Anda di halaman 1dari 3

TUGAS SEJARAH

Disusun oleh :
Ketua : Gustam Kendu
Anggota : 1. Rini Andriani
2. Hendra Setiawan
Kelas XC
2015
“Tradisi Ekstrim Potong Jari di Papua”

Indonesia memiliki banyak sekali tradisi, baik tradisi tentang kebudayaan ataupun
tradisi tentang agama. Setiap pulau di Indonesia memiliki tradisi yang berbeda-beda,
mulai dari sabang hingga merauke tradisi tersebut merwarnai kebudayaan di Indonesia.
Akan tetapi tradisi yang sangat berbeda di tunjukan oleh para masyarakat di Papua.

Biasanya mereka akan melumuri dirinya dengan lumpur untuk jangka waktu
tertentu. Namun yang membuat budaya mereka berbeda dengan budaya kebanyakan
suku di daerah lain adalah memotong jari mereka.

Hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh para Yakuza (kelompok organisasi
garis keras terkenal di Jepang) jika mereka telah melanggar aturan yang telah ditetapkan
oleh organisasi atau gagal dalam menjalankan misi mereka. Sebagai ungkapan
penyesalannya, mereka wajib memotong salah satu jari mereka. Bagi masyarakat
pengunungan tengah, pemotongan jari dilakukan apabila anggota keluarga terdekat
seperti suami, istri, ayah, ibu, anak, kakak, atau adik meninggal dunia.

Hal ini dilakukan oleh masyarakat suku Dani, karena


mereka percaya bahwa seseorang yang sudah mati
masih mempunyai hubungan dengan manusia yang
hidup, agar hubungan tersebut seimbang, maka
manusia yang ditinggal mati harus menyerahkan
sebagian dari rohnya kepada orang yang meninggal
tersebut, sehingga jari merekalah yang menjadi
sasaran pengorbanan tersebut.
Pemotongan jari ini melambangkan
kepedihan dan sakitnya bila kehilangan anggota
keluarga yang dicintai. Ungkapan yang begitu
mendalam, bahkan harus kehilangan anggota
tubuh. Bagi masyarakat pegunungan tengah,
keluarga memiliki peranan yang sangat penting.
Bagi masyarakat Balim Jayawijaya kebersamaan
dalam sebuah keluarga memiliki nilai-nilai
tersendiri. Pemotongan jari itu umumnya
dilakukan oleh kaum ibu. Namun tidak menutup
kemungkinan pemotongan jari dilakukan oleh anggota keluarga dari pihak orang tua laki-
laki atau pun perempuan. Pemotongan jari tersebut dapat pula diartikan sebagai upaya
untuk mencegah ‘terulang kembali’ malapetaka yang telah merenggut nyawa seseorang di
dalam keluarga yang berduka.

Seperti kisah seorang ibu asal Moni (sebuah suku di daerah Paniai), dia bercerita
bahwa jari kelingkingnya digigit oleh ibunya ketika ia baru dilahirkan. Hal itu terpaksa
dilakukan oleh sang ibu karena beberapa orang anak yang dilahirkan sebelumnya selalu
meninggal dunia. Dengan memutuskan jari kelingking kanan anak baru saja ia lahirkan,
sang ibu berharap agar kejadian yang menimpa anak-anak sebelumnya tidak terjadi pada
sang bayi. Hal ini terdengar sangat eksrim, namun kenyataannya memang demikian,
wanita asal Moni ini telah memberikan banyak cucu dan cicit kepada sang ibu.

Pemotongan jari dilakukan dengan


berbagai cara. Ada yang memotong jari dengan
menggunakan alat tajam seperti pisau, parang,
atau kapak. Cara lainnya adalah dengan
mengikat jari dengan seutas tali beberapa
waktu lamanya sehingga jaringan yang terikat
menjadi mati kemudian dipotong. Namun kini
budaya ‘potong jari’ sudah ditinggalkan.
sekarang jarang ditemui orang yang
melakukannya beberapa dekade belakangan ini. Yang masih dapat kita jumpai saat ini
adalah mereka yang pernah melakukannya tempo dulu. Hal ini disebabkan oleh karena
pengaruh agama yang telah masuk hingga ke pelosok daerah di Papua.