Anda di halaman 1dari 8

SELF MANAGEMENT

A. Pengertian Manajemen Diri (Self-Management)

Definisi manajemen diri atau pengendalian diri pada dasarnya telah banyak diungkapkan oleh
Thoresen dan Mahoney (1974). Menurut mereka pengendalian diri terjadi ketika, tidak
adanya kontrol dari luar secara langsung, artinya seseorang memunculkan
respon yang dirancang untuk mengontrol prilakunya sendiri. Misalnya, seorang pria
menunjukkan pengendalian diri ketika sendirian di rumah (tanpa pengawasan) dan bebas untuk
melakukan hal apapun yang ia inginkan, ia sambil makan kacang tanah, minum bir,
dan tidak berolahraga mengendarai sepeda selama 20 menit. Definisi yang diungkapkan Thoresen
dan Mahoney, pengendalian diri tidak terlibat saat kejadian eksternal yang segera dan nyata
mengatur kesempatan itu untuk atau memperkuat respon pengendali. Pria itu tidak
akan melanggar pantangan dengan adanya pengendalian diri jika istrinya ada sehingga
mengingatkannya untuk makan, berolah raga naik sepeda, menandai waktu dan jarak tempuh pada
tabel yang telah dibuat.

Definisi pengendalian diri menurut Kazdin (2001), "bahwa perilaku seseorang sengaja dilakukan untuk
mencapai hasil diri yang dipilih " lebih fungsional untuk analisis perilaku terapan. Dengan
definisi ini kontrol diri terjadi setiap kali seseorang sengaja memancarkan
perilaku yang mengubah lingkungan dalam rangka untuk mengubah perilaku lain. Pengendalian diri
dianggap pur-poseful dalam arti bahwa seseorang merespon seperti yang
dirancang untuk mencapai hasil tertentu (disepakati sesuai rancangan). Misalnya, untuk
mengurangi jumlah rokok yang diisap setiap hari.

Kami mendefinisikan diri sebagai aplikasi manajemen pribadi, strategi merubah perilaku yang
menghasilkan perubahan yang diinginkan. Ini adalah definisi fungsional secara
luas tentang manajemen diri. Hal ini meliputi peristiwa manajemen diri, seperti yang
dilakukan Raylene merekam catatan ke pintu lemari untuk mengingatkan dirinya sendiri
untuk memakai jas abu-abu keesokan harinya, serta lainnya, merencanakan dan
mengimplementasikan program perubahan perilaku mandiri yang telah lama berjalan dan
direncanakan secara kontinu untuk mencapai perubahanyang diinginkan. Hal ini adalah definisi
fungsional bahwa perubahan yang diinginkan dalam perilaku
sasaran harus terjadi karena manajemen diri harus ditunjukkan, Manajemen diri adalah
sebuah konsep relatif. Sebuah program perubahan perilaku, memerlukan tingkat kecil manajemen
diri atau secara total dipahami, dirancang, dan dilaksanakan oleh orang tersebut.

Manajemen diri terjadi di sebuah kontinum bersama orang yang mengontrol satu atau semua
komponen program perubahan perilaku. Ketika sebuah program perubahan perilaku dilaksanakan
oleh satu orang (misalnya, guru, terapis, orang tua) atas nama lain (misalnya,
mahasiswa, klien, anak), agen perubahan eksternal memanipulasi operasi memotivasi,
mengatur rangsangan yang diskriminatif, memberikan respon prompt, memberikan konsekuensi
diferensial, dan mengamati dan fecords terjadinya atau tidak terjadinya perilaku target. Beberapa
tingkat manajemen diri yang terlibat setiap kali seseorang melakukan (yaitu, kontrol) setiap unsur dari
sebuah program yang mengubah perilakunya.
Meskipun strategi pengelolaan diri dapat diklasifikasikan sesuai dengan penekanan
pada komponen tertentu dari kontingensi tiga atau empat secara panjang, atau dengan
kesamaan struktur prinsip perilaku tertentu (misalnya, stimulus kontrol, penguatan), ada
kemungkinan bahwa semua srategi manajemen diri melibatkan beberapa prinsip perilaku.
Jadi, ketika peneliti dan praktisi manajemen diri menggambarkan strategi, mereka harus
memberikan keterangan rinci tentang prosedur yang tepat digunakan. Analis perilaku tidak boleh
menganggap efek dari intervensi manajemen diri dengan prinsip-prinsip tertentu dari perilaku yang
tidak ada eksperimental yang menunjukkan hubungan.

B. Terminologi: Self-Control atau Manajemen Mandiri?

Meskipun kontrol diri dan manajemen diri sering muncul bergantian dalam literatur
perilaku, kami menyarankan manajemen diri digunakan dalam referensi orang bertindak
"dalam beberapa cara untuk mengubah perilaku berikutnya" (Epstein, 1997, hal. 547,
penekanan dalam aslinya). Kami memiliki tiga alasan untuk membuat rekomendasi ini. Pertama,
kontrol diri adalah "bawaan menyesatkan" istilah yang menyiratkan bahwa kontrol
utama terletak dalam perilaku orang tersebut (Brigham, 1980). Meskipun Skinner (1953)
mengakui bahwa seseorang bisa mencapai kontrol praktis atas perilaku tertentu dengan
bertindak dengan cara yang memanipulasi variabel yang mempengaruhi frekuensi perilaku
itu, ia berpendapat bahwa perilaku mengendalikan diri dipelajari dari interaksi seseorang dengan
lingkungan.

‘Seorang pria mungkin menghabiskan banyak waktu merancang sendiri hidupnya-ia


dapat memilih keadaan dimana ia hidup dengan hati-hati, dan ia mungkin
memanipulasi lingkungan sehari-hari dalam skala luas. Kegiatan ini tampaknya
menunjukkan urutan tinggi dari penentuan nasib sendiri. Tetapi juga perilaku, dan kami
menjelaskan hal itu dalam pengertian variabel lain dalam lingkungan dan sejarah
individual. Ini adalah variabel-variabel yang memberikan yang paling con-trol. (hal. 240)’
Dengan kata lain, faktor-faktor kausal untuk "kontrol diri" (yaitu, mengendalikan perilaku) yang
dapat ditemukan dalam pengalaman seseorang dengan lingkungannya. Dimulai dengan
contoh orang mengatur jam alarm (mengendalikan perilaku) untuk mengontrol prilaku
tidurnya (perilaku terkontrol). Kedua, menghubungkan penyebab perilaku tertentu untuk
pengendalian diri sehingga dapat berfungsi sebagai fiksi jelas. Baum (2005) menunjukkan,
pengendalian diri "tampaknya menunjukkan mengendalikan (terpisah) di dalam diri atau [bahwa
ada] diri dalam mengendalikan perilaku eksternal. Terkadang diri ini identik dengan pikiran
dan "tidak jauh dari gagasan kuno ho-munculus (manusia ketika dalam kandungan) yang berperilaku
persis dengan cara yang diperlukan untuk menjelaskan perilaku orang luar untuk siapa ia hadir"
(Skinner, 1974, hal. 121 ).
Ketiga, orang awam dan peneliti perilaku sering sama menggunakan kontrol diri untuk
menunjukkan kemampuan seseorang dalam "menunda kepuasan" (Mischel & Gilligan, 1964).
Dalam istilah operant, pengendalian diri melibatkan penggunaan menanggapi untuk mencapai
kualitas hadiah tertunda, tetapi lebih besar atau lebih tinggi bukan bertindak untuk
mendapatkan segera, hadiah yang kurang berharga (Schweitzer & Sulzer-Azaroff, 1988).
Menggunakan istilah yang sama untuk menyebut strategi mengubah perilaku dan jenis
perilaku tertentu dapat membingungkan dan secara logika akan rusak. Membatasi
penggunaan kontrol diri untuk menggambarkan jenis tertentu perilaku dapat mengurangi
kebingungan yang disebabkan oleh penggunaan kontrol diri sebagai nama untuk kedua variabel
independen dan variabel dependen. Dalam hal ini, kontrol diri dapat menjadi tujuan atau hasil dari
program perubahan perilaku terlepas dari apakah perilaku itu adalah produk
dari intervensi dilaksanakan oleh pihak eksternal atau subjek. Dengan demikian, seseorang dapat
menggunakan manajemen diri untuk mencapai kontrol diri.
B. Pengertian Manajemen
Kamus Webster menyatakan bahwa manajemen berasal dari kata manage (maneggio,
Italia) yang dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia kata manage berarti: mengurus, memimpin,
mencapai, dan memerintah. Berdasarkan pengertian secara etimologis itu
munculah konsep manajemen yang secara terminologis menurut para ahli disebut sebagai the act
or art of managing, conducting, directing, and controlling.Manajemen merupakan suatu kegiatan
atau seni dalam mengurus (memimpin, mencapai, dan memerintah), membimbing, mengarahkan
dan mengendalikan (Appley dalam Zailani dan Antowijoyo, 1989:1).
Berdasarkan pembatasan tersebut kemudian muncul berbagai definisi tentang manajemen.
Diantaranya adalah Follet yang mendefinisikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan
pekerjaan melalui orang lain. Sedangkan Stoner mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota
organisasi dan penggunaan berbagai berbagai sumber daya organisasi lainya untuk mencapai
tujuan organisasi yang diinginkan (Handoko, 1991:8). Definisi manajemen seperti yang
dikemukakan oleh Stoner tersebut pada dasarnya sependapat dengan definisi manajemen yang
dikemukakan oleh Tery yang menyatakan, bahwa manajemen sebagai suatu tindakan untuk
melaksanakan sesuatu melalui orang lain. Artinya tindakan tersebut melalui perencanaan dan
pengorganisasian, pengarahan dan penggerakan serta koordinasi dan pengawasan.
Millet yang mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses pembimbingan, pengarahan
dan pemberian fasilitas terhadap pekerjaan orang-orang yang terkoordinasi dalam kelompok-
kelompok formal untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Disimpulkan manajemen akan selalu
berhubungan dengan segenap usaha untuk mencapai tujuan yang ditelah ditetapkan dan
diharapkan melalui orang lain berdasarkan target terhadap sasaran-sasaran tertentu dengan
menggunakan strategi yang dibuat berdasarkan prinsip-prinsip manajemen ilmiah dan praktis
serta dengan memamfaatkan berbagai fasilitas dan sumber daya yang tersedia dengan sebaik-
baiknya.
Pengertian Manajemen dan Empat Fungsi Dasar Manajemen – Setiap organisasi memiliki berbagai sumber daya yang harus dikelola oleh manajemen
yang profesional agar sumber daya tersebut dapat memberikan konstribusi yang paling maksimal terhadap pencapaian tujuan organisasinya. Secara
definisi, Manajemen dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan (termasuk perencanaan dan pembuatan keputusan, pengorganisasian, pimpinan dan
pengendalian) yang diarahkan pada sumber daya organisasi (tenaga kerja, keuangan, fisik dan informasi) yang bertujuan untuk mencapai sasaran organisasi dengan
cara yang efisien dan efektif (Menurut R.W. Griffin dalam bukunya yang berjudul Management, 2013:5).

Pengertian Manajemen menurut Sawaldjo Puspopranoto (2006:99) adalah Proses untuk mencapai tujuan organisasi dengan bekerja bersama dan melalui
orang-orang dan sumber daya organisasi lainnya.

4 Fungsi Dasar Manajemen


Berdasarkan definisi diatas, jelas bahwa Manajemen dalam sebuah organisasi memiliki 4 Fungsi Dasar yaitu Perencanaan dan Pembuatan
Keputusan, Pengorganisasian, Pimpinan dan Pengendalian yang digunakan untuk mengelola sumber daya organisasinya sehingga mencapai sasaran
yang ditentukan secara efektif dan efisien.

Perencanaan (Planning)
Dalam definisi tersebut mengatakan bahwa fungsi dasar pertama dari Manajemen adalah Perencanaan dan Pembuatan keputusan. Pada dasarnya,
Perencanaan atau Planning adalah menentukan Tujuan Organisasi dan memutuskan cara yang terbaik untuk mencapainya. Sedangkan Pembuatan
Keputusan adalah bagian dari Perencanaan yang berkaitan dalam memilih langkah-langkah atau tugas yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran
organisasinya. Dalam perencanaan harus memiliki batas waktu hingga kapan tugas-tugas tersebut harus dilaksanakan dan siapa yang bertanggung
jawab atas tugas tersebut.

Pengorganisasian (Organizing)
Setelah membuat perencanaan dan menetapkan langkah-langkah ataupun tugas-tugas untuk mencapai sasaran organisasi, fungsi manajemen
selanjutnya adalah mengorganisir orang-orang yang tepat dan sumber daya lainnya untuk menjalankan perencanaan yang ditetapkan. Pada dasarnya,
yang dimaksud dengan Pengorganisasian (Organizing) adalah mendelegasikan tugas-tugas yang telah ditetapkan dalam perencanaan kepada
individu ataupun kelompok yang terdapat dalam organsasi yang bersangkutan.

Dalam fungsi Pengorganisasian terdapat pengelompokan kegiatan dan penyusunan Struktur Organisasi serta menjelaskan fungsi-fungsi dari setiap
bagian dan sifat hubungan antara bagian-bagian tersebut dalam Struktur organisasi tersebut.

Pemimpinan (Leading)
Setelah menetapkan Perencanan dan mengorganisir sumber daya yang diperlukan, Fungsi ketiga Manajemen adalah Pemimpinan (Leading) atau ada
yang menyebut fungsi manajemen ini sebagai Pengarahan (Directing). Pemimpinan (Leading) dalam Manajemen adalah serangkaian proses yang
digunakan agar setiap anggota yang berada dalam organisasi dapat bekerjasama dalam mencapai sasaran organisasi. Seorang Manajer harus dapat
menuntun, mengarahkan, menggerakan dan memotivasi serta mempengaruhi bawahan agar dapat melakukan tugas-tugas yang telah direncanakan
untuk mencapai tujuan/sasaran organisasi.

Pengendalian (Controlling)
Fungsi Manajemen yang terakhir adalah Pengendalian atau Controlling, Fungsi Pengendalian ini berkaitan dengan penghimpunan informasi-informasi
yang digunakan untuk melakukan pengukuran terhadap kinerja organisasi, memantau perkembangan tugas yang telah direncanakan sebelumnya dan
mengambil tindakan korektif terhadap penyimpangan yang terjadi. Dalam fungsi pengendalian ini, seorang manajer selalu mengawasi jalannya suatu
tugas atau kegiatan yang terarah ke pencapaian Tujuan Organisasi yang telah ditetapkannya.
Pendidikan Manajemen Prioritas Sebaiknya Diajarkan
Semenjak Usia Dini
28 Juni 2012 21:26 Diperbarui: 25 Juni 2015 03:26 176 0 0

1340913263522791621

Mungkin pembaca pernah melihat anak-anak yang menangis meraung-raung bahkan berguling-guling di tanah karena permintaannya tidak
dikabulkan, misalnya mainan. Saya sendiri pernah melihatnya langsung di sebuah pesta, pada saat itu orangtua anak tersebut, benar-benar
bingung karena tingkah anaknya yang berusia kira-kira tujuh tahun. Mungkin karena saking bingungnya, orangtua anak tersebut hanya diam saja.

Contoh yang agak ekstrim tersebut memang jarang terjadi, yang paling sering saya jumpai adalah menangis dan merajuk, biasanya di depan toko
mainan anak-anak atau di swalayan.

Pada prinsipnya hal yang sama juga sering saya jumpai pada pelajar dan mahasiswa. Begitu banyaknya warnet-warnet dan game-game station,
dipenuhi oleh mereka dari pagi hingga malam hari. Mereka banyak melakukan kegiatan-kegiatan sejenis, kegiatan-kegiatan yang sia-sia, bahkan
tidak sedikit melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan diri mereka sendiri dan orang lain misalnya mengkonsumsi narkoba dan genk motor.

Mengapa hal-hal seperti itu terjadi?

Permasalahannya memang tidak sederhana, namun tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab utamanya adalah pendidikan manajemen
prioritas yang tidak diterapkan dengan baik atau bahkan tidak diajarkan oleh orang tua mereka.

Manajemen Prioritas

Steven R. Covey dalam bukunya "First Things First" telah menguraikan konsep manajemen prioritas dengan jelas dan baik sekali, berdasarkan
penting dan mendesaknya suatu kegiatan. Gambar dibawah merupakan konsep Matrix Manajemen Prioritas yang dipopulerkan oleh Steven R.
Covey.

[caption id="attachment_185260" align="aligncenter" width="358" caption="Matrix Manajemen Prioritas "][/caption]

Berdasarkan diagram tersebut dapat diketahui terdapat empat kuadran yaitu:

1. Penting dan Mendesak


2. Penting dan Tidak Mendesak
3. Tidak Penting dan Mendesak
4. Tidak Penting dan Tidak Mendesak

Contoh-contoh dibawah ini hanya sebagai gambaran, dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan atau tingkat kepentingan dan waktu suatu
kegiatan.
Penting dan Mendesak

1. Untuk pelajar dan mahasiswa, misalnya besok mau ujian akhir, malam ini harus mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk menghadapi
ujian tersebut, misalnya alat-alat tulis, kartu ujian, dan membaca-baca kembali topik pelajaran yang akan diujikan.
2. Pertemuan bisnis
3. Peristiwa yang bersifat krisis, misalnya kecelakaan
4. Pekerjaan yang memiliki batas waktu

Penting dan Tidak Mendesak

1. Untuk pelajar dan mahasiswa misalnya, mengulang-ngulang pelajaran.


2. Kegiatan-kegiatan yang bersifat perencanaan atau pencegahan.
3. Menjalin dan membangun persahabatan atau kekluargaan (silaturahmi)
4. Rekreasi

Tidak Penting dan Mendesak

1. Mengejar acara diskon terbatas suatu produk


2. Membuka e-mail atau menjawab telepon dari teman-teman yang kadang-kadang iseng
3. Pertemuan-pertemuan yang kadang-kadang hanya bersifat rutinitas

Tidak Penting dan Tidak Mendesak

1. Ngobrol-ngobrol tidak tentu arah


2. Menonton program-program televisi tertentu
3. Kegiatan-kegiatan yang bersifat pelarian atau berlebihan misalnya main game dan mengisi teka-teki silang.
4. Kegiatan-kegiatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain

Pendidikan Manajemen Prioritas Sebaiknya Diajarkan Semenjak Usia Dini

Sebenarnya konsep ini adalah konsep lama yang telah diterapkan semenjak dahulu oleh orangtua kita, namun dengan konsep pengajaran yang
diajukan oleh Steven R. Covey ini, metode penerapannya bisa lebih mudah untuk dipahami dan bersifat sistematis.

Saya sendiri sudah menerapkan pada kedua anak saya Aisyah 'Aqyla (4) dan Abdurrahman Ahmad Al Faqih (3). Alhamdulillah mereka mudah
diarahkan, tidak ngeyel, dan selalu bisa menerima penjelasan yang saya berikan mengenai permintaan-permintaannya, misalnya membatasi jajan.
Hal yang paling penting adalah menjelaskan sesuatu kepada mereka dengan penuh kelembutan, menjelaskan kepada mereka mengapa harus
begini mengapa harus begitu.

Dengan adanya konsep di atas, orang tua dapat lebih mudah menjelaskan skala prioritas suatu kegiatan kepada anak-anak mereka semenjak usia
dini, sehingga mereka sudah terlatih semenjak kecil, yang akan sangat bermanfaat bagi mereka di kemudian hari.

Contoh sederhana, konsep ini dapat diterapkan kepada anak-anak pelajar mengenai internet sehat. Kapan waktu yang baik untuk online,
menunjukkan dan menjelaskan kepada mereka website-website yang mungkin penting mendesak untuk tugas-tugas mereka, website yang penting
tidak mendesak, dan seterusnya. Sehingga mereka terlatih untuk menentukan skala prioritas dalam mengunjungi website dan mengetahui teknik-
teknik yang efektif dan efisien pada saat surfing di lautan dunia maya.