Anda di halaman 1dari 12

PEMEROSESAN ALAT BEKAS PAKAI

No. Dokumen :
Terbitan :
No.Revisi :00
SPO
Tgl.Mulai berlaku : 2 Januari 2017
Halaman :1 / 1

Puskesmas Melintang Ditetapkan Oleh UPT.


Kepala Puskesmas
Melintang

Hj. Dina, SKM


196311231988022001
1. Pengertian Tindakan yang dipakai / yang dilakukan untuk memastikan bahwa petugas
kesehatan dapat menangani secara aman, benda-benda (peralatan medis)
yang terkontaminasi darah dan cairan tubuh.
2. Tujuan Untuk mempelajari dan memahami tata cara pemerosesan alat bekas pakai
dengan benar.
3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas Melintang
4. Referensi Pedoman nasional Pengendalian pemerosesan alat bekas pakai

5. Prosedur/ Jenis-jenis peralatan :


Langkah- 1. Alat kesehatan bekas pakai
langkah 2. Larutan klorein 0,5 perssen
3. Waskom / wadah plastik atau baja anti karat
4. Sabun deterjen
5. Sikat halus
6. Air bersih
7. Sarung tangan karet

Pelaksanaan :
1. Melakukan dekontaminasi peralatan medis dan benda-benda
lainnya dengan menggunakan sarung tangan karet
2. Merendam atau memasukan benda-benda yang telah
terkontaminasi kedalam larutan klorein 0,5 selama 10 menit.
3. Melakukan pencucian atau pembilasan untuk menghilangkan
sebagian besar mikroorganisme pada peralatan yang kotor atau
yang sudah digunakan
4. Melakukan desinfeksi tingkat tinggi (DTT)
5. Mensterilisasi semua alat kesehatan bekas pakai kedalam
sterilisator.

6. Diagram Alir
TUTUP SPUIT SAMPAH KERING

ALAT TAJAM RS

SPUIT,MES,DLL SEFETI BOX

PEMISAHAN
ALAT
DEKONTAMINASI

ALAT TUMPUL CUCI BILAS


(INSTRUMEN) STERILISASI
DTT

PERENDAMAN
LAR. KLORIN

7. Unit terkait

8. Rekam Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl Mulai Diberlakukan


PELAPORAN PERKESMAS DARI Disahkan oleh
PUSKESMAS KE DINAS KESEHATAN Kepala
NO. UPT.Puskesmas
Dokumen : Melintang
DAFTAR
Terbitan :
No.
Revisi :
Puskesmas Girimaya TILIK Tgl Mulai
Berlaku : Hj. Dina, SKM NIP.
Halaman : 196311231988022001

Unit :

Nama Petugas :

Tanggal Pelaksanaan :

NO Langkah kegiatan Ya Tidak Tidak


Berlaku
1. Apakah Petugas Sudah ada data / laporan dari setiap
Perawat Pelaksana Perkesmas ?
2. Apakah Petugas sudah mengisi Format laporan yang
ditetapkan berdasarkan data yang ada ?
3. Apakah Petugas Mengetik dan Mencetak Laporan
hasil Kegiatan ?
4. Apakah Petugas Mengirim Laporan ke Dinas
Kesehatan ( Bagian Pelayanan Kesehatan )
Jumlah

Compliance rate ( CR ) ………………………..%

Pangkalpinang,

Pelaksana / Auditor

( )

NIP :
PENEMUAN SUSPEK TB PARU
No. Dokumen :
Terbitan :
No.Revisi :00
SPO Tgl.Mulai berlaku : 2 Januari 2017
Halaman :1 / 1

Puskesmas Girimaya Ditetapkan Oleh


Kepala Puskesmas
Girimaya

dr. Feilin Tanita


198111042010012020
1. Pengertian Cara / Metode menemukan secara cepat dan tepat kasus TB paru dengan
serangkaian kegiatan terdiri dari panjaringan suspek, diagnosa, penentuan
klasifikasi penyakit dan tipe pasien.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah – langkah untuk Penemuan Suspek TB
Paru
3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas Girimaya No.
4. Referensi Kemenkes RI ( 2014 ) Pedoman nasional pengendalian Tuberculosis
5. Prosedur / 1. Penemuan pasien secara pasif dengan penyuluhan aktif dengan
Langkah - melibatkan semua layanan dengan maksud untuk mempercepat
langkah penemuan dan mengurangi keterlambatan pengobatan.
2. Penemuan secara aktif dapat dilakukan terhadap
a.Kelompok Khusus yang rentan atau resiko tinggi sakit TB seperti
pasien dengan HIV AIDS
b.Kelompok yang rentan tertular seperti keluarga atau kontak pasien TB
terutama pasien TB BTA ( + )
c. Pemeriksaan anak < 5 tahun pada keluarga TB untuk menentukan
tindak lanjut apakah pengobatan TB / Pengobatan Pencegahan
d. Kontak dengan pasien TB resiten obat
3. Tahap awal penemuan dilakukan dengan menjaring mereka yang
memiliki gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama
2-3 mimggu atau lebih, batuk dapat diikuti gejala tambahan yaitu dahak
bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu
makan menurun, Berat badan turun, malaise, berkeringat malam hari
tanpa kegiatan fisik dan meriang lebih drai 1 bulan
4. Pengelola melakukan anamnesa dan mencatat mengenai
a.Berapa lama batuk?
b.berdahak / tidak ?
c.Dahak bercampur darah tidak ?
d.Sesak nafas / tidak
e.Nyeri dada /tidak ?
f.Kurang nafsu makan / tidak?
g.Berat badan turun / tidak ?
h.Riwayat kontak dengan pasien TBC ?
i.Apakah pernah minum obat paru paru selama < dari 1 bulan atau >
1 bulan ?
5. Mengisi buku formulir suspek TB 06
6. Pengelola memberikan penjelasan mengenai pentingnya pemeriksaan
dahak dan cara batuk yang benar untuk mendapatkan dahak yang
kental dan purulen, memberikan pot dahak sewaktu pertama dan
pengambilan dilakukan disamping Puskesmas
7. Memeriksa kekentalan, warna dan Volume dahak
8. Dahak yang baik untuk pemeriksaan adalah berwarna kuning kehijauan
( mukupurulen ) , kental, dengan volume 3- 5ml.bila volumenya kurang
pengelola harus meminta agar penderita batuk lagi sampai volumenya
mencukupi. Jika tidak ada dahak keluar, pot dahak dianggap sudah
terpakai dan harus dimusnahkan untuk menghindari kemungkinan
terjadinya kontaminasi kuman TB.
9. Memberikan label pada dinding pot yang memuat identitas sediaan
sesuai dengan TB 06
10. Memberikan pot dahak bagi yang sudah diberi label untuk diisi dirumah
penderita dan disuruh datang besok pagi membawa pot dahak paginya
dan kemudian petugas mengambil dahak sewaktu ke 2
11. Mengisi Form TB 05, mengirim sediaan ke lab
12. Menerima jawaban dengan form Tb 05, kemudian memasukkan hasil
pemeriksaan ke TB 06
13. Bila Hasil pemeriksaan BTA ( + ), merujuk ke dokter yang sudah dilatih
untuk memberikan pengobatan sesuai protap pengobatan TB
14. Bila hasil Pemeriksaan negatif, diberikan pengobatan dengan antibiotik
selama 2 minggu
15. Bila masih tetap batuk dilakukan pemeriksaan rontgen Thorax

6. Unit terkait Poliklinik Umum, MTBS, KIA, Laboratirium,lintas program, lintas sektor

7. Rekam Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl Mulai Diberlakukan


PENEMUAN SUSPEK TB
No. Dokumen :
Terbitan :
No.Revisi :00
SPO Tgl.Mulai berlaku : 2 Januari 2017
Halaman :1 / 1

Puskesmas Girimaya Ditetapkan Oleh


Kepala Puskesmas
Girimaya

dr. Feilin Tanita


198111042010012020
1. Pengertian Cara / metode menemukan secara cepat dan tepat kasus TB Paru dengan
serangkaian kegiatan terdiri dari penjaringan suspek, diagnosa, penentuan
klasifikasi penyakit dan tipe pasien.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah – langkah untuk penemuan suspek TB
3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas Girimaya No.
4. Referensi Pedoman nasional Pengendalian Tuberculosis

5. Prosedur/ Persiapan Alat :


Langkah- 1. Ruang Pengelola.
langkah 2. Pengelola P2 TB.
3. Meja, kursi dan kipas angin.
4. ATK dan buku register.
5. Buku penderita TB.05 dan TB.06
6. Pot dahak
Persiapan Pasien : Pasien diberi penjelasan tentang tujuan dan cara
pengobatan pasien
Prosedur :
1. Penemuan pasien TB secara pasif, dengan penyuluhan aktif dengan
melibatkan semua layanan dengan maksud untuk mempercepat
penemuan dan mengurangi keterlambatan pengobatan.
2. Penemuan secara aktif dapat dilakukan terhadap :
a. Kelompok khusus yang rentan atau resiko tinggi sakit TB seperti pasien
dengan HIV AIDS.
b. Kelompok yang rentan tertular TB (rumah tahanan), daerah kumuh,
keluarga atau kontak pasien TB, terutama mereka yang dengan TB
BTA positif.
c. Pemeriksaan anak < 5 tahun pada keluarga TB untuk menentukan
tindak lanjut apakah perlu pengobatan TB / pengobatan pencegahan.
d. Kontak dengan pasien TB resistan obat.
3. Tahap awal penemuan dilakukan dengan menjaring mereka yang
memiliki gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama
2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan
yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas,
nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat
malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan.
4. Pengelola melalukan anamnesa dan mencatat mengenai
· Berapa lama batuk ?
· Berdahak/tidak ?
· Dahak bercampur darah/tidak ?
· Sesak nafas /tidak ?
· Nyeri dada / tidak ?
· Kurang nafsu makan/tidak ?
· Berat badan menurun / tidak ?
· Riwayat kontak dengan penderita TBC ?... dan
· Apakah pernah minum obat paru-paru selama kurang dari 1 bulan atau
lebih dari 1 bulan ?
5. Mengisi buku daftar suspek form. TB.06
6. Pengelola memberi penjelasan mengenai pentingnya pemeriksaan
dahak dan cara batuk yang benar untuk mendapatkan dahak yang
kental dan purulen.
7. Memberikan pot dahak sewaktu kunjungan pertama dan pengambilan
dilakukan disamping Puskesmas.
8. Memeriksa kekentalan, warna dan volume dahak. Dahak yang baik
untuk pemeriksaan adalah berwarna kuning kehijau-hijauan
(mukopurulen), kental, dengan volume 3-5ml. Bila volumennya kurang,
pengelola harus meminta agar penderita batuk lagi sampai volumenya
mencukupi. Jika tidak ada dahak keluar, pot dahak dianggap sudah
terpakai dan harus dimusnahkan untuk menghindari kemungkinan
terjadinya kontaminasi kuman TBC

6. Diagram Alir

7. Unit terkait SOP

8. Rekam Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl Mulai Diberlakukan


PENGOBATAN TB PARU
No. Dokumen :
Terbitan :
No.Revisi :00
SPO
Tgl.Mulai berlaku : 2 Januari 2017
Halaman :1 / 1

Puskesmas Girimaya Ditetapkan Oleh


Kepala Puskesmas
Girimaya

dr. Feilin Tanita


198111042010012020
1. Pengertian Tata cara memberikan pengobatan penderita TB Paru sesuai tata laksana
pengobatan TB Nasional
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah – langkah untuk pengobatan TB Paru
3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas Girimaya No.
4. Referensi Kemenkes RI ( 2014 ) Pedoman nasional Pengendalian Tuberculosis

5. Prosedur/ Persiapan alat :


Langkah- 1. Register TB.05
langkah
2. Register TB.06
3. Form TB 01
4. Form TB 02
5. Form TB 03
6. Obat OAT
Persiapan pasien : berikan penjelasan tentang tindakan yang akan
dilaksanakan pada pasien
Prosedur :
- Pasien yang telah diperiksa dahaknya dipersilahkan masuk ke ruang
TB
- Pasien di beri penjelasan sesuai dengan hasil pemeriksaan dahak di
TB.05
- Untuk pasien dengan hasil BTA positif yang belum pernah
mendapatakan pengobatan < 1 bulan diberikan pengobatan dengan
OAT kategori 1, untuk pasien yang sudah pernah minum OAT > 1
bulan dirujuk untuk pemeriksaan test cepat, bila sensitif diberikan
pengobatan kategori II dan untuk pasien dengan BTA negatif dan
rongsent mendukung diberikan pengobatan dengan kategori I sesuai
berat badan pasien.
Dengan diagnosis pemberian sesuai tabel sebagai berikut:
Tabel .01 pemberian obat TB paru sesuai BB pasien

Berat Badan Tahap Intensif tiap hari Tahap lanjutan 3 kali


selama 56 hari RHZE seminggu selama 16
(150/75/400/275) minggu RH (150/150)
30 – 37 kg 2 tablet 4 KDT 2 tablet 2 KDT
38 – 54 kg 3 tablet 4 KDT 3 tablet 2 KDT
55 – 70 kg 4 tablet 4 KDT 4 tablet 2 KDT
> 71 kg 5 tablet 4 KDT 5 tablet 2 KDT

Setelah pengobatan tahap intensif akhir bulan ke II, dilakukan pemeriksaan


BTA, bila hasil negatif tahap lanjutan, kemudian dan bila hasil pemeriksaan
BTA positif segera berikan dosis tahap lanjutan ( tanpa OAT sisipan ) lakukan
pemeriksaan ulang dahak kembali setelah pemberian OAT tahap lanjutan 1
bulan. Apabila hasil pemeriksaan dahak ulang tetap positif, rujuk untuk
dilakukan test cepat monokuler. Bila hasil menunjukkan adanya resistensi,
pasien dinyatakan gagal, rujuk ke faskes rujukan Tb resisten obat.
Untuk BTA negatif setelah bulan ke II kemudian diperiksa dahak ulang pada
akhir bulan ke V bila hasil negatif dilanjutkan pengobatannya,dan dilakukan
pemeriksaan ulang pada akhir bulan ke VI bila hasil pemeriksaan pada bulan
ke VI negatif dan pada awal pengobatan positif pasien dinyatakan sembuh. Dan
bila pada akhir pengobatan negatif dengan rongsent positif pasien dikatakan
pengobatan lengkap.
6. Diagram Alir

7. Unit terkait SOP Pengelolaan Arsip Surat / Dokumen

8. Rekam Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl Mulai Diberlakukan


PENGAMBILAN SPUTUM SPS
No. Dokumen :
Terbitan :
No.Revisi :00
SPO
Tgl.Mulai berlaku : 2 Januari 2017
Halaman :1 / 1

Puskesmas Girimaya Ditetapkan Oleh


Kepala Puskesmas
Girimaya

dr. Feilin Tanita


198111042010012020
1. Pengertian Pengambilan sampel sputum pada saluran pernapasan pasien yang dicurigai
mengandung kuman Mycobacterium Tuberculosa dengan cara dibatukkan.
Sputum adalah sekret atau mukus yang dihasilkan dari paru-paru, bronkus dan
trakea.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah – langkah untuk pengambilan Sputum SPS
3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas Girimaya No.
4. Referensi Pedoman nasional Pengendalian Tuberculosis

5. Prosedur/ Persiapan alat


Langkah- 1. - Tempat pot sputum sebanyak tiga buah yg telah dituliskan identitsas pasien
langkah pada sisi luarnya (jangan pada tutupnya)
2. - Blanko permintaan pemeriksaan sputum BTA disertai dengan blanko TB 05
3. - Tissue
4. - Tempat khusus penempatan pot sputum yang sudah diambil
5. - Blanko permintaan pemeriksaan sputum BTA
6. - Air minum.

Persiapan pasien

1. Jelaskan pada pasien apa yang dimaksud dengan sputum (dahak) agar
yangdibatukkan benar-benar merupakan sputum, bukan air liur , darah atau
campuran antara keduanya
2. Jelaskan cara mengeluarkan sputum
3. Berikan pot sputum sebanyak tiga buah.

Prosedur

Cara pengambilan sputum


1. - Sebelum mengeluarkan sputum, pasien disuruh berkumur-kumur dengan air,
lepaskan gigi palsu jika ada
2. -Pasien dipersilakan ke tempat khusus pengambilan sputum
3. - Sputum diambil dari batukkan yang pertama
4. - Ajarkan cara batuk efektif.
5. Cara membatukkan sputum dengan menarik napas dalam dan kuat
(pernapasan dada)  kemudian batukkan sputum dari bronchus  trakea 
mulut  pot penampung
6. - Bila sudah, periksa sputum yang dibatukkan, bila ternyata yang dibatukkan
adalah air liur (saliva), maka pasien harus mengulang membatukkan sputum
7. Sebaiknya pilih sputum yang mengandung unsur-unsur khusus seperti butir
keju, darah dan unsur-unsur lain
8. - Bila sputum susah keluar, dapat diberikan obat glyseril gulaykolat
(ekspektoran) 200 mg atau dengan minum air teh manis saat malam sebelum
pengambilan sputum
9. - Pot penampung sputum diletakkan ditempat khusus yang telah ditentukan,
dilengkapi data-datanya dan siap dikirim ke laboratorium untuk dilakukan
pemeriksaan.

Cara pengiriman sputum


Sampel sputum yang dikirim ke laboratorium pemeriksaan harus disertai
dengan data sebagai berikut :
1. Pot sputum diberi label dengan menulis /menempelkan label pada dinding luar
pot. Proses directing labeling yang berisi data nama, umur, jenis kelamin, jenis
specimen, jenis test yang diminta dan tanggal pengambilan.
2. Formulir/ kertas/ buku yang berisi data keterangan klinis: dokter yang
mengirim, riwayat anamnesis, riwayat pemberian antibiotik terakhir (minima l3
hari harus dihentikan sebelum pengambilan spesimen), waktu pengambilan
spesimen, dan keterangan lebih lanjut mengenai biodata pasien.
3. Antar specimen dengan blanko permintaan ke laboratorium.

6. Diagram Alir

7. Unit terkait SOP Pengelolaan Arsip Surat / Dokumen

8. Rekam Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl Mulai Diberlakukan


PROFILAKSIS TB
No. Dokumen :
Terbitan :
No.Revisi :00
SPO Tgl.Mulai berlaku : 2 Januari 2017
Halaman :1 / 1

Puskesmas Girimaya Ditetapkan Oleh


Kepala Puskesmas
Girimaya

dr. Feilin Tanita


198111082010012020
1. Pengertian Profilaksis TB adalah usaha untuk mencegah terjadinya penularan penyakit TB
pada anak balita sehat, yang tinggal serumah dengan pasien TB paru BTA
positif.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah – langkah untuk pencatatan dan pelaporan
pasien Tb
3. Kebijakan Keputusan Kepala Puskesmas Girimaya No.
4. Referensi Pedoman nasional Pengendalian Tuberculosis,
www.lchrc.org/483.tuberculosis

5. Prosedur/ 1. Pasien datang dari rujukan poli TB, pasien MTBS, poli lain, atau rujukan
Langkah- eksternal
langkah
2. Lakukan scoring TB
3. Lakukan mantouxtes
(Suntikan 0.5 ml PPD SC pada lengan atas)
4. Rujuk untuk dilakukan pemeriksaan radiologi
5. Periksa indurasi yang terjadi setelah 2-3 hari. Memiliki nilai scoring 3 bila
indurasi ≥ 10 mm
6. Baca Hasil, bila hasil positif dan jumlah scoring ≥6 diberikan terapi TB Paru.
Bila hasil negatif dan jumlah scoring <6 diberikan terapi profilaksis TB
7. Dokumentasikan hasil pada rekam medik

6. Diagram Alir

7. Unit terkait 1. Poli PKPR


2. Poli MTBS
3. Balai Pengobatan Umum
4. Poli TB
8. Rekam Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl Mulai Diberlakukan