Anda di halaman 1dari 13

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Data Kelompok
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil seperti pada Gambar 1.
Gambar 2. Gambar 3.
40 34
30

20

10 7.4 5.1
2.3
0
Bobot DO awal DO akhir Konsumsi
Ikan (mg/L) (mg/l) O2
(gram)

Gambar 1. Grafik Laju Konsumsi Oksigen Ikan Lele Kelompok 12

10 9
8
5.9
6 5
4
2 0.9
0
Bobot DO awal DO akhir Konsumsi
Ikan (mg/l) (mg/l) Oksigen
(gram) (mg/l)

Gambar 2. Grafik Laju Konsumsi Oksigen Ikan Bandeng Kelompok 12

10 9
8
5.9
6 5
4
2 0.9
0
Bobot DO awal DO akhir Konsumsi
Ikan (mg/l) (mg/l) Oksigen
(gram) (mg/l)

Gambar 3. Grafik Laju Konsumsi Oksigen Ikan Nilem Kelompok 12


Berdasarkan gambar 1 konsumsi oksigen ikan lele sebesar 2,3 mg/l dengan
bobot ikan 34 g. Konsumsi oksigen pada ikan lele cukup tinggi, hal ini
dikarenakan bobot ikan yang cukup besar sehingga konsumsi oksigen menjadi
kecil. Kemudian berdasarkan gambar 2 konsumsi oksigen ikan bandeng sebesar
0,9 mg/l dengan bobot ikan 9 g. Konsumsi oksigen pada ikan cukup rendah, hal
ini dikarenakan bobot ikan yang cukup kecil sehingga konsumsi oksigen menjadi
besar. Setelah itu, berdasarkan gambar 3 konsumsi oksigen ikan nilem sebesar 1
mg/l dengan bobot ikan 40 g. Konsumsi oksigen pada ikan kelompok 12 cukup
rendah, hal ini dikarenakan bobot ikan yang cukup kecil sehingga konsumsi
oksigen menjadi besar.
Menurut Hemmingsen (1960) dalam Vernberg dan Vernberg 1972
organisme berukuran kecil mengkonsumsi oksigen lebih banyak per satuan waktu
dan berat daripada yang berukuran besar. Penurunan tingkat konsumsi oksigen
berdasarkan peningkatan bobot badan dapat dipahami karena pada saat ikan
berukuran kecil/muda kebutuhan oksigen untuk respirasi banyak digunakan untuk
berbagai kepentingan, selain untuk metabolisme juga untuk pertumbuhan sel,
molting dan lain-lain sedangkan untuk ikan dengan ukuran lebih besar tidak
sebanyak untuk ikan muda karena lebih untuk pertahanan diri atau maintenance.
Hal lain yang membuat yang memepengaruhi laju konsumsi oksigen ikan
lele adalah alat bantu pernapasan yaitu arboresenct. Arboresent organ merupakan
alat pernapasan tambahan yang dapat mengambil oksigen secara langsung dari
udara dan dapat digunakan dalam kondisi lingkungan perairan yang sedikit akan
kandungan oksigen terlarut. Bentuk alat pernapasan tambahan (arborecent) ikan
lele seperti rimbunan dedaunan. Arborecent berwarna kemerahan yang terletak di
bagian atas lengkung insang kedua dan keempat (Fujaya 2004). Tetapi dalam
melakukan praktikum, ikan lele tidak dapat mengambil oksigen dari udara
langsung karena wadah ditutupi oleh plastic sehingga laju konsumsi oksigen
cukup besar yaitu 2,3 mg/l.
Kemudian, faktor salinitas juga akan mempengaruhi laju respirasi pada
ikan, semakin tinggi salinitas suatu perairan, maka akan semakin tinggi pula laju
konsumsi oksigen yang dilakukan dalam proses respirasi (Lukmanul 2012). Hal
ini menyebabkan laju konsumsi oksigen ikan bandeng haruslah lebih tinggi
dibanding dengan ikan air tawar, tetapi dikarenakan ikan yang diteliti merupakan
benih, maka hasil dari penelitian tidak terlalu signifikan yaitu sebesar 0.9 mg/l.
Ikan nilem tidak mempunyai alat bantu pernapsan dan hidup di perairam
tawar, juga tidak torelan terhadap perubahan kondisi lingkungan yang drastis,
sehingga laju konsumsi akan cepat apabila salah satu faktor pembatas berbah
drastis. Suhu yang tinggi menurunkan kelarutan gas oksigen dalam air sedangkan
suhu yang rendah menaikkan kelarutan gas oksigen dalam air. Setiap jenis ikan
memiliki kisaran toleransi suhu air yang berbeda. Ikan nilem umumnya dapat
bertahan hidup secara normal pada suhu 25°C-30°C (Fujaya 2004). Ketika
melakukan praktikum, suhu ruang ketika itu termasuk dingin dikarenakan hujan,
maka dari itu laju konsumsi ikan nilem sebesar 1 mg/l.

4.2 Data Angkatan


Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil seperti pada Gambar 4.
Gambar 5. Gambar 6.
1.2
1
LAJU KONSUMI OKSIGEN

1 0.9
0.8 0.73
(mg/l)

0.6
0.4 0.3
0.2
0
A B C KELAUTAN
KELAS
Gambar 4. Grafik Laju Konsumsi Oksigen Ikan Lele Kelompok 12

1.4 1.2 1.2


1.1
1.2 0.97
Konsumsi Oksigen (mg/l)

1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
A B C Kelautan
Kelas

Gambar 5. Grafik Laju Konsumsi Oksigen Ikan Bandeng Kelompok 12


2.0 1.8
1.4

Konsumsi Oksigen (mg/l)


1.5
1.0 0.6
0.5
0.0
Perikanan Perikanan Perikanan
A ( 30 B (20 C (50
Menit) Menit) Menit)

Kelas
Gambar 6. Grafik Laju Konsumsi Oksigen Ikan Nilem Kelompok 12

Berdasarkan data Gambar 4. diketahui rata-rata laju konsumsi oksigen ikan


lele yang paling besar ada dikelas Kelautan yaitu sebesar 1 mg/l, kemudian kelas
A dengan rata-rata laju konsumsi oksigen sebesar 0,9 mg/l, lalu kelas C dengan
rata-rata laju konsumsi oksigen sebesar 0,73 mg/l dan terakhir yaitu kelas B rata-
rata laju konsumsi oksigen sebesar 0,3 mg/l. Kemudian, berdasarkan data
angkatan Gambar 5. diketahui rata-rata laju konsumsi oksigen ikan bandeng yang
paling besar ada dikelas A dan Kelautan yaitu sebesar 1,2 mg/l, kemudian kelas B
dengan rata-rata laju konsumsi oksigen sebesar 1,1 mg/l dan terakhir yaitu kelas C
rata-rata laju konsumsi oksigen sebesar 0,97. Lalu berdasarkan data Gambar 6.
diketahui rata-rata laju konsumsi oksigen ikan nilem yang paling besar ada dikelas
C yaitu sebesar 1,8 mg/l, kemudian kelas A dengan rata-rata laju konsumsi
oksigen sebesar 1,4 mg/l, lalu terakhir yaitu kelas B rata-rata laju konsumsi
oksigen sebesar 0,6 mg/l
Menurut praktikum yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa waktu
penyimpanan ikan dalam wadah saat meneliti laju konsumi sangat berpengaruh.
Waktu yang lama akan membuat laju konsumsi ikan menjadi lebih banyak. Data
ini menunjukan bahwa konsumsi oksigen pada ikan yang waktu lebih sedikit akan
lebih kecil dibanding dengan laju konsumsi ikan dengan waktu yang lama.
Terdapat perbedaan laju konsumsi pada data angkatan, itu dikarenakan
sumber air dari tiap lab berbeda sehingga kelarutan oksigen awalnya juga
otomatis berbeda, selain itu juga perbedaan suhu dapat juga mempengaruhi
jumlah DO dari airnya, semakin tinggi suhunya makin rendah konsentrasi oksigen
terlarutnya, dan jumlah oksigen terlarut sangat mempengaruhi tingkat konsumsi
oksigen dari ikan.
Menurut Hemmingsen (1960) dalam Vernberg dan Vernberg 1972
organisme berukuran kecil mengkonsumsi oksigen lebih banyak per satuan waktu
dan berat daripada yang berukuran besar. Penurunan tingkat konsumsi oksigen
berdasarkan peningkatan bobot badan dapat dipahami karena pada saat ikan
berukuran kecil/muda kebutuhan oksigen untuk respirasi banyak digunakan untuk
berbagai kepentingan, selain untuk metabolisme juga untuk pertumbuhan sel,
molting dan lain-lain sedangkan untuk ikan dengan ukuran lebih besar tidak
sebanyak untuk ikan muda karena lebih untuk pertahanan diri atau maintenance.
Hal lain yang membuat yang memepengaruhi laju konsumsi oksigen ikan
lele adalah alat bantu pernapasan yaitu arboresenct. Arboresent organ merupakan
alat pernapasan tambahan yang dapat mengambil oksigen secara langsung dari
udara dan dapat digunakan dalam kondisi lingkungan perairan yang sedikit akan
kandungan oksigen terlarut. Bentuk alat pernapasan tambahan (arborecent) ikan
lele seperti rimbunan dedaunan. Arborecent berwarna kemerahan yang terletak di
bagian atas lengkung insang kedua dan keempat (Fujaya 2004).
Kemudian, faktor salinitas juga akan mempengaruhi laju respirasi pada
ikan, semakin tinggi salinitas suatu perairan, maka akan semakin tinggi pula laju
konsumsi oksigen yang dilakukan dalam proses respirasi (Lukmanul 2012). Hal
ini menyebabkan laju konsumsi oksigen ikan bandeng haruslah lebih tinggi
dibanding dengan ikan air tawar, tetapi dikarenakan ikan yang diteliti merupakan
benih, maka hasil dari penelitian tidak terlalu signifikan.
Ikan nilem tidak mempunyai alat bantu pernapsan seperti ikan lele dan
hidup di perairam tawar, juga tidak torelan terhadap perubahan kondisi
lingkungan yang drastis, sehingga laju konsumsi akan cepat apabila salah satu
faktor pembatas berbah drastis. Suhu yang tinggi menurunkan kelarutan gas
oksigen dalam air sedangkan suhu yang rendah menaikkan kelarutan gas oksigen
dalam air. Setiap jenis ikan memiliki kisaran toleransi suhu air yang
berbeda. Ikan nilem umumnya dapat bertahan hidup secara normal pada suhu
25°C-30°C (Fujaya 2004).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan prakikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa
laju konsumsi oksigen pada ikan nilem lebih besar dibandingkan ikan bandeng
dan ikan lele karena ukuran ikan nilem yang masih benih ditambah tidak toleran
terhadap perubahan suhu, lalu ikan bandeng dengan rata-rata lebih besar
dibanding ikan lele karena hidup di air payau, terakhir adalah ikan lele yang
mempunyai laju konsumsi paling sedikit dikarenakan ukuran yang labih besar
juga mempunyai alat bantu pernapasan yaitu arboresent.

5.2 Saran
Saran yang dapat kami sampaikan sebagai praktikan adalah agar melakukan
praktikum laju konsumsi oksigen ikan dengan variasi bobot, umur, spesies yang
berbeda secara signifikan, agar dapat mengetahui faktor apa saja yang
mempengaruhi laju konsumsi oksigen ikan.

DAFTAR PUSTAKA

Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Cetakan


pertama. Rineka Putra. Jakarta.
Lukmanul, H, dkk. 2012. Pengaruh Salinitas Berbeda Terhadap Respirasi Ikan
Mas (Cyprinus carprio). UIN. Bandung
Vernberg W.B. and Vernberg F.J. 1972. Environmental Physiology of
Marine Animal. New York: Springer-Verlag.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Ikan Lele


Tabel Hasil Pengamatan Angkatan Perikanan 2016
Kelas Kelompok Bobot Ikan DO awal DO akhir Konsumsi
(gram) (mg/L (mg/l) O2
A 1 23 4,3 3,5 1
2 35 4,1 3,6 1,4
3 17 3,7 3,1 1
4 37 3,9 2,8 1,1
5 18 3,9 2,7 0,8
6 19 4,6 2,7 1
7 37 4,6 3,5 1,1
8 2,6 4,2 3,1 1,1
9 16 5,9 5,3 0,6
10 23 6,1 5,4 0,7
11 40 6 5,3 0,7
12 34 7,4 5,1 2,3
13 33 5,9 4,6 1,3
14 22 6 4,6 1,4
15 29 6 4,9 1,1
16 22 6,4 4,6 1,8
17 18 5,9 5,3 0,6
18 22 5,7 5,3 0,4
19 25 5,9 5,5 0,4
20 44 5,8 5,4 0,4
21 37 5,6 5,5 0,1
22 41 5,7 5,2 0,5
23 12 5,5 5,2 0,3
Rata-Rata 26,4 5,4 4,4 0,9
B 1 20 6,3 2,8 3,5
2 35 6,3 2,6 3,7
3 41 6,3 3,2 3,1
4 29 6,3 3,3 3
5 25 6,3 3,3 3
6 20 6,3 3,1 3,2
7 40 6,3 2,8 3,5
8 39 6,3 4,1 2,2
9 34 5,2 4,3 0,9
10 19 5,1 4,9 0,2
11 40 5,1 4,1 1
12 49 6 4,1 1,9
13 40 4,9 4,2 0,7
14 23 5,6 4,9 0,7
15 12 5,7 4,6 1,1
16 36 5,8 5,4 0,4
17 22 5,9 5,3 0,6
18 28 5,8 5,4 0,4
19 29 5,7 5,3 0,4
20 19 5,6 5,3 0,3
21 31 5,4 5,1 0,3
22 34 6,9 5,3 1,6
Rata-Rata 30,2 5,9 4,2 1,6
C 1 26 3,8 2,9 0,9
2 14 3,2 2,6 0,4
3 32 6,7 3,4 3,3
4 18 4,4 4 0,4
5 48 3,7 3 0,7
6 23 5,5 3,5 2
7 12 3,4 3,2 0,2
8 33 5,6 4,9 0,7
9 18 5,3 5 0,3
10 12 5,6 5,2 0,4
11 39 5,5 4,9 0,6
12 18 5,7 4,5 1,2
13 26 5,8 5,1 0,7
14 24 5,6 5,1 0,5
15 39 5,5 5,1 0,4

16 11 5,7 5,3 0,4


17 11 5,8 5,4 0,4
18 30 5,8 5,5 0,3
19 24 5,6 5,3 0,3
20 23 5,7 5,3 0,4
Rata-Rata 24,05 5,195 4,46 0,73
Kelautan 1 41 4,3 3,6 0,7
2 31 4,5 7,4 2,9
3 32 4 3,2 0,8
4 32 5,5 7,4 1,9
5 39 5,1 3,3 1,8
6 30 4,6 3,5 1,1
7 41 7,5 3,5 4
8 18 4 3,6 0,4
9 37 5,7 5 0,7
10 29 5,7 4,9 0,8
11 22 5,7 5,2 0,5
12 24 5,7 5,4 0,3
13 39 6 6,6 0,6
14 17 5,7 5 0,7
15 27 6,7 5,5 1,2
16 11 7 5,3 1,7
17 29,15 5,8 5,3 0,5
18 18,93 5,8 5,5 0,3
19 21,89 5,9 5,5 0,4
21 10,57 5,8 5,5 0,3
22 40,32 5,8 5,3 0,5
23 34,9 5,9 5,3 0,6
24 25,73 5,8 5,4 0,4
25 33,65 5,8 5,7 0,1
Rata-Rata 28,5 5,6 5,1 1,0

Tabel 2. Hasil Pengamatan Ikan Bandeng


DO
BobotIkan DO awal akhir KonsumsiOksigen
Kelas Kelompok (gram) (mg/l) (mg/l) (mg/l)
A 1 6 5,6 4,4 1,2
2 10 5,3 3,3 2
3 7 6,3 3,7 2,6
4 5 5,6 3,5 2,1
5 6 5,2 3,7 1,5
6 6 5,6 3,4 2,2
7 5 5,3 3,9 1,4
8 6 5,7 4,1 1,6
9 5 5,9 5,5 0,4
10 11 5,9 5,1 0,8
11 5 5,9 5 0,9
12 9 5,9 5 0,9
13 9 5,9 4,9 1
14 5 5,9 5,3 0,6
15 5 5,9 5,6 0,3
16 5 5,9 5,6 0,3
17 4 5,9 5 0,9
18 5 5,9 5 0,9
19 5 5,7 4,9 0,8
20 6 6 5 1
21 8 5,9 4,3 1,6
22 6 5,8 4,3 1,5
23 5 5,6 4,9 0,7
Rata-Rata 1,2
B 1 5 5,7 5 0,7
2 5 5,8 4,8 1
3 10 6 3,7 2,3
4 6 6,2 4 2,2
5 7 6 4 2
6 6 6,8 5 1,8
7 8 6,1 4,4 1,7
8 12 5,8 4,2 1,6
9 10 5,6 5,1 0,5
10 9 5,6 5 0,6
11 8 5,6 5,2 0,4
12 5 5,6 5,5 0,1
13 4 5,6 5,5 0,1
14 9 5,6 5,2 0,4
15 6 5,6 5,3 0,3
16 7 5,8 4,8 1
17 8 5,8 4,8 1
18 10 5,8 4,5 1,3
19 6 5,8 4,7 1,1
20 9 5,8 4,4 1,4
21 7 5,8 4,8 1
22 6 5,8 4,8 1
Rata - Rata 1,1
C 1 8 5,9 5,8 0,1
2 6 6 4,5 1,5
3 9 6,3 3,5 2,8
4 3 6,6 4,4 2,2
5 5 6,7 4,1 2,6
6 7 6 4,7 1,3
7 18 6,2 6,1 0,1
8 8 5,9 5,1 0,8
9 9 5,9 5,6 0,3
10 6 5,9 5,8 0,1
11 10 5,9 4,8 1,1
12 5 5,9 5,5 0,4
13 5 5,9 5,7 0,2
14 2 5,9 5,1 0,8
15 8 5,8 5,2 0,6
16 7 5,6 4,4 1,2
17 6 5,6 4,6 1
18 8 5,5 4,4 1,1
19 5 6,4 5,6 0,8
20 6 5,5 5,1 0,4
Rata-Rata 0,97
Kelautan 1 5 7,9 3,2 4,7
2 8 7,8 4,5 3,3
3 11 8,9 7,7 1,2
4 8 7,8 4,2 3,6
5 6 8,4 7,8 0,6
6 5 8,3 7,5 0,8
7 7 8,3 7,7 0,6
8 5 6,6 4,7 1,9
9 8 6,1 5,8 0,3
10 5 6,1 5,8 0,3
11 10 6,3 5,9 0,4
12 8 6,1 5,8 0,3
13 9 6,2 5,6 0,6
14 19 7 5,4 1,6
15 5 7 5,9 1,1
16 5 6,2 5,9 0,3
17 5 5,7 4,9 0,8
18 9 5,7 4,8 0,9
19 4 5,7 5,1 0,6
21 6 5,7 5 0,7
22 8 5,7 5 0,7
23 8 5,7 5 0,6
24 6 5,7 5,1 1
25 9 5,7 4,7 1
Rata-Rata 1,2

Tabel 2. Hasil Pengamatan Ikan Nilem


Bobot Ikan DO awal DO akhir Konsumsi
Kelas Kelompok
(gram) (mg/l) (mg/l) Oksigen (mg/l)
A 1 68 6,5 5,4 1,1
2 30 6,2 5,5 0,7
3 53 6,1 5,1 1
4 36 6 3,8 2,2
5 53 6,7 4,3 2,4
6 66 6,5 3,9 2,6
7 45 6,7 3,9 2,8
8 26 6 3,8 2,2
9 30 6,8 5,4 1,4
10 39 6,8 5,4 1,4
11 34 6,8 5,6 1,2
12 50 6,8 5,5 1,3
13 47 6,8 5,1 1,7
14 36 6,8 5,4 1,4
15 44 6,8 5,5 1,3
16 47 6,8 5 1,8
17 33 6 5 1
18 34 6 5,6 0,4
19 38 6 5,5 0,5
20 10 6 5,5 0,5
21 38 6 5,4 0,6
22 27 6 5,7 0,3
23 34 6 4,7 1,3
Rata-Rata 1,4
B 1 27 7,5 7 0,5
2 38 7,1 5,9 1,2
3 28 6,4 6,2 0,2
4 33 6,4 6 0,4
5 18 6,6 5,5 1,1
6 25 7,1 6,3 0,8
7 19 7,6 6,5 1,1
8 35 6,5 6,1 0,4
9 54 5,5 5,1 0,4
10 34 5,5 5,2 0,3
11 43 5,5 4,9 0,6
12 27 5,5 5,4 0,1
13 48 5,5 5,1 0,4
14 22 5,5 5,4 0,1
15 23 5,5 5,2 0,3
16 37 6,1 5,4 0,7
17 20,45 6,2 5,7 0,5
18 53 6,4 5,3 1,1
19 31,25 6,2 5,6 0,6
20 11,73 6,4 5,9 0,5
21 27 5,9 5,7 0,2
22 26,19 6,9 5,8 1,1
Rata - Rata 0,6
C 1 11 6,4 6,2 0,2
2 26 6,4 5,4 1
3 45 6,4 5,5 0,9
4 21 6,4 5,8 0,6
5 25 6,9 5,3 1,6
6 27 6,5 5,3 1,2
7 18 6,7 5,6 1,1
8 43 5,6 5,1 0,5
9 26 5,7 5,3 0,4
10 27 5,7 5 0,7
11 44 5,8 4,7 1,1
12 47 5,6 4,8 0,8
13 49 5,7 4,9 0,8
14 31 5,7 5,5 0,2
15 45 6,7 1,9 4,8
16 27 6,3 3 3,3
17 21 6,3 1,1 5,2
18 42 6,4 2 4,4
19 12 6,2 2,8 3,4
20 21 6,3 2 4,3
Rata-Rata 1,8