Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PERTUKARAN DAN DISTRIBUSI DALAM EKONOMI ISLAM


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Islam
Yang di bina oleh
Drs. Hidayat, M.Si

Oleh :
Kelompok 5 Prodi Akuntansi ( Semester II )

Anggota Kelompok :

1. ANA LUTVIA ( 17100003 )


2. BAGUS HERMAWAN ( 17100013 )
3. FIRDA APRILIA ( 17100031 )
4. MOHAMMAD ANASRULLOH ( 17100056 )

STIE AL – ANWAR MOJOKERTO


JL. BRANGKAL NO. 70 SOOKO MOJOKERTO KODE POS 61361
TELEPON ( 0321 ) 327-507 FAX (0321) 382-693
Email: stie_al_anwar@hotmail.co.id
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmatnya, sehingga
penulisan makalah ini dapat terselesaikan dan telah rampung. Makalah ini berjudul “
Pertukaran dan Distribusi Dalam Ekonomi Islam”. Dengan tujuan penulisan untuk memenuhi
tugas mata kuliah Ekonomi Islam.

Selain itu, penulisan makalah ini tak terlepes pula dengan tugas mata kuliah Ekonomi Islam.
Namun penulis cukup menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran Dosen mata kuliah Ekonomi Islam yang
bersifat membangun.

Mojokerto, 26 Maret 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

Cover

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan penulisan Makalah
1.4 Manfaat

Bab II Pembahasan

2.1 Pengertian Distribusi

2.2 Tujuan Distribusi

2.3 Nilai Yang Ada Dalam Distribusi Ekonomi Islam

2.4 Mekanisme Dalam Distribusi

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang
ekonomi. Salah satu tujuannya adalah untuk mewujudkan keadilan dalam pendistribusian
harta, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun individu. Keadilan dan kesejahteraan
masyarakat tergantung pada sistem ekonomi yang dianut.
Pertukaran sejak dahulu dan sampai sekarang menjadi sesuatu hal yang sangat
diperlukan bagi manusia. Karena secara individual manusia tidak dapat memenuhi
kebutuhannya sendiri. Dia tidak dapat memproduksi kebutuhan hidupnya mauoun segala
sesuatu yang dia perlukan. Dia tergantung kepada orang lain dalam segala hal. Dengan
demikian, mereka memenuhi keinginan melalui pertukaran. Oleh karena itu pertukaran
menempati tempat yang dangat fital di dalam ekonomi karena mengoordinasi dan
menyesuaikan konsumsi dan produksi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari distribusi ?


2. Apa tujuan distribusi ?
3. Nilai apa saja yang terdapat dalam distribusi ekonomi islam ?
4. Bagaimana mekanisme dalam distribusi ?
5. Apakah yang dimaksud pertukaran?
6. Apa saja macam- macam pertukaran?
7. Apa tujuan dari pertukaran?
8. Bagaimana hukum pertukaran dalam islam?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah

Tujuan dari penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas yang dibebankan oleh
Bapak Drs. Hidayat, M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Islam serta
untuk mengetahui penjelasan yang lebih konkrit mengenai pertukaran dan distribusi dalam
ekonomi islam agar bisa menambah pengetahuan bagi pembaca.

1.4 Manfaat

1. Dapat mengetahui penjelasan mengenai pertukaran dan distribusi dalam ekonomi


islam secara jelas
2. Terpenuhinya tugas yang dibebankan oleh dosen pembimbing mata kuliah ekonomi
islam
3. Memberikan tambahan pengetahuan tentang pertukaran dan distribusi dalam ekonomi
islam kepada pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Distribusi

Distribusi adalah suatu proses (sebagian hasil penjualan produk) kepada faktor-
faktor produk yang ikut menentukan pendapatan . Dalam kamus bahasa Indonesia
dijelaskan distribusi adalah penyaluran barang ketempat-tempat.
Menurut Collins distribusi adalah proses penyimpanan dan penyaluran produk kepada
pelanggan, diantaranya melalui perantara. Definisi yang diungkapkan oleh Collins
memiliki pemahaman yang sempit apabila dikaitkan dengan tujuan ekonomi islam. Hal
ini disebabkan karena definisi tersebut cenderung mengarah pada perilaku ekonomi yang
bersifat individual. Namun dari definisi diatas dapat ditarik suatu pemahaman, dimana
dalam distribusi terdapat proses pendapatan dan pengeluaran dari sumber daya yang
dimilki oleh negara.
Sementara Anas Zarqa mengemukakan bahwa definisi distribusi itu sebagai suatu
transfer dari pendapatan kekayaan antara individu dengan cara pertukaran (melalui pasar)
atau dengan cara lain, seperti warisan, shadaqah, wakaf dan zakat
Jadi konsep distribusi menurut pandangan islam ialah peningkatan dan pembagian
bagi hasil kekayaan agar sirkulasi kekayaan dapat ditingkatkan, sehingga kekayaan yang
ada dapat melimpah dengan merata dan tidak hanya beredar di antara golongan tertentu
saja serta dapat memberikan kontribusi kearah kehidupan manusia yang baik

2.2 Tujuan Distribusi

Semua pribadi dalam masyarakat harus memperoleh jaminan atas kehidupan yang
layak. Atas dasar dapat kita lihat beberapa tujuan ekonomi islam yaitu sebagai berikut:

1. Islam menjamin kehidupan tiap pribadi rakyat serta menjamin masyarakat agar tetap
sebagai sebuah komunitas yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
2. Islam menjamin kemaslahatan pribadi dan melayani urusan jamaah, serta menjaga
eksistensi negara dengan kekuatan yang cukup sehingga mampu memikul tanggung
jawab perekonomian negara.
3. Mendistribusikan harta orang kaya yang menjadi hak fakir miskin, serta mengawasi
pemanfaatan hak milik umum maupun negara.
4. Memberikan bantuan sosial dan sumbangan berdasarkan jalan Allah agar tercapai
maslahah bagi seluruh masyarakat.

2.3 Nilai Yang Ada Dalam Distribusi Ekonomi Islam

Dalam menjalankan disrtibusi ada beberapa nilai yang ada diantaranya:

1. Akidah
Akidah mempunyai peran yang penting dalam kehidupan manusia. Ia mempunyai
dampak yang kuat dalam cara berpikir seseorang. Akidah begitu kuat pengaruhnya
sehingga dapat mengendalikan manusia agar mau mengikuti ajaran yang diembannya.

2. Moral

Moral berasal dari kata moralis. Disini moralitas menunjuk kepada perilaku
manusia itu sendiri. Hukum yang berlaku pada moralitas berbeda dengan hukum formal.
Pada hukum formal memberi sanksi jika melanggar. Akan tetapi hukum moral tidak
tetapi menembus kedalam sehingga melihat hal yang bersifat niatnya saja. Misalnya
dalam kasus orang yang bersedekah, hukum moral memandang niat dari sedekah ini. Jika
niatnya baik demi menolong orang yang lemah maka sedekah ini baik dan berarti pula
sama persis dengan nilai moral. Tapi jika niatnya jelek hanya untuk riya’ (show belaka)
maka sedekah demikian dianggap salah dan divonis sebagai tindakan yang tidak
berakhlakul karimah.

3. Hukum Syariah

Dengan adanya hukum syariah agar dalam menjalankan kegiatan ekonomi ada
batasannya yaitu sesuai dengan jalan Al-Quran dan sunnah.

4. Keadilan

Keadilan merupakan nilai yang paling asasi dalam ajaran islam. Menegakkan
keadilan dan memberantas kezaliman adalah tujuan utama dari risalah para rasul-Nya
(QS 57:25). Dengan berbagai muatan adil tersebut secara garis besar keadilan dapat
didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terdapat kesamaan perlakuan dimata hukum,
kesamaan hak kompensasi, hak hidup secara layak, hak menikmati pembangunan.
Berdasarkan muatan makna adil yang ada dalam Al-Quran, maka hal ini bisa diturunkan
menjadi berbagai nilai turunan yaitu:

a) Persamaan Kompensasi

Persamaan kompensasi adalah pengertian adil yang paling umum yaitu seseorang
harus memberikan kompensasi yang sepadan kepada pihak lain sesuai dengan
pengorbanan yang telah dilakukan . Komponen yang ada dalam kompensasi tersebut
antara lain: upah dan ongkos.

b) Persamaan Hukum

Persamaan hukum disini memberikan makna bahwa setiap orang harus


diperlakukan sama didepan hukum. Tidak boleh ada diskriminasi terhadap seseorang
didepan hukum atas dasar apapun juga. Dalam transaksi ekonomi tidak ada alasan untuk
melebihkan hak suatu golongan atas golongan yang lain karena kondisi yang berbeda.
Kesejahteraan dan hasil pembangunan harus didistribusikan kepada orang dan tidak
mengumpul pada kelompok tertentu.

c) Proporsional
Adil tidak selalu diartikan sebagai kesamaan hak, namun hak ini disesuaikan
dengan ukuran setiap individu atau proporsinal, baik dari sisi kebutuhan, kemampuan,
pengorbanan, tanggung jawab ataupun kontribusi yang telah diberikan seseorang. Suatu
distribusi yang adil tidak selalu harus merata, namun tetap memperhatikan ukuran dari
masing-masing individu yang ada, mereka yang ukurannya besar perlu memperoleh besar
dan yang kecil memperoleh jumlah yang kecil pula.

2.4 Mekanisme Dalam Distribusi

Masalah ekonomi terjadi apabila kebutuhan pokok (al-hajatu al-asasiyah) untuk semua
pribadi manusia tidak tercukupi. Dan masalah pemenuhan kebutuhan pokok merupakan
persoalan distribusi kekayaan. Dalam mengatasi persoalan distribusi tersebut harus ada
pengaturan menyeluruh yang dapat menjamin terpenuhi seluruh kebutuhan pokok
pribadi, serta menjamin adanya peluang bagi setiap pribadi masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan pelengkapnya.

Dalam persoalan distribusi kekayaan yang muncul, islam melalui sistem ekonomi islam
menetapkan bahwa berbagai mekanisme tertentu yang digunakan untuk mengatasi
persoalan distribusi. Mekanisme distribusi yang ada dalam ekonomi islam secara garis
besar dikelompokan menjadi dua kelompok mekanisme, yaitu: mekanisme ekonomi dan
mekanisme nonekonomi.

1. Mekanisme Ekonomi

Mekanisme ekonomi adalah mekanisme distribusi dengan mengandalkan kegiatan


ekonomi agar tercapai distribusi kekayaan. Mekanisme ini dijalankan dengan cara
membuat berbagai ketentuan dan mekanisme ekonomi yang berkaitan dengan distribusi
kekayaan. Dalam menjalankan distribusi kekayaan, maka mekanisme ekonomi yang
ditempuh pada sistem ekonomi islam diantaranya manusia yang seadil-adilnya dengan
cara berikut:

a. Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya sebab-sebab hak milik


(asbabu al-tamalluk ) dalam hak milik pribadi (al-milkiyah al-fardiyah).
b. Memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya pengembangan hak
milik (tanmiyatu al-milkiyah) melalui kegiatan investasi.
c. Laranagn menimbun harta benda walaupun telah dikeluarkan zakatnya. Harta yang
ditimbun tidak akan berfungsi ekonominya. Pada gilirannya akan menghambat
distribusi karena tidak terjadi perputaran harta.
d. Membuat kebijakan agar harta beredar secara luas serta menggalakkan berbagai
kegiatan syirkah dan mendorong pusat-pusat pertumbuhan.
e. Larangan kegiatan monopoli, serta berbagi penipuan yang dapat mendistorasi pasar.
f. Laranagn kegiatan judi, riba, korupsi pemberian suap dan hadiah kepada penguasa.
g. Pemanfaatan secara optimal (dengan harga murah atau cuma-cuma ) hasil dari barang-
barang dari SDA milik umum (al-milkiyah al-amah) yang dikelola negara seperti hasil
hutan, barang tambang, minyak, listrik, air dan sebagainya demi kesejahteraan rakyat.
Dengan disiplinnya pengelolaan dan pemanfaatan harta-harta yang menjadi milik
umum, maka hasilnya dapat didistribusikan kepada seluruh masyarakat secara cuma-cuma
atau dengan harga yang murah. Dan jika terjadi kenaikan harga harus megikuti kenaikan
pendapatan rata-rata penduduk. Dalam islam adanya tingkat harga yang wajar atau adil
bukan sebuah keringanan melainkan hak fundmental yang dijamin hukum negara.

2. Mekanisme Nonekonomi

Didukung oleh sebab-sebab tertentu yang bersifat alamiah, misalnya keadaan alam
yang tandus, badan yang cacat, akal yang lemah atau terjadi musibah bencana alam,
dimungkinkan terjadinya kesenjangan ekonomi dan terhambatnya distribusi kekayaan
kepada orang-orang yang memilki faktor-faktor tersebut. Dengan ekonomi biasa, maka
distribusi kekayaan tidak akan berjalan dengan baik karena orang-orang yang memiliki
hambatan yang bersifat alamiah tadi tidak dapat mengikuti aturan kegiatan ekonomi secara
normal sebagimana orang lain. Bila dibiarkan maka orang-orang itu tergolong tertimpa
musibah (kecelakaan, bencana alam dan sebagainya) makin terpuruk secara ekonomi. Oleh
karena itu agar tercapai keseimbangan dan kesetaraan ekonomi maka dapat dilakukan hal-
hal berikut:

a. Pemberian negara kepada rakyat yang membutuhkan


b. Zakat
c. Warisan
d. Shadaqah
 Shadaqah wajibah (wajib dan khusus dikenakan bagi orang muslim) adalah:
1. Nafaqah
Kewajiban tanpa syarat dengan menyediakan kebutuhan yang diberikan
kepada pihak atau orang-orang yang menjadi tanggungannya. Nafkah tersebut
ditujukan untuk enam kelompok: diri sendiri, istri, saudara, pembantu wanita,
budak dan hewan peliharaan.
2. Udhiyah
Kurban binatang ternak pada saat hari raya idul adha dan hari tasyirik
3. Musaadah
Bantuan kepada orang lain yang sedang terkena musibah, tanpa ada pamrih
apapun.
4. Jiwar
Bantuan yang diberikan kepada tetangga, hal ini dianjurkan oleh nabi seperti
diungkapkan dalam hadis berikut “ barang siapa yang beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya, maka hormatilah tetanggamu.”
5. Diyafah
kegiatan memberikan jamuan kepada tamu yang datang.

 Shadaqah Nafilah (sunnah dan khusus dikenakan bagi orang muslim) adalah:
1. Infaq
Sedekah yang diberikan kepada orang lain jika kondisi keuangan rumah
tangganya sudah berda diatas nisab. Jadi seseorang muslim tidak dituntut untuk
mendistribusikan hartanya untuk infaq sebelum memenuhi kewajiban membayar
zakat.
2. Aqiqah
Kegiatan pemotongan kambing untuk anak yang dimikinya (dilahirkannya), satu
ekor untuk anak perempauan dan dua ekor untuk anak laki-laki.
3. Wakaf
Menahan suatu benda untuk diambil manfaatnya untuk kepentingan umum sesuai
dengan ajaran islam.
4. Wasiat
Pendistribusian harta kepada orang lain setelah pemilik harta tersebut meninggal,
makksimal 1/3 harta yang ditinggalkan (warisan)
e. Ganti rugi terhadap kejahatan yang dilakukan seseorang kepada orang lain
Distribusi harta dapat juga terjadi karena adanya ganti rugi (kompensasi) dari
kemudharatan yang menimpa seseorang. Seseorang bisa mendapatkan harta tanpa
harus mengeluarkan curahan harta tenaga karena dia mendapat ganti rugi sebagai
akibat kemudaharatan yang dilakukan orang lain kepadanya. Kegiatan tersebut antara
lain:
1. Kafarat
Tebusan terhadap dosa yang dilakukan oleh orang muslim, semisal melakukan
hubungan suami istri pada siang hari di bulan Ramadhan. Salah satu pilihan
hukuman adalah memberikan makan fakir miskin sebanyak 60 orang.
2. Dam/diyat
Tebusan atas tidak dilakukannya suatu syarat dalam pelaksanaan ibadah,
seperti tidak melakukan puasa tiga hari pada saat melaksanakan ibadah haji.
Tarifnya setara dengan seekor kambing.
3. Nudzur
perbuatan untuk menafkahkan atau mengorbankan sebagian harta yang
dimilikinya untuk mendapatkan ridha Allah Swt atas keberhasilan pencapaian
sesuatu yang menjadi keinginannya. Sipelaku dapat menentukan sendiri.
f. Barang Temuan
Salah satu bentuk distribusi harta secara nonekonomi adalah penguasaan
seseorang atas harta temuan sehingga apabila ada seseorang telah menemukan suatu
barang dijalan atau disuatu tempat umum, maka harus diteliti terlebih dahulu: apabila
barang tersebut memungkinkan untuk disimpan dan diumumkkan. Misalnya emas,
perak, permata dan pakaian, maka barang tersebut harus disimpan dan diumumkan
untuk dicari siapa pemiliknya. Jika selama dalam pengumuman ada pemiliknya yang
datang maka harta tersebut harus diserahkan. Akan tetapi jika tidak ada yang datang
atau tidak ada yang dapat membuktikan bahwa harta tersebut memang miliknya maka
harta tersebut menjadi milik orang yang menemukan dan harus dikeluarkan khums
(1/5) dari harta tersebut sebagai zakatnya.
2.5 Pengertian pertukaran

Pertukaran berarti transfer suatu barang dengan barang lainnya atau dengan uang.
Jadi, semua transaksi komersial dan bisnis yang melibatkan transfer dari satu barang ke

barang lainnya- mungkin satu komoditas dengan komoditas lainnya atau komoditas
dengan uang disebut pertukaran.

Saat inipun barter masih ada di masyarakat yang terbelakang atau di desa- desa
kacil. Tapi pada umumnya pertukaran ini memberi tempat kepada uang sebagai media
pertukaran, karena nilai komoditas ataupun jasa dapat dengan mudah dan cepat
diterjemahkan kedalam arti uang.

Di dalam agama Islam terdapat teori pertukaran, yaitu:

1. Objek pertukaran

Fiqih membedakan dua jenis obyek pertukaran, yaitu:

a. ‘Ayn (real asset) berupa barang dan jasa.


b. Dyn (financial asset) berupa uang dan surat berharga.

2. Waktu pertukaran

Fiqih membedakan dua waktu pertukaran, yaitu:

a. Naqdan (immediate delivery) yang berarti penyerah saat itu juga.


b. Ghairu naqdan (deferren delivery) yang berarti penyerahan kemudian.

Dari segi objek pertukaran, dapat di identifikasi tiga jenis pertukaran, yaitu:

a. Pertukaran real assest (‘ayn) dengan real asset (‘ayn).


b. Pertukaran real asset (’ayn) dengna financial asset (dayn).
c. Pertukaran financial asset (dayn) dengna financial asset (dayn).

2.6 Macam – Macam Pertukaran Dalam Ekonomi Islam

Bentuk maupun metode pertukaran secara umum pertukaran ada dua bentuk, yaitu:
barter dan menggunakan uang. Pertukaran barter atau perdagangan barter berlangsung
dizaman kuno dan dizaman pertengahan. Uang juga terdiri dari berbagi bentuk pula, yaitu
: dari koin logam terutama emas dan perak, hingga uang kertas bank.
a. Barter
Di masa kebangkitan Islam, yaitu : di awal abad ke-6 Masehi, uang koin sudah
dikenal oleh masyarakat dalam berbagai bentuk dan pecahan beredar di antara
mereka yang kemudian menjadi masyarakat modern. Para pedagang Arab yang
sering berhubungan dengan negeri-negeri lain tidak hanya mengetahui koin tersebut
melainkan juga menggunakannya dalam transaksi bisnis mereka. Meskipun demikian,
barter masih digunakan dan sejumlah transaksi besar masih dilakukan dengan cara
barter terutama di sektor pertanian.

Nabi Muhammad SAW dengan jelas menyaksikan unsur-unsur eksploitasi,


ketidakadilan dan riba serta berbagai penyakit ekonomi didalam sistem pertukaran
barter.Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW mengganti sistem pertukaran barter
dengan sistem pertukaran menggunakan uang. Beberapa hadis yang menunjukkan
sikap Nabi Muhammad SAW terhadap sistem pertukaran.

Umar mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Menukar gandum


dengan gandum, bur dengan bur, kurma dengan kurma adalah riba, kecuali jika
dilakukan dari tangan ke tangan (yaitu transaksi diselesaikan ditempat) dan dalam
jumlah yang sama.(Bukhori dan Muslim)

Abu Sa’id dan Abu Hurairah melaporkan bahwa Nabi Muhammad SAW menunjuk
seseorang sebagai pengumpul zakat di Khaibar. Ia kembali kepada beliau dengan
membawa kurma yang terbaik. Beliau pun bertanya “Apakah kurma Khaibar sebaik
ini?” “Demi Allah, tidak” jawabanya. “ Wahai Nabi, kami menukar satu Sha’ kurma
ini dengan dua Sha’ dan dua Sha’ dengan tiga Sha’”. Nabi lalu bersabda: “Jangan
lakukan itu. JuAllah kurmamu dengan dirham lalu selanjutnya belilah kurma terbaik
dengan dirham pula.”(Bukhori dan Muslim)

Abu Sa’id Al-Khudri mengatakan bahwa pada suatu hari Bilal menjumpai Rasulullah
SAW dengan membawa kurma hijau. Rasulullah SAW bertanya: “Dari mana kau
dapat kurma ini?”. Bilal menjawab: “Kami memiliki kurma berkualitas rendah.
Karena itu kami menukarkan dua Sha’ kurma buruk itu dengan satu Sha’ kurma baik
ini untuk kami hadiahkan kepada Nabi,”

Mendengar itu, Nabi bersabda: “…itu riba yang amat jelas. Jangan lagi lakukan itu;
jika kau ingin mendapat kurma yang berkualitas baik, maka juAllah kurma yang
berkualitas buruk itu lalu belilah kurma yang berkualitas baik.”(Bukhori)

Nabi Muhammad SAW melarang transaksi barter. Pertukaran dua komuditas yang
sama beliau melarangnya kecuali jika jumlahnya sama dan berlangsung seketika.
Nabi Muhammad SAW dengan jelas melarang para sahabat beliau melakukan
transaksi barter. Sebaliknya, beliau menyuruh mereka menjual komoditas mereka,
lalu dengan uang itu mereka dapat membeli komoditas yang mereka inginkan.
Perintah tersebut sebagian untuk menghapus praktik riba didalam transaksi
komersial, dan sebagian lagi untuk mendorong digunakannya uang sebagai alat tukar.
b. Transfer/Pertukaran Barang dan Uang dalam Islam:
1. Perdagangan
Islam mengakui peranan perdangangan untuk mendapatkan keberuntungan dan
kebesaran. Terdapat banyak ayat AL-Qur’an mengenai perdangangan dan jual
beli. Nabi Muhammad SAW menyoroti arti penting perdagangan dalam beberapa
ayat AL-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW mengenai perdagangan.
Ayat-ayat Al-Qur’an:
a. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku akan tunjukkan suatu
perdagangan yang dapat menyelamatkan dari azab yang pedih? (yaitu) kamu
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta
dan jiwa. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahu (QS. Ash-Shaff
[61]: 10-11)
b. Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat
Jum’at , maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual
beli. Dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya
kamu beruntung. (QS. Al-Jumu’ah [62] : 9-

Islam memadukan dan mempersatukan antara kegiatan bisnis dan akhlak. Bahkan
di Hadis yang ketiga mempersamakan kedudukan pedagang yang jujur dan benar
dengan kedudukan para nabi.

2. Jual beli
Transaksi yang berlangsung jujur dan adil amatlah ditekankan dalam perdagangan
atau bai’ oleh Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW. Ayat Al-Qur’an : “dan
janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas
waktu membayarnya. Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat
menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu.
(Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang
kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak
menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli;dan janganlah penulis
dan saksi saling menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka
sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah
kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. Al-Baqarah [2]: 282)

Jenis-jenis Jual Beli :

a. Muqa’izah adalah jual beli barang dengan barang


b. Sharf adalah jual beli tunai dengan tunai
c. Salam adalah jual beli dengan penyerahan barang di belakang
d. Mutlaq adalah jual beli bebas barang dengan uang

2.7 Tujuan Pertukaran

2.8 Hukum Pertukaran Dalam Islam

a) BERSUMPAH DALAM PERDAGANGAN

Biasa terjadi di zaman Nabi Muhammad, sebagaimana sekarangpun, penjual bersumpah


mengenai barang daganganya untuk menyakinkan pembeli bahwa barangnya berkualitas
tinggi sekalipun sebenarnya buruk. Praktik seperti itu dengan tegas dikutuk baik oleh Al-
Qur’an maupun oleh Nabi.

Ayat dalam Al- Quran

“Allah tidak menghukummu disebabkan sumpah- sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk
bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan karena sumpah yang kamu
sengaja.” (QS. Al- Maa’idah[5]:89)

Hadist Nabi Muhammad SAW

“berhati- hatilah dengan banyak bersumpah dalam berjualan, karena dengan cara itu
penjualan memang meningkat tetapi tercabut (barokahnya).” (Muslim)

b) TRANSAKSI FORWARD

Islam menolak bisnis yang melibatkan transaksi forward. Nabi Muhammad SAW
melarang penjualan barang yang belum dimiliki. Tak dapat diragukan lagi bahwa
memperdagangkan barang yang belum di miliki mengandung potensi penipuan dan
kekecewaan di belakang. Jika hal itu berlaku dalam perdagangan surat berharga,
akibatnya dapat lebih luas lagi. Telah terbuktikan oleh teori ekonomi modern bahwa trade
cycles, yang menyebabkan gangguan dalam perekonomian sabagian disebabkan oleh
kegiatan orang-orang yang tenggelam dalam transaksi forward ini.

c) BISNIS SPEKULATIF

Spekulatif adalah suatu fenomena pembelian sesuatu pada harga murah dengan harapan
dapat menjualnya di masa yang akan datang dengan harga mahal. Jika harga sutau objek
di masa yang akan datang diharapkan lebih tinggi dari pada harga saat saat ini, maka
seorang pembeli spekulatif akan membelinya dengan sebuah harapan untuk menjualnya
di masa yang akan datang.

Nabi Muhammad SAW pernah mengutuk mentalitas penimbun dengan bersabda, “dia
adalah orang yang amat buruk, yang bersedih ketika harga rendah, dan bergembira ketika
harga mahal.” (Bukhari)

d) UKURAN, TIMBNGAN, DAN TAKARAN

Menipu pembeli atau konsumen serta mencederai kepentingan mereka dengan alat ukur
palsu amatlah dilarang dengan tegas oleh Islam. Al-Qur’an dengan kertas mengutuk
praktik ukuran palsu ini di antara bangsa-bangsa masa lalu, terutama bangsa Madyan,
tempat Nabi Syu’aib melaksanakan tugas kenabiannya. Kaum mukminin telah
diperingatkan agar menggunakan alat ukur yang benar dan seimbang untuk menghindari
hukuman Allah.

e) MONOPOLI

Monopoli terjadi jika pasokan barang atau jasa berada di tangan satu bangsa atau satu
organisasi bisnis saja. Monopoli mengendalikan pasokan barang atau jasa tertentu serta
menetapkan harganya menurut pertimbangannya sendiri dengan mengabaikan
kepentingan konsumen atau kepentingan publik. Islam tidak mengizinkan pendirian
monopoli atas barang maupun jasa, karena membahayakan kepentingan masyarakat luas.

f) KONTROL HARGA

Kelangkaan barang secara artifisial yang diciptakan oleh pebisnis tak bermoral pada
umumnya memiliki akibar harga. Itu dapat terjadi karena berlangsunngya bisnis
spekulatif, penimbunan, pasar gelap, atau penyelundupan. Muslim yang benar tidak akan
melakukan penimbunan maupun spekulasi.

Nabu Muhammad SAW tidak bersedia melakukan campur tangan dengan menetapkan
atau mengontrol harga, beberapa langkah sering dilakukan oleh Rasul untuk meniadakan
penimbunan, menghapus monopoli serta melarang nisnis spekulasi, agar harga tidak akan
meningkat secara tidak wajar.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Manusia di dunia tidak akan mampu untuk hidup dengan sendirinya, karena antara
satu makhluk dengan yang lainnya saling membutuhkan. Begitulah Islam mengajarkan
kita untuk saling menolong dalam kebaikan. Melalui distribusilah kita mampu
menghasilkan sesuatu yang kita butuhkan, seperti keperluan rumah tangga, maupun jasa.
Hubungan antara produsen, distributor, dan konsumen, satu sama lain tidak dapat
dipisahkan.
3.2 Saran
Kita sebagai generasi Islam hendaknya bersatu dan bangkit untuk membungkus
eksploitasi dengan kemakmuran. pembagian distribusi yang didapatkan selarasnya
dijalankan dengan seadil-adilnya. Demikian dengan berakhirnya tulisan kami yang sangat
sederhana ini. Semoga kita dapat memetik pelajaran dan hikmah, serta dapat dijadikan
modal awal untuk memperdalam pembahasan akan pertukaran dan distribusi dalam
ekonomi islam.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Hanif, Rifkky dkk. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Sinar Kurnia

An-Nabahan ,M Faruq.Sistem Ekonomi Islam, Yogyakarta: UII Press Yoyakarta,2002


Chapra, M Umar dkk. Etika Ekonomi Politik.Surabaya: Risalah Gusti,1997
Ilmi, Makhalul.Teori dan Praktek Mikro Keuangan Syariah. Yogyakarta: UII Press
Yoyakarta,2002
Haider Naqvi, Syed Nawab.Menggagas Ilmu Ekonomi Islam.Yogyakarta: Pustaka
Pelajar,2003
Nasutin, Mustafa Edwin dkk.Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana Prenada
media Group,2006
Nawawi, Ismail.Ekonomi Islam. Surabaya: Cv. Putra Media Nusantara,2009
Pusat Pengkajian dan Pengambangan ekonomi (P3EI).Ekonomi Islam.Jakarta: PT.Raja
Grafindo,2008
Rahardjo, M Dawam..Etika Ekonomi dan Manajemen. Yogyakarta: Pt.tiara Wacana1990
Sholahuddin, Muhammad.Asas-Asas Ekonomi Islam. Jakarta: PT.Raja Grafindo. 2007
Siddiqi, Muhammad Nejatullah. Kegiatan Ekonomi Dalam Islam. Jakarta: Bumi Aksara,1991
http:sescipb.co.cc/index.php?option=com conten&view=article&id=53:distribusi-
pendapatan&catid=39:makro&itemid=54
http://p3ei.blogdetik.com/distribusi-pendapatan/
http://dansite.wordpress.com/2009/03/25/pengertian-distribusi/
http://kanal3.wordpress.com/2010/05/20/%E2%80%9Cstudy-hadits-ekonomibagaimanakah-
konsep-distribusi-dalam-islam/
http://makalah-perkuliah.blogspot.co.id/2012/06/distribusi-dalam-ekonomi-islam.html
https://agungeducated.wordpress.com/2016/06/19/pertukaran-dalam-ekonomi-islam/