Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

DENGAN DIAGNOSA MEDIS HERNIA INGUINALISDI RUANG KAHURIPAN

RSUD Prof. Dr. SOEKANDAR KABUPATEN MOJOKERTO

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH


(KMB)

PROFESI NERS

DISUSUN OLEH :

1. AHMAD WAHYU CANDRA SUSENO


2. FITRIANA KHUSNUL.K
3. SUSILAWATI
4. ISAKH LETUNA

PROGRAM STUDI PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI

ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG

2018

0
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hernia merupakan permasalahan yang bisa ditemukan dalam kasus bedah. Kasus

kegawatdaruratan dapat terjadi apabila hernia inguinalis bersifat strangulasi

(ireponibel disertai gangguan pasase) dan inkarserasi (ireponibel disertai gangguan

vascularisasi). Inkarserasi merupakan penyebab obstruksi usus nomor satu dan

tindakan operasi darurat nomor dua setelah apendicitis akut di Indonesia

(Sjamsuhidajat, 2016).
Angka kejadian hernia inguinalis (medialis/direk dan lateralis/indirek) 10 kali

lebih banyak daripada hernia femoralis dan keduanya mempunyai persentase sekitar

75-80 % dari seluruh jenis hernia, hernia insisional 10 %, hernia ventralis 10 %,

hernia umbilikalis 3 %, dan hernia lainnya sekitar 3 % , Secara umum, kejadian

hernia inguinalis lebih banyak diderita oleh laki-laki dari pada perempuan. Angka

perbandingan kejadian hernia inguinalis 13,9 % pada laki-laki dan 2,1 % pada

perempuan (Sjamsuhidajat, 2016).


Tindakan yang paling memungkinkan untuk terapi hernia inguinalis adalah

tindakan pembedahan. Setiap tahun diperkirakan terdapat 20 juta kasus prosedur

bedah mengenai hernia inguinalis. Insiden dan prevalensi di seluruh dunia tidak

diketahui pasti. Tingkat prosedur operasi dalam berbagai negara memiliki tingkat

yang bervariasi, berkisar antara 100 hingga 300 prosedur per 100.000 orang dalam

satu tahun (Burney, 2015).

Menurut World Health Organization (WHO), penderita hernia tiap tahunnya

meningkat. Didapatkan data pada decade tahun 2010 sampai tahun 2015

1
penderita hernia segala jenis mencapai 19.173.279 penderita (12.7%) dengan

penyebaran yang paling banyak adalah daerah Negara-negara berkembang

seperti Negara-negara Afrika, Asia tenggara termasuk Indonesia, selain itu Negara

Uni emirat arab adalah Negara dengan jumlah penderita hernia terbesar di

dunia sekitar 3.950 penderita pada tahun 2016 (World Health Organization, 2016)
Bank data Kementerian Kesehatan Indonesia menyatakan bahwa berdasarkan

distribusi kasus penyakit sistem cerna pasien rawat inap menurut golongan sebab

sakit Indonesia pada tahun 2004, hernia menempati urutan ke-8 dengan jumlah

kasus sebesar 18.145 kasus, dan 273 diantaranya meninggal dunia. Hernia

inguinalis dilaporkan sebagai penyebab obstruksi usus nomer satu terbesar di

Indonesia dan paling sering di temukan dalam kasus bedah. Beberapa kasus hernia

inguinalis seringkali dapat didorong kembali kedalam rongga perut namun jika

tidak dapat didorong kembali penyakit ini dapat menjadi kasus yang serius seperti

inkaserasi (usus terperangkap dalam kanalis inguinalis ) dan strangulasi (aliran

darah terputus). Inkaserasi merupakan penyebab obstruksi usus nomer satu dan

urutan kedua dalam tindakan operasi gawat darurat setelah appendicitis akut di

Indonesia (Sjamsuhidajat, 2016)


Meskipun hernia inguinalis dapat terjadi pada semua jenis kelamin namun angka

kejadian penyakit ini lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan 9:1. Secara

umum hernia inguinalis mempengaruhi segala usia, insidensi dapat meningkat

dengan bertambahnya usia yaitu pada rentang 25-40 tahun 5-8%, diatas 75 tahun

45%. Pada anak, insidensinya berkisar 1-2%, dengan 10% dari keseluruhan kasus

mengalami komplikasi inkarserasi. 30% kasus terjadi pada usia sekitar satu tahun

dikarnakan belum tertutupnya processus vaginalis (Sjamsuhidajat, 2016).


Hasil survey dan pengambilan data di RSUD Prof.Dr.SOEKANDAR

2
Selama 1 bulan terakhir

3
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari khasus di atas adalah untuk mengetahui:
1.2.1. Apa Definisi Hernia Inguinalis?
1.2.2. Apa Etiologi Hernia Inguinalis?
1.2.3. Bagaimana Patofisiologi dan Phatway Hernia Inguinalis?
1.2.4. Apa Manifestasi klinis hernia inguinalis?
1.2.5. Bagaimana Penatalaksanaan Hernia Inguinalis di rumah
1.2.6. Apa saja Pemeriksaan Diagnostic Hernia Inguinalis?
1.2.7. Apa saja Komplikasi Hernia Inguinalis?
1.2.8. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien Hernia Inguinalis?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran dan mendapatkan pengalamanan nyata dan

menerapkan asuhan keperawatan yang tepat dengan diagnosa hernia

inguinalis
1.3.2 Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu untuk memahami pengertian, etiologi, Patofisiologi dan

phatway hernia, Manifestasi klinis, Penatalaksanaan, Pemeriksaan diagnostic,

Komplikasi dan Asuhan keperwatan pada klien dengan diagnosa Hernia

Inguinalis.

4
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
Sebagai bahan masukan dan referensi sebagai proses belajar tentang

asuhan keperawatan pada pasien dengan hernia inguinalis


1.4.2 Manfaat Praktis
a Bagi penulis
Penulis dapat lebih mendalami materi dan menambah pengetahuan

tentang gangguan system tubuh hernia inguinalis.


b Pasien dan Keluarga
Bagi pasien dapat bermanfaat untuk mengetahui proses penyakit dan

kemudian mengetahui cara mempercepat pemulihan keadaan pasien.


c Bagi keluarga dapat menambah pengetahuan tentang bagaimana

melakukan perawatan dengan hernia inguinalis


d Institusi Pendidikan
Menambah bahan referensi bacaan tentang asuhan keperawatan pada

pasien dengan hernia inguinalis


e Rumah sakit
Sebagai bahan bacaan dan ilmu pengetahuan dalam menerapkan asuhan

keperawatan pada pasien hernia inguinalis

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Hernia Inguinalis

Hernia inguinalis hernia yang melalui anulus inguinalis internus atau lateralis
menyelusuri kanlis inguinalis dan kluar rongga perut melalui anulus inguinalis
(kapita seketa kedokteran edisi 3 marlynn e donges 2015).

5
Hernia adalah suatu isi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (Syamsuhidayat, 2016).

Dari kedua pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hernia adalah
penonjolan isi rongga perut yang keluar melalui bagian yang lemah dari dinding
rongga yang bersangkutan dan dapat terjadi melalui askep congenital maupun
karena adanya factor yang didapat.

2.2 Etilogi Hernia Inguinalis


Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomaly congenital atau karena sebab

yang didapat, ada 3 mekanisme yang dapat mencegah hernia inguinalis yaitu

kanalis, inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur mukulus oblikus interus

abnominus yang menutup annulus inguinalis internus. Ketika berkontraksi dan

adanya transiaversal yang kuat yang menutupi trigonum haselback yang umurnya

hampir tidak berotot, gangguan mekanisme ini dapat menyebabkan terjadinya

hernia.

2.3 Anatomi dan fisiologi Tubuh Penyakit Hernia inguinalis

6
Gambar 1. Anatomi system percernaan

7
Gambar 2. Anatomi Usus

a. Usus halus ( Intestinum Minor)

Adalah sebagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pylorus dan

berakhir pada seikum, panjangnya kurang lebih 6 meter. Lapisan usus halus terdiri

dari: Lapisa mukosa ( sebelah dalam), lapisan otot memanjang (m. Longitudinal) dan

lapisan serosa sebelah luar). Intestinum minor terdiri dari :

1. Duodenum ( usus 12 jari )

Panjang ±25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiru. Pada lengkungan ini

terdapat pankreas. Dan bagian kanan duodenum ini terdapat selaput lendir yang

membuktikan disebut papila vateri. Pada papila veteri ini bermuara saluran

empedu (duktus koledukus ) dan saluran pankreas ( duktus pankreatikus ).

8
2. Yeyenum dan ileum
Mempunyai panjang sekitar ± 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yeyenum

dengan panjang ± 2-3 meter dan ileum dengan panjang ± 4-5 meter. Lekukan

yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan pelantraan

lipatan peritoneum yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium.


Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan

vena mesentrika superior, pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan

peritoneum yang membentuk mesenterium. Sambungan antar yeyenum dan ileum

tidak mempunyai batas yang tegas. Ujung bawah ileum berhubungan dengan

seikum dengan pelantara lubang yang bernama orifisium ileoseikalis, orifisium ini

diperkuat dengan sfingter ileoseikalis dan pada bagian ini terdapat katup valvula

seikalis atau valvula baukini.


3. Mukosa usus halus
Permukaan epitel yang sangat luas, melalui lipatan mukosa dan mikrovili

memudahkan pencernaan dan absorbs. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan sub

mukosa yang dapat memperbesar permukaan usus.


b. Intestinium mayor (Usus Besar)
Panjang ± 1,5 meter lebarnya 5-6 cm. Lapisan-lapisan usus besar dari dalam keluar:

selaput lender, lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang, dan jaringan ikat.

Lapisan usu besar terdiri dari:


1. Seikum
Dibawah seikum terdapat appendiks vermiformis yang berbentuk seperti cacing

sehingga disebut juga umbai cacing, panjang 6cm.


2. Kolon asendens
Panjang 13cm terletak dibawah abdomen sebelah kanan membujur ke atas dari

ileum ke bawah hati. Di bawah hati membengkak ke kiri, lengkungan ini disebut

fleksura hepatica, dilanjutkan sebagai kolon transversum.


3. Appendiks (usus buntu)

9
Bagian dari usus besar yang muncul seberti corong dari akhir seikum. Mempunyai

pintu keluar yang sempit tapi masih memungkinkan masih dapat dilewati oleh

beberapa isi usus. Appendiks tergantung menyilang pada linea terminalis

termasuk ke dalam rongga pelvis minor terletak horizontal dibelakang seikum.


4. Kolon transversum
Panjang sekitar ± 38 cm, membujur dari kolon asendens sampai ke kolon

desendens beradadi bawah abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura hepatica dan

sebelah kiri terdapat fleksura linealis.


5. Kolon desendens
Panjang ± 25 cm, terletak dibawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke

bawah dari fleksura linealis sampai ke depan ileum kiri bersambung dengan kolon

sigmoid.
6. Kolon sigmoid
Merupakan lanjutan kolon desendens terletak miring dalam rongga pelvis sebelah

kiri, bentukmenyerupai huruf S. Ujung bawahnya behubungan dengan rectum.

10
c. Fisiologi
1. Usus Halus
Fungsi usus halus adalah mengangkut kimus dari lambung ke usus besar,

menyelesaikan pencernaan dengan enzim yang berasal dari dinding dan kelenjar

lain,menyerap hasil akhir pencernaan kedalam darah dan limfe, dan mengerahkan

hormon tertentu. Agar dapat melaksanakan semua itu, usus halus harus

mempeluas permukaan mukosanya, antara lain dengan plica sirkularis kerckring,

vitus dan kriptus mikrovili. Bahkan makanan yang ada didalam lumen usus halus

mendapat tambahan sekret dari banyak kelenjar . yaitu kelejar intestinal atau

kriptus, lieberkuhn, kelenjar submokosa dari duodenum. Kelenjar yang letaknya

di luar saluran cerna, tetapi menyalurkan sekretnya ke dalam lumen duodenum,

yaitu hati ( hepar) dan pankreas. Lambung melepaskan makanan ke dalam usus

dua belas jari (duodenum) yang merupakan bagian pertama dari usus halus.

Makanan masuk ke dalam duodenum melalui springter pylorus dalam jumlah

yang bisa di cerna oleh usus. halus. Jika penuh duodenum akan mengirimkan

sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan.


Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkat zat-zat yang

diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir( yang

melumasi isi usus) dan air ( yang membantu melarutkan pencahan-pencahan

makanan yang di cerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim

yang mencerna protein, gula dan lemak.

11
2. Usus besar
Salah satu fungsi usus besar adalah mengabsorbsi cairan. Fungsi lain adalah

mensekresi mucus ( lendir) yang berfungsi sebagai pelumas. Pelumas ini menjadi

lebih penting karena cairan di absorbsi dan feses menjadi lebih keras sehingga

kemungkinan merusak mukosa menjadi lebih besar.


Banyak bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi membuat zat-zat

penting seperti vitamin k, bakteri ini penting untuk fungsional dari usus. Beberapa

penyakit serta antibiotic bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri di

dalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya

lendir dan air dan terjadi diare. Beberapa sifat khas otot polos pada usus adalah

sebagai berikut:
a. Sensitium fungsional, yang berarti bahwa potensial aksi yang berasal dari salah

satu serabut otot polos umumnya di hantarkan dari serabut ke serabut.


b. Kontraksi otot intestinalis, otot polos saluran pencernaan menunjukkan

kontraksi tonik dan kontraksi ritmik, kontraksi tonik bersifat kontinue.

Springter pylorus, ileosekalis dan analis semuanya membantu pergerakan

makanan dalam usus. Kontraksi ritmik bertanggung jawab akan fungsi fasik

saluran pencernaan , seperti percampuran makanan atau dorongan peristaltik

makanan. Pleksus mieterikus terutama mengatur gerakan gastrointestinalis

sedangkan pleksus submukosa penting dalam mengatur sekresi dan juga

melakukan melakukan banyak fungsi serosis, yang menerima isyarat terutama

dari epitel usus dari reseptor regangan dalam dinding usus.

2.4 Klasifikasi Hernia inguinalis


 Menurut lokalisasi atau fotografinya :hernia inguinalis (medialis dan

lateralis ).hernia umbilikalis femoral dan sebaginya.

12
 Menurut isinya : hernia usus halus, hernia omentum dan sebagainya.
 Menurut terlihat atau tidaknya bila terlihat disebut hernia eksterna misalnya

hernia ingunalis, hernia sekrotalis dan sebaginya. Sedang bila tidak terlihat dari

luar disebut hernia interna, contohnya hernia diapramatika, hernia foramen

winslowi, hernia obturatoria dan sebagainya.


 Hernia menurut kausanya : hernia traumatika, hernia insisional dan sebaginya
 Menurut keadaan : hernia reponibilis, hernia ireponibilis, hernia inkasarata

hernia strangulata.
 Disebut reponibilis : bila isi hernia dapat dimasukan kembali maka disebut

hernia ireponibilis.
 Bila selain tidak dapat masuk terdapat juga gangguan jalaannya isi usus, maka

dinamakan hernia ingkarserata. Bila selain ikarserasi terdapat gangguan sirkulasi

darah, maka keadaan itu disebut hernia strangulata.


2.5 Manifestasi Klinis
Pada umunya penderita mengalami penonjolan didaerah inguinalnya dan

mengatakan adanya benjolan diselangkangan atau kemaluan benjolan itu bisa

mengecil atau menghilang dan muncul lagi bila menangis, mengejan pada waktu

difikasi atau miksi, mengangkat benda berat dapat pula ditemukan rasa nyeri pada

benjolan atau gejala mual dan muntah ada komplikasi

2.6 Patway

Aktifitas berat

Adanya tekanan

Prosesus tidak mengalami obliterasi atau (tetap terbuka)

Hernia inguinalis

13
Kantung hernia memasuki celah inguinal

Dinding posterior kanalis inguinal yang lemah

Pembesaran skrotum

Pembedahan

Insisi bedah Mual muntah


Perisaltik usus
menurun

Terputusnya
jaringan syaraf
Gangguan rasa
nyaman
kembung
Nyeri
(NANDA.2014. panduan diangnosa keperwatan
definisi dan klasifikasi Jakarta : prima medika)

Kerusakan
spasma otot

Gangguan
mobilitas

14
2.7 Komplikasi
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami isi hernia. Isi

hernia dapat tertahan dalam kantong hernia pada hernia ireponible ini dapat terjadi

jika isi hernia terlalu besar, misalnya terdiri dari omentum, organ ekstraperitoneal

atau merupakan hernia akreta. Di sini tidak dapat timbul gejala klinis kecuali

berupa benjolan. Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga

terjadi hernia strangulata yang menimbiulkan gejala obstruksi usus yang sederhana.

Sumbatan yang terjadi total atau pasrisal seperti pada hernia RICHER. Bila cincicn

hernia sempit, kurang elastis, atau lebih kaku seperti pada hernia femoralis dan

hernia obturatoria, lebih sering terjadi jepitan parsial. Jarang terjadi inkaserasi

retrograd, yaitu dua segmen usus terperangkap di dalam kantong hernia dan satu

segmen lainnya berdada dalam rongga peritoneum.


Jepitan cincicn hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi

hernia. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udema organ atau

struktur di dalam hernia dan transudasi ke dalam kantong hernia makin bertambah

sehingga akhirnya peredarah darah jaringan terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis

dan kantong hernia akan berisi transudat beruapa cairan serosanguinis. Kalau isis

hernia terdiri atas usus, dapat terjadi perforasi yang akhirnya dapat menimbulkan

abses lokal, fistel atau peritonitis jika terjadi hubungn dengan rongga perut.
Komplikasi yang paling sering terjadi adalah strangulasi dengan segala

akibatnya. Hernia femoralis keluar di sebelah bawah ligamnetum inguinale pada

fossa ovalis. Kadang-kadang hernia femoralis tidak teraba dari luar, terutama biala

merupakan hernia Ritcher.


2.8 Pemeriksaan Penunjang

1. Hematologi rutin:

15
 Bila ada leukositosis, bisa jadi akibat strangulasi,
 Tidak spesifik.

2. Elektrolit, BUN, dan kreatinin:

 Mengetahui status hidrasi pasien dengan mual dan muntah (hernia

diafragma),
 Merupakan prosedur preoperatif.

3. Urinalisis:

 Diagnosis banding dengan sebab genitourinaria yang menyebabkan

rasa sakit di daerah inguinal,


 Eritrosit (0-4/LPB) pada urin pasien ini merupakan akibat dari

hipertrofi prostat jinak.

4. Laktat:

 Peningkatan laktat dapat mencerminkan hipoperfusi ginjal atau

hipoksia,
 Kadar yang normal belum tentu menyingkirkan kemungkinan

strangulasi.

5. USG abdomen pada regio inguinalis dextra dan sinistra:

 Membedakan masa di paha atau dinding perut dan sumber

pembengkakannya,
 Membedakan jenis-jenis hernia,
 Untuk hernia incarcerata dan strangulata perlu dilakukan foto toraks

untuk melihat adanya udara bebas di bawah diafragma akibat

perforasi.

6. Transrectal Ultrasonography (TRUS):

 Hasil: pembesaran prostat 90 cc,


 Tanpa urin residual (belum ada faktor penyulit).

16
a) Keadaan umum penderita biasanya baik . bila benjolan tidak tampak maka

penderita disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan berdiri. Bila

ada hernia maka akan tampak benjolan. Bila benjolan itu dapat dimasukan

kembali, maka diagnostic pasti hernia dapat ditegakan bila terdengar bising usus

pada benjolan tersebut.


b) Keadaan cincin hernia perlu pulak diperiksa. Caranya adalah dengan mengikuti

fasikulus spermatikus sampe keanulus inguinalis interna. Pada keadaan normal,

maka jari tangn tidak akan masuk, maka penderita disuruh mengenjan dan

rasakan apakah ada massa yang menekan .


Bila masa itu menekan ujung jari maka itu adalah hernia inguinalis tateralis. Sedang

bila menekan sisi jari, maka diagnosanya adalah hernia inguinalis medialis
2.9 Penatalaksaan
a) Pada hernia inguinalis lateralis responibilis maka dilakukan tindakan bedah

elektif, karena ditakutkian terjadi komlikasi .


b) Pada yang irenponibilis, maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukan

kembali. Penderita istirahat baring dan dipuaskan atau mendapat diet halus.

Dilakukan tekanan yang kontinyu pada benjolan misalnya dengan bantal pasir.

Baik juga dilakukan kompres untuk mengurangi pembengkakan. Lakukan

usaha ini berulang kali sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan

bedah efektif dikemudian hari atau menjadi ikar serasi. Pada ikar serasi dan

strangulasi maka perlu dilakukan bedah darurat


c) Tindakan bedah pada hernia ini disebut herniatomi ( memotong hernia ) dan

hernior ( menjahit kantong hernior ).


d) Pada bedah efektif, maka kanalis dibuka isi hernia dimasukan, kantong diikat

dan dilakukan ‘basini plasti’ untuk memperkuat dinding belakang kanalis

inguinalis .

17
e) Pada bedah darurat. Maka prinsipnya seperti beda efectif cincin hernia

langsung dicari dipotong . usus dilihat apakah vital atau tidak . bila

dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseseksis anatomosis

end to end.
f) Untuk fasilitas dan keahlian terbatas, setelah cin-cin hernia dipotong dan usus

dinyatakan vital lansung tutup kulit dan dirujuk kerumah sakit yang lebih

lengkap .
2.10 Asuhan Keperawatan
A. PENGKAJIAN
a) Sesudah operasi: terdapat luka pada bagian abdomen bawah pusaran sebelah

kanan inguinal.
b) Data Laboratorium
Darah leukosit >10.000-18.000 / mm3 serum elektrolit meningkat.
Data pemeriksaan diagnostic: X Ray

18
Fotensial komplikasi :
 Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan dinding kantung hernia.
 Terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat semakin banyaknya usus

hernia yang naik .


 Timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang menekan pembulu darah

dan kemudian timbul nekrosis.


 Bila terjadi penyumbatan dan pendarahan akan timbul perut kembung

muntah dan okstipasi.


 Bila isi perut terjepit akan terjadi shock, demam asidosis metabolik dan

akses .
1. Pernafasaan (B1: Breath )
Pernafasan perlahan spontan terjadi penyumbatan jalan nafas dengan

secret atau lendir.


2. Kardiovaskular (B2 : Blood)
Peningkatan tekanan darah dan denyut nadi bisa terjadi karena proses

pembedahan (nyeri). Observasi vital sing setiap 15 menit diruang

pemulihan .
3. Persarafan (B3: Brain )
Pada paska operasi pasien perlahan disadarkan oleh petugas anastesi

sehingga sadar penuh. Pada mulanya timbul demam ringan, yang

semakin lama cenderung meninggi.


4. Perkemihan atau eliminasi (B4: Bladder)
Buang air kecil tidak ada masalah
5. Pencernaan –eliminasi alvi (B5:Bowel).
Biasanya terjadi mual muntah
6. Tulang –otot-integumen ( B6:Bone)
Kekuatan oton perlahan akan kembali normal.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWTAN
1. Nyeri berhubungan dengan luka insisi pasca operasi dan trauma jaringan.
Kriteria hasil yang diharapkan : nyeri hilang, klien mampu mengontrol

nyeri.
 Intervensi
a) Observasi non verbal dari ktidaknyamanan
b) Gunakan teknik komunikasi teraputik
c) Berikan posisi nyaman
d) Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam

19
e) Kolaborasi dengan ahlimedis dalam pemberian analgesic .
 Rasional
a) Untuk mengetahui skala nyeri sehingga intervensi lebih cepat
b) Agar klien merasa nyaman dan tidak memperburuk suasana hati
c) Untuk mengurangi factor pencetus rasa nyeri
d) Tehnik relaksasi nafas dalam dapat dapat merilekskan otot-otot

sehingga mengurangi rasa nyeri.


e) Analgesic membantu meredakan sensasi nyeri pada pasien.

20
2. Resiko infeksi prosedurinfasif kateter dan trauma jaringan .
Kriteria hasil yang diharapkan : pasien mencapai waktu penyembuhan dan

tidak mengalami infeksi .


 Intervensi
a) Kolaborasi dengan anastesi : awasi tanda vital
b) Observasi dan drainase luka
c) Pantau suhu tubuh dan prekuensi nadi, perubahan jenis atau

peningkatan area kemerahan dan nyeri tekan disekitar tempat operasi


d) Kolaborasikan dengan tim medis dalam pemberian antibiotic
e) Kaji ulang identitas dan pemeriksaaan diagnostic
f) Siapkan sarana scrub
g) Periksa adanya perubahan dalam status mental dan sensori
h) Lakukan menejemen asepsis prabedah
i) Lakukan menejemen asepsis intra operasi
j) Jaga keseterilan obat yang digunakan untuk operasi.
k) Lakukan penutupan luka pembedahan
l) Kolaborasi dengan ahli timmedis
 Rasional
a) Perawat ruang operasi memeriksa kembali riwayat kesehatan, hasil

pemeriksaan
b) Riwayat kesehatan yang mempunyai resiko penurunan imunitas
c) Hasil pemeriksaan darah albumin untuk menentukan aktifitas agen

obat dan pertumbuhan jaringan luka


d) Sarana secrub meliputi cairan antiseptic, cuci tangan pada tempatnya,

gaun yang terdiri dari gaun kedap air dan baju bedah steril , duk

tertutup dalam kondisi lengkap dan siap pakai


e) Menejemen instrument dari perawat secrub sebelum pembedahan

disesuaikan dengan jenis pembedahan. Sebagai antisipasi jika

diperlukan instrument tambahan, perawat mmempersiapakan alat

cadangan dalam suatu tromol steril yang akan memudahkan

pengambilan apabila diperlukan apabila diperlukan tamabahan alat

isntrumen.

21
f) Menejemn asepsis selalu berhubungan dengan pembedahan dan

perawatan periperatif. Asepsis prabedah meliputi tehnik aseptic /

plaksanaan scrubing cuci tangan.


g) 1. Menejemen asepsis dilakukan untuk menghindari kontak dengan

zona steril , pemakain sarung tangan , persiapan kulit, pemasangan

duk , penyerahan alat yang diperlukan petugas secrub dengan perwat

sirkulasi.
h) Keseterilan alat untuk operasi dilakukan dengan pengecekan indicator

steril dan tanggal pensterilan alat serta menjaga alat –alat untuk

operasi supaya tidak terkontaminasi.


i) Penutupan luka bertujuan untuk menurunkan resiko infeksi. Perawat

biasanya memasang supratul, menutup dengan kasa steril dan difikasi

dengan herpafik .
j) Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat

antibiotik dan tata cara perawatan luka paska operasi.


3. Hipotermi berhubungan dengan pasca anastesi terpajan lingkungan dingin,

dan penggunaan pakaian yang tidak mencukupi .


Kriteria hasil yang diharapakan : menujukan termolegurasi , klien tidak

menggigil .
 Intervensi
a) Kaji dan monitor tanda-tanda vital klien
b) Berikan pakain dan selimut yang hangat, tebal
c) Selimuti bagian tubuh yang terbuka (ujung peripheral).
d) Bila perlu turunkan suhu ruangan
e) Bila perlu hangatkan cairan intravena / darah transfuse terlebih

dahulu.
f) Kolaborasi dengan tim medis dengan hipotermia berat dengan tehnik

menhangatkan suhu inti tubuh


 Rasional
a) Untuk mengetahui tingkat hipotermi sehingga intervensi lebih tepat .
b) Untuk mengurangi klien kehilangan panas tubuh

22
c) Terpapar suhu ruangan yang dingin dapat menambah factor penuruna

suhu tubuh
d) Cairan dingin yang dapat masuk kedalam intravena juga dapat

membantu menurunkan suhu tubuh .


e) Tehnik diberikan seperti pemberian obat-obatan yang dapat

mempengaruhi termoregulasi , ataupun dengan tehnik kompres

hangat.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Beherman, DKK 2009. Ilmu kesehatan medical bedah edisi volume 2.

jakarta:EGC
2. Sjamsuhidajat, 2016. Asuhan keperawatan pada penyakit hernia. Disitasi

dari http//www.mediakeperawatan.com/?id=budixtbn.
3. NANDA.2014. panduan diangnosa keperwatan definisi dan klasifikasi

Jakarta : prima medika


4. Burney, 2015. pedoman klinis keperwatan pediatric. Jakrta:EGC
5. World Health Organization, 2016

24
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

IDENTITAS KLIEN

Nama Klien : Tn. W No.Reg : 342577


Umur : 02/02/1941(77TH)
J. Kelamin :Laki–laki Tgl MRS : 13/02/2018 / 10.00 WIB

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Diagnosa : Post op hemectomi Hernia


Agama : Islam
Pekerjaan : Petani Inguinalis
Pendidikan : SD
Tgl/Jam Pengkajian: 14/02/2018 / 16.00 WIB
Alamat : Mojokerto

3.1. RIWAYAT KEPERAWATAN


1. Keluhan Utama : Nyeri pada luka post operasi
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pada tanggal 13/02/2018 pasien datang ke poli bedah umum dengan keluhan nyeri
pada benjolan di lipatan paha pada waktu setelah kencing sejak 3 bulan yang lalu.
Lalu pasien dipindahkan di ruang kahuripan untuk dilakukan observasi sebelum
dilakukan tindakan operasi. Pada tanggal 14/02/2018 pukul 08.00 WIB pasien
dikirim ke ruang IBS untuk dilakukannya operasi, pada saat pengkajian klien
mengatakan nyeri pada luka operasi di daerah perut sebelah kanan seperti tersayat,
nyerinya hilang timbul, nyeri terus menerus saat beraktifitas.
P : Post Op hernia inguinalis
Q : Tersayat
R : Abdomen kuadran 3 region inguinalis
S:6
T : Terus menerus saat beraktifitas

25
3. Riwayat penyakit dahulu:
Pasien mengatakan pernah menderita hipertensi dan penyakit jantung dan sudah
control rutin di poli jantung.
4. Riwayat kesehatan keluarga:
Klien mengatakan keluarganya tidak ada yang mengalami penyakit seperti
yang klien alami
5. Riwayat Perkawinan :
Klien sudah menikah dan mempunyai 6 anak.
6. Genogram

Keterangan:

= Laki- laki

= Pasien

= Perempuan

= Garis Keturunan

= Meninggal = Tinggal dengan pasien

7. Riwayat sebelum sakit:


Pasien mengatakan sebelum sakit terkadang sakit perut
8. Penyakit berat yang pernah di derita:

26
Penyakit jantung koroner
9. Obat-Obat yang pernah dikonsumsi:
Valsatran dan nitrocaf
10. Kebiasaan Berobat:
Kontrol rutin di poli jantung tanggal 23 januari 2018(Valsatran 1x80mg dan
nitrocaf 1x5mg) dan 5 februari 2018
11. Alergi:
Tidak mempunyai riwayat alergi makanan, obat-obatan, atau plester coklat
Kebiasaan merokok/alcohol : Mengkonsumsi rokok
3.2. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum Pasien Post Op:
K/U : Baik, GCS: 4,5,6 Kesadaran: Compos Mentis
Tanda-Tanda Vital:
TD: 162/77 mmHg N: 84 xpm S: 36˚C RR: 20 xpm
TB: 162 cm BB: 50 Kg
1 Pernafasan ( B1 : Breathing)
Hidung : Simetris, tidak ada polip, tidak ada sekret
Trachea : Simetris, tidak ada hipertiroid
Suara napas : vesikuler, tidak ada suara tambahan
Perkusi : Sonor
Bentuk dada : tidak ada penggunaan otot nafas
Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah
2 Cardiovaskuler (B2: Bleeding)
Tidak ada nyeri dada
Suara jantung:
Inspeksi : bentuk dada normal, tidak ada bekas luka
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Perkusi : Pekak
Auskultasi : S1/S2 Tunggal (lup dub)
Ictus Cordis : Tidak tampak
CRT : ≤ 2 detik
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah
3 Persyarafan (B3: Brain)
Keasadaran : Compos mentis
GCS : E : 4 V: 5 M: 6 Nilai Total: 15
Kepala dan wajah
Kepala : Rambut tampak bersih,warna hitam dan putih
Wajah : Simetris, tidak ada luka
Sklera : Putih
Conjungctiva : Merah Muda
Pupil : Isokor
Leher : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Reflek: Ketika di beri rangsangan klien dapat melokalisir nyeri
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah Keperawatan
4 Perkemihan-Eliminasi Urin (B4: Bladder)

27
Produksi urine : ± 500 ml/10 jam Frekuensi: 1 x/ 10 jam
Warna : Kuning pekat Bau : Khas urin
Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan
5 Pencernaan - Eliminasi Alvi ( B5:Bowel)
Warna Lidah : Merah muda
Tidak ada lesi, gangguan bicara (-), sakit tenggorokan (-)
Abdomen
Inspeksi : Terdapat luka operasi pada abdomen kuadran 3 region inguinalis
tertutup kassa dan bersih
P : Post Op hernia inguinalis
Q : Tersayat
R : Abdomen kuadran 3 region inguinalis
S:6
T : Terus menerus saat beraktifitas
Palpasi : Nyeri tekan pada luka post op
Perkusi : -
Auskultasi: Tidak terdengar bising usus (flatus -)
Masalah keperawatan: Nyeri akut

6 Tulang-Otot-Integumen (B6:Bone)

Tidak mengalami kelumpuhan


5555 5555
4444 5555
Keterangan:
1. Normal (5) : Mampu menggerakkan persendian dalam lingkup
gerak penuh, mampu melawan grafitasi, mampu melawan dengan
tahan penuh.
2. Baik (4) : Mampu menggerakkan persendian dengan gaya
grafitasi, mampu melawan dengan tahan sedang
3. Sedang (3) : Hanya mampu melawan gaya grafitasi
4. Buruk (2) : Tidak mampu melawan gaya grafitasi (Geraka Pasif)
5. Sedikit (1) : Kontraksi Otot dapat dipalpasi tanpa gerakan persendian
6. Tidak Ada (0) : Tidak ada kontraksi
Ekstermitas atas : tidak ada kelainan, peradangan, patah tulang, dan luka
Ekstermitas bawah : ekstrimitas sebelah kanan mengalami penurunan karena ada
luka post operasi Hernia inguinalis
Masalah Keperawatan :Gangguan mobilitas fisik, Gagguan rasa
nyaman Nyeri

28
3.3. POLA AKTIVITAS

Nutrisi Di Rumah Di Rumah Sakit


Makanan:
Frekuensi 3x/hari
3x/hari
Jenis Diet -
Porsi yang dihabiskan - ½ porsi
Komposisi Menu Bubur Halus
1 porsi habis
Pantangan -
Alergi Nasi, lauk, sayur Tidak ada alergi
Minuman:
-
Frekuensi -
Tidak ada alergi
Jenis Minuman Air putih
Pantangan -
Alergi 8 gelas/hari -
Keluhan: -

Air putih
Tidak ada
-
-
Kebersihan diri:

Di Rumah Di Rumah Sakit


Mandi : 2x/hari Selama di RS Klien hanya seka 2x sehari
Keramas : 3x/minggu
Sikat Gigi : 2x/hari
Memotong Kuku : 2x/minggu
Ganti Pakaian : 2x/hari
Istirahat dan aktivitas
Tidur siang lama 1 jam Selama di rumah sakit pasien hanya
Aktivitas sehari-hari
berbaring di tempat tidur
Bekerja

29
3.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tanggal: 14/02/2018 (14.00)

Jenis Pemeriksaan Nilai Normal Hasil Satuan


WBC L: 4,30 - 10 P : 4,3 – 11,3 6.0 10³/µL
RBC 4,33 – 5,95 juta/ul 5.27 /µL
HGB L : 13,4 – 17,7 P : 11,4 – 15,1 15.6 g/dL

MCV 80 – 93 85.8
fL
MCH 27 – 31 29.6
Pg
MCHC 30 – 35 gr/dl 34.5
g/dL
RDW-CV 11,5 – 14,5 11.0
%
MPV 65 – 12 fl 5.5
fL
SGOT L < 37 P < 31 49
U/l
SGPT L < 40 P < 31 35
U/l
UREUM/BUN 10 – 45 mg/dl 21.5
mg/dl
SERUM Creatinin L: 0,9 – 1,5 P : 2,4 – 5,7 1.2
mg/dl
NATRIUM (Na) 136 – 144 139
meq/l
KALIUM (K) 3.5 – 5.5 4.4
meq/l
CHLORIDA (CL) 97 – 113 92
mmol/l
CALCIUM (CA) 8.1 – 10.4 9.2
Mmol/l

30
3.5. TERAPI
Tanggal: 14/02/2018 (16.00)

Jenis Terapi Dosis


Terapi bedah:
Inf. RL 20 TPM
Inj. Cefotaxime 1gr Pre op
Terapi Cardio:
Valsartan 1 x 80mg
Nitrocef 1x 5mg

Tanggal: 15/02/2018 (16.00)

Jenis Terapi Dosis


Inf. RL 20 TPM
Inj. Cefotaxime 3 x 1gr
Santagesik 2x 1 amp
Valsartan tabl 1x80mg
Nitrocef 1x5mg

Tanggal: 16/02/2018 (16.00)

Jenis Terapi Dosis


Inf. RL 20 TPM
Inj. Cefotaxime 3 x 1gr
Santagesik 3 x 1 amp
Valsartan tabl 1x80mg
Nitrocef 1x5mg

Mojokerto,…………….2018

TTD

(Perawat)

31
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG

ANALISA DATA

NO. DATA ETIOLOGI MASALAH


1. DS : Pembedahan Nyeri Akut
 Pasien mengatakan nyeri pada
luka post op
DO : luka post operasi
 Inspeksi: Terdapat luka operasi
pada abdomen kuadran 3
region inguinalis Terputusnya
P : Post Op hernia inguinalis kontinuitas
Q : Tersayat jaringan
R : Abdomen kuadran 3 region
inguinalis
S:6 Terputusnya
T: Terus menerus saat beraktifitas jaringan syaraf
 Palpasi: Nyeri tekan pada luka
post op Nyeri akut
 Perkusi: -
 Auskultasi: bising usus –
(flatus -)
 TTV
TD : 162/77 mmHg
N : 84 xpm
S :36˚C
RR : 20 xpm
2. DS: Pasien mengatakan agak Pembedahan Gangguan
susah menggerakkan kaki mobilitas fisik
kanannya karena nyeri post
operasi. Luka post operasi

DO :
 Inspeksi: Terdapat luka operasi Terputusnya
pada abdomen kuadran 3 jaringan
region inguinalis
P : Post Op hernia inguinalis Terputusnya
Q : Tersayat kontinuitas
R : Abdomen kuadran 3 region Jaringan
inguinalis
S:6 Nyeri akut
T: Terus menerus saat beraktifitas
 Palpasi: Nyeri tekan pada luka Tidak bisa
post op bergerak
 Perkusi: -

32
 Auskultasi: bising usus – Gangguan
(flatus -) mobilitas fisik
 TTV:
TD : 162/77 mmHg
N : 84 xpm
S :36˚C
RR : 20 xpm
 Aktivitas tampak dibantu
keluarga
 Pasien terlihat bedrest

33
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG

DAFTAR DIAGNOSE KEPERAWATAN

1. Nyeri akut b/d terputusnya kontinuitas jaringan


2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri luka post op yang belum sembuh

34
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG

LEMBAR RENCANA KEPERAWATAN

NAMA PASIEN : Tn. W DIAGNOSA: Post OP Hernia Inguinalis


UMUR : 02/02/1941 (77th) NO. RM :342577
NO DIAGNOSE TUJUAN/ INTERVENSI RASIOANAL JAM IMPLEMENTASI
KEPERAWATAN KRITERIA HASIL
1. Nyeri akut b/d Setelah dilakukan a. BHSP a. Segala tindakan 16.00 BHSP dengan teknik
terputusnya tindakan keperawatan harus
komunikasi terapeutik
kontinuitas keperawatan didasari dengan
selama 1x24 jam hubungan saling
jaringan
diharapkan nyeri percaya
yang dirasakan
berkurang dengan b. Observasi TTV
Mengobservasi TTV
kriteria hasil :
TD : 162/77 mmHg
a. TTV Dalam b. Untuk mengetahui 16.15
N : 84 xpm
batas normal: keadaan umum klien
b. Skala nyeri S :36˚C
berkurang RR : 20 xpm
c. Klien tampak c. Kaji skala,
tenang karakteristik,dan Mengkaji skala,
lokasi nyeri c. Untuk mengetahu 16.25 karakteristik, dan lokasi
tingkat nyeri nyeri
P: Post Op hernia
inguinalis
Q : Tersayat
R : Abdomen kuadran
3 region inguinalis

35
d. Ajarkan teknik S:6
T: Terus menerus saat
relaksasi dan
d. Untuk menejemen beraktifitas
distraksi Mengajarkan teknik
nyeri yang dirasakan
relaksasi (menarik
e. Kolaborasi dengan nafas lewat hidung
16.45 dan mengeluarkan
dokter dalam e. Pemberian santalgesik
lewat mulut)
pemberian terapi dapat mengurangi nyeri Melakukan injeksi:
 Cefotaxime: 1gr/IV
Bolus
17.00  Santagesik : 1amp/IV
Bolus
Memberikan obat:
 Valsatran 80mg/ oral
ke pasien
 Nitrocaf 5mg/ orang
ke pasien
Menganjurkan pasien
untuk Minum sedikit
sedikit (MSS) bila
sudah 6 jam setelah
operasi atau bila sudah
17.05
bisa flatus

36
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG

LEMBAR RENCANA KEPERAWATAN

NAMA PASIEN : Tn. W DIAGNOSA: Post OP Hernia Inguinalis


UMUR : 02/02/1941 (77th) NO. RM :342577
NO DIAGNOSE TUJUAN/ INTERVENSI RASIOANAL JAM IMPLEMENTASI
KEPERAWATAN KRITERIA HASIL
2. Gangguan Setelah dilakukan a. Lakukan latihan a. Meningkatkan 17.30 Melakukan latihan
mobilitas fisik b.d tindakan
aktif dan pasif stimulasi ROM (Range Of
nyeri luka post op keperawatan
b. Bantu pasien dalam b. Pasien dapat
selama 2x24 jam Motion) aktif dan pasif:
yang belum
diharapkan melakukan merencanakan dan
sembuh Fleksi ekstensi,
gangguan mobilitas
mobilisasi sendiri kegiatan yang
pasien akan Hiperfleksi,
berkurang kriteria akan dilakukan
c. Edukasi keluarga hiperekstensi, aduksi,
hasil : c. Supaya bias
a. Pasien dapat dalam membantu rotasi, eversi, inversi,
meneruskan perawatan
menunjukkan
pasien mobilisasi supinasi, oposisi
peningkatan setelah pulang
d. Anjurkan istirahat
mobilitas d. Membantu
Membantu pasien dalam
b. Pasien yang adekuat setelah
mengendalikan energi 18.00
mengatakan ada melakukan mobilisasi
latihan dan
peningkatan
bertahap:
aktivitas mobilisasi
 6 jam pertama
hanya tirah
baring, mobilisasi

37
dini bias
dilakukan dengan
gerakan lengan
dan
menggeraklkan
jari-jari kaki
 Setelah 6-10 jam
dapat mika miki
 Setelah 24 jam
dianjurkan untuk
dapat mulai
belajar duduk
 Setelah bisa
duduk dianjurkan
belajar berjalan.
Mengedukasi keluarga
dalam membantu pasien

18.30 mobilisasi
Menganjurkan pasien
istirahat tidur yang
18.40

38
adekuat setelah latihan
dan mobilisasi

39
CATATAN PERKEMBANGAN

No. Tanggal / Catatan Perkembangan (SOAP)


Jam
1. 15 /02/2018 S : Pasien mengatakan nyeri sedikit berkurang pada luka post op
16.00 WIB O:
 Inspeksi: Terdapat luka operasi pada abdomen kuadran 3 region
inguinalis
P : Post Op hernia inguinalis
Q : Tersayat
R : Abdomen kuadran 3 region inguinalis
S:5
T: Hilang timbul, nyeri timbul saat dibuat mobilisasi
 Palpasi: Nyeri tekan pada luka post op, supel
 Perkusi: -
 Auskultasi: terdengar bising usus 15x/mnt
 TTV:
 TD : 152/82 mmHg
 N : 86 xpm
 S : 36,5˚C
 RR : 20 xpm
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
 Observasi TTV
 Kaji skala, karakteristik,dan lokasi nyeri
 Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi
 Edukasi atau bantu pasien dan keluarga untuk kebutuhan sehari-
hari.
 Anjurkan px diit tinggi serat dan protein serta rendah lemak.
 Anjurkan px untuk tirah baring dan istirahat saat nyeri datang

40
2. 16/02/2018 S : Pasien mengatakan nyeri berkurang
16.00 O:
 Bangun dan jalan dengan bantuan orang lain
 TTV
 TD : 142/60 mmHg
 N : 74 xpm
 S : 36˚C
 RR : 20 xpm
 Pengkajian nyeri:
P : Post Op hernia inguinalis
Q : Tersayat
R : Abdomen kuadran 3 region inguinalis
S:3
T: nyeri hilang timbul
A : Masalah Teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan

 Observasi TTV
 Kaji skala, karakteristik,dan lokasi nyeri
 Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi
 Edukasi atau bantu pasien dan keluarga untuk kebutuhan sehari-
hari.
 Anjurkan px diit tinggi serat dan protein serta rendah lemak.
 Anjurkan px untuk tirah baring dan istirahat saat nyeri datang

41
3. 17/02/2018 S : Pasien mengatakan nyeri berkurang
16.00 O:
 Bangun dan jalan dengan bantuan orang lain
 TTV
 TD : 140/80 mmHg
 N : 80 xpm
 S : 36,2˚C
 RR : 20 xpm
 Pengkajian nyeri:
P : Post Op hernia inguinalis
Q : Tersayat
R : Abdomen kuadran 3 region inguinalis
S:1
T: tidak nyeri
A : Masalah Teratasi
P : Intervensi dihentikan (pasien pulang)

Healt Education:

 Personal Hygiene: Menjaga daerah luka tetap bersih dan tertutup


untuk mencegah infeksi.

 Diit : Menganjurkan makan tinggi protein, Contoh: Ikan, putih telur,


daging ayam tanpa kulit, daging sapi tanpa gajih, dan kacang-
kacangan.

 Rawat luka : Anjurkan menjaga luka tetap bersih dan tertutup sampai
waktu rawat luka dan rawat luka setiap hari oleh tenaga medis.

 Kontrol: Kontrol Di Poli Bedah pada tanggal 20/02/2018

 Obat : P.O Cefadroxil 3x500mg


Asam mefenamat 3x500mg
Minum obat secara teratur.
Istirahat : Jangan mengangkat beban berat dan istirahat cukup.

42
BAB 4

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Setelah mendalami dengan teliti melalui pembandingan antara konsep medik dan

konsep pemberian asuhan keperawatan pada pasien Herniatomi dengan kenyataan kasus

yang penulis hadapi, maka ada beberapa hal yang dapat penulis simpulkan, diantaranya

sebagai berikut.

Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dari tempatnya yang normal

melalui sebuah defek Kongenital atau yang didapat. Hernia adalah defek dalam dinding

abdomen yang memungkinkan isi abdomen (seperti Peritoneum, lemak, usus atau kandung

kemih) memasuki defek tersebut, sehingga timbul kantong berisikan materi abnormal.

Melihat perkembangan penyakit Hernia dan masalah yang ditimbulkan, perlu deteksi

dini untuk mendapatkan tindakan yang tepat agar tidak terjadi komplikasi. Salah satu

tindakan yang tepat adalah pembedahan, karena pembedahan akan menyingkirkan atau

mengurangi gejala dari komplikasi.

Lingkungan dan pola hidup serta aktifitas pasien juga mendukung timbulnya penyakit

yang ada hubungannya dengan resiko timbulnya Hernia. Ini diperlukan peningkatan

pengetahuan tentang penyakit, perawatan dan pengobatan kepada pasien untuk dapat

membantu proses penyembuhan penyakit.

43
4.2. Saran

a. Bagi penulis
Penulis dapat lebih mendalami materi dan menambah pengetahuan tentang

gangguan system tubuh Hernia Inguinalis.


b. Pasien dan Keluarga
Bagi pasien dapat bermanfaat untuk mengetahui proses penyakit dan kemudian

mengetahui cara mempercepat pemulihan keadaan pasien. Bagi keluarga dapat

menambah pengetahuan tentang bagaimana melakukan perawatan dengan Hernia

Inguinalis
c. Institusi Pendidikan
Menambah bahan referensi bacaan tentang asuhan keperawatan pada pasien

dengan Hernia Inguinalis


d. Rumah Sakit
Sebagai bahan bacaan dan ilmu pengetahuan dalam menerapkan asuhan

keperawatan pada pasien Hernia Inguinalis

44