Anda di halaman 1dari 14

Judul : Ouchhh...

mulutku nyeri banged


Skenario : seorang pendertia laki-laki umur 42 thn datang mengeluhkan sakit pada bagian
bawah lidah disertai adanya hipersalivasi. Dari pemeriksaan intra oral ditemukan adanya
penonjolan pada mukosa submandibula kiri RB. Dari hasil foto panoramik ditemukan adanya
gambaran radiopak berbentuk bulat. Kesimpulan sementara pasien mengalami gangguan
pada ductus salivarius.

Step 1
Ductus salivarius : saluran yang menghubungkan kelenjar saliva dengan rongga mulut
Hipersaliva : suatu gejala yang ditandai dengan produksi saliva yang berlebihan. Gejalanya
bisa dilihat dari psikis, lokal dan gejala patologi
Step 2
1. Macam-macam dari ductus salivarius
2. Komposisi dari saliva
3. Apa fungsi dari saliva
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi dari sekresi saliva
5. Apa saja etiologi kelainan pada saliva
6. Berapa jumlah saliva normal
7. Apa saja gangguan fungsional dari saliva
8. Mekanisme dari hipersaliva
9. Bagaimana pemeriksaan kelainan pada saliva
10. Intrepetasi gambaran radiografi kelainan pada ductus saliva
11. Intrepetasi gambaran radiografi pada skenario
Step 3
1. Macam-macam dari ductus salivarius (salma)
Terdiri dari asinus  sel sel asinar : serous dan mukus
Intralobular  ductus interkalata dan striata akhirnya berada di ductus kolektivus
dan interlobular
Berdasarkan lokasi
- Glandula parotis : letaknya di preauricular, terbentuk pada masa kehamilan
minggu ke6, nama ductus : stenson bermuara di antara mukosa bukal dan
ginggiva M2 RA
- Glandula submandibula/maxilla : berada dibawah mandibula, terbentuk pada
embriologi ke 6, nama ductus : warton bermuara di dasar mulut di frenulum
lingual letaknya kelenjar di bagian medial trigonumretromolar
- Glandula sublingual : berada dibawah lidah, didasar mulut, nama ductus : rivinus
(memproduksi saliva lebih sedikit) dan bartholins (saliva lebih banyak) bermuara
di sebelah muara submandibula
2. Komposisi dari saliva (savira)
Organik : protein berupa enzim amilase, maltase, musin dan beberapa asam amino,
glukosa
Anorganik : sodium, kalsium, kalium, potasium, magnesium (sedikit), khlor,
Makromolekul : lemak, amilase, lisozim, ig, peroksidase,
99% air, sisanya organik, anorganik,makromolekul
3. Apa fungsi dari saliva (septa)
- menjaga kelembaban rongga mulut
- Membantu dalam menelan makanan
- proteksi
-lubrikasi : mucin, antibakteri : lisozim ,,buffer : bikarbonat, urea, fosfat,
- fungsi pengecapan dan pencernaan
- penyembuhan luka
- homeostasis
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi dari sekresi saliva (ima)
- Postur tubuh ; berdiri lebih banyak saliva
- Obat- obatan : aspirin menyebabkan xerostomia, antidepressan menyebabkan
sekresi saliva meningkat,
- Irama sirkadian : kalau malam meningkat,
- Puasa : saliva yang disekresikan sedikit karena tidak ada stimulasi dari makanan
dan minuman
- Cahaya : cahaya terang yang disekresikan semakin banyak
- Usia : semakin usia bertambah terjadi atrofi sel sehingga sekresi saliva sedikit
- Ukuran ductus
- Tergantung kelenjar yang memproduksi
- Adanya rangsangan
- Hormonal , mekanisme pengaruh hormon terhadap sekresi saliva (tal)
5. Apa saja etiologi kelainan pada saliva (vivi)
- Trauma : jika terkena ductus akan mengalami pembengkakan
- Keadaan OH yang buruk : sisa makanan akan terkalsifikasi dan mengalami
pembengkakan
- Infeksi bakteri
6. Berapa jumlah saliva normal
1-1,5liter/hari
Laju aliran saliva normal dewasa stimulasi : 1-3ml/menit
Kadar terendah : 0,7-1ml/menit
Hiposalivasi : <0,7ml/menit
Laju aliran saliva normal tanpa stimulasi : 0,25-0,35 ml/menit
Kadar terendah : 0,1-0,25ml/menit
Hiposalivasi: <0,1ml/menit
pH : berkisar 6-7
7. Apa saja gangguan fungsional dari saliva (weya)
- Inflamasi : bacterial sialodenitis, autoimun sialodenitis, sialodocitis (ductus yang
terkena), sialolithiasis (terjadi penyumbatan),
-Non inflamasi : sialodenosis, cystic lession ,
-Benigna tumor : benigna mixed tumor, warton tumor, adenoidpleimorfid,
hemangioma (adanya tumor dari sel-sel pembuluh darah)
- Maligna tumor : mukoepidermal carsinoma, maligna mixed tumor
- Herediter : agenesis (ductus tidak ada menyebabkan xerostomia)
- Adanya granuloma : penyakit TB (ditemukan adanya benjolan di kelenjar saliva
minor bagian labial berupa granuloma maupun kista, kalau kista sudah dikelilingi
oleh epithel)
- Trauma : menyebabkan mukokele (dibagi 3)
Mukokele extravasasi : mucin berpindah, terjadi extravasi pada glandula
sehingga terjadinya pembengkakan
Ranula : mukokele pada dasar lidah
satunyalupa
8. Mekanisme dari hipersaliva (yogi)
Stimulasi(baumakanan)Berbicara  molekul ke bulbus olfactorius  di bawa
serabut saraf aferen ke hipothalamus (sistem limbik)  respon pada ductus saliva
memproduksi saliva yang berlebihan

9. Bagaimana pemeriksaan kelainan pada saliva (yanto)


- sialografi : bahan iodine, diinjeksi intraductusditunggu sampai menyebar  di
foto 
Indikasi : kronik
Kontraindikasi : akut dan sialolithiasis
- Marsupialisasi
Indikasi : sialolithiasis
- Tomografi komputer : mengevaluasi sistem ductus dan parenkim,
- MRI
- USG : untuk mengetahui masa pada kelainan pada ductus
- Biopsi : eksisi
indikasi : mukokele
10. Intrepetasi gambaran radiografi kelainan pada ductus saliva (contoh gambar rontgen
pada ductus saliva) (salma)
Ditemukan adanya kista di sekitar ductus : adanya radiolucent dikelilingi radiopak
Bengkak berisi cairan : gambaran radiolucent
Debris yang terkumpul di glandula saliva terkalsifikasi : gambaran radiopak
11. Intrepetasi gambaran radiografi pada skenario (savira)

12. Perbedaan dari kelainan pada ductus saliva (sialolithiasis dan sialodenosis,
sialodenitis) dan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosa (ima)
13. Ibadah ketika sakit (tal)
Step 4
Konsep mapping
Kelenjar saliva
Kondisi patologis fisiologis

Hiposaliva Hipersaliva
Anamnesis , pemeriksaan penunjang, pemeriksaan klinis
1. Macam-macam dari ductus salivarius
Ductus saliva terdiri dari saluran kecil (small duct : intercalate duct) sampai
ukurannya menjadi bertambah besar untuk membentuk saluran ekskretoris
Intercalated duct  Striated ductInterlobular

Sumber : ebook diagnostic oral medicine


2. Komposisi dari saliva
Kelenjar ludah cairan terdiri dari : 99% air , 1% komponen organic dan anorganic

- 99% air dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kekeringan dalam rongga mulut
terutama pada saat proses mastikasi dan berbicara. Cairan akan kembali normal dengan
minum dan adanya cadangan dari cairan yang disimpan.
- Komponen organic , glikoprotein : Mucin memiliki peran multifungsi didalam mulut yaitu
sebagai pelumas permukaan, perlindungan jaringan keras dan lunak serta lingkungan
eksternal, membantu dalam pengunyahan, bicara dan menelan
- Elektrolit (natrium, kalium, kalsium,klorida, magnesium, bikarbonat, fosfat : fungsi
buffer)
- Protein (enzim,imunoglobulin dan faktor lain antimikroba : lisozim (merusak dinding sel
bakteri
- Glukosa : diskriminasi rasa manis dimulut
- Bikarbonat,urea : menetralkan asam dallam makannan serta asam yang dihasilkan
bakteri dimulut sehingga karies digigi dapat dicegah

Sumber : The Journal of Contemporary Dental Practice, Volume 9, No. 3, March 1, 2008

3. Apa fungsi dari saliva?


- epidermal growthfactor
yang dikeluarkan oleh kelenjar submandibula mempercepat penyembuhan luka.
- Lubrikasi dan proteksi
Mucin
- Buffering action dan Clearance
Bikarbonat , urea , fosfat.
- Mempertahankan integritas gigi
Kalsium dan fosfat
- Antibakteri : LIsozim &lactoferin
- Pengecapan dan proses pencernaan
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi dari sekresi saliva?
- Hormon : steroid , cortisol , peptide growth hormone
5. Apa saja etiologi kelainan pada saliva
6. Berapa jumlah saliva normal ?
Sekresi harian air liur biasanya berkisar antara 800 dan 1500 mLdengan rata-
rata volume 1000 ml. Dalam 24 jam antara 1 dan 1,5 L air liur disekresidi rata-
rata orang sehat yang kelenjar submandibula menyumbang 60%, Kelenjar parotis 30%, kelenj
ar sublingual kelenjar kurang dari 5% dan Duct saliva minor 7%.
Sumber :
7. Apa saja gangguan fungsional dari saliva?
Salivary gland disorders can be classified as
1. Developmental disorders ?
a. Hypoplasia/aplasia
b. Aberrant salivary glands
c. Staphne's cyst
d. Accessory ducts
e. Diverticuli
2. Obstructive disorders
a. Dariees disease
b. Sialolithiasis
c. Mucocele
3. Polycystic disease of parotid glands
4. Inflammatory disorders
a. Bacterial
b. Viral
5. Functional disorders
a. Xerostomia
b. Sialorrhoea
6. Sialadenosis and metabolic diseases
a. Endocrine related: Diabetes mellitus, diabetes insipidus
b. Nutrition related: Alcoholism, bulimia
c. Neurogenic medications: Antihypertensive drugs, sympathomimetic drugs
d. Salivary glands and granulomatous disorders: Tuberculosis, sarcoidosis
7. Autoimmune disorders
a. Sjogren's syndrome
b. Mikulicz's disease (MD)
8. Neoplastic disorders
a. Benign tumours • Pleomorphic adenoma (PA) • Monomorphic adenoma •
Papillary cystadenoma lymphomatosum • Oncocytoma • Basal cell adenomas
• Canalicular adenoma • Sebaceous adenoma • Ductal papilloma (DP)
b. Malignant tumours • Mucoepidermoid carcinoma • Adenoid cystic carcinoma
(ACC) • Acinic cell carcinoma • Carcinoma ex PA • Adenocarcinoma (AC) •
Myoepithelial carcinoma

8. Mekanisme dari hipersaliva


9. Bagaimana pemeriksaan kelainan pada saliva?
- Inspeksi kelenjar parotis :
Apakah ada pembengkakan atau tidak , Kullit diatas kelenjar juga diamati , dalam
keadaan infeksi : kulit menggelembung , kadang disertai Hyperaemia
(penyempitan pembuluh farah ) yang memicu kemerahan pada kulit.
- Palpasi kelenjar parotis : dengan menggunakan jempoll dan jari telunjuk
Dirasakan hangat / tidak , konsistensinya
- Inspeksi submandibular dan sublingual
apakah terdapat pembengkakan dan perubahan warna dengan mukosa
- Palpasi submandibular dan sublingual
Dilakukan bimanual
Tumor pada gland mayor : biasanya ada rasa sakit
Pada gland minor : terletak di soft and hard palatum dan biasanya lembut

Pemeriksaan Penunjang :
a. Radiograf (panoramic / lateral oblique view )
o Pandangan anterior – posterior: untuk memvisualisai kelenjar parotis
o Oclusal film dapat digunakan untuk mendeteksi kelenjarludah batu dalam salura
n submandibula
b. Sialograpy
Dengan memperkenalkan media contrast radiopaque
Indakasi :
- Untuk menentukan sejauh mana kelenjar mengalami kerusakan
- Untuk menentukan lokasi , ukuran , asal-usul kerusakan
Kontraindikasi :
- Alergi senyawa yang mengandung yodium
- Peradangan akut/ infeksi : keluarnya nanah dari pembukaan saluran
Bahan :
- Yodium berbasis kontras media : bahan
- Ionic aqueous solutions : memiliki viskousitas yang tinggi, menenjukan kontras , dan
radiopaque (contoh : diatrizoate, metrizoate)
- Oil based solutions : viskousitas rendah (contoh : lipiodol )
Tehnik :
- Preoperative phase : diambil sebelum dimasukan bahan , untuk meluhat posisi , struktur
anatomis .
- Fining phase : diberi bahan ,menggunakan tekanan lembut tangan sampai pasien
mengalami sesak dan ketidaknyamanan pada kelenjar, lalu diambil gambar radipgrapg
setidaknya 2 pandangan
- Empetying faase : pasie diminta untuk membilas mulutnya , bisa menggunakan jus
lemon
- Sialografi submandibula

c. Ultrasonografi
ini berguna dalam pemeriksaan penyakit kelenjar ludah seperti kalkulus submandibu
la duct, gangguan autoimun dan tumor jinak dan ganas. Hal ini berguna dalam pencit
raan bengkak karena 90o/o dari pembengkakan parotis timbul dibagian yang dangka
l Kelenjarparotis
d. Scintigrafi
Memeriksa struktur Dan topografi kelenjar ludah.
Pemeriksaan dilakukan dengan kamera gamma setelah injeksi intravena 74 millibecqu
erel dari 99mTcpertechnetate, yang selektif terkonsentrasi dan dikeluarkan oleh kelenj
ar ludah.
Gambar biasanya dibuat selama periode 60-90 menit
e. Computerised Tomography
f. MRI
g. Fine needle aspiration cytology
Kemampuan untuk membedakan jinak dari ganas kelenjar ludah Neoplasma oleh sit
ologi aspirasi jarum halus (FNAC) adalah sekitar 77%. Maka FNAC tidk digunakan sec
ara rutin sebagai alat diagnostik. FNAC digunakan
1. dalam kasus dugaan Limfadenopati, terutama anak-
anak atau jinak lymphoepithelial penyakit, infeksi seperti tuberkulosis, histoplas
mosis, Sarkoidosis dan limfoma.
2. untuk konfirmasi sifat jinak Neoplasma pada pasien yang lebih
tua dan perusahaanuntuk menghindari operasi.
3. untuk membedakan parotis tumor dari branchial kista dan kelenjar
getah bening.
4. untuk menentukan dasar okultisme dan metastasis dari kulit.
5. untuk mengidentifikasi tumor ganas yang kecil dengan gejala sakit dan Fasial.
6. untuk menghindari cedera saraf wajah mungkin intraoperatively.
7. dalam human immunodeficiency virus {penyakit parotis HIV) dimana operasi dap
atdihindari.
10. Intrepetasi gambaran radiografi kelainan pada ductus saliva?

11. Intrepetasi gambaran radiografi pada skenario?


“sialolithiasis/ batu kelenjar “

- Gejala klinis yang khas adalah rasa sakit yang hebat pada saat makan, menelan , dan
pembengkakan kelenjar ludah (peka saat dipalpasi ) . –
- radiografi sangat membantu dalam menegakkan lokasi sialolit atau batu saliva. Sialolit
pada foto rontgen akanterlihat berupa daerah berwarna putih :Radiopaque ,
dibandingkan daerah sekitarnya.
- Kuranglebih 80% sialolitiasis berasal dari kelenjar submandibula, 6% dari kelenjar parotis
dan 2% dari kelenjar sublingualis dan kelenjar minor.
- Gejala yang dirasakan pasienadalah terdapat bengkak yang hilang timbul disertai dengan
rasa nyeri
- Ditemukan benjolan seperti batu bisa lonjong / bulat , keras, dapat berpinda-pindah

Sumber :

12. Perbedaan dari kelainan pada ductus saliva (sialolithiasis dan sialodenosis,
sialodenitis) dan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosa (ima)
- sialadenitis: Di sialadenitis, titik-
titik atau gumpalan media kontras dalam kelenjaryang disebut sialectasis (gambar 18.5B) t
erlihat. Penampilan dikenal sebagai pohonapel dalam penampilan mekar.
Submandibular

Parotid

- Sialolithiasis: (batu kelenjar)


kalsifikasi struktur yang berkembang di parenchyma, sistemsekresi, atau saluran dari kel
enjar ludah besar dan kecil. berasal daripengendapan garam kalsium . Obat-
obatan antikolinergik juga terkait Dalam hal
ini, dilatasi duktus proksimal ke kalkulus terjadi. Itu adalah mengisi Cacat (Fig. 18,5 C).
Sialolithiasis submandibular

- Sialadenosis: Munculnya kelenjar ludah dalam sialadenosis dikenal sebagai pohon tumbu
han penampilan - yang disebabkan oleh kompresi saluran-saluran halus oleh sel-
sel asinar hipertrofik.

13. Ibadah ketika sakit


- Membaca Al Qur’an

Satu nasehat yang ditekankan ulama adalah mengisi dan “mencuri waktu” ketika sakit untuk
membaca Al Qur’an. Karena Al Qur’an memang bisa mengobati kesedihan, kegelisahan hati,
serta bisa mengobati penyakit fisik. Ini berlaku untuk semua ayat dalam Al Qur’an.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan dari Al Qur`an suatu yang menjadi
penawar kesembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al Israa : 82)

- Berdzikir kepada Allah


Waktu luang sangat banyak ketika sakit. Mungkin anggota badan lemah dan tidak bisa
bergerak tetapi kebanyakan orang sakit lisan mereka masih mudah untuk digerakkan
berdzikir kepada Allah. Berdzikir akan menenangkan hati dan melawan kegelisahan bagi si
sakit.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati
menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du : 28)

- Berdoa kesembuhan kepada Allah

Misalnya doa berikut ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Letakkan
tanganmu dibagian tubuh yang sakit, lalu ucapkanlah, “bismillāh” tiga kali, lalu ucapkan
sebanyak tujuh kali “A’ūdzu billāhi wa qudrātihi min syarri maa ajidu wa uḥaadzir”,

(Aku memohon perlindungan kepada Allah dengan kemuliaan dan kekuasaan-Nya dari segala
keburukan yang kudapatkan dan kukhawatirkan)” (HR. Muslim)

- Tetap shalat dan melakukan ibadah yang lain

Agama kita diberi kemudahan yang banyak, orang yang sakit tetap shalat seusai dengan
kondisinya baik dengan cara duduk atau berbaring. Jika tidak bisa menggunakan air, ia bisa
melakukan tayammum.

https://www.academia.edu/11527425/sialolithiasis