Anda di halaman 1dari 3

RM

Mengapa dokter meneruskan terapi yang sama padahal keluhan tidak membaik?

Kemungkinan pertama karena gejala yang ada pada pasien masih belum sembuh atau menghilang sehingga
diberikan obat yang sama. Kemungkinan kedua, obat yang diterima pasien telah habis karena dokter hanya
meresepkan obat cefadroxil untuk 3 hari. Hal lain juga dapat mendasari tindakan dokter tersebut karena
pasien kembali ke puskesmas sebelum masa pemakaian obat khususnya cefadroxil sebagai antibiotic
spectrum luas yang seharusnya tetap dikonsumsi selama 10 hari (pemakaiannya belum optimal), sehingga
dokter meresepkan obat yang sama untuk pemakaian lebih lanjut selama 5 hari untuk mengeradikasi bakteri
pada tubuh pasien sembari menunggu hasil dari kultur swap tenggorok keluar dan dapat dipastikan
bakterinya.

Faktor Resiko

Tonsilitis dan faringitis termasuk ke dalam ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) yang
disebabkan oleh beberapa factor. Terdapat tiga faktor resiko penyebab terjadinya ISPA secara umum yaitu
faktor lingkungan, faktor individu anak, serta faktor perilaku (Depkes RI, 2004).

- Faktor lingkungan misalnya, polutan udara, kepadatan anggota keluarga, keterbatasan tempat
penukaran udara bersih (ventilasi), kelembaban, kebersihan, musim, temperatur.
- Faktor individu anak atau faktor keadaan anak dimana anak yang mudah sekali terkena
penyakit ISPA. Umur anak, status kondisi anak saat lahir, status kekebalan tubuh anak, status
gizi anak, dan status kelengkapan imunisasi anak merupakan faktor anak itu mudah sekali
terserang penyakit ISPA.
- Faktor perilaku yang memperparah insidensi ISPA yaitu perilaku yang kurang baik tercermin
dari belum terbiasanya melakukan cuci tangan, membuang sampah, dan meludah di sembarang
tempat. Kesadaran untuk mengisolasi diri dengan cara menutup mulut dan hidung pada saat
bersin atau padaa saat flu supaya tidak menular ke orang lain masih sangat rendah.

Menurut sebuah penelitian terhadap siswa taman kanak-kanak yang dilakukan oleeh bagian ilmu
penyakit dalam FK UNAND mengenai faktor yang berhubungan dengan ISPA, ditemukan bahwa faringitis
yang dikaitkan dengan tembakau memberi pengaruh kenaikan angka penderita faringitis. Merokok
dikatakan sebagai penyebab yang paling sering menimbulkan tenggorokan kering yang mengganggu.
Pasien-pasien ini mulai mempunyai gejal-gejala serak ringan dan akhirnya mempunyai kesulitan serta
faringitis sika yang jelas. Tenggorokan dari perokok berat dengan mudah dikenali oleh mukosa faring yang
kering, mengkilat dan hiperemis. Menghindari merokok secara total diperlukan untuk mengatasi masalah
kronis ini (Widyanata, 2017).
Menurut PPK dokter di fasilitas pelayanan primer (2014), terdapat beberapa faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap penyakit infeksi tonsillitis dan faringitis, yaitu antara lain.
 Faktor Risiko Faringitis
1. Usia 3 – 14 tahun.
2. Menurunnya daya tahan tubuh.
3. Konsumsi makanan dapat mengiritasi faring
4. Gizi kurang
5. Iritasi kronik oleh rokok, minum alkohol, makanan, refluks asam lambung, inhalasi uap yang
merangsang mukosa faring.
6. Paparan udara yang dingin.

 Faktor Risiko Tonsilitis


1. Faktor usia, terutama pada anak.
2. Penurunan daya tahan tubuh.
3. Rangsangan menahun (misalnya rokok, makanan tertentu).
4. Higiene rongga mulut yang kurang baik.
5. Riwayat alergi
Beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian Tonsilitis Kronis, yaitu rangsangan kronis (rokok,
makanan), higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah- ubah),
alergi (iritasi kronis dari allergen), keadaan umum (kurang gizi, kelelahan fisik), pengobatan tonsilitis akut
yang tidak adekuat (Rusmarjono, 2009).

Dapus :

Rusmarjono dan Soepardi, EA. 2009. Faringitis, Tonsilitis, dan Hipertrofi Adenoid. Dalam Soepardi, Efiaty
Arsyad, et al., Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. ed 6. Jakarta:
FKUI. p. 217-225

Widyanata A, Somia A. 2017. Faktor yang Berhubungan dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada
Siswa Taman Kanak-kanak di Kelurahan Dangin Puri Kecamatan Denpasar Timur Tahun 2014. Bali:
Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Program Studi Pendidikan Dokter, FK UNUD. ISSN: 2303-1395 E-JURNAL
MEDIKA, VOL. 6 NO.6, JUNI, 2017
Departemen Kesehatan RI. 2004. Pedoman Program Pemberantasan Penyakit ISPA untuk
Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta: Depkes RI.