Anda di halaman 1dari 165

KONSTITUSI

HMI MPO

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


(HMI)
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM MAJELIS PENYELAMAT ORGANISASI

HASIL KONGRES
KE-29
KONSTITUSI HMI Anggaran Dasar 1
ANGGARAN DASAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

Bismillahirromanirrahiim

MUQODDIMAH

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah mewahyukan Islam sebagai


ajaran yang haq dan sempurna untuk mengatur umat manusia berperikehidupan sesuai
dengan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi, dengan kewajiban mengabdikan diri
semata-mata kehadirat-Nya.

Menurut iradat Allah Subhanahu Wata’ala, kehidupan yang sesuai dengan fitrah
manusia ialah Islam, yakni paduan utuh antara aspek duniawi dan ukhrawi, individu
dan masyarakat, serta iman, ilmu dan amal dalam mencapai kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat.
Sesuai dengan fungsi penciptaan manusia, umat Islam berkewajiban
mengemban amanah kekhalifahannya guna mewujudkan masyarakat yang diridhoi
Allah Subhanhu Wata’ala.
Mahasiswa Islam sebagai bagian dari umat Islam yang menyadari akan hak dan
kewajibannya, dituntut peran serta dan tanggung jawabnya dalam mengembangkan
dakwah Islamiyah untuk mewujudkan nlai-nilai aqidah, kemanusiaan yang berdasarkan
pada fitrah, ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariah. Umat
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam musyawarah, serta tegaknya
nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kesejahteraan bagi umat manusia dalam rangka
mengabdi kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Meyakini bahwa tujuan itu dapat dicapai dengan hidayah dan taufiq Allah
Subhanahu Wata’ala, serta usaha-usaha yang teratur, terencana dan penuh hikmah
dengan mengharap ridho Allah, kami mahasiswa Islam menghimpun diri dalam satuan
organisasi yang tergerakkan dengan Pedoman Anggaran Dasar sebagai berikut:

Kongres HMI Ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Dasar 2
BAB I

NAMA, WAKTU DAN TEMPAT

Pasal 1 : Organisasi ini bernama Himpunan Mahasiswa Islam di singkat HMI.


Pasal 2 : HMI didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan
dengan tanggal 5 Februari 1947, untuk waktu yang tidak ditentukan.

BAB II
ASAS TUJUAN, USAHA DAN SIFAT

Pasal 3 : HMI Berazaskan Islam.


Pasal 4 : Tujuan yang ingin dicapai adalah terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan
Ulul Albab yang turut bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan
masyarakat yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala.
Pasal 5 : Pencapaian tujuan dilakukan dengan usaha organisasi berupa:
a. Membina mahasiswa Islam untuk menuju tercapainya Insan Mu’abbid,
Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid;
b. Mengembangkan potensi kreatif terhadap berbagai aspek kehidupan;
c. Mengambil peran aktif dan mewarnai dunia kemahasiswaan, perguruan
tinggi dan kemasyarakatan dengan inisiatif, partisipasi yang konstruktif,
kreatif sehingga tercapainya nuansa yang Islami;
d. Memajukan kehidupan umat Islam dan masyarakat pada umumnya sebagai
implementasi rahmatan lil’alamin;
e. Membangun kerjasama dengan organisasi Islam lainnya dan organisasi
lainnya yang berlandaskan pada nilai kemanusiaan, kebenaran dan
keadilan;
f. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan asas organisasi dan berguna untuk
mencapai tujuan.

Pasal 6 : Himpunan Mahasiswa Islam bersifat Independen.

Kongres HMI Ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Dasar 3
BAB III
STATUS DAN IDENTITAS

Pasal 7 : Himpunan Mahasiswa Islam adalah organisasi kemahasiswaan.


Pasal 8 : Himpunan Mahasiswa Islam adalah organisasi perkaderan dan perjuangan.

BAB IV
KEANGGOTAAN

Pasal 9 : Anggota HMI terdiri atas Anggota Muda, Anggota Biasa dan Anggota
Kehormatan.

BAB V
STRUKTUR ORGANISASI

Pasal 10 : HMI berkedudukan di tempat Pengurus Besar.


Pasal 11 : Kekuasaan dipegang oleh Kongres ditingkat pusat, Konferensi di tingkat
cabang dan Rapat Anggota Komisariat ditingkat komisariat;

Pasal 12 : Pimpinan terdiri atas Pengurus Besar, Pengurus Cabang, dan Pengurus
Komisariat;
Pasal 13 : Lembaga Koordinasi merupakan lembaga yang mengkoordinir struktur
pimpinan dalam memastikan akan jalannya kebijakan Pengurus Besar atau
perogram kerja Pengurus Cabang di lingkungan wilayahnya;
Pasal 14 : Lembaga Khusus merupakan lembaga yang menjalankan tugas khusus
organisasi;

Pasal 15 : Lembaga Kekaryaan dibentuk untuk meningkatkan dan mengembangkan


keahlian dan bakat para anggota di bidang tertentu;

Pasal 16 : Di tingkat Pengurus Besar dibentuk Majelis Syuro Organisasi dan apabila
dipandang perlu dapat dibentuk di tingkat cabang.;

Kongres HMI Ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Dasar 4
BAB VI

KESEKRETARIATAN

Pasal 17 : Keberadaan organisasi disimbolkan dalam wujud kesekretariatan yang


dilengkapi dengan alat organisasi lainnya berupa sistem administrasi dan
sistem keprotokoleran;

BAB VII
KEUANGAN

Pasal 18 : Sumber-sumber keuangan HMI diperoleh dari:


a. Uang pangkal, iuran, infaq, dan/atau sumbangan anggota;
b. Usaha-usaha yang sah, halal dan tidak mengikat;

BAB VIII
ATRIBUT ORGANISASI

Pasal 19 : Atribut-atribut Organisasi ditetapkan sebagai simbol-simbol organisasi yang


digunakan dalam aktifitas organisasi.

BAB IX
ATURAN TAMBAHAN

Pasal 20 : Amandemen Anggaran Dasar hanya dilakukan di Kongres melalui prosedur :


a. Pengajuan amandemen oleh struktur pimpinan HMI ditujukan kepada
MSO.
b. Usulan amandemen oleh MSO Pusat diajukan ke Kongres

Kongres HMI Ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Dasar 5
Pasal 21 : a. Dalam Muqadimah alinea 1 dan 2 menjiwai pasal 3, alinea 3 menjiwai
pasal 4 dan 8, alinea 4 menjiwai pasal 6 dan 7 dan alinea 5 menjiwai
pasal-pasal selain yang tercantum diatas.
b. Penjelasan Pasal 3, 4, 5 dan 6 tentang azas, tujuan, usaha dan sifat
disebut Khittoh perjuangan.
c. Penjelasan pasal 7 dan 8 tentang identitas dan status terdapat dalam
pedoman perkaderan (PP).

d. Penjelasan Anggaran Dasar tentang hal-hal diluar huruf a, b dan c diatas


dijelaskan dalam Anggaran Rumah Tangga (ART).
Pasal 22 : Pengesahan ditetapkan pada Kongres ke-3 di Jakarta pada tanggal 4 September
1953, yang diperbaharui pada Kongres ke-4 di Bandung, padatanggal 14 Oktober

1955, Kongres ke-5 di Medan pada tanggal 31 Desember 1957, Kongres ke-6 di

Makassar (Ujung pandang) pada tanggal 20 Juli 1960, Kongres ke-7 di Jakarta

pada tanggal 14 September 1963, Kongres ke-8 di Solo (Surakarta) pada tanggal

17 September 1966, Kongres ke-9 di Malang pada tanggal 10 Mei 1969, Kongres

ke-10 di Palembang pada tanggal 10 Oktober 1971, Kongres ke-11 di Bogor pada

tanggal 12 Mei 1974, Kongres ke-12 di Semarang pada tanggal 16 Oktober 1976,

Kongres ke-13 di Ujung pandang pada tanggal 12 Februari 1979, Kongres ke-14 di

Bandung pada tanggal 30 April 1981, Kongres ke-15 di Medan pada tanggal 26 Mei

1983, Kongres ke-16 di Yogyakarta pada tahun 1986, Kongres ke-17 di Yogyakarta

pada tanggal 5 Juli 1988, Kongres ke-18 di Bogor pada tanggal 10 Oktober 1990,

Kongres ke-19 di Semarang pada tanggal 24 Desember 1992, Kongres ke-20 di

Purwokerto pada tanggal 27 April 1995, Kongres ke-21 di Yogyakarta pada tanggal

28 Juli 1997, kongres ke-22 di Jakarta pada tanggal 26 Agustus 1999, kongres

ke-23 di Makassar tanggal 25 Juli 2001, kongres ke-24 di Semarang tanggal 11

September 2003, kongres ke-25 di Palu tanggal 17 Agustus 2005, kongres ke-26 di

Depok tanggal 16 Agustus 2007, kongres ke-27 di Yogyakarta tanggal 9 Juni 2009,

kongres ke-28 di Pekanbaru tanggal 19 Juni 2011, dan dikukuhkan kembali pada

Kongres ke-29 di Bogor pada tanggal 30 Juni 2013 .

Billahit taufiq walhidayah,

Kongres HMI Ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 1
ANGGARAN RUMAH TANGGA
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

Bismillahirrohmanirrahiim

BAB I
KEANGGOTAAN

BAGIAN I : ANGGOTA

Pasal 1 : Anggota Muda ialah mahasiswa Islam yang telah memenuhi syarat
keanggotaan.

Pasal 2 : Anggota Biasa ialah anggota muda yang telah memenuhi syarat untuk menjadi
anggota biasa dan atau mahasiswa Islam yang telah lulus Latihan Kader I yang
dianggap sah oleh Pengurus Cabang.

Pasal 3 : Anggota Kehormatan ialah orang yang dianggap telah berjasa kepada HMI
yang ditetapkan oleh Pengurus Cabang atau Pengurus Besar.

BAGIAN II : TATA CARA KEANGGOTAAN

Pasal 4 : a. Setiap mahasiswa Islam yang ingin menjadi anggota harus menyatakan
persetujuannya terhadap Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga,
Khittah Perjuangan serta Pedoman-pedoman lainnya;

b. Bila telah memenuhi apa yang tersebut dalam ayat a, serta pernah
mengikuti aktivitas HMI dan memenuhi syarat keanggotaan, maka yang
bersangkutan dinyatakan sebagai Anggota Muda HMI;
c. Anggota muda yang telah memenuhi syarat untuk menjadi anggota biasa
dan atau mahasiswa Islam yang telah lulus Latihan Kader I berhak
menjadi Anggota Biasa;
d. Syarat untuk menjadi anggota kehormatan ditentukan oleh Pengurus
Cabang berdasarkan aturan-aturan HMI setelah melihat dedikasi,
aktivitas, kontinuitas, dan komitmen perjuangannya terhadap HMI.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 2
BAGIAN III : HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA

Pasal 5 : Hak Anggota


a. Anggota Muda berhak mengikuti LK I dan aktivitas-aktivitas lainnya yang
diselenggarakan oleh organisasi;
b. Anggota Muda yang telah memenuhi syarat untuk menjadi Anggota Biasa
dan atau mahasiswa Islam yang telah lulus LK I berhak menjadi Angota
Biasa;
c. Anggota Muda berhak mengikuti kegiatan-kegiatan berdasarkan
ketentuan pimpinan HMI dan berhak mengeluarkan pendapat atau
mengajukan usul, namun tidak mempunyai hak dipilih dan memilih;
d. Anggota Biasa mempunyai hak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul
atau pertanyaan baik dengan lisan maupun tulisan kepada pengurus, serta
mempunyai hak dipilih dan memilih;
e. Anggota kehormatan dapat mengajukan saran atau usul, serta
pertanyaan-pertanyaan kepada Pengurus HMI.
Pasal 6 : Kewajiban Anggota
a. Membayar uang pangkal anggota dan uang iuran anggota yang besarnya
ditentukan oleh masing-masing cabang;
b. Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan HMI;
c. Menjaga nama baik organisasi;
d. Terkecuali bagi Anggota Kehormatan tidak berlaku ayat a.

BAGIAN IV : STATUS KEANGGOTAAN

Pasal 7 : Massa Keanggotaan


a. Masa keanggotaan HMI berlaku sejak menjadi anggota HMI hingga 12
tahun dan sesudahnya disebut alumni.;
b. Anggota yang habis masa keanggotaannya disaat masih memegang
amanah kepengurusan, maka usia keanggotaannya diperpanjang hingga
habis masa kepengurusan.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 3
Pasal 8 : Jabatan Rangkap
a. Anggota HMI yang mempunyai kedudukan pada organisasi atau badan-
badan lainnya di luar HMI harus menyesuaika tindakan-tindakannya
dengan AD/ART dan ketentuan-ketentuan lainnya;
b. Pengurus HMI tidak dibenarkan untuk merangkap jabatan di dalam
struktur HMI, kecuali dalam keadaan tertentu dan atas persetujuan
pimpinan HMI sesuai dengan jenjang kepengurusan.
Pasal 9 : Mutasi Anggota
a. Anggota HMI dapat melakukan Mutasi dari satu cabang ke cabang yang
lain jika pindah Perguruan Tinggi pada cabang yang berbeda;
b. Mutasi anggota HMI dari cabang yang satu ke cabang yang lain diwajibkan
membawa Surat Pengantar dan Kartu Anggota dari cabang asal.

BAGIAN V : PEMBERHENTIAN KEANGGOTAAN

Pasal 10 : Anggota diberhentikan keanggotaannya, karena :


a. Meninggal dunia;
b. Atas permintaan sendiri;
c. Diskors (pemberhentian sementara);
d. Dipecat.
Pasal 11 : Anggota dapat diskors atau dipecat, karena :
a. Bertindak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan HMI;
b. Bertindak merugikan atau mencemarkan nama baik HMI.
Pasal 12 : Tata Cara Skorsing/Pemecatan
a. Tuntutan skorsing/ pemecatan dapat diajukan oleh Pengurus Komisariat
kepada Pengurus Cabang;
b. Tata cara skorsing/pemecatan terhadap anggota dilakukan dengan suatu
peringatan terlebih dahulu, sebanyak-banyaknya 3 (tiga) kali peringatan;
Pasal 13 : Pembelaan
a. Anggota yang diskorsing/pemecatan, dapat membela diri dalam
Konferensi atau forum yang ditunjuk MSO untuk itu dan Pengurus Cabang
berkewajiban untuk melaksanakannya;
b. Putusan skorsing/pemecatan yang diambil di dalam Konferensi atau
forum lain yang ditunjuk MSO dianggap sah apabila sekurang-kurangnya

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 4
dihadiri oleh lebih dari separuh jumlah utusan Komisariat yang
seharusnya hadir;
c. Prosedur pembelaan diatur dalam Pedoman Operasional HMI.

BAB II
STRUKTUR ORGANISASI

A. STRUKTUR KEKUASAAN

BAGIAN I : KONGRES
Pasal 14 : Status
a. Kongres merupakan musyawarah utusan cabang-cabang;
b. Kongres memegang kekuasaan tertinggi organisasi;
c. Kongres diadakan 2 (dua) tahun sekali;
d. Kongres dapat diadakan menyimpang dari ayat c jika atas inisiatif 1 (satu)
Cabang, dan disetujui lebih dari separuh jumlah Cabang-cabang.
Pasal 15 : Kekuasaan/Wewenang
a. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Besar HMI;
b. Mendengar Laporan Pelaksanaan Tugas Majelis Syuro Organisasi;
c. Menetapkan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Khittah
Perjuangan, dan Pedoman-pedoman Operasional HMI;
d. Memilih Ketua Umum HMI yang merangkap sebagai Formateur dan
memilih 4 (empat) Mide Formateur;
e. Menunjuk Majelis Syuro Organisasi.
Pasal 16 : Tata Tertib
a. Peserta Kongres terdiri dari Utusan Cabang dan Peninjau;
b. Utusan Cabang mempunyai Hak Suara dan Hak Bicara;
c. Peninjau hanya memiliki hak bicara;
d. Peninjau adalah Pengurus Besar yang telah dinyatakan demisioner dan
peninjau dari cabang-cabang;
e. Pimpinan Kongres dipilih dari peserta oleh Utusan Cabang, dan berbentuk
Presidium yang memahami KONSTITUSI HMI dengan baik;
f. Steering Committee Kongres memimpin sidang kongres sebelum
Presidium Kongres terbentuk;

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 5
g. Pengurus Besar dinyatakan demisioner setelah pertanggung-jawabannya
dinilai oleh Kongres;
h. Kongres dapat dinyatakan sah apabila telah dihadiri lebih dari separuh
jumlah utusan cabang-cabang;
i. Apabila pada ayat h tidak terpenuhi, maka Kongres diundur selambat-
lambatnya 1 x 24 jam, dan setelah itu dapat dimulai;
j. Jumlah Utusan Cabang dalam Kongres ditentukan dengan rumus:

Sn = a pn-1
Sn : Batas atas Jumlah anggota a: 50
p : Pembanding = 2 n: Jumlah utusan
Contoh Jumlah Anggota Utusan
50 =1
100 =2
200 =3
400 =4
800 =5
1600 =6
Dan seterusnya = dst

k. Jumlah peninjau Cabang ditetapkan oleh Panitia Kongres atas


pertimbangan Steering Committe Kongres;
l. Jumlah Utusan dapat ditetapkan oleh Pengurus Besar HMI atas
persetujuan Majelis Syuro Organisasi untuk cabang yang tidak memiliki
kejelasan jumlah anggota.

BAGIAN II : KONFERENSI

Pasal 17 : Status
a. Konferensi merupakan musyawarah utusan komisariat-komisariat di
tingkatan cabang;
b. Konferensi memegang kekuasaan tertinggi ditingkat cabang;
c. Konferensi diadakan 1 (satu) kali setahun;

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 6
d. Konferensi dapat diadakan menyimpang dari ketentuan b jika atas
inisiatif 1 (satu) komisariat, dan disetujui lebih dari separuh jumlah
utusan komisariat.
Pasal 18 : Kekuasaan/Wewenang
a. Menetapkan Garis Besar Program Kerja sebagai pengejawantahan
Ketetapan-ketetapan Kongres;
b. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Cabang HMI;
c. Memilih Ketua Umum yang merangkap sebagai Formateur dan kemudian
memilih 4 (empat) Mide Formateur;
d. Mendengar Laporan Pelaksanaan Tugas MSO Cabang;
e. Menunjuk anggota MSO Cabang
Pasal 19 : Tata Tertib
a. Peserta Konferensi terdiri dari Utusan Komisariat, dan Peninjau;
b. Utusan Komisariat memiliki Hak Suara dan Hak Bicara;
c. Peninjau hanya memiliki hak bicara;
d. Peninjau adalah Pengurus Cabang yang telah demisioner dan peninjau
dari Komisariat-komisariat;
e. Pimpinan Konferensi dipilih dari peserta oleh Utusan k, dan berbentuk
Presidium yang memahami KONSTITUSI HMI dengan baik;
f. Steering Committee Konfrensi memimpin sidang konferensi sebelum
Presidiun Konferensi terbentuk;
g. Pengurus Cabang dinyatakan demisioner setelah pertanggung-
jawabannya dinilai oleh Konferensi;
h. Konferensi dinyatakan sah bila dihadiri lebih dari separuh utusan
Komisariat;
i. Apabila ayat h tidak terpenuhi, maka Konferensi diundur selambat-
lambatnya 1 x 24 jam, dan setelah itu dianggap sah;
j. Jumlah Utusan Komisariat pada Konferensi disesuaikan dengan pasal 16
ayat j dengan ketentuan a = 10 (sepuluh);
k. Jumlah peninjau dari Komisariat ditentukan oleh Panitia konferensi atas
persetujuan Steering Committe;
l. Jumlah Utusan dapat ditetapkan oleh Pengurus Cabang atas persetujuan
MSO pada komisariat yang tidak memiliki kejelasan jumlah anggota.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 7
m. Untuk cabang yang memiliki kurang dari 3 komisariat, maka utusannya
adalah anggota cabang;
n. Bila point m tidak terpenuhi, sidang ditunda selambat-lambatnya 1 x 24
jam dan setelah itu dianggap sah.

BAGIAN III : RAPAT ANGGOTA

Pasal 20 : Status
a. Rapat Anggota merupakan musyawarah anggota Komisariat;
b. Rapat Anggota memegang kekuasaan tertinggi ditingkat Komisariat;
c. Rapat Anggota diadakan 1 (satu) tahun sekali;
d. Rapat Anggota dapat menyimpang dari ayat a jika atas inisiatif 1 (satu)
anggota dan disetujui lebih dari separuh jumlah anggota pleno
Komisariat.
Pasal 21 : Kekuasaan/Wewenang
a. Menetapkan Garis Besar Haluan Kerja Komisariat sebagai bentuk
pengejawantahan Ketetapan Konferensi;
b. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Komisariat;
c. Memilih Ketua Umum merangkap sebagai Formateur dan kemudian
memilih 4 (empat) Mide Formateur;
Pasal 22 : Tata Tertib
a. Peserta Rapat Anggota adalah Pengurus Komisariat dan Anggota
Komisariat;
b. Anggota Komisariat memiliki Hak Suara dan Hak Bicara;
c. Pengurus Komisariat hanya memiliki Hak Bicara;
d. Pimpinan Rapat Anggota dipilih dari peserta oleh Anggota Komisariat, dan
berbentuk Presidium yang memahami KONSTITUSI HMI dengan baik;
e. Steering Committee Rapat Anggota memimpin sidang rapat anggota
sebelum Presidium rapat anggota terbentuk;
f. Pengurus komisariat dinyatakan demisioner setelah Laporan
pertanggung-jawabannya dinilai oleh Rapat Anggota;

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 8
g. Rapat Anggota dinyatakan sah apabila dihadiri lebih dari separuh
anggota;
h. Apabila ayat g tak dapat dipenuhi, Rapat Anggota dapat diundur maskimal
1 x 24 jam dan dinyatakan sah;

B. STRUKTUR PIMPINAN

BAGIAN I : PUSAT
Pasal 23 : Status
a. Pengurus Besar adalah badan tertinggi di struktur kepemimpinan HMI;
b. Masa jabatan Pengurus Besar adalah 2 (dua) tahun;
Pasal 24 : Pengurus Besar
a. Pengurus Besar terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, Bendahara
Umum. Pengurus Harian, Lembaga koordinasi, Lembaga-lembaga
Kekaryaan dan Lembaga-lembaga Khusus dan para stafnya;
b. Pengurus Besar adalah anggota HMI yang pernah menjadi Pengurus
Cabang, dan telah lulus Latihan Kader II dan senior course;
c. Apabila Ketua Umum berhalangan tetap, maka dapat diangkat Pejabat
Ketua Umum oleh Rapat Presidium Pengurus Besar;
Pasal 25 : Tugas dan Kewajiban :
a. Pengurus Besar Melaksanakan Ketetapan-Ketetapan Kongres;
b. Pengurus Besar menjalankan tugasnya setelah dilakukan serah terima
dari pengurus periode sebelumnya;
c. Pengurus Besar wajib mengumumkan ke seluruh Cabang segala Kebijakan
Strategis HMI;
d. Ketua Umum Pengurus Besar HMI bertanggungjawab pada Kongres.
Pasal 26 : Forum pengambilan keputusan pengurus besar terdiri dari :
a. Rapat pleno, adalah forum pengambilan keputusan untuk mengevaluasi
atas pelaksanaan amanah kongres yang diadakan minimal tiap 6 bulan dan
minimal dihadiri oleh ketua umum, sekretaris jendral, bendahara umum,
dan lebih dari separuh pimpinan lembaga-lembaga HMI;

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 9
b. Rapat presidium adalah forum pengambilan keputusan strategis
organisasi yang dihadiri oleh hanya ketua umum, sekretaris jendral,
bendahara umum, dan lebih dari separuh pimpinan lembaga-lembaga
HMI;
c. Rapat harian adalah forum koordinasi yang diadakan secara periodik yang
dipimpin oleh ketua umum atau sekretaris jendral

BAGIAN II : C A B A N G
Pasal 27 : Status
a. Cabang merupakan kesatuan organisasi yang dibentuk oleh Pengurus
Besar di tempat yang ada Perguruan Tinggi pada satu Kabupaten/Kota
atau di beberapa kabupaten/kota;
b. Cabang dapat didirikan dengan sekurang-kurangnya memiliki Ketua
Umum, Sekretaris Umum dan Bendahara Umum, dan disahkan oleh Ketua
Umum dan Sekretaris Jenderal HMI dengan status cabang persiapan;
c. Cabang persiapan menjadi cabang Penuh jika telah memenuhi 30 anggota
dan telah mendapat bimbingan minimal satu tahun oleh Pengurus Besar;
d. Penetapan Cabang Penuh dilakukan melalui Surat Keputusan Ketua Umum
dan Sekretaris Jendral Pengurus Besar HMI;
e. Pendirian cabang dapat dilakukan oleh Anggota atau Komisariat yang
sebelumnya telah masuk pada satu cabang tertentu yang disetujui oleh
pengurus cabang bersangkutan.
Pasal 28 : Pengurus Cabang
a. Pengurus Cabang adalah badan tertinggi dalam struktur kepemimpinan
HMI ditingkat Cabang;
b. Pengurus Cabang terdiri dari Ketua Umum dan Pengurus Harian,
Koordinator Komisariat, Lembaga-lembaga Khusus, dan
Lembaga-lembaga Kekaryaan;
c. Masa jabatan Pengurus Cabang adalah 1 (satu) tahun;
d. Pengurus Cabang adalah anggota yang pernah menjadi Pengurus
Komisariat dan/atau telah lulus Latihan Kader II;
e. Apabila Ketua Umum Pengurus Cabang berhalangan tetap, dapat diangkat
Pejabat Ketua Umum oleh Rapat Presidium Pengurus Cabang.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 10
Pasal 29 : Tugas dan Kewajiban
a. Pengurus Cabang melaksanakan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan
Pengurus Besar dan Ketetapan-Ketetapan Konferensi;
b. Pengurus Cabang menjalankan tugasnya setelah dilakukan serah terima
dari kepengurusan periode sebelumnya;
c. Pengurus Cabang harus memberikan laporan kepada Pengurus Besar Tiap
4 (empat) bulan;
d. Ketua Umum Cabang bertanggungjawab pada Konferensi.
Pasal 30 : Forum pengambilan keputusan pengurus cabang terdiri dari :
a. Rapat pleno, adalah forum pengambilan keputusan untuk mengevaluasi
atas pelaksanaan amanah konferensi yang diadakan minimal tiap 3 bulan
dan minimal dihadiri oleh ketua umum, sekretaris umum, bendahara
umum, dan lebih dari separuh pimpinan lembaga-lembaga HMI;
b. Rapat presidium adalah forum pengambilan keputusan strategis
organisasi yang dihadiri oleh hanya ketua umum, sekretaris umum,
bendahara umum, dan lebih dari separuh pimpinan lembaga-lembaga
HMI;
c. Rapat harian adalah forum koordinasi yang diadakan secara periodik yang
dipimpin oleh ketua umum atau sekretaris umum.

BAGIAN III : KOMISARIAT

Pasal 31 : Status
a. Komisariat merupakan kesatuan organisasi pada suatu Perguruan
Tinggi/Fakultas/Jurusan, atau beberapa Fakultas/Jurusan pada
perguruan tinggi yang sama yang dibentuk oleh Pengurus Cabang;
b. Pendirian Komisariat dapat dilakukan sekurang-kurangnya harus ada 3
(tiga) anggota komisariat dengan status komisariat persiapan;
c. Komisariat persiapan menjadi komisariat penuh jika telah memenuhi 10
anggota dan telah mendapat bimbingan minimal 6 bulan dari cabang;
d. Pendirian Komisariat dapat dilakukan oleh Anggota HMI yang sebelumnya
telah masuk dalam satu komisariat tertentu dengan mengajukan

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 11
permohonan kepada Pengurus Cabang untuk mendapat persetujuan serta
pertimbangan komisariat tersebut.
Pasal 32 : Pengurus Komisariat:
a. Pengurus Komisariat adalah badan tertinggi dalam struktur
kepemimpinan HMI ditingkat Komisariat;
b. Pengurus Komisariat memiliki masa jabatan 1 (satu) tahun;
c. Pengurus Komisariat minimal terdiri dari Ketua, Sekretaris dan
Bendahara;
d. Pengurus Komisariat merupakan anggota biasa Komisariat;
e. Apabila Ketua Komisariat berhalangan tetap, dapat diangkat Pejabat
Ketua Umum oleh Rapat Koordinasi Pengurus Komisariat.
Pasal 33 : Tugas dan Kewajiban
a. Pengurus Komisariat melaksanakan Keputusan-keputusan Pengurus
Cabang dan Ketetapan-ketetapan Rapat Anggota;
b. Pengurus Komisariat menjalankan tugasnya setelah dilakukan serah
terima dari pengurus periode sebelumnya;
c. Pengurus Komisariat harus memberikan laporan kepada Pengurus Cabang
tiap 4 (empat) bulan;
d. Ketua Umum Komisariat HMI sebagai pemimpin Pengurus Komisariat
bertanggungjawab pada Rapat Anggota.
Pasal 34 : Forum pengambilan keputusan pengurus besar terdiri dari :
a. Rapat pleno, adalah forum pengambilan keputusan untuk mengevaluasi
atas pelaksanaan amanah rapat anggota yang diadakan minimal tiap 3
bulan dan minimal dihadiri oleh ketua umum, sekretaris umum,
bendahara umum, dan lebih dari separuh pimpinan lembaga-lembaga
HMI;
b. Rapat presidium adalah forum pengambilan keputusan strategis
organisasi yang dihadiri oleh hanya ketua umum, sekretaris umum,
bendahara umum, dan lebih dari separuh pimpinan lembaga-lembaga
HMI;
c. Rapat harian adalah forum koordinasi yang diadakan secara periodik yang
dipimpin oleh ketua umum atau sekretaris umum.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 12
BAGIAN IV : PENGURUS HARIAN

A. KOMISI KEBIJAKAN
Pasal 35 : Status
a. Komisi kebijakan adalah bentuk Pengurus Harian dari Pengurus Besar;
b. Komisi kebijakan disusun oleh Formatur dan Mide Formatur dengan
ketetapan Ketua Umum HMI;
c. Formasi Komisi Kebijakan adalah Ketua Komisi Kebijakan dan para
anggota Komisi Kebijakan;
Pasal 36 : Tugas dan Kewajiban
a. Menetapkan kebijakan-kebijakan keorganisasian HMI;
b. Melakukan kerjasama-kerjasama organisasi dengan berbagai pihak;
c. Bertanggungjawab terhadap Ketua Umum HMI;

B. BIDANG KERJA
Pasal 37 : Status
a. Bidang Kerja adalah bentuk Pengurus Harian dari Pengurus Cabang;
b. Bidang Kerja disusun oleh Formatur dan Mide Formatur dengan ketetapan
Ketua Umum Cabang HMI;
c. Formasi Bidang Kerja adalah Ketua Bidang dan para anggota Bidang.
Pasal 38 : Tugas dan Kewajiban
a. Membantu Ketua Umum dalam Menjalankan amanah Konferensi yang
diberikan pada kepengurusan menurut bidang kerjanya;
b. Membantu Ketua Umum dalam menjalankan organisasi:
c. Bertanggungjawab terhadap Ketua Umum Cabang;

C. UNIT AKTIFITAS
Pasal 39 : Status
a. Unit Aktifitas adalah bentuk minimal Pengurus Harian dari Pengurus
Komisariat;
b. Unit Aktifitas disusun oleh Formatur dan Mide Formatur dengan
ketetapan Ketua Umum Komisariat HMI;
c. Formasi Unit Aktifitas adalah Ketua Unit Aktifitas dan para anggota
Anggota Unit aktifitas;

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 13
d. Unit Aktifitas dapat dibentuk dalam bentuk Bidang kerja bagi komisariat
yang sehat.
Pasal 40 : Tugas dan Kewajiban
a. Membantu Ketua Umum dalam menjalankan amanah Rapat Anggota yang
diberikan pada kepengurusan;
b. Membantu Ketua Umum dalam menjalankan organisasi:
c. Bertanggungjawab terhadap Ketua Umum Komisariat;

BAGIAN V : LEMBAGA KOORDINASI

A. BADAN KOORDINASI
Pasal 41 : Status
a. Badan Koordinasi adalah Pengurus Besar yang mengkoordinir aktifitas
internal HMI di beberapa cabang dalam satu wilayah tertentu;
b. Pembagian wilayah yang dikoordinir ditetapkan Ketua Umum HMI;
Pasal 42 : Struktur
a. Formasi Pengurus Badan Koordinasi sekurang-kurangnya terdiri dari
Ketua, Sekretaris, dan Bendahara;
b. Pejabat Ketua Badan Koordinasi dapat diangkat oleh Ketua Umum HMI,
jika Ketua Badan Koordinasi tersebut berhalangan tetap, dengan
memperhatikan aspirasi Cabang-cabang;
c. Masa jabatan Pengurus Badan Koordinasi adalah 2 (dua) tahun;
Pasal 43 : Tugas dan Kewajiban
a. Mengkoordinir kebijakan-kebijakan Pengurus Besar oleh cabang-cabang
diwilayah koordinasinya;
b. Menjalankan peran-peran HMI dicabang-cabang wilayahnya;
c. Membentuk Cabang baru di wilayah koordinasinya;
d. Melantik Pengurus Cabang di Wilayah Koordinasinya
e. Memberikan bimbingan, mengkoordinasikan, dan mengawasi kegiatan-
kegiatan Cabang dalam wilayah koordinasinya;
f. Meminta laporan Cabang-Cabang dalam wilayah koordinasinya;
g. Bertanggungjawab terhadap Ketua Umum HMI;
h. Memberikan laporan kerja ke Musyawarah Badan Koordinasi;

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 14
i. Melaksanakan segala hal yang diputuskan di Musyawarah Daerah;
j. Mengeluarkan kebijakan di wilayah koordinasinya selama tidak
bertentangan dengan kebijakan pengurus besar HMI
Pasal 44 : Musyawarah Badan Koordinasi
a. Musyawarah Badan Koordinasi adalah musyawarah utusan cabang-cabang
di wilayah Badan Koordinasi yang diadakan 2 (dua) tahun sekali;
b. Kekuasaan dan wewenang Musyawarah Badan Koordinasi adalah memilih
3 (tiga) orang calon Ketua dan menentukan Haluan Kerja Badan
Koordinasi;
c. Ketua Badan Koordinasi ditetapkan Ketua Umum Pengurus Besar HMI dari
nama-nama calon yang diajukan Musyawarah Badan Koordinasi;
d. Jumlah utusan cabang di Musyawarah Badan Koordinasi sesuai pasal 16 j.

B. KOORDINATOR KOMISARIAT
Pasal 45 : Status
a. Koordinator Komisariat adalah Pengurus Cabang yang mengkoordinir
Komisariat di 1 (satu) atau beberapa Perguruan Tinggi;
b. Pembagian komisariat yang dikoordinir ditetapkan Ketua Umum Cabang;
Pasal 46 : Struktur
a. Formasi Pengurus Koordinator Komisariat sekurang-kurangnya terdiri dari
Ketua, Sekretaris dan Bendahara;
b. Pejabat Ketua Koordinator Komisariat dapat diangkat oleh Ketua Umum
Cabang HMI jika Ketua Koordinator Komisariat tersebut berhalangan
tetap, dengan memperhatikan aspirasi komisariat- komisariat;
c. Masa jabatan Pengurus Koordinator Komisariat adalah 1 (satu) tahun.

Pasal 47 : Tugas dan Kewajiban


a. Membimbing dan membina Komisariat-Komisariat di lingkungannya;
b. Mengkoordinasikan dan mengawasi Komisariat dilingkungannya;
c. Mengkoordinir pelaksanaan program kerja kepengurusan cabang di
komisariat-komisariat lingkungannya;
d. Membantu pelaksanaan operasional program Kerja kepengurusan cabang
untuk lingkungannya;
e. Bertanggungjawab terhadap Ketua Umum Cabang HMI;
f. Melaksanakan keputusan Musyawarah Koordinator Komisariat.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 15
g. Mengeluarkan kebijakan di wilayah koordinasinya selama tidak
bertentangan dengan kebijakan pengurus cabang HMI
Pasal 48 : Musyawarah Koordinator Komisariat
a. Musyawarah Koordinator Komisariat adalah musyawarah utusan
komisariat-komisariat di lingkungannya, yang diadakan 1 (satu) tahun
sekali;
b. Memilih maksimal 3 (tiga) orang calon Ketua dan menentukan Garis Besar
Program Kerja Koordinator Komisariat;
c. Ketua Koordinator Komisariat ditentukan oleh Ketua Umum Pengurus
Cabang dari nama-nama calon yang diajukan Musyawarah Koordinator
Komisariat;
d. Jumlah utusan Komisariat yang hadir pada Musyawarah Koordinator
Komisariat disesuaikan dengan pasal 19 ayat j dengan ketentuan a = 30

BAGIAN VI : LEMBAGA KHUSUS


Pasal 49 : Status
a. Lembaga-lembaga Khusus HMI adalah bagian dari struktur pimpinan yang
memiliki peran-peran khusus;
b. Lembaga-lembaga Khusus bersifat semi otonom;
c. Lembaga-lembaga Khusus HMI dibentuk oleh pimpinan HMI sesuai dengan
kebutuhan;
d. Lembaga-lembaga Khusus HMI dapat berupa: Korp HMI-wati (Kohati),
Korp Pengader (KP), dan Pusat Arsip dan lainnya yang dibentuk Pengurus
HMI.
Pasal 50 : Struktur
a. Formasi Pengurus Lembaga-lembaga Khusus HMI sekurang-kurangnya
terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan Bendahara;
b. Bila diperlukan, pada tingkat pusat dapat dibentuk Koordinator Nasional
lembaga-lembaga khusus.
Pasal 51 : Tugas dan Kewajiban
a. Lembaga-lembaga Khusus bertugas melaksanakan program dan
kewajiban-kewajiban HMI sesuai dengan fungsi dan perannya masing-
masing;
b. Pengurus lembaga-lembaga khusus berkewajiban melaksanakan hasil
Musyawarah lembaga Khusus;

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 16
c. Pimpinan Lembaga Khusus bertanggungjawab pada Struktur
Kepemimpinan HMI dengan melaksanakan Laporan Pelaksanaan Tugas
dalam lembaganya;
d. Lembaga Khusus memberikan laporan kerja kepada Struktur
Kepemimpinan HMI minimal 2 (dua) kali selama satu periode dan/atau
jika sewaktu-waktu bila diminta Struktur kepemimpinan.
Pasal 52 : Musyawarah
a. Status musyawarah Lembaga Khusus adalah merupakan forum kekuasaan
tertinggi di internal lembaga khusus dengan tanpa bertentangan dengan
ketetapan-ketetapan lembaga kekuasaan HMI ditingkatannya;
b. Musyawarah Lembaga Khusus HMI berhak mengajukan sebanyak-
banyaknya 3 (tiga) calon Pimpinan Lembaga Khusus untuk ditetapkan oleh
pimpinan HMI.

BAGIAN VII : LEMBAGA KEKARYAAN


Pasal 53 : Status
a. Lembaga Kekaryaan adalah bagian dari struktur pimpinan HMI yang
memiliki peran kekaryaan;
b. Lembaga-lembaga kekaryaan bersifat semi otonom;
c. Lembaga-lembaga kekaryaan dibentuk bila ada aspirasi dan kebutuhan
anggota, yang memiliki minat dan bakat di bidang yang sama;
d. Lembaga Kekaryaan memiliki spesifikasi bidang yang mengarah pada
peningkatan keahlian dan profesionalitas tertentu.
Pasal 54 :Struktur
a. Formasi pengurus Lembaga-lembaga Kekaryaan sekurang-kurangnya
terdiri dari Direktur dan Staf Direktur;
b. Bila diperlukan, pada tingkat pusat dapat dibentuk Koordinator Nasional
lembaga-lembaga kekaryaan.
Pasal 55 : Tugas dan Kewajiban
a. Lembaga-lembaga Kekaryaan mempunyai tugas meningkatkan dan
mengembangkan keahlian dan profesionalisme anggota HMI pada bidang
tertentu dalam bentuk kerja kemanusiaan;
b. Pengurus lembaga-lembaga kekaryaan berkewajiban melaksanakan hasil
Musyawarah lembaga kekaryaan;

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 17
c. Pimpinan lembaga-lembaga kekaryaan bertanggungjawab pada Struktur
Kepemimpinan HMI dengan melaksanakan pertanggung-jawabannya pada
Struktur Kekuasaan di tingkatannya;
d. Pengurus memberikan laporan kerja kepada pimpinan HMI minimal 2
(dua) kali selama satu periode;
e. Koordinator Nasional berperan dalam usaha mendorong keberhasilan
pencapaian tujuan lembaga kekaryaan ditingkatan Cabang.
Pasal 56 : Musyawarah
a. Status musyawarah Lembaga-lembaga Kekaryaan adalah merupakan
rapat anggota yang bertugas untuk merumuskan dan mengevaluasi
program-program kerja lembaga-lembaga kekaryaan;
b. Musyawarah Lembaga Kekaryaan HMI berhak mengajukan satu atau
beberapa calon pimpinan Lembaga Kekaryaan untuk ditetapkan oleh
pimpinan HMI.

C. MAJELIS SYURO ORGANISASI (MSO)


Pasal 57 : Status
a. MSO berstatus sebagai Lembaga Konsultasi dan Lembaga Peradilan HMI;
b. Sidang MSO adalah Majelis yang terdiri dari sebagian besar anggota MSO;
c. Anggota MSO adalah anggota HMI yang telah menjadi Pengurus HMI
maksimal 2 (dua) periode sebelumnya dengan jumlah maksimal 13 orang.
Pasal 58 : Struktur MSO terdiri dari Koordinator dan anggota MSO
Pasal 59 : Tugas dan kewajiban
a. Memberikan pertimbangan dan saran kepada struktur kepemimpinan HMI
untuk menentukan kebijakan-kebijakan;
b. Memberikan keputusan atas konflik yang terjadi dalam struktur
kepemimpinan HMI yang tidak bisa diselesaikan oleh ketua umum struktur
kepemimpinan tersebut melalui proses persidangan;
c. Memberikan Laporan Pelaksanaan Tugas pada Struktur Kekuasaan.
d. MSO Pusat bertugas untuk menampung dan memberikan pertimbangan
terhadap usulan amandemen dari struktur pimpinan HMI untuk diajukan
ke Kongres.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 18
Pasal 60 : Tata Kerja
a. Tata Kerja MSO diselenggarakan oleh Koordinator MSO;
b. Sebelum Koordinator MSO terpilih, sidang MSO pertama diselenggarakan
dan dipimpin oleh struktur kepemimpinan;
c. MSO dapat membuat tim-tim kerja melalui keputusan sidang MSO yang
dihadiri lebih dari separuh jumlah anggota MSO;
d. MSO melaporkan pelaksanaan tugasnya pada struktur kekuasaan.

BAB III
KESEKRETARIATAN

Pasal 61:Kesekretariatan memiliki fungsi dalam menjalankan sistem keadministrasian,


dan sistem keprotokoleran organisasi.
Pasal 62:Sistem administrasi merupakan sistem organisasi dalam mengatur sirkulasi
administrasi.
Pasal 63:Sistem keprotokoleran merupakan sistem organisasi dalam mengatur
prosedur aktifitas elemen-elemen organisasi.
Pasal 64 :Sekretariat berfungsi sebagai tempat domisili tiap Struktur kepemimpinan
HMI yang berperan sebagai sentral koordinasi organisasi dan sarana aktifitas
strukutur keorgansiasian serta alat interaksi lembaga dengan
lingkungannya;

BAB IV
KEUANGAN

Pasal 65 : Sumber Keuangan Internal organisasi berasal dari Uang Pangkal dan Iuran
yang diserahkan Anggota.
Pasal 66 :Uang pangkal diberikan Anggota kepada Pengurus Cabang saat ia
mendaftarkan diri jadi Anggota HMI.
Pasal 67 :Iuran anggota diberikan Anggota kepada Pengurus Komisariat secara periodik
selama ia menjadi Anggota HMI.
Pasal 68 :20 (dua puluh) persen iuran anggota yang diterima pengurus Komisariat
adalah hak milik dari Pengurus Cabang dan maksimal 20 (dua puluh) dari
jumlah yang diterima Pengurus Cabang adalah hak milik Pengurus besar.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Anggaran Rumah Tangga 19
Pasal 69 : Tiap Struktur Kepemimpinan, Struktur Kekuasaan dan MSO berhak menerima
dana dari pihak eksternal sesuai dengan pedoman yang berlaku.
Pasal 70 : Pengelolaan Keuangan pada Struktur Kekuasaan, Struktur Pimpinan dan MSO
harus berdasarkan prinsip akuntabilitas dan keadilan.
Pasal 71 : Seluruh kekayaan HMI akan diserahkan pada pihak yang akan ditunjuk oleh
kongres saat pembubaran organisasi.

BAB IV
ATRIBUT ORGANISASI

Pasal 72 :Atribut-atribut Organisasi yang dipakai dalam operasional organisasi


ditetapkan oleh Kongres.
Pasal 73 : Jenis-jenis Atribut organisasi HMI terdiri dari Lambang HMI, Bendera HMI,
Baret HMI, Muts HMI, Selempang HMI, Himne HMI, dan Mars Hijau Hitam.
Pasal 74 : Lembaga Khusus dapat menentukan jenis dan bentuk atributnya tersendiri
melalui Musyawarah Lembaga Khusus.

BAB V
ATURAN TAMBAHAN

Pasal 75 : Keputusan pembubaran HMI dilakukan di kongres dengan persetujuan


minimal 2/3 utusan-utusan cabang.
Pasal 76 : Anggaran Rumah Tangga merupakan pedoman penjelas Anggaran Dasar HMI
yang kemudian diturunkan dalam pedoman-pedoman operasional berupa:
Pedoman Keanggotaan, Pedoman Struktur Organisasi, Pedoman
Kesekretariatan, Pedoman Keuangan, Pedoman Atribut, dan Pedoman
Lembaga-lembaga yang ditetapkan di Kongres.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keanggotaan 1
PEDOMAN KEANGGOTAAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

Bismillahirrohmanirrahiim

PENDAHULUAN

Anggota dalam keorganisasian HMI merupakan elemen penting dalam gerak


organisasi. Garis perjuangan organisasi yang melakukan pembentukan individu- individu
menjadi insan ulil albab, menjadikan anggota merupakan sebuah entitas yang utama
dalam pencapaian tujuan organisasi. Garis perjuangan organisasi dalam pembentukan
masyarakat yang diridhoi oleh Allah juga menjadikan anggota sebagai tangan utama
organisasi dalam melakukan perwujudan cita-cita tersebut.
Pada organisasi umumnya anggota diperlakukan sebagai sumber daya yang
harus digunakan organisasi dalam mencapai tujuannya. Namun bagi organisasi yang
bernama Himpunan Mahasiswa Islam anggota juga menjadi sasaran perjuangan
organisasi. Oleh sebab itu segala aturan aturan dasar dan aturan penjelas organisasi
harus lebih diturunkan pada tingkat operasional agar ada kejelasan kapan anggota
menjadi tenaga organisasi dan kapan anggota menjadi sasaran organisasi. Pengaturan
ini di perlukan juga untuk menghindari adanya konflik peran yang terjadi akibat adanya
dua peran anggota yang diberikan organisasi kepadanya.
Kejelasan organisasi mengelola entitas yang bernama anggota merupakan satu
faktor utama yang akan menjadikan organisasi dikatakan berhasil atau gagal dalam
gerak hidupnya. Misi dan visinya serta tujuannya tentu tidak akan lepas dari entitas
yang bernama anggota. Bagi HMI sendiri anggota juga menjadi sebuah kunci regenerasi
atas kehidupan organisasi. Artinya anggotalah yang menentukan apakah organisasi
harus diam, berhenti, atau bergerak. Anggotalah yang menentukan apakah organisasi
memiliki kualitas yang baik atau tidak. Anggotalah yang menentukan apakah organisasi
memiliki potensi yang besar dan dapat disalurkan atau tak meiliki potensi sama sekali.
Pedoman Keanggotaan merupakan sebuah cerminan bagaimana organisasi
memperlakukan anggota dalam hidup organisasi. Dengan demikian akan terlihat apakah
pentingnya anggota bagi organisasi diikuti oleh keseriusan sistem organisasi HMI untuk
hidup bersama entitas yang bernama anggota.

Ditetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keanggotaan 2
BAB I
ANGGOTA

Anggota Himpunan Mahasiswa Islam adalah semua pihak yang diakui sebagai
individu yang terlibat aktif dalam perjalanan roda organisasi. Individu individu ini
terbagi oleh tiga golongan yaitu: Anggota Muda, Anggota Biasa dan Anggota
Kehormatan. Mahasiswa Islam yang ikut serta secara sukarela dalam aktifitas organisasi
HMI yang telah memiliki syarat yang disahkan oleh struktur pimpinan disebut dengan
anggota muda. Anggota Biasa merupakan mahasiswa Islam yang telah lulus Latihan
Kader I. Sedangkan Anggota Kehormatan adalah orang yang telah berjasa kepada HMI
yang ditetapkan oleh Pengurus Cabang atau Pengurus Besar.
Oleh sebab itu semua mahasiswa Islam, baik itu pada tingkatan diploma (D1
sampai D4), sarjana, atau pasca sarjana (program S2 dan S3) dapat menjadi Anggota
Biasa dengan memenuhi persyaratan keanggotaan yang telah ditentukan. Perguruan
tinggi dan lembaga pendidikan yang sederajat adalah semua lembaga pendidikan yang
berstatus sebagai Universitas, Institut, Akademi dan Sekolah Tinggi dan pondok
pesantren yang setingkat merupakan bentuk-bentuk lembaga pendidikan tinggi yang
diakui HMI. Rekrutmen Anggota Biasa lebih diharapkan dilakukan oleh pihak komisariat.
Hal ini disebabkan karena peran komisariat dalam organisasi adalah sebagai kantong
massa. Sedangkan cabang melakukan legalisasi keanggotan yang dilakukan secara
periodik maupun non periodik. Keputusan legalisasi sebaiknya diumumkan pada
event-event organisasi HMI yang diikuti oleh ritual pelantikan keanggotaan dalam event
tersebut. Event itu dapat berupa Latihan Kader, Training, Seminar, Diskusi, Rihlah,
Rapat Kepengurusan dan lain sebagainya.
Anggota Kehormatan HMI merupakan individu individu yang dinilai berjasa bagi
organisasi yang membantu gerak organisasi pada waktu tertentu. Penilaian dilakukan
oleh Pengurus Cabang dan Pengurus Besar atas dasar permintaan Anggota Biasa atau
permintaan struktur kepemimpinan HMI. Dasar penilaian lainnya adalah sejauh mana
individu tersebut membantu organisasi HMI secara keseluruhan (bukan bagian-bagian
struktur) sehingga terjadi penguatan peran HMI dalam masyarakat dari waktu kewaktu.
Hasil penilaian yang memutuskan keabsahan keanggotaan tersebut dituangkan dalam
sebuah Surat Keputusan Pengurus Cabang atau Pengurus Besar. Pengeluaran Surat
Keputusan ini dapat dilakukan setiap waktu sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Ditetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keanggotaan 3
Khusus untuk penjaringan anggota muda yang dipersiapkan untuk menjadi
anggota biasa yang secara sah diakui oleh HMI, dapat pula ditangani oleh lembaga-
lembaga khusus maupun kekaryaan di tingkat cabang. Hal ini dimaksudkan sebagai
upaya mengembangkan sayap organisasi, eksperimentasi kelembagaan, dan
memfungsikan lembaga-lembaga tersebut.

BAB II
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA

1. Hak Anggota
Seperti yang tercantum dalam Anggaran Dasar HMI anggota memiliki hak untuk
mengikuti segala bentuk aktifitas HMI seusai dengan aturan-aturan yang ditetapkan.
Namun demikian dalam proses pengambilan keputusan Anggota Biasa mempunyai hak
mengeluarkan pendapat, mengajukan usul atau pertanyaan dengan lisan atau tertulis
kepada Pengurus, serta mempunyai hak dipilih dan memilih dan Anggota Kehormatan
meimiliki hak untuk mengajukan saran atau usul, dan pertanyaan-pertanyaan kepada
Pengurus HMI saja.
Hak memilih anggota biasa berlaku bagi semua struktur kekuasaan (Kongres,
Konferensi, dan Rapat anggota). Akan tetapi hak dipilih bersifat terbatas. Ada
kualifikasi tertentu untuk bisa menjadi pengurus apalagi dicalonkan sebagai ketua
umum. Di komisariat cukup dengan standar kualifikasi LK I, untuk ketua umum HMI
Cabang minimal lulus LK II, Sedangkan untuk menjadi ketua umum PB HMI harus lulus
LK II dan SC.

2. Kewajiban Anggota
Kewajiban anggota yang dituntut organisasi ada tiga peranan yaitu:
1. Peranan pada keuangan organisasi berupa uang pangkal dan iuran anggota
(kecuali Anggota Kehormatan)
2. Peranan pada seluruh aktifitas organisasi, dan
3. Peranan anggota dalam menjaga nama baik organisasi.

Ditetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keanggotaan 4
Keputusan penentuan besaran iuran anggota ditetapkan oleh cabang
masing-masing. Sedangkan penilaian pelaksanaan kewajiban atas penjagaan nama baik
organisasi dilakukan oleh Pengurus Cabang. Namun yang berperan dalam melakukan
penilaian keaktifan anggota komisariat dalam organisasi adalah masing–masing
komisariat.

BAB III
STATUS KEANGGOTAAN

1. Tata Cara Keanggotaan


Anggota Muda tidak memiliki tata cara khusus keanggotaan. Ia dapat diakui
sebagai angota muda ketika ia merupakan mahasiswa dan mengikuti aktifitas HMI.
Anggota Biasa harus memenuhi 5 syarat yaitu :
1. Mahasiswa
2. Beragama Islam
3. Telah mengikuti Latihan Kader 1 dan dinyatakan lulus
4. Menyatakan kepatuhannya terhadap konstitusi HMI secara lisan dan tertulis
5. Serta mengikuti prosesi pelantikan anggota.
Pelantikan dapat dilakukan Pengurus Cabang di setiap saat, setiap momen atau
setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh cabang.
Atas pemenuhan syarat keanggotaan ini maka cabang wajib Melakukan
Beberapa hal yang bekaitan dengan keanggotaan :
1. Mengeluarkan Surat Keputusan Keanggotaan dan Kartu Anggota.
Surat Keputusan dapat dikeluarkan khusus untuk satu orang atau lebih dari satu
orang. Surat Keputusan juga dapat dikeluarkan secara mingguan, bulanan atau
juga dapat dikeluarkan pada forum-forum LK I atau kegiatan HMI lainnya.
2. Melakukan pengelompokan anggota dalam komisariat-komisariat.
Komisariat anggota adalah komisariat yang sama dengan lingkungan akademis
anggota. Namun demikian anggota dapat memilih aktif di komisariat lainnya
dalam satu cabang atas ijin Pengurus Cabang. Anggota tidak bisa berada dalam
keanggotaan komisariat lebih dari satu. Perpindahan anggota ke komisariat
lainnya dalam satu cabang dilakukan berdasarkan ijin dari Pengurus Cabang.
Namun ketika dalam lingkungan akademisnya tidak terdapat komisariat, maka

DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keanggotaan 5
anggota berhak memilih komisariat dengan persetujuan struktur pimpinan
cabang.
Mekanisme Anggota Kehormatan berada pada Pengurus Cabang dan Pengurus
Besar. Prosedur yag harus dilakukan adalah:
1. Rapat Pengurus Cabang atau Pengurus Besar dapat mengeluarkan nama individu
yang akan diusulkan menjadi Anggota Kehormatan.
2. Menanyakan kesediaan calon anggota dan meminta surat pernyataan
kesediaannya.
3. Hasil rapat dan surat kesediaan menjadi dasar organisasi untuk mengangkat
seorang Anggota Kehormatan dalam sebuah Surat Keputusan.
Anggota Kehormatan tidak diwajibkan mengikuti pelantikan keanggotaan, dan
kewajiban keuangan lainnya.
2. Ikrar Pelantikan Anggota HMI

IKRAR PELANTIKAN ANGGOTA


HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

‫انرحمنانرحيم ﻩبسمانم‬
Dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

‫ﻩأارسوالنمﺪﻬﺷ نا ﻻاﻪﻟ اﻻ اﷲ أوﺪﻬﺷ نّا ﺪﻤﺤﻣ‬


“Aku bersaksi bahwasannya tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya
Muhammad adalah Utusan Allah”

‫رباوباالسالمدينوبمحمدنبيورسول ﻩرضيتبانم‬
“Aku redla Allah Tuhan kami, Islam agama kami, dan Muhammad adalah
Nabi dan Utusan Allah”

DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keanggotaan 6
Dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, kami berjanji dan berikrar:
1. Bahwa kami akan selalu memenuhi tugas dan kewajiban yang dibebankan oleh
himpunan Mahasiswa Islam dengan senantiasa berpegang teguh kepada Al-Qur’an
dan Sunnah Rasul;
2. Bahwa kami akan selalu menjaga nama baik Himpunan Mahasiswa Islam dengan
selalu tunduk dan patuh kepada Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan
Pedoman-pedoman Pokok serta ketentuan-ketentuan lainnya;
3. Bahwa kami akan selalu bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan masyarakat
yang diridhai Allah Subhanahu Wata’ala dalam rangka mengabdi kepada-Nya
untuk kesejahteraan Ummat dunia dan akhirat.

‫ربانعانمين ﻩانصالتيونسكيومحيايومماتيهم‬
“Sesungguhnya sholatku, perjuanganku, hidup dan matiku hanya untuk Allah
Tuhan seru sekalian alam”.

Billahit tawfiq wal hidayah

3. Masa Keanggotaan HMI


Masa keanggotaan dalam Anggaran Rumah Tangga adalah selama anggota
memiliki status kemahasiswaan selama dua belas tahun. Selama masa itu anggota
memiliki hak dan kewajiban yang sewajarnya atas status keanggotaannya.

4. Jabatan Rangkap
Jabatan rangkap terdiri dari dua jenis yaitu perangkapan jabatan anggota HMI di
lingkungan struktur HMI dan perangkapan jabatan di luar lingkungan struktur HMI.
Jabatan rangkap yang masih di dalam lingkungan satu cabang HMI harus melalui ijin
ketua cabang. Namun jika sudah antar cabang maka jabatan rangkap pada anggota
tidak diperkenankan. Seorang anggota yang telah memiliki posisi struktural di
organisasi lain dapat memiliki posisi struktural di HMI atas ijin Ketua Umum Cabang
begitupun sebaliknya. Pertimbangan ijin yang diberikan Ketua Umum Cabang adalah
sejauh mana indpendensi organisasi tidak terganggu. Ketua Umum Cabang dan
Pengurus Besar yang akan rangkap jabatan harus mendapat ijin dari Pengurus Besar.

DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keanggotaan 7
Namun Ketua Umum Pengurus Besar tidak memiliki hak dalam rangkap jabatan dalam
bentuk apapun dan kondisi apapun.

5. Mutasi Anggota
Mutasi anggota hanya terjadi jika status anggota pindah ke lain cabang.
Perpindahan ini dapat diakibatkan oleh keinginan anggota itu sendiri atau
perpindahan studi anggota ke lingkungan lembaga pendidikan lainnya diluar cabang
asal. Anggota harus membuat surat permohonan perpindahan kepada Pengurus
Cabang. Persetujuan Pengurus Cabang atas permohonan ini dituangkan dalam surat
pemberitahuan ke cabang yang dituju mengenai transfer anggota yang dilakukan.
Pihak cabang yang dituju dapat memutuskan menerima atau menolak perpindahan
ini dalam sebuah surat balasan yang ditujukan ke Pengurus Cabang asal. Cabang
penerima transfer anggota harus menerbitkan Surat Keputusan Keanggotaan yang
baru pada anggota yang melakukan perpindahan tersebut.

BAB IV
PEMBERHENTIAN

1. Pemberhentian
Status keanggotaan dinyatakan berhenti atau hilang dapat disebabkan oleh
beberapa hal yaitu: meninggal dunia, atas permintaan sendiri (mengundurkan diri),
diskors (pemberhentian sementara) dan dipecat. Seorang dinyatakan meninggal
dunia jika ada pernyataan dari lembaga yang berwenang. Seorang anggota juga akan
kehilangan status keanggotaannya jika ia mengundurkan diri melalui sebuah surat
pernyataan yang ditujukan ke cabang selanjutnya cabang segera merespon.
Seseorang yang mengundurkan diri tidak dapat kembali lagi menjadi anggota
kecuali ia memulai lagi proses keanggotaannya dari awal. Seorang anggota yang
diskosrs (kehilangan keanggotaan secara sementara) juga merupakan suatu kondisi
dimana anggota tidak memiliki status keanggotaan di HMI dan tidak memiliki Hak dan
kewajiban apapun di HMI untuk sementara waktu. Seorang anggota yang dipecat dari
keanggotaan HMI juga akan mengalami kehilangan status keanggotaan dalam HMI
beserta hak dan kewajibannya untuk selama-lamanya. Anggota yang dipecat dapat
kembali menjadi anggota jika ia memulai kembali proses keanggotaannya dari awal
juga. Namun demikian Anggota yang dipecat dapat kembali lagi secara otomatis

DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keanggotaan 8
memiliki status keanggotaan jika ia melakukan pembelaan dan dikabulkan
pembelaannya pada forum pembelaan tersebut.

2. Skorsing dan Pemecatan


Skorsing atau pemecatan adalah kondisi dimana seorang anggota tidak lagi
memiliki status keanggotaan yang mengakibatkan ia tidak lagi memiliki hak dan
kewajiban yang ada di HMi. Skorsing atau Pemecatan dilakukan melalui Surat
Keputusan Ketua Umum Cabang atas dasar:
a. Bertindak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam HMI;
b. Bertindak merugikan atau mencemarkan nama baik HMI.
Skorsing dikenakan pada anggota jika:
a. Terlibat secara tidak langsung dalam pencemaran nama baik organisasi
b. Terlibat tidak langsung dalam aktifitas yang merugikan organisasi HMI
c. Terkena peringatan sebanyak tiga kali atas kasus yang sama ataupun berbeda.
Pemecatan dikenakan ke anggota jika
a. Berbuat kesalahan berkaitan dengan sistem organisasi HMI secara keseluruhan
b. Terlibat langsung dalam pencemaran nama baik organisasi.
c. Terlibat langsung dalam aktifitas yang merugikan HMI secara keseluruhan.
d. Terkena putusan skorsing tiga kali atas kasus yang sama ataupun berbeda
Dalam kondisi normal skorsing atau pemecatan dilakukan berdasarkan
tuntutan skorsing atau pemecatan komisariat dan atau cabang. Atas dasar ini
Pengurus Cabang mengadakan rapat pengurus yang menghasilkan Surat Keputusan
peringatan. Skorsing atau pemecatan diputuskan jika peringatan telah berlangsung
selama tiga kali. Dalam kondisi tidak normal atau keakutan kesalahan yang dibuat
maka skorsing atau pemecatan tidak melalui peringatan. Dalam kondisi inipun
Pengurus Besar HMI dapat melakukan skorsing atau pemecatan seperti halnya
Pengurus Cabang. Penilaian kondisi tidak normal atau keakutan kesalahan yang
dibuat, dilakukan oleh MSO yang ada ditingkat Pusat atau ditingkat Cabang.
Khusus mengenai skorsing, lamanya skorsing yang dikenakan maksimal satu
tahun. Setelah satu tahun Pengurus Cabang berhak menentukan apakah anggota itu
dapat dikenakan skorsing lagi atau tidak. Maksimal skorsing yang dikenakan pada
seorang anggota adalah 3 kali secara berurutan atau pun tidak berurutan, dalam
kasus yang sama atau kasus yang tidak sama. Artinya untuk anggota yang telah
diskorsing 3 kali cuma bisa dipecat atau tidak menghukumnya.

DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keanggotaan 9
3. Pembelaan
Ketidaksetujuan keputusan skorsing atau pemecatan dapat diajukan kepada
MSO dalam tempo 3 x 7 hari setelah SK diumumkan ke khalayak anggota. Atas dasar
ini MSO dapat memerintahkan Pengurus Cabang untuk membuat forum pembelaan
yang dihadiri oleh Pengurus Cabang itu sendiri, ketua-ketua komisariat dilingkungan
cabang tersebut, ketua komisariat anggota dan anggota itu sendiri. Dengan adanya
permintaan pembelaan maka masa berlaku keputusan skorsing/pemecatan ditunda
sampai ada keputusan dalam forum pembelaan.
Forum pembelaan ini dipimpin oleh anggota MSO Cabang atau anggota MSO pusat dari
cabang tersebut bagi cabang yang tidak memiliki MSO, atau anggota MSO pusat yang
ditunjuk MSO Pusat bagi cabang yang tak memiliki MSO dan tak memiliki anggota yang
duduk di MSO pusat. Urutannya:
1. Pembukaan.
2. Pembacaan kasus dan latar belakang kasus oleh Pengurus Cabang.
3. Pembacaan Surat Keputusan skorsing atau pemecatan oleh Pengurus Cabang.
4. Pembacaan pembelaan oleh anggota.
5. Tanya jawab oleh pimpinan forum terhadap Pengurus Cabang, anggota dan para
ketua komisariat secara berulang sampai pimpinan forum menyatakan cukup.
6. Penawaran pimpinan forum ke Pengurus Cabang untuk melakukan perubahan SK.
7. Jika Pengurus Cabang bersedia melakukan perubahan maka pimpinan forum
membuat surat perintah untuk merubah SK Pengurus Cabang.
8. Jika Pengurus Cabang tidak bersedia melakukan perubahan, pimpinan forum
dapat bertanya kepada para ketua komisariat yang hadir selain ketua komisariat
anggota yang melakukan banding, apakah SK skorsing/ pemecatan anggota
tersebut dirubah atau tidak.
9. Jika para ketua komisariat menginginkan perubahan maka pimpinan forum
membuat surat perintah ke Pengurus Cabang untuk melakukan perubahan SK
skorsing/pemecatan, dan Pengurus Cabang wajib mematuhinya.
10. Jika Para Ketua Komisariat tidak mengnginkan perubahan atas Surat Keputusan
Cabang maka Pimpinan Forum mengeluarkan keputusan untuk tidak merubah
Surat Keputusan pemecatan atau skorsing atas anggota tersebut.
11. Anggota dapat mengajukan banding ke MSO tingkat pusat atas putusan forum.

DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keanggotaan 10
12. Keputusan banding hanya diambil dari para anggota MSO tingkat pusat saja,
setelah MSO melakukan penelaahan ulang atas kasus tersebut.
13. Keputusan MSO tingkat pusat ini harus ditaati oleh Pengurus Cabang dan Anggota.
14. Keputusan MSO tingkat pusat ini bersifat final (tidak dapat diajukan bandingkan).

BAB V
ADMINISTRASI KEANGGOTAAN

1. KARTU ANGGOTA
Bentuk : Persegi panjang
Warna Kertas : Putih
Contoh :

DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keanggotaan 11
2. NOMOR ANGGOTA
Pemberian nomor anggota dilakukan oleh Pengurus Cabang melalusi Surat
Keputusan yang ditanda tangani oleh Sekretaris Umum dan Ketua Umum. (Badan
Koordinasi) setelah diterimanya surat permohonan nomor anggota oleh pihak
Pengurus Cabang. Penomoran anggota dilakukan dengan bentuk:
10.112.220305.10753
Keterangan :
Dua angka pertama adalah Sandi status keanggotaan
Dua angka kedua adalah Sandi Cabang
Enam angka ketiga adalah sandi tanggal penomoran dilakukan
menggunakan tahun Hijriyah.
Angka berikutnya adalah sandi nomor urut anggota
Penomoran ini hanya berlaku untuk satu tahun sejak dikeluarkan Surat
Keputusan. Oleh sebab itu cabang harus terus meminta pembaharuan nomor anggota
dan Pengurus besar harus memperbahurui penomoran anggota tersebut dengan
merubah tanggal keluarnya Surat Keputusan Penomoran tetapi tidak boleh merubah
angka yang lain.
Sandi Keanggotan
10 Anggota Biasa
20 Anggota Kehormatan
Sandi Cabang
001 Medan
002 Pekan Baru
003 ….. dan cabang berikutnya di Sumatera
101 Jakarta
102 Jakarta Selatan
103 Bekasi
104 Bogor
105 Depok
106 Lebak
107 Bandung
108 Cirebon
109 Jogjakarta
110 Semarang
111 Purwokerto
112 Wonosobo
113 Purworejo
114 Malang
115 Surabaya
116 Sleman

DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keanggotaan 12
117 Jombang
118 Jepara
119 ….. dan cabang berikutnya di pulau Jawa
201 Makasar
202 Palu
203 Palopo
204 Pangkep
205 Barru
206 Gorontalo
207 Manado
208 Luwuk Banggai
209 Toli-toli
210 Kendari
211 Bone
212 Bulukumba
213 Majene
214 ……. dan cabang berikutnya di pulau Sulawesi
301 Pontianak
302 …… dan cabang berikutnya di Pulau Kalimantan
401 Jayapura
402 Sorong
403 ……. dan cabang lain yang dibentuk di pulau Papua
501 Ternate
502 ……. dan cabang lain yang dibentuk di kepulauan Maluku
601 ……. dan cabang lain yang dibentuk di Bali dan kepulauan Nusa Tenggara
Sandi Tanggal Penomoran
22 Tanggal penomoran
03 Bulan penomoran
05 Tahun penomoran
Sandi Nomor Urut Anggota
Sesuai dengan urut angka.

DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 1
PEDOMAN KEUANGAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

Bismillahirromanirrahiim

BAB I
PENDAHULUAN

Dua bentuk gerakan Himpunan Mahasiswa diwujudkan dalam bentuk kaderisasi di


dalam organisasi dan perjuangan organisasi dalam pembentukan masyarakat.
Keberhasilan pembentukan individu yang Ulil Albab dan ketercapaian pembentukan
tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT tergantung dari keseriusan HMI
bergerak dalam lingkaran organisasi Himpunan Mahasiswa Islam. Keseriusan ini dapat
dilihat dari sejauh mana kita telah berusaha untuk berjalan terus kedepan dan sejauh
mana kelengkapan alat yang telah kita miliki dari perjalanan tersebut.

Dasar organisasi berupa asas, tujuan usaha dan identitas, akan menjadi suatu
gambaran bagaimana Himpunan Mahasiswa Islam terus bergerak kedepan. Perangkat
organisasi merupakan sebuah gambaran bagaimana Himpunan Mahasiswa Islam memiliki
kelengkapan alat untuk bergerak dalam perjalanannya diatas. Salah satu kelengkapan
yang harus di miliki oleh organisasi adalah unsur keuangan. Organisasi harus memiliki
kekuatan dalam keuangan untuk menjaga keberlangsungan perjalanan yang mahal
namun harus dijalani. Unsur keuangan yang harus dipersiapkan adalah Pedoman
Keuangan bagi organisasi Himpunan Mahasiswa Islam.

Pedoman Keuangan yang tersusun saat ini merupakan sebuah pedoman pertama
dalam HMI yang mengatur organisasi dalam hal keuangan secara menyeluruh utuh dan
komprehensif. Sebagai pedoman yang disepakati bersama dalam kongres maka
pedoman ini yang akan menjadi dasar bagaimana HMI memakai alat kelengkapannya
berupa uang dan keuangan. Sebagaimana halnya sebuah pedoman yang disusun dan
disepakati dalam kongres, pedoman ini juga harus mengalami penyempurnaan dari
waktu kewaktu dimasa depan.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 2
BAB II
OTORITAS KEUANGAN

Otoritas keuangan merupkan sebuah pedoman awal yang menjelaskan berapa


banyak otoritas yang harus berjalan dalam keorganisasian HMI. Otoritas keuangan yang
dimiliki dalam satu struktur organisasi terdiri dari:
1. Otoritas Pengaturan
2. Otoritas Penerimaan
3. Otoritas Pengeluaran
4. Otoritas Pencatatan
5. Otoritas Pengesahan
Kelima otoritas ini harus dipegang dan dijalankan oleh pihak-pihak yang berbeda dalam
satu struktur kepengurusan HMI. Pemisahan otoritas ini untuk menciptakan sebuah
sistem keuangan yang berdasarkan dua prinsip yaitu: Prinsip transparansi, prinsip
akuntabilitas dan prinsip keadilan.

Prinsip transparansi artinya sistem keuangan organisasi merupakan sebuah sistem


yang mengatur berbagai aktivitas keuangan yang dapat dibuktikan keberadaannya,
kesesuaian nilainya dan kepatuhan akan aturannya. Hal ini cukup penting menjadi dasar
karena tanda ada transparansi maka sebuah pertanggungjawaban pengelolaan
keuangan tidak dapat berjalan dengan baik dan benar. Tanpa ada transparansi maka
sistem keuangan organisasi akan didasarkan pada manipulasi informasi. Oleh sebab itu
untuk menghindari manipulasi informasi dan memegang teguh prinsip transparansi
maka keberdaan bukti dan keakuratan pencatatan akan aktifitas keuangan dalam HMI
merupakan sebuah hal yang sangat penting.

Prinsip akuntabilitas artinya sistim keuangan organisasi yang melaporkan kondisi


keuangan organisasi dengan metode pencatatan keuangan yang bersifat transparan
dengan data-data akurat, yang kemudian pada akhir kepengurusan, laporan keuangan
tersebut akan dilaporkan dalam laporan pertanggungjawaban oleh pimpinan organisasi.
Prinsip akuntabilitas tersebut bertujuan untuk mendapatkan pengakuan dari pihak lain
yang akan menjadi pertimbangan dalam membangun kerjasama dalam hal keuangan.

Sistem yang adil artinya sistem keuangan Himpunan Mahasiswa Islam disusun dan
dibentuk untuk menegaskan adanya hak dan kewajiban yang dimiliki oleh tiap pihak
dalam satu struktur. Penjabaran hak dan kewajiban dalam otoritas-otoritas merupakan

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 3
usaha yang menghindari ketertumpangtindihan peran pada satu posisi struktural.
Dengan demikian sistem keuangan dirancang dengan dasar kesesuaian kemampuan dan
target yang harus dicapai. Tanpa ada pemisahan otoritas maka tidak ada pemisahan
peran sehingga terjadi penumpukan kewajiban kewajiban pada satu pihak. Hal ini tentu
akan memberatkan dan membuat sebuah posisi tidak akan berjalan sebagaimana
mestinya.

1. Otoritas Pengaturan

Pemegang hak regulasi tertinggi dalam HMI adalah kongres HMI. Namun dalam
struktur kepemimpinan pelakasanaan aturan keuangan di tiap lini struktur adalah
Ketua Umum dan Bendahara Umum. Kedua pihak ini memiliki hak regulasi dalam
keuangan organisasi di masing-masing strukturnya. Ia berhak membuat mekanisme
kuangan organisasi di tingkatan strukturnya, baik itu pemasukan maupun pengelolaan
keuangan. Hak lainnya yang dimiliki oleh Ketua Umum dan Bendahara Umum adalah
Hak untuk memeriksa setiap aktifitas keuangan di HMI dan hak untuk menolak atau
menunda setiap aktifitas keuangan dalam HMI.
Oleh sebab itu ketua Umum dan Bendahara Umum merupakan pihak yang
dianggap mengetahui segala jenis aktifitas keuangan organisasi ditingkatan
strukturnya. Tidak ada satu pihakpun yang berhak menutupi segala informasi
keuangan yang ada dalam struktur HMI terhadap Ketua Umum dan Bendahara Umum.
Namun demikian, Ketua Umum dan Bendahara Umum berhak menyimpan informasi
keuangan terhadap anggota HMI kecuali dihadapan struktur kekuasaan HMI (Kongres,
Konferensi, dan Rapat Anggota). Artinya Kedua pihak ini berhak menolak permintaan
segala pihak atas informasi keuangan yang dimilikinya, baik itu dari pihak anggota,
pihak struktur HMI dibawahnya ataupun pihak eksternal. Namun apabila struktur
kekuasaan meminta kedua pihak ini membuka informasi keuangan yang disimpan
maka wajib mkedua pihak ini memberikan informasi sesuai dengan yang diminta.
Oleh sebab itu penanggungjawab keuangan yang paling kompeten adalah Ketua
Umum dan Bendahara Umum HMI.

2. Otoritas Penerimaan
Pada tingkat struktur yang memiliki hak untuk menerima hal-hal yang berkaitan
dengan keuangan dan menyimpannya adalah Bendahara I. Pada tingkat kepanitiaan
dari aktifitas HMI yang memegang hak ini adalah Bendahara Umum Kepanitiaan dan

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 4
Bendahara Bidang pada struktur. Sebagian besar keuangan organisasi harus
diusahakan tersimpan pada bank Syari’ah dan sebagian kecil lainnya disimpan oleh
pemegang otoritas penyimpan sebagai kas kecil.
Tanda bukti penerimaan dan informasi nilai uang yang disimpan harus
dilaporkan kepada Bendahara III. Bendahara I berhak menyimpan informasi ini
kepada siapapun kecuali kepada Bendahara Umum, Bendahara III dan Ketua Umum.
Bendahara I tidak berhak mempublikasikan nilai keuangan yang disimpan HMI kepada
khalayak Umum di luar Struktur Kepengurusan, apalagi pihak ekstenal HMI.
Bendahara I tidak berhak mengalihkan hak peyimpanan keuangan ini kepada
siapapun keculi kepada bendahara Umum atas pengetahuan Ketua Umum dan
Sekretaris Umum.

3. Otoritas Pengeluaran
Aktifitas yang berkaitan dengan pengeluaran keuangan HMI dari tempat
penyimpanan Keuangan HMI harus dilakukan oleh bendahara II dimasing-masing
struktur kepemimpinan HMI atau staf bendahara kepanitiaan atau staf bendahara
bidang HMI. Pemegang hak untuk mengeluarkan sejumlah nilai keuangan ini tidak
boleh sama orangnya dengan pemegang hak lainnya.

Tanda bukti pengeluaran sejumlah uang harus diberikan kepada Bendahara III di
setiap waktu. Setiap pengeluaran sejumlah uang, baik itu dalam pengeluaran
program atau pengeluaran non program, harus diketahui oleh Bendahara Umum.
Bendahara II tidak berhak mengalihkan hak pengambilan uang ini kepada pihak lain
kecuali kepada Bendahara Umum atas pengetahuan Ketua Umum dan Sekretaris
Umum. Pengeluaran tanpa tanda bukti harus dibuat sebuah nota pengeluaran yang
disetujui oleh Bendahara Umum sebagai pengganti tanda bukti pengeluaran.

4. Otoritas Pencatatan
Setiap aturan atau kebijakan harus tercatat secara tertulis yang dijadikan
pedoman bagi aktifitas keuangan bagi pengurus dan anggota. Begitu juga dengan
setiap aktifitas penerimaan dan pengeluaran harus memiliki pencatatan keuangan
yang lengkap. Bendahara III memiliki hak untuk memastikan bahwa semua aktifitas
keuangan HMI tercatat dengan baik dan benar, lengkap dengan para pengesahnya.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 5
Bendahara III berhak menerima informasi penerimaan keuangan organisasi dan
pengeluarannya setiap waktu. Informasi penerimaan dan pengeluaran yang diterima
berupa sejarah transaksi tanda bukti atas kedua aktifitas tersebut. Oleh sebab itu ia
berhak meminta informasi/tanda bukti tersebut ke Bendahara I dan Bendahara II.
Informasi yang diterima kemudian dilaporkan ke Bendahara Umum.

5. Otoritas Pengesahan
Setiap aktifitas peneriman dan pengeluaran keuangan dalam struktur HMI harus
disertai tanda bukti yang mencantumkan pengesah aktifitas tersebut, yaitu
Bendahara Umum. Pada tingkat bidang kerja kepengurusan yang menjadi pengesah
aktifitas tersebut adalah ketua bidang, sedangkan pada tingkat kepanitiaan yang
menjadi pengesah adalah ketua panitia. Pengesahan aktifitas keuangan ini
merupakan suatu bentuk atas pemberitahuan informasi keuangan terhadap pihak-
pihak yang bertanggungjawab dalam struktur HMI. Sehingga segala aktifitas
keuangan HMI memiliki penanggungjawabnya masing-masing.

BAB III
PERENCANAAN KEUANGAN

Perencanaan keuangan organisasi merupakan hal yang sangat penting dilakukan


sebagai sebuah gerak awal dalam wilayah keuangan. Perencanaan dilakukan minimal
sekali di awal periode kepengurusan dalam satu peiode kepengurusan perencanaan
berisi:
a. Asumsi asumsi dasar keuangan (internal dan eksternal)
b. Kuantitas dan kualitas aktifitas-aktifitas organisasi yang direncanakan
c. Jumlah biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan aktifitas tersebut
d. Penentuan sumber-sumber keuangan yang harus diperoleh
e. Penetapan waktu untuk setiap aktifitas pengelolaan keuangan
f. Pengaturan organisasi dalam menjalankan perencanaan keuangan

Tujuan dilakukannya perencanaan adalah untuk menghindari kesulitan keuangan


dalam menjalankan organisasi. Perencanaan dilakukan dengan melibatkan seluruh
Pengurus Harian dan stafnya. Kecuali ditingkat komisariat perencanaan keuangan harus
dilakukan juga dengan melibatkan seluruh pimpinan HMI satu tingkat dibawahnya.
Misalkan Perencanaan keuangan Pengurus Besar harus melibatkan pengurus harian dan

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 6
para stafnya dan para ketua cabang. Perencanaan keuangan pengurus cabang harus
melibatkan pengurus harian di cabang tersebut dan para ketua komisariat
dilingkungannya.
Bentuk dari hasil sebah perencanaan keuangan organisasi dalam HMI dikenal
dengan Anggaran Kepengurusan. Anggaran Kepengurusan ini berlaku selama 2 tahun
untuk tingkat Pusat dan 1 tahun untuk tingkat Cabang dan Komisariat. Anggaran
kepengurusan di susun oleh pengurus HMI dan diajukan kepada para ketua cabang untuk
tingkat pusat, kepada ketua komisariat di tingkat cabang dan pada para anggota di
tingkat komisariat, untuk disetujui. Realisasi atas anggaran yang disepakati
dipertanggungjawabkan di kongres untuk Pimpinan Pusat, di Konferca untuk Pengurus
Cabang dan di Rapat Anggota untuk Pengurus Komisariat.
Perubahan realisasi isi Anggaran Kepengurusan harus diketahui pihak-pihak yang
telah menyetujui Anggaran tersebut. Hal itu harus dilakukan pada tiap terjadinya
perubahan dari realisasi Anggaran itu. Tuntutan untuk merubah anggaran dapat
dilakukan oleh pengurus cabang terhadap pelaksanaan anggaran Pengurus Besar.
Begitupun Pengurus Komisariat Terhadap Pengurus Cabang. Namun pihak pelaksana
anggaran dapat memilih untuk tidak mememenuhi tuntutan tersebut tetapi harus
dipertanggungjawabkan pada tingkat Struktur Kekuasaan. Pelaksana harus menjelaskan
dasar-dasar kebijakan atas tindakannya yang tidak mau memenuhi tuntutan atas
perubahan anggaran tersebut. Dasar-dasar kebijakan inilah yang menjadi dasar
penilaian atas kemampuan mengelola keuangan.

BAB IV
SUMBER KEUANGAN

Sumber keuangan organisasi HMI adalah tempat-tempat atau pihak-pihak yang


dapat memberikan pemasukan keuangan bagi organisasi HMI. Satu hal yang perlu diingat
dalam menerima pemasukan keuangan dari sumber-sumber keuangan adalah
“Independensi”. Artinya tuntutan atau sayarat yang menyertai suatu penerimaan
keuangan bagi HMI tidak boleh bertentangan dengan visi, misi dan tujuan HMI. Tuntutan
atau syarat itupun tidak boleh merubah keputusan organisasi HMI dalam menjalankan
kebijakan organisasinya. Kerjasama dengan memberikan kompensasi- kompensasi harus
bersifat wajar dan tidak mengganggu independensi organisasi.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 7
1. Swadaya Anggota
Swadaya anggota merupakan sumber keuangan internal organisasi yang diperoleh
secara periodik dan non periodik. Pemasukan yang diperoleh secara periodik
merupakan pemasukan dalam bentuk iuran anggota. Perolehan keuangan organisasi
secara non periodik dari anggota dapat berbentuk donasi-donasi pada tiap aktifitas-
aktifitas organisasi. Semua pemasukan keuangan dari swadya anggota harus dicatat
dengan lengkap di tiap periode kepengurusan. Hal ini untuk mengukur keterlibatan
anggota dalam membantu keuangan organisasi dari waktu-kewaktu. Pengurus
Komisariat memiliki hak memungut iuran anggota sedangkan Pengurus Cabang
memiliki hak memungut uang pangkal anggota. Maksimal dua puluh persen (20 %) dari
total iuran anggota yang terkumpul oleh Pengurus Komisariat diserahkan ke Pengurus
Cabang setiap bulannya, dua puluh persen (20 %) dari total iuran anggota yang
diserahkan seluruh komnisariat ke Pengurus Cabang harus diberikan ke Pengurus
Besar setiap bulannya.
Anggota memiliki hak mengajukan keberatan atas pengenaan iuran kepada dirinya
setelah semua kewajiban iuran yang telah berjalan diselesaikan. Pengajuan
keberatan anggota ini akan menjadi pertimbangan pembebasan iuran oleh pengurus.
Anggota diputuskan bebas dari kewajiban iuran jika ia dinilai tidak mampu Pengurus
Harian. Keputusan yang tertuang dalam Surat Keputusan kepengurusan ini harus
ditinjau ulang tiap tiga bulan sekali.
2. Donasi
Donasi yang dimaksud adalah pemasukan keuangan yang diperoleh dari pihak
eksternal HMI atau pihak internal HMI yang bukan merupakan iuran anggota dan uang
pangkal anggota tanpa disertai tuntutan atau sayarat apapun. Organisasi HMI
dilarang meminta donasi ke pihak eksternal tanpa disertai pemberitahuan
perencanaan penggunaan uang yang akan diperoleh. Perencanaan ini dapat berupa
proposal kegiatan atau proposal aktifitas kepengurusan dalam satu periode. Semua
Struktur HMI Juga tidak diperkenankan menerima donasi dari pihak-pihak yang
memiliki sumber keuangan dari aktifitas yang tidak halal dan tidak baik, baik itu
secara personal atau organisai organisasi. Oleh sebab itu semua lini HMI harus
mengenal betul siapa yang akan dijadikan sumber penerimaannya.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 8

3. Kerjasama
Kerjasama merupakan sebuah mekanisme untuk mendapatkan sejumlah dana dengan
disertai kompensasi-kompensasi yang diberikan oleh HMI dalam aktifitas kerjasama
tersebut. Aktifitas kerjasama merupakan sebuah aktifitas yang direncanakan dan
dilaksanakan oleh HMI, bukan merupakan aktifitas yang diberikan oleh pemberi dana.
Ini artinya kerjasama terjadi ketika ada aktifitas HMI yang memerlukan kerjasama
untuk mendapatkan dana dari aktifitas tersebut. Pada mekanisme ini kompensasi
yang diberikan HMI tidak boleh mengganggu idependensi HMI. Pihak pihak yang dapat
diajak kerjasama adalah pihak-pihak yang tidak melakukan aktifitas-aktifitas yang
dilarang oleh agama. Periode kerjasama juga tidak boleh lebih dari satu periode
kepengurusan. Setiap aktifitas kerjasama harus berdasarkan persetujuanKetua
Umum tiap Struktur Kepengurusan.

4. Pinjaman
Pinjaman merupakan mekanisme penerimaan dana dari pihak internal HMI atau
eksternal HMI. Pengajuan permohonan pinjaman juga harus disertai sebuah
keterangan atas penggunaan dana yang akan dipinjam dan mekanisme
pengembaliannya. Kepengurusan HMI dilarang melakukan pinjaman dengan jarak
pengembalian melebihi satu periode kepengurusan. Hal ini untuk menghindari
pembebanan keuangan pada kepengurusan yang berikutnya. Dengan demkian, setiap
kepengurusan dilarang memiliki hutang diakhir kepengurusannya jika akhir
kepengurusan ada hutang maka hutang tersebut dibebankan kepada tiap individu
Pengurus Harian Periode kepengurusan tersebut. Jaminan yang diberikan dalam
melakukan pinjaman adalah asset-asset HMI yang tidak menghilangkan eksistensi
organisasi dikemudian hari.

BAB V
PENGELOLAAN KEUANGAN

Pengelolaan keuangan merpakan aktifitas organisasi dalam melakukan


pemakaian keuangan yang telah atau akan dimiliki oleh organisasi. Penggolongan
aktifitas pemakaian keuangan dilakukan untuk mengukur kinerja organisasi secara lebih
realistis, sehingga perubahan posisi keuangan yang terjadi dalam HMI dapat dijelaskan

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 9
secara baik dan benar kepada semua pihak yang berkepentingan dalam hal ini.

1. Pembiayaan Kegiatan
Pembiayaan kegiatan merupakan jenis aktifitas yang melakukan pemberian dana
untuk program kerja program kerja yang tidak menghasilkan penambahan asset
organisasi. Program kerja ini antara lain pelatihan-pelatihan, seminar-seminar atau
diskusi diskusi dan jenis lainnya. Pembiayaan yang dilakukan merupakan pengeluaran
dana yang diasumsikan akan habis dipakai. Sisa yang muncul dalam bentuk uang atau
barang barang yang bernilai uang, hak pengelolaannya dimiliki oleh bendahara
umum. Pembiyaan kegiatan dilakukan dengan melalui berbagai prosedur yang
ditentukan.
Prosedur-prosedur tersebut adalah:
a. Kegiatan merupakan kegiatan yang telah ada dalam program kerja kepengurusan.
b. Program kerja kepengurusan tersebut mendapat alokasi dana dari pihak
bendahara yang tertuang dalam perencanaan keuangan struktur.
c. Program kerja memiliki kejelasan penanggungjawab kegiatan berupa ketua
bidang.
d. Pengeluaran dana dilakukan atas dasar permohonan tertulis dari pelaksana
kegiatan atas dasar sepengetahuan penanggungjawab kegiatan.
e. Pengeluaran dana dilakukan minimal dalam dua tahapan maksimal dalam tiga
tahapan.
f. Tahapan kedua pengeluaran keuangan direalisasi setelah ada laporan penggunaan
dana awal dan perencanaan penggunaan dana tahapan kedua oleh pelaksana
kegiatan.
g. Tahapan ketiga direalisasi dengan mekanisme yang sama dengan tahapan kedua.
h. Pembiayaan kegiatan berikutnya dalam satu bidang akan dapat dilakukan jika
kegiatan yang sebelumnya telah membuat laporan akhir secara tertulis.
i. Pembiayaan kegiatan yang tidak ada dalam program kerja dilakukan jika kegiatan
tersebut disetujui oleh Ketua Umum dan ada alokasi dana untuk kegiatan itu.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 10
j. Lembaga Koordinasi, Lembaga Kekaryaan dan Lembaga Khusus memiliki
mekanisme tersendiri berdasarkan kesepakatan Bendahara Umum dan lembaga
tersebut.
2. Penambahan Aset
Penambahan aset merupakan aktifitas pembelian benda-benda yang memiliki usia
lebih dari satu tahun. Benda-benda ini harus dinilai ulang nilai nominalnya di tiap
akhir kepengurusan. Aktifitas ini hanya boleh dilakukan oleh Bendahara Umum atau
atas persetujuan Bendahara Umum. Semua aktifitas penambahan asset harus
merupakan aktifitas yang terjadwal dalam program kerja dan memiliki alokasi dana.
Aktifitas yang tidak terjadwal dapat dilaksanakan atas persetujuan sebagian besar
Pengurus Harian dan mengambil sumber dana dari sumber keuangan organisasi tanpa
mengganggu alokasi dana yang telah ditetapkan. Suatu kepanitian yang memiliki
uang lebih berhak melakukan penambahan aset bagai organisasi HMI harus ada
persetujuan Bendahara Umum.
3. Bantuan Keorganisasian
Bantuan keorganisasian merupakan aktifitas pemberian sejumlah dana atau sejumlah
barang yang memiliki nilai nominal dari organisasi HMI kepada pihak lain diluar HMI.
Bantuan keorganisasian juga harus berdasarkan program kerja yang ditetapkan pada
awal kepengurusan dan sesuai dengan alokasi dana yang telah ditetapkan. Bantuan
keorganisasian yang dilakukan diluar program kerja yang ditetapkan harus melalui
persetujuan sebagian besar pengurus harian dan mengambil alokasi dana yang tidak
mengganggu pengalokasian dana aktifitas lain yang telah ditetapkan. Pihak yang
diberikan bantuan adalah pihak-pihak yang tidak menindas umat islam. Pengurus
harus mengenal secara baik akan latar belakang pihak yang akan diberi bantuan dan
harus yakin bahwa bantuan organisasi tersebut tidak akan diselewengkan. Bantuan
organisasi yang diberikan secara simultan, jangka waktunya tidak boleh melebihi satu
periode kepengurusan.
4. Penyimpanan Keuangan dan Tanda Bukti
Penyimpanan keuangan organisasi harus dilakukan di lembaga keuangan berbentuk
bank syari’ah. Jika tidak ada maka didalam bank milik negara. Penyimpanan uang ke
bank dilakukan setelah penerimaan uang. Pengeluaran keuangan hanya dapat

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 11
dilakukan di awal bulan dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan keuangan
organisasi dibulan tersebut. pengeluaran keuangan diluar jadwal tersebut harus
melalui persetujuan sebagian besar pegurus harian. Setiap aktifitas keuangan harus
memiliki tanda bukti yang cukup dan sesuai dengan kebijakan organisasi. Tanda bukti
itu dapat terdiri dari pihak eksternal (utama) atau internal HMI. Keberadaan tanda
bukti ini merupakan dasar atas transparansi keuangan HMI.

BAB VI
PELAPORAN KEUANGAN

1. Bentuk Pelaporan
Pelaporan keuangan merupakan aktifitas pemberitahuan atas aktifitas
keuangan orgnaisasi yang dimulai dari awal kejadian transaksi sampai pada proses
pertanggungjawabannya. Bentuk bentuk pelaporan tersebut terdiri dari 3 bentuk
laporan yaitu Laporan Arus Kas, Laporan Aktifitas dan Neraca Aktifitas. Bentuk-
bentuk pelaporan ini berlaku dan harus dilaksanakan oleh setiap jenjang struktur
pimpinan HMI (Pengurus Besar, Pengurus Cabang dan Pengurus Komisariat). Dalam
proses pelaporan ini pihak Majelis syuro Organisasi berhak melakukan audit atas
struktur pimpinan setingkatnya atau dibawahnya.
Laporan Arus Kas adalah sebuah bentuk pelaporan yang menggambarkan
pergerakan uang masuk dan uang keluar pada suatu struktur HMI. Pada Laporan
aktifitas yang terlihat adalah sebuah gambaran pengelolaan keuangan organisasi
yang didasarkan pada aktifitas organisasi. Oleh sebab itu struktur laporan tergantung
dengan penggologan aktifitas yang dijalankan dalam kepengurusan HMI. Terakhir,
Laporan neraca adalah bentuk pelaporan keuangan organisasi HMI yang
menggambarkan posisi kekayaan HMI dalam nilai nominal secara menyeluruh. Bentuk
dan contoh laporan keuangan dapat dilihat pada lampiran.
2. Waktu Pelaporan
Pelaporan keuangan juga harus dibuat dalam waktu-waktu tertentu
(pembagian waktu). Melalui pembagian waktu ini akan memudahkan perangkat
kepengurusan dalam memantau segala aktifitas organisasi, maka ditetapkan adanya
dua periode waktu pelaporan keuangan yaitu: Laporan Tiga Bulanan dan Laporan
Tahunan.

D Ditetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 12
Laporan tiga bulanan adalah bentuk pelaporan yang dilakukan dalam periode
tiga bulan. laporan tiga bulanan memuat laporan keuangan dalam bentuk laporan
arus kas, laporan aktifitas ataupun neraca keuangan. Begitu pula pada laporan
tahunan seluruh posisi keuangan harus dijabarkan didalamnya, baik itu laporan arus
kas, laporan aktifitas ataupun neraca keuangan. Bagi unit-unit kerja (seperti
kepantiaan atau tim kerja) yang memiliki waktu aktifitas kurang dari satu tahun
maka mereka di wajibkan membuat laporan pertengahan dan laporan akhir dari
aktifitasnya. Laporan ini di serahkan kepada pimpinan HMI yang membentuk unit ini.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 13
Lampiran
Contah Laporan Arus Kas
ARUS KAS
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(PERIODE 20XX-20XX)
A. SALDO KAS AWAL
1. Kas di Bank XXXX
2. Kas di Tangan XXXX
Saldo Kas Awal XXXX (A)

B. ALIRAN KAS DARI AKTIFITAS PROGRAM


1. Penerimaan Keanggotaan
a. Uang Pangkal XXXX
b. Iuran Anggota XXXX
c. Donasi Anggota XXXX
Total Penerimaan Keanggotaan XXXX (B)
2. Penerimaan Program
a. Donasi Program XXXX
b. Penerimaan Program XXXX
Total Penerimaan dari Aktifitas Program XXXX (C)
3. Pengeluaran
a. Program Ketua Umum XXXX
b. Program Sekretaris Umum XXXX
c. Program Bendahara Umum XXXX
d. Program Dewan Pimpinan/Pengurus Harian XXXX
e. Program Lembaga-lembaga XXXX
f. Program MSO XXXX
g. Program lainnya XXXX
Total Pengeluaran dari aktifitas Program (XXXX) (D)

C. ALIRAN KAS DARI AKTIFITAS NON PROGRAM


1. Penerimaan
a. Pengembalian Piutang XXXX
b. Pendapatan Simpanan di Bank XXXX

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 14
c. Donasi tak terkait program XXXX
Total Penerimaan dari Aktifitas Non Program XXXX (E)
2. Pengeluaran
a. Biaya Kesekretariatan XXXX
b. Biaya Lingkungan XXXX
c. Biaya Lainnya XXXX
Total Pengeluaran dari Aktifitas Non Program (XXXX) (F)

D. ALIRAN KAS DARI AKTIFITAS INVESTASI


1. Penerimaan XXXX (G)
2. Pengeluaran (XXXX) (H)

E. TOTAL ALIRAN KAS (B+C-D+E+F+G-H) XXXX (I)

F. SALDO KAS AKHIR XXXX (A+I)

Contoh Laporan Aktifitas


LAPORAN AKTIFITAS
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(PERIODE 20XX-20XX)
PENDAPATAN
Donasi XXXXX
Pendapatan Program XXXXX
Pendapatan Bank XXXXX
Pendapatan lain-lain XXXXX
Jumlah Pendapatan XXXXXX

PENGELUARAN
Ketua Umum XXXXX
Sekretaris Umum XXXXX
Bendahara Umum XXXXX
Komisi-Komisi/Bidang-bidang XXXX
Lembaga-lembaga XXXXX

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Keuangan 15
MSO XXXXX
Program lainnya XXXXX
Jumlah pengeluaran (XXXXX)

NAIK/(TURUN) KEKAYAAN PERIODE BERJALAN XXXXX

Contoh Neraca
NERACA
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Periode 20xx-20xx)

AKTIVA PASIVA

Aktiva Lancar Kewajiban


Kas XXXXX Kewajiban Internal XXXXX
Piutang XXXXX Kewajiban Eksternal XXXXX
Aktiva Tetap Pangkal Kekayaan
Anggota XXXXX Anggota XXXXX
Sekretariat XXXXX Naik/Turun Kekayaan
Inventaris XXXXX Periode lalu XXXXX
Aktiva Lainya Periode Berjalan XXXXX
Biaya Ditangguhkan XXXXX
Total Pasiva XXXXX
Total Aktiva XXXXX

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 1
PEDOMAN PERKADERAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

Bismillahirromanirrahiim

BAB I
PENDAHULUAN

Islam merupakan ajaran hidup yang memuat sistem tata nilai kehidupan kesemestaan yang
bersifat paripurna, kosmopolit dan egaliter. Karena itu, Islam di samping sebagai ajaran hidup, sekaligus
merupakan agama (dien) yang menjadi cara pandang (word view) terhadap realitas kesemestaan. Hal ini
termanifestasi dalam kesadaran bahwa alam semesta dengan kehidupan yang inheren di dalamnya
merupakan manifestasi dari keberadaan Allah SWT sebagai zat yang telah menciptakan, memelihara dan
memberi kepercayaan kepada manusia (sebagai khalifah) untuk memanfaatkan alam semesta ini sesuai
dengan fitrahnya. Cara pandang semacam ini, merupakan kerangka landasan bagi HMI dalam merumuskan
tujuan organisasi, yaitu terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulul albab yang turut bertanggung
jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhai Allah SWT (AD HMI pasal 5). Konsekuensinya,
usaha untuk melahirkan kader ulul albab merupakan landasan strategis bagi HMI dalam
mengidentifikasikan dirinya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan. Tatanan masyarakat yang
diridhai Allah SWT (masyarakat paripurna), diinterpretasikan oleh HMI sebagai “peradaban yang tumbuh
dan berkembang” secara dinamis. Dan kata “turut” dalam tujuan HMI itu, secara sadar menempatkan HMI
merupakan bagian integral dari proses perjuangan umat.
Kehadiran HMI di tengah masyarakat, merupakan realitas kesejarahan yang membawa pesan
perkaderan dan perjuangan untuk mengakselerasi perubahan masyarakat yang konstruktif menuju tata
sosial yang lebih baik. Karena itu, gerak HMI harus selalu mengarah pada cita ideal masyarakat yang
diridhoi Allah SWT., sebagai perwujudan sosiologis tujuan HMI.
Orientasi perjuangan pada gilirannya mensyaratkan adanya kader-kader berkualitas yang relevan
dengan tugas dan tanggung jawabnya. Kader yang harus dikembangkan HMI adalah sosok kader ideal
sebagaimana telah digambarkan dalam Al-Qur’an, yaitu sosok ulul albab. Untuk melahirkan sosok
kader-kader semacam itu dibutuhkan sistem perkaderan yang komprehensif dan dinamis, yang secara
konseptual dan operasional tetap berpijak pada acuan dasar organisasi.
Perkaderan, dengan demikian merupakan salah satu orientasi dasar organisasi yang tidak dapat
dipisahkan dengan orientasi HMI sebagai organisasi perjuangan. Orientasi kepejuangan dan perkaderan
bagi HMI merupakan dua aspek yang saling melengkapi, berproses secara sinergis dan terus menerus
sampai pada tingkat optimum bagi keduanya serta menghasilkan result yang optimum pula.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 2
Dalam konteks ini, maka perkaderan dalam perkembangannya harus selalu dipahami secara dialektis

antara perkembangan dinamika internal organisasi dengan realitas sosio-kultur dan sosio-politik

masyarakat.

Dalam dinamika sejarahnya, sistem perkaderan yang dikembangkan HMI tidak hanya berimplikasi

konstruktif dalam mencapai tujuan HMI. Namun demikian, kadang-kala tidak bisa dipungkiri adanya

distorsi pemahaman, operasionalisasi ataupun manajemen dan metodenya, sehingga perkaderan yang

berlangsung bukannya mendekatkan proses perkaderan pada tujuan HMI, tetapi malah sebaliknya,

destruktif terhadap tujuan organisasi. Karena itu, dalam pelaksanaan sistem perkaderan sangat

diperlukan kajian kritis-inovatif terhadap proses perkaderan, sehingga diharapkan mampu mengantisipasi

terjadinya distorsi.

Dalam kaitannya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan, maka HMI memiliki dan

menggunakan Pedoman Perkaderan sebagai acuan dalam proses pencapaian tujuannya. Lahirnya
Pedoman Perkaderan 1998 ini, berawal dari proses pergumulan intelektual dan organisasional
kader-kader HMI baik di tingkat internal maupun pertautannya dengan realitas sosio-politik dan

sosio-kultur masyarakat. Karena itu, Pedoman Perkaderan ini yang merupakan hasil Lokakarya
Pedoman Perkaderan di Yogyakarta pada tanggal 16-19 September 1998 dan disahkan oleh Konggres
pada tahun 1999, secara umum merupakan respon positif terhadap tantangan perubahan dinamika

internal dan eksternal HMI. Dan secara khusus, Pedoman Perkaderan ini merupakan penyempurnaan
dari Pedoman Perkaderan hasil Lokakarya Perkaderan Nasional di Jakarta pada tanggal 15-19 Syawal
1412 H/18-22 April 1992 M yang ditetapkan oleh Kongres pada tahun 1994. Dan Pedoman Perkaderan
1994 tersebut merupakan hasil dari perubahan dan penyempurnaan Pedoman Perkaderan 1983.
Pedoman Perkaderan 1999 memuat gagasan-gagasan perubahan mendasar di seputar upaya
pengembangan model perkaderan yang didasarkan pada pemahaman HMI sebagai institusi Islam yang

berada pada lingkaran kosmos gerakan Islam universal. Sekat etnis, geografis-kultural dan berbagai aspek

keindonesiaan tetap dipandang sebagai kisaran strategis dalam pencapaian pengembangan peradaban

Islam. Karenanya, dalam pencapaian perubahan mendasar itu, terdapat beberapa catatan kritis

mengenai Pedoman Perkaderan 1994.


Pertama, Pedoman Perkaderan 1994 cenderung menyentuh pada aspek pengembangan
kualitas ulul albab, sementara gagasan-gagasan pengembangan tatanan masyarakat cita yang

diformulasikan dalam gagasan besar, masyarakat yang diridloi Allah masih menjadi serpihan-serpihan

tematik yang belum menjadi kesatuan wacana pengembangan yang lebih intensif.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 3
Kedua, Pedoman Perkaderan 1994 memahami perubahan global dunia cukup memberikan
peluang bagi terbentuknya hubungan saling mempengaruhi antar berbagai sekat institusional yang tidak

hanya menjadi monopoli institusi negara. Situasi saling mempengaruhi adalah cukup dominan dalam tata

dunia global. Dengan demikian, probabilitas terjadinya pengaruh eksternal terhadap HMI juga kian

meningkat. Karena itu, dalam memproyeksikan perkaderan ke depan dikembangkan tiga model

perkaderan, yaitu model pendidikan, model kegiatan dan model jaringan. Namun, dalam

implementasinya masih cenderung terkonsentrasi pada model pendidikan, sementara dua model lainnya

belum memiliki kerangka penjelas dan implementasi yang sinergis dengan pengembangan kualitas kader

cita dan masyarakat cita HMI.

Ketiga, Pedoman Perkaderan 1994 cenderung menggeneralisasi kualitas potensi kader dalam
satu frame tertentu dengan ukuran kualifikasi seragam untuk setiap peserta kader. Padahal, raw input

kader HMI meliputi berbagai latar belakang pendidikan, tingkat pemahaman keislaman, pengetahuan,

budaya, emosi personal dan sebagainya. Karena itu, pluralitas potensi individual yang memiliki kelebihan

dan kekurangan pada kader HMI tidak bisa dikesampingkan.

Keempat, Pedoman Perkaderan 1994 belum memiliki sistematika yang mendiskripsikan


mekanisme proses perkaderan secara dinamis, khususnya dalam aspek muatan perkaderan, manajerial

dan metodenya.

Dengan beberapa catatan kritis di atas, maka Pedoman Perkaderan 1999 mencoba
mengelaborasi kelebihan dan kekurangan pengalaman hampir satu dasawarsa pelaksanaan Pedoman
Perkaderan 1994. Dengan dorongan semangat pembaharuan dalam berbagai aspek kehidupan
sosio-politik baik di tingkat global maupun nasional, maka Pedoman Perkaderan 1999 ini diharapkan
mampu melahirkan kader-kader kualitas ulul albab yang memiliki daya vitalitas tinggi untuk

mengembangkan tata nilai yang diridloi Allah dalam masyarakat.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 4
BAB II
POKOK-POKOK PERKADERAN

1. Arah Perkaderan
Islam sebagai sebuah cara pandang, merupakan konsep integral antara Tuhan, manusia dan
alam. Pemahaman akan ketiga realitas itu menentukan perilaku manusia terhadapnya. Kerangka
landasan tersebut menjadikan revolusi Islam bukan hanya dalam rangka perlawanan terhadap
patung-patung berhala namun secara substansi pada perlawanan penghambaan manusia terhadap
materi.
Setiap makhluk di alam semesta, termasuk manusia, secara fitrah memiliki kecenderungan pada
nilai-nilai suci yang terkandung di dalam Dienul Islam. Dengan demikian tugas seorang Muslim selaku
khalifah di dunia adalah mengikuti petunjuk suci Dienul Islam dan berkewajiban
mengimplementasikannya dalam bentuk perjuangan (harakah Islamiyah) untuk sebuah peradaban
Islam yang sesuai dengan kehendak Ilahi.
Namun, kondisi realitas menampakkan manusia semakin jauh dari fitrahnya. Orientasi materi
dengan pemajuan kepada indra dan akal menyebabkan adanya perubahan nilai kemanusiaan dan
ideologi sosial. Hal ini sering bertentangan dengan cita-cita kultural dan nilai-nilai Islam. Kebenaran
bukan lagi atas dasar nilai-nilia Islam tetapi dengan paradigma posivistik yang mengakibatkan manusia
mengalami split dan kepincangan dalam mengidentifikasi dan mendefinisikan realitas. Manusia pun
akhirnya menyembah “tuhan-tuhan” buatannya sendiri. Jadi musuh manusia tidak lagi “tuhan” secara
kasat mata seperti pemimpin zalim yang mudah ditaklukkan, namun persepsi atau cara pandangnya
dalam memahami realitas kehidupan.
Banyak bentuk persepsi dan cara pandang yang positivistik telah menghegomoni kehidupan
manusia hingga menjadi makhluk yang tidak merdeka, antara lain feodalisme dan aristokrasi,
kediktatoran dan kolonialisme, kapitaslisme dan materialisme, dan liberalisme dan neo liberalisme.
Semua persepsi dan cara pandang tersebut meniscayakan semakin terlindasnya kaum mustadhafin
secara struktural. Peran institusi masyarakat yang melindungi masyarakat dari kehancuran menjadi
mandul sehingga tiap individu harus bersaing bebas tanpa ada perlindungan. Diperparah dengan
rendahnya peningkatan kapasitas masyarakat untuk hidup, membuat jurang kesenjangan kualitas
hidup semakin lebar dan semakin dalam.
Hal ini dapat dilihat pada sistem pendidikan yang tidak lagi menjadi sistem yang memanusiakan
manusia, malah menjadi sistem pembunuh karakter diri manusia. Mahalnya pendidikan dan dominasi
pragmatisme pada orientasi pendidikan, berdampak pada perubahan orientasi hidup ke arah hegemoni
materialisme. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah digunakan sebagai alat dominasi satu kaum
terhadap kaum lainnya. Alat dominasi si “kuat” dan si “lemah.” Hal tersebut menjadikan kaum-kaum

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 5
subordinat semakin jauh dari ilmu dan teknologi itu sendiri. Dan semakin rendah pula ketahanan

kehidupan mereka di muka bumi ini. Dampaknya terlihat pada generasi manusia kontemporer yang

semakin permissif dalam berinteraksi dan berorientasi pada hasil semata daripada proses. Hal ini akan

menyuburkan eksploitasi kehidupan manusia dan alam semesta yang membawa kerusakan di

mana-mana.

Ruh inilah yang menjadi semangat HMI sebagai organisasi perkaderan yang diimplementasikan

dalam Pedoman Perkaderan. Melalui pengelolaan yang terarah, teratur dan sistematis, muatan
ideologi, manajemen dan sistemnya akan menghasilkan kader paripurna dengan komitmen moral yang

mantap, kemampuan intelektual yang berkualitas, sikap keberpihakan yang tegas, kemampuan

manajerial yang baik dan kepemimpinan yang adil dan tangguh dalam menghadapi berbagai orientasi

hidup. Kemampuan ini menjadi senjata ampuh bagi kader dalam menghadapi relitasnya melalui

formula perkaderan yang terdiri dari Pendidkan, Aktifitas, dan Jaringan.

2. Asas Perkaderan

Asas perkaderan adalah prinsip-prinsip yang menjiwai semangat pelaksanaan perkaderan. Beberapa

asas yang harus dikembangkan dalam proses perkaderan:

a. Asas ketaqwaan, artinya perkaderan itu harus meningkatkan ketaqwaan pribadi kader.

b. Asas kepejuangan, artinya bahwa perkaderan itu harus merupakan manifestasi dari perjuangan

untuk menuju keadaan yang lebih baik.

c. Asas keumatan, artinya bahwa perkaderan itu harus dapat memberi manfaat langsun ataupun

tidak langsung terhadap peningkatan kehidupan umat.

d. Asas kesinambungan, artinya perkaderan itu harus memproses secara terus menerus tidak

terbatas pada dimensi ruang dan waktu, sekaligus mampu menopang kesinam-bungan perjuangan

organisasi khususnya dan perjuangan Islam pada umumnya.

e. Asas kemandirian, artinya bahwa perkaderan itu menciptakan kondisi yang dinamis untuk

melahirkan kader-kader yang mandiri dalam bersikap, berfikir dan memutuskan sesuatu

per-soalan pribadi maupun kelembagaan.

f. Asas persaudaraan, artinya bahwa perkaderan itu mampu menciptakan dan memperkuat ikatan

persaudaraan (ukhuwah) di kalangan kader HMI itu sendiri dan dengan sesamanya.

g. Asas keteladanan, artinya bahwa perkaderan itu harus memperhatikan aspek–aspek keteladanan

sebagai faktor penting dalam proses perkaderan pada umumnya dan pelaksanaan asas–asas

perkaderan lain khususnya.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 6
3. Tujuan Perkaderan.
Perkaderan HMI disusun untuk pembentukan Kader Cita HMI. Karateristik ideal tersebut terformulasi
dalam ungkapan Al-Qur’an, ulul albab, dengan kualifikasi sebagai berikut:
a. Hanya takut kepada ALLAH SWT :
o Berjiwa berani dalam menghadapi tantangan dalam bentuk apapun

o Tawakal kepada Allah SWT dan hanya mengharap ridha- Nya.


b. Tekun beribadah :
o Taat menjalankan ibadah mahdhah yang diajarkan Rasullullah SAW

o Rajin mengerjakan amalan–amalan sunnah

o Suka bangun dan beribadah ditengah malam.


c. Memiliki ilmu dan hikmah :
o Berpengalaman luas, serta mampu berpikir rasional dan obyektif.
o Memiliki kemampuan konseptual, sehingga dapat memformulasikan dan menjelaskan apa
yang diketahui dan diraskannya.
o Sanggup mengantisipasi keadaan dan siap menghadapi segala perubahan, karena memiliki
daya apresiasi, prediksi dan antisipasi yang tinggi.

o Memiliki keterampilan praktikal yang menghasilkan karya–karya nyata.


d. Kritis dan teguh pendirian
o Bersikap terbuka dan kritis terhadap berbagai macam pandangan.

o Bersikap selektif dan apresiatif terhadap berbagai pandangan, serta inovatif untuk
menciptakan karya-karya baru.

o Sanggup sendirian (istiqomah) dan tidak terjebak pada pandangan mayoritas.


e. Progresif dalam berdakwah :
o Bersedia berdakwah dengan sungguh-sungguh.

o Sanggup dan berani menghadapi segala bentuk resiko.

o Kreatif dalam strategi dan taktik berdakwah.

o Memiliki penampilan dan daya tahan fisik serta psikologis yang tinggi.
Dengan Kualifikasi Insan Ulil Albab itu maka diharapkan kader akan menjadi seorang:
Mu’abid : Kader menjadi insan yang tekun beribadah, mulai dari ibadah yang terkait pada dirinya
maupun terkait pada lingkungannya.
Mujahid : Kader memiliki semangat juang yang tinggi sehingga ia memiliki pemahaman dan
kemampuan berjihad dalam garis agama
Mujtahid : Kader mampu berijtihad sehingga segala tindakannya didasarkan pada pilihan sadar dari
dalam dirinya
Mijadid : Kader menjadi harapan atas usaha organisasi yang memiliki kekamampuan
dalam melakukan pembaharuan dilingkungan sekitarnya.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 7
4. Fungsi Perkaderan
Perkaderan HMI memiliki fungsi sebagai motor penggerak organisasi yang melahirkan usaha-usaha
yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan menuju ke arah tercapainya tujuan organisasi. Fungsi
perkaderan, antara lain harus dapat melahirkan kondisi-kondisi sebagai berikuti:

a. Kesinambungan dan peningkatan kualitas perjuangan misi Islam.


b. Kesinambungan dan kedinamisan kepemimpinan HMI.
c. Kesinambungan dan pengembangan perjuangan HMI.
d. Konsistensi pemahaman perjuangan HMI.
e. Peningkatan peran-peran personal kader dan kelembagaan.

5. Ruang Lingkup
Perkaderan sebagai salah satu bagian sistem organisasi dalam pencapaian tujuan organisasi
memiliki lingkup tersendiri yang berbeda dengan kelengkapan system organisasi lainnya. Ada satu
ruang lingkup dalam Pedoman Perkaderan yang menjadi sat elemen utama dalam kehidupan
organisasi, yaitu “Kader.” Pedoman Perkaderan membentuk kader dalam memposisikan kader
pada beberapa wilayah, yaitu:
a. Kader sebagai pribadi, kader HMI merupakan hamba Allah yang mukhlish, zuhud, dan tawadhu’,
sehingga terimplementasi dalma sosok pribadi paripurna yang memiliki mentalitas mantap,
cerdas, dan bijaksana sebagai manifestasi citra diri ulul albab.
b. Kader sebagai pemuda, kader HMI memiliki sifat perjuangan yang senantiasa peka dan militan
menjawab kehidupan lingkungan di skeitarnya, sehingga mampu tampil menjadi pelopor dan
dinamisator bagi gerakan komunitas kaum muda untuk melakukan usaha amar ma’ruf nahi munkar
secara ikhlas.
c. Kader sebagai warga masyarakat, kader HMI merupakan warga yang selalu peduli dan peka
terhadap aspirasi masyarakatnya, memiliki solidaritas yang tinggi dan senantiasa berpartisipasi
aktif dalam dinamika masyarakat.
d. Kader sebagai mahasiswa, kader HMI adalah orang yang berpendidikan dan memiliki jiwa dan
kemampuan intelektual, dan mampu mendayagunakan untuk mempercepat transformasi
masyarakat pada umumnya dan gerakan mahasiswa pada khususnya.
e. Kader sebagai pemimpin, kader HMI adalah sosok figure yang memilki kemapuan untuk memimpin
organisasi khususnya dan komunitas social pada umumnya, dengan berlandaskan pada sifat
amanah, adil, jujur, dan benar serta penyeru, pengayom, dan penuntun bagi lingkungan social
yang dipimpinnya.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 8
6. Muatan Perkaderan
Muatan perkaderan adalah semangat atau isi yang perlu diinternalisasikan, disosialisasikan
atau dikembangkan dalam setiap bentuk/model perkaderan sesuai dengan proporsinya. Muatan
perkaderan ini, merupakan arahan strategis sebagai derivasi dari tujuan perkaderan itu sendiri.
Muatan perkaderan ini, dijabarkan ke dalam tema-tema, baik yang bersifat teoritis maupun praktis,
dapat dikembangkan secara reatif sesuai dengan bentuk/model dan jenjang perkaderan itu.
Karenanya, muatan ini tidak bersifat membatasi, tetapi justru memberikan arahan dalam
pengembangan sumber daya kader untuk menuju kualitas kader cita yang holistik. Beberapa muatan
perkaderan itu adalah sebagai berikut :
a. Muatan Ideologi
Muatan ini berisi nilai-nilai ideal universal seperti keadilan, persaudaraan persamaan kebebasan,
kasih sayang, kearifan dan sebagainya yang kesemuanya itu merupakan nilai-nilai dasar pesan
ajaran Islam. Muatan ideologi ini menjadi peletak dasar bagi pengembangan berbagai aspek
kehidupan lainnya. Termasuk asumsi–asumsi dasar mengenai ALLAH SWT, manusia, alam
semesta, hari akhir dan sebagainya.
b. Muatan Kepribadian
Muatan ini berisi beberapa aspek yang akan membentuk kepribadian kader seperti sikap,
mentalitas, intelektualitas, kebiasaan dsb-nya. Termasuk dalam hal ini yang mampu
dikembangkan lewat proses perkaderan beserta kendala-kendalanya.
c. Muatan Epistemologi
Muatan epistemologi berisi seputar kaidah-kaidah sains sebagai muatan yang memberikan
landasan keilmuan bagi kader. Karena itu, dengan muatan ini, diharapkan kader HMI mampu
memiliki kerangka analisis yang jelas dan tepat dalam menyikapi, menyiasati dan mencari solusi
ber-bagai persoalan. Dengan demikian, setiap kader HMI mampu bersikap, berpikir dan
berperilaku saintifik serta mampu mengembangkan potensi intelektual dalam bentuk karya-karya
ilmiah secara optimal.
d. Muatan Sosiologis-Politis
Muatan sosiologis-politis berisi seputar berbagai persoalan sosial, budaya, politik, ekonomi,
sejarah dan budaya. Dengan muatan ini, maka kader HMI diharapkan mampu mengembangkan
wawasan sosial yang luas, kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi, apresiatif terhadap
berbagai fenomena sosial kemasyarakatan (keumatan). Lebih dari itu, dengan muatan ini maka
kader HMI diproyeksikan mampu melakukan sosialisasi dan berintegrasi ke tengah komunitas sosial
yang pluralistik, serta mengoptimalkan peran-peran sosial kependidikannya baik secara personal
maupun kelembagaan dalam melakukan perubahan sosial yang kontruktif.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 9
e. Muatan Organisatoris

Muatan organisatoris berisi berbagai aspek yang berkaitan dengan seluk beluk keorganisasian HMI

khususnya, misalnya mengangkat perkem-bangan dan peran-peran kesejarahan perjuangannya,

dinamika organisasinya, konstitusinya, perkaderannya dan sebagainya. Dengan pemahaman

muatan ini maka kader HMI diproyeksikan memiliki sense of belonging, rasa memiliki dan sadar

sepenuhnya untuk berjuang lewat HMI.

f. Muatan Skill-Profesionalitas

Muatan ini berisi pengetahuan praktis yang bersifat strategis atau pun teknis yang mampu

membekali kader guna mengembangkan profesi secara profesional yang berdaya bagi

pengembangan organisasi dan masa depan pribadi kader, misalnya jurnalistik, kewirausahaan,

teknologi informasi dan sebagainya.

7. Model Pekaderan HMI


HMI mengembangkan tiga model perkaderan yang diharapkan mampu menciptakan standar kader cita
HMI (Insan Ulil Albab), yang pada akhirnya, kualitas kader tersebut akan menjadi sumber kekuatan
efektif bagi organisasi dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang diridloi Allah SWT.

a. Model pendidikan
o Pengertian
Model pendidikan merupakan peletakan dasar-dasar pem-binaan dan pengembangan potensi
kader melalui proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai yang membentuk pola pikir, sikap,
mentalitas dan perilaku kader. Aplikasi model pendidikan ini meliputi aspek kognitif dan
afeksi kader serta aspek psikomotorik.

o Tujuan
Tujuan model pendidikan adalah untuk menginternalisasikan nilai-nilai Islam dalam
pembinaan sikap dan mentalitas kader. Sehingga kader bisa mempertegas citra, identitas dan
peran-peran diri yang dibentuk untuk mencapai tujuan HMI.

b. Model Kegiatan
o Pengertian
Perkaderan model kegiatan menekankan pada pemetaan potensi kader dan aktualisasinya
dalam aktivitas struktural HMI. Hal ini diwujudkan dalam aktifitas formal dan nonformal
struktur HMI tingkat Komisariat sampai pusat.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 10
o Tujuan

Tujuan model kegiatan adalah untuk mengaktualisasikan potensi kreatif kader ke dalam

pengalaman-pengalaman nyata ke dalam bentuk karya nyata baik secara personal maupun

kelembagaan.

c. Model Jaringan
o Pengertian
Model jaringan atau kemitraan adalah kegiatan yang dilakukan secara kelembagaan dengan
lembaga lain, yang diproyeksikan sebagai media sosialisasi visi dan misi HMI dengan
mengembangkan strategi organisasi yang merupakan implementasi pemahaman pluralitas dan
inklusivitas HMI.
o Tujuan
Tujuan model jaringan adalah untuk mem-pertegas keberadaan kader-kader HMI khususnya
dan organisasi HMI pada umumnya, di tengah pluralitas lembaga-lembaga lain dan mengakses
informasi yang bermanfaat bagi organisasi.

Ketiga model perkaderan ini bukanlah model yang lineir. Namun model yang terus tersambung satu
sama lainnya. Sehingga keberadaan satu model perkaderan tidak bisa lepas atas keberadaan dua
model lainnya. Artinya keberhasailan HMI dalam mewujudkan kader berkualifikasi insan ulil albab
dengan satu model tidak akan berhasil jika tidak didukung oleh dua model perkaderan lainnya. Berikut
gambaran sederhana atas keterkaitan ketiga model perkaderan tersebut.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 11

Skema Model Perkaderan

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 12

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 13
BAB III
PENGELOLAAN MODEL PENDIDIKAN

1. Gambaran Umum

Pendidikan merupakan proses pembentukan pribadi manusia, pewarisan dan penciptaan nilai,
pengetahuan dan keterampilan sehingga pribadi tersebut dapat mengembangkan diri secara optimal
untuk menghadapi kehidupan nyata. Maka perkaderan pendidikan HMI diorientasikan pada
pengembangan integritas pribadi kader secara menyeluruh sehingga mampu menjadi pemimpin yang
adil dan progresif-inovatif. Sehingga perkaderan Model Pendidikan ini menyentuh aspek pemahaman
dan pengamalan Islam yang termanifestasikan dalam sikap, mentalitas dan perilaku pribadi muslim,
wawasan intelektual, kepekaan sosial, kemampuan dan keberanian memecahkan persoalan (pribadi,
kemasyarakatan).

Perkaderan model pendidikan meliputi tiga jenis. Pertama adalah Pendidikan Keluarga.
Pendidikan jenis ini menekankan pada nilai kebersamaan atau jama’ah yang menumbuhkan sikap
saling bertanggungjawab dan saling menolong antara satu dengan lainya. Kedua adalah jenis
Pendidikan Pelatihan Umum. Pendidikan jenis kedua ini menekankan pada penggalian dan
pengembangan potensi kreatif kader dengan memberikan prinsip dasar keislaman, kepribadian,
keilmuan, sosial kemasyarakatan dan keorganisasian melalui proses atau forum pelatihan. Jenis
pendidikan yang ketiga adalah Pendidikan Pelatihan Khusus. Pendidikan Pelatihan Khusus adalah jenis
pendidikan yang melalui proses atau forum pelatihan yang menekankan pada peningkatan keahlian di
wilayah minat dan bakat serta tanggungjawab pada diri dari seorang kader.

Pendidikan model Pendidikan keluarga akan efektif jika dilakukan dengan tingkat frekwensi
komunikasi yang tinggi, sehingga kader terjaga dari waktu kewaktu dan akhirnya meminimalisir
kemungkinan disorientasi kader. Namun pada Pelatihan Umum, keefektifan akan tercipta jika
pelaksanaan melalui pengasramaan, sehingga kader diharapkan benar-benar berproses dan belajar
bersosialisasi dalam kelompok. Interaksi antar pribadi yang dinamis akan mampu memotivasi dan
mempercepat perkembangan diri kader menuju integritas pri-badi yang matang, mandiri, progresif
dan inovatif dengan dasar moralitas. Efektifitas pengkaderan model pendidikan Pelatihan Khusus
terletak pada proses setelah pelatihan itu berjalan. Artinya pendampingan dan latihan diluar waktu
pelatihan menjadi faktor penting dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 14
2. Model Pendidikan Keluarga
a. Pendidikan Keluarga Semester Pertama
o Tujuan
Tujuan Pendidikan Keluarga semester pertama adalah mempererat tali ukhuwah antar kader
dlam satu angkatan LK I dan dalam satu komisariat. Harapannya semua kader HMI yang telah
lulus LK I dapat terjaga semangatnya, kebersamaannya dan ghiroh perjuangan dalam sistem
organisasi. Pada akhirnya semua lulusan kader dapat beraktifitas di Komisariat secara utuh.
Materinya:
1. Syahadat 9. Mukhlis
2. Sholat 10. Ukhuwah
3. Shaum 11. Ikhtiar dan Jihad
4. Zakat 12. Insan Ulil Albab
5. Haji 13. Teologi dan Eskatologi
6. Muslim Kaffah 14. Kosmologi dan Sosiologi
7. Mu’min 15. Rasul sebagai Uswatun Hasanah
8. Muhsin

O Pelaksanaan
Pendidikan Keluarga semester I dilaksanakan Komisariat yang dikoordinir oleh pendamping
yang ditunjuk Komisariat atau cabang (bagi yang tidak memiliki Komisariat). Sasaran didik
pendidikan keluarga adalah Lulusan LK I yang terbagi dalam kelompok-kelompok. Bentuk
acara dapat dilaksa-nakan sesuai keinginan peserta. Bentuk dapat berupa forum diskusi kecil,
Rihlah, Silaturahmi atau aktifitas lain yang dirancang oleh peserta dan pendamping. Namun
harus terdiri dari pembukaan, tilawah, pembahasan hadis Arbain, materi, Qodlya (sharing
antar individu) dan penutup.

o Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan Peserta berupa tingkat kemampuan komunikasi pendamping.
Pendamping mengevaluasi peserta berupa perkembangan tingkat komunikasi antar sesama
peserta. Pengurus Komisariat melakukan evaluasi berupa kemampuan pendamping dalam
menjaga keutuhan kader dalam HMI.

o Administrasi
Administrasi dalam pendidikan ini tidaklah diperlukan selain administrasi yang mengukur
kehadiran peserta dan administrasi evaluai deskriptif pendamping atas tingkat komunikasi
antar sesama kader.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 15
b. Pendidikan Keluarga Semester Kedua
o Tujuan
Tujuan Pendidikan Keluarga semester pertama adalah mempererat tali ukhuwah antar kader
dalam satu lingkungan cabang. Setelah tali ukhuwah satu komisariat terbentuk maka
pembentukan komunitas dalam satu kesatuan cabang menjadi hal penting berikutnya.
Harapan lainnya adalah munculnya penggerak penggerak baru dalam aktifitas HMI tingkat.
o Meteri pendidikan keluarga semester kedua terdiri dari:
1. Sejarah Islam
2. Idiologi idiologi dunia
3. Pemikiran tokoh-tokoh Islam
4. Umat Islam dalam Dunia Politik
5. Umat Islam dalam Dunia Sosial Budaya
6. Umat Islam dalam Dunia Pendidikan
7. Umat Islam dalam Dunia Hukum
8. Umat Islam dalam Dunia Ekonomi
9. Umat Islam dalam kelangsungan kelestarian ekologi

o Pelaksanaan
Pendidikan Keluarga semester II dilaksanakan Komisariat yang dikoordinir oleh para
pendamping yang ditunjuk Komisariat atau cabang (bagi yang tidak memiliki Komisariat).
Sasaran didik pendidikan keluarga adalah anggota HMI yang telah melalui Pendidikan Keluarga
semester pertama. Pembagian kelompok dapat dirubah atau tetap, juga pendampingnya.
Bentuk acara dapat dilaksanakan sesuai dengan keinginan peserta namun unsurnya sama
dengan Pendidikan keluarga semester pertama.

o Evaluasi
Evaluasi yang dilaksanakan dilakukan oleh Peserta berupa tingkat kemampuan komunikasi
pendampingnya. Pendamping melakukan evaluasi peserta berupa perkembangan tingkat
pemahaman peserta atas nilai-nilai keislaman dan tingkat komitmen keorganisasiannya.
Pengurus Komisariat melakukan evaluasi berupa kemampuan pendamping dalam menjaga
keutuhan kader dalam organisasi HMI.

o Administrasi
Administrasi dalam pendidikan ini tidaklah diperlukan selain administrasi yang mengukur
kehadiran peserta dan administrasi evaluai deskriptif pendamping atas tingkat kebersamaan
kader dalam berinteraksi antar sesama angkatannya ataupun dengan selain angkatanya.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 16
c. Pendidikan Keluarga Lanjutan
o Tujuan
Tujuan Pendidikan Keluarga Lanjutan adalah mempererat tali ukhuwah antar kader di
lingkungan HMI. Pada tingkatan ini kader diharapkan tidak lagi terkooptasi struktur sosial
dan budaya lingkangannya. Kemampuan interaksi pada berbagai lingkungan menjadi output
yang diharapkan.
o Materi
Materi pendidikan keluarga terdiri dari:
1. Model dan Metodologi Penelitian
2. Analisis Sosial
3. Network Actifity Method
4. Pengelolaan Keuangan Organisasi
5. Pengeloaan Struktur Organisasi
6. Media dan Jurnalistik
7. Strategi dan Teknik Rekayasa.
8. Manajemen Konflik
9. dl
o Pelaksaan
Pendidikan Keluarga Lanjutan dilaksanakan Komisariat, dikoordinir para pendamping yang
ditunjuk Komisariat atau cabang (bagi yang tidak memiliki Komisariat). Sasaran didik
Pendidikan Keluarga Lanjutan adalah anggota HMI yang telah melalui Pendidikan Keluarga
Semester Kedua. Pembagian kelompok dapat dirubah atau tetap, juga pendampingnya.
Bentuk acara dapat dilaksanakan sesuai dengan keinginan peserta namun tetap harus terdiri
dari pembuka, tilawah, pembahasan hadis Arbain, penyampaian materi, Qodlya (sharing antar
individu) dan penutup.
o Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan Peserta berupa tingkat kemampuan komunikasi pendampingnya.
Pendamping mengevaluasi peserta pada perkembangan tingkat pemahaman nilai-nilai
keislaman dan komitmen keorganisasian-nya. Pengurus Komisariat melakukan evaluasi
pendamping dalam menjaga keutuhan kader dalam organisasi HMI.
o Administrasi
Administrasi harus mampu mengukur kemampuan peserta dalam bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungan diluar komisariat dan diluar HMI-nya. Admisnitrasi inilah yang
perlu dipersiapkan oleh pendamping.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 17
3. Model Pendidikan Pelatihan Umum
a. Latihan Kader I
o Tujuan
Latihan Kader I (Basic Training) bertujuan untuk mengembangkan potensi kreatif mahasiswa
agar memiliki kesadaran berproses menjadi seorang muslim yang Kaffah dan mempertegas
jati diri sebagai mahasiswa.
o Materi
1. Materi Dasar Keislaman : a. Keyakinan Muslim
b. Wawasan Keilmuan
c. Wawasan Sosial
d. Kepemimpinan
d. Etos Perjuangan
e. Hari Kemudian
2. Materi Pelengkap Keislman : a. Shirah Nabawiah
b. Sejarah Peradaban dan Perjuangan Islam
c. Dasar-Dasar Amaliah
3. Materi Ke HMI an : a. Sejarah HMI
b. KONSTITUSI HMI
c. HMI dalam Gerakan Kemahasiswaan
d. Dasar-Dasar Organisasi
e. Keskretariatan dan Atribut HMI
f. Azaz Tujuan Usaha dan Independensi

4. Materi Alat : a. Pengantar Logika


b. Adab Majelis
5. Materi Lokal
o Pelaksanaan
Latihan Kader I dilakukan oleh Komisariat minimal satu kali dalam satu tahun Elemen
pelaksananya:
1. Panitia sebagai penyelenggara teknis ditetapkan oleh Komisaraiat atau cabang yang
dilengklapi dengan sebuah propsal kegiatan
2. Pemandu dan Pemateri yang ditugaskan cabang mengelola forum. Pemandu LK I adalah
kader HMI lulusan Senior Course dan Pemateri adalah kader yang memiliki pengalaman
dalam memandu LK I.
3. Peserta merupakan mahasiswa islam yang berkeinginan masuk HMI.
4. Pengurus Komisariat atau cabang merupakan elemen penanggungjawab dari pelaksanaan
LK I. Inilah letak tanggungjawab akhir atas pelaksanakaan LK I.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 18
o Administrasi
1. Administrasi dalam LK I terdiri dari:
Administrasi kepanitiaan berupa:
a. Surat menyurat kegiatan
b. Laporan pertanggungjawaban kegiatan
2. Administrasi Kepemanduan, buku rekam proses kegiatan yang berisi:
a. Gambaran perkaderan HMI
b. Gambaran Latihan Kader I
c. Biodata Peserta
d. Absensi Peserta
e. Rekam Proses Materi
f. Lembar evaluasi pemandu, pemateri dan panitia
g. Surat Keputusan Kelulusan peserta dalam hal kelulusan LK I
3. Administrasi Kepengurusan Komisariat/Cabang yang terdiri dari:
a. Surat Keputusan Pembentukan Panitia
b. Proposal kegiatan
c. Surat Permohonan Pemandu dan Pemateri
d. Surat Keputusan Pengangkatan Anggota HMI (hanya oleh cabang)
o Evaluasi Pelaksanaan
1. Evaluasi dilakukan oleh:
2. Peserta, terdiri dari: Evaluasi Pemandu, Pemateri dan Panitia
3. Panitia, meliputi Evaluasi Pemandu dan Pengurus
4. Tim Pemandu, evaluasi peserta LK I
5. Pengurus Komisariat, evaluasi panitia dan peserta
6. Pengurus Cabang, evaluasi kualitas pemandu, pemateri dalam satu musim LK I
b. Latihan Kader II (Intermediate Traning)
o Tujuan
Latihan Kader II (Intermediate Training) merupakan LK tingkat lanjut yang merupakan media
aktualisasi dan pengembangan potensi kreatif secara mandiri dengan berpedoman pada nilai
dasar keislaman untuk menumbuhkan kemampuan analitis dalam merespon persoalan
keumatan dengan ketegasan sikap.
o Materi
1. Materi Teoritik
a. Dasar-Dasar Filsafat
b. Dialektika Ideologi
c. Pembentukan Masyarakat Kontemporer

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 19
2. Materi Realita Keislaman

a. Implementasi Tauhid Dalam Wacana Keumatan

b. Islam Dan Problematika Sains Kontemporer

c. Telaah Kritis Sistem Sosial Islam

3. Materi Gerakan Pembaharuan

a. Gerakan Pembaharuan Ummat Islam Dunia

b. Dinamika Kehidupan Ummat Islam Indonesia

c. Gerakan Dakwah Lokal

4. Materi ke-HMI-an

a. Khittah Gerakan sebagai paradigma gerakan

b. HMI dalam setting gerakan umat

c. Relevansi perjuangan HMI

5. Materi Alat
a. Strategi dan taktik pemberdayaan masyarakat
b. Metodologi penelitian sosial
c. Media dalam dialektika opini masayarakat
o Pelaksanaan
Latihan Kader II sebaiknya dilakukan oleh Pengurus Cabang minimal sekali satu tahun.
Elemen pelaksananya:
1. Panitia sebagai penyelenggara teknis ditetapkan oleh cabang yang dilengkapi dengan
sebuah propsal kegiatan
2. Pemandu ditugaskan cabang untuk menentukan tema, pemateri dan menseleksi peserta
LK II serta mengelola forum. Pemandu LK II adalah pemateri LK I yang telah mengisi
Materi LK I dalam jumlah tertentu.
3. Pemateri dalam LK II merupakan pihak-pihak yang kompeten dalam penyampaian materi
baik itu dari kader HMI maupun dari luar HMI.
4. Peserta merupakan kader HMI yang telah lulus LK I dan telah lulus dalam proses seleksi
peserta LK II oleh tim pemandu LK II.
5. Pengurus Cabang merupakan elemen penanggungjawab dari pelaksanaan LK II. Disinilah
letak tanggungjawab akhir atas semua bentuk pelaksanakaan LK II secara kualitas
maupun kuantitas.
o Administrasi
Administrasi dalam LK II terdiri dari:
1. Administrasi kepanitiaan berupa:
a. Surat menyurat kegiatan
b. Laporan pertanggungjawaban kegiatan

Ditetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 20
2. Administrasi Kepemanduan, buku rekam proses kegiatan yang berisi:
a. Gambaran Perkaderan HMI dan Latihan Kader II
b. Biodata dan absensi Peserta
c. Rekam Proses Materi
d. Lembar evaluasi pemandu dan panitia
3. Administrasi Kepengurusan Cabang yang terdiri dari:
a. Surat Keputusan Pembentukan Panitia
b. Proposal kegiatan
c. Surat Permohonan Pemandu dan Pemateri
o Evaluasi
Evaluasi dilakukan oleh:
a. Peserta, terdiri dari: Evaluasi Pemandu dan Panitia
b. Panitia, meliputi Evaluasi Pemandu dan Pengurus
c. Tim Pemandu, evaluasi peserta LK II
d. Pengurus Cabang, evaluasi kualitas pemandu
c. Latihan Kader III (Advanced Traning)
o Tujuan
Latihan Kader III (Advanced Training) adalah jenjang pembinaan dan pengem-bangan kader
dalam memformulasikan gagasan-gagasan kreatifnya (konsepsional dan operasional) dan
dalam mengantisipasi berbagai persoalan keumatan sehingga yang akhirnya mampu memberi
solusi alternatif pada rekayasa masa depan umat. Atas dasar tersebut maka LK III di format
dalam bentuk eksperimentasi. Eksperimentasi ini dapat berupa penelitian maupun simulasi
lapangan. Materi yang hadir hanya untuk membangkitkan memori peserta atas pembacaan
mereka terhadap lingkungan sekitar sebagai dasar lahirnya gagasan-gagasan perubahan.
o Materi
1. Materi Konsepsi Realitas
a. Konsepsi Politik
b. Konsepsi Ekonomi
c. Konsepsi Pendidikan
d. Konsepsi Hukum
e. Konsepsi Lingkungan
2. Tema Konsepsi Alat
a. Metodologi Penelitian
b. Analisis Lingkungan
c. Metodologi Gerakan

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 21
o Pelaksanaan

Pelaksanaan LK III dilakukan oleh Pengurus Besar minimal sekali dalam dua tahun. Elemen

pelaksananya:

1. Panitia sebagai penyelenggara teknis adalah dari cabang yang ditetapkan oleh Pengurus

Besar.

2. Pemandu ditugaskan PB untuk menentukan tema, pemateri dan menseleksi peserta serta

mengelola forum LK III. Pemandu LK III adalah kader HMI yang telah menjadi pemandu LK

II dan lulus LK III. Peran pemandu dalam LK III hanya sebagai fasilitator. Sehingga peran

peserta mendapat porsi yang lebih besar dalam pengelolaan forum.

3. Pemateri dalam LK III merupakan pihak-pihak yang kompeten dalam penyampaian,

materi baik itu dari kader HMI maupun dari luar HMI.

4. Peserta merupakan kader HMI yang telah lulus LK II dan telah lulus dalam proses seleksi

peserta LK III oleh tim pemandu LK III.

5. Pengurus Besar merupakan penanggungjawab dari pelaksanaan LK III secara kualitas

maupun kuantitas.
o Administrasi
Administrasi pelaksanaan Latihan Kader III terdiri dari:
1. Administrasi kepanitiaan berupa:
a. Surat menyurat kegiatan
b. Laporan pertanggungjawaban kegiatan
2. Administrasi Kepemanduan, buku rekam proses kegiatan yang berisi:
a. Gambaran Perkaderan dan Latihan Kader III HMI
b. Biodata dan Absensi Peserta
c. Rekam Proses Materi
d. Lembar evaluasi pemandu dan panitia
3. Administrasi Kepengurusan Cabang yang terdiri dari:
a. Surat Keputusan Pembentukan Panitia
b. Proposal kegiatan
c. Surat Permohonan Pemandu dan Pemateri
o Evaluasi Kegiatan
Evaluasi dilakukan oleh:
1. Peserta, terdiri dari: Evaluasi Pemandu dan Panitia
2. Panitia, meliputi Evaluasi Pemandu dan Pengurus
3. Tim Pemandu, evaluasi peserta LK III
4. Pengurus Besar, evaluasi kualitas pemandu dan peserta

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 22
4. Model Pendidikan Pelatihan Khusus
a. Kursus Keorganisasian
1. Tujuan
Kursus Korganisasian bertujuan meningkatkan keahlian atau kemampuan kader dalam
pengelolaan organisasi, baik dalam peran-peran tertentu maupun secara keseluruhan.
Tujuan Akhir dari Kursusu ini tidak lain adalah peningkatan kualitas pengelolaan organisasi
HMI dari waktu kewaktu. Peningkatan melalui kursus diperlukan karena HMI memiliki siklus
dan pergantian kader dari waktu kewaktu dalam pengelolaan organisasi. Sehingga perlu
transfer kemampuan dari pihak generasi awal ke generasi berikutnya. Kursus ini adalah salah
satu wahana terbaik dalam melakukan transformasi keahlian ini. Namun demikian karena
kursus ini bisa bersifat terbuka untuk umum maka tanpa menghilangkan kepentingan kader,
maka tujuan kusrus dapat diarahkan untuk masyarakat luas.
2. Bentuk
Bentuk bentuknya berupa kursus yang berkaitan dengan keorganisasian baik itu
keorganisasian HMI maupun keorganisasi secara umum. Contohnya:
a) Kursus Manajemen Organisasi
b) Kursus Administrasi Organisasi
c) Kursus Keuangan Organisasi
d) Kursus Manajemen Massa
3. Pelaksanaan
Kursus keorganisasian lebih ditekankan bagi para pengurus HMI, mulai dari tingkat
Komisariat sampai tingkat pusat. Sehingga pelaksanaannya lebih baik atas inisiatif dari
struktur kepengursan HMI, walaupun peserta yang dilibatkan terbuka untuk kader HMI dan
umum. Elemen kegiatan berupa pemandu atau pemateri dapat diambil dari luar Kader HMI.
4. Administrasi
Administrasi yang dipersiapkan sama dengan administrasi Latihan Kader II namun disesuaikan
dengan bentuk dan kepentingan kursus.
5. Evaluasi
Evaluasi dilakukan oleh:
a) Peserta: Evaluasi Pemandu dan Panitia serta Bentuk Kegiatan
b) Panitia, meliputi Evaluasi Pemandu dan Pengurus
c) Tim Pemandu, evaluasi peserta
d) Pengurus evaluasi kualitas pemandu dan peserta

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 23
b. Kursus Keahlian
1. Tujuan
Kursus keahlian bertujuan meningkat kaasitas kader dalam bentuk keterampilan diri.
Harapannya kader memiliki alat dalam melakukan gerak perjuangan di lingkungan
masyarakat luas. Namun demikian karena kursus ini bisa bersifat terbuka maka tanpa
menghilangkan kepentingan kader, kursus ini dapat ditujukan bagi masyarakat luas lainnya
juga.
2. Bentuk
Bentuknya berupa training keahlian dan training tematik, antara lain:
a. Training Manajemen Dakwah
b. Training Jurnalistik
c. Training Politik
d. Tarining Lingkungan
e. Training Ekonomi dan kewirausahaan
f. Training Advokasi
g. Training Pelaksanaan Penelitian
3. Pelaksanaan
Kursus keahlian lebih ditekankan untuk para kader HMI yang memiliki keaktifandalam
lembaga kekaryaan HMI ataupun lembaga masyarakat lainnya. Sehingga pelaksanaannya
didasarkan pada kecendrungan minat dan bakat kader baik yang sudah tersalurkan maupun
masih potensial. Elemen kegiatan berupa pemandu atau pemateri dapat diambil dari luar
Kader HMI kecuali jika Kursus memiliki jumlah peserta yang lebih banyak (dominan) dari
internal HMI dibandingkan jumlah peserta dari luar HMI atau jika kursus dilaksanakan untuk
menjalankan kepentingan khusus organisasi HMI.
4. Administrasi
Seperti halnya administrasi yang dimiliki Kursus Keorganisasian, kusrus keahlianpun perlu
menyiapkan administrasi yang sama dengan administrasi Latihan Kader II namun disesuaikan
dengan bentuk dan kepentingan kursus keahlian itu sendiri.
5. Evaluasi
Evaluasi dilakukan oleh:
a. Peserta, Evaluasi Pemandu dan Panitia serta Bentuk Kegiatan
b. Panitia, meliputi Evaluasi Pemandu dan Pengurus
c. Tim Pemandu, evaluasi peserta
d. Pengurus, evaluasi kualitas pemandu dan peserta

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 24
c. Kursus Kedirian
1. Tujuan
Kursus Kedirian bertujuan meningkatkan kapasitas pengendalian diri dana aktualiasasi
potensi diri yang belum terwujudkan. Harapannya kader mampu bersikap dengan benar dan
tepat dalam menghadapi lingkungan sekitar dirinya. Kursus kedirian ini juga dapat juga
bertujuan meningkatkan kemampuan pengendalian diri masyarakat selain kader HMI.
2. Bentuk
Bentuk bentuknya berupa training keahlian dan training tematik-tematik. Beberapa
contohnya adalah sebagai berikut:
a. Training Kepemimpinan
b. Training Pengenalan Diri
c. Achievement Motivation Training
d. Training Kecerdasan emosional
e. Training Kecerdasan Sipiritual
f. Training Manajemen Konflik
g. Anger Management Training
h. Training Pemetaan Potensi Diri
3. Pelaksanaan
Kursus kedirian ini dapat ditujukan bagi semua kelompok kader yang ada, sehingga
pelaksanaannya lebih baik berdasarkan keinginan kader sendiri bukan merupakan paksaan
struktur HMI. Pemandu atau pematerinya dapat diambil dari luar Kader HMI baik itu
sebagaian atau secara keseluruhan.
4. Administrasi
Administrasi yang dipersiapkan sama dengan administrasi Latihan Kader III namun
disesuaikan dengan bentuk dan kepentingan kursus.
5. Evaluasi
Evaluasi dilakukan oleh:
a. Peserta, Evaluasi Pemandu dan Panitia serta Bentuk Kegiatan
b. Panitia, meliputi Evaluasi Pemandu dan Pengurus
c. Tim Pemandu, evaluasi peserta
d. Pengurus evaluasi kualitas pemandu dan peserta

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 25
BAB IV
PENGELOLAAN MODEL KEGIATAN

1. Gambaran Umum
Kegiatan adalah aktivitas yang dilakukan secara sadar dalam rangka meningkatkan dan
mengembangkan potensi diri kader baik secara sendiri maupun bersama. Model kegiatan ini bertujuan
untuk memberikan alternatif aktivitas sebagai bagian dari perkaderan yang secara strategis
memberikan peluang dan kesempatan bagi anggota untuk mengembangkan dirinya dalam skala lebih
luas.
Satu hal yang sangat perlu dipersiapkan oleh berbagai pihak terutama pengurus struktural HMI
dalam menjalankan pengelolaan perkaderan dalam bentuk Kegiatan adalah pemetaan Kader.
Pemetaan Kader ini mencakup pemetaan potensi yang belum atau sudah terlihat, pemetaan komitmen
kader dengan organisasi HMI, pemetaan kesesuaian wadah aktifitas yang ada dilingkungan sekitar
dengan minat dan bakat kader. Pemetaan yang deprlukan juga adalh pemetaan kemampuan organisasi
untuk mengelola kader dalam bentuk kegiatan pada titik yang diharapkan dan ditentukan melalui
mekanisme pengambilan keputusan organisasi.
Pemetaan ini sangat perlu dilakukan agar pengelolaan kader dalam prosesperkaderan bentuk
kegiatan berjalan secara efektif dan efisian. Pengelolaan model Kegiatan ini sendiri dapat
diorientasikan pada:
a. Peningkatan keshalehan
Yaitu suatu upaya meningkatkan dan mengem-bangkan kualitas diri secara individual dan
senantiasa dzikrullah, baik dalam keadaan duduk, berdiri atau berbaring untuk mencapai
level/maqam ketaqwaan, sehingga mampu memahami dan mencerap kebenaran ayat-ayat
qauliyah dan kauniyah.
b. Mempertegas eksistensi dan jati diri
Yaitu suatu proses pendewasaan atau pema-angan diri sehingga terbangun eksistensi dan jati diri
yang mantap sebagai perwujudan kepribadian kader yang ideal, sebagaimana terformulasi dalam
kader cita ulul al-baab.
c. Profesionalitas
Yaitu upaya meningkatkan keahlian seorang kader menuju profesionalisme sesuai dengan
kemampuan dan keahlian setiap anggota baik dalam hal epemimppinan, keeorganisasian,
kemahasiswaan, maupun keilmuan.
d. Pengembangan diri
Yaitu upaya untuk berperan aktif dalam mengembangkan dan mengaktualisasikan profesionalitas
diri di kehidupan kampus dan masyarakat.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 26
2. Bentuk Kegiatan
Pengelolaan perkaderan dengan model kegiatan memiliki ragam dan varisasi bentuknya. Jika
dilihat dari jumlah kader yang terlibat maka pengelolaan perkaderan dengan model kegiatan dapat
dibagi menjadi 2 bentuk yaitu Kegiatan kolektif dan Kegiatan Individu. Jika dilihat dari wahana
kegiatan tersebut maka pengelolaan perkaderan dengan model kegiatanpun dapat dibagi menjadi
Kegiatan dalam bentuk Kepengurusan dan dalam bentuk kepanitiaan serta dalam bentuk forum.
a. Kegiatan Individu
o Tujuan
Tujuan kaderisasi model kegiatan dalam bentuk Kegiatan Individu adalah pembentukan
Kualitas personal pada kader dalam kesehariannya. Kualitas ini berupa Kualitas Belajar,
Kualitas Berinteraksi, dan Kualitas Bersikap. Tujuan tersebut dapat dibahasakan berupa
peningkatan aspek kognitif, afektif, psikomotorik dan menguatkan IQ, EQ dan SQ.
o Bentuk
1. Muhasabah
2. Tadzkiyatun Nafs
3. Mengikuti berbagai kegiatan yang meningkatkan kualitas diri

o Pelaksanaan
Kegiatan indvidu yang dimaksud disini adalah segala aktifitas individual sehari-hari. Akibatnya
pada tingkat teknis sang kader memiliki wilayah otoritas yang tidak bisa dimasuki oleh
perkaderan organisasi. Besarnya wilayah pada aktifias keseharaian kader yang bisa masuk
dalam format kaderisasi organisasi tergantung kesepakatan antara pendamping kader dan
kader itu sendiri. Namun demikian satu hal yang harus dipegang adalah aktifias kader tidak
boleh bertentang atau bahkan merugikan aktifitas organisasi. Peran pendamping adalah
pemberi tauladan dalam beraktifitas di keseharian. Artinya sang pendampinglah yang selalu
mengajak, mendorong dan menemani kader dalam perjalanan aktifitas individu keseharaian
menuju nilai-nilai yang diyakini baik.
o Administrasi dan Evaluasi
Pada aktifitas Individu adminitrasi yang perlu disiapkan hanyalah berita acara pendampingan
yang disusun oleh sang pendamping. Berita acara ini akan memantau sejauh mana peningkatan
kualitas hidup sang kader atas ajakan dan dorongan sang Pendamping dengan baik dan benar.
Evaluasi ini akan menjadi bahan penilaian Pengurus Komisariat dalam menentukan tingkat
kualitas kader dalam pengelolaan dirinya.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 27
b. Kegiatan Kolektif (Bersama)
o Tujuan
Tujuan kaderisasi model kegiatan dalam bentuk Kegiatan Kolektif atau bersama juga untuk
membentuk Kualitas personal pada kader dalam kesehariannya. Kualitas ini berupa
Kemampuan berinteraksi dengan lingkungan yang didasari atas kemampuan memberi nilai
tambah dalam dinamika lingkungannya. Tujuan lainnya adalah menumbuhkembangkan daya
kreasi dan inovasi kader dalam memberikan solusi atas problematika lingkungan sosialnya.
o Bentuk
Sebenarnya banyak bentuk kegiatan yang dapat dilakukan secara bersama (lebih dari satu
orang. Namun kita dapat mengambil beberapa contoh yang sering dilakukan oleh kader HMI
selama ini secara bersama-sama
1. Kajian.
2. Bakti Sosial
3. Advokasi
4. Out Bound
5. Penelitian
6. dan lain sebagainya

o Pelaksanaan
Pada dasarnya kegiatan Kolektif (bersama) yang dimaksud disini adalah segala aktifitas yang
melibatkan lebih dari satu individu. Memang akibatnya bentuk kegiatan yang dapat dilihat
sangatlah banyak. Namun dapat diambil titik fokus pada wilayah kesepakatan atas
pelaksanaan kegiatan tersebut. Pedoman Perkaderan akan berbicara semua bentuk
kegiatan bersama yang disepakati dalam forum struktur HMI.
Sehingga pelaksanaan kegiatan bersama harus melibatkan unsur struktur organisasi dan ada
pemantuan atas pelaksanaan kegiatan yang dijalankan atas dasar kesepakatan tersebut.
Memperbanyak jumlah atau varian kegiatan bersama sangatlah penting dalam membuat
kesepakatan dan dalam menjalankan kegiatan kolektif ini. Hal ini untuk menstimulus daya
kreasi kader dalam beraktifitas dan menekan rasa jenuh dalam beraktifitas di HMI.

o Administrasi dan Evaluasi


Pada aktifitas Kolektif adminitrasi yang perlu disiapkan adalah administasi yang mampu
mengukur tingkat keterlibatan peserta dan administrasi evaluasi atas daya inovasi dan kerasi
para kader. Semua administrasi ini dipersiapkan oleh para pengurus yang memimpin
pelaksanaan kegiatan.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 28
c. Kegiatan Pada Kepengurusan
1. Tingkat Komisariat
o Tujuan
Tujuan Kederisasi model kegiatan dalam bentuk Kepengurusan ditingkat Komisariat adalah
untuk memunculkan kekuatan kader dalam berinteraksi dan beororganisasi di lingkungan
struktur Komisariat. Ciri khas kekuatan berinteraksi dan berorganisasi yang ada pada
tingkat komisariat adalah semangat kekeluargaan. Artinya kemmpuan berinteraksi dan
berorganisasi bukan atas dasar persaingan yang saling menyingkirkan namun atas dasar
saling tolong menolong, saling menghormati dan saling mengasihi dengan semangat
kekeluargaan.
o Bentuk
Kegiatan kegiatan yang dibuat dalam aktifitas Komisariat memiliki bentuk yang sangat
variatif dengan warna kekeluargaan yang dominan. Akhirnya mekanisme-mekanisme yang
berjalanpun dalam berbagai kegiatan di Komisariat juga lebih banyak mekanisme
pendekatan kekluargaan. Bentuk kegiatan yang diperuntukan bagi kader di Komisariat
antara lain:
1. Rihlah,
2. Silaturahmi,
3. Diskusi kecil,
4. Belajar Bersama,
5. Kajian rutin.

o Pelaksanaan
Memastikan keikutsertaan kader dalam berbagai kegiatan Komisariat adalah
tanggungjawab pendamping kelompok kader, sedangkan pihak yang bertanggungjawab
atas keterlaksanaannya adalah Pengursu Komisariat.
Bentuknya lebih ditekankan pada usulan kader begitupun pengelolaannya. Intinya mereka
melakukan sesuatu untuk mereka. Pendamping kelompok memastikan semua kader ikut
dan Pengurus Komisariat memastikan peaksanaannya berjalan dengan baik melalui
dukungan struktural.

o Administrasi dan evaluasi


Administrasi yang diutamakan dalam kaderisasi dalam model kegiatan terdiri dari tiga
bagian yaitu laporan aktifitas yang dibuat kader, laporan aktifitas dibuat pendamping dan
laporan kegiatan yang dibuat pengurus Komisariat. Semua laporan ini dievaluasi secara
bersama oleh kader, pendamping dan Pengurus Komisariat secara bersama di forum
Komisariat.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 29
2. Tingkat Cabang
o Tujuan
Tujuan Kederisasi model kegiatan dalam bentuk Kepengurusan ditingkat Cabang memiliki
tujuan untuk memunculkan kekuatan kader dalam berinteraksi dan berorganisasi di
lingkungan struktur Cabang. Berbeda dengan komisariat pada lingkungan cabang ciri khas
yang muncul adalah warna dan suasana formalitas dan kebakuan dalam pola-pola kerja
struktur. Sehingga segala sesuatu yang dilakukan pada tingkat cabang harus berdasarkan
pedoman-pedoman organisasi yang berlaku. Bahkan dalam menyelesaikan
permasalahan-permasalahan yang muncul di anjurkan melalui mekanisme peradilan bukan
mekanisme kompromi.
o Bentuk
Kegiatan kegiatan dalam aktifitas Cabang merupakan kegiatan-kegiatan yang telah
terencana dalam mekanisme struktur organisasi cabang. Akhirnya mekanisme-mekanisme
yang berjalanpun lebih banyak melalui pendekatan formal yang baku dan sistematis.
Bentuk kegiatannya antara lain:
1. Seminar,
2. Training,
3. Advokasi,
4. Media,
5. Kajian terkurikulum.

o Pelaksanaan
Memastikan keikutsertaan kader dalam berbagai kegiatan Cabang secara baik dan benar
adalah tanggungjawab pendamping kelompok dan pengurus Komisariat bagi para kader
yang sudah melewati masa pendampingan. Pihak yang bertanggungjawab atas kepastian
terlaksananya kegiatan adalah Pengurus Cabang. Bentuk-bentuk kegiatan lebih
ditekankan pada kegiatan yang sudah tersusun dalam perencanaan Cabang.
Keikutsertaan para kader yang tidak masuk dalam struktur Pengurus Cabang memiliki
peran sebagai pelaksana kegiatan dan para kader yang masuk dalam struktur Pengurus
Cabang memiliki peran perencana kegiatan.

o Administrasi dan Evaluasi


Administrasi yang diutamakan dalam kaderisasi dalam model kegiatan terdiri dari dua
bagian yaitu laporan kualitas aktifitas kader yang dibuat oleh Pengurus Cabang laporan
kualitas aktifitas kader yang dibuat oleh pendamping kelompok kader dan pengurus
Komisariat.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 30
3. Tingkat Pusat
o Tujuan
Tujuan Kederisasi model kegiatan dalam bentuk Kepengurusan ditingkat Pusat adalah
memunculkan kekuatan kader dalam berinteraksi dan beororganisasi di lingkungan struktur
Pengurus Besar. Cirikhas yang dimilikinya adalah warna aktifitas dengan dominasi bentuk
pembuatan kebijakan dan jaringan. Sehingga aktifitas akan selalu merupakan sebuah
bentuk strategi atas nama organisasi dalam dataran konsep maupun pada datran teknis.
Akibatnya perhitungan untung rugi yang didasarkan atas pembacan realitas lingkungan luar
akan menjadi sangat dominan.
o Bentuk
Kegiatan kegiatan yang dibuat dalam aktifitas tingkat Pusat merupakan
kegiatan-kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal dalam bentuk
penciptaan kebijakan-kebijakan dan jaringan-jaringan. Akhirnya keikutsertaan kader
dalam aktifitas kader bersifat tetap dalam jangka waktu tertentu. Bentuk kegiatan yang
diperuntukan bagi kader ditingkat kepengurusan cabang antara lain:
1. Penyusunan Kebijakan,
2. Penelitian dan pengembambangan,
3. Koordinasi Keorganisasian,
4. Pembangunan Jaringan Kerja,

o Pelaksanaan
Memastikan keaktifan kader dalam kerja struktur Pengurus Besar secara baik dan benar
adalah tanggungjawab Pengurus Cabang, namun kualitas kegiatan adalah tanggungjawab
Pengurus Besar. Bentuk kegiatan lebih ditekankan pada pembuatan regulasi dan
kebijakan hubungan organisasi dengan dunia luar. Oleh sebab itu kader di biasakan
membuat kebijakan dengan lingkungan eksternal yang mudah berubah dan penuh
manipulasi. Kader harus ditekankan atas kesesuaian antara arah gerak dan tujuan
organisasi dengan arah kebijakan dari kebijakan itu sendiri.

o Administrasi dan Evaluasi


Administrasi pada model kegiatan dalam kepengurusan tingkat pusat terdiri dari laporan
kualitas aktifitas kader di PB yang dibuat Pengurus Besar dan Pengurus Cabang yang
bersangkutan dengan kader. Oleh sebab itu laporan aktifitas kader di PB harus diberikan
kepada cabang secara periodik dan adminitrasi laporan kualitas kader tersebut di letakan
di LPJ.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 31
d. Kegiatan Kepanitiaan
o Tujuan
Tujuan Kederisasi model kegiatan dalam bentuk Kepanatian adalah pembentukan kapasitas
diri kader dalam pengambilan peran dan pembuatan keputusan dalam suatu lingkungan
aktifitas yang terorganisir. Keluaran akhirnya adalah kemampuan kader dalam menjalankan
tanggungjawab yang diemban sesuai dengan peran yang diambilnya.

o Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan dalam wujud kepanitian memiliki ciri khas adanya jangka waktu yang
ditentukan, sumber daya yang dialokasikan dan yang dicarikan serta spesifikasi aktifitas yang
terjelaskan. Oleh sebab itu pelibatan kader dalam kegiatan kepanitian harus memperhatikan
waktu luang yang dimiliki sang kader, kemampuan teknis yang telah ada dan kapasitas mental
yang terbentuk. Ketiga hal ini akan menjadi faktor pertimbangan utama dalam pemberian
peran dalam kepanitian bagi sang kader. Penanggungjawab utama dalam ketepatan
pembagian peran pada keder terletak pada Pengurus Komisariat yang menentukan
Kepanitiaan ini. Sedangkan pendamping kader hanya bertanggungjawab atas pemberian
dorongan dan konsultasi aktifitas pada kader

o Administrasi dan Evaluasi


Administrasi ini berbentuk pendeskripsian kegiatan kepanitian yang cukup jelas bagi kader.
Tanpa ada kejelasan pendeskripsian ini, pelaksanaan peran dan tanggungjawab oleh kader
tidak akan ada optimal. Pengurus Komisariat mengevaluasi kemampuan kader menyelesaikan
tanggungjawabnya.
Pendamping Kader mengevaluasi atas kemampuan kader dalam mengatasi konflik-konflik
peran yang kemudian muncul selama kepantiaan. Kader sendiri melakukan evaluasi atas
pelaksanaan kepanitian yang dijalankan.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 32
BAB V
PENGELOLAAN MODEL JARINGAN

1. Gambaran Umum
Jaringan adalah bentuk-bentuk hubungan organisasi HMI dengan organisasi-organisasi diluar HMI
atau bentuk-bentuk hubungan kader HMI dengan lembaga lain melalui partisipasi anggota HMI
dilembaga tersebut. Organisasi-organisasi diluar HMI tersebut dapat dibedakan secara garis besar
berdasarkan cakupan wilayah seperti lokal, nasional dan internasional. Namun demikian, dapat juga
diuraikan menurut relasi kekuasaan kontemporer yakni Negara, masyarakat sipil, dan kelompok
pemodal. Prespektif lain untuk membedakan jaringan adalah menurut sektor yaitu politik, ekonomi
dan sosial budaya.
Model jaringan atau kemitraan bagi HMI adalah kegiatan yang dilakukan secara kelembagaan
dalam kaitannya dengan lembaga lain yang diproyeksikan sebagai media sosialisasi visi dan misi
dengan mengembangkan strategi organisasi sebagai implementasi atas pemahaman pluralitas dan
inklusifitas organisasi HMI. Turunan atas pemahaman itu dalam khasanah organisasi HMI adalah
bentuk-bentuk aktifitas kader dalam kegiatan organisasi untuk mewujudkan tujuan perkaderan dan
perjuangan HMI, sehingga hubungan kader HMI dan organisasi HMI dengan lembaga lain memiliki
hubungan yang erat dan sinergis dengan proses perkaderan dan perjuangan HMI.

2. Tujuan
Pengeloalaan jaringan sebagai media perkaderan diperlukan karena dua alasan, yaitu karena
kader dituntut untuk mengenal dan mampu menggerakan lingkungannya dan karena organisasi
menuntut terwujudnya tujuan-tujuan HMI di lingkungan kehidupannya. Ketika berfokus pada kader
maka pengeloaan perkaderan dengan media jaringan dijalankan agar kapasitas diri kader berkembang
tanpa harus teralianasi oleh perjalanan dinamika lingkungannya. Maka jika ada dukungan dari
lingkungan perguruan tinggi dan masyarakat sekitarnya terhadap akatifitas kader-kader HMI ataupun
aktiftas organisasi HMI merupakan indikasi bahwa kader HMI dan organisasi HMI memberikan manfat
baik kepada lingkungannya. Maka wajar jika kader-kader HMI pada tingkatan cabang harus berusaha
untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang diridlai Allah SWT. Oleh sebab itu pengelolaan
perkaderan HMI model jaringan memiliki tujuan:
a. Mendiseminasikan visi misi HMI
b. Meningkatkan Daya Survivalitas kader dalam berinteraksi di masyarakat luas.
c. Alat rekayasa pembentukan masyarakat yang diridlai Allah SWT.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 33
3. Bentuk Jaringan
Jaringan dalam organisasi HMI dapat dilihat dari tiga perspektif dan kemudian terbagi lagi
dalam bentuk dan pola jaringan. Ketiga perspektif tersebut adalah perspektif keterlibatan, perspektif
kewilayahan dan perspektif sasaran.
a. Dari persefektif keterlibatan, HMI membagi jaringan menjadi:
o Jaringan Kesertaan Kader
Jaringan ini terbentuk ketika HMI telah mengidentifikasi atas keterlibatan kadernya pada
organisasi laian yang memiliki potensi untuk bekerjasama dengan organisasi HMI atau untuk
menjadi wadah latihan kader atas potensi yang ia miliki, dimana potensi tersebut adalah
potensi yang berguna bagi HMI.

o Jaringan Pengutusan Kader


Jaringan ini terbentuk ketika HMI melakukan kerjasama dengan lembaga lain dan
menyebabkan harus mengutus kader HMI untuk ikut serta dalam aktifitas kerjasama tersebut
sebagai duta HMI
b. Dari persefektif Kewilayahan, HMI membagi jaringan menjadi:
o Jaringan Lokal
Jaringan Lokal merupakan jaringan yang terbentuk dalam wilayah cabang HMI. Jaringan ini
dibentuk dan dijalankan oleh cabang-cabang HMI itu sendiri.

o Jaringan Nasional
Jaringan Nasional merupakan jaringan yang terbentuk dalam cakupan wilayah kerja lebih dari
satu cabang HMI. Artinya jaringan ini dibentuk dan dijalankan oleh Pengurus Besar HMI dan
dapat dengan melibatkan kader-kader yang ada di cabang-cabang HMI diwilayah tersebut.

o Jaringan Internasional

Jaringan Internasional merupakan jaringan yang terbentuk dalam cakupan lintas negara.
Jaringan ini dibentuk dan dijalankan oleh Pengurus Besar HMI dan dapat dengan melibatkan
kader-kader yang ada di seluruh cabang HMI.

c. Dari persefektif objek sasaran, HMI membagi jaringan menjadi:


o Jaringan Kemahasiswaan
Jaringan kemahasiswaan merupakan jaringan yang dibentuk atas kesamaan status, yaitu
status sebagai mahasiswa. Namun ruang lingkup aktifitasnya dapat berupa apa saja.

o Jaringan Mayarakat non kemahasiswaan


Jaringan Mayarakat non kemahasiswaan merupakan jaringan yang dibentuk atas kesamaan
status, yaitu status sebagai mahasiswa. Namun ruang lingkup aktifitasnya dapat berupa apa
saja yang sesuai dengan visi dan misi HMI.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 34
4. Strategi Pembentukan Jaringan
Jaringan dapat dibentuk pada level apapun dan dengan pihak manapun dengan memperhatikan
asas-asas sebagai berikut :
a. Jaringan merupakan bentuk perwujudan operasional atas segala bentuk peraturan-peraturan
dan pedoman-pedoman HMI

b. Menjunjung tinggi asas independensi, artinya jaringan dibangun dengan tanpa mengorbankan
nilai dan idealitas yang dibangun organisasi HMI.

c. Membawa maslahat untuk kehidupan keumatan dan bagi perjuangan pembebasan kaum
mustadhafien

d. Mampu nenunjukan nilai-nilai moral perjuangan dan pergerakan yang dimiliki oleh organisasi
HMI.

e. Mampu menegakan nilai-nilai keadilan.


f. Dijalankan secara legal bagi organisasi HMI dan transpran bagi struktur HMI.

Dasar pembentukan jaringan tersebutlah yang harus dipegang ditiap waktu saat kader atau
lembaga HMI beraktifitas dalm lingkungan kerja jaringan organisasi. Atas dasar pegangan diatas
barulah HMI bisa secara organisatoris menggerakan kadernya dalam proses pembentukan dan
penjalanan jaringan kerja yang diinginkan. Pengorganisasian kader dalam proses perkaderan di
jaringan HMI dapat dijalankan dengan langkah-langkah:
a. Memetakan jaringan-jaringan yang dapat diciptakan atas dasar kemampuan memperjuangkan
nilai-nilai yang dipegang.
b. Melakukan kerjasama dengan jaringan yang dituju dalam lingkup terbatas ataupun lingkup yang
luas.
c. Pemetaan minat dan bakat kader baik yang masih tersimpan ataupun yang telah terlihat.
d. Mengutus kader-kader berpotensi untuk berpartisipasi aktif dalam jaringan yang telah dibentuk
untuk menjalankan peran sebagai duta organisasi sehingga misi dan visi HMI tersampaikan pada
publik.
e. Menempatkan para kader-kader untuk berpartisipasi aktif dalam jaringan yang telah dibentuk
dalam menjalankan peran sebagai duta organisasi sesuai dengan minat dan bakat yang
dimilikinya untuk meningkatkan profesionalitas kader dan daya tahan kader atas lingkungan
sekitarnya.
f. Mensuport kader-kader berpotensi yang telah berpartisipasi aktif dalam lembaga lain dimana
potensi tersebut dibutuhkan juga bagi HMI di kemudian waktu.
g. Melakukan evaluasi atas efektifitas jaringan dalam meningkatkan kualitas diri kader dan
komitemen diri kader terhadap organisasi HMI.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 35
5. Jaringan HMI pada lembaga Lainya
Pembentukan jaringan HMI antar lembaga dalam konteks Perkaderan diakukan dengan
mekanisme pengutusan kader dalam menwujudkan atau menjalankan kerjasama yang telah
ditetapkan oleh organisasi. Seorang kader HMI yang diutus ke lembaga-lembaga jaringan HMI harus
melalu seleksi dan penunjukan resmi melalu Surat Keputusan atau keputusan rapat pengurus. Dengan
demikian sosok kader yang diutus dalam menjalankan kerjasama pada jaringan tersebut menjadi tepat
dan bermanfaat.
Mekanisme ini tentunya memiliki keterbatasan waktu sehingga tiap waktu harus ditinjau ulang
apakah aktifitas jaringan dapat dilanjutkan atau dihentikan atau apakah kader yang di utus dapat
diganti atau tidak diganti. Pemilihan figur kader tersebut harus berdasarkan syarat atas kemampuan
kader dalam menunjukan identitas organisasi dan kemampuan kader dalam menjalankan kerjasama
tersebut. Kriteria atau syarat tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
 Merupakan figur yang tidak tercela dalam organisasi HMI
 Mampu memberikan pengenalan identitas HMI
 Mampu bergerak dengan idependen seperti yang ditetapkan organisasi
 Mampu menjalankan peran dan fungsi yang diamanahkan.

 Mampu membuat laporan tertulis pada struktur kepengurusan secara periodk atau pada saat

diminta pimpinan HMI


Perkaderan dengan mekanisme utusan memiliki dampak postif bagai kader yaitu berupa
peningkatan kualitas diri kader dalam hal kemampuan kader menjalankan peran dan fungsi yang
diberikan dari eksternal dirinya. Oleh sebab itu kader akan melakukan peran yang ditentukan oleh
lingkungannya dan mengisi ruang kosong yang telah tersedia pula. Kualitas ini merupakan bekal kader
dalam menjalankan aktifitas dalam suatu struktur masyarakat tertentu. Jika sebelumnya kader hanya
mampu beraktifitas dalam lingkungan kultural saja maka mekanisme pengutusan ini akan
meningkatkan kemampuan kader dalam beraktifitas dalam lingkungan struktural. Kader pada
mekanisme ini harus mampu untuk memisahkan kepentingan pribadi dan kepentingan lingkungannya.
Bahkan kader harus mampu memilih dan memetakan kepentngan mana yang harus dijalankan dan
kepentingan mana yang tidak harus dijalankan.
Pengelolaan perkaderan dengan model jaringan melalui mekanisme pengutusan memiliki
konsekwensi atas pelibatan kader tertentu saja. Tidak semua kader dapat dan mampu untuk terlibat
dalam mekanisme perkaderan ini. Oleh sebab itu struktur Hmi juga perlu memiliki mekanisme yang
mampu melibatkan semua elemen kader tanpa batasan. Mekanisme ini adalah meknisme jaringan HMI
berdasarkan atas pengekuan dan pendukungan Aktifitas Kader HMI pada lembaga Lainnya

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 36

6. Jaringan Aktifitas Kader HMI pada lembaga Lainnya

Pengelolaan Perkaderan jaringan dengan mekanisme pengakuan dan pendukungan aktifitas


kader HMI pada lembaga lainnya merupakan mekanisme yang mampu memfasilitasi kader secara lebih
luas. Pengakuan aktifitas kader tersebut dapat dilakukan untuk semua kader namun tidak untuk
pengurus HMI yang tidak mendapat ijin rangkap jabatan. Namun untuk pendukungan kader haruslah
dipilih sesuai dengan kemampuan struktur dalamnedukungnya dan tujuan yang ingin dicapai struktur.
Pendukungan kader dalam beraktifitas dilembaga lain merupakan bentuk pemberian wadah
bagi kader untuk aktualisasi atau untuk pembelajaran kader. Sehingga kader memiliki kelengkapan
ruang dalam mengaktualisasi potensi dirinya yang tidak terbatas pada ruang-ruang yang disediakan
oleh struktur HMI. Dengan demikian HMI dapat fokus dalam penyediaan ruang dialog yang
menghadirkan keragaman figur kader yang telah terbentuk dalam ruang-ruang eksternal.
Pendukungan kader dalam beraktifitas atas dasar keterbatasan kemampuan organisasi HMI akan
mengakibatkan ada beberapa kader yang memiliki aktifitas di lembaga lain namun tidak didukung.
Kewajiban pengurus untuk mendukung aktifitas kader melekat pada aktifitas kader yang
berkualifikasi:
a. Aktifitas kader sesuai dengan visi dan misi organisasi HMI
b. Aktifitas kader memiliki dampak positif secara langsung atau tidak langsung bagi pencapaian
tujuan organisasi.
c. Struktur HMI mampu menyediakan sumber daya untuk mendukung aktifitas kader.
Pengelolaan perkaderan jaringan dengan mekanisme pengakuan dan pendukungan aktifitas
kader pada lembaga lainnya akan menambah kekuatan kader dalam belajar atau beraktualisasi di
suatu lingkungan yang ia pilih. Pada pola ini kader juga akan menjalankan peran dan fungsi yang ia
pilih sendiri, namun dengan tambahan dukungan struktural yang memadai. Kaderpun akan memiliki
kemampuan untuk beraktifitas dalam tim. Selain itu kadern akan diajarkan akan pentingnya sikap
saling mendukung adalam beraktifitas yang memlliki tujuan dan arah yang sama.
Kaderpun dituntut untuk mampu beraktifitas dalam lingkungan kulturalnya dengan dukungan
struktural. Kesadaran akan perlunya dukungan struktural dalam aktifitas kultural juga akan terbentuk
pada dir kader. Pada mekanisme ini kader cukup konsentrasi atas pemanfaatan potensi diri dan
potensi lingkungan yang ada. Dengan demikian kader akan belajar mengelola sumber daya yang ia
miliki dan sumber daya yang ia dapatkan dari lingkungan sekitarnya dalam belajar dan beraktualisasi.
Kemampuan pengelolaan sumber daya ini menjadi titik utama atas kualitas diri kader dalam
mekanisme pendukungan aktifitas dalam pengelolaan perkaderan jaringan.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 37

7. Sasaran Pembentukan Jaringan

Pada dasarnya, sasaran atas jaringan yang harus dibentuk organisasi untuk meningkatkan
kualitas diri kader dapat berupa apa saja dan dimana saja. Namun demikian organisasi HMI juga
memiliki kepentingan untuk menyampaikan pesan dan nilai-nilai perjuangan yang dimilikinya melalui
aktifitas kadernya di suatu lingkungan. Oleh sebab itu wajarlah jika dianggap perlu untuk membuat
skala prioritas atas sasaran jaringan. Dengan penentuan ini maka HMI secara organisatoris dituntut
untuk mendorong kadernya beraktiftas pada jaringan tersebut dengan dikelola secara baik menurut
prosedur keorganisasian.
Secara garis besar ada dua kelompok yang bisa dijadikan sasaran bagi organisasi HMI untuk
dijadikan aktualisasi potensi diri kader dan wadah penyampaian nilai dan pesan perjuangan organisasi.
Kelompok tersebut adalah Jaringan msyarakat kampus dan jaringan masyarakat non kampus.
a. Jaringan Masyarakat Kampus
o Lembaga Dakwah Kampus
Keberadaan jaringan Lembaga Dakwah Kampus diperlukan bagi kader-kader HMI yang ingin
mengoptimalkan pemahaman dakwah Islam lingkungan akademiknya. Bagi Kader, jaringan ini
akan membentuk kekuatan bernilai dakwah di segala aktifitas kader dilingkungan
akademisnya. Dengan demikian gerakan kader adalah gerakan yang berdasar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara simbolis dan substansi keagamaan. Jaringan lembaga Dakwah
Kampus ini juga akan memperkenalkan kader atas pemahaman keislaman yang beragam di
lingkungan sekitarnya sehingga ia tidak akan kaget dan terkejut dalam menghadapinya.
o Lembaga Politik Kampus
Keberadaan jaringan dalam bentuk lembaga ini diperlukan bagi kader-kader HMI yang ingin
melatih dirinya dalam dunia politik praktis kemahasiswaan. Pada lingkungan ini kader akan
dilatih bagaimana mengelola dan menjalankan aktifitas politik praktis dengan membawa visi
dan misi HMI. Salah satu yang akan dilatih dalam lingkungan ini adalah bagaimana kader bisa
membuat kebijaksanaan yang dapat diterima oleh mahasiswa secara luas dengan segala
keterbatasan yang ia miliki. Bagi organisasi jaringan ini akan memperkuat pengaruh HMI dalam
kebijakan- kebijakan pendidikan tinggi dan kemahasiswaan di suatu Institusi pendidikan
tinggi. Oleh sebab itu HMI harsu mendorong dan mendukung aktifitas politik yang dilakukan
oleh kader-kader HMI di lingkungan institusi pendidikan tingginya, selama kader tersebut
mampu menyampaikan nilai-nilai dan pesan-pesan organisasi.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 38
o Lembag Pers Kampus
Keberadaan jaringan dalam bentuk lembaga ini diperlukan bagi kader-kader HMI yang
ingin meningkatkan kemampuan diri dalam dunia Pers Kemahasiswaan. Bagi organisasi jaringan
ini akan membantu atas pembentukan opini publik agar kondusif bagi perjuangan organisasi
HMI. Selain itu keberadaan jaringan Pers Kampus akan mempermudah publikasi organisasi
kekhalayak mahasiswa, baik itu dalam hal simbol keorganisasian ataupun dalam hal susbtansi
gerakan organisasi. Dengan demikian akan lebih banyak pihak yang mengerti, memahami dan
mendukung perjuangan organisasi.
Pada lingkungan ini kader akan dilatih bagaimana membentuk dan mengelola opini publik
secara baik, sehingga nilai-nilai dan pesan-pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan
oleh mahsiswa secara umum. Usaha atas penyampaian nilai-nilai dan pesan-pesan tersebut juga
termasuk didalamnya nilai-nilai pesan-pesan yang dimiliki organisasi HMI.
o Lembaga Keilmuan Kampus
Keberadaan jaringan dalam bentuk lembaga ini diperlukan bagi kader-kader HMI yang
ingin mengoptimalkan kapasitas akademiknya. Bagi organisasi jaringan ini akan membantu
dalam hal kekuatan akademis di segala gerakan HMI. Dengan demikian gerakan organisasi
adalah gerakan yang berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Pada
lingkungan ini kader akan dibentuk untuk memperjelas keberpihakan akademisnya dalam
menghadapi problematika dan dinamika keumatan. Sehingga kader merupakan aktifis gerakan
yang memiliki kekuatan akdemis yang baik dan memiliki keberpihakan yang jelas yaitu
keberpihakan atas perjuangan dalam garis Islam.

b. Jaringan Masyarakat non kampus


o Lembaga Dakwah Masyarakat
Keberadaan jaringan lembaga Dakwah masyarakat diperlukan bagi kader-kader HMI yang ingin
mengoptimalkan pemahaman dan peran dakwah Islam lingkungan sosialnya. Bagi Kader,
jaringan ini akan membantu kader dalam beraktualisasi akan perjuangan atas pembentukan
pemahaman keislaman yang baik dilingkungannya.
Dengan demikian kader tidak akan kehilangan akar kehidupan sosialnya ketika ia melakukan
gerakan dakwah pada lingkungan sekitarnya. Keberagaman pemahaman keislaman yang ada
dalam masyarakat tidak akan menjadi penghalang bagi kader dalammelakukan gerakan
dakwahnya. Justru kader didorong harus menjadi figur yang mampu hidup dan berinteraksi
dalam berbagai lingkungan yang memiliki pemahaman keislaman berbeda.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 39
o Lembaga Politik Masyarakat
Aktifitas Politik masyarakat tentunya memiliki wahana-wahana yang beragam.
Keragaman ini bisa dalam bentuk idiologi ataupun dalam bentuk tradisi politiknya. Pada
dasarnya kader dapat secara bebas memilih wahana aktifitas politik kemsayarakatannya
dalam bentuk apa saja dan dimana saja. Organisasipun harus memberi dukungan atas aktifitas
kader tersebut selama ia bisa menjaga nama baik organisasi dan tidak melanggar
ketentuan-ketentuan organisasi. Hal ini karena perjuangan HMI juga harus tersampaikan ke
masyarakat luas dan lembaga politik masyarakat adalah wahana yang efektif dalam mencapai
tujuan tersebut. Namun demikian kader yang menjadi pengurus dalam struktur HMI (pada
tingkat apapun) tidak diperkenankan berpartisipasi aktif atau hanya sekedar menjadi anggota
dalam lembaga politik masyarakat yang berbentuk partai.

o Lembaga Pers Masyarakat


Sama halnya dengan Lembaga pers Mahasiswa, keberadaan jaringan dalam bentuk
lembaga ini juga diperlukan bagi kader-kader HMI yang ingin meningkatkan kemampuan diri
dalam dunia Pers. Bagi organisasi jaringan ini akan membantu atas pembentukan opini publik
agar kondusif bagi perjuangan organisasi HMI. Jaringan ini juga dapat memberi nilai tambah
yang positif dalam bentuk publikasi HMI atas segala aktifitasnya. Pada lingkungan ini kader
akan dilatih bagaimana membentuk dan mengelola opini publik secara baik, sehingga
nilai-nilai dan pesan-pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan oleh khalayak
umum. Usaha atas penyampaian nilai-nilai dan pesan-pesan tersebut juga termasuk
didalamnya nilai-nilai pesan-pesan yang dimiliki organisasi HMI.

o Lembaga Sosial Masyarakat


Wahana atas kepedulian sosial kader terhadap dinamika lingkungan yang lebih luas
dapat diwujudkan dalam berbagai lembaga sosial masyarakat. Pada wahanan ini kader akan
diajarkan bagaimana mengelola kepedulan sosialnya tanpa menunjukan status sosialnya.
Kader juga akan di latih dalam berintaksi dan hidup secara bersama dengan masyarakat umum
yang ada dilingkungannya dengan mendorong perubahan yang baik atas lingkungannya
tersebut. Kepentingan organisasi atas dukungn kader yang beraktifitas dalam wahana ini
selain meningkatkan kualitas kader juga untuk membentuk image positif atas lembaga
melalui figur-figur kader yang tampil dalam masyarakat umum. Oleh sebab itu dukungan organisai bagi
kader yang beraktifitas dilingkungannya dengan baik harus tetap ada dan terjaga.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 40
8. Evaluasi

Evaluasi yang dilakukan atas pelaksanaan perkaderan model Jaringan adalah mengevaluasi
capaian-capaian 3 tujuan perkaderan model jaringan ini. Evaluasi ini harus dijalankan secara perodik
dan oleh berbagai tingkatan HMI. Evelauasi secara periodik diperlukan agar gerak perkembangan
capaian tujuan dapat di pantau dari waktu kewaktu pula dan evaluasi oleh seluruh elemen struktur
HMI diperlukan untuk mendeskripsikan sejauh mana kekuatan kader dalam hal jaringan diseluruh
bagian HMI.
Berfokus pada kualtas diri kader strukttur kepemimpinan HMI dapat melakukan evaluasi dalam 4
hal, yaitu latar belakang kesertaan kader dalam jaringan, Daya analisis kader, Kemampuan interaksi
kader dan peran kader dalam dinamika perubahan lingkungannya.
a. Latar belakang kesertaan kader dalam jaringan
Evaluasi atas latar belakang kesertaan kader diperlukan untuk mengetahui bagamaina struktur
menciptakan dorongan yang terus menerus dalam peningkatan kualitas diri kader selama interaksi
kader jaringan tersebut. Evaluasi ini dapat dipetakan menjadi:
o Pelarian

o Pembelajaran

o Aktualisasi

b. Daya analisis kader terhadap lingkungan jaringannya


Kemampuan kader dalam daya analisis lingkungan ini diperlukan karena dalam jaringan diperlukan
pengenalan lingkungan sebelum berinteraksi ke dalamnya. Daya analisis ini dapat diklasifikasikan
atas beberapa tingkat kualitas:
o Mengenal bentuk dan pola dinamika lingkungannya

o Tidak mengenal lingkungannya

o Mengenal bentuk dan pola dinamika lingkungannya

o Mampu memetakan subjek dan objek serta arah dinamika lingkungannya

c. Kemampuan interaksi kader terhadap lingkungannya


Evaluasi kemampuan kader dalam hal kemampuannya berinteraksi pada lingkungan sekitarnya
diperlukan karena interaksi adalah inti dari sebuah pengakuan apakah seorang kader masuk dalam
jaringan atau tidak. Tingkat kemampuan kader ini dapat dipetakan menjadi:
o Teralianasi atas dinamika mayor pada lingkungannya

o Ikut dalam dinamika mayor pada lingkungannya

o Berperan aktif dalam dinamika mayor pada lingkungannya

o Mampu mengarahkan dinamika lingkungannya

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 41
d. Peran kader dalam dinamika perubahan lingkungannya
o Pihak yang tidak mengenal dinamika perubahan lingkungannya

o Pengamat dinamika perubahan Lingkungannya

o Pelaku yang bukan utama atas dinamika perubahan lingkungannya

o Pelaku utama atas dinamika perubahan lingkungannya

Pada struktur organisasi HMI evaluasi ini harus dijalankan oleh masing-masing struktur
pimpinan. Struktur ini mulai dari Komisariat, Cabang dan Pusat.
a. Pada tingkat komisariat
Pada saranya evaluasi pengelolaan perkaderan melalu jaringan ini dilakukan pada tingkat cabang.
Namun demikian, bagi komisariat yang mapan, komisariat dapat melakukan evaluasi atas
keberhasilan sturkturnya dalam peningkatan kualitas Kader melalui media perkaderan jaringan.
Evaluasi ini harus dilakukan pada forum Rapat Pimpinan Komisariat kepada Pengurus Cabang dan
pada forum Struktur Kekuasaan yang bernama Rapat Anggota sebagai bentuk pertanggungjawaban
struktur Pengurus Komisariat kepada anggotanya.
b. Pada tingkat Cabang
Pengurus cabang tanpa terkecuali, harus mampu melakukan evaluasi dan pemetaan kualitas diri
kader-kadernya sebagai akibat pengelolaan sistem perkaderan pada cabang tersebut dengan
menggunakan jaringan. Evaluasi ini harus rutin dilaporkan kepada Pengurus Besar setiap empat
bulan dan harus dipertanggungjawabkan pada forum Konferensi Cabang tersebut dihadapan para
utusan Komisariat.
c. Pada tingkat Pusat
Pengurus Besar (Badan Koordinasi) harus mampu memberi evaluasi dan pemetaan atas kemampuan
struktur cabang mampu mengelola dan meningkatkan kualitas kader-kadernya secara baik dan
benar dalam pencapaian tujuan-tujuan organisasi HMI. Evaluasi ini didasari oleh laporan
cabang-cabang yang diterimanya secara periodik. Pemetaan ini huga harus diungkapkan dalam
kongres sebagai bentuk pertanggungjawaban di hadapan para utusan cabang-cabang.
.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 42

Lampiran-lampiran Skema

Skema Jaringan Aktifitas Kader HMI Pada Lembaga Lain

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 43

Skema Jaringan Lembaga HMI Pada Lembaga Lain

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Perkaderan 44

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 1
PEDOMAN STRUKTUR ORGANISASI
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

Bismillahirromanirrahiim

BAB I
PENDAHULUAN

Organisasi bagi HMI merupakan alat dalam menyusun barisan perjuangan untuk
membentuk insan ulil albab dan masyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT. Hal ini
berdasarkan sebuah kesadaran bahwa berjuang secara bersama mempunyai nilai lebih
daripada sendiri. Oleh sebab itu mulai dari pembentukan individu (kader) sampai
menggerakkannya di masyarakat umum, HMI lakukan dengan alat yang disebut
organisasi. Struktur merupakan fokus utama selain kultur ketika membicarakan
organisasi untuk mencapai tujuan dan keberlanjutan perjuangan HMI.
Pencapaian tujuan tersebut tentunya harus dilakukan dengan manajemen
organisasi yang berkualitas. Oleh sebab itu pembentukan dan pemakaian struktur
organisasi di tiap lini atau tiap tingkatan harus berdasarkan pada 3 komponen, yaitu
Fleksibel, Responsif, dan Visioner. Makna yang terkandung dalam faktor Fleksibel
adalah; struktur HMI dituntut untuk tidak kaku dan mampu memacu semua kadernya
melakukan kreatitivitas-kreativitas individu dalam lingkungan kerjasama organisasi
tanpa lepas dari pedoman yang berlaku. Responsif, merupakan sebuah dasar bagi
struktur HMI untuk menjawab segala tantangan dan hambatan dalam HMI serta
mengambil kesempatan dengan memperhatikan kekuatan dan kelemahan organisasi.
Hal ini perlu karena struktur HMI dibentuk untuk bergerak kedepan walau bentuk
struktur merupakan hasil kesepakatan yang diambil berdasarkan pertimbangan masa
lalu. Visioner, struktur HMI merupakan sebuah gambaran organisasi tentang masa
depan bukan masa lalu. Dengan demikian organisasi punya tujuan yang dapat ia lihat
dan jalani dari waktu ke waktu. Jika salah satu komponen ini tidak ada, maka struktur
organisasi akan pincang bahkan lumpuh dalam gerak organisasinya.
Ketiga hal di atas akan terlihat bermakna ketika struktur didesain dan
dijalankan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dasar yang ditetapkan oleh organisasi

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 2
dengan pertimbangan sisi kemanuisaan. Tidak seperti dasar organisasi pada umumnya,
tiga dasar ini menyatakan bahwa HMI merupakan organisasi yang tidak didasarkan atas
kekuasaan semata namun atas dasar kesepakatan bersama dengan komitmen bersama
pula. Pola ini merupakan pola masyarakat yang punya tingkat kesadaran tinggi untuk
berjuang bukan kesadaran tinggi untuk berkuasa dan menguasai. Kita akan banyak
melihat proses-proses dimana semua pihak berhak dan dapat beraktualisasi dalam
kerangka kerjasama yang sebenar-benarnya.
Bagan Struktur Organisasi merupakan sebuah skema kendali organisasi dengan
tingkatan tingkatannya (Pusat, Cabang dan Komisariat). Tiap tingkatan bagan struktur
terdiri dari Manajemen Puncak (Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendahara Umum)
tingkat Manajemen Menengah (Pengurus Harian, Pimpinan Lembaga Koordinasi,
Pimpinan Lembaga Khusus, Pimpinan Lembaga Kekaryaan), tingkat manajemen bawah
(staf atau panitia).
HMI memiliki tiga strukutur organisasi, yaitu Struktur Kekuasaan dan Struktur
pimpinan serta Majelis Syuro Organisasi. Struktur Kekuasaan adalah tempat keluarnya
amanah-amanah untuk aktifitas lembaga, Struktur ini terdiri dari Kongres, Konferensi
dan Rapat Anggota. Struktur pimpinan adalah pihak yang melaksanakan amanah.
Struktur pimpinan ini terdiri dari Pengurus Besar, Pengurus Cabang dan Pengurus
Komisariat. Adapun Majelis Syuro Organisasi merupakan struktur peradilan dan
konsultasi bagi organisasi yang terdiri dari MSO tingkat Pusat dan MSO tingkat cabang.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 3
BAB II
STRUKTUR KEKUASAAN

HMI dalam strukturnya hanya memiliki tiga tingkatan struktur kekuasaan. Ketiga
tingkatan itu terdiri dari tingkat pusat, tingkat cabang dan tingkat komisariat. Pada
tingkat pusat, Kongres menjadi forum pengambilan keputusan tertinggi dalam orgnisasi
HMI, pada tingkat cabang HMI mengenal Konferensi dan Rapat Anggota sebagai forum
pengambilan keputusan tertinggi yang ada pada tingkat Komisariat.

1. Kongres
Kongres merupakan struktur kekuasaan yang berbentuk forum dan dilaksanakan
setiap dua tahun sekali diakhir periode Pengurus Besar. Pelaksanaan diluar waktu ini
dapat diadakan atas pengajuan satu cabang yang kemudian disepakati oleh sebagian
besar cabang lainnya pelaksanaan diluar waktu normal, tanggungjawabnya dipegang
oleh cabang pengusul dan yang menyetujuinya. Kongres pada dasarnya memiliki
beberapa kekuasaan atau wewenang utama yang dapat dipakai, yaitu:
a. Menetapkan Pedoman Dasar (Anggaran Dasar), Pedoman Penjelas (Aanggaran
Rumah Tangga, Khittah Perjuangan) dan Pedoman Operasional (Pedoman
Perkaderan, Pedoman Keanggotaan, Pedoman Struktur Organisasi, Pedoman
Kesekretariatan, Pedoman Keuangan, Pedoman Atribut dan Pedoman lembaga-
lembaga.
b. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Besar HMI.
c. Memilih Ketua Umum HMI yang merangkap sebagai Formatur.
d. Memilih 4 (empat) Mide Formatur yang bertugas membantu Formatur dalam
pembentukan struktur kepengurusan. Mide Formatur akan bubar dengan
sendirinya saat Pengurus yang dibentuk dilantik.
e. Menunjuk Majelis Syuro Organisasi atas usulan cabang-cabang. Masing-masing
cabang cukup menunjuk 3 nama calon dan kongres menetapkan maksimal 13 orang
bersuara terbesar menjadi bagian dari MSO.
f. Melakukan pembubaran organisasi.
g. Melakukan Pelaksanaan Banding tingkat akhir atas keputusan cabangdalam
memecat anggotanya.
h. Menentukan agenda-agenda organisasi yang lainnya.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 4
Forum kongres dihadiri oleh utusan-utasan cabang dengan jumlah menurut
perhitungan utusan dalam Anggaran Rumah Tangga. Pada tingkatan teknis prosedur
yang harus dilakukan dalam hal utusan ini adalah:
1. PB HMI memberikan data mutakhir anggota HMI Cabang di seluruh Indonesia
kepada Steering Committee kongres.
2. SC Kongres memverifikasi jumlah anggota dan kemudian menentukan jumlah
utusan untuk setiap cabang.
3. Cabang mengirimkan nama-nama utusan sejumlah yang ditentukan SC sehari
sebelum kongres dibuka.
4. Jika terjadi keterlambatan, SC berhak menolak kehadiran utusan cabang dan tak
ada satu pihakpun yang berhak menggantikan utusan cabang tersebut,
5. Dalam keadaaan darurat pergantian utusan dalam suatu cabang dimungkinkan
dengan syarat harus diberitahukan secara resmi dan disahkan oleh Steering
Committee kongres.
6. Jumlah peninjau yang dapat hadir mewakili suatu cabang ditentukan oleh panitia
kongres setelah mendapat pertimbangan dari SC Kongres.
Pelaksanaan kongres dilakukan tiap dua tahun dengan waktu pelaksanaannya
diputuskan dalam Pleno III PB HMI. Kongres yang dilakukan diluar jangka waktu
tersebut dinamakan Kongres Luar Biasa. Kongres luar biasa ini memiliki wewenang
dan kekuasaan yang sama dengan kongres yang biasa. Namun Kongres luar biasa ini
dapat dilakukan dengan prosedur:
1. Satu cabang memberikan usulan Kongres luar biasa kepada pihak Majelis Syuro
Organisasi.
2. Dalam waktu satu bulan pihak pengusul harus menyerahkan surat persetujuan
untuk melaksanakan Kongres dari cabang-cabang lain yang berjumlah separuh
tambah satu dari cabang-cabang HMI yang ada kepada MSO.
3. Dalam kurun waktu satu bulan pihak-pihak yang menyetujui kongres Luar Biasa
harus dapat memembentu Steering Comitee dan Panitia Kongres luar biasa dan
menyerahkannya kepada MSO.
4. MSO berhak menyatakan pembatalan kongres Luar Biasa jika tenggang waktu
diatas tidak terpenuhi dan pihak pengusul dan pihak yang menyetujui tidak berhak
melakukan tindaan apapun yang mengarah pada Kongres Luar Biasa.
5. Ketua Umum PB HMI wajib hadir dan melakukan pertanggungjawaban dalam
Kongres luar biasa jika diminta.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 5
6. Segala keputusan yang lahir dalam Kongres luar biasa dapat menggantikan
keputusan Kongres sebelumnya.
2. Konferensi
Konferensi merupakan struktur kekuasaan tertinggi pada tingkatan cabang yang
waktu pelaksanaannya diputuskan di pleno terakhir pengurus cabang HMI.
Sebagaimana halnya Kongres, konferensipun berbentuk forum, namun dilaksanakan
tiap tahun pada akhir periode Pengurus Cabang. Konferensi ini dihadiri oleh utusan
komisariat-komisariat. Jumlah utusan komisariat ditentukan dalam rumusan yang
terdapat dalam Anggaran Rumah Tangga HMI. Prosedur teknis dalam hal utusan
komisariat adalah:
1. Pengurus cabang yang menangani pendataan anggota memberikan anggota data
mutakhir pada steering committee Konferensi.
2. SC Konferensi memverifikasi jumlah anggota lalu menentukan jumlah utusan.
3. Komisariat mengirimkan nama-nama utusannya, paling lambat sehari sebelum
konferensi dibuka.
4. Jika terjadi keterlambatan, SC berhak menolak kehadiran utusan dan tak ada satu
pihakpun yang berhak menggantikan utusan tersebut,
5. Pergantian nama utusan harus diketahui oleh SC konferensi.
6. Jumlah peninjau yang dapat hadir mewakili suatu komisariat ditentukan oleh
panitia konferensi setelah mendapat pertimbangan dari SC Konferensi.
Konferensi dapat dilaksanakan jika utusan yang hadir pada acara pembukaan
Konferensi lebih dari separuh jumlah utusan yang telah terdaftar oleh panitia
Konferensi. Jika jumlah tersebut (quota) tidak tercapai maka Konferensi dapat
dundur maksimal 1 x 24 jam. Konferesi pada dasarnya memiliki beberapa kekuasaan
atau wewenang utama, yaitu:
1. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Cabang.
2. Menentukan Garis Besar Haluan Kerja pengurus Cabang.
3. Memilih Ketua Umum HMI yang merangkap sebagai Formatur.
4. Memilih 4 (empat) Mide Formatur yang bertugas membantu Formatur dalam
pembentukan struktur kepengurusan. Mide Formatur akan bubar dengan
sendirinya saat Pengurus yang dibentuk dilantik.
5. Menunjuk Majelis Syuro Organisasi atas usulan Komisariat jika diperlukan. Pada
Konferensi, komisariat-komisariat cukup menunjuk 3 nama calon dan konferensi
menetapkan maksimal 7 orang bersuara terbesar menjadi bagian dari MSO.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 6
6. Anggota MSO yang dipilh menjadi Pengurus Cabang harus diganti oleh Koordinator
MSO atas persetujuan anggota MSO lainnya.
7. Melakukan proses banding atas keputusan cabang dalam memecat anggotanya.
8. Menentukan agenda-agenda organisasi yang lainnya.
Konferensi yang dilakukan diluar periode satu tahun dinamakan Konferensi Luar
Biasa. Prosedur yang harus dilakukan adalah:
1. Satu komisariat memberikan usulan Konferensi Luar Biasa kepada Majelis Syuro
Organisasi Cabang.
2. Ketika cabang tidak memiliki MSO maka komisariat mengirimkan usulan
Konferensi Luar Biasa ke MSO pusat.
3. Dalam waktu satu bulan pihak pengusul harus menyerahkan surat persetujuan
untuk melaksanakan Konferensi dari Komisariat lain yang berjumlah separuh
tambah satu dari seluruh Komisariat HMI yang ada kepada MSO Cabang atau MSO
pusat jika cabang yang bersangkutan tidak memiliki MSO.
4. Dalam kurun waktu satu bulan pihak-pihak yang menyetujui Konferensi Luar
Biasa harus dapat memebentuk Steering Comitee dan Panitia Konferensi Luar
Biasa dan menyerahkan daftar namanya kepada MSO cabang atau MSO pusat jika
cabang yang bersangkutan tidak memiliki MSO.
5. MSO cabang atau MSO pusat berhak menyatakan pembatalan Konferensi Luar
Biasa jika tenggang waktu di atas tidak terpenuhi dan pihak pengusul dan pihak
yang menyetujui tidak berhak melakukan tindakan apapun yang mengarah pada
Konferensi Luar biasa.
6. Ketua Umum Cabang HMI wajib hadir dan melakukan pertanggungjawaban dalam
Koferensi Luar Biasa jika diminta.
7. Segala keputusan yang lahir dalam Konferensi Luar Biasa dapat menggantikan
keputusan Konferensi sebelumnya.

3. Rapat Anggota
Pada tingkat kekuasaan terendah Rapat Anggota merupakan forum yang dihadiri
oleh semua anggota komisariat yang diadakan tiap tahun. Wewenang dan kekuasaan
yang dimiliki oleh Rapat Anggota adalah :
1. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Komisariat.
2. Menetapkan Garis Besar Program Kerja Komisariat.
3. Memilih Ketua Umum HMI yang merangkap sebagai Formatur.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 7
4. Memilih 4 (empat) Mide Formatur yang bertugas membantu Formatur dalam
pembentukan struktur kepengurusan. Mide Formatur akan bubar dengan
sendirinya saat Pengurus yang dibentuk dilantik.
5. Menentukan agenda-agenda komisariat lainnya.

Peserta yang hadir dalam Rapat Anggota terdiri dari Pengurus Komisariat,
Anggota Komisariat, dan Undangan Pengurus Komisariat. Anggota komisariat
memiliki hak untuk bicara dan hak suara sedangkan undangan memiliki hak bicara
atas ijin dari pimpinan sidang Rapat Anggota. Berbeda dengan kongres dan konferensi
pengurus komisariat memiliki hak untuk bicara dan hak suara setelah ia telah
menyelesaikan pertanggungjawabannya dan dinyatakan demisioner. Itu artinya ia
menjadi anggota biasa dalam Rapat Anggota setelah pertanggungjawaban.
Rapat Anggota dapat dimulai ketika dihadiri oleh lebih dari separuh anggota
komisariat. Jika tidak dapat terpenuhi maka acara dapat diundur maksimal 1 x 24
jam. Jika tetap tidak terpenuhi rapat anggota tetap bisa dilanjutkan dan dianggap
sah. Proses pemilihan pimpinan sidang Rapat Anggota sama dengan Kongres dan
Konferensi dalam bentuk presidium.
Rapat Anggota Luar Biasa merupakan rapat anggota yang dilakukan dalam
kondisi menyimpang. Rapat Anggota luar biasa dapat dilakukan jika lebih dari
separuh Pengurus komisariat setuju untuk melakukannya. Prosedur Rapat anggota
luar biasa yang harus dijalankan adalah:
1. Satu anggota melakukan pengusulan Rapat Anggota Luar Biasa kepada Ketua
Umum Komisariat.
2. Jika usulan ini disetujui oleh sebagain besar pengurus, maka pengusul memimpin
pembentukan Panitia dan Steering Comite pelaksanaan Rapat Anggota Luar
biasa.
3. Pembentukan ini harus terbentuk dalam waktu 1 bulan setelah pengusulan Rapat
Anggota luar biasa. Jika dalam waktu satu bulan belum terbentuk maka Rapat
Anggota Luar Biasa tidak boleh dilaksanakan.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 8
BAB III
STRUKTUR PIMPINAN

Struktur Pimpinan merupakan struktur yang memiliki peran dalam menjalankan


amanah yang dihasilkan oleh struktur kekuasaan. Dalam HMI ada tiga bentuk Struktur
Pimpinan, yaitu Pengurus Besar, Pengurus Cabang dan Pengurus Komisariat.

1. Tingkatan Struktur Organisasi


A. Pengurus Besar
Pengurus Besar merupakan sebuah struktur perwujudan HMI itu sendiri yang
dipimpin oleh Ketua Umum. Artinya sentral keberadaan HMI adalah Pengurus Besar
itu sendiri. Pada Pengurus Besar Ketua Umum memimpin struktur yang terdiri dari
Sekretaris Jendral, Bendahara Umum, Pengurus Harian Ketua-Ketua Komisi
Kebijakan, Ketua-ketua Lembaga koordinasi yang bernama Badan Koordinasi,
kepala lembaga-lembaga Kekaryaan dan Pimpinan Lembaga-lembaga Khusus.
Formasi struktur Pengurus Besar ditentukan oleh Formatur Kongres (Ketua
Umum), dibantu oleh para Mide Formatur sebagai pemberi saran. Formaturiat
(formatur dan mide Formatur) dapat menerima saran dari cabang-cabang dan
dapat juga menolaknya. Pada Lembaga Koordinsai dan Lembaga Kekaryaan,
forumatur (Ketua Umum) hanya dapat memilih 1 diantara 3 orang yang diusulkan
oleh forum musyawarah lembaga tersebut sebagai Ketua Lembaga. Dan ketua
lembaga memiliki wewenang menentukan sendiri aparatur lembaganya dengan
status yang sama sebagai Pengurus Besar.
Ketua Umum dalam kondisi tidak mampu mengendalikan strukutur Pengurus
Besar dalam jangka waktu tertentu dapat menunjuk Pejabat Sementara Ketua
Umum. Jangka Waktu penunjukan Pejabat Sementara Ketua Umum ini maksimal
dalam waktu 3 bulan atau setengah jarak antar rapat Pleno. Jika Melebihi Jangka
Waktu tersebut maka Ketua Umum harus diganti secara permanen. Pengganti
Ketua Umum ini bernama pejabat Ketua Umum. Penggantian ini bisa dilakukan
dengan penunjukan oleh Ketua Umum atau dengan keputusn Rapat Pleno PB.
Hal yang sama juga berlaku bagi Sekretaris Jendral, Ketua Lembaga-
Lembaga, dan Ketua Komisi Kebijakan. Bagi staf Sekretaris Jendral, Bendahara
Umum, Komisi-komisi Kebijakan dapat diganti oleh Ketua Umum sewaktu-waktu.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 9
Staf yang masuk dalam lembaga-lembaga hanya dapat diganti oleh Ketua lembaga
tersebut atau dengan keputusan Rapat Pleno Pengurus Besar.
Pengurus Besar memiliki peran eksekutor atas hasil Kongres. Oleh sebab itu
Ketua Umum sebagai kader yang diberi Amanah oleh Kongres dan sebagai
pemimpin atas pelaksanaan amanah tersebut harus mempertanggungjawabkan
perjalanan Pengurus Besar dalam satu periode. Pembeda peran struktur Pengurus
Besar dan struktur pimpinan lainnya adalah sifat kerjanya. Pengurus Besar dalam
HMI lebih bersifat sebagai pengambil kebijakan (regulator). Pengurus Besar hanya
membuat kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu bagi HMI dalam kehidupannya
dengan organ lainnya dan kebijakan-kebijakan HMI dalam kehidupannnya sendiri.
Kebijakan-kebijakan organisasi yang bersifat strategis, yaitu: kebijakan yang
mempengaruhi warna dan pola gerak organisasi, harus dikemukakan ke organ HMI
lainnya secara baik. Hal ini dijalankan agar tingkat kesepahaman seluruh elemen
organisasi mencapai pada tingkat yang bisa terhindar dari kesalahan komunikasi.
Ada beberapa ciri utama yang bisa dikatakan sebagai sebuah kebijakan strategis
yaitu:
1. Melibatkan struktur cabang atau struktur komisariat secara menyeluruh dalam
pelaksanaannya
2. Mempengaruhi posisi organisasi diantara posisi organisasi lainnya ditingkat
nasional ataupun internasional.
3. Melibatkan sumber daya yang lebih besar dari sumber daya yanga ada di
Pengurus Besar selama satu semeter, baik itu sumber daya Manusia ataupun
sumber daya finansial.

Ciri khas nomer 1 dan 2 merupakan ciri khas yang tidak terpisahkan sedangkan
nomer 3 merupakan ciri khas yang bisa diambil dan bisa juga tidak. Dengan kata
lain ada 2 kondisi dimana suatu kebijakan Pengurus Besar disebut dengan
kebijakan strategis yaitu kondisi yang memiliki unsur nomer 1 dan 2 atau juga dan
3 dan kondisi yang yang memiliki unsur nomer 3 saja.
Kebijakan strategis yang diambil oleh Pengurus Besar ini dalam pola
komunikasinya harus dikemukakan dalam Rapat pimpinan cabang. Pada forum
inilah Pengurus Besar diwajibkan bertukar pikiran atas kebijakan strategis yang
diambilnya. Pada dasarnya rapat pimpinan cabang tidak bisa menolak atau

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 10
memveto kebijakan strategis yang diambil Pengurus Besar karena hubungan antara
PB dan pimpinan cabang dalam rapat pimpinan ini adalah hubungan konsultasi
dimana kehadran PB ada jika ada yang perlu dikonsultasikan atau
dikomunikasikan. Namun demikian sikap penolakan para pimpinan cabang akan
menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan kebijakan strategis Pengurus Besar.

B. Pengurus Cabang
Pengurus Cabang merupakan sebuah struktur pimpinan dari sebuah cabang
yang dibentuk oleh Pengurus Besar. Pembentukan Cabang dilakukan jika:
1. Adanya sumber daya yang dipandang mampu menggerakkan cabang selama
kurun waktu minimal 2 tahun.
2. Adanya sarana komunikasi yang dapat menciptakan kondisi transfer informasi
antara cabang dan Pengurus Besar dan dengan cabang-cabang lainnya.
3. Pembentukan cabang didasarkan atas pertimbangan dan kemampuan elemen
Pengurus Besar yang bernama Badan Koordinasi dalam menjaga eksistensi
cabang minimal selama 2 tahun.
4. Pembentukkan cabang baru oleh disuatu kota atau kabupaten yang sudah ada
cabangnya harus seizin cabang yang bersangkutan.
Suatu Cabang dapat ”diberikan sanksi” oleh Pengurus Besar jika Pengurus
Cabang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kebijakan Pengurus Besar
atau melakukan pelanggaran-pelanggaran konstitusi. Tahapannya adalah:
Teguran 1 : Dalam waktu maksimal 3 bulan cabang harus melakukan tindakan
sesuai dengan yang diminta Pengurus Besar. Teguran ini hanya
diketahui oleh Cabang dan Pengurus Besar.
Teguran 2 : Dalam waktu maksimal 3 bulan berikutnya cabang harus melakukan
tindakan sesuai dengan yang diminta Pengurus Besar. Teguran ini
dapat diketahui oleh cabang lain di satu wilayah Badan
Koordinasinya.
Teguran 3 : Dalam waktu maksimal 3 bulan berikutnya cabang harus melakukan
tindakan sesuai dengan yang diminta Pengurus Besar. Teguran ini
dapat diketahui oleh cabang lain diseluruh Indonesia.
Sanksi : Penurunan status cabang dari status cabang penuh ke cabang
persiapan,kemudian cabang diberi waktu maksimal 3 bulan

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 11
untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan permintaan Pengurus
Besar.
Pembekuan : Jika cabang tetap tidak mengikuti kebijakan Pengurus Besar maka
Pengurus Besar berhak membekukan pengurus cabang tersebut dan
menggantinya dengan kepengurusan baru melalui penunjukan
langsung. Masa pembekuan sampai terbentuknya Pengurus Cabang
baru ini dilakukan maksimal selama 2 tahun. Dalam kurun waktu ini,
Badan Koordinasi melakukan pemulihan kondisi agar kebijakan PB
dapat diikuti atau pelanggaran konstitusi dapat diatasi dan agar
syarat-syarat cabang dapat terpenuhi.
Pembubaran: Jika dalam kurun waktu 2 tahun tidak ada tanda-tanda kedua kondisi
diatas dapat dipenuhi secara menyeluruh maka PB dapat melakukan
pembubaran Cabang.

Cabang yang dibekukan tidak memiliki hak apapun dalam kongres dan
forum-forum lainnya kecuali hak untuk hadir dan hak mendapatkan informasi atas
segala hal yang berkaitan dengan HMI. Aktifitas keanggotaan dapat terus
berlangsung dengan kendali ketua Badan Koordinasi sebagai pimpinan cabang.
Namun aktifitas eksternal tidak dapat dilakukan sama sekali.
Cabang yang dibentuk dari status ”tidak ada cabang” atau Cabang yang
dipulihkan dari status ”Cabang dibekukan” adalah Cabang yang berstatus
”Persiapan”. Perbedaan status ini hanya memiliki perbedaan pada hak jumlah
utusan yang bisa dikirim ke kongres. Utusan bagi cabang persiapan maksimal hanya
1 utusan saja walaupun jumlah anggotanya melebihi dari porsi 1 utusan cabang.
Status cabang Persiapan dapat berlaku maksimal dalam waktu 1 tahun.
Pengurus Cabang terdiri dari Pengurus Harian, Pimpinan Lembaga
Koordinasi, Pimpinan Lembaga Khusus dan Pimpinan Lembaga Kekaryaan serta
semua stafnya. Pengurus Harian dipilih oleh Formatur dan ditetapkan oleh Ketua
Umum, sedangkan Pimpinan Lembaga Koordinasi, Lembaga Khusus dan Lembaga
Kekaryaan ditetapkan oleh Ketua Umum berdasarkan usulan musyawarah
Lembaga. Staf yang ada dikepengurusan ditetapkan oleh Ketua Umum.
Pengurus cabang memiliki peran yang berbeda dengan Pengurus Besar.
Pengurus cabang memiliki fungsi Mobilisator organisasi. Hal ini mengakibatkan

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 12
wilayah kerjanya yang berbeda dengan PB. Wilayah kerja Pengurus Cabang adalah;
1. Melaksanakan kebijakan Pengurus Besar
2. Melaksanakan Keputusan Konferensi
3. Mengangkat dan memberhentikan Kader.
4. Menggerakan Kader HMI dalam menjalankan kebijakan Pengurus Besar.
5. Meningkatkan kapasitas Kader HMI.
6. Melibatkan anggota dalam partisipasi dinamika masyarakat di wilayahnya.
Dari gambaran diatas maka akan terlihat bahwa kemampuan yang dituntut
dalam diri seorang Pengurus Cabang atau sekelompok Pengurus Cabang adalah :
1. Mengkonsep sebuah aktifitas dalam sebuah tahapan beserta target dan tujuan
selama satu periode kepngurusan.
2. Kemampuan mengajak Kader dalam beraktifitas dalam sebuah Tim.
3. Menjadi figur tauladan bagi struktur dibawahnya yaitu komisariat.
4. Mampu menggerakan organisasi HMI dalam dinamika lingkungan sekitarnya.

C. Pengurus Komisariat
Pengurus Komisariat merupakan sebuah struktur Pimpinan di bawah
tingkatan cabang yang dibentuk oleh Pengurus Cabang. Pembentukan Komisariat
dilakukan jika memenuhi beberapa syarat utama yaitu:
1. Adanya institusi pendidikan tinggi yang jelas dapat dikelompokan dalam satu
komisariat atau lebih.
2. Adanya sumber daya yang dipandang mampu menggerakan Komisariat selama
kurun waktu minimal 1 tahun.
3. Letak geografis institusi pendidikan tinggi dengan sekretariat cabang yang
berjarak 5 Kilometer.
4. Pembentukan Komisariat didasarkan atas pertimbangan dan kemampuan
elemen Pengurus Cabang yang bernama Koordinasi Komisariat atau Bidang
kerja yang memiliki fungsi dan peran internal (bagi cabang yang tidak
memiliki Koordinator Komisariat) dalam menjaga eksistensi Komisariat
minimal selama 1 tahun.
Suatu Komisariat dapat ”diberikan sanksi” oleh Pengurus Cabang jika
Pengurus Komisariat melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kebijakan

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 13
Pengurus Cabang atau melakukan pelanggaran-pelanggaran konstitusi.
Tahapannya sanksi terebut adalah:

Teguran 1 : Dalam waktu maksimal 3 bulan Komisariat harus melakukan


tindakan sesuai dengan yang diminta Pengurus Cabang. Teguran ini
hanya diketahui oleh Komisariat dan Pengurus Cabang.
Teguran 2 : Dalam waktu maksimal 3 bulan berikutnya Komisariat harus
melakukan tindakan sesuai dengan yang diminta Pengurus Cabang.
Teguran ini dapat diketahui oleh Komisariat lain di satu wilayah
Badan Koordinasinya.
Teguran 3 : Dalam waktu maksimal 3 bulan berikutnya Pengurus Komisariat
harus melakukan tindakan sesuai dengan yang diminta Pengurus
Cabang. Teguran ini dapat diketahui oleh Komisariat lain diseluruh
Cabang.
Sanksi : Penurunan status Komisriat dari status Komisariat penuh ke
komisariat persiapan, kemudian pengurus komisariat diberi waktu
maksimal 3 bulan untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan
permintaan pengurus cabang.

Pembekuan : Jika Pengurus Komisariat tetap tidak mengikuti kebijakan Pengurus


Cabang maka Pengurus cabang berhak membekukan Kepengurusan
Komisariat tersebut dan menggantinya dengan kepengurusan baru
melalui penunjukan langsung. Masa pembekuan sampai
terbentuknya Pengurus Komisariat baru ini dilakukan maksimal
selama 2 tahun. Dalam kurun waktu ini, Koordinator Komisariat
melakukan pemulihan kondisi agar kebijakan Pengurus Cabang
dapat diikuti atau pelanggaran konstitusi dapat diatasi dan agar
syarat Komisariat terpenuhi.
Pembubaran: Jika dalam kurun waktu 2 tahun tidak ada tanda-tanda kedua
kondisi diatas dapat dipenuhi secara menyeluruh maka Pengurus
Cabang dapat melakukan pembubaran Komisariat.
Komisariat yang dibekukan tidak memiliki hak apapun dalam Konferensi
dan forum-forum HMI lainnya kecuali hak untuk hadir dan Hak mendapatkan
informasi atas segala hal yang berkaitan dengan HMI. Aktifitas keanggotaan dapat
terus berlangsung dengan kendali ketua Koordinator Komisariat sebagai pimpinan
cabang. Namun aktifitas eksternal tidak dapat dilakukan.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 14
Komisariat yang dibentuk dari status ”tidak ada Komisariat” atau
Komisariat yang dipulihkan dari status “Komisariat dibekukan” adalah komisariat
yang berstatus ”Persiapan”. Perbedaan status ini hanya memiliki perbedaan pada
hak jumlah utusan yang bisa dikirim ke Konferensi. Utusan bagi Komisariat
persiapan maksimal hanya 1 utusan saja walaupun jumlah anggotanya melebihi
dari porsi 1 utusan. Status Komisariat Persiapan dapat berlaku maksimal dalam
waktu 1 tahun.
Pengurus Komisariat minimal terdiri dari pimpinan Komisariat yang
bernama ”Ketua Komisariat” dan Sekretaris Komisariat. Kemudian Ketua
Komisariat dapat membentuk struktur dibawahnya atau tidak sama sekali. Seperti
halnya Pengurus Cabang, Pengurus Komisariat memiliki peran yang berbeda
dengan Struktur pimpinan lainnya. Pengurus Komisariat memiliki fungsi sebagai
kantong massa. Hal ini mengakibatkan wilayah kerjanya yang berbeda dengan
Pengurus Cabang. Wilayah kerja Pengurus Komisariat adalah;
1. Melaksanakan Kebijakan Pengurus Cabang
2. Melaksanakan Keputusan Rapat Anggota
3. Melindungi Kader HMI dalam aktifitas dilingkungannya
4. Menjaga kekerabatan antar anggota HMI.
5. Melibatkan kader agar berpartisipasi dalam dinamika lingkungan akademisnya.
2. Struktur Organisasi Tiap Tingkatan
A. Formatur dan Mide Formatur
Formatur adalah pimpinan HMI pada tingkatannya yang belum memiliki
pengurus dalam menjalankan amanah yang diebrikan oleh struktur kekuasaannya.
Tugas utama formatur adalah membentuk kepengurusan. Dalam menjalankan
tugas ini ia dibantu oleh Mide Formatur. Setelah kepengurusan terbentuk dan
dilantik maka formatur dan mide formatur bubar secara sendirinya.
Namun ia memiliki batasan waktu dalam penyelesaian tugas ini. Formatur
maksimal harus mampu membentuk suatu kepengurusan (sampai pengurus itu
dilantik) selama-lamanya 6 bulan untuk tingkat Pusat dan 3 bulan untuk tingkat
cabang, komisariat dan untuk lembaga khusus dan lembaga kekaryaan di
tingkatannya. Jika dalam batasan waktu ini formatur tidak dapat membentuk
kepengurusan maka satu atau beberapa cabang dapat memulai untuk melakukan

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 15
Kongres Istimewa (untuk tingkat Pusat) atau Konferensi Luar Biasa (untuk tingkat
Cabang) atau Rapat Anggota luar biasa (untuk tingkat Komisariat). Dan untuk
lembaga khusus dan lembaga kekaryaan diserahkan kepada kebijakan struktur
pimpinan.
Formatur dapat mengambil segala tindakan atas segala hal yang diperlukan
untuk menjaga eksistensi lembaga terhadap lingkungan eksternalnya ataupun
terhadap lingkungan internalnya. Dengan kata lain formatur dapat melakukan
segala sesuatu yang dapat dilakukan oleh Ketua Umum. Namun hal ini tida berlaku
bagi mide formatur.
B. Ketua Umum
Pimpinan HMI dikenal sebagai Ketua Umum. Pada Pengurus Besar, Pimpinan
HMI adalah ”Ketua Umum HMI”. Bagi pimpinan Lembaga-lembaga HMI disebut
dengan ”Ketua”. Ketua Umum HMI, adalah kader yang dipilih melalui Kongres
untuk memimpin organisasi HMI secara mnyeluruh. Ia-lah yang akan diminta
pertanggung-jawabannya atas gerak organsasi HMI selama satu periode
kepengurusan. Pada perjalanan organisasi ia memimpin sebuah tim kerja yang
bernama Pengurus Besar untuk menjalankan amanah-amanah Kongres. Tim kerja
inilah yang berhak memakai segala perangkat struktur HMI lainnya baik itu cabang
atau komisariat untuk mencapai tujuan yang ditentukan dalam Kongres.
Pimpinan Komisi Kebijakan dan Bidang Kerja hanya dapat menggunakan kata
”ketua” saja dalam dokumen organisasi. Karena Pimpinan Komisi Kebijakan
merupakan pimpinan HMI yang berada di bawah Ketua Umum. Namun ketua
lembaga lainnya menggunakan istilah Ketua Badko (untuk Lembaga Koordinasi
tingkat Pusat) dan Istilah Ketua Korkom (untuk Lembaga Koordinasi tingkat
cabang). Bagi pimpinan lembaga khusus dan lembaga kekaryaan, mereka dapat
menggunakan istilah lain (selain ”Ketua Umum HMI”) sesuai dengan ketetapan
lembaganya.
Para Ketua Komisi Kebijakan dan bidang kerja hanya boleh membubuhkan
tanda tangan dalam administrasi surat menyurat Kepengurusan HMI ketika di
dampingi oleh bubuhan tanda tangan Sekretaris Jenderal HMI disisi kanan Surat.
Namun hal ini tidak berlaku bagi Lembaga Koordinasi dan Lembaga Kekaryaan
serta Lembaga Khusus yang diberi wewenang dalam kebijakan administrasi
kelembagaannya.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 16
Khusus bagi Ketua Umum, baik itu pada tingkat Pusat, Cabang ataupun
Komisariat, harus mendelegasikan kekuasaannya untuk sementara waktu kepada
salah satu ketua dibawahnya atau sekretaris (sekjen atau sekum) atau Bendahara
Umum, jika ia tidak mampu menjalankan tugas dalam kurun waktu minimal 14 hari
sampai 6 bulan (untuk Pengurus Besar) atau 3 bulan (untuk Pengurus Cabang).
Ketua yang menerima pendelegasian ini disebut Pejabat Sementara Ketua Umum.
Jika lebih dari 6 bulan bagi Ketua Umum PB HMI atau lebih dari 3 bulan bagi
Ketua Umum Cabang atau Komisariat tidak mampu menjalankan aktifitas
keorganisasian maka Ketua Umum dapat digantikan secara tetap dengan salah satu
ketua yang ada dibawahnya melalui Rapat Pleno. Pengganti Ketua Umum ini
dinamakan sebagai ”Pejabat Ketua Umum”. Pejabat Ketua Umum dapat
meneruskan periode kepengurusan sampai habis dengan segala wewenang dan
tanggungjawab yang sama dengan yang dimiliki Ketua Umum.
C. Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Umum
Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Umum merupakan bagian dari Struktur
Kepemimpinan yang memiliki peran membantu Ketua Umum dalam menjaga
kestabilan gerak Struktur Kepemimpinan. Pada tingkat Pengurus Besar skeretaris
bernama Sekretaris Jendaral namun pada tingkat Pengurus Cabang dan Pengurus
Komisariat seretaris bernama Sekretaris Umum. Peran Sekretaris Jenderal atau
Sekretaris Umum sendiri ada tiga macam yaitu:
1. Fasilitator bagi seluruh perangkat HMI dalam menjalankan aktifitasnya
2. Protokol atas semua bagian Struktur Kepemimpinan
3. Administratur Struktur Kepemimpinan dalam gerak aktifitasnya.
Sekretaris Jendral dan Sekretaris Umum ditentukan dan ditetapkan oleh
Formatur dan Mide Formatur. Namun para staf sekretaris ditentukan oleh
Sekeretaris Jendral atau Sekretaris Umum dengan Surat Keputusan Ketua Umum
Struktur Kepemimpinan HMI. Dengan demikian sekeretaris dan seluruh stafnya
bertanggungjawab kepada Ketua Umum. Pada diri mereka selama menjadi
(Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Umum atau staf) melekat kewajiban untuk
membantu Ketua Umum saat diminta ataupun tidak diminta.
Sekretaris Jenderal pada tingkat Pengurus Besar dan Sekretaris Umum pada
tingkat Cabang, harus mendelegasikan kekuasaannya untuk sementara waktu
kepada salah satu ketua dibawahnya jika ia tidak mampu menjalankan tugas

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 17
dalam kurun waktu minimal 14 hari sampai 6 bulan (untuk Pengurus Besar) atau 3
bulan (untuk Pengurus cabang). Ketua yang menerima pendelegasian ini disebut
sebagai Pejabat Sementara Sekretaris Jendral (pada Pengurus Besar) atau Pejabat
Sementara Sekeretaris Umum (pada Pengurus Cabang atau Pengurus Komisariat).
Jika lebih dari 6 bulan bagi Sekretaris Jenderal Pengurus Besar HMI atau lebih
dari 3 bulan bagi Sekretaris Umum Pengurus Cabang atau Komisariat tidak mampu
menjalankan aktifitas keorganisasian maka Sekretaris Jenderal atau Sekretaris
Umum dapat digantikan secara tetap dengan salah satu ketua yang ada
dibawahnya melalui Rapat Pleno. Pengganti Sekretaris Jenderal atau Sekretaris
Umum ini dinamakan sebagai ”Pejabat Sekretaris Jenderal” bagi Pengurus Besar
dan ”Pejabat Sekretaris Umum” bagi Pengurus Cabang dan Komisariat. ”Pejabat
Sekretaris Jenderal” dan ”Pejabat Sekretaris Umum” dapat meneruskan periode
kepengurusan sampai habis dengan memiliki wewenang dan tanggungjawab yang
sama dengan Sekretaris Jendral dan Sekretaris Umum
D. Bendahara Umum
Bendahara Umum merupakan bagian dari Struktur Kepemimpinan yang
memiliki peran membantu Ketua Umum dalam wilayah keungan Organisasi.
Wewenang Bendahara Umum sendiri ada beberapa yaitu :
1. Melakukan regulasi atas penggunaan segala aset yang dimiliki oleh HMI.
2. Menentukan distribusi keuangan ke tiap elemen struktur Kepemimpinan.
3. Mengontrol penggunaan aset HMI oleh seluruh elemen Struktur Kepemimpinan.
4. Mencari dan mengelola sumber keuangan HMI baik itu dari lingkungan
eksternal dan lingkungan internal HMI.
Bendahara Umum ditentukan dan ditetapkan oleh Formatur dan Mide
Formatur. Namun para staf Kebendaharaan ditentukan oleh Bendahara Umum
dengan SK Ketua Umum Struktur Kepemimpinan HMI. Dengan demikian Bendahara
Umum dan seluruh stafnya bertanggungjawab kepada Ketua Umum.
Sebagaimana halnya Ketua Umum, Bendahara Umumpun baik itu pada
tingkat Pusat, Cabang ataupun Komisariat, harus mendelegasikan kekuasaannya
untuk sementara waktu kepada salah satu Ketua atau Sekretaris (sekjen atau
sekum) jika ia tidak mampu menjalankan tugas dalam kurun waktu minimal 14 hari
sampai 6 bulan (untuk Pengurus Besar) atau 3 bulan (untuk Pengurus cabang).

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 18
Bendahara yang menerima pendelegasian ini disebut ”Pejabat Sementara
Bendahara Umum”.
Jika lebih dari 6 bulan bagi Bendahara Umum PB HMI atau lebih dari 3 bulan
bagi Bendahara Umum Cabang atau Komisariat masih belum mampu menjalankan
aktifitas keorganisasian maka Ketua Umum dapat digantikan secara tetap dengan
salah satu ketua yang ada dibawahnya melalui Rapat Pleno. Pengganti Ketua
Umum ini dinamakan sebagai ”Pejabat Bendahara Umum”. Pejabat Bendahara
Umum dapat meneruskan periode kepengurusan sampai habis dengan segala
wewenang dan tanggungjawab yang sama dengan yang dimiliki Bendahara Umum.
E. Pengurus Harian
1. Komisi Kebijakan
Komisi Kebijakan adalah bagian dari Struktur Kepemimpinan HMI ditingkat
pusat yang membantu Ketua Umum dalam menjalankan Amanah Kongres.
Komisi Kebijakan berfungsi sebagai pengambil kebijakan pada tubuh HMI dan
tidak mengambil fungsi kerja teknis dalam HMI. Dengan demikian Komisi
kebijakan menjadi regulator penentu sikap HMI atas dirinya sendiri dan
dinamika masyarakat luas.
Pembentukan dan pembagian Komisi Kebijakan dilakukan oleh Formatur
dan Mide Formatur. Tiap Komisi Kebijakan dikoordinir oleh Ketua Komisi
Kebijakan dan kesemua Ketua Komisi Kebijakan dipimpin oleh Ketua Umum dan
Sekretaris Jendral HMI. Ketua Komisi inilah inilah yang kemudian memilih
anggota komisinya dengan ketetapan Ketua Umum Pengurs Besar HMI. Jumlah
anggota Komisi Kebijakan ditentukan oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jendral
dalam jumlah angka bilangan prima. Anggota Komisi Kebijakan dapat
diberhentikan dan diganti serta ditambah atas Keputusan Rapat Pleno Pengurus
Besar.
2. Bidang Kerja
Bidang kerja adalah bagian dari pengurus HMI ditingkat cabang dan
komisariat yang mempunyai tugas untuk membantu Ketua Umum dalam
menjalankan amanah Konferensi dalam pembagian bidang-bidang kerja. Bidang
kerja ini tidak sama halnya Komisi Kebijakan pada Pengurus Besar. bidang kerja
memiliki wewenang dalam melakukan aktifitas internal organisasi dan aktifitas
eksternal organisasi. Dengan kata lain wewenang kerjanya lebih luas daripada

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 19
Komisi Kebijakan Pengurus Besar yang berada pada wilayah eksternal HMI.
Pembentukan dan pembagian Bidang Kerja dilakukan oleh Formatur dan
Mide Formatur. Bidang-bidang Kerja ini dikoordinir oleh Ketua ketua bidang,
dan para ketua bidang dipimpin langsung oleh Ketua Umum. Pemilihan
Ketua-ketua bidang ini dilakukan oleh Formatur dan Mide Formatur dan jika ada
pergantian maka pergantian dilakukan oleh Presidium Kepengurusan.
Ketua-ketua Bidang ditetapkan oleh Ketua Umum dan bertanggungjawab
kepada Ketua Umum.
Staf yang dimiliki Bidang Kerja semuanya ditentukan oleh masing-masing
Ketua Bidang melalui ketetapan Ketua Umum. Di tingkatan cabang seluruh
personel Pengurus Harian diharapkan minimal telah melalui jenjang latihan
Kader II. Standar kualitas kader ini diharapakan agar cabang mampu
menjalankan aktifitas berupa aktualisasi lembaga atau kader HMI di lingkungan
masyarakat lokalnya. Sehingga keberadaan Pengurus Cabang dirasakan
manfaatnya pada lingkungan sekitarnya.

3. Unit Aktifitas
Pada tngkat Komisariat Unit Aktifitas adalah bagian dari struktur
kepengurusan. Elemen struktur ini mempunyai tugas untuk membantu Ketua
Umum dalam menjalankan amanah Rapat Anggota. Bentuk struktur unti
aktifitas dapat berupa unit kerja yang memiliki jangka waktu kurang dari satu
periode atau bidang kerja yang memiliki waktu satu periode. Fleksibilitas ini
untuk menekankan agar beban struktural tidak terlalau berat dipikul pada
tingkat Komisariat. Namun yang akan menjadi fokus dari komisariat adalah
menjaga kebersamaan kader dalam lingkungan strukturnya.
Sehingga aktifitas organisasi pada tingkat Komisariat tidak memerlukan
banyak aktifitas formal dan struktur formal pula. Pengutamaan penciptaan
kondisi kebersamaan kader membuat struktur pada tingkatan komisariat tidak
perlu baku dan tetap. Ketua Umum Komisariat dapat merancang bentuk
struktur yang cocok dalam lingkungan komisariatnya. Mulai dari unit aktifitas
yang paling sederhana sampai unit aktifitas dalambentuk bidang kerja.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 20
Pimpinan Unit Aktifitas dapat diberi nama apapun oleh formatur dan mide
formatur. Pimpinan unit aktifitas ini dipilih dan ditetapkan oleh Formatur dan
Mide Formatur namun para stafnya dapat dipilih langsung oleh para pimpinan
Unit Aktifitas dengan Surat Keputusan Ketua Umum. Pergantian pimpinan Unit
Aktifitas dan para stafnya dapat dilakukan dalam Rapat Presidium Komisariat
namun tetap dengan Surat Keputusan Ketua Umum. Oleh sebab itu para
pimpinan Unit Aktifitas beserta para stafnya harus bertanggungjawab pada
Ketua Umum atas segala aktifitas keorganisasiannya.
F. Lembaga Koordinasi
1. Badan Koordinasi
Lembaga Koordinasi pada tingkat Pusat dinamakan Badan Koordinasi.
Badan Koordinasi ini memiliki sifat yang Semi Otonom dari struktur Pengurus
Besar. Semi Otonom artinya:
a. Badan Koordinasi melalui Musyawarah Badan Kordinasi Badan Koordinasi
(Musbadko) diberi hak untuk menentukan calon ketuanya dengan
mengusulkan 3 calon ketua untuk dipilih 1 diantaranya oleh Ketua Umum
Pengurus Besar.
b. Ketua Badan Koordinasi diberi hak untuk mengangkat staf
kepengurusannya secara sepihak dimana staf-staf tersebut memiliki status
yang sama sebagai Pengurus Besar.
c. Badan Koordinasi diberi otonomi dalam menentukan agenda kerjanya
diluar forum rapat penentuan agenda kerja Pengurus Besar.
d. Badan Koordinasi diberi hak penuh dalam mengelola cabang-cabang HMI
yang ada dalam wilayah kerjanya.
e. Ketua Umum PB berhak memveto seluruh bagian yang dilahirkan oleh
Badan Koordinasi, Termasuk memberhentikan dan menggantikan posisi
Ketua Badan Koordinasi atas persetujuan Rapat Pleno PB. Catatannya,
pengganti yang ditetapkan diutamakan dari 2 diantara 3 calon (selain
Ketua Badko yang akan diganti) yang diajukan oleh Musbadko terakhir
dan untuk formatur diserahkan kepada kebijakan struktur pimpinan.
f. Ketua Badan Koordinasi tetap bertanggungjawab atas segala aktifitasnya
kepada Ketua Umum Pengurus Besar.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 21
Sifat kerja yang mengambil peran internal dan eksternal antar elemen
dalam HMI dan membantu pelaksanaan amanah menjadi hal yang membedakan
sifat kerjanya dengan lembaga lainnya. Badan Koordinasi juga bertugas
melakukan pembentukan dan penyehatan cabang. Tugas ini dilakukan dengan
membuat sarana dan prasarana yang memungkinkan cabang hidup dengan baik
dan mandiri. Akibatnya ia memiliki kewenangan atas prosesi pelantikan
Pengurus Cabang dan menjamin keberlangsungan kesehatan perkaderan di
cabang-cabang wilayahnya. Namun SK Pembentukan cabang dan Surat
keputusan pelantikan Pengurus Cabang tetap dikeluarkan oleh Ketua Umum dan
Sekjen PB HMI.
Selain bertanggungjawab kepada Ketua Umum Pengurus Besar HMI Ketua
Badan Koordinasi wajib melaporkan segala aktifitas kepengurusannya ke
Musyawarah Daerah dalam sebuah Laporan Pelaksanaan Tugas. Forum
Musyawarah Daerah tidak memiliki hak dalam penilaian namun memiliki hak
bertanya atas laporan tersebut.
Pada dasarnya tugas utama dari Badan Koordinasi adalah meningkatkan
kualitas kesehatan cabang. Pada pelaksanaannya ia perlu melakukan
pengidentifikasian terlebih dahulu. Tugas pengidentifikasian kesehatan cabang
inilah yang melekat dalam tubuh Badan Koordinasi. Berikut pola kesehatan
cabang:

Identifikasi Kesehatan Cabang


Awas Bina Sehat Kuat Mapan

Perkaderan

Latihan Kader + + + +

Pengader + + +

Senior Course + +

Kemandirian +

Kepengurusan

Regenerasi + + + +

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 22

Proses Pengambilan Kebijakan + + +

Kesekretariatan dan Kualitas + +


Struktur

Laporan +

Aktifitas

Kajian + + + +

Kepanitian + + +

Kegiatan Regional + +

Kegiatan Nasional +

Jaringan

Pengakuan + + + +

Intra Kampus + + +

Organisasi masyarakat + +

Organisasi keNegaraan +

+ : Unsur yang harus ada dalam kualifikasi kesehatan cabang.

Dari pengidentifikasian itu lahirlah perlakuan dalam bentuk:


1. Pada status Beku
Petugas : Seluruh Pengurus Badan Koordinasi
Tugas : - Menunjuk Ketum, Sekum, Bendum.
- Membubarkan cabang jika dipandang perlu.
Otoritas : Otoritas penuh dari Pengurus Besar. Namun semua Surat
Keputusan tetap dari Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal PB.
Waktu : Selama masih ada anggota tercatat atau anggota belum
semuanya dimutasi ke cabang lain

2. Pada status Pengawasan


Petugas : Seluruh Pengurus Badan Koordinasi.
Tugas : - Melaksanakan rekruitmen anggota.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 23
- Membekukan cabang jika dipandang perlu.
Otoritas : Penuh atas nama Cabang, sepengetahuan Ketum Cabang.
Waktu : 2 periode kepengurusan cabang.
3. Pada status Pembinaan
Petugas : Tim Asistensi Khusus (Ketua Tim tidak boleh rangkap
jabatan).
Tugas : Melakukan pendampingan dengan memberi bantuan teknis.
Otoritas : Otoritas penuh namun Cabang dapat memveto kebijakan tim.

Waktu : 2 periode kepengurusan cabang.

4. Pada status Sehat


Petugas : 1 orang konsultan dapat ditambah tim asistensi saat tertentu.
Tugas : - Memberi konsultasi

- Memberi bantuan teknis jika diminta


Otoritas : Terbatas pada permintaan cabang saja.
Waktu :
2 periode kepengurusan cabang.
5. Pada status Kuat
Petugas : 1 orang Pemantau
Tugas : Memberi motivasi kultural
Otoritas : Terbatas pada permintaan Pengurus Besar saja.
Waktu : 2 periode kepengurusan cabang.
6. Pada status Mapan
Petugas : Seluruh Pengurus Besar
Tugas : menjadikan cabang sebagai model bagi cabang lainnya
Otoritas : tidak ada.
Waktu : selama masih berstatus mapan.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 24
2. Koordinator Komisariat
Lembaga Koordinasi pada tingkat Cabang dinamakan Koordinator
Komisariat. Koordinator Komisariat ini juga memiliki sifat yang Semi Otonom
dari struktur Pengurus Cabang. Semi Otonom artinya:
a. Koordinator Komisariat melalui Musyawarah Koordinasi Komisariat
(Muskom) diberi hak untuk menentukan calon ketuanya dengan
mengusulkan 3 calon ketua untuk dipilih 1 diantaranya oleh Ketua Umum
Pengurus Cabang.
b. Ketua Koordinator Komisariat diberi hak untuk mengangkat staf
kepengurusannya secara sepihak dimana staf-staf tersebut memiliki
status yang sama sebagai Pengurus Cabang.
c. Koordinator Komisariat diberi otonomi dalam menentukan agenda
kerjanya diluar forum rapat penentuan agenda kerja Pengurus Cabang.
d. Koordinator Komisariat diberi hak penuh dalam mengelola
Komisariat-komisariat HMI yang ada dalam wilayah kerjanya.
e. Ketua Umum pengurus HMI berhak memveto seluruh bagian yang
dilahirkan oleh Koordinator Komisariat. Ketua Umum Pengurus Cabang
juga berhak memberhentikan dan menggantikan posisi Ketua Koordinator
Komisariat atas persetujuan Rapat Pleno Pengurus Cabang.
Catatannya, pengganti yang ditetapkan diutamakan dari 2 diantara 3 calon
(selain Ketua Korkom terpilih) yang diajukan oleh Muskom terakhir.
f. Ketua Koordinator Komisariat tetap bertanggungjawab atas segala
aktifitasnya kepada Ketua Umum Pengurus Cabang.

Sama seperti halnya Badan Koordinasi, sifat kerja Koordinator


Komisariat mengambil peran internal antar elemen dalam HMI dan membantu
pelaksanaan amanah menjadi hal yang membedakan sifat kerjanya dengan
lembaga lainnya. Koordinator Komisariat juga bertugas melakukan
pembentukan dan penyehatan Komisariat. Akibatnya ia memiliki kewenangan
atas prosesi pelantikan Pengurus Komisariat dan menjamin keberlangsungan
kesehatan perkaderan di cabang-cabang wilayahnya. Namun SK Pembentukan
Komisariat dan Surat Keputusan pelantikan Pengurus Komisariat tetap
dikeluarkan oleh Ketua Umum dan Sekum Pengurus Cabang.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 25
Selain bertanggungjawab kepada Ketua Umum Pengurus Cabang, Ketua
Koordinator Komisariat wajid melaporkan segala aktifitas kepengurusan ke
Musyawarah Komisariat dalam sebuah Laporan Pelaksanaan Tugas. Forum
Musyawarah Komisariat tidak memiliki hak dalam penilaian namun memiliki hak
bertanya atas laporan tersebut.
Sama halnya dengan tugas utama Badan Koordinasi, tugas utama
Koordinator Komisariat juga adalah meningkatkan kualitas kesehatan
Komisariat. Pengidentifikasian perlu dilakukan. Berikut gambaran
pengidentifikasian yang menjadi acuan peningkatan kualitas nantinya:

Identifikasi Kesehatan Komisariat

Awas Bina Sehat Kuat Mapan

Perkaderan

Forum Perkenalan + + + +

Latihan Kader I + + +

Rutinitas Silaturahim sesama + +


anggota

Pengader +

Kepengurusan

Regenerasi + + + +

Proses Pengambilan Kebijakan + + +

Kesekretariatan dan Kualitas + +


Struktur

Laporan +

Aktifitas

Kajian + + + +

Kepanitian + + +

Kegiatan Wilayah + +

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 26

Kegiatan Cabang +

Jaringan

Pengakuan + + + +

Intra Kampus + + +

Organisasi masyarakat + +

Organisasi keNegaraan +

+ : Unsur yang harus ada dalam kualifikasi kesehatan komisariat.

Dari pengidentifikasian itu lahirlah perlakuan dalam bentuk:


1. Pada status Beku
Petugas : Seluruh Pengurus Koordinator Komisariat.
Tugas : - Menunjuk Ketum, Sekum, Bendum.
- Membubarkan Komisariat jika dipandang perlu.
Otoritas : Otoritas penuh dari Pengurus Cabang. Namun semua Surat
Keputusan tetap dari Ketum dan Sekum Cabang.
Waktu : Selama masih ada anggota tercatat.
2. Pada status Pengawasan
Petugas : Seluruh Pengurus Koordinator Komisariat.
Tugas : - Melaksanakan rekruitmen anggota.
- Membekukan Komisariat jika dipandang perlu.
Otoritas : Penuh atas nama Komisariat, sepengetahuan Ketua Umum
Komisariat.
Waktu : 2 periode kepengurusan Komisariat.
3. Pada status Pembinaan
Petugas : Tim Asistensi Khusus (Ketua Tim tidak boleh rangkap
jabatan).
Tugas : Melakukan pendampingan dengan memberi bantuan teknis.
Otoritas : Otoritas penuh tapi Komisariat dapat memveto kebijakan
tim.
Waktu : 2 periode kepengurusan Komisariat.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 27
4. Pada status Sehat
Petugas : 1 orang konsultan dapat ditambah tim asistensi saat
tertentu.
Tugas : - Memberi konsultasi
- Memberi bantuan teknis jika diminta
Otoritas : Terbatas pada permintaan Komisariat saja.
Waktu : selama masih berstatus sehat.
5. Pada status Kuat
Petugas : 1 orang Pemantau
Tugas : Memberi motivasi kultural
Otoritas : Terbatas pada permintaan Pengurus Cabang saja.
Waktu : selama masih berstatus kuat.
6. Pada status Mapan
Petugas : Seluruh Pengurus Cabang
Tugas : menjadikan Komisariat sebagai model bagi Komisariat lainnya
Otoritas : tidak ada.
Waktu
: selama masih berstatus mapan.

G. Lembaga Khusus
Keberadaan Lembaga Khusus tidak lain untuk melaksanakan tugas-tugas
kewajiban dalam bidang khusus yang tidak dapat tertampung pada struktur
lainnya. Lembaga ini juga bersifat Semi Otonom dari Struktur Pimpinan, artinya:
a. Lembaga Khusus melalui Musyawarah Lembaga diberi hak untuk menentukan
calon pimpinannya dengan mengusulkan 3 calon ketua untuk dipilih 1
diantaranya oleh Ketua Umum Pengurus Besar untuk tingkat Pusat dan
pengurus Cabang pada tingkat cabang.
b. Pimpinan Lembaga Khusus diberi hak untuk membentuk struktur dan
mengangkat staf kepengurusannya secara sepihak dimana staf-staf tersebut
memiliki status yang sama (Pengurus Besar untuk tingkat pusat dan
Pengurus Cabang untuk tingkat Cabang).
c. Lembaga Khusus diberi otonomi dalam menentukan agenda kerjanya diluar
forum rapat penentuan agenda kerja Struktur Pimpinan.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 28
d. Lembaga ini dapat memiliki Pedoman Lembaganya sendiri yang harus
disetujui oleh Ketua Umum Pengurus Besar.
e. Ketua Umum Pengurus Besar berhak memveto seluruh bagian yang
dilahirkan oleh Lembaga Khusus. Ketua Umum Pengurus Besar juga berhak
memberhentikan dan menggantikan posisi pimpinan Lembaga Khusus atas
persetujuan Rapat Pleno Pengurus Besar. Catatannya, pengganti yang
ditetapkan diutamakan dari 2 diantara 3 calon (selain Pimpinan Lembaga
Khusus terpilih) yang diajukan oleh Musyawarah Lembaga Khusus terakhir
dan untuk formatur diserahkan kepada kebijakan struktur pimpinan.
f. Ketua Lembaga Khusus tetap bertanggungjawab atas segala aktifitasnya
kepada Ketua Umum Pengurus Besar.
Keberadaan Lembaga Khsusus tidak wajib pada tiap struktur Pimpinan.
Keberadaannya tergantung atas kebutuhan yang ada. Bentuknyapun
disesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan wilayah masing-masing.
Lembaga khusus dapat bekerjasama dengan pihak eksternal dengan
diketahui Ketua Pengurus Besar atau Pengurus Cabang. Contoh dari Lembaga
Khusus antara lain, Kohati, Korps Pengader Cabang, Pusat Arsip dan lainnya.
Lembaga ini dapat memiliki pedoman operasionalnya sendiri.
g. Pimpinan Lembaga Khusus juga diwajibkan membuat sebuah Laporan
Pelaksanaan Tugas pada Musyawarah Lembaga Khusus. Laporan Pelaksanaan
Tugas pada dasarnya sama dengan pertanggungjawaban. Perbedaannya
terletak pada forum dan bentuk pelaksanaannya. Laporan Pelaksanaan Tugas
merupakan proses evaluasi yang dilaksanakan di musyawarah Lembaga
khusus dimana prosesnya dilakukan tanpa ada tahapan penilaian. Oleh sebab
itu forum ini hanya berupa forum pengumuman pelaksanaan tugas dengan
tanya jawab tanpa proses penilaian.
H. Lembaga kekaryaan
Lembaga kekaryaan hadir untuk melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban
dalam meningkatkan dan mengembangkan keahlian dan profesionalisme anggota
dibidang tertentu. Lembaga Kekaryaan juga memiliki sifat Semi Otonom dari
Struktur pimpinan. Semi Otonom artinya:
a. Lembaga kekaryaan melalui Musyawarah Lembaga diberi hak untuk
menentukan calon pimpinannya dengan mengusulkan 3 calon ketua untuk
dipilih 1 diantaranya oleh Ketua Umum Pengurus Besar.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 29
b. Pimpinan Lembaga Kekaryaan diberi hak untuk membentuk struktur dan
mengangkat staf kepengurusannya secara sepihak dimana staf-staf tersebut
memiliki status yang sama Pengurus Besar untuk tingkat Pusat dan Pengurus
Cabang untuk tingkat Cabang.
c. Lembaga Kekaryaan diberi otonomi dalam menentukan agenda kerjanya
diluar forum rapat penentuan agenda kerja Struktur Pimpinan.
d. Lembaga Kekaryaan dapat membuat nama lembaganya secara khusus atas
persetujuan Ketua Umum Struktur Pimpinan.
e. Ketua Umum struktur Pimpinan berhak memveto seluruh bagian yang
dilahirkan oleh lembaga Kekaryaan. Ketua Umum Struktur Pimpinan juga
berhak memberhentikan dan menggantikan posisi pimpinan Lembaga
Kekaryaan atas persetujuan Rapat Pleno. Catatannya, pengganti yang
ditetapkan diutamakan dari 2 diantara 3 calon (selain Pimpinan Lembaga
Kekaryaan terpilih) yang diajukan oleh Musyawarah Lembaga terakhir dan
untuk formatur diserahkan kepada kebijakan struktur pimpinan.
f. Pimpinan Lembaga Kekaryaan tetap bertanggungjawab atas segala
aktifitasnya kepada Ketua Umum Struktur Pimpinan.

Keberadaan Lembaga Kekaryaan tidak wajib pada tiap struktur Pimpinan.


Keberadaannya tergantung atas kebutuhan yang ada. Bentuknyapun disesuaikan
dengan kebutuhan dan kepentingan wilayah masing-masing. Lembaga Kekaryaan
dapat bekerjasama dengan pihak eksternal dengan diketahui Ketua Umum.
Pimpinan Lembaga Kekaryaan juga diwajibkan membuat sebuah Laporan
Pelaksanaan Tugas pada Musyawarah Lembaga. Laporan Pelaksanaan Tugas pada
dasarnya sama dengan pertanggungjawaban. Perbedaannya terletak pada forum
dan bentuk pelaksanaannya. Lapaoran Pelaksanaan Tugas merupakan proses
evaluasi yang dilaksanakan di musyawarah Lembaga dimana prosesnya dilakukan
tanpa ada tahapan penilaian. Oleh sebab itu forum ini hanya berupa forum
pengumuman pelaksanaan tugas dengan tanya jawab tanpa proses penilaian.
I. Panitia atau Tim Kerja
Untuk melakukan kegiatan kegiatan organisasi yang bersifat jangka pendek,
maka Struktur Pimpinan dapat membentuk Panitia atau Tim kerja. Hal serupa juga
dapat dilakukan oleh Lembaga-Lembaga Khusus dan lembaga Lembaga Kekaryaan.
Khusus untuk Lembaga Koordinasi ditingkat cabang atau komisariat. Namun
Pengurus Besar dengan segala elemen struktur didalamnya tidak bisa membuat

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 30
sebuah kepanitiaan kecuali Panitia Kongres. Jika ada aktifitas yang membutuhkan
kepanitiaan maka Pengurus Besar harus menunjuk satu cabang sebagai pelaksana,
dan kemudian cabang tersebutlah yang membentuk kepanitiaan.
Perbedaan antara panitia dan tim kerja ada pada strukturnya. Panitia
memiliki struktur yang sama dengan struktur Pimpinan. Dimana seluruh panitia
bertanggungjawab pada ketua panitia dan ketua panitia bertanggungjawab
kepada Struktur Pimpinan. Tim Kerja memiliki anggota yang sama-sama harus
bertanggung-jawab kepada Struktur Pimpinan. Tim memiliki seorang koordinator
yang mengkoordinir aktifitas anggota tim lainnya namun ia bukanlah pimpinan.
Perbedaan lainnya adalah pada pembagian peran. Pembagian peran pada
kepanitian sudah tertuang jelas dalam sebuah surat keputusan pengangkatan
panitia. Namun pada Tim Kerja, pembagian peran baru ada dan muncul saat tim
kerja mulai beraktifitas (tidak ditentukan dan dituangkan dalam sebuah surat
Keputusan pengangkatan Tim Kerja.
Konsekwensinya Kepanitian memiliki kejelasan dan keterbatasan aktifitas
sebagaimana yang ada dalam Surat Keputusan pengangkatan panitia. Sedangkan
Tim Kerja memiliki fleksibilitas gerak atas tugas yang ia dapatkan. Kepanitaiaan
memang cenderung melibatkan individu yang lebih banyak dari pada Tim Kerja
karena kepanitiaan menuntut profesionalitas dan keahlian spesifik saat
menjalankan tugas yang diberikan. Keterlibatan individu dalam Tim Kerja yang
sedikit, karena Tim kerja memiliki arahan kerja yang sederhana dan hanya
dituntut untuk bersikap luwes dalam berbagi peran untuk menyelesaikan amanah
yang diberikan.
Sebagai bahan evaluasi terhadap kinerja, Panitia atau Tim Kerja diwajibkan
untuk membuat laporan kegiatan pada setiap akhir kegiatannya. Waktu kerja yang
dimiliki oleh Panitia atau Tim Kerja tidak boleh melewati masa kepengurusan. Hal
ini dikarenakan mekanisme pertanggungjawaban kepanitiaannya akan sangat
tidak jelas. Jika kerja panitia atau setingkat panitia pada suatu kepengurusan
belum selesai diperiode kepengurusan tersebut maka panitia atau setingkat
panitia tersebut harus dibubarkan terlebih dahulu lalu dilakukan evaluasi
kepanitiaan keudian dapat dibentuk lagi setelah kepengurusan baru terbentuk

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 31
oleh pengurus baru tersebut, yang akhirnya diikuti evaluasi kepanitiaan yang baru
pula.

3. Mekanisme Kerja Struktur


A. Pengambilan Keputusan.
Tiap struktur organisasi pasti memiliki sebuah mekanisme dalam
pengambilan keputusan. Pada HMI mekanisme pengambilan keputusan dilakukan
melalui farum yang bernama Rapat. Mekanisme pengambilan keputusan melalui
Rapat diperlukan untuk menjamin berjalannya amanah yang diemban struktur
kekuasaan. Mekanisme ini dilakukan untuk menurunkan amanah-amanah yang
lahir dari keputusan struktur organisasi ketingkat aktifitas keseharian. Adapun
bentuk-bentuk rapat yang ada dalam HMI adalah:
1. Rapat Pleno adalah forum tertinggi kepengurusan HMI untuk mengambil
berbagai kebijakan organisatoris baik internal maupun eksternal meliputi:
a. Rapat Pleno Pengurus Besar adalah rapat pleno yang dihadiri oleh seluruh
Pengurus Besar sebagai pengambil kebijakan.
b. Rapat Pleno Cabang adalah rapat pleno yang dihadiri oleh seluruh Pengurus
Cabang sebagai pengambil kebijakan.
c. Rapat Pleno Komisariat adalah rapat pleno yang dihadiri oleh seluruh
Pengurus Komisariat.
2. Rapat Presidium adalah rapat untuk mengambil kebijakan organisatoris yang
penting sebagai derivasi kebijakan pleno yang dihadiri pemimpin HMI dalam
satu kepengurusan yang terdiri dari Ketua Umum, Pengurus Harian, Pimpinan
Lembaga Koordinasi, Pimpinan Lembaga Khusus dan Pimpinan Lembaga
Kekaryaan.
3. Rapat Pimpinan adalah Rapat yang dihadiri oleh para pimpinan HMI untuk
mengambil kebijakan yang berhubungan dengan permasalahan bersama,
meliputi :
Rapim Cabang adalah rapat pimpinan para pimpinan cabang.
Rapim Komisariat adalah rapat pimpinan para pimpinan komisariat.
4. Rapat Harian adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh fungsionaris HMI guna
menjabarkan kerangka operasional program kerja, evaluasi program kerja,
dan hal hal teknis lainnya.
5. Rapat Bidang adalah rapat yang dihadiri oleh anggota bidang (staf atau

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 32
departemen dibawahnya) yang bersangkutan untuk menjabarkan teknis dari
program kerja bidang yang telah ditetapkan oleh kepengurusan.
B. Acuan Kerja
Acuan kerja merupakan sebuah susunan agenda aktifitas yang dimiliki
oleh Struktur Pimpinan dalam satu periode. Acuan kerja dalam sebuah organisasi
kerja memiliki unsur waktu pelaksanaan, target capaian dan alat yang dipakai.
Struktur Pimpinan dalam HMI sebagai pengemban amanah Struktur Kekuasaan
memiliki banyak perbedaan ditiap tingkatannya. Antara lain adalah perbedaan
sifat dan peran struktur Pimpinan ditiap tingkatan yang mengakibatkan bentuk
dan warna acuan kerja juga berbeda ditiap tingkatan.
Pengurus Besar punya peran sebagai Regulator, oleh sebab itu Pengurus
Besar dalam melakasanakan aktifitasnya memilki apa yang dinamakan “Kerangka
Kebijakan”. Kerangka Kebijakan ini dilahirkan dalam Rapat Pleno Pengurus Besar
dengan mengacu pada pedoman pedoman HMI dan rekomendasi yang dilahirkan
di Kongres. Aktifitas kerja teknis tingkat pusat lebih banyak dilakukan oleh
lembaga-lembaga (lembaga kekaryaan, lembaga khusus dan lembaga koordinasi)
yang ada di tingkat pusat. Namun demikian aktifitas teknis yang dilaksanakan
hanya bersifat penguatan sistem internal organisasi bukan penguatan
keanggotaan.
Kepengurusan Cabang punya peran sebagai mobilisator, sehingga
aktifitasnya berupa penindaklanjutan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan
Pengurus Besar untuk keseluruhan cabang atau untuk cabang yang terkait. Maka
dari itu pada tingkat Pengurus Cabang Acuan Kerja yang dimiliki adalah “Program
Kerja” yang dihasilkan oleh Rapat Pleno Pula. Namun dasar pertimbangan yang
ada dalam program kerja adalah Kebijakan Pengurus Besar yang berjalan dan
Garis Besar Haluan Kerja yang dihasilkan dalam Konferensi Cabang.
Peran kepengurusan tingkat Komisariat adalah pembentuk komunitas
sehingga aktifitas kerjanya terdiri dari aktifitas-aktifitas yang bertujuan menjaga
keutuhan kebersamaan di komisariatnya. Acuan kerja tingkat Komisariat dapat
disebut sebagai ”Rencana Kerja”. Rencana Kerja ini memiliki dasar atas Program
Kerja yang ditentukan cabang dan Garis Besar Rencana Kerja” Komisariat.
Karena peran komisariat adalah sebagai pembentuk dan penjaga kantong
massa maka aktifitas-aktifitas yang ada dalam Rencana Kerja merupakan

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 33

aktifitas bersifat kekeluargaan akan lebih dominan dalam tingkat komisariat.


Selain itu aktifitas komisariat juga fokus dalam hal pembekalan anggota secara
langsung atas pemahaman keagamaan dan pemahaman perjuangan. Selain itu
komisariat juga melakukan aktifitas dalam bentuk pembekalan intelektualitas
kader yang dilakukan tiap saatnya.
C. Evaluasi Organisasai.
Ada dua topik yang menjadi fokus dalam evaluasi organisasi yaitu Evaluasi
Kinerja Struktur dan Mekanisme Evaluasi dalam Struktur Organisasi. Evaluasi
Struktur Organisasi. Evaluasi Kinerja Struktur adalah evaluasi untuk melihat
sebarapa jauh pengurus bisa bergerak dalam struktur organisasi dalam
melakukan perjuangannya, dan seberapa jauh perjuangan yang dilakukannya
itu tepat dalam beberapa aspek. Sedangkan Mekanisme Evaluasi dalam Struktur
Organisasi berisi bagaimana Struktur melakukan evaluasinya.
I. Evaluasi Kinerja Struktur:
1. Tingkat Pengurus Besar
a. Jumlah kebijakan internal dan eksternal dari waktu ke waktu
b. Ketepatan kebijakan yang dikeluarkan terhadap lingkungan yang ada
c. Kemampuan menggerakan cabang dalam menjalankan kebijakan HMI
d. Keberhasilan Pengurus Besar dalam menjalankan amanah Kongres
e. Kesesuaian laporan pertanggungjawaban dengan aturannya
2. Tingkat Pengurus Cabang
a. Kemampuan menindaklanjuti keputusan keputusan Pengurus Besar
b. Tingkat keikutsertaan komisariat pada kegiatan cabang
c. Jumlah Latihan Kader dan yang dijalankan
d. Kelengkapan administrasi organisasi
e. Aktifitas Lembaga Khusus, Lembaga Kekaryaan dan Lembaga
Koordinasi.
f. Tingkat keberhasilan Pengurus dalam menjalankan amanah Konferensi
g. Kesesuaian laporan pertanggungjawaban sesuai dengan aturan
3.Tingkat pengurus Komisariat
a. Pertambahan anggota dari waktu kewaktu
b. Komposisi angkatan dan kelompok akademis dari waktu kewaktu

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 34
c. Tingkat partisipasi dan pemerataannya anggota dalam aktifitas HMI
d. Jumlah iuran dan sumbangan yang diberikan kader dari waktu kewaktu
e. Frekwensi komisariat dalam beraktifitas pada agenda Cabang dan atau
Pusat
f. Rasio antar kader yang lulus LK I, LK II, LK III
g. Aktifitas dari Lembaga lembaga Khusus dan Lembaga lembaga
Kekaryaan.
h. Tingkat keberhasilan Pengurus menjalankan amanah Rapat Anggota.
i. Kemampuan membuat laporan pertanggungjawaban sesuai dengan
aturan.

II. Mekanisme evaluasi struktur organisasi HMI:


Mekanisme evaluasi struktur organisasi HMI dikenal dengan
pertanggungjawaban. HMI cuma mengenal dua bentuk pertanggungjawaban
yaitu Pertanggungjawaban Pengurus dan Pertanggungjawaban Panitia atau
setingkat panitia. Selain mekanisme pertanggungjawaban juga ada
mekanisme laporan pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh Lembaga
Koordinasi, Lembaga Khusus dan Lembaga Kekaryaan dalam musyawarahnya.
1. Pertanggungjawaban Pengurus
Pertanggungjawaban Pengurus dalam lingkungan HMI terdapat di
Kongres untuk Pengurus Besar, Konferensi untuk Pengurus Cabang dan
Rapat Anggota bagi Pengurus Komisariat. Disitulah pengurus
mempertanggungjawabkan segala aktifitas atau kebijakan yang
dilakukannya. Prosesnya adalah laporan pelaksanaan amanah, tanya
jawab dan penilaian atas laporan tersebut. Keputusan yang akan diambil
terdiri dari Diterima atau Ditolak. Keputusan “Diterima” artinya
penghargaan atas yang dilakukan kepengurusan dan atas kelayakan
Laporan Pertanggungjawaban. Keputusan “Ditolak” artinya pengurus
tidak bisa mengemukakan apa yang dilakukannya selama kepengurusan
secara jelas dan bertanggungjawab. Keputusan ini kepengurusan dapat
memperbaiki LPJ untuk perbaikan penilaian atau tidak memperbaikinya
dengan penilaian yang tetap.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 35
Dasar penilaian yang dilakukan dalam proses pertanggung
jawaban hanya terdiri dari kesesuaian pengungkapan laporan
pertanggungjawaban yang dibuat pengurus dengan realita yang terjadi
selama kepengurusan dan kesesuaian dengan aturan penyusunan
Laporan Pertanggungjawaban Pengurus yang berlaku.
2. Pertanggujawaban panitia atau setingkat panitia
Pertanggungjawaban panitia atau setingkat panitia merupakan
proses pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas yang dilakukan
panitia atau setingkat panitia pada Pengurus Harian, Pimpinan Lembaga
Khusus,Pimpinan Lembaga Kekaryaan. Pelaksanaan pertanggungjawaban
dapat dilakukan di Rapat Pleno atau Rapat Harian atau pada momen
khusus untuk pertanggungjawaban panitia. Seperti halnya
pertanggungjawaban Struktur Kepemimpinan, ppertanggungjawaban
inipun boleh dilaksanakan setelah semua kewajibannya terhadap pihak
lain selesai.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 36
4. Ikrar Pelantikan Kepengurusan

IKRAR PELANTIKAN PENGURUS


HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

‫انرحمنانرحيم ﻩبسمانم‬
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

‫أﺪﻬﺷ نا ﻻاﻪﻟ اﻻ اﷲ أوﺪﻬﺷ نّا ﺪﻤﺤﻣراﻮﺳالﷲ‬


“Aku bersaksi bahwasannya tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya
Muhammad adalah Utusan Allah”

‫رباوباالسالمدينوبمحمدنبيورسول ﻩرضيتبانم‬
“Kami redla Allah Tuhan kami, Islam agama kami, dan Muhammad adalah
Nabi dan Utusan Allah”

Dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, kami pengurus Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat/
Cabang/ Pengurus Besar __________________________________ periode ___________ H/ _________ M,
dengan ini berjanji dan berikrar:
1. Bahwa kami dengan kesungguhan hati akan melaksanakan keputusan-keputusan Rapat Anggota/
Konferensi Cabang _______________________________/ Kongres Himpunan Mahasiswa Islam ke
_______ sebagai amanah yang dibebankan kepada kami;
2. Bahwa kami akan selalu menjaga nama baik Himpunan Mahasiswa Islam dengan selalu tunduk dan
patuh kepada Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan Pedoman-Pedoman Pokok serta
ketentuan-ketentuan lainnya;
3. Bahwa apa yang kami kerjakan dalam kepengurusan ini adalah untuk mencapai tujuan Himpunan
Mahasiswa Islam dalam rangka mengabdi kepada Allah Subhanahu Wata’ala, untuk kesejahteraan
Ummat di dunia dan di akhirat

‫ربانعانمين ﻩانصالتيونسكيومحيايومماتيهم‬
“Sesungguhnya sholatku, perjuanganku, hidup dan matiku hanya untuk Allah
Tuhan seru sekalian alam”.
Billahitaufiq walhidayah.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 37
BAB IV
MAJELIS SYURO ORGANISASI

Majelis Syuro Organisasi (MSO) merupakan Badan Konsultasi yang dapat


dilahirkan sesuai dengan kebutuhan Pengurus Besar atau Pengurus Cabang. MSO
memiliki tugas memberikan pertimbangan atau saran kepada Pengurus Besar (untuk
MSO tingkat pusat) atau Pengurus Cabang (untuk MSO tingkat Cabang). Tugas ini dapat
dilaksanakan dengan inisiatif lembaga atau atas permintaan pengurus. MSO juga
memiliki tugas untuk membantu pengurus untuk mempersiapkan draft-draft kongres
untuk tingkat Pusat dan draft-draft konferensi untuk tingkat cabang.

Anggota MSO merupakan anggota atau alumni HMI yang memiliki kualifikasi
tertentu dan pernah menjadi Pengurus HMI minimal 1 (satu) periode sebelumnya.
Anggota MSO jumlahnya maksimal 13 orang dimana merupakan usulan ketua ketua
cabang (tingkat Pusat) dalam forum kongres dan usulan usulan ketua komisariat
(tingkat Cabang) dalam konferensi.

Masa keanggotaan yang dimiliki MSO adalah sama dengan masa kepengurusan
tiap tingkatan. Aktifitas awal MSO dalam bentuk persidangan rapat dipimpin oleh
Ketua Umum dan kemudian dilanjuti oleh ketua MSO sampai akhir periode
kepengurusan. Peran struktur MSO yang berperan sebagai konsultan maka segala
keputusan yang dikeluarkan dapat dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh
kepengurusan. Peran ini dapat bertambah pada wilayah peradilan keanggotaan
dimana MSO menjadi moderator sidang dengan menunjuk satu atau lebih anggotanya.
Seluruh aktifitas kerja ini harus dilaporkan dalam Kongres atau konferensi dalam
bentuk laporan pelaksanaan tugas.

Jika anggota Majelis Syuro Organisasi mengundurkan diri maka mekanisme


penggantian diserahkan pada pimpinan HMI.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Struktur Organisasi 38
Lampiran 1
GAMBARAN
HIRARKI STRUKTUR ORGANISASI

STRUKTUR STRUKTUR KEPEMIMPINAN


KEKUASAAN

KONGRES MSO PENGURUS BESAR


KETUA UMUM
KOMISI KEBIJAKAN
L KEKARYAAN L KHUSUS L KOORDINASI
 INTERNAL

 EKSTERNAL

KONFERENSI MSO
PENGURUS CABANG
KETUA CABANG
BIDANG KERJA L KEKARYAAN L KHUSUS L KOORDINASI

RAPAT ANGGOTA PENGURUS KOMISARIAT


KETUA KOMISARIAT
UNIT AKTIFITAS L KHUSUS L KEKARYAAN

: Garis Pengembanan Amanah


: : Garis Koordinasi Kerja

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 1
PEDOMAN KESEKRETARIATAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

Bismillahirromanirrahiim

BAB I
SEKRETARIAT

Agar seluruh administrasi organisasi dalam segala tingkatan (pusat hingga


komisariat) dapat berjalan secara efektif dan efisien diperlukan sekretariat organisasi
atau kantor organisasi. Sekretariat organisasi berfungsi sebagai:
1. Pusat kendali aktifitas organisasi;
2. Pusat komunikasi organisasi;
3. Pusat kegiatan administrasi;
4. Wahana interaksi dengan masyarakat sekitar.
Dengan mengingat begitu urgennya sekretariat bagi organisasi, maka
pengadaan sekretariat HMI hendaknya memperhatikan lokasi sekretariat, kebutuhan
ruang bagi terselenggaranya kegiatan organisasi dan tata ruang sekretariat.
Lokasi sekretariat hendaknya terletak pada tempat yang strategis dipandang
dari segala segi sehingga memperlancar komunikasi dengan anggota, dan interaksi
organisasi dengan masyarakat sekitar yang mampu menjamin ketenangan dan
kesehatan sehingga memungkinkan bagi fungsionaris (pengurus) organisasi dapat
bekerja dan menunaikan tugasnya di sekretariat.
Kebutuhan ruang bagi sekretariat HMI pada prinsipnya disesuaikan dengan
kebutuhan setiap unit organisasi baik itu Pengurus Besar, Pengurus Cabang, maupun
Pengurus Komisariat. Paling tidak setiap sekretariat memiliki :
1. Ruang administrasi;
2. Ruang Sholat;
3. Ruang tamu;
4. Ruang sidang;
5. Ruang pelatihan;
6. Ruang dapur.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 2
Pengaturan tata ruang dalam sekretariat hendaknya memperhatikan hubungan antar
ruangan yang satu dengan yang lain. Sehingga mampu menjamin kelancaran komunikasi
antar bagian.
Dalam mengusahakan gedung sekretariat, sedapat mungkin sekretariat
mempunyai fungsi ganda yaitu di samping kantor organisasi juga berfungsi sebagai
tempat tinggal fungsionaris organisasi (Wisma HMI/ Markas HMI) sehingga semua
fungsionaris HMI dapat menjalankan tugas organisasi setiap saat.
Sekretariat organisasi diharuskan memiliki papan pengenal organisasi atau
papan nama HMI. Papan nama HMI ini berfungsi sebagai pengenal organisasi dan sebagai
penunjuk atas keberadaan fungsionaris HMI dalam melakukan aktifitas organisasi.
Berikut bentuk Papan Nama HMI
Ukuran : panjang : lebar = 2 : 1
Warna Dasar : Putih
Warna Tulisan : Hijau Hitam,
Contoh :

SEKRETARIAT
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students)

CABANG MEDAN
SUMATERA UTARA
Jl Durung no 158 Medan 20222 Telp (061) 4552139
e-mail: hmimedan@yahoo.com

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 3
BAB II

ADMINISTRASI HMI

A. Surat Menyurat

Administrasi surat-menyurat adalah suatu proses dan rencana teratur dari


pengolahan surat-menyurat. Mulai dari ide sampai pada penyelesaian dan
penyimpanan sebagaimana mestinya. Administrasi surat-menyurat bagi suatu
organisasi merupakan sesuatu yang penting dan merupakan bagian tugas lapangan
pekerjaan administrasi kesekretariatan. Administrasi surat-menyurat
(ketatausahaan) mempunyai ciri-ciri utama sebagai berikut :
1. Bersifat pelayanan;
2. Bersifat menetes ke seluruh bagian atau aparat organisasi, dan;
3. Dilaksanakan semua pihak dalam organisasi.
Ciri yang pertama berarti bahwa ketatausahaan service work (pekerjaan
pelayanan) berfungsi memudahkan (facilitating function), dilakukan untuk
membantu pekerjaan-pekerjaan lain agar dapat berjalan lebih efektif. Sebagai
service work, ketatausahaan memberikan pelayanan ke pelbagai bagian atau aparat
organisasi. Konsekuensinya, ia tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa terkait dengan
pekerjaan operatif atau fungsi substantif lainnya.
Administrasi berupa surat menyurat merupakan bentuk ketatausahaan yang
diperlukan di mana-mana, dan dilaksanakan dalam seluruh organisasi. Ketatausahaan
dapat dijumpai pada pucuk pimpinan tertinggi (aparat tertinggi organisasi) sampai
pada satuan organisasi terendah bentuk ini merupakan ciri khas dari administrasi
surat menyurat yang kedua.
Surat pada hakikatnya adalah bentuk penuangan ide atau kehendak seseorang
dalam bentuk tulisan yang kemudian menjadi bukti sejarah. Artinya surat merupakan
jembatan pengertian dan alat komunikasi bagi seorang dengan orang lain. Surat Juga
merupakan potret sejarah yang akan dibaca dari satu generasi kegenerasi berikunya.
Dari satu masa ke masa lainnya. Karena sifat yang demikian maka surat-surat disusun
secara singkat dan padat, tetapi jelas dan tegas. Bahasa yang dipakai harus mudah
dimengerti sederhana dan teratur. Kertas yang digunakan dalam melakukan surat
menyurat resmi adalah kertas HVS warna putih ukuran F 4 dengan berat 70 gr. Bagi
organisasi, surat berfungsi sebagai:

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 4
1. Alat komunikasi;
2. Dokumen organisasi;
3. Tanda bukti (alat pembuktian ).

1. Kepala Surat;
Ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam kepala surat adalah :
a. Surat-surat organisasi ditulis di kertas putih berkop (berkepala);
b. Format Kop Surat Lembaga Kekaryaan dan Lembaga Khusus ditetapkan oleh
musyawarah lembaga;
c. Nama Pengurus Besar diletakan di baris pertama, selain itu nama institusi
diletakkan di baris ketiga setelah tulisan Himpunan Mahasiswa Islam dan
tulisan Association of Islamic University Students;
d. Nama lembaga hanya diperkenankan satu baris. Sehingga penggunaan
singkatan atau akronim dapat diperkenankan
e. Panitia pelaksana kegiatan dapat menentukan format kop suratnya atas
persetujuan ketua umum struktur pimpinan, kecuali pantia pelaksanan
Kongres, Konferensi dan Rapat Anggota.
f. Contoh Kop surat HMI sebagai berikut:

PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
Sekretariat : Jl. Mesjid Baru No. 18 Pejaten Timur Pasar Minggu Jakarta Selatan 12510
Telp. 021-7992750, SMS-Center 0815-84148020, Fax. 00 62 21 7992750
e-mail : pb-hmi@telkom.net , http://www.hminews.com

Contoh Kop Surat Pengurus besar

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 5

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


(Association Of Islamic University Students )
MAJELIS SYURO ORGANISAS I
Sekretariat : Jl. Mesjid Baru No. 18 Pejaten Timur Pasar Minggu Jakarta Selatan 12510

Contoh Kop Surat MSO

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


(Association Of Islamic University Students )
BADAN KOORDINASI INDONESIA BAGIAN BARAT
Sekretariat : Jl. Mesjid Baru No. 18 Pejaten Timur Pasar Minggu Jakarta Selatan 12510

Contoh Kop Surat Badan Koordinasi

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


(Association Of Islamic University Students )
CABANG YOGYAKARTA
Sekretariat : Karangkajen MG III/966 Yogyakarta 55252Telp. 0274-6567900, ,
e-mail : hmijogja@hotmail.com

Contoh Kop Surat HMI Cabang

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


(Association Of Islamic University Students )
MAJELIS SYURO ORGANISASI CABANG SORONG
Sekretariat : Jl.

Contoh Kop Surat MSO CABANG

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 6

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


(Association Of Islamic University Students )
KORKOM UNIVERSITAS ISLAM JAKARTA
Sekretariat : Jl.

Contoh Kop Surat Badan Koordinasi

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


(Association Of Islamic University Students )
KOMISARIAT FISIP UNHAS
Sekretariat : Jl. Kompleks perumah Dosen Unhas Tamalanrea Blok I No.3 Makassar 12510
Telp. 021-7992750, Fax. 00 62 21 7900099, e-mail : komfisip@telkom.net

Contoh Kop Surat HMI Komisariat

PANITIA PELAKSANA KONGRES KE 27


HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students)
Sekretariat : Karangkajen MG III/966 Yogyakarta 55252Telp. 0274-6567900, ,
e-mail : kongreshmi27jogjakarta@gmail.com

Contoh Kop Surat HMI Panitia Pelaksana Kongres

PANITIA PELAKSANA KONFERENSI KE 2


HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students)
CABANG LAMPUNG
Sekretariat : Jl. Kompleks perumah Dosen Unhas Tamalanrea Blok I No.3 Makassar 12510
Telp. 021-7992750, Fax. 00 62 21 7900099, e-mail : komfisip@telkom.net ,

Contoh Kop Surat HMI Panitia Pelaksana Konferensi

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 7

PANITIA PELAKSANA RAPAT ANGGOTA KE 34


HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students)
KOMFAK AGAMA ISLAM UMY
Sekretariat : Jl. Kompleks perumah Dosen Unhas Tamalanrea Blok I No.3 Makassar 12510
Telp. 021-7992750, Fax. 00 62 21 7900099, e-mail : komfisip@telkom.net

Contoh Kop Surat HMI Panitia Pelaksana Rapat Anggota

Keterangan :

1. (PENGURUS……) menggunakan huruf kapital berwarna hitam dengan


jenis huruf Times New Roman dan ukuran huruf 24;
2. (CABANG..../KOMISARIAT.....) dengan huruf kapital hijau tua, dengan
jenis huruf Times New Roman dan ukuran huruf 24;
3. (HIMPUNAN.....) menggunakan hruf kapital berwarna hijau tua, dengan
jenis huruf Arial dan ukuran huruf 24;
4. (Association……………) menggunakan huruf kecil berwarna hitam dengan
jenis huruf Times New Roman dan ukuran huruf 18 cetak miring;
5. (Sekretariat :……...) menggunakan huruf kecil berwarna hitam, dengan
jenis huruf Times New Roman dan ukuran huruf 10;
6. (e-mail……………) menggunakan huruf kecil berwarna hitam, ukuran 10;
7. Garis pembatas kop surat berwarna hitam dengan ukuran 4,5 pt (dua
garis atas tipis, bawah tebal) dan bentuk tulisan basmalah harus sesuai
dengan kop PB berwarna hitam;
8. Susunan kalimat kop surat Pengurus Besar, MSO, Lembaga Koordinasi,
Lembaga Kekaryaan dan Lembaga Khusus PB, seperti pada contoh kop
surat Pengurus Besar
9. Susunan kalimat kop surat Pengurus Cabang, MsO, Lembaga Koordinasi,
Lembaga Kekaryaan dan Lembaga Khusus ditingkat cabang seperti pada
contoh kop surat Pengurus Cabang
10. Susunan kalimat kop surat Pengurus Komisariat, Lembaga Kekaryaan
dan Lembaga Khusus seperti pada contoh kop surat Pengurus koisariat

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 8
11. Jenis surat (kertas), F4 dengan margin:
- Top : 2,0 cm
- Buttom: 0 cm
- Left: 2,5 cm
- Right: 2,0 cm
Surat resmi HMI terdiri dari

a. Surat Biasa ( Lampiran 2);


b. Surat Mandat/Tugas (Lampiran 3);
c. Surat Keterangan (Lampiran 4)
d. Surat Keputusan/Ketetapan (Lampiran 5).

2. Isi Surat
a. Surat Biasa
(1) Penomoran

a. Penomoran surat menggunakan satu buku registrasi surat keluar yang


dilakukan oleh Sekjen/Sekum struktur pimpinan, MSO, Lembaga
Koordinasi, lembaga kekaryaan dan khusus.
b. Nomor untuk surat yang ditujukan untuk intern HMI menggunakan kode
A setelah nomor registrasi surat keluar (.../A/SEK/nomor urut bulan
Hijriyah/tahun Hijriyah);
c. Nomor untuk surat yang ditujukan kepada ekstern HMI kode B setelah
nomor registrasi surat keluar (……./B/SEK/ nomor urut bulan Hijriyah/
tahun Hijriyah);
d. Pengeluar surat baik interen maupun eksteren harus disingkat maksimal
dalam 3 huruf saja.

 Pengeluar Surat Ketua Umum: (…/B/KU/nomor urut bulan


Hijriyah/ tahun Hijriyah)
 Pengeluar Sekjen atau Sekum: (…../A/SEK/ nomor urut bulan
Hijriyah/ tahun Hijriyah)
 Pengeluar Ketua Komisi Hubungan Internasional: (…/B/KHI/nomor
urut bulan Hijriyah/ tahun Hijriyah)
 Pengeluar Ketua Bidang Pelatihan: (…../A/KBP/nomor urut bulan
Hijriyah/ tahun Hijriyah)

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 9
 Pengeluar Ketua Panitia Konferensi Cabang : (…../B/PKC/nomor
urut bulan Hijriyah/ tahun Hijriyah)

e. Nomor surat keluar, surat mandat, surat keterangan semuanya urut


menurut waktu terbitnya, tidak sendiri sendiri, kecuali surat
keputusan.
f. Lamp. diisi jika srat disertai lampiran;
g. Hal : menerangkan isi singkat surat;
h. Letak Nomor : Lamp: dan Hal: dalam surat lurus dengan sudut lancip
sebelah kiri bawah gambar/lambang HMI

(2) Alamat surat (tujuan surat dikirim);

(3) Kalimat pendahuluan

Kalimat pendahuluan seharusnya tidak lebih dari satu alinea, yang berisi
ucapan syukur kepada Allah SWT atas rahmat yang diberikannya dan
pujian rasul dan keluarganya.

(4) Kalimat Isi

Kalimat isi surat hendaklah menggunakan bahasa yang lugas, jelas,


sehingga tidak menimbulkan salah persepsi dari teks yang tertulis. Kalimat
isi merupakan uraian persoalan pokok, harus:

a. Tidak berbelit-belit;
b. Singkat dan tidak terputus-putus;
c. Menggunakan kalimat-kalimat yang sopan dan wajar

(5) Kalimat penutup


Untuk kesopanan diperlukan adanya kalimat penutup seperti:
Demikianlah harap maklum.
Atas perhatian Saudara kami haturkan terima kasih.
Jazakumullah khairan katsiiraa.
Sekian dan terima kasih. Dsbnya.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 10
(6) Tempat tanggal surat

Contoh:
Palopo, 05 Dzulkaidah 1425 H
17 Desember 2004 M
(7) Pengirim Surat

Nama lembaga pada pengirim surat maksimal terdiri dari tiga baris,
dimana baris pertama adalah Himpunan Mahassiawa Islam, baris kedua
dan ketiga adalah institusi lembaga.

(8) Tanda Tangan

Penandatangan harus terdiri dari dua unsur saja yaitu unsur


pengeluar surat dan unsur pemberi legalitas surat. Surat Keputusan
kelulusan Latihan Kader harus ditanda tangani seluruh pemandu LK. Surat
Keputusan Kongres, Konferensi, Rapat Anggota dan Musyawarah Lembaga
harus ditanda tangani seluruh pimpinan sidang. Surat yang dikeluarkan
Ketua Umum harus ditandatangani oleh Sekjen/Sekum sebagai pihak yang
mengetahui (bukan pemberi legalitas). Tanda tangan menggunakan tinta
berwarna hitam. Contoh :

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


PENGURUS BESAR

Stempel...

MASHUDI MUQOROBBIN ABDUL HADY


KETUA UMUM SEKRETARIS JENDERAL

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


MAJELIS SYURO ORGANISASI

Stempel...

SYAFINUDIN AL MANDARI M SYIFA AMIN WIDIGDO


KOORDINATOR SEKRETARIS

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 11
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
BADAN KOORDINASI
INDONESIA BAGIAN TIMUR

Stempel...

H. M. AQIL RAHMAN MUHAMMAD KASMAN


KETUA UMUM SEKRETARIS UMUM

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


CABANG PALOPO

Stempel...
NANANG MAS’UD FIRMANSYAH ARFAN
KETUA UMUM SEKRETARIS UMUM

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


KOMISARIAT FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS HASANUDIN

Stempel...
HARIMAN HARTONO
KETUA UMUM SEKRETARIS UMUM

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


PANITIA LATIHAN KADER I
KOMFAK AA YKPN

Stempel...
SUSANTO LIBBIE ANATAGIA
KETUA UMUM SEKRETARIS UMUM

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 12
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
TIM PEMANDU LATIHAN KADER II
CABANG JAKARTA SELATAN

MARTADINATA TENTY NOVARI W MUZAKIR IMROATUSHOLIHAH


PEMANDU PEMANDU PEMANDU PEMANDU

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


TIM PEMANDU LATIHAN KADER I
CABANG YOGYAKARTA

MARTADINATA TENTY NOVARI W MUZAKIR IMROATUSHOLIHAH


PEMANDU PEMANDU PEMANDU PEMANDU

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


PIMPINAN SIDANG KONFERENSI
CABANG SEMARANG

MARTADINATA TENTY NOVARI W MUZAKIR IMROATUSHOLIHAH


PIMPINAN PIMPINAN SIDANG PIMPINAN PIMPINAN SIDANG
SIDANG SIDANG

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


PIMPINAN SIDANG KONGRES KE 25

MARTADINATA TENTY NOVARI W MUZAKIR IMROATUSHOLIHAH


PIMPINAN PIMPINAN SIDANG PIMPINAN PIMPINAN SIDANG
SIDANG SIDANG

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 13
(9) Stempel surat

Pihak-pihak yang berhak mengeluarkan Stempel Surat adalah


Struktur Pimpinan, Lembaga Koordinasai, dan Majelis Syuro Organisasi
serta panitia pelaksana. Bagi lembaga Koordinasi, Lembaga Kekaryaan dan
Panitia Pelaksana (selain kongres, Konferensi, dan Rapat Anggota) dapat
menentukannya sendiri atas persetujuan Ketua Umum Struktur pimpinan.
Stempel diletakkan/ dibubuhkan di tengah-tengah antara Ketua dan
Sekretaris dan berbaris sejajar dengan nama ketua dan nama sekretaris.
Stempel diusahakan agar menyentuh Tanda tangan ketua dan sekretaris
atau mengenai tanda tangan sekretaris saja. Jika stempel menggunakan
tinta satu warna maka warnanya hijau tua. Jika warna stempel
menggunakan warna multi warna maka warna stempel warna hitam dan
hijau tua. Stempel dianggap sah apabila dibubuhkan dengan menggunakan
stempel basah. Ukuran besar stempel sesuai dengan kebijakan cabang
masing-masing sebagaimana dibawah ini:

Stempel struktur pimpinan dan lembaga

Stempel panitia

PANITIA RAPAT ANGGOTA

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

KOMFAK PERTANIAN INSTIPER

CABANG YOGYAKARTA

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 14
(10) Tembusan Surat

Tembusan surat merupakan sebuah keterangan yang menunjukkan


bahwa surat tersebut dibuat rangkap. Rangkap ini terdiri dari surat asli
yang dikirim sesuai dengan alamat dimana surat itu ditujukan dan surat
tembusan yang disampaikan kepada beberapa instansi atau pihak yang
terkait atas dibuatnya surat tersebut.

Apabila surat dari komisariat ditujukan kepada Pengurus Besar HMI,


maka tembusan suratnya ditujukan kepada

1. Pengurus koordinator komisariat dimana komisariat berada (jika


ada);
2. Pengurus HMI cabang dimana komisariat berada;
3. Pengurus HMI Badko dimana cabang bergabung;
4. Arsip.

Apabila surat dibuat oleh Pengurus Komisariat dan ditujuakan untuk


Pengurus Komisariat dalam wilayah Cabang yang berbeda, namun tetap
dalam satu Wilayah Koordinasi, maka tembusan surat yang dibuat harus
ditujukan kepada:

1. Pengurus HMI Badan Koordinasi;


2. Pengurus HMI Cabang dimana komisariat berada;
3. Pengurus HMI Cabang di Komisariat yang dituju;
4. Arsip.

Apabila surat dibuat oleh Pengurus HMI Komisariat ditujukan


Pengurus HMI Komisariat dalam wilayah Cabang dan Badko yang berbeda,
maka tembusan suratnya ditujukan kepada:
1. Pengurus koordinator komisariat dimana komisariat berada (jika
ada);
2. Pengurus HMI Cabang dimana Komisariat yang membuat
bergabung;
3. Pengurus HMI Cabang dimana Komisariat yang dituju;
4. Arsip
5. Dan lain sebagainya

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 15
Dengan demikian setiap surat tidak lagi membutuhkan legalisasi yang
dikeluarkan oleh instansi yang lebih tinggi (misalnya adanya kata
mengetahui, dilegalisasi oleh, dll).

b. Surat Keputusan

Isi surat keputusan dibanding surat biasa terdapat persamaan yaitu


tentang dimana surat keputusan ditetapkan, tanggal ditetapkannya surat
keputusan, nomor dan stempel surat. Secara spesifik isi surat keputusan
sebagai berikut:

(1) Nomor surat : …../KPTS/A/No. urut bl Hijriyah /Th Hijriyah;


(2) Uraian singkat isi surat keputusan;
(3) Instansi pengambil keputusan (PB, PC, PK,dll);
(4) Konsideran (latar belakang dikeluarkannya surat keputusan);
(5) Landasan yuridis dikeluarkannya surat keputusan);
(6) Landasan-landasan lainnya dari surat keputusan;
(7) Diktum (muatan surat keputusan)

Pada bagian akhir diktum diharuskan terdapat klausa “Surat Keputusan


ini mulai berlaku sejak ditetapkan dan akan ditinjau kembali jika terdapat
kekeliruan di kemudian hari.” Surat Keputusan Hanya bisadikeluarkan Oleh
Ketuam Umum (PB< PC dan PK) saja. Sehingga yang bertanda tangan adalah
hanya Ketua Umumdan Sekretaris (Jendral atau Umum) saja.

c. Surat Mandat/Tugas

(1) Nomor surat keterangan sama dengan surat biasa, karenanya merupakan
urutan dari surat biasa;
(2) Surat mandat/tugas berisi penugasan atau mandat yang ditujukan pada
seorang kader.
(3) Surat keterangan memuat identitas dan keperluan yang diberi
mandat/tugas/keterangan, (dalam rangka apa surat diberikan);
(4) Pemberi surat mandat/tugas kepada yang diberi mandat/tugas.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 16
Catatan :
1. Nomor urut Bulan-bulan Hijriyah
1. Muharram 5. Jumadil Awal 9. Ramadhan
2. Shafar 6. Jumadil Akhir 10. Syawal
3. Rabi’ul Awal 7. Rajab 11. Dzulqo’idah
4. Rabi’ul Akhir 8. Sya’ban 12. Dzul Hijjah

2. Bulan-bulan nomor surat ditulis denngan angka Arab, bukan angka Romawi.

3. Amplop Surat

Ukuran amplop : 22 cm x 11 cm atau 25 cm x 35 cm


Jenis dan ukuran huruf : (pengurus…) menggunakan huruf kapital, ukuran 18
times new roman bold. (fakultas…) menggunakan huruf kapital pada setiap awal
kata, ukuran 18 times new roman. (secretariat…) menggunakan huruf kecil,
ukuran 12.
Warna Dasar : Putih atau Coklat
Contoh :

PENGURUS KOMISARIAT HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


Fakultas Ekonomi Universitas Teknologi Yogyakarta
Janturan UH 4/384 Rt 15/04 Yogyakarta 55281

PENGURUS KOMISARIAT HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


Fakultas Eksakta Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Dsn. Gatak no. 47 Rt 01/03 Kasihan Bantul Yogyakarta 55281

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 17
4. Sirkulasi Surat

a. Surat Masuk

Surat masuk adalah surat yang diterima dari luar yang kemudian akan
mulai perjalanannya sampai dengan dimasukkannya surat ke file-file (arsip)
organisasi. Surat yang baru diterima diagendakan terlebih dahulu dilampiri
kartu disposisi yang berbentuk :

SURAT DISPOSISI

Nomor Surat : Yang tercantum dalam surat

Tanggal Terima :

Asal Surat : Nama Penerima

Ditujukan : Bidang yang akan menangani surat

Catatan : Kebutuhan atas perlakuan surat

Kemudian surat yang baru masuk diterima diagendakan pada Agenda Surat
Masuk PB HMI. Pada Agenda Surat Masuk dibuat kolom-kolom :

Tgl terima Identifikasi surat masuk


No Asal surat Isi Petugas
Nomor Tanggal
1 15-12-1423 124/MA/12/1423 10-12-1423 HMI Cabang Pengutusan Arif
semarang anggota

a. Surat Keluar
Surat keluar adalah surat yang kita keluarkan untuk mengemukakan
kehendak, pemikiran dan maksud kita kepada pihak lain. Surat keluar melalui
sirkulasi sebagai berikut:

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 18
 Konsep surat terlebih dahulu dimintakan clearence kepada pengurus
yang berkepentingan agar tidak terjadi perbedaan tentang isi dan reaksi
surat tersebut;
 Konsep yang telah mendapat clearence, kemudian diberikan nomor
verbal, yang terdapat pada agenda buku verbal.
.
Nomor Tanggal Isi Surat Tujuan Petug
as
25/KPTS/A/7/1423 12/7/1423 Susunan SC LK III Anggota SC LK III Arif
26/SEK/7/1423 13/7/1423 Pemberitahuan LK III Cabang-cabang Rahma
HMI
27/SEK/7/1423 14/7/1423 Tugas cari informasi DPRD Nugroho

5. Surat Elektronik

Surat elektronik merupakan surat yang dibuat dengan media elektronik


seperti internet, mesin fax, dan pesan melalui telepon. Surat elektronik melalui
internet harus memenuhi prosedur dibawah ini:

1. Format surat seperti format biasa yang dikirmkan dalam bentuk PDF.
2. Surat tetap memuat tanda tangan yang berwenang walau tanpa stempel
organisasi
3. Alamat e-mail pihak pengirim dan pihak yang dituju merupakan alamat yang
terdaftar dalam organisasi (ditetapkan melalui Surat Ketetapan dari Struktur
Kepemimpinan) sebagai alamat yang berwenang melakukan pengirIman surat
via internet.
Pengiriman surat dengan memakai mesin fax harus melalui prosedur:
1. Format surat sama dengan format yang biasa (lengkap dengan tanda tangan
dan stempel organisasi).
2. Nomor fax pihak pengirim dan pihak yang dituju merupakan alamat yang
terdaftar dalam organisasi (ditetapkan melalui Surat Ketetapan dari Struktur
Kepemimpinan) sebagai nomor yang berwenang.
3. Pihak pengirim harus mengirimkan dokumen aslinya kepada pihak yang dituju
setelah melakukan pengiriman surat melalui fax selambat-lambatnya 3 x 24
Jam.
Pengriman pesan melalui pelayanan pesan singkat (Short Messege Services) harus
melalui nomor telepon yang telah ditetapkan sebagai nomor telepon

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 19
yang berwenang nelakukan pengiriman pesan, baik dari pihak pengirim maupun
pihak penerima. Semua pesan yang dikirim maupun diterima harus dicatat ulang
dalam sebuah berita acara bulanan.

6. Buku Ekspedisi

Setelah surat telah diketik sesuai dengan jumlah yang dikehendaki, ditulis
nomor, dan diagendakan dan telah mendapat legalitas (tanda tangan Ketua,
Sekretaris, dan stempel) maka surat siap dikirim. Untuk pengiriman surat ini
diagendakan dalam Buku Ekspedisi dengan kolom-kolom.

Tanggal Kirim Tujuan Nomor surat Paraf Penerima Keterangan


12/7/1423 Anggota SC 25/KPTS/A/7/1423 Adi Langsung
Adi,Dian kirim
Dian

12/7/1423 Anggota SC 25/KPTS/A/7/1423 - Via email

Umar

14/7/1423 Cabang Palu 26/SEK/7/1423 - Via Pos

B. Dokumen Organisasi
Dokumen adalah semua tanda bukti yang sah menurut hukum dari peristiwa-
peristiwa atau kejadian-kejadian dan kemudian disimpan. Sedangkan Dokumentasi
adalah segala upaya untuk pencarian, pengumpulan, penyimpanan, serta
pengawetan dokumen-dokumen organisasi. Bentuk-bentuk dokumen beserta
aturannya adalah sebagai berikut:
 Surat-surat disusun menurut urutan nomor dan jilid tiap periodenya.
 Laporan-laporan pertanggungjawaban tiap periode;
 Dokumen lainnya yang dijilid (kalau memungkinkan) terdiri dari
1. Kliping-kliping media tulis ataupun elektronik;
2. Naskah-naskah kepengurusan tiap periode;
3. Berita acara aktifitas kepengurusan;
4. Bukti-bukti keuangan organisasi;
5. Tulisan-tulisan penting;
 Gambar-gambar dan foto-foto; disusun berdasarkan waktu dengan
mencantumkan tanggal dan jenis kegiatan yang dilakukan pada foto.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 20
Semua dokumen organisasi kecuali surat harus dibuat dan atau disusun dalam kertas
ukuran kwarto 70 gr. Benda-benda berharaga dan bernilai; disusun dengan aman dan
rapi didalam sekretariat kepengurusan dalam betuk media penyimpanan yang mudah
disimpan dan mudah diakses.

C. Penyimpanan/Pengarsipan
Arsip adalah kumpulan dokumen yang disimpan secara sistematis.
Pengarsipan yang sempurna apabila semua surat dan dokumen-dokumen lainnya
tersimpan pada suatu tempat tertentu dan teratur rapi dan apabila diperlukan
mudah dilacak kembali. Pengarsipan yang baik sangat berguna dalam membantu
kelancaran dan kerapihan organisasi.

Dokumen-dokumen organisasi HMI pada prinsipnya harus disimpan di


sekretariat atau kantor. Sangatlah tidak dibenarkan dan dilarang apabila terjadi
penyimpanan surat-surat dan dokumen-dokumen organisasi di luar sekretariat atau
kantor HMI, terutama jika penyimpanan dilakukan oleh individu-individu pengurus
ataupun bukan pengurus. Hal ini untuk mengurangi resiko kerusakan, kehilangan dan
penyalah gunaan dokumen organisasi HMI. Sistem pengarsipan yang harus dilakukan
oleh HMI adalah:
1. Chronological filling
2. Geographical filling
3. Subject filling
4. Numerical filling
5. Alphabetic filling

Artinya setiap dokumen-dokumen HMI harus disusun sesuai dengan periode


kepengurusannya yang kemudian diikuti berdasarkan wilayahnya. Urutan penyusunan
berikutnya berdasarkan subjek atau bidang, kemudian diikuti oleh nomor surat atau
alphbet dokumen non surat. Pengarsipan secara elektornik harus dilakukan juga
sehingga semua dokumen terjaga kelestarian-nya dari waktu ke waktu. Namun
format yang digunakan adalah format yang tidak memungkinkan seseorang
mengganti atau merubah isi dokumen tersebut.

Semua arsip harus dilakukan penjilidan tiap periode kepengurusan. Berikan


penjildan atau pembatas warna putih untuk LPJ, hijua muda untuk Kumpulan surat
masuk dan keluar dan warna hijua tua untuk dokumen lainnya. Pengarsipan secara

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 21
elektornik dapat dengan wadah Compact Disc (untuk pengarsipan tiap periode), atau
dalam web (untuk pengarsipan dalam waktu lama). Pengarsipan dokumen secara
elektronik harus dijamin bahwa dokumen itu asli dan sama seperti bentuk fisiknya.
Dengan demikian orisinalitas dokumen dalam media elektronik benar benar
diperhatikan.

D. Tingkat Kerahasiaan
1. Rahasia Utama
Informasi atau dokumen hanya boleh diketahui oleh Ketua Umum PB HMI,
Sekretrasi jendral PB HMI, Bendahara Umum PB HMI, dan Koordinator MSO PB HMI.
Informasi atau dokumen rahasia ini harus dimusnahkan segera setelah keempat
pihak tersebut mengetahuinya. Ke empat pihak tersebut dilarang
menyebarluaskan informsai dan dokumen tersebut kepada pihak lain seumur
hidupnya.
2. Rahasia Utama Terbatas
Informasi atau dokumen hanya boleh diketahui oleh Ketua Umum Cabang,
Sekretrasi Umum Cabang, Bendahara Umum Cabang, Koordinator MSO Cabang dan
Ketua Umum PB HMI, serta satu pihak yang bersangkutan (individu atau Pengurus
Terkait) Informasi atau dokumen rahasia ini harus dimusnahkan segera setelah
kelima pihak tersebut mengetahuinya. Kesemanya dilarang menyebarluaskan
informasi dan dokumentasi tersebut kepada pihak lain seumr hidupnya.
3. Sangat Rahasia
Informasi atau dokumen yang hanya boleh diketahui oleh Presidium dan
Koordinator MSO. Infomasi dan dokumen ini harus disimpan (baik itu milik PB atau
cabang) oleh Sekretaris jendral PB HMI. Hanya dapat diturunkan satu tingkat
dalam waktu 25 tahun kedepan. Begitu seterusnya dalam penurunan tingkat
kerahasiaannya.
4. Rahasia
Informasi atau dokumen yang hanya boleh diketahui oleh Pengurus dan MSO.
Infomasi dan dokumen ini harus disimpan (baik itu milik PB atau cabang) oleh
Sekretaris jendral PB HMI. Hanya dapat diturunkan satu tingkat dalam waktu 25
tahun kedepan. Begitu seterusnya dalam penurunan tingkat kerahasiaannya.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 22
5. Terbatas
Informasi atau dokumen yang hanya boleh diketahui oleh Pengurus Besar, MSO,
Ketua Cabang dan koordinator MSO cabang. Infomasi dan dokumen ini harus
disimpan (baik itu milik PB atau cabang) oleh Sekretaris jendral PB HMI. Hanya
dapat diturunkan satu tingkat dalam waktu 25 tahun kedepan. Begitu seterusnya
dalam penurunan tingkat kerahasiaannya.
6. Terbuka
Informasi atau dokumen yang hanya boleh diketahui oleh Kader HMI saja. Hanya
dapat diturunkan satu tingkat dalam waktu 25 tahun kedepan. Infomasi dan
dokumen ini harus disimpan oleh Sekretaris Jendral/Umum.
7. Publik
Informasi atau dokumen yang dapat diketahui oleh saja.

E. Administrasi Keanggotaan

Anggota HMI merupakan sasaran kerja, pembinaan dan perkaderan organisasi


sehingga perlu ada administrasi yang rapi tentang anggota HMI yang kongkrit dan
terarah. HMI adalah organisasi kader sehingga HMI selalu menerima anggota baru,
selanjutnya melalui proses/jenjang perkaderan dan akhirnya melepaskan diri sebagai
alumni HMI.

Setiap anggota HMI (baik itu anggota biasa ataupun anggota kehormatan)
berhak mendapat Kartu Anggota setelah melewati prosesi pelantikan anggota.
Pengurus Cabang merupakan pihak yang paling berhak mengeluarkan kartu
keanggotaan tersebut kepada anggota HMI. Format kartu anggota yang digunakan
oleh pengurus cabang untuk anggotanya memakai format yang telah diputuskan
dalam Kongres HMI. Semua anggota tersebut juga berhak untuk dicatat dalam buku
daftar anggota. Hal ini dilakukan pada tingkatan cabang. Buku daftar anggota
memuat kolom-kolom sebagai berikut.
No anggota Nama Tempat/tanggal Komisariat Masuk HMI Tahun
lahir
1555/YK/1416 Murni Ambon/27/04/1975 Kehutanan/ Semester ganjil
Instiper 1996
1585/PLP/1430 Firmansyah Sumenep/15/06/1985 Syariah/ Semester genap
IAIN/Palopo 2009

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 23
Setiap satu tahun sekali diadakan pendaftaran ulang (heregristasi) anggota
HMI. Pendaftran ulang dilakukan dengan melakukan penggantian kartu anggota yang
lama menjadi kartu anggota yang baru yang dikeluarkan oleh pengurus cabang.
Sedangkan nomor anggota tetap sebagai nomor induk yang lama. Pelaksanaan
heregristasi cukup dilakukan dengan mengisi formulir permohonan pendaftaran ulang
keanggotaan kepada Penngurus Cabang. Pengurus Cabang kemudian melakukan
penerbitan kartu anggota yang baru dengan nomor anggota yang tetap atas nama
anggota yang melakukan heregristasi. Pendaftran ulang keanggotaan dilakukan agar
jumlah anggota di tiap cabang dapat diketahui secara pasti dari waktu-kewaktu.
Sehingga naik turunnya keaktifan anggota dapat juga terdeteksi dari waktu kewaktu.

F. Inventarisasi Organisasi
1. Inventarisasi adalah upaya untuk mendata semua kekayaan organisasi;
2. Inventarisasi dilakukan pada benda permanen dan benda tidak permanen;
3. Benda permanen ialah kekayaan yang tidak habis dalam satu periode;
4. Benda tidak permanen adalah kekayaan yang habis dalam satu periode;
5. Inventarisasi organisasi dibukukan dalam daftar inventaris yang memuat tanggal
penerimaan, nama dan jumlah barang, pemakaian dan keterangan.

G. Alat komunikasi.

Segala jenis alat komunikasi manusia dapat dijadikan sebagai alat komunikasi
dalam keorganisasian HMI dengan syarat alat itu memungkinkan untuk verifikasi dan
klarifikasi atas penyampaian dan penerimaan informasi. Sehingga informasi yang
diberikan atau diterima dapat dijadikan dasar atas aktifitas organisasi. Informasi
yang diberikan dalam pertukaran informasi harus ada identitas struktur penyampai
informasi, dan identitas individu penyampai informasi (nomor anggota, asal cabang,
asal komisariat) serta waktu dan lokasi informasi disampaikan.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 24
H. Perpustakaan

Perpustakaan yang ideal bagi HMI meliputi buku-buku atau dokumen bentuk
lainnya yang diperlukan oleh anggota dalam rangka peningkatan kualitas anggota
HMI. Oleh karena itu perpustakaan HMI berisi koleksi buku-buku atau dokumen
bentuk lainnya, seperti:

 Data Data dan informasi yang menunjang aktifitas organisasi;


 Jurnal-jurnal sosial kemsayarakatan;
 Media-media elektronik yang berisi liputan aktifitas HMI;
 Media-media elektronik yang berisi sesuatu penting bagi aktifitas HMI;
 Buku buku atau media-media elektronik dalam topik kemahasiswaan,
keorganisasian dan ke-HMI-an;
 Buku atau media elektronik dalam topik Ideologi, kemasyarakatan,
kenegaraan, politik, ekonomi, pendidikan dsbnya

Penyelenggaraan administrasi perpustakaan sebaiknya diserahkan kepada seorang


anggota pengurus/ lembaga yang bertanggungjawab secara khusus.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 25
BAB VII

KEPROTOKOLERAN

Keprotokoleran HMI merupakan segala aktifitas yang berhubungan dengan


penyelenggaraan suatu prosedur acara (upacara) di dalam organisasi HMI. Agar sasaran
suatu aktifitas dapat dicapai secara optimal diperlukan penanggung jawab
penyelenggara dan pembagian tugas di dalam penyelenggaraannya. Jika
penyelenggaraan suatu aktifitas tidak ada panitia penyelenggara/project officer, maka
pengelolaan, penataan, dan penyelenggaraannya dapat langsung di bawah
tanggungjawab Sekretaris. Namun demikian kesemuanya itu masih membutuhkan
tambahan unsur penyelenggara seperti pengantar acara, penerima tamu, pengatur
perlengkapan, konsumsi, kesenian, dan segala hal yang berhubungan dengan
keacaraan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam suatu upacara:
 Tempat/gedung (lay out, pengaturan kursi);
 Waktu acara
 Tamu/undangan (disediakan tempat khusus);
 Jenis acara;
 Pengantar acara;
 Susunan acara.

Khusus yang terakhir, jika ada kata sambutan, maka urutan pemberi sambutan
adalah dari instansi terendah kemudian menuju ke instansi yang lebih tinggi. Untuk
lebih jelasnya, berikut contoh susunan acara :
1. Pembukaan,
2. Pembacaan ayat suci Al Qur’an,
3. Himne HMI dan Mars Hijau Hitam
4. Laporan Panitia
5. Sambutan-sambutan
a. Tuan Rumah
b. Pengurus HMI Komisariat Pertanian UNTAD;
c. Pengurus HMI Cabang Palu;
d. Pengurus Besar HMI.
6. Acara lainnya,

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 26
7. Doa
8. Penutup

Susunan acara diatas selalu diterapkan untuk memulai dan mengakhiri 2


ritual organisasi HMI. 2 (dua) ritual itu menjadi sebuah prosedur (formal) yaitu:

1. Pelantikan

Pelantikan merupakan sebuah protokoler yang digunakan untuk pengesahan


pengurus dan pengesahan keanggotaan. Pelantikan merupakan sebuah pengumuman
legalitas yang didapat oleh struktur atau anggota untuk memulai aktifitas dalam
system organisasi dengan segala hak dan kewajibannya. Pada pelantikan pengurus
atau anggota elemen yang ada dalam acara pelantikan, Petugas Pelantikan dan
Pengurus atau anggota yang dilantik.
Acara pelantikan minimal terdiri dari Ikrar Janji Pengurus dan Pembacaan
Surat Keputusan atas susunan kepengurusan yang dikeluarkan oleh institusi
kepemimpinan yang lebih atas dari pengurus yang dilantik. Petugas pelantik
dilakukan oleh struktur kepemimpinan yang lebih tinggi dari Pengurus yang dilantik
atau perwakilan forum yang mengangkat pengurus. Pengurus yang dilantik minimal
terdiri dari tiga orang dan satu diantaranya adalah ketua kepengurusan.

2. Pembukaan dan Penutupan Acara


Setiap acara yang dilakukan oleh HMI dapat diadakan suatu ritual yang
dinamakan Pembukaan dan Penutupan Acara. Pembukaan dan Penutupan Acara
mempunyai makna bahwa sebuah institusi dalam HMI mempunyai sebuah kegiatan.
Sifat memperjelas pelaksana kegiatan inilah yang menjadi tujuan dalam sebuah
Pembukaan Acara. Pembuka dan penutup acara dapat dilakuakan oleh Ketua Panitia/
yang mewakili atau Ketua Struktur Pemimpinan Pelaksana Acara/ yang mewakili atau
Ketua Struktur Pemimpinan yang lebih atas.

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 27
Lampiran 1

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


(Association Of Islamic University Students )
KOMFAK ADAB UIN SUNAN KALIJAGA
Sekretariat : wisma marakom, Jl. Tri Dharma No. 354 Baciro Yogyakarta 55225
Telp. 0274-565126. e-mail: maracomunity@yahoo.com

Nomor : 26/A/SEK/7/1423
Lamp : Pemberitahuan LK III
Hal : 1 lembar (sejajar) Kepada yang kami hormati:
______________________
Di
______________________

(2 spasi)

Assalamu’alaikum wr wb
(1 spasi)
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
(1 spasi)
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
(1 spasi)
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
(1 spasi)
Billahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wr wb

(2 spasi)
Jakarta, 05 Dzulkaedah 1425 H
17 Desember 2005 M
(1 spasi)
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
KOMISARIAT FAKULTAS ADAB
UIN SUNAN KALIJAGA

(3 spasi)

ADE RAHMAN SULASMI


KETUA UMUM SEKRETARIS UMUM

Tembusan : 1. __________________

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 28

Lampiran 2

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


(Association Of Islamic University Students )
KOMFAK TEKHNIK UNY
Sekretariat : Padepokan HMI, Jalan Komojoyo No. 16 B Yogyakarta 55281
E mail: hmi-ftuny@yahoo.co.id

Surat Mandat/Tugas
Nomor: 27/SEK/7/1423

(2 spasi)
_______________________________________
_______________________________________

(2 spasi)
Nama : ___________________________________________________________
Nomor Anggota : ___________________________________________________________
Jabatan : ___________________________________________________________
Alamat : ___________________________________________________________
Keperluan : ___________________________________________________________
Keterangan : ___________________________________________________________
(1 spasi
__________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________
___________________________________________________________________________
(1 spasi)
Bilahit tawfiq wal hidayah

Jakarta, 05 Dzulkaedah 1425 H


17 Desember 2005 M

(2 spasi)

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


KOMISARIAT FAKULTAS TEKHNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(3 spasi)

M. MASHUR ROMANSYAH SULASMI


KETUA UMUM SEKRETARIS UMUM

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 29
Lampiran 3

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


(Association Of Islamic University Students )
CABANG PALOPO
Sekretariat : Jl. Cengkeh 3 Balandai Kota Palopo Telp (0471) 4850101
Email : hmipalopo@gmail.com, http//www.hmi-palopo.org

Surat Keterangan
Nomor: 28/A/SEK/2/1434

(2 spasi)
Assalamua’alaikum wr wb
__________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________

(2 spasi)
Nama : ___________________________________________________________
No Identitas : ___________________________________________________________
Alamat : ___________________________________________________________
Tpt/ Tgl Lahir : ___________________________________________________________
(1 spasi)
__________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________
(1 spasi)
Bilahit tawfiq wal hidayah

Wassalamu’alaikum wr wb
Jakarta, 04 Shafar 1434 H
17 Desember 2012 M

(2 spasi)

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


CABANG PALOPO

(3 spasi)

NANANG MAS’UD FIRMANSYAH ARFAN


KETUA UMUM SEKRETARIS UMUM

Kongres HMI ke-29


KONSTITUSI HMI Pedoman Kesekretariatan 30

Lampiran 4

PENGURUS BESAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
Sekretariat : Jl. Mesjid Baru No. 18 Pejaten Timur Pasar Minggu Jakarta Selatan 12510
Telp. 021-7992750, SMS-Center 0815-84148020, Fax. 00 62 21 7900099
e-mail : pb-hmi@telkom.net , http://www.hminews.com

SURAT KEPUTUSAN
Nomor : 29/ A/KPTS/ 7/1425
(1 spasi)
Tentang
(1 spasi)
SUSUNAN STRERING COMITEE
LATIHAN KADER III
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(2 spasi)
_________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________
(1 spasi)
Menimbang : ______________________________________________________________
______________________________________________________________
(1 spasi)
Mengingat : ______________________________________________________________
______________________________________________________________
(1 spasi)
Memperhatikan : ______________________________________________________________
______________________________________________________________
(1 spasi)
Memutuskan
(1 spasi)
Menetapkan : ______________________________________________________________
______________________________________________________________
(1 spasi)
Billahit tawfiq wal hidayah

(2 spasi)

Ditetapkan di : J AKARTA
Pada tanggal : 05 Dzulkaedah 1425 H
17 Desember 2005 M

(2 spasi)
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PENGURUS BESAR
(3 spasi)

CAHYO PAMUNGKAS M SYIFA AMIN WIDOG


KETUA UMUM SEKRETARIS JENDRAL
I Kongres HMI ke-29