Anda di halaman 1dari 10

Tugas Praktek Ibadah

Mandi Besar

Disusun oleh :

1. Ahmad Mirza F (11160980000041)


2. M. Dzaki Gunawan (111609800000)

PRODI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2018 M/1439 H
Pendahuluan
Sholat dapat dikatakan sah apabila memenuhi beberapa syarat sah sholat dalam pengerjaannya,
salah satunya adalah suci dari hadas besar. Untuk mensucikan diri dari hadas besar caranya adalah
dengan melakukan Mandi Besar. Mandi besar merupakan cara Mandi Wajib dalam Islam yang
disesuaikan dalam ajaran sunnah Rasulullah. Kewajiban melakukan mandi besar terdapat dalam
Al-Quran maupun HR. Muslim.

Dalil-dalil tentang kewajiban mandi :

• Firman Allah SWT dalam Al-qur’an surat Al-Baqarah ayat 222 :

َ َ ‫اَّللَ يُحِ بُّ الت َّ َّوا ِبينَ َويُحِ بُّ ْال ُمت‬
‫ط ِه ِري َن‬ َّ َّ‫ِإن‬

Artinya:

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat, dan menyukai orang-orang yang
menyucikan diri.”

• Firman Allah SWT dalam Al-qur’an Surat Al-Maidah ayat 6 :

َّ ‫َو ِإ ْن ُك ْنت ُ ْم ُجنُبًا فَا‬


‫ط َّه ُروا‬

Artinya:

“Dan jika kalian dalam keadaan junub, maka mandilah.”

• Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam :

ُ َ‫صالَ ة ٌ بِال‬
‫ط ُه ْور‬ َ ‫الَت ُ ْقبَ ُل‬

Artinya:

“Allah tidak menerima shalat seseorang yang tanpa thoharoh (bersuci).” (HR. Muslim)
Pembahasan
Pengertian Mandi

Cara untuk menjaga kebersihan dan kesucian diri adalah dengan mandi dan berwudhu. Namun,
dalam Islam dikenal dengan istilah mandi wajib. Mandi wajib ini adalah sebuah aturan dari Allah
untuk umat muslim dalam kondisi tertentu dan syarat tertentu.

Dalam bahasa arab, mandi berasal dari kata Al-Ghuslu, yang artinya mengalirkan air pada sesuatu.
Menurut istilah, Al-Ghuslu adalah menuangkan air ke seluruh badan dengan tata cara yang khusus
bertujuan untuk menghilangkan hadas besar. Mandi wajib dalam Islam ditujukan untuk
membersihkan diri sekaligus mensucikan diri dari segala najis atau kotoran yang menempel pada
tubuh manusia. Maka dari itu, mandi wajib diwajibkan sebagaimana dalam ayat-ayat diatas.

Kondisi-Kondisi Yang Mensyaratkan Mandi Wajib dalam Islam

Dalam Islam, ada kondisi-kondisi di mana seorang muslim atau muslimah diwajibkan untuk
melaksanakan mandi (mandi wajib). Hal-hal tersebut membuat seseorang terhalang untuk shalat,
masuk ke dalam masjid, dan juga melaksanakan ibadah lainnya karena dalam kondisi yang tidak
suci.

1. Keluarnya Air Mani (Setelah Junub)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk,
sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, dan (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu
dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (QS : An-Nisa : 43)

Dalam ayat diatas ditunjukkan bahwa setelah berjunub (berhubungan suami istri), yang di mana
antara laki-laki atau perempuan akan mengeluarkan cairan dari kemaluannya, maka wajiblah ia
untuk melaksanakan mandi wajib setelahnya. Sedangkan jika tidak, ia tidak bisa shalat dan
menghampiri masjid, dan jika dilalaikan tentu akan berdosa, karena meninggalkan yang wajib.

Selain itu, sebagaimana Rasulullah SAW dalam sebuah hadist, mengatakan bahwa

“Diriwayatkan dari Abu Sa’id berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Mandi diwajibkan


dikarenakan keluar air mani” (HR. Muslim)
“Diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Ummu Sulaim berkata,’Wahai Rasulullah
sesungguhnya Allah tidak malu tentang masalah kebenaran, apakah wanita wajib mandi apabila
dia bermimpi? Nabi saw menjawab,’Ya, jika dia melihat air mani.” (HR. Bukhori Muslim dan
lainnya)

Sayyid Sabiq, seorang ulama fiqh mengatakan tentang persoalan keluarnya air mani dan mandi
wajib, hal-hal tersebut adalah berikut :

• Jika mani keluar tanpa syahwat, tetapi karena sakit atau cuaca dingin, maka ia tidak wajib
mandi.

• Jika seseorang bermimpi namun tidak mendapatkan air mani maka tidak wajib baginya
mandi, demikian dikatakan Ibnul Mundzir.

• Jika seseorang dalam keadaan sadar (tidak tidur) dan mendapatkan mani namun ia tidak
ingat akan mimpinya, jika dia menyakini bahwa itu adalah mani maka wajib baginya mandi
dikarenakan secara zhohir bahwa air mani itu telah keluar walaupun ia lupa mimpinya.
Akan tetapi jika ia ragu-ragu dan tidak mengetahui apakah air itu mani atau bukan, maka
ia juga wajib mandi demi kehati-hatian.

• Jika seseorang merasakan akan keluar mani saat memuncaknya syahwat namun dia tahan
kemaluannya sehingga air mani itu tidak keluar maka tidak wajib baginya mandi.

• Jika seseorang melihat mani pada kainnya namun tidak mengetahui waktu keluarnya dan
kebetulan sudah melaksanakan shalat maka ia wajib mengulang shalatnya dari waktu
tidurnya terakhir

2. Bertemunya/bersentuhannya alat kelamin laki-laki dan wanita, walaupun tidak


keluar mani

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila seseorang duduk
diantara anggota tubuh perempuan yang empat, maksudnya; diantara dua tangan dan dua
kakinya kemudian menyetubuhinya maka wajib baginya mandi, baik mani itu keluar atau tidak.”
(HR. Muslim dan

Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Apabila dua kemaluan telah
bertemu maka wajib baginya mandi. Aku dan Rasulullah saw pernah melakukannya maka kami
pun mandi.” (HR. Ibnu Majah)
Dari hadist di atas dapat dipahami bahwa bila suami-istri yang telah berhubungan badan, walaupun
tidak keluar mani, sedangkan telah bertemunya kemaluan dia antara keduanya, maka wajib
keduanya mandi wajib, untuk mensucikan diri.

3. Haid dan Nifas

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh
sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu
mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka telah suci, Maka campurilah mereka itu
di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS : Al-Baqarah : 222)

Darah yang dikeluarkan dari proses Haid dan Nifas statusnya adalah suatu kotoran, najis, dan
membuat tidak suci diri wanita. Untuk itu wanita yang telah melewati haid dan nifas, maka wajib
baginya untuk bersuci dengan mandi wajib, agar bisa kembali beribadah. Hal ini disebabkan
ada larangan saat haid dan nifas untuk melangsungkan shalat dan puasa, sebelum benar-benar suci
dari hadas. Sedangkan menundanya, merupakan kedosaan karena meninggal hal wajib, yang
dalam kondisi telah melewati haid atau nifas.

Melakukan mandi atau Keramas saat haid tentunya tidak menjadikan diri muslimah suci, sebelum
benar-benar berhentinya darah haid dan nifas. Hal ini pun sebagaimana dalam Hadist Rasulullah,
wanita dalam kondisi haid dilarang shalat dan wajib untuk mandi setelahnya.

Sabda Rasulullah saw kepada Fatimah binti Abu Hubaisy ra adalah,”Tinggalkan shalat selama
hari-hari engkau mendapatkan haid, lalu mandilah dan shalatlah.” (Muttafaq Alaih)

Sebetulnya bagi wanita, ada kondisi dimana melahirkan diwajibkan juga untuk mandi wajib.
Namun, hal ini terjadi perbedaan pendapat antar ulama fiqh. Secara umum mewajibkan, sedangkan
yang lainnya ada yang tidak mewajibkan. Muslimah bisa mengambil mana yang sesuai dengan
keyakinan hati dan pertanggungjawaban masing-masing ulama.

4. Karena kematian

“Dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Rasulullah saw bersabda dalam keadaan berihram terhadap
seorang yang meninggal terpelanting oleh ontanya,”Mandikan dia dengan air dan daun
bidara.” (HR.Bukhori Muslim)
Orang yang mengalami kematian, ia wajib untuk dimandikan. Untuk itu mandi wajib ini berlaku
pula bagi yang meninggal, walaupun ia bukan mandi oleh dirinya sendiri, melainkan dimandikan
oleh orang-ornag yang lain. Untuk pelaksanaannya, maka setelah dimandikan ada
pelaksanaan shalat jenazahdalam Islam, sebagai shalat terakhir dari mayit.

Hal-Hal yang Dilarang Sebelum Mandi Wajib Setelah Junub

1. Dilarang Sholat Fardhu maupun Sunnah

Sholat adalah suatu ibadah yang diharuskan bersuci sebelumnya maka sebelum pelaksanaannya
seseorang harus suci dari hadast besar maupun kecil. Jumhur ulama’ (mayoritas ulama’) telah
sepakat mengenai hal ini.

Larangan ini berdasarkan QS. Al-Maidah ayat 6:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai
dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah .” (QS. Al-Maidah: 6)

2. Dilarang I’tikaf atau Berdiam Diri di Masjid

Para ulama’ telah sepakat bahwa orang yang sedang hadast besar tidak boleh berdiam diri di
masjid. Hal ini berdasarkan Firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 43:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk,
sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu
dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi..”(QS. An-Nisa’: 43)

Dalam firman tersebut secara terang dapat kita pahami bahwa orang yang berhadast besar tidak
boleh i’tikaf di masjid. Namun diperbolehkan untuk sekedar lewat apabila terpaksa.

3. Dilarang Membaca dan Menyentuh Al-Qur’an

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama tidak membolehkan membaca dan
menyentuh Al-Qur’an saat hadat besar. Hal ini berdasarkan Firman Allah Ta’ala dalam surat Al-
Waqi’ah ayat 79:

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.”


Dengan dalil diatas empat madzhab bersepakat bahwa orang yang berhadast kecil dan wanita haidh
dilarang menyentuh Al-Qur’an.

Pendapat kedua yakni membolehkan orang yang sedang hadast besar, salah satunya adalah syaik
Al-Bani, yang menerangkan berdasarkan hadist nabi pada saat Bunda Aisyah akan berangkat
umroh tapi tiba-tiba datang haid:

“Kemudian berhajilah, dan lakukan apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji kecuali thawaf
dan shalat.” (HR.Al-Bukhary dan Muslim, dari Jabir bin Abdillah)

Maka dalam hal ini lebih baik kita mengambil jalan tengahnya, yaitu membaca Al-Qur’an dalam
keadaan suci, dan boleh membacanya dalam keadaan tidak suci dari hadast kecil.

Berkata Imam An-Nawawy:

“Kaum muslimin telah bersepakat atas bolehnya membaca Al-Quran untuk orang yang tidak suci
karena hadats kecil, dan yang lebih utama hendaknya dia berwudhu.” (Al-Majmu’, An-Nawawy
2/163).

4. Dilarang Thawaf saat Haji dan Umroh

Hal ini para ulama’ telah sepakat, sesuai dengan hadist nabi pada saat bunda Aisyah akan umroh
dan tiba-tiba haidh. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Kemudian berhajilah, dan lakukan apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji kecuali thawaf
dan shalat.” (HR.Al-Bukhary dan Muslim, dari Jabir bin Abdillah)

Rukun Pelaksanaan Mandi Wajib

Cara mandi dalam Islam disampaikan teknisnya oleh Rasulullah SAW, untuk menunjukkan cara
mensucikan diri yang benar. Untuk melaksanakan mandi wajib, berikut cara-caranya yang diambil
dari HR Muslim dan Bukhari, mengenai tata cara pelaksanaan mandi wajib.

1. Niat untuk mengangkat hadas besar

Segala sesuatu berasal dari niatnya. Untuk itu, termasuk pada pelaksanaan mandi wajib pun juga
harus diawali dari niat.
2. Membasuh seluruh anggota badan yang zahir.

“Ummu Salama RA, aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang cara-cara mandi, beliau
bersabda, “Memadailah engkau jiruskan tiga raup air ke kepala. Kemudiian ratakannya ke
seluruh badan. Dengan cara itu, sucilah engkau” (HR Muslim)

Membasuh semua anggota badan termasuk kulit atau rambut dengan air serta meratakan air pada
rambut hingga ke pangkalnya. Selain itu wajib juga membasuh dengan air ke seluruh badan
termasuk rambut-rambut, bulu yang ada pada seluruh anggota badan, telinga, kemaluan bagian
belakang ataupun depan.

3. Rambut dalam kondisi terurai/tidak terikat

Untuk mandi besar, maka rambut harus dalam kondisi terurai atau tidak terikat. Hal ini untuk
benar-benar mensucikan seluruh tubuh, sedangkan jika terikat maka tidak sempurna mandinya.
Dikhawtirkan tidak semua bagian dibasuh atau terkenai air.

4. Memberikan wewangian bagi wanita yang setelah haid

“Ambillah sedikit kasturi kemudin bersihkan dengannya”

Hal ini sifatnya tidak wajib, melainkan sunah saja. Untuk wanita, maka bisa memberikan semacam
wewangian ataupun sari-sari bunga yang bisa membersihkan dan membuat wangi kemaluannya,
dimana telah terkena darah haid selama periodenya. Untuk itu di zaman Rasulullah diberikan
bunga kasturi, sedangkan di zaman sekarang ada banyak sari-sari bunga atau hal lainnya yang bisa
lebih membersihkan, mensucikan, dan membuat wangi.

Tata Cara Mandi Besar

1. Membaca niat

Adapun Niat Mandi Wajib dibaca bersamaan dengan permulaan membasuh tubuh

ِ َ‫ن ََويْتُ ْالغُ ْس َل ل َِر ْفعِ ْال َحد‬


‫ث اْالَ ْك َب ِر فَ ْرضًا ِهللِ ت َ َعالَى‬

“NAWAITUL GHUSLA LIRAF’IL HADATSIL AKBARI FARDHAN LILLAAHI


TA’AALAA.”

Artinya:
“Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena Allah Taala.”

2. Membasuh seluruh anggota badan dengan air yaitu dengan meratakan air ke seluruh
bagian rambut dan kulit

Dari Jabir Ra berkata :

“Nabi SAW mengambil tiga kali cidukan telapak tangan dan mengguyurkannya ke atas kepalanya,
kemudian mengguyurkan ke seluruh tubuhnya.” (HR. Bukhari)

Dari Ummu Salamah ra, bahwasannya Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bernah berkata :

“Sesungguhnya cukuplah kamu mengguyurkan ke atas kepalamu tiga kali cidukan, kemudian
kamu guyurkan air ke tubuhmu, maka sucilah kamu.”

3. Menghilangkan najis yang menempel di tubuh

Dari Ali ra, bahwasannya Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bernah berkata :

“Barangsiapa membiarkan janabat seluas tempat seutas rambut tanpa dikenai air, maka Allah
akan mengazabnya dengan sekian dan sekian api karenanya.”
Daftar Pustaka
- https://dalamislam.com/info-islami/mandi-wajib diakses pada tanggal 3 Maret 2018
- https://dalamislam.com/dasar-islam/cara-mandi-dalam-islam diakses pada tanggal 3 Maret
2018
- https://sharingkali.com/hal-hal-yang-dilarang-sebelum-mandi-wajib diakses pada tanggal 3
Maret 2018