Anda di halaman 1dari 5

Alat-alat Laboratorium dalam Praktikum Teknologi Benih

Mengenal alat-alat laboratorium sangat penting dilakukan untuk keselamatan

kerja saat melakukan penelitian. Alat-alat laboratorium biasanya dapat rusak atau

bahkan berbahaya jika tidak sesuai dengan prosedur pemakaian. Untuk itu, kita harus

mengetahui nama, fungsi, dan prinsip kerja alat-alat yang akan digunakan untuk

melakukan percobaan dan guna memperlancar pemakaian pada praktikum-praktikum

mendatang (Sumarno, 2010).

Alat-alat tersebut misalnya; pengukur kadar air benih, pembagi contoh benih,

timbangan elektrik, alat peerkecambahan, alat pengambil contoh benih, dan lain-lain.

Pengujian benih di laboratorium akan berhasil baik, apabila penguji berpengaetahuan

cukup tentang benih dan berpengalaman menggunakan alat-alat yang diperlukan.

Kesalahan cara menggunakan alat akan memberikan hasil yang salah sehingga tidak

akan mencerminkan kualitas contoh benih yang diuji dan akhirnya tidak

mencerminkan kelompok benihnya (Hamman, 2001).

Secara umum fungsi dari setiap alat telah diberikan, karena tidak mungkin

semua fungsi diutarakan dalam melakukan kegiatan di laboratorium. Untuk

memudahkan dalam memahami alat-alat laboratorium yang dapat digunakan dalam

waktu relative lama dan dalam keadaan baik, maka diperlukan pemeliharaan dan

penyimpanan yang memadai (Wirjosoemarto, 2004).

Kesalahan dalam penggunaan alat dan bahan dapat menimbulkan hasil yang

didapat tidak akurat dalam hal ilmu statistika kesalahan seperti ini digolongkan dalam

galat pasti. Oleh karena itu, pemahaman fungsi dan cara kerja peralatan serta bahan

harus mutlak dikuasai oleh praktikan sebelum melakukan praktikum di laboratorium


kimia. Bukan hal yang mustahil bila terjadi kecelakaan di dalam laboratorium karena

kesalahan dalam pemakaian dan penggunaan alat – alat dan bahan yang dilakukan

dalam suatu pratikum yang berhubungan dengan bahan kimia berbahaya, disamping

itu, pemilihan jenis alat yang akan digunakan dalam penelitian disesuaikan dengan

tujuan penelitian. Agar penelitian berjalan lancer (Haidy, 2010).

Dalam praktikum Teknologi Benih dan pelaksanaan program perbenihan

digunakan alat-alat khusus untuk melakukan berbagai kegiatan misalnya

mempersiapkan benih, menanam, pengeringan dan prosesing, pengambilan contoh

benih, pengujian benih, dan lain-lain. Alat-alat tersebut misalnya pengukur kadar air

benih, pembagi contoh benih, timbangan elektrik, alat perkecambahan, alat

pengambil contoh benih, dan lain-lain. Berbagai macam alat tersebut digunakan

dalam pelaksanaan pengujian benih di laboratorium terutama dalam kebutuhan

sertifikasi benih (Bustami dan Bakhtiar, 2012).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyimpanan Benih

Beberapa faktor yang mempengaruhi daya kecambah benih kedelai selama

penyimpanan adalah: (1) Mutu dan daya kecambah benih sebelum disimpan; (2)

Kadar air benih: (3) Kelembapan ruang penyimpanan: (4) Suhu tempat penyimpanan;

(5) Hama dan penyakit di tempat penyimpanan; (6) Lama penyimpanan (Karim,

2000).

Untuk mendapatkan benih bermutu tinggi, sebelum disimpan biji kedelai

calon benih harus dibersihkan dari kotoran dan benda lainnya seperti: kulit polong,

potongan batang atau ranting; 2 batu, kerikil, atau tanah; 3 biji luka,memar, retak,

atau yang kulitnya terkelupas; 4 biji yang mempunyai bercak ungu; dan 5 biji
berbelang cokelat, yang mungkin mengandung virus mosaik; 6 biji yang kulitnya

keriput atau warnanya tidak mengkilat; dan 7 biji-bijian tanaman lain (Kuswanto,

2003).

Penyimpanan benih ortodoks seperti jagung terletak pada pengaturan kadarair

dan suhu ruang simpan. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang

dikemukakan oleh Harrington (1972) dan Delouche (1990). Namun demikian, suhu

hanya berperan nyata pada kondisi kadar air di mana sel-sel pada benih memiliki air

aktif (water activity) yang memungkinkan proses metabolisme dapat berlangsung.

Proses metabolisme meningkat dengan meningkatnya kadar air benih, dan dipercepat

dengan meningkatnya suhu ruang simpan. Peningkatan metabolisme benih

menyebabkan kemunduran benih lebih cepat (Justice and Bass 1994).

Secara praktis, benih ortodoks dapat disimpan pada suhu kamar (28oC) atau

ruang sejuk (12oC), bergantung pada lama penyimpanan dan kadar air benih yang

akan disimpan. Apabila daya berkecambah benih dipertahankan diatas 80% (sesuai

standar daya berkecambah), maka kadar air benih harus 12% (dapat dicapai melalui

pengeringan dengan sinar matahari pada musim kemarau) agar daya berkecambah

benih masih dapat dipertahankan sampai 10 bulan penyimpanan pada suhu kamar

(28oC). Kalau kadar air benih dapat diturunkan hingga 10%, daya berkecambah benih

dapatdipertahankan sampai 14 bulan, dan lebih dari 14 bulan kalau kadar air benih

pada saat disimpan 8%. Daya berkecambah benih setelah penyimpanan 14 bulan

masih tinggi (89,3%). Di lain pihak, pada kadar air 14%, benih hanya tahan disimpan

selama delapan bulan, dan pada kadarair 16% hanya tahan disimpan sampai empat

bulan (Azrai dkk, 2003).


Benih bermutu tinggi ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan

faktor fisik (geneticandphysicalfaktors). Yang dimaksud dengan faktor genetik ialah

varietas-varietas yang mempunyai genotype baik (good genotype) seperti produksi

tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, responsif terhadap kondisi pertumbuhan

yang lebih baik. Sedangkan yang dimaksud dengan faktor fisik ialah benih bermutu

tinggi yang meliputi kemurnian (high purity), persen perkecambahan tinggi (high

viability and vigor), bebas dari kotoran dan benih rumputan serta bebas dari insek,

kadar air (moisture content of seed) rendah yaitu 12-14 persen untuk benih serealia

dan kedele (Kartono, 2004).

Azrai, M. 2005. Pemanfaatan Markah Molekular dalam Proses Seleksi Pemuliaan


Tanaman. Ulasan. Jurnal AgroBiogen. 1 (1): 26-27.

Buruchaara, E dan Kimani. 2009. Potensi perkecambahan diLapang. Jurnal Potensi


perkecambahan diLapang. Universitas Sumatera Utara.

Bustami, S dan Bakhtiar. 2012. Penyimpanan Benih (Pengemasan dan Penyimpanan


Benih). Jurnal Balai Perbenihan Tanaman Hutan Vol. 1. No. 2 : (1).

Guei, 2011. Seed Storage and Longevity, in : Seed Biology vo. III. ed.by TT.
Kozlowski. Academic Press. New York. London, hlm. 145-157

Haidy, W.G. 2010. Studi Handbook on seed of dry-zone acacias. A guide for
collecting, extracting, cleaning, and stering the seed and for treatment to
promote germination of dry-zone acacias. FAO Rome.

Hamman. B. ; H. Halmajan and D.B. Egli. 2001. Sigle Seed Conductivity and
Seedling Emergence in Soybean. Seed Science and Technology., 29. 575-586

Jones. L.O. dan Rakotoarisaona. 2007. Teknologi Produksi Benih Jahe. Plasma
nutfah dan Perbenihan Tanaman Rempah dan Obat. Perkembangan
Teknologi Tanaman Rempah dan Obat XVI(1): 9−16.

Justice, O. L. dan Bass, L. N. 1994. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih .


Jakarta: Raja Grafindo Persada

Karim. 2000. Pedoman Teknologi Benih. Jakarta: Pembimbing Masa


Kartono. 2004. Teknik penyimpanan benih kedelai varietas wilis pada kadar air dan
suhu penyimpanan yang berbeda. Buletin Teknik Pertanian 9: 79-82.

Kuswanto, H. 2003. Teknologi Pemrosesan, Pengemasan, dan Penyimpanan Benih.


Kanisius, Yogyakarta.