adat istiadat budaya setempat.

Midang (tradisi arak-arakan yang diiringi musik tradisional seperti tanjidor) merupakan agenda na-
sional dalam kunjungan wisata lokal maupun mancanegara yang dimiliki Kabupaten OKI khususnya.
Tradisi yang telah ada pada abad 17 yang lalu ini berawal dari adanya persyaratan keluarga per-
empuan dalam menikahkan putra-putri mereka. Sang putri merupakan keluarga dari keturunan orang
terpandang pada waktu itu.

Sementara calon pengantin laki-laki berasal dari keluarga miskin yang berkepribadian luhur. Per-
syaratan itu diantaranya pihak calon laki-laki harus menyediakan semacam kereta hias yang dibentuk
menyerupai naga yang disebut dengan juli (karena nama pengantin perempuan bernama Juliah).
Kereta ini dipergunakan untuk untuk membawa kedua orang tua calon pengantin laki-laki yang ber-
tandang ke rumah pengantin perempuan setelah ijab Kabul; pengantin laki-laki dan perempuan diapit
oleh kedua orang tuanya diarak keliling kampung. Berkat keluhuran budi keluarga mempelai laki-
laki, semua permintaan keluarga mempelai perempuan ini dapat dipenuhi. Inilah asal muasal budaya
Midang yang masih dilestarikan sampai saat ini.

Midang dalam perkembangannya sesuai dengan fungsi dan hakekatnya dapat dibagi menjadi
2 macam, yaitu: (1) Midang Begorok yakni arak-arakan yang menjadi bagian prosesi pernikahan yang
bersifat besar-besaran, termasuk juga sunatan, atau pun persedekahan lainnya; (2) Midang Bebuke
(Midang Lebaran Idul Fitri) yang disebut demikian karena dilakukan untuk memeriahkan hari Raya
Idul Fitri tepatnya pada hari ketiga dan keempat Hari Raya idul Fitri. Midang Bebuke ini disebut juga
Midang Morge Siwe (Sembilan Marga) karena diikuti oleh seluruh marga yang ada di wilayah ka-
residenan. Pemerintah Daerah Kabupaten OKI menyikapi tradisi midang sebagai warisan tradisi bu-
daya leluhur yang sangat mahal nilai karakteristiknya. Tradisi ini merupakan aset budaya yang sangat
diperhatikan disamping tradisi lainnya di Kabupaten OKI. Kondisi midang sampai saat ini masih
sangat lestari bahkan berkembang menjadi wisata budaya Primadona di OKI. Midang telah menjadi
nilai tradisi budaya unik di negeri pertiwi. Saat ini midang sudah dijadikan suatu kelengkapan kar-
nafal Budaya di OKI yang dilaksanakan setiap tahunnya

Mulah
Malam mulah adalah malam menjelang akan dilaksanakan prosesi akad nikah pada esok
harinya. Secara adat di era 80- an bahwa Malam Mulah itu adalah malam bagi pihak Keluarga dan
Tetangga untuk bermasak-masak guna persiapan Hari persedekahan. Sedangkan pihak mudamudinya
mengadakan malam tetabuhan semacam Malam Gembira. Pada saat itu pasangan Calon penganten
berada di antara muda-mudi yang hadir, Baik muda-mudi yang datang dari kampung /dusunnya
sendiri maupun dari luar dusun. Secara adat tempo dulu, pasangan Calon Penganten berkali-Kali
naik-turun/keluarmasuk Rumah untuk berganti-ganti pakaian sebanyak 12 Kali. Pakaian yang
digunakan Calon Mempelai Perempuan disebut “Pesakin”, yang dipakai Calon Penganten Laki-laki
adalah satu stel dengan kain Calon Penganten Perempuannya. Perempuan memakai kebaya panjang,
sedangkan laki-laki memakai stelan jas, peci dan memakai handuk. Namun karena adanya pergeseran
nilai, Calon Mempelai Laki-laki terkadang hanya melakukan ganti pakaian sebanyak 5 atau 3 Kali
Saja.

Kunganyan

Adalah bagian dari prosesi Pernikahan dalam Masyarakat suku Kayuagung. Kungayan adalah
sekelompok bapakbapak dari pihak Calon Mempelai Perempuan yang kesemuanya adalah Keluarga
dan Tetangga Calon penganten Perempuan, yang diundang oleh pihak Keluarga Calon mempelai laki-
laki untuk menyaksikan jalannya ijab qobul. Rombongan mereka disebut rombongan Suami “un-
gaian” kegiatannya disebut Kungayan.

Tarian Daerah

Tari Penguton Dari sejarahnya, tarian ini lahir pada tahun 1889 dan pada tahun 1920, oleh
keluarga Pangeran Bakri, tarian ini disempurnakan untuk penyambutan kedatangan Gubernur Jendral
Belanda. Sejak itu tarian ini dijadikan sebagai tari sekapur sirih Kayuagung. Tarian ini ditarikan oleh
Sembilan orang gadiscantik yang dipilih dari Sembilan Marga yang ada di Kayuagung menggunakan
iringan musik perkusi seperti Gamelan, gong, gendang yang sebagian instrumen tersebut merupakan
hadiah dari Kerajaan Majapahit pada abad ke 15 dibawa oleh utusan Patih Gajah Mada. Konon alat-
alat ini masih ada dan digunakan pada saat menyambut kedangan Presiden Soekarno saat pertama
kali berkunjung ke Bumi Bende Seguguk pada tahun 1959. Pada tahun 1992 tari ini dibakukan se-
bagai tari sekapur sirih Kabupaten OKI.

Tari Gopung Tari Gopung Tari Gopung merupakan tari-tarian yang digunakan untuk penobatan ra-
jaraja. Tarian ini lahir pada tahun 1778 di suku Bengkulah Komering. Fungsi tarian ini sampai
sekarang masih eksis digunakan sebagai tari penobatan pangkat dan penyambutan tamu pemerintah
di Kecamatan Tanjung Lubuk.

Pakaian Adat
Nama-Nama Kain Adat Dan Baju Adat Di Kayuagung

 Angkinan: Baju pengantin/baju kebesaran adat Kayuagung

 Kebaya Kurung Panjang: ciri yang memakai sudah bersuami

 Kebaya Kurung Pendek/bunting: cirri yang memakai masih perawan

 Kebaya Tapuk: Ciri yang memakai sudah bersuami

 Kebay,\a Tojang: untuk undangan kehormatan/misal si ibu pengantin lakilaki diundang


menghadiri hidangan atau kedulangan atau untuk menghadiri pernikahan

 Balah Buluh: Pakaian laki-laki yang dilengkapi dengan Kepudang atau kopiah (kain berada di
luar baju)

 Teluk Belango: sejenis baju untuk kaum laki-laki untuk kepentingan adat dengan memakai peci
dan kain dibalik baju

 Sarung Pelikat:bentuk kain untuk lakilaki yang terbuat dari jerat jerami yang bermotif kotak-
kotak besar ataupun kecil

 Sarung bugis: untuk laki-laki

 Kain Putungan (kain panjang) untuk pasangan kebaya pendek maupun kurung maupun kebaya
biasa

 Sarung Sungkitan (songket): pasangan Angkinan juga bisa untuk kebaya biasa

Untuk kaum wanita, nama-nama pakaian adatnya adalah: Beribit, Pelangi dan Jupri. Sedangkan motif
yang utama adalah: Motif bunga biduk, Motif bunga oteh, Motif bunga Payi, Motif bunga Inton,
Motif bunga Kipas, Motif Kemplang, Motif Jelujur, dan Motif bunga Kecubung.

ADAT PERNIKAHAN KOTA KAYUAGUNG

Salah satu tradisi adat yang banyak perbedaannya adalah tradisi perkawinan. Bahkan
terjadinya akulturasi dan perubahan-perubahan antar kebudayaan, yang mengakibatkan dalam satu
daerah terdapat pola adat perkawinan yang memiliki tingkatan atau macam-macam bentuk upacara
pernikahan. Secara teoritis perubahan kebudayaan berkaitan erat dengan perubahan pola
kebutuhan masyarakat pendukung kebudayaan itu, yaitu kebutuhan biologis, sosiologis, dan
psikologis, secara sederhana dapat dikaitkan bahwa kebudayaan selalu berubah mengikuti
perubahan yang terjadi pada kebutuhan hidup masyarakat. Baik itu sendiri disebabkan oleh
penetrasi kebudayaan luar kedalam kebudayaan sendiri atau karena terjadi orientasi baru dari
kalangan intern masyarakat pendukung kebudayaan itu sendiri. Contohnya terdapat pada
masyarakat Kayuagung sendiri.

Di mana dahulunya upacara adat pernikahan yang dilakukan dengan cara pernikahan
mabang handak, akan tetapi pada masa sekarang upacara pernikahan seperti itu sudah jarang
dipakai masyarakat, karena sudah banyak memakai upacara adat pernikahan kawin begorok dan
kawin sepagi. Hal ini dikarenakan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan keadaan
lingkungan. Upacara pernikahan seperti ini terbilang unik. Dikatakan unik karena sistem adat
perkawinannya mempunyai beberapa macam atau bentuk upacara perkawinan, akan tetapi
walaupun demikian, peradabannya tetap bernuansa Islam. Macam-macam atau bentuk adat
perkawinan di Kayuagung adalah: Kawin sepagi adalah prosesi adat perkawinan yang dilaksanakan
secara simple atau dengan cara sederhana. Maksudnya adalah dengan terlaksananya acara ijab
qobul saja itu sudah cukup, dan dirayakan secara sederhana tidak melibatkan rangkaian atau prosesi
lainnya.

Kawin Begorok adalah prosesi adat perkawinan yang dilaksanakan dengan rangkaian acara
biasa, yang melibatkan kaum kerabat, tetangga dan handai taulan. Begorok Mabang Handak adalah
prosesi adat perkawinan yang dilaksanakan secara besar-besaran, Maksudnya adalah upacara
pelaksanaan itu dilakukan secara besar-besaran mempergunakan prosesi adat yang sangat lengkap
dan beralur. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis
penelitian yang digunakan adalah penelititan lapangan (field reseach). Tujuan penelitian ini adalah
guna mengetahui bagaimana tata cara pelaksanaan tradisi ini, dan nilai-nilai apa saja yang terdapat
dalam tradisi tersebut. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode
observasi, dan wawancara.
➢ Upacara Ngarak Pacar
Upacara Ngarak Pacar adalah salah satu upacara ngarak dikayuagung ogan komering ilir
dilaksanakan setelah sholat isya dimana pemakai baju pesalin bagi laki-laki pembawa atau penarik
kereta juli ketempat orang tua mempelai wanita untuk menjemput pihak besan untuk melakukan
upacara ngarak pacar, serta tidak ketinggalan musik yang ikut menyemarakan suasana upacara
ngarak pacar, iringan musik dan sorak-sorai sepanjang jalan yang dilalui pasangan tersebut, banyak
warga yang sengaja keluar rumah untuk melihat arak-arakan ngarak pacar ini

➢ Kawin lari (setakatan) adat kayuagung

Kawin lari (setakatan) identik dengan suatu hal negatif yang ada pada masyarakat... pada artikel ini
ane mau meluruskan padangan yang salah tentang apa itu kawin lari khususnya manurut pandangan
masyarakat suku Lampung Pubian...

Larian (kawin lari) merupakan perkawinan yang dilakukan oleh seorang Muanai (bujang) dan
seorang muali (gadis) dimana sang muanai membawa terlebih dahulu si mauli sebelum adanya akad
nikah... tentunya hal ini telah dibicarakan dan direncanakan terlebih dahulu, bukan secara
spontan/dadakan... keluarga dari pihak muli tentunya juga telah mengetahui atau telah setuju,
memang biasnya tidak seluruh anggota keluarga dan kelompok adat tau tentang rencana tersebut,,
bila seandainya keluarga besar dan kelompok adat sudah tau,,, buat apa Larian...

Sebelumnya, pemikiran ane pun sama negatifnya dengan pemikiran sobat2 lain... tetapi setelah ane
mendengar penjelasan langsung,, ane dapat mengerti mana yang bisa disebutkan sebagai adat dan
mana yang merupakan perbuatan yang melanggar hukum???

1. Muli yang dilarikan oleh mekhanai, wajib menaruh surat yang ditulis dan ditanda tangani oleh
muli itu sendiri. Isi surat harus jelas, menerangkan bahwa mekhanai yang membawanya benama ...
bin ... dan berasal dari kampung/daerah mana, serta meninggalkan sejumlah uang???

2. Seandainya mekhanai yang membawanya adalah berasal dari kelompok Lampung Pepadun, maka
keluarga yang bertanggung jawab pada pihak muli wajib mengadakan dan mengundang keluarga
besar, kelompok adat, sesepuh adat, dan orang2 terdekat untuk bermusyawarah (ngukhaw
muakhian),, dan di dalam musyawarah,, keluarga si muli meminta maaf atas kesalahan karena
keluarga/muli tidak ada pemberitahuan sebelumnya... Tetapi apabila mekhanai tidak berasal dari
kelompok Lampung Pepadun maka ngukhaw muakhian tidak wajib dilaksanakan,, apabila
dilaksanakan maka itu merupakan kebijaksanaan yang terpuji.
3. Seandainya mekhanai yang membawanya adalah berasal dari kelompok Lampung Pepadun, maka
keluarga yang bertanggung jawab pada pihak mekhanai wajib mengadakan dan mengundang
keluarga besar, kelompok adat, sesepuh adat, dan orang2 terdekat untuk bermusyawarah
(ngukhaw muakhian),, dan di dalam musyawarah,, keluarga si mekhanai juga meminta maaf atas
kesalahan karena keluarga/mekhanai tidak ada pemberitahuan sebelumnya... Tetapi apabila
mekhanai tidak berasal dari kelompok Lampung Pepadun maka ngukhaw muakhian tidak wajib
dilaksanakan,, apabila dilaksanakan maka itu merupakan kebijaksanaan yang terpuji. Selain itu
keluarga mekhanai pun wajib menyelesaikan masalah atau melaksanakan acara ngantak salah
(meminta maaf kepada keluarga pihak muli)

4. Bila ketentuan-ketentuan pada point-poit diatas tidak deberlakukan atau tidak dilaksanakan,,
maka akan ada tindakan-tindakan lain yang menanti?? Berupa hukuman denda.

➢ Mulah

Malam mulah adalah malam menjelang akan dilaksanakan prosesi akad nikah pada esok harinya.
Secara adat di era 80- an bahwa Malam Mulah itu adalah malam bagi pihak Keluarga dan Tetangga
untuk bermasak-masak guna persiapan Hari persedekahan. Sedangkan pihak mudamudinya
mengadakan malam tetabuhan semacam Malam Gembira. Pada saat itu pasangan Calon penganten
berada di antara muda-mudi yang hadir, Baik muda-mudi yang datang dari kampung /dusunnya
sendiri maupun dari luar dusun. Secara adat tempo dulu, pasangan Calon Penganten berkali-Kali
naik-turun/keluarmasuk Rumah untuk berganti-ganti pakaian sebanyak 12 Kali. Pakaian yang
digunakan Calon Mempelai Perempuan disebut “Pesakin”, yang dipakai Calon Penganten Laki-laki
adalah satu stel dengan kain Calon Penganten Perempuannya. Perempuan memakai kebaya
panjang, sedangkan laki-laki memakai stelan
Rumah adat OGAN KOMERING ILIR

tangga di letakkan di depan dan juga di samping bangunan


dengan tangga utama yakni di bagian depan yang lebih besar un-
tuk jalan masuk ke rumah.

tangga yang ada di ketiga sisi rumah, untuk memudahkan


pemilik/ penghuni rumah untuk keluar dari rumah tersebut

sementara itu atap rumah adat ogan komering ilir ini


berupa atap limas, yang mana mengadopsi dari atas rumah adat
limas
tampak depan

tampak samping kiri

tampak samping kanan