Anda di halaman 1dari 3

Resensi Novel

Mimpi Rasul

Kisah Bibir yang Ingin Dicium Rasulullah Saw.

Pengarang : Jusuf AN

Penerbit : Diva Press

1. Menunggu Hujan Reda


Ketika umar dan putri tiba di sebuah pos ronda, kilat mengedipkan malam yang
gelap. Lalu, suara guntur menggelegar. Hujan pun tumpah ke bumi yang gerah
mendesah. Lihatlah, ekspresi wajah umar dan putri atas hujan yabg baru saja turun
itu. Umar merasa beruntung kerana hujan turun di waktu yang cukup tepat, saat
mereka mendapat tempat untuk berteduh, meski hanya sebuah pos ronda yang
sempit. Sementara putri menangis tersedu untuk kesekian kalinya dan bertanya “bang
umar, kita mau tidur dimana?” suara yang terdengarlirih dan terbata. Di telinga umar,
pertanayaan putri barusan tak hanya membuatnya sedih dan pilu. Tetapi lebih dari
itu, dadanya kembali merasa sangat terpukul. Hujan masih lebat, musik-musik langit,

1
deru kendaraan dan klakson masih ingar-bingar. Sementara shalawatan dan
tetabuhan rebana di masjid tak lagi terdengar karena sudah pukul sepuluh malam.
2. Dua Mimpi
Hujan telah berganti gerimis pada pukul dua belas malam, dan benar-benar
reda pada pukul dua dini hari, justru di saat umar dan putri telah tertidur begitu pulas.
Tidur mereka terlihat begitu tentram, meskipun hanya di atas selembar tikat di dalam
pos, mereka tengah dibuai mimpi indah. Dalam tidurnya, putri bertemu dengan sang
ibu yang telah meninggal dua tahun silam. Di sebuah taman yang indah dan wangi,
penuh dengan bunga warna-warni. Di payungi langit yang melengkengkungkan
pelangi, indah tak terperi, putri duduk dalam pangkuan ibunya. Dari sebuah sudut
yang tak diketahui oleh putri dan ibunya, seseorang dangan jubah putih bersih dab
berambut sebahu datang menghampiri mereka. Wajah orang itu memancarkan
cahaya terang benderang. Lalu putri bertanya “ siapa orang itu, ibu? kenapa
wajahnya memancarkan cahaya?” beliau adalah Rasulullah. “lelaki dengan wajah
bercahaya yang disebut sebagai nabi Muhammad itu melangkah mendekati putri dan
ibunya, putri benar-benar melihat sebuah alam yang indah dan baru pertama kali
dilihatnya.
Sementara, umar pun bermimpi berada disebuah tempat yang indah, penuh
bunga warna-warni. Umar sendirian, tak ada seorang pun didekitar taman itu. Hanya
burung-burung di dahan cemara bercericir riang. Umar mengedarkan pandanganya,
tak ada pun seorang yang bisa ia lihat. Tapi telingnya menangkap sesuatu. Suara
sayup-sayup di kejauhan itu ia mendengar Ya nabi salam’alaika...ya rasul
salam’alaika...suara sayu-sayup orang menyanyikan shalawat. Bukan satu orang,
lebih tepatnya segerombolan orang suaranya merdu dan mendayu-dayu. Umar
melangkah ke depan, suara itu justru kian lama kian menghilang. Belum lagi umar
sampai, langkah umar mendadak tercekat dan umar pun terperangah. Di depanya
kini, tampak sebuah istana yang amat megah, dengan dinding-dinding yang berlapis
emas yang berkilau umar pun terpukau. Ketika umar berhenti, lelaki yang berdiri
didekat putri dan ibunya itu menghadapkan badanya memandang umar. Seketika itu
pula, umar terperangah melihat cahaya yang terpancar dari wajah lelaki berjubah itu.
Dengan jelas umar bisa mendengar suara laki-laki itu dan wajahnya bercahaya yang
disebut-sebut sebagai Rasulullah.

2
3. Dicium Rasulullah Saw.
Sebuah mimpi memberiakan pelajaran penting, baik bagi yang mengalami
mimpi itu atau bagi orang lain yang mendengar cerita mimpinya dan bisa membaca
dari bukunya. Umar sadar akan kelam hari-harinya yang silam, manakal ia membaca
kisah mimpi orang alim yang melihat anakanya berambut putih karena dikuburkan
dekat peminum khamr. Malam ini, umar ingin kembali mendapatkan mimpi yang
baik, di mana Tuhan memberikan pencerahan bagi jiwanya. Ia ingin sekali kembali
bermimpi bisa bertemu Rasulullah, sebuah keinginan yang sempat ia lupakam. Ia
masih ingat dengan apa yang pernah dibacanya. Bahwa salah satu cara bisa bermimpi
bertemu Rasulullah adalah mendirikan shalat hajat. Karena terkadang, Tuhan
berusaha menunjukkan sebuah jalan kepada orang-orang yang di kehendaki-nya
lewat mimpi. Hingga suatu ketika, dalam tudurnya orang shalih bermimpi berjumpa
Rasulullah Saw yang memasuki rumaahnya cahaya yang terang benderang
memenuhi seluruh ruangan. Lantas beliau bersabda, “bawalah ke sini mulut orang
membaca shalawat, aku akan menciumnya”. Orang shalih tersebut merasa malu,
lantas pipinya dipalingkan, namun beliau tetap mengecup mulutnya.