Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 level/ Tingkatan komunikasi

Level komunikasi yaitu tingkatan komunikasi berdasarkan jumlah orang yang

terlibat dalam sebuah proses komunikasi. Sedangkan komunikasi itu sendiri adalah suatu

proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi

dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba saling pengertian yang

mendalam.

Sedangkan pengertian level komunikasi itu sendiri menurut Patidar, level

komunikasi ditentukan oleh dasar jumlah orang yang terlibat dalam sebuah proses

komunikasi, juga oleh tujuan komunikasi.

Level-level komunikasi terbagi menjadi 3:

2.1.1 Intrapersonal communication (komunikasi intrapersonal)

Komunikasi intrapribadi yaitu komunikasi seseorang dengan dirinya

sendiri (communication with self). Tipe komunikasi intrapribadi sama dengan

proses pribadi berfikir, yaitu ketika seseorang secara sadar (sengaja) mengirimkan

informasi pada dirinya untuk menganalisis sebuah situasi dan mengmbil sikap atau

keputusan.

Riswandi menjabarkan interpersonal communication adalah proses

komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, berupa pengolahan informasi

melalui panca indra dan saraf. Contoh intrapersonal communication yaitu, berfikir,

merenung, menggambar, menulis sesuatu, dan lain-lain.


2.1.2 Interpersonal communication (komunikasi antarpribadi)

Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi secara langsung antara

seseorang dengan orang lainnya, yang memungkinkan setiap pesertanya

menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik scara verbal atau nonverbal.

Contoh interpersonal communication yaitu, percakapan tatap muka,

korespondensi, percakapan melalui telepon, dan lain-lain. Komunikasi antarpribadi

dibagi menjadi tiga tipe:

a) Assertive communication (komunikasi asertif)

b) Nonassertive communication (komunikasi nonasetif)

c) Aggressive communication (komunikasi agresif)

2.1.3 Public communication (komunikasi publik)

Publik sering disetarakan dengan komunikasi massa karena komunukasi ini

melalui media massa walupun publik tidak sellalu dilakukan melalui media massa.

Komunikasi publik sering juga dipahami berbicara didepan orang banyak (publik

speaking) yang membutuhkan ketermpilan komunikasi khusus, seperti, gesture,

suara, bahan media yang harus digunakan untuk mengkomunikasikan pesan secara

efektif.

2.2 Konsep Komunikasi Terapeutik

2.2.1 Pengertian komunikasi terapeutik

Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik,


dalam hal ini komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat
melakukan intervensi keperawatan harus mampu memberikan khasiat therapi bagi
proses penyembuhan pasien. Oleh karenanya seorang perawat harus meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan aplikatif komunikasi terapeutik agar kebutuhan dan
kepuasan pasien dapat dipenuhi.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses
penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Northouse (1998) mendefinisikan
komunikasi terapeutik sebagai kemampuan atau keterampilan perawat untuk
membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis dan
belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain.
Stuart G.W (1998) menyatakan bahwa komunikasi terapeutik merupakan
hubungan interpersonal antara perawat dan klien, dalam hubungan ini perawat dan
klien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki
pengalaman emosional klien.
Sedangkan S.Sundeen (1990) menyatakan bahwa hubungan terapeutik
adalah hubungan kerjasama yang ditandai tukar menukar perilaku, perasaan,
pikiran dan pengalaman dalam membina hubungan intim yang terapeutik.

Definisi komunikasi menurut para ahli :

Menurut As Homby (1974) yang dikutip oleh Nurjannah, I (2001)


mengatakan bahwa terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni
dari penyembuhan. Hal yang menggambarkan bahwa dalam menjalani proses
komunikasi terapeutik, seorang perawat melakukan kegiatan dari mulai
pengkajian, menentukan masalah keperawatan, menentukan rencana tindakan
keperawatan, melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan yang telah
direncanakan sampai pada evaluasi yang semuanya itu bisa dicapai dengan
maksimal apabila terjadi proses komunikasi yang efektif dan intensif. Hubungan
take and give antara perawat dan klien menggambarkan hubungan memberi dan
menerima.
Kalthner, dkk (1995) mengatakan bahwa komunikasi terapeutik terjadi
dengan tujuan menolong pasien yang dilakukan oleh orang-orang yang
professional dengan menggunakan pendekatan personal berdasarkan perasaan dan
emosi. Didalam komunikasi terapeutik ini harus ada unsur kepercayaan.
(Mundakir, 2006)
Heri Purwanto (1994) mengemukakan bahwa komunikasi terapeutik adalah
komunikasi yang direncanakan secara sadar dan bertujuan dalam kegiatannya
difokuskan untuk kesembuhan pasien, dan merupakan komunikasi professional
yang mengarah pada tujuan untuk penyembuhan pasien (Mundakir, 2006)
Mulyana (2000) mengatakan komunikasi terapeutik termasuk komunikasi
interpersonal yaitu komunikasi antara orang-orang secara tatap muka yang
memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung,
baik secara verbal maupun non verbal. (Mundakir, 2006)
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yg direncanakan secara sadar,
bertujuan dan dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik
mengarah pada bentuk komunikasi interpersonal.
Northouse (1998: 12), komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau
keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres,
mengatasi gangguan psikologis, dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang
lain.
Stuart G.W. (1998), komunikasi terapeutik merupakan hubungan
interpesonal antara perawat dengan pasien, dalam hubungan ini perawat dan pasien
memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman
emosional pasien.
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat dijelaskan bahwa komunikasi
terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara perawat – klien yang bertujuan
untuk menyelesaikan masalah klien. Maksud komunikasi adalah mempengaruhi
perilaku orang lain. Komunikasi adalah berhubungan. Hubungan perawat-klien
yang terapeutik tidak mungkin dicapai tanpa komunikasi (Budi Ana Keliat dalam
Mundakir, (2006)
Komunikasi terapeutik terjadi apabila didahului hubungan saling percaya
antara perawat – klien. Dalam konteks pelayanan keperawatan kepada klien,
pertama-tama klien harus percaya bahwa perawat mampu memberikan pelayanan
keperawatan dalam mengatasi keluhannya, demikian juga perawat harus dapat
dipercaya dan diandalkan atas kemampuan yang telah dimiliki dari aspek kapasitas
dan kemampuannya sehingga klien tidak meragukan kemampuan yang dimiliki
perawat. Selain itu perawat harus mampu memberikan jaminan atas kualitas
pelayanan keperawatan agar klien tidak ragu, tidak cemas, pesimis dan skeptis
dalam menjalani proses pelayanan keperawatan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat dipahami bahwa komunikasi
terapeutik adalah komunikasi yang memiliki makna terapeutik bagi klien dan
dilakukan oleh perawat (helper) untuk membantu klien mencapai kembali kondisi
yang adaptif dan positif.
2.2.2 Tahapan komunikasi terapeutik
Struktur dalam komunikasi terapeutik, menurut Stuart,G.W.,1998, terdiri
dari empat fase yaitu: (1) fase preinteraksi; (2) fase perkenalan atau orientasi; (3)
fase kerja; dan (4) fase terminasi (Suryani,2005).
Dalam setiap fase terdapat tugas atau kegiatan perawat yang harus
terselesaikan.
a.Fase preinteraksi

Tahap ini adalah masa persiapan sebelum memulai berhubungan dengan


klien. Tugas perawat pada fase ini yaitu :

1. Mengeksplorasi perasaan,harapan dan kecemasannya.


2. Menganalisa kekuatan dan kelemahan diri, dengan analisa diri ia akan terlatih
untuk memaksimalkan dirinya agar bernilai tera[eutik bagi klien, jika merasa
tidak siap maka perlu belajar kembali, diskusi teman kelompok.
3. Mengumpulkan data tentang klien, sebagai dasar dalam membuat rencana
interaksi.
4. Membuat rencana pertemuan secara tertulis, yang akan di implementasikan saat
bertemu dengan klien.

b.Fase orientasi

Fase ini dimulai pada saat bertemu pertama kali dengan klien. Pada saat
pertama kali bertemu dengan klien fase ini digunakan perawat untuk berkenalan
dengan klien dan merupakan langkah awal dalam membina hubungan saling
percaya.

Tugas utama perawat pada tahap ini adalah memberikan situasi lingkungan
yang peka dan menunjukkan penerimaan, serta membantu klien dalam
mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Tugas-tugas perawat pada tahap ini
antara lain :

1. Membina hubungan saling percaya, menunjukkan sikap penerimaan dan


komunikasi terbuka. Untuk membina hubungan saling percaya perawat harus
bersikap terbuka, jujur, ihklas, menerima klien apa danya, menepati janji, dan
menghargai klien.
2. Merumuskan kontrak bersama klien. Kontrak penting untuk menjaga
kelangsungan sebuah interaksi.Kontrak yang harus disetujui bersama dengan
klien yaitu, tempat, waktu dan topik pertemuan.
3. Menggali perasaan dan pikiran serta mengidentifikasi masalah klien. Untuk
mendorong klien mengekspresikan perasaannya, maka tekhnik yang digunakan
adalah pertanyaan terbuka.
4. Merumuskan tujuan dengan klien. Tujuan dirumuskan setelah masalah klien
teridentifikasi. Bila tahap ini gagal dicapai akan menimbulkan kegagalan pada
keseluruhan interaksi (Stuart,G.W,1998 dikutip dari Suryani,2005) Hal yang
perlu diperhatikan pada fase ini antara lain :
1. Memberikan salam terapeutik disertai mengulurkan tangan jabatan tangan
2. Memperkenalkan diri perawat.
3. Menyepakati kontrak. Kesepakatan berkaitan dengan kesediaan klien untuk
berkomunikasi, topik, tempat, dan lamanya pertemuan.
4. Melengkapi kontrak. Pada pertemuan pertama perawat perlu melengkapi
penjelasan tentang identitas serta tujuan interaksi agar klien percaya kepada
perawat.
5. Evaluasi dan validasi. Berisikan pengkajian keluhan utama, alasan atau
kejadian yang membuat klien meminta bantuan. Evaluasi ini juga
digunakan untuk mendapatkan fokus pengkajian lebih lanjut, kemudian
dilanjutkan dengan hal-hal yang terkait dengan keluhan utama. Pada
pertemuan lanjutan evaluasi/validasi digunakan untuk mengetahui kondisi
dan kemajuan klien hasil interaksi sebelumnya.
6. Menyepakati masalah. Dengan tekhnik memfokuskan perawat bersama
klien mengidentifikasi masalah dan kebutuhan klien.

Selanjutnya setiap awal pertemuan lanjutan dengan klien lakukan orientasi.


Tujuan orientasi adalah memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah dibuat
dengan keadaan klien saat ini dan mengevaluasi tindakan pertemuan sebelumnya.

c.Fase kerja

Tahap ini merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi


teraeutik.Tahap ini perawat bersama klien mengatasi masalah yang dihadapi
klien.Perawat dan klien mengeksplorasi stressor dan mendorong perkembangan
kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, perasaan dan perilaku klien.

Tahap ini berkaitan dengan pelaksanaan rencana asuhan yang telah


ditetapkan.Tekhnik komunikasi terapeutik yang sering digunakan perawat antara
lain mengeksplorasi, mendengarkan dengan aktif, refleksi, berbagai persepsi,
memfokuskan dan menyimpulkan (Geldard,D,1996, dikutip dari Suryani, 2005).

d.Fase terminasi

Fase ini merupakan fase yang sulit dan penting, karena hubungan saling
percaya sudah terbina dan berada pada tingkat optimal. Perawat dan klien keduanya
merasa kehilangan. Terminasi dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas
pada unit tertentu atau saat klien akan pulang. Perawat dan klien bersama-sama
meninjau kembali proses keperawatan yang telah dilalui dan pencapaian tujuan.

Untuk melalui fase ini dengan sukses dan bernilai terapeutik, perawat
menggunakan konsep kehilangan. Terminasi merupakan akhir dari pertemuan
perawat, yang dibagi dua yaitu:

1. Terminasi sementara, berarti masih ada pertemuan lanjutan.


2. Terminasi akhir, terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan
secara menyeluruh.

Tugas perawat pada fase ini yaitu :

1. Mengevaluasi pencapaian tujuan interaksi yang telah dilakukan, evaluasi ini


disebut evaluasi objektif. Brammer & Mc Donald (1996) menyatakan bahwa
meminta klien menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan atau respon
objektif setelah tindakan dilakukan sangat berguna pada tahap terminasi
(Suryani,2005).
2. Melakukan evaluasi subjektif, dilakukan dengan menanyakan perasaan klien
setalah berinteraksi atau setelah melakukan tindakan tertentu.
3. Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Hal ini
sering disebut pekerjaan rumah (planning klien). Tindak lanjut yang diberikan
harus relevan dengan interaksi yang baru dilakukan atau yang akan dilakukan
pada pertemuan berikutnya. Dengan tindak lanjut klien tidak akan pernah
kosong menerima proses keperawatan dalam 24 jam.
4. Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya, kontrak yang perlu disepakati
adalah topik, waktu dan tempat pertemuan. Perbedaan antara terminasi
sementara dan terminasi akhir, adalah bahwa pada terminasi akhir yaitu
mencakup keseluruhan hasil yang telah dicapai selama interaksi.

Didalam sumber yang lain dikatakan bahwa tahapan komunikasi


terapeutik meliputi :
1. PRAINTERAKSI
Dimulai sebelum kontak pertama perawat-klien
Tugas perawat mengeksplorasi diri. Pada pengalaman pertama, perawat
masih memiliki miskonsepsi dan image pada umumnya ditambah dengan
berbagai perasaan dan ketakutan yang muncul seperti:
1. Takut ditolak klien.
2. Cemas karena merupakan pengalaman baru.
3. Memperhatikan klien secara berlebihan.
4. Meragukan kemampuan diri.
5. Takut dilukai klien secara fisik.
6. Gelisah melakukan komter.
7. Klien dicurigai sebagai orang yang aneh
8. Merasa terancam identitasnya sebagai perawat.
9. Merasa tidak nyaman untuk melakukan tugas secara fisik.
10. Mudah terpengaruh secara emosional (tersinggung-diejek)
11. Takut disakiti secara psikologis.
2. ORIENTASI
Perawat : menemukan alasan mengapa klien memerlukan pertolongan.
Dasar pengkajian keperawatan dan membantu perawat fokus pada
masalah klien. Tugas perawat pada fase ini :
a) Membangun trust.
b) Memahami.
c) Menerima.
d) Membuka komunikasi dan membuat kontrak dgn klien
Kontrak pertama dimulai.
e) Memperkenalkan diri perawat dan klien.
f) Menyebutkan nama
g) Menjelaskan peran (meliputi tanggung jawab dan harapan baik klien
maupun perawat dengan menjelaskan apa yang perawat dapat atau
tidak dapat lakukan).
h) Mendiskusikan tujuan hubungan (dengan menekankan pada
pengalaman hidup perawat – klien serta konflik)

3. KERJA
Selama fase ini :
a) Perawat-klien mengekplorasi stressor yang berkaitan dan terus
meningkatkan perkembangan insight klien (yang berkaitan dengan
persepsi, pikiran, perasaan, dan tindakan).
b) Insights harus diwujudkan dalam tindakan dan diintegrasikan ke
dalam pengalaman hidup klien.
c) Perawat membantu klien : menghilangkan kecemasan,
meningkatkan rasa kebebasan dan tanggung jawab terhadap diri
sendiri mengembangkan mekanisme koping yang positif. (Fokus
fase ini : perubahan perilaku secara nyata).

4. TERMINASI
a) Pemahaman antara perawat-klien lebih dioptimalkan.
b) Saling tukar pikiran dan memori.
c) Mengevaluasi perkembangan klien (berkenaan dengan tujuan
asuhan keperawatan).
d) Perawat-klien bersama-sama mereview perkembangan yang
tercapai selama perawatan.
e) Perasaan rejeksi, kehilangan, sedih, dan marah diekspresikan dan
diekplorasi.

Contoh Analisis Kasus


Seorang ibu bernama Neni, 25 tahun, post-partum (anak pertama) ingin
mengetahui tentang perawatan tali pusat pada bayi, dimana ners Irma
sebelumnya sudah melakukan interaksi dan menjalin hubungan saling
percaya dengan ibu Neni. Dalam hal ini yang digunakan adalah teknik
komunikasi wawancara (tanya jawab).
Fase Orientasi
1. Ners Irma : “Assalaualaikum Bu.../ selamat pagi bu” (sambil
mengulurkan tangan untuk berjabat tangan).
Bu Neni : “walaikumsalam, pagi juga ners Irma,” (sambil tersenyum
dan menjabat tangan).
2. Ners Irma: “Bagaimana perasan Ibu Neni sekarang, adakah sesuatu
yang ingin disampaikan Ibu Neni ketika menemani si kecil selama kita
tidak bertemu, coba Ibu sampaikan?” (sambil memegang bahui kanan
Ibu Neni).
Bu Neni : “Alhamdulillah, saya sanga senang Ners, setelah lahirnya
sibuah hati yang kami tunggu-tunggu. Oh, ya Ners ... saya masih
kurang jelas mengenai perawatan tali pusat, saya agak khawatir
jangan-jangan nanti terjadi infeksi?”.
3. Ners Irma : “O...ya, Ibu sesuai dengan perjanjian kita kemarin,hari ini
saya akan jelaskan apa saja yang belum Ibu pahami dan saya juga akan
jelaskan semua hal yang ingin Ibu tanyakan, yaitu tentang perawatan
tali pusat yan gbenar, begitukah bu?”
Bu Neni: “ Ya Ners, saya masih bingung!”
4. Ners Irma : “Baiklah, saya akan coba menjelaskan tentang perawatan
tali pusat pada bayi, tetapi tolong Ibu perhatikan betul! Sekarang
apakah Ibu sudah siap untuk mendengarkannya?”
Bu Neni : “ya ners, saya siap”
Fase Kerja
1. Ners Irma :”Baiklah Bu, perawatan tali pusat pada bayi sangatlah
penting kita ketahui dan kita pahami agar bayi kita terbebas dari
infeksi tetanus.”
Bu Neni :”Infeksi tetanus pada bayi bisa terjadi..., ya Ners?”
2. Ners Irma :” Benar Bu Neni, tetanus bisa berakibat kematian pada
bayi. Jadi, perawatan tali pusat kita laksanakan pada pagi hari setelah
kita memandikan bayi kita dan kita harus benar-benar menjaga
kebersihannya”.
Bu Neni :”Berarti ners, setelah kita memandikan bayi kita, kita juga
malkukan perawatan tali pusat”.
3. Ners Irma :”Ya, sangat benar sekali Bu Neni, sebelum kita
melaksanakannya, kita terlebih dahulu mempersiapkan alat-alatnya”.
(Sambil memmpraktikkannya).
Bu Neni :”Apa saja persiapan alatnya Ners?”
4. Ners Irma :”Kita harus menyiapkan alat-alat yang akan dipakai seperti
kapas lidi, trypleday, kassa steril semuanya diletakkan pada tempatnya
masing-masing lalu disusun pada baki.” (sambil memegang dan
menunjukkan alat tersebut)
Bu Neni :”Terus caranya bagaimana ners...?” (Klien menganggukkan
kepala).
5. Ners Irma :” Pertama-tama setelah bayi selesai dimandikan, kita ambil
kapas lidi lalu diolesi trypleday kemudian kita mulai
membersihkannya dari sekeliling pangkal tali pusat sampai bagian
ujung. Sampai disini ada yang mau ditanyakan Bu Neni?”
Bu Neni :”O...ya ners, apakah kapas lidi tersebut tidak boleh kita
bolak-balik?”
6. Ners Irma :”Benar sekali Bu Neni, jadi setiap kita membersihkan
bagian tali pusat, kita tukar dengan yang baru lagi dan jangan lupa juga
Bu, sebelum kita melakukannya tangan ibu harus bersih atau cuci
tangan sebelum melakukan tindakan tersebut. Pokoknya kebersihan
herus dijaga sebaik-baiknya.”
Bu Neni :”Selanjutnya bagaimana ners...?”
7. Ners Irma :”Oh...ya, maaf Bu..., tadi pembicaran kita sampai
dimana?”
Bu Neni :”Sampai...membersihkan tali pusat sampai bagian ujung.”
8. Ners Irma :”Kemudian dilanjutkan dengan membungkus tali pusat,
bagaimaan Bu Neni, tidak sulit bukan?”
Bu Neni :”Sepertinya saya bisa, ya... saya bisa melakukannya, ners.”
Fase Terminal
1. Ners Irma :”Bagaimana Bu Neni, apakah sudah mengerti dengan
penjelasan tadi?”
Bu Neni :”Sudah, Ners.”
2. Ners Irma :”Apakah Bu Neni bisa mengulang kembali apa yang telah
saya jelaskan?”
Bu Neni :”Insya Allah bisa Bu. Saya akan mencoba Ners, pertama-
tama setelah bayi selesai dimandikan, kita ambil kapas lidi lalu kita
olesi tryplady setelah itu kita mulai membersihkan tali pusat dari
pangkal dan sekelilingnya sampai keujung, kemudian kita bungkus
dengan kain kassa steril yang kering. Terakhir baru kita rapikan dan
baju bayi kita pasangkan. Bagaimana Ners?”
3. Ners Irma :”Bagus Bu Neni, sepertinya Ibu telah mengerti dengan apa
yang telah saya sampaikan, apakah masih ada yang ingin Ibu
tanyakan?”
Bu Neni :” Tidak ners, saya pikir sudah cukup!”
4. Ners Irma :”Oke...”(tersenyum).
Bu Neni :”Saya sangat berterima kasih karena Ners telah meluangkan
waktu untuk saya.”
5. Ners Irma :”Sama-sama Bu Neni, itu semua sudah kewajiban saya.”
Bu Neni :”Terus saya ingin mengetahui bagaimana cara menyusui
yang baik dan benar.”
6. Ners Irma : (tersenyum)”...baiklah Bu Neni. Insya Allah, saya akan
datang lagi kesini besok untuk menjelaskan bagaimana cara menyusui
yang baik dan benar. Ibu mau saya datang jam berapa?”
Bu Neni :”Sama seperti hari ini saja, ners.”
7. Ners Irma :”Baik Bu sampai ketemu besok, ya!”
Bu Neni :”Ya, ners.”
8. Ners Irma :” Kalau begitusaya permisi dulu ya Bu Neni. Selamat
siang..., Assalamualaikum!” (tersenyum).
Bu Neni :”Siang ners...walaikumsalam.”

2.2.3 Perbedaan komunikasi terapeutik dan komunikasi sosial


Komunikasi Terapeutik:

1. Terjadi antara perawat dan klien atau anggota tim kesehatan lainnya.
2. Lebih akrab, karena mempunyai tujuan dan fokusnya adalah pada pasien
sebagai orang yang membutuhkan bantuan untuk mengatasi masalah
kesehatannya.
3. Perawat secara aktif mendengarkan dan membrikan responkeada pasien,
sebagai isyarat bahwa perawat peduli, mau memahami, serta empati, sehingga
dapat lebih menumbuhkan rasa percaya pada diri pasien serta pasien lebih
menjadi terbuka dalam menceritakan masalah kesehatannya kepada perawat.

Komunikasi Sosial:

1. Terjadi setiaphari antara orang dengan orang, baik dalam pergaulan biasa
atapun dalam lingkungan kerja.
2. Bersifat dangkal karena tidak adanya tujuan.
3. Lebih banyak terjadi didalam pekerjaanm aktifitas sosial, dll
4. Pembicaraan tidak mempunyai fokus tertentu, tetapi lebih kearah kebersamaan
dan rasa senang antar pembicaranya.
5. Dapat maupun tidak direncanakan.

2.2.4 Teknik komunikasi terapeutik


Dua persyaratan dasar agar komunikasi menjadi efektif (Stuart dan
Sundeen, 1998), yaitu:
1. Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi dan
penerima pesan.
2. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan lebih dahulu
sebelum memberikan saran, informasi maupun masukan.
Komunikasi terapeutik akan menjadi efektif hanya melalui pengguanaan
dan latihan yang sering. Artinya dengan melatih diri dengan menggunakan
komunikasi yang bersifat terapeutik akan meningkatkan kepekaan diri diri kita
akan perasaan orang lain, khususnya klien. Selain itu dalam komunikasi terapeutik,
diri kita akan terlatih mengerti akan keinginan yang dibutuhkan klien.
Setiap kilen memiliki karakter yang berbeda, tidak ada klien yang sama.
Oleh karena itu, diperlukan teknik yang berbeda-beda dalam berkomunikasi
dengan klien.

Teknik komunikasi berikut ini, yang dikutip dari artikel Purba, J.M. (2008)
terdiri atas beberapa komponen berikut ini.

1. Mendengarkan dengan penuh perhatian


Dalam hal ini perawat berusaha memahami klien dengan cara
mendengarkan masalah yang disampaikan klien. Satu- satunya orang yang
dapat menceritakan perasaan, pikiran, dan persepsi klien terhadap perwat adalah
klien itu sendiri.Mendengarkan klien menyampaikan pesan verbal dan non-
verbal mengandung arti bahwa perawat perhatian terhadap kebutuhan dan
masalah klien. Perawat yang mendengarkann dengan penuh perhatian
merupakan salah satu upaya agar dapat mengerti seluruh pesan verbal dan non-
verbal yang sedang disampaikan klien.
2. Menunjukkan Penerimaan
Arti menerima adalah mendukung dan menerima informasi dengan dengan
tingkah laku yang menunjukan ketertarikan dan tidak menilai. Perlu diketahui
bahwa menerima tidak berarti menyetujui. Menerima berarti bersedia untuk
mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan dan ketidaksetujuan.
Sebagai seorang perawat kita tidak harus menerima semua perilaku klien.
Perawat sebaiknya menghindari ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang
menunjukkan ketidak setujuan terhadap sesuatu, seperti mengerutkan kening
atau menggelengkan kepala yang menandakan tidak percaya. Tujuh cara
memfasilitasi agar memperoleh “penerimaan” ( Bolton Cit.R,1999)
1. Tidak seorangpun dapat menerima secara sempurna

2. Beberapa orang cendrung diterima dari pada orang lain

3. Tingkah penerimaan seseorang terus menerus berganti

4. Adalah ssuatu yang alami mempunyai sesuatu yang difavoritkan

5. Setiap orang dapat lebih menerima

6. Penerimaan yang hanya pura pura merupakan suatu hal yang berbahaya untuk
hubungan interpersonal
7. Penerimaan tidak sama dengan persetujuan.

Berikut ini sikap perawat yang menunjukkan rasa percaya.

a. Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan.

b. Membarikan umpan balik verbal kepada klien dengan cara yang baik.

c. Memastikan bahwa isyarat non-verbal sesuai dengan komunikasi verbal.

d. Menghindari perdebatan, mengekspresikan keraguan, atau mencoba untuk


mengubah pikiran klien. Perawat dapat menganggukkan kepalanya atau
berkata,”Ya” atau, “Saya mengikuti apa yang Anda ucapkan”.

Penerimaan juga digunakan untuk membangun rasa percaya dan


mengembangkan empati ( Boyt & Nirhat, 1998)

Misalnya:

Klien : “Saya telah melakukan beberapa kesalahan”

Ners : “ Saya ingin mendengar itu, tidak apa jika anda ingin
mendiskusikan hal itu dengan saya”

3. Menanyakan Pertanyaan yang Berkaitan


Menanyakan pertanyaan yang berkaitan bertujuan untuk mendapatkan
informasi yang spesifik mengenai klien. Paling baik jika pertanyaan dikaitkan
dengan topikk yang dibicarakan dan menggunakan kata-kata dalam konteks
sosial budaya klien. Pertanyaan hendaknya disampaikan secara berurutan
selama pengkajian.

4. Mengulang Ucapan Klien dengan Menggunakan kata-Kata Sendiri


Dengan mengulang kembali ucapan klien berarti perawat membarikan
umpan balik sehingga klien mengetahui bahwa pesannya dimengerti dan
mengharapkan komunikasi berlanjut. Namun, perawat harus berhati-hati ketika
menggunakan teknih ini, sebab pengertian bisa rancu jika pengulangan ucapan
mempunyai arti yang berbeda. Sebagai contoh, seorang klien mengatakan, “
Saya tidak dapat tidur, semalam saya terjaga”, lalu perawat menjawab, “Anda
mengalami kesulitan untuk tidur tadi malam...”.
5. Memberi Kesempatan kepada Klien memulai Pembicaraan
Perawat sebaiknya memberikan kesempatan kepada klienuntuk
berinisiatif dan mmemilih temapembicaraan. Klien yang merasa ragu tentang
perannya dalam berinteraksi dapat diberikan stimulus untuk mengambil
inisiatif, sehingga klien tersebut merasa bahwa ia diharapkan dapat membuka
pembicaraan. Misalnya “Adakah sesuatu yang ingin Anda sampaikan?” atau
“Apakah yang sedang Anda pikirkan?”.

6. Diam
Diam memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk
mengorganisasikan pikiran masing-masing. Diam memungkinkan klien untuk
berkomunikasi terhadap dirinya sendiri dalam memproses informasi yang ada.
Penggunaan teknik diam memerlukan keterampilan dan ketetapan waktu,
karena jika tidak demikian maka akan menimbulkan perasaan tidak enak. Diam
berguna pada saat klien harus mengambil keputusan. Arti diam ( Miyers &
Miyers Cit.R,1999)
1. Saat seseorang marah dan frustasi tetapi menolak mengungkapkanya
2. Saat seseorang mendengarkan dengan penuh perhatian untuk sesuatu yang
penting
3. Saat seorang bosan
4. Saat seseorang tidak dapat berpikir apa yang akan dikatakanya
5. Saat seseorang berpikir tentang hal yang penbicara katakana
6. Saat seseorang tidak memahami yang dikatakan pembicra
7. Saat seorang melihat pandangan yang indah sehingga membuat seseorang
tidak bicara.
Diam digunakan saat klien perlu mengekspresikan ide tapi tidak tahu cara
melakukanya/menyampaikan hal tersebut ( Boyd & Nihart,1998)

Msalnya:

Klien : “ Saya marah”

Ners : (Diam)

Klien : “orang tua saya tidak perhatian lagi sama saya”

7. Klarifikasi
Jika terjadi kesalahpahaman sebaiknya perawat menghentikan
pembicaraan sejenak untuk mengklarifikasi dan menyamakan pemahaman,
karena keakuratan informasi sangat penting dalam memberikan pelayanan
asuhan keperawatan. Perawat perlu membarikan contoh yang konkret agar
pesan mudah dimengerti klien dan tidak ada kesalahpahaman.
Contoh:
Klien : “Saya kurang yakin apakah bisa mengikuti apa yang Anda
sampaikan.”
Perawat : “Apa yang Anda katakan tadi adalah.....”

8. Memfokuskan
Teknik ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan pembicaraan
sehingga lebih spesifik dan dimengerti. Perawat seharusnya tidak memutus
pembicaraan klien ketika menyampaikan masalah yang penting, kecuali jika
pemnicaraan berlanjut tanpa informasi yang baru. Misalnya, “Hal ini sangat
penting, nanti kita bicarakan lebih lanjut.”

9. Menyampaikan hasil observasi


Perawat perlu memberikan respons kepada klien dengan menyatakan hasil
pengamatannya, sehingga dapat diketahui apakah pesan diterima dengan baik
dan benar. Perawat menguraikan kesan yang ditimbulkan melalui syarat non-
verbal klien. Menyampaikan hasil pengamatan perawat sering membuat klien
berkomunikasi lebih jelas tanpa harus memfokuskan atau mengklarifikasi
pesan.
Contoh:

“ Anda kelihatan tegang...”

“ Apakah Anda merasa cemas apabila Anda...”

10. Menawarkan Informasi


Pemberian tambahan informasi dapat dijadikan sebagai pendidikan
kesehatan bagi klien dan juga bisa menambah rasa percaya klien terhadap
perawat. Jika ada informasi yang ditutupi oleh dokter, seorang perawat
hendaknya mengklarifikasi alasannya. Perawat dalam memberikan informasi
tidak boleh terkesan seperti memberikan nasihat melainkan memfasilitasi klien
untuk mengambil keputusan.

11. Meringkas
Meringkas adalah mengulang ide utama yang telah dikomunikasikan
secara singkat. Teknik ini bermanfaat untuk membantu topik yang telah
dibahas sebelum meneruskan pada pembicaraan berikutnya. Meringkas
pembicaraan membantu perawat mengulang aspek penting dalam interaksinya.
Sehingga dapat melanjutkan pembicaraan dengan topik lain yang berkaitan.
Misalnya, “Selama kurang lebih 2 jam, Anda dan saya telah membicarakan
tentang...”

12. Memberikan Penghargaan


Memberikan penghargaan terhadap klien dapat dilakukan dengan cara
seperti menyambutnya dengan salam dan menyebutkan namanya. Dengan
melakukan hal tersebut perawata dapan menunjukkan kesadarannya tentang
perubahan yang terjadi selain itu juga dapat menunjukkan bahwa perawat
menghargai klien sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai hak dan
tanggungjawab atas dirinya sendiri sebagai individu. Namu penghargaan
tersebut jangan sampai menjadi beban baginya,dengan kata lain penghargaan
tersebut jangan sampai membuat klien berusaha keras dan melakukan
segalanya demi mendapatkan pujian atau persetujuan atas perbuatannya.
Misalnya” Selamat siang, Bapak Jaya”, “Assalamualaikum” atau “Selamat
datang Ibu, Ibu sangat tepat waktu sesuai janji.”
Dengan agama islam, memberi salam dan penghargaan merupakan aklak
terpuji, dengan begitu berarti orang tersebut telah mendoakan orang lain agar
memperoleh rahmat dari Allah SWT. Salam menunjukkan betapa perawat
peduli terhadap orang lain dengan bersikap ramah.

13. Menawarkan Diri


Klien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal dengan
orang lain. Sering kali perawat hanya menawarkan kehadirannya dan
ketertarikannya tenpa mempertimbangkan kondisi klien. Sesungguhnya teknik
komunikasi ini harus dilakukan dengan tulus ikhas. Misalnya, “Saya
mengharapkan Anda merasa tenang dan nyaman.”

14. Mempersilakan Untuk Meneruskan Pembicaraan


Teknik ini mengindikasikan bahwa klien sedang mengikuti apa yang
sedang dibicarakan dan selanjutnya respek dengan apa yang akan dibicarakan.
Sikap perawat lebih berusaha untuk menafsirkan dari pada mengarahkan
pembicaraan. Misalnya, “...lanjutkan...!”, “... dan terus...?”, atau “Ceritakan
kepaa saya...”.

15. Menganjurkan Klien untuk Menjelaskan Persepsinya


Jika perawat ingin mengerti klien lebih jauh, maka perawat tersebut harus
melihat klien dengan sesungguhnya dari segala perspektif. Klien harus merasa
bebas untuk menguraikan atau menjelaskan persepsinya tentang
sesuatukepada perawat. Perawat harus mewaspadai adanya ansietas saat klien
menceritakan pengalamannya. Misalnya, “Ceritakan kepada saya bagaimana
perasaan Anda ketika akan dilakukan pemasangan infus”, “Atau apa yang
sedang Anda lihat.”

16. Refleksi
Refleksi adalah suatu teknik yang menganjurkan klien
untukmengemukakan dan menerima ide serta perasaannya sebagai bagian dari
dirinya sendiri. Jika klien bertanya apa yang harus ia pikirkan atau kerjakan
dan apa yang harus ia rasakan, maka perawat dapat menjawab,”bagaimana
menurut Anda?” atau “Bagaimana perasaan Anda”. Kemudian perawat
mengindikasikan bahwa pendapat klien adalah berharga dan klien mempunyai
hak melakukan hal tersebut, selanjutnya klien pun akan berfikir bahwa dirinya
adalah individu yang terintegrasi dan bukan sebagai bagian dari orang lain
yang mempunyai kapasitas dan kemampuan. Misalnya,”Apakah menurut
Anda, saya harus menyampaikannya kepada dokter?” atau “Apakah menurut
Anda, Anda yang harus menyampaikannya?”.