Anda di halaman 1dari 4

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL

3.1 Kerangka Konseptual

Faktor Lingkungan Breeding Places


1. Suhu Udara
2. Kelembapan Udara Tempat Penampungan Air dan
3. Intensitas Cahaya Keberadaan Larva Aedes sp:
4. Curah Hujan
a. Container Index
5. Angin b. Maya Index:
1. Breeding Risk Index
2. Hygiene Risk Index
Faktor Penghuni Rumah
1. Karakteristik Faktor Agen
a. Umur
b. Jenis Kelamin Virus Dengue
c. Pendidikan
2. Perilaku
Pengetahuan, Sikap dan Kejadian
Demam Berdarah Dengue
Tindakan PSN 3M Plus:
a. Menguras TPA
b. Mengubur barang bekas
Faktor Lain
c. Menutup TPA
d. Menggunakan Larvasida a. Mobilitas penduduk
e. Menggunakan obat anti
b. Imunitas individu
nyamuk
c. Pelaksanaan program
f. Menggunakan kelambu
g. Menghindari kebiasaan pemberantasan penyakit
menggantung baju DBD oleh dinas kesehatan
h. Menanam tanaman d. Jarak antar rumah
pengusir nyamuk e. Kepadatan Penduduk

Keterangan:
: Diteliti
: Tidak Diteliti

Gambar 3.1Kerangka konsep hubungan maya index dengan kejadian demam


berdarah dengue dan identifikasi jenis larva Aedes sp di wilayah
kerja Puskesmas Patrang Kabupaten Jember

30
31

Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) dipengaruhi oleh beberapa

faktor, di antaranya adalah faktor Host atau penjamu, agen vektor penyakit dan

lingkungan. Faktor penjamu yang dimaksud adalah manusia, dalam hal ini

terdapat beberapa hal yang diperhatikan yaitu karakteristik individu (umur, jenis

kelamin, tingkat pendidikan) dan perilaku (pengetahuan, sikap dan tindakan)

terkait Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus yang dilakukan. Faktor

penjamu yang diteliti adalah perilaku PSN yang dilakukan responden.

Faktor lingkungan terdiri dari suhu udara, kelembapan udara, intensitas

cahaya, curah hujan dan angin. Jarak antar rumah dan kepadatan penduduk

mempengaruhi penyebaran nyamuk Aedes sp. dari rumah ke rumah lainnya.

Semakin dekat jarak antar rumah maka semakin mudah bagi nyamuk untuk

berpindah maupun menyebar ke rumah lain, hal tersebut didukung dengan daya

terbang nyamuk Aedes sp dengan jarak 50 hingga 100 meter. Suhu udara

mempengaruhi metabolisme maupun perkembangbiakan nyamuk. Suhu rata-rata

bagi nyamuk untuk pertumbuhan yang optimum berkisar antara 20° hingga 30°C.

Kelembapan udara menentukan rentang umur nyamuk, dengan kelembapan

optimum sebesar 60%. Nyamuk Aedes aegypti lebih menyukai suasana yang

gelap. Hujan merupakan faktor lingkungan yang memiliki hubungan erat dengan

kejadian DBD. Hal tersebut karena dengan adanya hujan menyebabkan

peningkatan risiko perkembangbiakan nyamuk apabila air hujan tertampung pada

tempat penampungan air (TPA) yang terbuka di luar rumah. Air hujan yang

tertampung dalam TPA dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Kecepatan angin juga berpengaruh terhadap jarak terbang nyamuk Aedes sp.
32

Faktor lingkungan tersebut tidak termasuk variabel yang diteliti, karena

karakteristik lingkungan yang diobservasi adalah relatif sama dalam satu wilayah,

yaitu wilayah kerja Puskesmas Patrang Kabupaten Jember. Penelitian ini tidak

melibatkan wilayah lain sebagai pembanding sesuai dengan pembatasan masalah

yang dibahas.

Tempat penampungan air (TPA) yang ada di lingkungan dapat

meningkatkan risiko perkembangbiakan nyamuk. Tingkat risiko tersebut dapat

diketahui dengan Maya index (MI). Nilai Maya Index diperoleh dari kombinasi

nilai Breeding Risk Indicator dan Hygiene Risk Indicator. Perhitungan BRI dan

HRI didasarkan pada jenis tempat penampungan air, yaitu: Controllable Site (CS)

dan Disposable Site (DS). Controllable Site merupakan TPA yang dapat

dikontrol, seperti: bak mandi, sumur, ember, talang, bak air, dispenser, vas bunga,

tempat minum hewan peliharaan, wastafel dapur, tandon air, dan lain-lain

sejenisnya. Disposable Site merupakan jenis TPA dari sisa barang bekas yang

tidak terpakai dan terbuang di lingkungan dan TPA alami. Contoh TPA yang

tergolong Disposable Site (DS) di antaranya adalah: botol bekas, kaleng bekas,

ban bekas, lubang pada pohon, bagian axial tanaman yang dapat menampung air,

tempat sampah yang tidak tertutup, dan lain sebagainya.

Nilai HRI diperoleh dari jumlah TPA Disposable Site yang diperiksa dibagi

rerata TPA Disposable Site yang positif larva di setiap rumah. Sedangkan nilai

BRI didapatkan dari jumlah TPA Controllable Site dibagi rerata TPA

Controllable Site yang positif larva di setiap rumah yang diperiksa. Nilai BRI

menggambarkan tingkat risiko perkembangbiakan nyamuk, sedangkan nilai HRI


33

menggambarkan tingkat sanitasi lingkungan yang berisiko menjadi tempat

perindukan nyamuk. Kedua indikator tersebut (BRI dan HRI) dikombinasikan

menjadi indikator Maya Index (MI).

Faktor lain yang dapat mempengaruhi kejadian DBD adalah imunitas

individu, mobilitas penduduk, kepadatan penduduk dan jarak antar rumah.

Mobilitas penduduk di wilayah kerja Puskesmas Patrang relatif sama karena

berada di area perkotaan, kepadatan penduduk dan jarak antar rumah yang relatif

homogen berada di area perumahan, sehingga faktor tersebut tidak diteliti.

3.2 HIPOTESIS PENELITIAN

1. Ada hubungan antara perilaku (pengetahuan, sikap dan tindakan) PSN 3M

Plus dengan maya index di wilayah kerja Puskesmas Patrang, Kabupaten

Jember.

2. Ada hubungan antara status maya index (HRI dan BRI) dengan kejadian

DBD di wilayah kerja Puskesmas Patrang, Kabupaten Jember.