Anda di halaman 1dari 7

TUGAS PRAKTEK IBADAH

TATA CARA TAYAMUM

Disusun oleh:
Ahmad Syahal S 11160980000042
Abdul Rahmat Maulana 11160980000026

PRODI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2018
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Segala puji bagi ilahy rabbi, semoga kita senantiasa ada dalam ridha dan maghfirahnya.
Selawat serta salam semoga terpancar curah kepada manusia junjungan alam, Nabi
Muhammad Saw, para sahabatnya, serta orang-orang sholeh yang senantiasa mengikuti jejak
langkahnya. Sebelum kita hendak memasuki sebuah rumah maka terlebih dahulu kita akan
melewati pintu, akan tetapi bila pintu itu tertutup maka terlebih dahulu kita hendak memiliki
kuncinya, lalu bagaimana bila kuncinya hilang atau ruksak maka kita harus mencari ganytinya.
Begitu juga dalam pelaksanaan sholat segala sesuatunya harus bermula, dan permulaan itu bisa
menjadi syarat sebagaimana pintu menjadi syarat bagi seseorang yang hendak memasuki
sebuah ruangan. Lalu apa yang menjadi syarat dalam pelaksanaan shalat? syaratnya adalah niat
dan kaypiat yang benar dan lurus. Lalu apa yang menjadi kuncinya? Kuncinya adalah wudhu,
sebagaimana di jelaskan dalam sebuah hadits wudhu itu adlah kunci dalam melaksanakan
sholat, dan ia merupakan keruteria syah tidaknya seseorang dalam melaksanakan sholat. Lalu
bagaimana ketika suatu keadaan memberatkan kita untuk melaksanakan wudlu, maka dalam
kondisi itu sama seperti yang kehilangan kunci, la harus terlebih dahulu mencari kuncinya atau
menggantinya. Dengan hal itu Allah Saw, menjadikan sebuah kunci pengganti agar shalat kita
tetap syah, dan kita mafhum hal tersebut diistilahkan tayamum.
BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Tayammum

Tayammum adalah mengusap muka dan kedua tangan dengan debu yang suci pada saat-
saat tertentu, sebagai pengganti wudhu’ dan mandi dengan syarat dan rukun yang tertentu.
Dilarang bertayamum dengan tanah berlumpur, bernajis atau berbingkah. Pasir halus, pecahan batu
halus boleh dijadikan alat melakukan tayamum. Tayamum merupakan cara untuk menghilangkan
hadats sebagai pengganti wudhu dikarena ada sebab-sebab yang memaksa. Orang tidak boleh
melakukan tayammum selagi dirinya dan keadaannya masih memungkinkan menemukan air.
Tayamum hanya di khususkan pada peristiwa-peristiwa kritis tidak ada air. Orang yang melakukan
tayamum lalu shalat, apabila air sudah tersedia maka ia tidak wajib mengulang sholatnya. Namun
untuk menghilangkan hadas, harus tetap mengutamakan air daripada tayamum yang wajib
hukumnya bila sudah tersedia. Tayamum untuk hadas hanya bersifat sementara dan darurat hingga
air sudah ada.

Sebab-Sebab Tayammum

Orang boleh bertayammum sebagai pengganti wudhu’ dan madi jika dengan beberapa syarat
sebagai berikut:

a) Tidak mendapatkan air, walau sudah berusaha untuk mendapatkannya, sesuai dengan
firman allah SWT: Artinya: “Apabila engkau tidak menemukan air maka bertayammumlah
dengan tanah yang bersih, usaplah wajahmu dan tanganmu dengan tanah itu” (QS. Al
Ma’idah: 6) Dan dalam hadits rasulullah bersabda: “Dari sa’id bin Abdurrahman bin abza,
dari ayahnya: sesungguhnya datang seorang laki-laki bertanya kepada umar, “aku junub
akan tetapi aku tidak memperoleh air (bagaimana bisa aku shalat?), Umar menjawab:
jangan shalat.” Kemudian Ammar berkata, “Ya Amiril mukminin, tidaklah engaku ingat
ketika aku dan engkau bersama-sama dalam suatu perjalanan? sementara kita bersama-
sama junub dan tidak memperoleh air! Kemudian engkau tidak shalat, tetapi aku
bergulingan ditanah lalu aku melakukan shalat. Sesudah itu Rasulullah SAW. Bersabda:
sesungguhnya sudah cukup kalau engkau memukulkan kedua telapak tangan engkau
ketanah, susudah itu meniupnya lalu disapukan, keduanya kewajah dan ketangan”.
(HR.Muslim).
b) Berada dalam kondisi sakit yang membahayakan kesehatannya jika menggunakan air.
Firman allah dalam surat al-ma’idah ayat 6 “dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau
kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh
air maka bertayammumlah”.
c) Memuliakan orang atau hewan yang dimuliakan. Maksudnya, apabila ada air yang hanya
cukup sekali wudhu’ dan pada waktu itu ada orang atau hewan yang dimulyakan sangat
haus sekali, maka sebaiknya air itu tidak jadi digunakan untuk wudlu namun diberikan
kepada orang atau hewan yang haus itu. Hewan atau orang yang dimulyakan adalah selain
hewan atau orang yang tidak dimulyakan, adapun hewan atau orang yang tidak dimulyakan
sebagai berikut: Orang yang meninggalkan shalat, Orang yang bersuami isteri dan
melakukan zina, Murtad, Orang kafir harby, Anjing, Babi (dan hewan yang membawa
najis).

Syarat-Syarat Tayammum

Apabila sebab-sebab sudah mendesak dan mengaharuskan tayammum, maka boleh


melakukan tayammum dengan syarat:

a) Menggunakan debu yang suci. Tidak boleh menggunakan debu yang musa’mal (debu yang
sudah pernah digunakan tayammum). Juga tidak boleh menggunakan debu yang sudah
bercampur dengan kapur atau gamping atau benda-bedan lembut lain yang selain debu.
b) Sudah mencari air kesana kemari.
c) Mengerti tata caranya.
d) Menghilangkan najis-najis yang berada di debu.
e) Melakukan tayammum di dalam waktu shalat.
f) Mengetahui arah kiblat sebelum tayammum, sebab kadang di daerah lain orang tidak tahu
arah mana kiblat mana tidak.
g) Satu kali tayammum untuk sekali kefardhuan.

Fardhu-Fardhu Tayammum

a) Niat bertayammum untuk mengerjakan shalat.


b) Mengusap muka sebanyak dua kali.
c) Mengusap kedua tangan sampai siku.
d) Tertib dan berurutan.

Sunnah-Sunnah Tayammum

a) Membaca basmalah sebelum memulai.


b) Menghadap ke kiblat.
c) Mendahulukan tangan kanan kemudian tangan kiri.
d) Menepiskan debu yang melekat di telapak tangan.

Hal-Hal Yang Membatalkan Tayammum

a) Segala perkara yang membatalkan wudhu’ juga membatalkan tayammum.


b) Menemukan air sebelum menunaikan shalat apabila yang menyebabkan tayammum karena
tidak adanya air. Kalau tayammumnya disebabkan karena sakit akan batal apa bila sakitnya
itu tidak bahaya lagi karena oleh air.
c) Memperkirakan disana ada air, misal diatas sana pada daerah pegunungan atau lembah ada
burung-burung yang berterbangan mengitari diatasnya, sebagai tanda bahwa di bawahnya
ada air. Melihat semacam ini sudah batal kalau tayammumnya di sebabkan karena tidak
adanya air.
d) Murtad (keluar dari agama islam).

Tata Cara Bertayammum

Tata cara bertayammum adalah sebagai berikut:

a) Niat bertayammum sebagai pengganti wudhu’/mandi.


b) Membaca basmalah “Bismillaahirrahmaanirrahiim”.
c) Meletakkan kedua telapak tangan pada debu atau pada sesuatu yang berhubungan
dengannya. Seperti pada tembok, lantai atau lainya.
d) Mengusap kedua telapak tangan yang berdebu pada muka sebanyak dua kali.
e) Kembali meletakkan kedua telapak tangan pada debu, kemudian diusapkan pada kedua
tangan mulai dari ujung jari sampai siku. Telapak tangan kiri diusap pada tangan kanan
dan demikian juga sebaliknya, telapak tangan kanan diusap pada tangan kiri.
f) Membersihkan debu yang menempel pada muka dan kedua tangan.
g) Membaca doa setelah tayammum:

Ashadu alla Ilaaha Ilallah Wah dahu Laa Syarikalah.Wa asyhadu anna Muhammadan
Abduhu Wa Rosuuluh. Allohummaj 'Alni Minattawwabiina Waj 'alni minal
Mutathohhiriin. Waj 'alni min ibaadikashshoolihiin.
Artinya: “Aku bersaksi tiada tuhan yang berhak disembah kecuali allah semata, tidak ada
sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan allah, ya allah
jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat, dan jadikan aku termasuk orang-
orang yang mensucikan diri, dan jadikan pula aku hambamu yang shaleh”.
h) Dilakukan dengan tertib.
BAB III
KESIMPULAN

Tayammum adalah mengusap muka dan kedua tangan dengan debu yang suci pada
saat-saat tertentu, sebagai pengganti wudhu’ dan mandi dengan syarat dan rukun yang
tertentu. Dilarang bertayamum dengan tanah berlumpur, bernajis atau berbingkah. Pasir
halus, pecahan batu halus boleh dijadikan alat melakukan tayamum. Tayamum merupakan
cara untuk menghilangkan hadats sebagai pengganti wudhu dikarena ada sebab-sebab yang
memaksa. Orang tidak boleh melakukan tayammum selagi dirinya dan keadaannya masih
memungkinkan menemukan air. Tayamum hanya di khususkan pada peristiwa-peristiwa
kritis tidak ada air.
Orang yang melakukan tayamum lalu shalat, apabila air sudah tersedia maka ia
tidak wajib mengulang sholatnya. Namun untuk menghilangkan hadas, harus tetap
mengutamakan air daripada tayamum yang wajib hukumnya bila sudah tersedia. Tayamum
untuk hadas hanya bersifat sementara dan darurat hingga air sudah ada.
Tata cara bertayammum yang sesuai al-qur’an dan sunnah adalah: berniat kemudian
membaca basmalah, lalu meletakkan kedua tangan pada debu dan mengusap di wajah
(muka) sebanyak dua kali dan kembali meletakkan tangan pada debu dan mengusap tangan
dari ujung jari hingga ke siku dan mendahulukan tangan kanan kemudian tangan kiri.
Tayammum dianggap batal apabila menemukan air jika yang menyebabkan bertayammum
adalah karena tidak ada air, bagi yang bertayammum karena sakitnya yang berbahaya jika
menyentuh air maka tayammum dianggap batal jika sakitnya telah sembuh. Kedua, yang
membatalkan tayammum adalah jika keluar dari agama islam (murtad), serta semua yang
membatalkan wudhu juga dapat membatalkan tayammum.