Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS SISTEM PENYELENGGARAAN MAKANAN DAN

DAYATERIMA MENU (PERSEPSI) YANG DISAJIKAN


DI LAPAS KELAS II B TASIKMALAYA

Repa Kustipia1

1Ilmu Gizi, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan – Universitas Esa Unggul, Jakarta

Jln. Arjuna Utara Tol Tomang Kebun Jeruk, Jakarta 11510

rkustipia@gmail.com

Abstrak

Manajemen kegiatan sistem penyelenggaraan makanan di lembaga pemasyarakatan (Lapas)


dan rumah tanahanan (rutan) yang memenuhi syarat kecukupan gizi, higiene sanitasi tenaga
pengolah makanan dan lingkungan produksi serta daya terima menu aspek penampilan
(warna, tekstur, besar porsi, dan penyajian) dan aspek rasa (suhu, aroma, dan tingkat
kematangan) sesuai dengan pedoman penyelenggaraan makanan di lembaga pemasyarakatan
dan rumah tahanan negara. Penelitian ini merupakan penelitian survei observasional dengan
cross-sectional design. Penelitian dilakukan di Lapas Kelas II B Tasikmalaya pada bulan
Desember 2015. Sampel diambil dengan metode purposive sampling sebanyak 105 orang
narapidana atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) terdapat klasifikasi umur yang
dikategorikan umur dewasa awal (18-40 tahun) dan dewasa madya (41-60 tahun). Uji
Statistik menggunakan uji Chi-Square. Secara keseluruhan dari sistem penyelenggaraan
makanan di Lapas Kelas II B Tasikmalaya belum memenuhi standar. Adapun variabel yang
menyatakan ada hubungan dari daya terima menu aspek penampilan (pendidikan dengan
warna, pendidikan dengan besar porsi, umur dengan warna, dan umur dengan tekstur) dan
daya terima menu aspek rasa yang menyatakan ada hubungan (umur dengan suhu, umur
dengan tingkat kematangan, dan jenis kelamin dengan suhu) karena p > (α) 0,05. Sisanya
adalah tidak ada hubungan karena p < (α) 0,05.

Kata kunci : Penyelenggaraan Makanan, Daya Terima Menu, Lapas, Warga Binaan
Pemasyarakatan.

1
Pendahuluan akibat bencana maupun lingkungan dan
perilaku yang tidak mendukung untuk
Penyelenggaraan makanan institusi
hidup sehat (Pedoman Penyelenggaraan
merupakan rangkaian kegiatan mulai dari
Makanan Bagi WBP, 2009)
perencanaan menu, perencanaan
Pada tahun 1988, Departemen
kebutuhan bahan makanan, anggaran
Kesehatan bekerjasama dengan
belanja, pengadaan bahan makanan,
Departemen Kehakiman melakukan studi
penerimaan dan penyimpanan, pemasakan
mengenai menu makanan di beberapa
bahan makanan, distribusi dan pencatatan,
institusi rumah tahanan negara (rutan) dan
pelaporan, penyelenggaraan makanan
lembaga pemasyarakatan (lapas),
institusi yaitu untuk menyediakan
memberikan informasi bahwa 52,7%
makanan yang berkualitas sesuai
konsumsi makanan yang disediakan di
kebutuhan gizi, biaya, dan dapat diterima
rutan dan lapas bagi warga binaan masih
oleh konsumen guna mencapai status gizi
kurang dibandingkan dengan Angka
yang optimal (Kemenkes, 2013).
Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan
Sasaran umum pembangunan yang menurut kelompok umur dan jenis kelamin
dilaksanakan Indonesia untuk mewujudkan yaitu untuk konsumen laki-laki dan
manusia dan masyarakat Indonesia yang perempuan dengan golongan usia dewasa
maju dan mandiri. Upaya peningkatan yang memerlukan Angka Kecukupan Gizi
status kesehatan dan gizi masyarakat (AKG) sekitar 2.250 kalori. Selanjutnya,
dalam rangka mewujudkan sumber daya hasil studi tentang kesehatan warga binaan
manusia Indonesia yang mandiri untuk di rutan dan lapas yang dilakukan
hidup sehat diarahkan untuk mencapai Departemen Kesehatan dan Departemen
suatu kondisi dimana masyarakat Kehakiman pada tahun 1990 yang
Indonesia termasuk yang berada di membawahi divisi pemasyarakatan bagian
institusi lembaga pemasyarakatan (Lapas) perawatan untuk penyelenggaraan
dan rumah tahanan negara (Rutan) makanan di lapas yang menunjukkan
meyadari, mau dan mampu untuk bahwa prevalensi penyakit-penyakit
mengenali, mencegah dan mengatasi avitaminosis dan kurang gizi adalah 14,3
permasalahan kesehatan yang dihadapi, % anemia 8,2% dan prevalensi penyakit-
sehingga dapat bebas dari gangguan penyakit yang berhubungan dengan gizi
kesehatan, baik yang disebabkan karena mencapai 40,9 % (Pedoman
penyakit termasuk gangguan kesehatan Penyelenggaraan Makanan Bagi WBP,

2
2009). mencakup perencanaan menu, pembelian,
Pemberian makan bagi WBP penerimaan, dan persiapan pengolahan
diselenggarakan berdasarkan Surat Edaran bahan makanan, pengolahan bahan
(SE) Menteri Kehakiman No.M.02- makanan, pendistribusian/penyajian
Um.01.06 Tahun 1989 tentang Petunjuk makanan dan pencatatan serta pelaporan
Pelaksanaan Biaya Bahan Makanan Bagi (Purwaningtiyas Sulistiyo, 2013).
Napi/Tahanan Negara/Anak dan Surat Bentuk penyelenggaraan makanan
Edaran No.E.PP.02.05-02 Tanggal 20 merupakan kegiatan penyelenggaraan
September 2007 tentang Peningkatan makanan yang merupakan bagian dari
Pelayanan Makanan Bagi Penghuni institusi yang terkait. Sistem
Lapas/Rutan/Cabang Rutan. Terpenuhinya penyelenggaraan makanan yang dilakukan
pelayanan makanan sesuai standar gizi oleh pihak institusi itu sendiri secara
yang maksimal akan membantu tugas penuh, dikenal juga sebagai swakelola.
pokok Lapas/Rutan dibidang pembinaan, Kegiatan penyelenggaraan makanan dapat
pelayanan dan keamanan. Sehingga dilakukan oleh pihak lain, dengan
diharapkan angka kesakitan, kematian memanfaatkan jasa catering atau jasa boga
WBP akan menurun dan derajat kesehatan (Depkes RI, 2007).
meningkat. Dalam rangka manajemen Penyelenggaraan makanan yang
penyelenggaraan makanan di lembaga dilakukan dengan sistem swakelola
pemasyarakatan (Lapas) dan rumah berkaitan dengan pihak dapur instalasi
tahanan (rutan) yang memenuhi syarat yang bertanggung jawab untuk
kecukupan gizi, higiene sanitasi dan melaksanaakan semua kegiatan
citarasa diperlukan adalah pedoman penyelenggaraan makanan mulai dari
penyelenggaraan makanan di lembaga perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
pemasyarakatan dan rumah tahanan negara (Depkes RI, 2007)
(Pedoman Penyelenggaraan Makanan Bagi
WBP, 2009).
Kegiatan
Penyelenggaraan Makanan Penyelenggaraan Makanan
Penyelenggaraaan makanan adalah Perencanaan anggaran belanja bahan

penyelenggaraan dan pelaksanaan makanan adalah rangkaian kegiatan

makanan dalam jumlah yang besar. Secara penghitungan anggaran berdasarkan

garis besar pengelolaan makanan laporan penggunaan anggaran bahan

3
makanan tahun sebelumnya dengan manajemen penyelenggaran makanan di
mempertimbangkan fluktuasi harga, institusi. Kegiatan ini sangat penting dalam
fluktuasi konsumen. Adanya rencana sistem pengelolaan makanan, karena menu
anggaran belanja berfungsi untuk sangat berhubungan dengan kebutuhan dan
mengetahui perkiraan jumlah anggaran penggunaan sumber daya lainnya dalam
bahan makanan yang dibutuhkan selama sistem tersebut seperti anggaran belanja,
periode tertentu seperti waktu 1 bulan, 6 perencanaan menu harus disesuaikan
bulan, 1 tahun, dan sebagainya (Depkes dengan anggaran yang ada dengan
RI, 2007). mempertimbangkan kebutuhan gizi dan
Tujuan penyusunan anggaran belanja aspek kepadatan makanan dan variasi
makanan adalah tersedianya taksiran bahan makanan. Menu seimbang perlu
anggaran belanja makanan yang untuk kesehatan, namun agar menu yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan disediakan dapat dihabiskan, maka perlu
macam dan jumlah bahan makanan bagi disusun variasi menu yang baik, aspek
konsumen atau klien yang dilayani sesuai komposisi, warna, rasa, rupa, dan
dengan standar kecukupan gizi (Depkes kombinasi masakan yang serasi
RI, 2007). (Purwaningtiyas Sulistiyo, 2013).
Perencanaan anggaran belanja bahan Pengadaan bahan makanan merupakan
makanan adalah rangkaian kegiatan usaha atau proses dalam penyediaan bahan
penghitungan anggaran berdasarkan makanan. Dalam proses ini dapat berupa
laporan penggunaan anggaran bahan upaya penyediaan bahan makanan saja,
makanan tahun sebelumnya, ataupun sekaligus melaksanakannya dalam
mempertimbangkan fluktuasi harga, proses pembelian bahan makanan
fluktuasi konsumen. Adanya rencana (Purwaningtiyas Sulistiyo, 2013).
anggaran belanja berfungsi untuk Penerimaan Bahan Makanan adalah
mengetahui perkiraan jumlah anggaran rangkaian kegiatan meneliti, memeriksa,
bahan makanan yang dibutuhkan selama mencatat dan melaporkan bahan makanan
periode tertentu seperti waktu 1 bulan, 6 yang diperiksa sesuai spesifikasi yang
bulan, 1 tahun, dan sebagainya (Depkes telah ditetapkan dalam kontrak atau surat
RI, 2007). perjanjian jual beli (Purwaningtiyas
Perencanaan menu merupakan Sulistiyo, 2013).
serangkaian kegiatan menyusun hidangan Persiapan bahan makanan adalah suatu
dalam variasi yang serasi untuk proses kegiatan yang spesifik dalam

4
rangka menyiapkan bahan makanan dan serangkaian kegiatan penyaluran makanan
bumbu-bumbu sebelum dilakukan sesuai dengan jumlah porsi dan jenis
pemasakan. Tujuan persiapan bahan makanan konsumen yang dilayani.
makanan adalah: Macam-macam distribusi makanan:
a. Tersedianya racikan yang tepat dari a. Sentralisasi,
berbagai macam bahan makanan yaitu suatu cara mengirim hidangan
untuk berbagai hidangan dalam makanan dimana telah diporsi
jumlah yang sesuai dengan menu untuk setiap konsumen. Hidangan-
yang berlaku, standar porsi dan hidangan telah diporsi di dapur
jumlah konsumen. pusat.
b. Tersedianya racikan bumbu sesuai b. Desentralisasi,
dengan standar bumbu atau standar yaitu pengiriman hidangan dengan
resep yang berlaku, menu dan menggunakan alat-alat yang
jumlah konsumen (Purwaningtiyas ditentukan dalam jumlah porsi
Sulistiyo, 2013). Prasyarat lebih dari satu, kemudian di ruang
persiapan bahan makan adalah: distribusi disajikan untuk setiap
1) bahan makanan yang akan konsumen. Sistem desentralisasi
dipersiapkan; mempunyai syarat yaitu adanya
2) peralatan persiapan; pantry yang mempunyai alat-alat
3) protap pendingin, pemanas dan alat-alat
4) proses-proses persiapan. makan (Purwaningtiyas Sulistiyo,
(Depkes RI, 2007). 2013).
Pengolahan bahan makanan
merupakan suatu kegiatan terhadap bahan Higiene dan Sanitasi Makanan
makanan yang telah dipersiapkan menurut Penyelenggaraan Makanan.
prosedur yang ditentukan dengan Menurut Keputusan Menteri
menambahkan bumbu standar menurut Kesehatan Republik Indonesia Nomor
resep, jumlah klien, serta perlakuan spesial 715/Menkes/SK/V/2003 tentang
yaitu pemasakan dengan air, lemak, persyaratan higiene sanitasi jasaboga,
pemanasan dalam rangka mewujudkan bahwa higiene sanitasi makanan
masakan dengan cita rasa yang tinggi merupakan suatu upaya untuk
(Purwaningtiyas Sulistiyo, 2013). mengendalikan faktor makanan, orang,
Pendistribusian makanan adalah tempat dan perlengkapan yang dapat dan

5
mungkin dapat menimbulkan penyakit atau terhadap makanan yang disajikan
gangguan kesehatan. ditentukan oleh penilaian konsumen
terhadap makanan tersebut. Menurut
Almatsier, Just’at dan Akmal (1992) daya
terima pasien terhadap makanan yang
disajikan dipengaruhi oleh penampilan dan
Sanitasi Peralatan Makanan
rupa makanan. Penampilan makanan
Menurut Keputusan Menteri
terdiri dari warna, bentuk, besar porsi, dan
kesehatan Republik Indonesia Nomor
cara makanan yang ditata atau disajikan.
942/Menkes/SK/VIII/2003, peralatan
Sedangkan rupa makanan terdiri dari suhu,
dapat berperan sebagai jalur atau media
tekstur, bumbu, dan aroma.
pengotoran terhadap makanan, jika
keadaannya tidak sesuai dangan ditetapkan
Aspek Penampilan
atau tidak memenuhi syarat kesehatan.
Kelengkapan dari peralatan yang meliputi Warna
peralatan masak dan peralatan makan juga Warna makanan adalah hidangan
berperan dalam menunjang terciptanya yang disajikan betapapun lezatnya
makanan yang bersih dan higiene. makanan apabila penampilannya tidak
menarik waktu disajikan akan
Higiene Tenaga Penjamah mengakibatkan selera orang yang akan

Makanan memakannya menjadi hilang


(Moehyi,1992).
Menurut Keputusan Kesehatan
Republik Indonesia Nomor
715/Menkes/SK/V/2003 tentang Tekstur
persyaratan higiene sanitasi jasaboga Tekstur makanan dapat dinilai secara
penjamah makanan adalah orang yang persepsi dengan menyebutkan teksturnya :
secara langsung berhubungan dengan kering, lembab, padat, cair, tebal, tipis,
makanan dan peralatan mulai dari tahap kasar, halus, tangguh, keras, lunak,
persiapan, pembersihan, pengolahan, kompak, dan keropos (Bennion 1985
pengangkutan sampai dengan penyajian. dalam Iriaty 2010).

Besar Porsi
Daya Terima Menu (Persepsi)
Besar porsi adalah besar dan bentuk
Daya terima menu (persepsi)
potongan suatu makanan atau banyak dan

6
sedikitnya makanan yang dihidangkan. indera penciuman sehingga
Besar porsi makanan setiap orang berbeda membangkitkan selera makan seseorang.
sesuai dengan kebiasaan makan sehari-hari Aroma yang dikeluarkan oleh setiap
atau di lingkungan tempat kerja. makanan berbeda-beda dan melalui
pemasakan yang berbeda akan
Penyajian menimbulkan aroma yang berbeda pula

Bentuk penyajian makanan dapat (Arminanto, 2003)

disajikan dengan bentuk sesuai bahan Tingkat Kematangan


makanannya yang diperoleh dengan cara
Tingkat kematangan makanan adalah
memotong bahan makanannya yang
hasil akhir dari proses pemasakan. Tingkat
diperoleh dengan cara memotong atau
kematangan makanan dikategorikan
mengiris bahan makanan dengan cara
menjadi matang, kurang matang dan tidak
khusus, penyajian makanan memiliki daya
matang. Jenis kuliner asing, tingkat
tarik tersendiri ketika disajikan setelah
kematangan seperti daging dapat
matang (Moehyi, 1992).
dikategorikan setengah matang, matang
dan matang benar
Aspek Rasa Metode Penelitian
Suhu Penelitian ini menggunakan deskriptif
Suhu (temperatur) makanan adalah analitik dan deskriptif observasional
tingkat panas dari hidangan yang disajikan. dengan desain penelitian cross sectional.
Bila makanan yang disajikan tidak sesuai
dengan suhu penyajian yang tepat akan Teknik Pengambilan Sampel
menyebabkan makanan menjadi tidak
Populasi dalam penelitian ini adalah
enak. Makanan yang terlalu panas atau
WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) di
terlalu dingin akan mengurangi sensitifitas
Lapas Kelas II B Tasikmalaya. Penelitian
syaraf terhadap rasa makanan (Arminanto,
ini menggunakan metode purposive
2003)
sampling, dengan sampel 105 orang.

Aroma Hasil dan Pembahasan


Aroma makanan adalah bau yang
Identifikasi Sistem Penyelenggaraan
disebarkan oleh makanan dengan daya
Makanan di Lapas Kelas II B
tarik yang kuat yang mampu merangsang
Tasikmalaya, sebagian besar unit

7
penyelenggaraan makanan memiliki sebanyak 50 orang (47,61%), dan menarik
perencanaan anggaran belanja, sebanyak 7 orang (6,66%).
perencanaan menu, pengadaan bahan
Sebagian besar responden (WBP)
makanan, penerimaan bahan makanan,
menilai daya terima menu aspek
penyimpanan bahan makanan, persiapan
penampilan dari segi tekstur yaitu tidak
bahan makanan, pengolahan bahan
suka sebanyak 13 orang (12,38%) , kurang
makanan, pendistribusian makanan dengan
suka sebanyak 33 orang (31,42%), dan
sentralisasi dan gabungan
suka sebanyak 59 orang (56,19%).
(sewaktu-waktu), Praktik Higiene
penjamah makanan pada penyelenggaraan Sebagian besar responden (WBP)
makan sebagian besar buruk, praktik menilai daya terima menu aspek
sanitasi sarana dan lingkungan produksi penampilan dari segi besar porsi yaitu
pada penyelenggaraan makan sebagai kurang sebanyak 29 orang (27,61%),
sebagian besar buruk. cukup sebanyak 44 orang (41,9%) , dan
Berdasarkan hasil penelitian terhadap lebih sebanyak 32 orang (30,47%).
105 WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan)
Sebagian besar responden (WBP)
di Lapas Kelas II B Tasikmalaya maka
menilai daya terima menu aspek
dapat ditemukan berbagai macam
penampilan dari segi penyajian yaitu Tidak
karakteristik responden sebagai berikut :
menarik sebanyak 27 orang (25,71%) ,
Sebagian besar WBP berpendidikan SD 56
kurang menarik sebanyak 66 orang
orang (53,3%), SMP 28 orang (26,67%),
(62,85%) dan menarik sebanyak 12 orang
dan SMA 21 orang (20%).
(11,42%).
Sebagian WBP diklasifikasikan
Umurnya menjadi Dewasa Awal (18-40 Sebagian besar responden (WBP)
tahun) 87 orang (82,85%), dan Dewasa menilai daya terima menu aspek rasa dari
Madya (41-60 tahun) 18 orang (17,14%). segi suhu yaitu dingin sebanyak 6 orang
Sebagian WBP yang berjenis kelamin (5,71%) , hangat sebanyak 97 orang
laki-laki sebanyak 66 orang (62,85%), dan (92,38%) , dan panas sebanyak 2 orang
perempuan 39 (47,14%). (1,9%).
sebagian besar responden (WBP) menilai
Sebagian besar responden (WBP)
daya terima menu aspek penampilan dari
menilai daya terima menu aspek rasa dari
segi warna yaitu tidak menarik sebanyak
segi aroma yaitu Tidak Suka sebanyak 8
48 orang (45,71%) , kurang menarik
orang (7,61%) , Kurang Suka sebanyak 11

8
orang (10,47%) , dan Suka sebanyak 86 antara umur dengan daya terima menu
orang (81,9%). aspek penampilan dari segi warna).
b) p=1,0001 > (α) 0,05 (Ada
Sebagian besar responden (WBP)
hubungan antara umur dengan daya
menilai daya terima menu aspek rasa dari
terima menu aspek penampilan dari
segi tingkat kematangan yaitu Tidak
segi tekstur).
matang sebanyak 1 orang (0,009%),
c) p=0,002 < (α) 0,05 (Tidak ada
Kurang matang sebanyak 6 orang (5,71%),
hubungan antara umur dengan daya
dan matang sebanyak 98 orang (93,33%).
terima menu aspek penampilan dari
Analisis Daya Terima Menu segi besar porsi).

(Persepsi) Aspek Penampilan d) p=0,001 < (α) 0,05 (Tidak ada


hubungan antara umur dengan daya
(Warna, Tekstur, Besar Porsi, dan
terima menu aspek penampilan dari
Penyajian)
segi penyajian).
1. Pendidikan 3. Jenis Kelamin
a) p = 0,227 > (α) 0,05 (Ada a) p= 0,03 < (α) 0,05 (Tidak ada
hubungan antara pendidikan dengan hubungan antara jenis kelamin dengan
daya terima menu aspek penampilan daya terima menu aspek penampilan
dari segi warna). dari segi warna).
b) p= 0,013 < (α) 0,05 (Tidak ada b) p=0,02 < (α) 0,05 (Tidak Ada
hubungan antara pendidikan dengan hubungan antara jenis kelamin dengan
daya terima menu aspek penampilan daya terima menu aspek penampilan
dari segi tekstur). dari segi tekstur).
c) p=0,118 > (α) 0,05 (Ada hubungan c) p=0,005 < (α) 0,05 (Tidak ada
antara pendidikan dengan daya terima hubungan antara jenis kelamin dengan
menu aspek penampilan dari segi daya terima menu aspek penampilan
besar porsi). dari segi besar porsi).
d) p=0,002 < (α) 0,05 (Tidak ada d) p=0,004 < (α) 0,05 (Tidak ada
hubungan antara pendidikan dengan hubungan antara jenis kelamin dengan
daya terima menu aspek penampilan daya terima menu aspek penampilan
dari segi tekstur). dari segi penyajian).
2. Umur
a) p=0,278 > (α) 0,05 (Ada hubungan Analisis Daya Terima Menu

9
(Persepsi) Aspek Rasa (Suhu, suhu).

Aroma dan Tingkat Kematangan) b) p= 0,006 < (α) 0,05 (Tidak ada
hubungan antara jenis kelamin dengan
1. Pendidikan
daya terima menu aspek rasa dari segi
a) p = 0,004 < (α) 0,05 (Tidak ada
aroma).
hubungan antara pendidikan
c) p=0,009 < (α) 0,05 (Tidak ada
dengan daya terima menu aspek
hubungan antara jenis kelamin dengan
rasa dari segi suhu).
daya terima menu aspek rasa dari segi
b) p= 0,0021 < (α) 0,05 (Tidak ada
tingkat kematangan).
hubungan antara pendidikan
dengan daya terima menu aspek
rasa dari segi aroma). Kesimpulan
c) p=0,0023 < (α) 0,05 (Tidak ada Berdasarkan hasil penelitian yang telah
hubungan antara pendidikan dilakukan dengan judul Analisis Sistem
dengan daya terima menu aspek Penyelenggaraan Makanan dan Day
rasa dari segi tingkat kematangan). Terima Menu (Persepsi) Yang Disajikan di
Lapas Kelas II B Tasikmalaya sudah
2. Umur memiliki prosedur kegiatan
a) p = 0,143 > (α) 0,05 (Ada hubungan penyelenggaraan makanan namun belum
antara umur dengan daya terima lengkap dan banyak komponen yang
menu aspek rasa dari segi suhu). belum sesuai standar, Hubungan
b) p= 0,001 < (α) 0,05 (Tidak ada karakteristik responden dengan daya
hubungan antara umur dengan daya terima menu aspek penampilan
terima menu aspek rasa dari segi (pendidikan dengan warna dan pendidikan
aroma). dengan besar porsi, umur dengan warna
c) p=1,111 > (α) 0,05 (Ada hubungan dan umur dengan tekstur). Hubungan
antara umur dengan daya terima karakteristik responden dengan daya
menu aspek rasa dari segi tingkat terima menu aspek rasa (umur dengan
kematangan). suhu, umur dengan tingkat kematangan,
dan jenis kelamin dengan suhu).
3. Jenis Kelamin
a) p = 0,212 > (α) 0,05 (Ada Daftar Pustaka
hubungan antara jenis kelamin dengan Almatsier, S., et al. Gizi Seimbang Dalam
daya terima menu aspek rasa dari segi Daur Kehidupan. 2011. Jakarta: PT.

10
Gramedia Pustaka Utama. No.M.02-Um.01.06 Tahun 1989
Arminanto 2003. Penyelenggaraan tentang Petunjuk Pelaksanaan Biaya
Makanan Ditinjau dari Konsumsi Bahan Makanan Bagi Napi/Tahanan
Energi Protein dan Pengaruhnya Negara/Anak
Terhadap Status Gizi Santri Putri Surat Edaran No.E.PP.02.05-02 Tanggal
Usia 10-18 Tahun 2003. 20 September 2007 tentang
Depkes RI. 2003. Keputusan Menteri Peningkatan Pelayanan Makanan
Kesehatan Republik Indonesia Bagi Penghuni Lapas/Rutan/Cabang
Nomor 942/Menkes/SK/VII/2003 Rutan.
Tentang Pedoman Persyaratan Purwaningtiyas Sulistiyo.2013. Gambaran
Higiene Sanitasi Makanan Jajanan. Penyelenggaraan Makanan di
Depkes RI. 2003b. Keputusan Menteri Pondok Pesantren Jember. Fakultas
Kesehatan Republik Indonesia Kesehatan Masyarakat Universitas
Nomor 715/Menkes/SK/VIII/2003 Jember.
Tentang Persyaratan Higiene
Sanitasi Jasa Boga
Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman
Penyelenggaraan dan Pembinaan
Pos Kesehatan Pesantren. Jakarta:
Depkes RI
Irianty, A. 2010. Hubungan Menu
Hidangan Makan, Kecukupan Energi
Serta Protein Dengan Status Gizi
Santri Putri di Pondok Pesantren Batu
Licin.
Moehyi, 1992. MIPM DASAR . Bogor:
G.Indonesia.
Pedoman Penyelenggaraan Makanan Bagi
Warga Binaan Pemasyarakatan Di
Lembaga Pemasyarakatan Dan
Rumah Tahanan Negawa, Nomor
M.MH.01.PK.07.2 Tahun 2009.
Surat Edaran (SE) Menteri Kehakiman

11