Anda di halaman 1dari 12

9/22/2015

STATIKA
(Reaksi Perletakan)
Mekanika Rekayasa I

Norma Puspita, ST.MT.

Tumpuan

 Tumpuan merupakan tempat perletakan konstruksi atau dukungan bagi


konstruksi dalam meneruskan gaya – gayayang bekerja ke pondasi

 Dalam ilmu Mekanika Rekayasa dikenal 3 jenis tumpuan :


a. Tumpuan sendi
b. Tumpuan roal
c. Tumpuan jepit

1
9/22/2015

Sendi

 Tumpuan sendi sering disebut dengan engsel karena cara kerjanya mirip
dengan engsel
 Tumpuan Sendi adalah tumpuan yang dapat menahan gaya dari segala arah
(vertical dan horizontal) tetapi tidak dapat menahan momen

Rol

 Tumpuan rol hanya dapat menahan gaya vertical


saja dantidak bias menahan gaya horizontal
 Pada tumpuan ro terdapat roda yang dapat
bergeser untuk mengakomodir pemuaian pada
konstruksi sehingga konstruksi tidak rusak

2
9/22/2015

Jepit

 Tumpuan jepit berupa balok yang terjepit pada kolom yang dapat
memberikan reaksi terhadap gaya vertical, horizontal dan momen

Jenis Konstruksi Statika

 Ada dua jenis konstruksi yaitu:


a. Konstruksi statis tertentu
b. Konstruksi statis tak tentu
 Konstruksi statis tertentu besarnya gaya reaksi dan momen dapat ditentukan
dengan persamaan keseimbangan (Σ V = 0, Σ H = 0, Σ M = 0)
 Sedangkan pada konstruksi statis tak tentu tidak dapat diselesaikan dengan
persamaan keseimbangan
𝑅 = 𝐵 + 2  seimbang, statis tertentu
R = jumlah reaksi yang akan ditentukan
B = jumlah batang
Jika R > B + 2  statis tak tentu

3
9/22/2015

Jenis Konstruksi Statika

 Contoh : P

HA
A B

VA VB
R = 3  VA, VB, HA
B=1
R = B+2
Jadi konstruksi diatas adalah konstruksi statis tertentu

Penguraian Gaya

 Metode Penguraian Gaya ada dua macam:


a. metode grafis
b. Metode analitis
 Metode grafis adalah menguraikan gaya berdasarkan garis kerja gaya dengan
skala tertentu
𝑎 𝑏 𝑐
 Metode analitis menggunakan rumus = = =
sin 𝛼 sin 𝛽 sin 𝛾

a b

𝜷 𝛼
c

4
9/22/2015

Metode grafis
A B
450 300

L1 P1
P2 L2
P1

P2
P = 10 kN

P = 10 kN

 Skala 1 cm : 4 kN
 Dari hasil diatas didapatkan P1 = 1,9 cm = 1,9 x 4 kN = 7,2 kN
 Sedangkan P2 = 2,4 cm = 2,4 x 4 kN = 9,2 kN

Metode Analitis
X
A B
450 300 𝜸
P1
P1
P2
𝜶

P2
P = 10 kN

𝜷
P = 10 kN

 Sehingga 𝛽 = 450 , 𝛾 = 900 − 300 = 600 , 𝛼 = 1800 − 600 − 450 = 750


𝑃1 𝑃2 𝑃
 = =
sin 𝛽 sin 𝛾 sin 𝛼
𝑃1 𝑃2 𝑃
 = = ; sehingga diketahui nilai P1 = 7,32 kN dan P2 = 8,97 kN
sin 45 sin 60 sin 75

5
9/22/2015

Garis kerja gaya


P = 10kN
P1
P2

3m 5m P1
S’ O

S
2
P2 P
II
I

 Gambar gaya P = 10 kN dengan skala tertentu misalkan 1 cm : 4kN, kemudian tentukan titik O (sembarang). Usahakan jarak titik
O sedemikian rupa sehingga gambar polygon batang nantinya tidak terlalu tumpul dan tidak terlalu runcing
 Tarik garis 1 melalui pangkal gaya P dan melalui titik O
 Gambar garis I sejajar garis 1 yang memotong garis kerja P1 dan P
 Tarik garis 2 melalui ujung P dan melalui titik O
 Gambar garis II sejajar garis 2 yang memotong garis kerja P2 dan P
 Tarik garis S melalui perpotongan antara garis kerja P1 dan garis I, dan melalui titik potong antara garis P2 dan garis 2
 Gambar garis S’ sejajr garis S yang melalui titik O dan memotong gaya P
 Kemudian ukur panjang P1 yang diukur dari pangkal gaya P sampai dengan perpotongan garis S’ dengan gaya P
 Panjang P2 diukur dari ujung gaya P sampai dengan perpotongan garis S’
 P1 = 1,5 x 4 = 6 kN ; P2 = 1 x 4 = 4kN

Beban
 Didalam suatu konstruksi pasti ada beban, beban yang dapat bergerak disebut beban hidup,
seperti manusia, kendaraan dll. Sedangkan beban yang tidak dapat bergerak disebut beban
mati, seperti: meja, kursi, peralatan, dll. Ada juga disebut beban berat sendiri akibat
berat/massa benda itu sendiri.
 Terdiri dari 2 jenis :
a. Beban terpusat yaitu beban yang bekerja secara terpusat di satu titik saja
b. Beban merata yaitu beban yang tersebar secara merata

6
9/22/2015

Reaksi Perletakan

 Reaksi perletakan terjadi akibat adanya aksi


 Pada konstruksi statis tertentu, reaksi perletakan dihitung dengan prinsip
keseimbangan gaya
a. Reaksi perletakan akibat beban terpusat

HA
A B

VA VB

Reaksi Perletakan

 Reaksi perletakan akibat beban merata yaitu yang ditentukan berdasarkan


titik berat beban terbagi merata terhadap bentang.
Beban merata = q = kg/m’ , kN/m’, t/m’
Berat beban = Q = kg, kN, ton
Beban merata segi empat

HA
A B
𝑸 = 𝒒. 𝑳
Q
1 1
𝐿 𝐿
2 2

VA VB

7
9/22/2015

Reaksi Perletakan

Beban merata segitiga

𝟏
𝑸= 𝒒𝑳
𝟐

HA
A B
Q

VA VB
1 2
𝐿 𝐿
3 3
L

HA

Reaksi Perletakan
A B

Beban Terpusat a L-a

VB
VA

L
 𝑀𝐵 = 0
 𝑀𝐴 = 0
 𝑉𝐴 . 𝐿 − 𝑃. (𝐿 − 𝑎) = 0
𝑃 (𝐿 −𝑎) 𝑃𝐿 −𝑃𝑎
 −𝑉𝐵 . 𝐿 + 𝑃. 𝑎 = 0
 𝑉𝐴 = = 𝑃𝑎
𝐿 𝐿
 𝑉𝐵 =
𝑃𝑎 𝐿
 𝑉𝐴 = 𝑃 −
𝐿

 𝐻=0
 HA = 0

8
9/22/2015

Reaksi Perletakan
Beban Terpusat
 𝑀𝐵 = 0
 𝑉𝐴 . 𝐿 − 𝑃1 . 𝐿 − 𝑎 − 𝑃2 . 𝑏 = 0 P1 P2

𝑃1 𝐿 −𝑎 + 𝑃2 .𝑏
 𝑉𝐴 = HA
𝐿
A B

 𝑀𝐴 = 0
a b
 −𝑉𝐵 . 𝐿 + 𝑃1 . 𝑎 + 𝑃2 . 𝐿 − 𝑏 = 0
VB
𝑃1 .𝑎 + 𝑃2 .(𝐿−𝑏) VA
 𝑉𝐵 =
𝐿
L

 𝐻=0
 HA = 0

P3 sin α
P1 P2
P3

Reaksi Perletakan HA 𝛼 P3 cos α


A B
Beban Terpusat
a b c

 𝑀𝐴 = 0
VB
VA
 −𝑉𝐵 . 𝐿 + 𝑃1 . 𝑎 + {𝑃2 𝑎 + 𝑏 } + {𝑃3 sin 𝛼 𝐿 − 𝑐 } = 0
L
𝑷𝟏 .𝒂 + 𝑷𝟐 𝒂+𝒃 + {𝑷𝟑 𝐬𝐢𝐧 𝜶 (𝑳−𝒄)}
 𝑽𝑩 =
𝑳

 𝑀𝐵 = 0
 𝑉𝐴 . 𝐿 − 𝑃1 . 𝐿 − 𝑎 − 𝑃2 . 𝐿 − 𝑎 − 𝑏 − 𝑃3 sin 𝛼 . 𝑐 = 0
𝑷𝟏 . 𝑳−𝒂 + 𝑷𝟐 . 𝑳−𝒂−𝒃 + 𝑷𝟑 (𝒔𝒊𝒏 𝜶).𝒄
 𝑽𝑨 =
𝑳

 𝐻=0
 𝐻𝐴 = 𝑃3 cos 𝛼

9
9/22/2015

Reaksi Perletakan Beban Merata

HA
 𝑀𝐴 = 0 A B
1
 −𝑉𝐵 . 𝐿 + 𝑄. 𝐿 = 0
2 Q
1
𝑞 𝑙2 1
1 1
 𝑉𝐵 = 2
= 𝑞𝐿 𝐿 𝐿
𝐿 2 2 2

VA VB
 𝑀𝐵 = 0
1 L
 𝑉𝐴 . 𝐿 − 𝑄. 𝐿 = 0
2
1
𝑞 𝑙2 1
2
 𝑉𝐴 = 𝐿
= 2
𝑞𝐿

 𝐻 = 0
 HA = 0

Reaksi Perletakan
Beban Merata
HA
 𝑀𝐴 = 0 A B

1
−𝑉𝐵 . 𝐿 + 𝑄. 3 𝐿 = 0 Q
1
𝑞 𝑙2 1
6
 𝑉𝐵 = = 𝑞𝐿
𝐿 6

VA VB
 𝑀𝐵 = 0
1 2
2 𝐿 𝐿
 𝑉𝐴 . 𝐿 − 𝑄. 3 𝐿 = 0 3 3
2
3
𝑞 𝑙2 1 L
 𝑉𝐴 = = 𝑞𝐿
𝐿 3

 𝐻 = 0
 HA = 0

10
9/22/2015

Gaya Dalam
P

H HA
A A B A B

Q
1 1 a L-a
𝐿 𝐿
 Momen (Bending Moment Diagram) 2 2
V V VB
- Momen adalah hasil kali antara gaya dengan jaraknya. B
VA
Jarak disini adalah jarak tegak lurus dengan garis A
L
kerja gayanya. L
- Bidang momen diberi tanda positif jika bagian bawah
atau bagian dalam yang mengalami tarikan. Bidang + +
momen positif diarsir tegak lurus sumbu batang yang
mengalami momen. Mmax Mmax

- Sebaliknya, apabila yang mengalami tarikan pada


bagian atas atau luar bidang momen, maka diberi
dengan tanda negatif. Bidang momen negatif diarsir
sejajar dengan sumbu batang.

Gaya Dalam HA
A B
HA
A B

Q
1 1 a L-a
 Gaya Lintang (Shear Force Diagram) 𝐿 𝐿
2 2
- Gaya normal (shear forces diagram) adalah VB VB
susunan gaya yang tegak lurus dengan VA VA
sumbu batang.
L
L
- nilai gaya lintang akan positif apabila
perputaran gaya yang bekerja searah
dengan jarum jam, dan diarsir tegak lurus VA
+ VA +
dengan sumbu batang yang menerima gaya
melintang. Sebaliknya, bila perputaran
VB - VB
gaya yang bekerja berlawanan arah dengan -
perputaran jarum jam, diberi tanda
negatif dan diarsir sejajar dengan sumbu
batang.

11
9/22/2015

Gaya Dalam

 Gaya Normal
Gaya normal adalah suatu gaya yang garis kerjanya berimpit/sejajar dengan
sumbu batang.

12