Anda di halaman 1dari 18

PENGALAMAN BELAJAR LAPANGAN

SKABIES

HALAMAN JUDUL

Oleh :

Padma Permana

1302006142

Pembimbing :

dr. A. A. Ari Agung Kayika Silayukti, Sp.KK

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


SMF/LAB ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
RSUP SANGLAH DENPASAR
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena
atas karunia-Nya, laporan kasus yang berjudul “Skabies” ini dapat diselesaikan
tepat pada waktunya. Laporan kasus ini disusun dalam rangka mengikuti
Kepaniteraan Klinik Madya di Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana yang dilaksanakan tanggal 11 Desember sampai
16 Desember 2017 bertempat di RSUD Mangusada Badung.
Dalam penyusunan laporan kasus ini, penulis banyak memperoleh
bimbingan, petunjuk serta bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Melalui
kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada yang terhormat:
1. Prof. dr. Made Swastika Adiguna, Sp.KK (K), FINSDV, FAADV selaku
Ketua SMF/Bagian Dermatologi dan Venereologi FK Universitas Udayana,
RSUP Sanglah, Denpasar,
2. dr. IGAA. Dwi Karmila, Sp.KK selaku Koordinator Pendidikan Dokter SMF
Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah, Denpasar,
3. dr. A. A. Ari Agung Kayika Silayukti, Sp.KK selaku Dokter Spesialis Kulit
dan Kelamin SMF/Bagian Kulit dan Kelamin RSUD Badung yang senantiasa
membimbing dan memberikan masukan dalam penyusunan laporan kasus ini,
4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas dukungan dan
bantuan yang telah diberikan dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.
Semoga laporan kasus ini dapat memberikan sumbangan ilmiah dalam masalah
kesehatan dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Denpasar, Desember 2017

Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 2
2.1 Definisi ..................................................................................................... 3
2.2 Epidemiologi ............................................................................................ 3
2.3 Etiologi ..................................................................................................... 3
2.4 Patogenesis ............................................................................................... 4
2.5 Cara Penularan ......................................................................................... 4
2.6 Manifestasi Klinis……………………………………………………….5

2.7 Diagnosis .................................................................................................. 7


2.8 Diagnosis Banding………………………………………………………7

2.9 Penatalaksanaan ....................................................................................... 7


2.10 Prognosis ................................................................................................ 10
2.11 Pencegahan ............................................................................................. 10
BAB III LAPORAN KASUS .............................................................................. 12
3.1 Identitas Pasien....................................................................................... 12
3.2 Anamnesis .............................................................................................. 12
3.3 Pemeriksaan Fisik .................................................................................. 14
3.4 Diagnosis Banding ................................................................................. 17
3.5 Pemeriksaan Penunjang ......................................................................... 17
3.6 Diagnosis Kerja ...................................................................................... 17
3.7 Penatalaksanaan ..................................................................................... 17
3.8 Prognosis ................................................................................................ 18
BAB IV PEMBAHASAN.................................................................................... 19
BAB V KESIMPULAN ...................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

Ektima merupakan suatu kelainan kulit yang diakibatkan oleh infeksi


bakteri, terutama bakteri Streptococcus pyogenes dan Staphylococcus aureus.
Penyakit ini dapat menyerang segala umur, baik anak-anak maupun dewasa. Pada
anak-anak kebanyakan terjadi pada umur 6 bulan sampai 18 tahun. Predisposisi
penyakit ini berkaitan dengan tingkat higienitas seseorang serta kondisi
imunologisnya.1
Epidemiologi ektima di dunia tidak diketahui secara pasti. Ektima
merupakan penyakit kulit berupa ulkus yang paling sering terjadi pada orang-
orang yang sering bepergian (traveler). Pada suatu studi kasus di Perancis,
ditemukan bahwa dari 60 orang wisatawan, 35 orang (58%) diantaranya
mendapatkan infeksi bakteri, di mana bakteri terbanyak yang ditemukan
yaitu Staphylococcus aureus dan Streptococcus B-hemolyticus grup A yang
merupakan penyebab dari penyakit kulit impetigo dan ektima. Dari studi kasus ini
pula, ditemukan bahwa kebanyakan wisatawan yang datang dengan ektima
memiliki riwayat gigitan serangga (73%).2
Lesi ektima diawali dengan munculnya vesikel ataupun pustul yang terasa
gatal, lama kelamaan akan membesar dan pecah. Dalam beberapa hari
kemudian terbentuk krusta tebal yang apabila dikelupas akan meninggalkan bekas
berupa ulkus superfisial. Lesi cenderung menjadi sembuh setelah beberapa
minggu dan meninggalkan sikatriks. Predileksi ektima biasanya pada daerah
ekstremitas bawah, wajah dan ketiak.1,2 Ektima pada dasarnya hampir sama
dengan impetigo, hanya saja pada impetigo daerah yang mengalami infeksi hanya
bagian epidermis, sedangkan infeksi ektima terkadang mencapai dermis.3
Penyakit yang menyerupai ektima antara lain impetigo krustosa,
folikulitis, dan prurigo nodularis. Terkadang bentuknya juga menyerupai bekas
gigitan serangga. Namun semua penyakit ini memiliki ciri khasnya masing-
masing sehingga dapat dibedakan dengan ektima. Prognosis ektima umumnya
baik, namun terkadang sering terjadi kekambuhan dan meninggalkan bekas
berupa jaringan sikatrik.2 Kekambuhan penyakit sangat bergantung pada
kebersihan serta kondisi imunologis penderita. Sifat penyakit ini yang mudah
menular dan sangat berkaitan dengan tingkat kebersihan seseorang ini membuat
penulis tertarik untuk membuat dan melaporkan kasus ektima dengan tujuan untuk
dipelajari lebih lanjut.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Ektima adalah pioderma ulseratif kulit yang umumnya disebabkan
oleh bakteri Streptococcus β-hemolyticus. Penyebab lainnya bisa Staphylococcus
aureus atau kombinasi dari keduanya. Menyerang epidermis dan dermis
membentuk ulkus dangkal yang ditutupi oleh krusta berlapis, biasanya terdapat
pada tungkai bawah. Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan timbulnya
penyakit ini adalah higenitas yang kurang, menurunnya daya tahan tubuh, atau
jika telah ada penyakit lain di kulit.1,2,3,4

2.2 Epidemiologi
Insiden ektima di seluruh dunia tepatnya tidak diketahui. Frekuensi
terjadinya ektima berdasarkan umur biasanya terdapat pada anak-anak dan orang
tua, tidak ada perbedaan ras dan jenis kelamin. Pada anak-anak kebanyakan terjadi
pada umur 6 bulan sampai 18 tahun.1
Dari hasil penelitian epidemiologi didapatkan bahwa tingkat kebersihan dari
pasien dan kondisi kehidupan sehari-harinya merupakan penyebab yang paling
terpenting untuk perbedaan angka serangan, beratnya lesi, dan dampak sistemik
yang didapatkan pada pasien ektima. Penyakit ini sering dijumpai pada para
traveler serta orang-orang yang memiliki kondisi imunitas yang buruk.2

2.3 Etiopatogenesis
Staphylococcus aureus merupakan penyebab utama dari infeksi kulit dan
sistemik. Seperti halnya Staphylococcus aureus, Streptococcus sp. Juga terkenal
sebagai bakteri patogen untuk kulit. Streptococcus Grup A, B, C, D, dan G
merupakan bakteri patogen yang paling sering ditemukan pada manusia.
Kandungan M-protein pada bakteri ini menyebabkan bakteri ini resisten terhadap
fagositosis.1,2,4
Staphylococcus aureus dan Staphylococcus pyogenes
menghasilkan beberapa toksin yang dapat menyebabkan kerusakan lokal
dimediasi oleh superantigen (SA). Antigen ini bekerja dengan cara berikatan
Langsung pada molekul HLA-DR (Mayor Histocompability
Complex II (MHC II)) pada antigen-presenting cell tanpa adanya proses antigen.
Walaupun biasanya antigen konvensional memerlukan interaksi dengan kelima
elemen dari kompleks reseptor sel T, superantigen hanya memerlukan interaksi
dengan variabel dari pita B. Aktivasi non spesifik dari sel T menyebabkan
pelepasan Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α), Interleukin-1 (IL-1), dan
Interleukin-6 (IL-6) dari makrofag. Sitokin ini menyebabkan gejala klinis berupa
demam, ruam eritematous, hipotensi, dan cedera jaringan.1,2,4
Faktor host seperti immunosupresi, terapi glukokortikoid, dan atopi
memainkan peranan penting dalam patogenesis dari infeksi Staphylococcus.
Adanya trauma ataupun inflamasi dari jaringan (luka bedah, luka bakar, trauma,
dermatitis, benda asing) juga menjadi faktor yang berpengaruh pada patogenesis
dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini.3

2.4 Manifestasi klinis


Penyakit ini dimulai dengan suatu vesikel atau pustul di atas kulit yang
eritematosa, membesar dan pecah (diameter 0,5 – 3 cm) dan beberapa hari
kemudian terbentuk krusta tebal dan kering yang sukar dilepas dari dasarnya.
Biasanya terdapat kurang lebih 10 lesi yang muncul. Bila krusta terlepas,
tertinggal ulkus superficial dengan gambaran “punched out appearance” atau
berbentuk cawan dengan dasar merah dan tepi meninggi. Lesi cenderung menjadi
sembuh setelah beberapa minggu dan meninggalkan sikatriks. Biasanya lesi dapat
ditemukan pada daerah ekstremitas bawah, wajah dan ketiak.1,3

2.5 Diagnosis
Pasien biasanya datang dengan keluhan luka pada anggota gerak bawah.
Kebanyakan pasien menderita gangguan imunitas dan orang yang tidak peduli
dengan kebersihan dirinya. Dari anamnesis didapatkan keluhan utama berupa luka
terutama di bagian ekstremitas bawah. Luka terjadi dalam waktu yang lama akibat
trauma berulang. Awalnya lesi berupa pustul kemudian pecah membentuk ulkus
yang tertutupi krusta.1,2

2.6 Diagnosis Banding


a. Folikulitis, didiagnosis banding dengan ektima sebab predileksi biasanya di
tungkai bawah dengan kelainan berupa papul atau pustul yang eritematosa.
Perbedaannya, pada folikulitis, di tengah papul atau pustul terdapat rambut
dan biasanya multipel.5
b. Impetigo krustosa, didiagnosa banding dengan ektima karena memberikan
gambaran Effloresensi yang hampir sama berupa lesi yang ditutupi krusta.
Bedanya, pada impetigo krustosa lesi biasanya lebih dangkal, krustanya lebih
mudah diangkat, dan tempat predileksinya biasanya pada wajah dan punggung
serta terdapat pada anak-anak sedangkan pada ektima lesi biasanya lebih
dalam berupa ulkus, krustanya lebih sulit diangkat dan tempat predileksinya
biasanya pada tungkai bawah serta bisa terdapat pada usia dewasa muda.5
c. Prurigo Nodularis
Kelainan kulit yang klinisnya berupa nodul gatal yang muncul di tangan atau
kaki. Terkadang ditemukan multiple eksoriasi akibat penggarukan. Nodul
yang muncul biasanya simetris. Faktor predisposisi penyakit ini adalah
penyakit autoimun serta penyakit imunodefisiensi.6

2.7 Penatalaksanaan
a. Nonfarmakologi
Pengobatan ektima tanpa obat dapat berupa mandi menggunakan sabun
antibakteri dan sering mengganti seprei, handuk, dan pakaian. 1,2
b. Farmakologi
Pengobatan farmakologi bertujuan mengurangi morbiditas dan mencegah
komplikasi.1,2
1) Sistemik
Pengobatan sistemik digunakan jika infeksinya luas. Pengobatan sistemik
dibagi menjadi pengoatan lini pertama dan pengobatan lini kedua.
Pengobatan lini pertama menggunakan antibiotika golongan Penisilin,
seperti Dikloksasilin 4 x 250 - 500 mg, Amoksisilin + Asam klavulanat 3 x
25 mg/kgBB, dan Sefaleksin 40 - 50 mg/kgBB. Sedangkan pengobatan lini
kedua menggunakan antibiotik golongan Makrolid, seperti
Azitromisin, Klindamisin, dan Eritomisin.
2) Topikal
Pengobatan topikal digunakan jika infeksi terlokalisir, tetapi jika
luas maka digunakan pengobatan sistemik. Neomisin, Asam fusidat 2%,
Mupirosin, dan Basitrasin merupakan antibiotik yang dapat digunakan
secara topikal.
c. Edukasi
Memberi pengertian kepada pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan
badan dan lingkungan untuk mencegah timbulnya dan penularan penyakit
kulit.1

2.8 PROGNOSIS
Ektima sembuh secara perlahan, tetapi biasanya meninggalkan jaringan
parut (skar).1,2

2.9 PENCEGAHAN
Pada daerah tropis, perhatikan kebersihan dan gunakan lotion antiserangga
untuk mencegah gigitan serangga.1

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien


Nama :MF
Umur : 11 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Cokroaminoto Gg Persik 214
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Pelajar
Suku/Bangsa : Bali/Indonesia
Agama : Hindu
Status Pernikahan : Belum Menikah
No Rekam Medis : 010182
Tanggal Pemeriksaan : 11 Desember 2017

3.2 Anamnesis
1. Keluhan Utama
Luka di kaki
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang mengeluh luka yang melebar di kaki kanannya. Pasien baru
menyadari munculnya luka sejak 2 hari yang lalu. Luka sejenis juga terdapat
pada kaki kirinya namun berukuran lebih kecil. Pada awalnya pasien mengaku
hanya terdapat kemerahan dan rasa gatal. Pasien mengaku terus menggaruk
bagian yang gatal untuk mengurangi rasa gatalnya. Saat ini rasa gatal sudah
berkurang namun terdapat nyeri saat luka ditekan. Luka ini dikatakan
mengeluarkan cairan bening kekuningan. Pasien belum melakukan apapun
untuk menangani keluhannya. Riwayat digigit serangga dan mengoleskan
sesuatu di kaki disangkal oleh pasien.
3. Riwayat Pengobatan
Pasien belum pernah pergi ke dokter untuk keluhannya yang sekarang.

4. Riwayat Alergi
Pasien dicurigai memiliki alergi terhadap telur. Alergi obat-obatan disangkal.
5. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah menderita penyakit tertentu seperti diabetes mellitus,
jantung, dan ginjal sebelumnya. Riwayat keluhan luka yang seperti sekarang
juga disangkal oleh pasien, namun pasien memiliki riwayat gatal-gatal
sebelumnya.
6. Riwayat Penyakit dalam Keluarga
Tidak ada anggota keluarga pasien yang memiliki keluhan yang sama dengan
pasien. Riwayat alergi di keluarga terdapat pada ayahnya yang memiliki
asthma dan kakaknya memiliki alergi terhadap telur.
7. Riwayat Sosial
Pasien merupakan seorang murid SD yang kesehariannya sepulang sekolah
hanya di rumah bersama kakaknya karena ayah dan ibunya masih bekerja.
Dalam seminggu terakhir ibunya baru menyadari bahwa pasien sering makan
telur di rumah tanpa sepengawasan ibunya. Pasien mengaku sehari-hari mandi
menggunakan sabun detol. Pada saat menggaruk luka di kakinya pasien
mengatakan bahwa kukunya saat itu panjang dan belum dibersihkan.
3.3 Pemeriksaan Fisik
Status Present
Kesadaran Umum : Baik
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Respirasi : 20x/menit
Temperatur aksila : 36oC
BB : 30 Kg
TB : 125 Cm
BMI : 19,2 Kg/m2

Status Dermatologi
1. Lokasi : Cruris Dextra Medial et Sinistra Lateral
Effloresensi : Terdapat makula eritema, multipel, berbentuk bulat dan
geografika, berbatas tegas, dari yang terkecil berdiameter 1 cm hingga
berukuran 2cm x 2cm, diskret, bilateral, yang di atasnya terdapat ulkus
multipel, berbentuk bulat dan geografika, berbatas tegas dengan tepi
meninggi, dinding ireguler/tidak rata, dasar ulkus jaringan ikat bawah
kulit yang ditutupi oleh krusta berwarna kekuningan, dari yang terkecil
berdiameter 0,5cm hingga berukuran 1,5cm x 1,5cm
2. Lokasi : Cruris Dextra Medial et Sinistra Lateral
Effloresensi : Terdapat makula hiperpigmentasi, multiple, berbentuk
titik dan bulat, berbatas tegas, dari yang terkecil berdiameter 0,1cm
hingga 0,5cm, diskret, bilateral, yang di atasnya beberapa terdapat erosi
ditutupi krusta berwarna kehitaman.

Gambar 3.1

3. Rambut : Dalam batas normal


4. Kuku : Dalam batas normal
5. Kelenjar Keringat : Tidak dikerjakan
6. Kelenjar Limfe : Tidak dikerjakan
7. Saraf : Tidak dikerjakan

3.4 Diagnosis Banding


1. Ektima
2. Impetigo Crustosa
3. Ulkus Tropikum

3.5 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan ialah pemeriksaan gram
stain untuk mengetahui jenis bakteri penyebab lesi, sehingga bisa memberikan
pengobatan sesuai dengan bakteri penyebabnya.
3.7 Diagnosis Kerja
Ektima

3.8 Penatalaksanaan
1. Sterilisasi lesi dengan NaCl 0,9%, 3-4 kali sehari selama 10 sampai 15 menit
2. Urea 10% cream 2x sehari
3. Gentamicin cream 2x sehari
4. Cefadroxil 2x500mg

KIE
1. Selalu menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Bersihkan lesi
secara teratur, dan aplikasikan asam fusidat 2% di atasnya. Jangan biarkan
luka terlalu lembab agar bakteri tidak tumbuh subur.
2. Saat beraktivitas, pastikan luka tertutup agar tidak terkontaminasi debu dan
kotoran lain.
3. Hindari menggaruk-garuk lesi agar tidak menambah keparahan.
4. Jaga kebersihan kulit kaki dengan tidak menggunakan celana ketat yang
jarang dicuci serta jaga kebersihan kuku tangan dan kaki.
5. Perbanyak konsumsi makanan dan minuman bergizi, seperti konsumsi sayur,
buah-buahan serta air putih.

3.9 Prognosis
1. Ad vitam : Bonam
2. Ad functionan : Bonam
3. Ad sanationam : Bonam
4. Ad cosmetican : Dubia

BAB IV
PEMBAHASAN
Pasien perempuan 11 tahun datang bersama ibunya mengeluh muncul luka
pada kaki kanan dan kiri sejak 3 hari sebelum datang ke poli. Luka tersebut
dikatakan terkadang sedikit gatal dan nyeri saat ditekan serta mengeluarkan cairan
bening kenuningan. Awalmnya hanya terdapat kemerahan dan gatal-gatal sejak
seminggu yang lalu, pasien mengaku terus menggaruknya dengan kukunya yang
panjang dan tidak dibersihkan. Berdasarkan gejala dan bentuk lesinya, pasien
didiagnosis dengan ektima. Ektima adalah pioderma ulseratif kulit yang umumnya
disebabkan oleh bakteri Streptococcus β-hemolyticus, Staphylococcus aureus atau
kombinasi dari keduanya. Biasanya menyerang epidermis dan dermis membentuk
ulkus dangkal yang ditutupi oleh krusta berlapis, biasanya terdapat pada tungkai
bawah. Faktor lain yang memicu munculnya ektima adalah higienitas yang buruk
dan penyakit imunodefisiensi.1,2,3,4 Hal ini sesuai dengan yang dialami oleh pasien
ini, di mana pasien higienitasnya buruk. Pasien saat menggaruk kakinya kuku
pasien panjang dan kotor. Riwayat alergi pasien dan kebiasaan menggunakan
sabun detol membuat kulit pasien kering sehingga saat digarung dapat
menyebabkan luka kecil yang menjadi port entry dari bakteri.
Dari pemeriksaan fisik ditemukan adanya makula eritema, multipel,
berbentuk bulat dan geografika, berbatas tegas, dari yang terkecil berdiameter 1
cm hingga berukuran 2cm x 2cm, diskret, bilateral. Di atasnya terdapat ulkus
multipel, berbentuk bulat dan geografika, berbatas tegas dengan tepi meninggi,
dinding ireguler/tidak rata, dasar ulkus jaringan ikat bawah kulit yang ditutupi
oleh krusta berwarna kekuningan, dari yang terkecil berdiameter 0,5cm hingga
berukuran 1,5cm x 1,5cm. Gambaran tersebut sesuai dengan effloresensi yang
sering ditemukan pada kasus ektima, di atas lesi terbentuk krusta tebal dan kering
yang sukar dilepas dari dasarnya. Bila krusta terlepas, tertinggal ulkus superficial
dengan gambaran “punched out appearance” atau berbentuk cawan dengan dasar
merah dan tepi meninggi.1,3
Pasien ini didiagnosis sebagai ektima dengan diagnosis banding impetigo
crustosa dan ulkus tropikum. Penjelasannya sebagai berikut:
 Impetigo crustosa adalah infeksi kulit superfisialis (terbatas pada epidermis)
dengan kemiripan lesi eritema dan ditutupi krusta. Pada impetigo krustosa lesi
biasanya lebih dangkal, krustanya lebih mudah diangkat, dan tempat
predileksinya biasanya pada wajah dan punggung.6
 Ulkus tropikum .....
Modalitas terapi ektima ialah terapi nonfarmakologi dan farmakologi.
Terapi nonfarmakologi ektima dapat berupa mandi menggunakan sabun
antibakteri, sering mengganti seprei, handuk, pakaian, dan menjaga
kebersihan. Terapi farmakologi ektima bertujuan untuk mengurangi morbiditas
dan mencegah komplikasi. Terapi sistemik digunakan jika infeksinya luas.
Pengobatan sistemik dibagi menjadi pengoatan lini pertama dan pengobatan lini
kedua. Pengobatan lini pertama menggunakan antibiotika golongan Penisilin,
seperti Dikloksasilin 4 x 250 - 500 mg, Amoksisilin + Asam klavulanat 3 x 25
mg/kgBB, dan Sefaleksin 40 - 50 mg/kgBB. Sedangkan pengobatan lini kedua
menggunakan antibiotik golongan Makrolid, seperti Azitromisin, Klindamisin,
dan Eritomisin. Pengobatan topical ektima digunakan jika infeksi terlokalisir.
Neomisin, Asam fusidat 2%, Mupirosin, dan Basitrasin merupakan antibiotik
yang dapat digunakan secara topikal. 1,2
Memberi pengertian kepada pasien tentang pentingnya menjaga
kebersihan badan dan lingkungan untuk mencegah timbulnya dan penularan
penyakit kulit. Pada pasien ini disarankan kontrol apabila tidak ada perbaikan
pada lesi. Pasien diminta minum obat teratur, menjaga kebersihan daerah sekitar
lesi serta hindari penggarukan untuk mencegah keparahan lesi.

BAB V
SIMPULAN

Ektima adalah pioderma ulseratif kulit yang umumnya disebabkan


oleh bakteri Streptococcus β-hemolyticus, Staphylococcus aureus atau kombinasi
dari keduanya. Penyakit ini menyerang epidermis dan dermis membentuk ulkus
dangkal yang ditutupi oleh krusta berlapis, biasanya terdapat pada tungkai bawah.
Dari hasil penelitian epidemiologi didapatkan bahwa tingkat kebersihan dari
pasien dan kondisi kehidupan sehari-harinya merupakan penyebab yang paling
terpenting untuk perbedaan angka serangan, beratnya lesi, dan dampak sistemik
yang didapatkan pada pasien ektima.
Ektima merupakan penyakit kulit berupa ulkus yang paling sering terjadi
pada orang-orang yang sering bepergian (traveler) dan pasien imunodefisiensi.
Manifestasi klinis dari penyakit ini yakni munculnya vesikel ataupun pustul yang
dalam beberapa hari akan pecah dan membentuk krusta tebal. Bila krusta terlepas,
tertinggal ulkus superficial dengan gambaran “punched out appearance” atau
berbentuk cawan dengan dasar merah dan tepi meninggi.
Penatalaksanaan ektima berupa terapi nonfarmakologi dan farmakologi.
Terapi farmakologi meliputi pemberian antibiotik sistemik maupun topikal. Hal
yang paling penting adalah pemberian edukasi pada pasien untuk senantiasa
menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta menghindari menggaruk luka untuk
mencegah keparahan.
Pada laporan kasus diatas dapat disimpulkan bahwa gejala dan tanda klinis
beserta riwayat perjalanan penyakit pasien telah sesuai dengan kepustakaan.
Adapun, penatalaksanaan juga telah sesuai dengan referensi yang ada yaitu
berdasarkan penatalaksanaan simptomatik dan indikasi yang diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Davis, L. 2016. Echtyma. [Online] Tersedia di :
http://emedicine.medscape.com/article/1052279-overview (Diakses tanggal 27
Juni 2017)
2. Wolff, Klaus,dkk. Fitzpatrick Color Atlas and Synopsis of Clinical
Dermatology Edition 5th.The McGraw-Hill Companies. United States. 2005
3. The International Foundation for Dermatology. 2017. Management of
Ecthyma. [Online] Tersedia di : http://www.ifd.org/protocols/management-of-
ecthyma (Diakses tanggal 27 Juni 2017)
4. Wasserzug O, Valinsky L, Klement E, et al. A cluster of ecthyma outbreaks
caused by a single clone of invasive and highly infective Streptococcus
pyogenes. Clin Infect Dis 2009;48:1213-9.
5. Djuanda, A., Hamzah, M., Aisah, S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 6th ed.
Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2011
6. Hogan, D.J. 2016. Prurigo Nodularis. [Online] Tersedia di :
http://emedicine.medscape.com/article/1088032-overview (Diakses tanggal 27
Juni 2017)