Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam alqur’an mejelaskan, bahwa manusia mempunyai naluriah dan ketertarikan


terhadap lawan jenis. Untuk memberikan jalan keluar terbaik mengenai hubungan manusia yang
berlawanan jenis, islam menetapkan suatu ketentuan yang harus dilalui yaitu perkawinan.

Tujuan berkeluarga adalah mendapatkan kebahagian lahir bathin. Namun dengan adanya
poligami, dan perceraian kebahagian dalam keluarga dapat sirna. Hal ini tentunya merugikan
sekali dalam pernikahan.

Untuk itu, dalam makalah ini saya sebagai penulis akan membahas tentang monogami,
poligami, dan perceraian di pengadilan agama menurut perundang-undangan dan menurut
hukum Islam.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah yang
akan dibahas adalah:
1. Apakah pengertian monogami dan poligami?
2. Bagaimana monogami dan poligami dalam perundang-undangan?
3. Bagaimana proses perceraian di Pengadilan Agama?
4. Bagaimana Pandangan Islam terhadap Monogami, Poligami dan Perceraian tersebut?

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Monogami dan Poligami

Monogami dalam Kamus Besar Bahasa Indonesian diartikan sebagai sistem yang hanya
memperbolehkan seorang laki-laki mempunyai satu istri pada jangka waktu tertentu.1

Dalam pasal 3 ayat (1) UU Perkawinan yang menentukan bahwa pada asasnya dalam
suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri dan seorang wanita hanya
boleh mempunyai seorang suami. Namun pada ayat (2) ketentuan tersebut membuka peluang
bagi seseorang untuk berpoligami yang menyatakan bahwa pengadilan dapat member izin
kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak
yang bersangkutan.2

Poligami merupakan salah satu persoalan dalam perkawinan yang paling banyak
dibicarakan sekaligus kontroversial. Satu sisi poligami ditolak dengan berbagai macam
argumentasi baik yang bersifat normatif, psikologis bahkan selalu dikaitkan dengan
ketidakadilan gender.3

B. Monogami dan Poligami dalam per-UU-an Indonesia

Berdasarkan UU No. 1/1974 tentang perkawinan, maka Hukum Perkawinan di Indonesia


menganut asas monogami, baik untuk untuk pria maupun wanita (pasal 3 (1) UU No. 1/1974).
Hanya apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan, karena hukum dan agama dari yang
bersangkutan mengizinkannya, seorang suami dapat beristri lebih dari seorang. Dengan
demikian, perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang istri, meskipun hal itu
dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan, hanya dapat dilakukan, apabila dipenuhi
beberapa persyaratan tertentu dan diputuskan oleh pengadilan.4

1
http://kbbi.web.id/monogami (akses Minggu, 28 Februari 2016 pukul 14.25 WIB)
2
http://www.jurnalhukum.com/asas-monogami-dan-izin-berpoligami-dalam-perkawinan/ (akses Minggu, 28
Februari 2016 pukul 14.25 WIB)
3
Amiur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal 156
4
Masyfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, hal 11

2
Dalam pasal 4 UUP dinyatakan bahwa seorang suami yang akan beristri lebih dari
seorang apabila:

a. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri.


b. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
c. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.

Dengan adanya pasal-pasal yang membolehkan untuk berpoligami kendatipun dengan


alasan-alasan tertentu, jelaslah bahwa asas yang dianut oleh UUP sebenarnya bukan asas
monogami mutlak melainkan disebut monogami terbuka. Poligami ditempatkan pada status
hukum darurat (emergency law), atau dalam keadaan yang luar biasa (extra ordinary
circumstance). Disamping itu, lembaga poligami tidak semata-mata memberi kewenangan
penuh suami tetapi atas izin dari hakim (pengadilan). Oleh sebab itu pada pasal 3 ayat 2
dinyatakan: Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari
seorang apabila dikehendaki oleh pihak yang bersangkutan.

Selain syarat-syarat yang termuat dalam pasal 4 diatas, dalam pasal 5 ayat 1 UUP juga
memuat syarat-syarat yang harus dipenuhi suami yang ingin melakukan poligami ialah:

a. Adanya persetujuan dari istri/istri-istri.


b. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup istri-istri dan anak-
anak mereka.
c. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri dan anak-anak mereka.

Untuk membedakan persyaratan yang ada di pasal 4 dan 5 adalah, pada pasal 4 disebut
dengan persyaratan alternatif yang artinya salah satu harus ada untuk dapat mengajukan
permohonan poligami. Sedangkan pasal 5 adalah persyaratan kumulatif dimana seluruhnya
harus dapat dipenuhi suami yang akan melakukan poligami.

Pada pasal 5 ayat 2 kembali ditegaskan: Persetujuan yang dimaksud pada ayat (1) huruf a
pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila istri-istrinya tidak mungkin dimintai
persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar
dari istrinya selama sekurang-kurangnya 2 tahun atau karena sebab lainnya yang perlu
mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan.

3
Menyangkut prosedur pelaksanaan poligami aturannya dapat dilihat dalam PP No.
9/1975. Pada pasal 40 dinyatakan: Apabila seorang suami bermaksud untuk beristri lebih dari
seorang maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada pengadilan.

Sedangkan tugas pengadilan diatur dalam pasal 41 PP No. 9/1975 sebagai berikut:

Pengadilan kemudian memeriksa mengenai:

a. Ada atau tidaknya alasan yang memungkinkan seorang suami kawin lagi.
b. Ada atau tidak adanya persetujuan dari istri, baik lisan maupun tertulis, apabila
persetujuan itu lisan, persetujuan itu harus diucapkan didepan siding pengadilan.
c. Ada atau tidak adanya kemampuan suami untuk menjamin keperluan hidup istri-istri
dan anak-anak, dengan memperlihatkan:
i. Surat keterangan mengenai penghasilan suami yang diketahui oleh
bendahara tempat bekerja; atau
ii. Surat keterangan pajak penghasilan; atau
iii. Surat keterangan lain yang dapat diterima oleh pengadilan.
d. Ada atau tidak adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri
dan anak-anak mereka dengan pernyataan atau janji dari suami yang dibuat dalam
bentuk yang ditetapkan untuk itu.

Selanjutnya pada pasal 42 juga diharuskan keharusan pengadilan memanggil para istri
untuk memberikan penjelasan atau kesaksian. Didalam pasal ini juga dijelaskan bahwa
pengadilan diberi waktu selama 30 hari untuk memeriksa permohonan poligami setelah
diajukan oleh suami lengkap dengan persyaratannya.

Pengadilan Agama memiliki wewenang untuk member izin kepada seseorang untuk
melakukan poligami. Hal ini dinyatakan dalam pasal 43 yang berbunyi: Apabila pengadilan
berpendapat bahwa cukup alasan bagi pemohon untuk beristri lebih dari seorang, maka
pengadilan memberikan putusannya yang berupa izin untuk beristri lebih dari seorang.

4
Izin dari Pengadilan Agama tampaknya menjadi sangat menentukan, sehingga dalam
pasal 44 dijelaskan bahwa Pegawai Pencatat dilarang untuk melakukan pencatatan perkawinan
seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang sebelum adanya izin Pengadilan. 5

Khusus untuk Pegawai Negeri Sipil dan sejenisnya seperti pejabat pemerintahan desa,
telah dikeluarkan PP No. 10/1983 tentang izin Perkawinan dan perceraian bagi Pegawai Negeri
Sipil, dengan maksud agar PNS dapat menjadi contoh bagi bawahannya dan menjadi teladan
sebagai warga negara yang baik dalam masyarakat, termasuk dalam membina kehidupan
berkeluarga.

PP No. 10/1983 secara tidak langsunguntuk memperketat dan mempersulit izin


perceraian dan izin poligami, sebab selain yang bersangkutan yang tersebut dalam UU
No.1/1974 dan PP No. 9/1975, juga harus memenuhi ketentuan yang tersebut dalam PP No.
10/1983.6

C. Perceraian di Pengadilan Agama

Menurut Istilah, dituliskan oleh al-Jaziri bahwa talak adalah melepaskan ikatan (hall al
qaid) atau bisa juga disebut pelepasan ikatan dengan menggunakan kata-kata yang ditentukan.7

Dalam pasal 1 UU No. 1/1974 dijelaskan bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk
keluarga yang bahagia, kekal berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa atau dalam bahasa KHI
disebut dengan mistaqan ghaliza (ikatan yang kuat), namun dalam realitanya seringkali
perkawinan tersebut kandas ditengah jalan yang mengakibatkan putusnya perkawinan.

Pasal 38 UUP menyatakan bahwa perkawinan dapat putus karena,

a. Kematian,
b. Perceraian, dan
c. Atas keputusan pengadilan

Dalam PP No. 9 tahun 1975 pasal 19 dinyatakan hal-hal yang menyebabkan terjadinya
perceraian.

5
Amiur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal 161-166
6
Masyfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, hal 12
7
Amiur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal 207

5
Perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan:

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat. Penjudi dan lain
sebagainya yang sukar disembuhkan;
b. Salah satu pihak meninggalkan puhak lain selama (2) tahun berturut-turut tanpa izin
pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain yang diluar kemampuannya;
c. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan
pihak lain;
d. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat
menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri;
e. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak
ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Dalam pasal 39 UU No 1 tahun 1974 dijelaskan bahwa

1. Perceraian hanya dilakukan didepan sidang pengadilan, setelah pengadilan yang


bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak
2. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami-istri itu
tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri
3. Tata cara perceraian didepan sidang pengadilan diatur dalam peraturan perundangan
tersendiri8

Bagi suami-istri beragama Islam yang ingin bercerai, maka pengadilan yang berwenang
memproses perceraiannya adalah pengadilan agama yang sesuai dari wilayah hukum tinggal si
istri saat ini. Ketentuan yang mengatur tentang proses cerai untuk agama Islam ada di Kompilasi
Hukum Islam (KHI).

Peradilan umum tidak di atas peradilan agama demikian sebaliknya. Keputusan peradilan
agama itu tidak dikukuhkan oleh pengadilan negeri. Keputusan pengadilan agama itu telah
dianggap mempunyai kekuatan pasti oleh para berperkara bila keputusan itu tidak dibanding.9

8
Amiur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal 216-219
9
http://luckymelansari.blogspot.co.id/2015/03/fiqh-kontemporer-monogami-poligami-dan.html (Akses kamis 25
februari 2016 pukul 20.30 WIB)

6
Berbeda dengan UUP yang tidak mengenal istilah talak, KHI menjelaskan yang
dimaksud dengan talak adalah Ikrar suami dihadapan siding Pengadilan Agama yang menjadi
salah satu sebab putusnya perkawinan dengan cara sebagaimana dimaksud dalam pasal 129,
130, dan 131.

KHI mensyaratkan ikrar suami untuk bercerai harus disampaikan dihadapan siding
pengadilan agama. Tampaknya UU No. 7/1989 tentang Peradilan Agama juga menjelaskan hal
yang sama seperti yang terdapat pada pasal 66 ayat (1) yang berbunyi: “seorang suami yang
beragama Islam yang akan menceraikan istrinya mengajukan permohonan kepada pengadilan
untuk mengadakan sidang guna penyaksian ikrar talak.”10

Bagi pegawai negeri, apabila melakukan perceraian atau poligami tanpa izin lebih dahulu
dari pejabat yang berwenang, maka ia dijatuhi hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan
hormat sebagai pegawai negeri tidak atas permintaan sendiri (Pasal 16 PP No. 10/1983)

Selanjutnya jika pegawai negeri tersebut sampai bercerai dengan istrinya atas kehendak
suami, maka ia wajib menyerahkan sepertiga gajinya kepada bekas istrinya dan sepertiga lagi
untuk anak-anaknya, tetapi apabila dari perkawinan itu tidak ada anak, maka setengah gajinya
diserahkan kepada bekas istrinya (pasal 8 ayat (2) dan (3) PP No. 10/1983). Kemudian apabila
perceraian terjadi atas kehendak istri, maka ia tidak berhak atas bagian penghasilan dari bekas
suaminya, kecuali apabila istri terpaksa meminta cerai karena dimadu (pasal 8 (4) dan (5) PP
No. 10/1983)11

D. Pandangan Islam terhadap Monogami, Poligami dan Perceraian

Asas monogami telah diletakkan oleh Islam sejak 15 abad yang lalu sebagai salah satu
asas perkawinan yang bertujuan untuk landasan dan modal utama guna membina kehidupan
rumah tangga yang harmonis, sejahtera dan bahagia.

Berikut ayat al-Quran yang berkenaan dengan masalah monogami dan poligami dalam
surat an-Nisa’ ayat 3

10
Amiur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal 220-221
11
Masyfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, hal 12

7
   …
  
 …  

3. Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat…

Ayat tersebut mengingatkan kepada wali anak wanita yatim yang ingin mengawini anak
tersebut agar si wali itu beritikad baik, dan adil serta fair, yakni si wali wajib memberikan
mahar dan hak-hak lainnya kepada wanita yang akan dikawininya. Ia tidak boleh
mengawininya untuk alasan memeras dan menguras harta anak yatim atau menghalangi anak
wanita yatim itu kawin dengan orang lain. Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah ra waktu
ditanya oleh Urwah bin Al-Zubair ra mengenai maksud ayat 3 surah an-Nisa’ tersebut.

Jika wali anak yatim tersebut khawatir tidak bisa berbuat adil terhadap anak yatim, maka
ia mengawini anak yatim yang berada dibawah perwaliannya tersebut, tetapi ia wajib kawin
dengan wanita lain yang disenanginya, seorang istri sampai dengan empat, dengan syarat ia
dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya dan apabila ia takut tidak dapat berbuat adil, maka ia
hanya boleh mengawini seorang saja dan iapun tidak boleh berbuat zalim terhadap istrinya
itu.12

Begitu seorang muslim menikahi lebih dari seorang istri, maka dia berkewajiban untuk
memperlakukan mereka secara sama dalam segala hal. Bila seseorang agak ragu untuk dapat
memperlakukan istrinya sama, maka ia tak boleh beristri lebih dari satu.

Dalam hadis Nabi dijelaskan bahwa seseorang boleh melakukan poligami sampai batasan
empat orang istri, dan tidak boleh lebih dari itu.13

Pendapat Ulama tentang poligami

1. Pendapat ulama klasik


Para ilmuan klasik (fuqaha) berpendapat, bahwa Allah mengizinkan menikahi empat
wanita. Menurut mereka, walaupun kebolehan di sini ditambah dengan kondisi yang

12
Masyfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, hal 13-14
13
Abdur Rahman I, Perkawinan dalam Syariat Islam, hal 20-21

8
tidak mungkin ditunaikan, keadilan dalam kasih sayang, perasaan, cinta dan
semacamnya, namun, selama kemampuan berbuat adil di bidang nafkah dan
akomodasi bisa ditunaikan, izin untuk berpoligami menjadi sesuatu yang bisa
diperoleh. Alasan yang mereka kemukakan untuk mendudung ide ini adalah, bahwa
nabi sendiri pernah berkata hubungannya dengan ketidakmampuannya berbuat adil
dalam hal kebutuhan batin.
2. Pendapat Ulama Kontemporer
Sebagaimana telah kita paparkan diatas pendapat ulama klasik dalam poligami, dan
perlu juga kita membaca bagaimana pandangan pemikir kontemporer dalam
menyikapi poligami.
Sayyid Qutub mengatakan bahwa poligami merupakan suatu perbuatan rukhsah.
Karena merupakan rukhsah, maka bisa dilakukan hanya dalam keadaan darurat, yang
benar-benar mendesak. Kebolehan ini pun masih disyaratkan bisa berbuat adil
terhadap istri-istri. Keadilan yang dituntut disini termasuk dalam bidang nafkah,
mu’amalat, pergaulan, serta pembagian malam. Sedang bagi calon suami yang tidak
bisa berbuat adil, maka diharuskan cukup satu saja.
Berbeda dengan Sayyid Qutub bahwa Muhamammad Abduh dengan sengit
menentang poligami karena dianggap menjadi sumber kerusakan di Mesir, dan
dengan tegas menyatakan bahwa, adalah tidak mungkin mendidik bangsa Mesir
dengan pendidikan yang baik sepanjang poligami yang bobrok ini masih dipraktekkan
secara luas. Dan bahkan beliau pernah mengeluarkan fatwa tidak resmi yang
menyarankan agar pemerintah mesir melarang poligami diluar kondisi darurat yang
membenarkannya dan tidak membuat kerusakan. Muhammad Abduh juga
berpendapat. Intinya, asas pernikahan dalam Islam adalah monogami, bukan
poligami. Poligami diharamkan karena menimbulkan dharar (bahaya) seperti konflik
antar isteri dan anggota keluarga, dan hanya dibolehkan dalam kondisi darurat saja.
Sedangkan M. Syahrul berpendapat, bahwa menikah (poligami) adalah boleh dengan
keyakinan bisa berbuat adil pada anak-anak yatim. Ini artinya istri kedua, ketiga, dan

9
keempat yang boleh dinikahi harus janda yang memiliki anak-anak yatim yang
kemudian menjadi tanggung jawabnya.14
Sayyid Sabiq mengemukakan hikmah poligami yang cukup banyak ringkasannya
adalah sebagai berikut:
1. Memperbesar jumlah umat karena keagungan itu hanyalah bagi yang berjumlah
banyak.
2. Mengurangi jumlah janda sambil menyantuni mereka
3. Mengantisipasi kenyataan bahwa jumlah wanita lebih banyak daripada pria
4. Mengisi tenggang waktu yang lowong bagi pria
5. Dapat mengatasi kalau istri (pertama) mandul
6. Ditempat yang menganut pemaksaan monogami terjadi banyak kefasikan,
banyaknya pelacur, dan banyak pula anak yang lahir diluar nikah.15

Mengenai Perceraian, Islam memandangnya sebagai perbuatan halal yang paling dibenci
agama, sebagaimana hadis Nabi Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah dan Al Hakim dari Ibnu
Umar:

َّ ِ‫َض ْال َح ََل ِل ِإلَي هللا‬


‫الط ََل ُق‬ ُ ‫أ َ ْبغ‬

Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Agama adalah perceraian.

Karena itu, perceraian seperti halnya poligami, hanya diizinkan apabila dalam keadaan
darurat, yakni sudah terjadi kemelut rumah tangga yang sudah sangat gawat keadaannya dan
sudah diusahakan dengan itikad baik dan serius untuk adanya islah atau rekonsiliasi antara
suami dan istri, namun tidak berhasil, termasuk pula usaha dua hakam dari pengadilan, tetapi
tetap tidak berhasil.

Setidaknya ada empat kemungkinan yang dapat terjadi dalam kehidupan rumah tangga
yang dapat memicu terjadinya perceraian yaitu:

1. Terjadinya nusyuz dari pihak istri.

14
http://inpasonline.com/new/poligami-dalam-pandangan-liberal-dan-ulama/ (Akses kamis, 25 Februari 2016
pukul 20.30 WIB)
15
Mardani, Hukum Perkawinan Islam di Dunia Islam Modern, hal 89

10
Nusyuz bermakna kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya. Hal
ini bisa terjadi dalam bentuk pelanggaran perintah, penyelewengan dan hal-hal yang
dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga.

2. Nusyuz suami terhadap istri.


Kemungkinan nusyuz ternyata tidak hanya datang dari istri tetapi dapat juga dating
dari suami. Selama ini sering disalah pahami bahwa nusyuz hanya datang dari pihak
istri saja.
Jika suami melalaikan kewajibannya dan istrinya berulang kali mengingatkannya
namun tetap tidak ada perubahan, maka istri diminta untuk lebih sabar menghadapi
suaminya dan merelakan hak-haknya dikurangi untuk sementara waktu. Semuanya itu
bertujuan agar perceraian tidak terjadi.
3. Terjadinya syiqaq.
Jika dua kemungkinan sebelumnya menggambarkan salah satu pihak yang melakukan
nusyuz, maka kemungkinan yang ketiga ini terjadi karena keduanya terlibat dalam
syiqaq (percekcokan), misalnya disebabkan kesulitan ekonomi, sehingga keduanya
sering bertengkar.
Dalam UU No. 7 Tahun 1989 dinyatakan bahwa syiqaq adalah perselisihan yang
tajam antara suami istri.
4. Salah satu pihak melakukan perbuatan zina (fahisyah), yang menimbulkan saling
menuduh antara keduanya. Cara menyelesaikannya adalah dengan membuktikan
tuduhan yang didakwakan, dengan cara li’an.16

16
Amiur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal 209-214

11
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada dasarnya, asas perkawinan yang ditetapkan baik dalam agama Islam dan ketentuan
UU di Indonesia adalah menganut asas monogami yang bertujuan untuk landasan dan modal
utama guna membina kehidupan rumah tangga yang harmonis, sejahtera dan bahagia.

Namun dengan beberapa alasan yang bisa dibilang darurat, seorang suami boleh memiliki
lebih dari seorang istri atau biasa disebut dengan berpoligami asalkan suami tersebut dapat
memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh ketentuan Agama dan UU Perkawinan di Indonesia,
yang diatur dalam UU No. 1/1974 serta PP No. 9/1975 dan ditambah lagi ketentuan PP No.
10/1983 bagi pegawai negeri.

Mengenai Perceraian, Islam memandangnya sebagai perbuatan halal yang paling dibenci
agama. Maka dari itu sama halnya dengan poligami pasangan yang ingin bercerai harus
memiliki alasan yang kuat dan harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam al-
Quran dan Undang-Undang yang berlaku di Indonesia

B. Saran

Melalui makalah ini, penulis berharap semoga pembaca dapat memahami bagaimana
monogami, poligami, dan perceraian di pengadilan agama menurut perUndang-Undangan dan
hukum islam. Dan penulis berharap adanya kritikan dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini selanjutnya

12
DAFTAR PUSTAKA

Abdur Rahman I. 1996. Perkawinan dalam Syariat Islam. (Jakarta: PT. Rineka Cipta)

Amiur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan. 2004. Hukum Perdata Islam di Indonesia. (Jakarta:
Penerbit Kencana)

http://inpasonline.com/new/poligami-dalam-pandangan-liberal-dan-ulama/ (Akses kamis, 25


Februari 2016 pukul 20.30 WIB)

http://kbbi.web.id/monogami (akses Minggu, 28 Februari 2016 pukul 14.25 WIB)

http://luckymelansari.blogspot.co.id/2015/03/fiqh-kontemporer-monogami-poligami-dan.html
(Akses kamis, 25 Februari 2016 pukul 20.30 WIB)

http://www.jurnalhukum.com/asas-monogami-dan-izin-berpoligami-dalam-perkawinan/ (akses
Minggu, 28 Februari 2016 pukul 14.25 WIB)

Mardani. 2001. Hukum Perkawinan Islam di Dunia Islam Modern. (Yogyakarta: Graha Ilmu)

Masyfuk Zuhdi. 1997. Masail Fiqhiyah. (Jakarta: PT. Midas Surya Grafindo)

13