Anda di halaman 1dari 13

4.

Aspek Sosial dan politik

a. Pengertian Nilai

Sebelum mengurai pengertian sosial dalam kehidupan masyarakat, terlebih dahulu penulis

menjelaskan pengertian nilai secara umum. Kehidupan manusia dalam masyarakat baik sebagai

pribadi maupun sebagai mahluk sosial, senantiasa berhubungan dengan nilai-nilai, norma, dan

moral. Oleh karena itu, setiap aktivitas dalam hubungannya dengan masyarakat terikat oleh nilai.

Nilai adalah suatu yang berharga, yang berguna, yang indah, yang memperkaya batin,

yang menyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya. Sesuatu dikatakan mempunyai nilai

apabila ada sifat atau kualitas yang melekat pada sesuatu atau objek itu. Sifat atau kualitas dapat

berupa: berguna, berharga, (nilai kebenaran), indah (nilai estetika), baik (nilai moral atau etika),

religius (nilai agama). Jadi nilai adalah kualitas dadripada sesuatu atau kemampuan yang

dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan dan mengatur aktivitas manusia.

b. Pengertian Nilai Sosial

Nilai sosial adalah nilai yang dianut oleh suatu masyarakat mengenai apa yang dianggap

baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat. Sebagai contoh, orang menganggap menolong

memiliki nilai baik, sedangkan mencuri bernilai buruk.

Menurut Woods (http: //www. Pengertian-nilai-sosial-Ip, Diakses 10 Januari 2016) bahwa

nilai sosial adalah petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku

dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan asumsi di atas, maka nilai sosial merupakan acuan dalam kehidupan

masyarakat untuk menentukan sesuatu itu dikatakan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas

untuk dilakukan masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa nilai sosial diluar dari nilai agama

dapat dijadikan sebagai acuan untuk melakukan kontrol sosial atas segala aktivitas yang dilakukan
manusia dalam suatu komunitas masyarakat. Setiap komunitas masyarakat tentu memiliki nila

sosial yang berbeda dalam memandang suatu pokok permasalahan, hal ini dipengaruhi oleh culture

atau budaya yang dianut masyarakat. Contoh, masyarakat yang tinggal di perkotaan lebih

menyukai persaingan karena dalam persaingan akan muncul pembaharuan-pembaharuan,

sementara pada masyarakat tradisional atau pedesaan lebih cenderung menghindari persaingan

karena dalam persaingan akan mengganggu harmonisasi kehidupan dan tradisi yang sudah

terkonstruk secara turun-temurun.

Uraian di atas menegaskan bahwa kehadiran karya sastra dalam hal ini novel tentunya lahir

dari kondisi sosial yang tidak fakum, membawa pesan sosial atau nilai sosial yang mewakili

komunitas masyarakat untuk disampaikan secara universal kepada masyarakat umum sebagai

media informasi dan educatip.

c. Fungsi Nilai Sosial

Kehidupan manusia sebagai mahluk sosial yang tidak bisah hidup tampa bantuan orang

lain perlu dibimbimbing dengan sebuah aturan yang sifatnya mengikat untuk mengarahkan

individu menjadi manusia bermartabat. Aturan yang dimaksud di sini bukanlah aturan formal yang

tersusun dalam draf perundang-undangan, melainkan sebuah atuaran yang hanya menjadi acuan

suatu masyarakat tertentu dalam sebuah komunitas yang tentunya berbeda dengan kemunitas

masyarakat lainnya. Secara sederhana aturan atau nilai sosial tersebut menjadi acuan untuk

membedakan baik dan buruk, benar dan salah pantas dan tidak pantas yang merupakan produk dari

masyarakat.

Menuru Suparto (http: //www. Fungsi-nilai-sosail-Ip, Diakses 10 Juni 2009) bahwa nilai-

nilai sosial memiliki fungsi umum dalam masyarakat. Di antaranya nilai-nilai dapat

menyumbangkan seperangkat alat untuk mengarahkan masyarakat dalam berpikir dan bertingkah
laku. Selain itu, nilai sosial juga berfungsi sebagai penentu terakhir bagi manusia dalam memenuhi

peran-peran sosial. Nilai sosial dapat memotivasi seseorang untuk mewujudkan harapan sesuai

dengan perannya. Olek karena itu, secara garisbesar nilai sosial mempunyai fungsi antara lain:

a. Sebagai petunjuk arah kehidupan.

b. Sebagai kontrol sosial.

c. Sebagai motivasi.

Sebagai petunjuk arah kehidupan, nilai sosial dapat mempengaruhi karakter berpikir dan

bertindak anggota masyarakat umumnya. Sebagai kontor sosial nilai sosial mampuh mengarahkan

individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang bermamfaat dan tidak melakukan anarkisme

sosial yang dapat menimbulkan kerusuhan. Nilai sosial sebagai motivasi dan sekaligus menuntun

manusia untuk berbuat baik, berdasarkan karena asumsi bahwa nilai sosial yang luhur dapat

meningkatkan drajat dimata masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, relevansinya dengan karya sastra adalah kehadiran karya sastra

dapat menjadi salah satu acuan untuk mendapatkan informasi pengetahuan yang dapat

memberikan motivasi untuk melakukan aktivitas yang lebih baik. Dalam karya sastra nilai sosial

tersebut dapat dilihat secara intrinsik dan ekstrinsik. Secara intrinsik misalnya, penggambaran

karakter tokoh yang baik, selalu menolong, dermawan dan lain-lain, sedangkan pada aspek

ekstrinsik dapat diterangkan nilai sosial politik yang terdapat dalam novel Jejak Langkah karya

Pramoedya Ananta Toer tentang etika politik yang baik.

d. Pengertian Politik

Secara etimologis, politik bersal dari bahasa Yunani yaitu polis yang berarti kota atau

negara kota. Kemudian arti itu berkembang menjadi polites yang berarti warganegara, politea yang

berarti semua yang berhubungan dengan negara. Ditinjau dari presfektif sejarah Aristoteles dapat
dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan kata politik melalui pengamatannya

tentang manusia yang ia sebut zoon politikon dengan istilah ini ia ingin menjelaskan bahwa hakikat

kehidupan sosial adalah politik dan interaksi antara dua orang atau lebih sudah pasti akan

melibatkan hubungan politik.

Menurut Mitchel (www.lintasberita.com/politik/pengertian-politik, Diakses, 10 Juni 2009)

politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk seluruh

masyarakat. Sedangkan menurut Duetch (www.lintasberita.com/politik/pengertian-politik,

Diakses 10 Juni 2009) bahwa politik adalah pengambilan keputusan melalui sarana umum.

Berbeda dengan ke dua tokoh di atas, Budiarjo (dalam Philipus dan Ani, 2006: 90) mendefinisikan

politik sebagai berbagai macam kegiatan yang terjadi di suatu negara, yang menyangkut proses

menentukan tujuan dan berbagai cara mencapai tujuan itu. Ramlan (dalam Philipus dan Ani, 2006:

92) mengemukakan bahwa sekurang-kurangnya ada lima pandangan tentang politik. Pertama,

politik adalah usaha-usaha yang ditempuh warga negara untuk membicarakan dan mewujudkan

kebaikan bersama. Kedua, politik ialah segala yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara dan

pemerintah. Ketiga, politik ialah segala kegiatan yang diarahkan untuk mencapai

dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat. Keempat, politik adalah segala kegiatan yang

berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum. Kelima, politik sebagai konflik

dalam rangka mencari dan atau mempertanyakan sumber-sumber yang dianggap penting.

Sesuai dengan definisi politik yang dikemukakan Aristoteles dalam memandang

masyarakat sebagai zoom politikon, maka jelas bahwa seluru aktivitas masyarakat tidak bisa

terlepas dari wilaya politik. Politik yang dimaksud tidak hanya dalam bentuk struktur kenegaraan

tetapi politik yang dimaksud adalah kebijakan yang mempengaruhi dan mengatur seluruh aktivitas

masyarakat baik dari aspek pendidikan, ekonomi, hukum, budaya, dan lain-lain.
Menurut Toer (dalam Boef, 2008: 142) bahwa semua politik adalah panglima. Kita adalah

warga negara, hal itu merupakan politik, kita membayar pajak, hal itu juga merupakan politik.

Uraian tersebut mempertegas pandangan politiknya bahwa kehidupan manusia dalam lingkup

masyarakat tidak bisah terlepas dari kehidupa politik. Oleh karena itu, hampir seluruh karyanya

berbau politik yang sifatnya humanis dan sangat edukatif dalam memandang dinamika politik di

Indonesia serta hubungannya dengan fungsi karya sastra.

e. Bentuk Nilai Sosial Politik

Sosial politik adalah kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang

berhubungan langsung dan mempengaruhi kehidupan masyarakat. Berdasarkan objek penelitian

yaitu Analisis Nilai Sosial Politik dalam novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer

secara garis besar lebih spesifek mengarah ke politik pendidikan, nasionalisme, dan politik

ekonomi.

Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa dalam suatu komunitas individu atau masyarakat

diperlukan sebuah nilai untuk mengikat masyarakat. Aristoteles dalam teori politiknya

mengatakan bahwa masyarakat sebagai zoom politikom. Maka, tidak bisa dipungkiri kalau seluruh

aktivitas masyarakat terikat oleh sesuatu yang lebih besar yang sangat mempengaruhi struktur atau

bangunan masyarakat yaitu politik. Namun, idealnya aktivitas politik tersebut tetap bersandar dan

terikat oleh nilai-nilai moral yang berdasarkan pada nilai pancasila dan konstitusi negara.

Masyarakat dan politik merupakan dua dimensi yang tidak bisah terpisahkan dan saling

mempengaruhi. Dalam hubungannya dengan masyarakat, Cipto (1999: 84) membagi masyarakat

menjadi dua yaitu masyarakat sipil dan masyarakat politik. Eksistensi masyarakat sipil bergantun

pada masyarakat politik sebagai perumus kebijakan, begitupun sebaliknya. Kekuatan masyarakat

politik yang tidak terkontrol dan tidak bertanggungjawab kepada masyarakat sipil akan melahirkan
ketimpangan sosial. Oleh karena itu, diperlukan kontrol antar lembaga yang terbentuk dalam

masyarakat sipil sehingga penyimpangan tidak tumbuh subur menjadi kekuatan yang tidak

terkendali. Bentuk kontrol ini sering disebut horizontal acountability. Selain kontrol masyarakat

sipil, juga diperlukan kesadaran individu dalam mengawal kebijakan. Kesadaran individu

yang dimaksud adalah kemampuan seorang pelaku politik menyandarkan aktivitas politik

berdasarkan pada politik nilai, bukan politik pragmatis dan politik kapitalistik.

Uraian di atas mengatarkan kita pada satu titik kesimpulan bahwa nilai sosial politik adalah

kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah (masyarakat politik) yang berhubungan

langsung dan mempengaruhi kehidupan masyarakat idealnya bersandarkan pada nilai-nilai moral

yang baik atau politik nilai bukan politik kepentingan, pragmatis, dan politik kapitalistik (money

poltic). Berdasarkan objek penelitian yaitu analisi nilai sosial politik dalam novel Jejak Langkah

karya Pramoedya Ananta Toer secara garis besar lebih spesipik mengarah kepada politik

pendidikan, nasionalisme, dan ekonomi politik, dengan menggunakan pendekatan teori

poskolonialisme.

1) Politik Pendidikan

Pendidikan adalah dua elemen penting dalam sistem sosial politik di setiap negeri, baik

negara maju maupun negara berkembang. Pada hakikatnya, kedua elemen tersebut sering dilihat

sebagai bagian-bagian yang terpisah dan tidak memiliki hubungan apa-apa. Namun ketika ketika

dikaji secara mendalam beradasarkan realitas sosial yang trejadi, maka kita bisah menarik benang

merah bahwa kedua elemen tersebut bahu-membahu dalam proses pembentuk karakteristik

masyarakat di suatu negara. Lebih dari itu, keduanya saling menunjang dan saling mengisi.

Lembaga-lembaga dan proses penjadian berperan penting dalam membenntuk perilaku politik di

negara tersebut. Begitu juga sebaliknya, lembaga-lembaga dan proses politik di suatu negara
membawa dampak besar pada karakteristik pendidikan di negara tersebut. Menurut Sirozi, (2005:

1) bahwa ada hubungan erat dan dinamis antara pendidikan dan politik di setiap negara. Hubungan

tersebut adalah realita empirik yang telah terjadi sejak awal-awal perkembangan pradaban manusia

dan menjadi perhatian para ilmuan. Pandangan tersebut, mempertegas bahwa politik dan

pendidikan merupakan dua elemen yang saling mempengaruhi dan bahu-membahu dalam

membentuk karakter atau pola pikir dan sikap masyarakat.

Sirozi (2010: 7) mengemukakan bahwa hubungan timbal balik antara pendidikan dan

politik dapat terjadi melalui tiga aspek, yaitu pembentukan sikap kelompok (group attitudes),

masalah pengangguran (unemployment), dan peranan politik kaum cendekia (the political rule of

intelegensia). Menurut mereka kesempatan dan prestasi pendidikan pada suatu kelompok

masyarakat dapat mempengaruhi akses kelompok tersebut dalam bidang sosial, politik, dan

ekonomi. Selain itu, Buchuri (dalam Sirozi, 2005: 29) mengemukakan bahwa politik adalah cara

untuk mengelolah lingkungan yang luas, bukan hanya perebutan kekuasaan. Maka, adalah tugas

sekolah untuk membantu para pelajar untuk dapat membedakan antara politik baik dan politik

buruk.

Pendidikan merupakan sentrum utama untuk merubah pola pikir dan pola sikap masyarakat,

sehingga tidak salah kalau elit-elit politik atau partai-partai politik menjadikan pendidikan sebagai

program utama dalam kampanye-kampaye politik. Tujuannya adalah selain untuk memperoleh

suarah maksimal dalam pemilu juga untuk melestarikan dominasi politik penguasa. Sebagaimana

yang di kemukakan oleh Tilaar, (2008: 5) bahwa partai-partai politik menjadikan pendidikan

sebagai program yang utama atau sebagai iming-iming utama untuk membujuk rakyat dalam

pemilihan umum atau sebagai sarana untuk melestarikan kekuasaan atau jabatan.
Salah satu tolak ukur keberhasilan pemerintah baik pusat maupun daerah adalah kemajuan

dan peningkatan mutu pendidikan, yang tentunya ditopan oleh sistem pendidikan yang baik.

Dalam konteks Indonesia kebijakan pemerintah mengenai anggaran pendidikan telah disepakati

sebagaimana yang tertuan dalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa sekurang kurangnyan 20%

dari APBN/APBD di peruntukan bagi pengembangan pendidikan nasional. Pada aspek

penyelenggaraan pendidikan perubahan kurikulum dalam setiap priode pergantian kepemimpinan

dan penjelasan pasal 20 serta penyelenggaraan pendidikan gratis, merupakan penomena yang

dapat mengantarkan kita pada satu titik kesimpulan bahwa pendidikan merupakan problem yang

sangat penting dalam sebuah negara sehingga diperlukan sebuah aturan konstitusi sebagai patron

atau acuan dalam proses penyelenggaraannya. Selain itu, antara pendidikan dan politik merupakan

dua elemen yang tidak bisah di pisahkan hal ini dapat di buktikan dengan hadirnya berbagai

kebijakan yang disatu sisi untuk memajukan pendidikan, namun disisi lain merupakan strategi

untuk mempertahankan dominasi politik penguasa.

2) Nasionalisme

Nasionalisme adalah salah satu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggai

individu harus di serahkan kepada negara kebangsaan. Selalin itu, paham nasionalisme

berpendapat bahwa negara kebangsaan adalah sumber daripada semua tonggak kebudayaan

kreatif dan kesejahteraan ekonomi. Menurut Milito (dalam Kohn, 1984: 22) nasionalisme adalah

pengakuan kemerdekaan perseorangan dari kekuasaan; peryataan diri dari peribadi terhadap

pemerintahnya dan gerejanya, pembebasan manusia dari penindasan perbudakan dan takhyul.

Pandangan tersebut bahwa paham nasionalisme tidak hanya terbatas pada persamaan drajat dan

penyerahan diri, individu untuk memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan suatu

bangsa. Tapi nasionalisme dalam definisi luas merupakan wujud pengakuan kemerdekaan
seseorang dari intimidasi, diskriminasi, dan kebebasan dari penguasa dalam suatu negara

kebangsaan. Sedangkan menurut Smith (dalam Wildan, 2003: 5) memberikan definisi kerja

nasionalisme sebagai suatu pergerakan ideologi untuk mencapai dan memelihara otonomi,

kesatuan, dan identitas untuk suatu populasi yang sebahagian anggotanya mempertimbangkan

untuk membuat satu "bangsa" yang nyata. Menurut Smith, perkara-perkara itulah yang menjadi

doktrin nasionalisme.

Sejalan dengan doktrin dari Smith di atas, Kartodirdjo (dalam Wildan, 2003: 8)

mengemukakan lima prinsip nasionalisme, yaitu kesatuan (unity) dalam wilayah tanah air, bangsa,

bahasa, ideologi dan doktrin kenegaraan, sistem politik atau pemerintahan, sistem perekonomian,

sistem pertahanan-keamanan, dan polise kebudayaan; kebebasan (liberty, freedom, independence)

dalam beragama, berbicara dan berpendapat secara lisan dan bertulis, berkelompok dan

berorganisasi; kesamaan (equality) dalam kedudukan hukum, hak dan kewajiban, serta kesamaan

kesempatan (oportunity); keperibadian (personality) dan identitas (identity): memiliki harga diri

(self esteem), rasa bangga (pride) dan rasa sayang (devotion) terhadap keperibadian dan identitas

bangsanya yang tumbuh dan sesuai dengan sejarah dan kebudayaannya; dan prestasi (achievement,

performance): cita-cita untuk mewujudkan kesejahteraan (welfare) serta kebesaran dan kemuliaan

(the greatness and the glorification) terhadap bangsa.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa nasionalisme sebenarnya mengandung misi atau tujuan.

Ia merupakan pandangan, perasaan, wawasan, sikap, sekaligus perilaku suatu bangsa yang terjalin

karena persamaan sejarah, nasib dan tanggung jawab untuk hidup bersama-sama secara merdeka

dan mandiri. Artinya, nasionalisme mengandung tujuan perjuangan suatu bangsa dan negara. Misi

perjuangan yang terkandung dalam nasionalisme seseorang, bangsa atau negara berbeda atau sama

dengan orang, bangsa atau negara lain. Para pejuang kemerdekaan Indonesia Raya seperti
Soekarno dan Wahid Hasjim mengambil paham ini sebagai motivator perjuangan. Misi

nasionalisme Soekarno berasaskan konsep nasakom, yang berbeda dengan nasionalisme Wahid

Hasjim yang lebih berorientasi kepada agama. Organisasi pegerakan seperti Jong Java dan Jong

Sumatranen Bond melihat bangsa berdasarkan kesamaan etnik, kesatuan budaya, dan kesamaan

masa lalu sebagai asas nasionalisme mereka. Misi nasionalisme bangsa Indonesia secara umum

dimaksudkan untuk menegakkan ideologi Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nasionalisme barat modern secara historis pada abad ke-18 yang lalu, abad terang,

merupakan suatu gerakan politik untuk membatasi kekuasaan pemerintah dan menjamin hak-hak

warganegara. Hal ini sejalan dengan pandangan Kohn (1984: 39) yang menyatakan bahwa

nasionalisme mula-mula merupakan suatu gerakan kebudayaan, impian, dan harapan para serjana

dan penyair. Di Indonesia kehadiran paham nasionalisme pada awal abad ke-19 merupakan respon

cendekiawan (terpelajar) atas penjajahan kolonial Belanda dan kanter atas strategi politik kolonial

yang di kenal dengan istilah devide et impera atau politik adudomba terhadap sesama masyarakat

pribumi. Oleh karena itu, nasionalisme pada saat itu merupakan suatu gerakan politik untuk

membangkitkan kesadaran masyarakat pribumi yang masih menganut paham feodalisme.

Pemberlakuan politik etis pada awal abad ke-19 yang memberikan kesempatan bagi pribumi untuk

mendapatkan pendidikan barat menyebabkan paham nasionalisme dan patriotisme lebih cepat

mengimpiltrasi ke tubuh pelajar pribumi yang selanjutnya mengilhami dan menjiwai lahirnya

berbagai pergerakan di Indonesia diantaranya Syarekat Prijaji, Boedi Oetomo, Syarikat Dagang

Islamiyah, Jong Java, Jong Sumatra, Jong Selebes dan lain-lain yang kemudian melahirkan sumpa

pemuda yang tujuannya adalah untuk mempertegas sikap nasionalisme Indonesia.

3) Ekonomi Politik
Menurut ensiklopedi ekonomi islam, (dalam Sholahuddin, 2009: 50) secara terminologis

politik ekonomi adalah tujuan yang akan dicapai oleh kaidah-kaidah hukum yang dipakai

untuk berlakunya suatu mekanisme pengaturan kehidupan masyarakat. Sedangkan menurut

Staniland (dalam Philipus, 2006: 142) mengemukakan bahwa ekonomi politik menjelaskan

interaksi sistematis antara aspek ekonomi dan aspek politik. Hubungan interaksi itu bisa

dinyatakan dalam banyak cara baik itu dalam hubungan kausalitas antara satu proses dengan proses

yang lain yang bersifat deterministik, atau hubungan yang bersifat timbal balik (resipositas) atau

suatu proses prilaku yang berlangsung terus-menerus.

Sejarah pemikiran ekonomi sesungguhnya sudah ada sejak zaman Yunani Kuno ketika

Aristoteles menerbitkan buku polite dalam politea Ia menjelaskan oikonomika yaitu studi tentang

cara-cara mmengatur rummah tangga dan menguraikan tentang peraturan-peraturan tentang

pertukaran. Keduanya menjadi dasar dari teori ekonomi modern, yaang oleh Aristoteles dianggap

sebagai ilmu politik. Pemikiran ekonomi politik dalam bentuknya yang utuh baru sejak zaman

pertengahan. Philipus, (2006: 146-147) membagi zaman ekonomi politik menjadi empat bagian

yaitu zaman praklasisk (abad XVII-XVIII) menurutnya pada zaman ini pemikiran ekonomi politik

didominasi aliran merkantilis. Merkantilis menganjurkan pertumbuhan penduduk yang tinggi agar

memperoleh SDM yang melimpah sehingga lebih produktif. Dalam kenyataan aliran ini

memnyebabkan semakin kuatnya pendudukan kaum kapitalis, bahkan mereka mampuh

mempengaruhi semua kebijkan pemerintah termasuk dalam kepentingan nasional. Zaman klasik

(akhir abad XVIII-XIX) menurut aliran ini, individu dan dunia usaha harus diberikan kkebebasan

untuk mengurus kepentingan mereka sendiri untuk memperbaiki kedudukannya dibidang

ekonomi. Zaman neoklasik (pertengahan abad XIX abad XX). Zaman keynesian (pertengahan
abad XX sampai sekarang) berebeda dengan pemikiran sebelumnya, mazhab ini justru

menganjurkan keterlibatan pemerintah dalam ekonomi dunia menstabilkan prekonomian nasional.

Sejak zaman Yunani kuno, hingga zaman praklasik menuju moderen para tokoh-tokoh

intelektual telah menggunakan istilah ekonomi politik untuk melahirkan teori baru dalam bidang

ekonomi serta hubungannya dengan kebijakan pemerintah sebagai elit politik. Dalam sejarah

perkembangannya, pemikiran politik setiap zaman memiliki teori dan rumusan sendiri untuk

membantu pemerintah dalam merumuskan baik dari aspek keuangan, ekonomi mikro, dan

ekonomi makro. Oleh karena itu, seluruh kebijakan tersebut yang berhubungan dengan masyarakat

luas disebut sebagai ekonomi politik.

Setiap perubahan dalam sistem ekonomi berhubungan denga teori yang digagas oleh para

tokoh (akademisi) dengan perubahan zaman. Pada awal tahun 70 an Amerika sebagai negara

adidaya menggunakan sistem ekonomi liberal, namun keris ekonomi yang melanda Amerika dan

dunia pada awal tahun 80 an menyebabkan para ekonom Amerika meninggalkan sistem liberal

dan menggunakan sistem ekonomi (teori ekonomi) keynesian sampai pada tahun 1998 kerisis

ekonomi kembali melanda dunia sehingga para okonom liberal berasumsi bahwa teoro ekonomi

keynesian gagal, kegagalan tersebut menyebabkan terjadinya perubahan strategi ekonomi Amerika

dari Keynesian kembali ke konsep ekonomi leberal yang dikenal sekarang dengan istilah

Neoliberalisme. Hal ini menunjukkan bahwa betapa kuatnya para tokoh ekonomi mempengaruhi

kebijakan bahkan merumuskan kebijakan ekonomi nasional.


DAFTAR PUSTAKA

Ichwan, Yasir. 2014. Nasionalisme dalam Novel “5 cm” Karya Donny Dhirgantoro: Analisis
Strukturalisme. C.m. Universitas Sumatera Utara.

Junaedi, Moha. 1994. Apresiasi Sastra Indonesia. Ujung Pandang: CV. Putra Maspul Ujung
Pandang.

Kohn, Hans. 1984. Nasionalisme Arti dan Sejarahnya. Jakarta: Erlangga.

Kridalaksana, Harimukti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Mahayana, Maman S. 2007. Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia. Jakarta: Rajawali Perss.

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press.

Philipus dan Aini, Nurul. 2006. Sosiologi dan Politik. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.