Anda di halaman 1dari 5

1.

Pengertian infak

Infaq berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu untuk kepentingan sesuatu[11].
Sedangkan menurut terminologi syariat, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau
pendapatan / penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam.

Ada pula pendapat yang mengatakan, secara bahasa Infaq bermakna : keterputusan dan kelenyapan,
dari sisi leksikal infaq bermakna : mengorbankan harta dan semacamnya dalam hal kebaikan. Dengan
demikian, kalau kedua makna ini di gabungkan maka dapat dipahami bahwa harta yang dikorbankan
atau didermakan pada kebaikan itulah yang mengalami keterputusan atau lenyap dari kepemilikan orang
yang mengorbankannya.

Berdasarkan pengertian di atas, maka setiap pengorbanan (pembelanjaan) harta dan semacamnya pada
kebaikan disebut al-infaq. Dalam infaq tidak di tetapkan bentuk dan waktunya, demikian pula dengan
besar atau kecil jumlahnya. Tetapi infaq biasanya identik dengan harta atau sesuatu yang memiliki nilai
barang yang di korbankan. Infaq adalah jenis kebaikan yang bersifat umum

2. Dalil tentang infak

. Firman Allah.

‫مومماَ أممنفممقتتمم مممن مشميءء فمهتمو يتمخلمفتهت ۖ موهتمو مخميتر اَّلرراَّمزمقيمن‬

“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik”
[Saba’/34 : 39]

sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

‫ مويمقتموتل اَّ م‬،َ‫ ماَّللرهتمم أممعمط تممنفمققاَ مخلممفا‬: َ‫صبمتح اَّملمعمباَتد فمميمه إملر مملممكاَمن يممنمزلممن فميمقتموتل أممحتدهتمما‬
َ‫ اَّللرهترم أممعمط تممممسقكاَ تملممفا‬: ‫لمختر‬ ‫مماَ مممن يممومم يت م‬

“Tidaklah para hamba berada di pagi hari, melainkan pada pagi itu terdapat dua malaikat yang turun.
Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak’, sedang yang lain berkata,
‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan (harta) kepada orang yang menahan (hartanya)….” [Al-Hadits].

Dalil Lain Adalah Firman Allah.

‫ضقل ۗ مو ر‬
‫ات مواَّمسعِع معمليعِم‬ ‫طاَتن يممعتدتكتم اَّملفممقمر مويمأمتمترتكمم مباَملفممحمشاَمء ۖ مو ر‬
‫ات يممعتدتكمم مممغفممرةق مممنهت موفم م‬ ‫اَّلرشمي م‬

“Setan menjanjikan (menakut-nahkuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan
(kikir) ; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Mahaluas
(karuniaNya) lagi Maha Mengetahui” [Al-Baqarah/2: 268]

Dalam Alquran, Allah SWT menyatakan bahwa Infaq ini harus dikeluarkan
1. Infaq terhadap hasil usaha, yaitu : “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian daripada
(hasil) usaha yang kamu miliki yang baik dan …” (Surah Al Baqarah 2: 267).

2. Infaq dari yang dikeluarkan bumi, yaitu : “Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah…. Sebagian
daripada apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu” (Surah Al Baqarah 2: 257), “Makanlah dari
buahnya bila berbuah dan bayarlah haknya pada hari memetiknya” (Surah Al An’Aam 6: 141).

3. Infaq terhadap harta (bagi mereka yang menumpukkan harta belum sampai haul atau hisab), yaitu :
“…hendaklah memberi nafkah dari harta Allah SWT yang diberikan kepadanya” (Surah Al Baqarah 2:
262), “Berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah SWT yang dikaruniakanNya kepadamu”
(Surah An Nuur 24: 33), dan “Dan jangalah kamu berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah SWT tidak
menyukai orang yang berlebih-lebihan” (Surah Al An’Aam 6: 141).

4. Infaq dari infaq, yaitu : “Dan apa saja yang kamu nafkahkan dari suatu nafkah… Maka sesungguhnya
Allah SWT mengetahuinya” (Surah Al Baqarah 2: 270).

5. Infaq dari Rezeki, yaitu : “Menafkahkan sebagaian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”
(Surah Al Baqarah 2: 3; Surah Al Anfaal 8: 3; Surah Ar Radu 13: 22; Surah Ibrahim 14: 31; dan Surah As
Sajdah 32: 16).

6. Infaq dari harta yang dicintai, yaitu : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kemakbruran yang
sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu
nafkahkan maka sesungguhnya Allah SWT mengetahuinya” (Surah Ali Imraan 3: 92).

7. Infaq dari harta apa saja, yaitu : “Apa saja harta kamu menafkahkan… Maka sesungguhnya Allah SWT
mengetahuinya” (Surah Al Baqarah 2: 270; Surah Ali Imraan 3: 92; Surah Al Anfaal 8: 60; dan Surah As
Saba 34: 3).

8. Infaq dari yang baik, yaitu : “…Dan infakkanlah infa yang baik untuk dirimu” (Surah At Taghaabun 64:
16).

3. Ketentuan dan kapan berinfak


1. Ketentuan Infak

Ketentuan-ketentuan umum dalam berinfak sebagai berikut:

· Orang yang berinfak adalah orang yang berakal dan mumayiz (baligh).

· Barang yang diinfakan berupa barang yang bermanfaat dan dari hasil usaha yang baik.

· Berinfak disertai dengan hati yang ikhlas dan tidak me yakiti hati yang menerimanya.

· infak dapat diserahkan kepada perorangan ataupun lembaga seperti panti asuhan, takmir
masjid, panitia pembangunan madrasah atau ke BAZIS (Badan Amil, Zakat, Infak, Sedekah).

· Berinfak tidak ditentukan waktu dan jumlahnya.

Dalam berinfaq, perlu diperhatikan hal-hal berikut:

1. Tidak boleh berlebihan dalam mengeluarkan infaq.

2. Memperhatikan agar hak-hak yang lebih penting tidak terabaikan.

3. Menunaikan hal yang terlebih dahulu, seperti menafkahi hidup keluarga.

2. Kapan waktu untuk berinfak

Bagi seorang muslim tidak ditentukan kapan waktunya untuk berinfak. Karna infak bisa dilakukan pada
waktu kapan saja. Bagi orang yg ingin berinfak tidak diharuskan memiliki harta yg lebih. Karna infak itu
dapak fiberikan dengan jumlah yg sedikit (semampu kita) dengan hati yang ikhlas.

Sebagaiman Imam al-Qurthubi rahimahullah mendefinisikannya sebagai sesuatu yang ringan, berlebih
(sisa), dan seseorang tidak merasa berat untuk mengeluarkan (melepaskannya). Lebih lanjut, beliau
menjelaskan tentang ayat di atas: “Pengertiannya, berinfaklah dengan (nominal) yang sudah melebihi
kebutuhan, dan tidak mengganggu diri kalian. Agar kalian tidak menjadi orang-orang yang bergantung
kepada orang lain nantinya”.[5]

BERSEDEKAH PADA HEWAN

Tidak ada orang yang lebih sayang terhadao hewan, melebihi kasih sayang Rosulullah SAW. Dalam
sebuah hadis, Rosulullah SAW bersabda” Tidaklah seseorang muslim itu menanam sesuatu tanaman,
tidak pula ia menanam sesuatu tumbuh-tumbuhan, kemudian dari hasil tanamannya itu dimakan oleh
burung, ataupun manusia, atau binatang ataupun, melainkan itu adalah sebagai sedekah baginya (HR
Bukhori).
Rosulullah SAW mengingatkan, bahwa tanaman orang-orang mukmin, berupa padi, sayur-sayuran, jika di
makan binatang, seperti burung, ayam, bahkan ulat termasuk akan menjadi sedekah bagi petani. Apa
yang di ambil atau dimakan, akana menjadi sedekah bagi petani tersebut, dengan catatan ihlas karena
Allah SWT. Sebaliknya, jika hewan itu diusir, atau diracun, maka petani tersebut dosa di hadapan Allah
SWT.

Selain itu binatang yang berhak me erima sedekah adalah kucing. Rasulullah saw. pernah berpesan
kepada para sahabat untuk menyayangi kucing, baik yang dipelihara maupun kucing liar dijalanan. Allah
SWT akan memberikan ganjaran berupa neraka kepada mereka yang menyakiti hewan. Dalam sebuah
hadits shahih Al-Bukhori, Abdullah bin Umar r.a meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda : “Seorang
wanita disiksa karena ia mengurung seekor kucing hingga mati dan wanita itu pun masuk neraka, wanita
tersebut tidak memberi kucing itu makan dan minum saat dia mengurungnya dan tidak membiarkannya
untuk memakan buruannya”. Nabi SAW pun menjelaskan hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.

Ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah berbuat baik kepada binatang bagi
kami ada pahalanya ? ”Rasulullah saw menjawab, “Di dalam setiap apa yang bernyawa ada pahalanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

BERSEDEKAH PADA NON MUSLIM

Muhyiddin Syarf An-Nawawi menyatakan bahwa jika sedekah itu diberikan kepada non-Muslim seperti
orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi maka boleh. Insya Allah ada pahalanya.

‫صمراَّنميي أممو ممتجومسيي مجاَمز مومكاَمن مفيمه اَّممجعِر مفي اَّملتجمملممة‬


‫ي أممو نم م‬
‫ق أممو معملىَ مكاَفمءر مممن يمتهومد ي‬
‫ق معملىَ مفاَمس ء‬ ‫فملممو تم م‬
‫صرد م‬

Artinya, “Jika seseorang memberikan sedekah kepada orang fasik atau kafir seperti orang Yahudi,
Nasrani, atau Majusi maka boleh, dan dalam hal ini ada pahalanya,” (Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-
Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, juz VI, halaman 237).

Lebih lanjut Muhyiddin Syarf An-Nawawi mengutip pernyataan Yahya Al-Imrani— penulis kitab Al-Bayan
—yang menyatakan bahwa menurut Ash-Shamiri, sedekah tersebut boleh juga diberikan kepada non-
Muslim harbi. Dalil yang diajukan adalah firman Allah dalam surat Al-Insan ayat 8: ‘Dan mereka
memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan’. Tawanan dalam
konteks ini adalah non-Muslim harbi.
‫ك اَّملمحمربممىَ مومدمليتل اَّملمممسأ ملممة قمموتل ام تممعاَملىَ مويت م‬
‫طمعتمومن اَّلطرمعاَمم معملىَ تحبممه مممسمكيقناَ مويممتيقماَ موأممسيقراَّ مومممعتلوعِم اَّمرن‬ ‫ى مومكمذلم م‬ ‫ب اَّملبممياَمن مقاَمل اَّل ر‬
ِ‫صمميمر ى‬ ‫مقاَمل م‬
‫صاَمح ت‬
َ‫اَّلممسيمر محمربمىى‬ ‫م‬

Artinya, “Penulis kitab Al-Bayan mengatakan bahwa menurut Ash-Shamiri boleh juga sedekah diberikan
kepada kafir harbi. Sedangkan dalil yang dijauhkan Ash-Shamiri untuk mendukung pendapatnya adalah
firman Allah SWT: ‘Dan mereka memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim, dan
tawanan,’ (Surat Al-Insan [76]: 8). Sebagaimana diketahui bahwa tawanan adalah orang kafir harbi,”
(Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, Juz VI, halaman 237).