Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

Untuk Memenuhi Mata Kuliah Strategi Belajar Mengajar

“Pendekatan Konsep, Pendekatan Keterampilan Proses, Pendekatan CPSA dan


Pendekatan CTL”

Di susun oleh :

I MADE SIWIYANTO
16507070
OLGA C. BAWOHE
16507040

Kelas/Semester : 4 C/ IV

Prodi : Pendidikan Biologi

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.......................................................................................................i

KATA PENGANTAR........................................................................................ii

BAB I “PENDAHULUAN”..............................................................................1

1.1 Latar Belakang...................................................................................1

BAB II “PEMBAHASAN”...............................................................................3

A. Pengertian Pendekatan Konsep..........................................................3

B.Pendekatan Keterampilan Proses.......................................................11


C.Pendekatan CBSA..............................................................................16
D.Pengertian Pendekatan CTL..............................................................27

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................31

KATA PEN GGA N TA R


Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas

berkat rahmat dan karunia-Nya Makalah tentang “Pendekatan Konsep,

Pendekatan Keterampilan Proses, Pendekatan CPSA dan Pendekatan CTL” dapat

terselesaikan.

Seiring dengan perkembangan lingkungan serta iptek yang begitu

kompleks, makalah yang kami susun berdasarkan berbagai sumber ini berisi

tentang fakta serta ide-ide logis yang berkaitan dengan Strategi Belajar Mengajar

Pola dan sistem penyajian makalah ini diharapkan dapat di mengerti oleh

pembaca. Dengan demikian, materi yang disajikan pada makalah ini mampu

menambah wawasan pembaca.

Akhirnya segala kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini akan

kami terima dengan hati terbuka.

Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

Tondano, 4 Maret 2018

Ketua Kelompok

I Made Siwiyanto
NIM : 16 507070
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses belajar merupakan proses interaksi edukatif yang terikat pada
tujuan, terarah pada ujuan, dan dilaksanakan khusus untuk mencapi tujuan
(Suastra, 2013). Proses belajar-mengajar merupakan kegiatan utama di
sekolah. Dalam proses ini siswa membangun makna dan pemahaman dengan
bimbingan guru. Kegiatan belajar-mengajar hendaknya memberikan
kesempatan kepada siswa untuk melakukan hal-hal secara lancar dan
termotivasi. Suasana belajar yang diciptakan guru harus melibatkan siswa
secara aktif. Di sekolah, terutama guru diberikan kebebasan untuk mengelola
kelas yang meliputi strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran
yang efektif, disesuaikan dengan karakteristik dari mata pelajaran,
karakteristik siswa, guru, dan sumber daya yang tersedia di sekolah.

Pengajaran adalah suatu aktifitas (proses) mengajar belajar yang di


dalamnya ada dua subjek yaitu guru dan peserta didik. Istilah peserta didik
penulis gunakan untuk anak didik, objek didik, atau sebagai istilah lain dari
siswa. Tugas dan tanggung jawab utama seorang guruatau pengajar adalah
mengelola pengajaran dengan lebih efektif, dinamis, efisien, dan positif, yang
ditandai dengan adanya kesadaran dan keterlibatan aktif di antara dua subjek
pengajaran, guru sebagai penginisiatif awal, pengarah, pembimbing, sedang
peserta didik sebagai yang mengalami dan terlibat aktif untuk memperoleh.

Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh


guru dan siswa dalam mencapai tujuan intruksional untuk suatu satuan
intruksional tertentu. Pendekatan pembelajaran merupakan aktivitas guru
dalam memilih kegiatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran ini sebagai
penjelas untuk mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar
dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang
disamapikan guru dengan memelihara suasana pembelajaran yang
menyenangkan.
Pada pokoknya pendekatan pembelajaran dilakukan oleh guru untuk
menjelaskan materi pelajaran dari bagian-bagian yang satu dengan bagian
lainnya berorientasi pada pengalaman-pengalaman yang dimiliki siswa untuk
mempelajari konsep, prinsip atau teori yang baru tentang suatu bidang ilmu.
Sebagai guru, tentunya harus memiliki cara-cara atau metode-metode
untuk membuat suasana kelas menjadi nyaman dan siswa dapat belajar dengan
nyaman saat mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Misalnya saja
dalam proses pembelajaran sains diperlukan banyak pendekatan-pendekatan
maupun ketrampilan-ketrampilan guna melatih dan mengembangkan
kemampuan siswa tidak hanya dari segi akademiknya saja melainkan juga dari
ketrampilan yang dimiliki agar terus berkembang, sebab dalam pembelajaran
sains tidak hanya menekankan pada teorinya saja tetapi pada prakteknya
secara langsung. Salah satu contoh pendekatan yang dapat digunakan adalah
pembelajarn dengan menggunakan Pendekatan Konsep , Pendekatan
Keterampilan Proses, Pendekatan CPSA dan Pendekatan CTL. Pendekatan ini
akan membantu para guru untuk mengarahkan siswanya memahami materi
pembelajaran yang disajikan dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis berkeinginan menulis
makalah yang berjudul “Pendekatan Konsep, Pendekatan Keterampilan
Proses, Pendekatan CPSA dan Pendekatan CTL” yang nantinya akan
menjabarkan hal yang terkait secara lebih mendalam.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendekatan Konsep


Pendekatan (approach) adalah suatu istilah yang memilki kemiripan
dengan strategi. Menurut Wina Sanjaya dalam (Sofa, 2008) pendekatan
adalah titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran.
Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses
yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karena itu strategi dan metode
pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari
pendekatan tertentu.
Konsep merupakan buah pikiran seseorang atau sekelompok orang
yang dinyatakan dalam defenisi sehingga melahirkan produk pengetahuan
berupa prinsip, hukum, dan teori. Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa,
pengalaman, melalui generalisasi dan berpikir abstrak. Konsep dapat
mengalami perubahan disesuaikan dengan fakta atau pengetahuan baru,
sedangkan kegunaan konsep adalah menjelaskan dan meramalkan sesuatu
pengetahuan.
Menurut Richard I. Arends dalam (Sofa, 2008), bahwa konsep dalam
subjek apapun adalah balok-balok bangunan dasar untuk berpikir, terutama
untuk pemikiran tingkat tinggi. Konsep memungkinkan individu-individu
untuk mengklasifikasikan berbagai objek, ide dan membuat aturan serta
prinsip tentang itu. Konsep menjadi fondasi bagi jaringan (skemata) ide yang
menuntun pemikiran kita. Mempelajari konsep sangat penting di sekolah
maupun dalam kehidupan sehari-hari karena konsep memungkinkan orang-
orang untuk saling memahami dan menjadi dasar untuk interaksi verbal.
Dengan demikian pendekatan konsep adalah pengajaran yang berpangkal
pada peran pembentukan konsep dan keterkaitannya sehingga memberikan
makna pada peserta didik. Bilamana guru mengajar IPA, misalnya dengan
menyuruh siswa ”mengeluarkan” konsep-konsep tentang pokok bahasan
dalam buku pelajaran IPA, lalu guru melaksanakan demonstrasi atau guru
menyuruh siswa melakukan percobaan untuk menemukan atau membuktikan
bahwa konsep itu benar, maka guru tersebut telah menerapkan pendekatan
konsep dalam mengajarkan Biologi (Suastra, 2013).
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa
dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang
terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan
konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa
dibimbing untuk memahami konsep. Dengan perkataan lain, apabila
pendekatan konsep dapat diajarkan dengan benar kepada siswa maka siswa
tidak akan mudah untuk melupakan pengetahuan yang didapatnya.
Pendekatan konsep merupakan pendekatan pembelajaran yang secara
langsung menyajikan konsep memberikan kepada siswa untuk memahami
konsep yang diperoleh secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi
kesalahan konsep (miskonsepsi). Konsep akan merangsang pemikiran anak
dalam pembelajaran sains yang memiliki ciri-ciri tertentu yang sama
merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman.
Ciri-ciri konsep dalam pendekatan Sains adalah sebagai berikut
(Suastra,2013):
1) Konsep merupakan buah pikiran yang dimiliki seseorang atau sekelompok
orang. Dapat dikataka bahwa konsep merupakan sebuah simbol.
2) Konsep itu timbul dari sebuah pengalaman manusia dengan lebih dari satu
benda, peristiwa atau fakta. Jadi konsep adalah suatu generalisasi.
3) Konsep adalah hasil berpikir abstrak manusia yang merangkum banyak
pengalaman.
4) Suatu konsep dapat dianggap kurang tepat, disebabkan karena timbulnya
fakta-fakta baru, dan karena itu konsep yang bersangkutan mengalami
perubahan. Jadi konsep itu bersifat tentatif.
Menurut Good, konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan
ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al., konsep
adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses.
Sedangkan menurut Kuslan dan Stone, konsep adalah sifat Khas yang
diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat
dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Gagne and Briggs menyatakan
bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit
dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-
ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra.
Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat,
datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep
yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh
konsep terdefinisi misalnya konsep: cahaya, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya
(dalam Widyaningtias, 2006).
Konsep dapat diartikan sebagai rangkaian stimulasi yang mempunyai
ciri-ciri yang sama. Unsur-unsur yang terdapat dalam konsep itu meliputi dua
hal. Pertama, menurut tinjauan psikologis, konsep itu mengandung hal-hal
yang bersamaan, tersusun dan tergabung dalam suatu objek. Kedua, konsep
memuat hubungan komponen-komponen dalam suatu proses atau kejadian.
Bedarasarkan kedua unsur tersebut, konsep dapat diartikan sebagai suatu
jaringan hubungan dalam objek, kejadian, dan lain sebagainya, yang
mempunyai ciri-ciri tetap dan dapat diobservasi. Misalnya, seorang peserta
didik dapat mengenal benda yang terbuat dari kaca, di dalamnya terdapat air
raksa, dan berisi skala, benda itu disebut thermometer. Kapan pun peserta
didik menemukan benda-benda yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan
benda tersebut, maka ia akan mengenalnya sebagi termometer (Bruner,
Goodnew dan Austin, dalam Sudjana, 2005).
Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli
tersebut, maka dapat disimpulkan konsep merupakan suatu abstraksi yang
mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau
fenomena lainnya.
Sedangkan pendekatan merupakan cara umum dalam memandang
suatu permasalahan atau suatu objek kajian (Suastra, 2013). Sehingga
pendekatan konsep dapat diartikan sebagai suatu cara umum dalam
memandang suatu permasalahan atau suatu objek kajian secara konseptual
yaitu ciri-ciri umum dari permasalahan atau objek kajian tersebut.
Dengan pendekatan konsep ini peserta didik dapat memahami dan
membedakan benda-benda, peristiwa atau kejadian yang ada dalam
lingkungan sekitar. Peserta didik dapat memahami benda-benda atau
peristiwa-peristiwa pada semua ruang dan waktu karena pada setiap benda dan
peristiwa itu terdapat ciri-ciri tertentu yang sama pada setiap tempat dan setiap
waktu.

Merencanakan dan Melaksanakan Pembelajaran Konsep


Berbagai prosedur dan pedoman yang dibuat untuk merencanakan dan
melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan pencapaian konsep/pendekatan
konseptual adalah sebagai berikut:
a) Merencanakan Pembelajaran Konsep.
Selama fase perencanaan pembelajaran konsep, guru harus membuat
keputusan tentang konsep apa saja yang akan dibelajarkan dan pendekatan
mana yang akan digunakan. Guru harus melakukan sebuah pekerjaan
menyeluruh, yakni menetapkan dan menganalisis konsep-konsep yang
dibelajarkan dan memutuskan contoh-contoh dan bukan contoh mana yang
akan digunakan dan cara terbaik untuk menyajikannya kepada siswa
selama pembelajaran. Adapun tugas guru dalam merencanakan
pembelajaran konsep adalah:
 Memilih Konsep
Kurikulum 2013 adalah sumber utama untuk memilih konsep-
konsep yang akan dibelajarkan. Konsep-konsep itu mungkin terdapat
dalam textbook yang digunakan guru. Pengajaran konsep selalu
diajarkan bila materinya berisi istilah-istilah yang tidak familier,
serangkaian langkah yang tidak diketahui oleh siswa, atau penggunaan
aturan tertentu yang baru bagi siswa. Dalam proses memilih konsep-
konsep yang akan dibelajarkan sangat penting, karena membantu
siswa memahami sebuah konsep sangat berarti dari pada sekedar
membuat mereka mampu memberikan defenisi tentang konsep.
 Memutuskan Pendekatan yang Akan Dipakai
Pendekatan yang digunakan seorang guru bergantung pada
tujuan yang ingin dicapai, karakteristik siswa yang diajarkan, dan sifat
konsepnya. Pendekatan presentasi langsung, biasanya digunakan
untuk mengembangkan pengetahuan tentang sebuah konsep yang
mana pengetahuan sebelumnya sudah atau tidak dimiliki siswa.
Pendekatan pencapaian konsep digunakan apabila siswa sudah
memiliki beberapa pemahaman tentang konsep dan tujuan
pembelajarannya adalah untuk mengeksplorasi atribut-atribut esensial
konsep tertentu.
 Mendefinisikan konsep
Atribut-atribut esensial (kritis) atau penentu adalah kategori
yang ada disetiap contoh konsep dan membedakannya dengan semua
konsep-konsep lainnya. Sebagai contoh konsep pohon, dapat
difenisikan “tumbuhan yang hidup bertahun-tahun dan memilki
sebuah batang tumbuh tunggal berkayu”. Defenisi ini memasukkan
atribut-atribut esensial: tumbuhan, hidup bertahun-tahun, batang
tumbuh tunggal, dan berkayu.
Atribut-atribut non esensial (non kritis) juga masuk dalam
gambaran/konsep pohon, Sebagai contoh ukuran, bentuk, dan warna
adalah atribut-atribut non esensial dari konsep pohon. Pada dasarnya
ada tiga langkah dalam mendefenisikan suatu konsep: 1) indentifikasi
nama konsepnya, 2) buat daftar atribut-atribut esensial dan non
esensial, 3) tulis defenisi ringkasnya.
 Menganalisis Konsep
Setelah sebuah konsep dipilih dan didefenisikan dalam
kaitannya dengan atribut-atributnya, konsep itu perlu dianalisis untuk
mencari beberapa contoh dan bukan contohnya. Pemilihan contoh dan
bukan contoh merupakan aspek yang paling sulit dalam perencanaan
pembelajaran konsep. Contoh berfungsi sebagai penghubung antara
abstraksi konsep dengan pengetahuan dan pengalaman yang
sebelumnya sudah dimiliki siswa. Contoh harus bermakna bagi siswa
dan harus sekonkrit mungkin.
 Memilih dan mengurutkan Berbagai Contoh dan Bukan Contoh
Berbagai contoh dan bukan contoh yang dipilih untuk
mengilustrasikan sebuah konsep sangat penting. Ketika memilih
sebuah contoh guru akan sering membuat atribut-atribut non esensial
konsep itu berbeda mungkin, hal ini akan membantu siswa untuk
memfokuskan pada atribut-atribut esensial yang sama pada setiap
contoh. Sebagai contoh guru mau mengembangkan konsep serangga,
guru mungkin memasukkan kutu air dan semut yang hidup lingkungan
yang berbeda tetapi memiliki atribut esensial yang sama.
 Menggunakan Gambar-gambar Visual
Gambar-gambar visual mempengaruhi dan mendukung
pembelajaran dari konsep. Gambar membantu siswa untuk
cepat dalam menemukan atribut-atribut esensial.
 Merencanakan Waktu dan Ruang
Mengalokasikan waktu yang cukup dan menggunakan ruang
kelas adalah tugas guru sebagai perencana untuk pembelajaran
konsep. Waktu bergantung pada tingkat dan kemampuan kognitif
siswa dan kompleksnya konsep yang dibelajarkan. Penggunaan ruang
untuk pembelajaran konsep, guru lebih suka menggunakan formasi
tempat duduk baris dan lajur tradisional.
b) Melaksanakan Pembelajaran Konsep
Dalam melaksanakan pembelajaran konsep di dalam kelas, guru
tentunya harus mengetahui apa-apa saja yang diperlukan dalam
menerapkan pembelajaran konsep tersebut dikelas, baik dari segi
sintaknya, lingkungan belajar yang harus diciptakan dan evaluasi
pembelajarannya.
 Sintaks pembelajaran pencapaian konsep memiliki tiga fase kegiatan
yaitu:
Fase pertama : Penyajian data dan indentifikasi konsep
Prilaku guru dan siswa pada fase ini adalah sebagai berikut:
1) Guru menyajikan contoh-contoh konsep yang sudah diberi label.
2) Siswa membandingkan atribut-atribut dalam contoh positif dan
contoh negatif.
3) Siswa menggeneralisasikan dan menguji hipotesis.
4) Siswa membuat defenisi tentang konsep menurut atribut-atribut
esensial yang diketemukan.
Fase kedua: Menguji pencapaian konsep
Perilaku guru dan siswa pada fase kedua ini adalah:
1) Siswa mengindentifikasi tambahan contoh yang tidak diberi label
dengan mengatakan “ya” atau “bukan”,
2) Guru menegaskan hipotesis, nama konsep, dan menyatakan
kembali defenisi konsep sesuai dengan atribut-atribut esensial,
3) Siswa menemukan contoh-contoh konsep.
Fase ketiga : Menganalisis strategi berpikir.
Perilaku guru dan siswa pada fase ini adalah:
1) Siswa mengungkapkan apa yang dipikirkannya,
2) Guru membantu siswa mendiskusikan hipotesis dan atribut-atribut
konsep,
3) Siswa mendiskusikan tipe/jenis dan jumlah hipotesis.
 Lingkungan Belajar
Pendekatan/model pembelajaran ini memiliki struktur yang
moderat. Guru melakukan pengendalian terhadap aktivitas
(pembelajaran berpusat pada guru), tetapi dapat dikembangkan
menjadi kegiatan dialog bebas dalam fase-fase itu. Interaksi antar
siswa digalakkan oleh guru. Selama pembelajaran, guru diharapkan
membantu siswa dalam menemukan dan menyusun hipotesis untuk
kemudian didiskusikan dan dibandingkan dengan hipotesis yang
disusun oleh siswa lain. Dengan pengorganisasian kegiatan itu
diharapkan siswa akan lebih dapat memperlihatkan inisiatifnya untuk
melakukan proses induktif bersamaan dengan bertambahnya
pengalaman dalam melibatkan diri selama pembelajaran.
 Evaluasi
Pendekatan pembelajaran pencapaian konsep ini merupakan alat
penilai yang baik, apabila guru ingin menentukan apakah gagasan-
gagasan penting yang telah diperkenalkan sudah dikuasai siswa atau
belum. Model pembelajaran ini dengan cepat mengungkapkan
kedalaman pemahaman siswa dan juga dapat menguatkan
pengetahuan siswa sebelumnya.
Bentuk soal yang digunakan dalam evaluasi pembelajaran
pencapaian konsep adalah soal pilihan ganda atau soal uraian singkat.
Soal-soal dapat disesuaikan dengan tujuan tes dan karakteristik siswa.
Di lihat dari penggunaannya selama proses pembelajaran,
pendekatan/model pembelajaran pencapaian konsep ini mempunyai
dampak pengajaran langsung (instructional effect) dan dampak
pengajaran pengiring (nuturant effect).

Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Konsep


a. Kelebihan Pendekatan Konsep didalam proses pembelajaran antara lain:
1. Fokus pada penguasaan konsep dan subkonsep
2. Siswa dibimbing untuk memahami konsep dengan beberapa metode
b. Kekurangan Pendekatan Konsep didalam proses pembelajaran antara lain:
1. Pendekatan ini kurang memperhatikan aspek student centre.
2. Guru terlalu dominan dan siswa tidak dibimbing untuk memahami
konsep.

B. Pendekatan Keterampilan Proses


Keberhasilan proses pembelajaran sangat bergantung pada
peran seorang gurundalam menciptakan lingkungan belajar yang
efektif. Proses pembelajaran harus mampu merangsang peserta
didik untuk menggali potensi diri yang sebenarnya sudah ada pada
diri siswa itu sendiri. Guru dapat menggunakan salah satu
alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat mengembangkan
keterampilan yaitu pendekatan keterampilan proses sains.
Pendekatan keterampilan proses sains dirancang dengan beberapa
tahapan yang diharapkan akan meningkatkan penguasaan konsep.
Tahapan-tahapan pendekatan pembelajaran keterampilan proses
sains menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:49):

Pendekatan keterampilan proses lebih cocok diterapkan


pada pembelajaran sains. Pendekatan pembelajaran ini
dirancang dengan tahapan: (1) Pe-nampilan fenomena.
(2) Apersepsi, (3) Menghubungkan pembelajaran dengan
pengetahuan awal yang dimiliki siswa. (4) Demonstrasi
atau eksperimen. (5) Siswa mengisi lembar kerja. (6)
Guru memberikan penguatan materi dan penanaman
konsep dengan tetap mengacu kepada teori
permasalahan.

Tahapan-tahapan tersebut dijabarkan sebagai berikut:

1. Pendahuluan
a. Guru membuka pelajaran dan menyampaikan

indikator dan tujuan pembelajaran.

b. Guru membagi siswa menjadi 8 kelompok dan

mengkondisikan siswa duduk berdasarkan kelompoknya

masing-masing.

c. Guru menggali pengetahuan dengan mengajukan pertanyaan

kepada siswa dan menghubungkan pembelajaran dengan

pengetahuan awal yang dimiliki siswa.

2. Kegiatan Inti

a. Guru membagikan LKS kepada siswa.


b. Guru membimbing dan memberi arahan materi yang dipelajari oleh
siswa.
c. Guru membimbing siswa melakukan diskusi pada setiap
kelompok dengan tertib untuk mengisi pertanyaan yang ada
dalam LKS.
d. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menanggapi pertanyaan dari kelompok yang lain.
e. Guru mengajukan pertanyaan apabila masih ada yang belum
jelas pada materi yang dipelajari.
f. Guru memberikan penguatan terhadap jawaban siswa.
g. guru menilai keterampilan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

3. Penutup.
a. Guru melakukan evaluasi untuk mengetahui penguasaan konsep
siswa.
b. Guru membimbing siswa menyimpulkan materi telah dipelajari.
c. Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa untuk
membaca materi selanjutnya.

Penerapan pendekatan pembelajaran keterampilan proses sains


memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan
yang pada dasarnya sudah dimiliki oleh siswa. Hal itu didukung oleh
pendapat Arikunto (2004 : 33):
Pendekatan berbasis keterampilan proses adalah wawasan atau
anutan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual,
sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan
mendasar yang pada prinsipnya keterampilan-keterampilan
intelektual tersebut telah ada pada siswa.
Pendekatan keterampilan proses sains bukan tindakan instruksional yang
berada diluar kemampuan siswa. Pendekatan keterampilan proses sains
dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang
dimiliki siswa. Menurut pendapat Tim action Research Buletin Pelangi
Pendidikan (1999 : 35).
keterampilan proses sains dibagi menjadi dua antara lain:
1) Keterampilan proses dasar ( Basic Science Proses Skill ),
meliputi observasi, klasifikasi, pengukuran, pengkomunikasian
dan menarik kesimpulan. Indikator keterampilan proses sains
dasar ditunjukkan pada Tabel 1 sebagai berikut:

2) Keterampilan proses terpadu ( Intergated Science Proses Skill ),

meliputi merumuskan hipotesis, menamai variabel, mengontrol

variabel, membuat definisi operasional, melakukan eksperimen,

interpretasi, merancang penyelidikan, aplikasi konsep. Indikator

keterampilan proses sains terpadu ditunjukkan pada Tabel 2 sebagai

berikut:
3)

Pendekatan keterampilan proses sains diharapkan mampu menjadi alternatif


untuk pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan ketercapaian
indicator pembelajaran. Keterampilan yang diperoleh melalui pendekatan
keterampilan proses sains dapat dinilai melalui beberapa aspek, misalnya aspek
fisik, aspek psikis, dan aspek sosial.
C. Pengertian Cara Belajar Siswa Aktif

Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) pada hakekatnya merupakan suatu

konsep dalam mengembangkan keaktifan proses belajar mengajar baik

dilakukan guru maupun siswa. Jadi dalam CBSA tampak jelas adanya guru

aktif mengajar di satu pihak, dan siswa aktif belajar di satu pihak

(Muhammad Ali (2008:68). Konsep ini bersumber dari teori kurikulum yang

berpusat pada anak (Child Centered Curriculum). Penerapannya berlandaskan

kepada teori belajar yang menekankan pentingnya belajar melalui proses

mengalami untuk memperoleh pemahaman atau insight (teori gestalt).

Pada kurikulum yang berpusat pada anak siswa mempunyai peran

sangat penting dalam menentukan bahan pelajaran. Jelaslah bahwa aktivitas

siswa merupakan faktor dominan dalam pengajaran. Karena siswa itu sendiri

membuat perencanaan, menentukan bahan pelajaran dan corak proses belajar

mengajar yang diinginkan. Guru hanya bertindak sebagai koordinator saja.

Penerapan teori kurikulum semacam ini tentu saja memperkecil

peran guru mengajar. Padahal sesungguhnya teori pengajaran tidak

“meniadakan” sama sekali peran guru. Tetapi banyak menyeimbangkan peran

antara guru dan siswa. Modifikasi teori kurikulum semacam ini, dalam

pelaksanaan menjadi dasar lahirnya konsep CBSA.

Berdasarkan teori belajar Gestalt (insightful learning theory), belajar

pada hakekatnya merupakan hasil dari proses interaksi antara diri individu

dengan lingkungan sekitarnya (Muhammad Ali, (2008:68). Belajar tidak

hanya semata-mata sebagai suatu upaya dalam merespons suatu stimulus.

Tetapi lebih daripada itu, belajar dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti
mengalami, mengerjakan, dan memahami belajar melalui proses (learning by

process). Jadi, hasil belajar dapat diperoleh bila siswa “aktif”, tidak pasif.

Bila kita menerima konsepdi awal tadi, sesungguhnya hasil belajar

itu dapat dicapai bila melalui proses yang bersifat aktif. Dalam melakukan

proses ini, siswa menggunakan seluruh kemampuan dasar yang dimiliki,

sebagai dasar untuk melakukan “berbagai kegiatan” agar memperoleh hasil

belajar. Sedangkan fungsi guru adalah :

1. Memberi perangsang atau motivasi agar mau melakukan kegiata belajar.


2. Mengarahkan seluruh kegiatan belajar kepada suatu tujuan tertentu.
3. Memberi dorongan agar siswa mau melakukan seluruh kegiatan yang

mampu dilakukan untuk mencapai tujuan.


Atas dasar semua yang digambarkan di atas itu, selanjutnya

dikembangkan suatu upaya, bagaimana menciptakan suatu bentuk pengajaran

yang dapat mengaktifkan kegiatan baik oleh guru maupun siswa dalam proses

belajar mengajar.
Aktivitas guru mengajar tercermin dalam menempuh strategi

pengajaran. Sedangkan aktivitas siswa belajar tercermin dalam menggunakan

isi khasanah pengetahuan dalam memecahkan masalah, menyatakan gagasan

dalam bahasa sendiri, menyusun rencana satuan pelajaran atau eksperimen.


Kadar CBSA dalam pengajaran dapat diidentifikasikan dari adanya

ciri sebagai berikut :


1. Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun atau membuat

perencanaan, proses belajar mengajar dan evaluasi.


2. Adanya keterlibatan intelektual-emosional siswa baik melalui kegiatan

mengalami, menganalisa, berbuat dan pembentukan sikap.


3. Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan situasi

yang cocok untuk berlangsungnya proses belajar mengajar.


4. Guru bertindak sebagai fasilitator dan koordinator kegiatan belajar

siswa, bukan sebagai pengajar (instruktur) yang mendominasi kegiatan

di kelas.
5. Biasanya menggunakan berbagai metode secara bervariasi, alat dan

media pengajaran.
Asumsi Dasar Konsep CBSA
Asumsi dasar penerapan CBSA dalam pengajaran adalah :
1. Kegiatan belajar merupakan suatu proses kontinyu dan bervariasi.
Belajar pada hakekatnya dilakukan melalui berbagai aktivitas

baik fisik maupun mental untuk mencapai sesuatu hasil sesuai dengan

tujuan. Tujuan belajar itu sendiri pada hakekatnya dimiliki oleh setiap

individu siswa. Tujuan itu lahir dari adanya keinginan atau kebutuhan

baik jasmani maupun rohani. Atas dasar kebutuhan itulah individu

berperilaku ia belajar. Oleh sebab kebutuhan selalu ada, maka proses

belajar pun berlangsung secara terus-menerus. Dan upaya untuk

memenuhi kebutuhan mencapai tujuan dilakukan melalui berbagai

kegiatan yang bervariasi.


2. Dalam proses belajar ada keterlibatan mental dari siswa secara optimal.
Pendidikan tradisional lebih banyak menekankan pada

penghayatan dan pewarisan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat agar

anak dapat menyesuaikan diri kelak dengan lingkungan masyarakat dan

sekitarnya. Pandangan semacam ini dewasa ini sudah makin

ditinggalkan. Oleh sebab penghayatan nilai yang berlaku di lingkungan

masyarakat sekitarnya saja tidak akan mampu mengembangkan pribadi

secara optimal. Sebab masyarakat selalu berkembang sejalan

perkembangan dalam bidang pengetahuan dan teknologi.


Agar anak dapat menyesuaikan diri secara lebih baik dengan

berbagai kemajuan dan lingkungan lebih luas, perlu menanamkn sikap


untuk mau mengembangkan nilai-nilai tersebut, sehingga memungkinkan

dapat mendeteksi kekurangan-kekurangan sehingga memungkinkan

penyempurnaannya. Untuk itu siswa harus aktif dalam melakukan

sesuatu dalam proses belajar, terlibat secara emosional dalam pendidikan

dan pengajaran.
3. Komunikasi dalam pengajaran berlangsung dalam banyak arah.
Proses komunikasi dalam pengajaran tidak hanya berlangsung

dalam satu arah (one way traffic communication), tetapi juga berlangsung

dalam banyak arah (multy ways traffic communication). Dengan aplikasi

konsep CBSA, dapat memungkinkan terjadi komunikasi banyak arah

(guru-siswa, siswa-guru, siswa-siswa).


4. Untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa perlu menggunakan berbagai

strategi mengajar yang efektif. Strategi belajar mengajar dengan CBSA

banyak memungkinkan siswa belajar proses (learning by proses), bukan

belajar produk (learning by product). Belajar pada umumnya hanya

menekankan pada segi kognitif. Sedangkan belajar proses dapat

memungkinkan tercapainya tujuan belajar baik segi kognitif, afektif

(sikap) maupun psikomotor (keterampilan). Sebagai mana dipahami dari

uraian di atas, konsep CBSA lebih banyak menekankan pengajaran

melalui proses. Oleh karena itu strategi belajar mengajarnya pun

diarahkan untuk mencapai sasaran tersebut.


Prinsip-prinsip Pendekatan CBSA
Prinsip cbsa adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada

kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan

siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun

fisik. Prinsip-prinsip cbsa yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:


a. Dimensi subjek didik
Dimensi subjek didik, meliputi:
1. Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-

dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar.

Keberanian tersebut terwujud karena memang direncanakan oleh

guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok,

dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkan pendapat.


2. Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam

persiapan maupuntindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar

maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal ini

terwujud bila guru bersikap demokratis.


3. Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga

dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang

oleh guru.
4. Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga

dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang

oleh guru.
5. Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan

dan siapapun termasuk guru.


Dimensi guru
Dimensi guru, meliputi:
1. Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka

kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-

mengajar.
2. Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator

dan motivator.
3. Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
4. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara

serta tingkat kemampuan masing-masing.


5. Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-

mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan ini akan


menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk

mencapai tujuan.
Dimensi program
Dimensi program, meliputi:
1. Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi

kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang

sangat penting diperhatikan guru.


2. Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep

maupun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.


3. Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan

kondisi.
Dimensi situasi belajar-mengajar
Dimensi situasi belajar-mengajar, meliputi:
1. Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat,

bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam

proses belajar-mengajar.
2. Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses

belajar-mengajar.
Dalam bukunya (conny semiawan, dkk, 1985: 9-13; sulo lipu la sulo,

dkk, 2002: 11) terdapat sejumlah prinsip belajar yang harus diperhatikan agar

proses belajar itu dapat berhasil dengan efisien (berdaya guna) dan efektif

(berhasil guna). Prinsip-prinsip tersebut dilandasi penelitian dalam psikologi

belajar dan diujicobakan dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip belajar tersebut

dapat dijadikan titik tolak untuk meningkatkan derajat keterlibatan murid

dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip adalah sebagai berikut:


1. Prinsip motivasi yakni penumbuhan motivasi belajar, baik motivasi

intrinsik (motif yang menjadi bagian dari perilaku belajar: rasa ingin

tahu) maupun motivasi ekstrinsik (diluar perilaku belajar: ingin hadiah

dari orang tua). Guru hendaknya menjadi motivator yakni berusaha


menumbuhkan motivasi belajar, utamanya motivasi intrinsik dalam

belajar.
2. Prinsip latar atau konteks yakni memposisikan pengalaman belajar baru

yang akan atau sedang dilakukan diantara pengalaman belajar yang telah

menjadi miliknya (pengetahuan/pemahaman, nilai/sikap, dan atau

keterampilan yang telah dikuasai). Dengan pemberian kaitan (termasuk

apersepsi), pengalaman belajar yang baru akan manjadi bagian dari

struktur kognitif, baik melalui asimilasi (pembauran) maupun akomodasi

(penempatan).
3. Prinsip fokus yakni keterarahan kepada suatu titik pusat perhatian yang

dapat dilakukan dengan cara merumuskan masalah yang hendak

dipecahkan, pertanyaan yang hendak dijawab, konsep yang akan

ditemukan, dsbnya. Titik fokus ini hendaknya menjadi pusat perhatian

murid dan dapat mengaitkan atau menghubungkan seluruh bahan yang

sedang dipelajari dengan khasanah kognitif yang telah ada.


4. Prinsip sosialisasi (hubungan sosial) yakni belajar dalam kelompok agar

dapat bekerja sama dengan teman sebaya dalam proses pembelajaran itu,

seperti diskusi kelompok, kerja kelompok, dsb.


5. Prinsip belajar sambil bekerja, bermain, atau kegiatan lainnya yang

sesuai dengan keinginan murid untuk melakukan kegiatan manipulatif.


6. Prinsip individualisasi yakni penyesuaian kegiatan pembelajaran dengan

perbedaan individual murid.


7. Prinsip menemukan yakni dengan pemberian informasi pancingan atau

stimulus agar murid terdorong untuk menemukan informasi selanjutnya.


8. Prinsip pemecahan masalah yakni murid peka untuk menemukan dan

atau merumuskan masalah, dan mencari cara pemecahan masalah

tersebut.
Penerapan Konsep CBSA dalam Pengajaran
Mengajar mempunyai berbagai ragam model. Setelah satu model

dasar mengajar dikembangkan oleh Robert Glaser sebagai mana terlihat pada

bagan berikut ini. Pengena


Tujuan Prosedur Penilaia
lan
Pengajar Pengajar n hasil
keadaan
an an belajar
siswa

Catu
Balik

Gambar 1

BAGAN MODEL DASAR MENGAJAR

(Model diadaptasi dari De Cecco & Grawford, 1977 : 9) dalam Muhammad Ali

(2008:71).

Pada bagan di atas, dapat kita lihat, mengajar selalu mempunyai

tujuan. Tujuan ini dapat menentukan seluruh kegiatan maupun isi pengajaran.

Selanjutnya, dari tujuan guru melakukan kegiatan pengenalan keadaan siswa

sebelum berlangsungnya proses belajar mengajar (Entry Behavior). Yakni

apakah siswa menguasai bahan pelajaran yang akan diberikan, atau sampai

sejauh mana penguasaan siswa terhadap bahan yang akan diajarkan itu. Atas

dasar hasil pengenalan ini barulah ditempuh prosedur atau strategi pengajaran

meliputi :

1. Metode apa yang digunakan, dan kegiatan apa akan dilakukan.


2. Alat atau media apa akan digunakan.
3. Berapa lama proses belajar mengajar berlangsung.
Langkah terakhir dari proses pengajaran adalah melaksanakan

evaluasi atau penilaian terhadap sejauh mana proses belajar mengajar dapat

mencapai tujuan. Hal ini juga penting sebagai catu balik dalam melihat

tujuan, pengenalan siswa maupun prosedur pengajaran.

Model dasar mengajar sebagaimana digambarkan di atas dapat

diterapkan dalam pengajaran secara umum. Untuk dapat memberi ciri ke

“CBSA” an pengajaran perlu menempuh strategi tertentu. Strategi ini

didasarkan kepada pandangan umum kita tentang rangkaian peristiwa dalam

proses pengajaran disesuaikan dengan proses belajar itu. Gagne dan Briggs

(1979 : 154 – 155) dalam Muhammad Ali (2008:72) menggambarkan

rangkaian peristiwa dalam proses belajar sebagai berikut:

1. Attention : Perhatian – Besarnya penerimaan datangnya rangsangan.

2. Selective perception : Mengubah rangsangan menjadi gambaran obyek –

benda – untuk disimpan dalam ingatan jangka pendek.

3. Rehearsal : Memelihara dan memperbarui apa yang tersimpan dalam

ingatan jangka pendek.

4. Semantic encoding : Proses mempersiapkan penyimpanan informasi

jangka panjang.

5. Retrieval : Mengembalikan informasi tersimpan kepada pembangkit

respons (Respons generation mechanism), termasuk di dalamnya proses

“mencari”.

6. Response Organization : Memilih dan mengorganisasi penampilan

(performance).
7. Feed Back : Peristiwa eksternal yang tersusun dalam penggerakan proses

reinforcemen (penguat).

8. Executive Control Processes : Memilih dan mengaktifkan strategi

kognitif.

Rangkaian peristiwa dalam proses belajar itu tidak mesti terjadi

secara berurutan dalam proses belajar di atas. Namun sehubungan dengan

pengajaran, yang penting bagi kita adalah bagaimana memunculkan

peristiwa-peristiwa tersebut.

D. Pengertian Contextual Teaching and Learning (CTL)

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar

yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan

situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara

pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka

sebagai anggota dan masyarakat. CTL melibatkan tujuh komponen utama

pembelajaran efektif, yakni : konstruksivisme (constructivism), bertanya

(questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community),

pemodelan (modeling), refleksi (reflektion) dan penilaian sebenarnya

(authentic assessment). (Nurhadi, 2003 : 5 ).

Menurut Bandono (http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-


model-pembelajaran-contextual-teaching-and-learning-ctl.php), Contextual

Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik

dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan

mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks


pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki

pengetahuan/keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi

sendiri secara aktif pemahamannya.

Menurut (Zahorik, 1995: 14 ) ada 5 elemen yang harus


diperhatikan dalam praktik pembelajaran konstektual, yaitu:

a. Pengaktipan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)


b. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan
cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian
memperhatikan detail nya.
c. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu
dengan cara
(1) menyusun konsep (hipotesis), (2) melakukan sharing
kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas
dasar tanggapan itu (3) konsep tersebut di revisi dan
dikembangkan.

d. Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut


(applying knowledge).
e. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi
pengembangan tersebut.

Dari uraian tersebut penulis berpendapat bahwa Contextual

Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang

membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya

dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat

hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota

masyarakat.
2.2 Penerapan Pendekatan Contextual Teaching and Learning

Penerapan CTL dalam kelas cukup mudah. Menurut Nurhadi


(2003:
10) secara garis besar, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

1. Kembangkan pemikiran anak bahwa anak akan belajar lebih


bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan
mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya!
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik.
3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya!
4. Cipta kan masyarakat belajar, (belajar dalam kelompok-kelompok)
5. Hadirkan model, sebagai contoh pembelajaran!
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan!
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara!

Berbagai pengamatan ilmiah yang teliti dan akurat menunjukkan

keseluruhan alam semesta ditopang dan diatur oleh 3 prinsip, yaitu

ke saling-bergantungan, diferensi, dan pengaturan diri sendiri.

Jhonson (Alwasilah, 2006 : 68). Bukan suatu abstraksi, prinsip-

prinsip ini mengatur dan menopang segala sesuatu, termasuk

semua sistem kehidupan.

1. CTL mencerminkan prinsip kesaling-bergantungan,

mewujudkan diri misalnya bergabung untuk memecahkan

suatu masalah

2. CTL mencerminkan prinsip diferensiasi. Diferensiasi menjadi

nyata ketika CTL menantang para siswa untuk saling


menghormati, bekerja sama, untuk menghasilkan gagasan baru.

Dan untuk menyadari keragaman adalah suatu kekuatan dan

tanda kemantapan.

3. CTL mencerminkan prinsip pengorganisasian diri.

Pengorganisasian terlihat ketika siswa mencari dan menemukan

kemampuan serta minat mereka. Mendapat manfaat dari umpan

balik yang diberikan oleh penilaian sebenarnya, mengulas

usaha-usaha mereka dalam tuntunan tujuan yang jelas standar

yang tinggi dan berperan serta dalam kegiatan-kegiatan yang

berpusat pada siswa agar hati mereka bernyanyi.

Dalam Contextual Teaching and Learning (CTL) diperlukan


sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan
siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka,
bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui
mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah
perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang
harus dikonstruksi oleh siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Depdikas. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning


(CTL)). Jakarta: Depdiknas.

Nina, Sakinah. 2014. “ Macam-macam pendekatan Pmebelajaran”. Dalam


http://sakinahninaarz009.blogspot.com/2014/06/macam-macam-
pendekatan-pembelajaran.html. Diakses pada tanggal 4 April 2015.
Sofa, 2008. Pendekatan discovery, inquiry dan STS dalam pembelajaran fisika.
http://pkab.wordpress.com/2008/06/21/. (diakses tanggal 4 April 2015).
Semiawan Conny. 1992. Pendekatan Ketrampilan Proses: Bagaimana
Mengaktifkan

Siswa dalam Belajar. Jakarta: Gramedia.