Anda di halaman 1dari 3

1.

Pengaruh hormon terhadap sekresi saliva


JAWABAN :

Sekresi kelenjar saliva dikontrol oleh saraf simpatis dan parasimpatis. Saraf simpatis
menginervasi kelenjar parotis, submandibularis. Saraf parasimpatis selain menginervasi
ketiga kelenjar di atas juga menginervasi kelenjar saliva minor yang berada di palatum. Saraf
parasimpatis bertanggung jawab pada sekresi saliva yaitu volume saliva yang dihasilkan oleh
sel sekretori
Kortisol berikatan dengan Glukokortikoid Reseptor (GR) yang didistribusikan secara luas
dalam otak, termasuk prefrontal cortex dan dengan afinitas yang tinggi terhadap
Mineralocorticoid Reseptor yang terdapat dalam jumlah banyak di limbic area. Kortisol juga
dapat mempengaruhi beberapa sistem neurotransmitter catecholaminergic seperti
adrenergic, dopaminergic, serotonergik
Kortisol akan mempengaruhi sistem saraf simpatis melalui reseptor α dan β adrenergic
sehingga menyebabkan peningkatan sekresi saliva yang berujung pada peningkatan volume
saliva

2. Pemeriksaan kelainan pada saliva ?


JAWABAN :

Pertama melakukan anamnesis dan mencatat riwayat pasien. (Sari E. 2010)


Kedua melakukan pemeriksaan terhadap pasien dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan
yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik dengan tujuan melihat tanda-tanda yang terdapat
pada pasien, yaitu pemeriksaan keadaan umum mencakup pengukuran temperatur dan
pengukuran tekanan darah, pemeriksaan ekstra oral mencakup pemeriksaan kelenjar limfe,
pemeriksaan keadaan abnormal dengan memperhatikan konsistensi, warna, dan jenis
keadaan abnormal, kemudian pemeriksaan intra oral yaitu secara visual melihat
pembengkakan pada rongga mulut yang dikeluhkan pasien dan melakukan palpasi pada
massa tersebut. Diperhatikan apakah ada perubahan warna pada saat dilakukan palpasi
pada massa. Ditanyakan kepada pasien apakah ada rasa sakit pada saat dilakukan palpasi
dan apakah muncul pus saat dipalpasi. (Sari E. 2010)
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan radiografi. Pemeriksaan laboratorium sangat membantu dalam menegakkan
diagnosa. Seperti cairan diambil secara aspirasi dan jaringan diambil secara biopsi, kemudian
dievaluasi secara mikroskopis untuk mengetahui kelainan-kelainan jaringan yang terlibat.
Kemudian dapat dilakukan pemeriksaan radiografi, meliputi pemeriksaan secara MRI
(Magnetic Resonance Imaging), CT Scan (Computed Tomography Scan), ultrasonografi, dan
juga sialografi. (Sari E. 2010)

- Sialografi
merupakan pemeriksaan untuk melihat kondisi duktus dengan menggunakan kontras.
Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengidentifikasi adanya iregularitas pada dinding duktus,
identifikasi adanya polip, mucous plug atau fibrin, serta area granulomatosa. Selain itu dapat
pula diidentifikasi adanya kemungkinan obstruksi duktus maupun stenosis.
Teknik :
- Pasien tidur supine Pasien diberi pastiles untuk merangsang air liur keluar
- Melalui keluarnya air liur dimasukkan jarum sialo dan dihubungkan dengan kateter dan
diplester ke kulit
- Ujung kateter dihubungkan dgn spuit yang berisi kontras
- Kontras disuntikkan dan difoto
- Setelah selesai pemotretan pasien diberi minum asam supaya semua kontras terangsang
keluar

- Computed Tomography

3. Perbedaan sialolithiasis, sialodenitis dan pemeriksaan penunjangnya


JAWABAN :

- Sialolithiasis
Sialoliths (juga disebut saliva batu) merupakan kalsifikasi masa organik yang terbentuk
didalam sistem sekretorik dari kelenjar saliva utama.
Sialolithiasis : terdapatnya satu atau lebih struktur terklasifikasi (batu saliva) di saluran
kelenjar saliva besar atau kecil.
Batu saliva terjadi paling umum pada kelenjar submandibula (80% -90%), diikuti oleh
kelenjar parotid (5% -15%) dan kelenjar sublingual (2% -5%) dan sangat jarang terjadi pada
kelenjar ludah minor.

Manifestasi klinis
Gejala utama karakteristik obstruksi duct adalah rasa sakit dan pembengkakan sementara
dari masing-masing kelenjar saliva saat makan. Gejala-gejala ini adalah hasil dari
peningkatan produksi saliva selama pengunyahan, yang cukup dimengerti, karena obstruksi
duktus tidak disekresikan ke dalam rongga mulut.
Pemeriksaan penunjang : Sialografi

- Sialodenitis
Merupakan infeksi bakteri yang berkembang pada kelenjar saliva. Kondisi ini terjadi ketika
aliran saliva rendah atau tersumbat, sehingga bakteri dengan mudah memulai pertumbuhan
pada kelenjar saliva.

Manifestasi klinis :
Rasa sakit saat mengunyah, Terdapat pus ketika di palpasi, Terdapat pembengkakan
pada pipi atau dagu, Demam

Pemeriksaan penunjang : FNAB

4. Konsep ibadah ketika sakit ?


JAWABAN :

- Dasar hukum tentang wudhu (Al Maidah : 6)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh)
kakimu sampai dengan kedua mata kaki...”

- Rukun wudhu
1. Niat berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil
2. Membasuh muka
3. Membasuh kedua tangan
4. Mengusap kepala
5. Membasuh kaki
6. Tertib

- Sunah wudhu
1. Membaca basmalah pada awal mengerjakan amalan wudhu.
2. Mencuci kedua telapak tangan
3. Berkumur-kumur (madmadah)
4. Memasukkan ari ke lubang hidung (istinsyaq)
5. Menyapu kedua telinga
6. Menggosok janggut
7. Mendahulukan yang kanan daripada yang kiri