Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Monogami dan Poligami

Monogami dalam Kamus Besar Bahasa Indonesian diartikan sebagai


sistem yang hanya memperbolehkan seorang laki-laki mempunyai satu istri pada
jangka waktu tertentu.1

Dalam pasal 3 ayat (1) UU Perkawinan yang menentukan bahwa pada


asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang
istri dan seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. Namun pada
ayat (2) ketentuan tersebut membuka peluang bagi seseorang untuk berpoligami
yang menyatakan bahwa pengadilan dapat member izin kepada seorang suami
untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang
bersangkutan.2

Poligami merupakan salah satu persoalan dalam perkawinan yang paling


banyak dibicarakan sekaligus kontroversial. Satu sisi poligami ditolak dengan
berbagai macam argumentasi baik yang bersifat normatif, psikologis bahkan
selalu dikaitkan dengan ketidakadilan gender.3

B. Monogami dan Poligami dalam per-UU-an Indonesia

Berdasarkan UU No. 1/1974 tentang perkawinan, maka Hukum


Perkawinan di Indonesia menganut asas monogami, baik untuk untuk pria
maupun wanita (pasal 3 (1) UU No. 1/1974). Hanya apabila dikehendaki oleh
yang bersangkutan, karena hukum dan agama dari yang bersangkutan
mengizinkannya, seorang suami dapat beristri lebih dari seorang. Dengan
demikian, perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang istri, meskipun
hal itu dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan, hanya dapat dilakukan,
apabila dipenuhi beberapa persyaratan tertentu dan diputuskan oleh pengadilan.4

1
http://kbbi.web.id/monogami (akses Minggu, 28 Februari 2016 pukul 14.25 WIB)
2
http://www.jurnalhukum.com/asas-monogami-dan-izin-berpoligami-dalam-perkawinan/ (akses
Minggu, 28 Februari 2016 pukul 14.25 WIB)
3
Amiur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal 156
4
Masyfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, hal 11
4
Dalam pasal 4 UUP dinyatakan bahwa seorang suami yang akan beristri
lebih dari seorang apabila:

a. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri.


b. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
c. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.

Dengan adanya pasal-pasal yang membolehkan untuk berpoligami


kendatipun dengan alasan-alasan tertentu, jelaslah bahwa asas yang dianut oleh
UUP sebenarnya bukan asas monogami mutlak melainkan disebut monogami
terbuka. Poligami ditempatkan pada status hukum darurat (emergency law), atau
dalam keadaan yang luar biasa (extra ordinary circumstance). Disamping itu,
lembaga poligami tidak semata-mata memberi kewenangan penuh suami tetapi
atas izin dari hakim (pengadilan). Oleh sebab itu pada pasal 3 ayat 2 dinyatakan:
Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari
seorang apabila dikehendaki oleh pihak yang bersangkutan.

Selain syarat-syarat yang termuat dalam pasal 4 diatas, dalam pasal 5 ayat
1 UUP juga memuat syarat-syarat yang harus dipenuhi suami yang ingin
melakukan poligami ialah:

a. Adanya persetujuan dari istri/istri-istri.


b. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup istri-
istri dan anak-anak mereka.
c. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri dan anak-
anak mereka.

Untuk membedakan persyaratan yang ada di pasal 4 dan 5 adalah, pada


pasal 4 disebut dengan persyaratan alternatif yang artinya salah satu harus ada
untuk dapat mengajukan permohonan poligami. Sedangkan pasal 5 adalah
persyaratan kumulatif dimana seluruhnya harus dapat dipenuhi suami yang akan
melakukan poligami.

Pada pasal 5 ayat 2 kembali ditegaskan: Persetujuan yang dimaksud pada


ayat (1) huruf a pasal ini tidak diperlukan bagi seorang suami apabila istri-
istrinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak
dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari istrinya selama sekurang-
5
kurangnya 2 tahun atau karena sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari
Hakim Pengadilan.

Menyangkut prosedur pelaksanaan poligami aturannya dapat dilihat dalam


PP No. 9/1975. Pada pasal 40 dinyatakan: Apabila seorang suami bermaksud
untuk beristri lebih dari seorang maka ia wajib mengajukan permohonan secara
tertulis kepada pengadilan.

Sedangkan tugas pengadilan diatur dalam pasal 41 PP No. 9/1975 sebagai


berikut:

Pengadilan kemudian memeriksa mengenai:

a. Ada atau tidaknya alasan yang memungkinkan seorang suami kawin


lagi.
b. Ada atau tidak adanya persetujuan dari istri, baik lisan maupun
tertulis, apabila persetujuan itu lisan, persetujuan itu harus diucapkan
didepan siding pengadilan.
c. Ada atau tidak adanya kemampuan suami untuk menjamin keperluan
hidup istri-istri dan anak-anak, dengan memperlihatkan:
i. Surat keterangan mengenai penghasilan suami yang diketahui
oleh bendahara tempat bekerja; atau
ii. Surat keterangan pajak penghasilan; atau
iii. Surat keterangan lain yang dapat diterima oleh pengadilan.
d. Ada atau tidak adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil
terhadap istri-istri dan anak-anak mereka dengan pernyataan atau
janji dari suami yang dibuat dalam bentuk yang ditetapkan untuk itu.

Selanjutnya pada pasal 42 juga diharuskan keharusan pengadilan


memanggil para istri untuk memberikan penjelasan atau kesaksian. Didalam
pasal ini juga dijelaskan bahwa pengadilan diberi waktu selama 30 hari untuk
memeriksa permohonan poligami setelah diajukan oleh suami lengkap dengan
persyaratannya.

Pengadilan Agama memiliki wewenang untuk member izin kepada


seseorang untuk melakukan poligami. Hal ini dinyatakan dalam pasal 43 yang
berbunyi: Apabila pengadilan berpendapat bahwa cukup alasan bagi pemohon
untuk beristri lebih dari seorang, maka pengadilan memberikan putusannya yang
berupa izin untuk beristri lebih dari seorang.
6
Izin dari Pengadilan Agama tampaknya menjadi sangat menentukan,
sehingga dalam pasal 44 dijelaskan bahwa Pegawai Pencatat dilarang untuk
melakukan pencatatan perkawinan seorang suami yang akan beristri lebih dari
seorang sebelum adanya izin Pengadilan. 5

Khusus untuk Pegawai Negeri Sipil dan sejenisnya seperti pejabat


pemerintahan desa, telah dikeluarkan PP No. 10/1983 tentang izin Perkawinan
dan perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil, dengan maksud agar PNS dapat
menjadi contoh bagi bawahannya dan menjadi teladan sebagai warga negara
yang baik dalam masyarakat, termasuk dalam membina kehidupan berkeluarga.

PP No. 10/1983 secara tidak langsunguntuk memperketat dan mempersulit


izin perceraian dan izin poligami, sebab selain yang bersangkutan yang tersebut
dalam UU No.1/1974 dan PP No. 9/1975, juga harus memenuhi ketentuan yang
tersebut dalam PP No. 10/1983.6

C. Perceraian di Pengadilan Agama

Menurut Istilah, dituliskan oleh al-Jaziri bahwa talak adalah melepaskan


ikatan (hall al qaid) atau bisa juga disebut pelepasan ikatan dengan menggunakan
kata-kata yang ditentukan.7

Dalam pasal 1 UU No. 1/1974 dijelaskan bahwa tujuan perkawinan adalah


membentuk keluarga yang bahagia, kekal berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa
atau dalam bahasa KHI disebut dengan mistaqan ghaliza (ikatan yang kuat),
namun dalam realitanya seringkali perkawinan tersebut kandas ditengah jalan
yang mengakibatkan putusnya perkawinan.

Pasal 38 UUP menyatakan bahwa perkawinan dapat putus karena,

a. Kematian,
b. Perceraian, dan
c. Atas keputusan pengadilan

5
Amiur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal 161-166
6
Masyfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, hal 12
7
Amiur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal 207
7
Dalam PP No. 9 tahun 1975 pasal 19 dinyatakan hal-hal yang
menyebabkan terjadinya perceraian.

Perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan:

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat. Penjudi
dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
b. Salah satu pihak meninggalkan puhak lain selama (2) tahun berturut-
turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal
lain yang diluar kemampuannya;
c. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang
membahayakan pihak lain;
d. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat
tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/istri;
e. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan
pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam
rumah tangga.

Dalam pasal 39 UU No 1 tahun 1974 dijelaskan bahwa

1. Perceraian hanya dilakukan didepan sidang pengadilan, setelah


pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil
mendamaikan kedua belah pihak
2. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara
suami-istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri
3. Tata cara perceraian didepan sidang pengadilan diatur dalam peraturan
perundangan tersendiri8

Bagi suami-istri beragama Islam yang ingin bercerai, maka pengadilan


yang berwenang memproses perceraiannya adalah pengadilan agama yang sesuai
dari wilayah hukum tinggal si istri saat ini. Ketentuan yang mengatur tentang
proses cerai untuk agama Islam ada di Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Peradilan umum tidak di atas peradilan agama demikian sebaliknya.


Keputusan peradilan agama itu tidak dikukuhkan oleh pengadilan negeri.
Keputusan pengadilan agama itu telah dianggap mempunyai kekuatan pasti oleh
para berperkara bila keputusan itu tidak dibanding.9
8
Amiur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal 216-219
9
http://luckymelansari.blogspot.co.id/2015/03/fiqh-kontemporer-monogami-poligami-dan.html
(Akses kamis 25 februari 2016 pukul 20.30 WIB)
8
Berbeda dengan UUP yang tidak mengenal istilah talak, KHI menjelaskan
yang dimaksud dengan talak adalah Ikrar suami dihadapan siding Pengadilan
Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan dengan cara
sebagaimana dimaksud dalam pasal 129, 130, dan 131.

KHI mensyaratkan ikrar suami untuk bercerai harus disampaikan


dihadapan siding pengadilan agama. Tampaknya UU No. 7/1989 tentang
Peradilan Agama juga menjelaskan hal yang sama seperti yang terdapat pada
pasal 66 ayat (1) yang berbunyi: “seorang suami yang beragama Islam yang
akan menceraikan istrinya mengajukan permohonan kepada pengadilan untuk
mengadakan sidang guna penyaksian ikrar talak.”10

Bagi pegawai negeri, apabila melakukan perceraian atau poligami tanpa


izin lebih dahulu dari pejabat yang berwenang, maka ia dijatuhi hukuman
disiplin berupa pemberhentian dengan hormat sebagai pegawai negeri tidak atas
permintaan sendiri (Pasal 16 PP No. 10/1983)

Selanjutnya jika pegawai negeri tersebut sampai bercerai dengan istrinya


atas kehendak suami, maka ia wajib menyerahkan sepertiga gajinya kepada
bekas istrinya dan sepertiga lagi untuk anak-anaknya, tetapi apabila dari
perkawinan itu tidak ada anak, maka setengah gajinya diserahkan kepada bekas
istrinya (pasal 8 ayat (2) dan (3) PP No. 10/1983). Kemudian apabila perceraian
terjadi atas kehendak istri, maka ia tidak berhak atas bagian penghasilan dari
bekas suaminya, kecuali apabila istri terpaksa meminta cerai karena dimadu
(pasal 8 (4) dan (5) PP No. 10/1983)11

D. Pandangan Islam terhadap Monogami, Poligami dan Perceraian

Asas monogami telah diletakkan oleh Islam sejak 15 abad yang lalu
sebagai salah satu asas perkawinan yang bertujuan untuk landasan dan modal
utama guna membina kehidupan rumah tangga yang harmonis, sejahtera dan
bahagia.

10
A miur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal 220-221
11
Masyfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, hal 12
9
Berikut ayat al-Quran yang berkenaan dengan masalah monogami dan
poligami dalam surat an-Nisa’ ayat 3

‫فانكحوا ماطاب لكم من النساء مثن وثلث وربع‬

3. Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga


atau empat…

Ayat tersebut mengingatkan kepada wali anak wanita yatim yang ingin
mengawini anak tersebut agar si wali itu beritikad baik, dan adil serta fair, yakni
si wali wajib memberikan mahar dan hak-hak lainnya kepada wanita yang akan
dikawininya. Ia tidak boleh mengawininya untuk alasan memeras dan menguras
harta anak yatim atau menghalangi anak wanita yatim itu kawin dengan orang
lain. Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah ra waktu ditanya oleh Urwah bin Al-
Zubair ra mengenai maksud ayat 3 surah an-Nisa’ tersebut.

Jika wali anak yatim tersebut khawatir tidak bisa berbuat adil terhadap
anak yatim, maka ia mengawini anak yatim yang berada dibawah perwaliannya
tersebut, tetapi ia wajib kawin dengan wanita lain yang disenanginya, seorang
istri sampai dengan empat, dengan syarat ia dapat berlaku adil terhadap istri-
istrinya dan apabila ia takut tidak dapat berbuat adil, maka ia hanya boleh
mengawini seorang saja dan iapun tidak boleh berbuat zalim terhadap istrinya
itu.12

Begitu seorang muslim menikahi lebih dari seorang istri, maka dia
berkewajiban untuk memperlakukan mereka secara sama dalam segala hal. Bila
seseorang agak ragu untuk dapat memperlakukan istrinya sama, maka ia tak
boleh beristri lebih dari satu.

Dalam hadis Nabi dijelaskan bahwa seseorang boleh melakukan poligami


sampai batasan empat orang istri, dan tidak boleh lebih dari itu.13

E. Pendapat Ulama tentang poligami

1. Pendapat ulama klasik

12
Masyfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, hal 13-14
13
Abdur Rahman I, Perkawinan dalam Syariat Islam, hal 20-21
10
Para ilmuan klasik (fuqaha) berpendapat, bahwa Allah mengizinkan
menikahi empat wanita. Menurut mereka, walaupun kebolehan di sini
ditambah dengan kondisi yang tidak mungkin ditunaikan, keadilan
dalam kasih sayang, perasaan, cinta dan semacamnya, namun, selama
kemampuan berbuat adil di bidang nafkah dan akomodasi bisa
ditunaikan, izin untuk berpoligami menjadi sesuatu yang bisa
diperoleh. Alasan yang mereka kemukakan untuk mendudung ide ini
adalah, bahwa nabi sendiri pernah berkata hubungannya dengan
ketidakmampuannya berbuat adil dalam hal kebutuhan batin.
2. Pendapat Ulama Kontemporer
Sebagaimana telah kita paparkan diatas pendapat ulama klasik dalam
poligami, dan perlu juga kita membaca bagaimana pandangan pemikir
kontemporer dalam menyikapi poligami.
Sayyid Qutub mengatakan bahwa poligami merupakan suatu perbuatan
rukhsah. Karena merupakan rukhsah, maka bisa dilakukan hanya
dalam keadaan darurat, yang benar-benar mendesak. Kebolehan ini
pun masih disyaratkan bisa berbuat adil terhadap istri-istri. Keadilan
yang dituntut disini termasuk dalam bidang nafkah, mu’amalat,
pergaulan, serta pembagian malam. Sedang bagi calon suami yang
tidak bisa berbuat adil, maka diharuskan cukup satu saja.
Berbeda dengan Sayyid Qutub bahwa Muhamammad Abduh dengan
sengit menentang poligami karena dianggap menjadi sumber
kerusakan di Mesir, dan dengan tegas menyatakan bahwa, adalah tidak
mungkin mendidik bangsa Mesir dengan pendidikan yang baik
sepanjang poligami yang bobrok ini masih dipraktekkan secara luas.
Dan bahkan beliau pernah mengeluarkan fatwa tidak resmi yang
menyarankan agar pemerintah mesir melarang poligami diluar kondisi
darurat yang membenarkannya dan tidak membuat kerusakan.
Muhammad Abduh juga berpendapat. Intinya, asas pernikahan dalam
Islam adalah monogami, bukan poligami. Poligami diharamkan karena
menimbulkan dharar (bahaya) seperti konflik antar isteri dan anggota
keluarga, dan hanya dibolehkan dalam kondisi darurat saja.
Sedangkan M. Syahrul berpendapat, bahwa menikah (poligami) adalah
boleh dengan keyakinan bisa berbuat adil pada anak-anak yatim. Ini
artinya istri kedua, ketiga, dan keempat yang boleh dinikahi harus

11
janda yang memiliki anak-anak yatim yang kemudian menjadi
tanggung jawabnya.14
Sayyid Sabiq mengemukakan hikmah poligami yang cukup banyak
ringkasannya adalah sebagai berikut:
1. Memperbesar jumlah umat karena keagungan itu hanyalah bagi
yang berjumlah banyak.
2. Mengurangi jumlah janda sambil menyantuni mereka
3. Mengantisipasi kenyataan bahwa jumlah wanita lebih banyak
daripada pria
4. Mengisi tenggang waktu yang lowong bagi pria
5. Dapat mengatasi kalau istri (pertama) mandul
6. Ditempat yang menganut pemaksaan monogami terjadi banyak
kefasikan, banyaknya pelacur, dan banyak pula anak yang lahir
diluar nikah.15

Mengenai Perceraian, Islam memandangnya sebagai perbuatan halal yang


paling dibenci agama, sebagaimana hadis Nabi Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah
dan Al Hakim dari Ibnu Umar:

‫لأببغلض الللل إل إل ى ا إ‬
‫ل الططللضق‬ ‫ل ض ل‬

Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Aloh adalah perceraian.

Karena itu, perceraian seperti halnya poligami, hanya diizinkan apabila


dalam keadaan darurat, yakni sudah terjadi kemelut rumah tangga yang sudah
sangat gawat keadaannya dan sudah diusahakan dengan itikad baik dan serius
untuk adanya islah atau rekonsiliasi antara suami dan istri, namun tidak berhasil,
termasuk pula usaha dua hakam dari pengadilan, tetapi tetap tidak berhasil.

Setidaknya ada empat kemungkinan yang dapat terjadi dalam kehidupan


rumah tangga yang dapat memicu terjadinya perceraian yaitu:

1. Terjadinya nusyuz dari pihak istri.


Nusyuz bermakna kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap
suaminya. Hal ini bisa terjadi dalam bentuk pelanggaran perintah,
penyelewengan dan hal-hal yang dapat mengganggu keharmonisan
rumah tangga.
14
http://inpasonline.com/new/poligami-dalam-pandangan-liberal-dan-ulama/ (Akses kamis, 25
Februari 2016 pukul 20.30 WIB)
15
Mardani, Hukum Perkawinan Islam di Dunia Islam Modern, hal 89
12
2. Nusyuz suami terhadap istri.
Kemungkinan nusyuz ternyata tidak hanya datang dari istri tetapi dapat
juga dating dari suami. Selama ini sering disalah pahami bahwa nusyuz
hanya datang dari pihak istri saja.
Jika suami melalaikan kewajibannya dan istrinya berulang kali
mengingatkannya namun tetap tidak ada perubahan, maka istri diminta
untuk lebih sabar menghadapi suaminya dan merelakan hak-haknya
dikurangi untuk sementara waktu. Semuanya itu bertujuan agar
perceraian tidak terjadi.
3. Terjadinya syiqaq.
Jika dua kemungkinan sebelumnya menggambarkan salah satu pihak
yang melakukan nusyuz, maka kemungkinan yang ketiga ini terjadi
karena keduanya terlibat dalam syiqaq (percekcokan), misalnya
disebabkan kesulitan ekonomi, sehingga keduanya sering bertengkar.
Dalam UU No. 7 Tahun 1989 dinyatakan bahwa syiqaq adalah
perselisihan yang tajam antara suami istri.
4. Salah satu pihak melakukan perbuatan zina (fahisyah), yang
menimbulkan saling menuduh antara keduanya. Cara
menyelesaikannya adalah dengan membuktikan tuduhan yang
didakwakan, dengan cara li’an.16

16
Amiur Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal 209-214
13